Anda di halaman 1dari 14

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA UJIAN TENGAH SEMESTER MATA KULIAH : METODE PENELITIAN KUALITATIF

PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DOSEN : Prof. DR. H. Suwarma Al Muchtar, SH., M.Pd

1. Kemukakan sejumlah fakta bahwa dewasa ini tengah terjadi krisis epistimologi dalam ilmu-ilmu sosial dan PIPS Fakta fakta yang bisa kita temukan yang membuktikan bahwa telah terjadi krisis keilmuan dalam ilmu ilmu sosial dan Pendidikan IPS antara lain : a. Tidak berkembangya keilmuan IPS dan ilmu-ilmu sosial, cenderung stagnan. b. Tidak ditemukannya teori-teori baru dalam ilmu sosial c. Tidak mampu menjadi solusi dalam permasalahan sosial, terjadi kesenjangan antara tataran teoritis dan tataran empiris. d. Permasalahan dan realitas sosial dikaji dengan menggunakan pendekatan yang bersifat kuantitatif, padahal permasalahan sosial adalah permasalahan yang bersifat dinamis, tidak pasti dan senantiasa berubah sehingga tidak bisa diukur dengan angkaangka kuantitatif. e. Tidak adanya produk yang dihasilkan dari penelitian-penelitian sosial tersebut yang bisa diterapkan menjadi solusi permasalahan dalam realitas sosial. 2. Sehubungan dengan masalah sosial termasuk masalah pendidikan IPS bersifat unik dan memiliki tingkat kompl eksitas yang tinggi maka masalah tersebut sangat sulit dideskripsikan dengan teori yang ada, hal ini memungkinkan terjadi "pemandulan" ilmu sosial bila dihadapkan dengan masalah aktual, kemukakan masalah lain yang menyebabkan adanya kondisi tersebut diatas Kemandulan yang terjadi dalam pendidikan IPS disebabkan kesenjangan antara teori dengan fakta empiris di lapangan, sehingga IPS tidak mampu memberikan konstribusi dalam menangani permasalahan sosial tersebut. Permasalahan sosial yang kompleks

dan unik tidak cukup hanya diterangkan oleh teori yang bersifat general. Mengapa hal ini terjadi? Karena penelitian dalam penelitian ilmu sosial menggunakan pendekatan ilmiah seperti dalam ilmu-ilmu alam. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yang bersifat objektif, dimana manusia dijadikan sebagai objek yang diteliti, diukur dengan menggunakan angka-angka dan disimpulkan berdasarkan perhitungan statistik. Manusia dengan segala keunikannya tidak bisa dijadikan objek penelitian, karena sifat dinamisnya. Hari ini, kemarin dan besok belum tentu sama. Pengaruh emosional, lingkungan dan interaksi sosial menjadikan manusia tidak bisa dianggap stagnan seperti halnya benda-benda mati dalam penelitian ilmu alam. Pendekatan positivistik dalam penelitian ilmu sosial berkonstribusi besar dalam memandulkan ilmu-ilmu sosial khususnya pendidikan IPS. 3. kemukakan perbedaan prinsipil antara positivisme dan neo positivisme dan kemukakan pengaruhnya positivisme dalam penelitian ilmu sosial dan ilmu pendidikan IPS Premis utama dalam mahzab positivisme adalah bahwa realitas itu pada dasarnya bersifat objektif, tidak ada dikotomi tampilan (fakta)/ realitas, dan bahwa dunia adalah wujud yang real dalam artian tidak dikontruksikan secara sosial (Marsh 2010; 26). Dengan kata lain, realitas yang ada itu eksis bukan karena hasil dari kontruksi sosial, akan tetapi dibentuk oleh hukum sebab-akibat sehingga memposisikan peneliti dan objek yang diteliti pada kondisi objektivisme dalam artian terdapat jarak di antara hubungan keduanya. Para ilmuan sosial yang datang berikutnya yang disebut mahzab post positivisme, mengkritik keras pandangan positivisme di atas. Menurut mahzab post positivisme fakta itu sejauh menyangkut masyarakat dan manusia bukan hanya realitas yang ada sekarang, melainkan juga punya hubungan dengan masa lampau dan masa yang akan datang. Menurut F. Budi Hardiman masa lalu dan masa depan membentuk fakta itu untuk hadir pada keadaan sekarang. Artinya, terdapat proses pembentukan realitas yang telah dimulai sejak masa lampau, sedang berlangsung, dan menuju kemasa depan yang tertentu (Hardiman 2003; 17) Pengaruh positivisme terhadap penelitian ilmu sosial sebagaimana yang dijelaskan Anthony Gidden sebagai berikut (Hardiman 2003; 57):

Pertama, prosedur-prosedur metodologis ilmu-ilmu alam dapat langsung diterapkan pada ilmu-ilmu sosial. Gejala-gejala subjektivitas manusia, kepentingan maupun kehendak dari peneliti, tidak akan mengganggu objek yang diobservasi, yaitu tindakan sosial masyarakat. Melalui cara ini, objek kajian ilmu-ilmu sosial menempati posisi yang sama dengan objek kajian ilmu-ilmu alam. Kedua, hasil-hasil dari riset dapat dirumuskan dalam bentuk hukum -hukum sebagaimana dalam ilmu-ilmu sosial. Ketiga, ilmu-ilmu sosial itu harus bersifat teknis, yaitu menjadikan pengetahuan murni bersifat instrumental. Pengetahuan itu harus dapat dipakai untuk kepentingan apa saja sehingga tidak bersifat etis dan juga tidak terkait pada dimensi politis. Ilmu-ilmu sosial, seperti ilmu-ilmu alam, bersifat bebas nilai (value-free). Dari pengandaian yang dilakukan oleh mahzab positivisme sebagaimana dijelaskan di atas, dapat diambil kesimpuan bahwa pada dasarnya ilmuan positivistik ingin mendudukkan metodologi yang ada dalam kajian ilmu-ilmu alam pada ilmu-ilmu sosial, yang termasuk di dalamnya kajian ilmu politik. Selain itu, dalam tataran metodologis positivisme telah melakukan kostruksi sosial kehidupan masyarakat menurut kontrol atas alam yang setatis. 4. kemukakan konsepsi kebenaran ilmiah dan kebenaran alamiah serta implikasinya terhadap pendekatan dalam penelitian Paradigma Ilmiah Kuantitatif Rigor Apriori Dapatkan X menyebabkan Y Alamiah Kualitatif Relevansi Dari dasar grounded Apakah X menyebabkan Y dalam latar alamiah Tipe pengetahuan yang Proporsional Proporsional yang diketahui bersama Reduksionis Verifikasi Ekspansionis Ekspansionis

Konsep Teknik yang digunakan Kriteria Kualitas Sumber teori Persoalan kausalitas

digunakan Pendirian Maksud

Orientasi

Yang terpenting hasil

Lebih mengutamakan proses daripada hasil

Instrumen

Kertas, pensil atau alat-alat Orang sebagai peneliti fisik lainnya

Waktu pengumpulan analisis Desain Gaya Perlakuan Satuan kaji Unsur kontekstual

penetapan Sebelum penelitian data dan

Selama

dan

sesudah

pengumpulan data

Pasti (preordinate) Intervensi Stabil Variabel Kontrol

Muncul berubah Seleksi Bervariasi Pola-pola Turut campur atas undangan Sumber : Basrowi (2008:31)

PerbedaanAksiomaParadigmaPositivisme(ilmiah) danAlamiah N o 1 AksiomaTentang ParadigmaPositivisme/il miah Hakikatkenyatan Kenyataanadalahtunggal, nyatadanfragmentaris 2 Hubunganpencaritahudan Pencaritahudengan yang yang tahu tahuadalahbebas, jadiadadualism 3 KemungkinanGeneralisas Generalisasiatasdasarbeba i s-waktudanbebas-konteks (pernyataannomotetik) Kenyataanadalahganda,dibentu k, dan me-rupakankeutuhan Pencaritahudengan yang tahuaktifbersama, jaditidakdapatdipisahkan Hanyawaktudankonteks yang mengikathipotesiskerja (pernyataanidiografis) yang dimungkinkan 4 Kemungkinanhubungans ebabakibat Terdapatpenyebabsebenar nya yang secaratemporerterhadap, atausecarasimultanterhada pakibatnya Setiapkeutuhanberadadalamkea daanmempengaruhisecarabersamasamasehinggasukarmembedakanmanasebabdanmanaaki bat ParadigmaAlamiah/Kualitatif

Peranannilai

Inkuirinyabebasnilai

Inkuirinyaterikatnilai (Sumber :Lexy J. Moleong : 2000 : 3)

Berdasarkan dua tabel di atas, kita bisa melihat bagaimana implikasinya terhadap pendekatan penelitianh dari adanya perbedaan antara konsep ilmiah dan alamiah. Dari perbedaan konsep tersebut dalam konsep ilmiah, berdasarkan karakteristik keilmiahannya maka pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, sedangkan dalam konsep alamiah berdasarkan aksioma diatas maka pendekatan penelitian yangt digunakan adalah penelitian kualitiatif. 5. kemukakan sejumlah kelemahan dan keunggulan penelitian kualitatif No 1 Kekuatan Kelemahan

Meneliti manusia dalam latar sewajarnya, Problem reliabilitas karena subjektivitas secara alamiah yang ekstrim

Penekanan pada interprerasi dan mencari Resiko pengumpulan data yang tidak makna bermakna dan tidak relevan dengan masalah yang diteliti

Mendapatkan

pemahaman

mendalam Memerlukan waktu yang relatif lebih

tentang hakikat masalah dan keadaan lama responden 4 Proses penelitian manusiawi karena peran Masalah representatif peneliti yang menonjol 5 6 Tingkat fleksibilitas yang tinggi Masalah objektifitas

Menggambarkan pandangan dunia yang Masalah etika penelitian, karena untuk lebih realistik sampai pada hakikat kehidupan

responden, peneliti harus terlibat secara pribadi. Sumber : Wahyu Pramono (1998:19) 6. kemukakan minimal 10 prinsip penelitian kualitatif dan minimal 5 model penelitian kualitatif

Prinsip penelitian kualititif menurut Lincoln dan Guba (1985): 1) Latar Alamiah, penelitian kualitatif bersifat alamiah artinya menyajikan fenomena apa adanya dan mencoba mencari hakikat dari fenomena tersebut 2) Manusia sebagai alat, ( human instrument). Peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data. 3) Menggunakan metode kualititatif. Pertimbangan penggunaan metode ini antara lain : menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan keyataan ganda, kedua metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antar peneliti dan informan. Ketiga metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan setting penelitian. 4) Analisis data secara induktif, menyajikan data dari lapangan yang bersifat khusus, untuk ditarik suatu proporsi atau teori yang dapat digeneralisasikan secara luas. 5) Grounded Theory, penelitian kualitatif lebih menghendaki penyusunan teori substantif yang berasal dari data. 6) Deskriptif, data yang dikumpulkan berupa kata-kata gambar dan bukan angka-angka. 7) Lebih mementingkan proses daripada hasil. Disebabkan oleh hubungan bagian-bagian yang sedang ditelitinakan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses. 8) Adanya Batas yang ditentukan oleh fokus sebagai masalah penelitian penting. 9) Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data. 10) Desain yang bersifat sementara. Desain disesuaikan dengan lapangan secara terus menerus. Model Penelitian kualitatif (dari Moleong, Croswell, Bogdan & Taylor) 1) Biografi Penelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap turning point moment atau epipani yaitu pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang. Peneliti menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut memposisikan dirinya sendiri. 2) Fenomenologi

Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden. 3) Grounded theory Walaupun suatu studi pendekatan menekankan arti dari suatu pengalaman untuk sejumlah individu, tujuan pendekatan grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu . Situasi di mana individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Inti dari pendekatan grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa dipelajari. 4) Etnografi Etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelom pok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat dalam keseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok. 5) Studi kasus Penelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi. Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu.

7. kemukakan minimal 5 buah kritik yang sering dilontarkan terhadap penelitian kualitatif dan kemukakan bantahan anda serta argumentasinya. 1) Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang kurang ilmiah Bantahan dan Argumen : kritik ini muncul dari mazhab positivisme, dimana unsur ilmiah dilihat atau dinilai dari objektivitas penelitian, sebagaimana dibahas dalam jawaban pada nomor sebelumnya bahwa penelitian kualitatif tidak bersifat ilmiah akan tetapi alamiah yang artinya penelitian ini berupaya mendudukan manusia pada posisi alamiahnya, bukan sebagai makhluk mati yang bisa diteliti sebagai objek. Setiap manusia memiliki karakteristik keunikan tersendiri yang tidak bisa dipukul rata seperti dalam penelitian kuantitatif. Riset kualitatif didefinisikan sebagai suatu proses yang mencoba untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai kompleksitas yang ada dalam interaksi manusia.(Catherine Marshal & Gretchen B Rossman :1995) Proses dalam melakukan penelitian merupakan penekanan dalam riset kualitatif, oleh karena itu dalam melaksanakan penelitian, peneliti lebih berfokus pada proses dari pada hasil akhir. Pemahaman dalam penelitian kualitatif peneliti berbaur menjadi satu dengan yang ditelti i sehingga peneliti dapat memahami persoalan dari sudut pandang yang diteliti itu sendiri. Penelitian yang menggunakan metode ini, memakai logika berpikir induktif, suatu logika yang berangkat dari kaidah-kaidah khusus ke kaidah yang berifat umum (Ulber Silalahi, 2006:73) 2) Penelitian kualitatif tidak mempunyai kemampuan mengeneralisir Bantahan dan Argumen : Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk menggeneralisakan temuannya pada populasi karena penelitian kualitit tidak bertitik tolak dari sampel. Dalam penelitian kualitatif digunakan terma transferabilitas, yakni hasil penelitian kualitatif dapat ditransfer ke latar lain atau subyek lain yang memiliki kesamaan atau kemiripan karakteristik. 3) Validitas dan reliabilitas dari penelitian kualitatif layak diragukan;

Bantahan dan Argumen : berbeda dari penelitian kuantitatif yang mengukur validitas dan relaibilitas penelitian dari instrumen yang digunakan, maka pada penelitian kuantitatif validitas dan reliabilitas dilihat dari kepakaran peneliti dan ketepatan dalam memilih responden sebagai subjek penelitian, sehingga tidak relevan jika meragukan validitas dan reliabilitas penelitian kualitatif karena tidak adanya instrumen baku yang digunakan. 4) Penelitian kualitatif subjektif, sehingga hasilnya diragukan kebenarannya Bantahan dan Argumen : Kemungkinan besar kritik tersebut muncul dari pihak yang berkecimpung dalam studi metode kuantitatif yang mengusung teori positivisme, yang menekankan bahwa riset pospositivis yang menggunakan metode kualitatif sangat tidak bebas nilai, terkungkum oleh subyektifitas peneliti, dan terkadang data-data yang terdapat dari penelitian kualitatif terdistorsi dengan subyektifitas peneliti. Ada benarnya, namun tidak mutlak salah. Jika kita kaji lebih mendalam dilihat dari sudut pandang pospositivisme, justru subjektifitas itulah yang merupakan unsur paling krusial dalam penelitian kualitatif. Dengan alasan bahwa penempatan subjektifitas peneliti kedalam subjektifitas obyek penelitian dalam suatu penelitian, maka hal-hal yang tidak terungkap dalam penelitian kuantitatif dapat terungkap melalui subjektifitas yang terdapat pada penelitan kualitatif. Satu literatur menjelaskan bahwa penelitian kualitatif cenderung mendekati subyektivitas karena fenomenologisme dan verstehen dikaitkan dengan pemahaman perilaku manusia dari frame of reference aktor itu sendiri, kedekatan hubungan peneliti dengan obyek penelitian yang rancu dan kabur, serta perspektif data yang menuju arah insider. Akibatnya, penelitian kualitatif tidak dapat digeneralisasi menjadi studi kasus tunggal dan obyektivitas semakin terbelenggu oleh daya pikat relativisme interpretasi peneliti.(Lexy Moleong: 1989) Apakah bisa dipertanggungjawabkan dan dikategorikan ilmiah? Itu tergantung dari bagaimana kita melihat cakupan data yang ada dan interpretasi masing-masing terhadap permasalahan ini. 6) Penelitian kualitatif melanggar etika penelitian, karena kehadiran peneliti dilapangan bisa mengubah subjek yang diteliti Bantahan dan Argumen :Penelitian dilakukan secara alamiah, tidak boleh ada intervensi atau perlakuan tertentu pada subjek dari peneliti.Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan, tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrument. Oleh karena itu, kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak

diperlukan. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran penelitian. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh, pengamat partisipan, atau pengamat penuh. Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan. 8. kemukakan sejumlah landasan filosofik penelitian kualitatif Landasan Filosofi penelitian kualitiatif 1) Post positivisme Berdasarkan aspek filosofi yang mendasarinya penelitian secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua dua macam, yaitu penelitian yang berlandaskan pada aliran atau paradigma filsafat positivisme dan aliran filsafat postpositivisme. Apabila penelitian yang dilakukan mempunyai tujuan akhir menemukan kebenaran, maka ukuran maupun sifat kebenaran antara kedua paradigma filsafat tersebut berbeda satu dengan yang lain. Pada aliran atau paradigma positivisme ukuran kebenarannya adalah frekwensi tinggi atau sebagian besar dan bersifat probalistik. Kalau dalam sampel benar maka kebenaran tersebut mempunyai peluang berlaku juga untuk populasi yang lebih besar. Pada filsafat postpositivisme kebenaran didasarkan pada esensi (sesuai dengan hakekat obyek) dan kebenarannya bersifat holistik. Pengertian fakta maupun data dalam filsafat positivisme dan postpossitivisme juga memiliki cakupan yang berbeda. Dalam postivisme fakta dan data terbatas pada sesuatu yang empiri sensual (teramati secara indrawi), sedangkan dalam postpositivisme selain yang empiri sensual juga mencakup apa yang ada di balik yang empiri sensual (fenomena dan nomena). Menurut istilah Noeng Muhadjir (2000: 23) positivisme menganalisis berdasar data empirik sensual, postpositivisme mencari makna di balik yang empiri sensual. Kedua aliran filsafat tersebut mendasari bentuk penelitian yang berbeda satu dengan yang lain. Aliran positivisme dalam penelitian berkembang menjadi penelitian dengan paradigma kuantitatif. Sedangkan postpositivisme dalam penelitian berkembang menjadi penelitian dengan paradigma kualitatif. Karakteristik utama penelitian kualitatif dalam paradigma postpositivisme adalah pencarian makna di balik data

(Noeng Muhadjir. 2000: 79). Penelitian kualitatif dalam aliran postpositivisme dibedakan menjadi dua yaitu penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi dan penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa. Penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi bertujuan mencari esensi makna di balik fenomena, sedangkan dalam paradigma bahasa bertujuan mencari makna kata maupun makna kalimat serta makna tertentu yang terkandung dalam sebuah karya sastra. 2) Konstruktivisme Konstruktivisme adalah suatu filsafat pengetahuan yang memiliki anggapan bahwa pengetahuan adalah hasil dari konstruksi (bentukan) manusia itu sendiri. Manusia menkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungan mereka. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan yang sesuai (Suparno, 2008:28). Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang kepada yang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh tiap-tiap orang. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi tetapi merupkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dan dalam proses itulah keaktivan dan kesungguhan seseorang dalam mengejar ilmu akan sangat berperan. Penelitian kualitatif bersifat membangun teori baru dengan mengekspansi dari hal-hal yang bersifat khusus dalam fenomena kedalam suatu teori yang baru. 9.kemukakan karakteristik masalah penelitian, instrumen penelitian, subyek penelitian Karakteristik masalah penelitian : Masalah adalah suatu keadaan yang bersumebr dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan (Guba dalam Basrowi : 66). Masalahpada penelitian kualitatif adalah masalah yang bersifat fenomenologis, masalah yang berhubungan dengan interaksi sosial manusia, keunikan fenomena pada interaksi tersebut. Menurut Miles dan Huberman (1994), metode penelitian kualitatif bertujuan untuk mengungkap keunikan yang terdapat dalam individu, kelompok, masyarakat atau organisasi dalam kehidupan sehari hari secara komprehensif, rinci, mendalam, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Karakteristik Instrumen penelitian : dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama. Hal itu dilakukan karena,

jika memanfaatkan alat yang bukan manusia dan mempersiapkannya terlebih dahulu sebagai yang biasa dilakukan pada penelitian klasik, maka sangat tidak mungkon untuk mengadakan penyesuaian terhadap kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan. Hanya manusia sebagai instrumen pula lah yang dapat menilai apakah kehadirannya menjadi faktor pengganngu sehingga apabila terjadi hal yang demikian ia pasti dapat menyadari serta dapat mengatasinya. Oleh karena itu, pada waktu mengumpulkan data dilapangan, peneliti berperan serta dalam kegiatan masyarakat. Pedoman wawancara, pedoman pengamatan dan daftar cek yang sudah disiapkan sebelum terjun ke lapangan tidak perlu diperlihatkan apalagi diberikan kepada informan, tetapi cukup dihafalkan sehingga peneliti di dalam melakukan pengamatan maupun wawancara bisa terfokus pada pedoman yang telah dihafalkan tersebut. Karakteristik Subjek penelitian :

10. pilihlah salah satu laporan penelitian kualitatif tesis atau disertasi kemudian analisis dan kemukakan komentarnya hal-hal berikut : Judul Tesis : PENDIDIKAN IPS PADA ERA OTONOMI DAERAH : Studi Kasus Pada Pembelajaran PPKn di SMUN I Garut Peneliti : JAMILAH,(2005) -latar belakang penelitian Penelitian ini berawal dari ketertarikan penulis oleh Pendidikan IPS yang sifatnya luas dan tujuannya mulia, yakni sebagai pendidikan yang ada pada awalnya digagas untuk perekat kehidupan bersama bagi masyarakat internasional yang berbeda kekayaan, asal usul kebangsaan, agama, etnis dan lain-lain, dan pembaharu pendidikan sebagai wahana untuk menegakkan keadilan di dalam masyarakat beragam tersebut. Sehingga PIPS ini menuntut perhatian serius dunia pendidikan sehubungan dengan usahanya untuk memberi pemahaman terhadap manusia tentang lingkungan sosialnya secara lokal, regional, nasional dan internasional.

Penelitian ini merupakan studi kasus pada pembelajaran PPKn di SMUN 1 Garut dengan tujuan menemukan dan memperoleh gambaran tentang pelaksanaan Pendidikan IPS pada era Otonomi Daerah yang diaplikaasikan pada Pembelajaran PPKn di kelas yang menyentuh sikap afektif maupun psikomotorik, nilai-nilai demokratis dan kehidupan dalam budaya lokal sehari-hari siswa sesuai dengan makna Otonomi Daerah. Apakah kemudian ditemukan perkembangan yang berbeda dari penerapan pendidikan IPS tersebut pada era otonomi daerah dibanding dengan sebelum otonomi daerah terhadap minat dan motivasi siswa untuk belajar serta perilaku-perilaku yang mengedepankan nilai-nilai kedaerahan dalam diri siswa.

- masalah penelitian Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan Pendidikan IPS di era otonomi daerah, dengan mengambil studi kasus pada mata pelajaran PPKn - fokus penelitian a)Bagaimana Pemahaman guru PPKn terhadap pelaksanaan otonomi daerah dalam implikasi pembelajarannya, b) Bagaimana pengelolaan pembelajaran PPKn di era otonomi daerah, c) Bagaimana kesiapan guru PPKn dalam pembelajaran di era otonomi daerah, d) Kendala-kendala apakah yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran PPKn di era otonomi daerah, e) Bagaimana dampak pelaksanaan otonomi daerah terhadap kualitas pendidikan PPKn.

- situs penelitian Situs penelitian di SMUN 1 Garut - teknik pengumpulan dan analisis data Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, tahapan analisis data sebagai berikut : a. b. c. d. e. Mengorganisir informasi. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode. Membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya. Peneliti menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori. Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus yang lain. f. Menyajikan secara naratif.

- kesimpulan dan rekomendasai Hasil temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa: pertama, pada dasarnya guru memahami tentang pelaksanaan otonomi daerah sebagai suatu sistem yang digulirkan pemerintah, tetapi implikasi dalam pembelajaran yang dijalani saat ini belum sepenuhnya dipahami. Kedua, karena pemahaman guru terhadap otda hanya sebatas sistem pemerintahan, maka Pengorganisasian dan Pengelolaan pembelajaran IPS-PPKn yang meliputi kegiatan perencanaan, proses dan evaluasi belum dipengaruhi secara utuh oleh otonomi daerah. Ketiga, kesiapan terkait dengan sistem pendidikan dan pembelajaran yang diterapkan. Keempat, kendala utama yang dihadapi guru antara lain belum adanya kurikulum standar otonomi daerah serta sarana dan prasarana di samping alokasi waktu. Kelima, dampak utama adalah meningkatnya kualitas pendidikan, pada saat terjadi persaingan yang sehat diantara setiap wilayah dalam pencapaian target kurikulum yang diharapkan. Direkomendasikan agar pihak-pihak yang terkait dengan kebijakan pendidikan membuat kebijakan kurikulum yang jelas, sehingga guru atau para pelaksana fungsional pendidikan memiliki target yang jelas dalam mengorganisasikan kegiatan pembelajarannya.

Anda mungkin juga menyukai