Anda di halaman 1dari 12

TERAPI SKIZOFRENIA

2011

TERAPI SKIZOFRENIA
PENDAHULUAN
Sampai saat ini penanganan penderita Skizofrenia belumlah

memuaskan, hal ini terutama pada negara yang sedang berkembang disebabkan oleh karena ketidaktahuan (ignorancy) keluarga maupun masyarakat terhadap jenis gangguan jiwa ini. Diantaranya adalah masih terdapatnya pandangan yang negative (STIGMA) bahwa skizofrenia adalah suatu penyakit yang tidak dapat diobati dan disembuhkan. Kedua hal tersebut menyebabkan penderita skizofrenia mengelami perlakuan diskriminatif dan tidak mendapatkan pertolongan yang memadai.(1) Skizofrenia merupakan gangguan mental yang kompleks dan banyak aspek tentang skizofrenia sampai saat ini belum dapat dipahami sepenuhnya. Sebagai suatu sindrom, pendekatan skizofrenia harus dilakukan secara holistik. Mengingat gangguan pada skizofrenia ini sangat kompleks, maka untuk mendapatkan hasil terapi yang optimal, kita perlu memperhatikan beberapa fase symptom gangguan skizofrenia yaitu fase prodromal, fase aktif, fase residual. Hasil akhir yang diinginkan adalah penderita skizofrenia dapat kembali berfungsi dalam bidang pekerjaan, sosial dan keluarga.(2)

DEFINISI

(6)

Skizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetic, fisik, budaya, dan sosial budaya. Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik conciousness) dari dan pikiran persepsi, serta afek yang tidak wajar tetap
1

(inappropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih (clear kemampuan intelektual yang biasanya

DIANA AYU IRSANTI FK UNBRAH KKS SMF PSIKIATRI RSUPM

TERAPI SKIZOFRENIA

2011

terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.

TERAPI (PENGOBATAN) (1)


Gangguan jiwa skizofrenia adalah salah satu penyakit yang

cenderung berlanjut (kronis dan menahun). Oleh karenanya terapi skizofrenia memerlukan waktu relative lama, berbulan bahkan bertahun. Hal ini dimaksudkan untuk menekan sekecil mungkin kekambuhan (relapse). Perkembangan didalam metode terapi penderita skizofrenia dan juga penderita psikosis lainnya sudah maju, sehingga penderita tidak lagi mengalami pemasungan atau perawatan dirumah sakit jiwa. Terapi yang komprehensif dan holistik atau terpadu dewasa ini sudah dikembangkan sehingga penderita skizofrenia tidak lagi mengalami diskriminasi bahkan metodenya lebih manusiawi daripada masa sebelumnya. Terapi yang dimaksud adalah : A. PSIKOFARMAKA
(5)

Obat psikofarmaka yang ideal yaitu memenuhi syarat-syarat antara lain sebagai berikut : Dosis rendah dengan efektifitas terapi dalam waktu relative singkat. Tidak ada efek samping, kalaupun ada relative kecil.
Dapat menghilangkan dalam waktu relative singkat baik gejala

positif maupun negatif skizofrenia. Lebih cepat memulihkan fungsi kognitif (daya pikir dan daya ingat). Tidak menyebabkan kantuk. Memperbaiki pola tidur.
DIANA AYU IRSANTI FK UNBRAH KKS SMF PSIKIATRI RSUPM 2

TERAPI SKIZOFRENIA

2011

Tidak menyebabkan habituasi, adiksi, dan dependensi. Tidak menyebabkan lemas otot. Kalau mungkin pemakaiannya dosis tunggal (singel dose).

Pemilihan Obat

(1,2)

Pada dasarnya semua obat antipsikosis mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada dosis ekivalen. Perbedaan utama pada efek sekunder (efek samping). Pemilihan jenis antipsikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Bila gejala negatif lebih menonjol dari gejala positif pilihannya adalah obat antipsikosis atipikal (golongan generasi kedua), sebaliknya jika gejala positif lebih menonjol dibandingkan gejala negatif pilihannya adalah tipikal (golongan generasi pertama). Penggolongan Obat Anti-psikosis Obat Anti-Psikosis Tipikal :
1. PHENOTIAZINE :
(1,7)

Rantai Aliphatic : Clorpromazine Nama dagang : largactile, Sediaan : Tab 25-100 mg Dosis anjuran : 150-600 mg/hari Levomepromazine Nama dagang : Nozinan, Sediaan : Tab 25 mg Dosis anjuran : 25-50 mg/hari

DIANA AYU IRSANTI FK UNBRAH KKS SMF PSIKIATRI RSUPM

TERAPI SKIZOFRENIA

2011

Rantai Piperazine :

Perphenazine

Nama dagang : Trilafon, Sediaan : Tab 2 mg, 4 mg, 5 mg Dosis anjuran : 12-24 mg/hari Trifluoperazin Nama dagang : Stelazine, Sediaan : Tab 1 mg, 5 mg Dosis anjuran : 10-15 mg/hari

Fluphenazine Nama dagang : Anatensol, Sediaan : Tab 2,5 mg, 5 mg Dosis anjuran : 10-15 mg/hari

Rantai Piperadine :

Thioridazine

Nama dagang : Malleril, Sediaan : Tab 50 mg, 100 mg Dosis anjuran : 150-600 mg/hari
2. BUTYROPHENONE :

Haloperidol Nama dagang : Haldo (jansen), Sediaan : Tab 2 mg, 5 mg Serenace (searle), Sediaan : 0,5-1,5-5 mg Dosis anjuran : 150-600 mg/hari
3. DIPHENYL-BUTYL-PIPERIDINE : DIANA AYU IRSANTI FK UNBRAH KKS SMF PSIKIATRI RSUPM 4

TERAPI SKIZOFRENIA

2011

Pimozide Nama dagang : Orap Forte, Sediaan : Tab 4 mg Dosis anjuran : 2-4 mg/hari Obat Anti-Psikosis Atipikal :
1. BENZAMIDE :

Sulpride Nama dagang : Dogmatil Forte, Sediaan : Tab 200 mg, Amp : 50 mg/ml Dosis anjuran : 300-600 mg/hari

2. DIBENZODIAZEPINE :

Clozapine Nama dagang : Clozaril (Novartis), Sediaan : Tab 25-100 mg Dosis anjuran : 25-100 mg/hari Olanzapine Nama dagang : Zyprexa, Sediaan : Tab 5-10 mg Dosis anjuran : 10-20 mg/hari Quitipine (Ludopine) Nama dagang : Serequel, Sediaan : Tab 25 mg, 100 mg, 200 mg Dosis anjuran : 50-400 mg/hari 3. BENZISOXAZOLE Risperidone
DIANA AYU IRSANTI FK UNBRAH KKS SMF PSIKIATRI RSUPM 5

TERAPI SKIZOFRENIA

2011

Nama dagang : Risperidal, Sediaan : Tab 1,2,3 mg Dosis anjuran : 2-6 mg/hari Nama dagang : Neripos, Sediaan : Tab 1, 2 mg, 3 mg Dosis anjuran : Nama dagang : Noprenia, Sediaan : Tab 1 mg, 2 mg, 3 mg Dosis anjuran : Obat golongan tipikal bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoinfundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi tidak memberikan efek yang baik pada pemulihan fungsi kognitif (kemampuan berfikir dan mengingat) penderita. Pemakaian lama memberikan efek samping berupa gangguan ekstrapiramidal, tardive dyskinesia, peningkatan kadar prolaktin yang akan meyebabkan disfungsi seksual atau peningkatan berat badan dan memperberat gejala negatif maupun kognitif. Selain itu juga bisa menimbulkan efek samping antikolinergik seperti mulut kering, pandangan hipotensi.
(1,2)

kabur,

gangguan

miksi,

dan

gangguan

defekasi

serta

Obat golongan tipikal dapat dibagi lagi menjadi :

(2)

Potensi tinggi diantaranya adalah tifluuoroperazin, fluphenazin, haloperidol, dan pimozide. Obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis menarik diri, hipoaktif, waham dan halusinasi. Potensi rendah diantaranya adalah Chlorpomazine dan Thionidazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh, gelisah, hiperaktif, dan sulit tidur. Obat golongan atipikal mempunyai kelebihan dibandingkan dengan golongan obat tipikal yaitu gejala positif maupun negative dapat
DIANA AYU IRSANTI FK UNBRAH KKS SMF PSIKIATRI RSUPM 6

TERAPI SKIZOFRENIA

2011

dihilangkan, efek samping sangat minimal. Golongan atipikal sering disebut sebagai Serotonin Dopamin Antagonis (SDA). Bekerja melalui interaksi serotonin dan dopamin pada keempat jalur dopamine di otak yang sangat efektif mengatasi gejala negative. Obat yang tersedia untuk golongan ini adalah Clozapine, Olanzapine, Quetiapine dan Risperidon.(1,2) Pemilihan psikosis yang disesuaikan jenis obat dan dosis anti-psikosis efek ekivalen, mempertimbangkan obat. Pergantian gejala obat dan

dominan

samping

dengan

Misalnya:

Chlorpomazine

Thioridazine yang efek sedative kuat terutama digunakan terhadap sindrom psikosis dengan gejala dominan : gaduh, gelisah, hiperaktif, sulit tidur, kekacauan pikiran, perasaan, perilaku, dan lain-lain. Sedangkan Trifuloperazine, Fluphenazine, dan Haloperidol yang efek samping sedative lemah digunakan terhadap sindrom psikosis dengan gejala dominan: Apatis, menarik diri, perasaan tumpul, kehilangan minat dan inisiatif, hipoaktif, waham, halusinasi, dan lain-lain . untuk pasien yang timbul Tardive Dyskinesia obat anti psikosis yang tanpa efek samping ekstrapiramidal adalah Clozapine. (7)

PENGATURAN DOSIS Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan: Onset efek primer (efek klinis) Onset efek sekunder (efek samping) Waktu paruh 2x/hari)
Dosis pagi dan malam dapat berbeda(pagi kecil, malam besar)

: 2-4 minggu : 2-6 jam : 12-24 jam (Pemberian 1-

sehingga tidak mengganggu kualitas hidup pasien.


B. PSIKOTERAPI
(1)

DIANA AYU IRSANTI FK UNBRAH KKS SMF PSIKIATRI RSUPM

TERAPI SKIZOFRENIA

2011

Terapi kejiwaan atau psikoterapi pada penderita skizofrenia baru dapat diberikan apabila penderita dengan terapi psikofarmaka sudah mencapai tahapan dimana kemampuan menilai realitas (Reality Testing Ability/RTA) dapat kembali pulih dan pemahaman diri (insight) sudah baik. Psikoterapi diberikan dengan catatan bahwa penderita masih tetap mendapat terapi psikofarmaka. Contoh Psikoterapi: 1. Psikoterapi Suportif. Jenis psikoterapi ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan, semangat, dan motivasi agar penderita tidak merasa putus asa dan semangat juangnya menghadapi hidup tidak menurun. 2. Psikoterapi Re-eduktif Dimaksudkan untuk memberikan pendidikan ulang, memperbaiki kesalahan pendidikan di waktu lalu dengan yang baru sehingga penderita lebih adaptif terhadap dunia luar. 3. Psikoterapi Re-konstruktif Untuk memperbaiki kembali kepribadian yang telah mengalami keretakan menjadi kepribadian yang utuh seperti semula sebelum sakit. 4. Psikoterapi Kognitif Untuk memulihkan kembali fungsi kognitif (daya pikir dan daya ingat) rasional, sehingga penderita mampu membedakan nilai-nilai moral etika, mana yang baik dan yang buruk dan sebagainya.

5. Psikoterapi Perilaku
DIANA AYU IRSANTI FK UNBRAH KKS SMF PSIKIATRI RSUPM 8

TERAPI SKIZOFRENIA

2011

Jenis psikoterapi ini dimaksudkan untuk memulihkan gangguan perilaku yang terganggu menjadi perilaku yang adaptif, agar penderita mampu berfungsi kembali secara wajar. 6. Psikoterapi Keluarga Dimaksudkan untuk memulihkan hubungan penderita dengan

keluarganya. Diharapkan keluarga dapat membantu mempercepat proses penyembuhan penderita.


C. TERAPI PSIKOSOSIAL
(1)

Dengan terapi psikososial dimaksudkan agar penderita mampu kembali beradaptasi dengan lingkunga sosial sekitarnya, dan mampu merawat diri, sehingga tidak menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat. Dalam menjalani terapi psikososial ini hendaknya penderita masih mengkonsumsi obat psikofarmaka. Kepada penderita diupayakan untuk tidak menyendiri, tidak melamun, banyak kegiatan dan kesibukan serta banyak bergaul/bersosial.
D. TERAPI PSIKORELIGIUS
(1)

Terapi keagamaan (psikoreligius) terhadap penderita skizofrenia ternyata mempunyai manfaat. Terapi keagamaan yang dimaksudkan adalah berupa ritual keagamaan seperti shalat, berdoa, memanjatkan puji-pujian kepada Tuhan, ceramah keagamaan, kajian kitab suci dan lainlain. Dengan terapi psikoreligius ini gejala patologis dengan pola sentral keagamaan dapat diluruskan, dengan demikian keyakinan atau keimanan penderita dapat dipulihkan kembali di jalan yang benar.

PROGNOSA

(4)

Walaupun remisi penuh atau sembuh pada skizofrenia itu ada, kebanyakan masih memiliki gejala sisa dengan keparahan yang bervariasi. Sampai saat ini belum ada metode yang dapat memprediksi siapa yang menjadi sembuh siapa yang tidak, tetapi ada beberapa faktor
DIANA AYU IRSANTI FK UNBRAH KKS SMF PSIKIATRI RSUPM 9

TERAPI SKIZOFRENIA

2011

yang dapat mempengaruhinya seperti usia tua, faktor pencetus jelas, onset akut, riwayat social/pekerjaan pramorbid baik, gejala depresi, menikah, riwayat keluarga gangguan moodsistem pendukung baik dan gejala positif ini akan memberikan prognosis yang baik sedangkan onset muda, tidak ada faktor pencetus, onset tidak jelas, riwayat social buruk, autistic, tidak menikah/janda/duda, riwayat keluarga skizofrenia, sistem pendukung buruk, gejala negative, riwayat trauma prenatal, sering relaps dan riwayat agresif akan memberikan prognosis yang buruk.

KESIMPULAN
Gangguan jiwa berat skizofrenia yang ditandai dengan

ketidakmampuan pasien mengintergrasikan tiga fungsi mental pikiran, perasaan, dan tingkah laku. Bila tidak mendapat pengobatan yang tepat atau adekuat dan terlalu cepat berhenti, besar kemungkinan akan kambuh dan menahun.jika terapi dilakukan sedini mungkin, maka prognosanya akan lebih baik. Pengobatan skizofrenia bersifat multidimensional dan salah satunya adalah terapi psikofarmaka. Psikofarmaka utama yang digunakan adalah Antipsikotik, baik yang bersifat tipikal maupun atipikal. Pengobatan skizofrenia tediri dari 3 fase yaitu: fase akut, fase stabilisasi dan fase stabil. Pengobatan fase akut berlangsung selama minimal 6 minggu, fase stabilisasi pengobatannya harus dipertahankan minimal 1 tahun sampai seumur hidup tergantung pada episode skizofrenia pasien. Dengan pengobatan skizofrenia pasien yang maksimal akan akan didapatkan hasil yang lebih baik. Sangat penting untuk membawa sedini mungkin anggota keluarga yang menunjukkan pola pikir, perasaan dan perilaku yang tidak wajar. Dalam pengalaman praktek sehari-hari masih saja ada salah anggapan (stigma) bahwa orang yang datang berobat ke psikiater itu pastilah menderita gangguan jiwa, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Bahkan dengan obat jenis anti skizofrenia generasi kedua khasiatnya dapat mengatasi, tidak hanya terhadap gejala positif
DIANA AYU IRSANTI FK UNBRAH KKS SMF PSIKIATRI RSUPM 10

TERAPI SKIZOFRENIA

2011

skizofrenia tetapi juga fungsi kognitif yang amat penting bagi penderita agar kembali menjalankan fungsi kehidupannya sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

1. Hawari

Hadang

Pendekatan

Holistik

Pada

Gangguan

Jiwa

Skizofrenia, Edisi kedua FKUI Jakarta, 2001. 2. A.Luana,N : Skizofrenia dan Gannguan Psikotik Lainnya, Simposium Sehari Kesehatan Jiwa Dalam Rangka Menyambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Jakarta, 2007. 3. Kaplan MD, I Harold, BJ Sadock : Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat, Jakarta, 1998, 407-412. 4. Maramis WF. Catatan Kuliah Kedokteran Jiwa. Cetakan Ketujuh. Penerbit Airlangga University Press, Surabaya, 2006 5. Kaplan HI, Sadock BJ : Sinopsis Psikiatri Jilid I, Edisi Ketujuh, Binarupa Aksara, Jakarta,1997 : 655-727.

DIANA AYU IRSANTI FK UNBRAH KKS SMF PSIKIATRI RSUPM

11

TERAPI SKIZOFRENIA

2011

6. Maslim R : Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkasan dari PPDGJ III, Jakarta, 2000, 46-52. 7. Muslim R : Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik (psychotropic Medication), Edisi Ketiga, Jakarta, 2001, 13-22.

DIANA AYU IRSANTI FK UNBRAH KKS SMF PSIKIATRI RSUPM

12