Anda di halaman 1dari 1

BAGIAN PERTAMA PENDAHULUAN Tulisan ini didasarkan pada asumsi bahwa agama Islam adalah agama universal,berlaku di segala

tempat dan zaman (Shlihun likulli makn wa zamn ) serta membawa rahmat bagi alam semesta ( rahmatan li a -lamn). Keyakinan bahwa Islam sebagaiagama universal membawa berbagai konsekwensi antara lain agama Islam bisa dianut oleh berbagai bangsa dan masyarakat dengan latar belakang berbeda-beda.Agama Islam menyebar pada komunitas yang umumnya telah memiliki tradisiatau adat istiadat yang sudah berakar dan diwarisi secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Islam ketika berhadapan dengan adat yang sudah mapan dituntut menunjukkan kearifannya. Islam dalam realitasnya mampu menampakkankearifannya, yang ditandai dengan pendekatan dakwah secara damai dan bertahap ataupelan-pelan, bukan sebaliknya dengan cara frontal, sporadis disertai kekerasan.Singkatnya, Islam mampu berdialektika secara harmonis dengan kemajemukan adat dan memberikan klarifikasi secara bijaksana terhadap unsur-unsur adat yang bernilaipositif dan bisa dipelihara dan unsur-unsur adat yang bernilai negatif yang perluditinggalkan. Dengan demikian, kehadiran agama Islam bukan untuk menghilangkanadat dan budaya setempat melainkan untuk memperbaiki dan meluruskannya menjadilebih berperadaban dan manusiawi.Berangkat dari cara seperti ini menjadikan masuknya Islam di Nusantara initidak banyak mendapatkan hambatan dan rintangan. Hal ini terutama disebabkan olehperwajahan Islam sebagai sosok ajaran yang akomodatif, dinamis dan melindungitradisi yang telah dimiliki oleh bangsa Indonesia pra Islam. Corak Islam yang menekankan prinsip akomodatif dan toleran ini setidak-tidaknya bisa disimak pada fenomena perayaan Tabot di Bengkulu.Pola hubungan antara Islam dan tradisi Tabot [1]bisa dikatakan saling melengkapi sehingga dianggap sebagai implementasi nyata dari semangat Tradisi local.