Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Adapun yang melatar belakangi sehingga saya menuliskan makalah ini karena sebagaimana kita ketahui, bahwa proses pembentukan tanah masih banyak diantara kita yang tidak mengetahui bahkan memahami, terlebih kepada Mahasiswa-Mahasiswi yang ada di Negara kita ini dan akibat dari kehilafan tersebut sehingga kita tidak mampu menjaga tanah di bumi kita ini. 1.2 Permasalahan Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah apa faktor sehingga terbentunya tanah, batasan tanah, profil tanah, warna tanah, struktur tanah, klasifikasi tanah dalam muka bumi kita ini. 1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini sehingga kami mengeluarkan makalah ini untuk memampukan kita dalam memahami struktur tanah yang k pijak ini dan kita mampu ita untuk menganalisis berbagai masalah dalam tanah kita serta untuk menjaganya.

1.5.

Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini adalah untuk menyadarkan kita supaya mampu memahami struktur tanah dan mencegah supaya tidak terkena musibah yang mengakibatkan tanah rusak.

 %$%,, 3(0%$+$6$1 

Tanah (soil) adalah suatu hasil pelapukan biologi (Selley, 1988), dimana komposisinya terdiri atas komponen batuan dan humus yang umumnya berasal dari tetumbuhan. Bagi geologiawan studi tanah ini (umumnya disebut pedologi) lebih dipusatkan pada tanah purba (paleosoil),dimana akan membantu untuk mengetahui perkembangan sejarah geologi pada daerah yang bersangkutan. Akan tetapi perlu kiranya diketahui bahwa ciri dan ketebalan tanah hasil pelapukan sangat erat hubungannya dengan batuan induk (bedrock), iklim (curah hujan dan temperatur), kemiringan lereng dari batuan induk itu sendiri.

Pedologist

(ahli

tanah)

membagi

tanah

menjadi

tiga

zona

(Gambar

II.1):

1. Zona A atau lapisan eluvial, merupakan bagian paling atas pada umumnya berwarna gelap karena humus. Zona A ini merupakan zona dimana kimia (terutama oksidasi) dan biologi berlangsung kuat. Pada zona ini material halus (lempung) dicuci dan terbawa ke bawah lewat di antara butiran.

2. Zona B atau lapisan iluvial, material halus (lempung) yang tercuci dari zona A akan terperangkap pada lapisan ini. Zona B ini dikuasai oleh mineral dan sedikit sedikit jasad hidup. 3. Zona C adalah zona terbawah dimana pelapukan fisik berlangsung lebih kuat dibandingkan pelapukan jenis yang lain. Ke bawah zona C ini berubah secara berangsur menjadi batuan induk yang belum lapuk.

Ketebalan setiap zona sangat bervareasi pada setiap tempat. Demikian juga keberadaan setiap zona tidak selalu dijumpai. Ketebalan zona sangat tergantung dari kecepatan pelapukan, iklim, komosisi dan topografi batuan induk.

Fosil tanah atau tanah purba atau paleosoil adalah suatu istilah untuk tanah yang berada di bawah bidang ketidakselarasan. Tanah purba ini merupakan bukti bahwa lapisan itu pernah tersingkap pada permukaan. Akan tetapi perlu diingat bahwa tanah purba di bawah ketidakselarasan ini tentu bagian atasnya pernah tererosi sebelum terendapkan lapisan penutupnya. Lapisan tanah purba dalam runtunan batuan sedimen pada umumnya ditemukan pada endapan sungai dan delta. Tanah purba ini juga umum ditemukan di

bawah lapi an bat bara di ana kaya akan akar dan sering berwarna putih karena proses pencucian yang intensi (Selley, 1988).

Peranan tanah purba ini semakin besar dimasa kini; sehingga timbul pertanyaan bagaimana mengenali tanah purba ini dengan mudah. Fenwick (1985) memberikan kreteria sebagai berikut:

1. hadirnya suatu lapisan yang kaya akan sisa jasad hidup, 2. lapisan merah yang semakin jelas ke arah atas, 3. penurunan tanda mineral lapuk ke arah atas, 4. terganggunya struktur organik oleh akti itas jasad hidup (seperti cacing) atau proses fisik (contohnya pengkristalan es).

 Proses pelapukan, Pembentukan dan faktor-faktor pemicunya Pelapukan adalah proses alamiah akibat bekerjanya gaya-gaya alam baik secara fisik maupun kimiawi yang menyebabkan terjadinya pemecahbelahan penghancur luluh lantakan transformasi bebatuan dan mineral-mineral penyusunnya menjadi material lepas (regolit) dipermukaan bumi. Proses Pembentukan Tanah

Proses pembentukan tanah diawali dari pelapukan batuan, baik pelapukan fisik maupun pelapukan kimia. Dari proses pelapukan ini, batuan akan menjadi lunak dan berubah komposisinya. Pada tahap ini batuan yang lapuk belum dikatakansebagai tanah, tetapi sebagai bahan tanah (regolith) karena masih menunjukkan struktur batuan induk. Proses pelapukan terus berlangsung hingga akhirnya bahan induk tanah berubah menjadi tanah. Nah, proses pelapukan ini menjadi awal terbentuknya tanah. Seh ingga faktor yang mendorong pelapukan juga berperan dalam pembentukan tanah. Curah hujan dan sinar matahari berperan penting dalam proses pelapukan fisik, kedua faktor tersebut merupakan komponen iklim. Sehingga dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor pembentuk tanah adalah iklim. Ada beberapa faktor lain yang memengaruhi proses pembentukan tanah, yaitu organisme, bahan induk, topografi, dan waktu. Faktor-faktor tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.

Susunan Tanah

Senyawa kimia / komposisi mineral penyusun dari pelapukan bebatuan adalah : a. Batuan Sedimen b. Bebatuan yang berkomposisi mineral lebih kompleks akan melapukkan lebih mudah ketimbang yang lebih sederhana, karena dengan makin kompleksnya komposisi akan makin variatif pori-pori antar molekul yang terbentuk dan makin rata permukaannya sehingga mekin mudah mengalami proses pelapukan.

c. Batuan basa lebih cepat lapuk daripada batuan asam karena terkait dengan lebih sedikitnya senyawa kilat penyusunnya yang relatif lambat melapuk dan dengan lebih banyaknya senyawa lain yang mudah lapuk. Proses pelapukan di agi menjadi 2 yai u : a. Pelapukan fisik (disintegrasi) pelapukan fisik (disintegrasi) adalah proses mekanik yang menyebabkan bebatuan pecah hancur terfragmentasi menjadi partikel-partikel kecil tanpa ada perubahan kimia.
o Faktor-faktor yang mempengaruhi pelapukan fisik : o Perubahan suhu o Aliran air

b. Pelapukan kimiawi pelapukan kimiawi adalah proses yang menyertai proses pelapukan fisik dan menyebabkan terwujudnya perubahan dalam komposisi kimia maupun komposisi mineral (dekomposisi) penyusun permukaan fragmen-fragmen bebatuan mekanisme yang terbuat dalam transformasi kimia adalah a. pelarutan (solubilitasi) b. hidratasi c. hidrolusis d. aksidasi e. redusi f. karbon atasi g. asidifikasi (pengasaman) 1. Pelarutan (solubilitas) adalah proses pelarutan secara ilmiah dilakukan oleh air yang daya pelarutannya akan meningkat apabila mengandung senyawa-senyawa terlarut, seperti CO2, asam-asam organik maupun nonorganik tertentu. 2. Hidratasi adalah proses terbentuknya mantel hidrat pada permukaan bebatuan. Apabila suatu mineral terendam dalam air maka bidang-bidang permukaan, rusuk dan sudut kristalnya akan dipenuhi molekul-molekul air dan membentuk lapisan air disebut MANTEL HIDRAT yang berfungsi sebagai isolator mineral terhadap pengaruh gayagaya dari luar 3. Hidrolis dalah proses hidrolis bebatuan di perantai oleh .. air yang berfungsi sebagai asam lemah menjadi ion H+ (beraksi masam) dan OH- (beraksi basa), namun terhadap mineral silikat yang katif adalah ion-ion H+ 4. Oksidasi / reaksi, oksidasi merupakan reaksi kimiawi yang menyebabkan berkurangnya elektron (muatan negatif) baik melalui penambahan oksigen mapun tanpa oksigen.

a. 2Fe S2 (pirit) + 7 H2O H5O2 2Fe(OH)3 + 4 H2 SO4 b. 12 Mg Fe Si O4 (olivin) + 8 H2 O + 3O2 4 H4 Mg3 Si Og + 6 Fe2 O3 c. 4 Fe O + O2 2 Fe2 O3 (hemafit) 5. Reduksi Reaksi reduksi dominan pada tanah-tanah berkadar bahan organik tinggi (tanah gambut), hasil reaksi reduksi oksidasi meliputi : a) oksidasi besi hidroksida yang mengubah ferra menjadi ferri atau sebaliknya b) reduksi sulfat menjadi sulfida c) reduksi nutrat menjadi nutrit atau ammonia 6. Karbonatasi adalah proses yang menyebabkan bereaksinya asam karbonat dengan basa basa membentuk basa karbonat 7. Asidifikasi adalah proses pengasaman bebatuan juga berfungsi mempercepat pelapokan bebatuan.

KLASIFIKASI BAHAN INDUK TANAH

Menurut polynov cit. darmawijaya (1990) memilahkan bahan induk hasil proses pelapukan bebatuan mejadi 4 fase yaitu : Fase I : Menghasilkan fragmen bebatuan yang telah kehilangan basa sulfur Fase II : Menghasilkan fragmen yang juga telah mulai kehilangan basa (Ca, Na, K dan Mg) Fase III : Menghasilkan fragmen sebagian besar basa-basanya telah hilang sehingga silika dari struktur alumino silikatnya menjadi mobi dan akirnya Fase IV : Menghasilkan fragmen bentuk akhir hasil pelapukan yang sebagian besar berupa sesguioksida Proses pelapukan bebatuan menghasilkan 2 macam material bahan induk yang siap di proses menjadi tanah yaitu 1) Bahan resudual Bahan mineral yang terbentuk dari hasil pelapukan bebatuan secara in situ (asw) sehingga mempunyai sesunan kimiawi yang tergantung sepenuhnya pada bebatuan aslinya dan biasanya relatif miskin hara 2) Bahan angkutan Yaitu bahan hasil pelapukan yang dipindahkan dari tempat aslinya, biasanya berbentuk campuran sehingga relatif subur

Menurut hardjowigeno (1993) urutan perubahan sifat-sifat tanah yang hanya disebabkan masing-masing satu faktor pembentukan tanah tersebut dikenal sebagai berikut 1) Klimatosekuen, jika hanya dipengaruhi oleh perbedaan iklim 2) Biosekues, jika hanya dipengaruhi oleh perbedaan aktifitas jasad, hidup 3) Toposekuen, jika hanya dipengaruhi oleh perbedaan toografi 4) Lithosekuen, jika hanya dipengaruhi oleh perbedaan jenis bahan induk 5) Khronosekuen, jika hanya dipengaruhi oleh perbedaan faktor umur.

PROSES DIFERENSIASI HORIZON

Proses diferensiasi (perkembangan) horizon-horizon dalam suatu profil tanah secara umum melibatkan 4 proses utama, yaitu : Penambahan bahan-bahan Kehilangan bahan-bahan atau komponen tanah Transformasi dan translatasi bahan-bahan atau komponen tanah Mekanisme keseimbangan antara lain : 1) Suplay air hujan yang masuk ke dalam tanah dengan air yang hilang melalui evapotranspirasi yang menghasilkan kelembaban tanah. 2) Suplay O2 dan CO2 dari atmosfer dan bahan organik dari aktifitas biologis dengan pelepasan CO2 dari proses dekomposisi bahan organik secara biologis. 3) Suplay N, Cl dan S dari atmosfer dan hujan dengan volatilisasi (penguapan) N lewat dinitrifikasi. 4) Pertukaran antaar bahan-bahan sedimen dalam aliran air permukaan dengan bahanbahan yang terangkut oleh erosi. 5) Intensitas energi matahari yang masuk ke dalam tanah dengan kehilangan energi melalui radiasi.

JENIS-JENIS TANAH DAN PROSES PEMBENTUKAN TANAH Interaksi antara faktor-faktor pembentuk tanah akan menghasilkan tanah dengan sifat-sifat yang berbeda. Berdasarkan pada faktor pembentuk dan sifat tanah inilah, beberapa ahli mengklasifikasikan tanah dengan klasifikasi yang berbeda.

Tingkat kategori yang sudah banyak dikembangkan dalam survei dan pemetaan tanah di Indonesia, yaitu tingkat kategori jenis (great soil group). Klasifikasi jenis-jenis tanah pada tingkat tersebut sering digunakan untuk mengelompokkan tanah di Indonesia

Tanah Organosol atau Tanah Gambut Tanah jenis ini berasal dari bahan induk organik dari hutan rawa, mempunyai ciri warna cokelat hingga kehitaman, tekstur debulempung, tidak berstruktur, konsistensi tidak lekat sampai dengan agak lekat, dan kandungan unsur hara rendah. Tanah ini terbentuk karena adanya proses pembusukan dari sisa-sisa tumbuhan rawa. Banyak terdapat di rawa Sumatra, Kalimantan, dan Papua, kurang baik untuk pertanian maupun perkebunan karena derajat keasaman tinggi.

Tanah Aluvial Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami perkembangan. Bahannya berasal dari material halus yang diendapkan oleh aliran sungai. Oleh karena itu, tanah jenis ini banyak terdapat di daerah datar sepanjang aliran sungai

Tanah Regosol Tanah ini merupakan endapan abu vulkanik baru yang memiliki butir kasar. Penyebaran terutama pada daerah lereng gunung api. Tanah ini banyak terdapat di daerah Sumatra bagian timur dan barat, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Tanah Litosol Tanah litosol merupakan jenis tanah berbatu-batu dengan lapisan tanah yang tidak begitu tebal. Bahannya berasal dari jenis batuan beku yang belum mengalami proses pelapukan secara sempurna. Jenis tanah ini banyak ditemukan di lereng gunung dan pegunungan di seluruh Indonesia.

Tanah Latosol Latosol tersebar di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 300 mm/tahun, dan ketinggian tempat berkisar 3001.000 meter. Tanah ini terbentuk dari batuan gunung api kemudian mengalami proses pelapukan lanjut.

Tanah Grumusol Jenis ini berasal dari batu kapur, batuan lempung, tersebar di daerah iklim subhumid atau subarid, dan curah hujan kurang dari 2.500 mm/tahun.

Tanah Podsolik Tanah ini berasal dari batuan pasir kuarsa, tersebar di daerah beriklim basah tanpa bulan kering, curah hujan lebih 2.500 mm/ tahun. Tekstur lempung hingga berpasir, kesuburan rendah hingga sedang, warna merah, dan kering.

Tanah Podsol Jenis tanah ini berasal dari batuan induk pasir. Penyebaran di daerah beriklim basah, topografi pegunungan, misalnya di daerah Kalimantan Tengah, Sumatra Utara, dan Papua Barat. Kesuburan tanah rendah

Tanah Andosol Tanah jenis ini berasal dari bahan induk abu vulkan. Penyebaran di daerah beriklim sedang dengan curah hujan di atas 2.500 mm/ tahun tanpa bulan kering. Umumnya dijumpai di daerah lereng atas kerucut vulkan pada ketinggian di atas 800 meter. Warna tanah jenis ini umumnya cokelat, abu-abu hingga hitam.

Tanah Mediteran Merah Kuning Tanah jenis ini berasal dari batuan kapur keras (limestone). Penyebaran di daerah beriklim subhumid, topografi karst dan lereng vulkan dengan ketinggian di bawah 400 m. Warna tanah cokelat hingga merah. Khusus tanah mediteran merah kuning di daerah topografi karst disebut Terra Rossa.

Hidromorf Kelabu Jenis tanah ini perkembangannya lebih dipengaruhi oleh faktor lokal yaitu topografi yang berupa dataran rendah atau cekungan, hampir selalu tergenang air, dan warna kelabu hingga kekuningan.

2.1 Faktor Pembentukan Tanah Faktor pembentukan tanah merupakan faktor yang menentukan dalam pembentukan jenisjenis tanah. Faktor-faktor pembentukan tanah pada mulanya dikemukakan oleh Dokuchaev (1883) dengan persamaan : T = f (i, o, b) w Dimana: T = Tanah b = Bahan Induk i = Iklim w = Umur Tanah o = Organisme

Mengenai jenis faktor tanah yang mempengaruhi pada proses pembentukan tanah, tampaknya berbeda di setiap tempat. Tanah spodosol merupakan tanah tua yang berkembang dari bahan induk pasir, dengan tingkat kesuburan rendah sehingga perlu diketahui kendala-kendala dalam usaha pengelolaan. 2.2 Batasan Tanah Marbut (1940) beranggapan bahwa tanah merupakan suatu sistem lapisan kerak bumi yang tidak padu dengan ketebalan berbeda dengan bahan-bahan dibawahnya yang tidak bau dalam hal warna bangunan fisik struktur dan yang lainnya. Tanah merupakan suatu system yang ada dalam suatu keseimbangan dinamis dengan lingkungannya. Tanah tersusun atas lima komponen sebagai berikut: 1. Partikel mineral, berupa fraksi anorganik, hasil perombakan bahan-bahan batuan dan anorganik yang terdapat dipermukaan bumi. 2. Bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tanaman dan binatang serta berbagai hasil kotoran binatang (5%). 3. Air (20-30%) 4. Udara tanah (20-30%) 5. Kehidupan jasa tehnik 6. Profil tanah 2.3 Profil Tanah Profil tanah merupakan sebuah irisan melintang pada tubuh tanah dibuat dengan menggali tanah. Horijon merupakan lapisan tanah yang terbentuk karena adanya variasi komposisi, tekstur dan struktur tanah. Profil tanah pada dasarnya dapat dibagi menjadi 4 macam horizon, mulai dari yang teratas sampai kebagian yang terdalam mulai dari zona o, a, b dan c. 2.4 Warna Tanah Warna tanah merupakan salah satu hal penting dalam mempelajari tanah. Melalui warna tanah kita dapat mengetahui kandungan bahan-bahan organik. Warna tanah ditentukan dengan menggunakan warna-warna baku yang terdapat dalam buku Musel Soil Chart. Warna baku ini adalah warna di susunan oleh tiga variabel yaitu: Hue, Vaiue dan Corona. Hue adalah warna spektrum yang dominan sesuai dengan panjang gelombang. Value menunjukkan gelap terangnya warna, sesuai dengan jumlah sinar yang dipantulkan. Choroma menunjukkan kemurnian dan kekuatan dari warna spektrum. 2.5 Struktur Tanah Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir-butir tanah, gumpalan struktur ini terjadi karena butir-butir pasir, debu, dan tanah liat terikat satu sama lain oleh perekat seperti bahan organik, oksida besi dll. Contohnya adalah daerah curah hujan, umumnya ditemukan struktur remah atau granuler di permukaan dan di horizon bawah. 2.6 Klasifikasi Tanah Klasifikasi tanah dapat dibedakan menjadi klasifikasi alami dan klasifikasi teknis. Klasifikasi alami adalah klasifikasi tanah yang didasarkan atas sifat-sifat tanah yang dimilikinya tanpa menghubungkan dengan tujuan penggunaan tanah tersebut. Sedangkan klasifikasi teknis adalah klasifikasi tanah yang didasarkan atas sifat tanah yang mempengaruhi kemampuan tanah, untuk penggunaan tertentu sistem klasifikasi tanah (alami) yang ada di dunia ada berbagai macam.