Anda di halaman 1dari 9

BOOK REPORT

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Semester Dalam Mata Kuliah Kewirausahaan

YULI NURKHAYATI 0901185

PENDIDIKAN EKONOMI DAN KOPERASI FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2010

Identitas Buku

Judul Penulis Editor Desain Sampul Tata Letak Penerbit

: CEO Martha Tilaar (Wawasan Global, Kearifan Lokal) : Nanda Widya| Wahyu Sulisyio| Andi Odang : Antonius Hermawan : Kusnadi Assaini : Rizal Morgan : PublishingOne

Isi Pokok Buku

Buku ini menceritakan tentang seorang wanita Entrepreneur yang membangun kerajaan The Beauty Company mulai dari nol. Bukan hanya itu Martha Tilaar adalah satu dari sedikit sekali wanita Indonesia yang sukses membangun sekaligus memimpin kelompok bisnis besar. Dengan manajemen yang kental sentuhan keibuan, bisnisnya dapat terus berkembang di bawah naungan Martha Tilaar Group. Dan kini The Beauty Company yang memiliki beberapa anak perusahaan tersebut bahkan telah berhasil menembus pasar internasional dan menyediakan lebih dari 6.000 anak bangsa. Perjalanan Hidup Martha Tilaar adalah anak pertama dari pasangan keluarga Yakob Handana yang lahir pada 4 September 1937 di Kebumen, jawa Tengah. Pada saat masih dlam kandungan ibunya Martha sudah di vonis oleh dokter akan tumbuh menjadi anak yang slow leaner. Maka dari itu ibu Martha mengajarinya dengan berbagai keterampilan agar Martha dapat tumbuh sebagai anak yang pintar. Tapi pada kenyataannya apa yang dikatakan dokter tidak benar, Martha tumbuh menjadi anak yang sehat . Menginjak usia remaja Martha Tilaar tumbuh menjadi seorang gadis tomboy . sebagai seorang gadis Martha tergolong bandel dan tidak suka merawat diri. Sejak remaja jiwa Entrepeuner yang dimiliki Martha mulai kelihatan,contohnya saja bermodalkan uang jajan yang diberi orang tuanya ia belikan jajanan di took dan kemudian di bungkusnya kecil-kecil untuk di jual kembali kepada teman-temannya di sekolah sehingga dari uang jajan tersebut Martha memperoleh uang uang jajan lebih. Dunia kecantikan Bakat dagang dan kewirausahaan ia dapat dari kakeknya,dari sang kakek lah Martha kecil mulai mengenal berbagai jenis rempah-rempah yang dijual kakeknya. Namun demikian pada saat itu tidak sedikitpun terlintas dalam benaknya untuk menjadi seorang Entrepeuner. Dalam prestasi belajar Mrtha memeng tertinggal jauh bila dibandingkan dengan adik-adiknya. Sadar akan keterbatasannya Martha bercita-cita menjadi seorang guru,karenanya Martha terus berusaha tetap focus pada cita-citanya. Pada saat lulus dari SGA Santa Maria, Jakarta, keinginannya untuk menjadi seorang guru diwijudkannya dengan kuliah di IKIP Negeri Jakarta, jurusan Sejarah dan lulus pada tahun 1963. Dan di kampus itulah Martha bertemu dengan H.A.R. Tilaar, salah seorang dosennya, yang kemudian menjadi suaminya.

Karna akan menjadi seorang guru Martha sering diingatkan oleh ibunnya untuk mempernaiki penampilan oleh karna itu ibunda Martha memaksa mengikuti kursus tata kecantikan dari Titi Purwosoenoe. Dan sejak saat itu ia mulai jatuh cinta pada dunia kecantikan. Pada tahun 1964 Martha menikah dengan mantan dosennya H.A.R. Tilaar. Setelah 8 bulan menikah suami Martha mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di negeri Saman Sam, karna keteerbatasan biaya Mrtha terpaksa tidak dapat ikut mendampingi suaminya ke AS. Dua tahun kemudian saat suami Martha kembali dapat beasiswa untuk mengambil program doctoral di AS, Martha yang telah cukup menabung dapat ikut mendampingi suaminya. Pada saat di Amerika Martha mulai berpikir untuk melakukan sesuatu sebagi pengisi waktu selama tidak bekerja, di samping untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam kondisi yang serba terbatas, bahkan ijin kerja pun tidak dimiliki justru kreatifatas Martha tumbuh. Ia membuka jasa penitipan anak. Tidak di sangka sambutannya bagus. Ia mendapat order penitipan sebanyak 13orang anak. Dari jasa tersebut Martha setiap minggu ia memperoleh imbalan sebesar 500 dolar AS atau kurang lebih 2.000 dolar AS/bulan. Pada saat itu suaminya mengatakan bahwa Martha memiliki jiwa Entrepeuner. Suaminya menyarankan agar Martha berwirausaha. Karna saran dari sang suami akhirnya Martha berniat untuk kuliah kembali. Bidang Kecantikan menjadi pilihannya, karna sebelumnya ia pernah mendapatkan ilmu tersebut. Ia pun memutuskan untuk belajar di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, AS. Di sela-sela kesibukannya kuliah Martha terus mengembangkan kreatifatas. Pada hari libur setiap minggu dan senin ia kembali selebaran dengan tulisan; I am nearly finish beautician at beauty Academy,would like to serve you at home for facial and hair coloring. Pesanan dengan perjanjian pun berdatangan melalui telepon. Martha melayani konsumen door to door dengan membawa beauty case dan naik turun bus umum. Pada saat ujian akhir seluruh siswa diberi tgas unyuk membuat tulisan tentang tata rias asli dari negaranya masing-masing. Pada saat itu Martha tidak tertarik pada kebudayaan negaranya Indonesia,ia malah lebih tertarik pada usulan temannya yang berasal dari jepang untuk mengangkat Geisha sebagai tema tulisannya. Tentu saja dosennya menegur dan bertanya mengapa Martha tidak mengangkat kebudayaan negerinya sendiri

Indonesia. Dan dosennnya berkata bahwa seharusnya Martha malu karna sebagai orang Indonesia ia tidak memahami budaya negeri sendiri. Dan peristiwa itu membuat Martha sangat terpukul dan ia berjanji pada dirinya bahwa setelah lulus dan kembali ke Indonesia nanti ia akan mengangkat dam melestarikan kebudayaan Indonesia. Fokusnya adalah mempercantik wanita Indonesia dengan kekayaan alamnya. Sumpah itulah yang kemudian ia realisasikan melalui produk-produk yang bernuansa Indonesia. Metode Proses Kewirausahaan Ketika kembali ke Indonesia Martha ingin segera ingin membuka salon. Karna belum memiliki rumah sendiri, ia menumpang di garasi rumah orangtuanya di Jalan Kusuma Atmajaya no.47, Menteng, Jakarta Pusat. Orangtuanya mengusulkan agar ia membentuk perusahaan keluarga dan melibatkan adik-adiknya. Akhirnya Martha Salon didirikan pada tanggal 3 Januari 1970,sebagai salon pertamanya. Saat itu salon Martha ruangannnya hanya 3m6m dan hanya memperkejakan satu orang karyawan . Dengan dibukanya salon tersebut, kreatifatas bisnis Martha terus terasah. Salah satu contohnyamemiliki inovasi untuk membuka salon dengan fasilitas air hangat dan pendingin ruangan yang pada saat itu belum tersedia di salon-salon biasa, dan karna pada saat itu sering terjadi pemadaman listrik Martha pun tidak habis akal untuk memakai genset. Targetnya ia memiliki salon seperti yang ada di Hotel Indonesia. Promosi yang dilakukan dengan membuat selebaran yang dititipkannya pada tukang koran, target pemasarannya yaitu pejabat pemerintah dan kedutaan besar karna di sekeliling tempat tinggalnya di jalam Imam bonjol dan jalan Diponogoro banyak terdapat rumah pejabat dan kedutaan besar. Dan hasilnya luar biasa dalam waktu tiga bulan Martha sampai harus meminta ijin ayahnya agar boleh menggunakan seluruh ruangan di rumah orangtuanya tersebut menjadi salon. Sang ayah pun rela pindah ke pavilion yang terletak di sebelah rumahnya. Karna salon Martha berkembang pesat maka kebutuhan karyawan meningkat sehingga pada malam hari ia menyelenggarakan kursus kecantikan untuk melatih karyawannya. Dua tahun kemudian Martha berhasil membuka salonnya yang kedua bermodalkan hasil usaha salon pertamanya. Hinnga kini jumlah salon Martha berjumlah 45 salon yang tersebar di seluruh Indonesia termasuk Brunei, Singapura, dan Malaysia.

Sesuai dengan janjinya untuk mengangkat dan melestarikan warisan budaya Indonesia, maka pada saat Martha membuka salon keduanya di Kebayoran Baru ia mulai melakukan riset bersama eyangnya yang ahli meramu jamu untuk kosmetik dan perawatan wajah. Sayng pada saat itu hasilnya kurang menggembirakan,produk yang belum memiliki merk hanya bias diterima oleh segelintir pelanggannya. Itupun hanya pelanggan asing sedangkan pelanggan local banyak yang memilih produk luar ddengan alasan penggunaan bahan rempah seolah menyejajarkan wajah mereka dengan pepesan yang diberi bumbu sebelum masak. Padahal harga produk Martha jauh lebih murah dibandingkan dengan produk luar. Kebetulan Nyonya Emil Salim dan istri seorang pengusaha besar pada masa itu adalah pelanggannya. Mereka sebelunya menggunakan produk luar untuk pengobatan jerawat, namun oleh Martha disarankan untuk memakai produk kosmetiknya yang berbahan alami dan lebih ccocok untuk kulit daerah tropismereka pun setuju sehingga Martha merawat pelanggan tersebut dengan tekun. Hasilnya pelanggan puas karna jerawat mereka kering dan sembuh. Sehingga mereka terus menerus memesan produk Martha dan pelanggannya menyampaikannya dari mulut ke mulut . tepat disinalah dimulainya era industry rumah tangga produk Martha Tilaar. Untuk menjaga kualitas produknya Martha pun merekrut seorang apoteker . karna seiring dengan bertambahnya jumlah produksi,maka maka potensi minculnya mikroba pada produknya pun semakin menungkat pula maka Martha berpikir jauh kedepan untuk dengan menyiapkan bagian penalitian dan pengembangan yang bertugas menjaga higienitas produk dan melakukan survei pasar. Dengan dibantu suaminya Martha melakukan pengamatan terhadap industri jamu. Namun ia sadar bahwa ternyata sudah ada beberapa pemain yang jauh lebih berpengalaman. sehingga Martha menagarahkan risetnya ke keratin Yogyakarta, karna ia mendengar bahwa data-datatentang jamu berada di keratin. Dan dari sanalah ia mendapatkan konsep rahasia putri keraton. Pada tanggal 4 Mei 1976, sesaat telah menemukan ramuan rahasia putri keraton Martha membuka salon ketiga di jalan cikini raya,namun salonnya tidak sempat bertahan lam, karna ia pecah kongsi sehingga nyaris bangkrut dan harus memulai dari bawah lagi pada tahun 1977. Sekali lagi ia bangkit dan mencoba menghubungi dr.Bun setiawan di perusahaan kalbe farma. Ia meminta agar ramuannya agar diijinkan untuk bias diproduksi di perusahaan tersebut. Dr.Bun mengijinkan dengan syarat

jumlah pesanan paling sedikit mesti 50kg untuk satu jenis produk. Tentu itu bukan jumlah yang sedikit mengingat ia baru memiliki tiga salon. Tapi akhirnya ia menawar agar 20kg saja dan di setujui. Saat itulah dengan berbagai cara ia mulai memasarkan produknya yang bermerk sariayu yang berarti sari wong ayu . Dalam perkembangannya produk sariayu ternyata laris manis dipasar,ssehingga Martha ditawari untuk bekerja menjadi karyawan di kalbe farma . namun ia menolak dan mengatakan dengan penuh keyakinan dan percaya diri bahwa ia ingin menjadi entrepeuner dan ingin menjadi mitra bisnis Kalbe Farma. Karna Martha tidak memiliki modal maka Kalbe memberi tantangan untuk mampu menjual produk kosmetik kalbe Farma untuk dijual sebanyak 5 gudang. Jika ia mampu menjual semuanya maka kalbe bersedia menjadi mitranya. Martha pun menyanggupi tantangan tersebut,dan segera mengganti label merk di setiap kemasan kosmetik Madonna dengan label sariayu miliknya. Dan dalam waktu enam bulan sejak produk tersebut diluncurkan ulang dengan merek sariayu,seluruh persediaan habis terjual. Dan hasinya pada tahun 1980 Martha Tilaar menandatangani kerjasama pendirian perusahaan PT.Martina Berto dengan Bing aryanto dari kalbe farma. Proporsi kepemilikan saham atas perusahaan itu adalah kalbe 51 persen dan Martha Tilaar 49 persen. Perusahaan tersebut khusus memproduksi jamu dan kosmetika sariayu. Dan pada tahun 1983,Martha Tilaar juga mendirikan PT.Sariayu Indonesia,khusus sebagai distributor produk kosmetika Sariayu Marhta Tilaar. Kemudian pada tahun 1986 pabrik kedua pun dibuka. Masa Pasang Surut Dalam kurun waktu antara tahun 1988-1995 PT. Martina Berto melejit dengan pesat, sehingga mengakuisisi sejumlah perusahaan, seperti PT. Kurnia Harapan Raya, PT.Cempaka Belkosindo Indah, PT. Cedefindo, PT.Estrella Lab, dan PT.Kreasi Boga. Akan tetapi pada periode tahun 1995 sampai 1997, selama kurang lebih dua setengah tahun, PT.Martina Berto mengalami masa p[aling berdarah darah. Sampai-sampai pihak Kalbe Farma meminta agar usaha tersebut ditutup, akan tetapi Martha menolak. Pada tahun 1999 Martha Tilaar beserta anggota keluarganya berkesempatan membeli seluruh saham PT.Kalbe Farma yang ada pada PT.Martha Berto. Namun diluar dugaannya, ternyata penjualan produk kosmetik Sariayu meningkat hingga 400 persen,akibat adanya eksodus besar-besaran. Banyak konsumen yang semula menggunakan produk lokal.

Kini, Martha Tilaar Group telah menjadi kerajaan bisnis kecantikan dengan unit-unit usahanya yang terdiri dari PT. Martina Berto (manufaktur,pemasaran untuk Indonesia dan Internasional), PT.Sariayu Indonesia (distributor produk kosmetika Martha Tilaar Group),PT. Martha Beauty Gallery (menawarkan konsultasi kecantikan dan pendidikan, seperti sekolah kecantikan puspita Martha, Martha Tilaar Spa, Cipta Busana, Seni & kecantikan Martha Tilaar, PT.Cantika Puspa pesona (manajemen waralabalokal dan Internasional untuk Martha Tilaar Spa,dei Sri Spa by Martha Tilaar,Eastern Garden Spa by Martha Tilaar),PT.Creative Style (perusahaan Periklanan),PT. Estrella Lab (pemegang lisensi Henkel kosmetik dari jerman) dan PT. Kreasi Boga (agen sumber daya manusia).

kesimpulan Martha Tilaar meyakini bahwa inovasi adalah senjata pamungkas yang mampu membawa perusahaan menghasilkan produk-produk unggul yang dapat diterima oleh pelanggan. Hal ini dilakukannya sejak pertama kali berbisnis. Meski baru mulai berdiri, salon Martha sudah melakukan inovasi dan selalu teliti. Saat akan membuka salon ia melakukan survei terlebih dahulu tentang apa yang tidak ada di salon lain. Ia tidak mau sekedar membuka salon tanpa memiliki nilai tambah sama sekali. Dalam benaknya, ia harus memiliki salon yang fasilitasnya tidak ada di tempat lain. Inovasi pun dilakukannya dalam hal promosi. Karna awalnya tidak mampu beriklan, Martha lalu membuat brosur sederhana. Cara menyebarkan brosurnya pun sungguh kreatif pada masa itu, yaitu diarahkan ke kedutaankedutaan asing yang menjadi target pasarnya, dengan menitipkannya lewat loper-loper Koran. Artinya ia sudah melakukan srtategi segmentasi sekaligus positioning. Karna tujuan promosi pada kantor-kantor kedutan asing, itu menandakan bahwa salonnya melayani kelas menengah atas. Saat ini Dr. (HC) Martha Tilaar sering diminta untuk member kuliah manajemen pada pertemuan-pertemuan bisnis atau sejenisnya. Bahkan

sampai ke seluruh dunia. Di antara kesibukan dan kegiatannya pindah tempat, dia masih menyempatkan diri untuk menulis dan menerbitkan beberapa buku. Baik buku yang berisi pengetahuan ataupun pengalamannya, seperti buku Leadership Quotient perempuan pemimpin Indonesia dan kisah riwayat hidupnya sebagai seorang usahawan perempuan. Sebagai hasil pengabdian dan prestasi di sepanjang hidupnya, Martha Tilaar telah menerima berbagai macam penghormatan dan penghargaan. Baik penghargaan untuk eksistensinya sebagai seorang pengusaha maupun atas kapatasitasnya sebagai aktifas social. Terbukti pada Juli 2000, Martha Tilaar menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang mendapat undangan dari sekjen PBB, Kofi Annan untuk menghadiri dan meratifakasi peluncuran Global Compact sebagai salah satu founding participant. Penghargaan lain yang diterima meliputi siddakretya technology award 2002 untuk kategori obat, herbal, dan kosmetik. Oleh Presiden Republik Indonesia,Megawati Soekarno Putri, perusahaannya disebut sebagai indusrti yang telah mengaplikasikan pengetahuan dan tekhnologi yang berguna bagi kemajuan pembanggunan bangsa. Bagi Martha Tilaar, kesuksesannya saat ini berkat ketidakmauannya menjadi budak-budak bansa lain sebagai woman entrepreneur ia memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi role model bagi pengusaha lainnya, sehingga dirinya bercita-cita melakukan segala sesuatu dengan tekad yang kuat dan terus menjadi lebih baik lagi