Anda di halaman 1dari 10

JANGAN TAKUT MENGHADAPI MENOPAUSE

Dr. H.K. Yusuf Effendi, SpOG


Subbagian ImunoEndokrinologiReproduksi Bagian Kebidanan & Kandungan RS dr.Mohd. Hoesin / FK Unsri

Patofisiologi Menopause Klimakterik merupakan periode peralihan dari fase reproduksi menuju fase usia tua (senium) yang terjadi akibat menurunnya fungsi generatif ataupun endokrinologik dari ovarium. Penurunan produksi hormon estrogen menimbulkan berbagai keluhan pada seorang wanita, sedangkan penurunan fertilitas sangat bergantung pada usia wanita tersebut, dan jarang menimbulkan keluhan yang berarti. Fertilitas wanita dan laki-laki pada usia 20-24 tahun adalah 100%. Pada usia 35-39 tahun fertilitas wanita hanya tinggal 60%, sedangkan laki-laki masih tetap tinggi, yaitu 95%. Pada usia 45-49 tahun fertilitas wanita tingal 5% saja dan pada laki-laki mencapai 80%. Pada umumnya orang lebih senang menggunakan istilah 'Menopause', meskipun istilah tersebut kurang tepat, karena menopause hanya merupakan kejadian sesaat saja, yaitu perdarahan haid yang terakhir. Yang paling tepat digunakan adalah klimakterik, yaitu fase peralihan antara pramenopause dan pascamenopause. Disebut pascamenopause bila telah mengalami menopause 12 bulan sampai menuju ke senium. Senium adalah pascamenopause lanjut, yaitu setelah usia 65 tahun. Bila ovarium tidak berfungsi lagi pada usia <40 tahun disebut klimakterium prekok.

Fase Klimakterik Klimakterik dibagi dalam beberapa fase (Gambar 1)

Gambar 1. Fase klimakterium

Pramenopause Fase pramenopause adalah fase antara usia 40 tahun dan dimulainya fase klimakterik. Fase ini ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur, dengan perdarahan haid yang memanjang clan jumlah darah haid yang relatif banyak, dan kadang-kadang disertai nyeri haid (dismenorea). Pada wanita tertentu telah timbul keluhan vasomotorik dan keluhan sindrom prahaid atau sindrom pramenstrual (PMS). Perubahan endokrinologik yang terjadi adalah berupa fase folikuler yang memendek, kadar estrogen yang tinggi, kadar FSH juga biasanya tinggi, tetapi dapat juga ditemukan kadar FSH yang normal. Fase luteal tetap stabil. Akibat kadar FSH yang tinggi ini dapat terjadi perangsangan ovarium yang berlebihan (hiperstimulasi) sehingga kadang-kadang dijumpai kadar estrogen yang sangat tinggi. Perimenopause Perimenopause merupakan fase peralihan antara pramenopause dan pascamenopause. Fase ini ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur. Pada kebanyakan wanita siklus haidnya >38 hari, dan sisanya <18 hari. Sebanyak 40% wanita siklus haidnya anovulatorik. Meskipun terjadi ovulasi, kadar progesteron tetap rendah. Kadar FSH, LH, dan estrogen sangat bervariasi. Pada umumnya wanita telah mengalami berbagai jenis keluhan klimakterik. Menopause Jumlah folikel yang mengalami atresia makin meningkat, sampai suatu ketika tidak tersedia lagi folikel yang cukup. Produksi estrogen pun berkurang dan tidak terjadi haid lagi yang berakhir dengan terjadinya menopause. Perdarahan lucut terus terjadi selama wanita masih menggunakan pil kontrasepsi secara siklik dan wanita tersebut tidak mengalami keluhan klimakterik. Bila pada usia perimenopause ditemukan kadar FSH dan estradiol yang beravariasi (tinggi, atau rendah), maka setelah memasuki usia menopause akan selalu ditemukan kadar FSH yang tinggi (>40 mIU/ml). Kadar estradiol pada awal menopause dijumpai rendah hanya pada sebagian wanita, sedangkan pada sebagian wanita lain, apalagi pada wanita gemuk, kadar estradiol dapat tinggi. Hal ini terjadi akibat proses aromatisasi androgen menjadi estrogen di dalam jaringan lemak. Diagnosis menopause merupakan diagnosis retrospektif. Bila seorang wanita tidak haid selama 12 bulan, dan dijumpai kadar FSH darah >40 mIU/ml dan kadar Estradiol <30 pg/ml, telah dapat dikatakan wanita tersebut telah mengalami menopause.

Pascamenopause Ovarium sudah tidak berfungsi sama sekali, kadar estradiol berada antara 20-30 pg/ml, dan kadar hormon gonadotropin biasanya meningkat. (Gambar 2).

Peningkatan hormon gonadotropin ini disebabkan oleh terhentinya produksi Inhibin akibat tidak tersedianya folikel dalam jumlah yang cukup. Pada usia reproduksi. folikel memproduksi Inhibin dalam jumlah yang cukup dan Inhibin inilah yang menekan sekresi FSH, bukan sekresi LH. Akibat rendahnya kadar estradiol, endometrium menjadi atropik dan tidak mungkin muncul haid lagi. Namun, pada wanita gemuk masih ditemukan kadar estron yang tinggi, dan estron ini akan diubah menjadi estradiol. Estradiol yang tinggi ini menimbulkan proliferasi pada endometrium dan mengakibatkan terjadinya perdarahan pada uterus. Pada wanita pascamenopause masih saja dapat dijumpai jenis steroid seks lain dengan kadar yang normal di dalam darah. Ternyata, ovarium wanita pascamenopause masih memiliki kemampuan untuk menyintesis steroid seks. Sel-sel hilus dan kortek ovarium masih dapat memproduksi androgen, estrogen, dan progesteron dalam jumlah tertentu. Selain itu, jaringan tubuh tertentu, seperti lemak, uterus, hati, otot, kulit, rambut, dan bahkan bagian dari sistem neural sumsum tulang (bone marrow) memiliki kemampuan mengaromatisasi androgen menjadi estrogen. Kelenjar adrenal merupakan sumber androgen utama bagi wanita pascamenopause. Klimakterium Prekok Klimakterium prekok, yang didefinisikan juga sebagai hipergonadotrop-hipergonadismus, adalah terjadinya menopause < usia 40 tahun. Kadar FSH berada >40 mIU/ml clan kadar estradiol berada <30 pg/ml. Pada sebagian wanita uji dengan progesteron (uji P) masih positif. Pada 75% wanita telah muncul keluhan vasomotorik dan pada hampir 50% wanita terjadi osteoporosis. Bila dijumpai kadar FSH <40 mIU/ml, kemungkinan masih tersedia folikel dalam jumlah tertentu. Dalam keadaan seperti ini masih mungkin terjadi konsepsi pada 10-15% wanita. Pada wanita dengan klimakterium prekok kadang-kadang dijumpai aberasi dari kromosom seks (45 x, 45 x/46 xx, 45 x/46 xy. 47 xxx). Beberapa penyakit autoimun (30-50%) seperti penyakit kelenjar tiroid (Hashimoto, Graves), penyakit Crohn, lupus eritematosus, clan multipel sklerosis, ikut berperan terhadap terjadinya klimakterium prekok. Pada penyakit autoimun, antibodi yang terbentuk akan menyerang reseptor FSH. Pada sebagian kecil wanita, pengangkatan kedua ovarium karena alasan tertentu, penyinaran terhadap kedua ovarium, serta akibat efek samping dari kemoterapi, dapat juga menyebabkan klimakterium prekok. Penggunaan obat-obat diet yang bekerja sentral dapat meningkatkan kadar hormon prolaktin.

Kadar prolaktin yang tinggi dapat menekan sekresi FSH dan LH sehingga folikel tidak dapat tumbuh clan dengan sendirinya pula akan terjadi mati haid. eddatsi Inhibin sia repsnduksi, pin inilah yang r e.,-Zradiol. en \amun. pada cin ini akan dindiferasi pada :r-;--:d seks lain u p.aseameno_ S.P-sel hilus a-, t roQesteron kmak. uterus, n Mane (bone Ke - use. Pada Tabel 1 dapat dilihat berbagai penyebab terjadinya klimakterium prekok. Tabel 1. Penyebab Klimakterium Prekok Kelainan pada kromosom ( 45 X, sindrom Turner), 47 XXX, 45 XO, 45 XO mosaik. Penyakit autoimun, seperti tireoiditis, morbus Addison, poliendokrinopatia, vitiligo, miastenia gravis, lupus eritematosus, trombositopenia idiopatik, diabetes mellitus juvenile, glomerulonephritis, artritis rheumatoid, penyakit Crohn, asma bronkiale. Penyakit metabolik, seperti galaktosemia, hemokromatase. Riwayat pada keluarga. Infeksi virus, seperti Mumps - Ooporitis. Kemoterapi, seperti siklopospamid, vinblastin. Radioterapi. Sindrom ovarium resisten. I2catmp-htpergoFSH berada >40 r.t-.aa uji dengan _ i:eluhan vaso~ --:_ ::mpai kadar -=ah tertentu. wanita. r--: aberasi dari e--_. autoimun c , Ls-,t Crohn, lur- =::_nva klimaka,:an menyerang t = %::.-ium karena i::: samping dari ;~ ---an obat-obat . :.::-. Kadar proio::~ell tidak dapat Faktor-faktor yang Mempengaruhi Menopause Saat masuknya seseorang dalam fase menopause sangat berbeda-beda. Wanita di Eropa tidak sama usia menopausenya dengan wanita di Asia. Faktor genetik kemungkinan berperan terhadap usia menopause. Baik usia pertama haid (menars), melahirkan pada usia muda, maupun berat badan tidak terbukti mempercepat datangnya menopause. Wanita kembar dizigot atau wanita dengan siklus haid memendek memasuki menopause lebih awal jika dibandingkan dengan wanita yang memiliki siklus haid normal. Memasuki usia menopause lebih awal dijumpai juga pada wanita nulipara, wanita dengan diabetes mellitus (NIDDM), perokok berat, kurang gizi, wanita vegetarian, wanita dengan sosioekonomi rendah, dan pada wanita yang hidup pada ketinggian >4000 m. Wanita multipara clan wanita yang banyak mengonsumsi daging, atau minum alkohol akan mengalami menopause lebih lambat. Penyebab Menopause Alami Pada laki-laki, spermatogenesis terus berlanjut sampai usia tua, sedangkan pada wanita tidak demikian. Oogenesis akan berakhir pada usia fetus 20 minggu dan yang tinggal hanya 7 juta oosit. Mulai usia 20 minggu sampai dengan saat lahir terjadi pengurangan jumlah primordial folikel secara bermakna. Pada saat seorang anak wanita lahir, primordial folikel tinggal 500.000 sampai 1.000.000 lagi, dan dalam perjalanan waktu akan terus berkurang jumlahnya. Jumlah folikel yang masih tersedia sangat berbeda pada setiap wanita. Sebagian

wanita pada usia 35 tahun masih memiliki sebanyak 100.000 folikel, sedangkan wanita yang lain pada usia yang sama hanya memiliki 10.000 folikel. Penyebab berkurangnya jumlah folikel terletak pada folikel itu sendiri. Seperti sel-sel tubuh yang lain, oosit juQa dipengaruhi oleh stres biologik seperti radikal bebas, kerusakan permanen dari DNA, dan bertumpuknya bahan kimia yang dihasilkan dari proses metabolisme tubuh. Karena oosit selalu mengalami kendali mutu yang ketat, oosit yang telah mengalami kelainan akan dikeluarkan melalui proses apoptosis (kematian sel yang terprogram). Bila jumlah primordial folikel mencapai jumlah yang kritis, akan terjadi gangguan sistem pengaturan hormon, yang berakibat terjadinya insufisiensi korpus luteum, siklus haid anovulatorik, dan pada akhirnya terjadi oligomenorea. Bila sudah tidak tersedia lagi folikel, berarti wanita tersebut telah memasuki usia pascamenopause. Setiap wanita yang masih mengalami haid, meskipun sudah tidak teratur, ovariumnya masih memiliki lebih kurang 1000 folikel dan kemungkinan hamil selalu ada. GAMBARAN KLINIS, TERAPI, DAN PENCEGAHAN ->f e::. 1999: 16-28 Qicr.. Maturitas 1992; Sindrom Klimakterik W ns factors against wke- of reproductive ona of menopause Lebih kurana 70% wanita peri dan pascamenopause mengalami keluhan vasomotorik, depresif, dan keluhan psikis dan somatik lainnya. (Tabel 2). Berat atau ringannya keluhan berbeda-beda pada setiap wanita. Keluhan-keluhan tersebut men Z' puncaknya sebelum dan sesudah menopause, dan dengan meningkatnya usia, keluhan-keluhan tersebut makin jarang ditemukan. Tabel 2. Keluhan Klimakterik pada Wanita Usia antara 45 dan 54 Tahun Gejolak panas (hot flushes) 70 % Jantung berdebar-debar 40 % . Gangguan tidur 50 % Depresi 70 % Mudah tersinggung, berasa takut, gelisah, dan 90 % . Sakit kepala 70 % Cepat lelah, sulit berkonsentrasi, mudah lupa, 65 % Berkunang-kunang 20 % . Kesemutan 25 % Gangguan libido 30 % Obstipasi 40 % . Berat badan bertambah 60 % Pada wanita pascamenopause dijumpai pula kelainan pada kulit berupa kulit menipis, keriput, gatal-gatal, kuku rapuh dan berwarna kuning, mulut kering, dan lidah seperti terbakar. Keluhan lain adalah mata kering clan kesulitan menggunakan kontak lensa, rambut menipis, clan sering ditemukan tumbuhnya rambut di sekitar bibir, hidung, clan telinga. Keluhan urogenital dapat berupa nyeri sanggama, vagina kering, keputihan, perdarahan pascasanggama, infeksi saluran kemih berulang, gatal pada vagina/vulva, iritasi, prolapsus uteri/vagina, dan inkontinensia urin. Dapat terjadi gangguan metabolisme berupa meningkatnya kadar kolesterol, peningkatan kadar LDL, dan penurunan kadar HDL serum.

Keluhan Vasomotorik Etiologi Pendapat yang mengatakan, bahwa keluhan vasomotorik hanya terjadi pada keadaan estrogen rendah sudah tidak tepat lagi. Pada peri/pascamenopause sering dijumpai keluhan klimakterik, padahal pada fase ini kadar estrogen cukup tinggi. Keluhan yang muncul berupa perasaan panas yang muncul tiba-tiba disertai keringat banyak. Keluhan tersebut pertama kali muncul pada malam hari atau menjelang pagi, clan lambat laun juga akan dirasakan pada siang hari. Penyebab terjadinya keluhan vasomotorik umumnya pada saat kadar estrogen mulai menurun, dan penurunan ini tidak sampai mencapai kadar yang rendah. Bahkan, keluhan vasomotorik makin kuat dirasakan dengan makin tingginya kadar estrogen darah. Dari sini dapat disimpulkan, bahwa keluhan vasomotorik dapat terjadi baik pada kadar estrogen rendah, normal, maupun tinggi, sehingga pengukuran kadar estrogen darah untuk menentukan perlu atau tidaknya pengobatan menjadi tidak bermanfaat. Pendapat yang mengatakan, bahwa terjadinya keluhan vasomotorik ada kaitannya dengan tingginya kadar FSH clan LH, sudah tidak dapat diterima lagi. Buktinya, penekanan sekresi gonadotropin dengan Gn-RH analog ternyata tidak terpengaruh terhadap semburan panas. Karakteristik Semburan panas dirasakan mulai dari daerah dada dan menjalar ke leher clan ke kepala. Kulit di daerah tersebut terlihat kemerahan. Meskipun terasa panas, suhu badan tetap normal. Segera setelah timbul semburan panas, daerah yang terkena semburan panas tersebut mengeluarkan keringat banyak. Semburan panas ini akan diikuti dengan sakit kepala, perasaan kurang nyaman, clan peningkatan frekuensi nadi. Hal ini disebabkan oleh peningkatan pengeluaran hormon adrenalin dan neurotensin oleh tubuh wanita tersebut. Selain itu, terjadi pula penurunan sekresi hormon noradrenalin sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah kulit, temperatur kulit sedikit meningkat clan timbul perasaan panas. Akibat vasodilatasi clan keluarnya keringat, terjadi pengeluaran panas tubuh sehingga kadang-kadang waKLINIS, TERAPI, DAN PENCEGAHAN menli lidah nGAMBARAN konv bibir, oa ke Ratal Dapat _i:atan ,~ ke;ering inQgi. u kemenb terurun, luhan larah. pada rosen nfaat. innva iny,a, :~:uh nita merasa kedinginan. Rata-rata lamanya semburan panas adalah 3 menit dan dapat berfluktuasi antara beberapa detik sampai satu jam. Berapa kali semburan panas muncul per harinya, setiap individu berbeda-beda. Pada keadaan berat, semburan panas tersebut dapat muncul sampai 20 kali per hari. Semburan panas dan berkeringat yang muncul pada malam hari dapat menyebabkan gangguan tidur, cepat lelah, dan cepat tersinggung. Meskipun terjadi perubahan pada pembuluh darah, tekanan darah tidak meningkat. Sindrom vasomotorik dapat muncul pada pramenopause atau segera sebelum haid muncul. Pada klimakterium prekok, kejadian semburan panas cukup tinggi, yaitu 70-80%. Sebanyak 70% wanita mengalami semburan panas satu tahun setelah menopause, dan setelah 5 tahun hanya tinggal 25%. Puncak maksimal keluhan tersebut muncul antara usia 54 dan 58 tahun. Munculnya keluhan semburan panas akan diperberat dengan adanya stres, alkohol, kopi, dan makanan-minuman panas. Lingkungan sekitar yang panas dapat

memperburuk perjalanan penyakit tersebut. Semburan panas dapat juga terjadi akibat reaksi alergi clan pada hipertiroid. Selain itu, juga dapat disebabkan oleh obat-obat tertentu seperti insulin, niacin, nifedipin, nitrogliserin, kalsitonin, clan antiestrogen. Terapi Sulih Hormon (TSH) Bila keluhan vasomotorik tersebut disebabkan oleh rendahnya kadar estrogen, tentu penanganannya adalah dengan pemberian estrogen. Perlu disadari, bahwa pemberian plasebo kadang-kadang dapat menghilangkan keluhan tersebut, seperti yang diperlihatkan oleh penelitian "Women's Health, osteoporosis, progestin, dan estrogen" (HOPE) (Gambar 3 dan 4). tipasi. Pada fase luteal, di mana kadar estrogen rendah, wanita mudah terkena diare. Selain itu, stres juga dapat menimbulkan berbagai jenis keluhan. Stres meningkatkan pengeluaran (3 endorfin, dan zat ini memicu pengeluaran ACTH. (3 endorfin dan ACTH berasal dari prekursor yang sama, yaitu, Preopiomelanocortin (POMC), yang banyak ditemukan di dalam nukleus arkuatus. POMC ini merupakan suatu peptida. Dari peptida ini terbentuklah (3 endorfin di hipotalamus dan ACTH serta (3 lipotropin di hipofisis bagian depan. (3 endorfin dapat meningkatkan nafsu makan sehingga selama pemberian TSH banyak wanita mengeluh berat badannya bertambah. Keluhan Psikis Telah lama diketahui, bahwa steroid seks sangat berperan terhadap fungsi susunan saraf pusat, terutama terhadap perilaku, suasana hati, serta fungsi kognitif clan sensorik seseorang. Dengan demikian, tidak heran bila terjadi penurunan sekresi steroid seks, timbul perubahan psikis yang berat dan perubahan fungsi kognitif. Kurangnya aliran darah ke otak menyebabkan sulit berkonsentrasi dan mudah lupa. Akibat kekurangan hormon estrogen pada wanita pascamenopause, timbullah keluhan seperti mudah tersinggung, cepat marah, dan berasa tertekan. Kejadian depresi dijumpai sama pada laki-laki dan perempuan. Karena kejadiannya meningkat pada usia klimakterik dan pospartum dan pemberian estrogen dan progesteron dapat nienghilangkan/mengurangi keluhan tersebut, maka kekurangan steroid seks dapat dianggap sebagai faktor predisposisi terjadinya depresi. Depresi sering juga ditemukan beberapa hari menjelang haid pada wanita usia reproduksi. Perasaan tertekan, nyeri betis, mudah marah, mudah tersinggung, stres, clan cepat lelah merupakan keluhan yang sering dijumpai pada wanita usia klimakterik dan pada wanita usia reproduksi dengan keluhan sindrom prahaid. Penyebab depresi diduga akibat berkurangnya aktivitas serotonin di otak. Estrogen menghambat aktivitas enzim monoamin oksidase (MAO). Enzim ini mengakibatkan serotonin dan noradrenalin menjadi tidak aktif. Kekurangan estrogen menyebabkan terjadinya peningkatan enzim MAO. Terbukti, bahwa wanita pascamenopause yang diberi estrogen menurun aktivitas MAO dalam plasmanya. Pemberian serotonin-antagonis pada wanita pascamenopause dapat menghilangkan keluhan depresi. Skizofrenia Perbandingan wanita dan laki-laki yang menderita skizofrenia halusinasi paranoid adalah 7 : 1. Wanita yang mendapatkan penyakit ini usianya lebih muda dibandingkan laki-laki. Skizofrenia dibagi dalam dua tipe, yaitu tipe I clan tipe II. Pada tipe II terjadi gangguan perkembangan neoron akibat trauma melahirkan. Tipe II muncul lebih dini dan prevalensinya lebih tinggi

pada laki-laki. Tipe I baru bermanifestasi pada usia yang lebih tua dan angka kejadiannya lebih tinggi pada wa nita. Gejala ya~ badian tidak t:rg pamin D'_'. Dop4 skizofrenia. Ob bat reseptor Jo bahwa sistem barn ditemukan terhadap timbu Efek estradiol pembentukan e lisme dopamin. Karena estradiol disebut sebaRai lebih banyak di sedikit menderi Efek Psiko-\ew Estrogen berfunzi tagen sintetik mel seorang wanita da lain itu, estro~::n i sorik (melihat. mi sifat aktivasi tern, seorang wanita. S dan anastetik. Pad menurunkan seran sifat sedatif. Andr terhadap otak. Seb cren memiliki sifal makan, serta dapal androgen dapat rtH lalu lama dapat rn Sifat aktivasi da mgen, misalnya (asam glutami:. ju Reseptor). Cara ke Ierhadap otak Jug, VLsteron memilihi pengikatan pro_ A rrilasid A), de n = aj tdatif (Gamh---- 5
pdah terkena kn. Stres mean ACTH. (3 imelanocortin Qi merupakan ~s dan ACTH *atkan nafsu tat badannya nRs i susunan iitif clan seni sekresi stegsi kognitif. mudah lupa. imbullah ke nita. Gejala yang muncul terutama berupa halusinasi-paranoid, sedangkan kepribadian tidak terganggu. Skizofrenia tipe 1 disebabkan oleh turunnya reseptor dopamin D2. Dopamin serta reseptornya memegang peranan besar terhadap genesis skizofrenia. Obat-obat psikofarmaka yang memiliki kemampuan untuk menhambat reseptor dopamin memiliki efek anti skizofrenia, dan ini membuktikan dugaan bahwa sistem dopamin sangat penting untuk terjadinya skizofrenia. Dua reseptor baru ditemukan lagi buat dopamin, yaitu D3 clan D4 yang juga sangat berperan terhadap timbulnya skizofrenia. Efek estradiol terhadap dopamin telah lama diketahui orang. Estrogen memicu pembentukan enzim monoamin oksidase. Enzim ini sangat berperan pada metabolisme dopamin. Kekurangan estrogen menyebabkan produksi enzirn ini berkurang. Karena estradiol memiliki efek antagonis terhadap dopamin, tepat kalau estradiol disebut sebagai neuroleptikum. Wanita memiliki jumlah reseptor dopamin yang lebih banyak dibandingkan laki-laki, dan inilah yang menjadi alasan laki-laki lebih sedikit menderita skizofrenia. Efek Psiko-Neurotropik dari Steroid Seks urena kejadiian estrogen maka kekuya depresi. wanita usia gRung, stres, wia klimakid. otak. Estroni menaakistroQen meanita pascaianva. Pemnghilangkan ksi paranoid rtuda dibanipe II. Pada tan. Tipe II I baru bergi pada wa Estrogen berfungsi sebagai aktivator terhadap susunan saraf pusat, sedangkan gestagen sintetik memiliki efek sedatif. Estrogen dapat meningkatkan euporia pada seorang wanita dan sekaligus dapat meningkatkan aktivitas tubuh dan mental. Selain itu, estrogen dapat meningkatkan memori dan memperbaiki kemampuan sensorik (melihat, mendengar, meraba, mencium, dan mengecap). Karena memiliki sifat aktivasi terhadap otak, estrogen dapat meningkatkan serangan epilepsi pada seorang wanita. Sebaliknya, progesteron memiliki sifat antikonvulsif, anxiolitik, dan anastetik. Pada pasien epilepsi, pemberian turunan progesteron (MPA) dapat menurunkan serangan epilepsi. Progesteron turunan nortestosteron tidak memiliki sifat sedatif. Androgen sama halnya dengan estrogen, juga memiliki sifat aktivasi terhadap otak. Sebagian androgen dikonversi oleh sel-sel otak ke estradiol. Androgen memiliki sifat sedatif, perasaan seseorang menjadi baik, meningkatkan nafsu makan, serta dapat meningkatkan kemampuan kerja seseorang. Namun, sayangnya androgen dapat meningkatkan pula agresivitas seseorang. Pemberian androgen terlalu lama dapat menyebabkan ketergantungan. Sifat aktivasi dari estrogen terhadap otak dapat dijelaskan sebagai berikut. Estrogen, misalnya 17 (3estradiol, meningkatkan kemampuan kerja asam amino (asam glutamin, asam asparagin) terhadap reseptor NMDA (N-Metil-D-AspartatReseptor). Cara kerja pregnenolon sulfat dan dihidroepiandrosteron sulfat (DHEA) terhadap otak juga sama seperti estrogen. Seperti telah dijelaskan, bahwa progesteron memiliki sifat sedatif, yang mekanisme kerjanya adalah dengan cara pengikatan progesteron tersebut pada reseptorreseptor GABA-A (Gamaaminobutirilasid A), dengan sendirinya pula reseptor tersebut menjadi aktif dan bersifat sedatif (Gambar 5).
GAMBARAN KLINIS, TERAPI, DAN PENCEGAHAN

Steroid

Gambar 5. Progesteron meningkatkan efek reseptor GABA dan sekaligus menurunkan aktivitas neurotransmiter glisin yang memiliki khasiat sedatif
(Dikutip dari Huber. J Endokrine Gynakologie, 0erlag Wilhelrn Maudrich, Wien-Murachen-Bern)

Androgen seperti testosteron memiliki sifat aktivasi terhadap otak, tetapi metabolitnya seperti androsteron clan androstendiol yaitu memiliki sifat sedatif. Efek sedatif metabolik-metabolik ini sama kuatnya dengan benzodiasepin. Secara umum dapat disimpulkan bahwa progesteron jelas memiliki khasiat sedatif, sehingga memiliki pengaruh positif terhadap depresi prahaid, epilepsi, clan migrain. Namun, pada pasien-pasien tertentu ternyata progesteron tidak memiliki efek seperti yang diharapkan. Hal ini erat kaitannya dengan berbagai faktor seperti steroid genesis intraserebral, metabolisme steroid itu sendiri, tipe-tipe reseptor yang ada di otak, clan interaksi steroid dengan reseptor-reseptor jenis lain yang ada di otak (Gambar 6). Gangguan Tidur Gangguan tidur paling banyak dikeluhkan wanita pascamenopause. Kurang nyenyak tidur pada malam hari menurunkan kualitas hidup wanita tersebut. Estrogen memiliki efek terhadap kualitas tidur. Reseptor estrogen telah ditemukan di otak yang mengatur tidur. Penelitian buta ganda menunjukkan, bahwa wanita yang diberi estrogen equin konjugasi memiliki periode 'rapid eye movement' yang lebih panjang dan tidak memerlukan waktu lama untuk tidur (Gambar 7).
~L'j

Plasebo

babkan terjadil terjadi perburd cegah perburul Terapi Sulih 1 Pemberian eatn serta meninakal estrogen juga d bahan gestaRen pengaruh yang dengan cepat n lebih baik peng Seks dan Libi Gambar 7. Efek dari estrogen terhadap gangguan tidur (Dikutip
Medicine)

dari Harnmoml CH. Duke Universitv School of

Terapi Sulih Hormon Pengobatan utama pada wanita perimenopause dalam keadaan depresi adalah pemberian hormon sehingga tidak perlu diberi obat-obat antidepresan. Tambahan progesteron ataupun gestagen sintetik justeru akan memberikan efek negatif terhadap kerja estrogen. Namun, efek negatif ini sangat bergantung pada dosis progesteron yang digunakan. Dengan menaikkan dosis estrogen, ataupun menurunkan dosis progesteron, masalah tersebut dapat diatasi dengan baik. Hasil yang lebih baik lagi dapat dicapai dengan pemberian kombinasi estrogen dan androgen. Karena dampak negatif dari androgen begitu banyak, seperti memiliki efek ketergantungan, menimbulkan dampak maskulinisasi, serta mempengaruhi metabolisme lemak, sebaiknya androgen tidak digunakan secara rutin. Fungsi Kognitif dan Sensorik Berpikir dan mengenal sesuatu sangat erat kaitannya dengan kemampuan daya ingat seseorang. Hilangnya kemampuan fungsi sensorik, seperti melihat dan mendengar, sangat mempengaruhi intelektualitas seseorang. Kemampuan kognitif, ataupun kemampuan mengingat akan bertambah buruk akibat kekurangan hormon estrogen. Akibat kekurangan estrogen terjadi gangguan fungsi sel-sel saraf serta terjadi pengurangan aliran darah ke otak. Pada keadaan kekurangan estrogen jangka lama dapat menyebabkan kerusakan pada otak, yang suatu saat kelak dapat menimbulkan demensia atau penyakit Alzheimer. Pada wanita yang dilakukan pengangkatan kedua ovarium pada usia muda yang menyebabkan terjadinya penurunan kadar estrogen dan androgen secara tiba-tiba, akan rerjadi perburukan fungsi kognitif. Pemberian estrogen atau androgen dapat men perburukan tersebut. Terapi Sulih Hormon
In

Pemberian estrogen dapat memperbaiki fungsi kognitif, meningkatkan daya in-at, aerta meningkatkan kemampuan belajar dan kemampuan berkonsentrasi. Selain An, estrogen juga dapat memperbaiki kemampuan sensorik dan sensomotorik. Penambahan gestagen akan memperkuat kerja estrogen. Androgen kelihatannya memiliki pengaruh yang lebih baik terhadap pemecahan soal-soal matematika, dan dapat den-

an cepat mengenal sesuatu di dalam rtiangan, sedangkan estrogen kelihatan lebih baik pengaruhnya terhadap peningkatan kemampuan verbal.
ucasi

Seks dan Libido or

re?i adalah pemTambahan prone-atif terhadap dampak Itun zan, menimtnah:. sebaiknya

Y si~

Droaesteron pnurunkan dosis 6 l;b:h baik lagi Karena

~1;-:nuan daya dan men Dengan makin meningkatnya usia, maka makin sering dijumpai gangguan seksual pada wanita. Akibat kekurangan hormon estrogen, aliran darah ke vagina berkurang, cairan vagina berkurang, dan sel-sel epitel vagina menjadi tipis dan mudah cedera. Beberapa penelitian membuktikan bahwa kadar estrogen yang cukup merupakan faktor terpenting untuk mempertahankan kesehatan dan mencegah vagina dari kekeringan sehingga tidak menimbulkan nyeri saat sanggama (Gambar 8).
Kadar serum estradiol (pgJml) vagina nyeri nyeri nyeri kering sanggama sanggama penetrasi (frekuensi) (Intensias)

< 50

Itbah buruk akitj,adi Qangguan . Pa,la keadaan lada otak, yang 1zheimer. Pada la yang menye Gambar 8. Masalah seksual vs kadar estradiol (Dikutip dari Kmnmond CH.
Duke Univer siy School of Medicine)

Wanita dengan kadar estrogen <50 pg/ml lebih banyak mengeluh masalah seksual seperti vaginanya kering, perasaan terbakar, gatal, dan sering keputihan. Akibat cairan vagina berkurang, umumnya wanita mengeluh sakit saat sanggama sehingga