Anda di halaman 1dari 6

Anemia Defisiensi Besi

March 2nd, 2011

Anemia Defisiensi Besi (ADB) adalah anemia yang timbul akibat kosongnya cadangan besi tubuh (depleted iron store) sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang, yang pada akhirnya pembentukan hemoglobin (Hb) berkurang.1 Gambaran diagnosis etiologis dapat ditegakkan dari petunjuk patofisiologi, patogenesis, gejala klinis, pemeriksaan laboratorium, diagnosis banding, penatalaksanaan dan terapi. Beberapa zat gizi diperlukan dalam pembentukan sel darah merah. Yang paling penting adalah zat besi, vitamin B12 dan asam folat, tetapi tubuh juga memerlukan sejumlah kecil vitamin C, riboflavin dan tembaga serta keseimbangan hormone, terutama eritroprotein. Tanpa zat gizi dan hormone tersebut, pembentukan sel darah merah akan berjalan lambat dan tidak mencukupi, dan selnya bisa memiliki kelainan bentuk dan tidak mampu mengangkut oksigen sebagaimana mestinya. 1,2 PATOFISIOLOGI Zat besi (Fe) diperlukan untuk pembuatan heme dan hemoglobin (Hb).Kekurangan Fe mengakibatkan kekurangan Hb.Walaupun pembuatan eritrosit juga menurun, tiap eritrosit mengandung Hb lebih sedikit daripada biasa sehingga timbul anemia hipokromik mikrositik.3 ETIOLOGI Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh rendahnya masukan besi, gangguan absorpsi, serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun. 1.Kehilangan besi sebagai akibat perdarahan menahun, yang dapat berasal dari : a.Saluran Cerna : akibat dari tukak peptik, kanker lambung, kanker kolon, divertikulosis, hemoroid, dan infeksi cacing tambang. b.Salan genitalia wanita : menorrhagia, atau metrorhagia. c.Salura kemih : hematuria d.Saluran napas : hemoptoe.

2.Faktor nutrisi : akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan, atau kualitas besi (bioavaibilitas) besi yang tidak baik (makanan banyak serat, rendah vitamin C, dan rendah daging). 3.Kebutuhan besi meningkat : seperti pada prematuritas, anak dalam masa pertumbuhan dan kehamilan. 4.Gangguan absorpsi besi : gastrektomi, tropical sprue atau kolitis kronik. Pada orang dewasa, anemia defisiensi besi yang dijumpai di klinik hampir identik dengan perdarahan menahun. Faktor nutrisi atau peningkatan kebutuhan besi jarang sebagai penyebab utama. Penyebab perdarahan paling sering pada laki-laki ialah perdarahan gastrointestinal, di negara tropik paling sering karena infeksi cacing tambang. Sementara itu, pada wanita paling sering karena menormetrorhagia.1 EPIDEMIOLOGI Diperkirakan 30% penduduk dunia menderita anemia dan lebih dari 50% penderita ini adalah ADB da terutama mengenai bayi, anak sekolah, ibu hamil dan menyusui. Di Indonesia masih merupakan masalah gizi utama selain kekurangan kalori protein, vitamin A dan yodium. Penelitian di Indonesia mendapatkan prevalensi ADB pada anak balita sekitar 30 40%, pada anak sekolah 25 35% sedangkan hasil SKRT 1992 prevalensi ADB pada balita sebesar 5,55%. ADB mempunyai dampak yang merugikan bagi kesehatan anak berupa gangguan tumbuh kembang, penurunan daya tahan tubuh dan daya konsentrasi serta kemampuan belajar sehingga menurunkan prestasi belajar di sekolah.3 PATOGENESIS Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan zat besi sehingga cadangan zat besi makin menurun. Jika cadangan kosong maka keadaan ini disebut iron depleted state. Apabila kekurangan zat besi berlanjut terus maka penyediaan zat besi untuk eritropoesis berkurang sehingga menimbulkan gangguan pada bentuk eritrosit, tetapi anemia secara klinis belum terjadi, keadaan ini disebut iron deficient erythropoiesis.Selanjutnya timbul anemia hipokromik mikrositer sehingga disebut iron deficiency anemia.1 GEJALA KLINIS Anemia pada akhirnya menyebabkan kelelahan, sesak nafas, kurang tenaga dan gejala lainnya. Gejala yang khas dijumpai pada defisiensi besi, tidak dijumpai pada anemia jenis lain, seperti : 1. Atrofi papil lidah : permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah menghilang. 2. Glositis : iritasi lidah 3. Keilosis : bibir pecah-pecah 4. Koilonikia : kuku jari tangan pecah-pecah dan bentuknya seperti sendok.1 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Kelainan laboratorium pada kasus anemia defisiensi besi yang dapat dijumpai adalah : 1. Kadar hemoglobin dan indeks eritrosit : didapatkan anemia hipokrom mikrositer dengan penurunan kadar hemoglobin mulai dari ringan sampai berat. MCV, MCHC dan MCH menurun. MCH < 70 fl hanya didapatkan pada anemia difisiensi besi dan thalassemia mayor. RDW (red cell distribution width) meningkat yang menandakan adanya anisositosis.Indeks eritrosit sudah dapa mengalami perubahan sebelum kadar hemoglobin menurun. Kadar hemoglobin sering turun sangat rendah, tanpa menimbulkan gejala anemia yang mencolok karena anemia timbul perlahan-perlahan. Apusan darah menunjukkan anemia hipokromik mikrositer, anisositosis, poikilositosis, anulosit, sel pensil, kadang-kadang sel target.

Derajat hipokromia dan mikrositosis berbanding lurus dengan derajat anemia, berbeda dengan thalassemia. Leukosit dan trombosit normal. Retikulosit rendah dibandingkan derajat anemia. Pada kasusankilostomiasis sering dijumpai eosinofilia.1 2. Apus sumsum tulang : Hiperplasia eritropoesis, dengan kelompok-kelompok normo-blast basofil. Bentuk pronormoblast-normoblast kecil-kecil, sideroblast.2 3. Kadar besi serum menurun <50 mg/dl, total iron binding capacity (TIBC) meningkat >350 mg/dl, dan saturasi transferin < 15%. 4. Feritin serum. Sebagian kecil feritin tubuh bersirkulasi dalam serum, konsentrasinya sebanding dengan cadangan besi jaringan, khususnya retikuloendotel. Pada anemia defisensi besi, kadar feritin serum sangat rendah, sedangkan feritin serum yang meningkat menunjukkan adanya kelebihan besi atau pelepasan feritin berlebihan dari jaringan yang rusak atau suatu respons fase akut, misalnya pada inflamasi. Kadar feritin serum normal atau meningkat pada anemia penyakit kronik. 5. TIBC (Total Iron Banding Capacity) meningkat. 6. Feses : Telur cacing Ankilostoma duodenale / Necator americanus. 7. Pemeriksaan lain : endoskopi, kolonoskopi, gastroduodenografi, colon in loop, pemeriksaan ginekologi.1 DIAGNOSIS Penegakkan diagnosis anemia defisiensi besi dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang diteliti disertai pemeriksaan laboratorium yang tepat. Secara laboratorik untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi dapat dipakai kriteria diagnosis anemia defisiensi besi sebagai berikut : Adanya riwayat perdarahan kronis atau terbukti adanya sumber perdarahan. Laboratorium : Anemia hipokrom mikrosister, Fe serum rendah, TIBC tinggi. Tidak terdapat Fe dalam sumsum tulang (sideroblast-) 4. Adanya respons yang baik terhadap pemberian Fe.1,2 DIAGNOSIS BANDING Anemia defisiensi besi perlu dibedakan dengan anemia hipokromik lainnya, seperti : 1. Thalasemia (khususnya thallasemia minor) : a. Hb A2 meningkat b. Feritin serum dan timbunan Fe tidak turun. 1. Anemia kaena infeksi menahun : a. Biasanya anemia normokromik normositik. Kadang-kadang terjadi anemia hipokromik mikrositik. b. Feritin serum dan timbunan Fe tidak turun. 3. Keracunan timah hitam (Pb) : 1. Terdapat gejala lain keracunan P. Terdapat ring sideroblastik pada pemeriksaan sumsum tulang.1 Anemia sideroblastik : 1. 2. 3.

2.
1.

PENATALAKSANAAN 1. Mengatasi penyebab perdarahan kronik, misalnya pada ankilostomiasis diberikan antelmintik yang sesuai. 2. Pemberian preparat Fe : Pemberian preparat besi (ferosulfat/ferofumarat/feroglukonat) dosis 4-6 mg besi elemental/kg BB/hari dibagi dalam 3 dosis, diberikan di antara waktu makan. Preparat besi ini diberikan sampai 2-3 bulan setelah kadar hemoglobin normal. 1. Bedah Untuk penyebab yang memerlukan intervensi bedah seperti perdarahan karena diverticulum Meckel. 1. Suportif Makanan gizi seimbang terutama yang megandung kadar besi tinggi yang bersumber dari hewani (limfa, hati, daging) dan nabati (bayam, kacang-kacangan).2,4 TERAPI Setelah diagnosis ditegakan maka dibuat rencana pemberian terapi, terapi terhadap anemia difesiensi besi dapat berupa : 1. Terapi kausal: tergantung penyebabnya,misalnya : pengobatan cacing tambang, pengobatan hemoroid, pengubatan menoragia. Terapi kausal harus dilakukan, kalau tidak maka anemia akan kambuh kembali. 2. Pemberian preparat besi untuk mengganti kekurangan besi dalam tubuh : 1. Besi per oral : merupakan obat pilihan pertama karena efektif, murah, dan aman.preparat yang tersedia, yaitu: a. i. Ferrous sulphat (sulfas ferosus): preparat pilihan pertama (murah dan efektif). Dosis: 3 x 200 mg. b. ii. Ferrous gluconate, ferrous fumarat, ferrous lactate, dan ferrous succinate,harga lebih mahal, tetepi efektivitas dan efek samping hampir sama. c. Besi parenteral Efek samping lebih berbahaya,serta harganya lebih mahal. Indikasi, yaitu : Intoleransi oral berat; Kepatuhan berobat kurang; a. iii. Kolitis ulserativa; b. iv. Perlu peningkatan Hb secara cepat (misal preoperasi, hamil trimester akhir).4 DAFTAR PUSTAKA [1] Bakta, I.M ., 2007. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta : EGC. [2] Hoffbrand, A.V., Pettit, J.E., Moss, P.A.H., 2005. Kapita Selekta Hematologi. Jakarta : EGC. [3] Weiss, G.,Goodnough, L.T., 2005. Anemia of Chronic Disease.Nejm, 352 : 1011-1023. [4] Dunn, A., Carter, J., Carter, H., 2003. Anemia at the end of life: prevalence, significance, and causes in patients receiving palliative care. Medlineplus. 26:1132-1139. 1. 2. i. ii.

http://www.irwanashari.com/anemia-defisiensi-besi/

http://library.usu.ac.id/download/fk/fk-arlinda%20sari2.pdf

http://ffarmasi.unand.ac.id/pub/jstf_v12_2_07_isniati.pdf
Cegah Dini, Anemia Defisiensi Besi
Ditulis Oleh Administrator Wednesday, 23 April 2008

ANEMIA ternyata dapat menyerang seorang bayi. Bagaimana penyakit yang dikenal dengan istilah kurang darah itu bisa menjangkiti si buah hati dan apa akibatnya? Angka kematian akibat ibu hamil anemia memang cukup tinggi. Bila penyakit tersebut menjangkiti bayi yang dikandungnya, akan dapat menghambat perkembangan fisik dan intelektual anak. Untuk itu, perlu pendeteksian lebih dini agar apa yang terjadi dapat diatasi dengan lebih baik.

Anemia adalah keadaan kadar hemoglobin atau hemat okrit kurang dari batas normal sesuai usia (bayi dan anak) atau jenis kelamin (dewasa). Akibatnya, berkurangnya kemampuan menghantarkan oksigen yang dibutuhkan untuk metabolisme tubuh yang optimal. Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Fatmawati dr Pauline Endang SpGK mengatakan, anemia defisiensi besi ini dapat diketahui dari adanya pemeriksaan hemoglobin (HB). "Jika HB kurang, dapat dikatakan anak tersebut menderita penyakit ini. Karena fungsi HB adalah untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh," katanya. Karena zat besi berfungsi membentuk hemoglobin. Jenis Anemia defisiensi besi ini merupakan jenis kasus anemia yang paling sering dijumpai. Data WHO menyebutkan sekitar 2 miliar penduduk dunia terkena penyakit tersebut. Bila seseorang terkena anemia, berarti pasokan oksigen dan zat-zat gizi ke seluruh tubuh berkurang. Dalam seminar mengenai sosialisasi WHO Child Growth Standar dan peluncuran Sangobion Drops, di Hotel Grand Kemang, dipaparkan bahwa kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia defisiensi besi yang bisa memengaruhi perkembangan fisik dan mental seorang anak yang terkena penyakit itu. Juga disebutkan, anemia ringan pada bayi dan anak dapat menghambat perkembangan intelektual. Pada anak berusia dua tahun, anemia bisa menyebabkan gangguan koordinasi dan keseimbangan sehingga anak kelihatan menarik diri dan selalu ragu. Hal tersebut bisa menyebabkan terhambatnya kemampuan anak dalam berinteraksi dengan temannya. "Gejala yang ditimbulkan dari adanya anemia defisiensi besi karena kurangnya HB dalam tubuh kita, ditunjukkan dengan keadaan anak yang lemah, lelah, letih, lesu, dan menurunnya daya pikir," sebut Pauline yang juga dokter spesialis gizi itu. Dalam seminar tersebut dipaparkan juga data survei kesehatan rumah tangga (SKRT) 2001 yang menyebutkan prevalensi anemia pada anak-anak berumur 0-5 tahun,47 persen anak usia sekolah, dan remaja 26,5 persen, untuk wanita usia subur 40 persen. Pada 2001-2003, ada 2 juta ibu hamil penderita anemia gizi; 350.000 berat bayi lahir rendah per tahun; 5 juta balita gizi kurang; serta 8,1 juta anak, 3,5 juta remaja, dan wanita usia subur menderita anemia. Bergantung pada penyebab dan derajatnya, anemia bisa berakibat pada kematian. "Penderita anemia defisiensi besi akan berkurang daya tahan tubuhnya secara keseluruhan, bisa juga menyebabkan terjadinya gangguan mental dan terparahnya jika dibiarkan saja akan menimbulkan masalah pada detak jantung yang bisa juga menimbulkan kematian," tutur Pauline. Di Indonesia, kebanyakan keluarga tidak menyadari anak-anaknya mengidap anemia. Konsultan tumbuh kembang anak Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung dr Kusnadi Rusmil SpA(K) MM memaparkan data penelitian Batubara 2004 yang menunjukkan rata-rata anak Indonesia baik laki-laki maupun perempuan mempunyai berat dan tinggi di bawah nilai rata-rata standar. (sindo)

http://cpddokter.com/home/index.php?

http://etd.eprints.ums.ac.id/2864/1/J200050043.pdf