Anda di halaman 1dari 52

ANALISIS PENGGUNAAN BAHASA JARGON DALAM SMS BERDASARKAN GEJALA BAHASA DILIHAT DARI TINGKAT PENDIDIKAN DALAM KELUARGA

DAN DAMPAK YANG DITIMBULKAN PADA SETIAP ANGGOTA KELUARGA Disusun sebagai tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia Semester IV

Disusun Oleh : Deprina Aprilia Sembodo (0220080034)

MEKATRONIKA POLITEKNIK MANUFAKTUR ASTRA 2010

ANALISIS PENGGUNAAN BAHASA JARGON DALAM SMS BERDASARKAN GEJALA BAHASA DILIHAT DARI TINGKAT PENDIDIKAN DALAM KELUARGA DAN DAMPAK YANG DITIMBULKAN PADA SETIAP ANGGOTA KELUARGA Disusun sebagai tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia Semester IV

Disusun Oleh : Deprina Aprilia Sembodo (0220080034) Pembimbing : Purti Nasution, S.Pd. MEKATRONIKA POLITEKNIK MANUFAKTUR ASTRA
JL Gaya Motor Raya No. 8, Sunter II, Jakarta Utara 14330 Telepon: 6519555, Fax: 6519821 email: sekretariat@polman.astra.ac.id

2010

ii

LEMBAR PENGESAHAN
ANALISIS PENGGUNAAN BAHASA JARGON DALAM SMS BERDASARKAN GEJALA BAHASA DILIHAT DARI TINGKAT PENDIDIKAN DALAM KELUARGA DAN DAMPAK YANG DITIMBULKAN PADA SETIAP ANGGOTA KELUARGA

Jakarta, 23 April 2010

POLITEKNIK MANUFAKTUR ASTRA

Purti Nasution, S.Pd. Dosen Pembimbing

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke Hadirat Allah SWT, karena berkat rahmatNyalah saya dapat merampungkan karya tulis ini, yang berkenaan dengan

penggunaan bahasa jargon dalam SMS berdasarkan gejala bahasa dilihat dari tingkat pendidikan dalam keluarga dan dampak yang ditimbulkan pada setiap anggota keluarga. Terima kasih saya ucapkan kepada :
1. Ibu purti, selaku pembimbing yang menyempatkan waktu beliau untuk

merespon setiap kemajuan karya tulis yang saya buat.


2.

Serta pihak media cetak maupun media elektronik seperti internet, yang menjadi sumber penelitian karya tulis saya.

3. Ibunda meminjamkan buku sastranya serta memberikan uangnya kepada

saya untuk memfotokopi sumber literatur. Saya mempertimbangkan kritik dan saran dari teman-teman kesempurnaan penulisan karya tulis yang saya buat selanjutnya. Saya berharap kehadiran karya tulis saya ini mampu memperkaya referensi teman pelajar dan mahasiswa yang tertarik untuk mendalami ilmu bahasa kesatuan kita, bahasa Indonesia. untuk

Jakarta, 23 April 2010

Penulis

iv

DAFTAR ISI

JUDUL LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI ... DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN . 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. 1.6. 1.7. Latar Belakang .. Tujuan Penelitian ... Identifikasi Masalah ... Pembatasan Masalah .. Rumusan Masalah .. Metode Penelitian .. Sistematika Penulisan

ii iii iv v vii viii 1 1 2 2 3 4 4 4 6 7 9 20 34

BAB II PEMBAHASAN 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Baku . Gejala Bahasa Variasi Bahasa .. Analisis Data

BAB III PENUTUP 3.1. 3.2. Kesimpulan Saran

38 38 38 39

DAFTAR PUSTAKA .

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9

7 7 7 8 8 8 8 9 34

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 .. Gambar 2 .. Gambar 3 .. Gambar 4 ..

34 34 35 35

viii

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Manusia sebagai mahkluk sosial semestinya berinteraksi dengan sesamanya. Untuk keperluan inilah, manusia menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi sekaligus sebagai identitas kelompok. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan terbentuknya berbagai bahasa di dunia yang memiliki ciri-ciri unik yang menyebabkannya berbeda dengan bahasa lainnya. Hubungan antara bahasa dengan konteks sosial tersebut dipelajari dalam bidang Sosiolinguistik, sebagaimana yang dikemukakan oleh Trudgill bahwa, Sosiolinguistik adalah bagian linguistik yang berkaitan dengan bahasa, fenomena bahasa dan budaya. Bidang ini juga mengkaji fenomena masyarakat dan berkaitan dengan bidang sains sosial seperti sistem kerabat (Antropologi) bisa juga melibatkan geografi dan sosiologi serta psikologi sosial. Ketika, Fishman menyatakan bahwa Sosiolinguistik memiliki

komponen utama yaitu : ciri-ciri bahasa dan fungsi bahasa. Fungsi bahasa yang dimaksud adalah fungsi sosial (regulatory), untuk membentuk arahan dan fungsi interpersonal yaitu menjaga hubungan baik serta fungsi imajinatif untuk menerka alam fantasi serta fungsi emosi seperti untuk mengungkapkan suasana hati, yaitu : marah, sedih, gembira dan apresiasi. (Dalam sebuah situs di google , 2010) Perkembangan bahasa yang selaras dengan perkembangan kehidupan manusia di zaman modern menunjukkan fenomena yang berubah-ubah antara lain dengan penggunaan bahasa pada komunitas tertentu. Menggunakan bahasa sebagai alat pergaulan yang dikenal dengan variasi

11

2 2

bahasa seperti bahasa jargon yang terdapat pada

SMS . Walaupun

sepatutnya bahasa Indonesia sebagai bahasa ibulah yang seharusnya mendapat apresiasi yang lebih dari masyarakat, yang mengaku putra dan putri Indonesia yang berbahasa satu, bahasa Indonesia. Bentuk apresiasi berbahasa dapat dilakukan dengan selalu menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan baku sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia . Hal inilah yang mendorong dilakukan penelitian mengenai,

penggunaan bahasa jargon dalam SMS berdasarkan gejala bahasa dilihat dari tingkat pendidikan dalam keluarga dan dampak yang ditimbulkan pada setiap anggota keluarga.
1.2.

Tujuan Penelitian penelitian mengenai, penggunaan bahasa jargon

Tujuan diadakannya

dalam SMS berdasarkan gejala bahasa dilihat dari tingkat pendidikan dalam keluarga dan dampak yang ditimbulkan pada setiap anggota

keluarga, antara lain :


1.2.1.

Mengetahui seberapa pentingnya bahasa Indonesia

diaplikasikan dalam keluarga.


1.2.2.

Mengetahui sebab munculnya bahasa jargon,

khususnya pada SMS.


1.2.3.

Mengetahui sebab anggota keluarga menggunakan

bahasa jargon.
1.2.4.

Mengetahui gejala bahasa pada bahasa Indonesia,

berkenaan munculnya bahasa jargon pada SMS sebagai media berkomunikasi.

1.2.5.

Mengetahui bagaimana cara berkomunikasi yang


3

baik dan benar dengan berbahasa Indonesia.


1.2.6. 1.3.

Mengetahui dampak yang terjadi di dalam keluarga.

Identifikasi Masalah Beberapa masalah yang telah ditemukan berkaitan dengan tema yang diangkat, yaitu :
1.3.1. Apakah bahasa merupakan alat komunikasi yang dapat

menjadi identitas dari suatu kelompok?


1.3.2. Bagaimana hubungan yang terjadi antara bahasa dengan

konteks sosial? 1.3.3. Apakah yang dimaksud dengan sosiolinguistik? menggunakan

1.3.4. Bagaimana cara sebaik-baiknya dalam

bahasa Indonesia?
1.3.5. Mengapa

gejala

bahasa (fenomena bahasa),

berupa

penggunaan bahasa pergaulan (bahasa jargon) dapat terjadi?


1.3.6. Apa yang membuat pelajar memilih untuk menggunakan

bahasa pergaulan (bahasa jargon) sebagai alat berkomunikasi saat berSMS?


1.3.7. Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari penggunaan

bahasa jargon dalam sms di dalam keluarga?


1.4.

Pembatasan Masalah

Dari beberapa permasalahan yang

dijabarkan, kemudian dibatasi

permasalahan yang akan dibahas. Tetapi akibat keterbatasan waktu yang diberikan untuk menyelesaikan karya tulis. Maka pembatasan masalah yang dirumuskan sebagai berikut :
1.4.1. Pembahasan

menyangkut cara sebaik-baiknya dalam

menggunakan bahasa Indonesia dengan menggunakan bahasa yang baku.


1.4.2. Pembahasan mengenai gejala bahasa (fenomena bahasa),

dan penggunaan bahasa pergaulan (bahasa jargon) pada SMS di keluarga Prio Sembodo bagi anggota keluarga yang tingkat pendidikannya adalah SMA ke atas.
1.5.

Rumusan Masalah Dari pembatasan masalah, penulis merumuskan permasalahan yang akan dibahas, yaitu : Penggunaan Bahasa Jargon dalam SMS Berdasarkan Gejala Bahasa Dilihat Dari Tingkat Pendidikan Dalam Keluarga dan Dampak yang Ditimbulkan Pada Setiap Anggota Keluarga.

1.6.

Metode Penelitian Dalam merampungkan karya tulis ini, diperlukan metode penelitian yang mendukung, hal tersebut diperlukan sebagai upaya untuk menghasilkan karya tulis yang kompeten dan mampu menjadi referensi di sasana sastra dan bahasa Indonesia. Metode penelitian yang digunakan, yaitu :

1.6.1. Metode Literatur Metode penelitian dengan menjadikan buku, dan internet menjadi sumber tinjauan pustaka pada karya tulis.
1.6.2. Metode Observasi

Metode penelitian dengan mengadakan pengamatan pada sampel yang telah ditentukan sebelumnya, SMS keluarga Prio Sembodo pada kesempatan ini yang dijadikan sampel, kemudian hasil yang telah didapat dianalisis sebagai upaya penyimpulan atas

permasalahan yang diangkat secara kuantitatif.


1.7.

Sistematika Penulisan Karya tulis yang saya tulis terdiri atas tiga Bab, yaitu : BAB I PENDAHULUAN Bab pendahuluan membahas tentang latar belakang dibuatnya karya tulis, tujuan penulisan karya tulis, identifikasi masalah, pembatasan masalah yang menjadi fokus yang akan dibahas pada karya tulis, rumusan masalah sebagai pembahasan utama dalam karya tulis. BAB II PEMBAHASAN Bab pembahasan membahas tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan baku, sebagai poin pertama yang dibahas, kemudian hal yang dibahas lain yang akan dibahas adalah Gejala bahasa, Variasi bahasa, Analisis data observasi SMS di Keluarga Prio Sembodo. BAB III PENUTUP

Bab penutup berisi tentang kesimpulan yang menandai terjawabnya permasalahan pada rumusan masalah yang menjadi fokus pembahasan karya tulis. DAFTAR PUSTAKA Daftar pustaka berisi tentang sumber-sumber referensi yang penulis gunakan dalam penulisan karya tulis baik dalam bentuk buku maupun artikel di internet..

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.

Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Baku Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat diwujudkan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baku. Kebakuan

penggunaan dapat diwujudkan dengan menggunakan kata kata yang baku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sesuai dengan situasi dan kondisi yang dialami. 2.1.1. Kata Baku Sebagai Bahasa Baku Kata baku adalah kata yang cara pengucapan dan penulisannya sesuai dengan kaidah standar yang telah (dibakukan) mendapat persetujuan. Kaidah standar dapat berupa pedoman EYD, tata bahasa baku dan kamus besar bahasa Indonesia. Sebaliknya kata tidak baku tidak memerlukan kaidah standar dalam penggunaannya baik dari cara pengucapan maupun penulisannya.
2.1.1.1.

Fungsi Kata Baku dalam Bahasa Baku a. Pemersatu

Pemakaian bahasa yang baku dapat menyatukan rakyat Indonesia yang berasal dari suku-suku yang berbeda, setiap suku juga memiliki bahasa sendiri. b. Pemberi kekhasan Pemakaian bahasa baku dapat menjadi pembeda dengan masyarakat di Negara lain.
6 7

c. Pembawa Kewibawaan Pemakaian bahasa baku dapat memperlihatkan

kewibawaan pemakainya. d. Kerangka Acuan Bahasa baku menjadi kerangka acuan bagi benar tidaknya pemakaian bahasa seseorang.

2.1.1.2.

Ciri-ciri Kata Baku

a.

Tidak dipengaruhi bahasa daerah


Tabel 1 BAKU TIDAK BAKU

Saya Wanita

Gw Neng

b.

Tidak dipengaruhi bahasa asing

Tabel 2 BAKU TIDAK BAKU

Kantor tempat Kesempatan lain

Kantor dimana Lain kesempatan

c.

Bukan merupakan bahasa percakapan


Tabel 3 BAKU TIDAK BAKU

Dengan Tidak

Sama Enggak

d.

Pemakaian imbuhan secara eksplisit


Tabel 4 BAKU TIDAK BAKU

Mamik bekerja keras Mamik kerja keras Tyson menyerang Tyson serang lawannya lawannya

e.

Pemakaian yang sesuai dengan konteks kalimat


Tabel 5 BAKU TIDAK BAKU

Lebih besar daripada Disebabkan oleh

Lebih besar dari Disebabkan karena

f.

Tidak rancu
Tabel 6

BAKU

TIDAK BAKU

Berkali-kali Mengesampingkan

Berulang kali Mengenyampingkan

g.

Tidak mengandung arti pleonasme


Tabel 7

BAKU Para tamu Naik

TIDAK BAKU Para tamu-tamu Naik ke atas

h.

Tidak mengandung hiperkorek


Tabel 8 BAKU TIDAK BAKU

Insaf Sah

Insyaf Syah

2.1.2. Kondisi Berbahasa Sebagai Acuan Pemakaian Bahasa

Yang Baik
2.1.3. Kondisi formal sebagai situasi sebaik-baiknya

pemakaian bahasa Kondisi formal mencakup ketika seseorang berbicara di depan umum, dan menulis untuk dipublikasikan. Biasanya penggunaan bahasa dalam acara yang bersifat tugas adalah waktu yang sebaik-baiknya menggunakan bahasa yang

baku dan baik, walaupun penggunaannya tidak khusus kondisi formal tapi juga dapat pada kondisi informal. 2.2. Gejala Bahasa Gejala bahasa yaitu fenomena atau peristiwa bahasa yang terjadi dalam kehidupan di masyarakat. Gejala bahasa menurut sebuah situs ( ayobelajar.com , 2000) di antaranya : 2.2.1. Adaptasi Penyesuaian bentuk berdasarkan kaidah fonologis, kaidah
10

ortografis, atau kaidah morfologis. Contoh :


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

vyaya menjadi biaya pajeg menjadi pajak voorloper menjadi pelopor fardhu menjadi perlu igreja menjadi gereja voorschot menjadi persekot coup d'etat menjadi kudeta postcard menjadi kartu pos certificate of deposit menjadi sertifikat
10

deposito
10.

mass producIion menjadi produkmassa

2.2.2. Analogi Pembentukan kata berdasarkan contoh yang telah ada. Contoh :

Berdasarkan kata 'dewa-dewi' dibentuk kata :

putra-putri, siswa-siswi, saudara-saudari, pramugarapramugari

Berdasarkan kata 'industrialisasi' dibentuk kata :

hutanisasi, Indonesianisasi

Berdasarkan kata 'pramugari' dibentuk kata :

pramuniaga, pramuwisata, pramuria, pramusaji,pramusiwi

Berdasarkan kata 'swadesi' dibentuk kata :


11

swadaya, swasembada, swakarya, swasta, swalayan

Berdasarkan kata 'tuna netra' dibentuk kata :

tuna wicara, tuna rungu, tuna aksara, tuna wisma, tuna karya, tuna susila, tuna busana. 2.2.3. Anaptiksis (Suara Bakti) Penyisipan vokal e pepet untuk melancarkan ucapan disebut juga suara bakti. Contoh: sloka menjadi seloka srigala menjadi serigala negri menjadi negeri
11

ksatria menjadi kesatria 2.2.4. Asimilasi Proses perubahan bentuk kata karena dua fonem berbeda disamakan atau dijadikan hampir sama. Contoh: in-moral menjadi immoral in-perfect menjadi imperfek al-salam menjadi asalam ad-similatio menjadi asimilasi in-relevan menjadi irelevan ad-similatio menjadi asimilasi 2.2.5. Disimilasi Kebalikan dari asimilasi, yaitu perubahan bentuk kata yang terjadi karena dua fonem yang sama dijadikan berbeda. Contoh :
12 12

saj jana menjadi sarjana sayur-sayur menjadi sayur-mayur

2.2.6. Diftongisasi Perubahan bentuk kata yang terjadi karena monoftong diubah menjadi diftong.Jadi kebalikan monoftongisasi. Contoh :

sentosa menjadi sentausa cuke menjadi cukai pande menjadi pandai gawe menjadi gawai 2.2.7. Monoftongisasi Perubahan benluk kata yang terjadi karena perubahan diftong (vokal rangkap) menjadi monoftong (vokal tunggal) Contoh : autonomi menjadi otonomi autobtografi menjadi otobiografi satai menjadi sate gulai rnenjadi gule 2.2.8. Sandi (Persandian) Perubahan bentuk kata yang terjadi karena peleburan dua buah vokal yang berdampingan, dengan akibat jutmlah suku kata berkurang satu. Contoh : keratuan menjadi keraton kedatuan menjadi kedaton sajian menjadi sajen
13

13

durian menjadi duren Perhatikan jumlah suku kata : ke - ra - tu - an ~> ke - ra - ton 1 1 2 3 4 1 1 2 2 3 du - ri- an ~> du - ren 2 3

2.2.9. Hiperkorek Pembetulan bentuk kata yang sebenarnya sudah betul, sehingga hasilnya justru salah. Contoh :

Sabtu menjadi Saptu jadwal menjadi jadual


manajemen asas

menjadi menejemen

menjadi azas menjadi sorga menjadi tauladan

14

surga

Teladan izin

menjadi ijin menjadi Jum'at menjadi kwalifikasi

Jumat

kualifikasi frekuensi kuantitas

menjadi frekwensi menjadi kwantitas menjadi Nopember kwitansi Pebruari menjadi merubah

November

kuitansi menjadi mengubah

februari menjadi

persen pelaris system teknik apotek

menjadi prosen menjadi penglaris menjadi sistim menjadi tehnik menjadi apotik menjadi telfon

telepon ijazah atlet

menjadi ijasah menjadi nasehat menjadi pengrusak menjadi kordinasi

menjadi atlit menjadi beaya menjadi jaman

nasihat biaya

perusak zaman

koordinasi

2.2.10 Kontaminasi Kontaminasi disebut juga kerancuan, yaitu kekacauan dimana dua pengertian yang berbeda, atau perpaduan dua buah struktur yang seharusnya tidak dipadukan. Contoh : berulang-ulang dan berkali-kali menjadi berulang-kali saudara-saudara dan saudara sekalian menjadi saudarasaudara sekalian musnah dan punah menjadi musnah 2.2.11. Metatesis Pergeseran kedudukan fonem, atau perubahan bentuk kata karena dua fonem alau lebih dalam suatu kata bergeser tempatnya.
15

Contoh :

rontal menjadi lontar anteng menjadi tenang usap menjadi sapu palsu menjadi sulap keluk menjadi lekuk

2.2.12. Protesis Perubahan fonem di depan bentuk kata asal. Contoh :


lang menjadi elang mak menjadi emak mas menjadi emas undur menjadi mundur stri menjadi istri arta menjadi harta alangan menjadi halangan sa menjadi esa atus menjadi ratus eram menjadi peram
16

2.2.13. Epentesis Perubahan bentuk kata yang terjadi karena penyisipan fonem ke dalam kata asal. Contoh :

baya menjadi bahaya

bhayamkara menjadi gopala menjadi gembala jur menjadi jemur bahasa menjadi bahasa

bhayangkara

2.2.14. Paragog Perubahan bentuk kata karena penambahan fonem di bagian akhir kata asal. Contoh : mama, bapa menjadi mamak dan bapak pen menjadi pena datu menjadi datuk hulu bala menjadi hulubalang boek menjadi buku abad menjadi abadi pati menjadi patih bank menjadi bangku gaja menjadi gajah conto menjadi contoh. 2.3.15. Aferesis penghilangan fonem di awal bentuk asal.

17

Contoh : adhyaksa menjadi jaksa empunya menjadi punya sampuh menjadi ampuh wujud menjadi ujud bapak menjadi pak ibu menjadi bu. 2.3.16. Sinkop penghilangan fonem di tengah atau di dalam kata asal. Contoh : laghu menjadi lagu vidyadhari menjadi bidadari pelihara menjadi piara mangkin menjadi makin niyata menjadi nyata utpatti menjadi upeti. 2.3.17. Apokop penghilangan fonem di akhir bentuk kata asal. Contoh :

18

sikut menjadi siku riang menjadi ria balik menjadi bali anugraha menjadi anugerah pelangit menjadi pelangi.

2.3.18. Kontraksi

gejala pemendekan atau penyingkatan suatu frase menjadi kata baru. Contoh :

tidak ada menjadi tiada kamu sekalian menjadi kalian kelam harian menjadi kemarin bagai itu menjadi begitu bagai ini menjadi begini.

Akronim, seperti balita, siskamling, rudal, ampera, pada dasarnya termasuk gejala kontraksi. 2.3.19. Nasalisasi Penyengauan, proses penambahan bunyi sengau atau fonem nasal, yaim /m/, /n/, /ng/, den /ny/. Contoh : me baca menjadi membaca pe duduk menjadi penduduk pe garis menjadi penggaris.
19

2.3.20. Palatalisasi Penambahan fonem palatal /y/ pada suatu kata ketika kata ini dilafalkan. Contoh : pada kata ia, dia. pria, panitia, ksatria, bersedia, yang masing-masing dilafalkan /iya/, /priya/, /diya/. /panitiya/, dan /bersediya/. jadi palatalisasi muncul di antara vokal /i/ dan /a/ yang digunakan berdampingan. 2.3.21. Labialisasi Penambahan fonem labial /w/ di antara vokal /u/ dan /a/ yang berdampingan pads sebuah kata. Contoh : pada kata uang, buang, ruang, juang, kualitas, dan lain-lain. Selain itu, labialisasi juga muncul di antara vokal /u/ dan/e/. atau /u/ dan /i/ seperti pada kata frekuensi dan kuitansi. Pada waktu kita lafalkan kata-kata itu, terasa sekali, bahwa di antara vokal-vokat tersebut timbul fonem labial /w/, misalnya uang kita lafalkan /uwang/. 2.3.22. Onomatope Proses pembentukan kata berdasarkan tiruan bunyi-bunyi. Contoh :
20

hura-hura dari hore-hore. aum (suara harimau) meong (suara kucing) embik (suara kambing) desis (suara ular) desah (suara napas) ketuk (bunyi pintu atau meja dipukul dengan jari

atau palu) 2.3.23. Haplologi Proses perubahan bentuk kata yang berupa penghilangan satu suku kata di tengah-tengah kata. Contoh : samanantara menjadi sementara mahardhika menjadi merdeka budhidaya menjadi budaya
2.3.

VARIASI BAHASA Manusia merupakan mahluk sosial. Manusia melakukan interaksi, bekerja sama, dan menjalin kontak sosial di dalam masyarakat. Dalam melakukan hal tersebut, manusia membutuhkan sebuah alat komunikasi yang berupa bahasa. Bahasa memungkinkan manusia membentuk kelompok sosial, sebagai pemenuhan kebutuhannya untuk hidup bersama. Dalam kelompok sosial tersebut manusia terikat secara individu. Keterikatan individu-individu dalam kelompok ini sebagai identitas diri dalam kelompok tersebut. Setiap individu adalah anggota dari kelompok sosial tertentu yang tunduk pada seperangkat aturan yang disepakati dalam
21

kelompok tersebut. Salah satu aturan yang terdapat di dalamnya adalah seperangkat aturan bahasa. Bahasa dalam lingkungan sosial masyarakat satu dengan yang lainnya berbeda. Dari adanya kelompok-kelompok sosial tersebut menyebabkan bahasa yang dipergunakan bervariasi. Kebervariasian bahasa ini timbul sebagai akibat dari kebutuhan penutur yang memilih bahasa yang digunakan agar sesuai dengan situasi konteks sosialnya. Oleh karena itu, variasi bahasa timbul bukan karena kaidah-kaidah kebahasaan, melainkan disebabkan oleh kaidah-kaidah sosial yang beraneka ragam.

Lebih sederhana, Sumarsana dan Partana (2000: hal ?) mencoba mengelompokkan apakah dua bahasa merupakan dialek atau subdialek atau hanya sekedar dua variasi saja, dapat ditentukan dengan mencari kesamaan kosakatanya. Jika persamaannya hanya 20 % atau kurang, maka keduanya adalah dua bahasa. Tetapi kalau bisa mencapai 40%-60%, maka keduanya dua dialek; dan kalau mencapai 90% misalnya, jelas keduanya hanyalah dua variasi dari sebuah bahasa. Dalam variasi bahasa setidaknya terdapat tiga hal, yaitu pola-pola bahasa yang sama, pola-pola bahasa yang dapat dianalis secara deskriptif, dan pola-pola yang dibatasi oleh makna tersebut dipergunakan oleh penuturnya untuk berkomunikasi. Di samping itu, variasi bahasa dapat dilihat dari enam segi, yaitu tempat, waktu, pemakai, situasi, dialek yang dihubungkan dengan sapaan, status, dan pemakaiannya/ragam (Pateda, 1987: 52) Tempat dapat menjadikan sebuah bahasa bervariasi. Yang dimaksud dengan tempat di sini adalah keadaan tempat lingkungan yang secara fisik dibatasi oleh sungai, lautan, gunung, maupun hutan. Kebervariasian ini mengahsilkan adanya dialek, yaitu bentuk ujaran setempat yang berbeda-

22

beda namun masih dipahami oleh pengguna dalam suatau masyarakat bahasa walaupun terpisah secara geografis. Variasi bahasa dilihat dari segi waktu secara diakronis (historis) disebut juga sebagai dialek temporal. Dialek tersebut adalah dialek yang berlaku pada kurun waktu tertentu. Perbedaan waktu itu pulalah yang menyebabkan perbedaan makna untuk kata-kata tertentu. Hal ini disebabkan oleh karena bahasa mengikuti perkembangan masyarakat pemakai bahasanya. Itulah mengapa bahasa bersifat dinamis, tidak statis.

Dari segi pemakai, bahasa dapat menimbulkan kebervariasian juga. Istilah pemakai di sini adalah orang atau penutur bahasa yang bersangkutan. Variasi bahasa dilihat dari segi penutur oleh Pateda (1987: 52)dibagi menjadi tujuh, yaitu glosolalia (ujaran yang dituturkan ketika orang kesurupan), idiolek (berkaitan dengan aksen, intonasi, dsb), kelamin, monolingual (penutur bahasa yang memakai satu bahsa saja), rol (peranan yang dimainkan oleh seorang pembicara dalam interaksi sosial), status sosial, dan umur.

Variasi bahasa dilihat dari segi situasi akan memunculkan bahasa dalam situasi resmi dan bahasa yang dipakai dalam tidak resmi. Dalam bahasa resmi, bahasa yang digunakan adalah bahasa standar. Kesetandaran ini disebabkan oleh situasi keresmiannya. Sedangkan dalam situasi tidak resmi ditandai oleh keintiman.

Bahasa menurut statusnya meliputi status bahasa itu sendiri. Hal ini berarti bahwa bagaimanakah fungsi bahasa itu serta peraanan apa yang disandang

oleh bahasa. Sebuah bahasa, bahasa Indonesia, dapat memiliki berbagai macam status apakah ia sebagai bahasa ibu, bahasa nasional, bahasa resmi, bahasa pemersatu, atau bahasa negara.
23

Sedangkan Kridalaksana (1984: 142) mengemukakan bahwa ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaiannya yang dibedakan menurut topik, hubungan pelaku, dan medium pembicaraan. Jadi ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaianya, yang timbul menurut situasi dan fungsi yang memungkinkan adanya variasi tersebut.

Ragam bahasa menurut topik pembicaraan mengacu pada pemakaian bahasa dalam bidang tertentu, seperti, bidang jurnalistik (persuratkabaran), kesusastraan, dan pemerintahan. Ragam bahasa menurut hubungan pelaku dalam pembicaraan atau gaya penuturan menunjuk pada situasi formal atau informal. Medium pembicaraan atau cara pengungkapan dapat berupa sarana atau cara pemakaian bahasa, misalnya bahasa lisan dan bahasa tulis. Sehingga, masing-masing ragam bahasa memiliki ciri-ciri tertentu, sehingga ragam yang satu berbeda dengan ragam yang lain.

Pemakaian ragam bahasa perlu penyesuaian antara situasi dan fungsi pemakaian. Hal ini sebagai indikasi bahwa kebutuhan manusia terhadap sarana komunikasi juga bermacam-macam. Untuk itu, kebutuhan sarana komunikasi bergantung pada situasi pembicaraan yang berlangsung. Dengan adanya keanekaragaman bahasa di dalam masyarakat, kehidupan bahasa dalam masyarakat dapat diketahui, misalnya berdasarkan jenis pendidikan atau jenis pekerjaan seseorang, bahasa yang dipakai memperlihatkan perbedaan.

Sebuah komunikasi dikatakan efektif apabila setiap penutur menguasi perbedaan ragam bahasa. Dengan penguasaan ragam bahasa, penutur bahasa dapat dengan mudah mengungkapkan gagasannya melalui pemilihan ragam bahasa yang ada sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, penguasaan ragam bahasa termasuk bahasa gaul remaja menjadi tuntutan bagi setiap penutur, mengingat kompleksnya situasi dan kepentingan yang masing-masing menghendaki kesesuaian bahasa yang digunakan.
24

2.3.1. Bahasa Gaul, Slang, dan Prokem

Terdapat dua situasi yang menggolongkan pemakaian bahasa di dalam masyarakat, yaitu situasi resmi dan tidak resmi. Bahasa yang digunakan pada situasi resmi menuntut penutur untuk menggunakan bahasa baku, bahasa formal. Penggunaan bahasa resmi terutama disebabkan oleh keresmian suasana pembicaraan atau komunikasi tulis yang menuntut adanya bahasa resmi. Contoh suasana pembicaraan resmi adalah pidato, kuliah, rapat, ceramah umum, dan lain-lain. Dalam bahasa tulis bahasa resmi banyak digunakan dalam surat dinas, perundang-undangan, dokumentasi resmi, dan dan lain-lain.

Situasi tidak resmi akan memunculkan suasana penggunaan bahasa tidak resmi juga. Kuantitas pemakian bahasa tidak resmi banyak tergantung pada tingkat keakraban pelaku yang terlibat dalam

komunikasi. Dalam situasi tidak resmi, penutur bahasa tidak resmi mengesampingkan pemakaian bahasa baku atau formal. Kaidah dan aturan dalam bahasa bahasa baku tidak lagi menjadi perhatian. Prinsip yang dipakai dalam bahasa tidak resmi adalah asal orang yang diajak bicara bisa mengerti. Situasi semacam ini dapat terjadi pada situasi komunikasi remaja di sebuah mal, interaksi penjual dan pembeli, dan lain-lain. Dari ragam tidak resmi tersebut, selanjutnya memunculkan istilah yang disebut dengan istilah bahasa gaul.
25

Ismail Kusmayadi (Pikiran Rakyat, 2006) mengkawatirkan terkikisnya bahasa Indonesia yang baik dan benar di tengah arus globalisasi. Kecenderungan masyarakat ataupun para pelajar menggunakan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari semakin tinggi. Dan yang lebih parah makin berkembangnya bahasa slank atau bahasa gaul yang mencampuradukkan bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Saat ini bahasa gaul telah banyak terasimilasi dan menjadi umum. Bahasa gaul sering digunakan sebagai bentuk percakapan seharihari dalam pergaulan di lingkungan sosial bahkan dalam mediamedia populer serperti TV, radio, dunia perfilman nasional, dan digunakan sebagai publikasi yang ditujukan untuk kalangan remaja oleh majalah-majalah remaja populer. Oleh sebab itu, bahasa gaul dapat disimpulkan sebagai bahasa utama yang digunakan untuk komunikasi verbal oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti halnya bahasa lain, bahasa gaul juga mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut dapat berupa penambahan dan pengurangan kosakata. Tidak sedikit kata-kata yang akan

menjadi

kuno

(usang)

yang

disebabkan

oleh

tren

dan

perkembangan zaman. Maka dari itu, setiap generasi akan memiliki ciri tersendiri sebagai identitas yang membedakan dari kelompok lain. Dalam hal ini, bahasalah sebagai representatifnya. Dari segi fungsinya, bahasa gaul memiliki persamaan anatara slang, dan prokem. Kosa kata bahasa remaja banyak diwarnai oleh bahasa prokem, bahasa gaul, dan istilah yang pada tahun 1970-an banyak digunakan oleh para pemakai narkoba (narkotika, obatobatan dan zat adiktif). Hampir semua istilah yang digunakan bahasa rahasia di antara mereka yang bertujuan untuk menghindari campur tangan orang lain. Bahasa gaul remaja merupakan bentuk bahasa tidak resmi (Nyoman Riasa, 2006)
26

Oleh karenanya bahasa gaul remaja berkembang seiring dengan perkembangan zaman, maka bahasa gaul dari masa ke masa berbeda. Tidak mengherankan apabila bahasa gaul remaja digunakan dalam lingkungan dan kelompok sosial terbatas, yaitu kelompok remaja. Hal ini berarti bahwa bahasa gaul hanya digunakan pada kelompok sosial yang menciptakannya. Anggota di luar kelompok sosial tersebut sulit untuk memahami makna bahasa tersebut. Fathuddin (1999: i) mengungkapkan bahwa slang merupakan bahasa gaul yang hidup dalam masyarakat petutur asli dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam obrolan antar teman, atau dalam media seperti teve, film dan besar kemungkinan dalam novel saat memaparkan suasana sosial tertentu. Selanjutnya, Alwasilah (1993: 47) menyatakan bahwa penggunaan slang adalah memperkaya kosa kata bahasa dengan

mengkomunikasikan

kata-kata

lama

dengan

makna

baru.

Pemakaian slang dengan kosakata yang sama sekali baru sangat jarang ditemui. Slang merupakan kawasan kosakata, bukan gramar atau pengucapan. Bahasa Slang oleh Kridalaksana (1982:156) dirumuskan sebagai ragam bahasa yang tidak resmi dipakai oleh kaum remaja atau kelompok sosial tertentu untuk komunikasi intern sebagai usaha orang di luar kelompoknya tidak mengerti, berupa kosa kata yang serba baru dan berubah-ubah. Hal ini sejalan dengan pendapat Alwasilah (1985:57) bahwa slang adalah variasi ujaran yang bercirikan dengan kosa kata yang baru ditemukan dan cepat berubah, dipakai oleh kaum muda atau kelompok sosial dan profesional untuk komunikasi di dalamnya. Slang digunakan sebagai bahasa pergaulan. Kosakata slang dapat berupa pemendekan kata, penggunaan kata alam diberi arti baru atau kosakata yang serba baru dan berubah-ubah. Disamping itu slang juga dapat berupa pembalikan tata bunyi, kosakata yang lazim diapakai di masyarakat menjadi aneh, lucu, bahkan ada yang berbeda makna sebenarnya. Bahasa prokem biasa juga disebut sebagai bahasa sandi, yaitu bahasa yang dipakai dan digemari oleh kalangan remaja tertentu (Laman Pusat Bahasa dan Sastra, 2004). Sarana komunikasi seperti ini diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok lain atau agar pihak lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya. Bahasa prokem itu tumbuh dan berkembang sesuai dengan latar belakang sosial budaya pemakainya. Tumbuhkembang bahasa seperti itu selanjutnya disebut sebagai perilaku bahasa dan bersifat universal. Artinya bahasa-bahasa seperti itu akan ada pada kurun waktu
27

tertentu (temporal) dan di dunia mamapun sifatnya akan sama (universal). Kosakata bahasa prokem di Indonesia diambil dari kosakata bahasa yang hidup di lingkungan kelompok remaja tertentu. Pembentukan kata dan maknanya sangat beragam dan bergantung pada kreativitas pemakainya. Bahasa prokem berfungsi sebagai ekspresi rasa kebersamaan para pemakainya. Selain itu, dengan menggunakan bahasa prokem, mereka ingin menyatakan diri sebagai anggota kelompok masyarakat yang berbeda dari kelompok masyarakat yang lain. Kehadiran bahasa prokem itu dapat dianggap wajar karena sesuai dengan tuntutan perkembangan nurani anak usia remaja. Masa hidupnya terbatas sesuai dengan perkembangan usia remaja. Selain itu, pemakainnya pun terbatas pula di kalangan remaja kelompok usia tertentu dan bersifat tidak resmi. Jika berada di luar lingkungan kelompoknya, bahasa yang digunakannya beralih ke bahasa lain yang berlaku secara umum di lingkungan masyarakat tempat mereka berada. Jadi, kehadirannya di dalam pertumbuhan bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah tidak perlu dirisaukan karena bahasa itu masing-masing akan tumbuh dan berkembang sendiri sesuai dengan fungsi dan keperluannya masing-masing. 2.3.2. Sejarah Pemakaian Bahasa Gaul Bahasa prokem awalnya digunakan para preman yang
28 28

kehidupannya dekat dengan kekerasan, kejahatan, narkoba, dan minuman keras. Istilah-istilah baru mereka ciptakan agar orangorang di luar komunitas tidak mengerti. Dengan begitu, mereka tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi untuk membicarakan hal

negatif yang akan maupun yang telah mereka lakukan (Laman Wilkipedia Indonesia, 2005). Para preman tersebut menggunakan bahasa prokem di berbagai tempat. Pemakaian bahasa tersebut tidak lagi pada tempat-tempat khusus, melainkan di tempat umum. Lambat laun, bahasa tersebut menjadi bahasa yang akrab di lingkungan sehari-hari, termasuk orang awam sekalipun dapat menggunakan bahasa sandi terebut. Karena begitu seringnya mereka menggunakan bahasa sandi tersebut di berbagai tempat, lama-lama orang awam pun mengerti maksud bahasa tersebut. Akhirnya mereka yang bukan preman pun ikut-ikutan menggunakan bahasa ini dalam obrolan sehari-hari sehingga bahasa prokem tidak lagi menjadi bahasa rahasia. Sebuah artikel di Kompas berjudul So What Gitu Loch.(2006: 15) menyatakan bahwa bahasa prokem atau bahasa okem sebenarnya sudah ada sejak 1970-an. Awalnya istilah-istilah dalam bahasa gaul itu untuk merahasiakan isi obrolan dalam komunitas tertentu. Oleh karena sering digunakan di luar komunitasnya, lamalama istilah-istilah tersebut jadi bahasa sehari-hari. Lebih lanjut, dalam artikel tersebut juga disebutkan bahwa pada tahun 1970-an, kaum waria juga menciptakan bahasa rahasia mereka. Pada perkembangannya, para waria atau banci lebih rajin berkreasi menciptakan istilah-istilah baru yang kemudian ikut memperkaya khasanah perbendaharaan bahasa gaul. Kosakata bahasa gaul yang berkembang belakangan ini sering tidak beraturan dan cenderung tidak terumuskan. Bahkan kita tidak dapat mempredeksi bahasa apakah yang berikutnya akan menjadi bahasa gaul.
29 29

Pada mulanya pembentukan bahasa slang, prokem, cant, argot, jargon dan colloquial di dunia ini adalah berawal dari sebuah komunitas atau kelompok sosial tertentu yang berada di kelas atau golongan bawah (Alwasilah, 2006:29). Lambat laun oleh masyarakat akhirnya bahasa tersebut digunakan untuk komunikasi sehari-hari. Terdapat berbagai alasan kenapa masyarakat tersebut

menggunakan bahasa-bahasa yang sulit dimengerti oleh kelompok atau golongan sosial lainnya. Alasan esensialnya adalah sebagai identitas sosial dan merahasiakan sesuatu dengan maksud orang lain atau kelompok luar tidak memahami. Kompas (2006: 50) menyebutkan bahwa bahasa gaul sebenarnya sudah ada sejak tahun 1970an. Awalnya istilah-istilah dalam bahasa gaul itu digunakan untuk merahasiakan isi obrolan dalam komunitas tertentu. Tapi karena intensitas pemakaian tinggi, maka istilah-istilah tersebut menjadi bahasa sehari-hari. Hal ini sejalan dengan laman Wilimedia Ensiklopedi Indonesia (2006), yang menyatakan bahwa bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir ahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasa para bajingan atau anak jalanan disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman. Lebih lanjut dalam Pikiran Rakyat, tercatat bahwa bahasa gaul pada awalnya merupakan bahasa yang banyak digunakan oleh kalangan sosial tertentu di Jakarta, kemudian secara perlahan merambah kalangan remaja terutama di kota-kota besar. Dalam sebuah milis (2006) disebutkan bahwa bahasa gaul memiliki sejarah sebelum penggunaannya popular seperti sekarang ini.
30

Sebagai bahan teori, berikut adalah sejarah kata bahasa gaul tersebut: 1). Nih Yee... Ucapan ini terkenal di tahun 1980-an, tepatnya November 1985. pertama kali yang mengucapkan kata tersebut adalah seorang pelawak bernama Diran. Selanjutnya dijadikan bahan lelucon oleh Euis Darliah dan popular hingga saat ini. 2) Memble dan Kece Dalam milis tersebut dinyatakan bahwa kata memble dan kece merupakan kata-kata ciptaan khas Jaja Mihardja. Pada tahun 1986, muncul sebuah film berjudul Memble tapi Kece yang diperankan oleh Jaja Mihardja ditemani oleh Dorce Gamalama. 3) Booo.... Kata ini popular pada pertengahan awal 1990-an. Penutur pertama kata Booadalah grup GSP yang beranggotakan Hennyta Tarigan dan Rina Gunawan. Kemudian kata-kata dilanjutkan oleh Lenong Rumpi dan menjadi popular di lingkungan pergaulan kalangan artis. Salah seorang artis bernama Titi DJ kemudian disebut sebagai artis yang benar-benar mempopulerkan kata ini. 4) Nek... Setelah kata Boo... popular, tak lama kemudian muncul kata-kata Nek... yang dipopulerkan anak-anak SMA di pertengahan 90-an. Kata Nek... pertama kali di ucapkan oleh Budi Hartadi seorang
31

remaja di kawasan kebayoran yang tinggal bersama neneknya. Oleh karena itu, lelaki yang latah tersebut sering mengucapkan kata Nek... 5) Jayus Di akhir dekade 90-an dan di awal abad 21, ucapan jayus sangat popular. Kata ini dapat berarti sebagai lawakan yang tidak lucu, atau tingkah laku yang disengaca untuk menarik perhatian, tetapi justru membosankan. Kelompomk yang pertama kali mengucapkan kata ini adalah kelompok anak SMU yang bergaul di kitaran Kemang. Asal mula kata ini dari Herman Setiabudhi. Dirinya dipanggil oleh teman-temannya Jayus. Hal ini karena ayahnya bernama Jayus Kelana, seorang pelukis di kawasan Blok M. Herman atau Jayus selalu melakukan hal-hal yang aneh-aneh dengan maksud mencari perhatian, tetapi justru menjadikan bosan teman-temannya. Salah satu temannya bernama Sonny Hassan atau Oni Acan sering
32

memberi komentar jayus kepada Herman. Ucapan Oni Acan inilah yang kemudian diikuti teman-temannya di daerah Sajam, Kemang lalu kemudian merambat populer di lingkungan anak-anak SMU sekitar. 6. Jaim Ucapan jaim ini di populerkan oleh Bapak Drs. Sutoko Purwosasmito, seorang pejabat di sebuah departemen, yang selalu mengucapkan kepada anak buahnya untuk menjaga tingkah laku atau menjaga image. 7. Gitu Loh...(GL)

Kata GL pertama kali diucapin oleh Gina Natasha seorang remaja SMP di kawasan Kebayoran. Gina mempunyai seorang kakak bernama Ronny Baskara seorang pekerja event organizer. Sedangkan Ronny punya teman kantor bernama Siska Utami. Suatu hari Siska bertandang ke rumah Ronny. Ketika dia bertemu Gina, Siska bertanya dimana kakaknya, lantas Gina ngejawab di kamar, Gitu Loh. Esoknya si Siska di kantor ikut-ikutan latah dia ngucapin kata Gitu Loh...di tiap akhir pembicaraan. 2.3.3. Ciri- ciri Bahasa Gaul Ragam bahasa ABG memiliki ciri khusus, singkat, lincah dan kreatif. Kata-kata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek seperti permainan mainan, pekerjaan kerjaan. Kalimat-kalimat yang digunakan kebanyakan berstruktur kalimat tunggal. Bentuk-bentuk elip juga banyak digunakan untuk membuat susunan kalimat menjadi lebih pendek sehingga seringkali dijumpai kalimat-kalimat yang tidak lengkap. Dengan menggunakan struktur yang pendek, pengungkapan makna menjadi lebih cepat yang sering membuat pendengar yang bukan penutur asli bahasa Indonesia mengalami kesulitan untuk memahaminya. (Nyoman Riasa) 1. Tambahan awalan ko. Awalan ko bisa dibilang sebagai dasar pembentukan kata dalam bahasa okem. Caranya, setiap kata dasar, yang diambil hanya suku kata pertamanya. Tapi suku kata pertama ini huruf terakhirnya harus konsonan. Misalnya kata preman, yang diambil bukannya pre tapi prem. Setelah itu tambahi awalan ko, maka jadi koprem. Kata
33 33

koprem ini kemudian dimodifikasi dengan menggonta-ganti posisi konsonan sehingga prokem. Dengan gaya bicara anak kecil yang baru bisa bicara, kata prokem lalu mengalami perubahan bunyi jadi okem. (komasp) 2. Kombinasi e + ong Kata bencong itu bentukan dari kata banci yang disisipi bunyi e dan ditambah akhiran ong. Huruf vokal pada suku kata pertama diganti dengan e. Huruf vokal pada suku kata kedua diganti ong. 3. Tambahan sisipan Pa/pi/pu/pe/po Setiap kata dimodifikasi dengan penambahan pa/pi/pu/pe/po pada setiap suku katanya. Maksudnya bila suku kata itu bervokal a, maka ditambahi pa, bila bervokal i ditambahi pi, begitu seterusnya.
34

2.3.4. Distribusi Geografis Bahasa Gaul Bahasa gaul umumnya digunakan di lingkungan perkotaan. Terdapat cukup banyak variasi dan perbedaan dari bahasa gaul bergantung pada kota tempat seseorang tinggal, utamanya dipengaruhi oleh bahasa daerah yang berbeda dari etnis-etnis yang menjadi penduduk mayoritas dalam kota tersebut. Sebagai contoh, di Bandung, Jawa Barat, perbendaharaan kata dalam bahasa gaulnya banyak mengandung kosakata-kosakata yang berasal dari bahasa sunda. 2.4. ANALIS DATA

34

2.4.1. Profil Keluarga Prio

Prio Sembodo terdiri atas tujuh anggota keluarga,memiliki lima orang anak. Hanya anggota keluarga yang telah menyelesaikan pendidikan SMP yang memegang Handphone.

Tabel 9

NAMA ANGGOTA KELURGA

TINGKAT PENDIDIKAN PLAY GRUP Prio Sembodo Hyarlesmi Dewi Deprina Aprilia Sembodo Nurani L.L.S. Reza Aditya Putra M. Faiz Afiq . Bilqis Salsabila A.S. . . . . T K S D SM P SMK/ SMA D 3 S 1 . .

Keluarga

2.4.2. Data SMS Masuk Dalam Keluarga Berdasarkan Anggota

Keluarga yang bersekolah di tingkat SMA/ SMK ke atas.

35

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Gambar 4

Keterangan : Gambar 1 adalah gambar SMS masuk dari Ibu ke Handphone Deprina. Gambar 2 adalah gambar SMS masuk dari Ayah ke Handphone Ibu. Gambar 3 adalah gambar SMS masuk dari pak didin ke Handphone milik Ayah. Gambar 4 adalah gambar SMS masuk dari teman adik ke Handphone Nurani.
2.4.3. Gejala Bahasa SMS Keluarga Prio

Gejala bahasa yang terjadi pada keluarga Prio yaitu : Pada gambar pertama terdapat gejala bahasa berupa :
1. Penghilangan fonem awal atau disebut sebagai gejala aferesis. 36

Sudah menjadi da Kemana menjadi mana


2. Pemasukan unsur kedaerahan menyebabkan kalimat menjadi

rancu atau termasuk ke dalam Gejala Kontaminasi. Sedang di Gambar kedua terdapat gejala bahasa berupa:
1. Penghilangan fonem di tengah dari fonem asal disebut juga

gejala sinkop. Mau menjadi mu Sedang di Gambar ketiga terdapat gejala bahasa berupa :
1. Penghilangan fonem di tengah dari fonem asal disebut juga

gejala sinkop. Pak menjadi Pk

Sementara pada gambar keempat terdapat gejala bahasa berupa :


1. Penghilangan fonem di awal dan di akhir dan penyisipan vokal

e pepet untuk melancarkan ucapan disebut juga suara bakti atau anaptiksis. Sampai menjadi mpe

2. Penyingkatan yang tidak baik gejala kontaksis.

Bahasa Inggris menjadi B.ing Halaman menjadi hal


3. Penambahan fonem labial /w/ di antara vokal /u/ dan /a/ yang

berdampingan pada sebuah kata labialisasi. Tidak tahu(Gak Tahu) menjadi gtw
4. Pemasukan unsur kedaerahan menyebabkan kalimat menjadi

rancu atau termasuk ke dalam Gejala Kontaminasi.Kemudian mengalami penghilangan fonem di akhir kata apokof. kalau begitumenjadi (deh) kemuadian menjadi d
37

2.4.4. Ketidakbakuan akibat diberlakukannya bahasa jargon sebagai alat komunikasi keluarga Prio Berlakunya bahasa jargon pada SMS di keluarga Prio Sembodo terlihat dengan terjadinya gejala bahasa dalam hal penyingkatan kata-kata, untuk menghemat karakter dalam SMS. Tidak tahu menjadi gtw Bukan hanya di keluarga Prio melainkan juga di kerabat keluarga Prio hal tersebut terjadi. Pak didin, salah seorang rekan Pak Prio berSMS, ditunggu y pk yang seharusnya saya menunggu bapak.
2.4.5. Bagaimana Dampak Gejala Bahasa di Keluarga Prio

Dampak gejala bahasa di keluarga Prio layaknya bahaya laten, bahaya yang tidak diketahui keberadaannya, yang berakibat merugikan anggota keluarga yang lain. Berdasarkan observasi di dapat, pada anggota keluarga berada di bawah sepuluh tahun, gejala bahasa dan ketidakbakuan kata terdapat beberapa yang ditirukan. Jika diwaktu yang akan datang tidak tertanggulangi bahasa yang keluarga Prio gunakan sangat sedikit yang mengaplikasikan kebakuan berbahasa, sehingga memungkinkan luluhnya bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa persatuan bagi rakyat Indonesia yang berbeda suku.

38

BAB III PENUTUP

3.1.

Kesimpulan 3.1.1. Pada SMS di keluarga Prio mengalami gejala bahasa dan ketidakbakuan berbahasa.

3.1.2. Pada SMS di keluarga Prio informasi yang tidak sesuai dengan kaidah berbahasa mampu ditangkap secara baik intisarinya, hal tersebut membuktikan Keluarga Prio menggunakan bahasa jargon dalam SMS 3.1.3. Penggunaan bahasa jargon dalam pergaulan atas hal sama-sama tahu, memberikan dampak bagi anggota keluarga yang berusia dibawah sepuluh tahun karena beberapa bahasa jargon dalam SMS yang diketahui diaplikasikan di kehidupan bermasyarakat. 3.2 Saran 3.2.1. Dalam penulisan karya tulis, makalah selanjutnya diperlukan kedisiplinan dan kesinambungan guna menghasilkan karya tulis yang berkualitas. 3.2.2. Dalam mengerjakan karya tulis, makalah, tugas akhir, yang diutamakan adalah merumuskan suatu topik yang kuat, kekuatan sebuah topik dilihat dari latar belakang, pembatasan masalah maupun rumusan masalah.

39

DAFTAR PUSTAKA

1. Akhadiah, Sabarti, dkk. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa

Indonesia.2009.
2. Gejala Bahasa atau Peristiwa Bahasa.2000. Ayobelajar.com