Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU HAMA TANAMAN ACARAV TEKNIK PENGAMATAN POPULASI ORGANISME PENGGANGGU DAN MUSUH ALAMI,

DAN ANALISIS KERUSAKAN

Disusun Oleh : Nama NIM Gol. Hari Tanggal Asisten : Radiyani Mirza Alfarisi : 11678 : A2 : Selasa : 14 Mei 2011 : M. Wasis Lela Puspitasari

LABORATORIUM ENTOMOLOGI TERAPAN JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

ACARAV TEKNIK PENGAMATAN POPULASI ORGANISME PENGGANGGU DAN MUSUH ALAMI, DAN ANALISIS KERUSAKAN
I. PENDAHULUAN A. TUJUAN 1. Mengetahui teknik pengamatan populasi hama dan kerusakannya 2. Mengetahui metode pelaporan hama dan pengambilan keputusan tindakan pengendalian

II. TINJAUAN PUSTAKA Tujuan perlindungan tanaman yaitu menekan populasi hama di bawah Ambang Ekonomi (AE). Ambang Ekonomi itu sendiri didefinisikan sebagai kepadatan hama yang membutuhkan suatu tindakan pengendalian untuk mencegah peningkatan populasi berikutnya yang dapat mencapai tingkatan kerusakan ekonomi (Rukmana dan Saputra, 1997). Tingkat kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan hama tergantung pada seberapa besar tingkat kerusakan yang terjadi pada tanaman. Perhitungan populasi hama dan tingkat kerusakan tanaman adalah sangat penting hubungannya dengan tindakan pengendalian yang akan dilakukan. Pengamatan populasi hama secara garis besar dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu pengamatan populasi mutlak, pengamatan populasi relatif, dan pengamatan indeks populasi. Masing-masing cara tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan sendiri-sendiri sehingga perlu ditentukan cara mana yang dipilih untuk memberikan keefektifan yang paling besar (Sudjono dan Harjaka, 2005). Hama dapat dikelompokkan menjadi kisarann bahaya yang diakibatkannya yaitu : hama utama merupakan spesies hama yang pada kurun waktu lama selalu menyerang pada suatu daerah dengan intensitas serangan yang berat dalam daerah yang luas sehingga memerukan usah pengendalian. Hama kadangkala yaitu merupakan jenis hama yang relatif kurang penting karena kerusakan yang diakibatkan masih dapat ditoleransi oleh tanaman. Kadang-kadang populasinya pada suatu saat meningkat melebihi aras toleransi ekomoni tanaman. Hama potensial merupakan sebagian besar jenis serangga herbivora yang saing berkompetisi dalam memperoleh makanan. Hama migran merupakan hama yang tidak berasal dari agroekosistem setempat tetapi datang dari luar karena sifatnya yang berpindah-pindah (Putra,1994).

Penggunaan metode sampling atau pencuplikan merupakan langkah yang dapat digunakan untuk menetapkan jumlah serangga. Data yang diperoleh dari sampling dipergunakan untuk menetapkan apakah aras populasi cukup tinggi untuk membenarkan diadakannya pengendalian. Salah satu cara adalah perhitungan visual. Beberapa metode dipergunakan untuk mengadakan sampling spesies serangga yang berbeda yang menyerang padi. Teknik sampling yang umum ini tidak memerlukan keahlian atau peralatan apapun dan telah dipakai secara luas untuk meramalkan populasi wereng. Pemantauan yang konstan sangat penting dalam pengendalian hama, karena populasi hama akan mengalami fluktuasi seiring dengan perubahan kondisi lingkungan atau alam (Korldroup, 2004).

III. METODOLOGI Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Hama Tanaman Acara V yang berjudul Teknik Pengamatan Populasi Organisme Pengganggu dan Musuh Alami, dan Analisis Kerusakan ini adalah praktikum lapangan yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 14 Mei 2011 di BPTPH Wijirejo, Pandak, Bantul. Adapun bahan-bahan yang diperlukan adalah lahan sawah dengan komoditas tanaman padi. Sedangkan alat-alat yang diperlukan meliputi jarring, alat tulis, kertas, clipboard dan topi. Langkah-langkah kerjanya adalah pertama-tama ditentukan suatu pertanaman dan diambil 20 25 sampel tanaman secara acak mengikuti garis diagonal lahan. Selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap populasi hama secara mutlak maupun relatif, lalu dicatat dan dihitung jenis hama yang ditemukan tiap unit sampel. Dilakukan pengamatan jenis hama secara mutlak, yaitu pengamatan langsung pada individu-individu yang ditemukan pada setiap unit sampel (tanaman) pada saat itu juga, dan hitung jumlahnya. Dilakukan pengamatan secara relatif, yaitu dengan digunakannya alat pengumpul sampel, misalnya jaring serangga. Diayunkan jaring di bagian pucuk tanaman sebanyak 10 kali (lima kali ke kiri dan lima kali ke kanan), organisme yang tertangkap dikumpulkan dan dipindahkan ke dalam kantung plastik untuk dilakukan pengamatan selanjutnya. Dari masing-masing sampel yang dikumpulkan, dipisahkan organisme yang berstatus Pengganggu (Hama), Bukan-Pengganggu (musuh alami), dan Organisme Lain. dicatat persentase masing-masing dalam lembar pengamatan. Dilakukan pengamatan intensitas serangan

akibat organisme pengganggu secara mutlak

(misalnya serangan penggerek batang), yaitu

dengan diamati tanaman yang terserang penggerek batang sebanyak 20 rumpun (N=20), kemudian dilakukan perhitungan intensitas serangan dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan : IS : intensitas kerusakan (%)

ai: jumlah batang terserang pada rumpun ke i bi N : jumlah batang tidak terserang pada rumpun ke i : jumlah rumpun/unit sampel

Dilakukan pula pengamatan tingkat serangan relatif akibat organisme pengganggu yang makan pada daun, misalnya belalang hijau (Oxya sp.) pada sejumlah rumpun tanaman sampel, kemudian dilakukan perhitungan tingkat serangan dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan : IS vi : intensitas kerusakan (%) : skor kerusakan (0, 1, 2, 3, dan 4), dengan ketentuan sebagai berikut : (0) <50%; (3) kerusakan

tanpa kerusakan; (1) kerusakan >0 dan <25%; (2) kerusakan >25% dan >50% dan <75%; (4) kerusakan >75%. ni N Z : jumlah unit sampel bergejala serangan dalam skor v : jumlah unit sampel : skor tertinggi (4)

IV. HASIL PENGAMATAN A. Hasil ayunan jaring No. sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Jumlah organisme pengganggu (hama) 4 0 1 0 2 0 1 1 0 4 1 0 1 2 8 6 1 3 3 0 2 Jumlah organisme berguna (musuh alami) 15 8 11 2 10 6 2 4 2 23 7 11 24 8 23 0 9 23 6 6 7 Jumlah organisme lain 0 2 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0

B. Intensitas serangan (mutlak/ Penggerek Batang) No. sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Anakan 20 22 30 24 22 35 30 26 36 23 35 28 26 24 27 38 21 37 31 24 22 20 35 26 32 Terserang 6 7 7 7 5 9 8 0 1 0 0 0 0 4 8 5 4 6 3 6 10 10 17 7 2 Jumlah Persentase total Persentase (%) 30 32 23 29 23 26 27 0 0.3 0 0 0 0 17 29.6 13 19 16 9.7 25 45 50 49 26.9 6.25 496.75 19.87%

C. Intensitas serangan (relatif/ Belalang hijau/Pemakan daun) No. sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 IS total Skoring 2 2 1 1 2 2 2 0 1 1 1 3 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 35 %

V. PEMBAHASAN Keberadaan populasi hama di suatu lahan tanam menentukan seberapa besar kerusakan tanaman dan kerugiaan ekonomi yang dialami petani atau pengusaha pertanian lainya. Populasi hama sepanjang musim tanam dari waktu ke waktu tidak tetap tetapi dinamis, naik turun dan berfluktasi pada posisi keseimbangan umum. Banyak faktor yang mempengaruhi dinamika populasi hama baik faktor biotik maupun abiotik. Dengan mengetahui faktor tersebut kita dapat melakukan pengolahan hama yang efektif dan efisien sehingga dapat membentuk suatu pemberantasan hama semaksimal mungkin tetapi mempertahankan keberlangsungan hidup hama di pertanamaan yang tetap berada di bawah ambang ekonomi (AE). Tindakan pengendalian dilakukan bila populasi hama mencapai ambang ekonomi (AE), yaitu kepadatan populasi hama yang memerlukan tindakan pengendalian untuk mencegah terjadinya peningkatan populasi berikutnya yang dapat mencapai ambang luka ekonomik, sedangkan ambang ekonomi merupakan data populasi hama yang dinyatakan dalam bentuk jumlah individu hama/satuan unit sampel dan data kerusakan yang dinyatakan dalam persentase serangan (intensitas kerusakan). Hasil yang didapatkan dari hasil ayunan jaring, didapatkan hasil bahwa hampir semua hasil ayunan yang ada terdiri dari musuh alami dan hama serta organisme lainnya. Jumlah hama yang didapatkan dari hasil ayunan selalu lebih sedikit dari pada jumlah serangga yang bermanfaat (musuh alami). Musuh alami yang banyak terdapat dilahan ini adalah kumbang koksi. Selain itu juga terdapat organisme lain yang jumlahnya tidak begitu besar. Tetapi sebenarnya pengambilan sampel yang dilakukan dirasa belum maksimal karena dilakukan hanya pada bagian samping-samping pematang saja, padahal secara kenampakan pada bagian tengah lahan lebih terlihat kuning daunnya dibandingkan dengan bagian pinggirnya. Warna kuning pada daun yang berada di tengah persawahan diakibatkan oleh adanya serangan hama. Hal yang mungkin menyebabkan kebanyakan hama berada dibagian tengah lahan karena mereka sangat peka dengan kedatangan manusia sehingga hama tersebut memilih lahan pada bagian tengahya. Akan tetapi melihat data yang diperoleh dapat dikeahui jumlah hama yang ada lebih sedikit. Hal ini menandakan bahwa banyaknya hama yang ada dilahan tersebut masih dapat dikendalikan secara alami, yaitu dengan menggunakan kumbang koksi sebagai musuh alaminya. Populasi hama pada populasi mutlak adalah hama penggerek batang. Dari hasil pengamatan diatas diketahui Intensitas kerusakan (IS) rata-ratanya sebesar 19,87%. Dari nilai

tersebut dapat dilihat bahwa IS masuk dalam kategori sedang dan berada di bawah ambang ekonomi (25-30%), sehingga belum memerlukan tindakan pengendalian. Cukup dengan adanya musuh alami yang ada sudah dapat mengendalikan populasi hama penggerek batang yang ada. Dengan kata lain, pengendalian secara kimiawi dengan pestisida masih belum diperlukan. Dengan prinsip pengendalian hama terpadu, penggunaan pestisida merupakan pilihan atau alternatif terakhir dalam pengendalian hama. Penggunaan pestisida yang tidak sesuai, tidak hanya hama yang mati tetapi musuh alaminya pun ikut mati. Hama yang terkena pestisida nantinya lama kelamaan akan mempunyai sifat resisten sehingga sangat dimungkinkan kelak jumlah populasi akan meledak dan tidak akan mempan terhadap pestisida. Dari hasil yang didapatkan pada pengamata populasi relatif dapat dilihat bahwa intensitas serangan belalang hijau pemakan daun terhadap 25 rumpun adalah 35%. Hal ini menandakan intensitas kerusakan yang diakibatkan oleh belalang pemakan daun belum terlalu tinggi sehingga belum membutuhkan pengendalian hama.

VI. KESIMPULAN 1. Pengamatan populasi dilakukan dengan 3 cara yaitu : pengamatan populasi mutlak, pengamatan populasi relatif dan pengamatan indeks populasi. 2. Populasi hama yang diamati masih berada dibawah ambang ekonomi tidak membutuhkan pengendalian secara kimiawi atau dengan menggunakan pestisida tetapi masih dapat dikendalikan oleh musuh alaminya.

DAFTAR PUSTAKA

Korldroup, M. G. 1976. Optimum Sampel Size and Comments on Some Published Formulae. Bulletin Entomology Society 23: 217-221. Putra,N.S. 1994. Serangga di Sekitar Kita. Kanisius. Yogyakarta. Rukmana, R., dan S. Saputra. 1997. Hama Tanaman dan Teknik Pengendalian. Kanisius. Yogyakarta Sudjono, S dan Harjaka, T. 2005. Petunjuk Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Hama Tanaman. Jurusan Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.