Anda di halaman 1dari 2

Setetes Minyak

Al kisah, seorang pemilik toko mengirim anaknya untuk belajar ilmu kebijaksanaan dari salah satu orang terbijak di dunia. Anak itu harus berjalan melintas gurun, menapak lembah selama berharihari, untuk memenuhi permintaan ayahnya. Orang bijak itu tinggal di puncak bukit, dalam sebuah istana yang luar biasa megah. Anak itu masih harus mendaki jika ingin sampai di sana. Banyak orang dari seluruh dunia berkumpul di istana itu, hanya untuk memperoleh nasehatnya. Sampai-sampai anak itu harus menunggu berjam-jam hanya untuk berbicara dengannya. Nah, Nak, kau lihat sendiri, aku sangat sibuk hari ini. Begitu katanya, ketika akhirnya anak itu berhasil mendapat perhatiannya. Betul, kau ingin mengetahui rahasia ilmu kebijaksanaan? Anak itu mengangguk. Baiklah, tapi sementara aku bicara dengan orang-orang ini, kau lihat-lihatlah dulu rumahku yang sederhana ini. Bagaimana kau bisa belajar pada seseorang, sedangkan kau tak tahu keadaan rumahnya. oh ya, bawalah ini bersamamu! orang bijak itu mengulurkan sendok, dan menuangkan setetes minyak wijen dari botol porselen. Ingat! Saat kau menemuiku nanti, kuharap minyak wijen itu masih ada di tempatnya. Mengerti? Mengangguk lagi. Kemudian anak itu mulai berjalan. Istana itu memiliki empat lantai, dan dibangun di atas berhektar-hektar tanah. Ada puluhan ruang, dengan ratusan kamar dan selasar yang menyerupai galeri seni. Terpajang deretan patung dan lukisan karya para maestro dari seluruh dunia. Taman dan rancang bangunannya ditangani langsung oleh para ahli yang didatangkan dari berbagai negara. Dengan hati-hati sekali anak itu berjalan, menapaki ruang demi ruang. Tapi segala perhatiannya hanya tertuju pada setetes minyak dalam sendoknya. Dua jam kemudian ia kembali menemui orang terbijak. Bagaimana? kata orang terbijak itu, dengan senyum terkembang. Apa pendapatmu tentang lukisan Da Vinci di sudut ruangan itu? Atau lukisan Avandi di ruangan satunya? Anak itu diam tertunduk. Dalam waktu dua jam itu, ia tak melihat apapun kecuali sendok dan minyak wijennya. Oh, sayang sekali kau melewatkan lukisan itu. Baiklah, kau boleh berkeliling lagi. Dua jam lagi temui aku di tempat ini. Dengan riang gembira anak itu mulai berjalan kembali. Ia memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Dan kali ini tak satu pun ruangan dan karya seni yang terlewat dari pengamatannya. Dua jam kemudian, pada waktu yang ditentukan ia pun datang pada orang terbijak itu.

Sudah kau saksikan semuanya? Anak itu mengangguk antusias. Ia menceritakan apa saja yang dilihatnya dengan penuh semangat. Hmm menarik sekali, komentar orang terbijak. Tapi, mana setetes minyak yang tadi kuberikan padamu? Anak itu kaget bukan main, seperti baru teringat sesuatu, lalu menengok sendoknya. Minyak itu tak ada lagi di sana. Baiklah, Anak muda. Tadi kau bilang ingin belajar rahasia kebijaksanaan. Untukmu aku hanya punya satu nasehat sederhana: rahasia kebijaksanaan adalah, ketika kau bisa melihat keindahan dunia tanpa kehilangan setetes minyak wijen dalam sendok. Kau mengerti ? Ini adalah sepenggal cerita dari buku Sang Alkemis karya Paulo Coelho. Saya tulis ulang dengan sedikit penambahan dan pengurangan berdasarkan ingatan yang lamatlamat. Sampai sekarang, Insyaallah, buku itu masih ada di perpustakaan PP Langitan. Carilah kisah tersebut, dan kalian bisa menulisnya dengan versi yang berbeda. Selanjutkan kita bisa berdiskusi. Dulu saya mencatat baik-baik ucapan orang terbijak itu, dan sekarang ini bolehlah kita renungkan bersama. Setetes minyak dalam kisah di atas, boleh jadi adalah sebuah symbol. Barangkali Coelho memaksudkannya sebagai perlambang yang bisa dimaknai dengan apa saja. Terserah kepada pembaca. Tentu berdasarkan latar belakang dan tingkat pengetahuan mereka. Sebagai muslim, setetes minyak itu bisa berarti keyakinan. Dan sebagai santri, tentu saja berarti kepribadian dan etika santri. Belajarlah apa saja, bukalah buku-buku yang kau suka, pergilah kemana saja, sampai planet mars sekalipun, lihatlah jagat raya dan segala indahnya, tapi jangan lupakan setetes minyak wijen dalam sendokmu. Kita tahu, di pesantren ini, kepribadian santri dibentuk bukan dengan bantuan sim salabim atau abra kadabra. Toh, di sini kita tak mengenal tongkat sihir dan sapu terbang. Tapi semua itu dihasilkan dengan latihan dan disiplin menahun, juga kesadaran diri siang -malam menekuri intruksi dan perintah. Sampai semuanya melebur dalam satu tubuh. Menyatu dalam diri, kemudian tercermin pada laku dan ucapan. Santri adalah santri, di dalam atau luar pesantren, dengan atau tanpa peraturan yang mengekangnya. Zaman berjalan maju. Segalanya berubah dari waktu ke waktu, termasuk budaya. Ada banyak hal yang dulu sepertinya tabu, tapi sekarang ramai kita tiru.