Anda di halaman 1dari 29

REVIEW SKRIPSI EKONOMI INDUSTRI

ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU DAN KINERJA INDUSTRI MI INSTAN DI INDONESIA

Oleh : Devi Aryati Nurul Qomariyah Dwi Apriliana Adi Setiawan Ika Kartika Reiza Mutia Pandu Damai I.T. F34070018 F34070059 F34070066 F34070089 F34070092 F34070106 F34070124

2010 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Seiring berjalannya waktu, gaya hidup masyarakat Indonesia semakin berubah. Perubahan gaya hidup berpengaruh juga dengan pola gaya makan. Perubahan gaya makan masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh semakin banyaknya bahan pangan olahan yang siap saji dan praktis. Mi instan merupakan salah satu produk bahan pangan olahan yang merubah gaya makan sehingga meningkatkan konsumsi tehadap mi instan. Sebagian masyarakat Indonesia telah menjadikan mi instan sebagai kebutuhan pokok karena produk tersebut merupakan salah satu sumber karbohidrat selain beras. Selain itu, mi instan mudah dan cepat saji serta pilihan produk yang ditawarkan bervariasi disesuaikan dengan selera konsumen. Industri mi instan semakin bertambah seiring dengan meningkatnya konsumsi mi instan. Industri mi instan berkembang pesat hingga mencapai 20 produsen dengan 31 pabrik di seluruh Indonesia. Ditinjau dari sisi demografi, Indonesia memiliki lebih dari 210 juta jiwa sehingga hal ini merupakan pasar yang potensial untuk produk mi. Hingga tahun 2004 konsumsi mi instan di Indonesia mencapai 56-57 bungkus per tahun dengan pertumbuhan konsumsi sebesar 34,4 % selama kurun waktu 6 tahun. Peluang pasar mi instan di dalam negeri menjadi semakin luas karena pertumbuhan kebutuhan rumah tangga serta keadaan ekonomi yang semakin membaik. Selain itu, perkembangan pasar mi instan ke luar negri telah mampu memperluas lahan investasi untuk pengolahan industri mi instan. I.2. Perumusan Masalah Industri mi instan merupakan salah satu industri yang menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan yang tajam sehingga dapat dijadikan sebagai indikasi adanya tindakan anti persaingan. PT Indofood merupakan salah satu industri penghasil mi instan terbesar di Indonesia. Semakin banyak produsen mi yang muncul akan semakin kompetitif persaingan antar perusahaan. Hingga tahun 2003, terlihat bahwa persaingan antar perusahaan mi instan semakin ketat

sehingga mempengaruhi kinerja pasar karena kinerja pasar akan dipengaruhi oleh struktur dan perilaku pasar. Kinerja yang baik mencakup harga yang rendah, efisiensi, inovasi, dan keadilan. Oleh karena itu, permasalahan yang dapat dirumuskan adalah bagaimana bentuk struktur pasar, perilaku pasar, dan kinerja industri mi instan di Indonesia. I.3. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai adalah menganalisis struktur pasar, perilaku pasar, dan kinerja industri mi instan di Indonesia serta bagaimana implikasi kebijakan pada industri mi instan di Indonesia. I.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan informasi bagi perilaku ekonomi khususnya pelaku industri mi instan untuk melakukan persaingan yang sehat yang berbasis pada ketentuan-ketentuan dasar persaingan. Selain itu, dapat digunakan untuk pengambilan keputusan yang rasional dan logis bagi perilaku industri mi instan dalam menjalankan usahanya agar tidak menghambat pesaing masuk pasar dan sebagai bahan rujukan penelitian selanjutnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN Kajian-kajian teoritis yang perlu disajikan agar dapat menjelaskan struktur, perilaku, dan kinerja pasar antara lain berkaitan dengan struktur pasar dan bentuk persaingan pada pasar tersebut. Adapun analisis definisi pasar terdiri dari tiga langkah, yaitu: 1. Mendefinisikan pasar produk yang relevan, yaitu dengan mengemukakan semua produk yang dapat dianggap sebagai substitusi yang berarti bagi produk yang sedang dipelajari. 2. Pasar geografis yang relevan, yaitu mendefinisikan areal geografis pasar. 3. Menentukan semua perusahaan yang turut serta dalam pasar produk dan geografis yang relevan, yaitu perusahaan yang sanggup menawarkan produkproduk untuk dijual di pasar yang relevan dalam periode waktu yang wajar. 2.1 Konsep Dasar Ekonomi Industri Ekonomi industri merupakan keahlian khusus dalam ilmu ekonomi yang menelaah struktur pasar dan perusahaan yang secara relatif lebih menekankan studi empiris dari faktor-faktor yang mempengaruhi struktur, perilaku, dan kinerja pasar. Menurut Hasibuan (1994), ekonomi industri semakin penting untuk dipelajari baik di negara maju maupun berkembang, karena: 1. Praktek-praktek struktur pasar yang semakin terkonsentrasi dalam kegiatan bisnis dan praktek-praktek perilakunya menimbulkan kerugian bagi konsumen. 2. Semakin tinggi konsentrasi industri cenderung mengurangi persaingan antar perusahaan sehingga menciptakan perilaku yang kurang efisien. 3. Konsentrasi industri yang tinggi membawa konsentrasi kekayaan yang melemahkan usaha-usaha pemerataan, baik dilihat dari pemerataan pendapatan, kesempatan kerja, maupun kesempatan berusaha. 4. Kaitan struktur industri dengan penyelesaian masalah-masalah ekonomi membawa lebih jauh intervensi pemerintah. 5. Kajian-kajian tentang struktur perilaku dan kinerja industri tidak lepas dari masalah-masalah produksi dan distribusi.

2.2

Pendekatan Struktur-Perilaku-Kinerja Pedekatan struktur-perilaku-kinerja digunakan untuk menganalisa hubungan

antara struktur, perilaku, dan kinerja industri mi instan. Aspek-aspek struktur adalah jumlah perusahaan, ukuran besarnya perusahaan, kondisi hambatan masuk, sedangkan perilaku mencakup masalah kolusi, perilaku, inovasi, kebijakan harga, output, dan iklan. Pendekatan yang digunakan pada analisis struktur, perilaku, dan kinerja, yaitu: 1. Model pendekatan Structure Conduct Performance (SCP) School Menekankan bahwa kekuatan pasar dari perusahaan merupakan sumber penyebab buruknya kinerja pasar dan pasar berada pada kondisi persaingan tidak sempurna dengan demikian pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan untuk membatasi perilaku perusahaan. 2. Model pendekatan Structure Conduct Performance (SCP) Chicago School Menyatakan bahwa sumber utama terjadinya kekuatan monopoli adalah pemerintah, sehingga agar tercapai kinerja pasar yang diinginkan sebaiknya diserahkan pada mekanisme pasar (Alistair, 2004). Struktur dan perilaku pasar dapat mempengaruhi kinerja pasar. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 1. Paradima Structure Conduct Performance (S-C-P) Pandangan lainnya adalah The New Industrial Economics yang menekankan pada peran perilaku yaitu apresiasi terhadap dimensi strategis dari kebutuhan perusahaan.

Pengujian hipotesa pola hubungan struktur dan kinerja dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu indikator tertentu dari struktur pasar seperti tingkat konsentrasi penjual dan menggunakan PCM sebagai indikator kinerja. Tetapi akan lebih baik bila memasukkan unsur-unsur struktur pasar yang lain dalam pengujian. 2.2.1 Struktur Pasar Secara teoritis struktur pasar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: persaingan sempurna dan persaingan tidak sempurna. Persaingan tidak sempurna sendiri terdiri atas persaingan monopoli, oligopoli, dan monopolistik. Dalam struktur pasar terdapat elemen-elemen pasar, yaitu: pangsa pasar, konentrasi pasar, dan hambatan-hambatan untuk masuk. 1. Pangsa Pasar (Market Share) Pangsa pasar menunjukkan kekuatan pasar Nilai: antara 0-100% dari penjualan total pasar. Makin besar pangsa pasar, keuntungan perusahaan makin besar (karena penjualan produk dan harga saham naik) Beberapa tipe pasar dengan kondisi pangsa pasar dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Tipe-tipe pasar TIPE PASAR 1. Monopoli 2. Perusahaan Dominan 3. Oligopoli ketat 4. Oligopoli longgar 5. Persaingan monopolistic 6. Persaingan murni PANGSA PASAR (%) 100 50-99 4persh 60-100, 4persh 40 Bbrp pesaing, maks 10/persh Pesaing >50 CONTOH PLN, PAM Koran lokal Bank, TV Furniture Retailer Pertanian

2. Konsentrasi (Consentration)
Nilai: antara 0-100% dari penjualan total pasar.

Makin besar konsentrasi (CR), keuntungan industri (gabungan seluruh perusahaan sejenis) makin besar. Sebagian besar peningkatan keuntungan tersebut dinikmati kelompok konsentrasi (CR).
Agar keuntungan tetap tinggi, kelompok konsentrasi (CR) berusaha

meningkatkan konsentrasinya, sehingga tercipta barier to entry. Konsentrasi dapat diukur dengan menggunakan dua indikator, yaitu: rasio konsentrasi (CR) dan Indeks Herfindahl-Hirscman (IHH). Ukuran pasar konsentrasi yang umumnya digunakan adalah persentase dari seluruh jumlah pengiriman yang dipasok oleh CR4 (pangsa 4 perusahaan) & CR 8 (pangsa 8 perusahaan) terbesar dalam industri. Ukuran lain adalah Hirschmann-Herfindahl Index (IHH). IHH merupakan penjumlahan kuadrat pangsa pasar dalam suatu industri. Nilai IHH antara 0 1, dimana jika IHH = 1 berarti mendekati monopoli, sedangkan IHH = 0 berarti mendekati PPS. 3. Hambatan Untuk masuk Pasar (Barrier to Entry)
Bentuk hambatan dapat berupa hak paten, hak dari pemerintah (HPH),

franchise, atau penguasaan teknologi


Derajat hambatan: free entry, rendah, sedang, tinggi

Pengaruh BTE terhadap anggota konsentrasi (CR): - BTE tinggi: pasar perusahaan dominan makin kuat
- BTE rendah: jangka pendek perusahaan dominan tidak terpengaruh.

Sheperd dalam Juwita (2004) membagi hambatan untuk masuk menjadi dua jenis, yaitu:
1. Hambatan Eksogen

Merupakan hambatan untuk masuk ke dalam pasar yang sifatnya berada di luar kontrol dari leading firms dan merupakan suatu penyebab fundamental yang tidak dapat diubah. Hambatan eksogen mencakup:

- Capital (modal)

- Skala ekonomi - Diferensiasi produk - Diversifikasi Intensitas penelitian dan pengembangan - High durability of firm specific capital - Integrasi vertikal 2. Hambatan Endogen Hambatan endogen mencakup:
- Kebijakan harga dari establish firm

- Penciptaan kelebihan kapasitas


- Images dari loyalitas merk suatu produk

- Strategi penguasaan produk - Strategi bahan baku 2.2.2. Perilaku Pasar Perilaku pasar merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan perusahaan untuk mencapai tujuan tertentu. Terdapat tiga kriteria untuk melihat perilaku industri, yaitu: strategi harga, kondis entry, dan tipe produk (Scherer, 1990). Sedangkan menurut Jaya (2001), pada perusahaan ada beberapa perilaku yang terjadi antara lain penetapan harga, strategi produksi, kolusi, dan penawaran vertikal. 1. Integrasi Vertikal Integrasi Vertikal adalah penggabungan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kelanjutan proses produksi. Jenis integrasi juga dapat dibagi menjadi dua, yaitu integrasi hulu (Up Stream) dan integrasi hilir (down Stream). Perusahaan yang menerapkan integrasi vertikal ke hulu (up Stream) adalah perusahaan yang memproduksi sendiri input yang dibutuhkannya. Sedangkan integrasi vertikal ke hilir (down stream) adalah perusahaan yang memutuskan untuk menyalurkan output yang dihasilkan kepada konsumen melalui perusahaan yang terintegrasi dengannya (Hasibuan, 1994).

2. Marger Secara umum kegiatan integrasi dapat termasuk dalam merger, tetapi dengan syarat ada keterkaitan dalam kelanjutan proses produksi. Pengertian merger lebih luas yaitu satu atau lebih perusahaan yang tidak sejenis dan juga tidak ada kaitan kelanjutan proses produksi dapat melakukan penggabungan (Hasibuan, 1994). Efek-efek dari marger vertikal adalah keseimbangan antara dua hal : a. Penghematan bersih yang diperoleh dengan merger yang tidak dapat diperoleh dengan pertumbuhan langsung atau kontrak jangka panjang. b. Efek-efek antikompetitif yang dapat terjadi seperti meningkatkan halangan memasuki pasar. 2.2.3. Kinerja Pasar Setiap perusahaan akan mempunyai tujuan untuk menguasai pasar, tujuan itu yang disebut dengan kinerja. Kinerja secara lebih rinci dapat dilihat dari laba, efisiensi, pertumbuhan (termasuk perluasan pasar), kesempatan kerja, prestise profesional, kesejahteraan personalia, dan juga kebanggaan kelompok. Kinerja tergabung antara kinerja ekonomi dan non ekonomi (Hasibuan, 1994). Ada beberapa pertimbangan yang digunakan untuk menjadikan perusahaan tertentu mempunyai kinerja yang baik sebagai barometer harga. 1) Jika terjadi persaingan yang kurang sehat dalam suatu industri oligopoli 2) Dapat mengurangi kinerja administratif, karena perhitungan ongkosongkos yang berulang-ulang 3) Perusahaan yang menjadi barometer itu telah menunjukan prestasi yang bagus, yang hampir tidak melesest ramalan-ramalannya (Hasibuan, 1994). 2.3. Deskripsi Produk Mi Instan Mi adalah produk makanan setengah jadi yang terbuat dari campuran tepung terigu berkadar tepung tinggi dengan tambahan bahan lain seperti air, telur, bumbu tertentu, pewarna makanan dan bahan pengawt makanan. Mi instan adalah mi kering buatan pabrik. Mi ini hanya bisa diproduksi oleh pabrik karena proses

pengeringan menggunakan alat pengering tertentu. Mi instan buatan pabrik dijual dalam berbagai kemasan menarik. Mi instan secara umum adalah sejenis makanan berbentuk pasta yang bahannya berasal dari tepung terigu yang diolah dengan merebus dalam air panas yang kemudian diberi bumbu sesuai dengan selera yang ada dalam kemasan untuk siap disantap (Corinthian Infopharma Corpora, 2004). Definisi mi instan menurut Japan Agriculture Standards (JAS) adalah mi instan dibuat dari bahan tepung beras atau tepung gandum yang diberi tambahan bumbu atau rempah-rempah. Mi diproses sedemikian rupa untuk meningkatkan elastisitas dan viskositas, kemudian mi didehidrasikan, ditambahkan aroma kemudian mi instan siap diolah. JAS mengklasifikasikan mi instan menurut wadah, pengemasan, rasa, dan pembuatan dimana pada dasarnya mi instan dibagi dalam dua jenis yaitu mi dalam kemasan plastik dan mi dalam kemasan gelas (cup). 2.4. Kebijakan yang Terkait dengan Industri Mi Instan Struktur pasar yang semakin terkonsentrasi mempunyai perilaku yang eksploitatif, seperti pengaturan harga, adanya hambatan masuk pasar yang menyebabkan industri semakin tidak atau kurang efisien, sehingga tingkat kesejahteraan masyarakat umum. Oleh karena itu, tujuan utama dilakukan kebijakan oleh pemerintah adalah untuk membantu kelemahan-kelemahan yang dialami mekanisme pasar. Kebijakan-kebijakan pemerintah berupa: 1. Kebijakan dalam Investasi 2. Kebijakan dalam Bidang Ekspor 3. Kebijakan dalam Bidang Impor 4. Kebijakan dalam Bidang Pengawasan Bahan Baku dan Produksi

2.5 Kerangka Pemikiran

Gambar 2. Kerangka pemikiran untuk analisa Gambar tersebut menunjukan kerangka berfikir dalam menganalisis

permasalahan-permasalahan utama yaitu bagaimana persaingan dalam industri mi instan yang dilihat dari struktur-perilaku-kinerja dan pengaruh implikasi kebijakan yang akan dianalisis dengan menggunakan persamaan PCM dengan variabelvariabel eksogen yang menggunakan persamaan tersebut.

III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian analisis struktur, perilaku, dan kinerja industri mi instan di Indonesia adalah data sekunder yang sudah diolah oleh instansi terkait seperti Badan Pusat Statistika (BPS), PT Corinthian Infopharma Corpora, Departemen Perindustrian, penelitian ini. Data yang digunakan untuk analisis Structure Conduct Performance (SCP) secara deskriptif adalah data ketika persaingan dan konsumen mi instan berkembang yakni tahun 1999-2003. Sedangkan data statistika yang diestimasi adalah data time series dengan jumlah observasi 18 yaitu tahun 1986-2003. Namun data yang diperoleh masih dalam bentuk nominam yang harus dirubah menjadi riil ddngan membagi data nominal dengan Indeks Perdagangan Besar (IHBP). IHBP merupakan angka indeks yang menggambarkan besarnya perubahan harga pada tingkat harga perdagangan besar atau harga grosir dari komoditi-komoditi yang diperdagangkan di suatu daerah. 3.2. Metode Analisis Model penelitian yang digunakan untuk melihat bagaimana perkembangan industri mi instan di Indonesia adalah dengan menggunakan pendekatan Structure Conduct Performance (SCP) dengan metode OLS (Ordinary Least Square). Penggunaan metode OLS dilakukan karena metode ini paling popular dan sangat berpengaruh dalam analisis garis regresi serta memiliki ketepatan estimasi. Estimator yang menggunakan metode least square isebut sebagai estimator least square yang memiliki sifat sebagai berikut:
1.

Lembaga Sumber Daya

Informasi (LSI), serta data-data dari skrpsi dan berbagai sumber yang menunjang

Estimator OLS hanya mengekspresikan nilai-nilai yang dapat diamati Estimator ini merupakan estimator-estimator titik yang hanya

yaitu X dan Y sehingga mudah dihitung.


2.

memberikan nilai tunggal pada parameter populasi yang relevan.

3.

Apabila estimator OLS diperoleh dari data sampel maka garis regresi sampel dapat ditentukan dengan mudah.

Variabel-variabel yang digunakan dalam analisa penelitian ini adalah analisa struktur pasar, perilaku pasar, kinerja pasar, serta hubungan struktur dan kinerja pasar. 3.2.1.Analisis Struktur Pasar (Market Structure) Elemen-elemen utama dalam pasar adalah sebagai berikut: a. Pangsa Pasar Setiap perusahaan memiliki pangsa pasar yang berbeda yaitu berkisar antara 0-100 persen dari total penjualan seluruh pasar. Pangsa pasar menunjukkan keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan yang dirumuskan sebagai berikut: msi = x100 = Pangsa pasar perusahaan i (%) = Penjualan perusahaan i = Penjualan total seluruh perusahaan

Keterangan: msi si stot

b. Konsentrasi Industri Tingkat konsentrasi industri dapat dihitung dengan dua cara yaitu Concentration Ratio (CR) yang menggambarkan struktur pasar dan Hirschman Herfindahl Index (HHI) untuk mengetahui keberadaan industri pada struktur pasar yang bagaimana yang berdasarkan interval indeksnya.
Concentration Ratio (CR)

Concentration Ratio merupakan persentase dari total output industri atau pendapatan penjualan. Semakin besar angka persentasenya (mendekati 100 persen) maka semakin besar konsentrasi industri dari produk tersebut. Apabila rasio konsentrasi suatu industri mencapai 100 persen berarti bentuk pasar adalah monopoli CRm

Hirschman Herfindahl Index (HHI)

Pengukuran Index Hirschman Herfindahl (HHI) didasarkan pada jumlah total dan distrubusi ukuran dari perusahaan-perusahaan dalam industri yang dihitung dengan penjumlahan kuadrat pangsa pasar semua perusahaan dalam suatu industri. HHI = HHI akan memiliki nilai 1 jika suatu perusahaan menguasai penjualan industri 100%. HHI memiliki nilai 1/n apabila masing-masing perusahaan dalam industri memiliki jumlah penjualan yang sama. Dimana: CRm = Concentration Ratio sebanyak m perusahaan (%) HHI = Hirschman Herfindahl Index MSi = Pangsa pasar perusahaan ke i (%) m n = Jumlah perusahaan terbesar = Jumlah total seluruh perusahaan yang berada pada industri

c. Hambatan Masuk Pasar Hambatan masuk pasar dapat disebabkan karena adanya persaingan bisnis mi instan yang semakin ketat. Adanya perusahaan mi instan yang berperan secara dominan menyebabkan peluang pasar perusahaan lain semakin kecil karena dikuasinya sebagian besar pangsa pasar dan adanya perang harga antara produsen yang menyebabkan persaingan yang tidak sehat. Salah satu cara yang digunakan untuk melihat hambatan masuk pasar adalah dengan mengukur skala ekonomis yang didekati melalui output perusahaan yang menguasai pasar lebih dari 50%. Nilai output tersebut kemudian dibagi dengan output total industri yang kemudian disebut sebagai data Minimum Efficiency Scale (MES). MES = Output perusahaan terbesar Output total 3.2.2.Perilaku Pasar (Market Conduct) Elemen-elemen dari perilaku pasar adalah strategi penetapan harga dan produk, strategi promosi, dan tindakan vertikal atau penguasaan serangkaian proses produksi barang mulai dari hulu sampai hilir.

3.2.3.Kinerja Pasar (Market Performance) Analisa kinerja dilakukan dengan menggunakan analisa Price Cost Margin (PCM), efisiensi X dan utilisasi kapasitas produksi. PCM dinyatakan sebagai indikator kemampuan perusahaan untuk meningkatkan harga di atas biaya produksi atau persentase keuntungan dari kelebihan penerimaan atas biaya langsung. PCM = P AVC = Nilai tambah Upah total P Barang yang dihasilkan

X-eff = Nilai tambah industri Nilai input industri Utilitas = Utiilitas kapasitas produksi Kapasitas produksi 3.2.4.Hubungan Struktur dan Kinerja Struktur pasar dapat menjelaskan bagaimana kinerja pasar dimana setiap industri memiliki struktur dan kinerja yang berbeda-beda. Struktur pasar yang optimal dapat memberikan atau menciptakan suatu kombinasi yang baik bagi suatu kinerja. Untuk melihat hubungan struktur dan kinerja dalam penelitian ini digunakan model regresi berganda (Ordinary Least Square). Variabel endogen yang digunakan adalah proksi dari keuntungan industri yaitu CPM (peresen). Sedangkan variabel eksogennya adalah rasio kensentrasi (persen), nilai efisiensi X (persen), produktivitas (persen), jumlah ekspor (ton), jumlah impor (ton), dan pertumbuhan (persen). Berdasarkan model-model hubungan struktur dan profitabilitas maka model yang digunakan pada penelitian ini adalah: PCMt = 0 + 1CR4t + 2X-efft + 3Prodt + 4Prodt-1 + 5GRSt + 6LXt 7LMt + Ut Dimana: PCM = Nilai tambah Upah total Barang yang dihasilkan

= rasio keuntungan industri yang mencerminkan kelebihan atas biaya langsung pada tahun ke-t (%) X-efft = Nilai tambah industri Nilai input industri = rasio efisiensi pada tahun ke-t untuk mengukur efisiensi internal industri (%) Prodt = Nilai output Nilai input tenaga kerja = Produktivitas yang dinyatakan sebagai perbandingan niali output dan nilai tenaga kerja pada tahun ke-t (%) GRSt = Rata-rata tingkat pertumbuhan nilai produksi industri yang mewakili kondisi permintaan pasar pada tahun ke-t (%) LXt Ut 0 = Logaritma nilai komoditi yang diekspor (ton) = Unsur gangguan = Intercept LMt = Logarirma nilai komoditi yang diimpor (ton)

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 = Koefisien Kemiringan parsial. 3.3. Analisa Time Series (Runtun Waktu) Uji stasioneritas dimaksudkan untuk mengetahui sifat dan kecenderungan data yang dianalisa apakah memiliki pola yang stabil, stasioner atau tidak stasioner. Pengujian kestasioneran data dapat dilakukan dengan unit root dengan uji ADF (Augmented Dickey Fuller) dimana data dikatakan stasioner apbila nilai ADF test statistik lebih kecil dari nilai tabel Mackinnon. Perbedaan antara data time series yang stasioner dan yang tidak yaitu dampak shock atau guncangan yang terjadi pada data time series yang stasioner bersifat sementara. Perilaku data time series yang stasioner adalah sebagai berikut:
1. Mean dari data menunjukkan perilaku yang konstan 2. Data stasioner menunjukkan varians (ragam) yang konstan

3.

Correlogram (diagram korelasi) yang menyempit seiring dengan penambahan waktu.

Data yang tidak stasioner adalah data yang cenderung mengalami perubahan yang mendasar seiring dengan berjalannya waktu (time dependent). Perilaku data yang tidak stasioner adalah sebagai berikkut:
1. Data time series yang tidak stasioner tidak memiliki long run mean 2. Memiliki

ketergabtungan

terhadap

waktu

dan

varians

akan

memperbesar tanpa batas seiring dengan perubahan waktu.


3. Correlogram (diagram korelasi) data tersebut cenderung menyempit.

3.4.

Ordinary Least Square (OLS) Penggunann metode Ordinary Least Square (OLS) akan menghasilkan

koefisien regresi yang memenuhi sifat-sifat Best Linear Unbiased Estimator (BLUE), yaitu koefisien regresi yang linear, tidak bias, konsisten serta efisien (memiliki varians yang minimum). Kriteria-kriteria yang dinyatakan baik dari asumsi yang diperlukan dari model regresi adalah kriteria ekonomi, kriteria statistika, dan kriteria ekonometrika. 3.5. Uji Statistika dan Ekonometrika Uji Statistika dan ekonometrika dilakukan untuk melihat hasil regresi yang didapatkan setelah melakukan pengujian-pengujian, sehingga setelah memenuhi asumsi-asumsi uji statistika dan ekonometrika diperoleh model yang dikatakan baik. Kriteria statistik menyangkut uji terhadap koefisen darivariabel penduga dan variabel bebas. Sedangkan kriteria ekonometrika menyangkut pelanggaran asumsi Ordinary Least Square (OLS) yaitu meliputi multikolineritas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi. Kriteria ekonomi yaitu uji tanda dan besaran untuk melihat kecocokan tanda variabel dan nilai koefisien penduga dengan teori atau nalar.

IV. GAMBARAN UMUM INDUSTRI MIE INSTAN DI INDONESIA 4.1. Sejarah Perkembangan Mi Instan merupakan salah satu jenis makanan yang paling populer di Asia, terutama di Asia Tenggara dan Asia Timur. Pada awalnya, mie pertama kali di buat Cina sekitar 5000 tahun yang lalu. Sampai saat ini, mi sudah menyebar ke berbagai penjuru dunia. Nama dan jenis mi di seluruh dunia pun menjadi bervariasi, ada yang tipis hingga yang lebar. Contohnya saja di Italia yang sudah dikenal produk spaghetinya. 4.1.2.Sejarah Perkembangan Mie Ramen di Jepang Nama Ramen sendiri berasal dari sebuah merk mie instan pertama yang dikeluarkan di Jepang yaitu Chicken Ramen. Awalnya, mie ramen muncul dalam kemasan yang sudah diberi bumbu, sehingga konsumen hanya cukup menambahkan air panas saja. Namun pada perkembangannya sekitar tahun 1960an, mie ramen dibuat dengan bumbu yang terpisah dan belum tercampur sehingga konsumen bisa menambahkan bumbu sesuai dengan selera mereka sendiri. Pada tahun 1970-an muncul mi ramen dalam kemasan gelas (cup), persegi, dan mangkok. Kehadiran mesin penjual otomatis disertai dengan air panas membuat mie ramen dapat dikonsumsi dimana saja dan kapan saja. Pada masa ini juga muncul mie ramen dengan berbagai rasa lokal atau daerah. Sampai dengan tahun 1995 sebanyak 5,19 milyar mie ramen telah terjual dan sampai sekarang menjadi makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat Jepang. 4.1.3. Sejarah Perkembangan Mie Instan di Indonesia Mi instan diciptakan oleh Momufuku Ando pada tahun1958, yang kemudian mendirikan perusahaan Nissin dan memproduksi mi instan pertama di dunia. Peristiwa penting lainnya terjadi pada tahun 1971 dimana Nissin mengenalkan produk mi gelas (cup) dalam wadah (stereofoam). Inovasi berikutnya adalah penambahan sayuran kering dalam gelas untuk melengkapi hidangan tersebut.

4.1.1.Sejarah Perkembangan Mie Instan di Dunia

4.2. Gambaran Umum Industri Mi Instan Awalnya industri mi instan di Indonesia di mulai dari industri mi basah dan mi kering sekitar tahun1950-an sampai 1960-an. Baru pada bulan April tahun 1968 dengan berdirinya PT. Lima Satu Sankyu menjadi cikal bakal industri mi instan di Indonesia. Perusahaan ini awalnya berstatus Penanaman Modal Asing (PMA). Pada tahun 1997, perusahaan ini berganti nama menjadi PT. Lima Satu Sankyu Indonesia dan berubah lagi menjadi PT. Supermi Indonesia dengan produk andalan Supermi. Kemudian pada tahun 1970, pasar mi instan diramaikan lagi dengan berdirinya PT. Sanmaru Food Manufacturing (anak perusahaan Jangkar Jati Group) dengan merk Indomie, disusul dengan berdirinya PT. Sarimi Asli Jaya (Salim Group) pada 1982 dengan produk bermerk Sarimi. Setelah itu, industri ini semakin ramai dengan berdirinya banyak industri mi instan di Indonesia. Sejak saat itu, persaingan mi instan sangat ketat, terutama setelah Indofood (Salim Group) bergabung dengan Jangkar Jati Group pada 1984 dan membentuk PT. Indofood Interna Corporation yang selanjutnya menjadi cikal bakal Indofood Group dibawah naungan PT. Indofood Sukses Makmur. Lalu pada tahun 1986 PT. Indofood Interna Corporation melalui anak perusahaannya PT. Lambang Insan Makmur mengambil alih PT. Sarimi Indonesia. Pada tahun 1992, Salim Group telah mengambil alih seluruh saham Jangkar Jati Group dan puncaknya adalah ketika Indofood mengalihkan distribusi produknya ke PT. Indomarco Adiprima. Sejak saat itu, dominasi Indofood dengan merk Indomie, Sarimi, dan Supermi semakin menguasai pasar mie instan di Indonesia. PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk menjadi produsen dengan kapasitas produksi mencapai 15 milyar bungkus per tahun atau sekitar 64,5 % dari total kapasitas produksi nasional. 4.2.1. Modal Asing Dalam Industri Mi Instan Adanya orientasi ekspor mampu menciptakan lahan investasi yang besar untuk perusahaan. Bentuk investasi ini dapat memperbesar kapasitas produksi dan menambah promosi maupun variasi rasa untuk produk mienya. Dari 31 perushaan yang aktif, terdapat 5 perusahaan yang berstatus Penanaman Modal Asing (PMA).

Investor yang masuk berasal dari Jepang, Taiwan, Hongkong, Australia, dan Virgin Islands. Perusahaan yang tak dapat bertahan dalam industri ini secara tidak langsung merupakan seleksi bagi perusahaan-perusahaan tersebut. Perusahaan yang mampu bersaing akan terus berkembang, sedangkan yang tak mampu bersaing akan gulung tikar atau mengurabgi produksinya untuk sementara waktu. Tabel 2. Kapasitas Produksi Beberapa Produsen Mi Instan di Indonesia Sumber : Corinthian Informa Corpora, 2004. Ekivalen Kapasitas Perusahaan (Jual Produksi (ton) Bungkus) PT. Indofood Sukses 1106072 15000 Makmur, Tbk PT. Jakaranatama 91880 1108 Food Industry, Tbk PT. ABC President 54583 832 Enterprise Indonesia PT. Nissin Mas 31000 471 Share (%) 64.5

Merek Indomie, Supermi, Sarimi, Sakura Gaga, Gaga Star Mi, Gaga Mi Soun, Gaga 100 ABC, Gurimi, President Nissin, Top Ramen, Cup Noodles, TR Mi, Jumbo-Jumbo

5.4

3.2

1.8

Keunggulan dari saluran distribusi industri mi instan di bawah ini adalah segmentasi pasar dan target pencapaian penjualan ditentukan oleh produsen, sementara strategi dan pemasaran produk ditentukan oleh distributor. Kelemahan saluran distribusi ini adalah perusahaan harus membayar semua biaya akibatnya produk menjadi lebih mahal.

Produsen atau Pabrik

Eksportir

Grosir inti

Distributor Konsumen

Star Outlet

Sub distributor Hypermarket

Wholesaler atau grosir atau pasar swalayan atau operasi kanvas Retail atau Pengecer

Supermarket atau Minimarket

Gambar 3. Saluran Distribusi Industri Mi Instan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V.1. Struktur Pasar Industri mi instan diawali dengan industri mi basah dan mi kering pada dekade 1950-an sampai 1960-an. Cikal bakal industri mi instan di Indonesia adalah PT. Lima Satu Sankyu tahun 1968. Indofood Group sekarang ini telah menjadi raja dari industri mi instan di Indonesia. Perusahaan ini telah merger dengan 18 perusahaan makanan olahan dan merger dengan 6 produsen mi instan di Indonesia salah satunya adalah PT. Indofood Sukses Makmur dan PT. Myojo Prima Lestari. Perusahaan ini memiliki pangsa pasar mencapai lebih dari 80 persen sehingga diduga telah menciptakan suatu tindakan monopoli. Struktur pasar mi instan dapat dilihat dari perkembangan penjualan mi instan di Indonesia dan tingkat konsentrasi rasio empat perusahaan terbesar. Rata-rata konsentrasi rasio empat perusahaan terbesar (CR4) dari tahun 1986 sampai dengan tahun 2003 adalah sebesar 51.71%. CR4 tertinggi sebesar 96.13% pada tahun 1993 karena Salim Group mengambil alih seluruh saham Jangkar Jati Group dan mencabut produknya di jaringan distributor PT. Wicaksana Overseas untuk dialihkan ke PT. Indomarco Adiprima, akibatnya PT. Indofood semakin menguasai pasar. Kondisi ini menyebabkan perusahaan baru sulit untuk masuk pasar karena kekuatan pasar yang dimiliki oleh Indofood. Akibatnya tingkat persaingannya menurun dan tingkat konsentrasi rasio perusahaan mi instan naik. Struktur pasar mi instan di Indonesia berada pada kondisi dimana perusahaan mempunyai pangsa 50 persen sampai 100 persen dari pangsa pasar dan tidak mempunyai pesaing yang kuat. Menurut Martin dalam Yunianti (2001) jika empat perusahaan terbesar menguasai 40 persen atau lebih terhadap total penjualan maka struktur pasarnya disebut oligopoli ketat. Kesimpulannya adalah struktur pasar industri mie instan di Indonesia adalah oligopoli ketat karena CR4nya mencapai 51.71 persen yang sebagian besar pangsa pasarnya dikuasai oleh Indofood. 5.1.1.Konsentrasi Pasar

Persaingan yang oligopolis, mempunyai kekuatan yang cukup besar untuk mempengaruhi pasar sementara persaingan yang sempurna memaksa perusahaan menjadi follower. Konsentrasi merupakan kombinasi pangsa pasar perusahaanperusahaan oligopolis. CR4 adalah konsentrasi rasio yang diperoleh dengan menjumlahkan pangsa pasar dari empat perusahaan terbesar dan CR1 merupakan konsentrasi rasio dari pangsa pasar satu perusahaan terbesar. Berdasarkan data, tahun 1986 sampai dengan tahun 2003 industri mi instan di Indonesia mempunyai tingkat konsentrasi rasio rata-rata sebesar 51.71 persen dimana tingkat konsentrasi tertinggi sebesar 96.13 persen pada tahun 1993 5.1.2.Hambatan Masuk Pasar Masuknya perusahaan baru menimbulkan sejumlah implikasi misalnya kapasitas bertambah, terjadi perebutan pangsa pasar dan perebutan sumberdaya produksi yang terbatas. Menurut Umar (2000), ada beberapa faktor yang menghambat masuknya perusahaan baru masuk kedalam suatu industri antara lain skala ekonomi, diferensiasi produk, kecukupan modal, biaya peralihan, akses ke saluran distribusi, ketidakunggulan biaya independen dan peraturan pemerintah. Ada dua jenis hambatan masuk pasar sehingga menyebabkan pesaing potensial tidak dapat masuk ke pasar yang bersangkutan antara lain hambatan masuk pasar privat akibat dominasi pelaku usaha yang bergerak pada pasar yang bersangkutan dan hambatan masuk pasar karena kebijakan pemerintah. Hambatan masuk pasar privat antara lain hambatan karena produk suatu barang dikuasai sehingga pelaku usaha potensial tidak mampu menembus pasar yang bersangkutan. Mi instan impor sulit menyamai kedudukan mi instan produk Indofood karena rasa mi instan impor berbeda. Mi instan Indofood rasanya sudah disesuaikan dengan selera Indonesia. MES atau ukuran efisiensi minimum adalah ukuran paling kecil dimana biaya diminimumkan dan MES sering berfungsi untuk mendifinisikan ukuran dari perusahaan paling kecil dalam pasar. Nilai MES didapatkan dari perbandingan antara nilai output perusahaan terbesar dengan nilai output total. Menurut

Comanor dan Wilson (1967) dalam Alistair (2004), MES yang lebih besar dari 10 persen menggambarkan hambatan masuk pasar yang tinggi pada suatu industri. 5.2 Perilaku Pasar Penentuan harga jual produk ditentukan dari biaya produksi, namun ada faktor lainnya seperti saluran distribusi, strategi pemasaran, resiko dan promosi produk. Harga yang ditetapkan perusahaan akan berada pada suatu titik antara harga yang terlalu rendah dan terlalu tinggi. Berdasarkan harga jual, produk mi instan dibagi menjadi tiga segmen pasar, yaitu harga eceran terendah di bawah Rp 500 per bungkus, Rp 500 sampai Rp 750 per bungkus, dan di atas Rp 750 per bungkus. Factor lain yang mempengaruhi harga jual seperti adanya produk impor dan distributor. Agar distributor tidak mengambil keuntungan sendiri maka produsen memberikan penghargaan atas sejumlah penjualan yang dilakukan dengan cara ini. 5.2.2.Strategi Produk Stategi produk dapat dilihat dari dua sisi, yaitu atribut produk dan daur hidup produk. Atribut produk terdiri dari mutu, desain, merek, label, dan kemasan. Mutu produk menunjukkan kemampuan sebuah produk untuk menjalankan fungsinya, ciri produk merupakan sarana kompetitif untuk membedakan produk perusahaan dengan pesaing. Merek sebuah produk merupakan nilai tambah tersendiri bagi konsumen. Merek dari perusahaan besar dan terkenal cenderung akan lebih diminati karena sudah terbentuknya kepercayaan konsumen terhadap mutu produk tersebut. Kemasan selain berfungsi sebagai wadah dan pelindung produk, juga berfungsi sebagai nilai tambah. Kemasan yang bagus (design, bahan, ukuran) akan lebih diminati oleh konsumen. Label berfungsi untuk mengidentifikasikan produk, menjelaskan tingkat mutu produk,dan mendeskripsikan beberapa hal tentang produk, seperti siapa, dimana, kapan, komposisinya dan bagaimana cara memakainya.

5.2.1.Strategi Harga

Setelah produk baru dikeluarkan perusahaan ingin agar produknya tetap berada pasar dalam waktu lama dan menghasilkan penjualan yang baik karena setiap produk pasti memiliki daur hidup yang berbeda. Pola penjualan dalam suatu daur hidup produk ditandai oleh empat tahap, dimulai dari tahap pengenalan produk di pasar, tahap pertumbuhan yang ditandai dengan meningkatnya laba dan penjualan, dan tahap penurunan yang ditandai dengan menurunnya penjualan dengan cepat. Strategi produk diperlukan untuk meningkatkan volume penjualan dan menarik para konsumen, misalnya dengan menciptakan cita rasa baru, design kemasan dan ukuran produk yang menarik pada momentum penting, seperti hari raya, ulang tahun, tahun baru, dan lain- lain. 5.2.3 Strategi Promosi Promosi produk dilakukan produsen untuk menginformasikan kepada konsumen tetntang adanya suatu produk di pasar dan meyakinkan mereka untuk membeli dan mengingatkan selalu produk tersebut dan juga untuk menarik perhatian agar produknya tetap disukai konsumen. Strategi promosi dapat dilakukan melalui empat tahap, yaitu periklanan di media massa, penjualan perorangan atau wiraniaga, pameran atau expo, dan melalui hubungan masyarakat. Strategi promosi yang dilakukan oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk adalah melihat perilaku dan kultur konsumen. 5.3. Kinerja Pasar Kinerja pasar mencerminkan bagaimana pengaruh kekuatan pasar terhadap harga dan efisiensi. Tingkat keuntungan suatu perusahaan dapat dilihat dari kinerja perusahaannya. Tingkat keuntungan dapat dicerminkan melalui Price Cost-Margin (PCM) dan tingkat efisiensi dapat dilihat melalui efisiensi-X (efisiensi internal). Efisiensi internal yang tinggi menunjukkan perusahaan mempunyai kinerja yang baik. 5.4. Hubungan Struktur dan Kinerja Hubungan ini dapat diketahui dengan analisis Struktur-Perilaku-Kinerja. Struktur pasar adalah karakteristik dan komposisi pasar dan industry dalam suatu

perekonomian sedangkan kinerja pasar mengacu pada tingkat keberhasilan pasar dalam memberikan manfaat kepada konsumen, misalnya dengan memberikan harga rendah. Paradigma SCP berpendapat bahwa penguasaan pasar yang tinggi cenderung menghasilkan kinerja pasar yang buruk, yaitu konsumen harus membayar harga yang sangat tinggi. Pendekatan SCP mengatakan bahwa struktur akan mempengaruhi profitabilitas secara secara positif. Struktur pasar dianalisis dengan menggunakan CR4 yang menunjukkan bahwa industry mi instan termasuk ke dalam tipe oligopoli ketat. Hubungan struktur dan kinerja dapat dilihat dengan suatu model ekonometrika yang telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, misalnya tidak adanya autokorelasi, heteroskedastisitas, dan multikolinearitas sehingga model ekonometrika tersebut memang layak untuk digunakan. Table 3. Hasil Dugaan Persamaan PCM pada Industri Mi Instan di Indonesia Variable D (CR4) XEFF D(PROD,2) D(PROD(-1),2) LEKSPOR D(LIMPRO) GRS C Adjusment R-squared Uji Breusch-Godfrey Correltion LM Uji White Heteroskedasticity Koefisien -0.150710 0.416685 0.093031 0.228412 0.004662 -3.549973 0.924177 4.808103 0.794310 Prob T-statistic 0.2130 0.0088 0.0810 0.0018 0.9328 0.4656 0.0503 0.5366 Prob (F-statistic) 0.005279 Prob Obs*R-squared 0.694413 ProbObs*R-Squared 0.378155

Pengujian autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji BreuschGodfrey Correlation LM. Apabila nilai probability obs*R-squared lebih besar dari taraf nyata yang digunakan maka hasil regresi ini tidak mengandung autokorelasi. Dari table di atas bahwa nilai pro bobs*R-squared lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu 10 persen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil regresi pada penelitian ini tidak mengandung autokorelasi.

Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan uji White. Apabila nilai ProbObs*R-Squared lebih besar dari taraf uji nyata, maka hasil regresi tidak mengandung heteroskedastisitas. Kemudian, syarat yang terakhir dalam metode Ordinary Least Square (OLS) adalah pengujian multikolinearitas. Multikolinearitas muncul apabila di antara masing-masing variable independen saling berhubungan secara linear. Berdasarkan hasil estimasi, CR4 tidak berpengaruh secara signifikan terhadap PCM. Dapat disimpulkan bahwa strategi menjual produk dengan harga yang murah demi menjaga ketersediaan produk pada segmen pasar tertentu akan berdampak pada volume penjualan yaitu walaupun tingkat penjualannya meningkat tetapi membuat margin keuntungan menurun. 5.5. Implikasi Kebijakan Peluang pasar mi instan yang cukup besar menyebabkan persaingan yang ketat di anatar para produsen mi instan di Indonesia. Persaingan yang ketat dapat menimbulkan kecurangan di anatar produsen mi instan. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu kebijakan- kebijakan, seperti saluran distribusi harus terus dikembangkan dengan didasari tujuan yang signifikan seperti memaksimalkan jangkauan penjualan, ketersediaan produk, dan margin perusahaan dengan merekrut lebih banyak distributor dan mempeeluas saluran. Kebijakan lainnya adalah mengurangi jumlah karyawan dengan lebih mengembangkna sumber daya manusia yang berkualitas dan berkompeten dalam bidangnya dengan memberikan pelatihan- pelatihan sehingga akan lebih terampil dan produktif dalam bekerja, meningkatkan teknologi, melakukan merger dengan perusahaan sejenis, menata ulang manajemen distribusi sehingga dapat melayani pelanggan besar maupun yang lebih kecil. Kemudian, meningkatkan promosi produk dengan mengajukan mi instan menjadi standard internasional, mengatur keberadaan bahan baku utama mi instan, dan mengeluarkan kebijakan dalm bentuk proteksi menggunakan tariff masuk terhadap komoditi impor. Selain itu, meningkatkan kualitas dan kuantitas produk, menciptakan inovasi produk, memperluas skala usaha, melakukan kerjasama dengan investor dalam dan luar negeri.

VI. Kesimpulan

PENUTUP

Industri mi instan memiliki struktur pasar oligopoli ketat dengan penguasa pasar industri mi instan tetap dipegang oleh Indofood meskipun banyak muncul produk mi instan baru. Kebijakan pemerintah membuka kran impor mi instan dengan membebas masukkan tepung terigu impor sebagai bahan baku utam adari mi instan. Hal ini menyebabkan kendala untuk masuk pasar semakin kecil. Kinerja pasar mencerminkan kekuatan pasar terhadap harga dan efisiensi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa industri mi instan di Indonesia mempunyai nilai efisiensi yang cukup tinggi. Kinerja pasar dilihat dengan menggunakan variabel proksi keuntungan (PCM). Struktur pasar industri mi dilihat dengan menggunakan variabel CR4 dan pendekatan Structure Conduct Performance (SCP). Perilaku pasar dilihat dari strategi harga yang dipengaruhi oleh biaya produksi dan saluran distribusi, strategi produk yang dipengaruhi oleh volume penjualan produk mi instan, dan strategi promosi yang dipengaruhi oleh iklan media massa serta komunikasi lagsung dengan konsumen. Kebijakan pemerintah dapat memulihkan iklim investasi, kebijakan ekspor dan impor serta kebijakan dalam bidang pengawasan bahan baku dan produksi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa ada empat variabel yang mempengaruhi secara signifikan terhadap tingkat PCM, yaitu efisiensi-X, produktivitas periode sebelumny, dan pertumbuhan. Keempat variabel tersebut berpengaruh positif terhadap tingkat PCM. Saran Sebaiknya pemerintah mengantisipasi dan lebih memperhatikan pengembangan industri pangan yang bahan bakunya tidak diproduksi di dalam negri karena pengembangan teknologi seharusnya juga dapat menekan ketergantungan terhadap impor terigu, agar persaingan yang tidak sehat antar produsen mi instan juga dapat dicegah. Produsen mi sebaiknya tidak melakukan promosi yang berlebihan agar tidak terjadi perang harga antar produsen sehingga

tidak ada produsen mi yang menjual produk dibawah standar harga dasar dari pedagang besar ke pengecer.