Anda di halaman 1dari 12

MASALAH PERJANJIAN PERKAWINAN (Kaitannya dengan Gugatan Perdata dan Sebagai Alasan Perceraian) Oleh: Jasmani Muzajin, S.H.

* A. PENDAHULUAN Undang-undang perkawinan Indonesia memberikan peluang bagi calon pasangan suami isteri untuk membuat suatu perjanjian perkawinan[1]. Peluang ini menjadi penting justeru karena saat ini, secara sosio-kultural, kesadaran hukum masyarakat Indonesia semakin kuat dengan ciri utama meningkatnya kesadaran akan hak dan kewajiban. Fenomena di masyarakat saat ini, kita melihat kecenderungan kawula muda lebih mendahulukan pendidikan dan karir daripada cepat-cepat mengikatkan diri dalam lembaga perkawinan. Akibatnya secara kuantitas, eksekutif muda yang belum berkeluarga jumlahnya semakin meningkat. Biasanya semakin tinggi karir seseorang semakin banyak pertimbangan dalam memilih pasangan hidup, dari soal kelangsungan karir sampai dengan soal keamanan harta bawaan yang telah diperoleh selama ini maupun harta perolehan selama dalam perkawinan nantinya. Tidak menutup kemungkinan, untuk mengamankan hal-hal tersebut di atas, perjanjian perkawinan menjadi salah satu alternative yang banyak diminati di masa depan. Pada prinsipnya setiap individu sebagai subyek hukum - kecuali mereka yang belum dewasa atau berada di bawah pengampuan - berhak secara bebas mengadakan perjanjian. Sepanjang perjanjian dibuat memenuhi syarat yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan, maka perjanjian tersebut adalah sah dan berstatus sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya[2]. Demikian halnya asas tersebut juga berlaku dalam perjanjian perkawinan yang dibuat oleh calon suami isteri. Dengan berpegang pada azas kebebasan berkontrak, dan di sisi lain dengan dilaksanakannya perkawinan di hadapan pejabat pencatat nikah, maka dengan sendirinya perbuatan hukum tersebut melahirkan hak dan kewajiban bagi masingmasing pihak suami isteri seperti yang digariskan oleh UU No.1 Tahun 1974 (UUP) dan peraturan pelaksanaannya (PP No.9 Tahun 1975). Dalam pergaulan di masyarakat bukan tidak mungkin akan terjadi titik singgung antara asas kebebasan membuat perjanjian dengan hak dan kewajiban yang diatur oleh undang-undang. Atau jika salah satu pihak melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan perjanjian (wanprestasi), bisakah ia mengajukan tuntutan perdata atau mengangkat pelanggaran perjanjian perkawinan itu sebagai alasan perceraian? Dengn kata lain, apabila salah satu pihak melanggar perjanjian dalam bentuk kedua (selain talik

talak), apakah suami atau isteri dapat mengajukan gugatan perdata ke pengadilan dan, di sisi tulisan ini. B. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PERJANJIAN PERKAWINAN 1. Pengertian Secara umum, perjanjian atau verbintenis mengandung pengertian suatu hubungan hukum kekayaan/harta benda antara dua orang atau lebih, yang memberi kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan pada pihak lain untuk menunaikan prestasi[3]. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa unsur pokok dalam perjanjian antara lain ialah hubungan hukum yang menyangkut harta kekayaan antara dua orang atau lebih yang melahirkan akibat hukum berupa hak dan kewajiban yang melekat pada subyek hukum yang bersangkutan. Yang membedakannya dengan perjanjian perkawinan adalah terletak pada subjek hukum, dimana dalam perjanjian perkawinan subjek utamanya adalah calon suami isteri, di samping hal-hal lain yang bersifat khusus. Perjanjian (familierechtrlijk), berdasarkan kawin ini sifatnya tidak lebih bercorak hukum kekeluargaan yang ialah sehingga semua ketentuan Jadi, hukum perjanjian perkawinan lain, apakah hal tersebut dapat dijadikan alasan hukum untuk melakukan gugatan perceraian. Inilah yang akan kita telaah lebih lanjut dalam

termaktub dalam Buku III BW berlaku, misalnya tidak dapat dilakukan suatu aksi kekhilafan (error/dwaling)[4]. perjanjian perjanjian (persetujuan) yang dibuat oleh calon suami isteri sebelum atau pada saat perkawinan dilangsungkan[5]. Menurut penjelasan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, pada perjanjian yang dimaksud tidak termasuk apa yang dikenal dengan taklik talak[6]. Sedangkan PP No.9 Tahun 1975 sebagai peraturan pelaksanaan dari UU No.1 Tahun 1974 tidak mengatur mengenai perjanjian kawin. Untuk itu Mahkamah Agung memberikan pendapatnya untuk memberakukan ketentuan-ketentuan yang sudah ada sebelumnya. Dengan demikian yang dimaksud adalah Kitab Undang-undang Hukum Perdata (BW) bagi mereka yang dikuasai oleh peraturan tersebut; hukum adat bagi golongan Bumi Putera dan HOCI bagi Bumi Putera yang beragama Kristen (Petunjuk Mahkamah Agung RI No: MA/0807/197).[7] 1. Ruang lingkup UUP tidak memberikkan batasan secara jelas mengenai ruang lingkup atau cakupan perjanjian perkawinan. Seperti dijelaskan di atas, dalam penjelasan Pasal 29 UU No.1 Tahun 1974 hanya disebutkan, bahwa yang dimaksud perjanjian

dalam pasal ini tidak termasuk talik talak. Tidak dimasukkannya talik talak ke dalam perjanjian perkawinan dalam UUP karena keberlakuan UUP bersifat umum, sedangkan talik talak adalah perjanjian yang bersifat khusus, yakni hanya dapat berlaku dalam perkawinan secara Islam. Oleh karena itu Kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagai hukum terapan Pengadiln Agama secara tegas memasukkan talik talak sebagai salah satu bentuk perjanjian perkawinan di samping perjanjian lain yang tidak bertentangan dengan hukum Islam[8]. Talik talak tersebut dimaksudkan untuk melindungi kepentingan kaum perempuan dari sikap semena-mena suami yang mungkin dapat terjadi sewaktu-waktu; dan karena pelanggaran suami terhadap janji taklik talak dapat dijadikan alasan hukum sekaligus memberi hak kepada isteri untuk melakukan gugatan di pengadilan tanpa harus bergantung pada otoritas suami sebagai pemegang hak talak. Jika yang dikehendaki dengan talik talak adalah sebagaimana yang lazim diucapkan suami setelah akad nikah, maka hal itu disebut sebagai perbuatan hukum sepihak (eenzijdig), di mana suami mengucapkan janji yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Selain yang berbentuk talik talak, suami isteri dapat mengadakan perjanjian dalam bentuk lain yang bersifat partai. Apabila dikatakan bahwa suami isteri telah membuat perjanjian perkawinan, maka artinya mereka telah mengikatkan diri berdasarkan persesuaian kehendak atau kesepakatan. Ruang lingkup perjanjian perkawinan dalam UUP tidak dibatasi, dalam arti calon suami isteri tetap ditempatkan pada asas kebebasan membuat kontrak selama tidak melanggar agama, hukum dan kesusilaan[9]. Dalam hukum periktakan, obyek perikatan adalah prestasi yang meliputi memberi sesuatu, berbuat sesuatu dan tidak berbuat sesuatu[10]. Dalam perspektif hukum Islam, selain hal-hal yang berhubungan dengan ibadah, manusia diberi kebebasan untuk melakukan sesuatu apa pun termasuk berkontrak, sebagaimana disebutkan dalam kaidah ushul fiqh yang berbbunyi: Al ashlu fi al asy-ya al ibahah hatta yadulla al dalil ala al tahrim(dasar segala sesuatu adalah boleh sehingga ada dalil yang melarangnya)[11]. Di samping kaidah fiqh tersebut, asas kebebasan berkontrak dalam Islam memiliki landasan hukum yang kuat seperti disebutkan dalam hadits riwayat Tarmizi: bahwa orang muslim senantiasa terikat oleh janji yang mereka buat, kecuali janji yang isinya menghalalkan yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan yang dihalalkan oleh Allah.

Kendati

pun

demikian,

kebanyakan

yang

terjadi

dalam

masyarakat,

perjanjian perkawinan baru terjadi dalam hal yang menyangkut harta benda, seperti harta pribadi dan harta bersama. Untuk menampung kepentingan dan kebutuhan itu, UUP dan KHI telah mengaturnya, yang pada pokoknya adalah sebagai berikut: 1.1. Harta pribadi Berbeda dengan ketentuan yang ada dalam BW yang menganut system percampuran harta kekayaan suami dan harta kekayaan isteri ketika terjadi perkawinan. UUP mengatur harta benda dalam perkawinan sesuai dengan pola yang dianut hukum adat / Islam yaitu harta bawaan dan harta yang diperoleh sebagai hadiah atau warisan tetap dikuasai masing-masing suami isteri, sedang yang menjadi harta bersama hanyalah harta benda yang diperoleh selama perkawinan. Ketentuan ini secara tegas kita jumpai dalam pasal 35 UUP. Melalui pernjanjian perkawinan suami isteri dapat menyimpangi ketentuan UUP di atas dan bila dikehendaki dapat membuat perjanjian percampuran harta pribadi, inipun dapat dirinci lagi dalam bentuk: Seluruh harta pribadi baik yang diperoleh sebelum perkawinan maupun selama perkawinan berlangsung. Hanya terbatas pada harta pribadi saat perkawinan dilangsungkan (harta bawaan/pribadi yang diperoleh sebelum perkawinan tetap menjadi milik masing-masing suami isteri) Atau selabaliknya percampuran harta pribadi sebelum perkawinan dilangsungkan (harta pribadi yang diperoleh selama perkawinan tetap menjadi milik masing-masing). 1.2. Harta bersama Di atas telah dijelaskan bahwa harta yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama, jenisnya dapat berupa benda berwujud atau benda tidak berwujud. Benda yang berwujud dapat berupa benda bergerak, benda tidak bergerak, dan surat-surat berharga. Sedang benda tak berwujud dapat berupa hak dan kewajiban[12]. Meskipun demikian, suami isteri dapat menyimpangi ketentuan tersebut melalui perjanjian pemisahan harta bersama. Dan jika terjadi pemisahan harta bersama tetap tidak boleh menghilangkan kewajiban suami memenuhi kebutuhan rumah tangga[13]. Setelah status harta benda ditetapkan dalam perjanjian, dapat pula diikuti dengan klausula yang berisi ketegasan kekuasaan masing-masing untuk mengadakan hipotik atas benda-benda terebut, yakni suatu hak kebendaan atas

benda tak bergerak untuk mengambil pergantian daripadanya bagi pelunasan suatu hutang[14]. C. KETENTUAN PERJANJIAN PERKAWINAN Secara umum suatu perjanjian adalah sah bila memenuhi beberapa syarat dan ketentuan yaitu harus ada consensus, cakap dalam bertindak hukum, objeknya jelas/tertenu dan kausa halal[15]. Perjanjian perkawinan dalam arti perbuatan hukum dua pihak, tunduk pada hukum perjanjian secara umum disamping yang secara khusus diatur oleh UUP. Oleh karena itu ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi agar perjanjian perkawinan tersebut tidak cacat hukum, antara lain sebagai berikut: 1. Atas kesepakatan calon suami isteri Calon suami isteri yang akan membuat perjanjian perkawinan harus didasarkan kesepakatan bersama, apa yang dikehendaki oleh calon suami harus pula dikehendaki calon isteri, begitu juga sebaliknya. Tidak boleh suatu perjanjian perkawinan itu hanya didasarkan atas kehendak calon suami atau hanya didasarkan atas kehendak calon isteri yang dipaksakan secara sepihak, tidak boleh pula ada salah pengertian kesepakatan atau ada unsur penipuan antara kedua belah pihak suami isteri. Suatu kesepakatan yang dinyatakan karena salah pengertian, paksaan atau penipuan adalah tidak sah[16]. Karena persetujuan semacam itu diberikan dengan cacat kehendak. Persetujuan yang mengandung cacat kehendak dapat dimintakan pembatalannya ke pengadilan. 2. Suami isteri cakap membuat perjanjian perkawinan Perjanjian perkawian harus dibuat orang yang cakap bertindak hukum, karena secara hukum ia akan memikul beban perjanjian. Kecakapan ini diukur dari calon suami iseteri tersebut telah dewasa dan tidak berada dalam pengampuan. Sekedar untuk diingat kriteria orang yang dianggap tidak cakap adalah orang-orang yang belum dewasa, mereka yang ditaruh dalam pengampuan dan orang-orang perempuan dan semua orang yang menurut ketentuan undang-undang dilarang untuk membuat suatu perjanjian[17]. Bilakah seseorang dikatakan dewasa? Tentang hal ini kita lihat pasal 6 ayat (2) UUP yang menyatakan: Untuk melaksanakan perkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun, harus mendapat izin kedua orang tuanya. Sedangkan pasal 50 UUP menyebutkan: Anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah melaksanakan perkawinan yang tidak berada dalam kekuasaan orang tua, berada dalam kekuasaan wali.

Seseorang dianggap dewasa menurut UUP apabila sudah mencapai usia 21 tahun. Untuk melangsungkan perkawinan, pasangan yang belum mencapai umur 21 tahun perlu izin orang tua, ini artinya anak yang berada di bawah batas usia tersebut dianggap belum mampu bertindak hukum secara sempurna, sehingga dalam hal ini untuk membuat perjanjian perkawinan pun harus mendapat izin orang tuanya. Batas usia dewasa 21 tahun juga dianut oleh BW. Pasal 50 UUP menyebutkan bahwa anak yang belum mencapai usia 18 tahun berada dalam kekuasaan orang tua atau walinya, maka jika ditafsirkan secara argumentum acontrario, anak di atas usia 18 tahun adalah sudah dewasa. Tentang batas usia kedewasaan sampai saat ini masih ada perbedaan penafsiran menyangkut perkawinan dan perbuatan hukum lainnya. Namun pada pokoknya, sebelum ada ketegasan dari Mahkamah Agung usia dewasa adalah 21 tahun dan sebelumnya belum pernah menikah[18]. Syarat pertama dan kedua tersebut di atas disebut syarat subjektif karena menyangkut orang atau subjek hukum yang membuat perjanjian perkawinan. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka perjanjian tersebut dapat dibatalkan manakala ada pihak yang merasa keberatan. Selama tidak ada pihak yang keberatan, dan perjanjian belum dibatalkan oleh pengadilan, maka isi perjanjian tetap berlaku dan mengikat kedua belah pihak. 3. Objek perjanjian jelas Yang dimaksud objek perjanjian adalah apa yang menjadi isi perjanjian perkawinan itu sendiri, misalnya percampuran harta benda pribadi, pemisahan harta bersama dan sebagainya. Objek perjanjian perkawinan dapat terhadap barang-barang yang sudah ada atau barang-barang yang akan diperoleh di kemudian hari[19]. Contoh: perjanjian perkawinan yang berisi pemisahan harta bersama, pada saat perjanjian itu dibuat, yang namanya harta bersama belum berwujud. Barang itu baru berujud saat perkawinan berlangsung. 4. Tidak bertentangan dengan hukum, agama dan kesusilaan Isi perjanjian perkawinan tidak boleh bertentangan dengan hukum, misalnya jika mendapat harta bersama akan mendirikan usaha perjudian atau membangun kompleks pelacuran yang mewah. Juga tidak boleh bertentangan dengan agama, misalnya kalau memperoleh harta bersama suami harus bersedia berpoligami dengan menikahi adik si iseri atau memadu dua orang isteri kakak beradik. Syarat ketiga dan keempat merupakan syarat objektif dari perjanjian perkawinan. Jika syarat objektif ini tidak terpenuhi, maka perjanjian tersebut batal demi hukum tanpa menunggu ada pihak yang merasa keberatan,. Pengadilan

secara ex officio dapat menyatakan perjanjian batal demi hukum. Sejak dinyatakan batal, perjanjian itu dianggap tidak pernah ada dan masing-masing pihak dikembalikan pada keadaan hukum semula. 5. Dinyatakan secara tertulis dan disahkan PPN Syarat terakhir ini disebut syarat administrasi, betapapun perjanjian itu dibuat, jika perjanjian itu tidak dicatat dan disahkan PPN, perjanjian tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum. Ini sama halnya perkawinan yang dilaksanakan secara hukum agama tapi tidak dicatat oleh PPN, maka perkawinan itu tidak mempujnyai kekuatan hukum[20]. Sebelum berlakunya UUP, menurut hukum perdata Eropa (BW), jika suami isteri bermaksud membuat perjanjian perkawinan maka harus dituangkan dalam akte Notaris[21]. Ketentuan perjanjian perkawinan yang diberikan oleh UUP terlihat lebih sederhana dan realistis, dibandingkan ketentuan yang digariskan oleh BW, di mana perjanjian perkawinan itu harus dibuat di depan Notaris yang tentu ini akan menyulitkan bagi orang yang tinggal di pedesaan karena pada umumnya kantor Notaris baru berada di kota kabupaten. Dapat dibayangkan kalau masyarakat pedesaan akan mengadakan perjanjian perkawinan harus mengeluarkan biaya banyak untuk mengurus keperluan tersebut. Jika perjanjian telah disyahkan oleh PPN, maka isinya mengikat kedua belah pihak suami isteri sejak perkawinan itu dilangsungkan, termasuk pihak ketiga yang tersangkut dalam perjanjian perkawinan tersebut. Perjanjian perkawinan isinya akan tetap berlaku selama perjanjian tersebut belum berakhir. Berakhirnya perjanjian perkawinan dapat terjadi karena hal-hal sebagai berikut: 1. Putusnya perkawinan Perjanjian perkawinan bersifat accesoir dengan lembaga perkawinan itu sendiri, yakni adanya perjanjian karena adanhya perkawinan. Ketika perkawinan putus maka dengan sendirnya perjanjian perkawinan itu berakhir. Adapun mengenai sebab putusnya perkawinan ada tiga hal yaitu karena perceraian, kematian dan karena putusan pengadilan[22]. 2. Pencabutan bersama Jika suami isteri tidak menghendaki lagi isi perjanjian perkawinan, mereka dapat secara bersama-sama mencabut dan mendaftarkan pencabutan tersebut ke Kantor Urusan Agama tempat perkawinan dilangsungkan[23]. Sejak pencabutan tersebut didaftarkan, pencabutan tersebut mengikat suami isteri, tapi belum

terhadap pihak ketiga. Pencabutan baru mengikat pihak ketiga ketika sudah diumumkan melalui mass media. Apabila suami isteri tidak mengumumkan dalam tempo enam bulan sejak pendaftaran pencabutan, dengan sendirinya gugur[24]. Penting untuk diketahui di sini bahwa pencabutan perkawinan tidak bisa berlaku surut, artinya tidak boleh merugikan perjanjian yang telah dibuat dengan pihak ketiga sebelum dilkukan pencabutan oleh suami isteri. 3. Putusan pengadilan Perjanjian perkawinan menjadi berakhir manakala perjanjian tersebut dibatalkan berdasarkan putusan pengadilan. Perjanjian yang dapat dibatalkan oleh pengadilan adalah perjanjian perkawinan yang tidak memenuhi syarat baik subjektif maupun objektif, sebagaimana telah disebut di atas. D. GUGATAN PERDATA PERJANJIAN PERKAWINAN DAN SEBAGAI ALASAN PERCERAIAN Seperti kita ketahui bahwa objek perikatan adalah prestasi yang meliputi memberi sesuatu, berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu, Meskipun perjanjian perkawinan dibuat atas kesepakatan bersama antara suami iseteri, tidak menjadi jaminan akan ditatati selamanya oleh kedua belah pihak. Boleh jadi di tengah perjalanan waktu salah satu pihak ada yang tidak memenuhi prestasi dimaksud. Dalam hukum perjanjian kita mengenal istilah wanprestasi dan perbuaan melawan hukum (onrechtmatigedaad) yang menyebabkan isi perjanjian tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Tidak terkecuali dalam perjanjian perkawinan, tetap terjadi kemungkinan wanprestasi oleh salah satu pihak. Masalahnya adalah, apabila terjadi pelanggaran oleh salah satu pihak, bolehkan pihak yang merasa dirugikan mengajukan tuntutan ke pengadilan, baik yang bersifat keperdataan maupun menjadikannya sebagai alasan untuk mengajukan perceraian? Sejauh ini terjadi silang pendapat di antara para praktisi hukum mengenai apakah suami isteri boleh menjadi para pihak di pengadilan dalam suatu kasus perdata selain perceraian? Sebagai contoh, misalnya A (suami) dan B (isteri) sebelum melangsungkan perkawinan telah membuat perjanjian perkawinan di antaranya berisi pemisahan harta pribadi dan pencaharian bersama. Pada suatu ketika A meminjamkan (menyewakan) kebun (yang sebenarnya milik B) kepada C (pihak ketiga). B baru tahu perbuatan tersebut setelah berjalan cukup lama. Sejak mengetahui, B telah beberapa kali minta kepada A dan C agar kebunnya itu dikembalikan. Namun C menolak untuk mengembalikan dengan alasan uang

sewanya telah dibayarkan kepada A. Lalu oleh B, perkaranya diajukan ke pengadilan dengan mendudukkan A sebagai tergugat I dn C sebagai tergugat II. Pendapat pertama, menyatakan bahwa perkara tersebut harus dinyatakan tidak dapat diterima, dengan alasan suami isteri tidak dapat menjadi pihak-pihak di pengadilan. Berdasarkan kewajiban yang dibebankan oleh undang-undang kepada mereka bahwa suami isteri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, dan memberikan bantuan lahir dan batin yang satu kepada yang lainnya. Pendapat kedua, menyatakan suami isteri dapat saja menjadi pihak-pihak di pengadilan, karena setiap manusia pada dasarnya mempunyai hak yang dibawa sejak lahir sampai meninggal dunia. Sebagai pembawa hak dasar atau hak asasi, pada dasarnya setiap orang boleh berperkara di pengadilan, kecuali mereka yang belum dewasa atau berada di bawah pengampuan sehingga perlu diwakili oleh orang tua atau walinya untuk bertindak hukum di pengadilan[25]. Jika kita analisis kedua pendapat tersebut di atas sama-sama dilandasi argumentasi hukum yang rasional. Namun pendapat kedua, menurut hemat penulis, lebih menjamin rasa keadilan bagi semua orang dengan alasan: Pertama, setiap manusia secara kodrati telah membawa hak dasar yang melekat pada dirinya sejak lahir sampai meninggal dunia yang sering disebut sebagai Hak Asasi Manusia (HAM), bahkan bila ada kepentingan hukum, hak dasar itu sudah melekat sejak janin masih berada di dalam kandungan. Termasuk dalam HAM adalah hak untuk mempertahankan kebenaran di depan hukum tanpa diskriminasi. Hal ini sejalan dengan adagium equity before the law yaitu sebuah kaidah ilmiah yang berlaku secara universal yang menyatakan bahwa setiap manusia mempunyai hak yang sama di depan hukum. Jika tidak demikian, maka akan mengurangi kapasitas HAM dan pada saat yang sama telah menempatkan manusia pada situasi yang paling lemah untuk mempertahankan haknnya atau dapat disebut mati perdata. Hukum perdata kita tidak mengenal istilah kematian perdata, yaitu suatu hukuman atau keadaan di mana manusia tidak mempunyai hak lagi untuk selamalamanaya. Ini sekali lagi mempertegas, meskipun pasal 33 UUP, jo. pasal 77 ayat (2) KHI mengamanatkan bahwa suami isteri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormarti dan memberikan bantuan lahir dan batin yang satu kepada yang lainnya, namun bukan berarti menghapus hak masing-masing pihak untuk mengajukan gugatan perdata (selain perceraian) di pengadilan. Kedua, sebelum berlakunya UUP, hukum perkawinan menurut perdata Eropa berlaku ketentuan seorang wanita yang melangsungkan perkawinan menjadi tidak cakap bertindak hukum (handelingsonbekwaam), dalam segala perbuatan hukum

memerlukan bantuan suaminya[26]. Sebagai akibat langsung perkawinan suami tidak dapat dituntut tentang kejahatan terhadap isterinya dan sebaliknya[27]. Pasca diundangkannya UUP ketentuan tersebut dicabut dengan pasal 31 ayat (1) yang menyatakan masing-masing pihak suami isteri berhak melakukan perbuatan hukum. Lagi pula, menurut system hukum acara perdata di Indonesia, gugatan antara suami isteri tidak di larang. Pertanyaannya adalah, di lingkungan peradilan manakah suami atau isteri mengajukan gagatan perdata tentang pelanggaran perjanjian perkawinan tersebut, atau dengan kata lain lingkungan peradilan manakah yang berwenang mengadili perkara ini? Dalam hal ini tentu akan terjadi perbedaan pendapat di antara para praktisi hukum. Akan tetapi menuru hemat penulis, oleh karena perjanjian perkawinan merupakan assesoir dari perkawinan itu sendiri, maka perkara ini termasuk sengketa perkawinan sehingga kewenangan mengadili perkara ini sangat tergantung pada hukum manakah suami isteri tersebut melakukan perkawinan. Apabila suami isteri beragama Islam dan/atau menikah secara Islam, maka sesuai dengan asas personalitas keislaman sebagaimana ketentuan pasal 2 ayat 1 UU No. 3 Tahun 2006, maka gugatan tersebut diajukan ke Pengadilan Agama karena perkara tersebut menjadi kompetensi absolute Pengadilan Agama. Selanjutnya untuk membahas apakah pelanggaran perjanjian perkawinan dapat dijadikan sebagai alasan perceraian, maka lebih dahulu harus dilihat ketentuan pasal 51 KHI yang menyebutkan: Pelanggaran perjanjian perkawinan memberi hak kepada isteri untuk mengajukan pembatalan nikah atau mengajukan sebagai alasan perceraian ke Pengadilan Agama. Dari ketentuan pasal tersebut hanya isteri yang diberi hak untuk mengajukan pelanggaran perjanjian perkawinan sebagai alasan perceraian. Dalam pasal yang sama tidak disebukan kata-kata suami. Mungkin saja pasal 51 KHI hanya menjelaskan pelanggaran perjanjian perkawinan dalam bentuk talik talak, bukan perjanjian perkawinan dalam bentuk lainnya seperti disebutkan dalam pasal 45 KHI. Pendekatan ini lebih relevan karena perjanjian perkawinan dalam bentuk talik talak adalah eenzijdig atau perjanjian yang dibuat secara sepihak oleh suami yang isinya antara lain memberi hak kepada isteri untuk mengajukan gugatan ke pengadilan bila sewaktu-waktu pihak suami melanggar janji yang ia perbuat. Lalu bagaimana dengan hak suami dalam hal menjadikan perceraian? Jika pelanggaran itu terjadi pada perjanjian perkawinan dalam bentuk kedua dari pasal 45 KHI, yaitu perjanjian yang dibuat atas dasar kesepakatan suami isteri, pelanggaran perjanjian perkawinan oleh isteri sebagai alasan

seharusnya masing-masing pihak yang merasa dirugikan dapat menjadikannya sebagai alasan perceraian. Kalau pelanggaran perjanjian secara sepihak dalam bentuk talik talak dapat dijadikan alasan untuk mengajukan gugatan perceraian, kenapa pelanggaran perjanjian perkawinan yang dibuat oleh kedua belah pihak suami isteri tidak dapat dijadikan alasan perceraian? Hanya saja dalam hal ini akan terbentur pada ketentuan alasan perceraian dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku yang telah dirumuskan secara limitative [28]. E. PENUTUP Beranjak dari konsep pemikiran di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pada dasarnya pihak suami atau isteri yang merasa dirugikan atas pelanggaran perjanjian perkawinan dapat mencantumkannya dalam posita sebagai fakta peristiwa yang mendasari gugatan perceraian yang diajukan ke pengadilan. Pada akhirnya Hakim akan memeriksa dengan seksama apakah rumah tangga suami isteri, akibat adanya pelanggaran perjanjian perkawinan itu, masih utuh atau sudah pecah. Apabila karena pelanggaran perjanjian perkaawinan itu ternyata mengakibatkan terjadinya pertengkaran dan perselisihan yang terus menerus dalam rumah tangga suami isteri yang bersangkutan sehingga menjadi pecah dan tidak mungkin untuk dikembalikan lagi ke dalam keadaan semula, maka pelanggaran perjanjian perkawinan itu akan dinilai sebagai penyebab alasan hukum yang mendasari gugatan perceraian, yakni alasan sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 19 huruf f PP No 9 Tahun 1975, jo. Pasal 116 huruf f KHI. Karena sesungguhnya dalam pemeriksaan perkara perceraian, Hakim akan focus mencari kebenaran alasan hukumnya bukan mencari penyebabnya. Sedangkan alasan hukum akan menjadi jelas kebenarannya manakala diketahui dengan jelas penyebabnya. Demikian uraian singkat dalam tulisan sederhana ini sebagai wacana berpikir penulis, semoga bermanfaat. Amin. Wallahu alam bi showab. Kotabumi, 23 Pebruari 2011 Penulis *Hakim Pengadilan Agama Kotabumi [1] Lihat pasal 29 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 [2] Baca pasal 1338 BW yang menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. [3][3] M.Yahya Harahap, S.H., Segi-segi Hukum Perjanjian, Penerbit Alumni, Bandung, 1986, hal 6

[4] R. Soetojo Prawirodamidjojo, Pluralisme dalam Perundang-undangan Perkawinan di Indonesia,Airlangga University Press, Surabaya, 1994, hal 58 [5] Bandingkan dengan R.soetojo Prawirohamidjojo, Ibid, hal 57 [6] Lihat penjelasan Pasal 29 UU No.1 Tahun 1974 [7] Zain Badjeber dalam R.soetojo Prawirohamidjojo, Op Cit [8] Lihat pasal 45 KHI yang menyatakan: Kedua calon mempelai dapat mengadakan perjanjian perkawinan dalam bentuk (1) talik talak (2) perjanjian lain yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. [9] Pasal 29 UU No.1 Tahun 1974 [10] Pasal 1234 BW [11] Imam Jalaluddin Abdurrahman Assayuthi, Al Asybah Wan Nadhair fi Qawqid al furu al fiq al SyafiI, hal 66 [12] Pasal 91 ayat (1,2,3) Kompilasi Hukum Islam [13] Pasal 48 Kompilasi Hukum Islam [14] Lihat pasal 47 ayat (3) Kompilasi Hukum Islam [15] Lihat pasal 1320 BW [16] Lihat pasal 1321 BW [17] Lihat pasal 1330 BW [18] Lihat di buku pluralism dalam hukum perkawinan di indonesia [19] Lihat pasal 1334 BW [20] Liht pasal 7 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam [21] Prof. R. Subekti, S.H., Pokok-pokok Hukum Perdata, Jakarta, PT. Internusa, Cet XVII, hal 37 [22] Pasal 113 Kompilasi Hukum Islam [23] Pasal 50 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam [24] Pasal 50 ayat (4) Kompilasi Hukum Islam [25]Ny. Retnowulan Sutantio, S.H., dan Iskandar Oeripkartawinata, S.H., Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktik, Banung, Mandar Maju, 1989, hal 14 [26] Lihat pasal 208 BW yang sudah dinyatakan tidak berlaku [27] Prof. R. Subekti, S.H., Pokok-pokok Hukum Perdata, hal 31 [28] Lihat Ps.39 ayat (1) UU No.1 Tahun 1974, jis.Ps.19 PP No.9 Tahun 1975, Ps. 116 KHI Tahun 1991.