Anda di halaman 1dari 3

http://verdiesnatalies.blogspot.

com/
Pegunungan Kulon Progo terletak di Jawa Tengah bagian selatan termasuk zona Pegunungan Serayu Selatan bagian timur. Tinggian Kulon Progo dibatasi oleh Sungai Bogowonto yang memisahkan Dataran Purworejo pada bagian barat dan pada bagian timur dibatasi oleh Sungai Progo yang memisahkan Dataran Yogyakarta. Bagian selatan dibatasi oleh Dataran Pantai Selatan Jawa Tengah, sedangkan bagian utara dibatasi oleh Dataran Magelang dan rangkaian Gunung Api muda Pulau Jawa. Rangkaian Pegunungan Kulon Progo termasuk dalam Zona selatan jawa tengah dan secara keseluruhan merupakan plateu (Pannekoek,1939). Pegunungan Kulon Progo merupakan bagian paling timur terdiri dari breksi dan andesit yang berumur Oligosen. Diatasnya ditutupi oleh batu gamping berumur Miosen. Pegunungan ini terangkat dan membentuk kubah terpancung (Oblong dome) yang masih terdapat sisa peneplain lama di daerah yang tersusun oleh batu gamping dan sekitarnya. Pada sisi utara pegunungan ini terpotong oleh gawir, tetapi perlipatan disisi barat dan timur lebih kuat sehingga sifat tektonik berubah dan dianggap sebagai transisi ke zona tengah. Berdasarkn relief dan genesanya wilayah ini dapat dibagi menjadi beberapa satuan geomorfologi, yaitu: 1.Satuan Pegunungan Kulon Progo Satuan Pegunungan Kulon Progo ini penyebaranya memanjang dari selatan ke utara dan menempati bagian barat Daerah Istimewa Yogyakarta, meliputi kecamatan Kokap, Girimulyo dan Samigaluh . Ketinggian berkisar antara 100-1200 meter diatas permukaan air laut dengan besar kelerengan berkisar antara 15 - 60 . Kulon Progo merupakan tinggian yang berbentuk kubah memanjang dengan sumbu panjang berjarak kurang lebih 32 km dengan arah utara timur laut selatan barat daya. Sedangkan sumbu pendeknya berjarak kira kira 15 km dengan arah barat laut timur tenggara. Daerah Kulon Progo merupakan tinggian yang dibatasi oleh tinggian dan rendahan Kebumen di bagian barat rendahan Yogyakarta di bagian timur. Pada umumnya proses erosi sudah terjadi sangat intensif menghasilkan morfologi dewasa tua membentuk bentukan morfologi terbiku kuat oleh pola penyaluran. Daerah yang ditempati oleh satuan pegunungan Kulon Progo ini sebagian besar digunakan sebagai kebun campuran, pemukiman, sawah dan tegalan. 2. Beberapa Satuan Morfolog sekitar Pegunungan Kulon Progo Satuan Perbukitan Sentolo terletak di sebelah timur Pegunungan Kulon Progo, terpotong oleh Kaliprogo yang memisahkan wilayah Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Kulon Progo. Di wilayah Kabupaten Kulon Progo, satuan Perbukitan Sentolo ini meliputi daerah kecepatan Pengasih dan Sentolo. Ketinggiangnya berkisar antara 50 150 meter di atas permukaan air laut dengan kelerengan rata-rata 15 derajat. Satuan Teras Progo terletak di sebelah utara satuan Perbukitan Sentolo dan di sebelah timur pegunungan Kulon Progo, meliputi kecamatan Nanggulan dan Kalibawang, terutama di wilayah tepi Kaliprogo. Satuan dataran alluvial memanjang dari sebelah barat timur, meliputi kecamatan Wates, Temon, Panjatan, Galur dan sebagian Lendah. Daerahnya relative landai sehingga sebagian besar diperuntukan lahan persawahan dan pemukiman. Satuan dataran pantai dapat dibagi mejadi 2 yaitu sub satuan gemuk pasir & sub satuan dataran alluvial pantai. Sub satuan gumuk pasir ini mempunyai penyebaran di sepanjang pantai selatan Yogyakarta, meliputi pantai Glagah dan Congot. Sungai yang bermuara di pantai selatan adalah Kaliserang dan Kaliprogo yang membawa material material berukuran pasir ari hulu ke muara. Oleh karena aktivitas gelombang laut, material tersebut terendapkan di sepanjang pantai dan membentuk gumuk gumuk pasir. Sub satuan dataran alluvial pantai ini terletak di sebelah utara sub satuan gumuk pasir yang tersusun oleh material berukuran pasir oleh kegiatan angina. Pada satuan ini tidak dijumpai gumuk-gumuk pasir, sebagian berupa persawahan dan pemukiman. II.3.2. Stratigrafi Pegunungan Kulon Progo Geologi regional Kulon Progo telah banyak dibahas oleh beberapa ahli dengn pendekatan analisa ya berbeda ng beda, antara lain analisa paleontology, sedimentasi, fasies, maupun tektonik. Peneliti peneliti tersebut antara lain adalah Van Bemmelen (1949), Raharjo dkk (1995), Suyanto dan Roskamil (1977). Stratigrafi regional daerah Kulon Progo yang tersusun oleh batuan batuan dari tua ke muda menurut Rahardjo Dkk (1977) adalah sebagai berikut: - Formasi Nanggulan - Formasi Andesit Tua - Formasi jonggrangan - Formasi Sentolo - Aluvium Formasi Nanggulan

Formasi Nanggulan tersusun oleh batupasir bersisipan lignit, napal pasiran, batu lempung dengan konkresi limonit, sisipan napal dan batugamping, batu pasir dan tuf. Bagian bawah formasi ini tersusun oleh endapan laut dangkal berupa batu pasir, serpih dengan perselingan napal dan lignit. Bagian atas dicir ikan oleh batuan napal, batu pasir gampingan, batu gamping dan tuf yang menunjukan endapan laut fasies neritik. Formasi ini kaya akan Foraminifera dan Moluska. Berdasarkan Kajian Foraminifera Plankton Formasi Nanggulan ini berumur Eosen Tengah sampai Oligosen akhir. Formasi ini mempunyai ketebalan kira-kira 300 meter. Formasi Andesit Tua Formasi Andesit Tua tersusun oleh breksi andesit, tuf, tuf lapili, anglomerat, dan sisipan aliran lava andesit. Komposisi lava terutama terdiri dari andesit hiperten dan andesit augit hornblende. Kepingan tuf napalan yang merupakan hasil rombakan dari lapisan yang lebih tua dijumpai dikaki Gunung Mudjil . Di bagian bawah formasi ini mengandung fosil plankton yang menunjukan umur oligosen akhir. Oleh karena bagian bawah fo rmasi Sentolo berumur Miosen Awal. Mempunyai ketebalan kira-kira lebih dari 600 meter. Untuk Formasi Andesit Tua ini dibagi lagi kedalam Formasi Kulon Progo yang mempunyai lingkungan darat dan Formasi Giripurwo dengan lingkungan laut. Formasi Andesit Tua terbentuk lebih dari 1 sumber gunung api yaitu gunung api Gajah, gunung api ijo dan Gunung api menoreh (Van Bemmelen,1949). Formasi Jonggrangan Formasi Jonggrangan bagian bawah terdiri dari konglomerat yang ditumpangi oleh napal tufan dan batu pasir gampingan bersisipan lignit. Kea rah atas berubah menjadi batu gamping berlapis dan batu gamping koral. Batugamping ini membentuk bukit berbentuk kerucut disekitar Desa Jonggrangan. Formasi ini dianggap berumur Miosen Awal - Miosen Tengah dan di bagian bawah berjari - jemari dengan bagian bawah Formasi Sentolo. Mempunyai ketebalan sekitar 250 meter. Formasi Jonggrangan terendapkan pada lingkungan laut Dangkal Formasi Sentolo Formasi Sentolo tersusun oleh batu gamping dan batu pasir napalan. Bagian bawah formasi ini terdiri dari konglomerat alas yang ditumpangi batupasir gampingan, napal tufan dengan sisipan tuf kaca. Ke arah atas berangsur angsur berubah menjadi batugamping berlapis bagus yang kaya akan foraminifera. Penelitian plankton oleh Kadar (1975) menunjukan umur Formasi Sentolo berkisar antara Miosen Awal sampai Pliosen (zona N 7 N 21). Formasi ini mempunyai ketebalan kira-kira 950 meter, tersingkap baik disekitar daerah Sentolo. Aluvium Aluvium terdiri dari krakal, pasir, lanau, dan lempung sepanjang sungai yang besar dan dataran pantai. Aluvium sungai berdampingan dengan alluvium rombakan bahan vulkanik

Tabel II.3.2.1 Stratigrafi regional Kulon Progo dari berbagai sumber Geologi regional Kulon Progo telah banyak dibahas oleh beberapa ahli Pendekatan-pendekatan serta analisa yang telah dilakukan peneliti terdahulu menghasilkan berbagai versi peta geologi, berikut peta geologi Pegunungan Kulon Progo menurut Van Bammenlen (1949) dan Rahardjo dkk (1995) Gambar II.3.2.2. Peta Geologi Pegunungan Kulon Progo (Van Bammelen, 1949) Gambar II.3.2.3. Peta Geologi Pegunungan Kulon Progo (Rahardjo dkk,1995). II.3.3.EVOLUSI TEKTONIK PEGUNUNGAN KULON PROGO Daerah Kulon Progo mengalami tiga kali fase tektonik (Rahardjo dkk, 1995). Fase tektonik pertama terjadi pada Oligosen Awal dengan disertai aktifitas volkanisme. Fase ketiga terjadi pada Pliosen sampai Pleistosen terjadi fase tektonik berupa pengangkatan dan aktivitas vulkanisme. Fase tektonik Oligosen Awal Oligosen Akhir Fase tektonik Oligosen Awal terjadi proses pengangkatan daerah Kulon Progo yang dicirikan oleh ketidak selarasan antara Formasi Nanggulan yang diendapkan di darat.Fase tektonik ini juga mengaktifkan vulkanisme di daerah tersebut ,yang tersusun oleh beberapa sumber erupsi. Perkembangan vulkanisme di kulon Progo tidak terjadi bersamaan, namun di mulai oleh Gunung Gajah, kemudian berpindah ke selatan pada Gunung Ijo. Dan terakhir berpindah ke utara pada Gunung Menoreh.

Fase Tektonik Miosen Awal Pada pertengahan Miosen Awal terjadi fase tektonik kedua berupa penurunan daerah Kulon Progo. Penurunan ini dicirikan oleh berubahnya lingkungan pengendapan , yaitu dari Formasi Andesit Tua yang diendapkan di darat menjadi Formasi Jonggrangan yang diendapkan di laut dangkal. Pada fase ini, hampir se mua batuan gunung api Formasi Andesit Tua tertutup oleh batu gamping Formasi Jonggrangan, menandakan adanya genang laut regional. Fase Tektonik Pliosen Pleiotosen Pada Akhir Pliosen terjadi fase tetonik ketiga di daerah Kulon Progo, berupa pengangkatan. Proses ditandai oleh berakhirnya pengendapan Formasi Sentolo di laut dan diganti oleh sedimentasi darat berupa alluvial & endapan gunung api kuarter. Fase tektonik inilah yang mengangkat daerah Kulon Progo menjadi pegunungan kubah memanjang yang disertai dengan gaya regangan di utara yang menyebabkan terpancungnya sebagian Gunung Menoreh. Bisa dikatakan bahwa fase tektonik inilah yang membentuk moorfologi Pegunungan Kulon Progo saat ini. II.3.4. Sejarah Geologi Daerah Penelitian Sejarah geologi daerah penelitian dimulai sejak kala Oligosen Akhir - Miosen Awal ditunjukkan oleh kegiatan magma andesitik yang menghasilkan endapan lahar, lava dan intrusi andesit pada lingkungan laut. Kemudian diikuti oleh proses tektonik Miosen yang menghasilkan struktur sesar, dan kekar pada lingkungan daratan. Pada lingkungan daratan ini terjadi alterasi dan mineralisasi yang berupa urat - urat kuarsa dan ubahan batuan. Proses berikutnya terjadi genang laut dari lingkungan darat menjadi laut dangkal pada kala Pliosen. Kondisi genang laut tersebut menyebabkan diendapkannya batugamping beriapis. Kala Pleistosen terjadi perlipatan pada batugamping berlapis dengan ditunjukkan oleh kemiringan satuan batuan tersebut. Pada kala Holosen terjadi pelapukan, erosi, transportasi dan deposisi endapan aluvial disepanjang sungai dan dataran banjir. II.4. Alterasi dan Mineralisasi Mineral pada umumnya merupakan produk-produk deposit dari proses diferensiasi dan kristalisasi magma, yaitu produk yang terbentuk pada saat aktivitas pembentukan batuan beku akan berakhir. Awal proses ini dimulai dengan menerobosnya larutan hidrotermal berkonsentrasi tinggi pada suatu batuan yang sudah ada sebelumnya. Ketika larutan tersebut menembus melalui rekahan-rekahan dan patahan, terjadilah proses alterasi pada batuan tersebut. Proses alterasi batuan adalah suatu perubahan komposisi mineral dari suatu batuan pada temperatur lebih besar dari 100C dan tekanan 1 kilobar, akibat menerobosnya larutan hidrotermal. Tiga macam proses alterasi antara lain : Argitilisasi : alterasi akibat perubahan feldspar membentuk mineral lempung pada urat-urat mineral batuan yang diterobos Silifikasi: alterasi yang menghasilkan silika seperti kuarsa berbutir halus, kalsedon pada pori menggantikan mineral yang ada Propilitisasi: alterasi yang melibatkan formasi dari sebuah propilit dengan menerobosnya mineral karbonat, epidote, klorit (Gary dkk., 1974). Pada saat pendinginan berlanjut yang disertai dengan reaksi-reaksi kimia dan proses fisika, terendapkanlah mineral-mineral bentukan baru. Mineral ini tipenya tergantung dari jenis larutan hidrotermal, tipe batuan segar yang diterobosnya, dan proses pendinginan yang terjadi pada batuan itu sendiri. Batuan yang beragam kandungan mineralnya akan menghasilkan beberapa macam tipe mineral bentu kan baru. Produk-produk reaksi ini terakumulasi dalam celah pori batuan, bidang pelapukan dan perlapisan batuan (Park dan MacDarmid, 1976). Sementara itu karakteristik utama dari daerah alterasi adalah adanya sejumlah besar CO2 yang merupakan produk dari proses alterasi. Keberadaan CO2 ini besarnya tergantung pada kandungan logam, magnesium, dan kalium yang berlebihan pada batuan segarnya. Dan logam itu sendiri menjadi mineral berlebihan yang ketika proses alterasi menghasilkan pirit (Park dan MacDarmid. 1976). Hal ini biasanya ditemukan di sekitar tubuh mineral sulfida. Sulfida adalah sebuah mineral yang dicirikan dengan adanya keterkaitan antara sulfur dengan unsur logam. Beberapa diantaranya adalah kalkopirit (CuS2), galena (PbS), dan pirit (FeS2).