Working Paper Series No.

8 Januari 2008, First Draft

Distribusi dan Akses Terhadap Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di Kabupaten Ngawi
Kajian Data Potensi Desa Tahun 2005

Paulina Kristianti, Anis Fuad, Ari Natalia Probandari

-- Tidak untuk disitasi --

Daftar Isi
Daftar Isi ..............................................................................................................ii Daftar Tabel........................................................................................................ii Daftar Gambar .................................................................................................iii Abstract ...............................................................................................................iv Latar Belakang .................................................................................................. 1 Metode ................................................................................................................ 4 Hasil dan Pembahasan..................................................................................... 4 Distribusi dan Akses Terhadap Sarana dan Tenaga Kesehatan ........ 4 Akses terhadap sarana kesehatan............................................................ 6 Jarak Tempuh ke Sarana Kesehatan dan Daerah Kantong yang Tidak Tersentuh Pelayanan KIA ................................................................. 7 Keterkaitan Keberadaan Sarana Kesehatan dan Cakupan KIA........ 9 Desa-desa yang sulit mengakses kesehatan Ibu dan Anak ...............11 Desa-desa Lintas Batas..............................................................................13 Kesimpulan........................................................................................................14 Saran..................................................................................................................14 Daftar Pustaka.................................................................................................15

Daftar Tabel
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Kegiatan Kesehatan Ibu dan Anak ............................................. 3 Sarana dan Tenaga Kesehatan Tahun 2005 ........................... 5 Akses pelayanan kesehatan berdasarkan PODES 2005....... 6 Hasil Cakupan Kegiatan KIA Tahun 2005 ................................ 7 Jumlah Desa terhadap Jarak Desa dengan Sarana Kesehatan Kabupaten Ngawi Berdasarkan PODES 2005.... 8 Tabel 6. Nilai Desa Terhadap Kesulitan Akses Sarana Kesehatan....11

ii

Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan

.............12 Gambar 5...........12 Gambar 4..... Daerah Pelayanan Lintas Batas Tahun 2005 ..........13 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan iii .......Daftar Gambar Gambar 1........................ 6 Gambar 2...... Peta Polindes berdasarkan PODES 2005.. Desa Sulit Menjangkau Sarana Kesehatan Berdasarkan PODES Tahun 2005.. Desa Sulit Menjangkau Sarana Kesehatan Berdasarkan PODES Tahun 2005 dikaitkan dengan cakupan K4........... 9 Gambar 3. Sarana Kesehatan dibandingkan dengan Cakupan K4 ...............................................

East Java Province 2 Master of Health System Information. it is necessary to study on distribution pattern of health facility and health human resource.(2) To describe the enclaves that aren’t touched by mother and children health service. Conclusion and Suggestion: Access to health facility as well as distribution of health staffs does not influence the coverage of mother and child health program. doing partnership with the private enterprise in urban area. Ari Natalia Probandari3 Background: Mother and child health in Indonesia is still a challenge due to high infant and maternal mortality rate. and the utility of mother and children health service. SIG Mapping 1 Health Office of Ngawi. i. Results: The distribution of health facilities and health staffs is spread evenly almost in all villages in District Ngawi. the availability of health facilities and health staffs are not followed by the high coverage of service. mountain range and forest area. The result is presented in world map form.(3)To describe the cross border service because of geographies factor in District Ngawi. The villages with the low scope are also found in border area. In urban area. Analyses were descriptive. Keywords: Distribution. Distance. Data Potensi Desa On 2005 Paulina Kristianti1. Access. In regard to this situation. Health research about data of PODES need to be continued with different variable. The data of mother and children activities in District Ngawi on 2005 indicated some health facilities center performed under minimal service standard in mother and child health.e. Health Means. Sebelas Maret University iv Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan . Anis Fuad2. increasing the official skill and number of health facilities at border area and optimizing Desa Siaga strategy for other areas with low coverage of mother and child health program. It used secondary data of PODES (Potensi Desa Survey) on 2005. However. Gadjah Mada University 3 Part of Public Health Science in Medical Faculty. The high of infant and maternal mortality rate is caused by the 3 late. the coverage of mother and child health is low. The areas that are difficult to access the health facilities shows the high coverage. Health Staff.Abstract Distribution And Acces Toward Mother And Children Health Service In District Ngawi. It is suggested that the government should do different policy toward this issue. Method: This is a case study research using quantitative approach. Objectives: (1) To explain the distribution and access pattern toward the health facility and health staff. Some of the 3 late are late to reach health facility and late to get help.

terlalu sering melahirkan dan terlalu banyak anak dan (4) Rendahnya status perempuan yang mengakibatkan keterlambatan pengambilan keputusan di tingkat keluarga untuk mencari pertolongan. terlalu tua usianya. 2001). Tingginya angka kematian ibu dilatar belakangi oleh: (1) Banyaknya persalinan yang ditolong oleh dukun sekitar 30 persen.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 (Depkes RI. terlambat mencapai fasilitas kesehatan dan terlambat mendapatkan pertolongan yang cepat dan tepat di fasilitas pelayanan. (2) tujuh puluh persen persalinan berlangsung di rumah. sejak Repelita VI (1994 – 1998) sampai dengan dicanangkannya Indonesia Sehat 2010. Hal ini dikenal dengan “3 terlambat” yaitu terlambat dalam mengenali tanda bahaya dan pengambil keputusan untuk mencari pertolongan berkualitas. kejadian bayi baru lahir mati juga sering terjadi. Program tersebut diungkapkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan untuk meningkatkan pemerataan akses dan kualitas pelayanan (Depkes. Jumlah ibu dan bayi yang mati dari sekitar 5 juta kehamilan per tahun sekitar 20.000 kehamilan berakhir dengan kematian ibu. 30 % beresiko kurang energi kronis dan sekitar 65 % ibu hamil dengan keadaan “4 terlalu” yaitu: terlalu muda usianya. Sekitar 40 % ibu hamil menderita anemia. Penyebaran Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 1 .Latar Belakang Program pembangunan kesehatan diarahkan pada penurunan tingkat kematian ibu. angka kematian bayi (AKB) baru lahir 25 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1997 dan angka kematian ibu (AKI) 334 per 100. (3) Derajat kesehatan ibu masih rendah pada saat hamil. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Indonesia masih jauh dari keadaan yang diharapkan. Masalah utama dalam pengelolaan tenaga kesehatan adalah distribusi sumber daya manusia kesehatan ang kurang merata. bahkan sebelum hamil. bayi dan anak. 2001). sehingga bila terjadi komplikasi yang memerlukan rujukan akan memerlukan waktu yang cukup lama. Selain itu.

1 dokter spesialis anak. sementara di daerah terpencil dan sangat terpencil banyak yang tidak memiliki tenaga medis. Demikian halnya dengan distribusi bidan desa.03 jiwa tiap km2. puskesmas pembantu 63 unit.tenaga medis lebih banyak tersedia di daerah dengan sosial ekonomi daerah yang lebih maju. puskesmas induk 24 unit. jumlah penduduk 891. Hasil kegiatan program KIA di Kabupaten Ngawi tahun 2005 dapat dilihat pada Tabel 1. Masalah yang lain adalah over-staffing untuk tenaga nonprofesional (non teknis) dan under staffing untuk tenaga profesional (tenaga teknis). sulit dan mahalnya transportasi. Jumlah tenaga terkait dengan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) sebagai berikut: 2 dokter spesialis kebidanan.2005). 2 rumah bersalin (RB) swasta. rumah sakit umum daerah (RSUD) 1 unit. Keragaman pemanfaatan pelayanan kesehatan antara masyarakat miskin dan kaya pada umumnya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan dan kualitas pelayanan kesehatan (Setyowati dan Lubis. 2004). dan rumah sakit (RS) swasta 1 unit. Hampir seluruh desa sudah mempunyai bidan desa tetapi pada kenyataannya di lapangan banyak desa yang tidak memiliki bidan (Hapsara. 1141 pos pelayanan terpadu (posyandu). terdiri dari 217 desa. 39 dokter umum.98 km2. Utilisasi sarana kesehatan juga dapat dipengaruhi oleh faktor geografis. dimana jumlah dokter dan bidan selalu tidak mencukupi karena siklus kerja yang pendek. (Meliala. Masalah distribusi bidan desa juga akan menghambat usaha mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjamin dan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi mempunyai luas wilayah 1295. Salah satu penyebab masalah dalam distribusi sumber daya manusia adalah keterlambatan pengiriman tenaga ke daerah karena lamanya prosedur administrasi. dan 250 bidan. 2003). keterpencilan. Upaya peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan ibu dan anak agak terhambat. masyarakat yang tersebar. 131 pos bersalin desa (polindes). 2 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan . kepadatan penduduk 677.456 jiwa.

Tabel 1. Kegiatan Kesehatan Ibu dan Anak PERSALINAN KN2 NAKES Geneng 795 90% 793 98% 786 98% Widodaren 489 90% 517 103% 340 68% Jogorogo 654 99% 636 105% 639 107% Karangjati 680 89% 680 97% 675 97% Kedunggalar 492 94% 465 97% 473 99% Gemarang 583 100% 601 113% 435 82% Kendal 764 96% 753 106% 723 103% Kwadungan 347 76% 308 73% 305 73% Mantingan 316 93% 328 105% 305 98% Tambakboyo 291 92% 298 102% 287 99% Ngawi 620 83% 580 85% 582 86% Ngawi Purba 465 102% 422 100% 440 106% Ngrambe 742 105% 684 105% 775 121% Padas 528 99% 527 108% 497 103% Kasreman 337 92% 335 99% 365 109% Paron 695 87% 719 98% 803 111% Teguhan 629 96% 593 99% 571 97% Sine 595 82% 645 95% 644 96% Walikukun 715 94% 586 84% 667 96% Kauman 355 91% 363 102% 321 91% Pangkur 404 92% 381 94% 368 93% Bringin 395 82% 430 97% 419 95% Pitu 414 93% 409 99% 418 103% Karanganyar 454 95% 443 101% 451 104% JUMLAH 12759 92 12496 98% 12289 98% Sumber: Laporan Tahunan Program Kespro. Tujuh puskesmas yang tidak dapat mencapai SPM KIA masing-masing Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 3 . Sine dan Bringin masih mempunyai pencapaian K4 dibawah standar pelayanan minimal (SPM). Proporsi persalinan yang ditolong tenaga kesehatan (Nakes) di Puskesmas Kwadungan. Kwadungan dan Ngawi masih dibawah SPM. Puskesmas Kwadungan. Gemarang. Ngawi. Ngawi dan Walikukun masih dibawah SPM. Proporsi kunjungan bayi di Puskesmas Widodaren. Dinkes Kabupaten Ngawi Tahun 2005 PUSKESMAS K4 Tabel 1 menunjukkan bahwa pencapaian cakupan pelayanan KIA rata-rata telah mencapai lebih dari 90 %.

Analisis data dilakukan secara deskriptif. Gemarang.terletak di daerah pegunungan (Puskesmas Sine). Penelitian ini untuk mengetahui distribusi tenaga kesehatan yang tinggal di desa dan sarana kesehatan di Ngawi. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang telah dikumpulkan oleh BPS dalam Data Potensi Desa (PODES). perlu dilakukan penelitian untuk mendeskripsikan pola distribusi sarana KIA dan SDM kesehatan di kabupaten Ngawi. analisis deskripsi dilanjutkan penyajian data dalam bentuk peta rupa bumi. Bringin) maupun kota (Puskesmas Ngawi). Lokasi penelitian yaitu semua desa di Kabupaten Ngawi sebanyak 217 desa. Unit analisis penelitian adalah desa. Populasi penelitian adalah desa atau kelurahan di Indonesia. Hasil dan Pembahasan Distribusi dan Akses Terhadap Sarana dan Tenaga Kesehatan Ketersediaan sarana dan tenaga kesehatan di Kabupaten Ngawi berdasarkan PODES dan profil dinas kesehatan Tahun 2005 adalah sebagai berikut: 4 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan . Widodaren. dengan rincian 5 kelurahan dan 212 desa. Walikukun. Informasi yang ada dalam peta dasar meliputi batas administrasi dan toponomi. Pola distribusi tersebut dapat dipakai untuk membuat model berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yang berguna untuk merencanakan penempatan tenaga kesehatan dan sarana kesehatan di desa. dataran (Puskesmas Kwadungan. Metode Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi kasus melalui pendekatan kuantitatif. Tahapan analisis meliputi entri data Podes dan PWS KIA ke software epiinfo. Sampel penelitian adalah semua desa dan kelurahan di Kabupaten Ngawi. Atas dasar situasi tersebut.

Pada data Profil. Peta kesehatan yang ada di Kabupaten Ngawi ditunjukkan sebagai berikut: Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 5 . tenaga dokter tidak dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Jumlah bidan dalam Profil lebih banyak dari PODES karena bidan tidak masuk dalam pertanyaan kuesioner PODES. Sarana dan tenaga kesehatan menyebar merata hampir di semua desa. Sarana dan Tenaga Kesehatan Tahun 2005 Sarana dan Tenaga Kesehatan Rumah Sakit Rumah Bersalin Balai Pengobatan Puskesmas Pustu Dokter Praktek Swasta Bidan Praktek Swasta Posyandu Polindes Apotik Toko Obat Dokter Pria Dokter Wanita Podes 2 31 24 25 33 74 181 1057 146 17 55 44 29 Profil 2 2 12 24 62 260 1148 147 30 11 - Bidan 247 290 Sumber: Data Podes 2005 dan Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi Dalam analisis. Jika ada desa yang tidak memiliki salah satu sarana kesehatan maka dilengkapi dengan sarana kesehatan lainnya.Tabel 2. didapatkan perbedaan jumlah sarana kesehatan dan tenaga kesehatan berdasarkan PODES dan Profil Kesehatan.

Akses pelayanan kesehatan berdasarkan PODES 2005 Desa RS Talang √ 0 √ √ Suruh √ √ Gandong √ √ Kenongorejo √ √ Kiyonten √ √ Gunungsari √ √ Kerek √ √ Ngancar 0 Krandegan 0 0 0 Sumber : Data Podes Tahun 2005 RB √ √ √ √ √ √ √ BP 0 √ √ √ √ √ √ 0 0 Sulit mengakses Pusk Pustu 0 √ 0 0 √ 0 √ √ 0 DPS 0 √ √ √ √ √ √ √ 0 BPS 0 0 0 0 0 0 √ 0 √ Polindes 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan . Peta Polindes berdasarkan PODES 2005 Akses terhadap sarana kesehatan Akses terhadap pelayanan kesehatan terdapat pada Tabel 3 berikut: Tabel 3.Gambar 1.

Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi tahun 2005. Lebih dari limapuluh persen semua tempat pelayanan kesehatan mudah diakses.Akses terhadap pelayanan kesehatan di Ngawi cenderung mudah. Tabel 5 menunjukkan bahwa desa yang angka cakupannya dibawah 86 % untuk kegiatan kunjungan ibu hamil (K4) dan persalinan tenaga kesehatan serta dibawah 90 % untuk kunjungan neonatus (KN2) menunjukkan desa tersebut tidak dapat mencapai Standar Pelayanan Minimal (SPM) sesuai yang telah ditetapkan Departemen Kesehatan RI untuk mengukur keberhasilan suatu program di daerah. Rata-rata tempat pelayanan kesehatan dapat dijangkau meskipun agak sulit. Jarak Tempuh ke Sarana Kesehatan dan Daerah Kantong yang Tidak Tersentuh Pelayanan KIA Jarak tempuh ke sarana kesehatan berdasarkan PODES 2005 dapat dilihat pada tabel berikut ini : Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 7 . Hasil Cakupan Kegiatan KIA Tahun 2005 Kegiatan K4 Persalinan Hasil Cakupan < 86 % Jumlah Desa 60 > 86 % 157 < 86 % 42 > 86 % 175 KN2 < 90 % 53 > 90 % 164 Sumber: Laporan Tahunan Program Kesehatan Reproduksi. Daerah disebut berhasil dalam program kesehatannya jika telah mencapai minimal diatas angka SPM. Adapun hasil cakupan kegiatan Kesehatan Ibu dan Anak berdasarkan jumlah desanya adalah sebagai berikut: Tabel 4. sedangkan yang sulit dijangkau adalah rumah sakit sebanyak 4%. Tempat pelayanan kesehatan yang sangat mudah dijangkau adalah puskesmas sebanyak 20%.

1 km (197) 1.9 km (10) > 2 std (4) 0.2 km (15) < 0.6 km (23) < 1.1 km (174) 1. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak ada daerah kantong yang tidak tersentuh pelayanan kesehatan ibu dan anak. balai pengobatan.6 km (4) < 1.6 – 7. Karena rata-rata desa bisa menjangkau pelayanan kesehatan ibu dan anak hanya dengan jarak < 1 km (polindes. Sedangkan sarana kesehatan yang paling jauh untuk diakses adalah rumah sakit.6-7. Jumlah Desa terhadap Jarak Desa dengan Sarana Kesehatan Kabupaten Ngawi Berdasarkan PODES 2005 Sarana Rumah Sakit Rumah Bersalin Balai Pengobatan Puskesmas Puskesmas Pembantu Tempat Dokter Praktek Tempat Bidan Praktek Posyandu Polindes < 0. dokter praktik.3 km (192) Tabel 5 menunjukkan bahwa sarana kesehatan yang paling mudah dijangkau adalah tempat balai pengobatan.3 km > 2 std (12) (2) 8-30.9 km (7) < 1.Tabel 5. Karena untuk sampai rumah sakit.4 km (154) 1. 8 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan .2 km (13) Jarak > 30.9 km > 2 std (29) (15) > 7.3 km > 2 std (18) (9) > 8.1 km > 2 std (16) (6) > 6.1 km > 2 std (20) (11) > 6.9-19.4 km > 2 std (38) (6) > 28 km > 2 std (36) (5) > 19.9 km (203) < 8km (25) < 1.6 km (4) Sumber: Data Podes Tahun 2005 > 7.9 – 28km (181) 0. dan polindes.2-6.9 km (181) 1. tempat praktik). Karena untuk mengaksesnya hanya menempuh jarak < 1 km.2-6.9km (0) < 0. 38 desa harus menempuh jarak > 30 km.6 – 8.3 km (184) 0.

Puskesmas.Keterkaitan Keberadaan Sarana Kesehatan dan Cakupan KIA Sedangkan bila sarana kesehatan dikaitkan dengan cakupan pelayanan kesehatan ibu dan anak yang salah satunya adalah kunjungan ibu hamil adalah sebagai berikut : Gambar 2. RB. Jumlah sarana kesehatan ini selanjutnya dibandingkan dengan cakupan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Peta diatas menunjukkan jumlah sarana yang banyak tidak selalu dibarengi dengan cakupan yang tinggi. panah menunjukkan beberapa daerah dengan cakupan rendah yang dikelilingi oleh dengan daerah dengan cakupan lebih dari 100%. Puskesmas Pembantu. BP. Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 9 . Posyandu dan Polindes di suatu desa. Tempat Praktek Dokter. Tempat Praktek Bidan. Pada gambar 1. Sarana Kesehatan dibandingkan dengan Cakupan K4 Sarana kesehatan dalam peta diatas merupakan gabungan dari RS. Hal ini memperlihatkan bahwa daerah dengan cakupan rendah kemungkinan disebabkan karena penggunaan sarana kesehatan di wilayah disekitarnya.

asuransi kesehatan. komponen enabling(pemungkin) dan komponen need (kebutuhan). Masyarakat kota cenderung memilih pelayanan swasta. jarak ke fasilitas kesehatan. Untuk itu puskesmas harus proaktif untuk meminta laporan ke semua sarana kesehatan swasta yang ada di wilayah kerjanya serta cross check untuk validasi data agar tidak ada data yang under reported. Swasta dalam hal ini dokter atau bidan wajib memberikan laporan kegiatan ke instansi pemerintah yang membawai wilayahnya. alangkah lebih baik jika pemerintah memanfaatkan sarana swasta untuk melayani masyarakat daerah perkotaan. sarana transportasi dan waktu tempuh ke fasilitas kesehatan tidak menunjukkan keterkaitan yang signifikan dengan cakupan pelayanan. Sedangkan desa dengan kondisi jalan terjal. tenaga kesehatan. kemungkinan cakupan dipengaruhi juga oleh faktor enabling berupa sumber daya keluarga (misalnya penghasilan. dan naik turun malah cakupannya tinggi. Jika swasta tidak aktif mengirimkan laporan maka banyak kegiatan yang tidak terekam. Hasil studi ini menunjukkan bahwa komponen enabling berupa sumber daya masyarakat (misalnya jumlah sarana pelayanan kesehatan. rasio jumlah masyarakat dengan tenaga kesehatan. Lebih banyaknya masyarakat yang menggunakan sarana swasta juga berpengaruh pada pelaporan kegiatan kesehatan. Pada kenyataannya di Kabupaten Ngawi daerah yang mudah menjangkau sarana kesehatan seperti desa / kelurahan di Kecamatan Ngawi dan Kecamatan Kwadungan malah rendah cakupannya. Akibatnya angka cakupan menjadi rendah. pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah keputusan seseorang untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan tergantung dari 3 komponen. berbatu. lokasi pemukiman. dan sumber pembiayaan lain) yang dalam studi ini tidak diukur. Dalam hal ini. Melihat fenomena ini. 10 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan .Ditinjau dari pendapat Andersen (1995) dalam teorinya tentang The Behavioral Model of Health Service Use. Pemerintah tidak perlu membangun sarana kesehatan tetapi cukup membayarkan sejumlah dana (out sourcing) kepada pihak swasta untuk melayani masyarakat. yaitu: komponen predisposing (predisposisi).

Adapun nilai yang diperoleh dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 6. 2 = Sulit mengakses sarana kesehatan yang berkaitan langsung dengan KIA. Desa Apabila dipetakan maka desa yang sulit mengakses sarana kesehatan adalah sebagai berikut : Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 11 . 1 = Sulit mengakses sarana kesehatan yang tidak terkait KIA.Sedangkan Puskesmas Kwadungan rendah cakupannya disebabkan karena posisi Puskesmas Kwadungan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Madiun menyebabkan masyarakat Kwadungan lebih mudah menuju sarana kesehatan Kota Madiun daripada menuju ke sarana kesehatan Kabupaten Ngawi. Nilai Desa Terhadap Kesulitan Akses Sarana Kesehatan Sulit mengakses RS RB BP Pusk Pustu DPS BPS Polindes JML Talang 2 2 0 0 0 0 0 0 4 Suruh 2 2 1 2 1 1 0 0 9 Gandong 2 2 1 2 0 1 0 0 8 Kenongorejo 2 2 1 2 0 1 0 0 8 Kiyonten 2 2 1 2 1 1 0 0 9 Gunungsari 2 2 1 2 0 1 0 0 8 Kerek 2 2 1 2 1 1 2 0 11 Ngancar 2 0 1 0 1 1 0 0 5 Krandegan 0 0 0 0 0 0 2 0 2 Keterangan : 0 = Tidak sulit mengakses. Desa-desa yang sulit mengakses kesehatan Ibu dan Anak Ada 9 desa yang sulit mengakses sarana kesehatan.

Gambar 3. Desa Sulit Menjangkau Sarana Kesehatan dikaitkan dengan cakupan K4 12 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan . Desa Sulit Menjangkau Sarana Kesehatan Gambar 4.

Sementara desa yang mudah menjangkau sarana kesehatan cakupannya ada yang rendah. Sedangkan angka 3 adalah desa cakupan rendah dengan kesulitan mengakses dan angka 4 desa dengan cakupan tinggi dengan kesulitan mengakses. Daerah Pelayanan Lintas Batas Tahun 2005 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 13 . Karena terlihat dari 9 desa sulit menjangkau hanya 2 desa yang cakupannya rendah. Desa-desa Lintas Batas Desa-desa yang menjadi daerah lintas batas adalah desa-desa yang menjadi tempat tujuan pelayanan kesehatan bagi desa-desa disekitarnya. Angka 2 desa cakupan tinggi dan mudah menjangkau. Terlihat bahwa cakupan tidak selalu berkaitan dengan kesulitan menjangkau sarana kesehatan. Peta desadesa yang menjadi desa lintas batas adalah sebagai berikut: Gambar 5. karena memanfaatkan pelayanan di daerah lintas batas.Gambar diatas menunjukkan bahwa desa dengan angka 1 adalah desa cakupan rendah dengan cara menjangkau mudah. Sehingga cakupan di desa tetangga cenderung rendah.

Tanda panah dari daerah warna merah ke daerah warna hijau muda. Sekalipun demikian tidak berkaitan dengan cakupan pelayanan. Jarak tempuh dan kemudahan ke sarana kesehatan tidak selalu berkaitan dengan pemanfaatan program kesehatan ibu dan anak. Tersedianya sarana dan tenaga kesehatan tidak selalu diikuti dengan akses yang tinggi dari masyarakat. 14 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan . Untuk itu perlu kerjasama dengan swasta dalam pelaporan. Data PODES dapat digunakan sebagai alat pemantau pelaksanaan Desa Siaga. menunjukkan bahwa warga di daerah merah banyak yang menggunakan sarana kesehatan di daerah hijau muda sehingga cakupan di daerah hijau muda menjadi tinggi (> 100 %). Terdapat cakupan kesehatan ibu dan anak yang rendah di daerah kota. Penelitian kesehatan tentang data PODES perlu ditindak lanjuti dengan variabel yang berbeda. Terdapat 9 desa (4. Perlu koordinasi dalam pendataan PODES di masa mendatang antara BPS dengan Dinas Kesehatan. Supaya data lebih akurat. Ada beberapa desa yang sarananya sedikit menggunakan desa lain sebagai daerah lintas batas pelayanan. Desa-desa yang terletak di sekitar desa dengan cakupan rendah menjadi kantong-kantong pelayanan lintas batas.15 %) yang sulit mengakses pelayanan kesehatan ibu dan anak. Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan data sarana dan tenaga kesehatan antara data PODES dengan Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi. Kesimpulan Distribusi dokter lebih banyak di kota sementara bidan menyebar merata hampir di semua desa. Saran Pemerintah Kabupaten Ngawi perlu melakukan kemitraan dengan swasta untuk memperluas cakupan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Chernichovsky. Utilisasi Pelayanan Kesehatan. 36(3):1-40. Depkes RI. Problem antara Pemerataan dan Efisiensi (Studi di wilayah Pedesaan Kabupaten Purworejo). Utilization of Health Services in Indonesia. Pedoman Pelayanan Antenatal. Depkes RI.J. (1994). (2003). (2004). (1995). 4. Jakarta. (2001). Bernardin. Disertasi. R. Dari Perolehan dan Analisis Citra hingga Pemetaan dan Pemodelan Spasial. 2. (2001). W. Ambar. (2004). Soc. Darwis.Daftar Pustaka 1. P. Danoedoro. Depkes RI. 9. EGC 8. D. (2004). Yogyakarta. Journal of health and social behavior. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2000. Program Doktor UGM. (2001). 5. Depkes RI. (2001). Prosedur. Metode Penelitian Kebidanan. Jakarta. Statistik Potensi Desa Indonesia 2000. Sains Informasi Geografis. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA). Human Resources Management an Experiential Approach (Thisd Ed) Mc Graw-Hill Irwin New York. CV Wendy Putri Lestarindo. Jakarta. Badan Pusat Statistik. Depkes RI. Rencana Strategis Nasional Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010. 12. Yogyakarta 7. Jakarta. Andersen. 23 (6) : 11-20 6. Med. SK Menkes nomor 81/Menkes/SK/1/2004 tentang Penyusunan Perencanaan Sumber Daya Manusia Kese- Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 15 . (2003). 11. Meesook Oa. Kebijakan dan Etik. (1986). Jakarta. 10. Jurusan Kartografi dan Penginderaan Jauh fakultas Geografi UGM. Sci. 3. H. Revisiting the Behavioral Model and Acces to Medical Care: Does it Matter?.

Analisis Kebutuhan Tenaga Puskesmas Berdasarkan Beban Kerja di Kabupaten Aceh Besar. Siswanto. Meliala. 19. D. Tesis S2 UGM. Jakarta. Desentralisasi Kesehatan di Indonesia dan 16 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan . 16. Profil Kesehatan Kabupaten Ngawi Tahun 2005. (2006).2. (2004). Kecukupan dan Kualitas Tenaga Kesehatan Puskesmas Studi Distribusi Desa – Kota dan Regional Analisis Data Sakerti 2000. S.A. Penataan Sistem Kesehatan Daerah. Yogyakarta. (2001). Handayani. Pembangunan Kesehatan di Indonesia. Med. (2005). Soutern and Western Ethiopia. (2004). (1990). Yogyakarta. Kabupaten/Kota serta Rumah Sakit. 31 (1): 33-47 17. Kebijakan. Jakarta..hatan di tingkat Propinsi. L. Depkes RI. Jakarta. 14. 13. 20. 101-114. (2006). Prinsip Dasar.Sei. (2003). Lukman. Pola Pencarian Pengobatan di Indonesia.A (2006). Tesis S2 UGM. 18. Utilization of Selected Hospital. Soc. Husain.. Tesis S2 UGM. 15. Hartono.Yogyakarta. 21. Desentralisasi Manajemen Sumber Daya Manusia Kesehatan : Pengalaman Implementasi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hapsari. Keputusan Menkes nomor 564/ Menkes/ SK/ VIII/ 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga. Yogyakarta. Health Countries and Health Stations in Central.. Buletin Penelitian Kesehatan. Hapsara. Ma’ruf. (2006). Gama Press. Hadi. Ngawi. H. Analisis Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin di Kabupaten Kutai Kartanegara. I. Dinas Kesehatan Ngawi. N. 22. Depkes RI. A. Perencanaan dan Kajian Masa Depannya. Analisis Data Susenas 2001. Kloos.

Quality of Health Care: An Absolute necessity for patient satisfaction. 24. 29. 31. Gilson. pp. P. (2003). Lubis. H. Tesis S2. Y. Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta 33. 515-516. (2006). S. Gadjah Mada University Press. W. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. 26. Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Dinas Kesehatan Kaupaten Sarmi Propinsi Papua. Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 17 . Rumbino. T. 23. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Bisnis yang Kompetitif. Sugiyono. Journal Pakistan Medicine Assosiation. Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (SUSENAS 2001). Suharyadi. L. D. Mengolah data Spasial dengan Sistem Informasi Geografis PC Arc/Info. Issue 1. Setyowati. Statistika untuk Penelitian. Health Promotion Strategis in Rural Communities. Yogyakarta. Shaik. Yogyakarta.(2005). Suharyadi. Newbrander. Smith. Volume 4. CV. Nawawi. (2005). Fakultas Geografi UGM: Yogyakarta. (1993). Rineka Cipta. (1991).Perubahan Fungsi Pemerintah 2001 – 2003. On Journal of Rural Nursing and Health Care. Competition in The Medicare Program. Gama Press. 27. Notoatmodjo. Jakarta.B. The Nebraska Center for Rural Health Reseerch. 55 (11).(2003). 25. (2004). Alfabeta. Collins.. Sistem Informasi Geografi. 28. Muller. T. 30. (2006). Ensuring Equal Acces to Health Services User Fee Systems and the Poor . (2000). The Official Journal of The Rural Nurse Organization. Bandung 32. A. Buletin Penelitian Kesehatan. (2000). Yogyakarta.

Yogyakarta 36. 2004. Apakah merupakan perode uji coba? Gadjah Mada University Press. (2005). Trisnantoro. Wahidah. N. S. Tesis S2. ed. (2004). Desentralisasi Kesehatan di Indonesia dan Perubahan Fungsi Pemerintah: 2001-2003. Widayani. Perencanaan Kebutuhan Tenaga Puskesmas. 18 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan .34. Yogyakarta. (2001). Studi Kasus di Dinkes Surakarta. Tesis S2. Yogyakarta 35. 37. Pemodelan Spasial Epidemiologi Demam Berdarah Dengue menggunakan Sistem Informasi Geografis di Kelurahan Terban Kecamatan Gondokusuman Kotamadya Yogyakarta. P. Wahyuningsih. Fakultas Geografi UGM: Yogyakarta. Tesis S2 UGM. Pelaksanaan Program MPS di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. L.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful