Anda di halaman 1dari 12

Pengertian KKPA (1).

KKPA singkatan dari Kredit Kepada Koperasi Primer untuk Anggotanya, merupakan suatu bentuk skim kredit dengan syarat lunak yang diberikan oleh pemerintah melalui PT. (Persero) Permodalan Nasional Madani (PT. PNM) kepada koperasi primer yang selanjutnya disalurkan kepada anggotanya. (2). Penyaluran KKPA kepada anggota koperasi dilakukan melalui bank pelaksana yang ditunjuk oleh PT. PNM, dengan persyaratan tertentu yang ditetapkan oleh PT. PNM (3). KKPA dapat diberikan untuk berbagai usaha anggota koperasi yang bersifat produktif, antara lain usaha perkebunan, peternakan, pertanian dan perdagangan. KKPA dapat digunakan untuk investasi, modal kerja atau investasi dan modal kerja yang terkait langsung dengan investasinya.

Peran Koperasi dalam Penyaluran KKPA (1). Sebagaimana dijelaskan diatas, bahwa koperasi yang dapat berperan dalam program KKPA ini hanya koperasi primer, yakni koperasi yang beranggotakan orang seorang, bukan koperasi sekunder. Dalam program KKPA, koperasi dapat berperan sebagai pelaksana pemberi KKPA (executing agent) atau sebagai penyalur (chalenging agent) (2). Dalam hal koperasi berfungsi sebagai pelaksana pemberi KKPA, maka tugas koperasi adalah : (a) pengagujuan usulan proyek yang akan dibiayai dengan KKPA, (b) seleksi bagi anggota yang layak dibiayai, (c) pengawasan penggunaan kebun yang dibiayai dengan KKPA, (d) pembinaan bagi anggota, (e) penagihan angsuran KKPA, dan (f) administrasi pemberi KKPA dan angsurannya sebagai pelaksana pemberi KKPA, koperasi bertanggungjawab atas resiko pengembalian kredit secara penuh. Penandatanganan Akad Kredit dilakukan oleh Pengurus Koperasi. (3). Dalam hal koperasi sebagai penyalur KKPA, tugas koperasi sama dengan tugas koperasi bila sebagai pelaksana pemberi KKPA seperti butir 2(a) sampai butir 2(f) diatas. Pada peran sebagai penyalur ini, maka koperasi tidak mempunyai tanggungjawab atas risiko pengembalian kredit. Akad Kredit dilakukan oleh Bank dengan masing-masing anggota penerima KKPA, yang diketahui oleh pengurus koperasi. Dalam pelaksanaan Akad Kredit, para anggota diwakili oleh pengurus koperasi. Oleh karena itu, anggota penerima KKPA harus membuat Surat Kuasa kepada pengurus koperasi. Suku Bunga dan Imbalan Jasa Koperasi (1). Suku bunga KKPA pada tahun 2001 berkisar 16% per tahun. Dari Jumlah ini termasuk 2% setahun sebagai imbalan jasa koperasi tidak diberikan pada masa tenggang, sehingga suku bunga yang dibayarkan atau dibebankan kepada anggota berkurang 2% atau hanya 14% per tahun. Besarnya tingkat suku bunga dan imbalan untuk koperasi bersifat tidak tetap, karena itu dapat ditinjau kembali. Peninjau ini ditetapkan oleh Pemerintah dalam hal ini adalah PT. PNM (2). Apabila Koperasi bertindak sebagai pelaksana pemberi KKPA, maka imbalan jasa sebesar 2% tersebut seluruhnya untuk koperasi yang bersangkutan, yang pembayarannya dilakukan dengan cara sebagai berikut : (a).Sebesar 50% dari imbalan dibayarkan kepada koperasi atas dasar realisasi pembayaran angsuran pokok dan bunganya oleh anggota koperasi bersangkutan, dan (b).Sisasnya sebesar 50% lagi disimpan dalam bentuk tabungan beku di bank dan dikembalikan

setelah diperhitungkan dengan tunggakan yang timbul pada saat KKPA jatuh tempo. Dengan kata lain, sisa sebesar 50% tersebut dapat dicairkan setelah kredit lunas. Tabungan tersebut diberi bunga sebesar suku bunga yang berlaku pada bank yang bersangkutan. (3). Apabila Koperasi bertindak sebagai penyalur KKPA, maka dari imbalan sebesar 2% tersebut, hanya diberikan kepada koperasi sebesar 50%-nya atas dasar realisasi pembayaran angsuran pokok dan bunganya oleh anggota koperasi yang memperoleh KKPA, dan sisanya 50% lagi menjadi penerimaan bank. KKPA Perkebunan Kelapa Sawit (1). KKPA Perkebunan Kelapa Sawit adalah KKPA yang diberikan untuk pembangunan kebun kelapa sawit petani anggota koperasi primer. Oleh karena jangka waktu pembangunan kebun ini cukup panjang dan masa pengembaliannya juga lama, maka jenis kredit ini termasuk dalam kredit investasi. (2). Kredit ini dikembalikan atau diangsur sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan berdasarkan perjanjian bersama dengan Bank. Besarnya cicilan kredit termasuk bungab dihitung dengan persentase tertentu dari hasil kotor kebun sesuai dengan perjanjian antara bank dengan koperasi. Persiapan Mendapatkan Fasilitas KKPA (1). Petani yang akan memperoleh fasilitas KKPA untuk pembangunan kebun harus terdaftar sebagai anggota koperasi, dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh koperasi yang bersangkutan, baik syarat administratif maupun syarat keuangan (seperti membayar simpanan pokok dan simpanan lain yang ditetapkan koperasi). Dengan kata lain, di wilayah yang akan dibangun kebun kelapa sawit telah berdiri koperasi yang layak untuk menerima (memberikan atau menyalurkan KKPA) kepada anggotanya. (2). Petani yang akan memperoleh fasilitas KKPA harus memiliki lahan yang akan dibangun kebun kelapa sawit, ditandai dengan surat pemilikan lahan (tanah) sesuai ketentuan perundangundangan yang berlaku, seperti sertifikat hak milik (SHM), atau surat keterangan tanah (SKT) yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang, sehingga bukti pemilikan tersebut mempunyai kekuatan hukum yang sah. (3). Koperasi yang akan menerima atau menyalurkan KKPA harus mempunyai mitra kerja, dalam hal ini adalah Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit, yang dalam istilah sehari-hari disebut dengan Perusahaan Inti. Hubungan kerjasama antara Koperasi dengan Perusahaan Inti dibuat secara tertulis (4). Menyiapkan studi kelayakan. Studi kelayakan harus disusun oleh konsultan independen yang telah memperoleh ijin sebagai konsultan. Penunjukan konsultan harus mendapat ijin dari Bank pelaksana. (5). Oleh karena lahan yang diserahkan beragam bentuk, letak topografi dan ukurannya, maka dalam proses pembangunan kebun dilakukan penataan ulang. Oleh sebab itu tata letak lahan tidak akan sama dengan tata letak sebelum kebun dibangun. Petani calon peserta harus memahami dan dapat menerima kondisi yang demikian. Dengan terjadinya perubahan tata letak lahan, maka akan dilakukan konsolidasi lahan, sehingga diperluakan penerbitan ulang sertifikat tanah. Pengajuan dan Besaran Kredit (1). Permohonan mendapatkan fasilitas KKPA diajukan oleh koperasi dan atas nama anggota

koperasi calon penerima KKPA (tergantung pada peran koperasi, apa sebagai pelaksana atau penyalur KKPA) berikut dengan studi kelayakan proyek dan Perjanjian Kerjasama dengan Perusahaan Inti kepada Bank pelaksana yang ditetapkan oleh PT. PNM. Bank pelaksana setelah meneliti kecukupan persyaratan dan menilai kelayakan permohonan yang diajukan, meneruskannya kepada PT. PNM (2). PT. PNM setelah menilai dan menganalisais permohonan yang diajukan akan memberikan penetapan, apakah permohonan diterima atau ditolak. Ketetapan itu disampaikan koperasi melalui Bank pelaksana. (3). Besarnya kredit ditetapkan oleh PT. PNM setelah mempelajari studi kelayakan proyek yang diajukan, dan dengan mempertimbangkan berbagai aspek ekonomi yang turut mempengaruhi. Oleh karena petani penerima KKPA umumnya tidak memilik modal yang cukup, maka bunga pinjaman KKPA selama masa pembangunan (konstruksi) kredit. Suku bungan dibebankan selama konstruksi ini adalah suku bunga tidak termasuk imbalan/koperasi sebesar 2%, jadi bunga yang berlaku 14% per tahun selama konstruksi (SK BI Pasal 10 ayat 2). (4). Apabila dalam proses pembangunan kebun terjadi perubahan harga umum yang signifikan, sehingga flafond yang telah disetujui diperkirakan tidak dapat menyelesaikan pembangunan kebun, maka biasanya dimintakan ekskalasi harga, sehingga flafond kredit menjadi naik. Proses pengajuan ekskalasi ini harus dimulai dengan penilaian kemajuan fisik kebun dan penyusunan revisi studi kelayakan proyek. Fungsi Koperasi Fungsi Koperasi dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit dapat dilihat dari tahapan pengembangan kebun, yaitu : (1) Masa Persiapan, (2) Masa Konstruksi Kebun, (3) Masa Penyerahan Kebun Sampai Kredit Lunas, dan (4) Masa Pasca Kredit Lunas. (1) Masa Persiapan Pada masa persiapan ini fungsi koperasi adalah melakukan tugas-tugas sebagai berikut : (a).Mensosialisasikan rencana pengembangan/pembangunan kebun kelapa sawit kepada calon anggota penerima KKPA atau yang akan ikut program KKPA. Dalam sosialisasinya dijelaskan pula kebutuhan kerjasama dengan Perusahaan Inti, hak dan kewajiban peserta, hak dan kewajiban Perusahaan Inti dan Bank Pelaksana, hak dan kewajiban Koperasi serta karakteristik kelapa sawit. (b).Melakukan inventarisasi lahan calon peserta, sehingga diperoleh kepastian luas lahan dan nama-nama calon peserta. Dalam proses inventarisasi ini termasuk pula pengumpulan dan penelitian terhadap keabsahan surat-surat tanda pemilikan lahan calon peserta. (c).Mengumpulkan persyaratan administratif kredit dari calon penerima KKPA, seperti copy KTP (suami isteri), copy Surat Nikah, copy Kartu Keluarga (KK) dan sebagainya yang dipersyaratkan oleh Bank. (2) Masa Konstruksi Selama masa konstruksi kebun, fungsi koperasi adalah melaksanakan tugas-tugas pokok sebagai berikut : (a).Memonitor dan mengawasi perkembangan pembangunan kebun yang dilakukan oleh Perusahaan Inti (b).Bersama dengan Perusahaan Inti dan Konsultan pengawas melakukan opname kemajuan pekerjaan pembangunan kebun untuk dilaporkan kepada pihak Bank.

(c).Membantu Perusahaan Inti mendapatkan input produksi, diantaranya penyediaan tenaga kerja, bahan dan alat-alat kerja, penyediaan sarana pengangkutan dan sebaagainya. (3) Masa Pencicilan Sampai Kredit Lunas Selama masa pencicilan sampai kredit lunas, fungsi koperasi adalah melaksanakan tugas-tugas pokok sebagai berikut : (a).Mempersiapkan administrasi dan bahan-bahan yang diperlukan untuk pengukuran lahan defenitif untuk diterbitkan sertifikat oleh BPN (b).Bersama Perusahaan Inti dan Pemerintah Desa mensosialisasikan sistem pengelolaan kebun kepada petani yang akan menerima kebun. (c).Bersama Perusahaan Inti membuat desain kelompok, dan mensosialisasikan pembentukan kelompok kepada para petani. (d).Membantu Perusahaan Inti dalam mempersiapkan dan melakukan pelatihan-pelatihan kepada petani yang akan menerima penyerahan kebun. (e).Membuat data nama petani yang telah ditetapkan menjadi peserta (f).Membuat sistem pengelolaan dan sistem pendanaan untuk perawatan kebun dengan bantuan Perusahaan Inti (g).Mengkoordinir kegiatan manajemen kebun, mencakup panen, pengangkutan, perawatan tanaman, perawatan infrastruktur, pemupukan, penualan TBS pada Perusahaan Inti. (h).Bertindak sebagai wakil petani dalam negosiasi harga dengan Perusahaan Inti. (i).Menyelenggarakan adminstrasi kredit KKPA masing-masing kelompok dan administrasi keuangan kebun secara transparan dan dapat dipertanggung jawabkan. (4) Masa Pasca Kredit Lunas Selama masa pasca kredit lunas, fungsi koperasi adalah melaksanakan tugas-tugas pokok sebagai berikut : (a).Mempertahankan agar produktivitas kebun dapat dioptimalkan, walaupun kewajiban kredit kepada Bank telah lunas. (b).Menjaga agar hasil produksi plasma tetap dijual kepada Perusahaan Inti, karena desain pabrik Perusahaan Inti adalah untuk mengolah kebun Plasma dan Kebun Inti. (c).Bersama Perusahaan Inti membuat rencana replanting dan mensosialisasikannya kepada para petani. (d).Mengembangkan usaha-usaha produktif yang dapat dilakukan oleh anggoa/petani untuk menopang pendapatan selama masa replanting. Fungsi Lain Koperasi Selain fungsi yang berkaitan dengan perkebunan kelapa sawit sebagaimana dijelaskan , (a).Meningkatnya kesadaran petani anggotanya dalam pengelolaan kebun, mamatuhi aturanaturan pengelolaan kebun yang ditetapkan kelompok dan koperasi, serta mendorong untuk aktifnya berkoperasi. (b).Menggerakan petani anggotanya untuk menabung secara teratur. (c).Melakukan kegiatan-kegiatan untuk kesejahteraan petani anggota dan keluarganya melalui berbagai kegiatan usaha yang layak antara lain : Simpan Pinjam, Penyediaan barang-barang konsumsi dan rumah tangga serta alat-alat produksi, Pemasaran hasil produksi anggota selain hasil produksi kebun (TBS), Pendidikan.

Fungsi Perusahaan Inti Fungsi Perusahaan Inti sejak persiapan pembangunan kebun sampai dengan pasca kredit lunas adalah melaksanakan tugas-tugas pokok sebagai berikut : (a).Membuat desain kebun dan kelompok tani. (b).Membantu Koperasi melakukan Sosialisasi Program KKPA dan sistem pengelolaan kebun kepada para petani peserta. (c).Melakukan pembangunan kebun sesuai dengan rencana yang ditetapkan dalam studi kelayakan dan desain kebun serta standar mutu yang ditetapkan. (d).Melakukan pembinaan dan pengalihan teknologi budidaya kepada petani, kelompok dan koperasi sesuai dengan tahap-tahap pembangunan kebun. (e).Menampung (membeli) hasil TBS petani Plasma sesuai ketentuan harga yang berlaku. (f).Membantu koperasi dalam membuat perhitungan hasil penjualan TBS untuk masing-masing petani/kelompok dan penyisihan dana untuk cicilan kredit dan biaya pemeliharaan kebun. (g).Melakukan alokasi hasil penjualan TBS petani untuk cicilan kredit, biaya perawatan kebun dan pendapatan petani. (h).Membantu Koperasi mengembangkan sistem pengelolaan kebun yang efektif untuk peningkatan produktivitas kebun. (i).Membantu Koperasi membuat rencana replanting. Fungsi Bank Pelaksana Fungsi Bank Pelaksana sejak persiapan pembangunan kebun sampai dengan kredit lunas adalah melaksanakan tugas-tugas pokok berikut : (a).Memproses permohonan kredit KKPA yang diajukan koperasi dan meneruskannya kepada PT. PNM. (b).Menyalurkan kredit sesuai sesuai dengan tahap-tahap pencairan kredit yang ditetapkan. (c).Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan pembangunan kebun yang dilakukan oleh Perusahaan Inti. (d).Membantu Kopeasi melakukan sosialisasi program KKPA kepada petani calon peserta proyek pembangunan kebun. (e).Bersama Perusahaan Inti membantu koperasi mengembangkan sistem pengelolaan kebun yang efektif. (f).Menyediakan pelayanan perbankan untuk para petani anggota koperasi. Penggunaan Hasil TBS (1). Hasil penjualan TBS digunakan untuk pembiayaan : (a).Kebutuhan rumah tangag petani sebesar 30%. (b).Cicilan Kredit sebesar 30% atau sesuai dengan perjanjian dengan Bak Pelaksana. (c).Biaya Produksi dan Pemeliharaan Kebun sebesar 40% (2). Dari jumlah 40% biaya produksi dan pemeliharaan kebun, 5% diantaranya merupakan tabungan beku yang disimpan di Bank dan diberikan bunga sesuai dengan tingkat suku bunga yang berlaku. (3). Biaya Produksi dan pemeliharaan mencakup biaya transport TBS ke Pabrik, biaya pupuk, biaya pemberantasan hama penyakit tanaman, biaya pemeliharaan infrastruktur (jalan, jembatan dan drainase), biaya replanting dan biaya manajemen dan organisasi. Dana untuk biaya produksi disimpan di Bank, diberikan bunga sesuai dengan tingkat suku bunga yang berlaku.

ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANI KOMODITAS KELAPA SAWIT DI KABUPATEN RIMBO BUJANG KABUPATEN TEBO PROINSI JAMBI
Jumat, Juni 26, 2009 ahmad kodri 3 comments Proposal ini merupakan sebagian cintoh yang kami cantumkan. untuk meningkatkan kecerdasan demi pengetahuan kita semuanya tapi masih banyak kekurangan yang terdapat dalam proposal penulis ini yang nantinya akn lebih diperbaharui untuk saat ini pakai saja proposal ini sebagai referensi anda dan motivasi saudara dalam membuat proposal skripsi terima kasih. PROPOSAL PENELITIAN OLEH: DENI AHMAD KODRI NPM : 081016154201148 UNIVERSITAS MUARA BUNGO FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN AGRIBISNIS MUARA BUNGO TAHUN 2009 KATA PENGANTA

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karuniannya maka penulis dapat menyusun proposal penelitian ini proposal penelitian ini berjudul Analisis Pendapatan Usaha Tani komoditas Kelapa Sawit Dirimbo Bujang Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dosen Pembimbing dan Pengarahan sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal ini oleh sebab itu penulis mengharapkan syaran dan kritik dari pembaca demi kesempurnaan proposal ini. Akhirnya penulis sangat berharap semoga proposal ini dapat memberikan manfaatnya, Amin. Muara Bungo, April 2009 Penulis ahmad kodri l UNIVERSITAS MUARA BUNGO Kami AHMAD dengan ini menyatakan Proposal ini ditulis Oleh :

KODRI

Judul Analisis Pendapatan Usaha Tani Komoditas Kelapa sawit Di Kecamatan Rimbo Bujang

Kabupaten

Tebo

Propinsi

Jambi

Diterima sebagai salah satu syarat untuk melakukan penelitian dalam rangka penulisan skripsi Menyetujui : Pembimbing I Pembimbing II

Mengetahui : Ketua Universitas Muara Bungo Pembantu Ketua

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR PENGESAHAN PROPOSAL DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Perumusan Masalah 1.3 Tujuan dan kegunaan 1.4 Hipotesa Penelitian II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komoditas tanaman Kelapa Sawit 2.2 Biaya Pembangunan Kebun Kelapa sawit 2.3 Kenaikan pendapatan Petani yang segnifikan III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Pengambilan Sampel 3.3 Pengumpulan Data 3.4 Analisa Data DAFTAR PUSTAKA III I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertanian Merupakan sektor yang paling tanguh di Negara Indonesia hingga kini sektor pertanian merupakan bagian sangat penting bagi pembangunan nasional. Bagi Negara Indonesia Sawit merupakan tanaman yang sangat penting bagi pembangunan perkebunan nasional. Menurut Fauzin Yann, dkk (2004) selama kurun waktu dari tahun 19902000 luas areal mencapai 14.164.439/ha atau meningkat 21,5% jika dibandingkan tahun 1990 yang hanya 1,396 ton/ha. Rata-rata produksi kelapa sawit perkebunan rakyat mencapai 3,50 ton/ha/tahun untuk perkebunan besar. Rimbo bujang pada awalnya perkebunan karet tapi sekarang sudah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Kecamatan rimbo bujang sudah dimekarkan menjadi 3 daerah dan taraf hidup masyarakat sudah sangat baik dibandingkan tahun sebelumnya Dengan melihat hal diatas maka penulis membuat sebuah proposal ini dengan judul Analisi Pendapatan Usaha Tani Komoditas Sawit Di KeCamatan Rimbo Bujang Kabupaten Tebo Propinsi Jambi. Maka Diperlukan Asumsi Sebagai Berikut ini: 1. 1. Tanaman Kelapa sawit ditanamkan dilingkungan yang sama dalam arti penanamanna sama, tempat sama, pemupukan yang sama serta perawatan yang sama dengan intensif. 2. Keterampilan petani kelapa sawit 3. Penelitian ini dibatasi Pendapatan Usaha Tani Kelapa Sawit.

1.2 Rumusan Masalah Pendapatan yang naik begitu Besar dan sangat Segnifikan 1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian Untuk Mengetahui Pendapatan Tani Yang segnifikan 1.4 Hipotesa Pendapatan Tani dalam megelola Hasil Kelapa Sawit yang naik secara segnifikan 2. II. TINJAUN PUSTAKA

2.1 Komoditas Tanaman Kelapa Sawit ( Alaisis guinensis tack ) Tanaman Kelapa Sawit (Alaisis guinensis tack) berasal dari Negara Afrika Barat. Tanaman ini dapat tumbuh subur di Indonesia, Malaysia, Thailand, Dan Papua Nugini. Kelapa Sawit

merupakan tanaman yang sangat Penting bagi pembangunan nasional perkebunan kelapa sawit dapat menyerap lapangan tenaga kerja yang lebih besar dan sebagai sumber devisa Negara. Pada tahun 1848 kelapa sawit dikenalkan oleh pemerintahan Klonial Belanda di Indonesia. Ada 4 batang kelapa sawit yang ditanam pertama kali di Kebun Raya Bogor. Tanaman ini mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial pada tahun 1991. orang yang pertama kali merintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Andrian Hallet seorang yang berkebangsaan Belgia yang mana telah belajar banyak tentang perkebunan kelapa sawit di Afrika (yan Fauzi, 1992:5) Selama kurun waktu tahun 1990-2008 luas area perkebunan mencapai 14.164.439 ha atau 21,5% jika dibandingkan pada tahun 1990 yang hanya 11.651.439 ha produktivitas perkebunan kelapa sawit mencapai 1,396. 2.2 Biaya Pembangunan Kebun Kelapa Sawit Berdasarkan lapran pada tahun 2005 (anonim 2005) dari Diknas Perkebunan Kabupaten Tebo Tahun 2005 Biaya dalam pembangunan kebun kelapa sawit adalah sebagai berikut antara lain: 3. No. Kegiatan Satuan Harga Satuan Jumlah I. Persiapan Lahan - Land clearing 1 Ha Rp. 2000.000 Rp. 2000.000 II. Penanaman -Bibit 500 batang Rp. 2.500 Rp. 1.250.000 -Pancang 500 batang Rp.200 Rp. 200.000 -Lubang Tanah 500 batang Rp.500 Rp. 100.000 -Tanam 500 batang Rp. 500 Rp. 150.000 -Pupuk dasar100gr/batang 50 kg Rp. 20.000 Rp.40.000 -Penutup Tanah 10 kg Rp.30.000 Rp. 600.000 -Upah pemupuk 2 HOK Rp. 60.000 Rp.80.000 -Upah penutup tanah 4 HOK Rp. 20.000 Rp.30.000 III Pemeliharaan 0 Tahun Pemupukan (Urea, Tsp, Kcl, Mop, Kiesrit,Borat. 186 kg Rp. Rp. 376.000 Dongkel 0 s/d 6 bulan 6 HOK Rp. 100.000 Rp. 600.000 Chemis 1 ltr 45.000 Rp. 45.000 RGW 6 bulan s/d 12 bulan 3 kali Rp. 80.000 240.000 Tahun 1 Pemupukan 481 kg Rp. 1.024.500 Sircle/piring 9 ltr 40.000 RP. 40.000 Upah 12 HOK Upah Pemupukan 12 HOK 20.000 240.000 Menisip 10 pokok Rp. 13.000 Rp. 130.000 Upah Menyisip 1 HOK 80.000 80.000

Tahun 2 Pemupukan 886 kg Rp. Rp. 1.946.000 Sircle/piring 6 Ltr Rp. 40.000 360.000 Upah !2 HOK Rp. 20.000 Rp. 20.000 Upah Sircle/piring 12 HOK Rp. 20.000 Rp. 240.000 Menunas 4 HOK Rp. 20.000 Rp.80.000 Tahun 3 Pemupukan 697 kg Rp. Rp.1.621.000 Sircle/piring 9 ltr Rp. 40.000 Rp.360.000 Upah 12 HOK Rp. 20.000 Rp. 240.000 Upah Sircle/piring 12 HOK Rp. 20.000 Rp. 240.000 Menunas 4 HOK Rp. 20.000 Rp. 80.000 Jumlah Total Biaya Rp. 13.650.000 Biaya Perbatang Rp. 100.367 Sumber Laporan : Pemkab. Tebo. 2005

2.3 Kenaikan Pendapatan Petani Yang segnifikan Dibandingkan Tahun Sebelumnya Kelapa Sawit mulai nampak kenaikannya dimulai tahun 1990 dari harga Rp. 350 naik menjadi Rp. 500 karna permintaan pasar yang cukup memadaii sehingga terjadilah fluktuasi yaitu perubahan harga yang cukup segnifikan pada era itu. Dan pada tahun 2004 naik lagi harga menjadi 2500 / kg keniakan ini menujukan ekonomi Negara Indonesia kian hari makin meningkat dan taraf kehidupan masyarakatnya juga makn intens dengan kemampuan teknologi modern sehingga petani mendapatkan informasi untuk meningkatkan kualitasi kelapa sawit. Rata-rata Masyarakat didesa ini mendapatkan hasil minimal 2 ton/bulan. 5. III. MATERI METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Rimbo Bujang kabupaten Tebo. Kecamatan Rimbo Bujang terdiri dari 8 Desa. Penentuan Desa Sebagai objek penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive) Desa Rimbo Bujang Mulyo.Dipih tempat itu karma petani kelapa sawit banyak terdapat didesa itu. Kegiatan usaha tani merupakan penanaman kembali (replating) dari areal tranmigrasi yang belum merupak usaha tani. 3.2 Pengambilan Sampel Penentuan petani sebagai responden adalah SRS ( Simple Random sampling)

3.3 Pengumpulan data

Data yang dikumpulkan adalah data primer dan skunder. Data primer yaitu data yang yang dikumpulkan secara langsung dari respondendengan cara wawancara dan kuisioner. Dan data skunder yaitu data yang diambilakan dari instansi pemerintahan setempat yang terkait dengan literature pendukung. 6. 3.4 Analisi Data Analisi data yang digunakan adalah dengan deskriptif dan inferensial. Analisa deskriptif yaitu memberikan suatu gambaran dengan data primer dan data skunder yang ada dengan mengunakan tabel yang dilengkapi dengan deskrifsi pendapatan petani. Analisis pengolaan data secara matematis dan statistik yang dilihat sbb: Rumusan secara Matematis : P= TR TC + Tn Dimana : P = Pendapatan Usaha Tani Tr = Total Penerimaan Tc = Total Biaya Tn = kenikan harga kelapa sawit. Rumusan Secara statistik menggunkan uji : t = Nilai Observasi X1 = Rata- rata Penerimaan, Biaya usaha pendapatan usaha kelapa sawit N1 = Sample tanah kelapa sawit S2 = simpanan baku tanaman kelapa sawit. X2 = hasil Penjualan Kelapa sawit t = X1 X2 = X + X 7. DAFTAR PUSTAKA Anonim 2005 Laporan Tahunan, Pemkab Tebo Yan, F, 1992 Kelapa sawit, Budidaya, Pemanfaatannya, Analisis Hasil Usaha Dan Pemasaran, Jakarta Singa Rimbun, 1992 Metode Survai, PT. Pustaka LP3ES 8.

Lampiran : Kuisionerpetani kelapa sawit ( Elastis guinensis tack ) didesa Rimbo Mulya Kecamaan Rimbo Bujang kabupaten Tebo. 1. Nama Petani Responden : 2. Umur Petani Responden : 3. Pendidikan terakhir : 4. Alamat / Desa : 5. Luas Lahan Yang dimiliki : 6. Biaya yang diperlukan : No. Jenis Biaya Komodias sawit Hasil PenJualan Kenaikan sawit yang segnifikan 1. Persiapan lahan 2. Penanaman Bibit pancang Lubang Tanah Tanam Pemupukan Penyiangan Pengendalian Hama/Penyakit Panen Pasca Panen 3. Sarana Produksi Bibit Pupuk Urea Tsp/Sp-36 Kcl Za Pupuk Kandang Pestisida 4. Lain-lainnya Kendala / Masalah a. b. c. d. e. Saran-saran a. ... b. c. 10.