Anda di halaman 1dari 14

PT Askes (Persero) Jalan Letjen Suprapto No 1, Jakarta Pusat

Pengaturan glukosa dalam tubuh Tubuh manusia disusun dari jutaan sel sel yang membutuhkan energi untuk hidup. Energi tersebut berasal makanan yang kita makan, terutama makanan yang mengandung karbohidrat. Makanan tersebut kemudian akan diubah menjadi glukosa melalui sebuah proses yang dinamakan dengan metabolisme. Glukosa yang terbentuk diserap dari usus dan masuk ke dalam pembuluh darah namun glukosa tersebut tidak dapat langsung masuk ke dalam sel. Untuk dapat masuk ke dalam sel, glukosa membutuhkan zat yang dapat membawanya masuk kedalam sel, yaitu insulin. Insulin di produksi oleh kelenjar pancreas. Sel mempunyai bagian khusus untuk menerima insulin yang disebut sebagai reseptor insulin. Setelah insulin masuk kedalam reseptor insulin, terjadilah reaksi kimia yang menyebabkan pintu sel terbuka sehingga glukosa dapat masuk kedalam sel untuk di ubah sebagai energi Pada kondisi normal, jumlah insulin dan reseptor insulin cukup dan respon yang terjadi setelah insulin masuk kedalam reseptor merupakan respon yang normal dan diharapkan. Pada keadaan ini, jumlah produksi insulin dan sensitivitas reseptor adalah normal. Setelah makan, pancreas akan mendeteksi kenaikan kadar glukosa dalam darah, yang tentu saja hal ini akan menyebabkan meningkatnya produksi insulin untuk dapat membawa glukosa kedalam sel. Sebagian dari glukosa akan tersimpan di hati dan akan dilepaskan pada saat tubuh tidak mendapatkan makanan. Tubuh membutuhkan insulin dalam kadar rendah untuk dapat mempertahankan keseimbangan glukosa darah saat terjadi pelepasan glukosa oleh hati. Karena bila tidak, kadar glukosa darah akan meningkat.

Proses terjadinya peningkatan Kadar Glukosa Darah pada Diabetes Melitus Diabetes Melitus berasal dari bahasa Yunani : diabetes berarti pancuran, melitus berarti madu/gula. Jadi istilah Diabetes melitus menggambarkan banyak keluar air seni yang manis karena mengandung gula. Itulah sebabnya penyakit ini disebut Kencing manis. Merupakan
kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan Hyperglikemia terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (ADA, 2005)

Ilustrasi terjadinya peningkatan glukosa tubuh :

Mari kita menggunakan analogi untuk mencoba memahami mengapa Glukosa darah dapat meningkat. Pembuluh darah kita persamakan dengan pipa, glukosa darah ibarat batu-batuan yang ada didalam pipa dan harus diantarkan kedalam sebuah tabung. Sel tabung sebagai analogi dari sel tubuh dan reseptor insulin diumpamakan seperti corong pengantar batu tersebut, tanpa corong, batu tidak akan dapat masuk kedalam tabung.. Pada kondisi normal, pipa akan mengantarkan batu-batuan melalui corong. Namun, pada suatu waktu corong tersebut rusak sehingga batu-batuan dalam pipa tidak dapat masuk kedalam tabung. Akibatnya, batu-batuan tersebut mengendap dalam pipa, dan semakin lama semakin banyak. Sama seperti analogi diatas, bahwa pada kondisi normal glukosa darah dapat diantarkan ke dalam sel melalui reseptor insulin. Namun pada kondisi terjadi gangguan pada reseptor insulin, glukosa darah gagal diantarkan kedalam sel tubuh, dan menetap pada pembuluh darah. Sel tubuh akan merespon hal tersebut dengan mengirimkan tanda bahwa sel belum memperoleh glukosa, akibatnya glukosa terus di produksi untuk dapat memenuhi kebutuhan sel, namun karena glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel maka lama kelamaan terjadi peningkatan glukosa dalam darah.

Diabetes Melitus (DM) digolongkan menjadi beberapa tipe, yaitu : 1. DM tipe 1 Pada kencing manis tipe 1, terjadi radang pada kelenjar pankreas, disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya virus. Terjadi kerusakan pada sel beta pankreas melalui reaksi yang dinamakan sebagai reaksi autoimun, akibat kerusakan tersebut pankreas gagal untuk menghasilkan hormone Insulin. Inilah alasan mengapa Kencing manis tipe ini disebut sebagai Diabetes Melitus Tergantung Insulin/Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM). Kasus Kencing manis tipe 1 biasa ditemukan pada penderita berusia muda 2. DM tipe 2 Pada kencing manis tipe 2, terjadi beberapa tahap sebagai berikut : a. Fase Pertama Seperti dibicarakan sebelumnya, bila kadar insulin normal maka kadar glukosa darah juga normal. Pada awalnya, sel tubuh menjadi kurang peka terhadap insulin sehingga dibutuhkan lebih banyak insulin untuk dapat memasukan glukosa kedalam sel. Kondisi ini kemudian di kenal dengan sebutan Resistensi insulin. Akibatnya, pankreas akan dipacu untuk bekerja lebih keras dalam mengeluarkan insulin. Pada kondisi ini, kadar insulin dfalam darah akan mengalami peningkatan sampai tiga kali lipat dari keadaan normal, disebut sebagai keadaan hiperinsulinemia b. Fase Kedua Pada fase ini, kadar insulin tinggi namun tidak selamanya kadar glukosa darah ikut abnormal. Seiring dengan ketidakpekaan sel terhadap insulin yang bertambah parah, sebagian orang akan berhasil untuk meningkatkan produksi insulin sehingga kadar glukosa darah tetap normal. Namun, orang dengan kelemahan pada pancreas akan mengalami keterbatasan dalam produksi insulin, biasanya disebabkan karena faktor usia. Pancreas akan terlambat mengeluarkan insulin saat makan, sehingga kadar glukosa darah setelah makan akan meningkat. Kondisi ini dikenal sebagai Toleransi Glukosa Terganggu (TGT). Bila pancreas tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk menahan laju produksi glukosa oleh hati, kadar glukosa darah pagi sebelum makan akan tinggi, disebut dengan Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT). Kedua istilah ini dikelompokkan untuk menggambarkan kondisi pre diabetes, atau suatu tahapan sementara menuju terjadinya diabetes. Pada fase ini diharapkan penderita mulai peduli dengan kondisi kesehatannya, karena penanganan sedini mungkin dapat mencegah seseorang jatuh pada kondisi sakit kencing manis. Umumnya, berat badan seseorang akan meningkat seiring dengan penambahan usia, pada saat ini diharapkan seseorang dapat menerapkan pola hidup sehat melalui konsumsi gizi yang seimbang dan dalam porsi yang cukup.

c. Fase Ketiga Pada fase ini, kadar glukosa darah hampir selalu tinggi karena kondisi resistensi insulin yang semakin parah, atau produksi insulin pancreas yang berkurang. Pada saat inilah, diagnose Kencing manis tipe 2 dapat ditegakkan melalui pemeriksaan penunjang laboratorium. Umumnya, keluhan yang muncul tidak terlalu dihiraukan oleh pasien sampai terjadi komplikasi yang lebih lanjut. Kencing manis tipe ini disebut juga Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM). 90% kasus Kencing manis merupakan tipe ini. 3. DM tipe lain Tipe ini berhubungan dengan kelainan defek genetic pada sel beta pancreas, defek genetic dari kerja insulin, penyakit eksokrin pancreas, kelainan hohrmonal, obat-obatan, infeksi, sebab imunologi dan penyebab lain. 4. DM Gestasional Terjadi atau diketahui pada saat kehamilan. Disebabkan karena adanya ketidakseimbangan hormonal. Kencing manis tipe ini berisiko terhadap proses persalinan sehingga disarankan penderitanya untuk melakukan persalinan seksio sesaria untuk mencegah perdarahan bi;la harus bersalin per vaginam. Factor yang mempengaruhi diantaranya adalah usia ibu hamil yang lebih dari 30 tahun, kegemukan, adanya gula dalam air seni, riwayat kencing manis dalam keluarga, riwayat keguguran berulang, dan sebagainya

Faktor Risiko Faktor risiko pada Kencing manis tipe 2 dapat dibagi menjadi dua, yaitu : 1. Faktor resiko yang tidak dapat diubah Meliputi ras, etnik, riwayat keluarga dengan kencing manis, riwayat melahirkan bayi dengan berat bayi > 4 kg, dan sebagainya 2. Faktor resiko yang dapat diubah Meliputi kegemukan, kurang olahraga atau aktifitas fisik, tekanan darah tinggi (hipertensi), kolesterol tinggi, makan tinggi gula namun rendah serat

Gejala Gejala DM dibagi menjadi gejala utama (gejala klasik) dan gejala penyerta. Yang termasuk kedalam gejala klasik antara lain : 1. Poliuri : banyak berkemih. Terjadi karena banyaknya zat gula dalam darah yang mengganggu proses filtrasi ginjal 2. Polifagi : banyak makan. Pada penderita DM, karena kegagalan zat gula untuk masuk ke dalam sel dan menghasilkan energy menyebabkan penderitanya selalu merasa lapar walaupun sudah makan banyak 3. Polidipsi : banyak minum. Penderita DM akan selalu merasa haus karena banyak berkemih Gejala penyerta DM antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Berat badan menurun Penglihatan kabur Gatal di kemaluan Cepat lelah, kurang bertenaga, mengantuk Luka sulit sembuh Kaki sering kesemutan/baal Penurunan fungsi seksual Berat badan bayi lahir besar

Penegakan Diagnosa Kencing manis Berdasarkan konsensus pengelolaan DM tipe 2, diagnosa DM ditegakkan melalui 3 cara, yaitu bila di temukan : 1. Gejala klasik + GDS > 200 mg/dl 2. Gejala klasik + GDP > 126 mg/dl 3. Tanpa gejala klasik namun GDPP > 200 mg/dl Keterangan : GDS : Glukosa Darah sewaktu GDP : Glukosa Darah Puasa GDPP : Glukosa Darah Post Prandial (Glukosa Darah 2 jam setelah puasa)

Cara mengetahui tingginya glukosa dalam darah Diagnosa ditegakkan dengan cara pengambilan darah. Untuk pemeriksaan pertama kali, dianjurkan bahwa darah yang diperiksa berasal dari pembuluh darah balik (disebut plasma vena), itu berarti pengambilan darah dilakukan melalui jarum suntik dan darah kemudian di taruh kedalam tabung kaca untuk di periksa dengan menggunakan fasilitas laboratorium. Untuk tujuan pemantauan glukosa selanjutnya, dapat menggunakan darah yang berasal dari pembuluh darah kapiler, dengan menggunakan strip yang menempel pada alat pemeriksa glukosa darah. Cara pemeriksaan ini disebut juga self monitoring blood glucose (SMBG) karena dapat di periksa secara mandiri. Tabel 1. Pemeriksaan Glukosa darah (Konsensus PERKENI 2006) DM >200 >126

Kadar Glukosa darah sewaktu (mg/dl) Kadar Glukosa darah puasa (mg/dl)

Mekanisme terjadinya komplikasi Pada DM, kekentalan (viskositas) darah menjadi lebih tinggi sehingga menyebabkan aliran darah melambat, hingga pada akhirnya suplly darah yang mencapai organ-organ vital menjadi menurun. Hal inilah yang kemudian menimbulkan komplikasi baik mikrovaskuler maupun makrovaskuler. Komplikasi mikrovaskuler diantaranya adalah kesemutan, kebutaan, kerusakan pembuluh darah perifer luka ganren, Impoten, dsb. Sementara komplikasi makrovaskuler diantaranya adalah Stroke, gagal Jantung, Gagal ginjal, dsb. Komplikasi paling berbahaya dari DM adalah Ketoasidosis Diabetikum (KAD), yang disebabkan dari sangat tingginya kadar gula didalam darah. Pasien dapat mengalami koma diabetikum karena gula darah yang tinggi tidak dapat masuk ke sel otak. Pada kondisi ini, pasien membutuhkan pemantauan pemberian insulin. Cirri-ciri lain dari KAD adalah nafas pasien berbau khas keton.

Pengelolaan DM Tujuan dari pengelolaan DM adalah : 1. Menghilangkan keluhan atau gejala 2. Memberikan rasa nyaman 3. Mencegah timbulnya atau berlanjutnya komplikasi 4. Menurunkan angka kesakitan dan kematian Dan tujuan tersebut dapat tercapai bila kadar gula darah dapat terkendali. Sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris menunjukan bahwa mengendalikan kadar glukosa darah dapat menurunkan risiko terjadinya komplikasi pada retina (selaput jala) mata yang dapat berakhir dengan kebutaan, komplikasi ginjal dan komplikasi syaraf. Pada studi ini didapatkan bahwa pengendalian tekanan darah akan menurunkan risiko terjadinya stroke, kematian, gagal jantung, komplikasi ginjal, retina. Menurunkan kadar kolesterol dapat mengurangi risiko serangan stroke, jantung dan amputasi kaki

Penatalaksanaan DM Penatalaksanaan DM meliputi 4 pilar, yaitu : 1. Edukasi Tujuan : Peningkatan pengetahuan dan motivasi Dilakukan untuk perubahan perilaku Edukasi yang dilakukan harus dilakukan secara bertahap agar terbentuk perilaku hidup sehat. Edukasi diberikan sesuai tingkat pemahaman masing masing diabetisi Materi edukasi dibagi dalam edukasi tingkat awal dan lanjut Dilanjutkan evaluasi terhadap perubahan perilaku, pengetahuan sikap, kemandirian dan adaptasi psikososial setelah program edukasi Termasuk didalamnya edukasi perawatan kaki, senam kaki dan pemilihan sepatu Dilakukan oleh Tim secara holistik komprehensif 2. Perencanaan makan Pasien harus mendapat Terapi Gizi Medis (TGM) sesuai dengan kebutuhannya Komposisi makanan yang dianjurkan : Karbohidrat, Lemak, Protein, Natrium, Serat, Pemanis Alternatif Langkah yang dilalui dalam perencanaan makan adalah : a. Pengkajian status gizi sebelum melakukan diet, termasuk pengkajian terhadap aspek budaya dan keuangan yang dapat berpengaruh pada pola makan b. Penentuan tujuan yang akan di capai. Dilakukan bersama dengan ahli gizi c. Intervensi gizi, dilakukan dengan menghitung kebutuhan kalori. Faktor yang menentukan : Jenis Kelamin, Umur, Aktifitas Fisik, Berat Badan d. Evaluasi untuk menilai hasil intervensi

Menentukan kebutuhan kalori : besaran 25 30 kalori/kg BB Ideal Rumus Brocca : BBI = 90% x (TB (cm) 100) x 1 kg - BB normal : BB Ideal + 10% Kurus : < BBI 10% Gemuk : > BBI + 10% Atau IMT = BB (kg) / (TB (m2) - BB normal : 18.5 22.9 kurang : < 18.5 lebih : > 23.0

Langkah langkah perhitungan sederhana kebutuhan kalori seorang diabetisi

1. Hitung berat badan idaman dengan rumus = (tinggi badan dalam cm 100) x 90% x 1 kg. Kecuali jika tinggi badan dibawah 160 cm pada pria dan dibawah 150 cm pada wanita, tidak dikali 90% lagi 2. Kebutuhan kaliri basal = 25 kkal/kgBB idaman (wanita) atau 30 kkal/kgBB idaman (pria) 3. Umur 60 69 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 10%. Diatas 70 tahun dikurangi 20% 4. Bila dalam keadaan istirahat, kebutuhan kalori ditambah 10%. Bila aktifitas ringan, ditambah 20%, aktifitas sedang ditambah 30%, aktifitas berat ditambah 40% 5. Pada kehamilan triwulan pertama tambahkan 150 kkal/hari. Kehamilan lebih lanjut ditambahkan 350 kkal/hari. Pada waktu laktasi ditambahkan 550 kkal/hari 6. Adanya komplikasi seperti infeksi, trauma, operasi yang menyebabkan kenaikan suhu tubuh ditambahkan 13% kalori setiap kenaikan 1oC 7. Untuk yang kegemukan dikurangi dan sebaiknya yang kurus ditambahkan 20 30%kalori

Gambar Piramida Makanan

3. Olahraga / Aktifitas Fisik Manfaat dari aktifitas fisik : a. Sel tubuh akan menjadi lebih sensitive terhadap hormone insulin, sehingga dapat menyerap glukosa lebih banyak. Sebaliknya sel hati akan lebih sedikit memproduksi glukosa, sehingga kadar glukosa darah bisa lebih terkendali b. Meningkatkan kadar kolesterol baik dalam tubuh (kolesterol HDL) c. Menurunkan tekanan darah. Hati-hati pada saat olahraga tekanan darah mungkin meningkat d. Menurunkan berat badan e. Meningkatkan kebugaran jantung dan pernafasan Manfaat lain yang diperoleh adalah manfaat psikologis seperti penurunan kecemasan, cara pandang positif terhadap kehidupan dan kualitas hidup

Langkah-langkah untuk melakukan olahraga : 1. Pemeriksaan oleh dokter untuk menetukan lama latihan jasmani/olahraga yang diperbolehkan. 2. Pembuatan program latihan meliputi pembuatan tujuan latihan, jenis latihan, lama latihan, intensitas latihan, frekuensi dan waktu latihan. 3. Pengawasan, mencakup hal-hal yang perlu diperhatikan selama latihan 4. Evaluasi, dilakukan dengan melihat pencapaian terhadap tujuan yang telah di tetapkan.

4. Intervensi Farmakologik Obat Hipoglikemik Oral (OHO) dibagi menjadi 4 : - Pemicu sekresi Insulin, yaitu golongan Sulfonilurea. Bekerja untuk merangsang sel beta pancreas untuk memproduksi insulin. Namun, hati-hati dengan efek sampingnya yaitu hipoglikemia (kadar glukosa darah rendah, kurang dari 60 mg/dl) - Penambah sensitifitas insulin - Penghambat glukoneogenesis - Penghambat absorpsi glukosa Obat Hipoglikemik Oral yang tercantum dalam DPHO PT Askes (Persero)
Golongan Sulfonilurea Generik 1. Glibenklamide 2. Glicazide 3. Glipizide 4. Glikuidon 1. Glimepiride 1. Metformin 1. Acarbose Mg/tab 5 mg 80 mg 5 mg 30 mg 1 mg 500 mg 850 mg 50 mg Peresepan maksimal 90 tab/bln 90 tab/bln 90 tab/bln 90 tab/bln 90 tab/bln 90 tab/bln Waktu

Sebelum makan

Biguanid Alfa Glukosidase Inhibitor

100 mg

60 tab/bln

Bersama/ sesudah makan Bersama suapan pertama

Insulin Insulin umumnya diberikan melalui injeksi dibawah kulit (subkutan) meskipun dapat juga diberikan kedalam otot (intramuscular), intra vena dan inhalasi. Penyuntikan Insulin hendaknya tidak dilakukan hanya pada satu area tubuh karena dapat menyebabkan atrofi (mengecilnya) otot tubuh daerah penyuntikan. Namun, penyuntikan di lakukan secara bergantian pada bagian tubuh yang lain seperti yang tertera pada gambar.

Insulin yang tercantum dalam DPHO PT Askes (Persero)


Golongan Antidiabetik Parenteral Generik 1. Human Insulin Sediaan Inj 100 IU/ml, 10 ml Inj 100 IU/ml, cartridge 3 ml Inj 100 IU/ml, penfill 3 ml Inj 100 IU/ml, novolet 3 ml - Inj 100 IU/ml, Solostar Pen @3 ml - Inj 100 IU ml / FlexPen 3 ml - Inj 100 IU/ml, solostar Pen @3 ml - Inj 100 IU ml / Cartridge 3 ml - Inj 100 IU ml / FlexPen 3 ml - Inj 100 IU ml / FlexPen 3 ml - Inj 100 IU ml / Cartridge 3 ml

2. Analog Insulin a. Basal Insulin Analog

b. Rapid Insulin Analog

c.

Mix Insulin Analog

Terapi kombinasi

Tabel 2. Target tatalaksana Kencing manis Parameter Glukosa Darah Puasa Glukosa darah 2 jam setelah makan Hemoglobin A1C Kolesterol total Kolesterol LDL Kolesterol HDL Trigliserida Indeks Massa tubuh Tekanan darah Kadar /keadaan yang diharapkan 80 99 mg/dl 80 144 mg/dl < 6.5% < 200 mg/dl < 100 mg/dl > 50 mg/dl (wanita) > 40 mg/dl (pria) < 150 mg/dl 18.5 22.9 kg/m2 < 130/80 mmHg

Referensi : Soegondo, Sidartawan dan Sukardji, Kartini. (2008). Hidup secara mandiri dengan Diabetes Melitus;Kencing manis;Sakit gula. Jakarta : Fakultas Kedokteran UI Kumpulan Booklet Diabetes Melitus, Persadia Dykes, Ameerally. (2004). Anatomy. USA : Elsevier sciences