Anda di halaman 1dari 4

1.

1.1.

Analisis Neraca Keuangan Current Ratio (Rasio lancar) Rasio lancar sangat berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan

dalam melunasi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya, dimana dapat diketahui sampai seberapa jauh sebenarnya jumlah aktiva lancar perusahaan dapat menjamin hutang lancarnya. Semakin tinggi rasio berarti semakin terjamin hutang-hutang perusahaan kepada kreditor.
Harta Lancar Hutang Lancar 3.099.914 CR = 2.581.567 CR =1,2 kali CR =

Hasil ini mengindikasikan bahwa perusahaan Unilever mampu melunasi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya. Untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan Unilever dalam membayar kewajibannya, dapat digunakan rumus berikut.
Hutang Lancar 2.581.567 = = 0,83 atau 83% Harta Lancar 3.099.914

Hal ini berarti, hanya dengan 83% dari total harta lancar yang dimiliki oleh Unilever mampu melunasi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya.
1.2.

Acid Test Ratio (Rasio lancar) Rasio ini sering juga disebut sebagai Quick ratio , dimana rasio ini

merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibankewajibannya dengan tidak memperhitungkan persediaan, karena persediaan memerlukan waktu yang relatif lama untuk direalisir menjadi uang kas, walaupun kenyataannya mungkin persediaan lebih likuid daripada piutang. Jika current ratio tinggi tapi quick ratio -nya rendah menunjukkan adanya investasi yang sangat besar dalam persediaan.

Harta Lancar - Persediaan Hutang Lancar 3.099.914 - 931.512 Acid Ratio Test = 2.581.567 Acid Ratio Test = 0,84 kali Acid Ratio Test =

Sebagai pegangan kasar biasanya angka 1.0 untuk rasio uji cair merupakan angka minimum yang perlu dipertahankan oleh perusahaan agar perusahaan tidak mengalami ketidakmampuan dalam membayar hutang-hutang jangka pendeknya. Ternyata hasil uji menunjukkan bahwa rasio lebih kecil dari 1. Hasil ini mengindikasikan bahwa tanpa memperhitungkan nilai uang dari persediaan, perusahaan Unilever tidak mampu melunasi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya. Dari hasil ratio test (1,2) dan acid ratio test (0,84) yang diperoleh, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang cukup tinggi antara kedua nilai yang diperoleh melalui kedua uji tersebut. Hal ini berarti bahwa investasi perusahaan Unilever dalam persediaan cukup besar. Hal ini merupakan suatu fakta yang kurang baik, karena seperti yang telah ditekankan pada pembahasan sebelumnya, investasi yang terlalu besar pada persediaan merupakan tanda-tanda bahwa perusahaan tersebut tidak sehat. 1.3. Net Worth to Debt Ratio Rasio ini menunjukkan proporsi modal yang dimiliki oleh pemilik bisnis dengan modal yang dikembangkan oleh kreditor luar. Rasio ini biasanya sama besarnya dengan nilai current ratio . Rumus perhitungannya adalah : Net Worth to Debt = Net Worth to Debt =
Net Worth Total Debt

3.395.337 2.822.410

Net Worth to Debt = 1,2 atau 120% Berdasarkan hasil tersebut, dapat dilihat bahwa modal yang dimiliki oleh pemilik bisnis lebih besar dari total hutang yang ada, dengan rasio 1,2. Hal ini berarti pemilik bisnis memiliki kendali yang lebih besar atas PT. Unilever.

1.4.

Net Worth to Fixed assets Rasio ini menunjukkan proporsi antara harta bersih, atau saldo yang

dicadangkan dengan uang yang tidak diinvestasikan untuk operasi. Semakin tinggi nilai rasio yang diperoleh, berarti semakin likuid harta bersih yang dimiliki oleh perusahaan. Oleh karena itu semakin kecil risiko kredit yang ada. Rumus perhitungannya adalah :
Net Worth 3.395.337 = = 1,49 atau 149% Fixed Assets 2.275.992

Berdasarkan hasil tersebut, dapat dilihat bahwa harta bersih yang dimiliki oleh Unilever lebih besar dari fixed assets yang dimiliki oleh perusahaan, dengan rasio 1,49. Hal ini berarti harta bersih yang dimiliki oleh pihak Unilever cukup likuid. Artinya pihak Unilever memiliki kemampuan untuk membayar hutang lancar ataupun kewajiban-kewajibannya. Namun jika ditinjau dari besar investasinya dalam fixed assets, dapat dikatakan bahwa investasi pihak Unilever dalam fixed assets cukup besar , namun masih dapat ditoleransi (perusahaan tidak mengalami overinvestment dalam fixed assets). 2.
2.1.

Analisis Laporan Laba Rugi Rasio Laba Kotor terhadap Penjualan Bersih Rasio ini mengukur tingkat profitabilitas produk sebelum dibebani oleh

biaya-biaya yang lain. Perubahan rasio laba kotor bisa saja terjadi karena perubahan dalam kebijaksanaan penjualan, misalnya tingkat potongan atau adanya produk baru. Rumus perhitungannya :
Laba Kotor 1.930.998 = Penjualan Bersih 3.787.249 = 0,51 atau 51%

Artinya bahwa setiap Rp1,- (satu rupiah) penjualan produk Unilever, mampu menghasilkan laba kotor sebesar Rp. 0,51. Semakin tinggi profitabilitasnya berarti semakin baik. 2.2. Rasio Operasi

Operating ratio mencerminkan tingkat efisiensi perusahaan, sehingga rasio yang tinggi menunjukkan keadaan yang kurang baik karena berarti bahwa setiap rupiah penjualan yang terserap dalam biaya juga tinggi, dan yang tersedia untuk laba kecil. Tetapi rasio yang tinggi mungkin tidak hanya disebabkan oleh faktor intern yang dapat dikendalikan oleh manajemen, tetapi juga faktor ekstern misalnya faktor harga yang sulit dikendalikan oleh manajemen. Rumus perhitungannya :
Operating Operating Operating Harga Pokok Penjualan + Biaya operasi Penjualan 1.856.251 + 952.564 Ratio = 3.787.249 Ratio = 0,74 atau 74% Ratio =

Artinya, bahwa efisiensi perusahaan dapat dikatakan cukup baik, karena rasio yang diperoleh lebih kecil dari 100%. Hal ini berarti total biaya operasi lebih kecil daripada hasil penjualan yang diperoleh.