Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH Istilah Penyelundupan hukum mungkin agak asing bagi sebagian masyarakat.tapi yang namanya penyelundupan hukum sudah sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia sadar ataupun tidak dengan tindakan tersebut.Yang namanya penyelundupan hukum merupakan suatu cara yang dapat terpikir oleh individu ataupun banyak individu untuk menyiasati suatu masalah hukum yang melibatkan mereka dan mengubah akibat hukum dari perbuatan tersebut dari merugikan menjadi menguntungkan dengan dilatarbelakangi alas an dan bermacam tujuan. Karena itulah makalah dengan judul PERSPEKTIF HUKUM PERDATA INTERNASIONAL MENGENAI PENYELUNDUPAN HUKUM. Ini dibuat. Terlepas dari baik buruknya,untung atau tidak untungnya seseorang mengenai penyelundupan hukum yang dilakukan.Perlu adanya penjelasan yang akurat dan mantap mengenai apa yang dimaksud dengan penyelundupan hukum ini sehingga masyarakat tidak salah persepsi dan nantinya justru akan merugikan masyarakat apabila kesadaranmereka terhadap UU menjadi kurang,muncul ketidaktaatan pada hukum dan UU,serta kebiasaan melakukan pelanggaran UU karena lemahnya sanksi dan system serta perangkat hukum yang tidak berjalan sebagaimana mestinya akibat lemahnya penegakan hukum. Makalah ini mencoba untuk menjelaskan dan mengangkat suatu peristiwa hukum yang dikenal dengan nama Penyelundupan Hukum ini secara sederhana dengan tujuan membuat masyarakat dan para pembaca mengerti dan mengetahui maksud dan tujuan serta jenis pelanggaran yang dapat digolongkan sebagai penyelundupan hukum. Semoga makalah sederhana ini berguna,bagi masyarakat dan para intelektual agar mampu saling mengisi dan mampu menciptakan masyarakat taat hukum,sadar hukum,dan peduli dengan hukum.demi terciptanya (order) keteraturan dalam masyarakat Indonesia dan Kemajuan hukum bangsa dan Negara.

B. RUMUSAN MASALAH
1

Makalah ini nantinya akan membahas tentang 1. Apa pengertian dan istilah penyeludupan hukum? 2. Bagaimana sifat dari penyeludupan hukum? 3. Apa saja teori dari penyeludupan hukum? 4. Contoh dari penyeludupan hukum C. BATASAN MASALAH Makalah ini hanya akan membahas tentang pengertian penyelundupan hukum,kemudian sifat,teori serta contoh dari penyelundupan hukum.

BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN DAN ISTILAH Dalam HPI dikenal ajaran yang dikenal dengan nama penyelundupan hukum atau wetsontduiking (istilah belanda),fraude a la loi(perancis),fraus legis(latin),getszesumgehung das handeln in fraudem legis(jerman)fraudulent creation of points of contacts(inggris),dan frode alla legge(Italia). Penyelundupan hukum adalah suatu perbuatan nasional yang bertujuan yang untuk

menghindarkan(menghindari) berlaku hukum asing.

berlakunyahukum

sehingga

bersangkutan

memperoleh suatu keuntungan keuntungan tertentu sesuai dengan keinginannya,sebab baginya

Akan tetapi di pihak yang lain,khususnya apabila dilihat dari kacamata hakim yang menangani atau menyelesaikan kasus yang berhubungan dengan lembaga atau perbuatan hukum ini,penyelundupan hukum justru mengakibatkan berlakunya hokum nasional dan menyatakan tidak berlakunya hukum asing yang diselundupkan itu. Dengan kata lain hakim akan tetap mempertahankan hokum nasionalnya terhadap kaidah hukum asing yang bersangkutan.Dalam hubungan inilah lembaga penyelundupan hUkum mempunyai titik kesamaan dengan lembaga ketertiban umum oleh karenanya ada yang berpendapat bahwa lembaga penyelundupan hukum lebih baik dimasukkan saja dalam pengertian ketertiban umum. Di dalam lembaga ketertiban umum penerapannya dilakukan justru guna menghindari berlakunya kaidah hukum asing di mana pemakaian hukum asing tersebut senantiasa dianggap bertentangan dengan sendi sendi asasi hukum dan moral Negara sang hakim.sedangkan di dalam lembaga penyelundupan hukum,dikesampingkannya kaidah hukum asing hanyalah di dalam hal hal yang khusus saja(sifatnya insidentil)dan dalam hal-hal lainnya pemakaian kaidah hukum asing akan tetap diberlakukan atau dianggap sah.

Sebagaimana dikemukakan antara kedua lembaga itu adalah pada ketertiban umum,biasanya suatu hukum nasional dianggap tetap berlaku,sedangkan di dalam lembaga penyelundupan hukuman,tetap berlakunya hukum nasional hanya dianggap tepat pada suatu peristiwa tertentu saja,yakni dalam hal seseorang yang untuk dapat berlakunya hukum asing bagi perbuatannya atau bagi dirinya telah melakukan suatu tindakan yang bersifat menghindari pemakaian hukum nasionalnya. Dalam hubungannya dengan lembaga hak hak yang diperoleh justru penyelundupan hukum ini bertentangan karena pada penyelundupan hukum,kaidah hukum asing yang dikesampingkandan hukum nasional yang dipergunakan,sedangkan pada hak hak yang diperoleh justru sebaliknya dimana hak hak yang telah diperoleh menurut hukum asing yang akan diakui dn dihormati oleh hukum nasional sang hakim itu sendiri.

B. SIFAT PENYELUNDUPAN HUKUM Tujuan perbuatan penyelundupan hukum adalah untuk dapat menghindarkan suatu akibat hukum yang tidak dikehendaki.Jadi,dalam setiap perbuatan penyelundupan hukum selalu ada unsure subjektif,yakni dalam bentuk kehendak atau niat untuk menyelundupi sesuatu.Di samping itu pula didalamnya ada suatu cara yang tidak normal atau luar biasa serta memperlihatkan tipu muslihat demi untuk mencapai tujuan tertentu. Dua orang sarjana yang bernama KOSTERS dan DUBBINK, mengemukakan bahwa penyelundupan hukum terjadi apabila seseorang berdasarkan kata kata yang dipergunakan dalam UU secara muslihat melakukan perbuatan- perbuatan yang semata mata dimaksudkan untuk dapat menghindarkan berlakunya kaidah hukum tertentu baik yang tertulis maupun tidak tertulis,sehingga hakekat dari perbutannya justru bertentangan dengan jiwa UU yang bersangkutan. Pada intinya dalam perbutan penyelundupan hukum ini terlihat adanya niat yang tidak baik dari si pelaku di mana ia hendak menghindarkan berlakunya kaidah kaidah hukum tertentu dan akibat akibat daripadanya dengan siasat muslihat. Untuk itu mereka menciptakan titik titik taut fraundalens,sehingga wolff menyebut dengan istilah fraundalens crostion points of cotacts,titik titik taut ini sengaja dibuat oleh para pihak karena apa yang tadinya atau sebelumnya merupakan titik taut yang menentukan

kemudian dielakkandan dipergunakanlah titik taut lain sehingga hukum yang diterapkan berubah pula sesuai atau sejalan dengan kehendak mereka. Perbuatan penyelundupan demikian itu,umumnya banyak terjadi dalam bidang perkawinan,kewarganegaraan(naturalisasi) dan hanya sedikit di bidang kontrak.Di samping itu perbuatan penyelundupan hukum bukan saja terjadi dalam HPI melainkan juga dalam hukum intern nasional. Kemudian permasalahan yang timbul dalam hubungan dengan lembaga ini

adalah,apakahperbuatan-perbuatan hukum yang demikian itu akan menjadi batal baik untuk seluruhnya maupun sebagian atau sebaliknya perbuatan tersebut dapat dianggap sebagai suatu perbuatan yang sah,Mengenai hal ini tidak ada kata sepakat di antara para sarjana maupun di antara praktisi(yurisprudensi). Di suatu pihak ada yang berpendapat bahwa setiap perbuatan penyelundupan hukum mengakibatkan batalnya perbuatan yang bersangkutan,seperti di anut di perancis karena berdasarkan adagium fraus omnia corrumpit,maksudnya penyelundupan hukum berkaitan dengan sikap tindakan hukum yang bersangkutan keseluruhannya batal demi hukum. Keberadaan lembaga penyelundupan hukum ini menumbuhkan pendapat pendapat yang bersifat kontradiktif,di mana mereka yang setuju(pro) pada prinsipnya mengemukakan bahwa tidaklah pada tempatnya untuk memandang perbuatan itu batal adanya.sebab mereka tidaklah melakukan sesuatu yang tidak pantas dan tidak dapat di persalahkan telah melakukan perbuatan melanggar para pendukung pendapat ini melontarkan beberapa argumentasi,yakni: 1. Setiap manusia bebas untuk mengubah kewarganegaraan atau tempat tinggalnya.Di samping itu ia bebas melakukan perbutan perbutan hukum yang sesuai dengan perbuatan itu.Dengan demikian ia bebas untuk memilih apa yang lebih menguntungkan dan apa yang paling sedikit menimbulkan kesukaran kesukaran baginya. 2. Hukum nasional dari yang bersangkutan hanya meminta untuk dipergunakan apabila terdapat unsur unsure tertentu yang berhubungan dengan Negara nasionalnya seperti pada kewarganegaraan,domisili,dan sebagainya. 3. Seandainya,ditolak berlakunya kaidah- kaidah baru yang disebabkan oleh perbuatan perbuatan penyelundupan tersebut,maka akan timbullah keanekawarnaan hukum dan

pembagian hukum yang berbeda did lam peristiwa internasional yang bersangkutan.Jadi tidak terdapat adanya uniformitas atau keseragaman penyelesaian. Sedangkan yang tidak setuju(kontra)terhadap eksistensi dari lembaga ini mengatakan bahwa penyelundupan tidak dapat dibenarkan jika ditinjau dari segi segi konsepsi umum yang diterima dalam system hukum perdata negara sang hakim.Berkaitan dengan hal ini dijabarkan beberapa alasan,sebagai berikut :
1. Pengertian tentang itikad baik adalah merupakan salah satu dasar asasi dari seluruh

system hukum perdata yang berlaku.Demikian pula mengenai pengertian perbuatan melanggar kesusilaan yang telah diterima menjadi perbuatan melanggar hukum dan juga pengertian tentang penggunaan hak.Kesemuanya itu tidaklah menyenangkan untuk penerimaan berlakunya penyelundupan hukum.Jadi,lembaga tersebut tidak dapat diberikan tempat yang cocok atau sesuai dalam asas asas hukum tersebut di atas (recht beginselen) 2. Penyelundupan hukum dapat dipandang sebagai pelanggaran terhadap UU ,meskipun secara formal ketentuan tidak dilanggar,tetapi jiwanya yang dilanggar karena jiwa tersebut berdiri atas letter do wet,sehingga dianggap pula sebagai pelanggaran terhadap wet itu sendiri. 3. Cara cara yang dilakukan dalam penyelundupan hukum tidak dapat di terima atau dipertahankan,karena akibat-akibatnya. 4. Tidak tercapainya uniformitas dalam penyelesaian persoalan tidaklah selalu benar adanya. Di samping sistem - sistem hukum yang dapat menerima berlakunya penyelundupan hukum,dan jika pilihan hukum baru telah diarahkan kepada hukum mereka kerap kali terdapat system hukum yang tidak bersedia untuk memberikan pengakuan sedemikian itu apabila hukum Negara lain yang telah diselundupkan.Juga sukar untuk dapat diterima cita cita ke arah uniformitas seperti itu,seandainya harga yang harus dibayar demikian tingginya,yakni diperkosanya dasar -dasar hukum asasi dari sang hakim. dilandasi oleh suatu niat yang penuh dengan tipu musliht(arglist).Karenanya,ia tidak dapat diterima dalam system hukum sang hakim serta

C. TEORI TEORI TENTANG PENYELUNDUPAN HUKUM


6

Menelusuri sejarah perkembangan lembaga penyelundupan hukum,maka dikenal adanya beberapa teori,antara lain: 1. Teori Objektif Tidaklah disyaratkan bahwa perbuatan seseorang sesuai dengan letter atau rumusan UUadalah bertentangan dengan jiwa dan tujuannya.Jadi,tidak penting apakah yang merupakan maksud dan tujuan dari orang yang bersangkutan.Ia dapat pula beranggapan secara itikad baik bahwa apa yang dilakukannya itu tidaklah melanggar UU(hukum nasional mereka). Menurut Hijmans,Niat subyektif dari yang bersangkutan tidak selalu penting dianggap sebagai factor yang mengikat.Jadi memang benar di satu pihak secara muslihat orang yang bersangkutan menyelundupkan UU atau hukum nasionalnya tetapi sebaliknya di pihak lain,sekaligus ia menaklukkan dirinya di bawah UU yang lain. Kemudian yang dapat merasakan hanyalah pembuat UU dari Negara yang hukumnya diselundupkan dan tidak dirugikan atau pembuat UU dari Negara yang hukumnya dipergunakan,bahkan Negara yang terakhir ini justru merasa gembira. Bagi Negara lain (Negara - Negara dunia ke tiga),persoalan ini sama sekali tidak ada hubungannya maksudnya kepentingan dari Negara Negara ke 3 tidak ada yang dirugikan termasuk system hukumnya kecuali system hukumnya sama dengan hukum dari Negara yang hukumnya diselundupkan.

2. Teori Subjektif Teori ini menitikberatkan pada niat buruk dari yang bersangkutan.di samping perbuatan yang bersangkutan harus bertentangan dengan jiwa danmakna dari UU yang di selundupi atau dihindari,juga disyaratkan mereka ini harus mempunyai niat siasat muslihat(arglist) untuk dengan berdasarkan letter dari UU ingin meloloskan diri dari ikatan UU ingin meloloskan diri dari ikatan UU tersebut dengan melakukan perbuatan perbutana penyelundupan seperti demikian itu.jadi,untuk bisa berbicara tentang penyelundupan hukum dalam HPI,haruslah ada suatu intention fraudulens. Jadi niat buruk dari yang bersangkutan sangat penting adanya untuk menentukan apakah telah terjadi penyelundupan hukum atau tidak.Hanya setelah ternyata maksud atau INTENTION
7

yang kurang baik tersebut atau telah dapat kita temukan maka rangkaian fakta yang menjadi bahan lembaga itu merupakan penyelundupan hukum. Tanpa adanyaniat yang kurang baik itu maka gambaran fakta fakta yang diberikan adalah kurang jelas sehingga kita tidak dapat menentukan apakah peristiwanya itu merupakan penyelundupan hukum atau tidak dan pakah sesuatu itu senonoh atau tidak. Sehubungan dengan ini,Sudargo Gautama berpendapat bahwa : untuk dapat menentukan bahwa ada tidaknya penyelundupan hukum maka kita harus berusaha mengetahui niat yang bersangkutan untuk menghindarkan atau mengubah titik titik tauttertentu dalam suatu peristiwa HPI tertentu.Apakah perbuatan itu dilakukan secara sungguh sungguh atau tidak,yang mana antara lain dapat dikaji dari fakta fakta dalam kehidupan sosial atau lingkungan sebenarnya. Kemudian amat penting diketahui dimana penyelundupan hukum perlu dibedakan dengan simulasi yakni seandainya para pihak melakukan suatu perbuatan hukum serta mereka bermufakatbahwa baginya akan berlaku kaidah kaidah yang lain dari pada apa yang telah dikemukakan dalam transaksi tersebut. Mengenai akibat hukum daripada simulasi berkembang dua pendapat yaitu : a. a.Pendapat pertama mengatakan bahwa tindakan hukum yang merupakan simulasi itu dapat dianggap tidak berlaku.sedangkanyang berlaku adalah peristiwa yang sungguh sungguh dikehendaki oleh para pihak. b. b.Sebaliknya,pendapat kedua mengatakan bahwa yang tidak berlaku adalah tindakan yang benar benar dikehendaki oleh para pihak.Demi kepentingan pihak ketiga ,tindakan simulasi ini dapat dianggap berlaku dalam hubungan dengan mereka.

D. CONTOH PENYELUNDUPAN HUKUM Ada berbagai macam contoh perbuatan yang dapat digolongkan sebagai Penyelundupan Hukum,dan dalam kehidupan kita sehari hari sering kita dengar dan kita temukan dalam media massa maupun elektronik ataupun mungkin dilakukan oleh kita secara sengaja ataupuntidak sengaja karena ketidaktahuan kita.Contoh yang pertama adalah sebagai berikut.

1. Dalam perkawinan sering kita temui pasangan yang melakukan penyelundupan hukum,contohnya dengan pindah agama,atau menikah di luar negeri yang memperbolehkan perkawinan yang beda keyakinan.Praktek seperti ini sering dilakukan dan dibiarkan dengan alas an HAM.karena pada dasarnya memang banyak orang yang taat pada UU,namun banyak pula yang dalam hidupnya menganut asas law is made to be brokensehingga banyak juga jumlah orang yang melanggar UU,karena uu nya yang lemah atau penegakan hukumnya yang tidak jalan.
2. Kasus perpindahan kepemilikan saham PT Global Informasi Bermutu (GIB) atas Global

TV dari pemegang saham lama ke PT Bimantara Tbk dinilai sebagai penyiasatan hukum(Penyelundupan Hukum).Kasus ini dianggap sebagai penyelundupan hukum karena PT.GIB dianggap melakukan penyelundupan hukum karena menjual saham yang nilai asetnya fiktif.yang bernilai hanya frekuensinya sedangkan yang lainnya tidak ada nilainya sama sekali.sehingga terjadi penyelundupan hukum dengan adanya pindah tangan frekuensi.Dibawah ini adalah berita selengkapnya dari kasus tersebut.

Kamis, 02 Maret 2006 Soal Izin Global TV Perpindahan Kepemilikan Saham Harus Diselidiki

NASIONAL

JAKARTA- Kasus perpindahan kepemilikan saham PT Global Informasi Bermutu (GIB) atasGlobal TV dari pemegang saham lama ke PT Bimantara Tbk dinilai sebagai penyiasatan hukum. Transaksi ini, kata anggota KPI Bimo Nugroho Sekundatmo, Rabu (1/3), harus diselidiki. Apakah saat Bimantara membeli 70 saham GIB waktu itu ada nilai asetnya. Ini penyiasatan hukum. Ini namanya membeli tali dapat kerbau, karena sebenarnya yang diincar kerbau. Tapi kerbau tidak mungkin dipindahtangankan, maka yang dibeli tali. Dicari bagaimana caranya agar kerbau bisa dibawa, kata dia. Karena peraturan melarang kepemilikan kerbau berpindah tangan, kata Bimo, maka yang diperjualbelikan talinya, yaitu saham GIB. Apa itu melanggar hukum, secara hukum tidak. Jual-beli saham itu boleh, tidak melanggar hukum, kata Bimo. Yang jadi masalah, lanjut Bimo, apakah saham yang diperjualbelikan itu mempunyai nilai dari asetnya. Perlu ditelusuri ketika Bimantara membeli saham GIB, nilai aset
9

terbesarnya apa. Kalau nilai aset terbesar adalah frekuensi, sementara aset lain tidak ada nilainya, maka UU Telekomunikasi harus ditegakkan. Ini namanya telah terjadi penyelundupan hukum yang mengakibatkan pindah tangannya frekuensi, kata Bimo. Jual-beli saham, menurut Bimo, tidak masalah asalkan ada nilainya. Misalnya Global TVsekarang sudah mempunyai aset, SDM, dan lain-lain bisa saja menjual sahamnya. Tapi kalau hanya modal frekuensi kemudian dijual, ini namanya penyelundupan hukum.Karena kalau ini tidak diusut tuntas, orang bisa menjadi kaya raya hanya berbekal izin. Ini tidakfair dan membuka peluang penyelewengan kekuasaan, katanya. Mantan CEO Global TV Adji Gunawan mengaku tidak tahu bahwa pembelian izin siaranGlobal TV menyalahi aturan. Menurut dia, jika mengetahui transaksi itu menyalahi aturan, pihaknya tidak akan membelinya. Kita tidak tahu pemindahan tangan itu menyalahi aturan. Sebab, kalau kita tahu salah, pasti kita tidak akan beli. Ibarat beli mobil, kita tidak mau membeli mobil bodong, kata dia. Adji mengaku heran kasus ini menjadi ramai beberapa hari terakhir. Sebab sejak Global TVsiaran pertama, tidak ada pihak yang mempermasalahkannya. Baru sekarang dipermasalahkan. Kenapa tidak sejak awal, kata Adji yang sudah dua tahun meninggalkan Global TV itu. Tentang nilai pembelian saham, Adji mengaku tidak ingat. Namun dia membenarkan bahwa kepemilikan saham Bimantara di Global TV, mayoritas. 70 persen, kalau tidak salah, kata Adji. Sementara itu, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie meminta media dan semua pihak untuk meredam kasus perizinan Global TV dan kepemilikan saham Jimly Asshiddiqie di Global TV. Sudahlah, itu jangan dijadikan isu, katanya, Rabu (1/3), di Jakarta. Dia mengaku enggan menanggapi maraknya pemberitaan kasus izin Global TV yang turut menyeret namanya itu. Jangan tanya saya, tanya kepada yang punya, tandasnya. Jimly juga bungkam saat ditanya tentang siaran Global TV yang menurut mantan mensekneg Muladi sudah melenceng dari kaidah semula, yaitu sebagai sebuah televisi pendidikan yang berstandar internasional. Seperti diberitakan, Muladi menuding Jimly sebagai pihak yang mengajukan permohonan izin Global TV kepada pemerintah pada tahun 1999. Bersama dengan Nasir Tamara dan Zuhal, Jimly membawa bendera The International Islamic Fo-rum for Science Technology and Human Resources Development (IIFTIHAR). Jimly cs membawa
10

program syiar Islam untuk pendidikan, teknologi, dan SDM dalam siaran Global TV. Atas proposal itu, Muladi menulis surat kepada empat menteri, Menko Polkam, Menristek, Menhub, dan Menteri Penerangan yang merekomendasikan pemberian izin itu. Presiden BJ Habibie juga telah mengabulkan permintaan itu. Namun setelah mendapatkan izin siaran, Jimly dan Nasir Tamara cs tidak juga merealisasikan niatnya itu. Mereka tidak mendapatkan investor untuk membuat televisi idamannya. Dan sempat ditegur oleh pihak yang berwajib untuk menyelesaikan kewajibannya. Akibatnya, pihak direksi yang salah satunya dijabat Jimly, menjual 70 persen sahamnya ke Yayasan Bimantara. Dan di bawah bendera Bimantara yang tidak lain adalah milik dari raja televisi Harry Tanoesudibjo, Global TV menjelma menjadi sebuah TV gaul yang segmen pasarnya adalah anak muda. Anggota Komisi I dari FPDI-P Effendy Simbolon mendesak pemerintah untuk meninjauulang izin hak siar Global TV sehingga kea-dilan bisa dirasakan oleh semua kalangan, tidak hanya kelompok tertentu. (aih,dtc-46,48t)

11

BAB III KESIMPULAN 1. Penyelundupan hukum adalah suatu perbuatan yang bertujuan untuk menghindarkan(menghindari) berlakunyahukum nasional sehingga yang bersangkutan memperoleh suatu keuntungan keuntungan tertentu sesuai dengan keinginannya,sebab baginya berlaku hukum asing 2. Teori-teori mengenai penyeludupan hukum: a. Teori Objektif Tidaklah disyaratkan bahwa perbuatan seseorang sesuai dengan letter atau rumusan UUadalah bertentangan dengan jiwa dan tujuannya.Jadi,tidak penting apakah yang merupakan maksud dan tujuan dari orang yang bersangkutan.Ia dapat pula beranggapan secara itikad baik bahwa apa yang dilakukannya itu tidaklah melanggar UU(hukum nasional mereka). b. Teori ini menitikberatkan pada niat buruk dari yang bersangkutan.di samping perbuatan yang bersangkutan harus bertentangan dengan jiwa danmakna dari UU yang di selundupi atau dihindari,juga disyaratkan mereka ini harus mempunyai niat siasat muslihat(arglist) untuk dengan berdasarkan letter dari UU ingin meloloskan diri dari ikatan UU ingin meloloskan diri dari ikatan UU tersebut dengan melakukan perbuatan perbutana penyelundupan seperti demikian itu.jadi,untuk bisa berbicara tentang penyelundupan hukum dalam HPI,haruslah ada suatu intention fraudulens. Jadi niat buruk dari yang bersangkutan sangat penting adanya untuk menentukan apakah telah terjadi penyelundupan hukum atau tidak.Hanya setelah ternyata maksud atau INTENTION yang kurang baik tersebut atau telah dapat kita temukan maka rangkaian fakta yang menjadi bahan lembaga itu merupakan penyelundupan hukum.

12

DAFTAR PUSTAKA

HUKUM PERDATA INTERNASIONAL,,I GDE SUTRISNA ADHI,SH.STIH TAMBUN BUNGAI PALANGKA RAYA.1991. SUDARGO GAUTAMA,PROF.,MR.DR.Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia,Cet.1,.Bina cipta.Bandung,1977. Sumber Internet, Website :hukumonline.com,jumat 7 desember 2007,Empat Cara Penyelundupan Hukum Bagi Pasangan Beda Agama. Website ; anggara first.html.artikel.Perkawinan beda agama di Indonesia.7 juli 2007. Website : suara merdeka online, kamis 2 maret 2006,artikel ,judul perpindahan kepemilikan saham global TV.

13