Anda di halaman 1dari 19

BILINGUALISME DAN DIGLOSIA Oleh: Hendra Sastratmaja NIM.

10706259063

$pkššr'¯»tš â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä 3 » oYø)n=yz `ÏiB 9šx.sš 4Ós\Ré&ur öNä 3 » oYù=yèy_ur $\/qãèä© š@ͬ! $t7s%ur (#þqèùu š yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtšò2r& yšYÏã $ «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ךšÎ7yz ÇÊÌÈ
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujuraat: 13)

A. Pendahuluan Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kita saling mengenal. Jelas, berdasarkan ayat ini, bahwa manusia di dunia ini terdiri dari berbagai bangsa-bangsa dan suku-suku yang tentunya masing-masing memiliki bahasa yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Kendatipun demikian, tidak menutup kemungkinan terjalinnya komunikasi sesama manusia sebagai mahluk yang berinteraksi. Karena komunikasi adalah proses berbagi makna melalui perilaku verbal dan nonverbal (Mulyana, 2008:3). Oleh karena itu, komunikasi dapat dilakukan melalui bahasa sebagai salah satu sebagai alat komunikasi yang dimiliki manusia. Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang paling baik, paling sempurna, dibandingkan dengan alat-alat komunikasi lain (Chaer dan Agustina, 2004:11). Karena bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang hanya dimiliki oleh manusia dan tidak pada hewan. Karena hewan juga memiliki alat komunikasi namun berupa bunyi-bunyi dan gerak isyarat yang tidak bersifat produktif dan statis. Dimana itu semua dikuasai oleh hewan secara instingtif atau naluriah,

Bilingualisme dan Diglosia

1

sedangkan tidak pada manusia yang memperoleh bahasa dan menguasainya melalui belajar. Manusia dalam interaksinya menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi dalam menyampaikan ide, gagasan, pikiran, maksud, tujuan, perasaan, emosi, dan lain sebagainya. Interaksi tersebut dapat terjadi sesama suku bangsa yang se-bahasa maupun tidak se-bahasa, oleh karena itu manusia akan berusaha untuk dapat didengarkan bahasanya dan mencoba untuk mendengarkan dan memahami orang lain pula (dalam penyampaian ide, gagasan, dan lainnya) sehingga dapat saling diterima dan menerima. Karena didalam berkomunikasi kepada orang lain terlebih terhadap orang dari suku bangsa yang berbeda tidak menutup kemungkinan akan terjadinya variasi dan ragam bahasa yang berbeda pula. Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki ragam bahasa yang sangat banyak dapat disebabkan karena faktor-faktor alam dan lainnya. Sehingga menyebabkan banyaknya suku-suku bangsa di Indonesia yang memiliki bahasa yang berbeda-beda. Meskipun demikian, Indonesia hanya memiliki satu bahasa yang kemudian dijadikan bahasa nasional yaitu Bahasa Indonesia. Tidak seperti kebanyakan negara-negara lain di belahan dunia, seperti halnya Switzerland yang memiliki empat bahasa kenegaraan yaitu bahasa Jerman, Perancis, Italia, dan Romans. Dan juga seperti Kanada yang memiliki dua bahasa kenegaraan yaitu bahasa Inggris dan Perancis. Namun, tidak pada Indonesia yang hanya menjunjung tinggi satu bahasa yaitu Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa. Karena Indonesia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa inilah yang memungkinkan masyarakat Indonesia memiliki dan menggunakan lebih dari satu bahasa, B1 (bahasa ibu/bahasa daerah) dan B2 bahasa Indonesia dan/atau bahasa asing. Penggunaan lebih dari satu bahasa ini disebut dengan bilingualisme dan pengguna bahasa lebih dari satu bahasa disebut bilingual. Hal inilah yang penulis akan coba ketengahkan didalam makalah ini disamping berbagai permasalahan lainnya yang terkait dalam pembahasan bilingualisme dan diglosia.

Bilingualisme dan Diglosia

2

B. Bilingualisme (Kedwibahasaan) Secara sosiolinguistik secara umum, bilinguslisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Mackey 1962:12, Fishman 1975:73 dalam Chaer dan Agustina, 2004: 84). Istilah bilingualisme dalam bahasa Inggris yaitu bilingualism sedangkan dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Dari istilahnya secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud dengan bilingualisme itu, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Beberapa pengertian bilingualisme menurut pandangan beberapa ahli bahasa: • Bloomfield (1933:56 dalam Chaer dan Agustina, 2004:85) mengatakan bahwa bilingualisme adalah “kemampuan seorang penutur untuk menggunakan dua bahasa dengan sama baiknya (native like control of two languages)”. • Robert Lado (1964:214 dalam Chaer dan Agustina, 2004:86) mengatakan bahwa bilingualisme adalah “kemampuan menggunakan bahasa oleh seseorang dengan sama baik atau hampir sama baiknya, yang secara teknis mengacu pada pengetahuan dua buah bahasa bagaimanapun tingkatnya”. • Haugen (1961 dalam Chaer dan Agustina, 2004:86) “tahu akan dua bahasa atau lebih berarti bilingual” menurut Haugen selanjutnya “seorang bilingual tidak perlu secara aktif menggunakan kedua bahasa itu, tetapi cukup kalau bisa memahaminya saja.” • Steinberg (2000:218) menambahkan bahwa bilingualism juga dapat dikatakan orang-orang yang mampu membaca dan menulis kedua bahasa tersebut dengan lancar. • Weinreich (1953:1 dalam Aslinda dan Syafyahya, 2007:23), kedwibahasaan adalah the practiceof alternatively using two languages (kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih secara bergantian). • Mackey (dalam Aslinda dan Syafyahya, 2007:24), kedwibahasaan adalah
Bilingualisme dan Diglosia 3

sebagai kebiasaan dalam menggunakan dua bahasa atau lebih oleh seseorang (the alternative use of two or more languages by the same individual). Menurut Mackey, dalam membicarakan kedwibahasaan tercakup integrasi. • • Hartman dan Stork (1972:27) Kedwibahasaan adalah pemakaian dua bahasa oleh seorang penutur atau masyarakat ujaran. Oksaar (1972:478 dalam Chaer dan Agustina, 2004:91) Berpendapat bahwa kedwibahasaan bukan hanya milik individu, namun harus diperlakukan sebagai milik kelompok, sehingga memungkinkan adanya masyarakat dwibahasawan. Hal ini terlihat pada negara Belgia yang menetapkan bahasa Belanda dan Perancis sebagai bahasa negara, Finlandia dengan bahasa Find dan bahasa Swedia. Di Montreal Kanada, bahasa Inggris dan Perancis dipakai secara bergantian oleh warganya, sehingga warga Montreal dianggap sebagai masyarakat dwibahasawan murni. Untuk dapat dapat dikatakan sebagai bilingual atau dwibahasawan tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama adalah bahasa ibunya sendiri atau bahasa pertamanya yang dikuasai (B1), dan yang kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (B2). Kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut bilingualitas atau kedwibahasawanan. Uriel Weinreich salah satu founding fathers kajian bilingual dan dimana dia sendiri adalah seorang bilingual, memberikan gambaran bilingual didalam bukunya “Languages in Contact”. The practice of alternately using two languages will be called bilingualism, and the person involved, bilingual (Weinreich 1968: 1 dalam Mackey, 2005:401). Samsunuwiyati Mar’at menjelaskan, syarat untuk dapat dianggap dwibahasa adalah adanya kemampuan dalam bahasa kedua yang hampir menyerupai penutur asli (native speaker). Sedangkan sebagian ahli memberikan kriteria terlalu rendah, yaitu asal semua orang mempunyai pengetahuan beberapa beberapa pengertian seperti masalah tingkat, fungsi pertukaran/alih kode, percampuran/campur kode, interferensi, dan

Bilingualisme dan Diglosia

4

kata saja dalam bahasa kedua sudah cukup untuk diangap sebagai dwibahasawan (Mar’at, 2005:89). Berdasarkan definisi-definisi tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kedwibahasaan berhubungan erat dengan pemakaian dua bahasa atau lebih oleh seorang dwibahasawan atau masyarakat dwibahasawan secara bergantian. Jadi, pengertian kedwibahasaan adalah pemakaian dua bahasa secara bergantian baik secara produktif maupun reseftif oleh seorang individu atau oleh masyarakat. C. Tipe-tipe Bilingualisme (Kedwibahasaan) 1. Kedwibahasaan Majemuk (compound bilingualism) adalah hasil belajar dalam dua bahasa dalam situasi yang sama oleh orang yang sama. Kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa dimana salah satu bahasa lebih baik dari pada kemampuan berbahasa bahasa yang lain. Kedwibahasaan ini didasarkan pada kaitan antara bahasa pertama (B1) dengan bahasa kedua (B2) yang dikuasai oleh bilingual (dwibahasawan). Jadi, pada kedwibahasaan majemuk kedua bahasa dikuasai oleh dwibahasawan tetapi masing-masing berdiri sendiri-sendiri. 2. Kedwibahasaan Koordinatif /sejajar. Kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa pemakaian dua bahasa yang sama-sama baiknya oleh seorang individu. Kedwibahasaan ini dikatakan seimbang sebagaimana dikaitkan dengan taraf penguasaan B1 dan B2 dwibahasawan tersebut, bahwa kemampuan bahasa kedua-duanya baik B1 maupun B2 dikatakan sama mahirnya. 3. Kedwibahasaan Sub-ordinatif (kompleks) Kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa seorang individu pada saat memakai B1 sering memasukkan B2 atau sebaliknya. Kedwibahasaan ini dihubungkan dengan situasi yang dihadapi B1 seperti sekelompok kecil yang dikelilingi dan didominasi oleh masyarakat suatu bahasa yang besar sehinga masyarakat kecil ini dimungkinkan dapat kehilangan B1-nya.

Bilingualisme dan Diglosia

5

Ada pula beberapa pendapat lain oleh pakar kedwibahasaan yang membagi kedwibahasaan kedalam tipologi kedwibahasaan diantaranya adalah: 1. Baeten Beardsmore (1985:22) Menambahkankan satu derajat lagi pembagian kedwibahasaan yaitu dengan kedwibahasaan awal (inception bilingualism) yaitu kedwibahasan yang dimiliki oleh seorang individu yang sedang dalam proses menguasai bahasa kedua (B2). Atau seperti yang dikatakan oleh Diebold (1968:10 dalam Chaer dan Agustina, 2004:86) menyebutkan adanya bilingualisme pada tingkat awal (incipient bilingualism), yaitu bilingualisme yang dialami oleh orang-orang, terutama anak-anak yang sedang mempelajari bahasa kedua pada tahap permulaan. 2. Pohl (dalam Baetens Beardmore, 1985:5) Tipologi bahasa lebih didasarkan pada status bahasa yang ada didalam masyarakat, maka Pohl membagi kedwibahasaan menjadi tiga tipe yaitu: a) Kedwibahasaan Horisontal (horizontal bilingualism) Merupakan situasi pemakaian dua bahasa yang berbeda tetapi masing-masing bahasa memiliki status yang sejajar baik dalam situasi resmi, kebudayaan maupun dalam kehidupan keluarga dari kelompok pemakainya. b) Kedwibahasaan Vertikal (vertical bilinguism) Merupakan pemakaian dua bahasa apabila bahasa baku dan dialek, baik yang berhubungan ataupun terpisah, dimiliki oleh seorang penutur. c) Kedwibahasaan Diagonal (diagonal bilingualism) Merupakan pemakaian dua bahasa dialek atau tidak baku secara bersama-sama tetapi keduanya tidak memiliki hubungan secara genetik dengan bahasa baku yang dipakai oleh masyarakat itu.

Bilingualisme dan Diglosia

6

3. Arsenan (dalam Beardmore, 1985) Membagi tipe kedwibahasaan pada kemampuan berbahasa, ia mengklasifikasikan kedwibahasaan menjadi dua tipe yaitu: a) Kedwibahasaan produktif (productive bilingualism) atau kedwibahasaan aktif atau kedwibahasaan simetrik (symmetrical bilingualism) yaitu pemakaian dua bahasa oleh seorang individu terhadap seluruh aspek keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis). b) Kedwibahasaan reseptif (reseptive bilingualism) atau kedwibahasaan pasif atau kedwibahasaan asimetrik (asymetrical bilingualism). 4. Mar’at, (2005:90) Membagi tipe-tipe dwibahasa kedalam dua tipe yaitu: a) Compound Bilingualism adalah hasil belajar dalam dua bahasa dalam situasi yang sama oleh orang yang sama pula. contoh: seorang anak belajar dwibahasa, misalnya bahasa A dan B dari bapak dan ibu secara berganti-ganti. Dalam situasi seperti ini kemungkinan terjadi interferensi bahasa lebih besar. b) Coordinate Bilingualism adalah hasil belajar dua bahasa yang berbeda dalam situasi yang berbeda pula. Misalnya, disekolah anak berbicara bahasa A dan dirumah bahasa B, atau dengan ibu berbahasa A dan teman berbicara bahasa B. jadi disini penggunaan bahasanya konsisten tidak campur aduk. Namun, kenyataan membuktikan lain, bahwa orang yang memiliki kemampuan dwibahasa lebih lancar dalam bahasa yang satu ketimbang bahasa yang lainnya. selain itu, dwibahasawan sering memakai bahasa yang satu secara terbatas pada situasi kelompok tertentu, sedangkan bahasa yang lainnya dipergunakan pada kelompok atau situasi yang lain lagi.

Bilingualisme dan Diglosia

7

D. Cara Mengukur Bilingualisme (Kedwibahasaan) W.E. Lambert (dalam Mar’at, 2005:92) telah mengembangkan suatu alat untuk mengukur kedwibahasaan dengan mencatat hal-hal sebagai berikut: 1. Waktu reaksi seseorang terhadap dua bahasa. Bila kecepatan reaksinya sama, maka dianggap sebagai dwibahasawan. Misalnya dalam menjawab pertanyaan yang sama, tetapi dalam bahasa yang berbeda. Disini yang diukur adalah kemampuan dalam segi ekspresinya. 2. Kecepatan reaksi dapat diukur pula dari bagaimana seseorang melaksanakan perintah-perintah yang diberikan dalam bahasa yang berbeda. Jadi disini lebih melihat kemampuan dalam segi reseptifnya. 3. Kemampuan seseorang melengkapkan suatu perkataan. Misalnya, kepada subyek diberikan kata-kata yang tidak sempurna kemudian ia harus menyempurnakannya. 4. Mengukur kecenderungan (preferences) pengucapan secara spontan. Dalam hal ini kepada subyek diberikan suatu perkataan yang sama tulisannya, tetapi pengucapannya dalam dua bahasa. Misalnya, tulisan ‘nation’ harus dibaca dan diucapkan secara spontan oleh dwibahasawan Inggris-Perancis, kemudian dilihat apa yang diucapkannya, “nasion” (Perancis) atau “nesjan” (Inggris). E. Diglosia Pemakaian berganti-ganti dari bahasa pertama ke bahasa kedua atau sebaliknya merupakan diglosia (Aslinda dan Syafyahya, 2007:26). Pengertian diglosia sepintas terlihat sama dengan pengertian bilingualisme namun jika kita lihat dengan seksama, istilah diglosia lebih cenderung dipakai untuk menunjukkan keadaan masyarakat tutur, dimana terjadinya alokasi fungsi dari dua bahasa atau ragam. Disisi lain, istilah bilingualisme lebih ditekankan pada keadaan pemakaian bahasa itu. Kata diglosia berasal dari bahasa perancis diglossie yang pernah digunakan oleh Marcais, seorang linguis Perancis. Namun, istilah diglosia tersebut

Bilingualisme dan Diglosia

8

mulai populer setelah digunakan oleh C.A. Ferguson pada tahun 1958 dalam suatu simposium di Washington DC, dan diperkenalkan dalam artikel yang ditulisnya. Ferguson menggunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat dimana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranan tertentu (Chaer dan Agustina, 2004:92). Definisi diglosia yang dikemukakan oleh Ferguson (1959:336 dalam Wardhaugh, 1986:87) adalah sebagai berikut: Diglossia is a relatively stable language situation in which, in addition to the primary dialects of the language (which may include a standard or regional standards), there is a very divergent, highly codified (often grammatically more complex) superposed variety, the vehicle of a large and respected body of written literature, either of an earlier period or in another speech community, which is learned largely by formal education and is used for most written and formal spoken purposes but is not used by any sector of the community for ordinary conversation. Dari definisi Diglosia tersebut, Ferguson memberikan pengertian diglosia itu adalah situasi kebahasaan yang relatif stabil, dimana selain terdapat sejumlah dialek-dialek utama (lebih tepat: ragam-ragam utama) dari satu bahasa, terdapat juga sebuah ragam lain. Dan dialek-dialek utama itu diantaranya bisa berupa dialek standar atau sebuah standar regional. Sedangkan ragam lain (yang bukan dialek-dialek utama) tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Sudah (sangat) terkodifikasi Gramatikalnya lebih kompleks Merupakan wahana kesusastraan tertulis yang sangat luas dan dihormati Dipelajari melalui pendidikan formal Digunakan terutama dalam bahasa tulis dan bahasa lisan formal Tidak digunakan (oleh lapisan masyarakat manapun) untuk percakapan sehari-hari (Chaer dan Agustina, 2004:93).

Bilingualisme dan Diglosia

9

Ferguson (dalam Chaer dan Agustina, 2004:93). menjabarkan diglosia itu terdiri dari sembilan segi, yaitu sebagai berikut: 1. Fungsi Fungsi adalah kriteria yang paling penting. Dalam suatu masyarakat diglosis terdapat dua variasi dari satu bahasa: variasi pertama disebut dialek tinggi/ragam tinggi (H) dan kedua disebut dialek rendah/ragam rendah (L). Fungsi-fungsi untuk ragam H biasanya formal, sedangkan fungsi untuk ragam L biasanya untuk informal, kekeluargaan, dan santai. Seperti halnya dalam bahasa Arab, dimana ragam H-nya adalah bahasa Arab yang ada pada al-Qur’an dan ragam bahasa L-nya adalah bahasa arab yang biasa digunakan oleh bangsa arab. Sehingga jelas ada perbedaan dalam bahasa Arab dalam al-Qur’an dan bahasa Arab yang umum digunakan. Hal ini juga dijelaskan dalam al-Qur’an surat an-Nahl:103, azZumar:28, Fushshilat:44.

ô‰ s)s9ur ãNn=÷ètR óOßg¯Rr& ‰ cqä9qà)t‰ $yJ¯RÎ) ¼çmßJÏk=yè㚠։ t±o0 3 Üc$|¡Ïj9 ‰ Ï%©!$# šcrߚÅsù=㚠Ïmø‰ s9Î) @‰ ÏJyfôãr& #x‰ »ydur îb$|¡Ï9 ?‰ Î1tštã êúüÎ7‰ B ÇÊÉÌÈ
Artinya: “Dan Sesungguhnya kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa 'Ajam1sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (an-nahl: 103)

öqs9ur çm»oYù=yèy_ $ºR#uäöšè% $|‰ ÏJygõ‰ r& (#qä9$s)©9 ‰ wöqs9 ôMn=Å_Áèù ÿ¼çmçG»tš#uä ( @šÏJygõš#uä @‰ Î1tštãur 3 ö@è% uqèd šúïÏ%©#Ï9 (#qãZtB#uä ‰ Wšèd Öä! $xÿÏ©ur ( šúïÏ%©!$#ur šw šcqãYÏB÷s㚠þšÎû öNÎgÏR#s‰ # uä ֚ø%ur uqèdur óOÎgøšn=tæ š¸Jtã 4 š‰ Í ´¯»s9'ré& šc÷ry‰ $ uZ㚠`ÏB ¥b%s3¨B 7ššÏèt/ ÇÍÍÈ
Artinya: “Dan Jikalau kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak
1 Bahasa 'Ajam ialah bahasa selain bahasa Arab dan dapat juga berarti bahasa Arab yang tidak baik, Karena orang yang dituduh mengajar Muhammad itu bukan orang Arab dan Hanya tahu sedikit-sedikit bahasa Arab.

Bilingualisme dan Diglosia

10

beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka2. mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh". (Fushshilat:44)

$ºR#uäöšè% $ššÎ/tštã ušöšxî šÏš 8luqÏã öNßg¯=yè©9 tbqà)Gtš ÇËÑÈ
Artinya: “(ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (az-Zumar:28)

2. Prestise Prestise berhubungan dengan sikap penutur dalam guyup diglosia/masyarakat tutur. Dalam masyarakat digosis penutur biasanya beranggapan ragam H lebih bergengsi, superior, terpandang dan merupakan bahasa yang logis ketimbang ragam bahasa L yang dianggap inferior. Seperti terlihat dalam bahasa Indonesia, sebagian orang ada yang mengatakan bahasa Indonesia merupakan ragam bahasa H sedangkan bahasa daerah lainnya merupakan ragam bahasa L. Aslinda dan Syafyahya (2007:27) menerangkan bahwa naik dan turunnya prestise bahasa ditentukan oleh beberapa hal, yaitu (1) tingkat kemampuan bahasa sebagai sarana komunikasi, dan (2) tingkat peraaban masyarakat pendukungnya. 3. Warisan kesusastraan Warisan kesusastraan mengacu pada karya-karya kesusateraan terdahulu yang ditulis dalam ragam bahasa H dimana ini merupakan cerminan dari kebesaran tradisi di masa lalu. 4. Pemerolehan bahasa Ragam bahasa H diperoleh dengan jalur pendidikan formal. Sedangkan ragam bahasa L diperoleh dari pergaulan dengan teman sebaya, keluarga, dan dipelajari secara normal dan tanpa sadar. Banyak masyarakat diglosis banyak orang terpelajar yang menguasai dengan baik kaidah-kaidah ragam H, tetapi tidak lancar dalam menggunakan ragam tersebut. Karena ragam bahasa H tidak selalu
2 yang dimaksud Suatu kegelapan bagi mereka ialah tidak memberi petunjuk bagi mereka.

Bilingualisme dan Diglosia

11

digunakan, dan dalam mempelajarinya selalu terkendali dalam kaidah dan aturan tata bahasa. Sebaliknya ragam L yang selalu digunakan setiap hari dan terus-menerus dalam pergaulan. 5. Standarisasi/Pembakuan Karena prestise dan lain-lain, ragam H lebih diutamakan dalam pembakuan bahasa. Maka memungkinkan standarisasi terhadap ragam H ini untuk digunakan dalam hal-hal formal seperti Kamus, tata bahasa, petunjuk lafal, buku-buku mengenai pemakaian bahasa yang benar ditulis dalam ragam H. 6. Stabilitas Kestabilan dalam masyarakat diglosis biasanya telah berlangsung lama dimana ada sebuah variasi bahasa yang dipertahankan eksistensinya dalam masyarakat itu. Dan diglosia memang dikehendaki agar selalu ada dua ragam bahasa dipertahankan dalam masyarakat tutur. 7. Gramatika/Tata bahasa Ferguson (dalam Chaer dan agustina) berpandangan bahwa ragam H dan ragam L dalam diglosia merupakan bentuk-bentuk dari bahasa yang sama; namun, didalam gramatika ternyata terdapat perbedaan. 8. Leksikon/Kosakata Sebagian besar kosakata dalam ragam H dan L adalah sama. Namun, ada kosakata pada ragam bahasa H yang tidak ada pasangannya pada ragam L, atau sebaliknya. Ciri yang paling menonjol pada diglosia adalah adanya kosakata yang berpasangan, satu untuk ragam H dan satu untuk ragam L, yang biasanya untuk konsep-konsep yang sangat umum. Contoh dalam bahasa Arab, “apa” untuk ragam H adalah ma sedangkan untuk ragam L eh. Atau dalam bahasa Indonesia seperti halnya uang dan duit, istri dan bini, lurus dan lempeng. 9. Fonologi Ferguson (dalam Chaer dan Agustina, 2004:97) menyatakan bahwa sistem bunyi ragam H dan ragam L sebenarnya merupakan sistem tungal; namun,

Bilingualisme dan Diglosia

12

fonologi H merupakan sistem dasar, sedangkan fonologi L yang beragamragam merupakan subsistem atau parasistem. Fonologi H lebih dekat dengan bentuk umum yang mendasari bahasa secara keseluruhan. Fonologi L lebih jauh dari bentuk-bentuk yang mendasar. Jadi menurut Ferguson, dia melihat diglosia ada didalam masyarakat pada pembedaan ragam bahasa H dan L dalam sebuah bahasa. Ada para pakar lain yang mengemukakan pendapat tentang diglosia yang berbeda dengan ferguson seperti halnya Fishman (1972:92 mengemukakan bahwa: ...diglosia exists not only in multilingual societies which officially recognize several ‘language’, and not only in societies which employ separate dialects, registers, or functionally differentiated language, varieties of whatever kind. Menurut fishman, diglosia tidak hanya berlaku pada adanya pembedaan ragam H dan L pada bahasa yang sama, melainkan juga berlaku pada bahasa yang sama sekalipun tidak serumpun, atau pada dua bahasa yang berlainan. Fasold (1984 dalam Chaer dan Agustina, 2004:98) mengembangkan konsep diglosia ini menjadi apa yang disebut broad diglosia (diglosia luas). Dimana konsep broad diglosia ini perbedaan itu tidak hanya antara dua bahasa atau dua ragam atau dua dialek secara biner, melainkan bisa lebih dari dua bahasa atau dua dialek itu. Kemudian Fasold membagi diglosia menjadi tiga bagian yaitu: 1. Double overlapping diglosia adalah adanya situasi pembedaan derajat dan fungsi bahasa secara berganda. Contoh: di Tanzania ada digunakan bahasa Inggris, Swahili, dan bahasabahasa daerah lainnya. Pada satu sisi bahasa Swahili merupakan ragam bahasa H dan bahasa daerah-daerah lain menjadi ragam L-nya. Sedangkan pada situasi lain bahasa Swahili menjadi ragam bahasa L dan bahasa Inggris menjadi ragam bahasa H-nya. 2. Double-nested diglosia adalah keadaan dalam masyarakat multillingual, dimana terdapat dua bahasa yang diperbedakan; satu sebagai bahasa H, dan yang lain sebagai bahasa L. Tetapi baik ragam
Bilingualisme dan Diglosia 13

dalam Chaer dan

agustina,

2004:98) yang

bahasa H dan L masing-masing juga diberi status sebagai ragam bahasa H dan ragam L. Contoh: dalam tutur masyarakat sunda terdapat dua bahasa yaitu bahasa sunda dan bahasa Indonesia. Dimana bahasa sunda dipelajari dan diperoleh dirumah dan dipergunakan setiap hari dalam hubungan keseharian. Sedangkan bahasa Indonesia dipelajari di sekolah. Sehingga dalam masyarakat sunda dapat dikatakan ragam bahasa Indonesia merupakan ragam bahasa H dan bahasa sunda ragam bahasa L. Namun disamping itu masing-masing bahasa sunda dan Indonesia juga memiliki ragam bahasa H dan L juga. 3. Linear polygosia. Dalam linear polygosia, kederajatan bahasa tidak lagi menggunakan biner seperti dalam double-nested diglosia. Disini tingkat kederajatan dijajarkan dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah. Dimana urutan kederajatan tersebut dibuat berdasarkan sikap penutur. Contoh: Kasus pada kebahasaan masyarakat Cina di negara Malaysia, yang banyak menggunakan bahasa-bahasa dalam situasi tertentu. Masyarakat Cina di Malaysia memiliki verbal rertoire yang terdiri dari bahasa Cina (yang antaranya dominan secara regional), bahasa Inggris formal (dan berbagai jenis bahasa Inggris informal), bahasa Melayu standar (bahasa Malaysia), dan bahasa Melayu bukan standar.
Bahasa Inggris Malaysia formal Bahasa Malaysia Bahasa Mandarin Bahasa Inggris Malaysia informal Bahasa Cina yang dominan Bahasa Cina asli Bahasa-bahasa Cina yang lain Bahasa Melayu Bazar/informal RT1 T2 DH M1 M2 R1 R 2 R n

Bilingualisme dan Diglosia

14

Keterangan: T = Tinggi DH = Dummy High M = Menengah R = Rendah

F. Hubungan Bilingualisme dan Diglosia Abdul Chaer dan Agustina membedakan antara diglosia dan bilingualisme sebagai berikut: diglosia diartikan sebagai adanya pembedaan fungsi atas penggunaan bahasa (terutama fungsi H dan L) dan bilingualisme adalah keadaan penggunaan dua bahasa secara bergantian dalam masyarakat. Fishman (dalam Soemarsono, 2010:195) meminta agar kita memahami perbedaan antara bilingualisme dan diglosia. Dimana bilingualisme mengacu kepada penguasaan atas ragam bahasa H dan L yang ada dalam masyarakat, sedangkan diglosia mengacu kepada persebaran (distribusi) fungsi ragam bahasa H dan L dalam ranah-ranah tertentu. Fishman (1977 dalam Chaer dan agustina, 2004:102) menggambarkan hubungan diglosia dan bilingualisme menjadi empat jenis yaitu: 1. Bilingualisme dan diglosia; Contoh: Negara Paraguay, dimana bahasa Guarani sebagai bahasa asli Amerika berstatus sebagai bahasa L, dan bahasa Spanyol yang merupakan bahasa Indo-Eropa berstatus sebagai bahasa H. Dan keduanya digunakan menurut fungsinya masing-masing. 2. Bilingualisme tanpa diglosia; Contoh: Masyarakat Montreal di Kanada, dan contoh lain adalah di Belgia yang berbahasa Jerman. Dimana peralihan kebahasa Perancis dari bahasa Jerman berlangsung dengan disertai meluasnya bilingualisme, dimana masing-masing bahasa dapat digunakan untuk berbagai tujuan. 3. Diglosia tanpa bilingualisme; Contoh: Misalnya, dalam suatu periode sejarah Czar Rusia, dimana para bangsawannya menggunakan bahasa Perancis sedangkan masyarakat Rusia

Bilingualisme dan Diglosia

15

menggunakan bahasa Rusia dengan berbagai dialeknya. 4. Tidak bilingualisme dan tidak diglosia. Pada tingkatan ini, hanya mungkin ada dalam masyarakat yang primitif atau terpencil di pedalaman. Dari keempat pola masyarakat kebahasaan ini, yang paling stabil adalah diglosia dengan bilingualisme dan diglosia tanpa bilingualisme. Karena keduanya berkarakter diglosia sehingga perbedaannya adalah terletak pada bilingualismenya. G. Kesimpulan Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa bilingualisme dan diglosia adalah dua hal yang berbeda. Dimana bilingualisme mengacu kepada penguasaan atas bahasa/ragam H dan L yang ada dalam masyarakat. Sedangkan diglosia mengacu kepada persebaran fungsi ragam H dan L dalam ranah-ranah tertentu. Dalam realitas kehidupan, manusia sebagai mahluk sosial saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Didalam interaksinya ini peran bahasa sangat dominan dalam komunikasi satu sama lain. Sehingga selama proses komunikasi dan interaksi itu berlangsung terus-menerus lambat laun akan menghasilkan apa yang namanya bilingualime dan diglosia baik itu yang sudah ditetapkan maupun yang terjadi berikutnya.

Bilingualisme dan Diglosia

16

DAFTAR PUSTAKA Alwasilah, A. Chaedar. 1993. Pengantar Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa. Aslinda, dan Leni Syafyahya. 2007. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: Refika Aditama. Brown, H. Douglas. 2007. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa, Edisi kelima. Jakarta: Kedutaan Besar Amerika Serikat. Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta. Dewa, I Putu Wijana, Prof. Dr. S.U., M.A. dan Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum. 2006. “Sosiolinguistik” Kajian Teori dan Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Kushartarti, Untung Yuwono, Multamia RMT Lauder. 2009. “Pesona Bahasa” Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Mackey, Alison. 2005. “Second Language Research” Methodology and Design. New Jersey: Laurence Erlbaum Associates. Mar’at, Samsunuwiyati. Prof. Dr. Psi. 2005. Psikolinguistik suatu Pengantar. Bandung: Refika Aditama. Mulyana, Deddy. 2008. “Komunikasi Efektif” Suatu Pendekatan Lintas Budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya. Myers, Carol-Scotton. 2006. Multiple Voices: “An Introduction to Bilingualism”. Australia: Blackwell Publishing Ltd. Ohoiwutun, Paul. 2004. “Sosiolinguistik” Memahami Bahasa Dalam Konteks Masyarakat dan kebudayaan. Jakarta: Kesaint Blanc. Steinberg, Danny D, Hiroshi Nagata, David P Aline. 2000. “Psycholinguistics” Language, Mind and World. Second edition. Longman. Utari, Sri Subyakto N. Dr. 1988. Psikolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Depdikbud. Dirjen Dikti. Wardhaugh, Ronald. 1986. An Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Basil Blackwell Ltd. http://foraagustina.wordpress.com/2008/04/10/perkembangan-kognitif-anak/ http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/10/08/kedwibahasaan/ http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/kedwibahasaan-dan-diglosia/ http://sutimbang.blog.friendster.com/2008/10/kedwibahasaan/

Bilingualisme dan Diglosia

17

Fenomena Diglosia Pada Tuturan Guru dan Siswa SMU Muhammdiyah I Sumenep
Erwindya Yuli Abstrak Bahasa merupakan alat komunikasi yang berfungsi untuk menyampaikan informasi berupa pikiran, gagasan, maksud, perasaan, maupun emosi secara langsung. Manusia sebagai pengguna bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan berkomunikasi. Dalam bahasa terdapat variasi atau ragam bahasa yang merupakan akibat dari keragaman sosial penutur bahasa dan fungsi bahasa. Indonesia yang terdiri dari banyak daerah memungkinkan sebagian besar daerah mempunyai dan menggunakan lebih dari satu bahasa yaitu bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Fenomena penggunaan lebih dari satu bahasa ini dinamakan diglosia. Diglosia terjadi apabila dalam suatu masyarakat terdapat dua bahasa (variasi) atau lebih yang saling berdampingan satu sama lain dalam pemakaiannya dan mempunyai fungsi sosial tertentu yang disadari pemakaiannya yang merupakan ciri penting dalam situasi diglosia. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimana fenomena penggunaan dua bahasa atau lebih dengan variasi yang berbeda dalam latar, topik, dan situasi yang berbeda di SMU Muhammadiyah I Sumenep. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan landasan berpikir fenomenologis yang berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru dan siswa SMU Muhammadiyah I Sumenep tergolong masyarakat yang bilingual, artinya menggunakan dua bahasa atau lebih dalam situasi yang berbeda. Faktor yang mempengaruhi penggunaan dua bahasa atau lebih ini adalah (1) latar, (2) partisipan, (3) topik, dan (4) fungsi interaksinya. Dan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kedudukan bahasa Indonesia dan bahasa Daerah (bahasa Jawa dan bahasa Madura). Berdasarkan hasil peneltian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut seperti fungsi instrumentalia, fungsi direktif, dan fungsi fatis dalam tutur bahasa Madura atau bisa juga memfokuskan permasalahan fenomena diglosia ini khusus pada kosa kata dan gramatiknya, yakni bagaimana perbedaan pemakaian variasi-variasi bahasa dalam morfologi dan fonologi bahasa Indonesia.

Bilingualisme dan Diglosia

18

Bilingualisme dan Diglosia

19