ANALISIS KOMPARATIF RESIKO KEUANGAN

BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR) KONVENSIONAL DAN BPR SYARIAH
Umar Hamdan - Dosen Fakultas Ekonomi & Program Studi MM Unsri. Andi Wijaya - Alumni Program Studi MM Unsri tahun 2005

ABSTRACT The objectives of this research is to analyze and compare the financial risk in two type of BPRs, which are conventional and syariah. The samples of this research are two BPRs: Conventional BPR “S” and Syariah BPR “F”. The method of analysis used are financial ratios and discriminant analysis (Z-Score method). The study results show that financial risk of Syariah BPR “F” relatively lower than of Conventional BPR “S”. Key words: BPR, Financial Risk, Financial Ratios, Discriminant Analysis.

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bank Perkreditan Rakyat (BPR), menurut UU RI nomor 10 tahun 1998, adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Secara nasional kegiatan operasional BPR selama periode 1999–2003 (Maret) mengalami perkembangan yang cukup stabil. Berdasarkan data Bank Indonesia, selama periode tersebut, total asset bertumbuh dari Rp. 3.462 milliar menjadi Rp. 9.723 milliar, atau naik ratarata 35 % per tahun, penyaluran kredit dari Rp. 2.452 miiliar menjadi Rp. 7.088 milliar (naik rata-rata 35,7 %), dana pihak ketiga dari Rp. 2.038 milliar menjadi Rp. 6.629 milliar (naik ratarata 39,3 %). Selama periode tersebut, laba tahun berjalan terus bertambah. Yang menarik, jumlah penyaluran kredit melebihi jumlah dana pihak ketiga, berarti fungsi intermediasi keuangan ternyata dapat berjalan dengan baik. (Sawaldjo Puspopranoto, 2002, hal. 123) Industri BPR secara makro dinilai Bank Indonesia dalam kondisi cukup baik, karena hampir seluruh BPR menunjukkan kinerja yang baik dan hanya sebagian kecil yang di-BBKUkan. Dari jumlah 2400 unit BPR, sejak 1996 hingga kini hanya 178 unit yang di-BBKU-kan oleh Bank Indonesia. Mengingat kondisi usaha yang dinilai bagus, Bank Indonesia melalui berbagai langkah antara lain merger, konsolidasi, akuisisi serta regulasi dan paket pengawasan yang lebih intensif berupaya menjadikan BPR menjadi basis untuk Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di Indonesia. Dari tahun ke tahun, modal disetor BPR secara nasional terus bertambah. Tahun 2001, menurut data BI dalam buku BPR terbitan BI, modal disetornya Rp. 936 milliar, tahun 2002 jumlahnya bertambah 25 % menjadi Rp. 1,17 trilliun. Tahun 2003 naik 24 % menjadi Rp. 1,24 trilliun, dan per Maret 2004 jumlahnya mencapai Rp. 1,48 trilliun.

Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 7 Juni 2006

terutama pedesaan. Rumusan Masalah Bagaimana tingkat resiko bisnis BPR Konvensional dan BPR Syariah. Tugas pokok BPR adalah mengembangkan persekonomian rakyat di daerah. Menurut Undangundang tersebut dan dipertegas lagi dengan Undang-undang RI nomor 10 tahun 1998. BPR melakukan kegiatankegiatan: 1. menengah. Sebagai masukan bagi manajemen BPR dalam menyusun kebijakan perusahaannya. ada dua jenis bank yaitu : Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) BPR dilarang untuk menerima simpanan giro. 21). TINJAUAN PUSTAKA Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 Butir 1 menyebutkan batasan Bank adalah badan usaha yang menghimpun dan dari masyarakat dalam bentuk simpanan. dan tidak diperkenankan ikut dalam kliring serta transaksi valuta asing. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah 1. 1. Masyarakat pembaca mengetahui perbandingan tingkat resiko keuangan/bisnis BPR Konvensional dan BPR Syariah. 1. Tujuan Penelitian Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis tingkat resiko bisnis BPR Konvensional dan BPR Syariah.3. No 7 Juni 2006 . Keberadaan BPR dalam perekonomian nasional dan daerah sangat penting dalam upaya meningkatkan taraf hidup rakyat melalui penghimpunan dan penyaluran dana terutama kepada usaha kecil dan mikro. Memobilisasikan dana masyarakat sebagai sumber pembangunan di daerah. bagi golongan ekonomi lemah. modal awalnya relatif lebih kecil dari bank umum. jumlah BPR telah mencapai 12 BPR. dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat. Tulisan ini mengkaji bagaimana tingkat resiko bisnis BPR Konvensional dan BPR Syariah di Sumatera Selatan. Dalam melaksanakan fungsinya. hal. Menghimpun dana jangka pendek. 2. Pembinaan dan pembiayaan dunia usaha.4.2. 2. dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. 2003. dengan membantu pembiayaan. II.Umar Hamdan & Andi Wijaya Di daerah Sumatera Selatan. dimana diantaranya juga terdapat BPR Syariah. sifatnya retail dan tidak kompleks seperti halnya bank umum. 2 Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 1. 4. khususnya membantu pengembangan usaha golongan ekonomi lemah. BPR lebih mengkhususkan diri ke arah pemberian kredit. dalam bentuk Tabungan dan Deposito. 3. wilayah operasinya hanya tertentu saja. (Kasmir.

menengah dan panjang kepada perusahaanperusahaan perorangan untuk keperluan pembangunan. dan modernisasi. dengan persetujuan dan syarat-syarat yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. No 7 Juni 2006 3 . misalnya KTP. NPWP. sistem perbankan konvensional menekankan pada hubungan antara debitur dan kreditur. Dari sisi penghimpunan dana kedua sistem perbankan ini bertujuan untuk memobilisasi dana masyarakat. produksi. usaha yang dibiayai. Namun dalam system syariah dimaksudkan untuk memobilisasi dana masyarakat yang belum tersentuh oleh perbankan konvensional. 5. struktur organisasi. 6. 7. 4. Persamaan Sistem Bank Konvensional dan Bank Syariah Persamaaan kedua sistem perbankan tersebut terletak pada teknis penerimaan uang. Untuk BPR Syariah ditambah Syariah Islam. 5 Juli 2005 2. Dalam pembiayaan atau penyaluran dana. Selain itu juga ada perbedaan yang menyangkut aspek hukum. Perbedaan antara Bank Konvensional dan Bank Syariah dapat diringkas dalam Tabel berikut: Tabel 1. karena adanya masalah bunga. Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. rehabilitasi. margin dan fee Bunga atas dasar pokok Nisbah bagi hasil dari proyeksi penjualan Pembayaran bunga tidak mempertimbangkn Pembayaran bagi hasil tergantung realisasi usaha hasil usaha Bank tidak menanggung resiko Bank ikut menanggung resiko usaha Kehalalan bunga diragukan Halal Tidak ada Dewan Pengawas Syariah Ada Dewan Pengawas Syariah Sumber: Prosiding Seminar Nasional IAI & FE Unsri. mekanisme transfer. Penyertaan dalam modal yang tidak bersifat tetap.1. Perbedaan Sistem antara Bank Konvensional dan Bank Syariah Bank Konvensional Bank Syariah Investasi halal dan haram Investasi yang halal saja Status bank “intermediary” Status bank “intermediary dan investor” Sistem bunga dan fee Sistem bagi hasil. Melakukan kerja sama sesama bank dan Lembaga Keuangan. syarat-syarat umum untuk memperoleh kredit. dan lingkungan kerja. teknologi komputer. Memberikan pembiayaan jangka pendek. sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan dan Undang-Undang yang berlaku. Menjalankan usaha-usaha perbankan lainnya.2. sedangkan sistem syariah lebih menekankan pada prinsip keleluasaan dalam akad kredit dan kemitraan. proposal. 2.Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah 4. laporan keuangan dan lainnya. Perbedaan Sistem Bank Konvensional dan Bank Syariah Perbedaan kedua system dapat dilihat dari sisi penghimpunan dan penyaluran dana.

Produk/Jasa yang ditawarkan Bank Konvensional dan Bank Syariah Secara umum ada tiga bagian besar produk yang ditawarkan Bank konvensional dan Bank Syariah: 1) Produk Penghimpunan Dana (funding) 2) Produk Penyaluran Dana (financing). dalam konsep ini pihak yang menerima titipan boleh menggunakan uang atau barang yang dititipkan. Prinsip Al-Wad’ah yaitu serbagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain. Bank Konvensional Produk penghimpunan dana antara lain adalah giro. jadi harus dijaga sesuai dengan kelaziman. Penyaluran dana pada bank Syariah dilakukan melalui pembiayaan dengan prinsip jual beli. Prinsip ini diaplikasikan pada produk tabungan berjangka dan deposito berjangka.1. Jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam hal ini penjual harus memberitahu harga pokok yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahan sedangkan 4 Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. baik individu maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kepada si penitip. Dalam ini penerima titipan dapat membebankan biaya titip kepada penitip. Transaksi jual beli dapat dibedakan berdasarkan bentuk pembayarannya dan waktu penyerahan barangnya. mudharrabah dimana kedua hasil ini akan dibagi hasilkan berdasarkan nisbah yang disepakati dalam hal bank menggunakannya untuk melakukan mudharrabah kedua. dan pembiayaan dengan prinsip bagi hasil. Dana tersebut digunakan bank untuk melakukan murabahah. Rukun Mudharrabah terpenuhi sempurna ada mudharrib. Sedangkan produk jasa berbankan konvensional. ada usaha yang akan dibagihasilkan. No 7 Juni 2006 . Prinsip Al-Wadiah (trust depository) dapat di bagi atas Al-Wadiah Yad Amanah dan Al-Wadiah Yad Adh Dhamanah. Prinsip Mudharrabah penyimpan atau deposan bertindak sebagai pemilik modal (syahibul mall).: 1) Pembiayaan Al Murabahah (Ba’i).3. yaitu sbb. dan 3) Produk Jasa (services) 2. Bank Syariah Penghimpunan dana pada bank syariah menerapkan prinsip Wadi’ah dan Mudhararabah. Tingkat keuntungan bank ditentukan didepan dan menjadi bagian harga atas barang yang dijual. Bank dapat memberikan bonus kepada penitip. valuta asing. maka bank bertanggung jawab penuh atas kerugian yang terjadi. Prinsip pembiayaan dengan jual beli dilaksanakan sehubungan dengan perpindahan kepemilikan barang atau benda (transfer of property). Aplikasi konsep Al-Wadiah Yad Amanah dalam bank syariah adalah pihak yang menerima titpan tidak boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan. ada pemilik dana.Umar Hamdan & Andi Wijaya 2. tentunya pihak Bank dalam hal ini mendapatkan bagi hasil dari pengguna dana. pembiayaan dengan prinsip sewa.3. Penyaluran dana dapat berbentuk kredit konsumsi. pengurusan transaksi ekspor dan impor. 4. kredit investasi dan kredit modal kerja. misalnya jasa konsultansi.2. 2. Konsep Al-Wadiah Yad Adh Dhamanah. dan lainnya.3. ada nisbah dan ada ijab Kabul. tabungan dan deposito. bank sebagai mudharrib (pengelola dana).

dan neraca. Resiko keuangan dapat ditelusuri melalui analisis rasio keuangan dan analisis diskriminan keuangan. melalui cicilan atau ditangguhkan sampai suatu waktu dimasa datang. sumberdaya manusia. bernilai efektif. hal 5) adalah: . Contoh transaksi bank sebagai penjual kepada pemilik proyek. dikutip dari Husien Umar (2001. management risks (resiko manajemen). penilaian bunga antar waktu Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. layanan keuangan. 4) Prinsip pembiayaan dengan sewa (ijarah). merupakan kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang. Pengertian resiko menurut Silalahi (1997).Resiko adalah penyimpangan aktual dari yang diharapkan . cara mengukur dan mengelola resiko keuangan (financial risks) perbankan. rumah atau investasi modal kerja. Pada prinsipnya sama dengan jual beli tetapi perbedaannya pada jual beli objek transaksi adalah barang. Berdasarkan karakteristik perbankan tersebut. Menurut Hampel. No 7 Juni 2006 5 . tetapi pada ijarah objek trsansaksinya adalah jasa.Resiko adalah probabilitas timbulnya kerugian . dan memahami pemrioritasan dalam menanggulangi ancaman terhadap perusahaan. sebagai berikut: 1. Menurut Hempel (1994: 89). dan financial risks (resiko keuangan). terkoordinasi. Kedua belah pihak bersepakat atas harga serta sistem pembayaran. Contoh. dalam kontrak itu pembuat barang menerima pesanan dari pembeli. 3) Istishna’. 2) Salam. et. 4. Resiko Suku bunga dapat diatasi dengan cara: − Membuat analisis kepekaan bunga terhadap aktiva − Membuat analisis durasi.Resiko adalah probabilitas suatu hasil akan berbeda dari yang diharapkan Sedangkan manajemen resiko adalah suatu cara yang proaktif. Resiko Likuiditas dapat diatasi dengan cara: − Membuat perencanaan likuiditas − Membuat rencana kontingensi − Analisis biaya dan penentuan bunga kredit − Pengembangan sumber pendanaan 3.Resiko adalah ketidak pastian . pembeli atau mensubkan kepada sub kontraktor.Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah pembayaranm dilakukan dengan cara cicilan. apakah pembayaran dilakukan dimuka.Resiko adalah kesempatan timbulnya kerugian . maka resiko terdapat diklasifikasikan atas: environmental risks (resiko lingkungan). pembiayaan konsumtif dalam pembelian kenderaan bermotor. delivery risks (resiko operasi). − Dokumentasi kredit − Pengendalian dan pengawasan kredit − Penilaian terhadap resiko khusus 2. Pembuat barang lalu berusaha melalui orang lain untuk membuat atau membeli barang menurut spesifikasi yang telah disepakati dan menjualnya kepada pembeli akhir. Resiko kredit dapat diatasi dengan cara: − Melakukan analisis kredit secara baik dan benar. yaitu jual beli dilakukan dimana pembeli memberikan uang terlebih dulu terhadap barang yang telah disebutkan spesifikasinya dan diantarkan kemudian.al (1994:88) resiko perbankan dipengaruhi oleh lingkungan. Biasanya digunakan untuk produk-produk pertanian berjangka pendek.

1994.3. Capital Ratio 2. 1998. Capital Risk 3. sebagai berikut: (Hempel. hal. Cash Ratio 3. rasio-rasio solvabilitas. 1998: 884). Beberapa jenis ratio dalam solvabilitas ratio yaitu : 1. Resiko leverage dapat diatasi dengan cara: − Membuat perencanaan modal − Analisis pertumbuhan usaha berkelanjutan − Memantapkan kebijakan dividen − Melakukan penyesuaian resiko terhadap kecukupan modal 2. 4. Edward Alman dengan tujuan untuk mendeteksi apakah suatu perusahaan dalam kondisi diambang kebangkrutan (financial distress). Rasio-rasio Keuangan Bank Rasio-rasio keuangan bank dapat dikelompokkan atas rasio-rasio likuiditas. Untuk menghitung Z-Score ini terlebih dahulu harus menghitung lima jenis rasio keuangan. Ada beberapa jenis rasio dalam rasio likuiditas. Assets to Loan Ratio 2.3. (Husien Umar. Rasio Solvabilitas Rasio ini bertujuan mengukur efisiensi bank dalam menjalankan aktivitasnya.(X3)+0. hal.354-356) 1) Working Capital to Total Assets Ratio (X1) 2) Retained Earning to Total Asset Ratio (X2) 3) Earning Before Interest & Taxes to Total Asset (X3) 4) Market Value of Equity to Book Value of Debt (X4) 5) Sales to Total Asset Ratio (X5) Z-Score = 1. Loan to Deposit Ratio (LDR) b. Gross Profit Margin 2.74) a. Oleh karena itu analsis ini dapat digunakan untuk mengukur tingkat resiko keuangan suatu perusahaan.4. No 7 Juni 2006 .3. yaitu : 1. Capital Adequacy Ratio c. Return on Equity Capital 2.6(X4)+1(X5) 6 Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. Net Profit Margin 3. Rasio Rentabilitas Rasio yang bertujuan untuk mengukur efektivitas bank mencapai tujuannya. dan rasio-rasio rentabilitas (profitabilitas). Beberapa jenis rasio dalam rentabilitas ratio yaitu : 1. yaitu. Rasio Likuiditas Rasio ini bertujuan untuk mengukur seberapa likuid suatu bank. Analisis Diskriminan (Z-Score) Analisis Z-score dikembangkan oleh Prof.2(X1)+(.Umar Hamdan & Andi Wijaya 4.4(X2)+3. Metode ini disebut juga dengan multiple discriminant analysis (Emery & Finnerty.

99 Z < 1. beban non operasi. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian di 16 Ilir Palembang dan Kelurahan Sukajadi di Talang Kelapa Kabupaten Banyuasin. 3. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara mempelajari data sekunder. Pos-pos dalam Daftar Rugi/Laba : pendapatan bunga.1. No 7 Juni 2006 . Edward Altman. sebagai berikut: (Emery & Finnerty. 3. aktiva tetap dan aktiva lain. Dari populasi tersebut penulis mengambil 2 sampe BPR.Variabel Penelitian Variabel-variabel utama penelitian adalah pos-pos dalam Neraca terdiri dari: Kas. dengan alasan hanya ada saru BPR Syariah dan untuk kesesuaian diambil pula satu BPR Konvensional.81 Prediction Firm will not fail within 1 year Gray area within which it is difficult to discriminate effectively Firm will fail in 1 year III. pinjaman. deposito. terdiri dari 11 BPR Konvensional dan 1 BPR Syariah. Variabel. Populasi dan Sampel Populasi sampel berjumlah 12 BPR.81 < Z < 2. kredit yang diberikan. pendapatan non operasi. 3. yaitu laporan keuangan BPR Konvensional “S” dan BPR Syariah “F”. 3.Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah Untuk menganalisis hasil perhitungan model Z-score. kewajiban segera.5. giro. METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Metode penelitian dikategorikan studi kasus. 4. Teknik Analisis 7 Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. yaitu satu BPR Konvensional dan satu BPR Syariah. tabungan. dan ekuitas.6. beban bunga. pendapatan operasi lainnya.99 1. pajak dan laba bersih. digunakan angka interpretasi yang dikembangkan oleh Prof. 3. 3.4.2. Adapun tennik pengambilan sampel dilakukan secara purpossive sampling. 1997: 886) Score Z > 2.3. Selanjutnya sampel BPR yang diteliti diberi kode nama BPR Konvensional “S” dan BPR Syariah “F”. karena membahas suatu objek penelitian secara rinci dan mendalam.

4.928 669.645. kabupaten Banyuasin. BPR ini menerima simpanan dan menyalurkan kredit modal kerja dan investasi bagi usaha kecil dan mikro tersebut. TP Rustam Effendi. Kegiatan yang dilakukan adalah menerima simpanan dan menyalurkan kredit modal kerja dan investasi bagi usaha kecil dan mikro tersebut. Sasaran utama operasi bank ini adalah para pedagang kecil dan mikro yang berada di kawasan Pasar 16 ilir.515.758 337.939 7. dan sekitarnya.178 617. BPR ini berlokasi di kelurahan Sukajadi.000 4. peternak yang berada di kelurahan dan desadesa di Kecamatan Talang Kelapa. Aktiva Tetap -/Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah “S” berdiri dengan akte Notaris Amunis Akte No.047.000. HASIL DAN PEMBAHASAN Uraian Singkat BPR Sampel PT. petani. Modal ekuitas (saham) BPR sebesar Rp 3 milyar dan telah disetor penuh.362.667. Disamping itu juga memberikan kredit konsumsi kepada debitur tertentu.252 8 . No 7 Juni 2006 2001 (ribuan rupiah) 2002 (ribuan rupiah) 2003 (ribuan rupiah) 29.760 7. Pihak Terkait dengan bank b. 2 tanggal 7 Januari 1994 dan mulai beroperasi Januari 1995. Bank Perkreditan Rakyat Konvensional “S” berlokasi di kawasan Pasar 16 ilir Palembang yang beroperasi sejak tahun 1990.827 340.160 5. 4.952 5. Neraca dan Rugi/Laba BPR Konvensional “S” Perkembangan neraca dan rugi/laba BPR Konvensional “S” dapat dilihat dalam Tabel : Tabel 2 : Perkembangan Neraca BPR Konvensional “S” Selama Tahun 2001-2003 No 1 2 3 4 5 6 7 POS-POS Aktiva Kas Giro pada bank lain Penempatan pada bank lain Surat-surat berharga Kredit yang diberikan a.346 4. Analisis analisis rasio keuangan dan analisis diskriminan keuangan. Kredit -/Aktiva Tetap Akumulasi Ph.1.489 954.989 942.Umar Hamdan & Andi Wijaya IV.1. kecamatan Talang Kelapa. usaha kerajinan batubata. 4.388 720. yaitu BPR konvensional “S” dan BPR Syariah “F” disajikan dalam bentuk laporan Neraca dan Daftar Rugi/Laba selama 3 (tiga ) tahun yaitu periode 2001-2003. Sesuai ketentuan pemerintah. Disamping itu juga memberikan kredit konsumsi kepada debitur tertentu dengan prinsip syariah.066 4.843 340.2. Perkembangan Keuangan Perkembangan keuangan kedua bank sampel.200.689 2.000 93. Pihak lain Penyisihan Ph. 4. Beringin Janggut.200. genteng. Sasaran utama operasi bank ini adalah para pedagang kecil dan mikro.989 938. bentuk badan hukum BPR adalah Perseroan Terbatas. PT. Modal dasar BPR sebesar Rp 500 juta dan telah disetor penuh.042.144 8.000 3.2.

039 624.127. 4.254.218 1.275 2003 (ribuan Rp) 2.974.095 17.383 225.500 2.585 210. di mana pendapatan bunga tahun 2001 sebesar Rp 1.396 552.8 milyar. disusun kembali oleh Penulis.505 429.988 9. Tabel diatas menunjukkan adanya peningkatan pendapatan bunga selama tahun 20012003. pada tahun 2001 berjumlah Rp 16.939 15.803 153.827 1.245 1.330 16.2 milyar dan tahun 2003 Rp 2.653 2002 (ribuan Rp) 2.656 1. No 7 Juni 2006 9 .739 7.139.702 530.393.967 1.537 1 2 3 2.353 470.352 323.086. Pihak Terkait dengan bank b.218 237.203 17. disusun oleh Penulis.065 36.621 283.852.909 169.175 1.982 157.186 958.000 3.000 801. Modal Disetor b.189.852.709 16.269. Laba ditahan Jumlah 421.095 7 8 9 10 11 60.275.470 77.779 209.847 222.323.609 15.513 1.377. & Beban Ops Pendapatan dan Beban Non Operasional Pendapatan Non Operasional +/+ Beban Non Operasional -/Laba Sebelum Pajak Pajak Penghasilan -/Laba Bersih 2001 (ribuan Rp) 1.206 1. Selisih Penilaian kembali aktiva tetap d.238.3 milyar.000. Penurunan pada tahun 2002 disebabkan oleh pos-pos : surat berharga turun sebesar Rp 5 milyar dan aktiva lain-lain sekitar Rp 200 juta. Total aktiva BPR konvensional “S” selama tiga tahun mengalami fluktuasi.679 93.3 milyar.880 1. Perkembangan rugi/laba BPR Konvensional “S” dapat dilihat dalam Tabel : Tabel 3 : Perkembangan Daftar Rugi/Laba BPR Konvensional “S” Selama Tahun 2001-2003 No 1 2 3 4 5 6 POS-POS Pendapatan Bunga Beban Bunga -/Pendapatan Bunga Bersih Pendapatan Ops Lainnya +/+ Beban Ops Lainnya -/Jumlah Pend.354.699 9.679 106.812 119. Pihak lain Pinjaman yang diterima Kewajiban lain-lain Modal Pinjaman Ekuitas a.977 151.726 Sumber : Laporan Keuangan BPR Konvensional “S”. Modal Sumbangan c.412.248 1. Demikian pula pendapatan non operasional dan beban non Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol.015 452.800 323.2 milyar dan kemudian naik lagi menjadi Rp 17.000 3.000.323.723 Sumber : Laporan Keuangan BPR Konvensional “S”.227.387.4 milyar.520 600.000.748 841.399.000 3.458 4 5 6 7 3.726 471.821 275.238. turun menjadi Rp 15. naik menjadi Rp 2.493.273.615 159.753 877.513 137.711.Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah 8 Aktiva Lain-lain Jumlah Kewajiban Kewajiban segera lainnya Tabungan Deposito a.348.

Kredit -/Aktiva Tetap Akumulasi Ph. Total aktiva BPR Syariah selama tiga tahun mengalami fluktuasi.667 757.000 20.863 1.2. turun menjadi Rp 1.000 136.695 16. Neraca dan Rugi/Laba BPR Syariah “F” Perkembangan neraca dan rugi/laba BPR Syariah “F” dapat dilihat dalam Tabel sebagai berikut: Tabel 4 : Perkembangan Neraca BPR Syariah “F” Selama Tahun 2001-2003 No 1 2 3 4 5 6 7 8 POS-POS Aktiva Kas Giro pada bank lain Penempatan pada bank lain Surat-surat berharga Kredit yang diberikan a. Laba ditahan Jumlah 2001 (ribuan rupiah) 2002 (ribuan rupiah) 2003 (ribuan rupiah) 6.663 712. Pihak lain Penyisihan Ph.385 37.615 2. dimana pada tahun 2002 sebesar Rp 1. pada tahun 2001 berjumlah Rp 2.026 1. Pihak Terkait dengan bank b.842 134.438 25.523.000 21. Selisih Penilaian kembali aktiva tetap d.035 118.438 500.742 1.831 9.400 108.363 117.525.893 47. Aktiva Tetap -/Aktiva Lain-lain Jumlah Kewajiban Kewajiban segera lainnya Tabungan Deposito a.827 7.Umar Hamdan & Andi Wijaya operasional menunjukkan adanya peningkatan.863 108.000 21.608 14.6 milyar.086 1 2 3 4 5 6 7 500. meningkat dibanding tahun 2001.694.000 23. Pihak Terkait dengan bank b.638.7 juta pada tahun 2003.295 644. 4. Pihak lain Pinjaman yang diterima Kewajiban lain-lain Modal Pinjaman Ekuitas a.553 2. tetapi kemudian turun menjadi Rp 958. disusun kembali oleh Penulis. 4. Laba bersih mengalami fluktuasi.726 29. No 7 Juni 2006 .1 milyar.291 640.923 21. Modal Sumbangan c.086 6.820.317 721.951 682.378 58.000 102.2.000 21.952.321 1.950 500.700 43.2 milyar dan penurunan penyaluran pinjaman sebesar Rp 40 juta.5 milyar dan kemudian naik menjadi Rp 1.363 5.638.859 33. 10 Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol.614 777.000 140.305 Sumber : Laporan Keuangan Bank Syariah “F”.061 24.69 milyar.993 1.000 121.694.035 1.375 71.933 21.305 3.935 10.792 15. Penurunan pada tahun 2002 disebabkan oleh pos-pos: penempatan pada bank yang mengalami penurunan hampir sebesar Rp1.348 16.611 26.930 116.683 9. Modal Disetor b.962 49.948 85.

4. No 7 Juni 2006 11 .500 61.49% 23.407 53.20% 30.848 78.403 Sumber: Laporan Keuangan BPR Syariah “F”. sedangkan tahun 2003 mengalami penurunan dibanding tahun 2002. sedangkan pada tahun 2003 turun menjadi Rp 227 juta.87% 38.740 113. Demikian pula laba bersih mengalami peningkatan tahun 2002 dibanding tahun 2001.664 744 77.118 16. Capital Adequacy Ratio Total Modal (Ekuitas) : Total Aktiva Rasio-Rasio Rentabilitas: 2001 130.13% 4.858 825 80.189 80.035 6.683 12.725 110. disusun kembali oleh Penulis.120 93.94% 62. Cash Ratio Kas : Kewajiban Segera 3.34% 2002 140.592 14.95% Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol.36% 118. 4.52% 7.736 799 75. & Beban Ops Pendapatan dan Beban Non Operasional Pendapatan Non Operasional +/+ Beban Non Operasional -/Laba Sebelum Pajak Pajak Penghasilan -/Laba Bersih 2001 (ribuan Rp) 213.306 2002 (ribuan Rp) 238. yaitu turun menjadi Rp 80 juta.263 94.Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah Perkembangan rugi/laba BPR Syariah “S” dapat dilihat dalam Tabel sebagai berikut: Tabel 5 : Perkembangan Daftar Rugi/Laba BPR Syariah “F” Selama Tahun 2001-2003 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 POS-POS Pendapatan Bagi Hasil Beban Bagi Hasil -/Pendapatan Bagi Hasil Bersih Pendapatan Ops Lainnya +/+ Beban Ops Lainnya -/Jumlah Pend.36% 23.968 96.563 10. Dari tabel rugi/laba menunjukkan adanya peningkatan pendapatan bagi hasil pada tahun 2002 dibanding tahun.13% 72.29% 40.713 9. Analisis Rasio Keuangan BPR Konvensional “S” Dari laporan keuangan BPR Konvensional “S” dapat dihitung beberapa rasio keuangan seperti dalam Tabel berikut: Tabel 6 : Rekapitulasi Rasio-rasio Keuangan BPR Konvensional “S” Tahun 2001-2003 Rasio-Rasio Likuiditas: 1.292 9. Loan to Deposit Ratio Total Kredit: Tabungan+ Deposito 4.150 2003 (ribuan Rp) 227. Non Performing Loan Penyisihan Kredit: Total Kredit Rasio-Rasio Solvabilitas: 1.450 172.175 9.249 187.44% 92.25% 4.308 54.44% 28.54% 2003 131. yaitu meningkat dari Rp 53 juta menjadi 86 juta.714 5. Capital to Debt Ratio Total Modal (Ekuitas): Total Kewajiban 2.3. yaitu meningkat dari Rp 213 juta menjadi Rp 238 juta.035 62.79% 31.112 135.49% 97. Assets to Loan Ratio Total Aktiva: Total Kewajiban 2.913 51.

Demikian pula rasio antara kredit yang disalurkan dengan dana yang dihimpun (loan to deposit ratio) kurang baik. sebagian harta perusahaan diperoleh dari dana pinjaman kepada kreditur.43% 6. Rasio-rasio rentabilitas yang dinyatakan dengan rasio-rasio net profit margin. 4. Rasio aktiva terhadap pinjaman menunjukkan tingkat likuiditas yang cukup memadai. menurut Winton (1993) adanya ketentuan CAR tersebut mempunyai kaitan dengan keterbatasan tanggung jawab dan struktur kepemilikan dalam suatu perusahaan. Laba bersih terhadap pendapat operasi (NPM) cukup baik.89% 45. yaitu tahun 2001 sebesar 38%.24 persen. Secara teori.68% 60. berarti rasio LDR masih relatif rendah. 26/2/UD tanggal 29 Mei1993 tentang Kewajiban Modal Minimum adalah sebesar 8 persen. sedangkan tahun 2003 mengalami penurunan dibanding tahun 2002. No 7 Juni 2006 .08% Sumber: Diolah dari Laporan Keuangan BPR Konvensional “S” Secara umum rasio-rasio likuiditas BPR Konvensional “S” menunjukkan perbaikan pada tahun 2002 dibanding tahun 2001.79% dan tahun 2003 sebesar 23. 4.06% 52. Rasio kas terhadap kewajiban segera pada tahun 2001 dan 2003 kurang dari 100 persen. Rasio-rasio solvabilitas menunjukkan kondisi yang cukup sehat. Dari tabel di atas CAR BPR Konvensional “S” di atas 8%. Demikian pula perbandingan modal dengan hutang masih di atas 8 persen.Umar Hamdan & Andi Wijaya 1.29%.77% dan tahun 2003 sebesar 39. Rasio aktiva terhadap pinjaman menunjukkan tingkat likuiditas yang cukup memadai. tahun 2002 sebesar 28. yaitu masing-masing tahun 2001 sebesar 23. Net Profit Margin Laba Bersih: Pendapatan Operasi 3. Menurut ketentuan BI rasio ideal antara 85% s. dan ROA menunjukkan adanya kenaikan pada tahun 2002 dibanding tahun 2001. ROE. Analisis Rasio Keuangan BPR Syariah “F” Rasio-rasio keuangan BPR Syariah “F” selama tahun 2001-2003 dapat dilihat dalam Tabel 7.34% di atas batas maksimum yang ditetapkan oleh BI. Return on Equity Laba Bersih: Ekuitas 4. Semua rasio rentabilitas adalah positip. di mana tahun 2001 sebesar 38%. karena di atas 100 persen.97% 3. Rasio CAR berdasarkan Surat Edaran Direksi BI No. karena dana yang menganggur akan menjadi beban bagi BPR atas bunga simpanan yang yang harus dibayar kepada penabung. Gross Profit Margin Laba Operasi: Pendapatan Operasi 2.d 105%. tahun 2002 78% dan tahun 2003 sebesar 62 persen.10% 13.4.10% 38. 12 Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol.12% 8.77% 27. Secara umum rasio-rasio likuiditas BPR Syariah “F” relatif lebih baik dibanding BPR Konvensional “S”. Dalam struktur kepemilikan.95%. tahun 2002 sebesar 52. Rasio kas terhadap kewajiban segera pada tahun 2002 dan 2003 kurang dari 100 persen yang perlu menjadi perhatian pimpinan BPR.54% dan 4. sehingga perlu diimbangi dengan kemampuan pemilik modal menyediakan dana sendiri.73% 22. Keadaan ini menunjukkan bahwa BPR Konvensional “S” cukup sehat.01% 39. Kondisi ini menunjukkan kemampuan BPR menyalurkan kredit masih perlu ditingkatkan.73 persen. namun dalam tahun 2002 dan 2003 turun menjadi masingmasing sebesar 4. jauh di atas 100 persen. Return on Assets Laba Operasi: Total Aktiva 43. NPL tahun 2001 sebesar 7.

Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah Rasio antara kredit yang disalurkan dengan dana yang dihimpun (loan to deposit ratio) tahun 2002 dan 2003 cukup baik. Demikian pula Nonperforming Loan (NPL) cukup baik.89% 104.52% 5. Loan to Deposit Ratio Total Kredit: Tabungan+ Deposito 4.55% 7. yaitu masing-masing tahun 2001 sebesar 23.31% 46. sedangkan tahun 2003 mengalami penurunan dibanding tahun 2002.55% 2.22% 30. NPL BPR Syariah “F” relatif lebih baik dari BPR Konvensional “S”.64% 76.11% 2002 176. Cash Ratio Kas : Kewajiban Segera 3. Keadaan ini lebih baik dibandingkan dengan rasio solvabilitas BPR Konvensional “S. Tabel 7 : Rekapitulasi Rasio-rasio Keuangan BPR Syariah “F” Tahun 2001-2003 Rasio-Rasio Likuiditas: 1.45% 92.07% 96.26% 41. Hal ini memberikan indikasi bahwa BPR Konvensional “F” realtif lebih efisien dalam pengelolaan dananya. Gross Profit Margin Laba Operasi: Pendapatan Operasi 2. hanya sekitar 2 persen selama 3 tahun. Keadaan ini menunjukkan bahwa NPM BPR Syariah relatif lebih rendah dibanding dengan BPR Konvensional “S”.92%. tahun 2002 sebesar 40. Keadaan ini hampir sama dengan rasio rentabilitas BPR Konvensional.66% 43.54% 24. Capital Adequacy Ratio Total Modal (Ekuitas) : Total Aktiva Rasio-Rasio Rentabilitas: 1.37 persen.06% 2003 161. Rasio CAR BPR Syariah “F” di atas 8%.07% 37. ROE.96% 36.24% 14.04% 2.34% dan tahun 2003 sebesar 37.92% 28. Rasio-rasio rentabilitas yang dinyatakan dengan rasio-rasio NPM.16% 35. Rasio NPM cukup baik. No 7 Juni 2006 13 .95% 93.34% 61. Capital to Debt Ratio Total Modal (Ekuitas): Total Kewajiban 2.37% 12. di mana tahun 2001 sebesar 24.33% 40. Return on Assets Laba Operasi: Total Aktiva 2001 130.93%. 4.52% Sumber : Diolah dari Laporan Keuangan BPR Syariah “F” Rasio-rasio solvabilitas menunjukkan kondisi yang cukup sehat.64%. Assets to Loan Ratio Total Aktiva: Total Kewajiban 2.51% 102. Return on Equity Laba Bersih: Ekuitas 4. Non Performing Loan Penyisihan Kredit: Total Kredit Rasio-Rasio Solvabilitas: 1.64% 1. tahun 2002 sebesar 43. Net Profit Margin Laba Bersih: Pendapatan Operasi 3. dan ROA menunjukkan adanya kenaikan pada tahun 2002 dibanding tahun 2001.93% 8.36% 2.24% dan tahun 2003 sebesar 35. Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol.95% 23.

Bunga dan Pajak: Total Aktiva X4.4 X2 3 X3 0.09 0.15 1.09 0.14 1.33 0.16 0.19 0. Market Value of Equity to Book Value of Debt Nilai Ekuitas: Nilai Hutang X5.32 0. Analisis Diskriminan (Z-Score) 4.5. Analisis Diskriminan BPR Konvensional “S” Hasil perhitungan Z. yang berarti kondisi BPR Konvensional “S” perusahaan dalam keadaan “gray” sehingga sulit ditentukan apakah akan sehat atau bangkrut.06 0.2.04 0.5.73 Sumber: Diolah dari Laporan Keuangan BPR Konvensional “S” Hasil perhitungan Z-score menunjukkan bahwa selama tiga tahun nilai Z sekitar angka 1.99 maka dapat dikatakan bahwa tingkat resiko bisnis BPR tinggi yang dapat menyebabkan kepailitan dalam jangka panjang.97 0.1.SCORE 1. 4.81.42 0.2 X1 0.25 0.Umar Hamdan & Andi Wijaya 4. Analisis Diskriminan BPR Syariah “F” Hasil perhitungan Z.03 0.17 0.Score untuk BPR Konvensional “S” dapat dilihat dalam Tabel berikut: 14 Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol.Sales to Asset Ratio Penjualan: Total Aktiva Z.02 0.95 0.5.07 0.6 X4 1 X5 TOTAL 2001 0. No 7 Juni 2006 .55 2002 0.87 2003 0.04 0.98 0.20 0. Retained Earnings to Total Assets Ratio Laba ditahan: Total Aktiva X3. 4. EBIT to Total Assets Laba seb.15 1.15 0.Score untuk BPR Konvensional “S” dapat dilihat dalam Tabel berikut: Tabel 8 : Hasil Perhitungan Z-Score BPR Konvensional “S” Tahun 2001-2003 Uraian X1 Working Capital to Total Asset Ratio Modal Kerja: Total Aktiva X2.28 0.11 0. Namun karena di bawah 2.09 1.14 1.09 1.19 0.05 0.

2. Pembahasan 4.95% dan BPR Syariah “F” sebesar 37.07 2003 0. karena mendekati standar rasio ideal antara 85% s.1.16 1.08 1.14 0.68 0. Solvabilitas Rasio-rasio solvabilitas kedua BPR menunjukkan kondisi sehat.6.06 0.16 0.92%.95 0. Retained Earnings to Total Assets Ratio Laba ditahan: Total Aktiva X3.85 0.04 0.6 X4 1 X5 TOTAL 2001 0.14 0.81.04 0.88 Sumber: Diolah dari Laporan Keuangan BPR Syariah “F” Hasil perhitungan Z-score menunjukkan bahwa selama dua tahun terakhir (2002-2003) nilai Z di atas 1.2 X1 0.17 0.6. Market Value of Equity to Book Value of Debt Nilai Ekuitas: Nilai Hutang X5. Pada BPR Syariah “F” hanya sekitar 2 persen.16 2.6.03 0. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) kedua BPR di atas ketentuan minimum BI (8%).13 1. 4.31 0.51 0. 4.07 0.Sales to Asset Ratio Pendapatan: Total Aktiva Z. Namun nilai Z-score BPR Syariah “F” ini relatif lebih tinggi dibanding nilai yang dicapai oleh BPR Konvensional “S”.07 0.13 1. Demikian pula rasio antara kredit yang disalurkan dengan dana yang dihimpun (loan to deposit ratio) tahun 2002 dan 2003 cukup baik.08 1.Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah Tabel 9 : Hasil Perhitungan Z-Score BPR Syariah “F” Tahun 2001-2003 Uraian X1 Working Capital to Total Asset Ratio Modal Kerja: Total Aktiva X2.d 110% yang ditetapkan BI. 4.19 0. EBIT to Total Assets Laba seb. Rasio aktiva terhadap pinjaman menunjukkan tingkat likuiditas yang cukup memadai.22 0. sedangkan BPR Konvensional rata-rata sekitar 4 persen pertahun.97 0.02 0.09 0. Dari Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. Bunga dan Pajak: Total Aktiva X4.95 0. jauh di atas 100 persen. Likuiditas Secara umum rasio-rasio likuiditas BPR Syariah “F” relatif lebih baik dibanding BPR Konvensional “S”. CAR pada BPR Konvensional “S” tahun 2003 sebesar 23. Rasio kas terhadap kewajiban segera pada tahun 2001 dan 2003 kurang dari 100 persen.07 0.SCORE 1.02 0. No 7 Juni 2006 15 .4 X2 3 X3 0.41 0. Nonperforming Loan (kredit bermasalah) pada BPR Syariah “F” relatif lebih rendah dibanding dengan NPL BPR Konvensional “S”. yang berarti kondisi BPR Konvensional “S” perusahaan dalam keadaan “gray” sehingga sulit ditentukan apakah sehat atau akan bangkrut.52 2002 0.

Namun nilai Z BPR Syariah “F” relatif lebih tinggi dibanding BPR Konvensional “S”. 3. dan pada BPR Syariah “F” sebesar 35. Perbandingan tingkat resiko keuangan berdasarkan hasil analisis diskriminan (Z-score) menunjukkan kedua BPR berada pada posisi “gray”.73 persen. Tingkat Resiko Keuangan Perbandingan tingkat resiko keuangan/bisnis menggunakan hasil analisis diskriminan (Z-score) menunjukkan kedua BPR berada pada posisi “gray”. yang berarti resiko BPR “F” relatif lebih rendah dibanding BPR Konvensional “S”. 5.92%.37% pada tahun 2003. 4. Laba bersih terhadap pendapat operasi (NPM) cukup baik. 4.99) mengindikasikan bahwa kedua bank berada pada posisi bisnis beresiko tinggi dan bila tidak dilakukan pengelolaan bisnis secara baik dapat menyebabkan kepailitan dalam jangka panjang. di mana pada BPR Konvensional “S” sebesar 39. Laba bersih terhadap pendapat operasi (NPM) cukup baik.6. 1. dan pada BPR Syariah “F” sebesar 35.2.37% pada tahun 2003.95% dan BPR Syariah “F” sebesar 37.1. KESIMPULAN DAN SARAN 5. CAR pada BPR Konvensional “S” tahun 2003 sebesar 23. 4. Keadaan ini menunjukkan bahwa kedua BPR mampu memperoleh laba yang wajar. Namun nilai Z BPR Syariah “F” relatif lebih tinggi dibanding BPR Konvensional “S”. No 7 Juni 2006 .6. walaupun NPM BPR Syariah “F” relatif lebih rendah dibanding dengan BPR Konvensional “S”. Hal ini memberikan indikasi bahwa BPR Konvensional “S” relatif lebih efisien dalam pengelolaan dananya. Semua rasio rentabilitas kedua BPR adalah positip.score (di bawah 2. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) kedua BPR di atas ketentuan minimum BI (8%). 2.3. V.73 persen. di mana pada BPR Konvensional “S” sebesar 39.Umar Hamdan & Andi Wijaya angka tersebut ternyata rasio solvabilitas BPR Syariah relatif lebih baik dibandingkan dengan rasio solvabilitas BPR Konvensional “S. Dari angka tersebut ternyata rasio solvabilitas BPR Syariah relatif lebih baik dibandingkan dengan rasio solvabilitas BPR Konvensional “S.4. 4. Rendahnya Z. Rasio-rasio solvabilitas kedua BPR menunjukkan kondisi sehat. Kesimpulan 1. 16 Saran-Saran Upaya Mengatasi Rendahnya LDR dapat dilakukan oleh manajemen BPR dengan cara: Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. Rentabiltas Semua rasio rentabilitas kedua BPR adalah positip. walaupun NPM BPR Syariah “F” relatif lebih rendah dibanding dengan BPR Konvensional “S”. Keadaan ini menunjukkan bahwa kedua BPR mampu memperoleh laba yang wajar. Secara umum rasio-rasio likuiditas BPR Syariah “F” relatif lebih baik dibanding BPR Konvensional “S”.

Upaya mengatasi resiko keuangan dapat ditempuh manajemen BPR dengan cara sebagai berikut: 1) Membuat perencanaan likuiditas dengan sistem anggaran kas (cash flow) harian atas kemungkinan penyetoran dan penarikan oleh nasabah. sistem pemantauan dan evaluasi secara rutin terhadap rekening piutang atau kredit debitur. 4. Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. patuh dan sehat berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. perubahan budaya. baik dana dari sumber internal maupun ekternal BPR. dan perguruan tinggi. handal. who & how) agar diperoleh umpan balik bagi perbaikan kebijakan operasional BPR untuk masa datang. 2. potensi bisnis yang ada. bekerjasama dengan dinas instansi terkait. dan berdedikasi tinggi untuk mengejar proyek-proyek yang layak untuk dibiayai. 4) Melakukan alternatif pengembangan sumber pendanaan BPR. where. 5) Setiap penyimpangan dilakukan analisis 5 W + 1 H (what. yaitu dengan melakukan analisis terhadap perubahan dan dinamika kondisi lingkungan bisnis BPR dengan mengkaji indikator: ekonomi. dan sosial ekonomi serta kultur masyarakatnya. tokoh masyarakat. peta persaingan bisnis. profesional. 2) Membuat rencana kontingensi guna mengatasi kejadian yang tak terduga. why. Upaya manajemen untuk mempertahankan NPL rendah dapat dilakukan dengan cara: 1) Melakukan analisis kredit secara baik dan benar 2) Sistem dokumentasi kredit yang handal. No 7 Juni 2006 17 . 3. 3) Pengendalian dan pengawasan kredit. 4) Penyaluran kredit secara kelompok dengan sistem tanggung renteng bagi para debiturnya. when. pebisnis. dan situasi politik dan keamanan. 4) Manajemen memberikan perhatian khusus terhadap adanya penyimpangan (management by exception) yang terjadi. 6) Pembinaan terhadap debitur usaha kecil dan mikro. 5) Penerapan reward system yang dapat memotivasi para account officer dan analis kredit untuk lebih giat dalam “menjemput” calon debitur yang potensial dan layak untuk dibiayai. kredit investasi. 3) Melakukan analisis terhadap biaya dana dan penentuan bunga kredit atau beban bagi hasil yang akan ditetapkan atas kredit konsumsi. dan kredit modal kerja. jujur. 2) Tenaga account officer harus mengenal wilayah kerjanya dengan baik. 3) Kebijakan pemberian kredit yang prudential (hati-hati).Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah 1) BPR harus memiliki tenaga account officer yang memadai jumlahnya.

Iman Syahputra Tunggal. Stephen. Westerfield. Prentice Hall Inc. Peraturan Perbankan di Indonesia tahun 19911997. Tesis. D. Wijaya. USA -------------. and Jordan Corporate Finance. Juli 2005. 1998. Inc Financial Institutions Management. G. Fourth Edition. Andrew.1994. Anthony. Jakarta. USA. and Coleman A. Prentice Hall Inc. 1994. Jakarta: Penerbit Harvarindo.Umar Hamdan & Andi Wijaya DAFTAR PUSTAKA Emery. 4. No 7 Juni 2006 . 48 (2):487-512. Randolph. Raja Grafindo Persada. Sinar Grafika Jakarta. UU No. Fundmentals of Ross. 2005. Manajemen Perbankan. Bank Management Text and Cases. Buku 2. Hempel. Andi. Palembang. 1998. USA: John Wiley & Sons. 18 Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. Peluang & Tantangan Akuntansi & Lembaga Keuangan Syariah. 2003. Analisis Laporan Keuangan Bank Perkreditan Rakyat di Sumatera Selatan (Studi kasus BPR Konvenrsional dan BPR Syariah). Stephen. 1993.G. Undang-Undang Perbankan. PT.B. Journal of Finance. Simonson.MM. USA: Richard D. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 1992 tentang BPR. USA. Irwin. 2002. Program Studi MM Unsri. --------------. Winton. SE. Prentice Hall Inc. Saunders. 10 tahun 1988. dkk. Corporate Financial Management. Corporate Finance. Kashmir. “ Limitation of Liability and the Ownership Structure of the Firm.”. Inc. Prosiding Seminar Nasional IAI & FE Unsri. Douglas R. NY. Fakhrurozi. D. Ross.H. & Finnerty.

4. No 7 Juni 2006 19 .Analisis Komparatif Resiko Keuangan BPR Konvensional dan BPR Syariah Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful