Anda di halaman 1dari 21

PRESENTASI KASUS

Tanggal masuk RSUD Jam

: 31 Januari 2011 : 15.00 wib

I. Identifikasi y y y y y y y Nama Umur Agama Pendidikan Alamat Pekerjaan Pekerjaan ayah : Nn. W F : 21 thn : Islam : SMA : Kp. Penauan - Ciwandan : Mahasiswa : Buruh

2. Keluhan y Utama : Os mengeluh perut bawah terasa nyeri dan panas Sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit

Tambahan

: Os mengeluh suka pegal-pegal di pinggang dari 2 Bulan yang lalu, sulit BAB, BAK terasa nyeri, mual dan muntah (+).

3. Riwayat Haid y y y y Menarche Siklus Haid Jumlah Lama : 11 tahun : 28 hari, tidak teratur : 3x ganti pembalut : 8-9 hari

4. Riwayat Perkawinan Os belum menikah

5. Riwayat Kehamilan 6. Riwayat Penyakit Terdahulu Pasien menyangkal memiliki riwayat darah tinggi, kencing manis, penyakit jantung, ginjal dan asma.

7. Riwayat Penyakit Keluarga Pasien mengaku dalam keluarga tidak ada yang memiliki riwayat penyakit darah tinggi, kencing manis, penyakit jantung, ginjal dan asma di keluarganya.

8. Riwayat Kontrasepsi Pemeriksaan Fisik, 31 Januari 2011 1. Status Present Keadaan umum Kesadaran Tek. Darah Nadi Pernafasan Suhu : Baik :Compos mentis :110/80 mmHg : 80x/menit : 20x/menit : 36,00C

2. Status Generalis Mata Leher Jantung : konjungtiva anemis (-) dan sklera ikterik (-) : tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening : Ictus cordis tidak teraba dan tidak terlihat Bunyi jantung I-II reguler, murmur dan gallop (-) Paru : SN vesikuler, rhonki (-), wheezing (-)
2

3. Status Obstetri Pemeriksaan Luar Abdomen : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Pemeriksaan Dalam Inspeksi : fluksus (-), fluor (-), vulva dan vagina tidak ada kelainan : tidak terlihat adanya pembesaran abdomen : nyeri tekan pada perut bagian bawah (+) : WD (-) : Peristaltik (+) normal

Inspekulo : fluksus (-),fluor (-), vulva dan vagina tidak ada kelainan, portio : lividae (-), licin, OUE tertutup

4. Pemeriksaan Laboratorium Hemoglobin Leukosit Hematokrit Trombosit Golongan darah : 12,8 g/dl : 10.390 /l : 39,6% : 316.000 /l : O rh (+)

Diagnosis Endometriosis

Differensial Diagnosa

Adenomiosis uteri Kehamilan ektopik PID Kista ovarium

Penatalaksanaan

Observasi TTV IVFD RL 20 tpm

FOLLOW UP 31 Januari 2011 Pukul. 019.00 TD : 110/80 mmhg N : 80 x/menit

RR : 20 x/menit S : 36,0 o C

Palpasi abdomen : lemas, tidak teraba adanya masa. Nyeri tekan(+) A/ Endometriosis Sikap: Observasi TTV IVFD RL 20 tpm

01 februari 2011 Pukul 06.30 TD : 110/80 mmhg N : 82 x/menit

RR : 24 x/menit S : 36,5 C

Palpasi abdomen : lemas, tidak teraba adanya massa.Nyeri tekan (+) A/ Endometriosis Sikap: Observasi TTV IVFD RL 20 tpm P/ Pro laparotomi

Tanggal 01-02-2011 dilaksanakan operasi KU pre-OP : Baik, CM, TD : 110 /80 mmHg, N 82 x/menit, R 24 x/menit, S 36,5 C Diagnosa pre-Op : kista coklat (endometriosis)
4

Jenis Operasi : Laparotomi + wedge resection + konservasi tuba Laporan Operasi : 1. Penderita dibaringkan terlentang diatas meja operasi dilakukan general anastesi 2. Dilakukan tindakan aseptic dengan antiseptic pada daerah operasi 3. Lapangan operasi dipersempit dengan duk steril 4. Incisi mediana inferior pada abdomen sepanjang 10 15 cm. incise di

perdalam sampai ke peritoneum, peritoneum dibuka, dilakukan eksplorasi laparatomi:

Tuba, ovarium sinistra dan dextra dalam batas normal Uterus dalam batas normal Ovarium dextra tampak jaringan dengan diameter kurang lebih 2 cm, cokelat, kenyal, batas tegas, diklem, digunting dan dijahit.

5. Kavum abdomen dibersihkan dari sisa-sisa darah. 6. Dinding abdomen ditutup lapis dem i lapis sampai kulit. 7. Luka operasi ditutup dengan kasa betadine 8. Operasi Selesai KU Post operasi : TD 100/80 mmHg, N 82x/menit, R 20 x/menit, S 36,5 C Perdarahan 200 cc Diuresis : 500 cc Sikap : Kontrol tekanan darah, nadi, respirasi, suhu Puasa sampai os sadar Infuse RL Cek Hb post op. jika Hb < 10 gr % maka dilakukan transfusi Balance cairan Biocef inj 1x2 gram drip NS 100 cc Vit B comp 2x2 cc IM Vit C inj 2x1 amp IV Alinamin F inj 2x1 amp IV Ketorolak inj 3x1 amp IV

Follow up 01-02-11 S : Nyeri pada bekas luka operasi O : Ku Baik, kesadaran CM Conj. An -/-, si -/Abdomen : Inspeksi : datar, luka operasi tertutup verband, perembesan ( -) Auskultasi : peristaltic usus (+), flatus (+) Diuresis : 500 cc Hb : 12,8 g/dl Leukosit : 10.390 TD : 110/80 mmHg N : 75 x/menit R : 22 x/menit S : 36,3 C A : post laparotomi + wedge resection + konservasi tuba a.i kista coklat (endometriosis) P : Th/ inj. Dilanjutkan Observasi T, N, R, S 02-02-11 S : nyeri bekas op O: TD :110/60 mmHg N: 82x/menit R: 22x/menit S: 37,0 oC A : post laparotomi + wedge resection + konservasi tuba a.i kista coklat (endometriosis) P : Th/ inj. Lanjutkan

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang, insiden dan epidemiologi

Endometriosis adalah suatu keadaan dimana jaringan endometrium yang masih berfungsi terdapat diluar kavum uteri. Jaringan ini yang terdiri atas kelenjar
6

kelenjar dan stroma, terdapat didalam moimetrium atau pun diluar uterus. Bila jaringan endometrium terdapat didalam miometrium disebut adenomiosis, dan bila diluar uterus disebut endometriosis. Prevalensi endometriosis cenderung meningkat setiap tahun, walaupun data pastinya belum dapat diketahui. Menurut jacoeb (2007), angka kejadian di Indonesia belum dapat diperkirakan karena belum ada studi epidemiologic, tapi dari data temuan dirumah sakit angkanya berkisar 13,6 %- 69,5% pada kelompok infertilitas. Bila presentase tersebut dikaitkan dengan jumlah penduduk sekarang, maka di negara ini akan ditemukan sekitar 13 juta penderita endometriosis pada wanita usia produktif. Kaum perempuan tampaknya perlu mewaspadai penyakit yang seringkali ditandai dengan nyeri hebat pada saat haid ini. Penyebab endometriosis dapat disebabkan oleh kelainan genetic, gangguan system kekebalan yang

memungkinkan sel endometrium melekat dan berkembang, serta pengaruh pengaruh dari lingkungan. Sumber lain menyebutkan bahwa pestisida dalam makanan dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon. Faktor faktor

lingkungan seperti pemakaian wadah plastic, microwave, dan alat memasak dengan jenis tertentu dapat menjadi penyebab endometriosis (wood, 2008 b). Penyakit endometriosos umumnya muncul pada usia reproduktif. Angka kejadian endometriosis mencapai 5-10% pada wanita umumnya dan lebih dari 50% terjadi pada wanita perimenopause. Gejala endometriosis sangat tergantung pada letak sel endometrium ini berpindah. Yang paling menonjol adalah adanya nyeri pada panggul, sehingga hampir 71-87% kasus didiagnosa akibat keluhan nyeri kronis hebat pada saat haid, dan hanya 38% yang muncul akibat keluhan infertile. Tetapi ada juga yang melaporkan pernah terjadi pada masa menopause dan bahkan ada yang melaporkan terjadi 40% pasien histerektomi. Selain itu juga 10% endometriosis ini dapat muncul pada mereka yang mempunyai riwayat endometriosis dalam keluarganya. 1.2 permasalahan, apa penyebab dan bagaimana gejala dari penyakit endometriosis pada organ reproduksi wanita tersebut. 1.3 Tujuan untuk mengetahui penyebab dan gejala yang ditimbulkan oleh penyakit endometriosis pada organ reproduksi wanita.

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi endometriosis adalah suatu keadaan dimana jaringan mirip dengan dinding rahim (endometrium) ditemukan ditempat lain dalam tubuh (smeltzer 2001). Endometriosis juga dapat berupa suatu keadaan dimana jaringan

endometrium yang masih berfungsi terdapat diluar kavum uteri dan diluar miometrium (prawirohardjo, 2008). Definisi lain yaitu terdapatnya kelenjarkelenjar dan stroma endometrium pada tempat-tempat diluar rongga rahim.

2. Etiologi Teori penyebab endometriosis yang dinyatakan para ahli sebagai berikut (wood, 2008a): y Metaplasia yaitu perubahan dari satu tipe jaringan normal menjadi tipe jaringan normal lainnya. Beberapa jaringan endometrium memiliki kemampuan dalam beberapa kasus untuk menggantikan jenis jaringan lain diluar rahim. Beberapa peneliti percaya hal ini terjadi pada embrio, ketika pembentukan rahim pertama. Lainnya percaya bahwa beberapa sel dewasa

mempertahankan kemampuan mereka dalam tahap embrionik untuk berubah menjadi jaringan reproduksi. y Menstruasi mundur dan transplantasi (Sampson 1920),

mengatakan bahwa aliran menstruasi mundur mengalir melalui saluran tuba dan tersimpan pada organ pan ggul dan tumbuh menjadi kista. Namun ada sedikit bukti bahwa sel-sel

endometrium dapat benar-benar melekat dan tumbuh ke organ panggul perempuan. y Predisposisi genetic penelitian telah menunjukan bahwa wanita dengan riwayat keluarga menderita endometriosis lebih mungkin untuk terkena penyakit ini, dan ketika diturunkan maka penyakit ini cenderung menjadi lebih buruk pada generasi berikutnya.
8

Pengaruh lingkungan, beberapa studi telah menunjukan bahwa factor lingkungan dapat menjadi kontributor terhadap

perkembangan endometriosis, khususnya senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik, memiliki efek pada hormone - hormon reproduksi dan respon system kekebalan tubuh, walaupun teori ini tidak terbukti dan masih controversial.

3. Anatomi dan Histologi Anatomi Endometrium berupa membrane tipis, berwarna merah muda, menyerupai beludru. Tebal endometrium sangat bervariasi, yaitu dari 0,5 mm sampai 5 mm. endometrium terdiri dari epitel permukaan, kelenjar, dan jaringan mesenkim antar kelenjar yang mengandung banyak pembuluh darah. Epitel permukaan endometrium terdiri dari selapis sel torak tinggi, bersilia dan tersusun rapat. Kelenjar kelenjar uetrina yang berbentuk tubular merupakan invaginasi

epitel, yang dalam keadaan istirahat menyerupai jari-jemari dari sebuah sarung tangan. Kelenjar-kelenjar tersebut terbentang diseluruh ketebalan endometrium hingga miometrium. Jaringan ikat endometrium diantara epitel permukaan dan miometrium adalah stroma mesenkim. Segera setelah menstruasi, stroma terdiri dari sel-sel yang tersusun rapat dengan nucleus berbentuk oval dan kumparan, dengan sitoplasma yang sangat sedkit. Darah arteri dibawa keuterus melalui arteri-arteri uterina dan ovarium. Setelah menembus dinding uterus dengan arah menyilang dan mencapai sepertiga tengah kedalamannya, cabang cabang arteri berhubungan satu sama lain pada suatu lapisan yang sejajar dengan permukaan uterus, dan karenanya pembuluh darah ini disebut arteri arkuata(DuBose dkk, 1985).

dial. Pada wanita diperkirakan terdapat banyak polikel. Tiap bulan satu folikel, kadang-kadang dua folikel, berkembang menjadi folikel de graaf. Folikel-folikel ini merupakan bagian ovarium yang terpenting, dan dapat ditemukan di korteks ovarii dalam letak yang beraneka ragam, dan pula dalam tingkat tingkat perkembangan dari satu sel telur yang dikelilingi oleh

satu lapisan sel-sel saja sampai folikel de graaf yang matang. Folikel yang matang ini terisi dengan likuour folikuli yang mengandung estrogen, dan siap untuk berovulasi. 4. Gambaran mikroskopik Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan ciri-ciri khas bagi endometriosis, yakni kelenjar-kelenjar dan stroma endometrium dan perdarahan bekas dan baru berupa eritrosit, pigmen hemosiderin, dan sel-sel makrofag berisi hemosiderin. Disekitarnya tampak sel-sel radang dan jaringan ikat, sebagai reaksi dari jaringan normal disekelilingnya (endometriosis). Jaringan endometriosis seperti juga jaringan endometrium di dalam uterus, dapat dipengaruhi oleh estrogen dan progesterone. Akan tetapi besarnya pengaruh tidak selalu sama, dan tergantung dari beberapa factor, antara lain dari komposisi endometriosis yang bersangkutan (apakah jaringan kelenjar atau stroma yang lebih banyak), dari reaksi jaringan normal disekitarnya dan sebagainya. Sebagai akibat dari pengaruh hormone-hormon tersebut, sebagian besar sarang-sarang endometriosis berdarah secara periodic.

10

Perdarahan yang periodic ini menyebabkan reaksi jaringan sekelilingnya berupa radang dan perlekatan. Pada kehamilan dapat ditemuakn reaksi desidual jaringan endometriosis. Apabila kehamilannya berakhir, reaksi desidual menghilang disertai dengan regresi sarang endometriosis, dan dengan membaiknya keadaan. Pengaruh baik dari kehamilan kini menjadi dasar pengobatan endometriosis dengan hormone untuk mengadakan apa yang dinamakan kehamilan semu (pseudopregnancy). Secara mikroskopik endometriosis merupakan suatu kelainan yang jinak, akan tetapi kadang-kadang sifatnya seperti tumor ganas.

5. Patofisiologi. Lokasi yang sering terdapat ialah ovarium, dan biasanya didapat pada kedua ovarium. Pada ovarium tampak kista biru kecil sampai kista besar (kadangkadang sebesar tinju) berisi darah tua menyerupai coklat (kista coklat). Darah tua dapat keluar sedikit-sedikit karena luka pada dinding kista, dan dapat menyebabkan perlengketan antara permuakaan ovarium dengan uterus, sigmoid dan dinding pelvis. Kista coklat kadang -kadang dapat mengalir dalam jumlah banyak kedalam rongga peritoneum Karena robekan dinding kista, dan menyebabkan acute abdomen. Tuba pada endometriosis biasnya normal. Pada salah satu atau kedua ligamentum sakrouterin, pada kavum douglasi, dan pada permukaan uterus sebelah belakang dapat ditemukan satu atau beberapa bintik sampai benjola-benjolan kecil yang berwarna kebiruan. Juga pada permukaan sigmoid atau rectum sering kali ditemukan benjolan berwarna kebiru-biruan ini. Akibat perdarahan dari jaringan endometriosis, mudah sekali terjadi perlengketan antara alat-alat sekitar kavum douglas.

6. Gambaran klinis Gejala-gejala yang sering ditemukan pada penyakit ini ialah nyeri perut bawah yang progresif dan dekat dengan paha yang terjadi pada dan selama
11

haid (dismenorea) atau sesuadha menstruasi, selama ovulasi, dalam usus selama menstruasi, ketika buang air kecil serta gejala lain mungkin dapat terjadi adalah sembelit (khususnya dalam kaitannya dengan menstruasi). Dispareunia, nyeri pada waktu defekasi, poli dan hipermenore, infertilitas. Disnmenore pada endometriosis biasanya nyeri pada waktu haid yang semakin lama semakin menghebat. Sebab dari dismenore ini tidak diketahui, tetapi mungkin ada hubungannya dengan vaskularisasi dan perdarahan dalam sarang endometriosis pada waktu sebelum dan semasa haid. Nyeri tidak selalu didapatkan pada endometriosis walaupun kelainan sudah luas, sebaliknya kelainan ringan dapat menimbulkan gejala nyeri yang keras. Dispareunia merupakan gejala yang sering dijumpai, disebabkan oleh karena adanya endometriosis di kavum douglasi. Defekasi yang sukar dan sakit terutama pada saat haid, disebabkan oleh karena endometriosis pada dinding rektosigmoid. Kadang-kadang bisa terjadi stenosis dari lumen usus besar tersebut. Endometriosis kandung kencing jarang terdapat, gejalanya ialah gangguan miksi dan hematuria pada saat haid. Gangguan haid dan siklusnya dapat terjadi pada endometriosis apabila kelainan pada ovarium demikian luasnya sehingga fungsi ovarium terganggu. Ada korelasi yang nyata antara endometriosis dengan infertilitas. 30-40 % wanita dengan endometriosis mengalami infertilitas. Factor penting yang menyebabkan infertilitas pada endometriosis adalah apabila mobilitas tuba terganggu karena fibrosis dan perlekatan jaringan disekitarnya.

7. Diagnosis Diagnosis biasanya dibuat atas dasar anamnesis dan pemeriksaaan fisik, dipastikan dengan pemeriksaaan laparaskopi. Pada endometriosis yang di temukan pada lokasi seperti forniks vaginae posterior, perineum, parut laparatomi, biopsy dapat member kepastian mengenai diagnosis. Pembuatan foto rontgen dengan memasukan barium dalam kolom dapat memberi gambaran dengan filling defect pada rektosigmoid dengan batas-batas jelas dan mukosa yang utuh. Laparoskopi merupakan
12

pemeriksaan yang sangat berguna untuk membedakan endometriosis dari kelainan-kelainan di pelvis. Kriteria Diagnosis : 1. Melihat topografi ovarium tidak mungkin untuk dilakukan deteksi dini dan dapat menjadi besar tanpa disadari oleh pasien dan karena tidak timbulnya gejala 2. Pemeriksaan ginekologi dan palpasi abdominal tidak teraba adanya masa tetapi nyeri tekan (+) 3. Diagnosis pada pasien ini didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik (pemeriksaan ginekologis), pemeriksaan penunjang (USG) dan laparotomi eksploratif

8. Pemeriksaan penunjang USG pada kista endometriosis menunjukan karakteristik yang difuse, low level echoes pada endometrium, yang memberikan gambaran yang padat. Laproskopi Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari ovarium atau tidak, serta untuk menetukan siat-sifat tumor itu. 9. Diagnosis banding Inflamasi Pelvic (PID) Pada pemeriksaan endovaginal sonogram, memperlihatkan secara relative pembesaran ovarium kiri (pada pasien dengan keluhan nyeri). Adenomiosis uteri Adenomiosis uteri menimbulkan gejala yang mirip dengan endometriosis yaitu dismenore, dispareunia dan rasa berat diperut bawah terutama dalam masa prahaid.

Kehamilan Ektopik

13

Pada pemeriksaan endovaginal sonogram memperlihatkan ring sign pada tuba, dengan dinding yang tebal disertai cairan yang bebas disekitarnya. Tidak ada pembuahan intrauterine kista ovarium kista ovarium dengan endometriosis ovarii dapat menimbulkan kesukaran dalam diagnosis diferensial, kista ovarium yang besar dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dalam perut dan dapat menekan vesica urinaria sehongga terjadi ketidak mampuan untuk mengosongkan kandung kemih secara sempurna. 10. Penatalaksanaan Terdiri dari pencegahan, pengawasan saja, terapi hormonal, pembedahan, dan radiasi. Pencegahan Meigs berpendapat bahwa kehamilan adalah cara pencegahan yang paling baikuntuk endometriosis. Gejala-gejala endometriosis memang berkurang atau hilang pada waktu dan sesudah kehamilan karena regresi endometrium dalam sarang-sarang endometriosis. Tidak memunda perkawinan dan mempunyai anak merupakan profilaksis yang baik terhadap endometriosis dan menghindari terjadinya infertilitas sesudah endometriosis timbul . Selain itu jangan melakukan kerokan pada saat haid, oleh karena hal itu dapat menyebabkan mengalirnya darah haid dari uterus ke tuba dan ke panggul. Observasi dan pemberian analgetik Pengobatan ekspektatif ini akan berguna bagi wanita-wanita dengan gejala dan kelainan fisik yang ringan. Pada wanita yang sudah agak berumur pengawasan bias dilanjutkan samapai menopause, karena sesudah itu gejalagejala endometriosis hilang sendiri. Pada observasi dialkukan pemeriksaan secara periodic dan teratur untuk meneliti perkembangan penyakitnya dan jika perlu mengubah sikap ekspektatif. Dalam masa observasi ini dapat diberi pengobatan paliatif berupa pemberian analgetika untuk mengurangi rasa nyeri. Pengobatan hormonal Dasar dan prinsip terapi
14

Sebagai

dasar

pengobatan dan fungsi

hormonal jaringan

endometriosis

ialah

bahwa jaringan

pertumbuhan

endometriosis,

s eperti

endometrium yang normal, dikontrol oleh hormone-hormon steroid. Hal ini didukung oleh data klinik maupun laboratorium. Data klinik tersebut ialah: Endometriosis sangat jarang timbul sebelum menarce Menopause, baik alami maupun karena pembed ahan, biasanya

menyebabkan kesembuhan, Sangat jarang terjadi kasus endometriosis baru setelah menopause, kecuali jika ada pemberian estrogen eksogen. Data laboratorium menunjukan bahwa jaringan endometriosis pada umumnya mengandung reseptor estrogen, progesterone, dan androgen. Pada percobaan dengan model endometriosis pada tikus dan kelinci, estrogen merangsang pertumbuhan jaringan endometriosis, androgen menyebabkan atrofi, sedang pengaruh progesterone masih controversial. Progesterone sendiri mungkin merangsang pertumbuhan endometriosis, namun progesterone sintetik yang umumnya mempunyai efek androgenic tampaknya menghambat pertumbuhan endometriosis. Atas dasar tersebut diatas, prinsip pertama pengobatan hormoal

endometriosis adalah menciptakan lingkungan hormone rendah estrogen dan asiklik. Kadar estrogen yang rendah menyebabkan atrofi jaringan

endometriosis, keadaan yang asiklik mencegah terjadinya haid, yang berarti tidak terjadi pelepasan jaringan endometrium yang normal maupun jaringan endometriosis. Dengan demikian dapat dihindari timbulnya sarang

endometriosis yang baru karena transport retrograde jaringan endometrium yang lepas serta mencegah pelepasan dan perdarahan jaringan

endometriosis yang menimbulkan rasa nyeri karena rangsangan peritoneum. Androgen Pemakaian androgen untuk terapi endometriosis pertama kali dilaporkan oleh Hirst pada tahun 1947. Preparat yang diapaki adalah metiltestoteron sublingual. Keberatan pamakaian androgen adalah:

15

Timbulnya efeksamping yang maskulinisasi terutama pada dosis melebihi 300 mg perbulan atau pada terapi jangka panjang, Masih mungkin terjadi ovulasi, atau kehamilan selama terapi, terutama dosis 5 mg perhari. Bila terjadi kehamilan, terapi segera dihentikan karena androgen dapat menimbulkan cacat bawaan pada janin. Meskipun pamakaian androgen tidak popular, namuan pada keadaankeadaan tertentu androgen masih dapat diberikan. Pertama, untuk terapi endometriosis stadium dini dengan gejala menonjol: nyeri atau dispareuni. Efek androgen lain yang mneguntungkan untuk terapi dispareuni adalah dapat libido. Kedua, untuk membantu menegakan diagnosis. Jika rasa nyeri disebabkan endometriosis, maka baisanya nyeri tersebut akan berkurang atau hilang setelah pengobatan dengan androgen Selama satu bulan. Estrogen-progesteron Penggunaan kombinasi estrogen-progesteron yang dikenal denagn

pseudopregnancy pertama kali dilaporkan oleh Kist ner tahun 1962. Berdasarkan prinsip terapi yang telah diuraikan, pil kontrasepsi yang dipilih sebaiknya yang mengandungestrogenrendah dan mengandung progesterone yang kuat atau yang mempunyai efek endrogenik yang kuat. Pada saat ini, norgestrel dianggap sebagai preparat progesterone yang potendan

mempunyai efek androgenic yang paling kuat. Terapi standar yang dianjurkan adalah 0,03 mg etinil estradiol dan 0,3 mg norgestrel perhari. Danazol Danazol adalah turunan isoksazol dari 17 alfa etinil testosterone. Danazol menimbulkan keadaan asiklik, androgen tinggi dan estrogen rendah. Kadar androgen meningkat disebabkan oleh: y y Danazol pada dasarnya bersifat androgenic (agonis androgen); Danazol mendesak testosterone sehingga terlepas dari ikatannya dengan SHGB, sehingga kadar testosterone bebas meningkat. Kadar estrogen rendah disebabkan oleh: y Danazol menekan sekresi GnRH, LH, dan FSH sehingga dapat menghambat pertumbuhan folikel

16

Danazol menghambat kerja enzim-enzim steroidogenesis difolikel ovarium sehingga produksi estrogen menurun.

Pada umumnya, endometrioma memerlukan tindakan pembedahan. Danazol dapat mengurangi ukuran endometrioma, namun sangat jarang menyebabkan regresi yang sempurna. Rekurensi keluhan dan gejala setelah pengobatan Danazol sebesar 5-20% pertahun. Pengobatan dengan pembedahan Harus selalu diingat bahwa adanya jaringan ovarium yang berfungsi merupakan syarat mutlak untuk tumbuhnya endometriosis. Oleh karena itu pada waktu melakukan pembedahan, harus dapat menentukan apakah fungsi ovarium harus diperthanakan dan bila fungsi ovarium dapat dihentikan. Sudah jelas bahwa fungsi ovarium harus diperthanakan pada endometriosis yang dini, pada endometriosis yang tidak memberikan gejala, dan pada endometriosis wanita muda dan yang masih ingin punya anak. Sebailknya fungsi ovarium dihentikan apabila endometriosis sudah mengadakan penyerbuan yang luas dalam pelvis, khususnya pada wanita yang berusia lebih lanjut. Sebaiknya dalam melakukan pengobatan endometriosis kita bersikap konservatif berdasarkan atas fakta-fakta sebagai berikut: Endometriosis umumnya menjalar lambat dan memerlukan waktu bertahuntahun Endometriosis bukanlah penyakit ganas dan jarang sekali menjadi ganas Endometriosis mengalami regresi pada waktu menopause. Umumnya pada terapi pembedahan yang konservatif sarang-sarang endometriosis diangkat dengan meninggalkan uterus dan jaringan ovarium yang sehat, dan perlekatan sedapat-dapatnya dilepaskan.

DISKUSI

I.

IDENTIFIKASI

17

Pasien Ny. W F 21 tahun, datang ke RSUD Cilegon pada tanggal 30 Januari 2011 pukul 15.00 dengan keluhan perut terasa nyeri dan panas sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pegal-pegal di pinggang terasa sejak 2 bulan yang lalu. Os mengaku tidak bisa BAB sejak 1 minggu yang lalu, BAK terasa sakit, mual dan munta (+). Dari anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan ginekologi dan USG pasien di diagnosis dengan kista coklat (endometriosis). Pada saat pasien dirawat pasien di observasi tanda-tanda vital, dan diberi cairan infuse, di lakukan pemeriksaan laboratorium sebelum dipersiapkan untuk dilakukan laparatomi.

II.

Permasalahan 1. Apakah penegakan diagnosis pada kasus ini sudah tepat? 2. Apakah penatalaksanaan penderita ini sudah tepat? 3. Bagaimana prognosis pada pasien ini?

III.

ANALISA KASUS 1. Apakah penegakan diagnosis pada kasus ini sudah tepat? Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang maka diagnosis awal pasien ini adalah kista coklat (endometriosis). Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan :

Anamnesis: - menoragia - dismenora - Nyeri perut (+)

Pemeriksaan fisik dan penunjang: - Abdomen : Inspeksi : tidak ada pembesaran abdomen Palpasi : lemas, tidak teraba massa, Nyeri tekan (+) - USG : tidak dilakukan
18

Kista coklat (endometriosis) ini di diagnosis banding dengan 1. Adenomiosis uteri menimbulkan gejala yang mirip dengan endometriosis yaitu dismenore, dispareunia dan rasa berat diperut bawah terutama dalam masa pra haid. 2. Inflamasi Pelvic (PID) Penyakit radang pelvic yang ditemukan paling banyak pada usia 15-24 tahun. Gejala klinisnya dapat berupa nyeri perut, nyeri saat koitus, saat batuk, mengejan atau bersin. 3. Kehamilan Ektopik Yaitu kehamilan dengan ovum yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh tidak ditempat yang normal. Implantasi bisa di tuba fallopii, uterus , ovarium, intraligamenter, abdominal, kombinasi kehamilan dalam dan luar uterus. 4. Apendisitis akut Keluhan pada apendisitis akut yaitu nyeri tekan pada perut bagian bawah merupakan salah satu diagnosis deferensial karena sifat endometriosis sendiri bisa ada pada jaringan tersebut.

2. Apakah penatalaksanaan penderita ini sudah tepat? Pencegahan yang paling baik menurut meigs adalah dengan kehamilan. Pada kasus yang lebih ringan penanganan terhadap endometriosis dapat dicoba dengan berbagai terapi diantaranya observasi dan pemberian analgetika, terapi hormonal, dan yang paling akhir adalah tindakan pembedahan. Pada kasus ini dilakukan tindakan operatif laparotomi + wedge resection + konservasi tuba. Pada
19

tindakan operatif ini perlu diperhatikan juga fungsi dari ovarium, apakah pasien masih ingin punya anak atau tidak.

3. Bagaimana prognosis pada pasien ini? Prognosis endometriosis tidak mengarah terhadap suatu perburukan, dikarenakan bukan suatu keganasan, tetapi sifat dari endometriosis yang dapat menyebar keseluruh bagian tubuh kadang-kadang dianggap sebagai suatu keganasan.

KESIMPULAN

Endometriosis adalah terdapatnya suatu jaringan endometrium fungsional diluar kavum uterus. Penyebab utama endometriosis belum apat dipastikan, akan tetapi kemungkinan dapat disebabkan oleh aliran menstruasi mundur, predisposisi genetic, ,metaplasia, maupun pengaruh dari pencemaran lingkungan. Gejala endometriosis yang dapat dirasakan oleh penderita yaitu antara lain berupa nyeri haid dan nyeri saat berhubungan badan. Penanganan endometriosis dapat dilakukan dengan terapi medic seperti pemberian progestin, danazol, GnRH agonis, dan microguinon. Sedangkan terapi

pembedahan dilakukan dengan laparoskopi melalui pelepasan perlekatan, merusak jaringan endometriotik, rekontruksianatomis sebaik mungkin, mengangkat kista, dan melenyapkan implantasi dengan sinar laser atau elektrokauter.

20

DAFTAR PUSTAKA

1. De Jong, W., Tumor Ovarium dalam Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC. 2003:729-730 2. Kumar, Robins. Ovarium dalam Buku Ajar Patologi II Edisi 4. Jakarta: EGC.2002 : 390 -393 3. Kistoma Ovari. [online]. 2007. [cited 2007 Des. 12]. Available from: URL:http://www.google.com 4. Marrinan G., Ovarian Cysts, Radiology>Obstetric/Gynecologic. [online]. 2007. [cited 2007 Des. 05] Available from: http://www.emedicine./com. 5. Prawirohardjo,Sarwono. Ilmu Kandungan. Edisi kedua. Jakarta. Penerbit Bina Pustaka.2005 6. Rasad S., Ultrasonografi dalam Radiologi Diagnostik Edisi Kedua, editor: ekayuda I. Jakarta: FKUI 2005:453-455

21