P. 1
PROGRES REVITALISASI PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO DI INDONESIA, 2011

PROGRES REVITALISASI PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO DI INDONESIA, 2011

|Views: 595|Likes:
Dipublikasikan oleh MEDIA DATA RISET, PT
Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan Indonesia yang memiliki potensi cukup besar dengan areal perkebunan dan produksinya cenderung terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan pada 2010, Indonesia menduduki posisi kedua menggeser Ghana sebagai produsen biji kakao dunia setelah Pantai Gading. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian sejak 2009 hingga 2011 merevitalisasi kebun kakao yang sudah tua dengan anggaran sebesar Rp13,7 triliun. Pemerintah juga melakukan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional (Gernas), dalam rangka percepatan peningkatan produktivitas tanaman dan mutu kakao, terdiri dari peremajaan, rehabilitasi, dan intensifikasi tanaman kakao rakyat dengan teknologi terkini.
Dengan luas areal 1,7 juta ha, produksi kakao Indonesia saat ini mencapai 800 ton lebih. Namun produksi yang melimpah itu, tidak dibarengi dengan peningkatan industri pengolahannya. Sekitar 80% produksi kakao diekspor dalam bentuk biji. Sementara, industri olahan domestik kesulitan mendapatkan bahan baku, kalaupun ada harganya cukup tinggi. Kondisi ini membuat industri olahan di dalam negeri menghentikan operasi pabriknya. Dari sebanyak 15 pabrik yang ada, pada awal 2010 hanya tersisa 5 pabrik yang beroperasi.
Berdasarkan Peraturan Menteri keuangan No. 67/PMK.011/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar, ekspor biji kakao dikenakan “Bea Keluar” mulai 1 April 2010. Bea keluar kakao diberlakukan berjenjang mengikuti perkembangan harga di pasar dunia. Semakin tinggi harga kakao, tarif bea keluar semakin besar. Biji kakao tidak dikenakan BK jika harga di pasar dunia kurang dari US$2.000 per ton. Namun jika harga berkisar US$2.000-US$2.750 per ton, BK ditetapkan 5%, dikenakan BK 10% apabila harga berkisar US$2.750 – US$3.500 per ton, dan 15% jika harga biji kakao di atas US$3.500 per ton.
Pembahasan dalam buku studi ini selain meliputi perkembangan kinerja produksi kakao nasional dan dunia, juga membahas kondisi dan permasalahan yang dihadapi industri pengolahan biji kakao di dalam negeri, meliputi aspek pemasaran, kebijaksanaan pemerintah, analisa strategis, dan resiko yang dihadapi industri kakao. Terakhir disajikan peluang dan prospek industri kakao di dalam negeri, termasuk untuk sektor perbankan serta direktori industri kakao.
Kami berharap, buku studi ini akan bermanfaat bagi kalangan bisnis terutama para pengambil keputusan di sektor industri kakao serta bagi kalangan bisnis yang terkait secara langsung maupun tidak langsung seperti industri makanan & minuman dan sektor perbankan. Laporan ini juga bermanfaat bagi para investor atau calon investor yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan yang aktif di bisnis kakao di Indonesia.

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Ruang Lingkup
1.3. Sumber Informasi

2. PENDUDUK DAN GAMBARAN UMUM EKONOMI INDONESIA
2.1. Populasi Penduduk Indonesia
2.1.1. Laju pertumbuhan penduduk secara nasional
2.1.2. Pertumbuhan penduduk berdasarkan provinsi
2.1.3. Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur
2.1.4. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Indonesia
2.2. Gambaran Umum Ekonomi Indonesia
2.2.1. Pertumbuhan ekonomi 2009 lampaui target
2.2.2. Laju Ekonomi 2010 Diproyeksi 5.5%
2.2.3. Berpeluang direvisi
2.2.4. Ekonomi kuartal II tumbuh 6,2%
2.2.5. Laju inflasi
2.2.6. 2010 Capai 6,96%
2.2.7. Kenaikan TDL 15% Lebih
2.2.8. Pendapatan Per Kapita Indonesia
2.2.9. Kurs Rupiah
2.2.10. Cadangan Devisa
2.3. Neraca Transaksi Berjalan
2.3.1. Utang luar negeri baru US$18 miliar
2.3.2. Tendensi bisnis naik
2.4. Undang-Undang APBN 2011 Disahkan
2.5. Asumsi Defisit Meleset

3. KONDISI BAHAN BAKU INDUSTRI KAKAO
3.1. Deskripsi
3.2. Bahan Baku Industri Kakao
3.3. Karakteristik Perkebunan Kakao
3.3.1. Padat Karya
3.3.2. Harga
3.3.3. Perawatan Intensif
3.3.4. Musim Perawatan
3.3.5. Komoditas Ekspor
3.3.6. Pengolahan di Dalam Negeri
3.4. Syarat Tumbuh Kakao
3.5. Bahan Tanaman
3.6. Jenis Kakao
3.6.1. Kakao M
Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan Indonesia yang memiliki potensi cukup besar dengan areal perkebunan dan produksinya cenderung terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan pada 2010, Indonesia menduduki posisi kedua menggeser Ghana sebagai produsen biji kakao dunia setelah Pantai Gading. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian sejak 2009 hingga 2011 merevitalisasi kebun kakao yang sudah tua dengan anggaran sebesar Rp13,7 triliun. Pemerintah juga melakukan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional (Gernas), dalam rangka percepatan peningkatan produktivitas tanaman dan mutu kakao, terdiri dari peremajaan, rehabilitasi, dan intensifikasi tanaman kakao rakyat dengan teknologi terkini.
Dengan luas areal 1,7 juta ha, produksi kakao Indonesia saat ini mencapai 800 ton lebih. Namun produksi yang melimpah itu, tidak dibarengi dengan peningkatan industri pengolahannya. Sekitar 80% produksi kakao diekspor dalam bentuk biji. Sementara, industri olahan domestik kesulitan mendapatkan bahan baku, kalaupun ada harganya cukup tinggi. Kondisi ini membuat industri olahan di dalam negeri menghentikan operasi pabriknya. Dari sebanyak 15 pabrik yang ada, pada awal 2010 hanya tersisa 5 pabrik yang beroperasi.
Berdasarkan Peraturan Menteri keuangan No. 67/PMK.011/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar, ekspor biji kakao dikenakan “Bea Keluar” mulai 1 April 2010. Bea keluar kakao diberlakukan berjenjang mengikuti perkembangan harga di pasar dunia. Semakin tinggi harga kakao, tarif bea keluar semakin besar. Biji kakao tidak dikenakan BK jika harga di pasar dunia kurang dari US$2.000 per ton. Namun jika harga berkisar US$2.000-US$2.750 per ton, BK ditetapkan 5%, dikenakan BK 10% apabila harga berkisar US$2.750 – US$3.500 per ton, dan 15% jika harga biji kakao di atas US$3.500 per ton.
Pembahasan dalam buku studi ini selain meliputi perkembangan kinerja produksi kakao nasional dan dunia, juga membahas kondisi dan permasalahan yang dihadapi industri pengolahan biji kakao di dalam negeri, meliputi aspek pemasaran, kebijaksanaan pemerintah, analisa strategis, dan resiko yang dihadapi industri kakao. Terakhir disajikan peluang dan prospek industri kakao di dalam negeri, termasuk untuk sektor perbankan serta direktori industri kakao.
Kami berharap, buku studi ini akan bermanfaat bagi kalangan bisnis terutama para pengambil keputusan di sektor industri kakao serta bagi kalangan bisnis yang terkait secara langsung maupun tidak langsung seperti industri makanan & minuman dan sektor perbankan. Laporan ini juga bermanfaat bagi para investor atau calon investor yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan yang aktif di bisnis kakao di Indonesia.

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Ruang Lingkup
1.3. Sumber Informasi

2. PENDUDUK DAN GAMBARAN UMUM EKONOMI INDONESIA
2.1. Populasi Penduduk Indonesia
2.1.1. Laju pertumbuhan penduduk secara nasional
2.1.2. Pertumbuhan penduduk berdasarkan provinsi
2.1.3. Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur
2.1.4. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Indonesia
2.2. Gambaran Umum Ekonomi Indonesia
2.2.1. Pertumbuhan ekonomi 2009 lampaui target
2.2.2. Laju Ekonomi 2010 Diproyeksi 5.5%
2.2.3. Berpeluang direvisi
2.2.4. Ekonomi kuartal II tumbuh 6,2%
2.2.5. Laju inflasi
2.2.6. 2010 Capai 6,96%
2.2.7. Kenaikan TDL 15% Lebih
2.2.8. Pendapatan Per Kapita Indonesia
2.2.9. Kurs Rupiah
2.2.10. Cadangan Devisa
2.3. Neraca Transaksi Berjalan
2.3.1. Utang luar negeri baru US$18 miliar
2.3.2. Tendensi bisnis naik
2.4. Undang-Undang APBN 2011 Disahkan
2.5. Asumsi Defisit Meleset

3. KONDISI BAHAN BAKU INDUSTRI KAKAO
3.1. Deskripsi
3.2. Bahan Baku Industri Kakao
3.3. Karakteristik Perkebunan Kakao
3.3.1. Padat Karya
3.3.2. Harga
3.3.3. Perawatan Intensif
3.3.4. Musim Perawatan
3.3.5. Komoditas Ekspor
3.3.6. Pengolahan di Dalam Negeri
3.4. Syarat Tumbuh Kakao
3.5. Bahan Tanaman
3.6. Jenis Kakao
3.6.1. Kakao M

More info:

Published by: MEDIA DATA RISET, PT on Jun 15, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2012

pdf

text

original

PENAWARAN

Studi :

PROGRES REVITALISASI PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO DI INDONESIA, 2011
(Paska Penerapan Bea Keluar/BK Kakao) Juni, 2011 Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan Indonesia yang memiliki potensi cukup besar dengan areal perkebunan dan produksinya cenderung terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan pada 2010, Indonesia menduduki posisi kedua menggeser Ghana sebagai produsen biji kakao dunia setelah Pantai Gading. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian sejak 2009 hingga 2011 merevitalisasi kebun kakao yang sudah tua dengan anggaran sebesar Rp13,7 triliun. Pemerintah juga melakukan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional (Gernas), dalam rangka percepatan peningkatan produktivitas tanaman dan mutu kakao, terdiri dari peremajaan, rehabilitasi, dan intensifikasi tanaman kakao rakyat dengan teknologi terkini. Dengan luas areal 1,7 juta ha, produksi kakao Indonesia saat ini mencapai 800 ton lebih. Namun produksi yang melimpah itu, tidak dibarengi dengan peningkatan industri pengolahannya. Sekitar 80% produksi kakao diekspor dalam bentuk biji. Sementara, industri olahan domestik kesulitan mendapatkan bahan baku, kalaupun ada harganya cukup tinggi. Kondisi ini membuat industri olahan di dalam negeri menghentikan operasi pabriknya. Dari sebanyak 15 pabrik yang ada, pada awal 2010 hanya tersisa 5 pabrik yang beroperasi. Berdasarkan Peraturan Menteri keuangan No. 67/PMK.011/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar, ekspor biji kakao dikenakan “Bea Keluar” mulai 1 April 2010. Bea keluar kakao diberlakukan berjenjang mengikuti perkembangan harga di pasar dunia. Semakin tinggi harga kakao, tarif bea keluar semakin besar. Biji kakao tidak dikenakan BK jika harga di pasar dunia kurang dari US$2.000 per ton. Namun jika harga berkisar US$2.000-US$2.750 per ton, BK ditetapkan 5%, dikenakan BK 10% apabila harga berkisar US$2.750 – US$3.500 per ton, dan 15% jika harga biji kakao di atas US$3.500 per ton. Pembahasan dalam buku studi ini selain meliputi perkembangan kinerja produksi kakao nasional dan dunia, juga membahas kondisi dan permasalahan yang dihadapi industri pengolahan biji kakao di dalam negeri, meliputi aspek pemasaran, kebijaksanaan pemerintah, analisa strategis, dan resiko yang dihadapi industri kakao. Terakhir disajikan peluang dan prospek industri kakao di dalam negeri, termasuk untuk sektor perbankan serta direktori industri kakao. Kami berharap, buku studi ini akan bermanfaat bagi kalangan bisnis terutama para pengambil keputusan di sektor industri kakao serta bagi kalangan bisnis yang terkait secara langsung maupun tidak langsung seperti industri makanan & minuman dan sektor perbankan. Laporan ini juga bermanfaat bagi para investor atau calon investor yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan yang aktif di bisnis kakao di Indonesia. 1

Buku studi setebal 350 halaman ini, per bukunya kami tawarkan dengan harga Rp6.000.000 (Enam Juta Rupiah) untuk versi bahasa Indonesia dan US$850 (Delapan Ratus Lima Puluh US Dollar) untuk versi bahasa Inggris. Untuk pemesanan dan informasi dapat menghubungi PT Media Data Riset melalui telepon nomor (021) 809 6071, dan faximile (021) 809 6071 dengan mengisi formulir terlampir. Pemesanan untuk luar negeri atau luar Jakarta akan ditambah biaya kirim. Demikian penawaran ini, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Jakarta, Juni 2011 PT Media Data Riset

Drh. H. Daddy Kusdriana, M.Si Direktur Utama

2

DAFTAR ISI

PROGRES REVITALISASI PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO DI INDONESIA, 2011
(Paska Penerapan Bea Keluar/BK Kakao)

Juni, 2011

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Ruang Lingkup 1.3. Sumber Informasi 2. PENDUDUK DAN GAMBARAN UMUM EKONOMI INDONESIA 2.1. Populasi Penduduk Indonesia 2.1.1. Laju pertumbuhan penduduk secara nasional 2.1.2. Pertumbuhan penduduk berdasarkan provinsi 2.1.3. Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur 2.1.4. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Indonesia 2.2. Gambaran Umum Ekonomi Indonesia 2.2.1. Pertumbuhan ekonomi 2009 lampaui target 2.2.2. Laju Ekonomi 2010 Diproyeksi 5.5% 2.2.3. Berpeluang direvisi 2.2.4. Ekonomi kuartal II tumbuh 6,2% 2.2.5. Laju inflasi 2.2.6. 2010 Capai 6,96% 2.2.7. Kenaikan TDL 15% Lebih 2.2.8. Pendapatan Per Kapita Indonesia 2.2.9. Kurs Rupiah 2.2.10. Cadangan Devisa 2.3. Neraca Transaksi Berjalan 2.3.1. Utang luar negeri baru US$18 miliar 2.3.2. Tendensi bisnis naik 2.4. Undang-Undang APBN 2011 Disahkan 2.5. Asumsi Defisit Meleset 3. KONDISI BAHAN BAKU INDUSTRI KAKAO 3.1. Deskripsi 3.2. Bahan Baku Industri Kakao 3.3. Karakteristik Perkebunan Kakao 3.3.1. Padat Karya 3.3.2. Harga 3.3.3. Perawatan Intensif 3.3.4. Musim Perawatan 3.3.5. Komoditas Ekspor 3.3.6. Pengolahan di Dalam Negeri

3.4. Syarat Tumbuh Kakao 3.5. Bahan Tanaman 3.6. Jenis Kakao 3.6.1. Kakao Mulia/Kakao Edel (Fine flavour cocoa) 3.6.2. Kakao Lindak/Kakao bulk (Bulk cocoa) 3.7. Pola Tanam 3.7.1. Tumpang sari 3.7.2. Pemeliharaan 3.7.3. Panen 3.8. Lahan Potensial 3.9. Luas Areal Terus Meningkat 3.10. Penyebaran Tanaman Kakao 3.10.1. Sulawesi Sentra Produksi 3.10.2. Bengkulu Merehabilitasi 1700 Ha 3.11. Produktivitas 3.12. Mutu dan Standarisasi 3.12.1. Karakter fisik 3.12.2. Kontaminasi dan Pencemaran 3.12.3. Kadar lemak 3.12.4. Organoleptik 3.12.5. Standar Mutu 3.12.6. Syarat Mutu 3.12.7. Standar dan Persyaratan Ekspor Produk Kakao Negara Mitra 3.13. Revitalisasi Kebun Kakao Butuh Dana Rp13,7 Triliun 3.14. Program Gernas 3.14.1. Latar belakang 3.14.2. Sasaran 3.14.3. Kegiatan 2009 3.14.4. Pelaksanaan 3.14.5. Manfaat 3.15. Perusahaan Perkebunan Kakao 3.16. Perkembangan Produksi 3.16.1. Produksi tumbuh 2,1% per tahun 3.16.2. Produksi menurut pengusahaan 3.16.3. Sulawesi Terbesar 3.17. Tahun 2015, Indonesia Produsen Terbesar Dunia 3.17.1. Negara Pesaing 3.18. Investasi Baru di Sektor Perkebunan Kakao 3.19. Bea Keluar (BK) Ekspor Kakao 3.19.1. Latar belakang 3.19.2. Manfaat BK Ekspor Biji Kakao 3.19.3. Wajib Fermentasikan 3.19.4. Notifikasi Biji Kakao

3

3.20. Perkembangan Ekspor 3.20.1. Ekspor Cenderung Menurun 3.20.2. Ekspor Anjlok 67,8% 3.20.3. Malaysia Terbesar 3.20.4. Eksportir tahan biji kakao 3.20.5. BK Biji Kakao Mei 2011 10% 3.21. Perkembangan Impor 3.21.1. Impor Cenderung Menurun 3.21.2. Ghana & Cote Divoire memasok 55,8% 3.22. Konsumsi Kakao Nasional 3.23. Perkembangan Harga 3.23.1. Harga kakao lokal terus merosot 4. KONDISI MAKRO BAHAN BAKU KAKAO 4.1. Aspek Suplai Bahan Baku 4.1.1. Suplai Kakao Lokal Meningkat 4.1.2. Biji Kakao akan terserap 80% 4.2. Konsumsi Kakao Nasional 4.3. Harga 4.4. Wajib SNI Bakal Dongkrak Harga Kakao 4.5. Musim Panen Produsen Kakao Utama 4.6. Pengaturan Internasional 4.6.1. ICCA-1972 4.6.2. ICCA-1976 4.6.3. ICCA-1980 4.6.4. ICCA-1986 4.7. Posisi Kakao Indonesia 5. KONDISI INDUSTRI KAKAO OLAHAN 5.1. Pohon Industri Kakao 5.2. Pengolahan Biji Kakao 5.3. Proses Pengolahan Kakao 5.3.1. Teknologi Proses 5.3.2. Tahapan Proses Produksi 5.4. Industri Pengolahan Kakao 5.4.1. PT General Food Industry Terbesar 5.4.2. Enam Pabrik Beroperasi Lagi 5.5. Produksi Sempat Anjlok 19,9% 5.5.1. Sarinah Kembangkan Industri Kakao 5.5.2. Pro Kontra 5.6. SNI Bubuk Produk Kakao 5.6.1. SNI diperketat 5.6.2. Eropa Protes Wajib SNI Kakao Bubuk 5.7. Perkembangan Paska Penetapan BK Biji Kakao 5.8. Perkembangan Penerapan SNI Kakao Bubuk Secara Wajib 5.9. Diincar Produsen dunia 5.9.1. Asing Siap Investasi 5.9.2. Industri Besar Dapat Tax Holiday

5.10. Ekspor - Impor 5.10.1. Ekspor kakao olahan 5.10.2. USA dan Uni Eropa Pasar Potensial 5.10.3. Impor Kakao Olahan 5.10.4. Asean Terbesar 5.11. Konsumsi Kakao Olahan Setengah Jadi 5.11.1. Konsumsi Industri Coklat 5.11.2. Konsumsi Industri Biskuit 5.11.3. Konsumsi Industri Kembang Gula 5.11.4. Konsumsi Industri Roti 5.11.5. Konsumsi Industri Susu 5.11.6. Konsumen Industri Eskrim 5.11.7. Total konsumsi kakao olahan 6. KEBIJAKAN PEMERINTAH DI BIDANG INDUSTRI 6.1. Perdagangan di Dalam Negeri 6.2. Perdagangan Ekspor 6.3. Kebijakan Impor 6.4. Standard Industri Yang Berlaku 6.6. Dampak Lingkungan 6.7. Investasi 6.8. Rencana Aksi Pengembangan Klaster Industri Prioritas 6.8.1. Pengembangan klaster industri prioritas 6.8.2. Katalisator 6.8.3. Kebutuhan Infrastruktur 6.9. Rencana Aksi Industri Kakao 6.9.1. Pengembangan klaster kakao 6.9.2. Pengembangan Industri Kakao 7. ASPEK TEKNIS 7.1. Perkebunan Kakao 7.1.1. Kesesuaian Lokasi 7.1.2. Jenis Tanaman Kakao 7.1.3. Bibit Kakao 7.1.4. Budi daya dan paska panen kakao 7.1.5. Produktifitas Kebun Kakao 7.1.6. Peralatan dan Mesin Paska Panen 7.1.7. Mutu Biji Kakao 7.2. Industri Pengolahan Kakao 7.2.1. Teknologi Proses 8. ASPEK PEMASARAN 8.1. Tingkat Persaingan 8.1.1. Persaingan di Pasar Ekspor 8.1.2. Persaingan Pedagang dan Eksportir 8.1.3. Persaingan di Industri Pengolahan 8.2. Tingkat Kejenuhan 8.3. Sistem Distribusi 8.4. Sentra Produksi dan Pemain Utama 8.4.1. Perkebunan

4

Perdagangan 8.4.2.1. Pedagang Asing 8.4.2.2. Pedangang Lokal 8.4.3. Industri Hilir 8.5. Profil Pemain 8.5.1. PT Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia Tbk (PT Lonsum) (Perkebunan/Produsen Biji Kakao) 8.5.2. PT Davo Mas Abadi, Tbk (Produsen Kakao Olahan) 8.6. Prospek Komoditas Kakao 9. RISIKO-RISIKO INDUSTRI, CRITICAL POINT DAN TINDAKAN ANTISIPASI 9.1. Risiko Bagi Perkebunan 9.2. Risiko Bagi Eksportir 9.3. Risiko Bagi Industri Pengolahan 9.4. Tindakan Antisipasi 9.4.1. Antisipasi Bagi Perkebunan 9.4.2. Antisipasi Bagi Eksportir 9.4.3. Antisipasi Bagi Industri Pengolahan 9.5. Aspek Finansial 9.5.1. Standar Biaya Proyek Investasi Perkebunan Kakao 9.5.2. Analisis Kelayakan Proyek 9.6. Proyek Investasi Pabrik Pengolahan Kakao 9.7. Standard Total Project Cost 9.8. Struktur Biaya dan Pendapatan 9.8.1. Struktur Biaya 9.8.2. Struktur Pendapatan 9.9. Analisa Kelayakan 9.10. Ratio Finansial Standar 10. PROSPEK INDUSTRI KAKAO 10.1. Prospek Jangka Pendek 10.1.1. Bagi petani/perkebunan 10.1.2. Bagi Industri Pengolahan 10.2. Prospek Jangka Panjang 10.2.1. Perkebunan 10.2.2. Bagi Petani dan Pedagang 10.2.3. Bagi Industri Pengolahan

8.4.2.

11. PELUANG PERBANKAN UNTUK MEMBIAYAI INDUSTRI KAKAO 11.1. Peluang Perbankan 11.2. Skim Kredit Yang Sesuai 11.2.1. Kredit Investasi 11.2.2. Modal Kerja 11.3. Memerlukan dana Rp16,72 Triliun 12. ANALISA STRATEGIS 12.1. Perkebunan Biji Kakao 12.1.1. Persaingan di antara Pemain 12.1.2. Persaingan Dari Pemain Baru 12.1.3. Bargaining Power dari Pedagang/Pembeli 12.1.4. Strategi Bagi Perkebunan 12.2. Industri Pengolahan 12.2.1. Persaingan di antara Pemain 12.2.2. Bargaining Power dari Pemasok 12.2.3. Persaingan Dari Pemain Baru 12.3.4. Strategi Bagi Industri Pengolahan 13. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 13.1. Kesimpulan 13.1.1. Komoditi Kakao 13.1.2. Perdagangan Kakao 13.2. Industri Pengolahan 13.3. Usulan dan Rekomendasi 13.3.1. Usulan 13.3.2. Rekomendasi 13.3.3. Kebijakan Untuk Mendukung Industri Kakao 14. DIREKTORI 14.1. Perusahaan Kakao 14.1.1. Industri Kakao Olahan 14.2. Perkebunan Kakao 14.3. Pedagang dan Eksportir

5

FORMULIR PESANAN
PT MEDIA DATA RISET Jl. SMA XIV, No. 12 A Cawang–UKI, Jakarta 13630 Phone : (021) 809 6071, 809 3140 Fax : (021) 809 6071, 809 3140 Email : sales@mediadata.co.id / info@mediadata.co.id

WS

Studi :

PROGRES REVITALISASI PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO DI INDONESIA, 2011
(Paska Penerapan Bea Keluar/BK Kakao)

Juni, 2011 Silahkan pilih (√ ) untuk pesanan : Edisi Bahasa Indonesia
Nama (Mr/Mrs/Ms) Position Nama Perusahaan NPWP No. Alamat Telepon Tanda Tangan Tanggal Fax :

Bahasa Inggris

Harga : Edisi Bhs. Indonesia - Rp 6.000.000 (Enam juta rupiah) Edisi Bhs.Inggris - US$ 850 (Delapan ratus lima puluh US Dollar) Catatan: Harga belum termasuk pajak (10% PPn) Di luar Jakarta dan luar negeri; ditambah biaya pengiriman (Jasa Kurir)
Pembayaran, Silahkan beri tanda (√ ) Cash Cheque Transfer to - PT MEDIA DATA RISET AC NO. 070 000 534 0497 BANK MANDIRI CAB. DEWI SARTIKA JAKARTA

6

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->