Anda di halaman 1dari 10

3 Dec

Dampak Implementasi Teknologi WiMAX di Indonesia


Posted by afif Published in Info IT Oleh : Afif Zuhri Arfianto* ( Admin Jaringan Lab. Jaringan Telekomunkasi, T. Elektro - ITS) aafif@ymail.com, afif@elect-eng.its.ac.id , www.afifzuhri.co.cc 0856 333 9792 Over view Sampai saat ini pengguna internet nirkabel (wireless) telah dibuat penasaran dengan akan segera muculnya teknologi WiMAX ( Worldwide Interoperability for Microwave Access). WiMAX merupakan evolusi dari teknologi broadband wireless sebelumnya. Teknologi ini di desain untuk memenuhi kondsi non LOS (Line if Sight) karena menggunakan teknik OFDM. Sama dengan halnya dengan Wifi ( Wiresless Fidelity), WiMAX memungkinkan koneksi internet secara nirkabel dengan kecepatan mencapai 70 Mbps atau 35 kali lebih cepat dari saluran ADSL. Secara teknis standar baru yang dinamai 802.16 ini, juga memiliki daya jangkau hingga puluhan kilometer disbanding dengan kemampuan Wifi yang hanya ratusan meter. Teknologi WiMAX merupakan salah satu solusi untuk dapat mengembangkan teknologi informasi dalam suatu kota atau pedesaan karena jangkaunya sampai jarak 50 Km, sehingga memungkinkan untuk meng-coverage seluruhnya.Berikut dibawah ini ulasan saya tentang WiMAX baik dilihat dari sisi teknologi, standar maupun tantangannya. Posisi Teknologi WiMAX Bila teknologi broadband wireless sebelumnya masih bersifat proprietary, maka WiMAX akan bersifat open standart (layaknya GSM dan CDMA pada komunikasi seluler serta WLAN dengan standar IEEE 802.11). Banyak teknologi wireless (nirkabel) yang telah digelar di lapangan seperti seluler (GSM dan CDMA), Broadband Wireless Access ( Wireless IP atau Wireless DSL), Wireless LAN (standart 802.11 a/b/g), maupun Wireless PAN (Bluetooth atau RFID) Teknologi WiMAX juga menjanjikan fitur-fitur yang mampu bersaingdengan ASDL dan standar telepon mobile generasi ketiga (3G).Menurut laporan Telecom view, WiMAX akan mengambil sekitar 40% pasar nirkabel pita lebar pada 2009. Bersamaan denganitu WiMAX akan menjadi pesaing utama bagi seluler generasiketiga (3G) yang akan menguasai 60 % pasar nirkabel pita lebar pada saat yang sama Konfigurasi Secara umum konfigurasi WiMAX dibagi menjadi 3 bagian yaitu a. Subscriber station, b. Base station dan c. Transport site. Untuk subscriber station terletak di lingkungan pelanggan (bisa fixed atau mobile/ portable). Sedangkan Base station, biasanya satu lokasi dengan jaringan operator (Jaringan IP/Internet atau jaringan TDM / PSTN)

Standar WiMAX Stairdard WiMA merupakan badan standarisasi (forum) yang bertugas mengkompromikan dua standarWirelesssMAN (antarastandarIEEE 802.16 dengan ETSI HiperMAN. Hal tersebut mirip dengan standar WiFi yang menggabungkan standar IEEE 802.11(Amerika) dengan ETSI HiperLAN (Eropa), dimana aplikasinya sangan cocok untuk Wireless LAN. Terdapat varian dari standard WiMAX yaitu IEEE 802.16d (802.16 2004) untuk kategori aplikasi fixed (portable) dan IEEE 802.16e untuk kategori aplikasi mobile. Saat ini IEEE baru menyetujui standar 802.16 2004 dimana karakteristik air interface berdasar standartersebut. Untuk standard WiMAX 802.11e (aplikasi mobile) kemungkinanya baru akan segera dikeluarkan. Tantangan Dalam perkembanganya terdapat beberapa tantangan dan kendala terkait dengan teknologi dan peranngkat WiMAX a. Kesiapanperangkat Sedikit vendor yang mempunyai perangkat yang comply denganWiMAX certified. Namun demikian terdapat beberapa vendor yang telah siap dengan perangkat pre WiMAXnya (dalam arti tinggal upgrade software saja agar comply dengan WiMAX). b. Aturan pemerintah Seperti yang terjadi denga negara lain di dunia maka pemerintah Indonesia pun belum menentukan frekuensiWiMAX yang akan digunakan. Kemungkinan besar vendor pertamakali membuat perangkat WiMAX di frekuensi 3,5 GHz. Sedangkan Indonesia frekuensi dimaksud juga digunakan untuk komunikasi satelit.Sehingga diperlukan penentuan range frekuensi yang tepat agarmenguntungkan baik bagi operator, regulator maupun pengguna

Dede Rusnandar, Direktur Pemasaran, IndosatM2 WiMAX: Masa Depan Telekomunikasi

Kemajuan teknologi, khususnya dengan berkembangnya teknologi informasi dan Internet, beberapa tahun belakangan ini, bukan saja berdampak terhadap banyak sisi kehidupan umat manusia dan cara mereka berbisnis, melainkan juga mengubah peta dan bisnis industri telekomunikasi dunia, termasuk di Indonesia. Tantangannya, ke depan, tampaknya akan semakin sangat kompetitif, karena ditutupnya pintu monopoli dan munculnya sejumlah operator baru yang bermain di industri telekomunikasi nasional. Lebih dari itu, perkembangan teknologi ini juga memicu tantangan baru di kalangan operator untuk juga mengembangkan layanan yang didukung oleh teknologi tersebut dan peluangnya pun terbuka lebar, tak hanya monopoli Telkom dan Indosat. Untuk mengetahui tantangan apa saja yang akan dihadapi kalangan operator dan bagaimana tren bisnis telekomunikasi ke depan, eBizzAsia berkesempatan mewawancarai, Dede Rusnandar, Direktur Pemasaran IndosatM2, di kantornya yang asri di bilangan Kebagusan, Jakarta Selatan. Berikut ini petikannya: Bagaimana Anda melihat tren telekomunikasi ke depan? Kalau dulu data numpang di voice, tetapi sekarang ini, sebaliknya voice yang justru numpang di data. Tetapi, sebenarnya tak hanya voice yang numpang di data, tetapi segala-galanya dari gambar, grafik, video dan sebagainya. Apalagi, dengan infrastruktur berbasis IP (Internet Protocol), sekarang ini bukan voice over data tetapi voice over IP (VoIP). Kalau over IP, formatnya menggunakan Internet Protocol. IP ini sekarang sukses dan akan mengangkat telekomunikasi ke depan. Sesuatu yang saya anggap revolusioner. Hal itu akan menguntungkan pengguna, karena ia memberikan opsi yang jauh lebih murah dan menguntungkan ketimbang si operatornya sendiri. Mungkin Anda pernah mendengar IPv6, IP versi 6. Arti versi 6 ini sebenarnya kan memperbanyak digit, yang lama itu sudah tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan umat manusia untuk hidup lebih enak. Untuk hidup lebih enak, ia memerlukan alamat, maka dengan dibuatnya IPv6, nantinya semua benda di dunia itu dapat diberi alamat. Bisa diberi identifikasi. Untuk apa? Nantinya untuk bisa bekerja, bisa dikendalikan oleh manusia, karena dia memiliki alamat (IP address), misalnya kulkas bisa diberi alamat. Berarti IP ini nantinya akan sangat berperan? Berbicara industri telekomunikasi, ke depan ini IP memang akan menjadi penentu, atau menjadi platform utama. VoIP yang sekarang kenapa masih belum bisa menyamai yang analog, karena masih ada delay. Tetapi, teknologi ini akan jalan terus, sehingga suatu saat nanti, kualitas kompresi sedemikian bagus, minimal kualitas suara itu sama dengan GSM. Kalau itu sudah terjadi, itu akan berat bagi teknologi yang sekarang di bidang telekomunikasi, apakah wireless, seluler atau CDMA untuk bersaing dengan yang namanya mobile VoIP. Mobile VoIP itu akan ada kalau sarana mobile-nya ada. Jadi, sarana Internet mobile-nya itu harus ada. Saya bicara IP dan langsung industri telekomunikasi ke depan, saya bicara dunianya wireless. Dunia wireless kita akan dikejutkan dalam satu sampai tiga tahun lagi dimana teknologi WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) akan mengubah segalagalanya. Karena, teknologi WiMAX ini berkemampuan membawa bandwidth kapasitas besar dalam jarak jauh. Kalau itu sudah terjadi dan sudah bisa digunakan secara wireless mobility, maka ke depannya timbul apa yang namanya mobile VoIP. Mobile VoIP dengan investasi

yang sangat murah dan dengan teknologi yang maju. Kualitasnya diperbaiki, investasi yang lebih rendah, otomatis biayanya pun akan murah dan itu akan menguntungkan para pengguna. Apakah semuanya menguntungkan atau ada ancaman? Di sisi lain dia akan menjadi ancaman, terutama terhadap bisnis telekomunikasi yang ada sekarang ini. Yang akan terancam nantinya bisnisnya para operator. Pertama, ia akan meloncati yang bersifat wireline, kabel mengkabel itu akan tergantikan. Nantinya, yang sekarang dipegang oleh incumbent, itu nggak perlu lagi. Kedua, dia akan menjadi pesaing teknologi data di GSM, yaitu 3G maupun 4G. Sedang 3G sendiri nampaknya bakal mati prematur, belum hidup sudah mati. Apakah WiMAX sendiri sudah siap digunakan? Untuk WiMAX, tahun 2005 sudah ada vendor yang akan mengeluarkan model fixed, jadi untuk backbone, dengan menggunakan antene dia bisa membawa 80 mega bandwidth untuk jarak sampai 80 kilometer. Jaraknya lebih point-to-point. Kemudian, tahun 2006 ada lagi yang disebut NLOS (non line off site), jadi tak perlu lagi point-to-point, yang penting nanti ada BTS-nya, sedang CPE (customer premise equipment)-nya bisa di mana saja. Misalnya, BTS-nya ada di Pasar Minggu dan kantor Anda di Kebagusan dimana perangkat penerimanya diletakkan di jendela, kemudian sambung kabel ke komputer Anda sudah bisa akses Internet. CPE-nya di mana saja asal menghadap ke luar. Tahun 2007, nantinya ada BTS dimana CPE atau alat penerimanya bukan lagi ditaruhkan di jendela, melainkan sudah akan tersedia dalam perangkat, misalnya notebook, laptop, PDA, smartphone dan sebagainya. Kalau itu sudah terjadi berarti sinyal Internet dengan bandwidth yang besar sudah bisa ditangkap sebagaimana halnya sinyal seluler. Konsekuensinya apa? Bandwidth yang besar bisa diterima di mana-mana, maka yang saya katakan tadi, yang sekarang menjadi primadona untuk bertelekomunikasi, suara atau VoIP yang menggunakan seluler dan CDMA, itu akan menghadapi musuh yang paling hebat. Terutama, karena bandwidth-nya besar dan dia bukan buat voice saja, mau melihat TV dan lain sebagainya bisa. Itu kira-kira tahun 2007 kalau dilihat dari roadmap-nya Intel dan Alvarion, perusahaan pembuat antene. Bagaimana dengan implementasinya di Indonesia? Di Indonesia, itu lebih tergantung pada pemerintah. Salah satu yang sangat krusial adalah masalah frekuensi. Karena roadmap yang mereka sepakati di WiMAX forum itu mereka akan main di tiga frekuensi, bandwidth begitu besar, maka frekuensinya dari 2 GHz sampai 11 GHz. Namun, para pabrikan yang sudah sepakat, mereka akan mengeluarkan di 3,5 GHz dulu, kemudian di 5,8 GHz, selanjutnya 2,5 GHz. Di luar negeri 5,8 GHz itu unlicensed, di sini nggak jelas, tetapi katanya sih sudah mulai crowded juga, yang gelap-gelap. Sedang yang 3,5 GHz itu extended band dipakai oleh PSN, beberapa TV, kemudian yang 2,5 GHz sekarang ini dipakai oleh Indovision. Yang 2,4 GHz itu dunia rimba, artinya siapa saja boleh pakai. Dulu unlicensed, sekarang dipajak oleh pemerintah Rp. 2,75 juta satu tahun per satu titik. Kalau 2,4 GHz yang digunakan untuk Wi-

Fi itu kan range-nya pendek, paling sekitar 45 sampai 100 meter. Kalau 2,4 GHz yang dipakai para ISP, baik licensed maupun unlicenced, itu jaraknya cukup jauh, namun karena itu sudah kayak musim layangan yang benangnya kusut ke sana kemari. Untuk WiMAX kendalanya lebih pada frekuensi, tetapi begitu pemerintah memberikannya pada operator dia bisa mulai mengembangkan bisnis, dan bisnisnya banyak. Kalau yang point-to-point itu dibutuhkan oleh kalangan ISP atau operator untuk membawa bandwidth besar, menjadi backbone, menggantikan backbone kabel yang sekarang ini digunakan. Misalnya saya mau bawa bandwidth ke Bandung, saya cukup menggunakan tiga BTS. Nah, dengan tiga BTS saja sudah cukup, yang jaraknya sekitar 180 kilometer itu. Itu jelas lebih murah daripada saya harus menarik kabel atau serat optik dari Jakarta ke Bandung. Apakah para operator di Indonesia juga akan mulai menerapkannya? Di kita, infrastruktrunya masih jelek. Jadi saya analogikan, kalau saya bicara wireless Internet, wireless IP yang nantinya akan digunakan dapat untuk segala macam, voice dan lainnya. Saya ambil analogi telepon, begitu jeleknya infrastruktur kabel kita, dari dulu sampai sekarang cuma terbangun sekitar 7,5 juta, susah mau nambah karena biayanya mahal. Datang yang namanya seluler. Dalam kurun sepuluh tahun GSM yang ada sekarang ini pelanggannya sudah mencapai 25-an juta. Nah, sekarang saya bicara Internet, kabel. Kalau pun manggunakan kabel yang sekarang itu paling bisa melayani sekitar 7,5 juta, sedang kabelkabel lainnya melayani korporasi. Bicara wireless Internet nggak beda dengan wireless telephony lewat seluler GSM. Itu nggak beda, karena teknologi yang diadop oleh wireless untuk memancarkan sinyalnya sama seperti teknologi seluler, bisa menerima pantulan, teknologinya sudah mobile. Bagaimana strategi WiMAX? Masing-masing sudah punya roadmap, sudah ada forumnya, GSM punya forum, WiMAX juga punya forum. Makanya maju, karena ada forum dan itu menjamin standarisasi dan delivery dari satu service. Nah, ini sudah merupakan ancaman, makanya perusahaanperusahaan yang membuat produk GSM pagi-pagi sudah gabung ke WiMAX untuk siap-siap, Siemens dan lainnya sudah bergabung di sana. Karena mereka melihat, sekarang ini saja belum keluar baru gembar-gembornya, mereka sudah mengatakan bahwa 3G bakal mati prematur. Di Indonesia. dia belum lahir tapi sudah mati. 3G itu kelebihannya apa sih? Kan lebih pada kemampuannya dalam membawa Internet berkapasitas 2 Mbps. Kalau WiMAX satu channel bisa membawa 80 Mbps, kalau enam channel berarti sudah membawa 6 x 80 Mbps atau 460 Mbps. Sedang 3G hanya 2 Mbps, jelas nggak makan. Karenanya, 3G mati sebelum lahir alias prematur. Kalau fungsi telekomunikasinya, sama saja antara 3G dengan GSM. Dan, WiMAX ini akan membawa telekomunikasi masa depan, karena munculnya teknologi baru yang akan mengubah peta telekomunikasi, baik peta bisnis Internet maupun bisnis teleponi. Karena saya yakin teknologinya akan sangat maju. Begitu juga kompresinya makin bagus dan kebutuhan bandwidth-nya rendah, sehingga delay-nya semakin kecil. Bayangkan saja kalau nantinya satu kota sudah menerapkan WiMAX, yang berarti kota itu sudah memiliki jaringan Internet kapasitas besar.

Bukankah itu akan membuat saling lomba antar operator? Ya, itu sama saja dengan awal perkembangan seluler dahulu itu. Misalnya, kalau suatu operator pertama kali menerapkannya untuk kawasan Jakarta, itu kan nggak cukup satu saja. Operator lainnya juga bisa mengembangkan WiMAX juga. Dan, perlombaan antar operator itu bakal terjadi. Persiapan ke arah situ dari setiap operator sudah mulai dilakukan, masingmasing sudah menyiapkan strateginya. Tinggal bagaimana pemerintah bisa menata frekuensinya. Jangan sampai dengan yang sudah pernah terjadi, frekuensi sudah dibagi-bagi, tahunya orangnya nggak punya uang. Pengembangan WiMAX ini meski biayanya tak semahal seluler, tetap membutuhkan biaya. Kenapa bisa murah, karena IM2 bisa memanfaatkan BTS yang ada sekarang, misalnya yang eks Satelindo dan IM3. Satelindo yang paling banyak. Cukup dengan menempelkan perangkat di BTS dan tidak mengganggu, kalaupun harus menyewa kan tidak begitu mahal. Saya tak perlu izin lagi. Nah, kalau teknologi mobile VoIPnya sudah ada, dia akan menjadi murah bagi masyarakat. Tapi, hal itu juga berpotensi membunuh. Kalau IM2 mengembangkan bisnis itu, maka holding-nya, Bapaknya dan saudaranya yang lain bisa mati. Kemudahan apa yang akan diperoleh dengan WiMAX? Nanti, berinternet ria dengan kabel itu tidak bedanya dengan berteleponi menggunakan fixed line. Tetapi, perlu ada inisiatif para operator untuk membuat harga Internetnya turun supaya bisa digunakan oleh masyarakat banyak, sebagaimana telepon. Alatnya maupun layanannya juga turun. Ke depan sudah otomatis alatnya ada. Contohnya, Nokia Communicator 9500 yang baru, itu sekarang ini mendukung triband, ada 900MHz, 1800MHz, sampai 1900 MHz, berarti itu dipakai di seluruh dunia yang mengadop GSM dan tidak perlu ganti-ganti ponsel. Juga, bisa menggunakan GPRS dan EDGE. Untuk menjembatani antara 3G dan GPRS di tengah-tengahnya ada EDGE. Nah, Nokia Communicator 9500 itu sudah dibuat untuk EDGE kompatibel. Maka, kalau ada operator yang telah mengoperasikan EDGE, transfer data kecepatan tinggi dan kapasitas besar dapat dilakukan. Ponsel ini juga telah dilengkapi kartu Wi-Fi, sehingga bisa digunakan untuk akses Internet di lingkungan hotspot, misalnya. Ke depan, ponsel bisa digunakan baik GSM maupun CDMA. Apa dampaknya? Nanti, pengguna cukup menggunakan satu jenis ponsel, tetapi bisa berpindah dari jaringan GSM ke CDMA, atau sebaliknya. Mau Internet tinggal pilih, bisa menggunakan GSM atau CDMA, mau yang broadband bisa menggunakan Wi-Fi atau WiMAX. Kalau sudah di jaringan WiMAX, sudah berInternet, mau bertelepon ria, nah di situ. Tinggal nanti kalau mau telepon tinggal masalah numbering, itu pun lagi-lagi tergantung pemerintah, sebagai regulatornya. Tetapi, secara teknis itu nggak jadi masalah, secara software masing-masing orang nantinya memiliki IP address, dan IP address bisa saya convert ke nomor, why not? Bagaimana kesiapan IM2 sendiri? Kita harusnya siap ke sana. Kalau ada yang ngomong kita drive ini lebih berdasarkan bisnis, umumnya yang hitech itu lebih didrive teknologi. Teknologi lebih mendorong, baru bisnisnya

mengikuti. Ada kemungkinan merestrukturisasi jenis layanan? Bandwidth besar, wireless dan teknologinya makin berkembang. Yang paling simpel digunakan untuk komunikasi suara, juga broadcast video, TV secara wireless, seperti TV biasa tetapi digital. Selain itu, kalau ditanya apa saja bisnisnya, wah banyak sekali. Apapun yang bisa dipaketkan menjadi data, aplikasi, transaksi bank dan banyak lainnya dan itu lebih dari sekadar wireless dan VoIP yang ada sekarang dipakai oleh GSM dan CDMA. IP sudah menjadi standar dunia dan sudah menjadi kesepakatan. Nanti, ATM tak perlu lagi menggunakan antene parabola, cukup antene kecil untuk menangkap sinyal. Bisa lebih cepat dan masuk ke jaringan Internet, nggak perlu lagi lewat satelit, analog atau digital, atau menggunakan converter. Itu yang saya sebut mengubah segala-galanya.

TEKNOLOGI WiMAX
Salah satu teknologi terbaru yang berkembang sekarang ini adalah teknologi WiMAX dengan standar nirkabel IEEE.802.16X-2004. WiMAX merupakan suatu platform yang digunakan pada Metropolitan Area Network (MAN) yang sebelumnya menggunakan fiber optic, GSB, FSL. Apa itu WiMAX? WiMAX merupakan singkatan Worldwide Interoperability for Microwave Access. Ini merupakan salah satu bentuk teknologi nirkabel yang sedang menjadi pusat perhatian operator telekomunikasi, pebisnis maupun pengguna internet di dunia.WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) hadir sebagai solusi keterbatasan akses pada Wi-Fi yang notabene memang dirancang untuk pemakaian dalam ruang. Teknologi yang menggunakan OFDM ini mampu memberikan layanan data berkecepatan hingga 70 Mbps dalam radius 50 km. Radius yang cukup untuk menjadikan WiMAX sebagai jaringan telekomunikasi broadband menggantikan teknologi fixedline. Jika dibandingkan dengan fixedline biaya instalasi jaringan WiMAX jauh lebih murah. Dengan teknologi WiMAX, impian akan layanan informasi data yang murah dengan kecepatan tinggi akan segera terwujud murah meriah dengan kualitas yang jauh lebih baik.WiMAX datang untuk menjawab permasalahan yang ada di sektor broadband. Ketika telepon dan jaringan lokal mulai beranjak ke sistem nirkabel, akses broadband untuk bisnis atau perumahan masih cenderung mengandalkan kabel untuk penyaluran datanya. Jelas hal ini merugikan operator sekaligus konsumen yang ada di luar jangkauan kabel tersebut. Laporan perusahaan riset Park Associates beberapa waktu lalu, akan ada sekitar tujuh juta pelanggan akses broadband berbasis layanan WiMAX pada akhir 2009

mendatang. Operator awalnya akan menggunakan peralatan berbasis WiMAX fixed version yang artinya lebih ditujukan bagi pelanggan perumahan dan kantor. Baru-baru ini WiMAX juga maju selangkah meninggalkan teknologi broadband nirkabel lainnya yang masih dalam tahap pengembangan. Standar WiMAX, yaitu 802.16X2004 disetujui dunia industri, sehingga pembuatan dan penjualan perangkatnya yang murah bisa lebih dipercepat. Setelah melewati masa uji dan sertifikasi, produk-produk tersebut kemungkinan bisa masuk ke pasar di 2006. Standar WiMAX lainnya, yaitu 802.16e kini juga sedang dikembangkan. Fungsinya, lebih terkait dengan industri seluler, yaitu memungkinkan ponsel mengirim dan menerima data yang lebih besar. teknologi WiMAX bisa jadi lompatan besaar bagi perusahaan komunikasi dunia, terutama untuk negaranegara yang sedang membangun di kawasan Asia. Negara yang selama ini masih mengandalkan jaringan kabel. Dengan teknologi ini lompatan menuju jaringan pita lebar atau broadband dapat lebih cepat dilakukan. Alasan ini membuat perusahaan komunikasi China dan India pun tertarik untuk bergabung.

Karakteristik WiMAX
Untuk mendapatkan layanan WiMAX, memerlukan antena khusus yang dapat dioperasikan oleh 60 perusahaan dengan koneksi masing-masing sekira 1 Mbps. Karakteristik utama yang dimiliki WiMAX antara lain: Pada versi awal IEEE 802.16a bekerja di frekuensi 10 – 66 GHz, sehingga cocok digunakan untuk teknologi point to point. Untuk versi IEEE 802.16 ini dapat digunakan untuk hubungan nonline outsite (NLOS). Kompatibel dengan digital switch yang ada ( ATM,dll) dengan optimal data rate per user antara 300 kbps – 2 Mbps dan rangenya 5 – 8 km untuk maksimal throughput. Untuk versi IEEE 802.16d , muncul teknologinya di bulan Oktober 2004. Tekniknya terjadi pemecahan kanal ke kanal– kanal terkecil menggunakan Op-Amp dan teknologi Amart Antenna. Digunakan untuk fixed access, yang meliputi BS maupun receiver yang merupakan CPE. BS berupa Proxim Tsunami MP.16 akan dipasarkan baik kepada operator telekomunikasi maupun kepada perusahaan pemakai. Versi IEEE 802.16e dikeluarkan akhir tahun 2004 ini yang akan digunakan untuk mendukung mobilitas (Handover, roaming) pada system selular sampai 120 km/jam dan bekerja dalam NLOS. Digunakan untuk aplikasi mobile access. Dikonfigurasikan untuk layanan di pedesaan sampai radius maksimal 50 km, atau layanan di daerah berpenduduk padat di perkotaan untuk jarak 1- 4 km, dengan data rate sampai 75 MB/s. Dapat

dibayangkan dengan teknologi ini, peralatan wireless point-to-multipoint, broadband, none-line-of-sight (NLOS), last-mile access dan solusi memungkinakan melengkapi, memperluas, bahkan menggantikan infra struktur jaringan pakai kabel. Sistem ini mendukung teknologi video streaming, VoIP telephony, tayangan diam maupun bergerak, e-mail, Web browsing, ecommerce, dan layanan berbasis lokasi. Kunci keberhasilan WiMAX ini ada pada frekuensi yang tidak memerlukan ijin dan biaya, misalnya jika dibandingkandengan AT&T Wireless membayar milyaran dollar ke pemerintah AS untuk menggunakan secara eksklusif gelombang radio frekuensi tertentu, yang memungkinkan perusahaan ini memberikan jasa layanan mobile-phone atau ponsel pada pelanggannya tanpa gangguan, tapi membatasi pesaingnya menggunakan frekuensi yang sama. WIMAX IEEE 802.16

Komponen WiMAX
Komponen utama WiMAX system adalah Subscriber Station (SS)atau yang dikenal dengan nama CPE dan Base Station (BS). BS dan satu atau lebih SS dapatmembentuk sebuah sel dengan struktur point-to-multipoint (P2MP). Di udara, BS mengontrol aktifitas bersama sel, termasuk akses ke medium oleh SS, alokasi untuk kualitas layanan (QoS) dan mengatur keamanan jaringan yang dibawahinya. Sistem 802.16 menggunakan antenna di site SS. Antena ini mengcover daerah cakupannya. Perlengkapan seperti Adaptive Antenna System (AAS) dan sub-kanal juga didukung oleh standar untuk perencanaan link budget untuk instalasi indoor. IEEE 802.16e bekerja khusus untuk standar mobilitas dan mensupport kekuatan terminal SS. BS umumnya menggunakan antenna sector d/directional atau omni-directional. Fixed SS umumnya menggunakan antena directional sedangkan mobile atau portable SS umumnya menggunakan antena directional. Multiple BS dapat dikonfigurasi untuk membentuk jaringan selular wirelessw. Ketika Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) digunakan, radius sel mencakup 30 mile. Paling tidak, praktisnya radius minimal sel mencakup kurang lebih 5 mile. Standar 802.16 juga dapat digunakan pada point-to-point (P2P) atau topologi Mesh, menggunakansepasang antena directional. Hal ini dapat digunkan untuik meningkatkan range yang efektif dengan system yang relative untuk mendukung mode P2MP. WiMAX vs Wi-Fi vs DSL. Komentar saya : Menurut saya, dalam perkembangan teknologi wireless pada zaman sekarang ini,terdapat terknologi yang lebih baik yaitu teknologi WiMAX . Kemajuan yang cukup bagus karena dengan adanya teknologi WiMAX yang menggunakan OFDM ini mampu memberikan layanan data berkecepatan hingga 70 Mbps dalam radius 50km. Dengan radius 50km mampu menjadikan WiMAX sebagai jaringan

telekomunikasi broadband menggantikan teknologi fixedline karena dibandingkan dengan fixedline biaya instalasi jaringan WiMAX jauh lebih murah. dusamping itu teknologi ini juga tidak memerlukan biaya dan izin untuk menggunakan frekuensi yang berasal dari Pemerintah AS.