Anda di halaman 1dari 8

1

1. Pendahuluan Pembangunan merupakan hal yang sangat didengung-dengungkan saat ini seiring dengan perkembangan teknologi dan tuntutan globalisasi. Pembangunan baik langsung maupun tidak langsung akan membawa pengaruh bagi berbagai aspek kehidupan manusia dan lingkungannya. Karena pembangunan selain dapat memenuhi kehidupan manusia akan tetapi juga bisa berdampak buruk bagi kelangsungan kehidupan manusia itu sendiri karena kelalaian dalam pembangunan yang tidak mengindahkan prinsip sustainable development atau pembangunan yang berkelanjutan. Konsep dan arah pembangunan dapat ditentukan oleh penggunaan peraturan dan kebijakan yang berwawasan ke masa depan. Seperti ungkapan, peranan hukum adalah sebagai alat pembaharuan masyarakat oleh Prof.Mochtar Kusumaatmadja1. Hukum haruslah menjadi panglima dalam pembangunan. Sedangkan wawasan yang harus diusung sebagai tujuan pembangunan nasional masa depan adalah wawasan pembangunan yang berbasis lingkungan dengan peraturan hukum yang memihak pada keberlangsungan lingkungan hidup. Wawasan pembangunan berbasis lingkungan sangat relevan bila dihubungkan dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan, karena lingkungan yang baik dan terjaga kelestariannyalah pembangunan tersebut bisa berjalan dengan baik dan akan terus bisa memberikan manfaat yang baik bagi kehidupan umat manusia sekarang dan masa yang akan datang. Wawasan lingkungan harus melekat pada kaidah social masyarakat sebagai hukum yang akan membangun kepribadian masyarakat sebagai hukum yang hidup (living law) dalam masyarakat dan disesuaikan dengan pendekatan social budaya2. Kemajuan teknologi dan industri yang menjadi aspek pembangunan akan berpengaruh langsung terhadap keberadaan dan keberlangsungan sumber daya alam
1 2

Mochtar Kusumaatmadja, Fungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan Nasional, 1975. Ibid

yang menjadi momok bagi perusakan lingkungan. Jika peraturan pengelolaan lingkungan tidak berwawasan sustainable development akan membebani pembangunan di masa mendatang. Apalagi model pembangunan nasional kita sekarang ini berbasis pada model pertumbuhan ekonomi seperti pada konsep pembangunan bangsa Eropa pasca Perang Dunia II3. Peran pemerintah sangat diperlukan dalam penegakan hukum dan sanksi yang benar-benar bisa melindungi dari perusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan tidak hanya akan berdampak bencana saja, tapi juga akan bisa berdampak pada kemiskinan di masa mendatang jika tidak ditangani serius mulai dari sekarang. Pemanfaatan lingkungan khususnya sumber daya alam hendaknya mengacu pada prinsip pendayagunaan yang efektif dan efisien, dengan pelarangan eksploitasi secara maksimal namun secara optimal. Melalui teori hukum pembangunan dan hukum lingkungan kita akan dapat mencari solusi pembangunan yang berwawasan lingkungan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan untuk kehidupan yang bisa dinikmati masa sekarang dan yang akan datang.

2. Teori Hukum Pembangunan Dikaitkan Dalam Pembangunan Yang Berkelanjutan. Pembangunan yang berkelanjutan merupakan suatu cita-cita semua bangsa di dunia ini yang menginginkan kemajuan teknologi dan ekonomi tidak hanya dinikmati pada masa sekarang ini saja tapi juga di masa yang akan datang. Pembangunan memiliki arti yang sangat luas bukan hanya aspek fisik tetapi juga pembangunan social masyarakat. Kemudian apakah yang menjadi alat dalam pembangunan yang sangat luas tersebut, bukankah pembangunan fisik pun diperuntukkan untuk kebutuhan manusia. Terdapat anggapan bahwa pembangunan ekonomi masyarakat adalah cara yang paling tepat untuk mewujudkan kehidupan manusia yang lebih baik, yang mengacu ekonomi yang identik dengan uang adalah modal utama dalam segala macam bentuk pembangunan. Nyatanya pembangunan infrastruktur yang memadai tidak akan bisa
3

M.Daud Silalahi, Pembangunan Berkelanjutan Dalam Rangka Pengelolaan Sumber Daya Alam Yang Berbasis Pembangunan Sosial Dan Ekonomi, Makalah Seminar Hukum pembangunan Nasional VIII, BPHN, 2003.

berdampak positif bagi pembangunan masyarakat desa tertinggal, dikarenakan mental yang ada dalam masyarakat tersebut tidak terbiasa menggunakan berbagai fasilitas umum seperti klinik, sekolah, balai pertanian, dll, melainkan menggunakan cara primitive sperti ke dukun atau anaknya yang cukup umur cukup untuk dikawinkan saja pada usia dini sebagai cara untuk mendidik mereka. Kemudian kemiskinanlah yang akan berkembang dan memicu perusakan lingkungan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dengan mengambil kekayaan alam secara sembarangan. Seperti pendapat Prof. Mochtar Kusumaatmadja yang mengatakan bahwa pembangunan ekonomi tersebut kurang tepat karena kita tidak dapat membangun ekonomi suatu masyarakat tanpa menyangkutkan pembangunan segi-segi kehidupan masyarakat lainnya 4. Pembangunan sosial masyarakat tidak akan terlepas dari konsep perubahan sosial. Karena suatu pembangunan masyarakat harus dimulai dari merubah pemikiran dan perilaku yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman saat ini. Diperlukan suatu alat atau sarana yang dapat menjamin bahwa perubahan itu terjadi secara teratur5. Teratur mengikuti perubahan jaman dan perkembangan norma dan kaidah hukum yang berlaku. Mengenai keteraturan, akan sangat bergantung pada proses dalam

pembangunan tersebut yang juga tak terlepas dari peranan lembaga yang mengontrol supaya proses tersebut dapat mencapai apa yang disebut ketertiban masyarakat. Hal ini sangat berhubungan dengan definisi hukum oleh Prof. Mochtar Kusumaatmadja yaitu Hukum adalah keseluruhan azas-azas dan kaedah-kaedah yang mengatur kehidupan masyarakat, termasuk didalamnya lembaga dan proses untuk mewujudkan hukum itu kedalam kenyataan. Atas definisi inilah maka lebih tepat jika merujuk pada pendapat Roscoe Pound yang dikutip Prof. Mochtar yaitu Law is a tool of a social engineering, yang diterjemahkan Hukum adalah sarana atau alat pembaharuan masyarakat6. Maka hukum harus menjadi garis depan dalam rangka pembangunan sosial masyarakat yang artinya manusialah yang mengikuti perkembangan hukum bukan hukum yang mengikuti
4

Mochtar Kusumaatmadja, Pembinaan Hukum dalam Rangka Pembangunan Nasional, Makalah Panel Discussion V oleh Majelis Hukum Indonesia, Jakarta, 1972. 5 Ibid
6

Ibid

perkembangan masyarakat. Selain itu juga norma hukum harus tercermin dalam nilainilai yang hidup dalam masyarakat, seperti ungkapan,Ubi societas ubi ius, dimana ada masyarakat disitu terdapat hukum. Langkah selanjutnya untuk menuju kearah pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan berbasis lingkungan (ecodevelopment). Perkembangan teknologi dan pertumbuhan industry akan membawa dampak langsung pada lingkungan, terlebih lagi pada Negara-negara berkembang seperti Indonesia yang mempunyai kekayaan alam yang sangat melimpah. Bukan hanya sumber daya alamtetapi juga masalah limbah industri dan masalah pengelolaan lahan yang menjadi titik nadir kerusakan lingkungan. Karena selama ini pembangunan ditujukan agar pertumbuhan ekonomi mencapai taraf tertinggi hingga tidak memperdulikan kondisi lingkungan. Belum lagi factor kemiskinan yang memperburuk kondisi lingkungan akibat pemukiman-pemukima kumuh dan masyarakatnya yang belum peduli akan pentingnya kelestarian lingkungan. Masalah tersebut diatas telah menjadi perhatian masyarakat dunia dengan ditandatanganinya Deklarasi Stockholm tahun 1972.

3. Peran serta masyarakat Internasional dalam penegakan hukum lingkungan yang mempengaruhi kebijakan Indonesia dalam pengaturan lingkungan. Sejak lahirnya Deklarasi Stockholm (1972), masalah kemiskinan sudah dipandang sebagai tantangan terbesar dalam penyelamatan lingkungan. Deklarasi ini lahir dari United Nations Conference on the Human Environment yang diikuti 113 negara (dilaksanakan di Stockholm, tanggal 5-16 Juni 1972), salah satu konsep pentingnya adalah pembangunan berkelanjutan secara global bahwa pembangunan berusaha memenuhi kebutuhan hari ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang. Konferensi Stockholm membawa pengaruh terhadap kesadaran lingkungan tercermin dari perkembangan dan peningkatan perhatian terhadap msalah lingkungan dan terbentuknya perundang-undangan nasional di bidang lingkungan hidup, termasuk

di Indonesia7. Maka tindak lanjutnya adalah dengan lahirnya Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 Tentang Lingkungan Hidup, yang selanjutnya menjadi dasar hukum positif di bidang lingkungan hidup. Untuk selanjutnya Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 diperbaharui dengan keluarnya Undang-undang No.23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH), hal ini menjadi bukti bahwa Indonesia telah menindaklanjuti apa yang diamanatkan oleh Deklarasi Stockholm. Penanganan masalah lingkungan selalu menjadi perhatian di Negara-negara dunia ketiga dewasa ini, oleh karena itu semua Negara selalu mengadakan pertemuan rutin untuk membahas dampak lingkungan terhadap perubahan iklim global, misalnya diselenggarakannya United Nations Conference on Environment and Development di Rio de Janeiro, tanggal 3-14 Juni 1992 yang dihadiri oleh 177 Kepala Negara dan Wakil Pemerintahan). Konferensi ini kemudian menghasilkan Deklarasi Rio Agenda 21, Forest Principles dan Konvensi Perubahan Iklim (Climate Change) serta keanekaragaman Hayati (Biodiversity), disini sudah dilibatkannya unsur non pemerintah antara lain : Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), buruh, petani, nelayan, wanita, ilmuwan dan masyarakat adat, yang selanjutnya berlanjut dengan diselenggarakannya World Summit on Sustainable development di Johannesburg pada tanggal 26 Agustus - 4 September 2002, yang menghasilkan bahwa masalah lingkungan sangat terkait erat dengan kondisi ekonomi dan masalah keadilan sosial, pertemuan yang digagas oleh negara-negara maju merupakan tanda bahwa persoalan lingkungan sudah menjadi masalah yang disejajarkan dengan politik, pertahanan maupun ekonomi. Kondisi Negara-negara berkembang yang kesadaran masyarakat akan lingkungan masih rendah dan tingkat kemiskinan di negara berkembang relatif masih tinggi menjadi salah satu perhatian yang perlu segera ditangani, hampir 75% hutan tropis, keanekaragaman hayati berada di Negara berkembang dan dampak dari kerusakan lingkungan akan berpengaruh terhadap iklim global. Oleh karena itu penegakkan hukum baik yang bersifat lokal maupun internasional harus benar-benar efektif dilaksanakan,

M. Daud Silalahi, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Alumni, Bandung, 2001, hlm. 24

terutama

perlu

ditingkatkannya

kesadaran

masyarakat

mengenai

pentingnya

pengelolaan lingkungan hidup. Atas dasar keadaan masyarakat yang berkembang dengan memperhatikan kondisi lingkungan yang menjadi tumpuan pembangunan maka selayaknya

pembangunan diarahkan pada wawasan lingkungan dengan memberdayakan peraturan hukum yang memihak pada pembangunan social masyarakat dan kelestarian lingkungan. Tujuan yang akan dicapai adalah mewujudkan pembangunan lingkungan yang preventif dari segala macam potensi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan manusia dalam kegiatannya yang berpijak dalam lingkungan ekologis maupun pemanfaatan sumber daya alam yang berdampak langsung pada kelestariran lingkungan. Konservasi lingkungan merupakan langkah yang tepat dalam upaya untuk menyiapkan lingkungan masa depan yang akan dapat melestarikan daya kekuatan alam seperti daya dukung, daya tampung, dan daya lenting demi mempertahankan kelangsungan kehidupan manusia di atas habitat hidupnya yang tidak lain adalah lingkungannya.

4. Pemanfaatan Lingkungan yang Efektif dan Efisien Dengan Pendayagunaan yang Optimal. Pemanfaatan sumber daya alam adalah hak dari setiap orang karena Tuhan telah menciptakan alam ini beserta juga manusia. Akan tetapi nikmat yang telah diberikan Tuhan tersebut lambat laun akan habis karena manusia terus menerus mengambilnya dan tidak mempunyai kekuatan untuk membuatnya kembali. Hal yang dapat dilakukan manusia adalah melestarikannya dan menjaganya agar keberlangsungan sumber daya alam ini bisa dinikmati generasi yang akan datang. Diperlukan suatu pengaturan pemanfaatan sumber daya alam yang relevan digunakan pada saat ini dan jangkauannya hingga pada masa mendatang. Maka apa yang bisa dijaga dan dilestarikan pada masa sekarang, pada masa mendatang juga bisa dijaga dan dilestarikan bukan hanya menikmatinya saja.

Pendekatan yang sesuai dengan keterangan di atas adalah pendayagunaan dan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan ini secara optimal dengan metode pemanfaatan dan pengelolaan yang efektif dan efisien. Maksudnya pemanfaatan lingkungan dan sumber daya alam hanya diperbolehkan dieksploitasi seperlunya saja. Pendayagunaan yang efektif dan efisien ini memerlukan cabang-cabang ilmu yang lain, karena unsur-unsur sumber daya hayati dan ekosistem alam ini saling bergantung antara satu dengan yang lainnya, dan pemanfaatannya akan saling mempengaruhi sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu daripadanya akan berakibat terganggunya ekosistem, diperlukan pengaturan pemanfaatan dan perlindungan ekosistemnya8. Pengaturan tersebut sangatlah dipengaruhi oleh kondisi politik dan kebijakan baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Kajian empiris yang sangat kuat sangat diperlukan agar apa yang perlu diatur dalam perundang-undangan tidak akan dikesampingkan oleh suatu kebijakan politik yang bernuansa kepentingan. Jadi legal engineering yang digagas tidak akan luntur pada pemimpin yang karismatis yang kebanyakan bertentangan dengan cita-cita legal engineering menuju suatu masyarakat atau negara hukum, apabila pemimpin yang demikian tidak dijiwai atau memahami peranan hukum dalam masyarakat dan negara 9. Hal yang telah dikemukaan diatas akan dapat terwujud dengan baik apabila pembangunan masyarakat berbagai bidang seperti ekonomi, social budaya, dan lingkungan telah didukung oleh hukum baik sebagai peraturan maupun sebagai nilai yang hidup dalam masyarakat. Karena tanpa hukum manusia akan bertindak seenaknya dan tidak akan memperdulikan semuanya termasuk sesamanya manusia dan lingkungannya.

8 9

Ibid, hlm. 96 Mochtar Kusumaatmadja, loc.cit.

DAFTAR BACAAN

Mochtar Kusumaatmadja, Kumpulan Karya Tulis Konsep-konsep Hukum Dalam Pembangunan, Pusat Studi Wawasan Nusantara, Alumni, Bandung, 2006 Silalahi, Daud, Pembangunan Berkelanjutan Dalam Rangka Pengelolaan Sumber Daya Alam Yang Berbasis Pembangunan Sosial Dan Ekonomi, Makalah Seminar Hukum pembangunan Nasional VIII, BPHN, 2003 Silalahi, Daud, Hukum Lingkungan Dalam Lingkungan Indonesia, Alumni, Bandung, 2001 Sistem Penegakan Hukum