Anda di halaman 1dari 7

KECENDERUNGAN KECANDUAN CYBERSEX DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN Sofia Retnowati & Luh Putu Suta Haryanthi Universitas

Gadjah Mada ABSTRACT This research was conducted to prove that there were relations between cybersex addiction tendecy and personality types. The subjects of this research were 79 internet caf users such as Intersat Nusantara, Cupido Cafenet, M-Web Student Internet Center and Stiga internet caf. The research variables were measured with scale method included cybersex addiction tendency scale which contained 26 items and Extraversion Introversion personality types from Eysenck and Wilson which contained 44 items. The result of the research showed that there was negative relationship between cybersex addiction tendency and extraversion personality type (r = -0, 248, p < 0,05). Keywords : Cybersex Addiction

Dewasa ini masalah kebebasan seks di Indonesia semakin meningkat. Kondisi tersebut tidak lepas kaitannya dengan semakin membanjirnya arus informasi yang banyak mengupas tentang masalah seksualitas melalui media yang berupa televisi, film, video, surat kabar, radio, majalah, tabloid, buku-buku, internet dan sebagainya. Keterbukaan media massa dalam

mengupas masalah seksual tersebut dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat khususnya kaum dewasa bahkan remaja, yang secara tidak langsung mempengaruhi pembentukan tingkah laku seksual penyimaknya. Kondisi tersebut dipicu dengan meningkatnya minat terhadap seks, sehingga individu selalu berupaya untuk mencari informasi mengenai materi seksual. Keadaan tersebut ternyata tidak diimbangi dengan pendidikan seksual yang tepat, hal ini juga didukung oleh kondisi sosial budaya yang sebagian besar masyarakatnya masih menganggap seksualitas sebagai hal yang tabu untuk diperbincangkan. Salah satu media yang dewasa ini banyak diminati masyarakat sebagai sumber informasi adalah internet yaitu media komunikasi yang mampu memberikan pijakan baru dalam jangkauan pergaulan yang meluas. Internet mampu memberikan kemudahan dalam berkomunikasi tanpa batas dan bersifat pribadi. Ternyata dibalik berbagai kemudahan yang ditawarkan, internet dapat menimbulkan bahaya kecanduan bagi penggunanya. Kecanduan internet yang sering disebut sebagai Internet Addiction Disorder sering terkait dengan kecanduan seks, kerja dan judi (Young dalam Komputek, 1999). Cybersex menduduki peringkat pertama sebagai saluran dan situs yang terpopuler dan merupakan sarana terfavorit bagi penggunanya (Minggu Pagi, 2000). Dunia industri memperkirakan bahwa pada bulan April 1998 sekitar 9,6 juta orang atau sekitar 15% pengguna internet mengunjungi 10 situs seks paling populer. Terdapat sekitar

70.000 situs yang berkaitan dengan seks, dengan kurang lebih 200 situs baru yang menyertakan pornografi dan ruang-ruang chatting interaktif bertambah setiap harinya (Schwartz dalam Cooper, dkk.,1998). Cybersex merupakan tempat yang nyaman dengan jumlah komunitas yang sangat besar dan ragam bentuk yang ditawarkan berupa percakapan seputar seks hingga menampilkan gambar-gambar porno di selasela percakapan. Kecenderungan melakukan seks secara online berpeluang besar menghasilkan gangguan psikologis baru yaitu kecanduan cybersex yang memiliki potensi menimbulkan kejahatan seksual (Surabaya Post, 2000). Terdapat beberapa tujuan penggunaan cybersex yang penting dipilah diantaranya pemuasan rasa ingin tahu mengenai materi seks, kebutuhan akan informasi seks dan sebagai sarana pendidikan seks, sarana pemuasan hasrat seksual bahkan tempat pelarian mental yang subyektif dan bersifat temporal sebagai upaya mekanisme coping. ACE (Anonimity, Convenience dan Escape) model dari kecanduan cybersex digunakan untuk menjelaskan bagaimana internet telah menciptakan sebuah iklim budaya yang permisif, yang mendorong dan mensahkan perilaku seksual yang menyimpang (Young,1998). Berdasarkan ACE model, anonimitas interaksi online memberi kontribusi meningkatnya perilaku seksual yang menyimpang. Hal ini didukung dengan kemudahan yang ditawarkan berupa tersedianya ruang-ruang chatting interaktif di dunia cyber, yang akhirnya menjadi tempat pelarian mental emosional dan memperkuat

pola perilaku yang mengarah pada kecanduan. Para pecandu cybersex umumnya menghabiskan waktunya berjam-jam untuk memuaskan kebutuhan seksualnya dengan jalan menstimulasi gambar-gambar pornografi, melakukan hubungan seksual dengan seseorang di chat-room, bahkan melakukan perselingkuhan dengan partner seks online di dunia nyata (Sara dalam Detik.com, 1998). Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Kosmopolitan mengenai pendapat responden tentang cybersex, diperoleh hasil bahwa kebanyakan pria (58%) dan wanita (64%) menganggap cybersex sebagai perselingkuhan karena merupakan bentuk perzinahan virtual. Interaksi melalui aktivitas cybersex sering diiringi dengan masturbasi dengan saling berbagi pikiran erotis (Kosmopolitan, 2000). Peneliti mengadakan survey awal pada bulan November 2000, dengan menyebarkan angket bentuk terbuka. Karakteristik subjek yang dipilih adalah subjek yang memiliki batasan pernah mengenal dan terlibat dalam cybersex. Angket bentuk terbuka tersebut disebarkan dengan dua cara yaitu secara off-line dan online melalui attach-file ke beberapa alamat e-mail pengguna internet dengan batasan subjek yang sama. Berdasarkan survey awal yang dikenakan terhadap 15 orang subjek yang terdiri dari 3 orang perempuan dan 12 orang laki-laki yang pernah mengenal cybersex, rata-rata penggunaan internet per minggu selama 3 jam hingga 65 jam. Pemakaian internet terlama sejak pertama kali sekitar 72 bulan

dan waktu terlama yang digunakan setiap kali online adalah 12 jam. Rata-rata aplikasi yang paling sering digunakan adalah chatrooms, alasannya adalah untuk mencari kenalan dan teman baru di dunia maya. Berdasarkan hasil survey awal tersebut diperoleh data bahwa subjek yang pernah mengenal dan terlibat dalam cybersex, terdapat sekitar 46,67% memiliki kontrol diri yang rendah karena sering mengalami hambatan dalam mengontrol keinginan terlibat dalam aktivitas cybersex. Ada sekitar 53,33% subjek yang merasa senang saat menemukan pasangan seks online meskipun sifatnya maya, yang pada awalnya menemukan cybersex tidak sengaja tertarik hingga menyadari dirinya merasa senang dan terangsang. Subjek mengakui memanfaatkan cybersex untuk melupakan waktu saat mengalami ketegangan mental emosional seperti stres dan beban emosional yang menumpuk serta kebosanan, yaitu sebesar 60%. Ada sekitar 53,33% subjek yang berpendapat bahwa resiko negatif yang sering dialami akibat pemanfaatan cybersex adalah terangsang yang ditandai dengan fantasi dan libido seks yang meningkat. Berdasarkan jawaban subjek pada angket terbuka tersebut, terdapat sekitar 53,33% subjek yang pernah terlintas dalam benaknya untuk melanjutkan hubungan dengan pertemuan di dunia nyata namun menganggap hal tersebut sebagai hal yang tidak wajar dan beresiko. Subjek sebesar 80% menganggap aktivitas di cybersex harus disembunyikan dari orang lain mengingat sifatnya sangat privasi. Subjek yang mengakui dirinya mengalami ketakutan dan

perasaan bersalah saat terlibat dalam cybersex terutama terkait dengan peningkatan libido seks mereka, adalah sebesar 80%. Data penelitian menunjukkan bahwa sekitar 53,33% subjek yang beranggapan bahwa cybersex sebagai sarana alternatif pemuasan hasrat seksual yang tidak tersalurkan di luar dunia nyata. Berdasarkan hasil survey awal tersebut dapat disimpulkan bahwa subjek memiliki kecenderungan mengalami kecanduan yang ditandai manifestasi perilaku yang tampak. Ada beberapa faktor yang memberikan kontribusi seseorang mengalami kecanduan internet diantaranya faktor situasional, faktor kepribadian, faktor lingkungan dan faktor interaksional (Young dan Rodgers,1998). Menurut penelitian Young (1997), lebih dari 90% pengguna internet menjadi kecanduan dengan fungsi komunikasi dua arah seperti chat-rooms, MUDs (Multi Users Dungeons), news groups dan e-mail, karena komunikasi dua arah memuat dukungan sosial, pemenuhan kebutuhan seksual serta pembentukan persona. Faktor interaksional mengandung pemenuhan kebutuhan seksual yang menawarkan bentuk fantasi erotis dalam cybersex yang menyediakan metode seks aman untuk memenuhi kebutuhan seksual tanpa ketakutan terhadap penyakit AIDS/herpes. Cybersex memperbolehkan individu untuk mengeksplorasi stimulasi mental dan fisik dalam memainkan fantasi erotis yang dilarang dalam kehidupan nyata (Young,1998). Faktor situasional yang menunjukkan kondisi personal individu,

menggambarkan bahwa orang-orang yang rentan mengalami kecanduan cybersex diantaranya orang yang cenderung menekan kebutuhan seksualnya dan memiliki keterbatasan dalam penyalurannya (Cooper dalam Detik.com, 1998). Adanya masalahmasalah emosi, depresi, masalah dalam hubungan dengan orang lain serta masalah kegagalan dalam pemuasan kebutuhan seksual menjadi pemicu orang terjerat dengan cybersex (Putnam dalam Detik.com, 1998). Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Dhanarto (2000) pada 65 subjek yang aktif dalam mailing list menunjukkan ada hubungan yang positif antara depresi dengan ketergantungan pada internet (r = 0,445, p < 0,01). Faktor kepribadian yang menonjol dan sangat potensial mempengaruhi individu terjerat dalam cybersex adalah individu yang memiliki kontrol diri yang rendah sehingga ia tidak mampu memandu, mengarahkan dan mengatur perilaku online. Penelitian Widiana (2000) pada 70 subjek laki-laki menunjukkan adanya sumbangan kontrol diri terhadap kecenderungan kecanduan internet sebesar 4,12%. Hasil penelitian dari Young dan Rodgers (1998) mendukung asumsi bahwa perkembangan kecanduan internet dipengaruhi oleh trait kepribadian individu. Berdasarkan asesmen kepribadian dengan menggunakan 16 PF, diperoleh hasil bahwa pengguna yang mengalami kecanduan internet memiliki nilai yang tinggi pada self reliance, lebih menyukai aktivitas sendiri dan cenderung membatasi diri dari kehidupan sosial, lebih bersikap emosional

reaktif pada orang lain, cenderung sensitif, waspada dan tertutup. Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut peneliti ingin mengetahui hubungan kecenderungan individu yang mengalami kecanduan cybersex menurut tipologi kepribadian Jung. Menurut Jung (dalam Eysenck,1950), individu yang bertipe kepribadian introvert orientasi jiwanya terarah ke dalam dirinya, dalam pengambilan keputusan, maka nilainilai yang subyektif berperanan penting. Individu yang bertipe kepribadian extravert, orientasi jiwanya terarah ke luar, kepada obyek dan hubungan antar obyek. Individu extravert tipikal bersifat sosiabel, membutuhkan orang lain untuk diajak berbicara dan tidak menyukai aktivitas sendiri. Ia membutuhkan perangsangan, menyukai tindakan yang membahayakan secara tiba-tiba, umumnya impulsif, suka pada perubahan, cenderung agresif, dan seluruh perasaannya tidak berada di bawah kontrol yang ketat. Sebaliknya individu introvert tipikal adalah orang yang pemalu, suka menyendiri dan menjaga jarak dengan orang lain. Tidak percaya pada impulsimpuls seketika. Tidak menyukai perangsangan, suka hidup teratur, perasaannya di bawah kontrol yang ketat, agak pesimis dan menjunjung nilai-nilai etis. Karakteristik tipikal pada pecandu cybersex adalah menarik diri dari situasi sosial dan memperkuat fakta kebohongan. Individu yang mengalami kecanduan cybersex umumnya memiliki kemampuan sosial yang tidak adekuat yang ditandai dengan ketidakmampuan dalam penyesuaian

diri dengan norma sosial, lebih menyukai aktivitas sendiri dan cenderung merasa kesepian. Hal ini menunjukkan sosiabilitas individu mengalami hambatan yang dipengaruhi trait pada kepribadian introvert dan sebagai kompensasinya memilih internet sebagai sarana berinteraksi mengingat sifatnya yang anonim, tertutup dan privasi. Resiko yang ditimbulkan akibat aktivitas cybersex lebih minim kerena merupakan sarana yang menawarkan rasa aman didukung dengan anonimitas yang memberi jaminan atas privasi, pola komunikasi yang lebih terbuka serta kenyamanan untuk menyembunyikan ekspresi wajah dan emosi. Sehingga tampak trait kepribadian introvert lebih menonjol untuk mempertimbangkan resiko atas tindakannya. Kecenderungan kecanduan cybersex berkaitan erat dengan penggunaan waktu yang eksesif dan ketidakmampuan dalam mengontrol dorongan untuk memanfaatkan cybersex. Individu cenderung memiliki kontrol diri yang rendah yang lebih dominan dipengaruhi trait kepribadian extravert. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Putnam (1999), bahwa individu yang rentan mengalami kecanduan cybersex adalah individu yang memiliki tipe depresif, distress emosional serta adanya masalah dalam hubungan sosial, kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan seks yang tidak tersalurkan sehingga cenderung memilih internet sebagai media mekanisme coping. Hal ini merupakan cerminan trait kepribadian introvert yang kurang mampu mengekpresikan emosi sedih yang dialami dan cenderung mengarahkan emosinya ke

dalam dirinya dan sifatnya tertutup. Cybersex menawarkan fantasi seksual yang eksplisit tanpa melibatkan atribut fisik yang memberikan perangsangan-perangsangan yang bagi sebagian besar pengguna merupakan bentuk pemuasan hasrat seksual. Pada dasarnya individu yang lebih menyukai perangsangan cenderung dipengaruhi trait kepribadian extravert, perangsangan tersebut merupakan suatu bentuk penguatan yang mengarahkan pengguna pada perilaku kecanduan. Pengguna internet pada dasarnya memiliki kepribadian yang bersifat bawaan, salah satu kecenderungan kepribadian tampak dominan dan terdapat pada kesadaran sebaliknya kecenderungan kepribadian yang inferior berada dalam ketidaksadaran. Proses pembentukan persona baru melalui aktivitas cybersex ditandai dengan menggunakan nama samaran, pengubahan karakteristik fisik, seperti jenis kelamin, usia, dan kepribadian seperti yang dikehendaki. Identitas online yang baru dapat digunakan sebagai upaya untuk mengekspresikan sifat kepribadian yang cenderung ditekan dan individu dapat memainkan sebagian dari dirinya yang ditakuti maupun dibenci dalam kesadarannya. Individu yang dalam kehidupan nyata tampak memiliki tipe kepribadian introvert, dapat membentuk persona online yang bertolak belakang dengan dirinya. Kondisi tersebut diperkuat dengan unsur anonimitas total dalam aktivitas cybersex, sehingga terdapat jaminan atas privasi dan rasa aman.

Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dipaparkan, diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut : Ada hubungan negatif antara tipe kepribadian extravert dengan kecenderungan kecanduan cybersex. Semakin extravert kepribadian individu maka semakin rendah kecenderungan kecanduan cybersexnya dan sebaliknya semakin introvert kepribadian individu maka semakin tinggi kecenderungan kecanduan cybersexnya. Metode Penelitian Subjek penelitian terdiri dari 79 (75 orang laki-laki dan 4 orang perempuan) pengguna warung internet memiliki karakteristik sebagai berikut : pengguna internet aktif, pernah mengenal dan terlibat dalam aktivitas cybersex dan berusia antara 15 40 tahun. Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah : 1. Kecenderungan Kecanduan Cybersex Kecenderungan kecanduan cybersex adalah suatu proses yang berfokus pada pencarian materi seksual di internet yaitu berupa chatting erotis dan browsing gambar pornografi sebagai suatu bentuk aktivitas eksplorasi seksual. Ekspresi seksual tersebut bergerak dari kontinum normal hingga penggunaan yang patologis yaitu keingintahuan yang sederhana hingga keterlibatan secara obsesif dan berpreokupasi pada fantasi seksual, dengan indikasi adanya rasa aman dari resiko emosional dan fisik. Kecenderungan kecanduan cybersex diukur dengan menggunakan skala kecenderungan kecanduan cybersex, yang disusun oleh

peneliti berdasarkan aspek kecanduan cybersex oleh Cooper (1998), yaitu (a) aktivitas, (b) refleksi, (c) kesenangan dan (d) rangsangan. Semakin tinggi total skor dari jawaban subyek, maka semakin tinggi kecenderungan kecanduan cybersexnya. 2. Tipe Kepribadian Tipe Kepribadian extravert dan introvert mengacu pada batasan teoritis Eysenck dan Wilson (1982). Individu yang memiliki tipe kepribadian extravert dicirikan sebagai orang yang suka bergaul, responsif terhadap lingkungan, ramah, santai, bersemangat, riang, impulsif, suka menuruti dorongan kata hati, mengikuti perubahan, mudah terangsang dan terpengaruh, agresif, mudah gelisah, berani mengambil resiko, ekspresif, praktis dan kurang dapat bertanggung jawab. Individu yang memiliki tipe kepribadian introvert dicirikan sebagai orang yang kurang suka bergaul, sangat pendiam, pesimistik, ekspresinya tenang, kaku, suka murung, penuh kekhawatiran, emosinya datar, suka aktivitas sendiri, hatihati dalam mengambil keputusan, cenderung suka menahan diri, reflektif dan bertanggung jawab. Data dari variabel ini diperoleh melalui skor total yang diperoleh subyek pada skala extravert dan introvert, yang merupakan hasil adaptasi dari skala extravert dan introvert oleh Eysenck yaitu Eysenck Personality Questionaire atau EPQ (Eysenck dan Wilson, 1982) yang mengukur tentang tipe kepribadian dan telah dialihbahasakan oleh Karsono (1995). Dalam skala ini, Eysenck mengukur 7 karakteristik komponen atau sub faktor yaitu : a) activity, b) sociability, c) risk taking, d) impulsiveness,

e) expressiveness, f) reflectiveness dan g) responsibility. Penelitian ini menggunakan metode skala dan metode dokumentasi. Metode dokumentasi digunakan untuk mengungkap identitas subyek penelitian serta karakteristik pengguna cybersex , yang meliputi : (a) Inisial, (b) Jenis Kelamin, (c) Usia, (d) Tingkat pendidikan, (e) Pekerjaan, (f) Pernah mengenal / terlibat dalam cybersex : Ya / tidak, (g) Rata-rata waktu online per minggu untuk aktivitas cybersex, (h) Alasan utama terlibat dalam aktivitas cybersex, (i) Pendapat tentang cybersex (mencakup kelebihan dan kekurangannya) dan (j) Masalah yang timbul akibat penggunaan cybersex (Akademis/pekerjaan, hubungan dengan keluarga/teman/pasangan dll.) Hasil Penelitian dan Diskusi Hasil uji korelasi product moment Pearson menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan (r = 0,248 ; p = 0,014 < p = 0,05) antara tipe kepribadian dan kecenderungan kecanduan cybersex. Dengan demikian hipotesis penelitian diterima yaitu ada hubungan yang negatif antara tipe kepribadian dan kecenderungan kecanduan cybersex. Hasil penelitian tersebut didukung oleh pendapat Cooper (1998) bahwa pengguna internet yang rentan mengalami kecanduan cybersex adalah individu yang memiliki tipe depresif, distress emosional, adanya masalah pada hubungan sosial dan mengalami kegagalan menemukan pemenuhan kebutuhan seksnya serta

menemukan internet sebagai suatu mekanisme coping. Penelitian Young dan Rodgers (1998) pada pengguna internet yang terdiri dari 130 orang laki-laki dan 129 orang perempuan, yang menguji tentang trait kepribadian pada pengguna internet dengan menggunakan 16 PF, menguatkan hasil penelitian tersebut. Hasil penelitian Young dan Rodgers (1998) menggambarkan bahwa pengguna lebih memilih aktivitas sendiri dan kecenderungan membatasi diri dari kehidupan sosial. Pengguna terlihat kurang dapat menyesuaikan diri dengan norma sosial dan secara emosional kurang reaktif, cenderung sensitif, waspada dan tertutup dengan anonimitas. Pengguna yang memiliki karakteristik bersikap waspada dan tertutup menunjukkan ciri-ciri anonimitas interaktif di internet, sehingga pengguna tidak segan membina hubungan baru dengan komunitas maya dengan perasaan bergairah dan kesenangan yang lebih besar dibandingkan di dunia nyata. Bagi pengguna internet, komunikasi anonim melalui internet merupakan suatu lingkungan yang kondusif untuk mengungkapkan ideologi yang radikal serta mendiskusikan sistem kepercayaan sosial yang dianggap tabu sementara dalam kehidupan nyata ada batasan yang menghambatnya. Pengguna yang menunjukkan kecenderungan minimnya emosional yang reaktif dalam kehidupan nyata, menunjukkan hal sebaliknya dalam komunitas maya. Media cybersex sebagai sarana mengekspresikan komentar-komentar

yang berbau seksual secara berlebihan (Young dan Rodgers, 1998). Hasil analisis data menunjukkan sumbangan efektif sebesar 6,1% yang berarti bahwa tipe kepribadian mempengaruhi kecenderungan kecanduan cybersex. Sumbangan efektif yang relatif kecil tersebut berarti masih ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi kecenderungan kecanduan cybersex sebesar 93,9%. Faktor-faktor tersebut diantaranya faktor kepribadian, faktor situasional, faktor lingkungan, dan faktor interaksional. Faktor kepribadian yang mempengaruhi kecenderungan kecanduan cybersex disamping kepribadian extravert dan introvert adalah kontrol diri dan mekanisme coping. Hasil penelitian Cooper (1998) menunjukkan bahwa sekitar 8% dari subjek penelitian mengalami masalah yang berhubungan dengan gangguan kompulsivitas yaitu ketidakmampuan mengontrol dorongan menggunakan cybersex dan hal tersebut berkaitan dengan waktu yang digunakan dalam aktivitas cybersex. Young (1998) menggambarkan sekitar 53% dari 396 kasus kecanduan internet, mengalami problema pernikahan dan hubungan intim akibat cyberaffair dan perilaku kompulsif pada cybersex. Cybersex menjadi salah satu cara mengatasi masalah perkawinan yang tidak mampu diselesaikan dalam kehidupan nyata. Kecenderungan kecanduan cybersex diperkuat oleh perasaan high secara emosional sebagai suatu bentuk pelarian dari ketegangan mental emosional dan keterbatasan diri. Pengguna cybersex dapat melarikan diri dari stres dan

ketegangan emosional di dunia nyata dengan mengadopsi bentuk kepribadian dan identitas baru (Young, 1998). Faktor situasional menunjukkan keadaan individu secara personal, yang ditandai dengan adanya riwayat seksual yang kompulsif dan kecenderungan kecanduan seks dan depresi yaitu individu memanfaatkan cybersex sebagai media melarikan diri dari kenyataan (Young, 1998). Menurut Hawari (dalam komputek, 1999) individu yang menghabiskan waktunya di depan media maya cenderung mengalami depresi karena mereka tidak melakukan human contact. Kondisi situasional lain yang mendukung adalah individu yang menderita disfungsi seksual dan yang mengalami distorsi tubuh yang berat. Cybersex dianggap mampu menyembunyikan penampilan fisik yang cenderung membuat individu tidak percaya diri sehingga individu dapat berkonsentrasi pada seksualitas dengan cara baru, aman dan tanpa batas (Young, 1998). Faktor lingkungan turut memberi andil bagi pengguna mengalami kecanduan cybersex. Kondisi ini didukung dengan menjamurnya penyedia jasa layanan internet yang memberi kemudahan dalam mengakses beragam informasi seks yang ingin diketahui (Young, 1996 ; Cooper, 1998). Penetapan harga rata-rata bagi pelanggan untuk pemakaian internet yang tidak terbatas, sehingga pengguna dapat bertahan online lebih lama tanpa beban finansial yang mendorong penggunaan secara adiktif (Young, 1996). Penelitian Young (1997) menunjukkan bahwa lebih dari 90 %

pengguna internet mengalami kecanduan dengan fungsi komunikasi dua arah. Hasil penelitian Young menggambarkan bahwa hal yang menyebabkan kecanduan pada komunikasi dua arah tersebut adalah 86% karena anonimitas, 63% karena aksesnya, jaminan atas privasi sekitar 58% dan kesenangan yang ditimbulkan sekitar 37%. Berdasarkan data tersebut, disimpulkan bahwa komunikasi dua arah mengandung tiga aspek, yaitu adanya dukungan sosial, pemuasan hasrat seksual serta pembentukan persona. Individu yang ingin masuk dalam komunitas maya, harus memiliki kemampuan beradaptasi, sehingga terdapat peluang untuk mengabaikan norma-norma yang berlaku di dunia nyata yang terkait dengan karakteristik pribadi. Dukungan sosial dalam komunitas maya tersebut, memberi andil bagi individu untuk dapat mengekspresikan opininya tanpa ketakutan untuk ditolak, konfrontasi maupun dinilai karena tidak melibatkan atribut fisik dan identitasnya (Young, 1997). Pengguna yang mengalami kecanduan menyatakan bahwa cybersex merupakan media yang lebih aman dalam melakukan pemuasan hasrat seksual yang mendesak. Melalui cybersex, pengguna merasa terhindar dari ketakutan akan tertularnya AIDS dan penyakit seksual lainnya (Young, 1997). Hal tersebut didukung oleh pendapat Cooper (1998) melalui model triple A yang mempengaruhi kecenderungan kecanduan pada aktivitas cybersex. Pertama, aksesibilitas yang memberi kemudahan dalam mengakses beragam informasi seks serta eksperimentasi pada berbagai channel chatting yang dapat

memberikan keragaman jenis fantasi erotis. Kedua, afordabilitas yaitu nilai ekonomis yang terdapat pada aktivitas cybersex, materi seks di internet terdapat dalam jumlah yang melimpah dengan biaya yang relatif murah bahkan terdapat layanan gratis. Ketiga, anonimitas yang memberi keyakinan bahwa pengguna internet lainnya tidak mengetahui dirinya sehingga pengguna cybersex merasa aman dan mendapat kebebasan dalam mengekpresikan fantasi seksual, mendiskusikan materi seksual secara lebih terbuka serta pengungkapan diri yang relatif cepat yang ditandai dengan pembentukan persona baru. Aspek ketiga pada faktor interaksional adalah pembentukan persona baru yang dapat dilakukan tanpa sepengetahuan lawan bicaranya. Hal ini ditandai dengan kreasi nama samaran dengan mengubah karakter fisik seperti jenis kelamin, usia maupun ras yang dapat memperkuat persona yang salah tentang dirinya. Pembentukan persona baru bertujuan untuk melepaskan beban yang berupa pikiran maupun perasaan yang tidak menyenangkan tentang dirinya serta situasi yang dialami. Identitas online yang baru digunakan untuk mengekspresikan sifat kepribadian yang ditekan dan memainkan sebagian dari dirinya yang ditakuti maupun dibenci dalam kesadarannya (Widiana, 2000). Hal tersebut didukung oleh salah satu aspek dari model ACE dari kecanduan cybersex yaitu anonimitas. Anonimitas mendukung pengguna cybersex untuk memanfaatkan chatting erotis secara rahasia dan dapat mewujudkan fantasi-fantasi seksual yang

terpendam tanpa ketakutan diketahui orang lain, mengingat sifatnya yang sangat personal dan tidak terlacak. Anonimitas mendukung pengguna cybersex untuk membentuk suatu persona baru sehingga pola komunikasi menjadi lebih terbuka dan jujur antar pengguna internet. Anonimitas memberikan jaminan atas privasi dan kenyamanan untuk menyembunyikan ekspresi wajah dan ekspresi emosi tidak seperti di dunia nyata (Young, 1998). Disamping faktor-faktor lain yang mempengaruhi kecenderungan kecanduan cybersex, sumbangan efektif sebesar 6,1% tersebut juga dipengaruhi oleh faktor-faktor dasar kepribadian extravert dan introvert. Menurut Eysenck (dalam Suryabrata, 1995) kepribadian adalah keseluruhan pola perilaku baik yang aktual maupun yang potensial dari organisme yang ditentukan oleh pembawaan dan lingkungan. Faktor-faktor dasar yang mempengaruhi tipe kepribadian tersebut, berkaitan erat dengan kehidupan sosial individu. Tipe kepribadian tersebut hanya berlaku bagi individu pada kehidupan nyata, sedangkan pada komunitas maya terdapat kecenderungan individu untuk membentuk suatu persona baru. Pembentukan persona baru melalui nama samaran dapat meyakinkan individu mentransformasikan dirinya secara mental menjadi seorang yang baru secara online, yang kemungkinan besar berlawanan dengan dirinya dalam kehidupan nyata (Young, 1997). Berdasarkan uji analisis yang membandingkan mean hipotetik dan mean empirik diperoleh hasil bahwa subjek penelitian memiliki kecenderungan

kecanduan cybersex yang rendah (ME = 67,48 < MH = 78). Hal ini dipengaruhi subjek penelitian adalah bukan pecandu cybersex, namun menggunakan cybersex sebagai wahana untuk mendapat informasi edukatif tentang seks. Profil subjek penelitian menunjukkan bahwa mayoritas subjek (94,94%) adalah laki-laki dan subjek perempuan terdapat sekitar 5,06%. Penelitian Young menggambarkan sekitar 53% dari 396 subjek mengalami masalah dalam kehidupan perkawinannya akibat kecanduan cybersex. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengguna cybersex laki-laki lebih rentan mengalami kecanduan dibandingkan perempuan. Laki-laki memiliki kecenderungan untuk mencari dominasi dan fantasi seksual yang dapat dipenuhi melalui aktivitas cybersex. Pengguna internet perempuan umumnya lebih suka menjalin hubungan dekat dan mitra yang romantis. Perempuan biasanya terlibat dalam berbagai bentuk hubungan sebelum masuk ke dalam perbincangan seksual. Penelitian Cooper (1998) menggambarkan sekitar 2/3 subjek adalah laki-laki dan sekitar 8% dari 9.177 subjek tergolong kompulsif terhadap cybersex. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Cooper menggambarkan bahwa pengguna cybersex laki-laki lebih menyukai media erotika visual melalui homepage dan beberapa situs chatting serta berdiskusi secara online untuk membahas berbagai topik seksual. Hal tersebut juga diperkuat dengan observasi yang telah dilakukan peneliti pada beberapa channel chatting yang berorientasi seks dan news groups photo

bugil, bahwa pengguna yang terlibat mayoritas adalah laki-laki yang ditunjukkan melalui nama samaran yang digunakan. Profil pengguna cybersex berdasarkan usia subjek penelitian diperoleh hasil bahwa mayoritas (75,95%) subjek berusia antara 18 sampai dengan 24 tahun. Hal ini berarti bahwa subjek penelitian yang berusia antara 18 sampai dengan 24 tahun tergolong remaja (Sarwono, 1994). Remaja umumnya selalu berusaha mencari lebih banyak informasi mengenai seks melalui media massa (Hurlock, 1993). Remaja yang memiliki minat tinggi terhadap cybersex akan semakin terdorong melakukan aktivitas pencarian materi seksual melalui hal-hal yang berbau erotisme yang mengeksploitasi fantasi seksual (Cooper, 1998). Profil pengguna cybersex berdasarkan atas tingkat pendidikan subjek penelitian, diperoleh hasil bahwa mayoritas adalah S-1 yaitu 43,04%. Hal ini didukung oleh jenis pekerjaan subjek penelitian adalah mahasiswa sebesar 56,96%. Profil pengguna cybersex tersebut, berkaitan erat dengan lokasi penelitian yang digunakan. Lokasi penelitian adalah beberapa warung internet di Yogyakarta, yang sebagian besar pengguna internetnya adalah mahasiswa. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan peneliti, sebagian besar mahasiswa di Yogyakarta paham mengenai komputer. Hal tersebut juga berkaitan dengan usia mahasiswa yaitu berada pada kisaran 19 sampai dengan 24 tahun, sehingga pengguna memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar pada cybersex. Klasifikasi subjek penelitian memiliki kecenderungan kecanduan cybersex

pada tingkat sedang sebesar 81,01%, didukung oleh penelitian Cooper (1998) yang mengklasifikasikan pengguna cybersex yang mengalami kecanduan berdasarkan atas frekuensi waktu online dalam aktivitas cybersex. Menurut Cooper (1998), pengguna cybersex yang memiliki tingkat kecanduan sedang adalah pengguna yang menggunakan waktu online terlibat dalam aktivitas cybersex antara 1 sampai dengan 10 jam per minggu. Berdasarkan gambar 5 diperoleh hasil bahwa rerata waktu online per minggu antara 1 sampai dengan 10 jam sekitar 56,96%. Ditinjau dari tipe pengguna cybersex, sebagian besar dari subjek penelitian termasuk tipe pengguna rekreasional yaitu sekitar 60,76%. Hal ini berarti bahwa mayoritas dari subjek penelitian tergolong pengguna non patologis. Hal ini didukung pendapat subjek penelitian tentang kelebihan cybersex sebagai sarana informasi edukatif sebesar 27,85%, dibandingkan cybersex sebagai sarana alternatif penyaluran seks hanya sebesar 3,8%. Hal ini berarti bahwa subjek memanfaatkan cybersex sebagai sarana hiburan untuk memuaskan rasa keingintahuannya tentang materi seksualitas, informasi seks yang spesifik serta sebagai sarana pendidikan seks dari pada sebagai sarana pemuasan hasrat seksual. Penelitian yang dilakukan Cooper (1998) terhadap pengguna internet (9.177 pengguna) melalui survey web site MSNBC secara online, menguatkan kondisi tersebut. Hasil penelitian Cooper menunjukkan bahwasanya pengguna internet menggunakan cybersex sebagai sumber hiburan

dibandingkan sebagai sarana pemuasan hasrat seksual, karena pengalaman aktivitas cybersex lebih bersifat menyenangkan dari pada perangsangan. Pengguna cybersex pada tipe rekreasional cenderung mengalami kebosanan dengan minimnya variasi seks yang ditawarkan secara online, sebagaimana didukung pendapat subjek tentang kekurangan cybersex yang dapat menimbulkan kebosanan sebesar 10,13% dan cybersex bersifat maya sebesar 13,92%. Subjek penelitian memiliki kecenderungan kecanduan cybersex pada tingkat sedang, didukung oleh minimnya problematika yang ditimbulkan akibat aktivitas cybersex.

maupun online. Sekiranya penting untuk ditambahkan kajian kualitatif yang akan memperkaya hasil penelitian. Pertimbangan lain adalah subyek penelitian yang lebih beragam baik dari segi usia, jenis kelamin dan lokasi penelitian, sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1996. Internet dan Komputer Masa Depan. Online. 3 April 1996. Peranan Kompas

Anonim. 1999. Perempuan dan Internet : Hubungan Romantis Secara Anonim. Kompas Online no 9 tahun I. 10 Juni 1999. Anonim. 1999. Bahaya Kecanduan Internet. Komputek. Minggu IV Oktober 1999. Anonim. 1999. Bagaimana Internet Bisa Jadi Candu. Komputek. Minggu IV Oktober 1999. Anonim. 2000. Cybersex Bisa Munculkan Kejahatan Seks. Surabaya Post. Minggu 16 April 2000. Anonim. 2000. Cybersex Jadi mainan Favorit. Minggu Pagi No. 5 th 53 Minggu 1 Mei 2000. Anonim. 2000. Gawat, Internet Pengaruhi Perilaku Penggunanya. Komputek. Edisi 168 Minggu I Juni 2000.

Saran Bagi peneliti selanjutnya, dalam skala extraversion introversion terdapat tujuh faktor yang mendukung yaitu activity, sociability, risk taking, impulsiveness, expressiveness, reflectiveness dan responsibility. Pada penelitian selanjutnya, diharapkan dapat meneliti berdasarkan ketujuh faktor tersebut dengan pertimbangan bahwa untuk pengetrapan ketujuh faktor kepribadian dapat diketahui sumbangannya terhadap kecenderungan kecanduan cybersex dengan lebih teliti dibandingkan dengan membagi tipe kepribadian yaitu extravert dan introvert. Diperlukan kajian empiris terhadap faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi kecenderungan kecanduan cybersex dan penyempurnaan skala kecenderungan kecanduan cybersex dengan teknik penyebaran skala baik melalui off-line

Anonim. 2000. Bebas Kontrol Chatting Masih Negatif. Komputek. Edisi 174 Minggu III Juli 200. Anonim. 2000. Cybersex Duduki Peringkat Pertama. Komputek. Edisi 174 Minggu III Juli 2000. Anonim. 2000. Kosmo Kontroversi, Cybersex = Selingkuh ?. Kosmopolitan. November 2000. Azwar, S. 1999. Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Cooper, A. 1998, Sexuality and the Internet : Surfing into the New Millennium, USA, Cyberpsychology and Behavior, Vol. 1, No. 2, pp. 181-187. Cooper, A., Scherer, C.R., Boies, S.C., & Gordon, B.L., (in press). 1998. Sexuality on the internet : From Sexual Exploration to Pathological Expression. Professional Psychology : Reseach and Practice. Cooper, A., Putnam, D., Planchon L.A., & Boies, S.C. 1998. Online Sexual Compulsivity : Getting Tangled in The Net. Sarasota, FL: Professional Resource Press. Dhanarto, A. N. 2000. Hubungan Antara Depresi dengan Ketergantungan Pada Internet. Skripsi. (tidak diterbitkan). Yogyakarta. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

Eysenck, H.J. & Wilson, G.D. 1982. Know Your Own Personality. Australia. Pinguin Books. Putnam, D. 1999. Online Sexual Addiction Questionnaire (OSA-Q) Online Sexual Addiction: Education, Support, & Resources. http://onlinesexaddict.com Sara, I. 1998. Awas Bahaya Kecanduan Cybersex. Artikel. Detik.com. 28 Oktober 1998. http://detik.com Sara, I. 1998. Tujuan Hubungan di Internet Pria Seks, Wanita Hubungan Tulus. Artikel. Detik.com. 28 Oktober 1998. http://detik.com Surono, A. 2000. Kecanduan Cybersex Renggangkan Kontak Seksual . Intisari No. 438 Januari 2000. Suryabrata, S.1995. Psikologi Kepribadian VII. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada. Wallace, P. 1999. The Psychology of The Internet. Cambridge University Press. Widiana, H.S. 2000. Hubungan antara Kontrol Diri dengan Kecenderungan Kecanduan Internet. Skripsi. (tidak diterbitkan). Yogyakarta. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

Widjaja. 1999. Kekuatan Seks dalam Penyembuhan. Jakarta. PT Interaksara. Young, K.S. 1998. What is Cybersexual Addiction. The Center For Online Addiction. Healthcare innovation for the Millennium. Young, K. S., Mara, J. O., & Buchanan. J. 1999. Cybersex and Infidelity Online : Implication for Evaluation and Treatment. Paper presented at the 107th annual meeting of the American Psychological Association, Division 43, August 2, 1999. Young, K. S. & Rodgers, R. C. 1998. The Relationship Between Depression and Internet Addiction. Cyberpsychology Behavior. 1(1). Mary Ann Liebert, Inc. Young, K. S. & Rodgers, R. C. 1998. Internet Addiction : Personality Traits Associated With Its Development (A Preliminary Analysis). Paper Presented at 69th Annual Meeting of The Eastern Psychological Association in April 1998.

Beri Nilai