Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS PELAKSANAAN SISTEM CBT DI SMK (Suatu Studi di SMK Negeri 4 Jakarata dan SMK Negeri 5 Jakrata) Oleh

Dicky Suwanto1, Bambang Dharmaputra2, Wiwi Andriani3


Analysis implementation of system CBT (competency based training) a study in SMK SMK Negeri 4 Jakarta and SMK Negeri 5 Jakarta, with the aim to determine the extent of implementation of the CBT system. Facing this, the necessary restructuring of the education system as a whole, particularly relating to the quality of education, and its relevance to the needs of society and the world of work. Secondary education which prioritizes the development of Traffic student to perform certain types of work. Vocational high school (SMK) is a form of education units in the path of school education in the education menengah.Menurut Act No. 2 Year 1989 (1995) aimed at secondary education (1) Increase students' knowledge to continue pendidika at a higher level and to develop themselves in line with developments pegetahuan science, technology and art, (2) improve the ability of students as members of the public in their relationship reciprocity with social, cultural, and natural surroundings Kata kunci : Pengertian Sistem CBT, Konsep Pendidikan Sistem Ganda, Penilaian dan Sertifikasi, Kemampuan Guru dalam Menerapkan sistem CBT

1 2

Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Elektro Reguler 2009 (NIM :5115092551)

Dosen Pembimbing skripsi 3 Mahasiswa S1 Pendidikan Teknik elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri jakarta 2004

Dalam era globalisasi dan pasar bebas manusia dihadapkan pada perubahaan-perubahan yang tidak menentu. Hal tersebut telah mengakibatkan hubungan yang tidak liniear antara pendidikan dengan lapangan kerja atau one to one relationship Karena apa yang terjadi dalam lapangan kerja sulit diiukuti oleh oleh dunia pendidikan sehingga terjadi kesenjangan. Tilaar mengemukakan bahawa Pendidikan nasional dewasa ini sedang dihadapkan pada empat krisis pokok yang dengan kuantitas, relevansi, elastisme, dan manajemen4. Lebih lanjut pendekatan pembelajaran yang telah dilaksanakan bertahun-tahun ternyata kurang mampu menjawab permasalahan kebutuhan tenaga kerja.Tenaga kerja yang dihasilkan selama ini belum memiliki kompetensi yang memadai, sehingga banyak menciptakan pengangguran. Sementara disisi lain banyak peluang kerja yang diisi oleh tenaga kerja asing. Hal ini menunjukan rendahnya kualitas tenaga yang dihasilkan melalui pendekatan pembelajaran konvensional5. Menghadapi hal tersebut, perlu dilakukan penataan terhadap sistem pendidikan secara menyeluruh, terutama berkaitan dengan kualitas pendidikan, serta relevansinya dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemapuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu. Sekolah menegah kejuruan (SMK) merupakan bentuk satuan pendidikan di
E. Mulyana, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (bandung : Rosda,2002), Hal. 4. 5 Tim Subdit kurikulum, Reposisi pendidikan kejuruan, (jakarta : Departemen Pendidikan Nasionla, 2002), Hal. 9.
4

jalur pendidikan sekolah pada pendidikan menengah.Menurut Undang-undang No. 2 Tahun 1989(1995) pendidikan menengah bertujuan (1) Meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan pendidika pada jenjang yang lebih tinggi dan untuk mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pegetahuan, teknologi, dan kesenian, (2) meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar6 Oleh karena misinya yang khusus, yakni memepersiapakan anak didik untuk memasuki dunia kerja, maka kualifikasi lulusan juga harus sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Pada era global maka SMK juga mengalami perubahan. Menurut buku Keterampilan Menjelang 2020 yang dikutip gatot (2000), hakekat pembaharuan pendidikan kejuruan sesuai dengan kebijakan link and match adalah perubahan dari pendidikan pola yang cenderung berbentuk pendidikan demi pendidikan, mejadi suatu yang lebih jelas dan konkrit yaitu sumber daya manusia 7 . Berkaitan dengan hal tersebut, berbagai pihak menganalisis dan melihat diterapkan pelatihan berbasis kompetensi (Competency based Training) yang dapat membekali peserta didik dengan berbagai kemampuan yang sesuai dengan tuntutan jaman dan tuntunan reformasi guna menjawab tantangan arus globalisasi, berkontribusi pada pembangunan. Pelatihan berbasis
6

Undang-undang Republik Indonesia No 2 Tahun 1989, tentang pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerinah No 29 Tahun 1990 (Jakarta : Sinar Grafika, 1995), Hal 90.
7

Tim CBT UNY, Konsep Ideal Copmetency Based Training (Yogyakarta : Fakultas Teknik UNY, 200), h. 1.

kompetensi (CBT) sudah digunakan dan dikembangakan di negara maju antara lain Jerman, Inggris, Amerika, Kanada, Selandia Baru, dan Australia. Australia Team Leader (ATL) (2000) menjelaskan CBT adalah pelatihan yang didasarkan akan hal-hal yang diharapkan dapat dilakukan oleh seseorang di tempat kerja. CBT berfokus pada apa yang dapat dilakukan oleh seseorang sebagai hasil atau akibat (output) dari pembelajaran seseorang dikatakan kompeten apabila mampu melaksanakan tugas-tugas yang ada di dunia kerja artinya harus mampu mentransfer keterampilan dam pengetahuan pada kondisi dunia kerja, merencanakan dan mengorganisasikan pekerjaan serta mengatasi permasalahan yang timbul dalam pekerjaan. METODE Penelitian yang dilakukan peneliti adalah penelitian kuantitatif, karena itu penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Penelitian kuantitatif menggabungkan cara berfikir induktif dan deduktif. Pada cara berfikir deduktif berarti bahwa penyusunan abstraksi berdasarkan pada baigan-bagian yang telah dikumpulkan kemudian dikelompok-kelompokan. Jadi, penyusunan teori disini berasal dari bawah ke atas, yaitu dari sejumlah bagian yang banyak data yang dikumpulkan dan saling berhubungan. Sedangkan berfikir deduktif dengan memvertifikasikan temuan pada teori dasar yang ditemukan melalui kajian teoritik sehingga bisa kita implementasikan ke lapangan. HASIL ANALISIS Peneliti menemukan kasus tentang analisis pelaksanaan sistem CBT di SMK dengan lingkup penelitian sebagaiamana terdapat pada latar balakang. Berdasarkana uraian tersebut maka penulis sangat tertarik

dengan masalah-masalah yang ada dalam pelaksanaan sistem CBT di SMK, minegingat antara teori dan praktek di lapangan tidak selalu sama. Dari hasil penelitiannya peneliti menemukan KONSEP PENDIDIKAN SISTEM GANDA Tujaun utama pelaksanaan pendidikan sistem ganda adalah menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional yaitu tenaga kerja yang memiliki tingkat pengetahuan,keterampilan dan etos kerja sesuai dengan tuntutan lapangan kerja. Dalam pelaksanaan PSG di SMK 4 jakarta menganut sistem blok release, sesuai dengan kesepakatan anatara sekolah dengan institusi pasangan. PSG dilaksanakan selama satu minggu di sekolah selama satu minggu pertama siswa kelas II melaksanakan PSG dan siswa kelas III belajar di sekolah, satu minggu kemudian siswa kelas II bertukar dengan siswa kelas III dan begitu seterunya sampai siswa-siswa lulus 8 . Sedangan PSG di SMK 5 jakarta bekerjasama dengan 30 perusahaan, walaupun bekerja sama dengan 30 perusahaan setelah siswa naik kelas 2 siswa tidak langsung ditempatkan di perusahaanperusahaan tersebut, siswa mencari sendiri perusahaan-persusahaan untuk PSG. Hal ini disebabkan karena ketidak pastian penempatan PSG akibat dari tidak adanya kerjasama tertulis antara pihak sekolah dengan perusahaan9 PENILAIAN DAN SERTIFIKASI Pada penilaian yang dialkukan di SMK 4 penilaian kemampuan siswa baru dilakukan oleh guru mata diklat yang bersangkutan, jadi belum melibatkan pihak industri(aceccor), industri baru dilibatkan dalam penilaian saat siswa telah melaksanakan PSG dan uji kompetensi pada saat kelas III, sedangkan untuk sertifikasi smk 4 belum dapat memberikan sertifikasi
8 9

Catatan lapangan No 2, h 114 Catatan lapangan No 10, h. 172

kepada siswanya. Untuk penilaian yang dilakukan di SMK 5 adalah penilaian yang hanya dilakukan oleh guru dan tidak ada penilaian dari industri, penilaiaan yang dilakukan di smk 5 belum berjalan dengan baik karena masih banyak terjadi penyimpanagan, sedangkan untuk sertifikasi hanya diberikan bagi siswa yang sudah mengikuti PSG. KEMAMPUAN GURU DALAM MENERAPKAN PEMBELAJARAN CBT Kemampuan guru dilihat dari kemampuan dalam memahami CBT, kemampuan dalam merencanakan, kemampuan dalam melakasanakan belajar tuntas dan kemampuan dalam memaksimalkan penggunaan peralatan praktik. PEMBAHASAN PENGERTIAN CBT( COMPETENCY BASED TRAINING) Kompetensi yang merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Gordon menjelaskan beberapa aspek atau ranah yang terkandung dalam konseop kompetensi sebagai berikut; y Pengetahuan(knowledge); kesadaran dalam bidang kongnitif, misalnya guru mengetahui cara melakauakan indetifikasi kebutuhan belajar dan bagaimana melakukan pembelajaran terhadap peserta didik dengan kebutuhan. y Pemahaman(undestading);yai tu kedalaman kognitif, dan afektif yang dimiliki oelh individu. Misalnya seorang guru yang akan melaksanakan pembelajaran

harus memiliki pemahaaman yang baik tentang karakteristik dan kodisi peserta didik, agar dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien. y Kemapuan (skill); sesuatu yang dimilikin oelh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya, misalnya kemampuan guru dalam memilih, dan membuat alat peraga senderhana untuk memberi kemudahan belajar peserta didik. y Nilai (value) adalah suatu standar perilaku yang diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang. Misalnya standar perilaku guru dalam pembelajaran( kejujuran, keterbukaan, demokratis, dan lain-lain.) y Sikap(attitude); perasaan (senag-tidak senagng, sukatidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar. Misalnya reaksi terahdap krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan gaji dan lain sebagainya. y Minat(interest) adalah kencenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan. Misalnya untuk mempelajari atau melakukan sesuatu10 Berdasarkan pengertian di atas, pelatihan yang menekankan pada pengembangan kemampuan

10

E. Mulyana, opcit

tugas-tugas dengan standar kompetensi Karakte Program Program nonristik CBT CBT Apa Materi Materi yang yang di khusus didasarkan pelajari spesifika pada bukusiswa si yang buku, garisbetulgaris besar betul sehingga diperluka siswa kurang n di memahami dunia apa yang kerja dipelajari. Bagaim Kegiatan Kegiatan ana belajar belajar siswa mengajar mengajar belajar terpusat terpusat pada pada instruktur siswa, yang pelajaran biasanya direncak menggunaka ana n metode dengan ceramah, kualitas diskusi dan tinggi, ataupun hati-hati, demonstrasi. media dan material direncan akan untuk membant u siswa dalam menyelas aikan tugas Kapan Memberi Waktu yang siswa kan disediakan pndah/ waktu untukmemah meneru secukupn ami satu unit skan ya bagi materi bagi dari siswa satu tugas ke untuk kelompok

tugas

Sistem kelulus an

belajar sehingga siswa betulbetul menguas ai tugas sebelum pidah ketugas lainnya Menggu nakan pendekat an stadar (PAP)

siwa itu sama

Menggunaka n pendekatan norma (PAN)

KONSEP GANDA

PENDIDIKAN

SISTEM

Pendidikan sistem ganda adalah salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaaan keahlian yang diperoleh melalui kerja langsung di dunia kerja terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu. Dalam pengertian tersebut terdapa dua pihak yaitu lembaga pendidikan dan lapangan kerja atau industri yang secara langsung bersama-sama menyelenggarakan suatu program pendidikan dan pelatihan kejuruan. Dari konsep PSG pada sekolah Menegah dan Kejuruan di indonesia yang di terbitkan oelh majelis pendidikan Kejuruan Nasional, PSG hanya mungkin dilaksanakan apabila terdapat kerjasama dan kesepakatan anatra institusi pendidikan pelatihan kejuruan dan institusi lain yang memiliki sumber daya untuk mengembangkan keahlian kejuruan untuk bersama-sama menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan kejuruan. Institusi lain yang mengikat diri dan bekerjasama

dengan lembaga pendidikan kejuruan itu disebut Institusi Pasang11 Hasil penelitian mengenai pelaksanaan PSG di SMK 4 Jakarta telah berjalan dengan baik. Hal ini dibenarkan oleh sejumlah informan sebagai temana sejawat peneliti denga argumen bahwa kondisi tersebut disebabkan SMKN 4 jakarta telah memiliki institusi pasang (IP) sehingga ketika siswa naik kelas 2 dapat langsung ditempatkan di IP tersebut, sehingga waktu dan lamanya pealaksanaan PSGnya sama. Hasil penelitian mengenai masalah ketidakpastian penempatan PSG siswa SMKN 5 jakarta. Menurut sejumlah informan hal ini terjadi karena (1)sekolah tidak memiliki institusi pasang,(2) kerjasama yang dilakukan sekolah dan industri tidak dilakukan secara tertulis seingga pihak industri bisa saja menolak siswa dengan berbagaia alasan,(3) siswa mencari sendiri industrinya, (4) siswa PSG di industri yang berbeda sehingga lamanya waktu PSG berbeda pula tergantung pada permintaan industrinya, (5) penjadwalan yang belum berjalan. PENILAIAN DAN SERTIFIKASI Pengukuran dan penilaian keberhasilan pesarta didik dalam mencapai kemampuan yang sesuai dengan standar profesi( standar keahlian tamatan) yang telah ditetapkan, seharunya dilakukan melalui proses sistem penilaiaan dan sertifikasi yang disepakati bersama. Penilaian dan sertifikasi akan berjalans secara optimal bila melibatkan unsur-unsur sekolah, institusi pasang, asosisasi profesi dan unsur-unsur lainnya yang terkaiat dengan ketenagakerjaan 12 . Menurut subdit kurikulum, acuan penilaian yang diapakai
11

dalam menilai kemampuan siswa menggunakan penilaian acuan patokan (PAP)13. Sertifikasi diberikan kepada siswa yang berhasil menempuh ujian kompetensi dalam rangka penilaian penguasaan keahlian. Dasar yang dijadikan patokan dalam menetapkan jenis dan tingkat kompetensi pada sertifikat Hasil penelitian mengenai masalah penilaian yang dilakukan guru SMKN 4 jakarta belum berjalaan dengan baik. Hal ini disebabkan oleh tidak dilibatkanya pihak luar dalam penilaian, penilaian baru dilakukan oleh guru yang bersangkutan dengan menggunakan standar yang dikelurkan oelh asosiasi profesi. Begitu juga dengan SMKN 5 ajakrta masih belum berjalan dengan baik karena (1) tidak dilibatkannya pihak laur dalam penilaian, (2) tidak adanya pengarahan dari pimpinan mengenai cara, patokan penilaian dan standar yang harus dipergunakan. Hasil penelitian mengenai masalah sertifikasi yang dilakukan di SMKN 4 dan SMKN 5 jakarta belum berjalan dengan baik. Hal ini dikarenakan belum adanya pihak yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan sertifikat. KEMAMPUAN MENERAPKAN CBT GURU DALAM PEMBELAJARAN

Guru merupakan pihak yang memiliki peran penting dalam suksenya pencapaian tujuan pembelajaran. Sehingga besar waktu yang dimiliki guru disekolah tercurah dalam proses belajar bersama siswa. Seiring dengan penerapan sistem CBT, kompetansi dan kreativitas guru semakin dibutuhkan, baik kompetensi pribadi , kompetensi profesional maupun kompetensi kemasyarakatan. Penerapan
13

Konsep PSG pada Sekolah Menengah dan Kejuruan di Indonesia (Jakarta: Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1996), h.8 8 ibid h 1 4

Tim subdit kurikulum, reposisi pendidikan kejuruan (Jakarta: direktorat pendidikan menengah dan Kejuruan), h 21

sistem CBT yang masih relatif baru masih membutuhkan pemahaman yang benar oleh guru, agar dalam pelakasanaan tidak menyimpang dari yang diaharapkan. Hasil yang didapatkan di SMKN 4 jakarta dapat disimpulakan bahwa adanya kepedulian pimpinan untuk memberikan pemahaman tentang CBT kepada guru-guru pelakasanaan CBT optimal. Sedangkan di SMKN 5 tingkat pemahaman guru-guru tentang sistem CBT secara umu masih kurang dan belum dapat di optimalisasikan karena (1) terbatanya waktu sosialisasi, (2) karena sudah terbiasa dengan pola pembelajaran yang lama, (3) hanya satu orang guru saja yang ikut seminar CBT (4) kurang adanya soasialisasi dari pimpinan tentang sitem CBT. PERMASALAHAN Bagaimana pelaksanaan sistem CBT pada tingkat pendidikan Sekolah menengah kejuruaan.

hendaknya bekerjas sama dengan pihak industi dan asosiasi profesi dalam menilai kemampuan siswa dan dalam pemberiaan sertifikasi kemampuan siswa;(3)pihak sekolah hendaknya menambah media pembelajaran yang menujang tercapaina hasil yang diinginkan sistem CBT; (4) Pihaks ekolah hendaknya mendatangkan medaiator dari kator pusat yakni DIKMENTI dan lambaga atau institusi lain yang benar-benar membidangi sistem CBT pada forum sosialisasi sistem CBT. DAFTAR PUSTAKA Arsyad, Azhar, Media pengajaran, Jakarta: Raya Grafindo Persada 1999 Departemen Pendididkan dan kebudayaan, Kurikulum SMK, Garis-garis Besar Program Pendidikan dan Pelatihan Produktif, Program Keahlian teknik Elektronika Komunikasi, Jakarta, 1999. Tim CBT UNY, Konsep ideal CBT, Yogyakarta Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta, 2000 Tim Subdit Kurikulum, resposisi pendidikan kejuruan, jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2002 Nawawi, Hadari, Organisasi sekolah dan Pengolahan Kelas, Bandung: Sinar baru, 1989

KESIMPULAN Dari hasil analisis data dan hasil penelitian dapat disimpulakan bahwa (1) secara umu pelaskanaan sistem PSG di smkn 4 jakarta telah berjaland engan baik karena sudah adanya institusi pasang sehingga terjadi keseragaman waktu dan lamanya pelaksanaan PSG, sedangkan di SMKN 5 belum berjalan dengan baiak disebabkan siswa praktik di perusahaan yan berbeda shingga alamnya PSG juga berbeda-beda; (2) Penilaian di SMKN 4 dan SMKN 5 jakarta masih belum berjalan dengan baik karena belum dilibatkanya pihak luar;(3) sertifikasi di SMKN 4 dan SMKN 5 belum dilaksanakan; Saran Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan yang ada maka dapat direkomendasikan bahwa (1) sebaiknya pihak sekolah memiliki institusi pasang;(2) Pihak sekolah