Anda di halaman 1dari 4

KONSEP KEKUASAAN DAN KEDUDUKAN RAJA DI INDONESIA

I.1 Kekuasaan Kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan oleh seseorang atau kelompok guna menjalankan kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan, kewenangan tidak boleh dijalankan melebihi kewenangan yang diperoleh atau kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku (Miriam Budiardjo,2002)1 atau Kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi. Sedangkan kekuasaan dalam kamus bahasa Indonesia berarti kewenangan yang dialasi kemampuan dan kekuatan untuk menentukan atau mengurus sesuatu atau untuk memerintah. Konsep kekuasaan selalu berkaitan dengan ilmu politik, tidak hanya kekuasaan saja tetapi meliputi Negara, control sosial, otoritas dan sebagaimana lainnya yang berkaitan karena itu juga berkaitan dengan ilmu politik, dalam konsep ilmu politik, konsep kekuasaan memiliki hubungan erat/tidak dapat di pisahkan dari unsur Negara yang pada dasarnya adalah sebagai institusi politik, partai politik dan pemerintahan. Kekuasaan biasanya berbentuk hubungan, hubungan dalam arti ada yang memerintah dan di perintah. Dikatakan bahwa kekuasaan yang besar diberikan kepada Negara dibutuhkan untuk kepentingan masyarakat. Yang jadi masalah adalah bila ternyata kekusaan tersebut tidak dipergunakan untuk tujuan ini, bagaimana kekuasaan ini bisa dikoreksi? Kekuasaan Negara sudah terlanjur terlalu besar, kekuasaan masyarakat kecil. Karena itu tidak ada kekuatan di masyarakat yang bisa memperbaiki Negara, sekiranya kekuasaan besar yang dipercayakan kepada Negara disalahgunakan.2 Dalam pemerintahan mempunya makna yang berbeda: "kekuasaan" didefinisikan sebagai "kemampuan untuk mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu yang bila tidak dilakukan", akan tetapi "kewenangan" ini akan mengacu pada klaim legitimasi, pembenaran dan hak untuk melakukan kekuasaan. Sebagai contoh masyarakat boleh jadi memiliki kekuatan untuk menghukum para kriminal dengan hukuman mati tanpa sebuah peradilan sedangkan orang-orang yang beradab percaya pada aturan hukum dan
1 2

Miriam Budiarjo, Pengantar Ilmu Politik, (Jakarta : LP3ES, 2002), h.34 Arif Budiman, Teori Negara, Kekuasaan dan Ideologi, (Jakarta : Gramedia, 1996), h.24

perundangan-undangan dan menganggap bahwa hanya dalam suatu pengadilan yang menurut ketenttuan hukum yang dapat memiliki kewenangan untuk memerintahkan sebuah hukuman mati. Dalam ilmu politik, legitimasi diartikan seberapa jauh masyarakat mau menerima dan mengakui kewenangan, keputusan atau kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin. Dalam konteks legitimasi, maka hubungan antara pemimpin dan masyarakat yang dipimpin lebih ditentukan adalah keputusan masyarakat untuk menerima atau menolak kebijakan yang diambil oleh sang pemimpin. Legitimasi bagi sebuah Negara berarti usaha untuk menyembunyikan keterlibatan Negara dalam membantu akumulasi modal dari klas yang dominan. Usaha yang diperlukan adalah dengan ideologi karena ideologi merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan bagi kekuasaan Negara.3 I.2 Kekuasaan dan Kedudukan Raja di Indonesia Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar dan memiliki sejarah yang panjang telah mengalami beberapa konsep Negara dan mengimplementasikan konsep-konsep kekuasaan yang berbeda satu sama lainnya. Salah satunya yaitu kekuasaan sistem kerajaan. Warisan kerajaan-kerajaan konsentris: konsep kerajaan-kerajaan di Jawa/Indonesia adalah konsep raja sebagai poros kekuasaan yang dikelilingi oleh para asistennya termasuk para penguasa di daerah. Untuk memperkuat kedudukannya di daerah, cara yang dipakai adalah sistem keluarga, dimana penguasa-penguasa di daerah adalah kalangan keluarga dekat raja atau dilakukan pernikahan dengan keluarga dekat raja sehingga raja tidak dikhawatirkan dengan sikap pembangkangan yang mungkin timbul. Kadang-kadang juga dengan menyandera salah satu keluarga penguasa daerah untuk tetap tinggal di lingkungan istana, tentunya kalau ingin tetap selamat, penguasa daerah harus tetap loyal kepada raja. Raja sebagi pusat poros kekuasaan, dianggap sebagai perwujudan dewa pada masa pengaruh agama Hindu.4 Sebagai contoh Airlangga dan Ken Arok diangap sebagai perwujudan Wisnu. Pada masa penyebaran agama Islam, ada mitos bahwa raja adalah sebagai wakil Tuhan di dunia, oleh karena itu untuk menjadi raja harus mendapat wahyu kraton yang berupa cahaya cemerlang yang masuk dalam tubuh raja tersebut (kepercayaan ini bukanlah asli dari agama Islam, tapi lebih pada kepercayaan lokal, bahkan mungkin dari pengaruh Hindu). Pusat poros kekuasaan ini terefleksi dengan nama raja-raja di Jawa Paku Buwono yang
3 4

Ibid.,h.80 Denys Lombart, Nusa Silang Budaya jilid 3, (Jakarta : Yayasan Obor, 19), h. 97

berarti paku dunia, Paku Alam yang berarti paku semesta alam, Hamengku Buwono yang berarti memangku dunia. Juga gelar yang disandang: Senapati ing Alaga Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah yang berarti raja adalah panglima tertinggi, pengatur agama juga pemimpin yang ditunjuk oleh Tuhan. Ini juga pengaruh warisan lama dari pewayangan bahwa raja yang baik adalah ratu pinandito raja yang sekaligus juga bersifat pendeta, suatu usaha agar tidak terjadi dualisme kekuasaan antara kekuasan raja dan kekuasaan pendeta/ulama. Poros kekuasaan raja sebagai kekuasan absolut menimbulkan suatu ruang kebebasan dalam masyarakat Indonesia. Ini disebabkan makin jauh dari ibukota dimana kerajaan itu berada, kekuatan kekuasan raja makin menipis. Ruang pedesaan dan hutan terdapat suatu ruang kebebasan dimana orang-orang yang tidak sehaluan dengan raja, mengembangkan budaya kebebasan mereka sendiri yang umum disebut sebagai budaya pinggiran. Bukti adanya suatu budaya mandiri yang lepas dari kekuasan adalah adanya kisah perjalanan seperti Serat Centini di Jawa Tengah dan Bujangga Manik di Jawa Barat. Kisah perjalanan ini banyak menceritakan tentang kantong-kantong daerah di seluruh Jawa yang terlepas dari pengaruh kerajaan, kisah-kisah kebijakan para pertapa dan kyai-kyai yang mengembangkan otoritas mereka sendiri-sendiri dalam wilayah terbatas lepas dari kekuasaan raja. Seorang raja yang berkuasa, belum sepenuhnya yakin bahwa rakyatnya akan menaati segala perintahnya. Oleh karena itu perlu ditemukan hal-hal yang dapat mendukung kedudukan mulia dan kekuasaan besar yang dipegangnya. Hal-hal yang dapat mendukung kekuasaan dapat bermacam-macam bentuknya, antara lain keajaiban yang terjadi misalnya, petir disiang hari yang cerah pada pemunculan raja yang pertama, atau restu dari para leluhur, misalnya Ratu Pantai Selatan Pelindung Surgawi dari Gunung Merapi dan Gunung Lawu atau leluhur lainnya. Untuk lebih meyakinkan diri bahwa kedudukannya sah, sehingga aman dari ancaman, raja perlu menunjukkan pusaka yang ada padanya sebagai sumber kasekten (kesaktian) bagi dirinya dan kewibawaan bagi pemerintahannya. Bagi masyarakat Jawa, tidak dapat dipahami kalau seorang raja sampai tidak mempunyai pusaka. Karena tanpa pusaka, sulit bagi rakyat untuk mendukung (menjadi pengikutnya), sebab pusaka itu menjadi salah satu sumber kasekten raja. Dengan menguasai berbagai sumber kasekten, raja akan mampu mengumpulkan begitu banyak kasekten untuk mewujudkan kesejahteran rakyat yang menjadi kawulanya. Orang-orang Jawa beranggapan bahwa kanggonan pusaka (ketempatan pusaka) berarti kanggonan pangkat (untuk memperoleh kedudukan tinggi) dan kanggonan panguwasa (memegang kekuasaan). Demikian itulah gambaran tentang raja dimata orang Jawa,

khususnya Mataram. Raja bukan lagi orang biasa, melainkan orang yang terpilih, orang yang unggul, orang yang derajatnya diatas orang kebanyakan atau pidak padarakan. Pada masa kerajaan, birokrasi hanya sebagai kepanjangan tangan kekuasaan raja untuk menguasai rakyatnya. Dalam kerajaan maritim, birokrasi ditujukan untuk melayani sebuah ekonomi perdagangan, sedangkan dalam kerajaan agraris ditujukan untuk melayani ekonomi pertanian. Sebuah negara agraris (agro-managerial state) menetapkan bahwa pemilikan atas sumber ekonomi seperti tanah dan tenaga kerja berada pada raja. Raja yang memiliki tanah dan tenaga kerja, masyarakat melimpahkan penguasaannya pada anggota keluarga dan orang-orang yang dianggap berjasa pada raja sebagai lungguh. Keluarga raja disebut sebagai sentana, dan mereka yang membantu raja dalam penyelenggaraan kekuasaan tersebut disebut sebagai abdi dalem. Abdi dalem itulah yang duduk dalam lembaga birokrasi kerajaan.5 Mereka menjadi perantara antara raja dengan para kawulanya. Para abdi dalem oleh raja diberi hak-hak atas tanah, menarik pajak dari rakyat tanpa ada batasan maupun peraturan yang jelas, yang kemudian diserahkan kepada raja setelah diambil sekedarnya oleh para abdi dalem. Dengan demikian tugas abdi dalem tergantung hubungan personalmya dengan raja. Sistem patrimonial di atas membuat kedudukan birokrasi hanya merupakan kepanjangan tangan dari kekuasaan raja. kepentingan raja. Kedudukan sosial abdi dalem diperkuat dengan bermacam-macam atribut yang dianugerahkan oleh raja. Mereka mendapat gelar, pangkat, dan perangkat upacara tertentu. Simbol inilah yang kemudian menjadikan mereka sebagai kelas sosial tertentu dalam masyarakat. Dengan pemberian atribut ini pula posisi seorang abdi dalem sangat tergantung pada kedekatannya dengan raja. Semakin baik dan dekatnya hubungan antara dirinya dengan raja maka akan semakin baik pula karier dan posisi jabatannya. Struktur masyarkat tradisional seperti di atas kemudian masih terpelihara ketika penjajahan Belanda berlangsung. Struktur kekuasaaan tradisional yang ada dinilai sangat menguntungkan, khususnya dalam mengukuhkan otoritasnya terhadap rakyat. Kekuasaan raja dimanfaatkan oleh penjajah untuk kepentingan ekonomi dan politiknya. Birokrasi tidak melayani masyarakatnya tetapi melayani

Ibid.,h.116