Anda di halaman 1dari 2

Efek Televisi Bagai 2 Mata Pisau Yang Tak Terpisahkan

Siapa yang tidak kenal media massa satu ini, mendengar kata televisi maka hampir setiap orang di negeri ini baik yang ada di megapolitan hingga di pelosok desa akan merujuk pada satu benda berbentuk kotak yang mampu menghadirkan suara dan gambar bergerak sekaligus (audio visual). Untuk menikmati media televisi setiap orang tidak memerlukan banyak energi dan kemampuan khusus bahkan untuk seorang yang buta huruf. Cukup dengan penglihatan dan pendengaran yang baik, maka setiap orang mampu menikmati hiburan dari kotak ajaib tersebut. Dengan kemampuan tersebut menjadi kekuatan, bagi televisi untuk menjadi media massa yang paling banyak dinikmati selama lebih dari 2 dekade terahir. Televisi telah menghiasi hampir seluruh rumah di negeri, Mulai dari rumah mewah hingga rumah petak (kecuali di kamar asrama MMTC). Dari kenyataan tersebut maka, mau tidak mau kita harus mengakui bahwa televisi merupakan produk teknologi yang mempunyai pengaruh besar dan luas terhadap masyarakat di Indonesia terlebih kehadiran televisi hadir bersamaan dengan tengan media lainnya seperti media cetak dan radio, dimana budaya membaca masih belum tertanam disebagian besar masyarakat kita. Saat ini televisi telah menjadi media yang palig efektif dalam menyampaikan dan memperoleh informasi, hampir setiap orang telah menjadikan televisi sebagai rujukan dalam memperoleh informasi apa saja yang mereka inginkan baik informasi tentang dalam negeri maupun luar negeri, bahkan melalui televisi kita bisa mengetahui informasi yang sangat privasi (kehidupan pribadi orang lain). Kekuatan televisi pada audio viasual tersebut ternyata disisi lain memang menberikan manfaat kepada masyarakat disisi kemudahan memperoleh informasi karena tidak perlu menguras banyak pikiran untuk menangkap pesan dan informasi yang disampaikan, namun disisi lain dengan kekuatan itulah ternyata televisi telah membatasi ruang pikir kita atau bahkan sengaja tidak memberikan kesempatan kita untuk berpikir, kita secara tidak sadar telah diarahkan untuk mengakap apa yang kita lihat dan kita secara mentah dan menjadikannya menjadi sebuah fakta yang paling aktual dan terpercaya. Dengan kenyaan itu ternyata televisi telah kita dibawa

untuk tidak bersikap kritis terhadap informasi yang disampaikan, karena secara harfiah televisi hanya mempiki sifat merangsang bukan mendidik. Sifat-sifat televisi di atas acap kali dimanfaatkan orang-orang untuk hal-hal negatif. Televisi menjadi media propaganda yang ampuh untuk berbagai macam kepentingan. Mulai dari kepentingan bisnis atau komersil sampai kepentingan politik. Hampir semua tayangan di TV ditunggangi kepentingan-kepentingan dan pesan-pesan tertentu baik yang positif maupun negatif. Pemerintah juga ikut menggunakan TV sebagai media untuk menyampaikan informasi mengenai kebijakan pemerintah atau media untuk mengajak dan menghimbau masyarakat. Tapi, kadang pemerintah juga menggunakannya untuk kepentingan-kepentingan politis, pencitraan atau pembentukan opini publik bahkan manipulasi dan pembohongan publik. Tayangan yang cukup vulgar bahkan berbau seks tidak sulit kita temukan ditambah lagi dengan tayangan berbau kekerasan. Belum lagi gelombang kapitalisasi melalui pengaruh iklan. Dengan Anak-anak dan para remaja Mereka adalah yang paling rentan terpengaruh. Mungkin anda pernah mendengar tindakan negatif yang dilakukan oleh seorang anak atau peristiwa fatal yang menimpa seorang anak atau juga kenakalan remaja yang bersumber dari pengaruh televisi. Parahnya hal tersebut bukan tidak disadari oleh para pengnyelenggara televisi, bahkan Raja CNN Ted Turner pernah berkata di depan kongres Amerika Serikat. "Saya tidak membutuhkan para pakar untuk memberitahu saya bahwa banyaknya adegan kekerasan di TV sekarang ini dan penayangannya yang meningkat bisa berbahaya bagi anak-anak", komersial dan bisnis merupakan alasan utama pembiaran itu terjadi, penyelenggara lebih mengepankan aspek ekonomi sehingga mengesampikan semua nilai-nilai kehidupan dan dampak sosialnya. Sebagai objek dari siaran televisi kita harus mempu menangkal dampak tersebut, kita harus menjadi subjek dari kegaiatan televisi, hanya dengan itulah kita bisa mengurangi dampak buruk tersebut. Bahkan Sulhan, dosen komunikasi UGM yang juga merupakan pengamat media, menyatakan, cara yang paling ekstrim untuk mencegah dampak buruk televisi adalah dengan cara tidak melihat televisi, pernyataan itu cukup beralasan karena televisi dewasa ini sudah tidak lagi memperhatikan dampak dari siarannya, mereka lebih mementingkan rating sebagai tolak ukur pemerolehan iklan yang merupakan nyawa dari kehidupan sebuah stasiun televisi.