Anda di halaman 1dari 22

Tugas Mata Kuliah Seni Pertunjukan

Seni Pertunjukan Topeng Dalang Madura

Makalah

Pertunjukan Seni Pertunjukan Topeng Dalang Madura Makalah Oleh Gunawan Sujana Promed D2 NIM 8410118053 Produksi Media

Oleh

Gunawan Sujana Promed D2 NIM 8410118053

Produksi Media Informasi Publik Diploma II

Sekolah Tinggi Multi Media MMTC Yogyakarta

2011

A. Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Pulau Madura merupakan pulau kecil yang berada di sebelah Pulau Jawa,

yang menyimpan banyak kebudayaan dan seni tradisional dengan ciri khas

yang sangat unik, meskipun pengaruh budayanya dipengaruhi oleh budaya

jawa

namun

dalam

karakteristiknya sendiri.

perkembangannya

budaya

madura,

menemukan

Banyak kesenian yang mulanya mengadopsi dari budaya Jawa, namun

berevolusi

dan

memiliki

karakteristik

yang

menghilangkan karakter dasarnya.

berbeda,

bahkan

telah

Salah satunya adalah kesenian topeng dalang, yang sebenarnya merupakan

kesenian yang populer saat kejayaan kerajaan majapahit. Menurut beberapa

literature, tari topeng memang kerap ditarikan para raja Jawa yang salah

satunya adalah Hayam Wuruk yang konon menari di depan kaum perempuan.

Mulanya Seni Topeng yang ada hanya berbentuk tarian yang hanya berisi

gerak saja namun di Madura berkembang menjadi sebuah seni pertunjukan

yang memliki alur cerita.

Dengan adanya dalang membuat tari topeng menjadi sebuah pertunjukan

yang mirip dengan pertunjukan wayang kulit, sehingga menjadi menjadi media

penyampaian pesan.

Pada dasarnya tari topeng dari madura ini hampir sama dengan tari topeng

Malang, mengingat kedua daerah ini pada abad ke 13 memiliki latar belakang

sejarah

yang

sama

yakni

menjadi

bagian

dari kerajaan Singosari.

Yang

membedakan keduanya mungkin hanya pada sisi cerita dan setting panggung

saja.Kalau tari topeng Malang unsur penceritaannya merupakan tentang kisah

hidup Panji, maka cerita yang dianggit oleh tari Topeng Madura ini lebih

kepada cerita Ramayana dan Mahabarata dengan penekanan cerita kepada

tokoh Pandawa dan Kurawa yang selalu berselisih sebelum kemudian akhirnya

terjadi perang baratayudha jaya binangun.

Dalam Makalah ini penulis mencoba memaparkan bagaimana Seni Topeng

Dalang

mulai

dari

awal

perkembangannya

hingga

saat

ini,

dihrapkan

menambah wawasan bagi siapapun terutaman generasi muda untuk terus

mengembangkan dan mencintai budaya, khusunya madura yang menyimpan

banyak keunikan yang selama ini belmu banyak di ekspose.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Topeng Madura dan Perkembangannya.

a. Sejarah Topeng Madura

Topeng merupakan sebagai bentuk kesenian yang paling tua, karena sejak

masa lalu topeng dipergunakan oleh parana nenek moyang kita yang penganut

animesme dan Hinduisme.

Biasanya mereka mempergunakan untuk media topeng untuk berhubungan

dengan alam ghaib, dengan para penguasa alam lain, dengan roh-roh nenek

moyang,

untuk meminta

bantuan bila

mengalami bencana

alam

ataupun

penyakit. Pementasan Topeng pada jaman itu dimaksudkan agar

mampu

berdamai

sekaligus mengusir

roh-roh

jahat

yang

mengganggu

kehidupan

mereka.

Seperti halnya ludruk, topeng juga merupakan bentuk teater rakyat yang

paling populer di dataran pulau Madura. Menurut babad Madura yang ditulis

pada abad 19, topeng dalang pertama kali dikembangkan pada abad ke-15 di

desa Proppo, kerajaan Jambwaringin, Pamekasan pada masa pemerintahan

Prabu Menak Senaya.

Menurut cerita bahwa Prabu Menak Senaya, merupakan tokoh pertama

kali menumbuhkan topeng di wilayah Madura, karena bukti-bukti keberadaan

topeng di daerah Proppo banyak diketemukan.

Topeng yang dimadura (tatopong – bahasa Madura) adalah figur tokoh-

tokoh pewayangan. Hal itu dikarenakan secara historis Kerajaan Madura

memilikin hubungan yang mesra dengan kerajaan Majapahit dan Singosari,

jadi tak dapat dipungkiri bahwa topeng dalang Madura merupakan kelanjutan

dari teater topeng di kedua kerajaan Jawa Timur tersebut.

Dalam perkembangannya, topeng di Madura menempuh jalan sendiri,

lebih-lebih ketika agama Islam mulai masuk ke pulau Madura. Unsur-unsur

cerita yang dipentaskan, banyak menyelipkan penjabaran nilai-nilai spiritual

dan nilai-nilai moral, nilai filosofi yang berlandaskan ajaran Islam.

Bentuk-bentuk penggarapan topeng pun mulai dihubungkan dengan hasil

modifikasi topeng yang dirancang pada era para wali, terutama dalam hal

kesederhanannya.

b. Perkembangan Topeng Madura

Pada abad ke-18 topeng dalang yang semula merupakan teater rakyat,

kemudian diangkat menjadi kesenian istana. Di dalam lingkungan istana,

ragam hias topeng yang sederhana dimodifikasi kembali. Bentuk dan kehalusan

ukirannya diperindah, begitu pula dengan seni karawitannya, seni pedalangan

sekaligus pemanggungan/pementasan.

Sehingga pada masa itu, merupakan masa berkembangnya sastra Madura.

Apalagi hubungan antara raja Madura dengan kerajaan Mataram semakin erat,

sehingga pengaruh Mataram tak dapat dielakkan lagi.

Perkawinan antara seorang keluarga kerajaan Mataram dengan keluarga

Madura, yaitu Pangeran Buwono VII (1830-1850) dengan salah satu putri raja

Madura (Bangkalan),

semakin mengokohkan jalinan

kekeluargaan. Karena

mertuanya senang dengan topeng dalang, Paku Buwono VII

memberikan

hadiah seperangkat topeng

lengkap

dengan busana dan perlengkapannya.

Kehadiran topeng hadiah dari Solo ini sedikit banyak berpengaruh pada seni

topeng Madura, terutama kehalusan ukiran-ukirannya.

Pada

abad

ke-20,

setelah

kerajaan-kerajaan

mulai

hilang

dari

bumi

Madura, topeng dalang kembali menjadi kesenian rakyat dan mencapai puncak

kesuburannya sampai tahun 1960.

Memasuki dekade 1960-an, topeng dalang mengalami masa surut. Hal ini

disebabkan banyaknya tokoh-tokoh topeng yang meninggal dunia, sedangkan

tokoh-tokoh muda belum muncul dan menguasai seni topeng dalang, baru Pada

tahun 1970-an topeng dalang kembali bangkit dan itu tidak terlepas dari jasa

dalang tua Sabidin (dari Sumenep), yang tetap bertahan dan eksis dalam

menggeluti topeng dalang sekaligus mendidik kader-kader muda yang berasal

dari beberapa daerah di wilayah Sumenep.

Pengkaderan diprioritaskan pada penguasaan materi pedalangan maupun mendidik penari-penari topeng. Kerja keras dalang

Pengkaderan diprioritaskan pada penguasaan materi pedalangan maupun

mendidik penari-penari topeng. Kerja keras dalang Sabidin membuahkan hasil,

murid-murid hasil didikannya mampu menguasai dan melestarikan kembali

seni topeng dalang.

B. Karakteristik Topeng Madura

Adapun bentuk topeng yang dikembangkan di Madura, berbeda dengan

topeng yang ada di Jawa, Sunda dan Bali. Contoh konsep karakter tokoh-tokoh

wayang Madura dengan konsep karakter topeng Jawa Tengah agak berbeda.

Salah satu adalah, di lingkungan Astina, Suyudana sang Raja, ternyata

oleh orang Madura dicitrakan sebagai raja yang lemah lembut, dan topeng nya

diberi warna hijau sahdu. Di Jawa Tengah dan Solo, Suyudana adalah raja yang

citranya keras dan cenderung kasar.

Selain itu, Topeng Madura pada umumnya lebih kecil bentuknya. Kecuali

Semar,

hampir

semua

topeng

itu

diukir pada bagian atas

kepala

dengan

berbagai ragam hias. Ragam hias yang paling populer ialah hiasan bunga

melati. Sedangkan untuk tokoh-tokoh penguasa zalim, digunakan ragam hias

badge, yaitu lambang yang dipakai para penguasa kolonial Belanda.

Topeng dalang Madura yang dikenakan para pemain, terkesan cukup

sederhana, bersahaya dan agak kaku ukirannya, inilah salah satu hal yang

membedakan dengan topeng Yogjakarta, Solo, Bali ataupun daerah Jawa

lainnya.

Barangkali

karakteristik

topeng

Madura,

diidentikkan

dengan

pembawaan dan karakter orang Madura yang terkenal keras, kaku tetapi polos

dan jujur.

Konsep karakter tokoh topeng madura juga dipengaruhi oleh daerah,

dimana para dalang memodifikasi sesuai dengan karakter daerah dimana

topeng itu tumbuh dan berkembang.

Seperti yang terjadi dalam perkembangan Topeng Dalang di Kabupaten

Sumenep. Topeng Dalang Madura yang ada di Sumenep ini dibagi menjadi 2

versi, yaitu versi Salopeng dan versi Kaliangaet. Tentu saja diantara 2 versi itu

terdapat perbedaannya. Adapun perbedaannya, dapat dilihat dibawah ini:

versi Kaliangaet. Tentu saja diantara 2 versi itu terdapat perbedaannya. Adapun perbedaannya, dapat dilihat dibawah ini:

Versi kalianget

Versi Salopeng

Tarian ekstranya berupa tarian

Tarian ekstranya berupa Klono Tonjung

Branyak dan Puteri Kembar

Seto (tari tunggal) dan Puteri Kembar

Rape’nya lurus

Rape’nya memanjang ke kiri dan ke

kanan

Warna topeng (tokop) tertentu

Warna topeng (tokop) tertentu berbeda,

berbeda, misalnya Gatotkaca

misalnya Gatotkaca berwarna putih

berwarna merah

Penggunaan gungseng pada pemain

Penggunaan gungseng pada pemain kasar

kasar hanya di kaki kanan

di kudua kakinya (kanan dan kiri)

Tariannya relatif lebih mudah

Tariannya lebih bervariasi

Punakawa: Semar dan Bagong

Punakawan: Semar, Bagong, Petrok,

Garing

Kumisnya cukup dicat berwarna

Kumis dibuat dari ijuk hitam (seperti

hitam

sikat)

a. Pewatakan Topeng Madura Berdasarkan Warna Topeng

Adapun penggambaran karakter pada topeng Dalang selain nampak pada

bentuk muka juga tampak pada pemilihan warna. berukut merupakan jenis

warna yang digunakan untuk menggambarkan watak dari masing-masing tokoh

pada Topeng Madura

1.

Warna Putih untuk tokoh yang berjiwa bersih dan suka berterus

terang.

2. Warna Merah, digunakan untuk tokoh-tokoh tenang dan penuh kasih

sayang (tokoh Yudistira),

3. Warna Hitam untuk tokoh yang arif bijaksana, bersih dari nafsu

duniawi (tokoh wayang Krisna).

4. Warna Kuning Emas/ paradha : untuk penggambaran tokoh anggun

dan berwibawa, digunakan warna (tokoh wayang Subadra).

5. Sedangkan Warna Kuning penggambaran tokoh yang pemarah, licik

dan sombong memakai.

penggambaran tokoh yang pemarah, licik dan sombong memakai. b. Gungseng (Giring-giring) Ciri khas yang paling spesifik

b. Gungseng (Giring-giring)

licik dan sombong memakai. b. Gungseng (Giring-giring) Ciri khas yang paling spesifik dan unik dari topeng

Ciri khas yang paling spesifik dan unik dari topeng dalang Madura adalah

dipakainya ghungseng

Pemakaian gungseng

(giring-giring)

dipergelangan

kaki

penari.

(giring-giring) tersebut bukan hanya sekedar hiasan,

bunyi giring-giring yang selalu terdengar setiap kaki penari bergerak menjadi

alat bantu yang ekspresif sekaligus menjadi media komunikasi para penari,

karena para penari sepatah pun tak boleh berdialog (dialog dilakukan sang

dalang, dan tokoh Semar).

Di samping itu, ghungseng dipergunakan sebagai kode perubahan gerakan

dalam cerita, diataranya :

1. Bunyi sreng (panjang) berarti aserek.

2. Bunyi kroncang-kroncang berarti para pemain sedang berjalan.

c. Perlengkapan Topeng Dalang:

Selain Topeng dan Gungseng dalam pementasan topeng dalang para aktor

juga dilengkapi berbagai perlengkapan diataranya

1. Tokop (topeng)

2. Mahkota

3. Rape’ (diikat di pinggang)

4. bang-bang

5. Kalabbau

6. kalong (kalung)

7. Gellang (gelang)

8. siyet/obu’ (rambut palsu)

9. Rambai

10. ponjung/sampur

7. Gellang (gelang) 8. siyet/obu’ (rambut palsu) 9. Rambai 10. ponjung/sampur 11. Gungseng (ada di kaki

C. Prosesi Pertunjukan

Seperti hal nya Ludruk, salah satu jenis kesenian di Jawa Timur, yang

mengawali

setiap

pementasannya

dengan

ngremo”,

topeng Dalang

juga

membuka pagelaran dengan penampilan tarian.

Dalam setiap pementasan, biasanya yang ditampilkan adalah jenis tarian

sakral. Setelah tari pembukaan, yakitu tari Ksatria Kelana Tunjungseta yang

membawa serta empat raksasa pengiring, Cerita yang terkandung dalam tari

pembuka ini sendiri adalah tentang dewa Siwa yang sedang mengirim Kelana

Tanjungseta beserta anak buahnya untuk mengawasi keadaan serta perilaku

manusia di bumi. Tarian tersebut juga irinngi percakapan Dalang untuk

membuka pemetasan topeng dalang pemaparan prolog/panorama.

Kemudian

disusul tembang-tembang

Suluk,

alunan

tembang

ini

mengantarkan

para

penonton

untuk

memasuki

inti

cerita

yang

akan

dipentaskan. Suluk dan dialog dalam topeng dalang Madura memakai bahasa

Madura halus. Untuk suluk pembukaan menggunakan bahasa Jawa kuno, hal

ini membuktikan bahwa topeng awalnya berasal dari satu sumber.

Dalam

setiap

pertunjukan,

tokoh

utama

pemeran

adalah

dalang.

Ki

dalang

sebagai

yang

menggerakkan

semua

pemimpin orkestra

gamelan,

menyajikan suluk, narasi dan mengucapkan dialog. Dengan suaranya yang

lembut, kadang menghentak keras ki dalang memimpin penari-penari yang

bergerak di belakang topeng. Semua pemeran lakon/penari tidak berbicara,

kecuali Semar.

Dialog dan nyanyian seluruhnya diucapkan oleh Dalang yang duduk di

belakang layar. Pada layar tersebut dibuat lubang kecil, dari lubang berbentuk

segi empat inilah Dalang mengisahkan lakon sesuai dengan cerita. Di depan

layar, para pemain lakon menyesuaikan dengan gerakan-gerakan tari setiap alur

cerita yang dikisahkan Dalang.

Adapun dalam setiap pementasan seluruh pemain topeng Dalang serta para

penari

didominasi pemain laki-laki.

Setiap

pementasan

dibutuhkan

penari

sebanyak 15 sampai 25 orang dalam setiap lakon, yang dipentaskan semalam

suntuk.

Setiap lakon yang dibawakan, selalu sarat dengan gaung cinta, adegan

heroik ataupun beragam petuah bermakna filosofis kehidupan yang kental.

Ditambah dengan gerak tarian, terangkai dalam gerak yang kompleks.

Kadang-kadang gerakan tarinya halus, lemah lembut dan melankonis, lalu

berubah kasar, kaku dan sedikit naif, namun dibawakan dengan penuh emosi

yang ekspresif.

Dalam setiap pementasan, penampilan para penari sangat sederhana, tetapi

ekspresif.

Sekalipun setiap

gerak tari agak naif dan sedikit

kaku, tetapi

mengandung nilai spiritual yang tinggi. Dan itu merupakan salah satu nilai

plus, karena nilai-nilai yang terkandung dalam setiap gerakan masih brilian,

bersih dan otentik.

dalam setiap gerakan masih brilian, bersih dan otentik. Adapun gerakan/gaya tarian yang dipakai dalam Dalang ada

Adapun gerakan/gaya

tarian

yang

dipakai dalam

Dalang ada beberapa macam, diantaranya:

1. Tandhang Alos (tari halus),

2. Tandhang baranyak (tari sedang),

pertunjukan topeng

3. Tandhang ghalak (tari kasar) dan putri ( gerak penari perempuan).

asing-masing tandhang ini diiringi oleh gending-gending tersendiri:

1.

2.

Tandhang

Alos diiringi

gending-gending Puspawarna,

Tallang,

Rarari, dan lain-lainnya.

Tandhang

Baranyak diiringi

Pedat dan Lembik.

gending-gending, Calilit,

3. Sedangkan tandhang

Ghalak diiringi

gending-gending Gagak,

Pucung, Kwatang Serang dan Gunungsari.

Alat-alat musik yang dipakai adalah gamelan, ditambah crek-crek yang

dipakai oleh dalang.

Nilai plus pada topeng Dalang Madura adalah suasana dengan nuansa

magis

yang

dibangun

oleh bunyi

gemerincing gongseng

getaran gongseng

menyebar

ke

seluruh

arena

membentuk

Seolah-olah

suasana

yang

diperlukan, baik suasana sedih, gembira ataupun tegang.

Apalagi ketika penari menghentak-hentakkan kaki, sepanjang pertunjukan

tak sepi dari suara ghungseng, apabila disimak memang suara satu dan lainnya

memberikan ekspresi tersendiri.

Pada masa lalu, lakon yang dimainkan dalam Topeng Dalang banyak

mengambil kisah Panji atau kisah-kisah seperti Damar Wulan. Namun dalam

perkembangannya,

kisah-kisah

yang

dipentaskan

saat

ini

banyak

mengambil cerita dari epik Ramayana dan Mahabharata, dengan ditambah

cerita-cerita carangan

yang

tokoh-tokohnya

tetap

Ramayana atau Mahabharata.

merupakan

tokoh-tokoh

Dalam setiap pementasan kisah Mahabharata lebih sering ditampilkan.

Karena kisah-kisah dalam Mahabharata terdapat lebih banyak pertentangan,

perseteruan dan konflik. Konflik multi dimensi, dari masalah cinta, perang

saudara, perebutan tahta, ideologi maupun pertentangan antara anak dengan

orang tua, murid dengan guru, saudara dengan saudara.

Konflik-konflik tersebut dibumbui dengan adu kedigdayaan, baik berupa

senjata mustika maupun kesaktian yang dimiliki oleh para ksatria.

E. Topeng Sebagai Media Dakwah.

Sebagai

media

dakwah,

ceritera

dalam

epik

Mahabharata

telah

dimodifikasi demikian rupa. Tokoh-tokoh dan alur cerita tetap sama. Namun isi

maupun filosofinya diubah menjadi cerita yang bernuansa dan bernafaskan

nilai-nilai Islam. Hal ini dapat dibuktikan dalam cerita Mustakaweni atau

Hilangnya Jimat Kalimosodo. Jimat Kalimosodo adalah sebuah senjata pusaka

yang berkekuatan istimewa yang dapat digunakan untuk maksud apa saja

sesuai dengan kehendak pemiliknya.

Cerita jimat Kalimosodo adalah asli buatan Demak. Maksudnya ‘ Azimah

= Jimat (sesuatu yang bertuah/sakti). Sada = Syahadat (Persaksian, bukti diri),

jimat Kalimosodo berarti Azimah Kalimat Syahadah, mempunyai kesaktian

luar biasa dan dimiliki oleh keluarga-keluarga yang baik seperti Pandawa.

Sedangkan Pandawa Lima, ada yang mengartikan Rukun Islam yang lima, atau

Lima Waktu Sholat dan lain-lain.

Topeng merupakan bentuk kesenian teater rakyat tradisional yang paling

kompleks

dan

utuh.

Hal

tersebut

disebabkan

dalam

kesenian

topeng

mengandung unsur cerita, unsur tari, unsur musik, unsur pedalangan dan unsur

kerajinan. Sehingga bentuk kesenian ini, dianggap paling pas untuk digunakan

sebagai media dakwah.

Oleh para Sunan dan dalang yang inovatif dan kreatif, tokoh-tokoh baru

diciptakan dan alur cerita mengalami perubahan, dari cerita yang syarat dengan

bobot filsafat dan filosofi Hindu, diganti dengan tokoh-tokoh dan alur cerita

yang mengandung bobot nilai-nilai moral dan nilai-nilai filosofi Islami. Tanpa

mengubah tema cerita, yaitu pertentangan dan konflik antara tokoh antagonis

dan protagonis. Bahwa kebajikan akan selalu menang melawan kebatilan,

kebenaran selalu menang melawan kejahatan.

Sebagai media dakwah, kesenian topeng telah menjelajahi hampir semua

wilayah nusantara, dan telah mengalami perubahan. Oleh sutradara-sutradara

yang kreatif dan inovatif, cerita-cerita baru, tokoh-tokoh baru diciptakan sesuai

dengan

karakter

daerah

dimana

topeng

itu

dipentaskan.

Sehingga

tidak

mengherankan, apabila alur cerita dalam pementasan topeng tidak murni lagi

menjalankan alur cerita yang bersumber dari kisah Ramayana dan Mahabarata.

Melalui tokoh-tokoh yang dimainkan, nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai

moral ditanamkan kepada para penganutnya. Hal itu dilakukan dengan jalan

menciptakan bait-bait, gending-gending maupun jalinan kisah (cerita), yang

mengandung nilai-nilai moral, nilai-nilai filosofi Islami.

Sebagai seni pertunjukan rakyat, teater Topeng Dalang dipentaskan untuk

memeriahkan berbagai acara, misalnya upacara perkawinan, selamatan desa

dan

laut,khaul (peringatan

yang

seseorang/tokoh),

serta

ritual rokat.

berhubungan

dengan

meninggalnya

Adapun

kisah-kisah

yang

dimainkan

disesuaikan dengan suasana hajatan. Misalnya ruwatan untuk anak bungsu,

mengambil kisah Pandawa Bungsu.

F. Teater Tradisional Masyarakat Pinggiran

Teater

Topeng

Dalang

Madura,

satu-satunya

teater

tradisional

yang

mampu menaikkan pamor seni tradisi. Di era tahun 80 sampai 90-an, topeng

Dalang Sumenep (Madura) melanglang buana ke belahan benua, Amerika,

Asia dan Eropa. Kota-kota besar dunia yang disinggahi pada waktu itu adalah,

kota London, Amsterdam, Belgia, Perancis, Jepang dan New York. Penampilan

seni tradisional tersebut ternyata mampu memikat, memukau, meng-hipnotis

dan

menimbulkan

decak

kagum

para

penonton.

Begitu

hangat sambutan

masyarakat internasional terhadap teater tradisional ini.

Sangatlah disayangkan Kekaguman

yang

pernah dibangun

oleh para

Dalang di masa itu, saat ini mulai pudar. Hal itu disebabkan karena teater

Topeng Dalang telah dijauhi oleh para penikmatnya. Kesenian ini lambat laun

mulai berkurang, terutama di kalangan masyarakat kota.

telah dijauhi oleh para penikmatnya. Kesenian ini lambat laun mulai berkurang, terutama di kalangan masyarakat kota.

Hal

ini

berdasarkan

anggapan

bahwa

teater

tradisional

ini

sudah

ketinggalan jaman. Saat ini pementasan topeng Dalang masih sering diundang

oleh masyarakat pinggiran, yang masih peduli dan mencintai teater topeng

Dalang.

Saat ini masih ada beberapa kelompok komunitas teater Topeng Dalang,

kelompok-kelompok ini masih eksis melestarikan topeng Dalang. Baik sebagai

komunitas tetap ataupun hanya kelompok insidentil. Kelompok ini menyebar di

beberapa wilayah kecamatan, diantaranya desa Slopeng, Dasuk, desa Leggung,

Batang-Batang, kecamatan Gapura, kecamatan Kalianget dan kecamatan Kota

Sumenep.

BAB III

KESIMPULAN DAN PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Kesenian Topeng

madura merupakan sebuah bentuk seni pertunjukan yang dipengaruhi dari

berbagai unsur budaya, terutama kerajaan Majapahit dan Mataram hal terebut

dikarenakan secara historis Kerajaan Madura memiliki kedekatan dengan 2

kerajan besar yang berpusat di Pulau Jawa.

Seni Pertunjukan Topeng Dalang Madura memiliki ciri khas tersendiri

disesuaikan dengan kebudayaan yang ada di Pulau Garam tersebut, dari hasil

evolusi tersebut maka menghasilkan seni pertunjukan baru yang semakin

memperkaya khasanah budaya negeri ini.

Seni pertujujukan ini tidak hanya menjadi sebuah media hiburan semata

karena ternyata juga menjadi media dakwah, media pendidikan dimana dalam

alur ceritanya sarat nilai-nilai kehidupan yang bisa memberikan perbaikan nilai

moral bagi masyarakat, bahkan dengan masuknya budaya islam, ceritanya pun

dimodifikasi sesuai dengan

nilai-nilai

ajaran islam,

hal

tersebutlah

yang

membuat islam tumbuh pesat di Pulau Madura.

B. Saran

Nilai Budaya yang terkandung dalam seni pertunjukan Topeng Dalang

sudah seharunya dilestarikan, terutama generasi muda agar seni pertujukan

yang pernah mengharumkan bangsa ini di dunia internasional tidak punah.

Peran serta Pemerintah daerah pun harus ditingkatkan sehingga seni

pertujukan Topeng Dalang didak hanya menjadi seni pinggiran saja namun

menjadi sebuah seni tradisional yang memiliki nilai dan dapat dipromosikan di

bidang pariwisata.

Nara Sumber dan Daftar Pustaka

Nara Sumber

Wawancara dengan budayawan Madura, Edy Setiawan, SH, tokoh topeng dalang

(ketua

perkumpulan topeng dalang “Pewaras””, Mas’idi. Penilik Budaya Moh. Hasanuddin serta

beberapa pemain/pelaku kesenian Topeng Dalang.

Daftar Pustaka

Artikel, “Topeng Dalang Sumenep Populer Di Luar Negeri”, oleh M. Syamsul Arif, harian

Surya,

Artikel, “Topeng Dalang Madura Brilian dan Otentik, Kata Orang Perancis”, oleh Abdul

Hadi W.M,

Artikel, “Suara Dalang di Antara Bunyi Gongseng”, oleh Sal Murgiyanto, majalah Tempo,

17 Maret 1984,

Unsur Islam dalam Pewayangan, oleh Drs. H. Effendi Zarkasi/ penerbit Alfa Daya,

Jakarta,

Skripsi, Aspek Religius Yang Terdapat Dalam Tembang Macopat di Kabupaten Sumenep,

Mustofa, 2002,

Lebur ! Seni Musik dan pertunjukan dalam Masyarakat Madura,

Helena Bouvier, 2002,

Forum Jakarta – Paris. Yayasan Asosiasi Tradisi lisan , Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Asmoro. M. Wiryo, 1950, Panyedda Djugdjakarta.