Anda di halaman 1dari 32

BAB III KONGRUENSI

3.1 Pengertian Jika kita berbicara konsep kongruensi sebenarnya hal ini secara tidak langsung sudah didapatkan pada pelajaran matematika Sekolah Dasar, hanya saja istilah yang digunakan sedikit berbeda yaitu bilangan jam atau bilangan bersisa. Cara yang dilakukan biasanya diperagakan dengan menggunakan jam sebagi media dalam operasi yang berlaku, baik jumlah maupun pengurangan. Dalam bilangan jam enaman, jika

dioperasikan dengan menggunakan jam maka bilangan bulat yang digunakan adalah 0, 1, 2, 3, 4, dan 5. Sedangkan bilangan bulat lainnya dapat direduksi yaitu dengan cara membagi bilanmgan tersebut dengan 6 dan bilangan yang digunakan adalah sisa dari pembagian tersebut. Contoh: 14 dalam jam enaman dapat direduksi menjadi 2, karena 14 jika dibagi 6 bersisa 2. 21 dalam jam enaman dapat direduksi menjadi 3, karena 21 jika dibagi 6 bersisa 3. 61 dalam jam enaman dapat direduksi menjadi 1, karena 61 jika dibagi 6 bersisa 1. dan seterusnya. Berdasarkan proses reduksi dan operasi yang ada pada bilangan jam, selanjutnya dikembangkan konsep kongruensi sebagai berikut.

Teori Bilangan- 72

14 21 61

2 karena jika 14 dibagi 6 bersisa 2 3 karena jika 21 dibagi 6 bersisa 3 1 karena jika 61 dibagi 6 bersisa 1

Pernyataan di atas dapat pula dinyatakan dengan 14 21 61 2 karena 14 2 = 12 dan 12 habis dibagi 6 3 karena 21 3 = 18 dan 18 habis dibagi 6 1 karena 61 1 = 60 dan 60 habis dibagi 6. Berdasarkan contoh di atas terlihat bahwa sesungguhnya konsep kongruensi adalah pengkajian secara lebih mendalam tentang

keterbagian pada bilangan bulat dan sifat-sifatnya yang telah dipelajari pada bab II, atau dapat pula dikatakan bahwa kongruensi adalah cara lain untuk mengkaji keterbagian dalam bilangan bulat. Untuk jelasnya perhatikan definisi dan teorema di bawah ini.

Definisi 3.1 Misal a, b, m

Z dan m

0, maka a disebut kongruen dengan b modulo

m jika a-b habis dibagi oleh m, yaitu ma b. Pernyataan ini dinotasikan a

b (mod m).

Jika m (a-b) maka dinotasikan dengan a Contoh: 7

b (mod m).

2 ( mod 5), karena 5(7-2)

34 17 6

4 ( mod 10), karena 10(34-4) 1 ( mod 4), karena 4(17-1) 1 (mod 4), karena 4 (6-1)

Teori Bilangan- 73

11

4 (mod 9), karena 9 (11-4) Dengan demikian sebenarnya istilah kongruensi sering muncul

dalam kehidupan di sekitar kita. Misalnya kerja kalender yang kita gunakan dalam tahun Masehi menggunakan bilangan bulat modulo 7 karena dalam satu minggu terdapat 7 hari, kerja arloji menggunakan bilangan bulat modulo 12 karena waktu yang ada dalam jam yaitu jam 01.00 12.00. Banyaknya bulan dalam satu tahun menggunakan bilangan bulat modulo 12, pasaran hari dalam satu minggu menggunakan bilangan bulat modulo 5 karena terdapat pasaran hari pon, wage, kliwon, legi, pahing dan masih banyak lagi contoh-contoh penggunaan kongruensi yang secara tidak langsung ada disekitar kita.

Dalil 3.1 Misal a,b,c,

Z, dan m

N, maka berlaku sifat-sifat simetris, refleksif,

dan transitip. a. Refleksif a

a (mod m)

b. Simetris Jika a

b (mod m) maka b

a.(mod m)

c. Transitif Jika a Bukti a. Misal m b (mod m) maka b c (mod m)m, maka a

c (mod m)

0, maka m0.

m0 berarti m (a-a)

Teori Bilangan- 74

Karena m (a-a), hal ini menurut definisi a bilangan Cara lain a b. a bulat a dan m

a (mod m), untuk setiap

0.

a (mod m), sebab a-a = 0 dan m0. b (mod m), menurut definisi berarti ma-b, sedangkan menurut

definisi keterbagian ma-b, dapat dinyatakan sebagai (a-b) = tm, untuk t

Z.

(a-b) = tm -(a-b) = -tm

(b-a) = (-t)m, -t Z. m (b-a) atau b


c. a b

a (mod m)

b (mod m) berarti m (b-a) c (mod m) berarti m (b-c)

Menurut dalil keterbagian m (b-a) dapat dinyatakan dengan a-b = t1m m (b-c) dapat dinyatakan dengan b-c = t2m ---------------- + (a-c) = (t1+t2)m, untuk t1,t2 Jadi m (a-c) atau a c(mod m)

Teorema 3.1 Misal a,b,c,d 1. Jika a Bukti a

Z dan m

N, maka

b (mod m) maka ac

bc (mod m)

b (mod m) berarti m (a-b)

Teori Bilangan- 75

Menurut definisi keterbagian bilangan bulat berlaku (a-b) = tm, t

Z.

(a-b)c = (tm)c. ac bc = (tc)m ac bc = xm, x Z.


Karena ac-bc = xm, berarti m (ac-bc) atau ac = bc (mod m) 2. Jika a Bukti a

b (mod m) maka a+c

b+c (mod m)

b (mod m) berarti m (a-b)

Menurut definisi keterbagian bilangan bulat berlaku (a-b) = tm, t

Z.

(a-b) + 0 = (tm) (a-b) + (c-c) = (tm) (a+c) (b+c) = (tm)


Karena (a+c) (b+c) = tm, berarti m (a+c) (b-c) atau a+c = b+c (mod m) 3. Jika a Bukti a c

b (mod m) dan c

d (mod m) maka a+c

b+d (mod m)

b (mod m) berarti m (b-a) d (mod m) berarti m (c-d)

Menurut dalil keterbagian m (b-a) dapat dinyatakan dengan a-b = t1m m (c-d) dapat dinyatakan dengan c-d = t2m ---------------- +

Teori Bilangan- 76

(a+c) - (b+d) = (t1+t2)m, untuk t1,t2 Jadi m (a+c) - (b+d) atau a+c b+d (mod m) 4. Jika a Bukti a c

b (mod m) dan c

d (mod m) maka a-c

b-c (mod m)

b (mod m) berarti m (b-a) d (mod m) berarti m (c-d)

Menurut dalil keterbagian m (b-a) dapat dinyatakan dengan a-b = t1m m (c-d) dapat dinyatakan dengan c-d = t2m ---------------- (a-c) - (b-d) = (t1-t2)m, untuk t1,t2 Jadi m (a-c) - (b-d) atau a-c b-d (mod m) 5. Jika a Bukti Karena a

b (mod m) dan d m, d > 0, maka a

b (mod d)

b (mod m) maka m m-b

Jika m a-b dan d m, berarti d a-b , d > 0. Karena d a-b berati a 6. Jika a

b (mod d)

b (mod m) dan c

d (mod m) maka

ax + by = bx + dy (mod m), untuk x,y Bukti a c

Z.

b (mod m) berarti m (a-b) d (mod m) berarti m (c-d)

Menurut dalil keterbagian m (b-a) dapat dinyatakan dengan a-b = t1m

Teori Bilangan- 77

m (c-d) dapat dinyatakan dengan c-d = t2m

(a-b)x = (t1m)x, x Z (c-d)y = (t2m)y, y Z


---------------------------- + (a-b)x + (c-d)y = {(t1m)x+ (t2m)y}, x,y

Z Z

atau (ax +cy) (bx+dy) = {(t1x)+ (t2y)}m, {(t1x)+ (t2y)}

atau m (ax +cy) (bx+dy) = atau (ax +cy) (bx+dy) (mod m) 7. Jika a Bukti a c

b (mod m) dan c

d (mod m) maka ac = bd (mod m)

b (mod m) berarti m (a-b) d (mod m) berarti m (c-d)

Menurut dalil keterbagian m (b-a) dapat dinyatakan dengan a-b = t1m m (c-d) dapat dinyatakan dengan c-d = t2m

(a-b)c = (t1m)c, c Z atau (ac bc) = (t1m)c, c Z (c-d)b = (t2m)b, b Z atau (cb db) = (t2m)b, b Z
----------------------------------------------------------------- + (ac-bd) = (t1m)c + (t2m)b, a,b

Z.

(ac-bd) = (t1c + t2b)m, (t1c + t2b) Z.


atau m (ac bd ) atau (ac) (bd) (mod m) 8. Jika a Bukti a

b (mod m) maka an = bn (mod m)

b (mod m) berarti m (a-b)

Menurut dalil keterbagian

Teori Bilangan- 78

m (b-a) dapat dinyatakan dengan a-b = tm Selanjutnya kita mengetahui bahwa an bn = (a-b)(an-1 + an-2b + an-3b2 + ..... + bn-1) Karena a-b a-b , maka a-b an bn , atau a-b (a-b)(an-1 + an-2b + an-3b2 + ..... + bn-1) Menurut dalil keterbagian: Jika m a-b dan a-b an bn , maka a-b an bn Jadi a-b an bn atau an

bn (mod m)

Dalil 3.2 Andaikan f adalah suatu polinomial dengan koefisien-koefisien bilangan bulat, Jika Jika a Bukti Misal f(x) = tnxn + tn-1xn-1 + tn-2xn-2 + tn-3xn-3 + ..... + t1x + to Dengan tn, tn-1, tn-2, tn-3, t1x, to
Z.

b (mod m), maka f(a)

f(b) (mod m).

Jika x = a maka f(a) = tnan + tn-1an-1 + tn-2an-2 + tn-3an-3 + ..... + t1a + to Jika x = b maka f(b) = tnbn + tn-1bn-1 + tn-2bn-2 + tn-3bn-3 + ..... + t1b + to
--------------------------------------------------------------------------------------------------- -

f(a) f(b) = tn(an - bn ) + tn-1(an-1 - bn-1 ) + tn-2(an-3 bn-3) + ..... + t1(a-b) Dengan menggunakan sifat sebelumnya diperoleh a a2

b (mod m) atau m a-b sehingga m t1(a-b) b2 (mod m) atau m a2-b2 sehingga m t2(a2-b2)

Teori Bilangan- 79

a3 a4

b3 (mod m) atau m a3-b3 sehingga m t3(a2-b2) b4 (mod m) atau m a4-b4 sehingga m t4(a4-b4)

............................................................................. an bn (mod m) atau m an-bn sehingga m tn(an-bn)

Dengan menggunakan definisi keterbagian pada bilangan bulat maka: m tn(an-bn) + tn-1(an-1-bn-1) + tn-2(an-2-bn-2) + tn-3(an-3-bn-3) + ..... + t1(a1-b1), hal ini berarti m f(a) f(b) atau f(a)

f(b) (mod m)

Perhatikan beberapa contoh berikut ini! Perhatikan beberapa contoh berikut ini! 1. 41

1 (mod 8) hal ini berarti 8 (41-1) atau 8 40. Dengan kasus

yang sama maka 8 (1- 41) atau 8 - 40, sehingga 1

41 (mod 8).

2. Karena 0 habis dibagi oleh sebarang bilangan bulat m, dan 0 dapat diperoleh dari hasil pengurangan sebarang dua bilangan yang sama, maka dapat ditentukan 3. 25 99 4. 26 30 70

3 5-5 5 7 9-9 7

5 (mod 3) 7 (mod 9)

110

11 20 20

20 (mod 9)

11 (mod 7), karena 7 25-11 atau 7 14. 1 (mod 44), karena 44 99-1 atau 44 98 1 (mod 5), karena 5 26-1 atau 525

5 25

5 3.25 5 10.25 5 11.25 5 100.25

Apakah 7 2(30-2) Apakah 7 10(30-2)

Teori Bilangan- 80

Apakah 2.30

2.2 (mod 7)

Apakah 10.30 5. 26 36

10.2 (mod 7)

1 (mod 5), karena 5 26-1 atau 525 1 (mod 5), karena 5 36-1 atau 535

Apakah 5 26+36 atau 51+1 Apakah 5 (26+36) (1+1) atau apakah 5 62 2 6. 13 7

3 (mod 5), karena 5 13 3 2 (mod 5), karena 5 72, Apakah 91

6 (mod 5)

Jika kita perhatikan contoh di atas nampak bahwa dalam kongruensi berlaku sifat-sifat yang sama dalam pembagian bilangan bulat

3.2 Sistem Residu Untuk membahas pengertian sistem residu, perlu diingat kembali tentang algoritma pembagian. Menurut teorema algoritma pembagian

terdapat bilangan bulat q dan r sehingga untuk setiap bilangan bulat a dan m berlaku hubungan a = qm +r, dengan 0 0 < r. Selanjutnya

persamaan a = qm + r dapat dinyatakan dalm bentuk kongruensi a

(mod m) Akibatnya, setiap bilangan bulat a kongruen modulo m dengan salah satu bilangan bulat berikut: 0, 1, 2, 3, ..... , m-1. Dengan demikian jelaslah bahwa tidak ada sepasangpun dari bilangan-bilangan 0, 1, 2, 3, ..... , m-1 yang kongruen satu sama lain. Maka m buah bilangan tersebut dapat membentuk suatu sistem residu lengkap modulo m. Definisi 3.3 1. Jika x

y (mod m) maka y disebut residu dari x modulo m.

Teori Bilangan- 81

2. Misal A = { x1, x2, x3, ..... , xm }, disebut suatu sistem residu modulo m yanglengkap jika dan hanya jika untuk setiap y (0 y <m}terdapat satu dan hanya satu xi sedemikian sehingga y (mod m) y Contoh 1. {6, 7, 8, 9, 10} adalah suatu sistem residu modulo 5 yang lengkap sebab untuk setiap y dan (0 y <5 ) terdapat hubungan 10 9 8 7 6

xi (mod m) atau xi

0 (mod 5) 4 (mod 5)

3 (mo 5) 2 (mod 5) 1 (mod 5) sistem residu modulo 5 yang

2. {-5, 10, 27} adalah bukan suatu lengkap sebab: 10 27 -5

1 (mod 3) 0 (mod 3)

/ 1 (mod 3)

3. {4, 25, 82, 107} adalah suatu sistem residu modulo 4 yang lengkap sebab untuk setiap y dan (0 y <4 ) terdapat hubungan 4

0 (mod 4)

25

1 (mod 5)

Teori Bilangan- 82

82

2 (mo 5)

107 6

3 (mod 5)

1 (mod 5)

Misal diberikan kongruensi 5

2 (mod 3).

Bilangan-bilangan bulat yang bersisa 2 jika dibagi 3 adalah 2, (2 3), (2 2.3), (2 3.3), (2 4.3), ...... , (2 (m-1).3), = 2, 5, 8, 11, 14, .... = ....., -10, -7, -4, -1, 2, ..... Jika keduanya digabungan didapat himpunan { ...., -10, -7, -4, -1, 2, 5, 8, 11, ..... } disebut sebagai himpunan residu (kongruen) 2 modulo 3 yang

dilambangkan dengan [ 2 ], sehingga: [ 2 ] = { ...., -10, -7, -4, -1, 2, 5, 8, 11, ..... } Untuk modulo 3 terdapat tiga himpunan residu, yaitu: [ 0 ] = { ...., -12, -9, -6, -3, 0, 3, 6, 9, .... } [ 1 ] = { ...., -11, -8, -5, -2, 1, 4, 7, 8 , ..... } [ 2 ] = { ...., -10, -7, -4, -1, 2, 5, 8, 11, ..... } Ketiga himpunan residu modulo 3 membentuk suatu klas residu modulo 3 yaitu { [ 0 ], [ 1 ], [ 2 ] } Dengan demikian untuk sebarang m

Z dan m > 0, terdapat (m-1)

himpunan residu modulo m dan kelas residu modulo m yang mempunyai (m-1) anggota, yaitu: { [ 0 ], [ 1 ], [ 2 ], [ 3 ], ..... , [ m-1 ] }

Teori Bilangan- 83

Dengan demikian untuk sebarang x,r nilai

Z dan 0 r < m, maka nilai-

x yang memenuhi hubungan x r (mod m) membentuk barisan

aritmatika sebagai berikut: ....., r-4m, 2-3m, r-2m, 2-m, r, r+m, r+2m, r+3m, ..... Dalil 3.2 Jika b c (mod m), maka (b,m) = (c,m) Bukti. Karena b c (mod m) berarti m b-c Berdasarkan teorema sebelumnya dalam keterbagian, sehingga: Bila (b,m) m dan m b-c maka (b,m) b-c Bila (b,m) b dan (b,m) b-c maka (b,m) c. Jadi bila (b,m) m dan (b,m) c maka (b,m) adalah pembagi persekutuan m dan c. Hal ini berarti (b,m)(c,m). ..................(1) c

b (mod m) berarti m c-b

Berdasarkan teorema sebelumnya dalam keterbagian, sehingga: Bila (c,m) m dan m c-b maka (c,m) c-b Bila (c,m) c dan (c,m) c-b maka (c,m) b. Jadi bila (c,m) m dan (c,m) b maka (c,m) adalah pembagi persekutuan m dan b. Hal ini berarti (c,m)(b,m). ..................(2) Dari (1) dan (2) dapat disimpulkan (b,m) = (c,m).

Teori Bilangan- 84

Definisi 3.4 Misal { x1, x2, x3, x4, ..., xk}, selanjutnya himpunan tersebut dinamakan sistem residu modulo m yang tereduksi jika: 1. (xi,m) = 1 2. xi

/ x (mod m) untuk setiap i j.


j

3. Jika (y,m) = 1 maka y m Contoh

xi (mod m) untuk i = 1,2,3, .... k, 0 y <

1. {1,5} adalah suatu sistem residu modulo 6 yang tereduksi, karena a. (1,6) = 1 dan (5,6) =1 b. 5

/ 1 (mod 6)
1 (mod 6)

c. (7,6) =1 sehingga 7

(11,6) = 1 sehingga 11 5 (mod 6) (13,6) = 1 sehingga 13 7 (mod 6)

2. {17,19} juga merupakan suatu sistem residu modulo 6 tereduksi. Sistem ini dapat diperoleh dari sistem residu modulo 6 yang lengkap , dengan mengambil atau membuang anggota-anggotanya yang tidak relatip prima dengan 6. {17, 30, 44, 91, -3, -14} adalah sistem residu lengkap modulo 6. Anggota sistem yang tidak relatip prima dengan 6 adalah 30, 44, -3, -14. Setelah bilangan yang tidak relatip prima dengan 6 dibuang

diperoleh 17 dan 91, sehingga (17,91) merupakan suatu sistem residu modulo 6 terduksi.

Teori Bilangan- 85

Ambil sistem residu modulo 6 lengkap yang lain, misalny {24, 49, 74, 33, 58, 83}. Dari himpunan tersebut yang tidak relatip prima dengan 6 adalah 24, 74, 33, dan 58, sehingga yang relatip prima dengan 6 adalah 49 dan 83. Dengan demikian terlihat bahwa {49, 83} merupakan suatu sistem residu modulo 6 yang terduksi. Berdasarkan contoh 2 di atas, jelaslah bahwa suatu sistem residu tereduksi modulo m dapat diperoleh dengan cara menghapus beberapa anggota sistem residu lengkap modulo m yang tidak relatip prima dengan m. Selanjutnya dapat diperhatikan bahwa semua sistem residu tereduksi modulo m akan mempunyai banyak anggota yang sama, yaitu suatu bilangan yang biasanya disimbulkan dengan fungsi -Euler.

Teorema 3.2 1. Bilangan (m) merupakan banyaknya biangan bulat positip kurang dari atau sama dengan m yang relatif prima denganm. 2. Diberikan (a,m) = 1 Jika r1, r2, r3, ... rn sebagai sistem residu lengkap modulo m, maka ar1, ar2, ar3, ... arn juga merupakan sistem residu lengkap modulo n. Bukti Menurut teorem keterbagian Jika (a,m) = 1 maka (ar,m) = 1 Banyaknya bilangan ar1, ar2, ar3, ... arn sama dengan r1, r2, r3, ... rn. Oleh karena itu yang perlu ditunjukkan hanya

Teori Bilangan- 86

ari

/ ar

(mod m), bila i

j.

Akan tetapi menurut teorema yang lain terlihat bahwa ari dan (a,m) = 1. Dengan demikian haruslah i = j. Dalil 3.3 Jika (a,m) = 1, maka a (m) Contoh 1. Untuk m = 4, (4) = 2 2. Untuk m = 25, (25) = 20 3. Untuk m = 3, (3) = 2 4. Untuk m = 10, (10) = 4 5. Tentukan 0 x < 5 sedemikiam sehingga 9101 Jawab. Untuk m = 5, maka (5) = 4 sehingga 94

arj (mod m),

1 (mod m)

x (mod 5)

x (mod 5)

1 (mod 5)

9101 = 9100.9 1 (94)25.9 (mod 5)

9 (mod 5) 4 (mod 5)

diperoleh x = 4. 6. Tentukan 0 x < 19 sedemikiam sehingga 43200 Jawab. Untuk m = 19, maka (19) = 18 sehingga 4319

p (mod 19)

p (mod 5)

1 (mod 19) karena (43,19) = 1

43200 = 43198.43 2 (4318)11.432 (mod 19)

Teori Bilangan- 87

1. 43.43 (mod 19) 1.5.5 (mod 19) 6 (mod 19)

diperoleh p = 6. 7. Carilah angka terakhir dari 2 Jawab Untuk menentukan angka terakhir dari 2 harus dipangang sebagai y
500 500

. maka persoalan di atas

500

x (mod 10)

y
2

x (mod 2) dan y

x (mod 5)

500

0 (mod 2), sehingga 2

0 (mod 2) 1 (mod 5)

(5) = 4 dan 5 2 maka 2 4


2 2 2 2 2

(2

)125

1 (mod 5)
500

500

0 (mod 2) 2 1 (mod 5) 2

6 (mod 2) 6 (mod 5)

500

500

500

6 (mod 2) dan 2

500

500

6 (mod 5), maka

500

0 (mod 2.5) atau 2

6 (mod 10).

Jadi angka terakhir dari 2 8.

500

adalah 6.

Carilah angka terakhir dari 3600. Jawab Untuk menentukan angka terakhir dari 3 harus dipangang sebagai y
600

. maka persoalan di atas

600

x (mod 10)

y
3

x (mod 2) dan y

x (mod 5)

1 (mod 2), sehingga 3

1 (mod 2) 1 (mod 5)

(5) = 4 dan 5 3 maka 3 4

Teori Bilangan- 88

3 3 3

500

(3

)150

1 (mod 5)
600

600

1 (mod 2) dan 3

600

1 (mod 5)

600

1 (mod 2.5) atau 3

1 (mod 10).

Jadi angka terakhir dari 3

600

adalah 1.

Teori Bilangan- 89

4.3 Kongruensi Linear Kongruensi mempunyai beberapa sifat yang sama dengan persamaan dalam Aljabar. Dalam Aljabar, masalah utamanya adalah menentukan akar-akar persamaan yang dinyatakan dalam bentuk f(x) = 0, f(x) adalah polinomial. Demikian pula halnya dengan kongruensi, permasalahannya adalah menentukan bilangan bulat x sehingga mememnuhi kongruensi f(x)

0 (mod m)

Definisi Jika r1, r2, r3, ... rm adalah suatu sistem residu lengkap modulo m. Banyaknya selesaian dari kongruensi f(x) ri sehingga f(ri)

0 (mod m) adalah banyaknya

0 (mod m)

Contoh: 1. f(x) = x3 + 5x 4 Jawab Selesaiannya adalah x = 2, karena f(2) = 23 + 5(2) 4 = 14 Ditulis dengan x

0 (mod 7)

0 (mod 7)

2 (mod 7).

Teori Bilangan- 90

Untuk mendapatkan selesaian kongruensi di atas adalah dengan mensubstitusi x dari 0, 1, 2, 3, ...., (m-1).

2. x3 2x + 6 Jawab

0 (mod 5)

Selesaiannya adalah x = 1 dan x = 2, sehingga dinyatakan dengan x

1 (mod 5) dan x

2 (mod 5).

3. x2 + 5 Jawab

0 (mod 11)

Tidak mempunyai selesaian, karena tidak ada nilai x yang memenuhi kongruensi tersebut.

Bentuk kongruensi yang paling sederhana adalah kongruensi yang berderajat satu dan disebut dengan kongruensi linear. Jika dalam aljabar kita mengenal persamaan linear yang berbentuk ax = b, a

0, maka

dalam teori bilangan dikenal kongruensi linear yang mempunyai bentuk ax

b (mod m).

Definisi Kongruensi sederhana berderajat satu atau yang disebut kongruensi linear mempunyai bentuk umum ax

b (mod m), dengan a,b,m

Z ,a

0, dan m > 0.

Teori Bilangan- 91

Kongruensi sederhana berderajat satu atau yang disebut kongruensi linear mempunyai bentuk umum ax

b (mod m), dengan a,b,m

Z ,a

0, dan m > 0.

Teorema 3 Kongruensi linear ax

b (mod m), dengan a,b,m

Z,a

0, dan m > 0.

dapat diselesaikan jika d = (a,m) membagi b. Pada kasus ini memiliki selesaian. Jika (a,m) = 1, maka kongruensi linear ax mempunyai satu selesaian. Bukti. Kongruensi linear ax b. Andaikan d b. d = (a,b) d a d ax. d ax. dan d b d ax b. d= (a,m) d m. d m dan d b m ax b. m ax b bertentangan dengan m ax b, Jadi d b. Diketahui d b dan d = (a,m) d a d m. d a , d m, dan d b ax
a m b , , dan d d d

b (mod m) hanya

b (mod m) mempunyai selesaian, berarti m ax

Z.

b (mod m) m ax b.
a m b m ax b , , d d d d d d

m ax b dan

Teori Bilangan- 92

m ax b a x d d d d

b m (mod ). d d a x d

Misal selesaian kongruensi

b m (mod ) adalah x d d

x o ; xo <

m , d

maka sebarang selesaiannya berbentuk x = xo + k. x = xo + k.

m ,k d

Z, yaitu:

( d 1) m m 2m 3m , x = xo + k. , x = xo + k. , ..... , x = xo + k. . d d d d

dimana seluruhnya memenuhi kongruensi dan seluruhnya mempunyai d selesaian. Jika (a,d) = 1, maka selesaiannya didapat x = x o yang memenuhi kongruensi dan mempunyai satu selesaian.

Contoh: 1. 7x

3 (mod 12)

Jawab Karena (7,12) = 1, atau 7 dan 12 relatif prima dan 1 3 maka 7x (mod 12) Hanya mempunyai 1 selesaian yaitu x

9 (mod 12)

2. 6x

9 (mod 15)

Jawab Karena (6,15) = 3 atau 6 dan 15 tidak relatif prima dan 3 9, maka kongruensi di atas mempunyai 3 selesaian (tidak tunggal). Selesaian kongruensi linear 6x

9 (mod 15) adalah

Teori Bilangan- 93

9 (mod 15), x

9 (mod 15), dan x

14 (mod 15).

3. 12x

2 (mod 18)

Jawab Karena (18,12) = 4 dan 4 2, maka kongruensi 12x tidak mempunyai selesaian. 4. 144x Jawab Karena (144,360) = 72 dan 72 216, maka kongruensi 144x (mod 360) mempunyai 72 selesaian. Selesaian tersebut adalah x

2 (mod 18)

216 (mod 360)

216

4 (mod 360), x

14 (mod 360), .... , x

359 (mod 360).

5. Bila kongruensi 144x

216 (mod 360) disederhanakan dengan

menghilangkan faktor d, maka kongruensi menjadi 2x Kongruensi 2x 4 (mod 5).

3 (mod 5).

3 (mod 5) hanya mempunyai satu selesaian yaitu x

Pada kongruensi ax

b (mod m) jika nilai a,b, dan m besar, akan

memerlukan penyelesaian yang panjang, sehingga perlu disederhanakan penyelesaian tersebut. ax

b (mod m) m (ax b) (ax-b) = my, y my + b = ax my

Z.

ax b = my selesaian yo.

- b (mod a) dan mempunyai

Sehingga dari bentuk my + b = ax dapat ditentukan bahwa my o + b adalah kelipatan dari.

Teori Bilangan- 94

Atau dapat dinyatakan dalam bentuk: myo + b = ax xo = my + b a


o

Contoh. 1. Selesaikan kongruensi 7x Jawab 7x 25y 4y y

4 (mod 25)

4 (mod 25) -4 (mod 7) -4 (mod 7) -1(mod 7)


25( 1) + 4 = -3 7

yo = -1 sehingga xo =

Selesaian kongruensi linear di atas adalah x x

-3 (mod 25) 22 (mod 25)

2. Selesaikan kongruensi 4x Jawab 4x 49y 4y y

3 (mod 49)

3 (mod 49) -3 (mod 4) -3 (mod 4) -3 (mod 7)


49 ( 3) + 3 = -36 4

yo = -3 sehingga xo =

Teori Bilangan- 95

Selesaian kongruensi linear di atas adalah x x

-36 (mod 49) 13 (mod 25)

Cara di atas dapat diperluas untuk menentukan selesaian kongruensi linear dengan Menentukan yo dengan mencari zo Menentukan wo dengan mencari wo Menentukan vo dengan mencari wo, dan seterusnya.

Contoh 1. Selesaikan kongruensi 82x Jawab 82x

19 (mod 625)

19 (mod 625)

---------------------------625y 51y -19 (mod 82) -19 (mod 82)

----------------------------82z 31z 19 (mod 51) 19 (mod 82)

-----------------------------

51v 20v

-19 (mod 31) -19 (mod 31)

Teori Bilangan- 96

----------------------------31w 11w

19 (mod 20) 19 (mod 20)

----------------------------20r 9r 9r -19 (mod 11) -19 (mod 11) 3 (mod 11)

----------------------------11s 2s -3 (mod 9) -3 (mod 9)

----------------------------9t t 3 (mod 2) 3 (mod 2)

----------------------------Jadi to = 3, sehingga: so = (9to-3)/2 = (27-3)/2 = 12 ro = (11so+3)/9 = (132+3)/9 = 15 wo = (20ro+19)/11 = (300+19)/11 = 29 vo = (31wo-19)/20 = (899-19)/20 = 44 zo = (51vo+19)/31 = (2244 +19)/31 = 73 yo = (82zo-19)/51 = (5986-19)/51 = 117 xo = (625yo+19)/82 = (73126+19)/82 = 892 Selesaian kongruensi di atas adalah x

892 ( mod 625) atau x

267 ( mod 625)

Teori Bilangan- 97

Teorema Jika (a,m) = 1 maka kongruensi linear ax

b (mod m) mempunyai

selesaian x = a (m)-1b, dimana (m) adalah banyaknya residu didalam sistem residu modulo m tereduksi. Bukti. Menurut teorem Euler jika (a,m) = 1 maka a (m)-1 = 1. ax

b (mod m)

a. a (m)-1 .x a (m)

b a (m)-1 (mod m)

b a (m)-1 (mod m)

Karena a (m) Maka 1.x x x

1 (mod m) dan a (m) x

b a (m)-1 (mod m)

b a (m)-1 (mod m)

b a (m)-1 (mod m) a (m)-1 b (mod m)

Contoh 1. Selesaikan 5x Jawab Karena (5,13) = 1 Maka kongruensi linear 5x x

3 (mod 13)

3 (mod 13) mempunyai selesaian

3.5 (13) 1 (mod 13) 3.5


12 1

(mod 13)

3.(52 )5.5 (mod 13)

Teori Bilangan- 98

3.(-1)5 5 (mod 13), karena 52 11 (mod 13)

-1 (mod 13)

4.4 Kongruensi Simultan Sering kita dituntut secara simultan untuk menentukan selesaian yang memenuhi sejumlah kongruensi. Hal ini berarti dari beberapa kongruensi linear yang akan ditentukan selesaiannya dan memenuhi masing-masing kongruensi linear pembentuknya.

Contoh 1. Diberikan dua kongruensi (kongruensi simultan) x x

3 (mod 8) 7 (mod 10)

Karena x

3 (mod 8), maka x = 3 + 8t (t Z).

Selanjutnya x = 3 + 8t disubstitusikan ke x diperoleh 3 + 8t 8t 8t

7 (mod 10), maka

7 (mod 10) dan didapat

7-3 (mod 10) 4 (mod 10)

Karena (8,10) = 2 dan 2 4 atau 2 7-3, maka kongruensi 8t

4 (mod

10) mempunyai dua selesaian bilangan bulat modulo 10 yaitu

Teori Bilangan- 99

8t 4t t

4 (mod 10) 2 (mod 5)

3 (mod 5)

Jadi t Dari t

3 (mod 5) atau t

8 (mod 10)

3 (mod 5) atau t = 3 + 5r (r Z) dan t

8 (mod 10) atau x =

3 + 8t Selanjutnya dapat dicari nilai x sebagai berikut: x = 3 + 8t = 3 + 8(3+5r) = 3 + 24 + 40r = 27 + 40r atau x

27 (mod 40) atau x

27 (mod [8,10])

2. Diberikan kongruensi simultan x x

15 (mod 51) 7 (mod 42)

Selesaian Karena (51,42) = 3 dan 15 / 7 (mod 3) atau 3 15 7 , maka kongruensi simultan di atas tidak mempunyai selesaian.

Teorema 3 Kongruensi simultan x x

a (mod m) b (mod n)

dapat diselesaikan jika a b (mod (m,n)) dana memiliki selesaian tunggal

Teori Bilangan-100

xo (mod [m,n])

Bukti Diketahui x x

a (mod m) b (mod n)

Kongruensi pertama x

a (mod m) x = a + mk, k

Z.

Kongruensi kedua harus memenuhi a + mk (mod n) Menurut teorema sebelumnya mk

b (mod n) atau mk

b-a

b-a (mod n) dapat diselesaikan jika d

b-a, d = (m,n) atau dengan kata lain kondisi kongruensi a (m,n)) harus dipenuhi. d = (m,n) d m dan d m. Jika d | m dan d m maka
m n (b a ) , , d d d m k d
m n (b a ) , , d d d

b (mod

Z.

Z dan mk

b-a (mod n) mengakibatkan

(b a ) n ( mod ) d d
m n , )=1 d d

Dari teorema sebelumnya jika d = (m,n) maka ( Jika (


m k d m n m k , ) = 1 dan d d d

(b a ) n ( mod ), maka d d

(b a ) n ( mod ) mempunyai 1 selesaian. d d

Misalkan selesaian yang dimaksud adalah k = ko sehingga selesaian kongruensi adalah

Teori Bilangan-101

ko (mod

n n ) atau k = ko + r, r d d

Z.

Karena x = a = mk dan k = ko +

n r, maka d

x = a + mk = a + m (ko + = ( a + m ko +
n r) d

mn r) d

= ( a + m ko ) + [m,n].r ; sebab [m,n](m,n) = m.n = xo + [m,n]r, sebab xo = ( a + m ko ) = xo (mod [m,n])

Soal-soal 1. Tentukan selesaian kongruensi linear di bawah ini a. 3x b. 7x

2 (mod 5) 4 (mod 25)

c. 12x d. 6x

2 (mod 8)

9 (mod 15) 8 (mod 102)

e. 36x f. 8x

12 (mod 20)

g. 144x

216 (mod 360)

2.

Tentukan selesaian kongruensi simultan berikut ini. a. 12 x

3 (mod 15)

Teori Bilangan-102

10 x b. x x

14 (mod 8) 5 (mod 11)

3 (mod 23)

3. Selesaiakan kongruensi linear dengan metode myo + b = ax xo =

my + b : a
o

a. 353x b. 49x

19 ( mod 400)

5000 ( mod 999) 209 ( mod 817)

c. 589x

4.6 Teorema Sisa China

Teori Bilangan-103