Anda di halaman 1dari 14

Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010

Halaman 11 -

24

Meningkatkan Prestasi Belajar Akidah Akhlak melalui Cooperative Learning Tipe Student Team Achievement Division pada Siswa-Siswi Kelas V/b SD Darul Ulum Bungurasih Waru Sidoarjo Tahun Pelajaran 2009/2010

Imam Zarkasyi MI Al-Hidayah, Mojokerto

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar Akidah Akhlak siswa-siswi kelas V-b SD Darul Ulum Bungurasih Waru Sidoarjo melalui cooperative learning tipe STAD (Student Team Achievement Division), serta untuk mengetahui respon siswa terhadap materi Akidah Akhlak dengan metode cooperative learning tipe STAD (Student Team Achievement Division). Rumusan masalahnya adalah a) apakah pembelajaran cooperative learning model STAD dapat meningkatkan prestasi belajar Akidah Akhlak?, b) bagaimana respon siswa dalam menerapkan metode pembelajaran cooperative learning model STAD?. Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah tindakan (action research) sebanyak tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan revisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas V-b SD Darul Ulum Bungurasih Waru Sidoarjo Tahun Pelajaran 2009/2010. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analisis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu siklus I (61,78%, siklus II (71,79%, siklus III (71,42%). Simpulan dari penelitian ini adalah metode cooperative learning model STAD berpengaruh positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus.

Kata kunci: Pembelajaran Akidah Akhlak, Kooperatif model STAD

PENDAHULUAN Guru mempunyai tanggung jawab besar terhadap keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sebagai komponen langsung yang terjun di dunia pendidikan guru mempunyai kewajiban yang tidak ringan di dalam mendidik siswa- siswinya di sekolah. Karena sesuai tugas dan peranan guru. (Slavin, Robert E,

2008;34)

Tidak bernama

Dengan berkembangnya kebudayaan yang meliputi teknologi, perkembangan jumlah anak yang memerlukan pendidikan disertai dengan keinginan manusia untuk serba cepat dalam segala hal membawa pengaruh pula atas tugas dan peranan guru. Natawidjaja juga menyatakan dengan semakin bertambahnya isi pengetahuan yang harus diberikan guru ditambah lagi dengan bertambahnya jumlah murid, bertambahnya tugas guru baik karena alasan sosial dan ekonomis maka harus ada jalan keluar. Salah satu jalan keluar itu adalah penggunaan metode cooperative learning model Student Team Achievement Division (STAD) untuk keperluan proses pengajaran. Namun demikian, penggunaan praktek ini jangan sekedar dianggap sebagai upaya membantu guru yang bersifat pasif, artinya penggunaannya semata-mata ditentukan oleh guru. Melainkan, merupakan upaya membantu anak-anak untuk belajar. Kalau perlu dengan cara individual (berinteraksi secara individual dengan contoh langsung) dan secara berkelompok kecil dengan teman sekelas. Untuk itu, diperlukan suatu upaya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran salah satunya adalah dengan memilih strategi atau cara dalam menyampaikan materi pelajaran agar diperoleh peningkatan prestasi belajar siswa khususnya pelajaran Akidah. Misalnya dengan membimbing siswa-siswi untuk bersama-sama terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan mampu membantu siswa-siswi berkembang sesuai dengan taraf intelektualnya akan lebih menguatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Untuk itu, guru harus memberikan suntikan dalam bentuk motivasi sehingga dengan bantuan itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar. Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, kegagalan dalam belajar rata-rata dihadapi oleh sejumlah siswa yang tidak memiliki dorongan belajar. Untuk itu dibutuhkan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan upaya membangkitkan motivasi belajar siswa, misalnya dengan membimbing siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan yang melibatkan siswa serta guru yang berperan sebagai pembimbing untuk menemukan konsep Akidah. Motivasi tidak hanya menjadikan siswa terlibat dalam kegiatan akademik, motivasi juga penting dalam menentukan seberapa jauh siswa-siswi akan belajar dari suatu kegiatan pembelajaran atau seberapa jauh menyerap informasi yang disajikan kepada mereka. Siswa-siswi yang termotivasi untuk belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa-siswi itu akan menyerap dan memahami materi itu dengan lebih baik. (Suryosubroto, 1997;32) Tugas penting guru adalah merencanakan bagaimana guru mendukung motivasi siswa-siswi. Untuk itu sebagai seorang guru disamping menguasai materi, juga diharapkan dapat menetapkan dan melaksanakan penyajian materi yang sesuai kemampuan dan kesiapan anak, sehingga menghasilkan penguasaan materi yang

12 Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010

Pembelajaran Aqidah Akhlak melalui Cooperative Learning tipe Student Team Achievement Division (STAD)

optimal bagi siswa-siswi. Sebagaimana tercantum pada KTSP pengajaran Akidah Akhlak di Sekolah. (BNSP, 2006;52) Dasar bertujuan agar siswa-siswi mampu menerapkan berbagai konsep- konsep Akidah untuk meningkatkan kesadaran akan kemajuan IPTEK dalam menghadapi era globalisasi dari tujuan mata pelajaran Akidah Akhlak tersebut tampak bahwa siswa-siswi diarahkan untuk menguasai konsep-konsep ilmu Akidah Akhlak, serta mampu menggunakan metode STAD yang dilandasi akhlakul karimah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.( Said, 1987:101) Penguasaan konsep berkaitan dengan kemampuan siswa-siswi dalam memahami pelajaran yang telah diberikan di sekolah dari seorang guru dipengaruhi oleh “Intellegence Quotient” atau perbandingan kecerdasan, metode mengajar, kualitas 10 pendidikan yang diberikan termasuk pendidiknya dan hal lainnya yang bersifat menunjang. Dengan kondisi tersebut guru sebagai pengajar hendaknya senantiasa berupaya mengubah pandangan siswa yang menganggap bahwa mata pelajaran Akidah tidak untuk itu perlu adanya perbaikan dalam kegiatan belajar mengajar. Guru harus merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatu yang menunjang proses pembelajaran, mengubah strategi mengajar dan memilih metode yang sesuai agar dapat menimbulkan minat dan motivasi untuk belajar, untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik dan mampu memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan. (Trianto, 2009;38) Dalam belajar Akidah, secara umum pembentukan konsep merupakan produk eksperimental. Oleh karena itu, pembentukan moral tidak begitu saja dibentuk melalui informasi atau penjelasan. Konsep tidak dapat begitu saja dipindahkan dari seseorang kepada orang lain. Cara yang paling efektif untu membentuk moralitas adalah melalui cooperative learning dan sekaligus suritauladan pada siswa-siswi. (AlJawa, 1996;40 ) Cara pembentukan konsep secara khusus di atas tertuang dalam kurikulum sekolah dasar yang bernaungan islami mengutamakan pengajaran Akidah harus dipilih metode yang dapat membangkitkan minat dan mengaktifkan siswa-siswi, sehingga menimbulkan sikap yang mendukung terhadap proses belajar mengajar, seperti metode cooperative, demonstrasi dan diskusi.( Sholomo, 2009;40). Dengan metode ini, diharapkan siswa menguasai konsep-konsep Akidah dan saling keterkaitannya serta mampu menggunakan metode cooperative learning untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Dari latar belakang di atas, judul penelitian ini adalah “Meningkatkan Prestasi Belajar Akidah Akhlak Melalui Metode Cooperative Learning Tipe STAD (Student Team Achievement Division) bagi Siswa-Siswi Kelas V-b SD Darul Ulum Bungurasih Waru Sidoarjo Pelajaran 2009 / 2010”.

Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010

13

Tidak bernama

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.

1. Apakah cooperative learning tipe STAD (Student Team Achievement Division) dapat meningkatkan prestasi belajar Akidah Akhlak siswa-siswi kelas V-b SD Darul Ulum Bungurasih Waru Sidoarjo ?

2. Bagaimana respon siswa-siswi kelas V-b SD Darul Ulum Bungurasih terhadap

materi Akidah Akhlak yang menggunakan metode cooperative learning tipe STAD?.

METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. Penelitian ini bertempat di SD Darul Ulum yang berlokasi di Bungurasih Tengah Waru Sidoarjo. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-April semester genap tahun pelajaran 2009/2010. Subyek penelitian adalah siswa-siswi kelas V-b SD Darul Ulum Bungurasih tahun pelajaran 2009/2010.

Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (Sugiarti, 1997:6), yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Siklus spiral dapat dilihat pada gambar berikut:

Siklus spiral dapa t dilihat pada gambar berikut: Rencana awal/rancangan Putaran 1 Refleksi Tindakan/Observasi
Siklus spiral dapa t dilihat pada gambar berikut: Rencana awal/rancangan Putaran 1 Refleksi Tindakan/Observasi
Siklus spiral dapa t dilihat pada gambar berikut: Rencana awal/rancangan Putaran 1 Refleksi Tindakan/Observasi
Rencana awal/rancangan
Rencana awal/rancangan
Putaran 1
Putaran 1

Refleksi

gambar berikut: Rencana awal/rancangan Putaran 1 Refleksi Tindakan/Observasi Putaran 2 Rencana yang direvisi Refleksi

Tindakan/Observasi

Putaran 2
Putaran 2

Rencana yang direvisi

Refleksi

Tindakan/Observasi

Putaran 3
Putaran 3

Refleksi

Rencana yang direvisi

Tindakan/Observasi

Gambar 1: Alur Penelitian Tindakan Kelas

14 Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010

Pembelajaran Aqidah Akhlak melalui Cooperative Learning tipe Student Team Achievement Division (STAD)

Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran. Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran model STAD. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya. Observasi dibagi dalam tiga putaranATAU siklus, yaitu putaran 1, 2 dan 3, masing-masing putaran dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan.

Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari, (1) silabus, yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian hasil belajar. (2) RP (Rencana Pelajaran), yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar. (3) Lembar Kegiatan Siswa. Lembar kegiatan ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil kegiatan elajar mengajar. (4) tes formatif. Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep Akidah Akhlak.Tes formatif ini diberikan setiap akhir putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan guru (obyektif).

Metode Pengumpulan Data Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi pengolahan belajar aktif, observasi aktivitas siswa dan guru, dan tes formatif.

Teknik Analisis Data Mengetahui keefektifan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktifitas siswa selama proses pembelajaran. Menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.

Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010

15

Tidak bernama

Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:

1. Menilai ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut, sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:

∑ X X = ∑ N
X
X =
N

Dengan

:

X

= Nilai rata-rata = Jumlah semua nilai siswa = Jumlah siswa

 

Σ X

Σ N

2. Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%

Hasil Penelitian dan Pembahasan Data penelitian yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal, data observasi berupa pengamatan pengelolaan pembelajaran kooperatif model STAD dan pengamatan aktivitas siswa dan guru pada akhir pembelajaran, dan data tes formatif siswa pada setiap siklus.

Analisis Data Penelitian Per Siklus

Siklus I

Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.

Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 5 – 17 Maret 2010 di kelas V-b dengan jumlah siswa-siswi 26 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut:

16 Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010

Pembelajaran Aqidah Akhlak melalui Cooperative Learning tipe Student Team Achievement Division (STAD)

Tabel 1: Nilai Tes Formatif pada Siklus I

No. Urut

Nilai

Keterangan

 

No. Urut

Nilai

Keterangan

T

TT

T

TT

1

60

15

60

2

50

16

70

3

80

17

70

4

70

18

80

5

60

19

70

6

80

20

50

7

50

21

70

8

70

22

70

9

80

23

60

10

50

24

80

11

60

25

70

12

60

26

60

13

80

27

70

Jumlah

920

7

7

Jumlah

960

10

4

Jumlah Skor Maksimal Ideal Jumlah Skor Tercapai Rata-Rata Skor Tercapai

 

2800

 

1730

61,78

Keterangan:

T

: Tuntas

TT

: Tidak Tuntas

Jumlah siswa yang tuntas

: 15

Jumlah siswa yang belum tuntas

: 11

Klasikal

: Belum tuntas

Tabel 2: Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I

No

Uraian

Hasil Siklus I

1

Nilai rata-rata tes formatif

61,78

2

Jumlah siswa yang tuntas belajar

15

3

Persentase ketuntasan belajar

57,69

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 61,78 dan ketuntasan belajar mencapai 57,69 % atau ada 15 siswa dari 26 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 60 hanya sebesar 61,78 % lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih baru dan asing terhadap metode baru yang diterapkan dalam proses belajar mengajar.

Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut.

Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran

1.

Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010

17

Tidak bernama

2. Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu

3. Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung.

Revisi Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat

kekurangan, sehingga perlu adanya refisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya.

1. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan.

2. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan.

3. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias.

Siklus II

Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung.

Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan tanggal 8 - 19 April di kelas V-b dengan jumlah siswa-siswi 26. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut.

Tabel 3: Nilai Tes Formatif pada Siklus II

No. Urut

Nilai

Keterangan

No. Urut

Nilai

Keterangan

T

TT

T

TT

1

80

15

70

2

70

16

60

3

90

17

80

4

50

18

70

5

70

19

70

6

70

20

70

7

70

21

60

8

60

22

90

9

70

23

80

18 Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010

Pembelajaran Aqidah Akhlak melalui Cooperative Learning tipe Student Team Achievement Division (STAD)

10 80

24

60

11 80

25

80

12 70

26

60

13 70

27

90

Jumlah

1000

11

3

Jumlah

1010

10

4

Jumlah Skor Maksimal Ideal Jumlah Skor Tercapai Rata-Rata Skor Tercapai

2800

1870

71,79

Keterangan:

T

: Tuntas

TT

: Tidak Tuntas

Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang belum tuntas

: 19 : 7

Klasikal : Belum tuntas Tabel 4: Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II

No

Uraian

Hasil Siklus II

1

Nilai rata-rata tes formatif

71,79

2

Jumlah siswa yang tuntas belajar

19

3

Persentase ketuntasan belajar

75,00

Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 71,79 dan ketuntasan belajar mencapai 75,00% atau ada 19 siswa-siswi dari 26 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena siswa mambantu siswa yang kurang mampu dalam mata pelajaran yang mereka pelajari. Disamping itu adanya kemampuan guru yang mulai meningkat dalam prose belajar mengajar.

Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut.

1. Memotivasi siswa.

2. Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep.

3. Pengelolaan waktu.

Revisi Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan- kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus II antara lain.

1. Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung.

2. Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya.

3. Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep.

Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010

19

Tidak bernama

4. Guru harus mendistribusikan waktu secara baik, sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 5. Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar.

Siklus III

Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.

Tahap Kegiatan dan Pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan l 20 - 25 April di kelas V-b dengan jumlah siswa-siswi 26. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III adalah sebagai berikut.

Tabel 5: Nilai Tes Formatif pada Siklus III

No. Urut

Nilai

Keterangan

No. Urut

Nilai

Keterangan

T

TT

T

TT

1

60

15

80

2

80

16

90

3

80

17

80

4

70

18

70

5

70

19

80

6

90

20

60

7

80

21

80

8

60

22

90

9

80

23

80

10

90

24

70

11

70

25

80

12

80

26

70

13

90

27

70

Jumlah

1070

12

2

Jumlah

1090

13

1

Jumlah Skor Maksimal Ideal

2800

Jumlah Skor Tercapai

2000

Rata-Rata Skor Tercapai

71,42

Keterangan:

T

: Tuntas

20 Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010

Pembelajaran Aqidah Akhlak melalui Cooperative Learning tipe Student Team Achievement Division (STAD)

TT Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang belum tuntas

Klasikal

: Tidak Tuntas : 23 : 3

: Tuntas Tabel 6: Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus III

No

Uraian

Hasil Siklus III

1

Nilai rata-rata tes formatif

71,42

2

Jumlah siswa yang tuntas belajar

23

3

Persentase ketuntasan belajar

88,46

Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 71, 42 dan dari 28 siswa yang telah tuntas sebanyak 23 siswa-siswi dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 88,46 % (termasuk kategori tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan siswa dalam mempelajari materi pelajaran yang telah diterapkan selama ini serta ada tanggung jawab kelompok dari siswa yang lebih mampu untuk mengajari temannya kurang mampu.

Refleksi Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar.

2. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung.

3. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan, sehingga menjadi lebih baik.

4. Hasil belajar siswsa pada siklus III mencapai ketuntasan.

Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka, tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya, penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan proses belajar mengajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010

21

Tidak bernama

PEMBAHASAN

Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif model STAD memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi yang telah disampaikan guru selama ini (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I, II, dan III) yaitu masing-masing 61,78%, 71,79%, dan 71,42%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.

Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran kooperatif model STAD dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa dan penguasaan materi pelajaran yang telah diterima selama ini, yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.

Aktivitas Guru dan Siswa dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Akidah Akhlak dengan pembelajaran kooperatif model STAD yang paling dominan adalah, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi, dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah pembelajaran kooperatif model STAD dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan, menjelaskan materi yang tidak dimengerti siswa, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana persentase untuk aktivitas di atas cukup besar.

PENUTUP

Simpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Pembelajaran kooperatif model STAD memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada pembelajaran Akhidah Akhlak kelas V b SD Darul Ulum Bungurasih yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (61,78%, siklus II (71,79%, siklus III (71,42%).

22 Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010

Pembelajaran Aqidah Akhlak melalui Cooperative Learning tipe Student Team Achievement Division (STAD)

2. Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran Akidah Akhlak kelas V b SD Darul Ulum, hal ini ditunjukan dengan antusias siswa yang menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan pembelajaran kooperatif model STAD, sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar.

3. Pembelajaran kooperatif model STAD memiliki dampak positif terhadap kerjasama antara siswa, hal ini ditunjukkan adanya tanggung jawab dalam kelompok dimana siswa yang lebih mampu mengajari temannya yang kurang mampu.

Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar Akidah Akhlak lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut.

1. Untuk melaksanakan pembelajaran kooperatif model STAD memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar dapat diterapkan dengan pembelajaran kooperatif model STAD dalam proses belajar mengajar, sehingga diperoleh hasil yang optimal.

2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran yang sesuai, meskipun dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.

3. Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik. []

Daftar Pustaka

Amin, Ahmad. 1975. Etika (Ilmu Akhlaq). Jakarta: Bulan Bintang.

AlJawa, Hirul, Kalamiyah. 1996. Menerangkan Ilmu Akidah Islamiyah. Surabaya:

Attas,

Salim bin Nabhun.

Syed,

Muhammad

Naquib

Al.

1984.

Konsep

Pendidikan

dalam

Islam.

Terjemahan Bahasa Indonesia oleh Haidar. Bandung: Mizan.

Basith, Abdul. 1996. Risalah Do’a dan Zikir. Surabaya: Bintang Terang.

BNSP. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional.

Ghozali, Muhammad, Al. 1964. Akidah Al Muslim. Kairo: Darul Kutub Al Hadisah.

Hani Al-Haj. 2003. 1001 Kisah Teladan. Penerjemah Musthalah Maufur MA. Jakarta:Al-kausar.

Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010

23

Tidak bernama

Kurikulum 2004. 1982. Kurikulum Kompetensi Dasar. Jakarta: Balitbang Departemen Agama.

Said M. 1987. 101 Hadist tentang Budi Luhur. Bandung.

Salim Abdullah. 1986. Akidah Islam Membina Rumah Tangga, dan Masyarakat. Jakarta: Media Dakwah.

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta: Kencana Media Group.

Lie, Anita. 2007. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang- ruang Kelas. Jakarta: PT. Grasindo.

Sudjana, N. 1996. Metode Statistik. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suryosubroto, B. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Suyanto. 1996/1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Sholomo, Sharan. 2009. Cooperative Learning:Inovasi Pengajaran dan Pembelajaran untuk Memacu Keberhasilan Siswa di Kelas. Yogyakarta: Imperium.

24 Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010