Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Di pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam waktu SMA dulu, kita diajarkan bahwa terdapat dua jenis satelit, yaitu satelit alam dan satelit buatan. Satelit alam adalah bulan yang berevolusi mengelilingi planet, sedang satelit buatan (artificial satellites) adalah satelit yang dibuat oleh tangan manusia. Menurut kamus online Wikipedia, satelit adalah benda-benda yang mengorbit mengelilingi benda lain. Itu berarti bukan hanya bulan dan satelit buatan, tapi juga komet, asteroid,bintang, planet, dan bahkan galaksi. Semua planet, bulan, dan bintang (termasuk matahari) merupakan satelit dari Galaksi Bimasakti. Era satelit buatan sudah dimulai sejak tahun 1950an. Sama seperti semua hal yang berkembang di dunia, satelit buatan memiliki sejarah perkembangannya sendiri. Pada perkembangannya pun, satelit kemudian digunakan untuk bermacam-macam tujuan, sehingga lahirlah berbagai jenis satelit. Menurut kamus online Wikipedia, terdapat beberapa tipe utama satelit, yaitu anti-satellite weapons, satelit astronomi, biosatelit, satelit komunikasi, satelit mini, satelit navigasi, reconnaissance satellite, satelit observasi bumi, satelit tenaga matahari, stasiun luar angkasa, dan satelit cuaca. Jenis yang pertama, anti-satellite weapons, adalah satelit yang didesain untuk menghancurkan satelit musuh dan target serta senjata orbit. Satelit astronomi adalah satelit yang digunakan untuk kepentingan penelitian astronomis.Biosatelit dirancang untuk mengangkut contoh organisme hidup untuk eksperimen, sementara satelit komunikasi adalah satelit yang digunakan untuk tujuan-tujuan telekomunikasi.Satelit mini (miniaturized satellites), seperti namanya, adalah satelit yang bentuknya kecil dan bobotnya ringan, dibagi menjadi tiga jenis yaitu satelit mini (minisatellites, 200500 kg), satelit mikro (dibawah 200 kg), dan satelit nano (dibawah 10 kg).

B. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana sejarah perkembangan satelit buatan? 2. Sebutkan jenis satelit dan manfaatnya? 3. Bagaimana orbit satelit buatan? 4. Bagaimana komponen gerak satelit buatan? C. TUJUAN 1. Dapat menjelaskan sejarah perkembangan satelit buatan. 2. Dapat menjelaskan jenis satelit serta manfaatnya. 3. Dapat menjelaskan orbit satelit buatan. 4. Dapat menjelaskan komponen gerak satelit

BAB II PEMBAHASAN A. SEJARAH SATELIT BUATAN Satelit buatan manusia pertama adalah Sputnik 1, diluncurkan oleh Soviet pada tanggal 4 Oktober 1957, dan memulai Program Sputnik Rusia, dengan Sergei Korolev sebagai kepala disain dan Kerim Kerimov sebagai asistentnya. Peluncuran ini memicu lomba ruang angkasa (space race) antara Soviet dan Amerika. Sputnik 1 membantuk mengidentifikasi kepadatan lapisan atas atmosfer dengan jalan mengukur perubahan orbitnya dan memberikan data dari distribusi signal radio pada lapisan ionosphere. Karena badan satelit ini diisi dengan nitrogen bertekanan tinggi, Sputnik 1 juga memberi kesempatan pertama dalam pendeteksian meteorit, karena hilangnya tekanan dalam disebabkan oleh penetrasi meteroid bisa dilihat melalui data suhu yang dikirimkannya ke bumi. Sputnik 2 diluncurkan pada tanggal 3 November 1957 dan membawa awak mahluk hidup pertama ke dalam orbit, seekor anjing bernama Laika Pada bulan Mei, 1946, Project Rand mengeluarkan desain preliminari untuk experimen wahana angkasa untuk mengedari dunia, yang menyatakan bahwa, "sebuah kendaraan satelit yang berisi instrumentasi yang tepat bisa diharapkan menjadi alat ilmu yang canggih untuk abad ke duapuluh". Amerika sudah memikirkan untuk meluncurkan satelit pengorbit sejak 1946 dibawah Kantor Aeronotis angkatan Laut Amerika (Bureau of Aeronautics of the United States Navy). Project RAND milik Angkatan Udara Amerika akhirnya mengeluarkan laporan diatas, tetapi tidak mengutarakan bahwa satelit memiliki potensi sebagai senjata militer; tetapi, mereka menganggapnya sebagai alat ilmu, politik, dan propaganda. Pada tahun 1954, Sekertari Pertahanan Amerika menyatakan, "Saya tidak mengetahui adanya satupun program satelit Amerika."

Pada tanggal 29 Juli 1955, Gedung Putih mencanangkan bahwa Amerika Serikat akan mau meluncurkan satelit pada musim semi 1958. Hal ini kemudian diketahui sebagai Project Vanguard. Pada tanggal 31 July, Soviets mengumumkan bahwa mereka akan meluncurkan satelit pada musim gugur 1957. Mengikuti tekanan dari American Rocket Society (Masyarakat Roket America), the National Science Foundation (Yayasan Sains national), and the International Geophysical Year, interest angkatan bersenjata meningkat dan pada awal 1955 Angkatan Udara Amerika dan Angkatan Laut mengerjai Project Orbiter, yang menggunakan wahana Jupiter C untuk meluncurkan satelit. Proyek ini berlangsung sukses, dan Explorer 1 menjadi satelit Amerika pertama pada tanggal 31 januari 1958. Pada bulan Juni 1961, tiga setengah tahun setelah meluncurnya Sputnik 1, Angkatan Udara Amerika menggunakan berbagai fasilitas dari Jaringan Mata Angkasa Amerika (the United States Space Surveillance Network) untuk mengkatalogkan sejumlah 115 satelit yang mengorbit bumi. Sedangkan sejarah perkembangan satelit buatan di Indonesia dimulai pada tahun 1976 yang bernama Satelit Palapa A1. Palapa ialah nama bagi sejumlah satelit telekomunikasi geostasioner Indonesia. Nama ini diambil dari Sumpah Palapa, yang pernah dicetuskan oleh Patih Gajah Mada dari Majapahit pada tahun 1334. Satelit pertama diluncurkan pada tanggal 8 Juli 1976 oleh roket Amerika Serikat dan dilepas di atas Samudera Hindia pada 83 BT. Satelit pertama dari 2 satelit itu bertipe HS-333 dan bermassa 574 kg. Kemudian 4 satelit dari seri kedua dibuat, yang kesemuanya dari tipe Hughes HS-376. Ketika peluncuran Palapa B2 gagal, satelit ke-3 diatur. Awalnya bernama Palapa B3 dan dijadwalkan untuk STS-61-H, akhirnya diluncurkan sebagai Palapa

B2P. Sementara itu Palapa B2 diperbaiki kembali oleh STS-51-A, diperbaharui dan diluncurkan lagi sebagai Palapa B2R. Palapa A2 adalah satelit komunikasi milik Indonesia dan dioperasikan oleh Perumtel. Palapa A2 diluncurkan pada tanggal 10 Maret 1977 dengan roket Delta 2914 dan beroperasi di orbit 77 BT sejak tanggal 11 Maret 1977 hingga bulan Januari 1988. Program satelit Palapa A dimulai saat Pemerintah Indonesia memberikan 2 kontrak terpisah pada Boeing Satellite Systems (dahulu dikenal dengan Hughes Space and Communication Inc.) dari Amerika Serikat untuk menyediakan 2 satelit (Palapa A1 dan A2), sebuah stasiun kontrol utama untuk kedua satelit tersebut dan 9 stasiun bumi. Pembangunan 10 stasiun tersebut diselesaikan dalam waktu 17 bulan, salah satu yang tercepat bagi Boeing. Pada kontrak terpisah, dibangun total 30 stasiun bumi lainnya untuk dioperasikan oleh Perumtel. Nama Palapa sendiri dipilih oleh Presiden Suharto pada bulan Juli 1975. Satelit Palapa A2 dimaksudkan sebagai cadangan dan siap untuk dioperasikan apabila Palapa A1 mengalami kegagalan. Satelit Palapa B2P tahun 1987 adalah satelit yang mengitari orbit geosynchronous dan bergerak dari barat ke timur dengan kecepatan yang sama dengan rotasi Bumi. Satelit ini terletak pada ketinggian 36.000km diatas khatulistiwa pada lokasi 113BT dan dikendalikan oleh stasiun yang terletak di Bumi tepatnya di daerah Cibinong. Satelit Palapa merupakan satelit relay bagi stasiun bumi yang selanjutnya memancarkan kembali siaran ke televisi dengan transponder Palapa yang bekerja pada jarak 6 gigahertz dengan kekuatan pancar 10 watt. Satelit Palapa B2P yang sesungguhnya dibuat untuk keperluan domestik serta ditujukan untuk disewakan ke mancanegara ternyata mampu menjaring bisnis yang sangat baik, dan karenanya Palapa B2P menjadi satelit rebutan. Para penyelenggara penyiaran (CNN, ESPN) menggunakan Palapa B2P, sehingga masyarakat yang

berada dalam area cakupan Palapa B4 dapat menerima program-progam mereka. Satelit Palapa C1 adalah satelit komunikasi pertama dalam generasi Palapa C yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT. Satelit Palapa Indonesia (Satelindo). Palapa C1 diproduksi oleh Hughes (Amerika Serikat, AS) dan diluncurkan pada tanggal 31 Januari 1996 di Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral (LC-36B) AS, menggunakan roket Atlas 2AS. Satelit ini dimaksudkan sebagai pengganti satelit Palapa B4 pada Orbit Geo Stasioner slot 113 BT dengan rentang operasi selama 7 tahun. Namun setelah terjadi kegagalan pengisian battery pada tanggal 24 November 1998 akhirnya Palapa C1 dinyatakan tidak layak beroperasi dan digantikan oleh Palapa C2. Satelit Palapa C2 adalah satelit komunikasi kedua dalam generasi Palapa C yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT. Satelit Palapa Indonesia (Satelindo). Palapa C2 diproduksi oleh Hughes (Amerika Serikat, AS) dan diluncurkan pada tanggal 15 Mei 1996 di Kourou, Guyana Perancis (Ko ELA-2), menggunakan roket Ariane-44L H10-3. Satelit ini beroperasi pada Orbit Geo Stasioner slot 113 BT di ketinggian 36.000 km di atas permukaan bumi. Operasional satelit ini berpindah tangan ke PT. Indosat Tbk. akibat penggabungan Satelindo dengan Indosat. Demi memberi tempat bagi Satelit Palapa D, rencananya orbit satelit ini dipindah ke 105,5 BT. Telkom-2 adalah satelit yang diluncurkan Telkom ke angkasa untuk menggantikan satelit Palapa B4. Satelit ini dibawa ke angkasa dengan menggunakan roket Ariane 5 dari Kourou di Guyana Perancis pada tanggal 16 November 2005. Telkom-2 memiliki umur operasi selama 15 tahun dan bernilai sekitar 170 juta dolar AS. Sekitar 70 persen kapasitas transponder Telkom-2 akan disewakan kepada pihak luar. Dari 30 persen kapasitas yang akan digunakan sendiri oleh Telkom, satelit buatan Orbital Sciences Corporation ini diharapkan akan mendukung sistem

komunikasi transmisi backbone yang meliputi layanan telekomunikasi sambungan langsung jarak jauh (SLJJ), sambungan langsung internasional (SLI), internet, dan jaringan komunikasi untuk kepentingan militer. Satelit ini akan beredar di orbit 118 BT dengan kapasitas 24 transponder C-band dan berbobot 1.975 kg. Daya jangkaunya mencapai seluruh ASEAN, India dan Guam INASAT-1 adalah Nano Hexagonal Satelit yang dibuat dan didesain sendiri oleh Indonesia untuk pertama kalinya. INASAT-1 merupakan satelit metodologi penginderaan untuk cuaca buatan LAPAN Selain itu INASAT-1 adalah satelit Nano alias satelit yang menggunakan komponen elektronik berukuran kecil, dengan berat sekitar 10-15 kg. Satelit itu dirancang dengan misi untuk mengumpulkan data yang berhubungan erat dengan data lingkungan (berupa fluks magnet didefinisikan sebagai muatan ilmiah) maupun housekeeping yang digunakan untuk mempelajari dinamika gerak serta penampilan sistem satelit. Adapun satelit itu dirancang bersama oleh PT Dirgantara Indonesia dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), khususnya Pusat Teknologi Elektronika (Pustek) Dirgantara. Berbekal nota kesepakatan antara LAPAN, Dirgantara Indonesia, serta dukungan dana dari Riset Unggulan Kemandirian Kedirgantaraan 2003, maka dimulailah rancangan satelit Nano dengan nama Inasat-1 (Indonesia Nano Satelit-1). Dari segi dinamika gerak akan diketahui melalui pemasangan sensor gyrorate tiga sumbu, sehingga dalam perjalanannya akan diketahui bagaimana perilaku geraknya. Penelitian dinamika gerak ini menjadi hal yang menarik untuk satelit-satelit ukuran Nano yang terbang dengan ketinggian antara 600-800 km.

LAPAN-TUBSAT adalah sebuah satelit mikro yang dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bekerja sama dengan Universitas Teknik Berlin (Technische Universitt Berlin; TU Berlin). Wahana ini dirancang berdasarkan satelit lain bernama DLR-TUBSAT, namun juga menyertakan sensor bintang yang baru. Satelit LAPAN-TUBSAT yang berbentuk kotak dengan berat 57 kilogram dan dimensi 45 x 45 x 27 sentimeter ini akan digunakan untuk melakukan pemantauan langsung situasi di Bumi seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir, menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi di wilayah Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak. LAPAN-TUBSAT membawa sebuah kamera beresolusi tinggi dengan daya pisah 5 meter dan lebar sapuan 3,5 kilometer di permukaan Bumi pada ketinggian orbit 630 kilometer serta sebuah kamera resolusi rendah berdaya pisah 200 meter dan lebar sapuan 81 km. Manuver attitude ini dilakukan dengan menggunakan attitude control system yang terdiri atas 3 reaction wheel, 3 gyro, 2 sun sensor, 3 magnetic coil dan sebuah star sensor untuk navigasi satelit. Komponen-komponen inilah yang membedakannya dengan satelit mikro lain yang hanya mengandalkan sistem stabilisasi semi pasif gradien gravitasi dan magneto torquer, sehingga sensornya hanya mengarah vertikal ke bawah. Sebagai satelit pengamatan, satelit ini dapat digunakan untuk melakukan pemantauan langsung kebakaran hutan, gunung meletus, tanah longsor dan kecelakaan kapal maupun pesawat. Tapi pengamatan banjir akan sulit dilakukan karena kamera tidak bisa menembus awan tebal yang biasanya menyertai kejadian banjir. Indostar II atau Cakrawarta II adalah satelit yang diluncurkan oleh PT Media Citra Indostar (MCI) yang mengelola dan mengoperasionalisasi satelit Indovision.

Satelit ini diluncurkan dengan menggunakan roket peluncur Proton Breeze milik Rusia dan lepas landas melalui Baikonur Cosmodome di Kazahkstan. Peluncuran satelit Indostar II ini telah berlangsung pada tanggal 16 Mei 2009. Satelit Palapa D (kode internasional = 2009-046A) adalah satelit komunikasi Indonesia yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT. Indosat Tbk dan diluncurkan pada tanggal 31 Agustus 2009 pukul 16:28 WIB di Xichang Satellite Launch Center (XSLC) menggunakan roket Long March (Chang Zheng) 3B. Satelit ini dibuat oleh Thales Alenia Space, Perancis, dan dimaksudkan sebagai pengganti satelit Palapa C2 pada Orbit Geo Stasioner slot 113 BT yang akan selesai masa operasionalnya pada tahun 2011. B. JENIS DAN MANFAAT SATELIT Berdasarkan fungsinya satelit dibedakan menjadi : 1. Satelit astronomi adalah satelit yang digunakan untuk mengamati planet, galaksi, dan objek angkasa lainnya yang jauh. 2. Satelit komunikasi adalah satelit buatan yang dipasang di angkasa dengan tujuan telekomunikasi menggunakan radio pada frekuensi gelombang mikro. Kebanyakan satelit komunikasi menggunakan orbit geosinkron atau orbit geostasioner, meskipun beberapa tipe terbaru menggunakan satelit pengorbit bumi rendah. 3. Satelit pengamat Bumi adalah satelit yang dirancang khusus untuk mengamati Bumi dari orbit, seperti satelit reconnaissance tetapi ditujukan untuk penggunaan non-militer seperti pengamatan lingkungan, meteorologi,

pembuatan peta, dll. 4. Satelit navigasi adalah satelit yang menggunakan sinyal radio yang disalurkan ke penerima di permukaan tanah untuk menentukan lokasi sebuah titik dipermukaan bumi. Salah satu satelit navigasi yang sangat populer adalah GPS

milik Amerika Serikat selain itu ada juga Glonass milik Rusia. Bila pandangan antara satelit dan penerima di tanah tidak ada gangguan, maka dengan sebuah alat penerima sinyal satelit (penerima GPS), bisa diperoleh data posisi di suatu tempat dengan ketelitian beberapa meter dalam waktu nyata. 5. Satelit mata-mata adalah satelit pengamat Bumi atau satelit komunikasi yang digunakan untuk tujuan militer atau mata-mata. 6. Satelit tenaga surya adalah satelit yang diusulkan dibuat di orbit Bumi tinggi yang menggunakan transmisi tenaga gelombang mikro untuk menyorotkan tenaga surya kepada antena sangat besar di Bumi yang dpaat digunakan untuk menggantikan sumber tenaga konvensional. 7. Stasiun angkasa adalah struktur buatan manusia yang dirancang sebagai tempat tinggal manusia di luar angkasa. Stasiun luar angkasa dibedakan dengan pesawat angkasa lainnya oleh ketiadaan propulsi pesawat angkasa utama atau fasilitas pendaratan; Dan kendaraan lain digunakan sebagai transportasi dari dan ke stasiun. Stasiun angkasa dirancang untuk hidup jangka-menengah di orbit, untuk periode mingguan, bulanan, atau bahkan tahunan. 8. Satelit cuaca adalah satelit yang diguanakan untuk mengamati cuaca dan iklim Bumi. 9. Satelit miniatur adalah satelit yang ringan dan kecil. Klasifikasi baru dibuat untuk mengkategorikan satelit-satelit ini: satelit mini (500200 kg), satelit mikro (di bawah 200 kg), satelit nano (di bawah 10 kg). Satelit juga dikatagorikan bersasarkan bentuk orbitnya, dimana tiap orbit tersebut mengemban misi tertentu. 1. Geosynchronous Earth Orbit (GEO), satelit yang mengorbit pada ketinggian 35786 km dari permukaan bumi. Ketinggian ini dibutuhkan agar satelit selalu berada tepat di atas sebuah titik di ekuator bumi. Oleh sebab itu satelit tersebut memerlukan tempo yang sama dengan periode rotasi bumi yaitu 24 jam dalam gerakannya mengelilingi bumi. Sebuah satelit dapat mengamati sampai

sepertiga luas permukaan bumi. Jika tiga buah satelit ditempatkan pada ketinggian tertentu sehingga bumi terletak dalam segitiga sama sisi dengan posisi satelit sebagai sudut segitiga tersebut, maka seluruh permukaan bumi akan dapat diamati dengan baik.

2.

Medium Earth Orbit (MEO), satelit jenis ini bergerak pada ketinggian 800020000 km. Lintasan dirancang agar melewati kedua kutub bumi utara dan selatan difungsikan untuk satelit komunikasi. Tidak seperti satelit GEO yang orbitnya berbentuk lingkaran, satelit tipe MEO mempunyai orbit elips

3.

Low Earth Orbit berada pada ketinggian 500 sampai 2000 km. Lintasannya lebih dekat ke bumi, hal ini mengharuskan satelit bergerak dengan kecepatan tinggi agar dapat mengimbangi gaya sentripetal yang menarik satelit ke bumi.

Satelit bergerak dengan orbit berbentuk lingkaran dalam periode 1 jam 30 menit.

Orbit berikut adalah orbit khusus yang juga digunakan untuk mengkategorikan satelit: 1. Orbit Molniya, orbit satelit dengan perioda orbit 12 jam dan inklinasi sekitar 63. 2. Orbit Sunsynchronous, orbit satelit dengan inklinasi dan tinggi tertentu yang selalu melintas ekuator pada jam lokal yang sama. 3. Orbit Polar, orbit satelit yang melintasi kutub C. ORBIT SATELIT Orbit merupakan elemen dasar dalam setiap misi ruang angkasa. Untuk mengerti bagaimana gerak dan lintasan sebuah satelit, diperlukan beberapa pengetahuan dasar tentang kalkulus dan geometri. Satelit yang bergerak bebas dapat dijelaskan dari persamaan gerak yang telah dikembangkan oleh Copernicus, Kepler dan Newton yang semuanya terangkum dalam pengetahuan mekanika benda langit. Sekali posisi dan kecepatan sebuah objek diketahui, yang merupakan fungsi dari medan gravitasi, orang dapat memperediksi dengan tepat dimana posisi objek dalam beberapa menit mendatang maupun tahun. Ada beberapa jenis orbit yang dapat

dirancang untuk meletakkan satelit pada posisinya. Orbit dari satelit ini diragakan dalam gambar berikut:

Bermacam tipe orbit seperti orbit parking, transfer orbit dan final orbit. Sebuah satelit umumnya memulai kala hidup pada lintasan parking, dari lintasan ini kemudian upper stage roket digunakan sebagai booster untuk menempatkan satelit di orbitnya. Beberapa dorongan diperlukan sampai satelit menempati posisi yang diharapkan. Bentuk orbit satelit diantaranya adalah : 1) Geosynchronous Earth Orbit (GEO), satelit yang mengorbit pada ketinggian 35786 km dari permukaan bumi. Ketinggian ini dibutuhkan agar satelit selalu berada tepat di atas sebuah titik di ekuator bumi. Oleh sebab itu satelit tersebut memerlukan tempo yang sama dengan periode rotasi bumi yaitu 24 jam dalam gerakannya mengelilingi bumi. Sebuah satelit dapat mengamati sampai sepertiga luas permukaan bumi. Jika tiga buah satelit ditempatkan pada ketinggian tertentu sehingga bumi terletak dalam segitiga sama sisi dengan posisi satelit sebagai sudut segitiga tersebut, maka seluruh permukaan bumi akan dapat diamati dengan baik.

2) Low Earth Orbit berada pada ketinggian 500 sampai 2000 km. Lintasannya lebih dekat ke bumi, hal ini mengharuskan satelit bergerak dengan kecepatan tinggi agar dapat mengimbangi gaya sentripetal yang menarik satelit ke bumi. Satelit bergerak dengan orbit berbentuk lingkaran dalam periode 1 jam 30 menit. 3) Medium Earth Orbit (MEO), satelit jenis ini bergerak pada ketinggian 800020000 km. Lintasan dirancang agar melewati kedua kutub bumi utara dan selatan difungsikan untuk satelit komunikasi. Tidak seperti satelit GEO yang orbitnya berbentuk lingkaran, satelit tipe MEO mempunyai orbit elips D. KOMPONEN GERAK SATELIT
Adaikan saja suatu satelit yag memiliki massa sebesar m mengorbit bumi dengan

kecepatan v dan ketinggian h dari permukaan bumi. Maka perjitungan yang dapat kita lakukan adalah dengan syarat bahwa: Gerakan satelit tersebut memenuhi hukum III Kepler; Lintasan satelit dianggap sebagai suatu lingkaran sebagai pendekatannya. Analisis untuk kasus planet yang mengorbit bumi tersebut adalah, sebagai berikut: 1. Kecepatan Gerak Satelit

1)

Jarak dari pusat bumi ke orbit satelit = r

2)

Karena gaya gravitasi mengakibatkan percepatan sentripetal pada satelit yang bergerak pada lintasan lingkaran, maka berlaku hukum II Newton untuk partikel yang bergerak melingkar dengan kecepatan konstan.

Untuk menganalisis kasus kecepatan linier satelit tersebut, perlu diperhatikan bahwa gaya luar yang bekerja pada satelit hanyalah gaya gravitasi. Gaya ini bekerja ke arah pusat bumu dan menjaga satelit tetap berada pada orbit lingkarannya. Oleh karena itu, gaya yang bekerja pada pada satelit adalah gaya gravitasi.

Dari Hukum II Newton dan fakta bahwa percepatan yang dialami satelit adalah percepatan sentripetal maka didapat :

2. Posisi Stasioner Satelit

Agar satelit selalu berada pada orbitnya yang tetap terhadap bumi, maka periode satelit harus 24 jam dan orbit satelit berada pada ekuator. Berdasarkan hukum III Kepler diperoleh :   dengan diperoleh: subtitusi bahwa


maka



r adalah jarak agar satelit berada pada keadaan stasioner

3. Kecepatan lepas orbit

Anggap bahwa obyek bermassa m diterbangkan vertikal ke atas bumi, dengan kecepatan awal dan berada di .

Kita dapat menggunakan persamaan energi untuk menemukan kecepatan minimal agar lepas dari pengaruh gravitasi bumi.

Ketika mencapai ketinggian maksimal maka energinya konstan, maka

karena total

Berdasarkan persamaan di atas, kita dapat mengetahui nilai h (jarak satelit dari permukaan bumi),

Berikutnya kita akan menentukan besarnya kecepatan lepas orbit

, yakni

kecepatan minimal agar lepas dari pengaruh gravitasi bumi. Jika obyek bergerak dengan kecepatan minimum ini, maka obyek tersebut akan dapat terus meninggalkan bumi sampai pada jarak tak terhingga dengan kecepatannya yang mendekati nol (karena tidak terpengaruhi gaya gravitasi bumi). Kita anggap bahwa persamaan dan , kita dapatkan: untuk

 

Besarnya

tidak bergantung pada massa dan arah kecepatan obyek. Dalam

hal ini, gesekan udara diabaikan.

Jika obyek diterbangkan dengan kecepatan awal

maka total

energi dari sistem dimana obyek tersebut berada akan sama denga nol. Ini dapat kita lihat dari persamaan berikut:








BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN satelit adalah benda-benda yang mengorbit mengelilingi benda lain. Itu berarti bukan hanya bulan dan satelit buatan, tapi juga komet, asteroid,bintang, planet, dan bahkan galaksi. Semua planet, bulan, dan bintang (termasuk matahari) merupakan satelit dari Galaksi Bimasakti. Satelit buatan manusia pertama adalah Sputnik 1, diluncurkan oleh Soviet pada tanggal 4 Oktober 1957. Sedangkan sejarah perkembangan satelit buatan di Indonesia dimulai pertama pada tahun 1976 yang bernama Satelit Palapa A1. Berdasarkan fungsinya satelit dibedakan menjadi : Satelit astronomi ,Satelit komunikasi ,Satelit pengamat Bumi ,Satelit navigasi ,Satelit mata-mata ,Satelit tenaga surya ,Stasiun angkasa ,Satelit cuaca ,Satelit miniature. Bentuk orbit satelit diantaranya adalah : Geosynchronous Earth Orbit (GEO),Low Earth Orbit ,Medium Earth Orbit (MEO), Kecepatan gerak satelit dirumuskan :

Posisi stasioner satelit dirumuskan :

r adalah jarak agar satelit berada pada keadaan stasioner Kecepatan lepas orbit  dirumuskan :
 



B. SARAN

Untuk lebih mengembangkan dan mempelajari tentang satelit buatan. Yang ternyata satelit tersebut mempunyai banyak manfaat untuk kehidupan manusia yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA Serway, Raymond A. and Jewett, John W. 2004. Physics for Scientists and Engineers. Thomson Brooks/Cole. Winardi, Sutantyo.1984. Astrofisika Mengenal Bintang. Bandung:ITB Press satelit-komunikasi-_orasi-ilmiah_denpasar30oktober2010.pdf http: // www. waena. or g Poer ed by Joom l ! Generated: 15 June, 2 011 , 08 :5 4 www.wikipedia.co.id http://www.unsri.ac.id/upload/arsip/Perbandingan%20Media