Anda di halaman 1dari 17

Post Partum Blues A.

Definisi Post partum blues merupakan kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan, biasanya hanya muncul sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga 10 hari sejak kelahiran bayinya. Gejala-gejala post partum blues, sebagai berikut : 1. Cemas tanpa sebab 2. Menangis tanpa sebab 3. Tidak percaya diri 4. Tidak sabar 5. Sensitif, mudah tersinggung 6. Merasa kurang menyangi bayinya 7. Tidak memperhatikan penampilan dirinya 8. Kurang menjaga kebersihan dirinya 9. Gejala fisiknya seperti : kesulitan bernafas, ataupun perasaan yang berdebar-debar. 10. Ibu merasakan kesedihan, kecemasan yang berlebihan 11. Ibu merasa kurang diperhatikan oleh suami ataupun keluarga. B. Etiologi Ada beberapa hal yang menyebabkan post partum blues, diantaranya : 1. Lingkungan melahirkan yang dirasakan kurang nyaman oleh si ibu. 2. Kurangnya dukungan dari keluarga maupun suami. 3. Sejarah keluarga atau pribadi yang mengalami gangguan psikologis. 4. Hubungan sex yang kurang menyenangkan setelah melahirkan 5. Tidak ada perhatian dari suami maupun keluarga 6. Tidak mempunyai pengalaman menjadi orang tua dimasa kanak-kanak atau remaja. Misalnya tidak mempunyai saudara kandung untuk dirawat. Dengan kata lain para wanita lebih mungkin mengembangkan depresi post partum jika mereka terisolasi secara sosial dan emosional serta baru saja mengalami peristiwa kehidupan yang menakan. Post partum blues tidak berhubungan dengan perubahan hormonal, bikimia atau kekurangan gizi. Antara 8% sampai 12% wanita tidak dapat menyesuaikan peran sebagai orang tua dan menjadi sangat tertekan sehingga mencari bantuan dokter. C. Penatalaksanaan Penatalaksanaan disini adalah cara mengatasi gangguan psikologis pada nifas dengan post partum blues. Ada beberapa cara untuk mengatasi masalah ini yaitu : 1. Dengan cara pendekatan komunikasi teraupetik Tujuan dari komunikasi teraupetik adalah menciptakan hubungan baik antara bidan dengan pasien dalam rangka kesembuhannya dengan cara : a. Mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan emosi. b. Dapat memahami dirinya c. Dapat mendukung tindakan konstruksi 2. Peningkatan support mental/dukungan keluarga dalam mengatasi gangguan psikologis yang berhubungan dengan masa nifas dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan

mengalami fase-fase, sebagai berikut : a. Fase taking in yaitu periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat itu focus perhatian ibu hanya pada dirinya sendiri, pengalaman selama proses persalinan sering berulang-ulang diceritakannya. Hal ini membuat cenderung ibu menjadi pasif terhadap lingkungannya. b. Fase taking hold yaitu periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah persalinan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan ketidak mampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Pada fase ini ibu karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga timbul percaya diri. c. Fase letting go, merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya sudah meningkat. D. Pencegahan Post partum blues dapat dicegah dengan cara : 1. Anjurkan ibu untuk merawat dirinya, yakinkan pada suami atau keluarga untuk selalu memperhatikan si ibu 2. Menu makanan yang seimbang 3. Olah raga secara teratur 4. Mintalah bantuan pada keluarga atau suami untuk merawat ibu dan bayinya. 5. Rencanakan acara keluar bersama bayi berdua dengan suami 6. Rekreasi

SELENGKAPNYA di: Post Partum Blues askep askeb | asuhan-keperawatan-kebidanan.co.cc


http://www.asuhan-keperawatan-kebidanan.co.cc/2011/02/post-partum-blues.

Html

http://www.asuhan-keperawatan-kebidanan.co.cc/2011/02/post-partumblues.htmlhttp://www.asuhan-keperawatan-kebidanan.co.cc/2011/02/post-partumblues.htmlhttp://www.asuhan-keperawatan-kebidanan.co.cc/2011/02/post-partum-blues.html

BAB I PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Melahirkan bayi merupakan suatu peristiwa sangat penting yang dinantikan oleh sebagian besar perempuan.Dengan berperan sebagai seorang ibu, seorang perempuan dapat merasakan hidupnya menjadi lebih berarti dan bermakna. Namun tidak demikian halnya dengan sebagian kecil perempuan yang justru merasa sedih, jengkel, lelah, ingin marah saja, putus asa dalam menjalani tugasnya sebagai seorang ibu. Inilah fenomena depresi pasca melahirkan. Dari beberapa penelitian yang dilakukan di Indonesia pada tahun 19982001, antara lain di Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya, ternyata ditemukan bahwa angka kejadiannya 11-30%, suatu jumlah yang tidak sedikit yang tidak mungkin dibiarkan begitu saja, terlebih bila mengingat pelbagai dampak negatif yang menyertainya. Post partum blues atau Maternity blues atau blues sendiri adalah gejala depresi yang biasanya dialami oleh perempuan pasca persalinan antara hari ke-7 hingga hari ke-14, yang terjadi untuk sementara waktu dan akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. Mengingat dampaknya terhadap ibu, anak maupun keluarga, masalah ini memerlukan perhatian dan penanganan. Dengan penerapan manajemen kebidanan yang dikembangkan oleh Varney diharapkan dapat mengurangi jumlah kasus Postpartum blues di Indonesia.

BAB II ISI

I.Manajemen Asuhan Kebidanan Manajemen asuhan kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan metoda untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan dan rangkaian/tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang berfokus pada klien.(Varney, 1997) Sesuai dengan perkembangan pelayanan kebidanan, maka bidan diharapkan lebih kritis dalam melaksanakan proses manajemen kebidanan untuk mengambil keputusan. Menurut Helen Varney, ia mengembangkan proses manajemen kebidanan ini menjadi 7 langkah, yaitu: 1.Mengumpulkan semua dat yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan. Pada langkah pertama ini mengumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap yang berkaitan dengan kondisi pasien dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pengkajian merupakan suatu langkah awal yang dipakai dalam menerapkan asuhan kebidanan pada pasien. Pada tahap ini semua data dasar dan informasi tentang klien dikumpulkan dan dianalisis untuk mengevaluasi keadaan klien. 2.Menginterpretasikan data untuk mengidentifikasi diagnose atau masalah. Pada langkah ini data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan menjadi masalah atau diagnosa spesifik yang sudah diidentifikasi. Interpretasi data terdiri dari diagnosa kebidanan yang mengacu pada diagnosa nomenklatur, masalah dan yang disertai dengan dasar.

3.Mengidentifikasi diagnose atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya. Langkah ini merupakan langkah antisipasi, sehingga dalam melakukan asuhan kebidanan, bidan dituntut untuk mengantisipasi permasalahan potensial yang akan timbul dari kondisi yang ada/sudah terjadi dan merumuskan tindakan antisipasi agar masalah potensial itu tidak terjadi. 4.Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta rujukan berdasarkan kondisi klien. Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Data baru mungkin saja dikumpulkan dan dievaluasi. Beberapa data mungkin mengidentifikasi situasi yang gawat dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan keselamtan jiwa ibu dan anak. 5.Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. langkan ini merupakan kelanjutan penatalaksanaan terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi, pada langkah ini informasi data yang tidak legkap dapat dilengkapi. Merencanakan asuhan kebidanan sesuai dengan kasus yang ada didukung dengan pendekatan yang rasional sebagai dasar untuk mengambil keputusan sesuai langkah sebelumnya. perencanaan berkaitan dengan diagnosa kebidanan, masalah dan kebutuhan. 6.Pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman. Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau anggota tim kesehatan lainyya, apabila

bidan tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya. Pelaksanaan perencanaan bertujuan untuk mengatasi diagnosa kebidanan, masalah pasien sesuai rencana yang telah dibuat, pelaksanaan tersebut hendaknya dibuat secara sistematis agar asuhan kebidanan dapat diberikan dengan baik. 7.Mengevaluasi Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, meliputi pemenuhan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam diagnosa dan masalah,serta mengevaluasi apakah diagnose potensial muncul dan apakah tindakan antisipasi dilakukan. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya. Ditujukan untuk mengevaluasi hasil tindakan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan akan bantuan dan evaluasi hasil tidakan untuk mengatasi masalah yang muncul. II.Ilustrasi Kasus Seorang Ibu Ny. A, berusia 36 tahun, merasa cemas dan emosi labil sejak seminggu setelah melahirkan. Ia juga mengalami letih yang amat tapi tidak bisa tidur dengan nyenyak, nafsu makan turun, berat badan mulai menyusut. Ini merupakan persalinan yang ke-5 yang dialaminya, dengan persalinan sebelumnya berselang 2 tahun. Kondisi tubuh dan kesiapan mentalnya belum pulih benar, sehingga dia merasa benar-benar letih, menjadi malas menyusui anaknya, merawat dirinya dan anaknya. Masalah keluarga seperti masalah keuangan, beban pekerjaan, kondisi lingkungan di pinggiran kota yang kurang mendukung menambah beban pikiran Ibu. Diagnosa Ny. A mengalami Postpartum blues. III.Postpartum blues

A.Gambaran umum Masa nifas (puerperium) dimulai sejak kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan saat sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira selama 6 minggu. Pengawasan dan asuhan post partum masa nifas sangat diperlukan yang tujuannya adalah menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis, melaksanakan sekrining yang komprehensif, mendeteksi masalah,

mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian immunisasi pada saat bayi sehat, memberikan pelayanan KB. Reaksi emosional yang biasanya muncul pada perempuan di masa nifas pasca melahirkan yaitu: 1. maternity blues atau post partum blues atau blues 2.Psikois pasca persalinan 3.Depresi pasca persalinan. B.Definisi Post partum blues atau Maternity blues atau blues adalah gejala depresi yang biasanya dialami oleh perempuan pasca persalinan antara hari ke-7 hingga hari ke-14, yang terjadi untuk sementara waktu dan akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. Gejala-gejala post partum blues, sebagai berikut : 1.Cemas tanpa sebab 2.Menangis tanpa sebab

3.Tidak percaya diri 4.Tidak sabar 5.Sensitif, mudah tersinggung 6.Merasa kurang menyangi bayinya 7.Berpikir obsesif tentang menjadi seorang ibu yang jahat. 8.Emosi positif berkurang. 9.Tidak memperhatikan penampilan dirinya 10.Kurang menjaga kebersihan dirinya 11.Gejala fisiknya seperti : kesulitan bernafas, keletihan yang amat sangat, ataupun perasaan yang berdebar-debar. 12.Ibu merasakan kesedihan, kecemasan yang berlebihan 13.Ibu merasa kurang diperhatikan oleh suami ataupun keluarga. C.Penyebab Ada beberapa hal yang menyebabkan post partum blues, diantaranya : 1.Lingkungan melahirkan yang dirasakan kurang nyaman oleh si ibu. 2.Kelelahan pasca melahirkan, dan sakit akibat operasi. 3.Kurangnya dukungan dari keluarga maupun suami. 4.Sejarah keluarga atau pribadi yang mengalami gangguan psikologis. 5.Hubungan sex yang kurang menyenangkan setelah melahirkan 6.Suami yang tidak membantu, tidak mau mengerti perasaan istri maupun persoalan lainnya dengan suami. 7.Tidak mempunyai pengalaman menjadi orang tua dimasa kanak-kanak atau remaja. Misalnya tidak mempunyai saudara kandung untuk dirawat. 8.ASI tidak keluar. 9.Tajut kehilangan bayi.

10.Rasa bosan si Ibu. Dengan kata lain para wanita lebih mungkin mengembangkan depresi post partum jika mereka terisolasi secara sosial dan emosional serta baru saja mengalami peristiwa kehidupan yang menakan. Post partum blues tidak berhubungan dengan perubahan hormonal, bikimia atau kekurangan gizi. Antara 8% sampai 12% wanita tidak dapat menyesuaikan peran sebagai orang tua dan menjadi sangat tertekan sehingga mencari bantuan dokter. Beberapa penelitian mendapatkan bahwa Postpartum blues merupakan suatu fenomena yang terjadi karena kekurangan akan penghargaan sosial akan peristiwa persalinan, penghargaan sosial terhadap peran transisi seorang ibu baru. D.Penanganan Postpartum blues Ada beberapa cara untuk mengatasi masalah ini yaitu : 1.Dengan cara pendekatan komunikasi teraupetik Tujuan dari komunikasi teraupetik adalah menciptakan hubungan baik antara bidan dengan pasien dalam rangka kesembuhannya dengan cara : a.Mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan emosi. b.Dapat memahami dirinya c.Dapat mendukung tindakan konstruksi 2.Peningkatan support mental/dukungan keluarga dalam mengatasi gangguan psikologis yang berhubungan dengan masa nifas dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase, sebagai berikut : a.Fase taking in yaitu periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat itu focus

perhatian ibu hanya pada dirinya sendiri, pengalaman selama proses persalinan sering berulang-ulang diceritakannya. Hal ini membuat cenderung ibu menjadi pasif terhadap lingkungannya. b.Fase taking hold yaitu periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah persalinan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan ketidak mampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Pada fase ini ibu karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga timbul percaya diri. c.Fase letting go, merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya sudah meningkat. E.Pencegahan Post partum blues dapat dicegah dengan cara : 1.Anjurkan ibu untuk merawat dirinya, yakinkan pada suami atau keluarga untuk selalu memperhatikan si ibu 2.Menu makanan yang seimbang 3.Olah raga secara teratur 4.Mintalah bantuan pada keluarga atau suami untuk merawat ibu dan bayinya. 5.Rencanakan acara keluar bersama bayi berdua dengan suami 6.Rekreasi

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS DENGAN POST PARTUM BLUES, TERHADAP Ny. IR DI BPS BUNDA DELIMA WATES KEC. GADINGREJO KAB. TANGGAMUS

I.PENGUMPULAN DATA DASAR A.Identitas/Biodata Nama Ibu : Ny. IR Nama Suami : Tn. A Umur : 26 tahun Umur : 28 tahun Agama : Islam Agama : Islam Suku : Jawa Suku : Jawa Pendidikan: SLTPPendidikan : SLTA Pekerjaan : Buruh CuciPekerjaan : Pedagang Asongan Alamat : Jln. Setia Gg. IV/CAlamat : Jln. Setia Gg. IV/C Sukaraja Sukaraja

B.Anamnesa Anamnesa tanggal 8 Januari 2010 1.Keluhan utama Ibu dengan G6P5A1 post partum 4 hari yang lalu mengatakan merasa kantuk tapi sulit tidur, merasa letih, ada keinginan untuk marah setiap dekat dengan bayinya, kadang memukul bayinya tapi menyesal dan menangis setelah melakukan itu. 2.Riwayat Persalinan saat ini Anak lahir spontan pada hari senin tanggal 28 Desember 2010 pukul 18.30 WIB , dengan berat badan 2,4 kg, panjang 40 cm, di usia kehamilan 35

minggu. Kesulitan persalinan yang dialami adalah hampir kehabisan air ketuban. 3.Pola hidup sehari-hari Selama masa kehamilan ibu kurang mendapatkan nutrisi yang cukup. Makan 3 kali sehari, nafsu makan sering hilang. Ibu sering mulas dan diare selama masa kehamilan. Waktu istirahat kurang dan jarang bisa tidur nyenyak. Aktivitas Ibu di siang hari padat dan melelahkan. Kondisi lingkungan terdapat banyak sampah, air kadang tidak jernih. II.Interprestasi Data Dasar A.Data 1.Ibu post partum tanggal 07 Agustus 2007 pukul 18.30 WIB 2.Ibu mengatakan merasa kantuk tapi sulit tidur, merasa letih, ada keinginan untuk marah setiap dekat dengan bayinya, kadang memukul bayinya tapi menyesal dan menangis setelah melakukan itu. B.Diagnosa Ibu G6P5A1, kondisi pasca persalinan dengan Postpartum blues. C.Masalah 1.Ibu merasakan kantuk yang amat sangat, tapi tidak bisa tidur nyenyak. 2.Ibu cemas dan gelisah 3.Ibu tidak perhatian terhadap bayinya 4.Ibu tidak ada perhatian pada penampilan dirinya 5.Nafsu makan berkurang. III.Identifikasi Diagnosa dan Masalah Dasar Tindakan antisipasi: A.Menganjurkan ibu untuk merawat dirinya, yakinkan pada suami atau

keluarga untuk selalu memperhatikan si ibu B.Memilihkan menu makanan yang seimbang C.Meminta bantuan pada keluarga atau suami untuk merawat ibu dan bayinya. D.Menyarankan untuk mengurangi beban pekerjaan ibu. IV.Kebutuhan Tindakan segera: Kolaborasi dengan dokter/psikiater untuk mendapat therapy V.Rencana Asuhan Rencana asuhan yang akan diberikan kepada Ibu dengan kasus postpartum blues: 1.Menjelaskan kondisi ibu saat ini 2.Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya 3.Jelaskan pada ibu tentang pentingnya personal hygiene 4.Menganjurkan ibu untuk beristirahat 5.Jelaskan pada ibu tentang faktor-faktor yang memperberat depresi. 6.Kolaborasi dengan dokter/psikiater. VI.Implementasi / Pelaksanaan 1.Menjelaskan bahwa ibu berada dalam masa nifas dengan depresi, yang ditandai dengan gejala sulit tidur, tidak nafsu makan, cemas, perasaan tidak berdaya tidak senang melihat bayinya, tidak ada perhatian pada bayinya, tidak ada perhatian dengan penampilan, kebersihan dirinya dan bayinya. Hal ini dapat dicegah dengan ibu merawat diri, makan dengan menu seimbang olah raga, istirahat untuk mencegah dan mengurangi perubahan perasaan. Mintalah bantuan keluarga, teman, tetangga untuk menjaga bayi

sementara saat tidur, rekreasi dan rencanakan acara keluar bersama bayi dan bersama suami dan jika dilakukan sejak dini depresi ibu dapat dicegah 2.Membantu ibu dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari dengan melibatkan keluarganya seperti pemenuhan nutrisi, personal hygiene dan kebutuhan yang lain. 3.Menganjurkan tentang perawatan bayi sehari-hari seperti menggendongnya bila bayi menangis, menyusuinya, mengganti popoknya bila basah, menjaga bayinya tetap kering, bersih dan hangat, agar ibu merasa lebih dekat dengan bayinya, menyukainya dan mulai tumbuh kasi sayangnya pada bayinya. Menganjurkan keluarga dan teman untuk mendukung karena ibu membutuhkan pengertian emosional, konseling, serta tenggang waktu untuk lepas sejenak dari kegiatan merawat bayi, bantuan dari keluarga dan teman sangat berpengaruh dalam proses penyelesaian masalah. Menganjurkan kepada ibu untuk selalu merawat dirinya dan juga bayinya. 4.Menganjurkan pada ibu untuk beristirahat cukup 8 jam sehari dan usahakanlah kalau siang istirahat 1-2 jam waktu bayinya tidur. Menganjurkan pada keluarga selalu memantau pola istirahat ibu. 5.Menjelaskan faktor-faktor yang dapat memperberat depresi seperti kurangnya dukungan keluarga dirumah, peruahan hormonal, lingkungan melahirkan, jumlah anak dan hubungan seksual yang kurang menyenangkan setelah melahirkan. 6.Melakukan kolaborasi dengan dokter/psikiater untuk mendapatkan terapi yaitu psikoterapi dan pengobatan seperti penenangan. VII.Evaluasi

1.Ibu mengerti tentang kondisinya saat ini 2.Kondisi mental dan fisik ibu semakin membaik dengan bertambahnya nafsu makan Ibu, tapi belum mau membersihkan diri dengan keramas. 3.Adanya dukungan dari pihak keluarga untuk mengatasi masalah ini. BAB III PENUTUP I.Kesimpulan Manajemen kebidanan terdiri dari beberapa langkah yang berurutan, yang dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Langkahlangkah tersebut membentuk kerangka yang lengkap yang bias diaplikasikan dalam semua situasi. Akan tetapi, setiap langkah tersebut bisa dipecah-pecah kedalam tugas-tugas tertentu dan semuanya bervariasi sesuai dengan kondisi klien. Manajemen Kebidanan yang dikembangkan oleh Helen Varney ini dapat diterapkan untuk menangani masalah yang mungkin muncul di daerah pinggiran kota, seperti kasus Postpartum blues. DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Manajemen Kebidanan.http://www.manajemenkebidanan.com. Di akses tanggal 19 Januari 2010 Elvira, Sylvia D. 2006. Depresi Pasca Persalinan. Balai Penerbit FKUI:Jakarta. Estiwidani, Dwana, dkk. 2008. Konsep kebidanan. Fitramaya:Yogyakarta. Gjerdingen, Dwenda. 2003. The Effectiveness of Various Postpartum Depression

Treatments and the Impact of Antidepressant Drugs on Nursing Infants. The Journal of the American Board of Family Practice. 16:372-382 Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. EGC:Jakarta. Varney, Helen, Jan M. Kriebs dan Carolyn L. Gegor. 2002. Buku Saku Bidan. EGC:Jakarta