Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dipandang sebagai sistem alami yang menjadi tempat berlangsungnya proses-proses biofisik hidrologis maupun kegiatan sosial-ekonomi dan budaya masyarakat yang kompleks. Proses-proses biofisik hidrologi DAS merupakan proses alami sebagai bagian dari suatu daur hidrologi atau siklus air, sedangkan kegiatan sosial-ekonomi dan budaya masyarakat merupakan bentuk intervensi manusia terhadap sistem alami DAS, seperti pengembangan lahan kawasan budidaya . Perubahan kondisi hidrologi DAS sebagai dampak perluasan lahan kawasan budidaya yang tidak terkendali tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air seringkali mengarah pada kondisi yang kurang diinginkan, yaitu peningkatan erosi dan sedimentasi, penurunan produktivitas lahan, dan percepatan degradasi lahan, sehingga terjadi peningkatan luas lahan kritis dan menurunnya daya dukung lahan (Ditjen RLPS, 2009). Berdasarkan data yang diperoleh dari buku statistik kehutanan Indonesia tahun 2008 yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan, salah satunya menyajikan data luas lahan kritis baik yang berada di dalam kawasan hutan maupun yang diluar kawasan hutan. Untuk wilayah Propinsi Jawa Barat tercatat luas lahan agak kritis seluas 248.245,69 Ha, lahan kritis seluas 140.894,85 dan lahan sangat kritis seluas 19.478,31 Ha, sehingga total lahan kritis yang ada di Jawa Barat hingga tahun 2006 adalah seluas 408.627,85 Ha (DepHut, 2009). Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum merupakan salah satu DAS utama di Jawa Barat dan bersifat strategis karena menjadi penyangga ibu kota Jakarta. DAS dengan luas sekitar 6.614 kilometer persegi atau 22% luas wilayah Jawa Barat merupakan DAS dengan jumlah penduduk terpadat di Jawa Barat. Luas lahan yang perlu direhabilitasi dalam kawasan hutan pada DAS Citarum Hulu hingga tahun 2009 mencapai 1.197,78 ha, sedangkan pada kawasan non hutan pada wilayah daerah tangkapan (catchment area) wilayah Sub DAS Citarik, Cikeruh, 1

Cikapundung, Cirasea, Cisangkuy, Ciwidey dan Ciminyak (bagian DAS Citarum) seluas 22.326,12 ha (BPLHD Jabar). Di wilayah Sub DAS Cikeruh terdapat beberapa kecamatan yang perkembangan penduduk dan aktivitas ekonominya semakin pesat, diantaranya adalah Kecamatan Tanjungsari, beberapa Kecamatan kecamatan Jatinangor, tersebut dan Kecamatan pusat-pusat Rancaekek. Aktivitas sebagai

perkembangan yang terus mengalami perkembangan tentu akan berimplikasi pada tekanan yang semakin berat terhadap penggunaan lahan di Sub DAS Cikeruh. Pertumbuhan penduduk yang semakin pesat mengakibatkan kebutuhan akan lahan semakin meningkat sulit untuk dihindari, sehingga dapat menjadi suatu ancaman bagi lingkungan hidup. Selama ini pemanfaatan sumberdaya lahan untuk kepentingan kegiatan pembangunan telah mengakibatkan rusaknya / terganggunya keseimbangan tata air dan sumberdaya alam lainnya. Berkurangnya luas hutan, hilangnya habitat alami, pencemaran dan erosi tanah, telah mengakibatkan semakin seringnya terjadi banjir, berkurangnya debit air tanah, punahnya beberapa spesies langka, dan bertambahnya lahan kritis. Penyajian data lahan kritis di atas baik jumlah maupun distribusinya yang akurat dan informatif, saat ini dapat disajikan dengan adanya ketersediaan software dan hardware Sistim Informasi Geografi (SIG). Dengan demikian updating data lahan kritis dapat dilakukan dengan mangacu kriteria dan standar baku penetapan dan pengelolaan data lahan kritis. Data lahan kritis yang terkini sangat diperlukan untuk sinkronisasi perencanaan rehabilitasi hutan dan lahan. Data lahan kritis yang disusun dalam bentuk data spasial lahan kritis merupakan data yang tersimpan dalam format yang representatif dan accessible sehingga dapat diperoleh rekomendasi yang berdaya guna sebagai acuan dalam pengambilan kebijakan rehabilitasi hutan dan lahan. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang diatas identifikasi masalah penelitian ini adalah, perlu adanya peta tingkat tingkat kekritisan lahan dan data luas lahan kritis di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sub DAS Cikeruh, Kabupaten Sumedang yang terkini. 1.3 Pertanyaan Penelitian

Sampai sejauh mana tingkat kekritisan lahan dan seberapa luas lahan kritis di Sub DAS Cikeruh, Kabupaten Sumedang. 1.4 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kekritisan dan mengetahui luas area lahan kritis di Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sub DAS Cikeruh, Kabupaten Sumedang dan menyajikannya dalam format spasial. 1.5 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan berguna dalam : 1. Memudahkan pemerintah Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung dalam menyusun perencanaan rehabilitasi hutan dan lahan diwilayahnya. 2. Menyediakan data lahan kritis bagi berbagai pihak yang berkepentingan dalam perencanaan pemanfaatan dan pelestarian hutan dan lahan di kabupaten/kota yang bersangkutan.