Anda di halaman 1dari 10

Alzheimer Sejenis Penyakit Pelupa

Oleh: Rawatan Alternatif Mahsuri Alzheimer adalah sejenis penyakit pelupa yang membuatkan seseorang itu tidak dapat memikir atau mengenal sesuatu walaupun identiti sendiri.Seseorang yang mengalami begini pada peringkat awal mereka akan mengalami kurang daya berfikir yang jauh dan sering didalam kebuntuan mencari jalan keluar.Kebiasaannya mereka akan mudah marah kepada keadaan sekeliling kerana bagi mereka orang disekeliling yang salah. Walaupun keadaan ini nampak ketara pada setiap pandangan namun bagi yang mengalaminya ia kurang faham atas perubahan dirinya sendiri. Punca alzheimer sering berlaku disebabkan banyak faktor seperti * Stress * Banyak berfikir * Kenangan @ kehilangan Kadangkala mereka yang menghidapi penyakit alzheimer biasanya emosi mereka rasa kurang selesa dan mudah marah.Bagi pandangan pihak kami sesiapa yang menghidap alzheimer memerlukan perhatian dari orang yang dikasihi.Bila seseorang itu mengalami masalah begini ia akan mudah mendapat penyakit * Darah tinggi * Kurang selera makan * Tekanan darah rendah Mereka juga mudah merasa rendah diri pada diri sendiri apabila mereka tahu kelemahan diri mereka.Pandangan penyakit alzheimer juga bercanggah dengan pihak yang normal kerana ini semua merangkumi daya pemikiran yang kurang berfungsi lebih jauh.Mereka juga tidak mengaku dan tegas dengan pendirian mereka walaupun dalam pada masa yang sama mereka tahu mereka salah.Ini berlaku disebabkan mereka inginkan di hargai dan mereka tidak mahu ditindas hanya dengan kelemahan mereka. Dalam hal begini sememangnya mereka inginkan perhatian yang lebih dan juga tidak dinafikan bahawa mereka mempunyai jiwa yang memberontak.Alzheimer juga akan sering * Mengamuk * Membebel * Murung * Tidak dapat menerima nasihat orang lain Yang diatas merupakan sesetengah sikap pesakit alzheimer yang kami kaji.Penghidap alzheimer kebiasaanya dialami oleh golongan orang yang berumur namun ada juga dialami bagi golongan muda.Ini kerana alzheimer bersangkut paut dengan daya pemikiran yang sering digunakan dalam kehidupan seharian.Bagi yang sudah nampak perubahan pada diri sendiri dan rasa macam terlupa sesuatu barang yang disimpan jadi haruslah bersikap tenang dan jangan terus memaksa. Dengan penyedaran pada diri sendiri lebih mudah untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik kerana bagi pandangan pihak kami Masa yang terbaik untuk berjumpa doktor ialah sebelum anda sakitkerana sekurang-kurangnya dapat mencegah dari melarat.Bagi penghidap alzheimer jangan terus buntu untuk menyelesaikan masalah kerana setiap penyakit ada penawarnya.Hak manusia berusaha dan penyembuhan tetap hak ALLAH.

EPILEPSI

Anisa Bahar sedang tertimpa masalah. Putri keduanya dirawat di rumah sakit karena menderita radang otak. Pedangdut yang terkenal dengan goyang patah-patahnya ini berjuang demi kesembuhan purinya. Simak penuturan Anisa kepada NOVA, Kamis (14/9), usai mengisi acara di TV7. Sebuah pesan singkat diterima oleh anakku, Jelita Tofhany (15), Jumat (8/9) tengah malam. Isinya sungguh membuatku terkejut sekaligus cemas. Memo Sanjaya (44), lelaki yang selama ini mengaku sebagai ayah dari kedua anakku, mengabarkan bahwa Juwita Tofhany (10), putri keduaku, harus dilarikan ke rumah sakit. Saat it, Memo sendiri belum tahu penyakit yang sedang diderita Juwita. Namun, yang jelas kondisi putriku parah. (Memo Sanjaya adalah lelaki yang pernah mengaku sebagai bapak kandung Jelita dan Juwita, dari hasil pernikahannya dengan Anisa. Namun saat itu, Anisa tidak mau mengakui pernikahannya, bahkan sempat tidak mengakui dirinya telah memiliki anak.) Berita itu benar-benar memukul perasaanku. Betapa tidak, sudah tiga tahun aku terpisah dari Juwita. Ia tinggal bersama Memo. Sejak perseteruanku dengan Memo, aku memang tidak diperkenankan lagi bertemu dengan putri tercintaku itu. Setelah tiga tahun berpisah, aku malah mendengar kabar seperti ini. Aku sungguh kecewa dengan

Memo.

RADANG OTAK Begitu membaca pesan singkat tentang kondisi Juwita, aku langsung bergegas ke Rumah Sakit Husada Insani, Tangerang, tempat Juwita dirawat. Perjalananku ke sana memakan waktu cukup lama. Sepanjang perjalanan, aku gelisah memikirkan nasib anakku. Apa yang terjadi? Mengapa tiba-tiba saja dia disebut menderita penyakit parah? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benakku. Apa yang aku temui di rumah sakit lebih memukulku. Anakku terbaring dalam kondisi koma. Berbagai selang menjalari tubuhnya. Kedua pergelangan tangannya dipasangi infus. Hatiku benar-benar hancur melihatnya. Ia tak sadarkan diri. Aku hanya dapat menangis melihat keadaannya. Menurut dokter, ia terkena radang otak. Ada virus yang menyerang otaknya. Kenyataan ini membuatku terhenyak, karena menurut dokter kemungkinan bertahan hidup 50:50. Menurut dokter, dengan usia Juwita yang masih muda, kemungkinan bertahannya lebih besar. Jika virus ini menyerang usia yang lebih tua, kemungkinan bertahan hidup lebih kecil. Kalaupun bertahan, kemungkinan akan mengalami kelumpuhan. Tak bisa dibayangkan perasaanku waktu mendengar penjelasan dokter. Aku merasa sangat kecil. Segala yang aku punya di dunia ini seakan-akan tidak ada artinya lagi. Duniaku seakan-akan runtuh. Namun, aku bertekad akan memberikan yang terbaik bagi kesembuhan anakku. Aku merasa sedih ketika subuh itu harus berangkat ke luar kota. Ya, aku terikat kontrak kerja untuk show ke luar kota. Sebenarnya aku tak rela meninggalkannya dalam keadaan koma. Namun, aku harus bersikap profesional dengan kontrak kerja yang telah aku tanda

tangani. Toh, aku bekerja juga demi menambah biaya pengobatan Juwita. OBAT MAHAL Tiga hari aku show di luar kota dengan perasaan tak menentu. Begitu sampai di Jakarta, aku segera ke Tangerang untuk menjenguk Juwita. Perjalanan yang lama sempat membuatku kesal, karena Memo menempatkan Juwita di rumah sakit yang lokasinya jauh dari jangkauanku. Dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaanku. Sesampainya di rumah sakit aku merasa terkejut karena kondisi anakku tidak mengalami perubahan. Lebih menyedihkan lagi melihat ia ditempatkan di ruangan yang mirip bangsal, berisi 14 pasien dengan penyakit yang berbeda-beda. Beberapa diantaranya sakit cukup parah. Keadaan di ruangan itu sungguh kacau. Ada yang menjerit-jerit kesakitan dan ada yang keluarganya terus menangis. Bau di ruangan itu pun bercampur aduk. Ketika kutanyakan mengapa tidak ada perubahan, kata Memo, obat yang diperlukan harganya sangat mahal. Dia tidak punya uang untuk menebusnya. Aku benar-benar tak habis pikir. Kalau butuh biaya, dia, kan, bisa menghubungi aku. Saat aku tanya ke dokter, obat yang dimaksud memang sangat mahal. Harganya Rp 900 ribu untuk sekali suntikan. Sementara buah hatiku membutuhkan itu setiap hari, sampai kondisinya membaik. Aku bilang akan membayar berapa pun biayanya. Setelah diberi obat, kondisi Juwita berangsur membaik. Ia mulai sadar walaupun belum dapat berbicara dan menggerakkan tubuhnya. Hanya matanya yang sesekali membuka dan melirikku yang ada di sebelahnya. Kemana pun posisiku bergeser, matanya mengikuti gerakanku. Aku pun senantiasa berbisik, "Ini mama, ada disamping kamu." Terkadang aku mengoleskan madu di bibirnya yang kering. Dengan perlahan ia berhasil menjilat madu itu. Kemudian bibirnya membentuk senyum tipis saat aku berbisik, "Anak mama suka madu, ya? Ayo anak pintar, kamu pasti sembuh." Rasanya hati ini begitu bahagia melihat perkembangannya. Apalagi ketika sudah bisa masuk susu dan bubur saring ke tubuhnya, aku jadi semakin optimis. Belakangan aku tahu, rumah sakit itu tidak punya peralatan yang memadai untuk merawat Juwita. Setelah berembuk dengan Mas Fauzan, suamiku, kami sepakat memindahkan Juwita ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). (Setelah pertikaiannya dengan Memo, Anisa menikah 17 Juli 2003 dengan Dian Esha Fauzan Prasetya, seorang polisi.)

DESKRIPSI KASUS Kasus yang saya angkat adalah penyakit epilepsi atau yang sering kita dengan adalah penyakit ayan dengan disertai oleh gangguan mental. Kasus ini saya anggkat dengan aggapan bahwa kita dapat mengetahui apa sebenarnya penyakit epilepsi ini dan secara pribadi ingin mengetahui secara mendetail penyebab dan asal mula penyakit ini. Sutardi, yang mempunyai penyakit ini dan juga merupakan tetangga dekat saya telah mengidap penyakit ini sejak dari usia balita hingga saat ini. Beliau sempat duduk di kursi sekolah dasar hingga kelas 4 SD. Dengan kondisi penyakit dan keadaan keluarga yang mempunyai penghasilan perekonomian yang sangat minim, akhirnya beliau dikeluarkan dari sekolah. Keluar dari sekolah dasar, beliau melakukan kegiatan seperti khalayak orang normal yang lainya yaitu bermain dengan teman sebayanya dan juga membantu orang tuanya di kebun. Sebenarnya, beliau sangat rajin dalam bekerja membantu orang tuanya. Tapi dengan kodisi penyakit yang dialaminya, beliau dilarang membantu. Dalam kehidupan kesehariannya, kerap kali saya melihat kejadian / penyakit ini kambuh. Terkadang, saat

beliau berdiri pun penyakit ini kambuh. Beliau tersungkur dan tidak jarang pula kepala dan badan beliau membentur diding tembok dan lantai. Dengan benturan di atas lantai dan tembok yang keras pasti akan menimbulkan luka memar dan luka sobek. Dilain pihak, tidak jarang pula keluar busa dari mulutnya dan kencing (maaf), dan ini yang membuat beliau dijauhi oleh teman dan orang orang terdekatnya. Ironisnya, beliau yang sudah 25 puluh tahun mengindap penyakit ini tidak pernah dan belum sama sekali di bawa kerumah sakit atau klinik ( sumber ini berasal dari tetangga dan orang tua saya). Orang tuanya beranggapan bahwa B) MENGENAL TENTANG PENYAKIT EPILEPSI Penyandang Epilepsi sering dijauhi oleh teman dan warga sekitarnya. Melihat seorang yang tiba-tiba jatuh dan kejang-kejang, reaksi kebanyakan orang justru menjauhinya. Mereka takut menyentuhnya apalagi membantunya sebab takut ketularan. Ini adalah sikap yang tidakbijaksana, sebab Epilepsi yang lebih dikenal sebagai penyakit ayan sangat jelas tidak menular. Mengenal Epilepsi Epilepsi bukan disebabkan oleh kuman atau bakteri. Ia merupakan gangguan mendadak dan sesaat pada sistem syaraf otak, terjadi akibat aktivitas berlebihan dari kelompok sel neuron di otak. Penyebab sel-sel itu menjadi terlalu aktif belum diketahui secara pasti. Tetapi yang pasti gangguan Epilepsi dapat diredam. Epilepsi bukan hambatan untuk meraih kesuksesan seperti dibuktikan oleh banyak menyandang epilepsi yang telah mengukir kemasyhuran di berbagai bidang, antara lain : Alexander the Great, Alfred Nobel, Napoleon Bonaparte, Peter Tchaikovsky dan Vincent Van Gogh. Masyarakat umum hendaknya bersikap wajar menghadapi anggota masyarakat yang kebetulan cenderung mendapat serangan epilepsi. Jenis Epilepsi Manifestasi serangan berbeda-beda, tergantung pada fungsi otak mana yang terganggu : A) Epilepsi Umum a. Petit Mal (Absence) Gangguan kesadaran secara mendadak. Penyandang diam tanpa reaksi (bengong), kemudian melanjutkan kegiatannya semula b. Grand Mal Diawali dengan kehilangan kesadaran kemudian terjadi kejang-kejang, air liur berbusa dan napas mengorok c. Myoklonik Terjadi kontraksi singkat dari satu, sekelompok, atau beberapa kelompok otot. Bervariasi dari yang tidak terlihat, sampai sentakan hebat. Mengakibatkan misalnya, mendadak jatuh, atau melontarkan benda yang sedang dipegang. B) Epilepsi Parsial a. Sederhana (tanpa gangguan kesadaran) Umumnya, berupa kejang-kejang dan kadang-kadang kesemutan atau rasa kebal pada satu tempat. Berlangsung beberapa menit/jam. Bila serangan hanya terjadi di satu lokasi dan berlangsung beberapa saat, disebut Parisialis Kontinua b. Kompleks (disertai gangguan kesadaran) Diawali dengan Parsial Sederhana, penyandang seperi bermimpi, dan daya ingatnya terganggu, halusinasi, atau kosong pikiran seringkali diikuti oleh otomatisme. Misalnya, mengulang-ulang ucapan, melamun, atau berlari-lari tanpa tujuan c. Umum Sekunder

Perkembangan dari parsial sederhana atau kompleks menjadi umum.

Hubungan Epilepsi dengan Keturunan dan Pekerjaan Pada epilepsi yang disebabkan oleh kumpulan gejala sebagai akibat dari berbagai penyakit, tidak akan diturunkan kepada anak-anaknya. Sebagai contoh: epilepsi yang timbul sebagai akibat cedera otak karena kecelakaan, tidak akan diturunkan kepada anak-anaknya. Pada epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui ( epilepsi idiopatis), faktor keturunan pada penyandang epilepsi adalah kecil, kurang dari 5%. Yang diturunkan bukan epilepsinya, tetapi ambang rangsang kejang atau serangan yang rendah yang diturunkan. Namun bila kedua pasangan adalah penyandang epilepsi, maka resiko untuk mendapatkan anak dengan epilepsi menjadi lebih besar. Adalah bijaksana untuk konsultasi pada dokter sebelum hamil. Jenis pekerjaan yang dapat dilakukan oleh penyandang epilepsi bergantung pada jenis epilepsinya dan sejauh mana serangannya dapat dikendalikan. Hal yang perlu diperhatikan adalah keselamatan kerja bagi penyandang epilepsi dan orang lain bila mendapat serangan. Sebagian besar dapat dilakukan oleh penyandang epilepsi seperti pekerja tangan, guru, pekerja sosial, peneliti, penerjemah, olahragawan, pekerja kantor, ilmuwan. Beberapa pembatas kerja bagi penyandang epilepsi adalah sebagai tentara, polisi, pengemudi kendaraan umum (supir bis, pilot, masinis), pemadam kebakaran, bekerja dengan mesin putar, berhubungan dengan alat listrik tegangan tinggi, pekerja bangunan tinggi, operator alat pemanas atau alat yg mudah pecah. Yang utama bagi penyandang epilepsi adalah merencanakan pendidikannya sesuai dengan bakat dan keinginannya tetapi dengan mempertimbangkan pada beberapa pekerjaan yang mengandung resiko membahayakan dirinya atau orang lain bila mendapat serangan. Epilepsi atau ayan bukanlah penyakit, melainkan suatu kondisi yang timbul akibat munculnya impuls listrik otak (seluruh bagian otak) yang bekerja tidak semestinya. Gejala klinisnya sangat kompleks, tetapi proses abnormal listrik sel-sel otak itu bisa terlihat pada Elektro Encephalografi (alat rekam listrik otak). Pada keadaan normal, listrik otak akibat reaksi yang timbul adalah semua fungsi tubuh normal, seperti fungsi motorik, sensorik, fisik, dan organ-organ autonom. ''Ketika serangan epilepsi datang, penderita tersebut memancarkan listrik berlebih di otaknya yang mengakibatkan berbagai bentuk serangan. Misalnya, mendadak jatuh, kejang-kejang, kehilangan kontrol pada fungsi kencing atau buang air, mendadak mencium bau aneh, mendengar suara aneh, terjadi halusinasi atau ilusi, dan melihat kilatankilatan cahaya. Penyebab epilepsi sendiri, terbagi dua kelompok, yakni idiopatik dan symtomatic. Idiopatik merupakan golongan yang belum atau tidak diketahui penyebabnya.''Termasuk dalam bagian ini adalah yang bersifat diturunkan atau keturunan (genetik). Dari golongan idiopatik sebagian besar tidak permanen, sehingga pada usia tertentu akan sembuh total. Saat ini berkembang penelitian tentang pengobatan genetik. symtomatic adalah golongan penderita epilepsi yang diketahui penyebabnya, seperti kelainan metabolik, trauma kepala, tumor kepala, stroke, kelainan pembuluh darah otak, infeksi otak, kelainan otak bawaan lahir atau pada perkembangannya, keracunan otak seperti logam timah dan penyakit-penyakit lain semisal Lupus Erythematosus ''Ada yang mengatakan, jika tersentuh busa atau lidah penderita epilepsi yang sedang terserang akan tertular, padahal tidak. Prevalensi penderita epilepsi di Eropa yang berpenduduk 810 juta orang, terjadi serangan satu atau lebih dari sepanjang hidup orang Eropa terdapat 16 sampai 40 juta orang. Kasus insiden baru antara 40 sampai 70 per 100 ribu penduduk terdapat 0,3 sampai 0,6 juta orang menjadi epilepsi per tahunnya. ''Prevalensi di belahan Eropa baik kasus baru dan lama yang masih aktif per tahun ada 0,4 sampai 0,8 atau sebesar 3,2 sampai 6,5 juta orang,'.

Untuk Amerika dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang, diketahui terjadi insiden epilepsi 30-50 orang per 100 ribu per tahunnya. Prevalensinya 5-8 orang per 1.000 orang per tahun atau 1,25 sampai 2 juta orang per tahunnya. ''Sayangnya, prevalensi di Indonesia belum diketahui datanya secara pasti dan akurat. Tidak ter-cover-nya penderita epilepsi ini dirasakan Nizar, karena faktor ekonomi, sehingga tidak pergi/berobat ke dokter dan faktor sosial. ''Diperberat lagi dengan mitos atau stigma bagi penderita epilepsi. Mereka dikatakan kemasukan setan atau diguna-guna, sehingga enggan berobat ke dokter. Sakit mental atau idiot. Ada lagi yang mangatakan kalau penyebabnya karena keturunan. Padahal, persentasenya sangat kecil dan itu pun sebagian besar terjadi pada usia tertentu dan sembuh. Epilepsi, sesungguhnya dapat disembuhkan dengan obat-obat biasa. ''Dari seluruh penderita epilepsi hampir 85% sembuh total dan sisanya bisa terkontrol. Bahkan dalam persentase kecil operasi perlu dilakukan. Kematian pada penderita, bukan disebabkan semata-mata oleh epilepsinya sendiri. Kecuali pada penderita (status epilepsi) dengan tipe kejang umum (terus-menerus) . ''Kematian lebih disebabkan karena benturan kepala akibat pendarahan otak atau diperburuk oleh penyakit lain, seperti jantung atau organ pernapasan, serta sebab-sebab nonmedis, semisal putus asa, sehingga melakukan bunuh diri. Menangani Epilepsi Epilepsi bukan penyakit, tetapi suatu kondisi akibat timbulnya impuls listrik otak yang tidak bekerja normal. Pada waktu serangan penderita tidak melukai dirinya; jangan memaksa dengan kekuatan untuk menahan gerak penderita, kecuali pada tempat berbahaya; letakkan di tempat datar jika serangan pada posisi duduk atau berdiri; lepaskan semua yang mengganggu di leher; jauhkan semua benda keras atau berbahaya dari penderita; posisikan pada satu sisi mulut/kepala penderita untuk mencegah tertelannya ludah atau sesuatu di mulut; letakkan bantalan lunak pada kepala dan leher; jangan masukkan sesuatu baik makanan/minuman/ obat ke mulut; setelah serangan biasanya lemas, perlu dibantu untuk pulang, tetapi jika tidur biarkan sampai bangun.

Curahan Hati Mantan Biduan

"JANGAN AMBIL NYAWA ANAKKU"


Keteguhan hati seorang ibu ditunjukkan Ida Anastasia (45) ketika anak semata wayangnya divonis kena kanker otak. Kesulitan mendera karena ia sudah cerai dan tak punya pekerjaan tetap. Mantan wanita karier dan penyanyi sekaligus pencipta lagu ini, menceritakan perjuangannya mendampingi anaknya menemukan kesembuhan. Berat rasanya membesarkan anak sendirian tanpa bantuan ekonomi dari siapa pun, termasuk mantan suami. Apalagi, bila anak tersayang, menderita sakit yang cukup berat. Begitulah, yang kurasakan. Aku harus sendirian mendampingi anak tunggalku, Ino, yang kena kanker otak. Penyakit yang dari namanya saja membuat merinding. Syukurlah, aku berhasil mendampinginya, hingga sekarang kondisinya semakin membaik. Nah, aku ingin menceritakan pengalaman hidupku, yang mudahmudahan berguna untuk pembaca. Aku ingin memulainya ketika aku masih bersama suamiku. Aku pernah bekerja di Kedutaan Turki selama tiga tahun sebagai Social Secretary. Lalu, pindah ke Kedutaan

Bangladesh selama tujuh tahun dengan jabatan yang sama. Aku pindah lagi ke Kedutaan Inggris selama setahun, sebelum akhirnya kerja di City Bank. Selain bekerja formal, aku juga nyambi jadi pencipta dan penyanyi lagu-lagu pop Bengkulu. Selama karierku, aku menyelesaikan 13 album rekaman. Salah satu lagu ciptaanku berjudul Bulan Tabot, pernah dinyanyikan Trio Libels. Aku juga diundang menyanyi ke mana-mana. Terakhir, aku dibawa mendiang Zainal Arifin Combo tahun 1996 untuk rekaman dan promosi di TVRI. Sebenarnya, sampai sekarang aku masih menjadi anggota PAPPRI (Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia). Meski lagu-laguku masih dinyanyikan orang, sayang aku tidak mendapatkan royalti. mintaku membawa lagu-lagu ciptaanku, yang masih kusimpan RUMAH TANGGA KARAM Sebelum anakku sakit, masalah demi masalah dalam rumah tanggaku sudah lama muncul. Semasa masih bekerja dan menyanyi, aku sering pulang laut malam. Begitu masuk rumah, bukannya disambut manis suami, justru makian yang kuterima. Dia tidak setuju aku sering meninggalkan rumah meski untuk menyanyi. Alasannya, Ino tidak ada yang mengasuh. Padahal di rumah ada Mama dan adik-adikku. Selanjutnya, ia memintaku berhenti bekerja. Aku menuruti permintaannya, meski masih harus menghidupi Ino yang kala itu berumur lima tahun. Sebenarnya cukup berat juga mengingat aku juga masih harus membantu saudara dan orang tua. Namun, aku rela berkorban. Kupikir, dengan berhenti bekerja, termasuk berhenti menyanyi, masalah yang muncul tiap hari akan berhenti. Ternyata, justru timbul masalah baru yaitu masalah ekonomi. Sayang, suamiku tidak konsekuen dengan pengorbanan yang kuberikan. Pertikaian terus terjadi. Akhirnya biduk rumah tanggaku karam. Kami memilih berpisah. Aku mengasuh Ino sendiri tanpa mendapat harta gono-gini atau tunjangan ekonomi dari suami. Aku tak mau ribut. Aku memilih pulang ke rumah orang tua di Pamulang. Kerja apa saja kujalani. Kadang memberi les privat bahasa Inggris pada anak-anak sekolah. Kebetulan aku sarjana muda Sastra Inggris. Karena murid sering tidak ada, aku beralih membuat kue-kue yang kutitipkan di warung. Meski berat, aku juga berusaha memberikan pendidikan terbaik untuk Ino. Semasa SMP, dia kumasukkan ke Titi Qadarsih Modelling. Dia juga kumasukkan ke PT Qisas Agency. Hasilnya, ia pernah jadi Finalis Top Model Nasional di Majalah Kawanku. Dia juga pernah lolos casting main sinetron Gerhana dan Sesisik. Meski cuma figuran, lumayanlah. Minimal pergaulan Ino jadi luas.Temannya banyak. Sama sekali aku tak menyangka, setelah itu duka demi duka harus kurasakan. Adik, Mama, dan Papa meninggal secara berturutan karena sakit. Duka belum usai, Agustus 2004 Ino ketabrak mobil di Jalan Cirendey, Ciputat. BENJOLAN DI KEPALA Peristiwa inilah yang membuat Ino sakit berkepanjangan. Waktu itu, Ino bersama teman-teman sekolah hendak menyeberang. Tiba-tiba mobil menyerempet Ino. Saat Ino

jatuh, motor menabraknya pula. Kepala Ino membentur aspal. Kepalanya benjol dan berdarah. Oleh teman-temannya, Ino dibawa ke RS Fatmawati. Aku sama sekali tak bisa dihubungi. Telepon di rumah kami sudah lama diputus akibat menunggak pembayaran. Ketika Ino dibawa pulang, di kepalanya masih terdapat benjolan. Luka ini tak kunjung kering. Bahkan Ino sering mimisan dan pingsan. Beberapa hari kemudian, benjolan itu pecah, mengeluarkan cairan kuning keputih-putihan. Dua minggu pascatabrakan, kuputuskan untuk membawa Ino kembali ke dokter. Aku tidak punya uang sepeser pun. Tapi, Tuhan menolongku. RS Fatmawati tetap mau merawat Ino. Dari hasil CT scan, dokter mengatakan, ada benjolan di dalam kepala bagian belakang. Benjolan itu menutup saluran darah ke seluruh tubuh. Ternyata, sebelum kecelakaan, sudah ada benjolan lama. Jatuhnya Ino karena ditabrak mobil, memperparah benjolan lama. Aku memperkirakan benjolan lama terjadi ketika Ino berumur setahun. Dia memang sering jatuh ke belakang dan kepalanya membentur lantai. Orang Jawa bilang nggeblag. Aku benar-benar syok ketika dokter mengatakan, perdarahan di dalam otak besar, menyebabkan Ino kena kanker stadium dua. Aku tak mau Ino akan meninggal seperti Mama. Dia satu-satunya hartaku yang paling berharga. Tentu saja Ino juga terpukul dengan vonis dokter. Meski awalnya tampak tabah, ujungujungnya dia sering marah dan tak mau diganggu. Aku tahu dia depresi. Mungkin dia paham, orang sakit kanker biasanya tak dapat sembuh.

Jangan Remehkan Suasana Hati Anda


By: M. Agus Syafii Jangan pernah meremehkan suasana hati anda sebab kalau hati sedang dalam kondisi buruk, bisa merusak kesehatan bahkan bisa berakibat pada kematian, berdasarkan

penelitian dari Dr. Ghanshyam Pandey dari University of Illinois, Chichago, belum lama ini kasus memburuknya kesehatan & mempercepat kematian ditengah masyarakat karena dipicu oleh suasana hati yang buruk. Kondisi memburuknya suasana hati disebabkan banyak faktor, diantaranya putus asa, patah semangat secara sekilas tidak berbahaya namun bisa berakibat fatal. Gangguan umum yang berkaitan dengan suasana hati yang memburuk dalam beberapa bentuk seperti gangguan tidur, gangguan pada kulit, gangguan pada perut, tekanan darah, pilek, migran, sakit kepala yang disertai dengan mual dan gangguan penglihatan, sejumlah penyakit tulang, ketidakseimbangan ginjal, kesulitan bernapas, alergi, serangan jantung dan membengkakan otak, tentu saja tidak semua jenis penyakit itu berkaitan dengan suasana hati namun secara alamiah telah dibuktikan bahwa penyebab gangguan kesehatan semacam itu lebih disebabkan faktor kejiwaan. Putus asa, kekecewaan, depresi dan berbagai jenis penyakit yang menimpa banyak orang adalah suasana hati yang selalu diliputi oleh kekhawatiran akibat perasaan seperti cemas, takut, merasa tidak aman, ledakan emosional yang berlebihan dan berbagai tekanan yang merusak keseimbangan tubuh. Ketika seseorang mendapatkan tekanan atau beban diluar batas kesanggupan dirinya, tubuhnya bereaksi dan membangkitkan bunyi sirine sebagai tanda bahaya sehingga memicu reaksi biokimia didalam tubuh, kadar andrenalin meningkat, reaksi tubuh meninggi, gula, kolesterol dan asam lemak bergerak ke dalam aliran darah, tekanan darah menjadi meningkat dan denyut jantung berdetak kencang. Glukosa berjalan menuju otak, kadar kolesterol naik, dan semua ini membuat tubuh memburuk. Oleh karena itu janganlah meremehkan suasana hati anda karena suasana hati yang memburuk mengubah fungsi-fungsi normal di dalam tubuh. Hal itu bisa berakibat fatal pada kesehatan tubuh anda. Dampak negatifnya meningkatnya andrenalin dan kolesterol diatas ambang batas normal dalam rentang waktu yang cukup lama seperti diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, luka pada dinding pencernaan, penyakit pernapasan, eksim, psoriasis bahkan berdampak terbunuhnya sel-sel otak. Semua perubahan yang terjadi pada tubuh dari keadaan yang semula sehat ke kondisi sakit disebut sebagai penyimpangan citra tubuh atau 'Distortion of body image' adalah dampak dari suasana hati yang memburuk yang menyerang kondisi kesehatan tubuh. Maka disinilah pentingnya arti ketenteraman hati bukan hanya membuat nyaman namun juga membuat tubuh anda menjadi sehat. Ketenteraman hati anda hanya bisa anda dapatkan dengan mendekatkan diri kepada Allah, semakin dekat anda kepada Allah dengan selalu mengingatNya maka semakin mudah hati anda menjadi tenteram. 'Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.' (QS. Ar-Raad 28).

alzheimer, doa pelupa, faktor alzheimer, faktor pelupa, hilang ingatan, nyanyuk,pelupa selepas bersalin, penyakit alzheimer, penyakit pelupa, punca alzheimer, punca pelupa, rawatan, rawatan alzheimer, tanda tanda hilang ingatan, Tip Kesihatan