Anda di halaman 1dari 104

MATERI KULIAH : 1. ANALISIS GANGGUAN / HUBUNG SINGKAT 2.

ANALISIS STABILITAS

DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA II, DIANALISIS SISTEM DALAM KEADAAN PERALIHAN DAN TIDAK SIMETRI. ATAU ANALSIS DILAKUKAN SESAAT (S/D ~ 1 DETIK) SETELAH TERJADI GANGGUAN DALAM SISTEM, DIMANA SISTEM MUNGKIN DALAM

KEADAAN TIDAK SIMETRI ATAU SIMETRI.

ANALISA GANGGUAN

JENIS GANGGUAN YANG MUNGKIN TERJADI PADA SISTEM TENAGA LISTRIK 3 PHASA : A. GANGGUAN SHUNT (HUBUNG SINGKAT) 1. HUBUNG SINGKAT 3 PHASA SIMETRI a. TIGA PHASA (L-L-L) b. TIGA PHASA KE TANAH (L-L-L-G) 2. HUBUNG SINGKAT TIDAK SIMETRI B. GANGGUAN SERI (HUBUNGAN TERBUKA) 1. SATU SALURAN TERBUKA (1L-0) 2. DUA SALURAN TERBUKA (2L-0) 3. IMPEDANSI SERI TAK SEIMBANG

C. GANGGUAN SIMULTAN 1. SHUNT-SHUNT 2. SHUNT-SERI 3. SERI-SERI

MACAM GANGGUAN YANG TERJADI PADA SISTEM TENAGA

SUMBER ARUS GANGGUAN

TUJUAN ANALISIS GANGGUAN (SHUNT)

TUJUAN DARI ANALISIS GANGGUAN (ANALISIS HUBUNG SINGKAT) ADALAH : MENENTUKAN ARUS DAN TEGANGAN MAXIMUM & MINIMUM PADA BAGIAN-BAGIAN / TITIK-TITIK TERTENTU DARI SUATU SISTEM TENAGA LISTRIK UNTUK JENIS-JENIS GANGGUAN YANG MUNGKIN TERJADI,

SEHINGGA DAPAT DITENTUKAN POLA PENGAMAN, RELAY DAN PEMUTUS (CIRCUIT BREAKER) UNTUK MENGAMANKAN SISTEM DARI KEADAAN ABNORMAL DALAM WAKTU YANG SEMINIMAL MUNGKIN.

SUMBER ARUS GANGGUAN

1. GENERATOR SINKRON 2. MOTOR SINKRON 3. MOTOR INDUKSI

ARUS

GANGGUAN

YANG

BERASAL

DARI

MOTOR

INDUKSI

BIASANYA DIABAIKAN.

ASUMSI DALAM ANALISIS GANGGUAN 1. BEBAN NORMAL, KAPASITANSI PENGISIAN SALURAN HUBUNGAN SHUNT KE (LINE TANAH

CHARGING DIABAIKAN. 2.

CAPACITANCE),

SEMUA TEGANGAN INTERNAL SISTEM MEMPUNYAI MAGNITUDE DAN PHASE SAMA.

3.

BIASANYA TAHANAN SERI DARI SALURAN TRANSMISI DAN TRAFO DIABAIKAN.

4. 5.

SEMUA TRAFO DIANGGAP PADA POSISI TAP NORMAL GENERATOR MOTOR DIPRESENTASIKAN DENGAN SUMBER

TEGANGAN TETAP YANG DIHUBUNGKAN SERI


y

DENGAN REAKTANSI SUB PERALIHAN xd (SISTEM DALAM KEADAAN SUB-PERALIHAN)

ATAU DENGAN REAKTANSI PERALIHAN xd (SISTEM DALAM KEADAAN PERALIHAN)

ATAU DENGAN REAKTANSI SINKRON xd (SISTEM DALAM KEADAAN STEADY-STATE)

PERALIHAN SELAMA GANGGUAN

RANGKAIAN SISTEM TENAGA LISTRIK

SUMBER TEGANGAN IDEAL

e(t) = Emsin ( t + )

PERS. DIFF : Emsin ( t + ) = Ri + L I(t) = (


Em ) [sin ( t + Z
2

di dt

- ) sin (sin ( 2

)e

 Rt ] L

DIMANA : Z = R  ( = tan
Em sin( - )e Z
1

L )

1 2

[L ) R

 t

KOMPONEN DC

SUMBER TEGANGAN TIDAK IDEAL (GENERATOR)

ARUS GANGGUAN (HUBUNG SINGKAT) DARI PHASA a, b DAN c DENGAN KOMPONEN DC 0

CATATAN : 1. SAAT TERJADI HUBUNG SINGKAT TIDAK BISA DIRAMAL,

SEHINGGA HARGA TIDAK DAPAT DIKETAHUI TERLEBIH DAHULU 2. KOMPONEN DC HILANG DENGAN CEPAT, BIASANYA DALAM 8-10 cycles 3. REAKTANSI DARI MESIN SINKRON BERUBAH TERHADAP WAKTU 4. UNTUK MENGHITNG ARUS GANGGUAN, REAKTANSI MESIN

SINKRON DAPAT DINYATAKAN SBB : Xd : REAKTANSI SUB-PERALIHAN UNTUK MENENTUKAN ARUS GANGGUAN SELAMA CYCLE PERTAMA SETELAH GANGGUAN TERJADI DALAM WAKTU 0.05 0.1 detik Xd BERTAMBAH BESAR MENJADI Xd : REAKTANSI PERALIHAN UNTUK MENENTUKA ARUS GANGGUAN SETELAH

BEBERAPA CYCLE SETELAH GANGGUAN TERJADI DALAM WAKTU 0.2 2 detik Xd BERTAMBAH BESAR MENJADI Xd : REAKTANSI SINKRON UNTUK MENENTUKAN ARUS GANGGUAN SETELAH KEADAAAN STEADY STATE DICAPAI

10

HUBUNG SINGKAT 3 PHASA PADA GENERATOR DALAM KEADAAN TANPA BEBAN BILA GENERATOR BEKERJA TANPA BEBAN SEBELUM TERJADI HUBUNG SINGKAT 3 PHASA PADA TERMINAL-TERMINALNYA,

ARUS

HUBUNG

SINGKAT

MAXIMUM(SIMETRIS)

I max

(t)

DAN

REAKTANSINYA DAPAT DITENTUKAN (PENDEKATAN) SEPERTI TERLIHAT DALAM GAMBAR .......

E max Im ax" E max Xd = Im ax ' E max Xd = Im ax Xd =


Eg Xd " Eg I = Xd ' Eg I = Xd '

Emax = GANGGUAN MAX. LINE NEUTRAL DARI GENERATOR (NO LOAD) Eg = HARGA EFEKTIF TEGANGAN (LINE NEUTRAL NEUTRAL NO LOAD) I = ARUS SUB-PERALIHAN (HARGA EFEKTIF,TANPA KOMP. DC) I = ARUS PERALIHAN (HARGA EFEKTIF,TANPA KOMP. DC) I = ARUS STEADY STATE (HARGA EFEKTIF)

I =

11

HUBUNG SINGKAT 3 PHASA PADA GENERATOR DALAM KEADAAN BERBEBAN TEGANGAN INTERNAL DI BELAKANG REAKTANSI SUB-PERALIHAN (Eg) ATAU PERALIHAN (Eg) GENERATOR : Eg = Vt + jILXd Eg = Vt + jILXd

MOTOR Em = Vt - jILXd Em = Vt -125jILXd

Z ext

IL Xs Vt Vf ZL

Eg

(a)

METODE 1 :

MENGGUNAKAN TEGANGAN INTERNAL DI BELAKANG REAKTANSI SUB PERALIHAN

METODE 2 :

MENGGUNAKAN RANGAKAIAN PENGGANTI THEVENIN

12

CONTOH : (METODE 1)

jo.10

jo.10

IL jo.20 Vf jo.20 jo.20

Ig

Im jo.20 If

+
Eg

+
Em

+
Eg

+
E m

Neutral Bus

Neutral Bus

MOTOR, GENERATOR : 30.000Kva, 13.2 Kv, X = 20 % SALURAN : X = 10 % (BASE:RATING MESIN) MOTOR MENYERAP DAYA 20.000 Kw, p.f. : 0.8 Leading DENGAN TEGANGAN TERMINAL 12.8 Kv PADA SAAT TERJADI HUBUNG SINGKAT 3 PHASA SIMETRIS PADA TERMINAL MOTOR

BASE: 30.000Kva, 13,2 kV

Vf =

12.8 = 0.97 00 pu 13.2

IBASE = IL =

30.000 3 x13,2
20.000

=1312 A = 1128 36,90 A

0.8 x 3 x12,8

1128 = 0,86 36,90 p 1312

= 0,86(0,8+J0,6) = 0,69+J0,52 pu

13

GENERATOR: Vt = 0.970 + J0,1(0,69 + J0,52) = 0,918 + J0,069 pu Eg= 0,918 + j0,069 + j0,2(0,69 + j0,52) = 0,814 + j0,207 pu Ig= 0,814  J 0,207 = 0,69 J2,71 pu J 0,3 = 1312(0,69 J2,71) = 905 - J3550 A

MOTOR: 00 pu

Vt = Vf = 0,97

Em = 0,97 + J0,2(0,69 + J0,52) = 1,074 J0,138 pu Im = 1,074  j 0,138 = -0,69 j5,37 pu j 0,2 = 1312(-0,69-j5,37) = -905-J7050 A

PADA TITIK GANGGUAN : If = Ig + Im = 0,69 j2,71 0.69-j5,37 = -j8,08 pu = -j8,08x1312 = -j10600 A

14

CONTOH : (METODE 2)

Zth =

j 0,3 xj 0,2 = j0,12 pu j 0,3  j 0,2

Vf = 0,97 00 pu PADA TITIK GANGGUAN : If = 0,97  j 0 = -j8,08 pu j 0,12

ARUS GANGGUAN DARI GENERATOR : -j8,08 x j 0,2 = -j3,23 pu j 0,5

ARUS GANGGUAN DARI MOTOR : -j8,08x j 0,3 = -j4,85 pu j 0,5

15

ARUS SEBELUM GANGGUAN HARUS DITAMBAHKAN PADA ARUS-ARUS GANGGUAN DIATAS UNTUK MEMPEROLEH TOTAL ARUS SUBTRANSIENT DARI MESIN Ig = 0,69+J0,52-J3,23 = 0,69 - J2,71 pu = 1312(0,69-j2,71) = 905 - j3550 A Im= -0,69-j0,52-j4,85 = -0,69- j 5,37 pu =1312(-0,69-j5,37) = -905 - j7050 a If = j8,08 pu = -J10600 A

SIMULASI ANALISIS HUBUNG SINGKAT PADA RANGKAIAN SISTEM TENAGA LISTRIK

DIAGRAM SEGARIS :

Vf : TEGANGAN SEBELUM GANGGUAN

16

DIAGRAM IMPEDANSI

DIAGRAM ADMITANSI If:ARUS HUBUNG SINGKAT

HUBUNG SINGKAT PADA BUS 2

17

I = YBUS . V
3,33 0, 0 3,33 0  10,0  If " 3,33  16,67 3,33 10,0 = 0 0,0 3,33  11,67 3,33 10,0 3,33  20,67 0 3,33 V 1(  Vf V 3( V 4(

V = YBUS-1 I ATAU V = ZBUS. I


VI(  Vf V 3 V 4 0  If " = ZBUS 0 0 12 22 32 42 13 23 33 43 14 24 34 44 0  If " 0 0

VI( 11  Vf 21 = V 3( 31 V 4( 41

If =

Vf : ARUS HUBUNG SINGKAT DARI BUS 2 Z 22

18

PERUBAHAN TEGANGAN PADA BUS 1, BUS 3 DAN BUS 4 V1 ( !  If " Z 12 ! V3 ( !

 Z 12 Vf Z 22

 Z 32  Z 42 Vf VfV 4( ! Z 22 Z 22

(TOTAL)TEGANGAN PADA TIAP-TIAP BUS (SETELAH GANGGUAN )

V1 = Vf + V1 ( = Vf - IfZ12 V2 = Vf - Vf = 0 V3 = Vf + Va ( = Vf - IfZ32 V4 = Vf + V4 ( =Vf - IfZ32

TERJADI HUBUNG SINGKAT PADA BUS k

If =

Vf Z kk

ARUS HUBUNG SINGKAT DARI BUS k

Vn = V1-

Znk Vf Zkk

TEGANGAN SETELAH GANGGUAN PADA BUS n

DENGAN MENGHITUNG INVERSE DARI YBUS, DIPEROLEH :


0.1502 0.0807 ZBUS = j 0.0431 0.0702 0.0431 0.0702 0.1471 0.0692 0.0953 0.0692 0.1226 0.0602 0.0953 0.0602 0.1155

0.0807

BIASANYA Vf DIANGGAP : 1.0 DIABAIKAN)

00 p.u.( ARUS SEBELUM GANGGUAN

If =

I =-j6,80 per unit j 0,1471

19

V1=1-

j 0,0807 =1-0,549 = 0.451 per unit j 0,1471 j 0,0692 = 1-0,470 = 0,530 per unit j 0,1471 j 0,0953 =1-0,648 = 0,352 per unit j 0,1471

V3 = 1V4=1-

ARUS PADA SALURAN 1-4 :

I1-4 =

V 1 4 0,451  0,352 0,099 = = j 0,3 j 0,3 j 0,3

ARUS DARI GENERATOR A: IA =


E"V1 0,549 = j 0,3 j 0,3

= -j1,83 per unit

20

CONTOH SOAL :

SALURAN 1-2 1-4 1-5 2-3 2-4 3-5

R 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

X(pu) 0.40 0.60 0.20 0.20 0.40 0.20 BUS 3 : MVA, xd=0,15 pu BUS 1 : 75 MVA,xd = 0,15 pu GENERATOR PADA

TERJADI HUBUNG SINGKAT TIGA PHASA PADA BUS 2

ARUS SEBELUM GANGGUAN DIABAIKAN DAN SEMUA TEGANGAN DIANGGAP 1,0 pu SEBELUM HUBUNG SINGKAT TERJADI GUNAKAN BASE 100 MVA

21

GENERATOR PADA BUS 1 : Xd=0,15x


100 = 0,20 pu 75

GENERATOR PADA BUS 3 : Xd=0,15x


100 = 0,12 pu 125

DIAGRAM ADMITANSI
1 -j1,67 4

-j2,5 -j5,0 -j2,5 + -j5,0 -j8,33 -j5,0 + -j5,0 2

2.5 0 .0 1.67 5.0  14.17 2.5  10.0 5.0 2.5 0.0 YBUS= j 0.0  18.33 5.0 0.0 5.0  4.17 2.5 0 .0 0.0 1.67 5.0  10.0 0.0 5.0 0.0

22

0.1258 0.0780 ZBUS= j .0445 0.0972 0.0852

0.0780 0.1928 0.0732 0.1468 0.0756

0.0445 0.0972 0.0852 0.0732 0.1468 0.0756 0.0933 0.0617 0.0689 0.0617 0.3668 0.0794 0.0689 0.0794 0.1770

ARUS HUBUNG SINGKAT DARI BUS 2 : I= 1,0 =-j5,187 per unit j 0,1928

TEGANGAN SETELAH GANGGUAN : V1 = 1,0-(-j5,187)(j0,0780) = 0,595 per unit V2 = 1,0-(-j5,187)(j0,0732) = 0,620 per unit V3 = 1,0-(-j5,187)(j0,1468) = 0,239 per unit ARUS YANG MENUJU BUS 2, DARI Bus 1: 0,595 (-j2,5) = -j1,488 Bus 2 :0,620(-j5,0) = -j3,100 Bus 3:0,239(-j2,5) = -j0,598

-j5,186 per unit

23

PENENTUAN KAPASITAS/RATING DARI PEMUTUS (CIRCUIT BREAKER)

KAPASITAS PEMUTUSAN DARI PEMUTUS(CB) BIASANYA DITENTUKAN DENGAN MENGGUNAKAN REAKTANSI SUB-PERALIHAN UNTUK

GENGERATOR DAN REAKTANSI PERALIHAN UNTUK MOTOR SINKRON. PENGARUH DARI MOTOR INDUKSI DIABAIKAN DALAM PERHITUNGAN ARUS GANGGUAN, YANG DITENTUKAN ADALAH HARGA EFEKTIF ARUS HUBUNG SINGKAT AWAL SIMETRIS (INITIAL SIMMETRICAL RMS CURRENT) DENGAN MENGABAIKAN KOMPONEN DC BESAR ARUS HUBUNG SINGKAT DENGAN SESUNGGUHNYA PADA SAAT KONTAK-KONTAK PEMUTUS(CB) MEMBUKA MUNGKIN LEBIH BESAR DARI ARUS HUBUNG SINGKAT SIMETRIS YANG DIPEROLEH DALAM PERHITUNGAN AKIBAT ADANYA KOMPONEN DC UNTUK MEMPERHITUNGKAN PENGARUH KOMPONEN DC, HARGA

EFEKTIF ARUS HUBUNG SINGKAT AWAL SIMETRIS DIKALIKAN DENGAN FAKTOR PENGALI YANG BESARNYA TERGANTUNG PADA KECEPATAN PEMUTUS UNTUK MEMBUKA KONTAK-KONTAKNYA.

INTERRUPTING DUTY RATING DARI SUATU PEMUTUS (CB) DITENTUKAN SEBAGAI BERIKUT: Si = DIMANA: Vpf : TEGANGAN (VOLT) (L-L) SEBELUM GANGGUAN PADA TITIK 3 (V pf) (I) x 10-6 MVA

GANGGUAN

I : HARGA EFEKTIF ARUS HUBUNG SINGKAT AWAL SIMETRIS (AMPER) : FAKTOR PENGALI KOMPONEN DC

24

KEMAMPUAN SUATU PEMUTUS UNTUK MENGATASI AKIBAT DARI MENGALIRNYA ARUS HUBUNG SINGKAT (MOMENTARY DUTY/RATING) DINYATAKAN SEBAGAI BERIKUT : Si =
3 (V pf) (I) k x 10-6 MVA

UNTUK PEMUTUS MINYAK (OIL C.B.) DENGAN TEGANGAN 115 KV ATAU LEBIH. DIGUNAKAN k = 1,6. DI AMERIKA, RATING DARI PEMUTUS DITENTUKAN DENGAN STANDARD ANSI, BERDASARKAN PADA ARUS HUBUNG SINGKAT

25

SIMETRIS (TIDAK SIMETRIS/KOMPONEN DCDIPERHITUNGKAN) YANG DITENTUKAN DENGAN MENGGUNAKAN BESARAN-BESARAN TEGANGAN NOMINAL (NOMINAL VOLTAGE) TEGANGAN KERJA MAXIMUM (RATED MAXIMUM VOLT) FAKTOR DAERAH TEGANGAN KERJA K (RATED VOLTAGE RANGE FACTOR K) ARUS KERJA KONTINU (RATED CONTINOUS CURRENT) ARUS KERJA HUBUNG SINGKAT (RATED SHORT CIRCUIT CURRENT)

KOMPONEN SIMETRI PHASOR TEGANGAN 3 PHASA YANG TAK SEIMBANG

26

OPERATOR a Power or Function a a2 a a


3 4 2

Polar Form 1 1200 1 2400 = 1 1200 1 360 = 1 0 1 120 1 60


0 0 0 0

Rectangular Form -0,5+j0,866 -0,5-j0,866 1,0+j0,0 -0,5+j0,866 0,5+j0,866 1,5-j0,866 0,5-j0,866 1,5+j0,866 -1,5+j0,866 -1,0+j0,0 0,0+j1,732 0,0-j1,732 -1,5-j0,866 0,0+j0,0

1+a = -a 1-a

3 -300

1-a2 = -a 1- a2 a-1 a+ a2 a- a
2

1 -600
3 300

3 1500 1 1800
3 900 3 -900

a2-a a2 1+a+ a2

3 -1500 0 00

27

PENYELESAIAN SISTEM TIGA PHASA YANG TAK SEIMBANG

28

KARENA

SETIAP

FASOR

YANG DARI

TIDAK

SEIMBANG

MERUPAKAN MAKA

PENJUMLAHAN

VEKTOR

KOMPONEN-KOMPONENNYA,

FASOR-FASOR ASLINYA DAPAT DINYATAKAN DALAM KOMPONENKOMPONENNYA SEBAGAI BERIKUT : Va = Va0 + Va1 + Va2 Vb = Vb0 + Vb1 + Vb2 Vc = Vc0 + Vc1 + Vc2 DENGAN MEMASUKKAN OPERATOR a PADA PERSAMAAN DI ATAS DIDAPAT : Va = Va0 + Va1 + Va2 Vb = Va0 + a2 Va1 + a Va2 Vc = Va0 + a Va1 + a2 Va2

ATAU DALAM BENTUK MATRIK:


Va 1 1 V = 2 b 1 a Vc 1 a 1 a a2 Va 0 V b1 Vc 2

UNTUK MEMPERMUDAH TULISAN, BENTUK MATRIK DI ATAS DAPAT DITULISKAN DENGAN NOTASI-NOTSINYA SAJA.
1 1 A = 1 a 2 1 a 1 a a2

29

MAKA DAPAT DIPEROLEH SECARA MUDAH

1 1 1 A = 1 a 3 1 a 2
-1

1 a2 a

UNTUK TEGANGAN DAN ARUS :


Va Vabc = Vb Vc I a Iabc = I b I c Va 0 V012 = Vb1 Vc 2 I a0 I012 = I b 1 I c2

SECARA UMUM DAPAT DITULIS : Vabc = A V012


Iabc

V012 = A-1 V012

= A I012

I012 = A-1 Iabc

UNTUK ARUS BERLAKU:

Ia = Ia0 + Ia1 + Ia2 Ib = Ia0 + a2 Ia1 + a Ia2 Ic = Ia0 + a Ia1 + a2 Ia2

DALAM SISTEM 3 PHASA, JUMLAH ARUS SALURAN SAMA DENGAN ARUS In YANG MENGALIR MELALUI NETRAL SEBAGAI JALAN BALIK. JADI,

Ia  Ib  Ic ! In

30

DARI PERSAMAAN (5.27) DAN PERSAMAAN (5.29) DIPEROLEH,

! 3I

a0

SUATU BEBAN ATAU BELITAN TRANSFORMATOR YANG TERHUBUNG DELTA, DIMANA TIDAK TERDAPAT LINTASAN NETRAL ARUS TIDAK MENGANDUNG KOMPONEN URUTAN NOL ATAU

SECARA UMUM, DENGAN MENGGUNAKAN MATERI-MATERI KOMPONEN SIMETRI :

DAYA PADA SISTEM TIGA PHASA TAK SEIMBANG

S ! P  JQ ! V a I a

VbIb VcIc

(JUMLAH DAYA PADA TIAP-TIAP PHASA) DIMANA

V b , DAN V c ADALAH TEGANGAN PHASA KE NETRAL


, DAN I

PADA TERMINAL, DAN DAN I


a

, I

ADALAH ARUS YANG MENGALIR KE SISTEM

RANGKAIAN PADA KETIGA SALURANNYA. DALAM BENTUK MATRIK,

S ! ?V

Vb

Ia V c A I b Ic

V a ! V b V c

Ia I b Ic

31

DENGAN NOTASI KOMPONEN SIMETRI :

S !V
!

T abc

* abc 012

? AV
012

012 T

AT ? AI
A
T

A*
*

!V
DIMANA

I 012

V a 0 V ! V a1 V a 2

dan

I a0 I ! I a1 I a2

DENGAN MEMPERHATIKAN BAHWA MERUPAKAN SEKAWAN, DIPEROLEH :

SERTA a

DAN

S ! ?V a 0

V a1

1 V a 2 A 1 1
*

1 a2 a

1 1 a 1 2 a 1

1 a a
2

1 I a0 a 2 I a1 a Ia2

KARENA

! 3 U , MAKA
I a0 A I a 1 I a2
*

S ! 3 ?V

a0

a1

a 2

JADI DAYA KOMPLEKS ADALAH :


* * * * * *

V a I a  V b I b  V c I c ! 3 V a 0 I a 0  3 V a1 I a1  3 V a 2 I a 2

32

PERGESERAN PHASA PADA TRAFO HUBUNGAN

(  9

STANDARD PEMBERIAN NAMA TERMINAL

(a)

A1

LEADS V

b1

By

30

(b)

A1

LAGS

a1

By

30

DIGUNAKAN DALAM KULIAH INI SISI T.T SISI T.R

(a) Wiring Diagram

Positif Sequence

Negatif Sequence (b) Voltage Component

33

SISI T.T

SISI T.R

(a) Wiring Diagram

Positif Sequence

Negatif Sequence

(b) Voltage Components

Positive-sequence Component

Negative-sequence Component

34

AKIBAT PERGESERAN PHASA TRAFO HUBUNG

(  9 , MAKA

V a1 !  j V A1 Va2 !  jV A2 I a1 !  j I A1 Ia2 !  j I A2
DALAM PER UNIT

DIMANA TEGANGAN DAN ARUS DINYATAKAN DALAM PER UNIT

IMPEDANSI URUTAN SALURAN TRANSMISI

a/. SALURAN TRANSMISI UNTRANSPOSED

?V abc A ! ?Z abc A?I abc A

35

DIMANA

?Z abc

Z aa A ! Z ba Z ca

Z Z

ab

Z Z

ca cb

Z bb
cb

Z cc

Ia V a  a ' V I abc ! I b V abc ! b  b ' ; ; Ic V c  c'

SELF IMPEDANCE

aa

{ Z bb { Z cc

MUTUAL IMPEDANCE

ab

{ Z bc { Z ca

DENGAN MENGGUNAKAN MATRIX TRANSFORMASI [A], DIPEROLEH :

? A A 1 ?V abc A ! ? A A 1 ?Z

abc

A? A A? I 012 A

?V 012 A ! ?Z 012 A?I 012 A


SEHINGGA,

?Z 012 A ! ? A A 1 ?Z abc A? A A ?Z 012


Z 00 A ! Z 10 Z 20

Z 01 Z 11 Z
21

Z Z

02

Z 12
22

?Z 012

Z s 0  2 Z m 0 A ! Z s 1  Z m 1 Z s 2  Z m 2

Z s 2  2 Z m 2 Z s 1  Z m 1 Z s 0  Z m 0 Z s 2  2 Z m 2 Z s 0  Z m 1 Z s 0  Z m 0

36

DIMANA,

a0

= SELF IMPEDANCE URUTAN NOL =

1 3

aa

 Z

bb

 Z

cc

a1

= SELF IMPEDANCE URUTAN POSITIF =

1 Z 3

aa

 Z

bb

 a 2Z

cc

a 2

= SELF IMPEDANCE URUTAN NEGATIF =

1 Z 3

aa

 a 2Z

bb

 Z

cc

m 0

= MUTUAL IMPEDANCE URUTAN NOL =

1 3

bc

 Z

ca

 Z

ab

m1

= MUTUAL IMPEDANCE URUTAN POSITIF =

1 Z 3

bc

 aZ

ca

 a 2Z

ab

m 2

= MUTUAL IMPEDANCE URUTAN NEGATIF =

1 Z 3

bc

 a 2Z

ca

 aZ

ab

b/. SALURAN TRANSMISI TRANSPOSED

37

?V abc A ! ?Z abc A?I abc A


DIMANA,

?Z abc

Zs A! Z m Z m

Z Z Z

m s m

Zm Zs

DENGAN CARA YANG SAMA, DIPEROLEH :

?Z 012

Z 00 A! 0 0

0 Z 11 0

0 0 Z 22

?Z 012

Z s  2 Z 0 A! 0

0
m

Z s

 Z

0 Z s  Z

DIMANA,

= IMPEDANSI URUTAN NOL =

= Z

 2 Z

= IMPEDANSI URUTAN POSITIF =

11

= Z

 Z

= IMPEDANSI URUTAN NEGATIF =

22

= Z

 Z

38

TIDAK TERDAPAT MUTUAL COOPLING ANTARA IMPEDANSI URUTAN NOL, POSITIF, DAN NEGATIF.

IMPEDANSI URUTAN MESIN SINKRON

PADA UMUMNYA, IMPEDANSI URUTAN POSITIF, NEGATIF, DAN NOL DARI MESIN SINKRON MEMPUNYAI HARGA YANG BERLAINAN. IMPEDANSI URUTAN POSITIF :

Xd " = REAKTANSI SUB-PERALIHAN


ATAU, ATAU,

Xd " = REAKTANSI PERALIHAN

= REAKTANSI SINKRON

IMPEDANSI URUTAN NEGATIF :

! j X

X ! j

 X q" 2

PADA MESIN SINKRON DENGAN ROTOR BULAT, REAKTANSI SUBPERALIHAN SAMA DENGAN REAKTANSI URUTAN NEGATIF.

39

IMPEDANSI URUTAN NOL : MEMPUNYAI HARGA YANG SANGAT BERVARIASI, YANG TERGANTUNG PADA PITCH DARI KUMPARAN JANGKAR. HARGANYA JAUH LEBIH KECIL DARI IMPEDANSI URUTAN POSITIF DAN NEGATIF.

RANGKAIAN URUTAN DARI GENERATOR

DIAGRAM RANGKAIAN GENERATOR

(a) RANGKAIAN URUTAN POSITIF 3 PHASA

(b) RANGKAIAN URUTAN POSITIF 1 PHASA

40

(c) RANGKAIAN URUTAN NEGATIF 3 PHASA

(d) RANGKAIAN URUTAN NEGATIF 3 PHASA

(e) RANGKAIAN PHASA

URUTAN

NOL

(f) RANGKAIAN PHASA

URUTAN

NOL

IMPEDANSI URUTAN DARI TRANSFORMATOR

IMPEDANSI URUTAN POSITIF DAN NEGATIF DARI TRANSFORMATOR SAMA.

IMPEDANSI URUTAN

NOL SEDIKIT

BERBEDA (BESARNYA)

DARI

IMPEDANSI URUTAN POSITIF DAN NEGATIF, BIASANYA DIANGGAP SAMA DENGAN IMPEDANSI URUTAN POSITIF DAN NEGATIF.

?V abc A ! ?Z abc A?I abc A


ADA/TIDAKNYA ALIRAN ARUS URUTAN NOL TERGANTUNG PADA HUBUNGAN BELITAN TRANSFORMATOR SEPERTI TERLIHAT PADA TABEL.

42

RANGKAIAN URUTAN NOL DARI TRAFO 3 PHASA DUA BELITAN

Symbols

Transformator Connection Diagram

Zero Sequence network equivalent

43

RANGKAIAN URUTAN NOL DARI TRAFO 3 PHASA TIGA BELITAN

Transformator Connection diagram

Zero-Sequence network equivalent

44

RANGKAIAN URUTAN NOL DARI BEBAN

Load Connection Diagram

Zero-Sequence network equivalent

45

GENERATOR

G1

X
X X




= 0.2 p.u = 0.12 p.u = 0.06 p.u = 0.33 p.u = 0.22 p.u = 0.066 p.u = X = = = =


0


GENERATOR G

X X X

TRANSFORMER T 1

= X = = =

= 0.2 p.u = 0.225 p.u = 0.27 p.u = 0.16 p.u

T2 : T3 : T4 :
LINE

X X X X

  

X X X X X

   

X X X

0 0 0

L1 :

= 0.14 p.u = 0.3 p.u = 0.2 p.u = 0.4 p.u = 0.15 p.u = 0.2 p.u = 0.9 p.u = 1.2 p.u

0  0

LINE

X X

LINE L

X
X

0  0

LOAD :

X
X

46

RANGKAIAN URUTAN POSITIF

Step 1

Step 4

Step 2

Step 5

Step 3

Step 6

47

Step 7

REAKTANSI PENGGANTI URUTAN POSITIF

Step 8

RANGKAIAN THEVENIN URUTAN POSITIF

48

RANGKAIAN URUTAN NEGATIF

REAKTANSI PENGGANTI URUTAN NEGATIF

49

RANGKAIAN URUTAN NOL

REAKTANSI PENGGANTI URUTAN NOL

50

Rangkaian urutan positif

Rangkaian urutan negatif

51

Rangkaian urutan nol

52

RANGKAIAN URUTAN POSITIF :

(a )

(b)

(c)

(f) (d ) (e)

53

RANGKAIAN URUTAN NEGATIF :

(a )

(b)

(c)

(d )

(e)

(f)

54

RANGKAIAN URUTAN NOL :

CONTOH RANGKAIAN URUTAN NOL :

55

56

HUBUNGAN RANGKAIAN URUTAN

R ngk i n

nN

R ngk i n

R ngk i n

nN g i

Untuk Zf = 0 (H.S. 3 phasa ke tanah langsung) berlaku

Va0 ! Va2 ! 0 Ia0 ! Ia2 ! 0

 

 



si i

57

HUBUNG SINGKAT 3 PHASA KE TANAH (LANGSUNG)

HUBUNG SINGKAT 3 PHASA KE TANAH MELALUI IMPEDANSI

UNTUK HUBUNG SINGKAT 3 PHASA KE TANAH MELALUI IMPEDANSI BERLAKU :

Va ! Z Vb ! Z Vc ! Z

f f f

Ia Ib Ic

DALAM BENTUK MATRIX DAPAT DITULIS SEBAGAI BERIKUT :

V a V b V c

Z f ! 0 0

0 Z f 0

0 0 Z f

Ia I b Ic

58

TRANSFORMASI IMPEDANSI KE DALAM KOMPONEN SIMETRINYA ADALAH :

Z 012 ! A  1

Z f 0 0

0 Z f 0

Z f 0 0 A ! 0 0 Z f

0 Z f 0

0 0 Z f

SEHINGGA DIPEROLEH

Va0 ! Z V a1 ! Z Va2 ! Z

f f f

Ia0 I a1 Ia2

HUBUNG SINGKAT SATU PHASA KE TANAH (LANGSUNG)

Ib ! Ic ! 0 Va ! 0
TRANSFORMASI ARUS KE DALAM KOMPONEN SIMETRINYA ADALAH,

I a 0 ! A  1 I abc

59

DARI PERSAMAAN DI ATAS DIPEROLEH,

I a 0 ! I a1 ! I a 2 !
DEMIKIAN JUGA DARI PERSAMAAN

1 Ia 3

V abc ! A V 012
DIPEROLEH,

V a ! V a 0  V a1  V a 2 ! 0

HUBUNGAN RANGKAIAN URUTAN :

HUBUNG SINGKAT SATU PHASA KE TANAH MELALUI IMPEDANSI

60

Va ! Z

Ia
f

V a ! V a 0  V a1  V a 2 ! Z
KARENA

Ia

I a ! 3 I a1 , Va ! 3 Z I a1

MAKA

HUBUNGAN RANGKAIAN URUTAN

HUBUNG SINGKAT DUA PHASA KE TANAH (LANGSUNG)

Ia ! 0 Vb ! Vc ! 0

61

DARI METODE KOMPONEN SIMETRI DIPOEROLEH, V


012

= A 1 V abc

DENGAN SUBTITUSI KE BENTUK KOMPONEN SIMETRINYA DIPEROLEH,

V a 0 = V a1 = V a 2 =

1 Va 3

DEMIKIAN JUGA DARI PERSAMAAN, Iabc = A I 012 ARUS YANG MENGALIR PADA PHASA A ADALAH Ia = Ia0 + Ia1+ Ia2 = 0 HUBUNGAN RANGKAIAN URUTAN

HUBUNG SINGKAT DUA PHASA KE TANAH MELALUI IMPEDANSI

Vb

= Vc = Zf (Ib + Ic)

62

DENGAN METODE KOMPONEN SIMETRI DIPEROLEH, 1 V a0 = ( Va + 2 Vb ) 3 1 V a1 = ( Va + (a2 + a) Vb) 3 1 V a2 = ( Va + (a2 + a) Vb) 3 DENGAN PERSAMAAN DI ATAS TERLIHAT BAHWA, Va1 = Va2 Va0 - Va1 = Vb = Zf (Ib + Ic) DENGAN MEMBAWA ARUS Ib DAN Ic KE DALAM KOMPONEN SIMETRINYA, MAKA JUMLAH Ib DAN Ic ADALAH, Ib + Ic = 2 Ia0 + (a2 + a)(Ia1 + Ia2 ) DARI KEADAAN AWALNYA DIPEROLEH Ia1 + Ia2 = - Ia0 SUBTITUSI PESAMAAN DIATAS KE DALAM PERSAMAAN SEBELUMNYA DIDAPATKAN Ib + Ic = 3 Ia0 DENGAN MENSUBTITUSIKAN PERSAMAAN DIATAS KE DALAM PERSAMAAN SEBELUMNYA DIPEROLEH, Vb = Va0 - Va1 = 3 Zf Ia0

63

HUBUNGAN RANGKAIAN URUTAN

HUBUNG SINGKAT ANTAR PHASA (LANGSUNG)

Ia = 0 ; Ia = - Ic ; Vb = Vc KOMPONEN SIMETRI ARUS YANG MENGALIR PADA PHASA A ADALAH : I a0 =


1 ( Ia + Ib + Ic) = 0 3 a2  a 1 I a1 = ( Ia + a Ib + a2 Ic) = Ic 3 3 a  a2 1 I a2 = ( Ia + a2 Ib + a Ic) = Ic = - I a1 3 3

KARENA = 0 MAKA = 0, JADI TIDAK TERDAPAT KOMPONEN URUTAN NOL. DENGAN MEMASUKKAN PERSAMAAN PADA

64

KEADAAN AWALNYA, MAKA TEGANGAN URUTAN POSITIF DAN NEGATIFNYA ADALAH : 1 V a1 = ( Va + (a + a2) Vc) = V a2 3 HUBUNGAN RANGKAIAN URUTAN

HUBUNG SINGKAT ANTAR PHASA MELALUI IMPEDANSI

Vb = Vc - Zf Ic DENGAN MEMASUKKAN KOMPONEN SIMETRI ARUS YANG MENGALIR PADA PHASA A KE PERSAMAAN DIATAS DIPEROLEH : Vb = Vc - Zf 3 Ia1 a a
2

UNTUK GABUNGAN ANTAR SALURAN, Ia0 = 0 DAN Va0 = 0

65

KOMPONEN-KOMPONEN SIMETRI UNTUK TEGANGAN YANG LAIN ADALAH :


1 ( Va + a Vb +a2 Vc) 3 1 V a2 = ( Va + a2 Vb + a Vc) 3

V a1 =

SEHINGGA V a1 - V a2 =
1 1 ( a - a2 ) Vb + ( a2 - a ) Vc 3 3

DENGAN MENSUBTITUSIKAN PERSAMAAN SEBELUMNYA KE DALAM PERSAMAAN DI ATAS DIPEROLEH : V a1 - V a2 = a  a2 1 1 ( a - a2 ) Vc ( 2 ) Zf Ia1 + ( a2 - a ) Vc = Zf Ia1 3 3 a a

DARI PERSAMAAN KOMPONEN SIMETRI ARUS DIPEROLEH : Ia2= -Ia1 dan V a1 = V a2 + Zf Ia1 HUBUNGAN RANGKAIAN URUTAN

66

CONTOH SOAL :

SISTEM DATA VOLTAGE RATING 25 KV 13.8 KV 25/230 KV 13.8/230 KV 230 KV 230 KV 230 KV X1 X2 X3

ITEM G1 G2 T1 T2 TL12 TL23 TL13

MVA RATING 150 200 100 100 100 100 100

0.2 0.2 0.05 0.05 0.1 0.1 0.1

0.2 0.2 0.05 0.05 0.1 0.1 0.1

0.2 0.2 0.05 0.05 0.1 0.1 0.1

Pa Basses 100 MVA 25 KV 230 KV 13.8 KV I= I= I= 100 0.025 3 100 0.23 3 100 = 2310 A = 231 A = 4184 A

0.0138 3

67

RANGKAIAN URUTAN NOL

RANGKAIAN URUTAN POSITIF

RANGKAIAN URUTAN NEGATIF

68

MENENTUKAN IMPEDANSI PENGGANTI THEVENIN URUTAN NOL

MENENTUKAN IMPEDANSI PENGGANTI THEVENIN URUTAN POSITIP(= URUTAN NEGATIP) RANGKAIAN PENGGANTI THEVENIN URUTAN NOL

RANGKAIAN PENGGANTI THEVENIN URUTAN POSITIP

RANGKAIAN PENGGANTI THEVENIN URUTAN NEGATIP

69

HUBUNG SINGKAT TIGA PHASA KE TANAH

V0 = I0 = V2 =I2 = 0 10 0 = - j 5.71 I1 = j 0.175 V1 = 0


Va 0 V = ? A = TEG. PHASA b A 0 Vc 0 TANAH 0 0 DARI TITIK GANGGUAN TERHADAP 0

ARUS PHASA

I a 1 1 I = 2 b 1 a I c 1 a

1 a a2

0 0 5.71  90  j5.71 = 5.71150 0 5.7130 0 0

DARI TITIK GANGGUAN KE TANAH

70

HUBUNG SINGKAT SATU PHASA KE TANAH

I0 = I1 = I2 =

10 0 j 0.199  j 0.175  j 0.175

= - j 1.82
I a 1 1 ARUS PHASA : I b = 1 a 2 I c 1 a 1 a a2  j1.82  j 5.46  j1.82 = 0  j1.82 0

DARI TITIK GANGGUAN KE TANAH

V0 = -j0.199(-j1.82) = -0.362 V1 = 1 j0.175(-j1.82) = 0.681 V2 = -j0.175(-j1.82) = -0.319

71

TEG. PHASA

Va 1 1 V = 1 a 2 b Vc 1 a

1 a a2

0  0.362 DARI TITIK 0.681 = 1.022 238 0 GANGGUAN KE TANAH  0.319 1.022 122 0

72

GENERATOR G1 (Bus 4) If = -j 1.82 I1 = I2 =


1 If 2

= - j0.91 I0 = ARUS PHASA :


0.15 (-j 1.82) = -j0.62 0.29  0.15 I a 1 1 I = 2 b 1 a I c 1 a 1 a a2
0  j 0.62 2.44  90 DARI  j 0.91 = 0.29  90 0 GENERATOR G1  j 0.91 0.29  90 0

V0 = -(-j0.62)(j0.14) = -0.087 V1 = 1 j0.2(-j0.91) = 0.818 V2 = -j0.2(-j0.91) = 0.182 DARI TERMINAL GENERATOR G1 THD TANAH

TEG. PHASA :

Va 1 1 V 2 b = 1 a Vc 1 a

1 a a2

0.5490 0  0.087 0.818 = 0.959 245 0 0.959115 0  0.182

73

`HUBUNGAN SINGKAT ANTARA PHASA KETANAH

I1 !

10 !  j 3.73 j 0.175( j 0.199) j 0.175  j 0.175  j 0.199

I0 !

0.175 ( j3.73) !  j1.75 0.175  0.199

I2 !

0.199 ( j3.73) !  j1.99 0.175  0.199


I a 1 1 I ! 1 a 2 b I c 1 a

ARUS PHASA DARI TITIK GANGGUAN KE TANAH

1 j1.75 0 !  j 3.75 ! 5.60152 .10 a a 2 j1.99 5.60 27.9 0

V0 = V1 = V2 = - (j1.75)(j0.199) = 0.348

74

TEGANGAN PHASA DARI GANGGUAN TERHADAP TANAH

va 1 1 V ! 1 a 2 b Vc 1 a

1 0.348 1.044 a 0.348 ! 0 a 2 0.348 0

HUBUNG SINGKAT ANTAR PHASA

0.199

I0 I + V0

Rangkaian urutan nol 0.175


I1

+
10

Rangkaian urutan positif 0.175


I2

V1

+
V2

Rangkaian urutan negatif

I1 ! I 2 ! I0 ! 0

10 0 !  j 2.68 j 0.175  j 0.175

I a 1 1 2 GANGGUAN ANTAR PHASA I b ! 1 a I c 1 a TERHUBUNG SINGKAT

ARUS PHASA PADA TITIK

1 0 1 .0 a  j 2.86 !  4.95 a 2  j 2.86  4.95

75

V1 ! V2 ! I 1 ( j 0.175) ! 0.5
V0 ! 0

TEGANGAN PHASA PADA TITIK GANGGUAN TERHADAP TANAH.

v a 1 1 V ! 1 a 2 b Vc 1 a

1 0 1.0 a 0.5 !  0.5 a 2 0.5  0.5

76

MASALAH STABILITAS DALAM SISTEM TENAGA LISTRIK DALAM KEADAAN OPERASI YANG STABIL DARI SISTEM TENAGA LISTRIK, TERDAPAT KESEIMBANGAN ANTARA DAYA INPUT MEKANIS PADA PRIME MOVER DENGAN DAYA OUTPUT LISTRIK (BEBAN LISTRIK) PADA SISTEM. DALAM KEADAAN INI SEMUA GENERATOR BERPUTAR PADA

KECEPATAN SINKRON. TERUTAMA JIKA TERJADI GANGGUAN, MAKA SESAAT AKAN TERJADI PERBEDAAN YANG BESAR ANTARA DAYA INPUT

MEKANIS DAN DAYA OUTPUT LISTRIK DARI GENERATOR. KELEBIHAN DAYA MEKANIS PERCEPATAN TERHADAP PADA DAYA LISTRIK ROTOR

MENGAKIBATKAN

PUTARAN

GENERATOR ATAU SEBALIKNYA. BILA GANGGUAN TIDAK DIHILANGKAN DENGAN SEGERA, MAKA PERCEPATAN / PERLAMBATAN PUTARAN ROTOR GENERATOR AKAN SISTEM. MENGAKIBATKAN HILANGNYA SINKRONISASI DALAM

77

STABILITAS SISTEM TENAGA LISTRIK KEMAMPUAN SUATU SISTEM TENAGA LISTRIK ATAU BAGIAN DAN

KOMPONENNYA

UNTUK

MEMPERTAHANKAN

SINKRONISASI

KESEIMBANGAN DALAM SISTEM. BATAS STABILITAS SISTEM:

DAYA MAKSIMUM YANG DAPAT MENGALIR MELALUI SUATU TITIK DALAM SISTEM TANPA MENYEBABKAN HILANGNYA STABILITAS. BERDASARKAN SIFAT DAN BESARNYA GANGGUAN, MASALAH

STABILITAS DALAM SISTEM TENAGA LISTRIK DIBEDAKAN ATAS: STABILITAS STEDY-STATE STABILITAS TRANSIENT STABILITAS DINAMIS

GANGGUAN TERHADAP STABILITAS: GANGGUAN KECIL : FLUKTUASI BEBAN GANGGUAN BESAR (BERSIFAT MENDADAK): HUBUNG SINGKAT, PELEPASAN BEBAN MENDADAK, DSB.

STABILITAS STEADY-STATE : KEMAMPUAN DARI SUATU SISTEM TENAGA MEMPERTAHANKAN SINKRONISASI ANTARA MESIN-MESIN DALAM SISTEM SETELAH

MENGALAMI GANGGUAN KECIL.

78

STABILITAS TRANSIENT : KEMAMPUAN DARI SUATU SISTEM TENAGA MEMPERTAHANKAN SINKRONISASI SETELAH MENGALAMI GANGGUAN BESAR YANG

BERSIFAT MENDADAK SELAMA SEKITAR

SATU SWING (YANG

PERTAMA) DENGAN ASUMSI BAHWA PENGATUR TEGANGAN OTOMATIS (AVR) DAN GOVERNOR BELUM BEKERJA.

SATBILITAS DINAMIS : BILA SETELAH SWING PERTAMA (PERIODE STABILITAS TRANSIENT) SISTEM BELUM MAMPU MEMPERTAHANKAN SINKRONISASI SAMPAI SISTEM MENCAPAI KEADAAN SEIMBANG YANG BARU. (ADALAH STABILITAS TRANSIENT BILA AVR DAN GOVERNOR BEKERJA CEPAT DAN DIPERHITUNGKAN DALAM ANALISIS).

PENGERTIAN HILANGNYA SINKRONISASI

KETIDAKSEIMBANGAN ANTARA DAYA PEMBANGKIT DAN BEBAN MENIMBULKAN SUATU KEADAAN TRANSIENT YANG MENYEBABKAN ROTOR DARI MESIN SINKRON BERAYUN KARENA ADANYA TORSI YANG MENGAKIBATKAN PERCEPATAN ATAU PERLAMBATAN PADA ROTOR TERSEBUT. BILA TORSI TERSEBUT CUKUP BESAR, MAKA SATU ATAU LEBIH DARI MESIN SINKRON TERSEBUT AKAN KEHILANGAN

SINKRONISASINYA.

MISAL TERJADI KETIDAKSEIMBANAGAN YANG DISEBABKAN OLEH ADANYA PEMBANGKITAN YANG BERLEBIHAN, MAKA SEBAGIAN BESAR DARI ENERGI YANG BERLEBIHAN AKAN DIUBAH

79

MENJADI ENERGI KINETIK YANG MENGAKIBATKAN KECEPATAN SUDUT ROTOR BERTAMBAH BESAR. WALAUPUN KECEPATAN ROTOR BERTAMBAH BESAR, TIDAK BERARTI BAHWA SINKRONISASI DARI MESIN TERSEBUT AKAN HILANG. FAKTOR YANG MENENTUKAN ADALAH PERBEDAAN SUDUT ROTOR / DAYA ANTARA MESIN-MESIN DALAM SISTEM, DIMANA SUDUT ROTOR / DAYA TERSEBUT DIUKUR TERHADAP REFERENSI PUTARAN SINKRON.

PERHATIKAN GAMBAR DIBAWAH INI YANG MENUNJUKKAN SUDUT ROTOR/DAYA MESIN DALAM SISTEM 4 MESIN SEBAGAI FUNGSI WAKTU SELAMA KEADAAN TRANSIENT.

SEMUA
SUDUT ROTOR (RAD)

SUDUT

ROTOR

MENINGKAT TETAPI PERBEDAAN SUDUT ROTOR DARI SEMUA

3 T 4
T 2 T

MESIN KECIL DAN SUDUT-SUDUT TERSEBUT MENUJU POSISI YANG BARU.

WAKTU, t

SISTEM STABIL SEMUA MESIN TERPISAH MENJADI DUA KELOMPOK TANPA ADANYA
SUDUT ROTOR (RAD)

KEMUNGKINAN BERTEMU PADA SUATU TITIK.

T
3 T 4 T 2 T 4

SISTEM TAK STABIL

WAKTU, t

80

FAKTOR FAKTOR UTAMA DALAM MASALAH STABILITAS

TORSI INPUT PM

INERSIA

TEGANGAN INTERNAL REAKTANSI

INERSIA TORSI OUTPUT SL

PM G X M SL

: : : : :

PRIME MOVER GENERATOR SINKRON REAKTANSI SALURAN MOTOR SINKRON SUMBU BEBAN

1.FAKTOR MEKANIS :  TORSI INPUT PRIME MOVER  INERSIA DARI PRIME MOVER DAN GENERATOR  INERSIA MOTOR DAN SUMBU BEBAN  TORSI OUTPUT SUMBU BEBAN 2.TORSI ELEKTRIS :

 TEGANGAN INTERNAL DARI GENERATOR SINKRON  REAKTANSI SISTEM  TEGANGAN INTERNAL DARI MOTOR SINKRON

81

P = fs ( )

DARI GENERATOR SEREMPAK DENGAN ROTOR BULAT (NON SALIENT POLE)

Xs T E I

INFINITE BUS

E = V + JI Xs

E
E IXs ! sin(90  J ) sin H

H J I V
I cos J ! E sin H Xs

P ! VI cos J (DAYA YANG DIBANGKITKAN OLEH GENERATOR)


P! VE sin H Xs
Pmax P

Po

Y-Axis HS

90 0

82

P = fs( H ) DARI GENERATOR SEREMPAK DENGAN KUTUB MENONJOL (SALIENT POLE)

E ! V  I d ( jX d )  jI q ( jX q )

! V  jI d X d  jI q jX q  jI d X q  jI d X q

! V  ( I d  jIX q )( jX q )  jI d ( X d  X q )

E ! V  jIX q  jI d ( X d  X q )

DIMANA : I ! I d  jI q
Iq jI d X d  X q E  Iq X q

H J V Id I jI d X q

jIX q

jI d X d

I cos J ! I q cos H  I d sin H O H J a c b y oa ! I q cos H Iq x

I cos J ! ob
! oa  ab

ab ! ac  cb
! x sin H  y sin H ! x  y sin H V ! I d sin H

Id

83

V sin H ! I q X q

V cos H ! E  I d X d P ! VI cos J V 2 X d  X q VE !V sin H  sin 2H 2X d X q Xd P! V 2 X d  X q VE sin H  sin 2H Xd 2X d X q

Iq !
Id !

V sin H Xq
E  V cos H Xd

V 2 ( X d  xq ) VE sin 2H sin H  Xd 2 X d xq

VE sin H Xd

V 2(X d  X q ) 2X d X q

Sin2H

84

CONTOH SOAL

Infinite Bus X gen Xe Trafo Transmisi dll

GS
Eg Eg

E~ = 1.0 pu

SUATU ALTERNATOR TURBO 2 KUTUB TERHUBUNG SISTEM YANG BESAR DENGAN NAME PLATE DATA SEBAGAI BERIKUT: 100 MVA, 2 POLE, 50 HZ, 85%P.F., 13.2 kV (L-L) Xd = 100%, Xq = Xq = 96%, Xd = 20% Xe = 50% UNTUK KEADAAN KERJA DIMANA ARUS YANG MENGALIR NOMINAL, DENGAN FAKTOR KERJA 1.0 PADA INFINITE BUS, TENTUKAN P vs H UNTUK KEADAAN STEADY STATE DAN TRANSIENT. STEADY STATE: P! Eg E b Xd Xe sin H 
2 E b _X d  X e  X q  X e a sin 2H 2 X d  X e X q  X e

TRANSIENT:
2 ' ' a E b _X d  X e  X q  X e P! ' sin H  sin 2H ' ' Xd  Xe 2 X d  X e X q  X e ' Eg E b

85

STEADY STATE

Id(Xd- Xq)

IqXq Eg

IaXq

IdXd

Iq

E1

IqXe

IaXe IdXe

Ia = 1.0 pu E~ = 1.0 pu Id

P!

1.81 1.0 sin H


1.5

1.0 2 .0  0.96 1 sin 2H 2 .5 .46 1 1

= 1.20 sin H + 0.0091 sin 2 H } 1.2 sin H

86

TRANSIENT

Id(Xq - Xd) IaXq

Eg

IqXq

IdXd Iq E1 IqXe

IaXe IdXe

Ia = 1.0 pu E~ = 1.0 pu Id

P!

0.20  0.50

1.15 1.0 sin H

1.0 2 0.20  0.96 sin 2H 2 0.70 .46 1

= 1.65 sin H - 0.372 sin 2H

87

KURVA P vs H

6
Transient 1.65sinH  0.372sinH Y-Axis

1.65sinH Steadystate 1.2sinH

 0.372sin 2H

88

STABILITAS STEADY STATE

Electrical Power E1 E 2 sin H X Mechanical PE !

Y-A is

PM

TITIK KERJA STEADY STATE ADALAH SUATU KEADAAN DIMANA DAYA LISTRIK YANG DIBANGKITKAN GENERATOR (PE) SEIMBANG DENGAN DAYA MEKANIS DARI TURBIN (PM). PERUBAHAN SUDUT TITIK KERJA TERSEBUT (H0 ) AKAN MENGAKIBATKAN KETIDAKSEIMBANGAN DAYA YANG AKAN MEMPERCEPAT / MEMPERLAMBAT KECEPATAN ROTOR KE TITIK KERJA YANG BARU.

P MA

PE " PM H " HS RotorDeclerates OperatingPo int PE ! PM


PE H PM HS

Power ! PM

RotorAccelerates HS 90 o 180 o

89

PERS.P vs H :

Xg Ig

Xm Im Hg

Eg

IgXE Ig

Eg

vt

Em

Hm Em

ImXm

P!

Eg Em X total

sin g  H m H

Pmax !

Eg Em X total

UNTUK MENAIKKAN BATAS STABILITAS : a. MEMPERBESAR E g b. MEMPERBESAR E m c. MEMPERKECIL REAKTANSI TOTAL SISTEM ANTARA E g& Em
MENGGUNAKAN DUA SALURAN PARALEL. MENGGUNAKAN KAPASITOR SERI.

90

STABILITAS TRANSIENT

P MAX 3 PDECEL Y-A is St bl 4 Turbi Pow r

PM

Pow r 2

GAMBAR DIATAS MENUNJUKKAN PERILAKU SUATU GENERATOR DALAM KEADAAN GANGGUAN. 1. TITIK KERJA AWAL(SEBELUM TERJADI GANGGUAN) 2. TIMBUL GANGGUAN YANG MENGAKIBATKAN DAYA OUTPUT GENERATOR TURUN SECARA DRASTIS. SELISIH ANTARA DAYA OUTPUT LISTRIK TERSEBUT DAN DAYA MEKANIS TURBIN MENGAKIBATKAN ROTOR GENERATOR MENGALAMI PERCEPATAN, SEHINGGA SUDUT ROTOR / DAYA BERTAMBAH BESAR. 3. PADA SAAT GANGGUAN HILANG, DAYA OUTPUT GENERATOR PULIH KEMBALI PADA HARGA YANG SESUAI DENGAN KURVA P H DI ATAS.

U st bl PACCEL

HS

90 o

180 o

91

4. SETELAH GANGGUAN HILANG, DAYA OUTPUT GENERATOR MENJADI LEBIH BESAR DARIPADA DAYA MEKANIS TURBIN. HAL INI MENGAKIBATKAN PERLAMBATAN PADA ROTOR GENERATOR. BILA TERDAPAT TORSI LAWAN YANG CUKUP SETELAH GANGGUAN HILANG UNTUK MENGIMBANGI PERCEPATAN YANG TERJADI SELAMA TERJADINYA GANGGUAN, GENERATOR AKAN STABIL SETELAH AYUNAN (SWING) YANG PERTAMA DAN KEMBALI KE TITIK KERJANYA DALAM WAKTU KIRA-KIRA 0.5 DETIK. BILA KOPEL LAWAN TERSEBUT TIDAK CUKUP BESAR, SUDUT ROTOR / DAYA AKAN TERUS BERTAMBAH BESAR SAMPAI SINKRONISASI DENGAN SISTEM HILANG.

92

TENAGA KINETIS ROTASI : K.E.=


1 J[ 2 JOULES 2

DIMANA J = JOULE SEC2/RAD2


[ = RAD/SEC.

DI DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA, ENERGI TERSIMPAN (STORED ENERGY) DALAM MESIN BIASA DINYATAKAN DALAM MEGA JOULES DAN SUDUT DALAM ELECTRICAL DEGREES (DERAJAT LISTRIK). SEHINGGA MOMENTUM SUDUT(ANGULAR MOMENTUM) M DINYATAKAN SEBAGAI BERIKUT : MEGA JOULE-SECS ELECTRICAL DEGREES

ATAU

MEGAWATTS_________ (ELECTRICAL DEGREES/SEC 2)

DAN, KONSTANTA INERTIA H DINYATAKAN SEBAGAI BERIKUT :

STORED MEGA JOULES RATING MESIN (MVA)

MEGA JOULES G

93

HUBUNGAN ANTARA M DAN H ADALAH SEBAGAI BERIKUT : K.E. =


1 J[ 2 MEGA JOULES 2 1 M[ MEGA JOULES 2

= gH M =
gH 1 w 2

MEGA JOULES =
g 180

M BIASA DIGUNAKAN DALAM PERSAMAAN AYUNAN ROTOR (SWING) YANG DINYATAKAN DALAM P DENGAN SATUAN MEGA WATTS.

H BIASA DIGUNAKAN DALAM PERSAMAAN AYUNAN ROTOR (SWING) YANG DINYATAKAN DALAM TORQUE (KOPEL) DENGAN SATUAN NEWTON METERS.

M TERGANTUNG PADA RATING DAN TYPE MESIN H NILAINYA SEDIKIT BERUBAH TERHADAP SIZE/KAPASITAS DAN TYPE DARI MESIN. (4 7 UNTUK TURBO-ALTERNATOR, 2-4 UNTUK HYDRO ALTERNATOR).

94

PERSAMAAN AYUNAN (SWING EQUATION) UNTUK GERAK ROTASI BERLAKU :  JH + TD H + Tmax sin H = Tshaft DIMANA : J TD Tmax sin H
H

: MOMEN INERSIA : KOEFISIEN REDAMAN : ELECTRO MAGNETIC TORQUE YANG DIBANGKITKAN : TORQUE ATAU POWER ANGLE

BILA REDAMAN DIABAIKAN, MAKA PERSAMAAN DIATAS MENJADI :  JH + Tmax sin H PERSAMAAN SWING  MH + Pmax sin H = Pshaft (DINYATAKAN DALAM POWER) = Tshaft ( DINYATAKAN DALAM TORQUE)

95

KRITERIA LUAS SAMA (EQUAL AREA CRITERION) PERSAMAAN SWING :  MH + Pem = Psh DIMANA, Pem = Pmax sin H PENYELESAIAN DARI PERSAMAAN DIATAS MERUPAKAN BENTUK OSILASI (UNTUK KEADAAN STABIL). BILA UNTUK SUATU PERSAMAAN SWING DAPAT DITUNJUKKAN BAHWA NILAI DARI PADA H MENCAPAI MAKSIMUM DAN KEMUDIAN BERKURANG, MAKA SISTEM DAPAT DIANGGAP STABIL. MAKA HARUS DIPENUHI :
dH =0 dt

UNTUK MAKSIMUM YANG PERTAMA JADI PERSYARATAN UNTUK STABIL HARUS DIPENUHI
dH =0 dt

UNTUK SUATU PERSAMAAN SWING DARI SUATU SISTEM.  MH + Pem = Psh  MH = Psh - Pem p x H
2 M

 MHH = ( Psh - Pem ) H p x


2 ( Psh - Pem ) H M

 H 2 H

96

d  2 dH H2 = p x dt ( Psh - Pem ) dt M dt 2 2 ( Psh - Pem ) dH dH = M

2 H

2 ( Psh - Pem ) dH + K M

ATAU
2 H

2 M

H H0

( Psh - Pem )

H H
H H0

= = 0

2 H H ( Psh  Pem ) d H M 0

( Psh - Pem ) dH = 0

H H0

Psh d H

= H0

Pem d H

LUAS SAMA

97

H0
H

H
0

sh

d H

= LUASAN a-b-c-d-0

H
0

em

d H

= LUASAN 0-b-e-c-d

H
0

sh

d H

H
0

em

d H

MAKA : LUASAN a-b-0 = LUASAN b-c-e

 "!

Pem ! Pm

98

PENERAPAN METODA LUAS SAMA

99

100

A1 ! Pch H c  H 1  r1 Pm sin H dH
H1

Hc

! Psh H c  H 1  r1 Pm cos H c  cos H 1


Hm

A1 !

r P
2 Hc

sin H dH  Psh H m  H c

! r2 Pm cos H c  cos H m  Psh H m  H c

UNTUK STABIL HARUS DIPENUHI A1 = A2 DIPEROLEH NILAI H c (SUDUT KRITIS)


P / P H  H 1  r2 cos H m  r1 cos H 1 H c ! cos 1 sh m m r2  r1

CATATAN :

P sh ! P m sin H 1 P sh ! r 2 P m sin H
H 1 ! sin
1

P sh Pm P sh R 2 Pm

H1 <

4 2 4 2

! sin

1

Hm <

101

CONTOH :

GENERATOR

2 x 30 MVA, 3 PHASA, 50 HZ Xd = 63.8%, Xd = 25.4%, X2 = 28.9% (REAKTANSI EKIVALEN 2 GEN)

TRAFO

MASING-MASING 60 MVA, 3 PHASA, 50 HZ X1 = X2 = X0 = 8 %

TRANSMISI

66 KV SINGLE LINE : X1 = X2 = 39.7 ;, X0 = 138.2 ; DOUBLE LINES : X1 = X2 = 19.8 ;, X0 = 108.2 ;

INFINITY BUS

Eb = 0.95 pu MENYERAP DAYA : 50 MW DENGAN pf : 1.0

PENYESELAIAN : BASE MVA : BASE KV : 60 MVA 66 KVL-L ATAU 38.1 KV L-N (TRANSMISI) 60.000 3.55

I BASE !

! 525 A

Z BASE !

66 2 ! 72.6 ; 60

102

SALURAN TRANSMISI
39.7 ! 0.547 pu 72.6

SINGLE LINE

X1 = X2 = X0 =

138.2 ! 1.90 pu 72.6 19.8 ! 0.274 pu 72.6

DOUBLE LINES

X1 = X2 = X0 =

108.2 ! 1.49 pu 72.6

SISTEM SEBELUM TERJADI GANGGUAN

BEBAN : 50 MW = I=

50 ! 0.833 pu 60

0.833 ! 0.877 0 o pu ( pf. = 1.0 ) 0.95

EC = 0.95 + 0.877(j0.08) = 0.95 + j0.072 = 0.95 4.2o EB = 0.95 + 0.877(j0.354) = 0.95 + j0.31 = 1.004 18o EA = 0.95 + 0.877(j0.434) = 0.95 + j0.381 = 1.023 22o Eg = 0.95 + 0.877(j0.688) = 0.95 + j0.603 = 1.124 32.4o

103

PENENTUAN PERSAMAAN PERSAMAAN KURVA P vs H SEBELUM GANGGUAN TERJADI :

P!

' E g Eb
$

XT

sin H !

1.124 0.95 sin H


0.688 sin H

= 1.55

HUBUNG SINGKAT SATU PHASA KE TANAH

P!

1.124 0.95 sin H


1.15

! 0.925 sin H

104

HUBUNG SINGKAT ANTAR PHASA

P!

1.124 0.95 sin H


1.34

! 0.795

sin H

105

P!

1.124 0.95 sin H


2.90

! 0.367

sin H

HUBUNG SINGKAT TIGA PHASA

P!

1.124 0.95 sin H


b

! 0 sin H

106