Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI HISTOLOGI HEWAN PENGAMATAN HISTOLOGY OF CARDIOVASKULER SYSTEM, RESPIRATORY SYSTEM, URINARY SYSTEM AND BLOOD

SYSTEM

OLEH DEWI KARTIKA SARI S 105090107111012

LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2011

Lembar Pernyataan Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa laporan yamg berjudul Anatomi Histologi Hewan Pengamatan Histologi Pada Kelenjar Endokrin dan Jaringan Saraf ini adalah hasil kerja saya sendiri dan tidak mengandung unsur plagiarism pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya dan tanpa paksaan. Malang, 28 Mei 2011

DEWI KARTIKA SARI S 105090107111012

Dewi Kartika Sari S, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang Abstrak

Histology adalah ilmu yang mempelajari tentang jaringan, dimana ilmu tersebut menguraikan tentang struktur dari hewan serta tumbuhan secara terinci. Hal ini berhubungan erat dengan sel dan sistem organ. Dan juga berhubungan dengan struktur pengorganisasian sel dan jaringan serta fungsi-fungsi yang mereka lakukan. Unit terkecil dari makhluk hidup yang memiliki peranan tertentu adalah sel. Sekumpulan sel yang tersimpan dalam suatu kerangka struktur atau matriks adalah jaringan. Sedangkan jaringan-jaringan yang tersususn secara khas adalah organ. Sistem kardiovaskuler adalah sebuah sistem organ pada tubuh yang bertanggung jawab pada transportasi darah dalam tubuh. Sistem ini di bagi menjadi tiga komponene, yaitu: jantung, makrosirkulasi, mikrosirkulasi, dan system kelenjar limfe. Makrosirkulasi mencakup arteri dan vena sedangkan mikrosirkulasi merupakan pembuluh kapiler. Darah di klasifikasikan sebagai jaringan ikat di mana bahan iterselulernya berupa cairan. Darah berperan penting dalam mempertahankan komunikasi antara jaringan tubuh dengan oksigen. Fungsi lain dari darah adalah sebagai distributor hormone-hormon. Kata kunci: histology, sistem cardivaskuler, peredaran darah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Histologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jaringan, dimana ilmu tersebut menguraikan tentang struktur dari hewan serta tumbuhan secara terinci. Hal ini berhubungan erat dengan sel dan sistem organ. Dan juga berhubungan dengan struktur pengorganisasian sel dan jaringan serta fungsi-fungsi yang mereka lakukan. Unit terkecil dari makhluk hidup yang memiliki peranan tertentu adalah sel. Sekumpulan sel yang tersimpan dalam suatu kerangka struktur atau matriks adalah jaringan. Sedangkan jaringan-jaringan yang tersususn secara khas adalah organ. Pada praktikum ini akan dibahas mengenai sistem kardiovaskuler, sistem respirasi, sistem urinary, dan sistem darah. Sistem cardiovaskuler adalah sistem peredaran darah yang menjelaskan bagaimana jalannya darah ke bagian dan seluruh tubuh, dimana sistem ini bertanggung jawab pada trasportasi darah dalam tubuh. Sistem respirasi adalah sistem pernapasan, sistem urinary adalah salah satu sistem pembuangan zat sisa hasil metabolisme, dan sistem darah adalah sistem yang menjelaskan tentang struktur atau kandungan yang menyusun darah. Oleh karena itu, sistemsistem ini penting sekali untuk dipelajari, karena sangat berpengaruh terhadap sistem-sistem yang lain. 1.2 Permasalahan 1. Bagaimana struktur, bentuk, dan susunan anatomi dan histologi dari masing-masing sistem? 2. Apa fungsi dari masing-masing sistem tersebut? 1.3 Tujuan Tujuan diadakannya praktikum ini adalah untuk mengetahui, mempelajari dan memahami struktur, bentuk, susunan, dan fungsi dari sytem cardiovaskuler, respiratory, urinary, dan blood.

1.4 Manfaat Manfaat diadakannya praktikum ini adalah supaya dapat membedakan struktur masing-masing dari sistem kardiovaskuler, respiratory urinaria, dan darah. Serta fungsi dari masing-masing sistem.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 HISTOLOGIY OF CARDIOVASKULER SYSTEM Sistem kardiovaskuler adalah sebuah sistem organ pada tubuh yang bertanggung jawab sebagai transportasi darah dalam tubuh. Sistem ini di bagi menjadi tiga kompononen, yaitu: jantung, makrosirkulasi, mikrosirkulasi, dan system kelenjar limfe. Makrosirkulasi mencakup arteri dan vena sedangkan mikrosirkulasi merupakan pembuluh kapiler. Pada pembuluh darah, dari arah lumen umumnya di bagi menjadi tiga lapis, yaitu: tunika intima, tunika media, dan tunika adventitia. Tunika intima merupakan lapisan terluar terhadap lumen, tersusun dari sel epitel pipih selapis. Tunika media tersusun dari sel otot polos, jaringan ikat yang bervariasi dan serabut elastis. Sedangkan tunika adventitia tersususun dari serabut-serabut kolagen dan elastis. 2.2 HISTOLOGY OF RESPIRATORI SYSTEM Secara fungsional, saluran pernapasan dapat dibagi dalam 3 bagian penghantar, yang terdiri dari ronggarongga dan pipa-pipa yang membawa udara dari luar tubuh ke semua bagian paru-paru, dan suatu bagian pernapasan yang terdiri dari bagian-bagian di dalam paruparu di mana terjadi pertukaran gas antara udara dan darah. Beberapa bagian dari sistem ini adalah: y Trakea Trakea terdiri dari mukosa, submukosa dan suatu lapisan tulang rawan. Tunika mukosa terdiri dari suatu epitel berlapis torak semu bersilia dengan sejumlah besar sel-sel piala yang di batasi oleh membran dasar yang mencolok yang merupakan bagian dari lamina propria, yang terutama terdiri dari jaringan retikuler atau arioler yang mengandung banyak serat elastis. Submukosa merupaka jaringan arioler yang mengandung sel-sel lemak, pembuluh darah, dan bagian-bagian sekresi kelenjar-kelenjar campuran, tunika submukosa banyak mengandung glandula sero mukosa. Sel-sel serous terwarnai dengan kuat

sedangkan sel-sel mucous kurang terwarnai. Lapisan tulang rawan tampak sebagai suatu bulan sabit tunggal berbentuk C atau U denga ujung tangahnya yang terbuka kearah belakang esophagus. Tunika adventitia merupakan jaringan ikat fibro-elastik y Bronchus Bronchus-bronchus ekstrapulmoner atau bronchus-bronchus primer, secara histologi adalah identik dengan trakea dalam semua rangkaian praktis kecuali besarnya. Dalam paru-paru, bronchus itu tersusun dalam suatu rangkaian plat berbentuk bulat sabit yang saling bertumpang tindih, yang sepenuhnya melingkari struktur itu. Adapun perbedaan antara bronchus dan trakea yaitu: epitel lebih pendek dan lebih sedikit sel goblet, lamina propia lebih padat dan lebih elastic, lapisan sub mukosa mengandung lebih sedikit glandula sero mukosa, kartilago tersusun atas lempeng-lempeng saling berhubungan. Bronchioles dan pulmo Tersusun dari epitel kolumnar selapis bersilia dan mengandung sedikit sel goblet. Bronchioles tidak mengandung kelenjar atau tulang rawan. Lamina propia merupakan jaringan ikat elastic tipis, mengandung otot polos spiral. Jaringan otot di luar lapisan otot polos berbatasan dengan alveoli.

2.3 HISTOLOGY OF URINARY SYSTEM Ginjal, ureter, kandung kemih, dan ureter merupakan komponen utam sistem urogenital. Fungsi dari sistem urogenital adalah sebagai sistem ekskresi atau pembuangan untuk zat-zat yang bersifat racun dan tidak berguna bagi tubuh. Fungsi yang lainnya yaitu: sebagai eliminator zat asing alam tubuh, sebagai regulator kandungan air dalam tubuh, sebagai pengontrol konsentrasi dari senyawa-senyawa yang terkandung dalam dalam cairan ekstraseluler. Secara fungsional, sistem eksresi pada ginjal dibagi menjadi dua tahap yaitu: filtrasi dan reabsorpsi.

Ginjal Fungsi utama dari ginjal adalah menjernihkan atau membersihkan plasma darah dari produk akhir metabolisme ketika zat-zat ini berjalan melalui alas kapiler ginjal. Korteks pada ginjal terdiri dari glomerulus dan sistem tubulus, sistem tubulus terdiri atas tubulus proksimal, tubulus distal, tubulus intermediet. Dari arah korteks menuju ke bawah ke bagian mendulla dan kemudian ke atas menuju korteks, tubulus distal dan tubulus proksimal membentuk loop of henles. tubulus dikstal dan tubulus proksimal dapat di bedakan dengan karakteristik sebagai berikut: tubulus distal memeiliki lebih banyak nucleus daripada tubulus proksimal, tubulus distal memiliki sedikit sitoplasma, lumen pada tubulus proksimal mengandung semacam serabut, tubulus proksimal lebih eosinofilik. Glomerulus dan sistem tubulus merupakan unit fungsional paling dasar yang ada pada ginjal, yang di sebut nephron. Menurut anatominya glomerulus terdiri dari dua lapisan epithelium yang di sebut kapsula bowmens. Ureter Urin terkumpul dalam pelvis ginjal dan berjalan ke arah ureter, suatu saluran kecil yang membawa ke kandung kemih. Ureter mempunyai struktur dasar sebagai berikut: Mukosa terdiri dari epitel transisional, lamina propia terdiri atas jaringan ikat yang mengandung jaringan kolagen, muscularis terdiri atas sel otot polos longitudinal, adventitia merupakan lapisan terbawah dari ureter.

2.4 HISTOLOGY OF BLOOD Darah di klasifikasikan sebagai jaringan ikat di mana bahan interselulernya berupa cairan. Darah berperan penting dalam mempertahankan komunikasi antara jaringan tubuh dengan oksigen. Fungsi lain dari darah adalah sebagai distributor hormon-hormon. Unsur yang membentuk darah terdiri dari tiga macam yaitu:

Eritrosit Eritrosit tidak mengandung inti sel, di lapisi membrane plasma, mengandung hemoglobin yang mengisi hampir seluruh bagian sitoplasma. Eritrosit memiliki pergerakan yang tidak begitu aktif, namun elastic dan dapat bertahan terhadap perubahan bentuk, eritrosit berbentuk bikonkaf, tidak mengandung inti sel, tidak mengandung tidak mengandung badan golgi, sentriol, mitokondria, granula reticulum endoplasma. Eritrosit berfungsi terhadap transfor oksigen. Leukosit Leukosit lebih lanjut dibedakan menjadi leukosit bergranula, dan leukosit tak bergranula. Neutropil,basophil, eoshinopil, termasuk kedalam leukosit bergranula, sedangkan monosit dan limfosit merupakan leukosit tak bergranula. Trombosit Trombosit merupakan fragmen atau pecahan sitoplasma dari sel-sel besar yang merupakan precursor trombosit yaitu, megakaryosit. Trombosit merupakan protoplasma berbentuk cakram, berukuran kecil, dan tidak berwarrna pada darah yang mengalir.

BAB III METODE PRAKTIKUM 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada 9 Mei 2011 pukul 09.3010.30 WIB, bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang. 3.2 Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan pada praktikum ini adalah LCD, preparat awetan, Sedangkan peralatan yang digunakan pada praktikum ini adalah alatan tulis, dan pensil warna. 3.3 Skema kerja

System Cardiovaskuler, Respiratory, Urinary, and Blood


Spesimen awetan dari sistem ditampilkan Gambarnya melalui bantuan LCD Bentuk, struktur, serta susunannya Digambar sesuai gambar yang Ditampilkan Diberi warna bagiannya sesuai dengan Warna pada gambar tampilan Diberi keterangan bagian-bagiannya dari Dari masing-masing gambar

Histologi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 HISTOLOGI OF CRDIOVASKULER Sistem kardiovaskuler adalah sebuah sistem organ pada tubuh yang bertanggung jawab sebagai transportasi darah dalam tubuh. Sistem ini di bagi menjadi tiga kompononen, yaitu: jantung, makrosirkulasi, mikrosirkulasi, dan system kelenjar limfe. Makrosirkulasi mencakup arteri dan vena sedangkan mikrosirkulasi merupakan pembuluh kapiler. Pada pembuluh darah, dari arah lumen umumnya di bagi menjadi tiga lapis, yaitu: tunika intima, tunika media, dan tunika adventitia. Tunika intima merupakan lapisan terluar terhadap lumen, tersusun dari sel epitel pipih selapis. Tunika media tersusun dari sel otot polos, jaringan ikat yang bervariasi dan serabut elastis. Sedangkan tunika adventitia tersususun dari serabut-serabut kolagen dan elastis. 4.1.1 RESPIRATORI SISTEM Secara fungsional, saluran pernapasan dapat di bagi dalam bagian penghantar, yang terdiri dari rongga-rongga dan pipa-pipa yang membawa udara dari luar tubuh ke semua bagian paru-paru, dan suatu bagian pernapasan yang terdiri dari bagianbagian di dalam paru-paru di mana terjadi pertukaran gas antara udara dan darah. Beberapa bagian dari system ini adalah:

1. TRAKEA keterangan gamabar 1. 2. 3. 4. 5. Tulang rawan Submukosa Lamina propia Lapisan mukosa Respiratori epithelium

Gambar 1. Pengamatan trakea

Gambar 2. Literature trakea

Trakea terdiri dari mukosa, submukosa dan suatu lapisan tulang rawan dan oto yang bersesuaian dengan muskularis dari saluran pencernaan. lapisan mukosa terdiri dari suatu epitel berlapis torak semu bersilia dengan sejumlah besar sel-sel piala yang di batasi oleh membrane dasar yang mencolok yang merupakan bagian dari lamina propria, yang terutama terdiri dari jaringan retukuler atau areoler yang mengandung banyak serat elastic. Dipinggiran luar lamina propia, serat-serat elastic kasar tersusun secara membujur untuk membentuk suatu membrane atau lamian elastic yang relative kompak. Lamina ini padat dibandingkan dengan muskularis mukosae dari saluran pencernaan. Lapisan submukosa merupaka jaringan areoler, mengandung sel-sel lemak, pembuluh darah, dan bagian-bagian sekresi kelenjar-kelenjar campuran, tunika submukosa banyak mengandung glandula sero mukosa. Sel-sel serous terwarnai denga kuat sedangkan sel-sel mucous kurang mewarnai. Lapisan tulang rawan tampak sebagai suatu bulan sabit tunggal berbentuk C atau U dengan ujung canggahnya yang terbuka kearah belakang esophagus. Canggah-canggah tersebut dapat bercabang sehingga lebih dari satu potong tulang rawan. Pita sera-serat otot polos yang tersusun melintang tampak antar canggah-canggah tersebut dan terkadang terlihat tersisip dalam perikondrium. Tinika adventitia merupakan jaringan ikat fibroelastik

2. BRONCHUS

Gambar 1. Bronkus Bronchus-bronchus ekstrapulmoner atau bronchus-bronchus primer, secara histology adalah identik dengan trakea dalam semua rincaian praktis kecuali besarnya. Dalam paru-paru, tulang rawan bronchus itu tersusun dalam suatu rangkaian plat berbentuk bulat sabit yang saling bertumpanng tindih, yang sepenuhnya melingkari struktur itu. Adapun perbedaan antara bronchus dan trakea yaitu: membrane elastic dari lamina propia trakea diganti dengan suatu lapisan otot polos, yang sepenuhnya melingkari baik epitel maupun lamina propianya yang elastic dan banyak mengandung sel serat. Kelenjar mukosa dan seromukosa lebih banyak terdapat dan lebih banyak persebarannya didalam bronkus daripada pada trakea dan seringkali meluas menembus otot dan diantar plat-plat tulang rawan yang berbatasan. Tulang rawan tunggal yang berbentuk bulan sabit diganti oleh gelangan kosentris dari bulan sabit yang bertumpang tindih, yang akhirnya akan diganti dengan kumpulan tulang rawan kecil tak teratur yang semakin mengcil.

3. BRONKIOLUS

Gambar 2. Bronkiolus Bronkiolus tidak mengandung kelenjar atau tulang rawan. Lumennya dilapisi oleh epitel selapis torak bersilia, yang tidak memiliki sel piala. Lamina propianya tipis dan elastic dan dikelilingi oleh pita-pita otot polos yang terpilin longgar dari jenis yang sama dengan yang terdapat pada bronkus.

4. PULMO

Gambar 1. Pengamatan pulmo

Gambar 2. Literatur pulmo 4.1.2 HISTOLOGI OF URINARY SYSTEM Ginjal, ureter, kandung kemih, dan ureter merupakan komponen utam sistem urogenital. Fungsi dari sistem urogenital adalah sebagai sistem ekskresi atau pembuangan untuk zat-zat yang bersifat racun dan tidak berguna bagi tubuh. Fungsi yang lainnya yaitu: sebagai eliminator zat asing alam tubuh, sebagai regulator kandungan air dalam tubuh, sebagai pengontrol konsentrasi dari senyawa-senyawa yang terkandung dalam dalam cairan ekstraseluler.

Secara fungsional, sistem eksresi pada ginjal di bagi menjadi dua tahap yaitu: filtrasi dan resorpsi. 1. GINJAL

Keterangan gambar 1. 2. 3. 4. Epitel trantitional Lamina propia Muskularis Lapisan adventitia

Gambar 1. Pengamatan ginjal

Gambar 2. Literatur ginjal Fungsi utama dari ginjal adalah menjernihkan atau membersihkan plasma darah dari produk akhir metabilisme ketika zat-zat ini berjalan melalui alas kapiler ginjal. Korteks pada ginjal terdiri dari glomerulus dan sistem tubulus, sistem tubulus terdiri atas tubulus proksimal, tubulus distal, tubulus intermediet. Dari arah korteks menuju ke bawah ke bagian mendulla dan kemudian ke atas menuju korteks, tubulus diktal dan tubulus proksimal membentuk loop of henles. tubulus dikstal dan tubulus proksimal dapat di bedakan denga karakteristik sebagai berikut: tubulus distal memeiliki lebih banyak nucleus daripada tubulus proksimal, tubulus distal memiliki sedikit sitoplasma, lumen pada tubulus proksimal mengandung semacam serabut, tubulus proksimal lebih eosinofilik. Glomerulus dan sistem tubulus merupakan unit fungsional paling dasar yang ada pada ginjal, yang di sebut nepron. Menurut anatominya glomerulus terdiri dari dua lapisan epithelium yang di sebut kapsula bowmens.

2.

Ureter Keterangan gambar 1. 2. 3. 4. 5. Scapula bowmens Podosit Glomerulus Tubulus proksimal Vasikula pole

Gambar 1. Pengamatan ureter

Gambar 2. Literature ureter

Urin terkumpul dalam pelvis ginjal dan berjalan kea rah ureter, suatu saluran kecil yang membawa ke kandung kemih.ureter mempunyai struktur dasar sebagai berikut: Mukosa terdiri dari epitel transisional, lamina pripia terdiri atas jaringan ikat yang mengandung jaringan kolagen, muscularis terdiri atas sel otot polos longitudinal, adventitia merupakan lapisan terbawah dari ureter.

4.2 HISTOLOGO OF BLOOD

Darah merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut Plasma. Secara keseluruhan darah dapat dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas, karena pada dasarnya terdiri atas unsur-unsur sel dan substansi interseluler yang berbentuk plasma. Fungsi utama dari darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh selsel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein), yang terdapat dalam eritrosit dan mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen. Darah juga mengangkut bahan bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni. Pada manusia umumnya memiliki volume darah sebanyak kurang lebih 5 liter dengan unsur-unsur pembentuknya yaitu selsel darah, platelet, dan plasma. Sel darah terdiri dari eritrosit dan leukosit, platelet yang merupakan trombosit atau keping darah,

sedangkan plasma darah pada dasarnya adalah larutan air yang mengandung :Air dan zat terlarut lainnya yang terdiri dari : - Protein plasma (albumin, globulin, fibrinogen) 7% - Senyawa Organik (As. Amino, glukosa, vitamin, lemak) 2.1% - Garam organik (sodium, pottasium, calcium) 0.9% Untuk dapat melihat perbedaan dari sel darah dengan plasma dapat dilakukan dengan cara sentrifugasi tabung hematokrit berisi darah yang telah diberi bahan anti pembekuan. Eritrosit, leukosit, plasma Dapat dilihat untuk bagian yang berwarna merah merupakan eritrosit, selapis tipis warna putih merupakan kumpulan sel-sel darah putih ( leukosit) can cairan kuning merupakan plasma.

1. Eritrosit

Gambar 1 pengamatan eritrosit

Gambar 2. Literatur eritrosit

Dalam setiap 1 mm3 darah terdapat sekitar 5 juta eritrosit atau sekitar 99%, oleh karena itu setiap pada sediaan darah yang paling banyak menonjol adalah sel-sel tersebut. Dalam keadaan normal, eritrosit manusia berbentuk bikonkaf dengan diameter sekitar 7 -8 m, tebal 2.6 m dan tebal tengah 0.8 m dan tanpa memiliki inti. Komposisi molekuler eritrosit menunjukan bahwa lebih dari separuhnya terdiri dari air (60%) dan sisanya berbentuk substansi padat. Secara keseluruhan isi eritrosit merupakan substansi koloidal yang homogen, sehingga sel ini bersifat elastis dan lunak. Eritrosit mengandung protein yang sangat penting bagi fungsinya yaitu globin yang dikonjugasikan dengan pigmen hem membentuk hemoglobin untuk mengikat oksigen yang akan diedarkan keseluruh bagian tubuh. Seperti halnya sel-sel yang lain, eritrositpun dibatasi oleh membran plasma yang bersifat semipermeable dan berfungsi untuk mencegah agar koloid yang dikandungnya tetap didalam. Banyak hal yang harus diperhatikan untuk mengungkapkan berbagai kondisi kesehatan tubuh. Misalnya tentang bentuk, ukuran, warna dan tingkat kedewasaan eritrosit dapat berbeda dari normal. Jika dalam sediaan apus darah terdapat berbagai bentuk yang abnormal dinamakan poikilosit, sedangkan selselnya cukup banyak maka keadaan tersebut dinamakan poikilositosis. Eritrosit yang berukuran kurang dari normalnya dinamakan mikrosit dan yang berukuran lebih dari normalnya dinamakan makrosit.

Warna eritrosit tidak merata seluruh bagian, melainkan bagian tengah yang lebih pucat, karena bagian tengah lebih tipis daripada bagian pinggirnya. Pada keadaan normal bagian tengah tidak melebihi 1/3 dari diameternya sehingga selnya dinamakan eritrosit normokhromatik. Apabila bagian tengah yang pucat melebar disertai bagian pinggir yang kurang terwarna maka eritrosit tersebut dinamakan eritrosit hipokromatik. Sebaliknya apabila bagian tengah yang memucat menyempit selnya dimanakan eritrosit hiperkhromatik. 1. Leukosit

Gambar 2. Leukosit

Leukosit adalah sel darah yang mengendung inti, disebut juga sel darah putih. Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap zat-zat asingan. Didalam darah manusia, normal didapati jumlah leukosit rata-rata 6000-10000 sel/mm3, bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis, bilakurang dari 5000 disebut leukopenia. Sebenarnya leukosit merupakan kelompok sel dari beberapa jenis. Untuk klasifikasinya didasarkan pada morfologi inti adanya struktur khusus dalam sitoplasmanya. Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih dapat dibedakan yaitu : 1. Granulosit Yang mempunyai granula spesifik, yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya

dan mempunyai bentuk inti yang bervariasi. Terdapat tiga jenis leukosit granuler : - Neutrofil, - Basofil, dan - Asidofil (atau eosinofil) yang dapat dibedakan dengan afinitas granula terhadap zat warna netral, basa dan asam.

2. Agranulosit Yang tidak mempunyai granula spesifik, sitoplasmanya homogen dengan inti bentuk bulat atau bentuk ginjal. Terdapat dua jenis leukosit agranuler yaitu : - limfosit (sel kecil, sitoplasma sedikit) dan - monosit (sel agak besar mengandung sitoplasma lebih banyak). Leukosit lebih lanjut di bedakan menjadi leukosit bergranula, dan leukosit tak bergranula. Neutropil,basophil, eoshinopil, termasuk kedalam leukosit bergranula, sedangkan monosit dan limfosit merupakan leukosit tak bergranula. 1.1 limfosit

keterangan gambar 1. limfosit 2. eritrosit

Gambar 1.1 pengamatan limfosit

Gambar 1.2 literatur limfosit

Limfosit dalam darah berkuran sangat bervariasi sehingga pada pengamatan sediaan apus darah dibedakan menjadi : limfosit kecil (7-8 m), limfosit sedang dan limfosit besar (12 m). Jumlah limfosit mendduki nomer 2 setelah netrofil yaitu sekitar 1000-3000 per mm3 darah atau 20-30% dari seluruh leukosit. Di antara 3 jenis limfosit, limfosit kecil terdapat paling banyak. Limfosit kecil ini mempunyai inti bulat yang kadang-kadang bertakik sedikit. Intinya gelap karena khromatinnya berkelompok dan tidak nampak nukleolus. Sitoplasmanya yang sedikit tampak mengelilingi inti sebagai cincin berwarna biru muda. Kadangkadang sitoplasmanya tidak jelas mungkin karena butir-butir azurofil yang berwarna ungu. Limfosit kecil kira-kira berjumlah 92% dari seluruh limfosit dalam darah. Limfosit mempunyai kedudukan yang penting dalam sistem imunitas tubuh, sehingga sel-sel tersebut tidak saja terdapat dalam darah, melainkan dalam jaringan khusus yang dinamakan jaringan limfoid. Berbeda dengan sel-sel leukosit yang lain, limfosit setelah dilepaskan dari sumsum tulang belum dapat berfungsi secara penuh oleh karena hars mengalami differensiasi lebih lanjut. Apabila sudah masak sehingga mampu berperan dalam respon immunologik, maka selsel tersebut dinamakan sebagai sel imunokompeten. Sel limfosit imunokompeten dibedakan menjadi limfosit B dan limfosit T, walaupun dalam sediaan apus kita tidak dapat membedakannya. Limfosit T sebelumnya mengalami diferensiasi di dalam kelenjar

thymus, sedangkan limfosit B dalam jaringan yang dinamakan Bursa ekivalen yang diduga keras jaringan sumsum tulang sendiri. Kedua jenis limfosit ini berbeda dalam fngsi immunologiknya. Sel-sel limfosit T bertanggung jawab terhadap reaksi immune seluler dan mempunyai reseptor permukaan yang spesifik untuk mengenal antigen asing. Sel limfosit B bertugas untuk memproduksi antibody humoral antibody response yang beredar dalam peredaran darah dan mengikat secara khusus dengan antigen asing yang menyebabkan antigen asing tersalut antibody, kompleks ini mempertinggi fagositosis, lisis sel dan sel pembunuh (killer sel atau sel K) dari organisme yang menyerang. Sel T dan sel B secara marfologis hanya dapat dibedakan ketika diaktifkan oleh antigen.

2.2 Eosinofil

Keterangan gambar 1. granula 2. lobus

Gambar 2.1 pengamatan eosinofil

Gambar 2.2 literatur eosinofil

Jumlah sel eosinofil sebesar 1-3% dari seluruh lekosit atau 150-450 buah per mm3 darah. Ukurannya berdiameter 1015 m, sedikit lebih besar dari netrofil. Intinya biasanya hanya terdiri atas 2 lobi yang dipisahkan oleh bahan inti yang sebagai benang. Butir-butir khromatinnya tidak begitu padat kalau dibandingkan dengan inti netrofil. Eosinofil berkaitan erat dengan peristiwa alergi, karena sel-sel ini ditemukan dalam jaringan yaang mengalami reaksi alergi. Eosinofil mempunyai kemampuan melakukan fagositosis, lebih lambat tapi lebih selektif dibanding neutrofil. Eosinofil memfagositosis komplek antigen dan antibodi, ini merupakan fungsi eosinofil untuk melakukan fagositosis selektif terhadap komplek antigen dan antibodi. Eosinofil mengandung profibrinolisin, diduga berperan mempertahankan darah dari pembekuan, khususnya bila keadaan cairnya diubah oleh prosesproses Patologi.

2.3 basofil

Gambar 2.3 Basofil

Jenis sel ini terdapat paling sedikit diantara sel granulosit yaitu sekitar 0.5%, sehingga sangat sulit diketemukan pada sediaan apus. Ukurannya sekitar 10-12 m sama besar dengan netrofil. Kurang lebih separuh dari sel dipenuhi oleh inti yang bersegmen-segmen ata kadang-kadang tidak teratur. Inti satu, besar bentuk pilihan irreguler, umumnya bentuk huruf S, sitoplasma basofil terisi granul yang lebih besar, dan seringkali granul menutupi inti, sehingga tidak mudah untuk mempelajari intinya. Granul spesifik bentuknya ireguler berwarna biru tua dan kasar tampak memenuhi sitoplasma. Granula basofil mensekresi histamin yang berperan dalam dalam proses alergi basofil merupakan sel utama pada tempat peradangan ini dinamakan hypersesitivitas kulit basofil.

2.4 monosit Monosit menyerupai limfosit, terutama dalam bentuk. Monokost mempunyai sitoplasma yang lebih banyak dari limfosit. Nukleusnya tidak selalu eksentris. Monosit berpindah dari aliran darah menjadi pemakan sel. Sel tiangnya tidak ddibedakan dalam jaringan penyambung. 2. Trombosit

Gambar 3. Trombosit Trombosit merupakan fragmen atau pecahan sitoplasma dari sell-sel besar yang merupakan precursor trombosit yaitu, megakaryosit. Trombosit merupakan protoplasma berbentuk cakram, berukuran kecil, dan tidak berwarrna pada darah yang mengalir.

BAB V PENUTUP 5.1 KESIMPULAN Sistem kardiovaskuler di bagi menjadi tiga komponen, yaitu: jantung, makrosirkulasi, mikrosirkulasi, dan system kelenjar limfe. Makrosirkulasi mencakup arteri dan vena sedangkan mikrosirkulasi merupakan pembuluh kapiler.Pada pembuluh darah, dari arah lumen umumnya di bagi menjadi tiga lapis, yaitu: tunika intima, tunika media, dan tunika adventitia. Secara fungsional, saluran pernapasan dapat di bagi dalam bagian penghantar, yaitu trakea, bronkus, bronkiolus, alveolus, dan pulmo. 5.2 Saran Sebaiknya praktikum tidak digabung menjadi 2 subbab supaya hasilnya lebih maksimal dan tidak ada kerancuan pada praktikan dalam pemahaman tentang hal yang dipraktikumkan.