Anda di halaman 1dari 6

TUGAS HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL NAMA : PEPIE DENGAH NIM : 090710033 JURUSAN : HUKUM

DOKTRIN TERITORIAL BERLAKUNYA PERJANJIAN INTERNASIONAL


Mengenai ruang lingkup teritorial berlakunya suatu perjanjian internasional, yakni, disamping ada perjanjian internasional yang diberlakukan di seluruh wilayah Indonesia, juga ada yang hanya diberlakukan di sebagian wilayah saja. Misalnya, di satu propinsi saja, atau di beberapa propinsi di satu pulau atau bagian pulau saja di wilayah Indonesia ini. Terhadap perjanjian internasional semacam ini, terutama dalam era otonomi daerah dan juga dengan adanya lembaga negara yang bernama Dewan Perwakilan Daerah (DPD) kiranya perlu

dipertimbangkan keterlibatannya sesuai dengan tugas dan wewenangnya. Bahkan jika substansinya berkenaan dengan masalah yang sangat berpotensi membahayakan daerah, mungkin juga perlu secara khusus keterlibatan rakyat daerah itu melalui referendum. Sebagai contoh fiktif, perjanjian bilateral antara Indonesia dengan salah satu negara sahabat seperti India tentang pembangunan dan pengembangan tenaga nuklir yang akan didirikan di suatu tempat di Sumatera Barat.

ASAS-ASAS HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL


PACTA SUNT SERVANDA (PASAL 26 KONVENSI WINA TAHUN 1969) Every treaty in force is binding upon the parties to it and must be performed by them in good faith. Dalam hal pentaatan perjanjian dikenal suatu prinsip yang sangat penting, yaitu Pacta Sunt Servanda (perjanjian harus ditepati). Prinsip ini sangat fundamental dalam hukum internasional dan menjadi norma imperatif dalam praktek perjanjian internasional. Prinsip ini merupakan jawaban mengapa perjanjian internasional itu mempunyai kekuatan mengikat. Dalam pasal 26 Konvensi Wina dirumuskan pengertian Pacta Sunt Servanda, bahwa setiap perjanjian mengikat terhadap pihak-pihak pada perjanjian itu harus dilaksanakan dengan iktikad baik.

PACTA TERTIIS NEC NOCENT NEC PROSUNT (PASAL 34 KONVENSI WINA TAHUN 1986) A treaty does not create either obligations or rights for a third State without its consent. Suatu perjanjian internasional tidak menimbulkan kewajiban atau hak bagi pihak ketiga tanpa adanya persetujuan pihak ketiga tersebut (lihat pasal 34 s/d 37 Konvensi). Persetujuan ini harus dinyatakan dengan tegas dalam perjanjian itu. Kewajiban pihak ketiga harus bertindak sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan dalam perjanjian, dan akan tetap terikat pada perjanjian selama pihak ketiga tidak menentukan kehendak yang lain. Yang menjadi dasar ketentuan ini yaitu suatu azas yang diterima secara umum dalam hukum internasional yang berasal dari hukum Romawi Kuno yakni Pacta tertils nec nocent nec present.

DIBUAT DENGAN KEHENDAK BEBAS (PASAL 51-52 KONVENSI WINA TAHUN 1969) Pasal 51: The expression of a States consent to be bound by a treaty which has been procured by the coercion of its representative through acts or threats directed against him shall be without any legal effect. Tentang paksaan dari wakil negara atau organisasi internasional dalam mengikatkan diri terhadap perjanjian internasional.

Pasal 51: A treaty is void if its conclusion has been procured by the threat or use of force in violation of the principles of international law embodied in the Charter of the United Nations. Dirumuskan mengenai ncaman dan paksaan pada waktu merumuskan perjanjian.

TIDAK BERTENTANGAN DENGAN IUS COGENS (NORMA DASAR) (PASAL 53 KONVENSI WINA TAHUN 1969) A treaty is void if, at the time of its conclusion, it conflicts with a peremptory norm of general international law. For the purposes of the present Convention, a peremptory norm of general international law is a norm accepted and recognized by the international community of States as a whole as a norm from which no derogation is permitted and which can be modified only by a subsequent norm of general international law having the same character. Dalam konvensi Wina tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian, pengertian jus cogens terdapat dalam Bagian V yang mengatur perihal pembatalan, berhenti berlaku dan penundaan

berlakunya perjanjian. Maksudnya adalah sebagai suatu norma yang diterima dan diakui oleh masyarakat internasional secara keseluruhan, sebagai norma yang tidak dapat dilanggar dan hanya dapat diubah oleh suatu norma dasar hukum internasional umum yang baru yang mempunyai sifat yang sama.

PENGERTIAN ASAS NON-RETROAKTIF


(PASAL 28 Konvensi Wina 1969). Dalam Blacks Law Dictionary dikatakan Retroactivie adalah extending in scope or effect to matters that have occured in the past. Di indonesia istilah yang dekat dan sering dipergunakan adalah berlaku surut. Dalam istilah hukum, retroaktif atau berlaku surut (Bahasa Latin: ex post facto yang berarti "dari sesuatu yang dilakukan setelahnya"), adalah suatu hukum yang mengubah konsekuensi hukum terhadap tindakan yang dilakukan atau status hukum fakta-fakta dan hubungan yang ada sebelum suatu hukum diberlakukan atau diundangkan. Asas non-retroaktif ini biasanya juga dikaitkan dengan asas yang ada dalam hukum pidana yang berbunyi nullum delictum noela poena sinea pravea lege poenali (Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada sebelum perbuatan dilakukan). Larangan pemberlakuan surut (non retroaktif) suatu peraturan pidana sudah menjadi hal yang umum di dunia internasional, misalnya dalam Artikel 99 Konvensi Jenewa Ketiga 12 Agustus 1949, Pasal 4 dan Pasal 28 Konvensi Wina 1969 (Vienna Convention on the Law and Treaties) yang mengatur perjanjian antara negara dan negara dan Pasal 4 dan Pasal 28 Konvensi Wina 1986 (Vienna Convention on the Law of Treaties between States and International Organizations or between International Organizations). Selain itu dapat pula dilihat dalam Pasal 11 ayat (2) Universal Declaration of Human Right 1948, Pasal 15 ayat (1) International Covenant on Civil and Political Rights1966/ICCPR, Pasal 7 European Convention for the Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms and Its Eight Protocols, Pasal 9 American Convention on Human Rights dan Rome Statute of the International Criminal Court (1998) yang tetap mempertahankan prinsip-prinsip asas legalitas, terutama dalam Pasal 22-24.

Meskipun ketentuan dalam hukum internasional menentukan demikian, bukan berarti tidak ada kecualian, artinya kesempatan untuk memberlakukan asas retroaktif tetap terbuka. Ini terjadi karena ketentuan hukum internasional tersebut di atas memberi kemungkinan untuk melakukan penyimpangan. Ini dapat dilihat dari ketentuan dalam Pasal 28 Konvensi Wina 1969 dan Pasal 28 Konvensi Wina 1986 yang rumusannya sama persis. Kemudian Pasal 64 dan Pasal 53 kedua konvensi itu juga memberi kemungkinan berlakunya asas retroaktif. Ketentuan lain dapat kita lihat dalam Pasal 103 Piagam PBB dan Pasal 15 ayat (2) ICCPR yang merupakan pengecualian terhadap Pasal 15 ayat (1).

Dari praktek hukum pidana internasional, dapat kita lihat bahwa asas retroaktif ini diberlakukan terhadap beberapa peristiwa tertentu, yang pada akhirnya praktek ini mempengaruhi pembuatan ketentuan penyimpangan atau pengecualian dari asas non retroaktif pada instrumen hukum internasional. Mahkamah pidana internasional Nuremberg 1946 dan Tokyo 1948 yang mengadili penjahat perang pada Perang Dunia II, International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia (ICTY) dan International Criminal Tribunal for Rwanda (ICTR) merupakan contoh penerapan asas retroaktif.

SEBUAH PERJANJIAN TIDAK MENCIPTAKAN KEWAJIBAN ATAU HAK BAGI SUATU NEGARA KETIGA TANPA PERSETUJUAN NEGARA TERSEBUT. (PASAL 34 Konvensi Wina 1969).
Salah satu pengaturan terpenting dalam Konvensi Wina 1969 adalah mengenai negara ketiga dalam hubungannya dengan sebuah perjanjian internasional. Perihal ketentuan tersebut, konvensi mengatur secara khusus dalam Bab III, Bagian Keempat dengan judul Treaties and Third States yang berisi lima pasal (Pasal 34-38). Pasal 34 dengan tegas menganut asas Pacta Tertiss Nec Nocent Nec Prosunt, yang menandakan bahwa perjanjian hanya mengikat bagi pihak-pihak pada perjanjian itu saja dan tidak mengikat bagi pihak ketiga. Bagi pihak ketiga, perjanjian yang telah dibuat oleh pihak lain, baik negara maupun organisasi internasional, baginya hanya merupakan kepentingan pihak lain atau res inter allios act. Bunyi klausul dalam Pasal 34, jika dikaitkan dengan adanya hak dan kewajiban yang ditanggung oleh negara ketiga, bukanlah sesuatu yang absolut. Pasal itu hanya menerangkan bahwa perjanjian tidak menimbulkan hak dan kewajiban bagi negara ketiga tanpa ada

kesepakatan. Dengan demikian, hak dan kewajiban negara ketiga atas suatu perjanjian dapat timbul (laten atau potensi), dengan persyaratan tertentu, yaitu kesepakatan dari negara ketiga. Akan tetapi dalam prakteknya ternyata terdapat beberapa instrumen perjanjian internasional yang dapat memberikan hak dan kewajiban kepada pihak yang tidak terlibat dalam perjanjian. Contoh I: Piagam PBB pasal 2 ayat 6 adalah salah satu contohnya. Pasal tersebut menentukan bahwa negara yang bukan merupakan negara anggota PBB harus bertindak sesuai dengan ketentuan dalam piagam untuk menjaga perdamian dan keamana internasional. Pasal tersebut telah dipraktekan dalam kasus Pangeran Bernadotee (1949) yang terbunuh di Israel ketika menjadi perwakilan PBB untuk mengatasi konflik Israel-Palestina. Israel yang pada saat itu belum menjadi anggota PBB (berdasarkan pendapat Mahkamah Internasional/ICJ) dimintai pertangung jawaban untuk memberikan reparasi atas peristiwa tersebut. Contoh II: Wimbledon Case Kasus ini merupakan menganai status hukum dari terusan Kiel. Terusan ini masuk melewati Jerman untuk menuju Laut Baltik dan Laut Utara. Status hukum melintasi terusan Kiel telah dinyatakan dalam Perjanjian Versailes 1919, Pasal 380-386, di mana Jerman bukanlah peserta perjanjian itu. Pasal 380 menyatakan : The Kiel Canal and approaches shall be maintained free and open to vessels of commerce and of war of all nations at peace with Germany and on terms of entire equality. Kasus bermula ketika Kapal Dagang Inggris ( Wimbledon) yang disewa oleh Perancis untuk mengangkut amunisi ke Polandia dilarang masuk ke terusan Kiel oleh pemerintah Jerman, dengan alasan jika ia memberikan izin kapal tersebut melintas maka akan merusak status Jerman sebagai negara netral dalam perang antara Polandia dan Rusia. Polandia, Inggris dan Perancis membawa Jerman ke PCIJ (Permanent Court International of Justice) karena dianggap telah melakukan tindakan yang salah. PCIJ kemudian memutuskan bahwa tindakan Jerman tidak tepat melarang Kapal Wimbledon untuk melintas. Meskipun Jerman tidak ikut dalam Perjanjian Versailes, tetapi ia memiliki

kewajiban berdasarkan kebiasaan internasional bahwa terusan Kiel merupakan perairan internasional sehingga semua kapal dapat melintasi terusan tersebut. Perjanjian netralitas antara Jerman dan Rusia merupakan suatu prinsip dalam hukum internasional. Akan tetapi hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan Jerman untuk melarang setiap kapal melewati terusan tersebut yang telah diberikan perjanjian Versailes.