Anda di halaman 1dari 20

PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN KAJIAN LINGKUNGAN PERUMAHAN CIPINANG ELOK JAKARTA TIMUR DWI KAISAR, 2011

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang. Dunia saat ini mengahadapi tantangan yang besar dalam pengelolaan lingkungan yang tidak hanya menyangkut aspek lingkungan alam, namun juga aspek lingkungan binaan dan sosial. Oleh karenanya, penyelesaian masalah lingkungan sudah seharusnya merupakan upaya terpadu yang mempertimbangkan ketiga aspek tersebut. Salah satu bentuk lingkungan buatan adalah lingkungan perumahan. Pembangunan perumahan yang sangat pesat terutama di kota besar seperti Jakarta menunjukkan geliat pertumbuhan ekonomi yang menjadi salah satu indikator kesuksesan dalam mbuhan salah kesu pembangunan. Namun di sisi lain kita juga harus memperhatikan agar pembangunan perumahan dan permukiman yang dilaksanakan berjalan seiring dengan upaya peningkatan kualitas lingkungan dan sesuai dengan daya dukungnya. sesuai Upaya mengurangi dampak buruk dari keberadaan perumahan dan pembangunan permukiman kota terhadap lingkungan adalah hal penting yang harus dilakukan dalam rangka mempertahankan keberlanjutan planet ini. Dari sisi kemanusiaan, upaya peningkatan kualitas hidup melalui pembangunan komunitas di perumahan juga merupakan hal yang harus diperhatikan. Adanya dinamika baik mobilitas maupun migrasi menyebabkan penyebaran penduduk. Komunitas yang dulu relatif homogen penduduk. kini telah jauh berubah, telah mengelompok tidak semata berdasarkan hubungan ubah, kekerabatan, kesamaan kulutural, ataupun wilayah geografi yang sempit. Perubahan tersebut telah membawa masyarakat untuk bermukim dan membangun komunitas yang lebih heterogen, berbagi atas kesamaan kepentingan, kewajiban, dan membangun hubungan yang sehat dengan sesama anggota komunitas. Dengan kata lain, masyarakat di perumahan di perkotaan saat ini adalah sekelompok orang yang memiliki komitmen bersama untuk jangka waktu tertentu bagi diri merek sendiri, mereka orang lain dalam komunitasnya maupun dengan komunitas lainnya sebagaimana yang dinyatakan oleh Shaffer (1993) dalam Roseland (2005). Johnston (1973) menyatakan bahwa beberapa ahli meletakkan keadilan sosial sebagai salah satu aspek yang sangat erat kaitannya dengan keadilan spasial. Pendapat ini meyatakan bahwa kelompok sosial dan segala interaksinya berkaitan dengan lokasi di mana kelompok tersebut berada. Dalam konteks perumahan dan permukiman, maka ompok penghuni warga lingkungan di suatu perumahan seharusnya memiliki kesetaraan dan peluang yang sama dengan kelompok lain yang tinggal di wilayah yang lain. Misalnya, masyarakat di setiap perumahan memperoleh akses yang sama ke jalan utama dan erumahan pusat bisnis. Namun kenyataannya, pembangunan perumahan di kawasan elit seringkali meminggirkan perumahan masyarakat berpenghasilan rendah. Kesenjangan yang terjadi menyebabkan masyarakat berpenghasilan rendah akan berada di berpenghasilan permukiman yang jauh dari tempat bekerja serta pelayanan pelayanan sosial ekonomi pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan. Sungguh ironis bahwa rakyat yang berpenghasilan rendah harus menempuh jarak yang lebih jauh yang mengakibatkan mereka harus mengel mengeluarkan biaya lebih banyak untuk mencapai layanan sosial sosial-ekonomi dan tempat bekerja.

Bentuk kesenjangan yang mencolok dan dapat mengakibatkan ketegangan sosial yang berlarut. Apalagi di permukiman masyarakat berpenghasilan rendah, umumnya tingkat kriminalitasnya lebih tinggi, sehingga beban sosial menjadi lebih tinggi lagi. Tidak heran jika pemerintah di negara maju seperti Inggris sangat menekankan adanya kesetaraan sosial dan spasial dalam perencanaan perumahan untuk mendorong pembentukan keluarga dan masyarakat yang berkualitas. Menurut Dinas Perumahan dan Masyarakat Inggris (2010), komunitas yang berkelanjutan harus dapat membentuk masyarakat yang kuat, kohesif, dan memiliki hubungan interaksi yang positif di lingkungan tempat tinggalnya. Selain berlimpahnya kemungkinan dan peluang terjadinya interaksi sosial, suatu perumahan juga dapat merupakan suatu tempat yang berfungsi sebagai isolasi bagi sebagian orang. Pembangunan masyarakat membutuhkan perencanaan pembangunan kota yang baik untuk mendorong terjadinya hubungan baik dalam bertetangga. Di samping itu juga membutuhkan suatu program, kebijakan, dan inisiatif yang kuat dari pemerintah untuk mendorong interaksi yang sehat termasuk menciptakan rasa aman, saling menghargai, dan kesetaraan sosial. Kesetaraan sosial tidak diartikan dengan sekedar adanya kesamaan peluang dalam komunitas, melainkan juga peluang untuk memperoleh perumahan yang layak, akses kesehatan dan pendidikan, kesempatan kerja, dan mobilitas (Roseland, 2005). Oleh karenanya, pembangunan komunitas di lingkungan perumahan seharusnya tidak hanya dikaitkan dengan hard issues dalam ranah lingkungan fisik seperti tata guna lahan, transportasi, kualitas air, dan konservasi energi, melainkan juga sebagai soft issues yang menyangkut keadilan lingkungan dan sosial kemasyarakatan. 1.2 Permasalahan. Kondisi perumahan merupakan cerminan dari kondisi masyarakat. Pembangunan perumahan seharusnya dapat membentuk pondasi keluarga yang bahagia dan masyarakat yang harmonis. Namun belum banyak perumahan yang dibangun dengan konsep yang terintegrasi dengan upaya peningkatan kualitas lingkungan dan sumber daya manusia penghuninya. Belum adanya ketersediaan data mengenai kondisi perumahan yang ada menjadi salah satu aspek yang diduga menyebabkan tidak adanya evaluasi mengenai kondisi perumahan yang ada. 1.3 Tujuan. Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui kondisi lingkungan perumahan dengan mengambil contoh Perumahan Cipinang Elok di Jakarta Timur. Melalui pengamatan dan wawancara dengan pengurus RT/RW dan warga serta berdasarkan studi literatur yang berkaitan dengan kualitas perumahan, penulis berharap dapat memberi gambaran kondisi dan kualitas lingkungan Perumahan Cipinang Elok.

1.4 Manfaat. Melalui penulisan makalah ini, diharapkan dapat memberi masukan bagi pihak terkait untuk mengevaluasi kebijakan dan meningkatkan pembangunan dalam aspek penataan ruang lingkungan perumahan di DKI Jakarta.

II. PEMBAHASAN 2.1 Perumahan Ideal. Menurut definisi dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, yang dimaksud dengan perumahan dan kawasan permukiman adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas pembinaan, penyelenggaraan perumahan, penyelenggaraan kawasan permukiman, pemeliharaan dan perbaikan, pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh, penyediaan tanah, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran masyarakat. Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni. Perumahan yang ideal dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Beragam interpretasi terhadap perumahan yang ideal pada umumnya dikaitkan dengan masalah keberlanjutan perumahan itu sendiri. Perumahan adalah faktor kunci yang memengaruhi aspek lingkungan alam dan lingkungan sosial (Gallent, 2001). Sejalan dengan hal tersebut maka perumahan yang ideal paling tidak harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: i. Nyaman (comfortable); desain ruang internal dan areal di lingkungan yang nyaman akan membantu pembentukan sistem keluarga yang harmonis. ii. Indah, berkualitas dan memiliki identitas; rancangan perumahan melambangkan keindahan, menyediakan ruang untuk tumbuh secara berkualitas dengan ciri khusus sebagai identitas perumahan tersebut. iii. Ramah (friendly); perumahan menyediakan fasilitas yang mendukung terciptanya hubungan yang baik antara warga. iv. Bersih dan harmonis; perumahan dan lingkungan di sekitarnya bersih, sehat dan selaras dengan kondisi alam. v. Lengkap (complete); memiliki fasilitas yang lengkap di dalam lingkungan perumahan. vi. Aman (safe); perumahan terletak di lokasi yang cukup aman dan terhindar dari risiko terkena bencana alam. Pembangunan perumahan sebagai bagian dari pembangunan yang berkelanjutan berwawasan lingkungan juga mutlak menerapkan prinsip sustainabilitas dalam perencanaan dan pembangunannya. Prinsip dan nilai pembangunan berkelanjutan yang dapat diterjemahkan dalam sektor perumahan yaitu: i. Justice; yaitu perumahan yang layak bagi seluruh lapisan masyarkat. ii. Compassionate; dalam arti aksesibilitas yang mensyaratkan bahwa perumahan harus mudah diakses dan terhubung dengan baik ke pusat bisinis serta lokasi strategis lain termasuk ke tempat ibadah. iii. Trustworthy and credible; yaitu perencanaan lokasi perumahan seharusnya melibatkan seluruh faktor yang terkait dengan mempertimbangkan kesesuaian secara sistematis. Misalnya perumahan perencanaan perumahan disesuaikan dengan tipologi lingkungan, karakter masyarakat lokal, dan topografi di sekitarnya. iv. Unity; yaitu perumahan yang baik memiliki orientasi layout yang memungkinkan bagi warganya untuk berkumpul bersama di suatu area publik. v. Knowledgeable; yaitu perumahan memiliki atmosfer yang kondusif bagi warganya sehingga dapat mendidik dan membangun pola pikir. Melalui upaya penyediaan

vi.

vii.

viii.

ix.

x. xi.

xii.

fasilitas seperti sekolah dan perpustakaan maka diharapkan perumahan juga dapat mendorong terciptanya masyarakat yang madani. Right of the individual and society; prinsip ini meliputi beberapa hal antara lain keamanan bagi warga perumahan terutama anak-anak dengan penyediaan sarana seperti pedestrian, jalur sepeda, dan sistem transportasi lain yang aman dan nyaman. Di samping itu perumahan juga harus dirancang agar dapat memberi rasa nyaman bagi penghuninya dengan mengatur ventilasi dan pencahayaan dan memberi ruang yang cukup bagi privasi setiap warganya. Sensitivity; tata ruang dari area perumahan cukup peka memperhatikan kebutuhan orang tua, orang cacat, dan anak-anak dengan menerapkan teknologi yang dapat membantu warganya memperoleh peningkatan kualitas hidup. Joint consultation; perumahan dibangun dengan perencanaan yang memperhatikan aspirasi masyarakat dan melibatkan peran serta masyarakat sehingga pelaksanaan pembangunan mendapat dukungan yang memadai. Friendly; yaitu adanya interaksi yang didukung oleh tata ruang yang menyediakan ruang terbuka dan ruang interaksi publik di lokasi yang memungkinkan terjadinya interaksi yang optimal. Clean and beautiful; area perumahan harus dirancang dengan memperhatikan lansekap di sekitar perumahan sehingga tetap indah dan menarik. Preservation; yaitu adanya area yang sensitif secara lingkungan di suatu perumahan harus dijaga, dilestarikan, dan diintegrasikan dalam perencanaan pembangunan perumahan tersebut. Economical and efficient; yaitu adanya variasi atau keragaman yang dicerminkan dari tersedianya berbagai tipe rumah yang layak dan dapat dijagkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam rangka mengembangkan perumahan yang memenuhi syarat keberlanjutan pembangunan maka terdapat beberapa panduan yang perlu dilakukan. Panduan tersebut mencakup arahan dalam perencanaan tapak, penataan layout dan desain, pembangunan sistem komunikasi dan pusat interaksi warga. Dalam perencanaan tapak suatu perumahan, maka faktor jarak menjadi hal yang penting diperhatikan agar lokasi perumahan tidak terlalu dekat dengan daerah industri dan sumber polutan lainnya. Jarak dan zona penyangga di sekitar perumahan diharapkan dapat menyerap polutan sehingga tidak sampai mencemari area permukiman penduduk. Desain dan konstruksi perumahan seharusnya memperhatikan topografi lingkungan, arah sinar matahari, ventilasi, dan orientasi pandang. Misalnya perumahan yang berada di daerah dengan topografi miring maka dibangun dengan tetap memperhatikan kemiringan sehingga tidak mengubah topografi alami secara drastis. Untuk menjaga keamanan perumahan dari kemungkinan bahaya longsor, pendirian bangunan hanya diperbolehkan di lahan dengan kemiringan maksimal 25o. Desain dan layout perumahan yang baik memperhitungkan pengaturan letak antar rumah yang mendukung terjadinya interaksi antar tetangga. Di samping itu perumahan juga menyediakan fasilitas ruang terbuka dan ruang publik yang nyaman, misalnya dengan taman dan RTH lainnya. Desain setiap rumah juga penting diperhatikan agar penghuninya dapat tinggal dengan nyaman di dalam rumah masingmasing.

Perumahan yang baik juga memungkinkan terjalinnya komunikasi yang baik antar warga. Salah satunya yaitu dengan membangun sarana transportasi yang memadai, aman, dan menjangkau seluruh area permukiman. Aksesibilitas yang baik dari sistem transportasi dapat mendukung terjalinnya hubungan yang harmonis dalam kehidupan bertetangga. Adanya pusat aktivitas sosial dan keagamaan bagi warga perumahan dapat meningkatkan hubungan sosial yang harmonis. Selanjutnya, keharmonisan ini dapat menjadi alat pemersatu dan dapat meminimalkan terjadinya tindak kriminal di lingkungan perumahan yang bersangkutan. Perumahan yang berkelanjutan dirancang dan dibangun dengan standar lingkungan sehingga dapat meminimalkan kebutuhan energi, mengurangi konsumsi air, menggunakan material yang diproses dengan efisien dan aman terhadap kesehatan manusia. Standar lingkungan berarti pembangunan perumahan sejalan dengan upaya pelestarian dan pengayaan keanekaragaman hayati. Rancang bangun dan orientasi rumah disesuaikan dengan iklim dan ketersediaan energi yang ada. Perumahan di Jakarta seharusnya dapat memaksimalkan cahaya matahari sebagai sumber penerangan alami dan memanfaatkan sirkulasi udara untuk mengatur kelembaban di dalam rumah. Curah hujan yang tinggi dapat dikelola sehingga pemanfaatannya dapat mengurangi penggunaan air PAM atau air tanah. Perumahan yang baik didukung oleh jaringan jalan yang dapat menghemat waktu dan biaya perjalanan, misalnya dengan akses ke transportasi umum. Penggunaan material yang awet dan didapat melalui proses pemanenan yang legal juga menjadi salah satu pertimbangan di samping proses pabrikasi yang juga harus menghindari penggunaan bahan kimia beracun. Bahan-bahan bermuatan lokal dapat dipilih untuk mengurangi transportasi material. Namun, bagaimanapun harga seringkali menjadi dominan dalam pertimbangan keberlanjutan perumahan. Jika harga rumah tidak terjangkau, maka sulit untuk benarbenar meraih keberlanjutan. 2.2 Gambaran Umum Perumahan Cipinang Elok. Perumahan Cipinang Elok dibangun pada tahun 1973 secara bertahap oleh pengembang Aneka Elok Real Estate. Saat dulu dibangun, lokasinya berada di pinggir kota, namun kini telah menjadi bagian kota yang cukup ramai karena letaknya yang strategis. Peta lokasi Perumahan Cipinang Elok terlampir. Perumahan Cipinang Elok terletak di Kelurahan Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Lokasinya terletak di antara garis lintang dan bujur 0637'30" 0637'50" LS dan 10653'25" - 10653'30" BT, diapit dua jalan utama yaitu Jalan Basuki Rahmat atau biasa disebut Jalan Baru dan Jalan Bekasi Timur Raya. Terdapat dua pintu gerbang utama yaitu Cipinang Elok I dan Cipinang Elok II yang menghadap ke Jalan Raya Cipinang Jaya. Selain itu, akses menuju perumahan dapat melalui Jalan Elok Bana, Cipinang Muara I, dan Cipinang Muara Raya. Sementara untuk kendaraan roda dua dan pejalan kaki, terdapat beberapa jalan tembus yang menghubungkan komplek ini dengan perumahan lain di sekitarnya. Secara administrasi yang lebih kecil, Perumahan Cipinang Elok termasuk ke dalam RW 10 dan terdiri dari 15 RT. Perumahan di areal seluas 32 hektar ini terdiri dari + 680

unit rumah dengan jumlah penduduk sekitar 2.968 jiwa. Status tanah dan rumah sudah bersertifkat. Unit rumah bervariasi karena telah mengalami banyak perubahan semenjak pertama kali dibangun dengan luas yang bervariasi yaitu 120, 240, dan 350 m2. Perumahan pun kini banyak yang sudah dibangun vertikal dan mengalami perubahan tinggi permukaan tanah karena wilayah perumahan ini berada di dataran yang relatif rendah dibandingkan wilayah sekitar. Kebutuhan hidup sehari-hari dapat dipenuhi di dalam kompleks melalui pasar, apotek, mini market yang didirikan oleh penghuni, pedagang keliling, dan beberapa warung. Beberapa rumah yang beralih fungsi menjadi tempat usaha ditunjukkan dalam Gambar 2.1., pada umumnya rumah yang terletak di jalan utama dan dilalui kendaraan umum, misalnya minimarket, tempat cuci mobil dan motor, dan rumah makan. Di area depan perumahan, terdapat ruko, kantor, dan SPBU yang lokasinya menghadap ke jalan raya Cipinang Jaya.

Gambar 2.1. Rumah yang Menjadi Tempat Usaha.

Sumber: Dokumentasi pribadi


Perumahan ini melakukan beberapa hal untuk menangani masalah keamanan lingkungan, seperti memasang portal yang menghubungkan ke jalan utama kompleks, patroli petugas keamanan, membangun pos jaga, dan memberlakukan buka-tutup akses masuk dan keluar kompleks di waktu malam. Keamanan perumahan oleh petugas yang telah ditunjuk dengan patroli dan berjaga di pos yang tersebar di persimpangan strategis perumahan. Sarana tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.2. Petugas dilengkapi dengan radio monitor untuk berkomunikasi dan senjata standar berupa pentungan. Secara berkala, patroli berkeliling dilakukan petugas dengan sepeda dan motor selama 24 jam dan untuk bahan evaluasi, disediakan kartu kontrol di beberapa lokasi yang harus diisi aparat yang bertugas.

Gambar 2.2. Keamanan Perumahan.

Sumber: Dokumentasi pribadi.


Aksesibilitas perumahan cukup baik ditinjau dari ketersediaan alternatif angkutan umum yang menuju ke lokasi, yaitu mikrolet M32, M31, M04, angkot KWK 36, dan metromini T52. Transportasi yang melewati rute dalam perumahan adalah mikrolet M32 sebagaimana terlihat dalam Gambar 2.3, sementara yang lain hanya sampai wilayah tertentu yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Selain itu, di dalam perumahan juga terdapat pangkalan taksi dan ojeg. Bagi penghuni yang berbelanja di pasar tersedia pilihan becak yang khusus beroperasi di dalam perumahan. Berbelanja di minimarket menawarkan kemudahan dengan layanan antar sehingga dapat mengurangi jumlah perjalanan per orang dan panjang perjalanan total. Mengurangi perjalanan adalah pilihan para perencana transportasi sekarang dibandingkan untuk mempercepat perjalanan. Hal ini disebabkan karena dampak transportasi terhadap lingkungan tidak terbatas pada dampaknya terhadap lahan, energi, dan polutan, namun lebih dari itu termasuk kebisingan dan getaran, gangguan terhadap lingkungan alam dan buatan, konsumsi sumberdaya mineral dan air, biodiversitas, dan akhirnya dapat berdampak pada kesehatan manusia dan tingkat kematian (Marshall, 2001). Sarana listrik perumahan sudah terlayani oleh jaringan PLN. Penerangan jalan dan lingkungan berfungsi baik sebagaimana terlihat pada Gambar 2.4. Mulai dari lampu penerangan di pintu utama, sepanjang jalan, di jalur hijau, taman, dan depan rumah. Air PAM Kualitas air tanah tinggi ferum, hanya digunakan untuk MCK. Sementara kebutuhan air pun sudah dipasok seluruhnya oleh PAM Palyja. Beberapa rumah tangga masih menggunakan kombinasi dengan air tanah yang biasanya hanya digunakan untuk keperluan MCK.

Gambar 2.3. Transportasi Umum di Dalam Perumahan.

Sumber: Dokumentasi pribadi.

Gambar 2.4. Penerangan Jalan dan Taman.

Sumber: Dokumentasi pribadi.


Berdasarkan observasi, kualitas udara di perumahan adalah baik. Adanya kendaraan umum yang melintas di dalam perumahan diduga merupakan salah satu kontributor emisi kendaraan bermotor. Beruntung, di sepanjang jalan utama terdapat jalur hijau dan taman yang cukup luas sehingga diharapkan dapat mengurangi dampak negatif emisi kendaraan bermotor. Beberapa lokasi, seperti di blok J, K, dan BK terdapat pool kendaraan sekelas truk kecil dan mobil boks (Gambar 2.5.). Oleh karenanya, pada jam sibuk diduga konsentrasi polutan meningkat karena aktivitas memanaskan kendaraan dan lalu lintas penghuni yang bekerja/sekolah. Lalu lintas yang cukup ramai ini membutuhkan pengaturan dari petugas keamanan agar tidak membahayakan pengguna jalan terutama orang tua dan anak-anak. Sementara di waktu lain di luar jam sibuk, tidak banyak kendaraan yang melintas di dalam perumahan. Salah satunya disebabkan karena tata letak rumah dan pusat kegiatan memungkinkan bagi penghuni untuk bersepeda atau berjalan kaki.

Gambar 2.5. Salah Satu Sumber Emisi Kendaraan Bermotor.

Sumber: Dokumentasi pribadi.

Aktivitas warga cukup beragam. Kegiatan keagamaan difasilitasi dengan baik oleh pengurus tempat ibadah. Di Masjid Al Iman, misalnya setiap subuh terdapat kajian dan ceramah setelah sholat subuh berjamaah. Di samping itu terdapat kajian keagamaan dan kegiatan pendidikan bagi siapa saja yang ingin memperdalam pengetahuan agamanya. Warga perumahan juga aktif berolahraga dan memiliki kelompok yang secara rutin berlatih, misalnya senam Waitankung, Tifanpokhan, Taichi, dan senam untuk mencegah osteoporosis. Biasanya senam dilakukan di tampat terbuka seperti taman dan di gedung serbaguna lainnya. Fasilitas umum dan sosial yang tersedia di dalam perumahan antara lain gedung RW yang berfungsi sebagai kantor dan ruang serba guna. Halaman kantor yang cukup luas dimanfaatkan untuk mengembangkan tanaman obat keluarga (toga). Sarana ibadah terdiri dari Masjid Al Iman, Gereja HKBP, dan GKI. Selain oleh warga, tempat ibadah ini juga ramai dikunjungi oleh jamaah dari luar perumahan. Sarana olah raga meliputi 3 lapangan tenis di dua lokasi yaitu di blok AG dan BJ, dua lapangan badminton indoor di blok AA dan outdoor di blok S yang kini menjadi taman. Warga perumahan juga banyak yang memanfaatkan taman dan jalan lingkungan untuk berolahraga pagi. Berbagai fasilitas umum dan sosial yang digunakan warga dapat dilihat pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6. Fasilitas Umum dan Sosial.

Sumber: Dokumentasi pribadi.


Gedung Serba Guna DKI di Blok AV juga kerap dipakai untuk kegiatan pendidikan anak-anak dan kesehatan. Setiap hari Rabu gedung ini membuka praktik dokter umum. Di samping itu terdapat dua dokter yang praktik di rumah yang siap membantu pemeriksaan untuk petugas kompleks perumahan. Warga perumahan sendiri pada umumnya berobat ke RS/klinik/dokter keluarga. Pengurus warga juga membentuk Juru Pemantau Jentik (Jumantik) yang tugasnya memantau apabila ada

timbul jentik-jentik di pekarangan rumah atau jalur hijau, serta melaksanakan fogging atau pengkabutan dalam rangka mencegah dan mengatasi wabah demam berdarah. Namun upaya pengkabutan seyogyanya menjadi pilihan terakhir dalam pengendalian wabah demam berdarah. Selain tidak selektif terhadap vektor demam berdarah, cara ini dinilai juga kurang efektif dibandingkan dengan upaya pencegahan dengan semboyan 3 M yang sudah lama disosialisasikan. Fogging hanya menyasar nyamuk dewasa untuk memutus rantai bila telah terjadi kasus demam berdarah. Dalam jangka waktu tertentu akan menjadikan nyamuk rentan dan berdampak pada menurunnya biodiversitas yang terkena racun fogging. Menurunnya keragaman hayati saat ini akan mempengaruhi kesempatan mengembangkan kualitas hidup di masa yang akan datang (Anonymous, 1972). Untuk menjalankan fungsi kebersihan, keamanan, dan pemeliharaan lingkungan, Perumahan Cipinang Elok mempekerjakan petugas keamanan sebanyak 25 orang dan petugas kebersihan yang terdiri dari 15 petugas pengangkut sampah di setiap RT, 4 petugas pembersih selokan, 1 petugas merawat biopori, 4 petugas memelihara taman, 2 petugas menyapu jalan utama, dan 3 petugas di pabrik kompos. tempat tinggal untuk petugas disediakan di dalam perumahan berupa mess atau rumah bedeng di dekat lokasi pabrik kompos. Seluruh biaya operasional, gaji, dan honor petugas berasal dari swadaya masyarakat berupa iuran bulanan, sumbangan dan hasil penjualan kompos. Di dalam Gambar 2.7 nampak aktivitas rutin yang dilakukan petugas.

Gambar 2.7. Aktivitas Kebersihan dan Pemeliharaan Tanaman.

Sumber: Dokumentasi pribadi.


Petugas kebersihan yang ada di setiap RT cukup memadai dalam mengangkut sampah warga perumahan. Tidak nampak tumpukan sampah yang berceceran karena setiap rumah memiliki tempat sampah masing-masing. Tempat sampah tersebut secara berkala dicat dengan beraneka warna sesuai dengan kesepakatan RT masing-masing sehingga menambah nilai estetika lingkungan secara keseluruhan. Pemeliharaan

tanaman dilakukan untuk keindahan dan menjaga keselamatan warga, yaitu dengan memangkas secara rutin pohon yang berpotensi tumbang atau patah. Posisi perumahan yang strategis salah satunya ditunjukkan dengan kemudahan akses ke lokasi lain. Aksesibilitas yang baik dapat mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi. Selain posisi perumahan yang strategis, suasana yang aman dan nyaman juga berdampak pada semakin banyaknya tempat usaha yang dibangun di sekitar perumahan. Penghuni perumahan dapat menjangkau lokasi tersebut dengan berjalan kaki, sepeda, atau dengan kendaraan umum. Di sekitar lokasi perumahan yaitu di Jalan Cipinang Jaya terdapat deretan penjual makanan/warung tenda dan rumah makan, toko kue Mayestik, minimarket Alpha, Alpha Midi, Indomaret, BelMart, dan Pasar Swalayan Giant. Layanan perbankan dan keuangan seperti kantor cabang dan ATM yang ada antara lain BRI, BNI, Danamon, Mandiri, BCA, BTN, dan Pegadaian. Layanan kesehatan yaitu klinik umum, klinik bersalin, klinik kecantikan, puskesmas, apotek 24 jam, dan praktik dokter. Masih banyak jenis usaha lain di sekitar perumahan seperti salon, cafe, bengkel, laundry, tanaman hias, dan warnet yang kesemuanya berada di jarak yang tidak lebih dari radius 1 km dari perumahan. 2.2.1 Pengolahan Sampah. Seperti telah disinggung sebelumnya, warga Perumahan Cipinang Elok telah melakukan gerakan penghijauan di lingkungan sekitar sejak tahun 1975. Kegiatan produksi dan penjualan kompos baru dimulai pada tahun 2005, dimotori oleh Saksono sebagai ketua RW 10. Kelompok masyarakat ini memperkerjakan 26 tenaga penuhwaktu dan mendapatkan dana dari iuran bulanan dan sumbangan dari masyarakat dan bantuan teknis dari Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Trisakti untuk memonitor proses dan pengujian hasil pengomposan. Inisiatif dari pengurus RW ini diujiterapkan ke seluruh warga dan lambat laut berkembang menjadi pengelolaan kompos skala kawasan perumahan. Secara bergotong royong, warga membangun sendiri hanggar untuk kegiatan pengomposan yang kemudian diberi nama Pabrik Kompos Mutu Elok (Gambar 2.8.). Di sinilah sampah yang diangkut setiap hari oleh petugas dikumpulkan dan dipilah, diproses menjadi kompos. Proses pengomposan membutuhkan waktu + 25 hari mulai dari peragian hingga pengemasan.

Gambar 2.8. Pabrik Kompos Mutu Elok.

Sumber: Dokumentasi RW 10, Cipinang Muara.

Volume sampah perumahan Cipinang Elok tiap harinya mencapai 14-15 m3, dengan komposisi sampah organik 60% dan sampah anorganik 40%. Sampah anorganik yang dapat mencapai 6 m3/hari dipilah oleh pemulung yang diperbantukan sebagai tenaga kebersihan cadangan. Kegiatan pemilahan dilakukan setiap hari Selasa dan Sabtu. Sementara itu, sampah organik diolah menjadi kompos padat dengan kapasitas produksi 2-3 m3/hari. Sampah organik yang berasal rumah tangga, seperti sisa-sisa makanan dan daun-daunan diolah dan dibutuhkan waktu sekitar dua bulan agar sampah organik dapat berubah menjadi kompos. Dengan pengomposan sampah, kawasan ini dapat mengurangi volume yang dibuang ke TPA lebih dari 30%. Selain digunakan untuk pemeliharan tanaman di taman dan jalur hijau, kompos juga dijual di mini market di dalam kompleks. Keuntungan penjualan kompos digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional dan gaji karyawan. Kegiatan pengomposan ini telah membuka lapangan kerja bagi warga sekitar dengan mempekerjakan 2 orang dan 1 teknisi di pabrik kompos. Pabrik kompos ini juga dijadikan percontohan banding oleh LSM dan warga perumahan wilayah lainnya. Keterlibatan warga dalam bentuk dukungan serta inisiatif pengurus RW sebagai motor penggerak menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah di sini. Pemberdayaan masyarakat dalam membuat kompos patut diapresiasi. Masyarakat mampu mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomis. Tidak mengherankan, kondisi perumahan yang asri dan bersih menghantarkan kawasan permukiman Cipinang Elok menjadi Juara I Kategori Kebersihan dan Keindahan se-Kelurahan dan Kecamatan tiga tahun berturut-turut. RW 10 juga meraih juara I Lomba Daur Ulang Sampah se-Jakarta Timur. Sebelum program pemberdayaan masyarakat dengan pembuatan kompos dilakukan, sampah menjadi salah satu masalah utama lingkungan RW 10 Cipinang Elok. Produksi sampah di RW 10 mencapai lebih kurang 15 m3 tidak mampu diangkut seluruhnya karena kapasitas angkut truk sampah hanya 12 meter3/hari. Saat itu jalan warga terpaksa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengambil lebih kurang 3 meter kubik sisa sampah yang tidak terangkut. 2.2.2 Ruang Terbuka Hijau. Penataan ruang terbukan hijau di perumahan adalah salah satu aspek penting yang harus diperhatikan dalam rangka menciptakan lingkungan perumahan yang berkualitas. Terdapat 3 lokasi taman seluas 2.913 m2 sebagaimana disajikan dalam tabel 2.1. Jika memperhitungkan jalur hijau dan pekarangan warga, maka total RTH diperkirakan seluas 2 hektar. Tanaman yang ditanam mencapai 100 jenis termasuk jenis tanaman obat keluarga. Tanaman obat ditanam oleh warga di pekarangan masing-masing dan di halaman Kantor RW. Adanya RTH dan pepohonan di setiap lingkungan perumahan juga merupakan salah satu komponen estetika lingkungan yang dapat membina lansekap kawasan (Sugandhy, 2008). Tabel 2.1. Taman di Perumahan Cipinang Elok. No Lokasi Luas (m3) 1 Blok S 653 2 Blok AH 1.460 3 Blok AV 800 Jumlah 2.913

Sumber: RW 10 Kelurahan Cipinang Muara, 2010.

Taman dan jalur hijau dirawat oleh petugas dengan menggunakan pupuk dari hasil olahan sampah warga. Untuk meninggikan dataran tanah dan jalur hijau, digunakan lumpur dari hasil pembersihan selokan/saluran air. Sementara air untuk menyiram tanaman berasal dari parit yang dipompa. Dengan cara ini, diharapkan dapat menyuburkan tanaman sekaligus menekan pertumbuhan jentik nyamuk. Hijaunya taman dan lingkungan di perumahan ini dapat dilihat pada gambar 2.9.

Gambar 2.9. Taman dan Jalur Hijau.

Sumber: Dokumentasi pribadi.


Taman dan jalur hijau juga dapat meredam kebisingan. Penelitian Embleton pada tahun 1963 menyatakan bahwa 1 hektar ruang terbuka hijau dapat meredam suara pada 7 dB per 30 meter jarak dari sumber suara pada frekuensi kurang dari 1000 CPS dan penelitian Carpenter di tahun 1975 yang menyebutkan bahwa kebisingan dapat diredam 25-80% (Sugandhy, 2007). Usia pohon juga penting diperhatikan karena bahwa pohon yang tua lebih rentan tumbang/patah. Oleh karenanya perlu dipersiapakan regenerasi pohon dengan peremajaan agar dapat digantikan oleh anakan atau jenis lain pada waktu yang tepat. Pemilihan jenis pohon perlu memperhatikan kesesuaian fungsinya. Fungsi penghijauan di perumahan ditekankan sebagai penyerap CO2, penghasil oksigen, penyerap polutan (logam berat, debu, belerang), peredam kebisingan, penahan angin, dan peningkatan keindahan (PP RI no.63/2002), dengan karakteristik pohon-pohon dengan perakaran kuat, ranting tidak mudah patah, daun tidak mudah gugur serta pohon-pohon penghasil bunga/buah/biji yang bernilai ekonomis. Tanaman yang baik sebagai taman kawasan perumahan seperti jalur hijau atau taman lingkungan misalnya angsana dan flamboyan karena dapat menyerap CO2 dan polutan di udara dengan baik, beringin dan akasia sebagai penghasil oksigen yang tinggi, teduh, dan dapat menahan angin. Jenis cempaka, kiara payung, dan tanjung baik ditanam karena kemampuannya menyerap bau dan zat berbahaya yang terkandung di dalam tanah. Tanaman dari golongan gymnosperm seperti melinjo, ginko, dan agathis juga disarankan untuk ditanam karena kemampuannya yang relatif lebih baik dalam Selain itu, pemilihan jenis tanaman juga mengendalikan siklus CO2. mempertimbangkan karakter dengan dahan yang kuat, daun tidak mudah gugur, dan akar menghujam masuk ke dalam tanah (Balitbang PU, 2007). Penelitian tersebut menyatakan bahwa satu hektar pepohonan dapat menyerap 8 kg CO2 yang setara dengan CO2 yang dihembuskan manusia sebanyak 200 orang dalam waktu yang sama. Sementara satu hektar RTH, mampu menghasilkan 0,6 ton oksigen

guna dikonsumsi 1.500 penduduk perhari. Dengan jumlah penduduk Cipinang Elok yang berjumlah hampir tiga ribu jiwa maka dibutuhkan RTH seluas 2 hektar untuk mendapat pasokan oksigen yang berkualitas. Luasan ini kurang lebih sama dengan luas total RTH di perumahan dan masih dapat ditambah dengan penanaman pohon di jalan kolektor atau di pekarangan rumah warga. 2.2.3 Lubang Biopori. Upaya pencegahan banjir yang dilakukan di perumahan ini adalah dengan memperbaiki saluran drainase dan membuat lubang resapan biopori. Sebanyak 500 lubang resapan biopori (LRB) yang dibangun Desember 2007 terbukti mengurangi genangan banjir di Cipinang Elok. Kini sudah dibangun lagi 2.000 LRB di perumahan ini. Pembuatannya dibantu mahasiswa Universitas Trisakti dan sudah dijadikan percontohan untuk penyuluhan oleh Badan Pengendali Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI. Berdasarkan pengamatan dari pengurus warga, pembuatan LRB dapat mengurangi ketinggian air yang menggenangi saat banjir besar dan menjadikan genangan lebih cepat surut. Ketinggian air saat banjir yang biasanya mencapai 1 meter, kini jauh berkurang menjadi 10-15 cm. Proses pengeboran dan hasil biopori tersaji dalam Gambar 2.10.

Gambar 2.10. Pengeboran dan Lubang Biopori.

Sumber: Dokumentasi RW 10 dan pribadi.


Biopori merupakan suatu teknologi tepat guna mengurangi genangan air dan sampah organik. Lubang tersebut dalamnya 80-100 cm dengan diameter antara 10-30 cm. Bagian dalamnya diberi sampah organik dan ketika hujan dapat langsung menyalurkan air ke dalam tanah. Sampah organik yang ada akan berproses menjadi pupuk kompos. Sampah organik dari rumah tangga membutuhkan waktu 15-30 hari untuk menjadi kompos utuh. Sementara daun dan ranting, butuh waktu lebih lama yaitu antara 2-3 bulan. Dampak positif lain dari LRB yaitu dapat menggemburkan tanah sehingga baik untuk tanaman. Hubungan yang efektif yang dibangun antara pengurus RW dan warga di Cipinang Elok merupakan hal penting yang mendukung keberhasilan pembangunan berwawasan lingkungan di perumahan ini. Untuk meningkatkan hasil dan menduplikasinya ke perumahan lain, maka upaya ini harus didukung oleh otoritas wilayah baik dalam segi bimbingan maupun pembiayaan. Kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dapat timbul karena adanya peningkatan pengetahuan pengelolaan ruang terbuka hijau. Partisipasi dapat berarti keikutsertaan secara langsung maupun berupa dukungan finansial. 2.2.4 Pendidikan. Di Perumahan Cipinang Elok terdapat 4 TK/playgroup, 5 sekolah dasar, dan 1 SMP sebagaimana tersaji dalam Tabel 2.2. Sekolah yang terdapat di dalam perumahan

umumnya menampung siswa dari luar kompleks perumahan. Pada umumnya siswa pergi dan pulang ke sekolah dengan menggunakan kendaraan umum atau berjalan kaki karena lokasinya relatif dekat dari rumah, aman, dan nyaman untuk dilalui dengan berjalan kaki atau bersepeda. Gambar sekolah tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.11. Tabel 2.2. Daftar Sekolah di Cipinang Elok. No Tingkat Nama/Alamat 1 SMP SMP Negeri 52 2 SD SDN Cipinang Muara 06 Pagi 3 SDN Cipinang Muara 07 Pagi 4 SDN Cipinang Muara 08 Pagi 5 SDN Cipinang Muara 09 Petang 6 SDIT Al Iman 7 TK Regency, Blok AV-17 8 Hakuna Matata, Blok X-18 9 Sekar Melati, Blok AF-22 10 TKIT Al Iman

Sumber: Suku Dinas Pendidikan Menengah Kota Jakarta Timur 2010/2011.

Gambar 2.11. Sekolah.

Sumber: Dokumentasi pribadi.


Atmosfer yang kondusif untuk meningkatkan ilmu dan pengetahuan adalah salah satu syarat kondisi perumahan yang ideal. Kelengkapan sarana pendidikan dan pusat kegiatan intelektual menjadi salah satu tolok ukur yang dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. 2.3. Tata Ruang Perumahan Cipinang Elok. Perumahan dan penataan ruang merupakan dua hal yang berbeda tetapi berkaitan erat satu sama lain. Penyelenggaraan perumahan mulai dari penentuan lokasi, perencanaan, pembangunan sampai penghuniannya, seharusnya merupakan bagian integral dari penataan ruang. Oleh karena itu, untuk penataan ruang diperlukan pengetahuan tentang perumahan, sebaliknya dalam penyelenggaraan perumahan juga harus memperhatikan aspek penataan ruang. Hakekat dan fungsi rumah yaitu sebagai tempat tinggal yang dapat melindungi penghuninya. Kelompok rumah dengan sarana dan prasarana lingkungannya, yang biasa disebut perumahan, keadaannya merupakan cerminan dan pengejawantahan dari pribadi, budaya, dan taraf hidup para penghuninya secara kelompok dalam

masyarakat atau bangsa. Perumahan dapat mendukung dan mempengaruhi arah pertumbuhan suatu wilayah karena berbagai kemudahan dan pelayanan yang terdapat di dalamnya. Aktivitas di perumahan Cipinang Elok melibatkan dan mendorong pengembangan berbagai kesempatan berusaha, seperti bisnis pendidikan, kuliner, perbankan, produsen serta pedagang dan kesehatan. Dengan demikian pembangunan perumahan dapat pula mendorong terciptanya lapangan kerja yang banyak. Lingkungan pemukiman diartikan sebagai suatu kesatuan dari beberapa tempat tinggal/rumah yang didukung dengan sarana dan prasarana di dalamnya, misalnya sarana jalan, taman, tempat ibadah, pendidikan, kesehatan, perkantoran, perniagaan dan sebagainya. Selain itu lingkungan pemukiman dapat meliputi aspek fisik ataupun non fisik. Aspek fisik merupakan sarana dan prasarana yang ada, sedangkan aspek non fisik merupakan kualitas lingkungan pemukiman tersebut, misalnya kenyamanan dan tingkat kesehatan (Avianto, 2005 dalam Cahyani, 2009). Pada dasarnya pembangunan perumahan dan permukiman merupakan kegiatan yang menggunakan ruang yang luas, dimana lahan menjadi unsurnya yang paling pokok. Dalam hubungannya dengan pembangunan perumahan dan permukiman, tata ruang memiliki dua fungsi pokok, yaitu pertama, mengatur dan mengendalikan penggunaan lahan. Kedua, meningkatkan kualitas lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya. Tata ruang juga harus menjaga agar benturan-benturan kepentingan atas penggunaan lahan dapat diatur dengan serasi dan seoptimal mungkin. Salah satu aspek yang harus diamankan adalah perlindungan terhadap lingkungan kehidupan manusia, agar menjamin bahwa manusia dapat hidup lestari di planet bumi ini sehingga pembangunan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Melalui penataan ruang dapat diamankan kepentingan-kepentingan nasional yang besar seperti kepentingan ketersediaan pangan, antara lain melalui pengaturan bahwa lahan-lahan subur dan beririgasi teknis tidak diizinkan untuk digunakan bagi kepentingan lainnya. Di lain pihak melalui penataan ruang harus diupayakan tersedianya ruang secara adil dan merata bagi segala lapisan masyarakat. Wujud struktural pemanfaatan ruang merupakan susunan unsur-unsur pembentuk rona lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan buatan yang secara hirarkis dan struktural pemanfaatan ruang tersusun di antaranya meliputi pusat-pusat pelayanan (kota, lingkungan, pemerintaan), prasarana jalan, dan sebagainya (Sugandhy, 1999). Berdasarkan obervasi, diketahui bahwa wujud struktur pemanfaatan ruang di kawasan ini memiliki struktur kawasan permukiman dengan pola yang relatif homogen. Pola pemanfaatan tata ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran, fungsi, dan karakter kegiatan manusia atau alam. Pola pemanfaatan ruang berwujud antara lain pola lokasi yang berupa blok-blok persegi panjang dengan jalan yang paralel longitudinal, sebaran permukiman merata dan mengikuti bentang alam yang ada, tempat usaha terdapat di beberapa titik di jalan utama dan areal depan perumahan yang menghadap ke jalan raya, serta pola penggunaan tanah yang relatif homogen dan menunjukkan kepadatan yang cukup tinggi. Kualitas tata ruang digambarkan oleh mutu tata letak dan keterkaitan hirarkis baik antar kegiatan maupun antara kegiatan dengan fungsi ruang, serta digambarkan oleh mutu komponen penyusun ruang. Mutu ruang itu sendiri ditentukan oleh terwujudnya keserasian, keselarasan, dan keseimbangan pemanfaatan ruang yang

mengindahkan faktor daya dukung lingkungan, lokasi, dan struktur. Kualitas tata ruang Perumahan Cipinang Elok secara ringkas dapat dilihat di dalam Tabel 2.3. Tabel 2.3. Kualitas Tata Ruang Cipinang Elok. Faktual Kualitas Tata Ruang Refersensi Rasio ruang per jiwa 27,50 m2/jiwa 10 Rasio penduduk terhadap lahan 92,75 50-100 Level lantai maksimal 2 lantai Jaringan jalan pola grid network Sarana pengolahan sampah tersedia Utilitas umum PLN, PAM, Telkom, serat optik Kualitas air minum PAM dan air kemasan Kualitas air tanah baik untuk MCK Kualitas udara baik Kebisingan tenang Persentase RTH 10% Akses ke pusat layanan tersedia Bentang alam terpelihara Status tanah dan rumah sertifikat Kesesuaian dengan RTRW sesuai http://www.tatakotajakartaku.net/lrk/jt-

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Rasio ruang per jiwa (living space ratio per capita) standar sebesar 10m2/jiwa diperlukan untuk kebutuhan ruang yang sehat dan menjamin lancarnya peredaran udara bersih dan temperatur ruang yang nyaman (Sugandhy, 1999). Berdasarkan data yang diperoleh, dengan mengacu luas rumah tipe terkecil dan belum mengalami penambahan lantai, maka rasio ruang per jiwa di perumahan Cipinang Elok sebesar 27,5 m2 yang artinya masih sangat nyaman untuk ukuran kota metropolitan seperti Jakarta. Dari ukuran rasio penduduk terhadap lahan (man-land ratio), jika dihitung maka nilainya adalah 92,75. Artinya kepadatan penduduk rata-rata sudah mencapai kriteria kota sedang yaitu antara 50-100 jiwa/hektar. Struktur spasial dan aksesibilitas yang paling mendasar sangat terkait dengan adalah pola penggunaan lahan dan harga sewa lahan. Jika mengacu pada teori Von Thunen mengenai lokasi, maka lokasi perumahan Cipinang Elok memiliki nilai aksesibilitas tinggi karena relatif lebih dekat ke pusat bisnis, rekreasi, dan pendidikan. Dengan kondisi seperti ini, penghuni dapat menghemat ongkos transportasi dan biaya perjalanan termasuk parkir, kerugian karena kemacetan, dan dampak lingkungan dari transportasi (Johnston, 1973). Berdasarkan framework perumahan yang berkelanjutan, Gallent (2001) menyatakan bahwa karakteristik di tingkat komunitas perumahan yang berkelanjutan ditunjukkan dengan fleksibilitas dalam memenuhi aspirasi warga dan integrasi kegiatan sebagai salah satu strategi yang harus dicapai dalam mencapai tujuan keseimbangan di dalam komunitas tersebut. Sesuai dengan kerangka kerja ini, maka dapat dilihat bahwa warga di Perumahan Cipinang Elok sebagai komunitas lokal telah mengupayakan berjalannya aspirasi dalam rangka menyelesaikan masalah besar secara bersama-

sama. Pilihan ini diambil tanpa kesulitan yang berarti karena secara individu telah memperoleh rasa aman terhadap aset perumahan yang ditempatinya. Tingginya rasa memiliki dan kemampuan secara finansial juga harus diperhatikan jika hal yang sama ingin diterapkan ke komunitas/warga perumahan lain. Sebagai kawasan yang diperuntukkan bagi pengelompokan hunian, Perumahan Cipinang Elok telah cukup dilengkapi dengan prasarana dan fasilitas sosial penunjangnya. Secara teknis dapat digunakan untuk perumahan yang aman dari bahaya bencana alam maupun buatan manusia, sehat, dan mempunyai akses untuk mengembangkan kesempatan usaha. Aksesibilitasnya baik karena ditunjang ketersediaan prasarana dan sarana penunjang seperti sekolah, pasar, fasilitas sosial dan umum. Di samping itu dapat dikembangkan upaya kolaborasi dan partnership misalnya antara warga perumahan dengan LSM, korporasi, atau pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Rasa menyatu dengan lokasi lebih dari sekedar rasa memiliki harus didorong untuk membangun hubungan bertetangga. Perumahan yang secara fisik sangat mencirikan kota, dengan bangunan, jalan, dan sarananya akan mampu menciptakan hawa pedesaan jika terbangun hubungan baik antara manusia dan juga dengan alam. Inilah yang disebut dengan membangun komunitas yang sesungguhnya (Roseland et al, 2005). III. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan, dapat ditarik kesimpulan bahwa Perumahan Cipinang Elok memiliki kualitas yang baik sebagai kawasan perumahan karena penataan ruang di kawasan ini telah memperhatikan keterpaduan dan keselarasn antara aspek lingkungan alam, buatan, dan sosial. Pemanfaatan ruang terstruktur dan memiliki pola yang relatif homogen. Identitas perumahan yang belum muncul dapat dibentuk misalnya dengan pemilihan jenis tanaman khas jakarta atau yang sesuai dengan nama perumahan. Dinamika di Perumahan Cipinang Elok telah dipengaruhi dan mempengaruhi wilayah di sekitarnya, yang ditunjukkan dengan pertumbuhan kawasan perumahan lain serta kawasan perdagangan dan jasa. Pola tata guna lahan berbentuk grid, memiliki keteraturan yang baik dan terkoneksi dengan pusat layanan umum di dalam maupun di luar perumahan. Pertumbuhan dan alih fungsi lahan yang paling pesat adalah di daerah yang dilalui jalan utama dan mendapat akses kendaraan umum. Perlu dilakukan inventarisasi terhadap tata guna lahan, peruntukan, dan alih fungsi sebagai informasi dalam mengendalikan penataan ruang kawasan perumahan. Cipinang Elok adalah perumahan yang berhasil dalam mempelopori pemberdayaan masyarakat untuk mengelola sampah warga dan menggunakan teknologi sederhana namun tepat guna sebagai upaya mitigasi terhadap bahaya banjir. Selain faktor alam, terdapat faktor antropogenik yang berpotensi membahayakan warga, misalnya lalu lintas. Keselamatan warga adalah prioritas utama dari tujuan pengelolaan lingkungan perumahan. Untuk itu, perlu dilakukan upaya antara lain dengan meningkatkan ketertiban pengguna jalan agar tidak membahayakan penghuni terutama orang tua dan anak-anak.

KEPUSTAKAAN Anonymous. 1972. Man in the Living Environment. Institute of Ecology. The University of Wisconsin Press Ltd. USA. Cahyani, G.D. 2009. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Sampah dan Kelayakan Finansial Usaha Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (Studi Kasus di Perumahan Cipinang Elok, Jakarta Timur). Skripsi tidak diterbitkan. Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. Gallent, N. 2001. Housing, Homes, and Social Sustainability. Planning for a Sustainable Future. Spon Press. London. Johnston, J.J. 1973. Spatial Structure. Butler & Tanner Ltd. Great Britain. Marshall, S. 2001. The Challenge of Sustainable Transport. Planning for a Sustainable Future. Spon Press. London. Sugandhy, A. 1999. Penataan Ruang dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Sugandhy, A. and Rustam H. 2007. Prinsip Dasar Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan. PT. Bumi Aksara. Jakarta. Sugandhy, A. 2008. Instrumentasi dan Standardisasi Lingkungan Hidup. Penerbit Universitas Trisakti. Jakarta. Kebijakan Pengelolaan

Roseland, M. et al. 2005. Towards Sustainable Community. New Society Publisher. Canada. Peraturan dan Perundang-undangan: Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Permukiman. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2010 Tentang Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2002 Tentang Hutan Kota. Situs Internet: Anonymous. 2010. Data Pokok Pendidikan Wilayah Suku Dinas Pendidikan Menengah Kota Jakarta Timur Periode 2010/2011. Diunduh dari

http://jakartatimur.dapodik.org/sekolah.php?data=sekolah&status=&npsn=20108534 pada 4 Mei 2011 pk. 00.55 WIB. Anonymous. 2007. Penghijauan Sebagai Pereduksi CO2 di Perumahan; Studi Kasus BandungCirebon. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/13919644/TANAMAN-PENEDUH pada 4 Mei 2011 pk. 00.55 WIB. Putro, D. 2008. Lubang Resapan Biopori; Genangan Banjir di Cipinang Muara Berhasil Diminimalisasi. Artikel Suara Karya Online. Diunduh pada Rabu 04 Mei 2011, 01.53 WIB dari http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=198668. Siregar, H. 2010. Warga di Cipinang Elok Kelola Sampah Mandiri. Artikel Suara Pembaruan Online. Diunduh pada 4 Mei 2011 pk. 01.42 WIB dari http://202.169.46.231/index.php?modul=search&teks=wargacipinangelok&id=17355