Anda di halaman 1dari 68

BAB I KEINDAHAN 1.

Konsep Keindahan Secara ringkas dapat digolongkan hal-hal yang indah dalam dua golongan, yaitu: Pertama, keindahan yang tidak dibuat oleh manusia, misalnya gunung, laut, pepohonan, bunga, kupu-kupu serta barang-barang yang memperoleh wujud indah akibat peristiwa alam seperti pulau Tanah Lot, yang memperoleh bentuknya akibat pukulan-pukulan ombak laut berabad-abad lamanya, lereng-lereng bukit yang terbentuk indah oleh air hujan, sungai yang mengiris tanah menjadi jurang dalam bertebing curam seperti di Banjarangkan atau Ngarai Sihanok di Bukit Tinggi. Disamping keindahan alam yang dirajut oleh binatang seperti sarang burung manyar. Kedua, hal-hal indah yang diciptakan dan diwujudkan oleh manusia. Mengenai keindahan barang-barang buatan manusia, secara umum kita menyebutnya sebagai barang kesenian, disamping itu banyak barang-barang yang dibuat manusia untuk keperluan sehari-hari yang tidak kurang keindahannya daripada barang-barang kesenian. Barang-barang tersebut disebut barang kerajinan tangan. Sebutan ini sama sekali tidak menyangkut penilaian tentang keindahan barang-barang itu, hanya menggolongkan jenis dari barang indah tersebut. Perbedaannya adalah barang kesenian ada maksud dari sang pencipta untuk menuangkan perasaan di dalamnya atau suatu pesan tertentu, sementara barang kerajinan tangan mempunyai penggunaan praktis disamping dibuat untuk menarik dan memberikan kepuasan rasa indah belaka. Dalam kata lain sebutan yang berbeda mengacu pada maksud dan proses dari penciptaan dan perwujudan barang-barang tersebut. 2. Peran Panca Indera Rasa nikmat-indah yang terjadi pada kita, timbul karena peran pancaindera, yang memiliki kemampuan untuk menangkap rangsangan dari luar dan

meneruskannya ke dalam, hingga rangsangan itu diolah menjadi kesan. Kesan ini dilanjutkan lebih jauh ke tempat tertentu dimana perasaan kita bias menikmatinya. Yang melalui mata disebut kesan visual dan melalui telinga kesan akustik atau auditif. Kesan visual dapat dicapai misalnya dengan melihat keindahan bunga, warna-warni, pemandangan sawah atau bentuk suatu gapura. Kesan akustik atau auditif dapat diperoleh dari bunyi alam, seperti bunyi ombak di laut, bunyi angin yang menyentuh daun-daun, bunyi air yang mengalir di parit, yang semuanya bias dinikmati dengan indah. Disamping itu kesan akustik yang timbul dari perbuatan manusia dapat dibagi atas suara manusia sendiri berupa perkataan, nyanyian, yang kita sebut vokal, suara dari benda atau alat musik yang dimainkan yang dis ebut instrumental. Peran panca indera lainnya juga menangkap rangsangan dari luar, misalnya; indra raba yang menangkap keadaan permukaan benda (halus atau kasar, panas atau dingin, padat atau lembek) atau kekentalan benda. Secara biologis, ketiga jenis indera tersebut mempunyai fungsi yang lebih langsung berguna untuk menyelamatkan diri dari bahaya maut. Tidak dapat dipungkiri bahwa dua panca indera yang pertama, yakni indera visual dan akustik, susunan anatominya jauh lebih kompleks daripada indra yang lain, ikut juga dalam proses menjaga keselamatan dan kelangsungan makhluk hidup. 3. Keindahan dan Kebaikan Kepuasan atau rasa bahagia akan tergugah bila kita mengalami peristiwa yang menyenangkan, terutama peristiwa baik yang terjadi antara manusia dengan manusia. Misalnya bila kita menyaksikan orang dengan penuh saying sedang menolong orang lain, atau saat kita sendiri sempat memberi pertolongan kepada orang yang menderita. Dalam hal-hal yang demikian, kita tergugah oleh perasaan seolah-olah kita mengalami atau menikmati sesuatu yang indah. Azas kemanusiaan ini, membantu orang lain, merupakan kelanjutan dari instinct atau naluri makhluk untuk melestarikan kehidupannya. Dalam hal binatang yang berkelompok atau manusia yang telah menjadi masyarakat, naluri ini merupakan

naluri-solidaritas-sejenis yang amat penting untuk mempertahankan kehidupan kelompok dan individu. Hanya pada manusia naluri ini menjadi kesadaran, dijadikan kesadaran social, member rasa tanggung jawab, dan bila telah dipenuhi menjadi rasa bahagia. Setelah rasa nikmat kebaikan terhadap sesame manusia yang berdasarkan perikemanusiaan dirumuskan dalam istilah ETIKA, maka timbullah kebutuhan untuk mencari istilah lain untuk rasa nikmat-indah yang mulai disadari perbedaannya dengan rasa-kebaikan. Seorang filsuf bernama Alexander

Baungarten berhasil menciptakan kata AESTHETIKA (kl. Th. 1750). Pada permulaan istilah ini tidak mendapat banyak perhatian dari kalangan ilmuwan dan budayawan. Setelah istilah aesthetika diambil oleh filsuf Jerman yang terkemuka dan termasyhur berkat karya-karya filosofisnya yang penting, yakni Immanuel Kant (1724-1804) istilah tersebut baru diterima oleh kalangan yang lebih luas dan menyebar ke seluruh pelosok dunia. Dengan demikian pengertian aesthetika melepas diri dari pengertian etika (bahasa Indonesia menjadi estetika dan etika). Pemisahan ini selanjutnya dibantu oleh perkembangan yang lebih jauh dalam ilmu pengetahuan di Eropa yang terjadi dalam abad ke-18 dan ke-19, hingga pada suatu saat estetika diangkat sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan.

BAB II ESTETIKA Ilmu Estetika adalah suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, mempelajari semua aspek dari apa yang kita sebut keindahan. Ilmu Estetika sebenarnya baru bias berkembang lebih maju setelah terjadinya perkembangan pesat di Eropa pada abad ke-17 dan ke-18 dalam segala bidang ilmu pengetahuan (science). Dalam banyak macam permasalahan yang diketemukan. Ilmu estetika dapat memperoleh manfaat dari penggunaan hasil hasil penyelidikan dari perkembangan ilmu yang ada. 1. Bantuan dari Ilmu Pengetahuan Pada hakekatnya sinar dan suara merupakan peristiwa fisik. Terdiri dari getaran udara dalam hal suara, dan getaran elektromagnetik dalam hal sinar. Sifat dari getaran-getaran itu adalah bergelombang. Penangkapan gelombang oleh indera kita merupakan peristiwa fisik yang dilangsungkan dalam tubuh kita sambil diolah menjadi peristiwa fisiologik dan biologik. Tidaklah mengherankan bahwa ilmu fisika dan ilmu fisiologi (faal) maupun biologi dapat menyumbangkan hasilnya kepada ilmu estetika; dengan member pengertian tentang proses bagaimana terjadinya penangkapan dan peresapan gelombang-gelombang tersebut ke dalam tubuh kita. Ilmu biologi dapat member jawaban tentang cara penangkapan oleh indera kita, perubahan-perubahan apa yang bias terjadi atau anatomi dan fungsi indera kita (mata dan telinga) yang dapat mempengaruhi persepsinya. Ilmu psikologi dapat membantu dengan menelusuri proses yang terjadi setelah penangkapan oleh panca indera dan penyerapan lebih ke dalam sampai di otak kita, dengan menelusuri proses mental yang berlangsung dalam jiwa manusia pada saat menikmati keindahan dan factor-faktor yang dapat mempengaruhi proses tersebut.

Namun masih permasalahan yang belum juga dapat dijawab oleh semua cabang ilmu pengetahuan. Maka dari itu ilmu estetika memerlukan pendekatan yang lain, yang cakupannya lebih luas daripada pendekatan ilmiah, yakni filsafat. Dengan pendekatan filosofis dapat diusahakan untuk mengerti pendirian, suatu pendapat dan norma-norma yang dipakai seorang pengamat dalam menilai karya seni. Penilain karya seni adalah suatu kegiatan dimana bias terdapat banyak perbedaan faham antara para ahli, para sastrawan, para budayawan, bahkan antara seniman sendiri. Ilmu estetika mengandung dua aspek: a. Aspek Ilmiah (scientific aspect) Dalam aspek ilmiahnya ilmu estetika untuk penelitiannya menggunakan caracara kerja (metodologi) yang sama dengan ilmu lain pada umumnya, yang terdiri dari: observasi (pengamatan), analisa (pembahasan), dan eksperimen (percobaan). b. Aspek Filosofis (philosofikal aspect) Dalam aspek filosofisnya ilmu estetika memakai metodologi yang agak berlainan, yakni disamping observasi dan analisa melakukan komparasi (perbandingan), analogi (mengentarakan unsure persamaan), asosiasi

(pengkaitan), sintesis (penggabungan) dan konklusi (penyimpulan). Dalam kegiatan yang sangat rumit ini estetika dapat dibantu oleh ilmu-ilmu himaniora seperti ilmu social, antropologi, ilmu sastra, ilmu politik, ilmu ekonomi, dan lain-lain. Aspek filosofis ilmu estetika dapat juga dinamakan aspek subyektif, karena langsung berkaitan dengan kepribadian, pendirian dan falsafah dari pengamat yang bersangkutan, yang menggunakan norma-norma filosofis perorangan sehingga bagian estetika juga disebut normatif.

2. Makna Mempelajari Estetis Manfaat mempelajari estetika adalah:

a. Memperdalam pengertian tentang rasa-indah pada umumnya dan tentang

kesenian pada khususnya.


b. Memperluas pengetahuan dan menyempurnakan pengertian tentang unsur-

unsur obyektif yang membangkitkan rasa-indah pada manusia dan factorfaktor obyektif yang berpengaruh pada pembangkitan rasa-indah tersebut.
c. Memperluas pengetahuan dan menyempurnakan pengertian tentang unsur-

unsur subyektif yang berpengaruh atas kemampuan manusia menikmati keindahan.


d. Memperkokoh rasa cinta kepada kesenian dan kebudayaan bangsa pada

umumnya

serta

mempertajam

kemampuan

untuk

mengapresiasi

(menghargai) kesenian dan kebudayaan bangsa lain dan dengan demikian mempererat hubungan antar bangsa.
e. Memupuk kehalusan rasa dalam manusia pada umumnya. f.

Memperdalam pengertian tentang keterkaitan wujud berkesenian dengan tata kehidupan, kebudayaan dan perekonomian dari masyarakat yang bersangkutan.

g. Memantapkan kemampuan untuk penilaian karya seni dan dengan jalan itu

secara tidak langsung mengembangkan apresiasi seni di dalam masyarakat pada umumnya.
h. Memantapkan kewaspadaan atas pengaruh-pengaruh yang negative yang

dapat merusak mutu kesenian dan berbahaya terhadap pelestarian aspek aspek dan nilai-nilai tertentu dari kebudayaan kita.
i.

Secara tidak langsung, dengan bobot yang baik yang dibawakan dalam kesenian, memperkokoh dalam masyarakat keyakinan akan kesusilaan, moralitas, perikemanusiaan dan ketuhanan.

j.

Melatih diri untuk berdisiplin dalam cara berfikir dan mengatur pemikiran dengan sistematik yang baik, membangkitkan potensi kita untuk berfalsafah, yang mana akan member kemudahan dalam menghadapi segala

permasalahan, member wawasan yang luas dan bekal bagi kehidupan spiritual dan psikologis kita.

3. PENILAIAN KARYA SENI Kata evaluasi atau penilaian masih bias berkesan mengadili, padahal penilaian dilakukan untuk menemukan, kekurangan, dan bermaksud bukan mencari kesalahan atau cara untuk perbaikan dan

menemukan

penyempurnaan. Barangkali lebih bijaksana menggunakan kata pertimbangan yang bunyinya lebih netral karena mempunyai sifat mengundang sang seniman untuk berpartisipasi, untuk ikut memikirkan, dan lebih muda diyakini sebagai langkah untuk bersama-sama mencari penyempurnaan.

BAB III ESTETIKA INSTRUMENTAL 1. RUANG LINGKUP Keindahan meliputi keindahan alam dan keindahan buatan manusia yang pada umumnya kita sebut kesenian. Dengan demikian kesenian dapat dikatakan sebagai salah satu wadah yang mengandung unsur-unsur keindahan. Keindahan terdiri dari komponen-komponen yang masing-masing

mempunyai cirri-ciri dan sifat-sifat, yang menentukan taraf dari kehadiran keindahan itu, Taraf kehadiran unsur-unsur akan menentukan mutu keseniannya. Unsur-unsur keindahan yang bias kita temukan, yakni: Tahap pertama, yakni menafsirkan akan keindahan unsur-unsur keindahan itu, sebagai suatu masalah yang praktis, masalah yang menyentuh pada pelaksanaan kesenian kita. Tahap kedua, mencakup filsafah keindahan dan filsafah kesenian. Pada tahap ini kita dapat menjumpai beberapa macam permasalahan mengenai teori kesenian dan keindahan, seperti yang dipahami oleh beberapa filsuf dari zaman dahulu sampai sekarang. 2. KESENIAN Hal-hal yang diciptakan dan diwujudkan oleh manusia yang dapat member rasa kesenangan dan kepuasan dengan penikmat rasa-indah, kita sebut dengan kata seni (ing: art) termasuk dalam hal ini adalah barang -barang hasil kerajinan tangan (handicraft). Yang dimaksudkan dengan barang kesenian tidak hanya meliputi tang Nampak pada mata sebagai lukisan, patung atau melalui pendengaran kita seperti gamelan, music, nyanyian dan sebagainya. Dengan memperoleh pengertian tentang aspek-aspek tertentu yang terkandung dalam kesenian, yang mana menampakkan dirinya sebagai unsurunsur estetik, kita merasa akan mampu mendorong perkembangan dari bidang

kesenian itu. Langkah pertama yang diperlukan adalah untuk meninjau secara kongkrit benda kesenian yang indah itu, dan kemudian menganalisa keadaannya dengan lebih terperinci.

3. UNSUR-UNSUR ESTETIKA Semua benda atau peristiwa kesenian mengandung tiga aspek yang mendasar, yakni: a. Wujud atau rupa (ing: appearance) Istilah wujud mempunyai arti yang lebih luas daripada rupa yang lazim dipakai dalam kata seni rupa atau kalimat batu itu mempunyai rupa seperti burung. Dalam kedua kalimat di atas, kata rupa dimaksudkan tentang sesuatu bagaimana nampaknya dengan mata kita (itulah mengapa seni rupa dalam Bahasa Inggris disebut visual arts). Baik wujud yang Nampak dengan mata (visual) maupun wujud yang Nampak melalui telinga (akustik) bias diteliti dengan analisa, dibahas tentang komponen-komponen yang menyusunnya, serta dari segi susunannya itu sendiri. Pembagian mendasar atau pengertian (konsep) wujud itu, yakni bahwa semua wujud terdiri dari: bentuk (from) atau unsur yang mendasar, dan susunan struktur (structure). b. Bobot atau isi (ing: content, substance) Isi atau bobot dari benda atau peristiwa kesenian meliputi bukan hanya yang dilihat semata-mata tetapi juga apa yang dirasakan atau dihayati sebagai makna dari wujud kesenian itu. Bobot kesenian mempunyai tiga aspek, yaitu: suasana (mood), gagasan (idea), pesan (message). c. Penampilan, penyajian (ing: presentation) Dengan penampilan dimaksudkan cara bagaimana kesenian itu disajikan, disuguhkan kepada yang menikmatinya, sang pengamat. Untuk penampilan kesenian tiga unsure yang berperan: bakat (talent), keterampilan (skill), dan sarana atau media (medium atau vehicle).

BAB IV WUJUD 1. BENTUK DAN STRUKTUR Dengan wujud dimaksudkannya kenyataan yang Nampak secara kongkrit (berarti dapat dipersepsi dengan mata atau telinga) maupun kenyataan yang tidak Nampak secara kongkrit, yakni yang abstrak, yang hanya biasa dibayangkan seperti suatu yang diceritakan atau dibaca dalam buku. Karya seni lukisan bias mengandung gambar yang berwujud

pemandangan, potret diri, atau dekorasi. Karya seni tari biasa berwujud tari bedhanya, jaipongan, tari barong, serampang dua belas dan sebagainya. Karya seni music bias berwujud simfoni, trio, kuartet, koor, wals, sonata, fuga dan lain sebagainya. Karya seni karawitan bias berwujud lelambatan, kebyan pelegongan, tabuh-telu, dandang gendis, dan sebagainya. Dalam semua jenis kesenian, visual atau akustik, baik yang kongkrit maupun yang abstrak, wujud dari apa yang ditampilkan dan dapat dinikmati oleh kita, mengandung dua unsur yang mendasar: a. Bentuk Bentuk yang paling sederhana adalah titik. Titik tersendiri tidak mempunyai ukuran atau dimensi dan belum memiliki arti tertentu. Kumpulan dari beberapa titik akan mempunyai arti dengan menempatkan titik-titik itu secara tertentu. Dalam seni music dan karawitan bentuk-bentuk dasar berbeda pula jenisnya. Kita akan menjumpai not, nada, bait, kempul, ketukan dan sebagainya. b. Struktur Dengan struktur atau susunan dimaksudkan cara-cara bagaimana unsur-unsur dasar dari masing-masing kesenian telah tersusun hingga berwujud. Seperti batu-kali, batu-bata, batu-paras, batu-karang, dan batako disusun menjadi tembok.

TITIK Titik tersendiri belum bararti dan baru mendapat arti setelah tersusun penempatannya. Di samping itu titik bias menggunakan unsur-unsur penunjang, yang bisa juga membantu atau dipakai untuk membentuk wujud yang lain. Penunjang-penunjang itu misalnya: gerak, sinar dan warna. Titik yang digerakkan bisa member kesan garis yang beraneka rupa dan berliku-liku. GARIS Garis sebagai bentuk mengandung arti yang lebih daripada titik; karena dengan bentuknya sendiri, garis menimbulkan kesan tertentu pada sang pengamat. Kumpulan garis-garis dapat disusun (diberi struktur) sedemikian rupa sehingga mewujudkan unsur-unsur structural seperti misalnya ritme, simetri,

keseimbangan, kontras penonjolan, dan lain-lain. Garis-garis dapat disusun secara geometris (= dengan ukuran, proporsi, siku-siku tertentu yang teratur) dan mewujudkan gambar yang member kepuasan dan rasa-indah karena keserasian dan keseimbangan bentuknya. BIDANG Bidang mempunyai dua ukuran, lebar dan panjang, yang disebut dua dimensi. Untuk membatasi bidang dengan garis-garis yang kencang diperlukan paling sedikitnya tiga garis kencang, dengan garis yang berbelok-belok satu buah garis bisa mencukupi. Wujud dari bidang masing-masing bisa member kesan estetika yang berbeda-beda. Perwujudan bidang beraneka ragam dan bervariasi dengan garis-garis secara geometric banyak diterapkan dalam seni hias ornamentik. RUANG Kumpulan dari beberapa bidang akan terbentuk ruang-ruang mempunyai tiga dimensi: panjang, lebar, dan tinggi. Ruang pada aslinya adalah sesuatu yang kosong, tidak ada isinya.

Dalam seni patung ruang memiliki peranan yang utama dan terwujud dengan sungguh. Dalam seni lukis yang hanya memakai bidang kertas atau kanvas, ruang merupakan suatu ilusi yang dibuat dengan pengelolaan bidang dan garis, sering dibantu oleh warna (sebagai unsure penunjang) yang mampu menciptakan ilusi sinar atau bayangan. Pengelolaan tersebut meliputi perspektif dan kontras antara terang dan gelap. Dalam seni arsitektur tata ruang merupakan suatu unsur yang sangat

penting, bukan hanya menuju keindahannya, tetapi juga menuju efisiensi kegunaannya. Dalam seni tari penataan ruang ditambah dengan penataan para pelaku, penataan gerak, warna, suara dan waktu, kesemuanya dicakup dengan kata koreografi.

BAB V GERAK, SINAR DAN WARNA 1. GERAK Gerak merupakan unsur penunjang yang paling besar peranannya dalam seni tari. Dengan gerak terjadinya perubahan tempat, perubahan posisi dari benda, tubuh penari atau sebagian dari tubuh. Semua gerak melibatkan ruang dan waktu. Dalam ruang sesuatu yang bergerak menempuh jarak tertentu, dan jarak dalam waktu tertentu ditentukan oleh kecepatan gerak. Semua gerak memerlukan tenaga, untuk gerak tubuh penari diambil tenaga dari sang penari sendiri. Sang penari harus selalu siap mengeluarkan tenaga atau energy yang sesuai. Bidang, ruang dan waktu terlibat dalam seni tari maka unsur-unsur estetika yang tadi ditambah dengan unsur-unsur estetika lain, yakni tempo (kecepatan), dan ritme (irama). Penataan gerak-gerik dalam seni tari, baik pada masing-masing pelaku, maupun dari kelompok penari bersama, ditambah dengan penataan ruang, waktu, sinar, warna, penyesuaian dengan gamelan atau music pengiringnya, keseluruhan itu dalam seni pertunjukan merupakan sesuatu yang sangat kompleks yang disebut koreografi. 2. SINAR Sinar memegang peranan yang penting dalam semua seni visual, termasuk seni tari. Pada siang hari, sinar yang diperlukan pada umumnya berasal dari matahari, sementara pada malam hari sinar dapat diadakan dengan bantuan lampu atau obor. Berkat adanya sinar kita bisa melihat benda disekitar kita. Dalam seni lukis permainan antara terang dan gelap di atas kanvas member bayangan yang memberikan kesan relief dangkal atau kesan-kesan lain seperti kesan jarak, suasana, ritme, intensitas, yang tidak terbatas jumlahnya. 3. WARNA

Sinar matahari atau sinar lampu memungkinkan kita melihat benda-benda disekitar, melalui gelombang elektromegnetik yang berkecepatan tinggi, 300.000 km/ detik. Getaran elektromagnetik masuk mata kita melalui lensa yang di dalamnya dan tiba pada lapisan dalam dari bola mata, retina yang terdiri dari jaringan ujung-ujung akhir ujung syaraf mata. Pada retina getaran elektromegnetik diproses melalui peristiwa kimiawi, dan merangsang urat syaraf otak yang khusus yang berfungsi untuk melihat. Sinar visual adalah bagian dari semua sinar yang lahir dari matahari atau lampu. Kumpulan sinar yang bergelombang antara 400 dan 800 nanometer ini, bisa dipertunjukkan dengan memakai kaca bersegitiga, disebut prisma. Kaca ini memilah sinar-sinar menurut panjang-gelombangnya masing-masing, dan setelah melalui prisma sinar-sinar itu dihadang oleh lembaran kertas, masing-masing sinar dipantulkan oleh kertas itu sendiri, dan kita akan melihat rentetan warna-warni di atas kertas; mulai dari warna merah, oranye, kuning, hijau, biru, indigo, hingga ungu. Jejeran warna-warni ini yang disebut spektrum mewakili semua warnawarni yang bisa dilihat oleh mata manusia. A. WARNA-WARNI Warna-warni yang dapat kita lihat terbagi atas: Warna primer, atau warna tulen, yakni warna-warni yang tidak bisa dibuat dengan memakai warna yang lain sebagai bahannya. Warna-warni primer ini adalah: merah, kuning, dan biru. Warna sekunder, warna tahap kedua, yakni warna-warni yang dapat dibuat dengan campuran antara dua warna primer merah barsama kuning membuat oranye, kuning bersama biru membuat hijau, biru bersama merah membuat ungu. Warna tersier, warna tahap ketiga, dibuat dengan warna sekunder dicampur dengan warna primer yang bukan komplemen dari warna itu: merah dengan orenye membuat orenye kemerahan, merah dengan ungu membuat ungu kemerahan, dan lain-lain.

Warna-warni primer, sekunder dan tersier bisa disusun dalam suatu lingkaran. Warna-warni yang dalam lingkaran itu berposisi saling berhadapan dirasakan cocok untuk dikombinasikan (dipakai berdampingan, bukan dicampur) di sebut warna komplementer (saling mengisi). B. SIFAT-SIFAT DARI WARNA Semua warna memiliki sifat-sifat mendasar yang ikut menentukan persepsi (kesan) yang terjadi pada kita setelah tahap penangkapan (sensasi) oleh mata kita. Sifat-sifat itu adalah: 1. Corak (Inggris: hue) 2. Nada (tone) 3. Cerah, kekuatan (intensity) 4. Kesan suhu (temperature) 5. Suasana (mood) 6. Kesan-jarak (distance)

4. KESERASIAN, HARMONI DAN KESEIMBANGAN Kombinasi warna yang menurut coraknya cocok atau harmonis, seperti halnya dengan dua warna yang komplementer belum tentu menghasilkan komposisi yang seimbang. Hal ini disebabkan karena masing-masing warna mempunyai kekuatan asal tersendiri. Kekuatan asal ini adalah terlepas dari sifat kuat atau cerah dari warna bersangkutan. Sifat kekuatan-asal memang terletak pada corak atau jenis dari warna itu sendiri. Yang disebut dengan kekuatan-asal itu lebih Nampak pada kombinasi (lebih menyolok dari) warna yang kekuatanasalnya kurang. Perbandingan dari kekuatan-asal yang dimiliki oleh warna-warni masing-masing, terlepas dari cerahnya. Perbandingan kekuatan-asal itu sangat penting karena untuk mencapai keseimbangan (keserasian) misalnya warna yang besar kuat-aslinya harus diberi bidang yang lebih kecil daripada warna yang kuat-

aslinya kurang. Sebaliknya yang lemah diberi bidang yang lebih luas daripada yang kuat untuk mencapai keseimbangan.

BAB VI STRUKTUR Struktur atau susunan dari suatu karya seni adalah aspek yang menyangkut keseluruhan dari karya itu dan meliputi juga peran masing-masing bagian dalam keseluruhan itu. Kata struktur mengandung arti bahwa di dalam karya seni itu terdapat suatu pengorganisasian, penataan; ada hubungan tertentu antara bagianbagian yang tersusun itu. Tiga unsur estetika mendasar dalam struktur setiap karya seni adalah: - Keutuhan atau kebersatuan (unity) - Penonjolan atau penekanan (dominance) - Keseimbangan (balance) KEUTUHAN (UNITY) Dengan keutuhan dimaksudkan bahwa karya yang indah menunjukkan dalam keseluruhannya sifat yang utuh, yang tidak ada cacatnya, berarti tidak ada yang kurang dan tidak ada yang berlebihan. Keutuhan mempunyai tiga segi yang masing-masing dapat dibahas tersendiri yakni: a. Keutuhan dalam keanekaragaman (unity in diversity) Dalam karya seni keanekaragaman atau variasi dari bagian -bagiannya biasanya membuat karya sangat menarik. Akan tetapi keanekaragaman yang sangat berlebihan akan mengurangi kesan indahnya, karena melebihi kemampuan persepsi (penangkapan) oleh manusia. Tiga macam kondisi (keadaan yang dibuat khusus) yang berpotensi atau bersifat memperkuat keutuhannya, adalah: 1. Simetri (symetry) Simetri atau kesetakupan adalah cirri atau kondisi dari suatu kesatuan, dimana kesatuan itu bila dibagi-bagi dengan suatu tengah garis yang vertical (tegak lurus), menjadi dua bagian yang sama besarnya, bentuk dan wujudnya. Belahan satu merupakan pencerminan dari yang lain. Simetri

member rasa tenang dan aman, dank arena itu bersifat memperkuat rasa keutuhan sesuatu karya seni. 2. Ritme (irama) Dalam suatu karya seni, ritme atau irama merupakan kondisi yang menunjukkan kehadiran sesuatu yang terjadi berulang-ulang secara teratur. Ritme mempunyai sifat memperkuat kesatuan dan keutuhan. Ritme mempunyai peranan yang besar dalam seni music, seni karawitan, seni tari. Ritme bukan hanya terdapat pada seni karawita dan seni tari yang melibatkan waktu, tetapi juga berperan dalam seni rupa dan arsitektur. Penampilan garis-garis yang sama bentuknya secara ritmis, bidang-bidang berwarna berulang secara teratur dalam seni bangunan, semua itu memperlihatkan peran ritme yang dapat menambah k eutuhan dan dengan sendirinya mutu estetik karyanya. 3. Harmoni atau keselarasan Dengan harmoni dimaksudkan adanya keselarasan antara bagian -bagian atau komponen yang disusun untuk menjadi kesatuan bagian-bagian itu tidak ada yang saling bertentangan, semua cocok dan terpadu. Harmoni memperkuat keutuhan karena member rasa tenang, nyaman dan sedap, tidak mengganggu penangkapan oleh panca indra kita penangkapan itu terjadi dengan proses fisik dalam alat panca indra kita telinga menangkap getaran udara, mata menangkap getaran elektro magnetik. Dalam seni karawitan nada-nada harmonis mempunyai perbandingan frekwensi getaran yang tertentu, yang disebut oktaf, terts, kwint. Perpaduan yang cocok dalam seni music disebut konsonan dan yang tidak cocok disebut dissonan. b. Keutuhan dalam tujuan (unity of purpose) Keutuhan dalam tujuan diperlukan agar perhatian dari yang menyaksikan betul-betul dipusatkan pada maksud yang sama dari karya itu dan tidak terpencar kebeberapa arah yang tidak karuan. Dalam kata tujuan sudah terkandung pengertian bahwa dalam penampilan karya seni itu sang pencipta ingin mengarahkan pikiran dan perasaan kita kejurusan tertentu.

Masalah keutuhan dalam tujuan tidak selalu semudah itu nampaknya. Sering sekali masalahnya sangat sulit karena lebih kompleks. Seringkali juga terjadi bahwa lebih dari satu tujuan yang dimaksudkan. Keutuhan dalam halhal yang demikian dapat dicapai dengan menampilkan satu konsep, gagasan yang mencakup semua masalah-masalah yang diketengahkan di bawah satu prinsip. Masalah lain mengenai tujuan muncul pada apa yang disebut keseniantanpa-bobot. Kesenian ini memang menampilkan keindahan semata, keindahan garis, warna atau suara belaka untuk dinikmati hanya bentuknya dan susunannya c. Keutuhan dalam perpaduan Keutuhan dalam perpaduan yang merupakan suatu prinsip dalam estetika, bila ditinjau dari sudut filsafat ini, pada hakekatnya memandang sesuatu utuh kalau ada keseimbangan antara unsur-unsur yang berlawanan. Dalam estetika perlawanan antara unsur-unsur disebut kontras. Penggunaan kontras terdapat dalam semua jenis kesenian: seni lukis. Seni patung, seni drama, seni sastra, seni musik, karawitan, seni tari dan sebagainya. Kontras mempunyai sifat menambah mutu estetika dari karya seni karena membuat karya seni itu lebih kompleks, rumit, berarti menambah complexity dari karya tersebut.

BAB VII PENONJOLAN DAN KESEIMBANGAN 1. Penonjolan Penonjolan mempunyai maksud mengarahkan perhatian orang yang menikmati suatu karya seni sesuatu hal tertentu, yang dipandang lebih penting daripada hal-hal yang lain. Penonjolan dalam suatu karya seni bisa membuat cirri yang khas pada karya seni itu, yang disebut karakter. Di banyak tempat sering terjadi bahwa penonjolan dengan cara tertentu, setelah sangat menarik perhatian, cepat ditiru oleh seniman yang lain. Dalam kesenian jenis lain yang sifatnya lebih kompleks dari pada seni lukis dan seni patung misalnya seni tari, seni drama dan sendratari, penonjolannya lebih banyak berkaitan dengan bobot daripada dengan wujud dan dalam cara penampilan karyanya. Perlu diperhatikan oleh pelaksana seni pentas, bahwa penampilan yang salah atau menyimpang dari maksud sang pencipta bisa menghapus penonjolan yang dimaksud dan mengkaburkan bobot dan tujuan dari karya aslinya. 2. Karikatur Penonjolan yang paling nyata dan menarik terdapat dalam seni karikatur, suatu cabang dari seni gambar di mana ciri tertentu dari seorang atau peristiwa di tampilkan dengan cara yang khas. Seni dalam karikatur terdiri dari ketepatan menampilkan sesuatu yang langsung bisa masuk di hati masyarakat. Dengan cara sublimasi, karikatur sering digunakan untuk mengungkapkan secara halus dan senyuman tentang hal-hal yang kurang enak agar tidak pahit dirasakan oleh yang bersangkutan. 3. Keseimbangan (balance) Adalah sifat alami manusia, bahwa dalam menempatkan dirinya terhadap alam lingkungan hidupnya selalu menghendaki keseimbangan mulai saat baru

belajar berdiri dan berdiri sendiri, ia memerlukan rasa keseimbangan agar tidak jatuh dan untuk mempertahankan tegak tubuhnya. Rasa keseimbangan dalam karya seni paling mudah tercapai dengan simetri. Kehadiran simetri member ketenangan karena adanya keseimbangan. Keseimbangan dengan simetri yang member ketenangan itu disebut symmethic balance. Keseimbangan dapat juga dicapai tanpa simetri, yang disebut a-symmethic balance. Bagian yang lancip lebih panjang dari pada bagian yang tebal, terjadi keseimbangan yang tidak simetris, disebut asymmetric balance. Keseimbangan yang tidak simetris member kesan mau bergerak, yang dinamis, kesan bahwa sebentar aka nada perobahan. Berkat dinamisnya ini asymmetric balance mempunyai daya tarik lebih besar daripada simetric balance. Yang dinamis dirasakan lebih hidup dari pada yang statis. Menyangkut keseimbangan dan penonjolan, apa yang diuraikan tentang seni rupa dapat diterapkan dalam semua kesenian yang lainnya. Yang berbeda adalah jenis dan unsur-unsur dalam masing-masing kesenian. Kesamaan yang selalu hadir adalah cara-cara dalam mempertimbangkan kualitas yang terkandung dalam masing-masing unsur dan perasaan yang menyangkut kebersatuan atau keutuhan (unity), penonjolan (dominance), dan keseimbangan (balance) dalam penyusunan sebuah karya seni.

BAB VIII BOBOT 1. Aspek Estetik Dengan bobot dari suatu karya seni kita maksudkan isi atau makna dari apa yang disajikan pada sang pengamat. Bobot karya seni dapat ditangkap secara langsung dengan panca indera. Bila kita melihat lukisan yang bercorak abstrak kita tidak langsung mengetahui bobotnya tanpa mendapat penjelasan, paling sedikit dengan membaca judul lukisan tersebut. Secara umum bobot dalam kesenian dapat diamati setidak-tidaknya pada tiga hal: a. Suasana b. Gagasan atau Ide c. Ibarat atau anjuran

2. Persepsi: Penerimaan Bobot Karya Seni Disamping kategori bobot yang dibawakan oleh masing-masing jenis kesenian, untuk yang mana masing-masing kesenian yang satu dan lainnya mempunyai makna dan kekuatan yang berbeda. Kiranya masih perlu dipertimbangkan bagaimanakah jatuhnya bobot karya seni itu ke dalam hati sanubari masyarakat. Disukai atau tidak oleh masyarakat tentu banyak tergantung dari wujud karya seni itu, tetapi tidak kalah pentingnya penerimaan bobot kesenian itu di masyarakat. Walaupun mungkin mutu estetika dari perwujudannya cukup tinggi; tetapi jika bobot dan isi dari yang disajikan tidak sesuai dengan keinginan atau rasa kesusilaan, norma-norma yang hidup dalam masyarakat bersangkutan, sangat besar kemungkinan karya seni itu tidak diterima baik, malah bisa ditolak sama sekali. Hal ini bisa terjadi kalau karyanya mengandung hal-hal yang tidak senonoh, menjengkelkan, atau sangat mengerikan.

3. Sublimasi Kata sublimasi berasal dari sublime yang berarti luhur, hingga sublimasi dapat diartikan pengluhuran (membuat luhur sesuatu). Sublimasi dalam kesenian menyangkut beberapa macam cara pengolahan materi dalam kesenian itu, yang bertujuan untuk menghindari penolakan suatu karya seni oleh masyarakat atau oleh pihak tertentu. Pengolahan-pengolahan itu meliputi: a. Tragedi (kesedihan yang luhur) b. Pathos (penderitaan yang luhur) c. Komedi (sandiwara gembira)

4. Peran Komunikasi Dalam kesenian yang berbobot cara penyampaian atau aspek komunikasi merupakan unsur yang sangat penting. Maksud atau makna dari karya seni tidak akan sampai ke dalam hati sang pengamat bila komunikasinya kurang efektif, hubungan antara karya dan yang menyaksikannya tidak mantap. Alat atau benda yang digunakan untuk berkomunikasi dalam dunia kesenian pada umumnya disebut wahana atau media. a. Wahana-wahana intrinsik Kadang-kadang suatu karya seni dalam keseluruhannya merupakan wahana intrinsic, dimana unsure kesenian yang berada dalam karya sang seniman, yang secara khusus menyampaikan kepada kita seninya dari karya itu. b. Wahana ekstrinsik Aspek ekstrinsik merupakan sesuatu yang berada di luar kesenian karya seni yang ditampilkan, tidak merupakan bagian integral dari keseniannya. Wahana ekstrinsik pada umumnya terdiri dari benda-benda pakai, alat-alat penunjang pementasan, seperti mikrofon, pengeras suara, lampu, panggung, instrument music dan gamelan.

Bagaimanapun juga, peranan wahana ekstrinsik maupun intrinsic dalam kesenian sangat besar, karena mempengaruhi hasil komunikasi yang dicapai oleh seniman. Karena itu sang seniman dan lebih penting lagi sang koreografer harus mengetahui batas-batas kekuatan masing-masing wahana terhadap jenis kesenian yang dibawakan. Kata-kata: Wahana Intrinsik dan Ekstrinsik Kata-kata merupakan wahana ekstrinsik untuk membawakan isi atau bobot dalam beberapa jenis kesenian, seperti dalam seni drama, seni wayang, seni karawitan dan seni tari. Dalam seni sastra kata-kata sendiri merupakan unsure keseniannya, terutama dalam seni puisi tetapi juga dalam seni prosa. Kata-kata tergolong dalam wahana intrinsic, karena pilihan dan pengolahan kata serta penyusunan (struktur) kalimat langsung member nikmat-indah kepada yang mendengar atau membacanya. Cara penyampaian bobot dalam seni sastra meliputi tiga macam sifat yang berlainan:
a. Deskriptif, kalau hanya menceritakan atau memaparkan sesuatu b. Liris, mencetuskan perasaan pribadi c. Imperatif , jika mengandung anjuran atau perintah

Simbol, Pertanda, Aba-aba (Wahana Intrinsik) Simbol, pertanda atau wangsit mempunyai arti tertentu, makna yang lebih luas daripada apa yang tampil secara nyata, yang dilihat atau did engar. Simbol mewujudkan komunikasi secara langsung, tetapi hanya bagi mereka yang sudah mengetahui artinya. Simbol yang wujudnya sama atau sangat mirip dengan apa yang dimaksudkan, disebut symbol ikonik, misalnya rambu-rambu lalu lintas pada persimpangan jalan, tanda bahwa jalan akan membelok ke kiri atau ke kanan, tanda adanya gelombang-gelombang di jalan. Simbol yang wujudnya sama sekali tidak mirip dengan arti yang dimaksudkan, disebut symbol non-ikonik. Artinya

harus dipelajari untuk dikenal, seperti misalnya burung dara untuk perdamaian, salib untuk Agama Kristen. Atau bulan bintang untuk Agama Islam. 5. Kesenian Tanpa Bobot Seni gambar dan seni lukis, kesenian tanpa bobot banyak diketemukan dalam seni orgamentik, dimana garis-garis dan bidang member rasa-nikmat melulu tanpa ada sesuatu yang dibayangkan. Rangsangan rasa indah terjadi berkat penempatan dan penyusunannya yang sesuai dengan peranan dari unsur-unsur estetika masing-masing dalam struktur perwujudannya. 6. Bobot dan Tujuan Sesuatu yang pernah dialami dan sangat menggugah perasaan seorang seniman kadangkala bisa mendorongnya untuk mencetuskan emosinya dalam suatu karya seninya. Tapi dalam dunia kesenian pencetusan rasa tidak semua dan tidak selalu terjadi secara spontan atau impulsif. Seringkali sang seniman menyajikan sesuatu yang mengandung (berbobot) emosi, padahal saat ia membuat atau melakukan seninya ia tidak beremosi yang demikian. Berkat kemampuannya yang kreatif ia berhasil membuat karya seni atau melakukan drama yang menggugah perasaan orang yang menyaksikannya sesuai dengan bobot kesenian itu. Seni gambar iklan atau seni poster yang sudah menduduki tempat sebagai kesenian tersendiri bertujuan untuk membangkitkan keinginan khalayak ramai untuk membeli sesuatu atau menyaksikan pertunjukan. Kejujuran, kesungguhan dan kebenaran serta kepercayaan atas kemampuan diri sendiri merupakan nilai nilai dasar dari semua kesenian yang sejati.

BAB IX PENAMPILAN Selain aspek wujud, dan bobot, penampilan merupakan salah satu bagian mendasar yang dimiliki semua benda seni atau peristiwa kesenian. Dengan penampilan dimaksudkan cara penyajian, bagaimana kesenian itu disuguhkan kepada yang menyaksikannya, penonton, para pengamat, pembaca, pendengar, khalayak ramai pada umumnya. Penampilan menyangkut wujud dari sesuatu, entah sifat wujud itu konkrit atau abstrak, yang bisa tampil adalah yang bisa terwujud. 1. Perwujudan Karya Seni Pengadaan karya seni dari tidak ada sampai wujud yang nyata dapat dinikmati keindahannya oleh orang, disebut penciptaan. Dalam kamus Bahasa Indonesia (Purwadarminta, 1976) disebut: Cipta= (pemusatan) pikiran, angan-angan. Daya cipta= kesanggupan batin (pikiran) untuk mengadakan sesuatu. Mencipta= memusatkan pikiran (angan-angan) untuk mengadakan sesuatu. Menciptakan= menjadikan, membuat sesuatu tidak dengan bahan. Ciptaan= barang apa yang diciptakan. Penciptaan= (perbuatan menciptakan) adalah peristiwa yang merupakan proses bertahap, diawali dengan timbulnya suatu dorongan yang dialami oleh seorang seniman. Baik motivasi maupun impuls yang mengawali penciptaan karya seni langsung menanam bibit, benih, karyanya (incept) yang disadari (motivasi) atau yang tidak disadari (impuls). Setelah itu proses penciptaan itu sendiri berlangsung melalui beberapa tahap yang dengan jelas dapat dipisah-pisahkan satu sama lain mengenai sifatnya atau kualitasnya. Tahap-tahap itu tidak selalu dipisahkan

mengenai urutan waktu terjadinya. Hal inilah yang merupakan fenomena yang khas dalam kesenian Keadaan itu memang melekat pada sifat bebas yang merupakan sifat mutlak dari seniman dari tahap-tahap ini yang urutannya diungkapkan oleh Graham Wallas dalam buku: The Art of Thought terdiri dari: a. Preparation (preparasi, persiapan) b. Incubation (inkubasi, penetesan bibitnya) c. Inspiration (inspirasi, ilham) d. Elaboration (elaborasi, perluasan dan pemantapan)

2. Penampilan Karya Seni Dalam seni lukis dan seni patung keseniannya secara langsung disajikan oleh sang seniman sendiri. Lain halnya dengan seni tari dan seni karawitan, dimana hasil ciptaan seniman memerlukan seniman lain untuk menampilkannya. Kesenian yang memerlukan kesenian lain untuk menampilkannya disebut seni pentas (performing arts). Tiga unsur yang berperan dalam penampilan: a. Bakat seni Bakat adalah potensi kemampuan khas yang dimiliki oleh seorang, yang didapatkan berkat keturunannya Bakat seseorang bisa mengenai satu cabang kesenian tetapi ada yang mempunyai bakat dalam segala macam kesenian. b. Keterampilan Keterampilan adalah kemahiran dalam pelaksanaan sesuatu yang dicapai dengan latihan. Taraf kemahiran tergantung dari cara melatih dan ketekunannya melatih diri. c. Sarana, Media atau wahana Ekstrinsik Busana, make up, dan sebagainya. Yang tergolong wahana intrinsik sangat mempengaruhi kesenian yang ditampilkan. Bagaimanapun besarnya bakat dan keterampilan seorang seniman, wahana yang dialami pada pementasan

keseniannya sangat berpengaruh atas penampilannya, caranya membawakan keseniannya di atas panggung.

BAB X KREASI DAN PRODUKSI 1. Kreativitas dan Produktivitas Penbahasan tentang perwujudan karya seni tidak dapat diakhiri tanpa menyebut bahwa antara perwujudan karya seni terdapat dua macam perbuatan yang berbeda secara mendasar. Kreativitas, menghasilkan kreasi baru, dan Produktivitas, menghasilkan produk baru, yang merupak ulangan dari apa yang telah terwujud walaupun sedikit percobaan atau variasi di dalam pola yang telah ada. Diantara kedua jenis ini terdapat perwujudan yang bukan sepenuhnya kreasi baru, yang bersifat peralihan di tengah, yang memasukkan unsur-unsur yang baru ke dalam Sesutu yang telah ada, atau mengolahnya dengan cara yang baru, yang belumpernah dilakukan, yang bersifat original (asli). Karya

demikian yang disebut gegubahan, atau pengolahan; adalah suatu pelaksanaan yang berdasarkan pola pikiran yang baru atau pola-laksana-seni yang baru, yang diciptakan sendiri. Kreativitas menyangkut penemuan sesuatu yang seninya belum pernah terwujud sebelumnya. Yang dimaksud bulanlah wujud yang baru, tetapi adanya pembaharuan dalam konsep-konsep estetikanya sendiri, atau penemuan konsep yang baru sama sekali. Untuk disebut kreasi baru tidak selalu perlu adanya perubahan sedemikian yang radikal. Perubahan itu haruslah merupakan suatu perubahan yang mendasar, yang prinsipil. Perubahan itu bisa mengenai komposisi gamelan, seperti membuat unit yang terdiri dari sepuluh buah gender wayang, bisa juga mengenai jenis pelaku, busana penari, atau tentang bobot dan tujuan karya seni. Perubahan yang prinsipil tidak selalu besar dalam penampilannya sendiri.

Untuk

menghindari

salah

pengertian

perlu

diingatkan

bahwa

penggolongan kreasi baru dan produksi baru sama sekali tidak mengandung evaluasi yang menyangkut senu mutunya masing-masing. Banyak produksi baru yang sangat tinggi mutu seninya, dan banyak juga kreasi-kreasi baru dan tidak bermutu dan segera musnah karena tidak mendapat sambutan atau dukungan yang cukup dari masyarakat. Hanya kreasi-kreasi yang bermutu dan membuat masyarakat terpaku berkat kwalitasnya, dengan sendirinya akan bertahan dan bisa berkembang terus. Untuk menciptakan kreasi baru sang seniman sama sekali tidak perlu berpijak pada suatu gaya yang baru baginya sendiri. Ia tetap bisa memakai gayanya sendiri yang lama. Dalam hal yang demikian kreasi barunya berkisar pada bobotnya, gagasan atau pesan yang disampaikan kepada masyarakat. 2. Rekonstruksi Dengan rekonstruksi dimaksudkan pembuatan baru dari apa yang pernah ada tetapi pada saat sekarang tidak atau hamper tidak ada lagi. Dalam pelaksanaan rekonstruksi sering terjadi polemik antara pakar-pakar seni. Perselisihan pendapat mudah timbul oleh karena sumber pengetahuan tentang apa yang ada di masa lampau yang terutama berdasarkan ingatan orang tua , seringkali berlainan dari tempat ke tempat, dan juga di suatu tempat yang sama bisa didapatkan informasi yang berlainan, tergantung oleh nara sumbernya. Oleh karena itu bagi setiap rekonstruksi perlu disebut asal nara sumber, lokasi dan masanya.

BAB XI NIKMAT INDAH Pada dasarnya tidak ada perbedaan antara nikmat keindahan alam dengan nikmat keindahan karya seni. Kedua-duanya menyangkut kesenangan,

kenyamanan, keterbawaan dan kepuasan. Menikmati keindahan merupakan suatu proses, peristiwa atau kejadian yang berlangsung di dalam jiwa dan budi manusia, proses yang berentetan yang berganda sifatnya: fisiologis. Biologis, psikologis dan spiritual.Proses tersebut dapat di bahas tahap demi tahap , mulai dengan penangkapan rangsangan oleh panca indera kita. Panca indera manusia berfungsi untuk mengenal keadaan dunia luar dan terdiri dari: Visual untuk melihat, Akustik (juga auditif) untuk mendengar, Taktil untuk meraba, merasa, Gustatoris untuk mengecap, mencicip, Olfaktoris untuk membau, mencium. Perasaan-perasaan yang berkaitan dengan nikmat-indah dibangkitkan melalui indera visual atau indera akustik. Indera yang lainnya yakni yang bersifat taktil, gustatoris dan olfaktoris lebih banyak berfungsi dalam kehidupan yang lebih mendasar yang berkaitan dengan keselamatan tubuh atau kelangsungan hidup makhluk, dank arena itu disebut dengan indera-indera vital. Indera-indera vital itu juga bisa member rasa senang dan kepuasan. Rentetan peristiwa-peristiwa dalam proses nikmat-indah dapat dilihat dari beberapa bagian: a. Sensasi Rangsangan yang dari luar ditangkap oleh mata dan telinga menimbulkan dalam alat penerimaan itu semacam getaran yang disebut sensasi

(sense=rasa). Sensasi yang kita terima dengan mata belum berarti apa-apa. Sebenarnya dalam tahap ini kita belum melihat apa yang ditangkap oleh mata kita. Sama halnya ketika kita masih banyi, sensasi rasa yang sampai pada kita melalui panca indera hanya bisa membedakan antara yang enak dan yang tidak enak. Reaksinya tenang atau teriak, menangis. b. Persepsi Tahap ini dimana sensasi itu telah berkesan disebut persepsi. Pada orang yang fungsi otaknya cepat atau yang kurang berpengalaman, antara sensasi dan persepsi berselang sejenak waktu. Persepsi secara langsung juga menggerakkan proses asosiasi-asosiasi dan mekanisme lain seperti komparasi (perbandingan), differensiasi (penyimpulan). c. Impressi Tahap dimana persepsi (kesan) telah menjadi keyakinan disebut impressi. Perbedaan dengan persepsi adalah bahwa yang sudah bersifat impresi setiap waktu dapat diingatkan kembali, karena sudah tertanam dalam wilayah kesadaran kita. Keyakinan-keyakinan yang dahulaun yang ada kaitanya atau relevan yang baru. d. Emosi Emosi adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan dan dalam menikmati kesenian memang diperlukan. Emosi-nikmat-indah sifatnya berlainan daripada apa yang ada dalam perkataan sehari hari kita sebut emosi, yakni perasaan yang meluap tanpa dapat dikendalikan, misalnya marah, senang, dan sebagainya. e. Interpretasi Interpretasi menyangkut aktivitas dari daya piker akibat impresi yang masuk ke wilayah kesadaran. Interpretasi merupakan fungsi aktif intelek manusia, yang karena ditambah dengan emosi, menhasilkan pengertian yang lebih mendalam tentang apa yang dipersepsi. f. Apresiasi (penbeda-bedaan), analogi (persamaan), dan sintesis

Merenungkan tentang pengertian atau yang telah diinterpretasikan, mempersoalkan interpretasi itu, menimbangnya terhadap fakta-fakta yang lain, mempertimbangkan kebenaran sampai dimana maknanya, adalah fungsi intelek yang berganda yang bisa dirumuskan dengan kata apresiasi. g. Evaluasi, penilaian Sampai dengan apresiasi semua tahap-tahap yang disebut berlangsung dalam jiwa kita sendiri dan untuk kita sendiri. Renungan dan rumusan yang kita sampaikan kepada orang lain, baik secara lisan atau tertulis disebut evaluasi atau penilaian.

BAB XII LAHIR DAN BERKEMBANGNYA FALSAFAH Perbedaan yang utama antara manusia dan binatang adalah bahwa binatang hanya bergantung pada naluri (instinct) sedangkan manusia memiliki akal, daya berpikir serta kemampuan memikirkan sesuatu yang baru secara kreatif untuk menguasai dan mengatur alam sekitarnya guna menyempurnakan kehidupan dirinya. Dengan makin terjaminnya kebutuhan pokok bagi manusia, terwujudlah kesenjangan waktu untuk melakukan kegiatan yang tidak lagi melulu bertujuan untuk mengisi perut, melindungi diri dari ancaman alam seperti hujan, terik matahari, suhu dan angin. Manusia mendapatkan waktu untuk kegiatan-kegiatan yang memenuhi kebutuhan rohaniah, mulai dari bersenang-senang sampai dengan melaksanakan upacara-upacara yang menghubungkan manusia dengan kekuatankekuatan yang ia anggap berpengaruh atas kehidupannya. Segala kegiatan yang mengatur kehidupan manusia bersama dalam masyarakat (kehidupan social) melahirkan segala peraturan -peraturan, adat dan hukum. Keseluruhan dari kegiatan duniawi dan rohaniah yang dilakukan manusia untuk mengatur kehidupan dan menjamin keselamatannya disebut kebudayaan. Kebudayaan berkembang dari tahap yang sederhana menjadi makin lama makin kompleks. FALSAFAH Falsafah dapat dirumuskan sebagai kegiatan intelek manusia yang memikirkan tentang masalah-masalah pokok dalam segala bidang kehidupan manusia, hubungan antara manusia dan alam sekitarnya, dengan alam semesta, tentang keberadaannya di dunia, tentang keberadaan alam semesta, tentang hubungan manusia dengan Sang Penciptanya, dan sebagainya.

Pada permulaan falsafah mempermasalahkan keadaan alam semesta dan keberadaan manusia ditengahnya. Ilmu pengetahuan yang khusus

mempermasalahkan alam semesta disebut kosmologo, (kosmos= alam semesta). Perwujudan dari cara-cara menyatakan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang pada umumnya disebut agama, dipengaruhi oleh waktu, kondisi dan situasi di wilayah masing-masing, dank arena itu berbeda-beda di seluruh dunia. Ritual merupakan bagian dari agama. Perwujudan ini yang dengan mudah dapat diartikan oleh segenap anggota masyarakat memudahkan pelaksanaan dan penerapan agamanya di kalangan masyarakat bersangkutan, walaupun ada juga agama yang tidak memakai ritual. Terlepas dari pengaruh-pengaruh, falsafah mengalami perkembangan yang lebih luas, berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan (science). Dewasa ini seluruh kegiatan falsafah dibagi dalam 6 bidang, yakni: Metafisika, tentang ketuhanan dan kepercayaan. Epistemologika, tentang system pengetahuan dimiliki manusia. Metodologika, tentang cara mendapatkan pengetahuan. Logika, tentang proses pemikiran dan penalaran. Etika, tentang perilaku, kesusilaan, moralitas. Estetika, tentang keindahan, nilai-nilai indah dan rasa indah. Estetika bisa dirumuskan sebagai Falsafah keindahan, sepanjang yang dipermasalahkan adalah aspek falsafahnya. Karena sebagaimana telah diketahui bahwa Estetika juga mempunyai aspek ilmiawi. Dilihat dari sudut filsafatinya saja estetika mempunyai ruang lingkup yang luas sekali, boleh dikatakan tidak terbatas.

BAB XIII FALSAFAH KEINDAHAN MASA KLASIK YUNANI: PLATO Plato, seorang filsuf Yunani, hidup tahun 428-348 SM, merupakan seorang penyair yang sangat produktif, menghasilkan banyak cerita berupa syair dalam wujud percakapan (dialog) antara pelaku di atas panggung. Kegemaran akan seni sastra mirip dengan apa yang dikenal di Bali sebagai pepaosan, mebebasan, dimana ahli kekawin membacakan dengan nada yang khas sloka-sloka dari buku tradisional Bali (lontar) di muka suatu kelompok peminat, atau seperti salah satu diantaranya mendapat tugas untuk menterjemahkan bacaannya dalam bahasa Bali yang halus secara deklamasi. Persamaan antara keadaan Yunani pada masa Klasik dengan di Bali, juga diketemukan mengenai kedudukan kesenian dan para seniman di tengah masyarakat: saat belum dikenal istilah seni dan seniman. Dalam situasi di masa lampau sang seniman mengutamakan untuk menghasilkan pekerjaan yang baik dalam arti menurut kehendak yang member pekerjaan itu, (pekaryan sane becik, sane ngeranjing ring pekayunan). Becik adalah yang memenuhi syarat-syarat yang sesuai selera atau pendapat masyarakat banyak. Secara tradisional syarat-syarat itu tercantum dalam lontar-lontar tertentu, ada yang mengenai tari-tarian, tabuh, arsitektur, yang kesemuanya ada kaitannya dengan agama. 1. Ukuran dan Proporsi Pada masa klasik di Yunani pekerjaan seorang seniman disebut techne (kerajinan tangan) yang terdiri dari dua unsur penting, yakni pengetahuan dan keterampilan.Sang seniman dihargai karena pengetahuan dan keterampilannya. Pengetahuan yang diutamakan adalah tentang ukuran yang benar dan proporsi yang benar. Menurut Plato pengetahuan tentang ukuran dan proporsi merupakan syarat utama keindahan.

Persyaratan yang dikemukakan Plato adalah pengaruh dari faham yang dianuti oleh masyarakat Yunani pada umumnya tentang alam semesta. Plato menghendaki agar manusia seyogyanya mengikuti ukuran yang harmonis yang ada pada alam semesta. 2. Keindahan dan Cinta Sebagai seorang filsuf Plato bukan saja memikirkan tentang apa yang dirasakan indah dalam kesenian dan pada alam semest , a ia juga

mempermasalahkan tentang apakah keindahan itu dan asalnya, dari mana datangnya keindahan itu. Cinta member kemampuan untuk menikmati keindahan sehingga aspek rasa cinta harus dikembangkan pada manusia. Kebahagian bukan hanya dirasakan oleh manusia pada saat melihat, mendengar sesuatu yang indah, tetapi juga dialami pada waktu melihat peristiwa yang mempesona dan menggembirakan, yang menggugah perasaan, seperti perbuatan baik kepada sesame manusia. Setelah ada keyakinan bahwa keindahan dating dari cinta, pengabstrakan rasa cinta itu yang menghasilkan rasa indah memaksa Plato untuk memikirkan dan merenungkan secara lebih mendalam tentang apa keindahan itu sendiri. Dalam hubungannya dengan peradaban Yunani tentang keindahan, masyarakat biasa membayangkan adanya dewa keindahan yang dalam pikiran Plato dipandang sebagai ide abstrak yang tercermin di dalam sesuatu yang indah. Yang manusia lihat sebagai indah, bukan keindahan yang abstrak yang berada tersendiri, yang berdaulat, tetapi hanya pencerminan atau initasi dari yang sesungguhnya. Ide keindahan itu tidak terikat pada benda yang indah itu, ia berada tersendiri, mempunyai eksistensi tersendiri, berdaulat. Eksistensi yang berdaulat dari ide keindahan ini adalah sejajar dengan ide-ide lain yang berdaulat, misalnya keadilan, keiklasan, kebijaksanaan, kejahatan. Pemikiran Plato tentang keindahan dapat disimpulkan seperti berikut:

a. Rasa indah berasal dari cinta dan kasih saying b. Keindahan sangat berdekatan dengan etika (kesusilaan) yang memasalahkan kebaikan budi dan perilaku. c. Tanggapannya tentang keindahan dipengaruhi oleh kosmologi. d. Sebagai isyarat untuk perwujudan keindahan diutamakan ukuran dan proporsi. e. Ditarik perbedaan yang jelas antara keindahan yang berada.

3. Imitasi dari yang Absolut Plato menulis tentang keindahan dalam kesenian yang pada masa itu masih dipandang sebagai kejuruan dan keterampilan (techne). Keindahan yang kita lihat pada barang kesenian, semua keindahan dipandang sebagai pencerminan dari ide keindahan yang sejati. Kehadiran pencerminan dipandang sebagai hasil dari suatu kemampuan khas dalam jiwa sang seniman yang dengan bakatnya bisa berpartisipasi dengan dewa keindahan hingga perbuatannya mencerminkan, mengimitasikan dewa keindahan. Imitasi itulah yang kita nikmati.

TRANCE, TAKSU, KETAKSON,KERAWUHAN Setelah terjadi perkembangan ilmu pengetahuan, dalam hal ini khusus ilmu jiwa (psikologi) dan ilmu penyakit jiwa (psikiatri), trance telah banyak dimengerti sebagai keadaan atau suatu kondisi jiwa manusia, dimana cirri yang pokok adalah penurunan kesadaran jiwa. Derajat penurunan kesadaran jiwa itu menentukan sebagaimana dalamnya keadaan trance tersebut. Trance juga dapat dicapai dengan kekuatan sendiri dari dalam melalui konsentrasi, meditasi, yoga. Di Bali dikenal taksu atau ketakson dalam kesenian, terutama pada seni pertunjukan. Yang dimaksud adalah bahwa kita rasakan seolah -olah ada kekuatan gaib menjiwai sang seniman sehingga menyaksikan sangat terpaku oleh penampilannya.

Dalam situasi yang lebih berkaitan dengan upacara yang dipercaya sebagai tenget (sakral) taksu yang seniman bisa berlebihan karena pengaruh kepercayaan tenget. Ia menjadi ketakson, kesadarannya sangat menurun, persepsinya mulai terganggu, kata-kata dan pembuatannya tidak sepenuhnya dikuasai lagi. Dalam keadaan trance kesadarannya lebih menurun lagi, kata-katanya menjadi acuh tak acuh, gerakannya menjadi otomatis, dan reaksi terhadap rangsangan pada permulaan menjadi terlalu keras dan akhirnya jadi buntu (tanpa reaksi)

BAB XIV PLOTINUS DAN ARISTOTELES Walaupun pada murid Plato sendiri, yakni Aristoteles, telah terdapat perbedaan pendapat dengan gurunya, namun pengaruh Plato atas falsafah pada umumnya dan falsafah keindahan pada khususnya, bertahan lama dan, menyebar jauh ke luar wilayah Yunani ke Eropa Barat serta sempat mempengaruhi kebudayaan Eropa sepanjang Abad pertengahan (abad ke-5 sampai dengan abad ke-12). Filsuf utama yang berjasa menanamkan pengaruh Plato adalah filsuf Plotinus, yang hidup di Yunani lebih dari 500 tahun kemudian, yakni tahun 204269 setelah masehi. Plotinus mengembangkan lebih jauh faham keindahan Plato bahwa semua yang kita nikmati melalui panca indera kita hanya merupakan bayangan (pencerminan, tiruan, imitasi) dari apa yang sesungguhnya, bayangan dari realitas yang sebenarnya, yang sejati, yang tulen. Kontak atau hubungan spiritual, yang diperoleh antara manusia dengan kekuatan dari atas (Roh, Dewa, Leluhur, Tuhan) disebut pengalaman mistik. Dalam peristiwa mistik ini seolah-olah ada sesuatu yang menerobos dan menembus batas jiwa kepribadian manusia dari atas, karena disebut transcendental, tidak ada lagi batas dari aku tetapi aku telah meleburkan diri, menjadi satu atau manunggal dengan kekuatan dari luar. 1. Transendentalisme Kontemplasi yang menghasilkan mistik ini diterapkan dalam falsafah keindahan dan selanjutnya dituangkan dalam teori tentang kesenian. Berdasarkan atas konsepsi mistik ini Plotinus beranggapan, bahwa untuk bisa menikmati keindahan dalam kesenian, diperlukan kontemplasi. Kontemplasi ini

menghasilkan kontak antara sang pengamat dengan prinsip idea yang pencerminannya kita nikmati sebagai keindahan yang hadir dalam karya seni itu. Mekanisme hubungan ini bersifat transendental sama dengan mekanisme

mistik. Kepribadian sang pengamat disini diterobos oleh kekuatan yang ditanamkan oleh sang seniman dalam karya seni itu sebagai pencermi an dari n Dewa Kehidupan. Disamping sebagai faham yang mendasari teori nikmat-indah dalam kesenian, transendentalisme berperan khusus dalam upacara keagamaan. Terbawa oleh kepercayaan yang kuat bahwa keselamatan dalam kehidupan manusia dikuasai oleh kekuatan dari atas, maka pada saat-saat tertentu dimana manusia putus asa menghadapi suatu krisis yang menimpa dirinya atau masyarakat, orangorang akan berusaha mengadakan hubungan dengan kekuatan dari atas itu (Roh, Dewa, Leluhur) untuk mohon bantuannya. 2. Aristoteles Menurut Plato dan Plotinus keindahan yang sesungguhnya hanya dapat dikenal dengan jalan meditasi, dimana nantinya pada suatu saat manusia dengan tiba-tiba didatangi karunia dari atas. Dengan kata lain nikmat indah berdasarkan metafisika, merupakan peristiwa alam gaib di luar penguasaan manusia. Bertentangan dengan itu Aristoteles berpendapat bahwa keindahan itu adalah atribut, perlengkapan dan sifat yang melekat pada benda itu sendiri, yang menyebabkan timbulnya rasa indah pada sang pengamat. Aristoteles merumuskan cirri-ciri utama dan sifat-sifat yang dimiliki benda indah atau benda kesenian yang menimbulkan rasa indah sebagai berikut: a. Harmoni, berukuran dan berproporsi yang tepat b. Murni dan jernih c. perfect sempurna, utuh, tidak ada cacatnya.

3. Seni sebagai Katarsis Tentang kesenian Aristoteles dalam karyanya hamper melulu

mempertimbangkan kesenian puisi, yang pada masa itu terbagi atas tiga jenis:

tragedi, menceritakan tentang kehidupan kaum bangsawan; komedi, menceritakan tentang kehidupan orang jelata; epos, menceritakan tentang dewa-dewa. Aristoteles masih memandang kesenian sebagai imitasi atau tiruan atau pencerminan dalam wujud yang indah dari apa yang sesungguhnya terdapat atau terjadi, baik di dunia yang dihuni manusia atau dunia yang dihuni dewa-dewa. Dalam seni puisi yang dinikmati keindahannya oleh manusia, Aristoteles menerangkan bahwa ada tiga unsur yang terlibat: a. Obyek kesenian. Dengan ini ia maksudkan sasaran atau tujuan dan permasalahan yang ditampilkan kepada pendengar dan penonton. b. Media kesenian. Dengan ini ia maksudkan alat penghubung yang digunakan sang seniman untuk menciptakan hubungan dengan sang penonton atau pendengar. c. Penampilan kesenian. Dimaksudkan cara-cara menyampaikan puisi. Aristoteles merupakan tokoh yang pertama kali secara sistematis mencatat semua hasil observasinya yang sangat tajam, Ia mencatat segala jenis bentuk, flora dan fauna dari yang paling kecil sampai yang besar seperti gajah, unta, kera, dan sebagainya.

BAB XV MASA ABAD PERTENGAHAN DAN RENAISSANCE 1. Masa Abad Pertengahan Middle Ages Konsepsi transendensi Plato yang kemudian dipertegas oleh Plotinus dimana kebenaran diharapkan dan ditunggu kebenarannya dari atas, sangat cocok dengan sifat keagamaan. Hal ini memperkokoh kedudukan agama Kristen dalam masyarakat. Kedudukan raja-raja yang berkuasa pada zaman itu didasarkan atas kepercayaan orang bahwa kekuasaan sang raja adalah takdir dari Tuhan. Para raja dan pengikutnya menguasai seluruh kekayaan masyarakat. Berdasarkan kepercayaan rakyat atas takdir kekuasaan raja-raja dan para bangsawan, maka rakyat rela dijadikan hamba bagi mereka, mengerjakan tanah tanah milik mereka tanpa pembayaran. Sebagai imbalan mereka mendapat jaminan dari raja dan bangsawan atas keselamatan dan kehidupan mereka, berupa perlindungan terhadap serangan musuh, perampok. Runtuhnya Feodalisme Akibat terjadinya peperangan yang terus menerus antara raja-raja dan bangsawan di Eropa, kepercayaan masyarakat terhadap mereka lama kelamaan menjadi merosot. Sekitar tahun 1200 perhatian masyarakat mulai bangkit terhadap ilmu pengetahuan yang diperoleh oleh Aristoteles pada masa klasik di Yunani. Lebih dari 100 tahun lamanya (1095-1270) umat Kristen dari seluruh pelosoak Eropa melakukan serangan ke kawasan Timur Tengah secara bergelombang sampai delapan kali dengan ratusan ribu tentara lascar untuk merebut kembali tempat kelahiran Yesus Kristus di Palestina dari kedudukan raja-raja yang beragama islam atau apa yang kemudian disebut dengan Perang Salib. 2. Renaissance (1350-1600 M)

Penghidupan kembali minat manusia terhadap alam duniawi dan ilmu pengetahuan seperti yang telah dilakukan oleh para ilmuwan di masa klasik Yunani, disebut renaissance (re= kembali, naissance= kelahiran). Masa Renaissance ini dianggap dimulai sekitar 1350 sampai gerakannya meluas ke seluruh pelosok Eropa sekitar tahun 1600. Setelah renaissance muncul apa yang disebut Abad Pencerahan yang diwarnai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Kemajuan ilmu pengetahuan tidak dapat dibendung, ilmu pengetahuan terus berkembang dan mengawali era baru di Eropa yang disebut masa pencerahan atau enlightment. Ilmu Keindahan dalam Masa Abad Pertengahan Sang seniman yang mempunyai kedudukan hanya sebagai hamba tentunya melakukan pekerjaan dengan penuh pengabdian terhadap agama (ngayah). Ciri ciri keindahan dalam masa abad pertengahan, yakni: a. Sesuai dengan norma yang ditentukan, yang dianggap benar dan patut oleh masyarakat tentang wujud, ukuran dan proporsi. b. Dilaksanakan sesempurna mungkin (perfeksi, keutuhan). c. Bersifat simbolik dengan arti religious spiritual. Sesuai jiwa Aristoteles yang mempelopori ilmu pengetahuan dengan memperoleh fenomena alam, binatang dan makhluk hidup yang lain, wujud kesenian lambat laun beralih sifatnya dari simbolisme ke arah realisme. Wajah Yesus Kristus tidak lagi digambarkan sebagai wajah manusia tetapi sebagai wajah manusia yang sungguh-sungguh. Maka pada akhir-akhir abad pertengahan yang menuju kepada Renaissance pahan keindahan beralih dari neoplatonisme ke neoristolisme. Ilmu Keindahan dalam Masa Renaissance Penampilan kesenian masih tetap mengambil sebagai tema cuplikancuplikan cerita dari kibab suci Kristen dan disamping itu mulai banyak dari epos (cerita dewa-dewa) Yunani masa kuno. Lambat laun dengan perkembangan ilmu

pengetahuan dan akibat itu berkembangnya perhubungan dan perdagangan, muncullah di dalam masyarakat golongan dagang dan usahawan yang kuat. Berkat perhatian manusia tertarik oleh ilmu pengetahuan, para pakar seni dan seniman akhir-akhir masa Renaisance mulai memikirkan dan menulis tentang kesenian. Leonardo da Vince (1452-1519) dan Michelangelo (1493-1564) banyak menguraikan tentang kesenian dan pengalaman mereka dalam melakukan pekerjaan sebagai seniman. Karya-karya mereka telah bersifat neoaristotelisme. Ciri-ciri keindahan dalam kesenian masa Renaissance: a. Melepaskan norma-norma perwujudan yang ditentukan oleh raja dan bangsawan yang berkuasa dan oleh para pendeta. b. Kesenian masih tetap menggunakan tema-tema yang sifatnya religius , tetapi seniman mengikuti selera sendiri dalam mengejar keindahan, antara lain dengan mencapai kemanunggalan dengan Tuhan atas keyakinan dan kekuatan diri sendiri. c. Pada akhir-akhir masa renaissance timbul kesenian profan dan sekuler. d. Perfeksi dan keutuhan tetap merupakan syarat keindahan.

BAB XVI MASA PENCERAHAN, ROMANTIK DAN REALISME MODERN 1. Masa Pencerahan (1650-1850) Mulai pertengahan abad ke-17 ilmu pengetahuan maju dengan pesat di Dunia Barat. Falsafah keindahan dan teori kesenian turut dipengaruhi oleh perkembangan ini. Kedua unsur kebudayaan ini juga telah dijadikan obyek untuk diteliti, dijadikan materi penelitian para ilmuwan. Mereka tidak lagi memetik pengetahuan ajaran-ajaran orang tua, nenek moyang, gereja atau orang yang berkuasa. Mereka ingin mempelajari semuanya dengan sendiri dan kemudian menguji kebenaran dari setiap hasil penyelidiksnnya. Tidaklah mengherankan bahwa faham tentang nikmat-indah yang dianggap sebagai hasil kontemplasi (Plato dan Plotinus) mengalami kemerosotan. Hal ini disebabkan karena berbeda dengan hasil penelitian, hasil kontemplasi tidak bisa ditest atau diuji coba. Reaksi terhadap perkembangan iptek dan industrialisasi yang terlalu cepat dan berpengaruh kurang baik pada olah manusia dapat dipandang dari 4 segi yang saling berkaitan satu sama lain: segi intelektual: pengakuan keterbatasan kemampuan intelek manusia untuk mengetahui segala-galanya; segi spiritual: pengakuan bahwa ada hal-hal spiritual yang tidak dapat dijangkau oleh intelek manusia; segi sosial: timbulnya kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin hingga tumbuh gerakan antikapitalisme atau sosialisme; segi emosional: antara para seniman dan orang-orang yang mempunyai perasaan halus timbul kejenuhan dengan kemajuan teknologi yang dirasakan menggenggam manusia, tidak memberi peluang pada perasaan. 2. Romantik (1850-1900) Kejenuhan akan kemajuan teknologi yang membawa banyak kebisingan membuat menusia rindu pada ketentraman dan kesepian, dan keinginan untuk melarikan diri dari kota dan mencari suasana tenang dan alami dipedalaman, jauh

dari kota yang penuh bisnis, jauh dari persaingan antara manusia dengan manusia. Aliraan ini yang disebut romantic. 3. Realisme Modern (setelah 1920) Perubahan terjadi pada tanggapan manusia Barat tentang keindahan dan kesenian dalam masa modern ini. Dengan perhubungan yang sekarang telah begitu intensif antara bangsa-bangsa di dunia akibat lalu lintas kendaraan, pesawat, surat kabar, radio, televise, mass media dan kini dunia masa cyber; mau tidak mau bangsa Indonesia pada umumnya dan pakar para seniman dan seniwati Indonesia pada khususnya, telah terpengaruh oleh sekian banyak aliran-aliran yang terpenting diantaranya, serta menjelajah jalan pikiran para pakar seni dan budaya mereka untuk memperkaya wawasan kita. 4. Perkembangan dalam Falsafah Keindahan Permulaan abad ke-17 falsafah keindahan masih beranggapan bahwa apa yang manusia rasakan sebagai keindahan dari suatu benda ad alah sesuatu yang berlokasi di dalam obyek itu sendiri. Akan tetapi, lambat laun dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan kurangnya kewibawaan dari gereja dan golongan rohaniwan para pakar filsafat dan kesenian mencurahkan perhatiannya lebih banyak kepada kemampuan manusia dan perannya dalam nikmat indah seperti telah dahulu ditonjolkan oleh Thomas Aquinas. Sesuai perkembangan zaman, terdapat perkembangan zaman, terdapat pergeseran, perhatian masyarakat beralih dari masalah ketuhanan ke arah kemanusiaan. Maka timbul kecenderungan para cendekiawan untuk menyelidiki kemampuan itu, yakni apakah kemampuan manusia itu memungkinkan ia menikmati keindahan berada dalam obyek itu. Dengan beralihnya perhatian para penyelidik dari masalah apakah keindahan itu maka paham atau konsep tentang apa yang dimaksudkan dengan keindahan itu, akhirnya ditarik (dipisahkan) dari obyek yang awalnya mengandung keindahan itu. Para pakar menempatkan, atau lebih jelas menduga lokalisasinya dari keindahan itu tidak lagi dalam obyek tetapi pada manusia yang menikmatinya yakni subyek (sang pengamat).

BAB XVII FALSAFAH KEINDAHAN MASA PENCERAHAN Shaftesbury (1671-1713) Filsuf Inggris Shaftesbury beranggapan bahwa apa yang disebut faculty of taste, itu bukan merupakan satu indra selera sendiri, tetapi yang bersifat dwi tunggal, karena mempunyai dua fungsi, yakni: 1. Sebagai kemampuan moralitas, melakukan moral judgement, berarti mampu menilai kesusilaan sesuatu perbuatan orang atau peristiwa. 2. Sebagai kemampuan menikmati keindahan sense of beauty atau indra keindahan. Penggabungan berdua fungsi itu hingga menjadi satu fakulty didasarkan atas keyakinan bahwa untuk kedua-duanya diperlukan keiklasan budi, yang ia sebut disinterestedness (tidak berkepentingan) Hutcheson (1694-1746) Hutcheson berpendapat bahwa di dalam hati sanubari setiap orang terkandung beberapa banyak macam internal senses atau indra-indra dalam seperti misalnya indra moralitas, indra yang merasakan solidaritas, yang merasakan patriotism, indra rasa malu, indra bangga, indra merasa kebesaran, rasa jengah, dan diantara ada rasa nikmat indah. Hutchen menambahkan baik indra ekstern maupun indra intern berfungsi secara langsung, yakni bahwa setelah berfungsi setelah ada campur tangan dari pemikiran apa pun, juga oleh intelek. Indra ekstern menghasilkan persepsi, indra intern menghasilkan reaksi. David Hume (1711-1776) David Hume mendasarkan pendapatnya tentang keindahan atas

pengalaman manusia (experience). Manusia harus memperoleh pengalaman

tentang cirri-ciri apa yang seseorang rasakan sebagai indah. Dengan memetik cirri-ciri indah secara umum boleh dikatakan bahwa David Hume menuju ke arah standard of taste, cirri-ciri umum dari keindahan yang dapat dipakai sebagai ukuran. Yang merupakan pokok dari falsafahnya tentang keindahan adalah bahwa subyek lebih berperan daripada obyek. Subyektivisme ini didasarkan pada empiri atau pengalaman yang nyata. Ini berarti walaupun dasar pikiran tentang keindahan bersifat subyektif, caranya untuk menentukan standard of taste itu betul-betul obyektif, secara ilmiah melalui observasi dan anlisa. Immanuel Kant (1724-1804) Dengan adanya persamaan dan perbedaan antara perasaan manusia terhadap sesuatu yang sama, maka Kant menyusun teori keindahan yang memakai sebagai dasar bahwa memang apriori (berarti: telah hadir dari asalnya) ada suatu unsure daya dalam budi manusia yang membuat budi peka terhadap keindahan. Daya atau faculty estetika yang menurut Kant berfungsi dalam budi manusia mempunyai ciri-ciri yang merupakan hukum khas, yakni: a. Disinterestedness (tanpa berkepentingan) yakni tidak dicampuri dengan keinginan-keinginan atau pertimbangan-pertimbangan lain selain menikmati keindahannya. b. Ciri universalisme diartikan bahwa berfungsinya daya estetika itu berlaku bagi semua manusia diseluruh pelosok dunia. c. Ciri kemutlakan yang berarti tidak bisa tidak. manusia adalah mutlak. d. Ciri bertujuan, dengan ini dimaksudkan bahwa daya estetika itu secara langsung mengenal rupa yang terarah, yang seolah-olah mempunyai arti, yang bermaksud tertentu (form of purpose). Secara umum perkembangan teori estetika dalam abad ke-18 dapat disimpulkan sebagai berikut; pada permulaan abad, sekitar 1700, pokok perhatian Kehadirannya dalam diri

falsafah keindahan berkisar pada benda yang indah, pada obyek. Yang kita sebut keindahan bertempat (dilokalisasikan) pada obyek. Obyektivisma ini pada permulaan masih bersifat transendental. Oleh karena Kant mengemukakan falsafahnya atas dasar idea keindahan, maka falsafahnya dianggap sebagai puncak idealisme dalam falsafah keindahan.

BAB XVIII TEORI KEINDAHAN DAN KESENIAN ABAD XIX Dalam abad XIX teori keindahan yang berwatak imitasi sebagai warisan Plato dan Aristoteles karena berfokus kepada obyek yang mencerminkan Dewa Keindahan, beralih ke arah teori kesenian yang memfokuskan ekspresi sebagai pencerminan emosi yang berkibar di dalam budi manusia. Hal ini dimungkinkan karena mengenai faham tentang keindahan, perhatian para ilmuwan dan filsuf lebih banyak ditujukan pada kemampuan manusia. Kant menempatkan estetika, kegiatan budi itu, pada tingkat yang sejajar dengan logika yang merupakan kegiatan intelek manusia. Logika mempunyai struktur yang berfunsih menurut hukum-hukum tersendiri yang meliputi antara lain hukum kausalitas, induksi, deduksi, analogi, interpolasi, ekstrapolasi dan lain sebagainya. Dengan mengembangkan logika, Kant sudah menduga bahwa logika dan ilmu pengetahuan, manusia tidak akan mampu mengetahui segala-galanya bagaimanapun besar keinginannya untuk mengejar kebenaran. Pertumbuhan romantic terjadi sebagai reaksi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan telah membangkitkan teknologi dan industry yang memungkinkan manusia lebih sempurna menguasai rintangan-rintangan alamiah dalam

kehidupannya. Manusia menjadi tertekan oleh kehidupan yang ditandai materialism. Ketagihan yang dirasakan oleh manusia amat berbahaya, kerena tidak member kesempatan untuk pertumbuhan kehalusan rasa, yang ada dalam setiap sanubari manusia, yang antara lain memungkinkan manusia menikmati keindahan alam dan keindahan yang dituangkan dalam perwujudan karya seni. Kehidupan dalam kemajuan materil dirasakan sebagai kehidupan buatan dan jeritan untuk kembali kepada kehidupan yang alamiah. Romantisme merupakan penyingkiran diri dari tekanan kehidupan yang terlalu banyak dikendalikan oleh ratio, yakni perhitungan akan efisiensi dan keuntungan. Manusia mencari kehidupan yang sederhana, bebas dari tekanan, hingga member peluang kepada perasaan.

Aliran romantic berpengaruh atas proses perwujudan karya seni karena disinilah baru muncul pengakuan umum bahwa sang seniman sebagai individu memegang peranan yang besar dalam perkembangan masyarakat. Kedudukan seniman menjadi tak lagi seperti dahulu kala sebagai pekerja bakti untuk keperluan masyarakat, tetapi sekarang sebagai penunjuk rasa dan sebagai mercusuar, petunjuk jalan dan pendorong untuk kemajuan dalam masyarakat.

BAB XIX TEORI TENTANG KEINDAHAN SETELAH KANT Setelah Kant merumuskan estetika sebagai kegiatan budi manusia yang melampaui ilmu pengetahuan, muncul para pemikir yang mencoba menentukan dimana letak kelebihan itu. Kant hanya dapat menyebutkan bahwa menikmati keindahan oleh manusia dimungkinkan karena di dalam budi manusia di samping logika, kemampuan untuk berfikir, hadir pula suatu kemampuan untuk merasakan keindahan dan untuk mengetahui rasa keindahan itu, suatu indra estetik. Edward Bullough (1912) Dalam pemikirannya tentang sifat estetis ia menekankan atas kemampuan manusia untuk menciptakan jarak antara budi dirinya dengan obyek, seolah-olah subyek menjauhkan diri dari subyek, dengan maksud agar tidak berkepentingan Sikap ini merupakan syarat untuk mencapai suasana yang memungkinkan nilmat-indah, kemampuan pengamat untuk menciptakan psychological distance (jarak psikologis). Penciptaan jarak ini seringkali terjadi tanpa sengaja, secara pasif, tetapi bisa juga dengan sengaja, secara aktif. Dalam hal menikmati keindahan kesenian, misalnya seni drama, penciptaan jarak psikologis itu lebih aktif sifatnya. Sang pengamat dengan sengaja menjauhkan dirinya dari kenyataan yang dia lihat di atas panggung, serta menikmati peristiwa yang berlangsung disana sebagai cerita yang indah dan dengan penampilan yang memenuhi perasaan estetikanya. Stolniz (1960) Stolniz mencoba menghilangkan kekeliruan tentang kata disinterestedness dengan menganjurkan rumusan dengan kata aesthetic awareness (kesadaran estetis). Dengan rumusan ini ia mencakup adanya perhatian dan sekaligus tanpa berkepentingan. Dalam memandang kesenian memang harus tetap ada perhatian yang dibedakan antara perhatian estetis dan perhatian non estetis.

Aldrich (1963) Aldrich mengembangkan teori yang agak berlainan. Ia tidak sepenuhnya setuju dengan penciptaan jarak psikologis yang dianjurkan oleg Bullough. Ia beranggapan bahwa untuk bisa menikmati keindahan, manusia harus secara sadar menciptakan apa yang ia sebut aesthetic perception (persepsi estetika). Untuk itu ia mengutamakan peranan panca indera, yang mampu melihat atau mendengar sesuatu yang membangkitkan rasa indah. Menurut Aldrich manusia harus secara aktif mengarahkan panca inderanya untuk mempersepsi dengan cara yang tepat yang menimbulkan rasa estetis.

BAB XX BEBERAPA TEORI KESENIAN ABAD XX 1. Susanne Langer (1950) Art is: Expressve Symbolism Definisi yang diberikan oleh Susanne Langer tentang kesenian berbunyi: Art the of form symbolic of human feeling yang diterjemahkan: kesenian adalah penciptaan wujud-wujud yang merupakan simmbol dari perasaan manusia. Dalam kata lain: yang dituangkan oleh seniman dalam karya-karyanya adalah symbol dari perasaannya, sesuatu yang mewakili perasaannya. Tergantung dari sang pengamat apakah ia bisa mengertikan symbol itu, mengerti dari apa yang dimaksudkan dengan sang pencipta. Banyak orang ahli kurang setuju dengan definisi Susanne Langer karena penggunaan kata symbol dirasakan terlalu samar dam menyimpang dari pengertian yang layak dikaitkan dengan kata itu dalam masyarakat pada umumnya. Susanne Langer juga menyelidiki bagaimana kesenian itu berfungsi di dalam indra estetika kita. Ia mengatakan bahwa apa yang disajikan dalam kesenian kepada kita hanya ilusi atau bayangan, artinya bukan keadaan

sesungguhnya. Bukan hanya apa yang kita lihat pada waktu kita menikmati keindahan lukisan, tetapi juga apa yang kita nikmati sebagai keindahan dalam music, atau rasakan sebagai indah membaca (seni sastra) dianggap bayangan belaka. 2. Collingwood (1958) Art is imaginative expression Aliran romantic sangat menonjol dalam pembahasan Collingwood. Ia menganggap seni sebagai ekspresi, penuangan emosi dari sang pencipta. Collingwood merasa perlu untuk member penjelasan lebih jauh tentang ekspresi perasaan itu karena tidak semua ekspresi perasaan bisa disebut seni.

Collingwood membedakan antara art, karya seni dalam arti seperti seni murni, dengan karya indah lain jenis, yang dinamakan craft atau kerajinan tangan. Di dalam kawasan seni murni ia menarik garis antara dua golongan, yakni yang di sebut art proper (tulen) dan false art (seni palsu) atau seni yang dibuat-buat, direkayasa. 3. Clive Bell (1960) Significan Form Clive Bell berpendapat bahwa semua pembahasan tentang kesenian harus bertolak pada pengalaman estetis, yang ia rumuskan sebagai emosi yang bersifat khas, ia sebut emosi estetis. Emosi estetis ini dibangkitkan dalam subyek oleh ciriciri khas yang berada dalam obyek. Kekhasan yang ada dalam obyek, yang membangkitkan emosi estetis pada subyek (pengamat) ia sebut significant form. Hubungan antara emosi estetis dengan significant form itulah yang ia anggap sebagai esensi (makna, sifat dasar) dari setiap karya seni. Bell lebih banyak mengutarakan tentang significant form dengan menerangkan sebagai wujud yang berarti atau yang mempunyai susunan tertentu yang dapat dikenal dikentarakan oleh jiwa yang paham dan peka akan susunan itu. Dengan menitikberatkan significant form dalam konsepsi kesenian, ia terpaksa menyatakan bahwa seni representative seperti seni lukis potret tidak bisa dianggap seni karena hanya meniru apa yang ada, tidak menciptakan hubungan yang khas yang membangkitkan emosi estetis. 4. Morris Weitz (1956) Konsep terbuka tentang kesenian Weitz dalam ulasannya tentang teori kesenian menarik kesimpulan bahwa konsep tentang seni tidak lagi bisa dibatasi dengan kriteria=criteria yang lazim digunakan dalam definisinya sampai saat itu. Menurut Weitz konsep tentang

seni

dan kesenian

harus tinggal sebagai konsep terbuka.

Karena

perkembangan dalam dunia kesenian begitu luas dan sangat kompleks. Tantangan yang dihadapi Weitz adalah berupa pertanyaan apakah mungkin kita membuat kriterium yang paling minimal, yang paling sedikitnya harusdipenuhi oleh karya untuk bisa disebut seni. Weitz mengakui bahwa sebenarnya tidak bisa diadakan criteria kecuali berdasarkan keadaan masingmasing orang. Setiap orang bisa saja menyebut sesuatu sebagai seni dan terserah kepada yang lain untuk menilainya. 5. George Dickie (1960) Institusional Theory of Art Dickie mengungkapkan bahwa kebanyakan antara kita, kalau menyatakan sesuatu sebagai seni, sebenarnya secara tidak sadar telah mencantumkan dalam sebutan itu suatu penilaian yang positif. Ia menganjurkan kepada kita untuk terlebih dahulu menyadari ketidaksadaran itu, dan selanjutnya sadar bahwa kalau kita menggolongkan sesuatu dalam suatu kategori, maka dengan sendirinya ada hal-hal yang tidak termasuk dalam golongan itu. Ia menamakan penggolongan klasifikatif (dari klass yang berarti jenis). Bila kita melakukan

penggolongan yang mengandung penilaian, hal ini disebut evaluatif (dari to evaluate= menilai). Menurut Dickei konsep tentang seni dan kesenian dewasa ini harus dilepaskan dari penggolongan evaluatif dan membatasi diri pada penggolongan klasifikasi. Ini berarti bahwa kita tahu adanya seni dan bukan seni dan antara kedua golongan ini tidak ada perbandingan nilai. Hanya di dalam golongan seni terdapat perbedaan nilai seninya.

BAB XXI EVALUASI DAN PERTIMBANGAN KESENIAN 1. Metakritik Mekatritik (Metacriticism) Beardsley adalah kegiatan filosofis yang menganalisa dan mencari penjelasan dengan konsep-konsep mendasar yang kita pergunakan dalam pembahasan dan penilaian suatu kesenian pada umumnya dan karya seni pada khususnya. Ia mengemukakan dua syarat pendahuluan tentang obyek yang akan dinilai, yang ia namakan: distinctness (kekhususan) dan perceptibility (Nampak pada mata atau telinga). Mengenai kekhususan isi maksudnya bahwa yang dinilai mutu estetiknya harus terpisah atau disendirikan dengan jelas dari hal-hal yang tidak masuk pertimbangan. Apa yang dimaksud dengan perceptibility tidaklah sulit untuk mengartikannya, yakni apa yang bisa dipersepsi oleh sang pengamat. Yang tidak bisa dilihat atau didengar sudah tentu tidak bisa dinilai. 2. Tahap-tahap Evaluasi Kesenian Teori evaluasi kesenian Beardsley meliputi dua tahap: a. Kriteri umum (general criterion) dimaksudkan sifat-sifat yang pada umumnya harus dimiliki suatu karya seni untuk berpotensi seni, yakni supaya mengandung kemungkinan bahwa karya itu mempunyai nilai estetik. b. Teori instrumentalis tentang mutu keindahan dalam seni. Hal ini merupakan unsur-unsur yang member rasa kuantitatif, member bahan untuk menafsir kekuatan sifat-sifat primer dalam karya seni.

3. Peranan Subyektivitas Sang Pengamat Penafsiran atas tingkat kehadiran ketiga criteria dasar untuk mutu kesenian adalah sesuai dengan, tetapi terpisah dari pengalaman estetik yang dinikmati oleh

sang pengamat sendiri. Kegiatan intelek merupakan pengukuran dari kesan yang timbul pada diri sang pengamat sebagai pengalaman menikmati karya seni. Kesan yang diukur itu adalah hasil dari kegiatan budi sang pengamat, kegiatan faculty of tastenya karena itu dalam penilaian seni terjadilah pada sang pengamat dua kegiatan yang terpisah.

BAB XXII TEORI EVALUASI KESENIAN 1. Teori Penilaian Intuite (Moore, 1903) Intuisi atau bisikan hati (Kamus Poerwardaminta, 1976, daya batin untuk mengerti atau mengetahui sesuatu tidak dengan berpikir atau belajar) merupakan daya perasaan yang tajam tanpa memakai pemikiran (reasoning). Kemampuan itusi sangat berbeda antara sesame manusia. Beberapa penelitian tentang kesenian antara lain Moore memandang intuisi sebagai daya yang berperan penting dalam apresiasi seni. Menurut teori Moore rasa tahu tentang adanya atau tidak adanya mutu seni dalam suatu karya hanya dimiliki oleh orang yang punya kemampuan intuisi. Pokok darinteori intuitif Moore adalah bahwa ada peranan terlebih dahulu dari kemampuan intuisi. Intuisi mempunyai arti yang lebih luas daripada empati. Intuisi menyangkut perasaan tajam pada umumnya. Empati pada khususnya megenai hubungan rasaa antara manusia dengan keindahan kesenian, hubungan batin manuusia, spiritual antara seniman dan yang menikmati keseniannya. Empati adalah hubungan yang terarah terhadap sesuatu yang khusus. 2. Teori Penilaian Emotivis (Ayer, 1936) Teori ini berdasarkan falsafah emotivisme yang beranggapan bahwa apa yang kita ketahui di dunia ini adalah hasil dari dua jenis kegiatan mental, yakni empiric dan tautology. Menurut teori penilaian emotivis kegiatan menilai karya seni bukan member pengetahuan, hanya member penghargaan yang relative sifatnya dan yang menunjukkan sikap dari perorangan. Oleh karena itu menurut Ayer perselisihan faham tentang mutu seni tidak menyangkut kebenaran, tetapi menyangkut perbedaan sikap antara penilai. Karena itu tidak perlu adanya pertengkaran. Yang perlu adalah diusahakan mencoba saling meyakinkan atas

sikap dan pendirian kita masing-masing. Dengan demikian bisa diharapkan bahwa dengan saling megetahui sikap masing-masing kita bisa saling mendekati satu sama lain. 3. Penilaian Khusus (Critical Singularism) Para singularis megemukakan bahwa penilaian keindahan tidak ada prinsip, ketentuan apa yang benar dan apa yang tidak benar. Estetika tidak mengikuti hukum moralitas, yang prinsipil sifatnya. Hanya dalam pengukuran moralitas terdapat prinsip-prinsip yang jelas. Konsekuensi dari pemikiran ini adalah bahwa dengan tidak adanya hukum yang mutlak, yang dapat diberlakukan pada semua karya seni, maka masingmasing karya seni harus dinilai secara khusus yakni sendiri-sendiri. Menurut para penganut critical singularism setiap karya seni mempunyai kekhususan yang unik, yang lain dari pada yang lain, dank arena itu secara prinsip tidak bisa dibandingkan dengan karya yang lain.

BAB XXIII METODE KRITIK 1. Kritik Intensionalis Dengan kritik intensionalis dipersoalkan apakah intention (maksud yang dikehendaki oleh sang seniman perlu atau tidak perlu diperhitungkan dalam pembahasan mutu seni suatu karya seniman bersangkutan. Anjuran Beardsley didasarkan atas pegangan bahwa maksud dari suatu karya seni adalah suatu hal yang bersifat pribadi, sedangkan interpretasi, pengertian atau pesan yang dipancarkan dari karya itu adalah hal yang bersifat umum, yakni ditujukan kepada khalayak ramai. 2. Ekspresi Pengertian ekspresi memuncak dalam masa romantik. Kalangan kesenian beranggapan bahwa semua seni adalah cetusan emosi yang meluap dari sang seniman. Secara ekstrim diantara mereka ada yang berpendapat bahwa suatu karya yang tidak mengandung unsur ekspresi ini bukanlah seni. Yang turut member sifat ekspresi kepada karya seni adalah cara penyajianna kepada penonton. Penyajian itu paling mudah dapat dilihat dalam seni drama dan seni tari, tetapi seni lukis, seni lukis, seni patung, seni music, dan lain-lain. Bisa juga menggugah emosi dengan penyajian yang ekspresif. Pada umumnya aliran atau style ekspresionisme itu memancarkan kekuatan yang memaku sang penonton. Dalam karya ekspressionis selalu menonjol unsure intensitas. 3. Simbolisme Symbol atau lambing adalah sesuatu seperti tanda (rambu, lukisan, perkataan, lencana dan sebagainya) yang menyatakan sesuatu hal atau mengandung maksud tertentu (Kamus Poerwadarminta, 1976).

Dalam pemakaian symbol perlu dijaga agar simbol-simbol yang digunakan merupakan hal-hal yang sudah lazim dipakai dan dikenal oleh masyarakat. 4. Metafora Kamus Poerdarminto (1976) mengartikan metafora sebagai pemakaian kata-kata dengan arti yang sebenarnya, melainkan seperti lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Sebagai contoh dimuat kalimat: tentara kita menjadi tulang punggung kemerdekaan Negara. Dalam kesenian metafora paling sering diketemukan dalam seni sastra. Efeknya adalah bahwa apa yang diceritakan menjadi lebih menarik, lebih bangkit perasaannya. Secara psikologis dapat dimengerti karena dengan kata yang sedikit menyamar, sang pendengar atau sang pembaca sempat memikirkan kemungkinan yang secara aktif tentang apa yang dimaksudkan.

BAB XXIV LAMPIRAN Lampiran I Ida Pedanda Made Sidemen: Kemanunggalan Agama dan Seni Oleh: Ida Bagus Agasthia Studi pada manggala karya-karya sastra Ida Pedanda Made Sidemen menunjukkan bahwa mengarang karya sastra bagi Ida Pedanda Made Sidemen adalah suatu kegiatan kebaktian, dan karya sastra sebagai persembahan. Kegiatan Ida Pedanda Made Sidemen sebagai pendeta dan seniman, adalah kegiatan yang manunggal. Semua kegiatan beliau adalah kegiatan kebaktian berdasarkan konsep yoga, kegiatan yang bertujuan untuk mencapai

kemanunggalan dengan Tuhan dalam kelepasan, dengan kata lain untuk mencapai kemanunggalan yang abadi itulah moksa atau ananda, yang juga adalah keindahan yang tertinggi, tujuan kegiatan beliau baik sebagai pendeta maupun seniman. Lampiran 2 Klasifikasi Keindahan Oleh: Dharma Virya HS Keindahan dapat diklasifikasikan menjadi empat macam yaitu: 1. Keindahan perhiasan, yakni keindahan yang timbul karena model, warna dan motif yang menarik. 2. Keindahan jasmani, yaitu keindahan berupa bentuk jasmani yang menarik. 3. Keindahan perilaku, keindahan dalam pergaulan seperti ramah tamah, sopan santun dan rendah hati. 4. Keindahan batin yakni keindahan berupa sifat-sifat yang baik, seperti suka menolong sesamanya.

Lampiran 3 Estetika Hindu Oleh: IBG Agastia Sejarah peradaban umat manusia telah menunjukkan bahwa ketinggian estetika yang dimiliki oleh suatu bangsa mencerminkan pula ketinggian kualitas manusia pendukung peradaban tersebut. Estetika Hindu adalah salah satu diantaranya yang diakui kualitas yang tinggi. Dalam ajaran Hindu maupun Budha ada suatu pandangan ide yang sama, yakni bahwa dalam pikiran dan gambaran dalam jiwalah yang dapat dikatakan sebagai seni, dan seniman yang sebenarnya. Dalam pandangan Hindu didapatkan bahwa penggambaran keluar hanya sebagai perwujudan gambaran dalam jiwa, dimana jiwa siniman sendiri telah menjadi satu di dalamnya, disini kita dapati bersatunya antara seni dan seniman. Estetika Hindu dikenal rumusan yang disebut sad-angga suatu hasil seni untuk bisa dikatakan indah dan berhasil harus memenuhi enam (sad) syarat. Rumusan aslinya didapatkan dalam pembicaraan mengenai seni lukis, namun secara umum dapat pula dipakai untuk bentuk-bentuk kesenian yang lain. Sad-angga terdiri atas: 1. Rupabheda, artinya perbedaan bentuk. 2. Sadresya, artinya kesamaan dalam penglihatan. 3. Pramana, artinya sesuai dengan ukuran yang tepat. 4. Warnikabhangga, artinya penguraian dan pembuatan warna. 5. Bhawa, artinya suasana sekaligus pancaran rasa. 6. Lawanya, artinya keindahan, daya pesona.

Lampiran 4 Sepintas lalu Mengenai Estetika Cina dan Jepang Estetika Cina diketemukan estetika yang sifatnya formal, yakni uraianuraian membahas perwujudan, yang berkisar pada style dan struktur (Estetika instrumental). Mengutip dari William Willets CHINESE ART (Pelican, 1958), kita dapat simpulkan bahwa dalam seni rupa unsur-unsur utama Estetika Cina terdiri dari: kebesan dan kedaulatan, perfeksi (penyempurnaan wujud), cinta alam. Estetika Jepang yang sampai dengan masa industrialisasi modern masih sangat menonjolkan ciri-ciri khas sebagai berikut: 1. Kesederhanaan (pengaruh Budha). 2. Disiplin yang sangat menonjol dalam kehidupannya sehari-hari, menyerap ke dalam perwujudan kesenian, hingga merupakan unsur estetik yang khas Jepang. 3. Logika. Semua perwujudan seni harus memenuhi syarat penggunaan yang praktis. 4. Hemat ruang. Lampiran 5 Aesthetic Theories Underlying Asian Ferforming Arts Oleh: Kapila Malik Vatsyaya Keyakinan akan karunia dari Tuhan yang terletak dari karya seni dan penikmatan keindahan dalam kesenian, selanjutnya melahirkan teori Estetika India, disebut Rasa, yang karena itu bersifat transcendental. Teori Rasa mempunyai dua aspek: a. Rasavastha: pengangkutan budi manusia ke dalam suasana dimana terjadi penikmatan keindahan sebagai kebahagiaan yang murni. b. Aspek presentasi atau penyajian yang terdiri dari tiga bagian:

1. Sthayi Bhava: perwujudan dari 9 suasana jiwa yang kekal, yang tidak berubah. 2. Vyabhicari Bhava: suasana yang berlaku sementara bisa selalu berubah. 3. Sattavika Bhava: tabiat atau watak.

Tugas 1 (Bab I IV)

ESTETIKA