Anda di halaman 1dari 31

I. PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Seiring dengan bertambahnya jumlah dan tingkat kesejahteraan penduduk, maka kebutuhan akan sayuran yang berkualitas juga semakin banyak. Masyarakat lebih memilih sayuran yang berkualitas tinggi, baik dalam mutu maupun rasa. Namun, kadang kala ketersediaan sayuran yang diharapkan masih belum mampu memenuhi kebutuhan konsumen. Selain penerapan teknologi modern dalam ilmu pertanian, perlu diperhatikan pula tata cara pengendalian OPT mengingat dampak serangan OPT berpengaruh terhadap kualitas maupun kuantitas hasil tanaman. Maka untuk mengatasi permasalahan tersebut maka perlu dilakukan cara-cara atau teknik agar serangan OPT dapat dikendalikan. Hama merupakan organisme pengganggu tanaman (OPT) dimana keberadannya di lapangan sudah merupakan suatu resiko yang harus dihadapi dalam setiap usaha di bidang prtanian. Hama yang berada di lapangan bukan merupakan sesuatu yang harus diberantas sampai habis, tetapi dikelola agar tidak merugikan secara ekonomik. Kerusakan tanaman dapat disebabkan oleh hama dan organisme penyebab penyakit (patogen) seperti jamur dan bakteri. Pengenalan terhadap cara hama dan patogen dapat menimbulkan kerusakan pada inang merupakan informasi dasar yang harus diketahui guna memperkirakan kerusakan yang diakibatkannya. toleransi Pada kebanyakan hama, hubungan antara populasi dan Dalam konteks PHT ada batasan tingkat berkaitan dengan kerusakan yang hama yang kerusakan berkorelasi positif. populasi diakibatkannya.

Oleh karena itu, hubungan antara populasi hama yang

tercermin dari kerusakanyang terjadi berguna unutk mengestimasi tingkat toleransi kerusakan dalam pengambilan keputusan sesuai konsep ambang ekonomi. Pengetahuan tentang morfologi serangga merupakan hal yang sangat penting bagi pengetahuan dasar seorang mahasiswa pertanian. Pembicaraan

tentang cara merusak dan gejala kerusakan yang diakibatkan oleh gejala kerusakan yang khas pada tanaman yang diserangnya. Karena itu dengan mempelajari berbagai tipe gejala maupun tanda serangan akan dapat membantu dalam mengenali jenis-jenis hama penyebab yang dijumpai dilapangan. Bahkan lebih jauh dari itu dapat pula digunakan untuk menduga cara hidup atau menaksir populasi dalam suatu tempat yang bersangkutan. Dengan demikian dapat dipergunakan sebagai pertimbangan untuk menentukan cara-cara pengendaliannya. Dalam mempelajari ilmu penyakit tumbuhan, sebelum seseorang melangkah lebih jauh untuk menelaah suatu penyakit lebih lanjut, terlebih dahulu harus bisa mengetahui tumbuhan yang dihadapi sehat atau sakit. Gejala adalah perubahanperubahan yang ditunjukkan oleh tanaman itu sendiri sebagai akibat dari adanya penyebab penyakit. Beberapa penyakit pada tanaman tertentu bisa menunjukkan gejala yang sama sehingga dengan memperhatikan gejala saja, kita tidak dapat menentukan diagnosa dengan pasti. Gejala dapat dibedakan yaitu gejala primer dan sekunder. Gejala primer terjadi pada bagian yang terserang oleh penyebab penyakit. Gejala sekunder adalah gejala yang terjadi di tempat lain dari tanaman sebagai akibat dari kerusakan pada bagian yang menunjukkan gejala primer. Dalam rangka memperoleh hasil tanaman yang optimal, pengendalian hama dan penyakit merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Pada dasarnya pengendalian hama merupakan setiap usaha atau tindakan manusia baik secara langsung atau tidak langsung untuk mengusir, menghindari dan membunuh spesies hama agar populasinya sampai pada arah tertentu yang secara ekonomi tidak merugikan. Oleh karena itu taktik pengendalian apapun yang diterapkan dalam pengendalian hama haruslah tetap dapat dipertanggung jawabkan secara ekonomis dan ekologi. Pada tahun-tahun terakhir ini tengah digalakkan pengendalian hama terpadu yaitu pengendalian hama yang memiliki dasar ekologis dan menyandarkan diri pada faktorfaktor yang menyebabkan mortalitas alami seperti musuh alami atau predator dan cuaca serata mencari titik pengendalian

yang mendatangkan kerugian sekecil mungkin terhadap faktor-faktor tersebut yang bersifat dinamis. Secara ideal program pengendalian hama terpadu mempertimbangkan semua kegiatan yang ada (pengendalian yang ada). B. Tujuan Praktikum 1. Hubungan Antara Keberadaan OPT dan Kerusakan Tanaman Tujuan praktikum acara ini adalah untuk melihat pengaruh keberadaan OPT terhadap kerusakan yang ditimbulkan pada tanaman Kacang Tanah (Arachis Hipogeae L.) 2. Sampling Kerusakan Tanaman Tujuan praktikum acara ini adalah mempraktikan sampel serangga dan kerusakan tanaman melalui metode yang sesuai serta membuat keputusan berkaitan dengan permasalahan perlindungan tanaman atas dasar keberadaan OPT tersebut. C. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara ini dilakukan dimulai pada hari Rabu tanggal 15 April 2009 sampai tanggal 6 Mei 2009 berlangsung di lahan tegalan desa Kayangang, kalurahan Bejen, Karanganyar. Waktu pengamatan OPT dilakukan 4(empat) kali selama 1 bulan, dilaksanakan setiap hari Rabu jam 08.00-selesai.

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Hubungan Antara Keberadaan OPT dan Kerusakan Tanaman Suatu kelompok hama umumnya mempunyai ciri morfologi utama yang sama yang bisa membedakan dari kelompok hama lain. Demikian juga dengan gejala serangan yang ditimbulkannya. Hama dengan tipe mulut tertentu akan menimbulkan gejala serangan yang khas (Tania, 2006). Serangan hama pada suatu tanaman biasanya terjadi sejak tanaman mulai tumbuh hingga menjelang panen. Besarnya kehilangan hasil tanaman karena serangan hama ditentukan oleh berbagai faktor antara lain tinggi rendahnya populasi hama, bagian tanaman yang dirusak, respon tanaman terhadap gangguan hama, fase pertumbuhan tanaman dan varietas tanaman (Matnawy, 1992). Penyakit pada tanaman adalah penyebab kerusakan pada tanaman selain yang disebabkan oleh hama. Penyakit disebabkan oleh suatu patogen. Patogen merupakan penyebab penyakit yang menyebabkan kerusakan pada tanaman yang disebabkan oleh jamur, bakteri, virus, nematoda ataupun tumbuhan tingkat tinggi yang bersifat parasit. Sedangkan sakit adalah situasi dimana proses hidup suatu tanaman menyimpang dari keadaan normal dan menimbulakan kerusakan, sehingga tanaman itu tidak dapat tumbuh dan berkembang biak seperti biasa, bahkan dapat menimbulakn kematian pada tanaman tersebut (Jones, 1999). B. Sampling Kerusakan Tanaman Serangga hama diperangkap dengan berbagai jenis alat perangkap yang dibuat sesuai dengan jenis hama dan fase hama yang akan ditangkap. Alat perangkap diletakkan pada tempat atau bagian tanaman yang sering dilewati oleh hama. Alat perangkap diberi zat-zat kimia yang dapat menarik maupun yang dapat membunuh hama (Untung, 1993). Ada lima hal yang harus diperhatikan dalam program sampling, yaitu: penentuan unit sampling, interval pengambilan sample, penentuan jumlah

sample, pola pengambilan sample. Selanjutnya, setelah semua hal tersebut ditetapkan, langkah selanjutnya adalah menentukan teknik pengambilan sample, yakni cara yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengamati dan menghitung obyek pengamatan (Southwood, 1978). C. Analisis Keragaman Agroekosistem Pengendalian hayati dalam pengertian ekologi didefinisikan sebagai pengaturan populasi organisme dengan musuh alami hingga kepadatan populasi organisme tersebut berada dibawah rata-rata dibandingkan bila tanpa pengendalian. Adapun keuntungan yang diperoleh dari pengendalian hayati ini adalah biaya yang harus dikeluarkan cukup murah dibanding dengan ongkos pestisida. Keuntungan lain yaitu tidak mencemari lingkungan (Nurindah et al, 2001). Dengan pemanfaatan musuh alami perlu saja akan relatif lebih aman dan dapat meminimalkan pencemaran lingkungan yang lebih luas lagi. Selain itu juga dapat mempertahankan keanekaragaman agroekosistem tersebut sehingga perkembangan musuh-musuh alami lebih terjamin. Namun demikian, tidak selamanya pengendalian hayati itu akan selalu memberikan hasil yang positif karena pengendalian hayati juga mempunyai resiko, salah satunya sulit memastikan keberhasilannya, masalah bila harus mengimpor musuh alamid ari luar negeri harus mengikuti aturan yang jelas ditetapkan dalam undangundang yang sangat rumit, antara lainuntuk mencegah terbawanya hiperparasit yang akan menurunkan efektifitasnya di tempat baru (Oka, 1977). Batasan tentang pengendalian hama terpadu bermacam-macam, tetapi umumnya mengandung pengertian bahwa PHT merupakan suatu sistem untuk mengelola hama yang menggantikan segala cara yang cocok satu sama lain, dengan memperhatikan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial. Pertimbangan ekologi berarti bahwa PHt dilakukan berdasarkan pengelolaan ekosistem pertanian yang sedikit mungkin memberikan dampak bagi lingkungan (Huffaker dan Messenggerred., 1989). Mekanisme dalam konsep PHT adalah mekanisme alami. Mekanisme

alami dalam ekosistem tersebut senantiasa akan menjaga keserasian dan keseimbangan ekologi agar tidak terjadi dominasi suatu spesies. Upaya penciptaan lingkungan agar mekanisme tersebut dapat bekerja efektif merupakan langkah tepat guna menekan resiko serangan hama. Bentuk dari mekanisme alami tersebut antara lain: predasi, parasitisme, patogenesisme dan persaingan inter/ intra spesies (Anonim, 2005). D. Pengelolaan OPT Salah satu syarat usaha pengendalian hama dan penyakit adalah identifikasi terhadap jasad pengganggunya. Identifikasi ini selain dilakukan pada jasad pengganggunya, juga dapat dibantu dengan pengendalian terhadap gejala serangan yang ditimbulkan (Sakti dan Budi, 1988). Pengendalian hayati termasuk dalam pengendalian terpadu. Strategi pengendalian hama terpadu yaitu mempertahankan populasi hama tetap berada pada posisi di bawah ambang ekonomi, sehingga tidak merugikan secara ekonomik. Keberhasilan pengendalian hayati yang luar biasa itu terkadang dicapai terhadap hama-hama asli dengan penggunaan musuh alami yang inangnya termasuk dalam spesies atau generasi lain dari tanaman itu (Huffaker, 1989). Dengan melihat dampak negatif yang ditimbulkan dari aplikasi insektisida, maka diperlukan adanya teknik pengendalian lain yang lebih menguntungkan dan ramah lingkungan, yaitu pengendalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami, khususnya pemanfaatan predator sebagai agens pengendalian hayati yang berpotensi mengendalikan hama serangga (Astari, 2006). Adapun definisi pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumberdaya untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumberdaya alam. Dalam pertanian berkelanjutan perlindungan tanaman harus dilakukan dengan prinsip-prinsip pengendalian hama terpadu (PHT) (Semangun, 1995).

Penggunaan pestida yang kurang bijaksana seringkali menimbulkan masalah kesehatan, pencemaran lingkungan dan gangguan keseimbangan ekologis. Oleh karena itu perhatian pada alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan semakin besar untuk menurunkan penggunaan pestisida sintetis. Pertimbangan ekonomi berarti bahwa usaha pengendalian tersebut dapat memberikan keuntungan dan manfaat bagi petani. Tujuan penerapan sistem PHT adalah untuk mengelola populasi hama dan membuatnya agar tetap berada dibawah batas ambang ekonomi (Untung, 1995).

III. BAHAN DAN METODE

A. Bahan Bahan yang digunakan pada praktikum Pengendalian Terpadu Hama dan Penyakit. Tanaman yang diamati adalah Tanaman kacang tanah (Arachis hipogea L.) petakan lahan berukuran 10 x 30 m2. Tanaman berumur 60 HST, dimana sudah masuk pada fase Vegetatif/ masa berbunga). Karakteristik pada awal fase ini daun majemuk telah membuka penuh, kemudian tumbuh dan berkembang hingga menjelang berbunga. Tanaman kacang tanah ditanam secara monokultur. B. Metode Pengamatan 1. Sebelum melaksanakan pengamatan, Petugas POPT-PHP berusaha menghubungi atau menemui petani/kelompok petani atau sumber lain informasi tentang yang layak dipercaya untuk memperoleh adanya serangan OPT dan kegiatan

pengendalian di daerah wilayah kerjanya. 2. Pengamatan dilakukan setiap hari Rabu dimulai pada pukul 08.00 sampai selesai meliputi : a. Pengamatan I, Hari Rabu, tanggal 15 April 2009. Tanaman berumur 60 HST memasuki fase vegetatif dan memasuki pembungaan. Karena awal masa pembungaan dimulai sejak 6-8 MST. b. Pengamatan II, Hari Rabu tanggal 22 April 2009. Tanaman berumur 67 HST fase vegetatif dan memasuki pembungaan. c. Pengamatan III, Hari Rabu tanggal 29 April 2009. Tanaman berumur 74 HST fase vegetatif dan memasuki pembungaan dan mulai pengisian polong. d. Pengamatan IV, Hari Rabu tanggal 6 Mei 2009. Tanaman berumur 81 HST fase generative dan pengisian polong. 3. Metode Pengambilan Contoh a. Menentukan 3 unit (blok) contoh yang

A B C

terletak di tiik perpotongan garis diagonal petak. b. 10 contoh tanaman kacang tanah untuk unit setiap contoh. Mengambil rumpun

Contoh yang diambi untuk setiap pengamatan tetap.

Utara

4. Identifikasi Kerusakan oleh Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Menentukan pengelolaan OPT yang menyerang tanaman yang didasarkan pada indeks kerusakan yang ditimbulkannya. Pengelolaan ini dilaksanakan dengan cara mekanis dan peggunaan pestisida baik pestisida nabati maupun kimiawi. Penentuan keputusan ini tetap harus berpijak pada konsep Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hubungan Antara Keberadaan OPT dan Kerusakan Tanaman 1. Hasil Pengamatan Tabel 1.1 Data Tingkat Kerusakan untuk Blok Utara
Tanggal Sampel Rumpun keWereng Daun (ekor) Tingkat Kerusakan (score) Pengorok Daun Bercak Daun Karat Daun Musuh alami

15 April 2009 Minggu I

22 April 2009 Minggu II

29 April 2009 Minggu III

6 Mei 2009 Minggu IV

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4

2 5 4 2

1 1 1 1 1 1 1 -

1 3 3 1 1 1 1 3 3 3 3 3 3 3 1 1 1 1 1 1 5 3 3 5

1 1 5 5 1 5 3 1 1 3 1 3 1 5 5 5 1 3 5 5 3 5 5 5 5 7 3 3 7 7 7 7

5
Tanggal Sampel ke-

2
Wereng Daun

Pengorok Daun

3
Bercak Daun

7
Karat Daun Musuh alami

6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara

2 4 2 3 5

1 3 1

5 3 5 5 5

7 7 7 7 7

Tabel 1.2 Intensitas Kerusakan Daun Blok Utara Tanggal Minggu Intensitas Kerusakan Daun (%) Wereng Pengorok Bercak Karat Daun Daun Daun Daun 15 April 2009 I 0 0 12,22 24,44 22 April 2009 II 0 0 23,33 31,11 29 April 2009 III 0 23,33 6,67 51,11 6 Meil 2009 IV 3 6,7 16,67 46,67 Sumber : Laporan Sementara Tabel 1.3 Jumlah Data Tingkat Kerusakan untuk Blok Tengah
Tanggal Sampel Rumpun keWereng Daun (Ekor) Tingkat Kerusakan (score) Pengorok Daun Bercak Daun Karat Daun Musuh Alami

15 April 2009 Minggu I

22 April 2009 Minggu II

29 April 2009

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1

3 3 5 3 3 3 3 1 1 3 3 3 3 1 1 1 1 -

1 1 5 5 5 5 5 3 3 3 3 5

2 3 4 5 6 7 8 9 10 6 Mei 2009 1 Minggu IV 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara

Minggu III

1 5 3 2 4 2

1 1

1 7 1 3 5 3

5 3 5 7 5 7 5 7 7 7 5 7 5 3 7 7

Tabel 1.4 Intensitas Kerusakan Daun Blok Tengah Tanggal Minggu Intensitas Kerusakan Daun (%) Wereng Pengorok Bercak Karat Daun Daun Daun Daun 15 April 2009 I 0 0 14,44 18,88 22 April 2009 II 0 0 20 27,78 29 April 2009 III 0 6,7 1,11 62,22 6 Meil 2009 IV 2 2,2 21,11 45,55 Sumber : Laporan Sementara Tabel 1.5 Data Tingkat Kerusakan untuk Blok Selatan
Tanggal Sampel Rumpun keWereng Daun (Ekor) Tingkat Kerusakan (score) Pengorok Daun Bercak Daun Karat Daun Musuh Alami

15 April 2009 Minggu I

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 1 1 1 -

1 1 1 1 1 1

22 April 2009 Minggu II

10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 29 April 2009 1 Minggu III 2 3 4 5 6 7 8 9 10 6 Mei 2009 1 Minggu IV 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sumber : Laporan Sementara

2 1 2 1 1 1 2 3 3 4

1 2 3 2 3 1 1 -

1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 3 1 1 3 1 3 1 1 1 3 1 3 1 1

1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 3 3 3 5 5 3 3 3 5 3 5 7

Tabel 1.6 Intensitas Kerusakan Daun Blok Selatan Tanggal Minggu Intensitas Kerusakan Daun (%) Wereng Pengorok Bercak Karat Daun Daun Daun Daun 15 April 2009 I 0 0 4,44 7,77 22 April 2009 II 0 0 12,22 8,89 29 April 2009 III 1 26,7 15,56 13,33 6 Meil 2009 IV 1 2,2 46,67 77,78 Sumber : Laporan Sementara

Analisis Hasil Pengamatan Faktor yang diamati adalah jumlah daun total dari satu tanaman dan persentase daun rusak (merupakan perkiraan daun rusak) akibat serangan hama berupa daun berlubang. Perkiraan persentase kerusakan daun (dihitung berdasarkan skala yang telah ditetapkan) dalam satu tanaman digunakan untuk menghitung intensitas kerusakan daun. Intensitas kerusakan daun dihitung dengan rumus :

( skala kerusakanx tanamancontoh)

aman terse rang x skala kerusakantertinggi x 100 % IK = Jumlah tan

a. IK pada Blok Utara IK Minggu I = Jumlah tanaman terserang x skala kerusakan tertinggi x 100 % Pengorok Daun 0 = 90 x 100 % = 0% (0 x 3) + (1 x 5) + (3 x 2) 10 x 9 Penyakit Bercak Daun = x 100 % 11 = 90 x 100 % = 12,22 % Penyakit Karat Daun = (0 x 2) + (1 x 4) + (3 x 1) + (5 x 3) 10 x 9 22 = 90 x 100 % = 24,44 % x 100 % (0 x 10) = 10 x 9 x 100 %

( skala kerusakan x tanaman contoh )

IK Minggu II = Jumlah tanaman terserang x skala kerusakan tertinggi x 100 % Pengorok Daun 0 = 90 x 100 % = 0% (0 x 3) + (3 x 7) 10 x 9 Penyakit Bercak Daun = x 100 % 21 = 90 x 100 % = 23,33 % (1x4) + (3x 3) + (5 x 3) 10 x 9 Penyakit Karat Daun = x 100 % 28 = 90 x 100 % = 31,11 % (0 x 10) = 10 x 9 x 100 %

( skala kerusakan x tanaman contoh )

( skala kerusakan x tanaman contoh )

IK Minggu III = Jumlah tanaman terserang x skala kerusakan tertinggi x 100 % Pengorok Daun 21 = 90 x 100 % = 23,33 % (0 x 4) + (1 x 6) 10 x 9 Penyakit Bercak Daun = x 100 % 6 = 90 x 100 % (0 x 7) + (1x7) 10 x 9 = x 100 %

= 6,67 % (3 x 3) + (5 x 6) + (7 x 1) 10 x 9 Penyakit Karat Daun = x 100 % 46 = 90 x 100 % = 51,11 % IK Minggu IV = Jumlah tanaman terserang x skala kerusakan tertinggi x 100 % Pengorok Daun % 6 = 90 x 100 % = 6,7 % (0 x 1) + (1 x 6) + (3 x 3) 10 x 9 Penyakit Bercak Daun = x 100 % 15 = 90 x 100 % = 16,67 % (3 x 5) + (5 x 4) + (7 x 1) 10 x 9 Penyakit Karat Daun = x 100 % 42 = 90 x 100 % = 46,67 % b. IK pada Blok Tengah (0 x 7) + (1x 2) + (3 x1) 10 x 9 = x 100

( skala kerusakan x tanaman contoh )

( skala kerusakan x tanaman contoh )

IK Minggu I = Jumlah tanaman terserang x skala kerusakan tertinggi x 100 %

Pengorok Daun 0 = 90 x 100 % = 0%

(0 x 10) = 10 x 9 x 100 %

(0 x 3) + (3 x 6) + (5 x 1) 10 x 9 Penyakit Bercak Daun = x 100 % 23 = 90 x 100 % = 14,44 % (0 x 5) + (1 x 2) + (5 x 3) 10 x 9 Penyakit Karat Daun = x 100 % 17 = 90 x 100 % = 18,88 %

( skala kerusakan x tanaman contoh )

IK Minggu II = Jumlah tanaman terserang x skala kerusakan tertinggi x 100 % Pengorok Daun 0 = 90 x 100 % = 0% (1 x 6) + (3 x 4) 10 x 9 Penyakit Bercak Daun = x 100 % 18 = 90 x 100 % = 20 % (0x3) + (3x 5) + (5 x 2) 10 x 9 Penyakit Karat Daun = x (0 x 10) = 10 x 9 x 100 %

100 % 25 = 90 x 100 % = 27,78 %

IK Minggu III = Jumlah tanaman terserang x skala kerusakan tertinggi x 100 % Pengorok Daun % 6 = 90 x 100 % = 6,7 % (0 x 9) + (1 x 1) 10 x 9 Penyakit Bercak Daun = x 100 % 1 = 90 x 100 % = 1,11 % (3 x 1) + (5 x 5) + (7 x 4) 10 x 9 Penyakit Karat Daun = x 100 % 56 = 90 x 100 % = 62,22 % IK Minggu IV = Jumlah tanaman terserang x skala kerusakan tertinggi x 100 % Pengorok Daun 2 = 90 x 100 % = 2,2 % (0 x 8) + (1x 2) 10 x 9 = x 100 % (0 x 7) + (1x 2) + (3 x1) 10 x 9 = x 100

( skala kerusakan x tanaman contoh )

( skala kerusakan x tanaman contoh )

Penyakit Bercak Daun = (0x5) + (1x1) + (3x2) + (5x1) + (7x1) 10 x 9 19 = 90 x 100 % = 21,11 % Penyakit Karat Daun = (0 x 3) + (3 x 1) + (5 x 2) + (7 x 4) 10 x 9 41 = 90 x 100 % = 45,55 % c. IK pada Blok Selatan IK Minggu I = Jumlah tanaman terserang x skala kerusakan tertinggi x 100 % Pengorok Daun 0 = 90 x 100 % = 0% (0 x 6) + (1 x 4) 10 x 9 Penyakit Bercak Daun = x 100 % 4 = 90 x 100 % = 4,44 % (0 x 3) + (1 x 7) 10 x 9 Penyakit Karat Daun = x 100 % 7 = 90 x 100 % = 7,77 % (0 x 10) = 10 x 9 x 100 % x 100 % x 100 %

( skala kerusakan x tanaman contoh )

IK Minggu II = Jumlah tanaman terserang x skala kerusakan tertinggi x 100 % Pengorok Daun 0 = 90 x 100 % = 0% (0 x 3) + (1 x 6) + (5 x 1) 10 x 9 Penyakit Bercak Daun = x 100 % 11 = 90 x 100 % = 12,22 % (0x2) + (1x 8) 10 x 9 Penyakit Karat Daun = x 100 % 8 = 90 x 100 % = 8,89 % (0 x 10) = 10 x 9 x 100 %

( skala kerusakan x tanaman contoh )

( skala kerusakan x tanaman contoh )

IK Minggu III = Jumlah tanaman terserang x skala kerusakan tertinggi x 100 % Pengorok Daun =

(0 x 5) + (1x1) + (2 x 2) + ( 3x 2) 10 x 9 24 = 90 x 100 % = 26,7 % Penyakit Bercak Daun = (0 x 1) + (1 x 6) + (2 x 1) + (3 x 2) 10 x 9 x 100 % x 100 %

14 = 90 x 100 % = 15,56 % (0 x 4) + (1 x 3) + (3 x 3) 10 x 9 Penyakit Karat Daun = x 100 % 12 = 90 x 100 % = 13,33 % IK Minggu IV = Jumlah tanaman terserang x skala kerusakan tertinggi x 100 % Pengorok Daun 2 = 90 x 100 % = 2,2 % (3x4) + (5x6) 10 x 9 Penyakit Bercak Daun = x 100 % 42 = 90 x 100 % = 46,67 % (7 x 10) Penyakit Karat Daun = 10 x 9 x 100 % 70 = 90 x 100 % = 77,78% (0 x 8) + (1x 2) 10 x 9 = x 100 %

( skala kerusakan x tanaman contoh )

2. Pembahasan Organisme pengganggu tanaman (OPT) terdiri dari tiga kelompok pengganggu yaitu hama (binatang Vertebrata dan Invertebrata), penyakit

(mikoplasma, virus, jamur, bakteri), dan gulma (rumput-rumputan dan gulma berdaun lebar). Di dalam mempelajari interaksi antara tanaman dengan OPT perlu dibedakan dua pengertian tentang luka (injury) dan kerusakan (damage). Tanaman budidaya agar dapat berproduksi dengan optimal memerlukan kondisi yang optimal pula yaitu kondisi lingkungan yang mendukung, teknik budidaya yang tepat dan bebasnya dari gangguan organisme pengganggu. Ketiga hal ini sangat penting bagi tanaman agar pertumbuhannya baik sehingga dapat berproduksi baik pula. Terbebasnya tanaman dari gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan pengelolaan dengan baik agar jangan sampai keberadaannya lebih dari jumlah yang dapat menyebabkan kerugian secara ekonomi. Pada praktikum ini tanaman pokoknya adalah Tanaman kacang tanah (Arachis hipogeae L.). Pengawasan tanaman kacang tanah di lapang perlu dilakukan dengan cermat agar apabila terjadi serangan dari OPT dapat dilakukan tindakan pengendalian secara tepat dan bijaksana. Hama merupakan organisme yang dapat menyebabkan kerusakan tanaman dan mengakibatkan kerugian secara ekonomi jika populasinya berlebih. Oleh karena itu harus dikendalikan agar jangan sampai hama yang ada dalam pertanaman kacang tanah ini sampai melebihi ambang ekonominya. Untuk itu informasi tentang keberadaan dan serangannya perlu untuk diketahui. Untuk mendapatkan data tentang hama khususnya serangga dapat dilakukan baik dengan metode mutlak, metode relatif maupun metode indeks populasi. Luka adalah setiap bentuk penyimpangan fisiologis tanaman sebagai akibat aktivitas atau serangan OPT. Kerusakan adalah kehilangan yang dirasakan oleh tanaman akibat serangan OPT antara lain penurunan kuantitas dan kualitas hasil produksi. Pengertian luka lebih terpusat pada OPT dan aktivitasnya, sedangkan kerusakan terpusat pada tanaman dan responnya terhadap pelukaan oleh OPT. OPT tersebut sangat besar pengaruhnya di bidang pertanian karena

mampu membuat luka pada tanaman yang dapat menyebabkan kerusakan yang mengarah pada penurunan kuantitas dan kualitas hasil produksi tanaman, sehingga akan berdampak pada kerugian. Oleh karena itu, hubungan antara keberadaan hama dari kerusakan yang terjadi dapat berguna untuk menentukan tingkat kerusakan dalam pengambilan keputusan sesuai konsep ambang ekonomi. Dari hasil pengamatan lapang yang dilakukan setiap satu minggu sekali dengan sampel 10 tanaman pada blok utara diperoleh data intensitas kerusakan tanaman kacang tanah seperti terlihat pada tabel 1. 2. dari tabel tersebut diketahui kerusakan penyakit bercak daun kacang tanah terbesar yaitu 23,33% (intensitas serangan ringan) pada minggu ke 2, penyakit karat daun pada minggu ke empat yaitu 46,67% (intensitas serangan sedang) dan pengorok daun sebesar 23,33% (intensitas serangan ringan) pada minggu ke tiga. Dari hasil pengamatan lapang yang dilakukan setiap satu minggu sekali dengan sampel 10 tanaman pada blok tengah diperloleh data intensitas kerusakan tanaman kacang tanah seperti terlihat pada tabel 1. 4. dari tabel tersebut diketahui kerusakan penyakit bercak daun kacang tanah terbesar yaitu 21,11% (intensitas serangan sedang) pada minggu ke 4, penyakit karat daun pada minggu ke 3 yaitu 62,22% (intensitas serangan berat) dan pengorok daun sebesar 6,7% (intensitas serangan ringan) pada minggu ketiga. Dari hasil pengamatan lapang yang dilakukan setiap satu minggu sekali dengan sampel 10 tanaman pada blok Selatan diperloleh data intensitas kerusakan tanaman kacang tanah seperti terlihat pada tabel 1. 6. dari tabel tersebut diketahui kerusakan penyakit bercak daun kacang tanah terbesar yaitu 46,67% (intensitas serangan berat) pada minggu ke 4, penyakit karat daun pada minggu ke 4 yaitu 77,78% (intensitas serangan puso) dan pengorok daun 26,7% (intensitas serangan ringan) pada minggu ketiga. Secara umum dari ketiga blok pengamatan, diperoleh data intensitas

kerusakan tanaman kacang tanah terbesar pada blok selatan. Hal ini disebabkan karena adanya kelembaban lebih tinggi pada blok tersebut, karena letak blok lebih dekat pada saluran air. Peningkatan hama pengorok daun terlihat meningkat drastis pada minggu ketiga, karena beberapa hari sebelumnya turun hujan yang dapat meningkatkan kelembaban udara yang memacu pertumbuhan hama pengorok daun. Belalang dapat dikendalikan dengan musuh alami yaitu ayam, burung, semut, dan laba-laba. Dari hasil perhitungan intensitas kerusakan tanaman kacang tanah dari minggu pertama hingga mingu keempat, diketahui kerusakan tertinggi yaitu pada minggu keempat sebesar 77,78% (intensitas serangan puso) yang disebabkan oleh penyakit karat daun dan kerusakan terkecil pada minggu kedua sebesar 1,11% (intensitas serangan ringan) yang disebabkan oleh penyakit bercak daun pada minggu ke tiga. Kerusakan tanaman kacang tanah dinilai dari penampakan daunnya. Untuk pengamatan minggu terakhir diperoleh kerusakan lebih besar daripada minggu-minggu sebelumnya, hal ini disebabkan karena semakin tua umur kacang tanah dan memasuki fase pembungaan maka penyakit yang timbul akan semakin banyak. Hal ini akan menghambat atau mengurangi proses pembentukan, pembesaran dan pengisian polong kacang tanah. Penyakit utama yang menyerang kacang tanah adalah bercak daun dan karat daun. Penyakit Bercak daun disebabkan oleh cendawan Cercospora personata. Bercak yang ditimbulkan pada daun sebelah atas coklat sedangkan sebelah bawah daun hitam. Ditengah bercak daun kadang-kadang terdapat bintik hitam dari Conidiospora. Cendawan ini timbul pada tanaman umur 40 -50 hari hingga 70 hari. Cendawan ini dapat dikendalikan dengan Anthmcol atau Daconil. Penyakit karat daun disebabkan oleh Uromyces arachidae, menyerang tanaman yang masih muda menyebabkan daun berbintik-bintik coklat daun menjadi mengering. Pengendaliannya dengan menanam varietas yang tahan. Selain penyakit utama, juga terdapat hama lainnya yaitu hama wereng dan pengorok daun (belalang). Hama wereng daun terlihat pada

tanaman kacang tanah pada pengamatan minggu ke tiga dan ke empat, karena beberapa hari sebelumnya turun hujan yang menyebabkan kelembaban lingkungan meningkat, sehingga menarik hama wereng. Hama wereng (Empoasca spp) tidak terlalu merugikan bagi tanaman kacang tanah. Gejala serangan wereng : hama ini berupa wereng kecil berwarna hijau mengisap cairan sel daun sehingga bagian ujung daun berwarna kuning. daun yang terserang selain menguning juga menjadi kaku dan nampak menebal. Bila serangan berat tanaman menjadi kerdil dan daun mudanya rontok, Hama ini mudah diberantas dengan menggunakan sevin 85 WP, penyemprotan Azodrin, Karphos atau lnsektisida yang tersedia. Selain itu juga terdapat belalang (pengorok daun), belalang berjalan dan berputar menggunakan kaki serta terbang menggetarkan sayap. Belalang merupakan serangga yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada tanaman, terutama di daerah-daerah tertentu di Indonesia. Gejala serangan ditunjukkan dengan adanya daun yang berlubang-lubang dan tepi daun yang bergerigi akibat gigitan dan kunyahan belalang yang mempunyai tipe mulut mandibulat. Hama dan penyakit yang menyerang tanaman kacang tidak dapat dikendalikan karena jumlah musuh alami yang terdapat di lapangan lebih sedikit daripada jumlah hamanya. Identifikasi praktis dapat pula melahirkan sistem klasifikasi yang lebih mudah dimengerti para pengguna informasi di lapangan: petani, petugas lapangan dll. Klasifikasi berdasar jenis kerusakan, misalnya; merupakan cara identifikasi yang muncul dari pengamatan langsung di lapangan, dan nilainya menjadi sangat empirik karena heterogenitasnya mungkin akan sangat besar. Namun jika kemudian dibatasi pada hamahama penting tertentu saja, sistem klasifikasi ini justru lebih mampu memberikan informasi secara cepat di tingkat lapangan. Populasi serangga di lapangan tidak dapat dihitung dengan cara sensus, melainkan harus diduga melalui prosedur sampling. Secara umum,

ada tiga teknik pengambilan sample yang lazim digunakan dalam memperoleh data populasi serangga, yaitu: 1)metode mutlak adalah metode pengambilan sample dengan unit per tanaman, 2)metode nisbi (relative) pendugaan populasi tidak dapat diketahui unitnya tetapi dapat diketahui kerusakannya, dan 3) metode indeks pendugaan populasi berdasarkan pada produk yang ditinggalkan (seperti kotoran). Pada praktikum ini, digunakan teknik pengambilan sample dengan metode mutlak untuk pengambilan sampel hama wereng daun dan metode nisbi (relative) untuk pengambilan sampel hama pengorok daun, penyakit bercak daun, dan penyakit karat daun. Pengambilan sampel yang baik dapat untuk memprediksikan populasi secara tepat, oleh karena itu pengambilan sampel harus praktis dan dapat dipercaya. Praktis adalah pengambilan sampel harus sederhana, tidak memerlukan bahan dan alat yang mahal, dapat dilakukan dalam waktu yang singkat dan mudah dilakukan. Sedangkan dapat dipercaya berarti bahwa data-data yang diperoleh benar-benar dapat mewakili keadaan yang sesungguhnya di lapangan. Pengamatan dengan metode absolute dilakukan dengan mengamati 10 tanaman sample untuk tiap blok. Pengamatan dilakukan setiap minggu, mulai tanaman umur 60 HST sampai 81 HST. Hasil yang diperoleh yaitu adanya penyakit pengorok daun, penyakit bercak daun dan penyakit karat daun yang menyerang tanaman kacang tanah. Pengelolaan dan pengendalian hama tidak begitu diperhatikan oleh petani karena biaya untuk pengendalian hama lebih tinggi dibandingkan nilai ekonomi dari hasil produksi kacang tanah.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum Pengamatan Hama dan Penyakit di Lahan tanaman Kacang Tanah adalah sebagai berikut : 1) Hama dan penyakit yang menyerang tanaman kacang tanah adalah hama wereng daun, pengorok daun, penyakit bercak daun, dan karat daun. 2) Pengambilan sampel dengan metode X, dengan 3 unit blok sampel (blok Utara, Blok Tengah, Blok Selatan), tiap blok diambil 10 rumpun. 3) Hama wereng daun dihitung secara mutlak dan untuk kerusakan pada daun yang disebabkan pengorok daun dan penyakit dihitung secara nisbi. 4) Hama dan penyakit daun meningkat pada pengamatan minggu ke tiga dan ke empat, karena beberapa hari sebelumnya turun hujan yang menyebabkan kelembaban lingkungan meningkat. 5) Penyakit Bercak daun (disebabkan oleh cendawan Cercospora personata) dan Penyakit karat daun (disebabkan oleh Uromyces arachidae) tertinggi dan terlihat pada saat tanaman memasuki fase pembungaan dan fase generatif pada pengamatan minggu keempat. 6) Pengelolaan dan pengendalian hama tidak begitu diperhatikan oleh petani. B. Saran Saran yang dapat disampaikan adalah agar hama dan penyakit dapat dikendalikan, sebaiknya dilakukan dengan memanipulasi kondisi lingkungan di sekitar lahan agar tidak terlalu lembab, dengan cara penyiangan gulma dan pembumbunan. Sehingga biaya yang dikeluarkan untuk pengendalian hama

tidak terlalu besar. Serta merubah pola tanam dari monokultur menjadi polikultur (Tumpangsari).

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2005. Mekanisme Alami dalam Konsep PHT. http://www.deptan.go.id/ditlinhort/pht/ekologi diakses tanggal 18 Mei 2009. Astari, Dewi. 2006. Pentingnya Pengendalian Biologis. http://www.iptek.co.id/pht_90%/html. Diaksese tanggal 18 Mei 2009 Huffaker, C. B dan P. S. Messenggerred. 1989. Teori dan Praktek Pengendalian Biologis. Universitas Indonesia Press. Jakarta Jones, K. 1999. Penerapan Konsep Pengendalian Pathogen Penyebab Penyakit Pada Tanaman Cabai. J. Pertanian Mapeta Vol 3(6):124-127. Matnawy, H. 1992. Perlindungan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta. Nurindah, D. A, Sunarto dan Sujak. 2001. Pengendalian dan Potensi Musuh Alami dalam Pengendalian Helicoverpa armigera pada Kapas. J. Penelitian Tanaman Industri Vol7(2): 60-66. Oka, I. N. 1977. Penerapan Konsep pengendalian Hama Penyakit Tanaman dan Tumbuhan Pengganggu di Indonsesia. Lembaga Peneliian Pertanian Bogor. Sakti, Idham dan Budi, T. 1988. Pengendalian Hama Penyakit Padi. Penebar Swadaya. Jakarta. Semangun, H. 1995. Konsep dan asas dasar pengelolaan penyakit tumbuhan terpadu. Risalah Kongres Nasional XII dan Seminar Ilmiah PFI, 6-8 Septembar 1993. Yogyakarta. 1-24. Southwood TRE. 1978. Ecological Methode, with particular reference to studi of insect populations. The ELBS and Chapman and Hall London. Tania, R. K. 2006. Menguak Serangan Nematoda Pada Lahan Pertanian. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0303/30/1001.htm . Diakses tanggal 18 Mei 2009. Untung, K. 1993. Pengantar Pengelolaan hama Terpadu. Gadjah mada University Press. Yogyakarta.

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENDALIAN TERPADU HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

Disusun oleh: 1. Awaludin Subarkah 2. Antik Purnaningsih 3. Hernowo Adhi 4. Anggi K.H (H 1106001) (H 1106016) (H 1106012) (H 1106015)

LABORATORIUM HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2009