PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

DAFTAR ISI

I

PENDAHULUAN A. B. C. D. Latar Belakang ………………………………………………………… Landasan Hukum .. …………………………………………………….. Maksud dan Tujuan …..………………………………………………… Sistimatika ….…………………………………………………………… 3 4 4 5 6 7 8 9 9 10 10 11 12 12 14 23 26 28 29 31 32 34 36 37

II.

POTENSI WILAYAH A. Potensi Sumberdaya Manusia dan Kelembagaan ………………………. B. Potensi Sumberdaya Alam ……………………………………………… C. Potensi Bidang Ekonomi ……………………………………………….. D. Potensi Sarana dan Prasarana ………………………………………….. E. PotensiTernak ………………………………………………………….. KERAGAAN YANG TELAH DICAPAI A. Konsumsi Hasil Ternak …………………………………………………. B. Produksi Ternak dan Olahannya ……………………………………….. C. Populasi Ternak …………………………………………………………. D. Investasi, Lapangan Kerja dan Pergadangan Ternak …………………… E. PDRB Peternakan ……………………………………………………….. F. Bidang Teknis …………………………………………………………... MASALAH DAN TANTANGAN YANG DIHADAPI A. Masalah …………………………………………………………………. B. Tantangan Yang Akan Dihadapi Kedepan ……………………………… SASARAN UMUM A. Metode Prediksi ………………………………………………………… B. Sasaran Jangka Pendek (2005 – 2009) …………………………………. C. Sasaran Jangka Menegah (2010 – 2014) ……………………………….. D. Sasaran Jangka Panjang (2015 – 2024) ………………………………… E. Sasaran Tahun 2004 ……………………………………………………. KEBIJAKAN TEKNIS & PEMBANGUNAN PETERNAKAN 2005-2024 A. Kebijakan Umum ……………………………………………………….. B. Kebijakan Operasional …………………………………………………..

III

IV

V

VI

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

1

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

VII

RENCANA STRATEGIS DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN TAHUN 2005 – 2009 A Issu Pokok pembangunan peternakan ………………………………….. B Visi, Misi, Tujuan dan sasaran …………………………………………. C Analisis Lingkungan Styrategis ………………………………………… D Strategi dan Program Prioritas ………………………………………….. E Matriks Program Prioritas, Program Aksi dan Indikator Kinerja ……….

52 58 59 64 70

VIII LAMPIRAN - LAMPIRAN

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

2

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Propinsi Lampung memiliki luas wilayah 3,3 juta ha, secara administrative terbagi dalam 10 wilayah Kabupaten / Kota, 162 Kecamatan, 2010 Desa dan 165 kelurahan, dengan jumlah penduduk pada tahun 2003 mencapai 6,85 juta jiwa, atau merupakan Propinsi terpadat di luar Pulau Jawa dan Bali. Pertumbuhan penduduk Lampung pada kurun waktu 1980-1990 cukup tinggi yaitu 2,67%, dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk Nasional yang hanya 1,97%. Letak geografis Propinsi Lampung sangat strategis, karena berada di ujung selatan Pulau Sumatera dan berbatasan langsung dengan Pulau Jawa, yang sampai saat ini masih merupakan pusat pertumbuhan ekonomi, budaya dan sekaligus menjadi pusat pemerintahan. Secara topografis Lampung dibagi menjadi 5 (lima) wilayah, yaitu : 1) Daerah tofografi berbukit sampai bergunung, yang meliputi daerah Bukit Barisan, Gunung Pesawaran, Gunung Rajabasa, Bukit Pugung, Bukit Pesagi dan Sekincau 2) Daerah berombak sampai bergelombang, dicirikan dengan vegetasi tanaman perkebunan seperti kopi, cengkeh, lada dan tanaman pertanian perladangan 3) Dataran alluvial, daerah ini sangat luas meliputi Lampung Tengah sampai mendekati pantai sebelah timur, ketinggian nya antara 25 – 74 m dpl, dengan kemiringan 0 – 3 % 4) Dataran rawa pasang surut, berada di sepanjang pantai timur dengan ketinggian ½ - 1 meter. 5) “river basin”, yang terdiri dari Tulang Bawang, Seputih, Sekampung, Semangka dan Way Jepara Disamping itu secara umum Lampung beriklim tropis-humid dengan angin laut lembah yang bertiup dari Samudra Indonesia, yaitu November – Maret angin bertiup dari arah barat dan barat laut, sedangkan Juli – Agustus angin bertiup dari arah timur dan tenggara. Kelembaban udara di Lampung rata rata berkisar antara 80 – 88% dan ternyata kelembaban udara akan lebih tinggi pada tempat yang tinggi. Dengan potensi wilayah yang sangat mendukung untuk Pembangunan Peternakan, sampai dengan saat ini Lampung dikenal sebagai salah satu Lumbung Ternak Nasional. Pada tahun 2003 saja Lampung mengeluarkan sapi potong dan kerbau sebanyak 150.382 ekor, kambing dan domba 139.782 ekor , dan babi 26.068 ekor, dengan nilai ± Rp 885,82 milyar. Disamping itu juga Lampung dikenal sebagai barometer industri penggemukan sapi potong, sumber bibit sapi potong dan kambing, dan pusat pengembangan kambing boer. Akan tetapi hal yang terpenting dan yang perlu disadari oleh semua pihak, adalah :

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

3

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

1) Bahwa Lampung memiliki potensi sumberdaya pakan untuk ternak ruminansia sangat melimpah. Dari potensi 1,41 juta satuan ternak baru termanfaatkan 33,20%. Demikian juga dengan potensi bahan baku pakan konsentrat seperti jagung dan limbah agro industri 2) Bahwa Lampung memiliki letak geografis yang sangat strategis, sehingga mempunyai keunggulan komperatif terhadap pasar raksasa DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat dibandingkan dengan Propinsi lain. 3) Bahwa pembangunan peternakan masih bertumpu pada peternakan rakyat yang didukung dengan sumber pembiayaan pemerintah, potensi investasi terbesar dari sector swasta masih perlu digali lebih intensif lagi Oleh sebab itu untuk membangun peternakan di Lampung diperlukan perencanaan pembangunan peternakan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek, dengan menetapkan tujuan dan sasaran yang jelas, sesuai dengan potensi yang ada, aspiratif, akomodatif, serta memperhatikan kendala, tantangan dan peluang yang terus berkembang. B. Landasan Hukum Penyusunan Kebijakan Teknis dan Perencanaan Pembangunan Peternakan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek, lebih merupakan landasan berfikir logik. Hal ini diawali dengan pemikiran bahwa pembangunan peternakan harus berkelanjutan, memiliki target dan sasaran yang jelas, harus mampu mengejar ketertinggalan atau adanya percepatan, mampu menjawab kendala tantangan dan perubahan yang terus bergulir, serta dengan pertimbangan bahwa apa yang dikerjakan saat ini akan tercermin dan berpengaruh pada pembangunan peternakan dimasa datang. Sedangkan landasan hukum yang menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan teknis ini yang merupakan salah satu dokumen perencanaan Pembangunan Peternakan berkelanjutan, adalah Undang – undang No. 32/2004, PP Nomor : 108 Tahun 2000. Renstra Propinsi Lampung, Renstra Departemen Pertanian dan Renstra Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan C. Maksud dan Tujuan 1. Maksud Maksud penyusunan Kebijakan teknis dan perencanaan pembangunan peternakan ini adalah menyusun rancangan kebijakan teknis dan perencanaan pembangunan peternakan jangka panjang, menengah dan pendek, yang memuat beberapa bahasan utama antara lain keragaan pembangunan peternakan yang telah dicapai, masalah atau tantangan yang dihadapi, memuat sasaran kuantitatif jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, menetapkan metoda atau pendekatan teknis

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

4

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

bab III Keragaan yang telah Dicapai.s o ft w a re yang akan dilaksanakan. Bab V Sasaran yang akan Dicapai. D. Bab VI Kebijakan Umum dan Kebijakan Operasional. Adapun rincian isi dokumen ini adalah sebagai berikut : Bab I Pendahuluan.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .doc/Datin 5 . menengah dan jangka pendek ini terbagi dalam tujuh bab yang masing masing merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling terkait. Sistematika Sistematika penyajian dokumen kebijakan teknis dan perencanaan pembangunan peternakan jangka panjang. .2009 serta Lampiran Lampiran yang memuat dinamika populasi. menengah dan jangka pendek serta renstra Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan adalah sebagai dokumen perencanaan yang akan menjadi acuan umum pelaksanaan kegiatan pembangunan peternakan di Propinsi Lampung dan akan menjadi acuan bagi Kabupaten Kota. 2. swasta serta masyarakat peternakan pada umumnya. produksi dan konsumsi hasil ternak serta hal hal yang mendukung atau sebagai penjelasan daripada tulisan ini.s o ft w a k e r. Bab IV Masalah dan Tantangan yang akan dihadapi kedepan. E:\KEBIJ TEK-260405.c ww w om k lic lic . serta pada bab tersendiri menyusun Rencana Strategis Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. k w .c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Tujuan Tujuan disusunnya Kebijakan teknis dan perencanaan pembangunan peternakan jangka panjang. Bab II Potensi Wilayah. Bab VII Rencana Strategis Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2005 .

37 %) dan Kota Metro 122. sedangkan antara tahun 2000 dan 2001 penyerapan tenaga kerja sektor pertanian justru meningkat sebesar 1. dimana 199.85%.69%).s o ft w a k e r. Jika dilihat dari pertumbuhannya.089 KK (20.342.565 KK) adalah rumah tangga pertanian.Tenaga inseminator (180 org). yang tersebar di Lampung Tengah.284 jiwa (5.852.59% (974.33% dan Kota Bandar Lampung 1. yang tersebar di Lampung barat 382.01%).177. Lampung Timur 885. Ini menunjukan bahwa jika dibandingkan dengan tahun 1993 peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja menurun cukup signifikan yaitu ± 6.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Tenaga Asisten Teknis Reproduksi (ATR) (14 org).706 jiwa (5. k w . penduduk Lampung selama tahun 1990 – 2000 rata rata tumbuh sebesar 1.02%.43%) diantaranya adalah rumah tangga peternakan.79%).998 jiwa.55 %). Tenaga Dokter Hewan (92 org). Hal lain yang merupakan potensi sumberdaya manusia di Provinsi Lampung yang dapat mendukung pembangunan peternakan dan kesehatan hewan tahun 2003 adalah sebagai berikut : Tenaga penyuluh pertanian (1.059 jiwa (8.08 juta KK. Tulang Bawang dan Way Kanan 26.s o ft w a re BAB II POTENSI WILAYAH A.417 jiwa (1. E:\KEBIJ TEK-260405. Lampung Barat 2. Berdasarkan sensus pertanian tahun 1993. Lampung Selatan 20.073. Lampung Utara. Kota Bandar Lampung 779. Tenaga Sarjana Peternakan (382 org). Jumlah aparat Dinas Peternakan / yang membidangi peternakan (253 org). sektor industri 10% dan sektor jasa 24%. Lampung Timur dan Metro sebanyak 49. .67%) dan tahun 19711980 (5.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. jumlah rumah tangga di Lampung sebanyak 1. Tanggamus 801.c ww w om k lic lic .275 org). Kepala Cabang Dinas Peternakan Kecamatan (155 org).48%. menurun drastis jika dibandingkan dengan pertumbuhan periode 1980-1990 (2.66%). Renstra Provinsi Lampung tahun 2005-2009 menyebutkan bahwa pada tahun 2003 struktur tenaga kerja di Lampung masih didominasi oleh sektor pertanian sebesar 66%.080 jiwa (12. maka jumlah rumah tangga pertanian diperkirakan mencapai 1.09%.260 jiwa (11. Lampung Selatan 1.578 KK. Dengan trend seperti ini diperkirakan pertumbuhan penduduk Lampung periode 2005-2024 juga akan terjadi penurunan.59%. Tulang Bawang 723.768 KK diantaranya adalah rumah tangga peternakan.58%).179 jiwa (11.24%). dari jumlah tersebut 72. Way Kanan 359.92%).096 jiwa (10. Potensi Sumberdaya Manusia dan Kelembagaan Jumlah penduduk Lampung pada tahun 2003 mencapai 6.46%.412 jiwa (15. Petugas pengawas mutu pakan (25 org). Tenaga Pemeriksa Kebuntingan (PKB) (22 org). Lampung Utara 549. dimana 220.18%). Petugas pengawas mutu bibit (3 org) Disamping itu kelembagaan pendidikan di Lampung yang memproduksi tenaga ahli dan madya dibidang peternakan antara lain Jurusan Peternakan dan D3 Kesehatan Hewan Universitas Lampung dan D3 peternakan Politeknik .77%).25%.doc/Datin 6 . Jika angka ini dianalogkan pada kondisi tahun 2003.505 jiwa (17. Lampung Tengah 1.

591 ha (0. Sehingga berdasarkan perhitungan ketersediaan pakan. Lampung memiliki potensi bahan baku pakan yang sangat besar terutama yang berasal dari limbah pertanian dan perkebunan. alang alang 90.03%) dan penggunaan lain seluas 49. k w . kambing. Dinas Peternakan/yang membidangi peternakan (11 dinas). Dari rincian di atas. Lampung juga memiliki wilayah yang secara spesifik sangat cocok untuk pengembangan ternak tertentu.860 ha (20.s o ft w a re Sementara kelembagaan yang telah ada dan mendukung pembangunan peternakan dan kesehatan hewan di propinsi Lampung antara lain kelompok peternak (874 kelompok).96 juta ha atau 59. organisasi profesi (8 Staf). ditambah dengan sumberdaya manusia yang terampil. BPPV.doc/Datin 7 . tambak 33.945 ha (21. 2002).62%).PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . B. nanas. assosiasi bisnis peternakan (5 ass). hutan 871. Sementara saat ini baru mencapai 468.169 ha (2. sapi perah. Lampung Tengah dan Lampung Timur memiliki E:\KEBIJ TEK-260405. demikian juga dengan daun singkong. Demikian juga wilayah wilayah dengan vegetasi monokultur padi.32%).80 % ternak ruminansia besar dan kecil antara lain sapi potong. tebu.41%). dan domba. kerbau. Karantina.c ww w om k lic lic . asosiasi kemitraan peternakan ayam ras dan sapi potong (2 ass). rawa dan danau 15. berbudiluhur dan mampu memanfaatkan teknologi serta cerdas menangkap peluang pasar.51%) (Lampung Dalam Angka.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. kebun campuran 327. maka akan menghasilkan peternakan selain tangguh dan berkelanjutan juga akan mampu bersaing dengan produk peternakan dari wilayah atau negeri lain.523 ha (1.73%). sawah 238. tegalan dan ladang 675.3 juta ha. antara lain jerami padi dan jagung yang tersedia sepanjang tahun mampu menampung 49. kacang kacangan. Secara tofografis. BPTP. memegang peranan utama untuk membangun peternakan yang tangguh dan berkelanjutan.866 ha (9. Pulau Panggung Kabupaten Tanggamus dan sebagian wilayah di Kabupaten Lampung Barat.844 ha (1.41 juta unit ternak.40 % dari total luas wilayah Lampung Lahan sebagai basis ekologi budidaya ternak dan penghasil bahan baku pakan.979 ha (26. kelembagaan keuangan (8 lembaga) serta himpunan mahasiswa peternakan (1 himp). perkebunan dan perkebunan campuran serta alang alang seluas ± 1. kakao serta limbah agroindustri lainnya.51%). Potensi Sumberdaya Alam Luas wilayah Propinsi Lampung ± seluas 3. limbah kelapa sawit.93%). tegalan dan ladang. atau masih terdapat peluang pengembangan sebanyak 66. perkebunan 703. antara lain wilayah yang memiliki ketinggian diatas 700 m dpl seperti Kecamatan Talang Padang. daerah rawa rawa seperti wilayah Rawasragi.180 Unit ternak. koperasi peternakan (50 unit). lahan yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat mendukung pengembangan peternakan adalah sebagian lahan perkampungan. lahan sawah.47%).47%). daun ubi jalar. yang terdiri dari perkampungan 248. . Lampung mampu menampung ternak ruminansia besar dan kecil sebanyak 1. secara agroklimat sangat cocok untuk pengembangan ternak sapi perah.604 ha (8.s o ft w a k e r. Ambarawa dan sebagian besar wilayah Pantai Timur Kabupaten Tulang Bawang.109 ha (7.550 ekor sapi/kerbau.

mengalami peningkatan sebesar 3.000 ton. dan ayam 8. Lampung memiliki komoditi unggulan yaitu sapi potong. Pemulihan perekonomian di Lampung ini terutama ditunjang oleh kenyataan bahwa hampir semua sektor telah mengalami pertumbuhan positif. Disamping itu juga Lampung merupakan daerah penghasil jagung dan ubi kayu yang cukup besar. jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan sektor pertanian yang hanya 3.s o ft w a k e r. juga menjadi andalan pertumbuhan ekonomi daerah.821. kerbau 1. Sementara daerah lahan kering dengan luas 89.355 ekor. dedak halus 290. ketiga komoditi tersebut merupakan bahan baku utama konsenrat.82 milyar. sektor perdagangan/hotel/restoran dan sektor industri pengolahan.43 milyar.027 ekor.81 %. perkebunan kelapa sawit.90 Triliun pada tahun 2003. Perekonomian Lampung didominasi oleh tiga sektor kegiatan ekonomi. menjadi andalan utama untuk pengembangan sapi potong.63 % sedangkan atas dasar harga konstan mengalami peningkatan sebesar 2.5 juta ton.4 juta ekor atau equivalen dengan ± Rp.77 % dan perikanan 13. .s o ft w a re potensi yang besar untuk pengembangan ternak itik.32 % yaitu dari Rp.84% jika dibandingka dengan nilai tahun 2002 yaitu sebesar Rp. kehutanan 0. 1. hal ini terlihat dari kontribusi masing masing sektor tersebut terhadap pembentukan PDRB Propinsi Lampung. Indikator ini menunjukan mulai pulihnya kondisi perekonomian Lampung secara keseluruhan pasca krisis ekonomi tahun 1997.88 % dari seluruh wilayah Lampung.15%.doc/Datin 8 . C.63 %. walaupun sebenarnya sapi potong dapat dikembangkan pada wilayah yang memiliki bahan baku pakan hijauan atau serat. Pada tahun 2003 jumlah ternak sapi yang dijual keluar Propinsi sebanyak 149. tanaman perkebunan 21.86 %. Dari sekian banyak usaha pada sub sektor peternakan. k w .73 % Jika dilihat sebarannya pada masing masing lapangan usaha (sektor).PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . 1.c ww w om k lic lic . Setiap tahun Propinsi Lampung antara lain menghasilkan jagung tidak kurang dari 1 juta ton. kambing 135. demikian juga dengan ubi kayu setiap tahunnya mencapai 3. Potensi Bidang Ekonomi Pada tahun 2001 perekonomian Lampung mengalami pertumbuhan sebesar 5. Subsektor Peternakan selain menjadi andalan pendapatan dari 220 ribu keluarga peternak. kambing dan ayam ras.23 Triliun pada tahun 1999 menjadi Rp. maka pada tahun 2003 PDRB sektor pertanian atas dasar harga berlaku terbentuk dari tanaman pangan sebesar 47. nenas.068 ekor .54 %. bahkan didaerah perkebunan tebu. sedangkan dilihat kontribusinya terhadap sektor pertanian meningkat sebesar 7. Khusus PDRB bidang peternakan pada tahun 2003 meningkat sebesar 11.70 % peternakan dan hasil hasilnya 15.237 ekor babi 26. Selama kurun waktu 1999-2003 PDRB sektor pertanian Propinsi Lampung atas dasar harga berlaku. seperti daerah monokultur padi. domba 4.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.545 ekor. yaitu sektor pertanian.885.86 %. meningkat 7. sedangkan komoditi ayam E:\KEBIJ TEK-260405.

48 4.705 429. Dari populasi yang ada tersebut ternak dikembangbiakan dan dibudidayakan untuk kepentingan konsumsi local. Disisi lain potensi ekspor ternak kambing ke daerah Timur Tengah cukup besar.409. Letak geografis yang sangat strategis yaitu dekat dengan pasar raksasa DKI Jakarta.s o ft w a k e r. karantina hewan.938 83.063 80. Ini semua akan mendukung berkembangnya investasi dan usaha dibidang peternakan. Instalasi Produksi Mani Beku.017 22.970 1.076 123.600 84.131 22.780.83 1.600 15. Propinsi Lampung selama ini juga telah mengekspor pakan ternak berupa kulit nenas ke Jepang dan pakan ternak ke Australia D. Populasi ternak selama lima tahun terakhir di Propinsi Lampung adalah sebagai berikut : Tabel 1. domba.02 6. tidak mengalami hambatan dalam pemasaran produknya. Pabrik Pakan.800 2003 387. .920 1. kambing. babi dan ayam kampung.109.723 94.012 178 726.000 2. Pos Kesehatan Hewan.21 3. Rumah Potong Hewan.927 40.381 2000 372.001 86 49.705.240 20. Banten dan Jawa Barat menyebabkan komoditi peternakan terutama sapi potong.560 15.22 10.205 24.140. Bandara Raden Intan.163.05 4.051.08 juta keluarga.640. Pos Inseminasi Buatan. kecuali ayam ras karena telah mengalami persaingan antar propinsi yang cukup ketat.351 196 810. E.7 E:\KEBIJ TEK-260405.28 2.741 22.866 2002 381.723 23. kerbau.07 0.021 103 49.624 89.000 515.220 45.521.350 48.095 182 761.740 19.784 425. Potensi Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana yang mendukung pembangunan peternakan di Lampung sudah cukup baik.409 47. k w .350 112 52.179 423.300 2.522.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .c ww w om k lic lic .159 R (%) 1. antara lain Pelabuhan Internasional Panjang.490 59. Populasi Ternak di propinsi Lampung Tahun 1999 – 2003 JENIS TERNAK Sapi potong Sapi perah Kerbau Kuda Kambing Domba Babi Ayam ras pedaging Ayam ras petelur Ayam buras Itik Puyuh 1999 372.934 105 50.178.29 71. konsumsi propinsi lain.648.716 1.s o ft w a re kampung termasuk komoditi yang strategis karena dimiliki oleh hampir seluruh keluarga pertanian yang berjumlah 1. ekspor dan untuk kebutuhan bibit.44 10.848 224 742. listrik dan saluran telepon yang juga cukup memadai.007.188 22.534 110 50.718.924 2001 373.81 4. Potensi Ternak Populasi ternak yang telah ada merupakan potensi dasar bagi pengembangan peternakan di Lampung.601.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.988 176 725.456 66. Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner.928 635.313 15. Demikian juga dengan assesibilitas wilayah Lampung cukup baik.030 12.138 15.doc/Datin 9 .

83 % untuk konsumsi Protein Hewani.95 4.doc/Datin 10 . B.55 3. 63. konsumsi yang telah dicapai oleh Propinsi Lampung masih belum memenuhi standar.51 3.48 3.71 4. Produksi hasil peternakan dari tahun 1999 – 2003 terlihat pada tabel.64 4.90 4. 94.1 6.20 4.0 *) Hasil Widya Karya Pangan dan Gizi Tahun 1993. dan 68.68 % konsumsi telur. Pada th.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .s o ft w a re BAB III KERAGAAN YANG TELAH DICAPAI A.69 3. .45 3.48 3.c ww w om k lic lic . Dengan demikian pencapaian konsumsi hasil peternakan masih perlu ditingkatkan baik melalui peningkatan produksi dan produktivitas ternak. 2.19 4.93 % konsumsi susu.81 % untuk konsumsi daging. peningkatan pendapatan masyarakat serta bentuk – bentuk kegiatan yang mampu mendorong aspirasi dan pengertian masyarakat tentang begitu pentingnya konsumsi protein hewani asal ternak yaitu daging. peningkatan daya beli masyarakat serta makin meningkatnya pengetahuan masyarakat akan gizi. 3.7 6.1 4.42 3. 2 berikut : Tabel 2 : Konsumsi Hasil Ternak di Propinsi Lampung Tahun 1999-2003 No 1.87 2001 6.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. 2003 baru mencapai 68. E:\KEBIJ TEK-260405.13 2003 6.99 2002 6. k w . telur dan susu menunjukkan adanya peningkatan kualitas dan kuantitasnya sejalan dengan bertambahnya penduduk.83 2000 6. KONSUMSI HASIL TERNAK Konsumsi komoditi peternakan yaitu daging.63 3. Bila dibandingkan dengan standar berdasarkan hasil Widya Karya Pangan dan Gizi Tahun 1993. 4.s o ft w a k e r. 3 berikut.84 4. PRODUKSI TERNAK DAN OLAHANNYA Dengan makin meningkatnya permintaan akan hasil ternak baik untuk Propinsi Lampung maupun luar Propinsi Lampung maka perlu adanya upaya-upaya untuk memacu peningkatan produksi ternak.13 Standar WKPG *) 10. Uraian Daging (kg/kap/th) Telur (kg/kap/th) Susu (kg/kap/th) Protein Hewan (gr/kap/hr) 1999 6. telur dan susu. Konsumsi hasil ternak Propinsi Lampung tahun 1999-2003 dapat dilihat pada tabel.

445 5.32 % untuk daging. atau 70.826 2000 154.01 39.32 78. 1999 – 2003 (ekor) No 1.76 33.356 141.669 101. 5. Hal ini sisebabkan terjadinya wabah Flu Burung yang dimulai pada awal Agustus 2003 di beberapa Propinsi di Indonesia termasuk Propinsi Lampung.237 26.948 24.40 69.02 4. sapi potong meningkat menjadi 13. 28. Babi 2.s o ft w a re Tabel 3 : Produksi Hasil Ternak Propinsi Lampung Tahun 1999 – 2003 (dalam ton) No.78 189.736. . yaitu masing-masing 16. 6. Produksi daging Propinsi Lampung berupa ternak potong yang keluar Propinsi cukup besar.248 Dari tabel tersebut diatas dapat disampaikan bahwa masing – masing selama kurun waktu 5 tahun.857. Komoditi Daging Telur Susu Kulit Basah Pupuk/Kotoran Ternak 1999 44. 19.966.90 5.355 135.97 951.50 776.545 4. C.252 2.58. Jenis Ternak Sapi Potong Kerbau Kambing Domba Babi Unggas 1999 89.11 4.91 2003 47.091 34.64 % untuk pupuk/kotoran ternak. pada tahun 2003 produksi daging yang keluar Lampung setara dengan 33.% untuk susu.261 6. Adapun untuk ternak potong (Sapi. 1.623 26.013 56.59 %.068 8.% dari produksi untuk konsumsi lokal.s o ft w a k e r.00 % untuk telur. Kerbau -15.42 4.95%.199 41. 4.c ww w om k lic lic .87 2002 45. kerbau dan kambing) pertumbuhannya 1.879.149 2002 144. 5.085. 4. 3.40 879.520 126. 2.940.74 2001 44.98 77.574 2003 149. k w .790 2. E:\KEBIJ TEK-260405. 3.21 %.50 Ton.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.98%.494 640.400 5.02 sampai 2. 2.98 Dari tabel tersebut diatas dapat dilihat bahwa produk ternak dari tahun 1999 – 2003 terjadi peningkatan yaitu masing-masing 1.67 %.965 128.07%.769.077 2001 121.67 37.436.180.291 1.412.21 893.67% dan 3.903.378.07 % dan unggas selama kurun waktu 4 (Empat) tahun meningkat menjadi 136.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .122.979.11 74. Kambing 7.47 37. 2. Adapun produksi ternak dari Propinsi Lampung yang untuk memenuhi kebutuhan Propinsi lain adalah sebagai berikut : Tabel 4 : Produksi Ternak dari Lampung untuk memenuhi Kebutuhan Propinsi lain pada Th.83 4.080.38 %.doc/Datin 11 .944.979 6.61 36. Ayam Ras Petelur dan Ayam Ras Pedaging mengalami penurunan.759.027 1. dimana dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa perkembangan ternak unggas kecuali itik pada tahun 2002 – 2003 baik Ayam Buras. POPULASI TERNAK Perkembangan populasi ternak selama 5 tahun terakhir dapat dilihat terlihat pada tabel 1 diatas.79 868. sehingga terjadi kematian ternak unggas yang mengakibatkan turunnya populasi.591 2. 5.12 2000 43.208.407.22 % untuk kulit dan 0.22% kecuali domba yang mencapai 10.

600 821.s o ft w a re Sedangkan pada Tahun 2001–2002 pada Ternak Babi terjadi penurunan populasi sebesar 14.02 19. penyerapan dan penciptaan lapangan kerja serta perdagangan ternak antar Propinsi.000 STP STP Orang Rp.54 %.802.10 21.82 Trilyun dan pada tahun 2003 sebesar Rp.Selisih Satuan Rp.30% yang disebabkan adanya serangan penyakit Hog Kholera pada Babi. LAPANGAN KERJA DAN PERDAGANGAN TERNAK Indikator ekonomi yang dapat digunakan untuk menilai kinerja pembangunan peternakan adalah besarnya investasi. Dengan demikian PDRB yang berasal dari sub sektor peternakan akan menjadi indikator sampai berapa besar peranan sub sektor peternakan mewarnai pembangunan daerah. Pencapaian PDRB sub sektor peternakan atas dasar harga konstan dan berlaku dari Tahun 1999-2002 dapat dilihat pada tabel 6 dan 7 berikut : E:\KEBIJ TEK-260405.180 1. Juta Rp.43 402.52 Trilyun.950 1.doc/Datin 12 .357. Demikian juga dengan besarnya nilai pendapatan yang berasal dari subsektor peternakan yang berpengaruh langsung terhadap pendapatan peternakan dan besarnya kontribusi PDRB peternakan yaitu berdasarkan hitungan harga berlaku pada tahun 2001 mencapai nilai Rp. D. E.90 Trilyun.460 885. 2. 1. Lapangan Kerja dan Perdagangan Ternak di Propinsi Lampung Tahun 2001 .63 386. Uraian INVESTASI: Pemerintah (Dana Pembangunan) Investasi Swasta Lapangan Kerja . Juta Rp. Juta Rp. diantaranya karena mempunyai letak geografis yang sangat strategis dan lahan yang masih cukup luas.74 3.c ww w om k lic lic . a.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .44 22. 1.Perusahaan Peternakan Nilai Perdagangan Ternak .08 478. lapangan kerja dan perdagangan ternak adalah sebagai berikut : Tabel 5 : Investasi.14 18.2003 No I. Juta 21. 1.143 46. k w .000 2003 9.169.53 321.220.99 418.169. Juta 2001 2.480 51. tahun 2002 mencapai nilai Rp.656 707.82 407. INVESTASI. Pencapaian sasaran investasi. Jika dilihat dari indikator tersebut Propinsi Lampung mempunyai potensi yang cukup besar.Peternakan Rakyat * Sapi potong * Unggas .c W C re ! tr ac C tr ac k e r. PDRB PETERNAKAN Data PDRB suatu daerah mempunyai manfaat untuk mengetahui tingkat produk bruto yang di hasilkan oleh seluruh faktor produksi. besarnya laju pertumbuhan ekonomi dan struktur perekonomian daerah pada kurun waktu tertentu.856.s o ft w a k e r.141 50. Dengan melihat tabel tersebut diatas maka investasi di bidang peternakan selama 3 tahun terakhir meningkat menjadi 65. .000 2002 6.74 15.129 1. b.Ternak Pot yang keluar .TernakPot yang masuk .

185 27.937 0.s o ft w a re Tabel 6 : Produk Domestik Bruto (PDRB) Sektor Pertanian Propinsi Lampung atas dasar Harga berlaku Prop.482 11. Juta) Persentase (%) Tanaman Perkbn PDRB (Rp.506 16.911 18.92 1.55 2.962. Juta) Persentase (%) Kehutanan PDRB (Rp.249 13. Juta) Persentase (%) Peternakan PDRB (Rp.10 721.958 12.39 22.344 10.(%) 5.613.937 11.738.513 1.115 13.703.53 1.372.156.895.77 1. Juta) Persentase (%) Total Pertanian 1999 4.566.47 2.587 2003 1. k w .795 17.603 13.618 0.185 41.0.688 1.302.29 2.37 1.262 47.doc/Datin 13 .77 1.77 1.672.103.68 2.73 773. E:\KEBIJ TEK-260405.798 47.59 11.63 10.98 2.70 1.584.841 42.56 501.76 .04 22.312 035 1.284 0.142.352 2002 5.749 21. Juta) Persentase (%) Peternakan PDRB (Rp.49 488.989 14.16 26.875.929 17.85 295.694 27.104 2001 1.75 2.87 36.81 92.716 18.478 42.589 27.805 R.887 15.71 744.60 1.298 10.28 2.897 47.407.4.416 2003 5. Juta) Persentase (%) Perikanan PDRB (Rp.911.039 0.0.90 739. (%) 4.54 26.723 10.234.369.623.022 0.479 Tabel 7: Produk Domestik Bruto (PDRB) Sektor Pertanian Propinsi Lampung Atas Dasar Harga Konstan Propinsi Lampung Tahun 1999-2003.720.95 2.c ww w om k lic lic .645 0.809 0.s o ft w a k e r.18 471.04 27.35 12.48 -7.923 11.102 25.06 1.620.398.179 28.264 44. 1999 – 2003 (Juta Rupiah) Subsektor Tanaman Pengan PDRB (Rp.93 3.662.602.524 17.637 42.42 1.86 2.97 1.73 Dari tabel tersebut dapat diartikan bahwa peranan sub sektor peternakan terhadap pertanian meningkat terus dari Tahun 1999-2002.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.40 72. .16 43.18 21.59 -4. Juta) Persentase (%) Perikanan PDRB (Rp.86 11.77 2001 5.581 30.01 299.24 32.65 1.35 2.911 2002 1.453 44.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .1.324 14. Juta) Persentase (%) Total Pertanian 1999 1.79 5.59 453.219 46.93 65.41 10.659 12.49 325.355 12.142.515. Juta) Persentase (%) Kehutanan PDRB (Rp.57 .99 17. (Juta Rupiah) Lapangan Usaha Tanaman Pangan PDRB (Rp. Juta) Persentase (%) Tanaman Perkbn PDRB (Rp.329.708.099. Lampung Th.12 301.30 1.00 759.65 295.02 2.100.32 7.954 2000 1.329.92 490.776 R.216.991.125.362 26.79 2000 4.82 11.933 23.03 3.821.478 21.94 .96 .

Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet Provinsi Lampung yang letak geografisnya berbatasan dengan Propinsi Banten (Pulau Jawa) dan berada di ujung Selatan Pulau Sumatera. Labuhan Maringgai. hewan. dilakukan pemeriksaan dan pencatatan oleh Karantina Hewan.doc/Datin 14 . HBAH ke Provinsi Lampung atau untuk Provinsi lain yang melalui karantina hewan adalah sebagai berikut : E:\KEBIJ TEK-260405. Lemong Kab Lampung Barat.500 ek 30.c ww w om k lic lic .126 ek 2. . BAH. k w . Simpang Pematang Kab Tulang Bawang. atau sebaliknya penyakit dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa. dilakukan tindakan pengamanan ternak secara preventif dalam bentuk pembinaan kesehatan hewan secara utuh. Blambangan Umpu Kab Way Kanan. Sebagaimana diketahui bahwa pintu keluar-masuk ternak / hewan / bahan asal hewan (BAH) dan hasil bahan asal hewan (HBAH) di Lampung ada di beberapa titik. Kota Agung.422 kg 37. Dalam rangka pengendalian penyakit hewan yang diakibatkan oleh lalu lintas hewan/ternak/BAH/HBAH (Hasil Bahan Asal Hewan). Hewan.141 kg 625. (4) pengamanan produksi bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan. dan (5) pengamanan sarana produksi peternakan. antara lain (1) pengamanan sumberdaya alam. (2) pengamanan lingkungan budidaya ternak.600 kg 245 kg 100 kg 1 ek 8 ek 1 ek 100 ek 40 ek *) hanya yang lewat / melapor melalui Stasiun Karantina Hewan Panjang/tarahan Sedangkan data pemasukan ternak.s o ft w a k e r.822 ek 1.831 ek 500 ek NO 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 URAIAN Daging aym (beku) Daging ayam (ekspor Jepang) Telur Jeroan Kulit Burung Siamang Anjing Kalong Kera JUMLAH 49. BAH.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. baik penyakit yang sifatnya strategis ataupun ekonomis.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . dengan kondisi pada tahun 2003 adalah sebagai berikut : Tabel 8. Data Pengeluaran Ternak.595 ek 639.s o ft w a re F. menjadikan Lampung sebagai daerah penyangga bagi Provinsi lain di sumatera terhadap penyebaran penyakit yang berasal dari Pulau Jawa.573 ek 161 ek 30 ek 1 ek 55. Srengsem. Pelabuhan sungai Menggala dan TPI Lempasing. Sebagai upaya perlindungan terhadap ternak dan gangguan penyakit. (3) pelayanan kesehatan hewan terpadu. BIDANG TEKNIS 1. serta beberapa pelabuhan yang sewaktu waktu dipergunakan yaitu antara lain Pelabuhan Sukaraja. antara lain Pelabuhan Panjang. Pelabuhan Bakauheni. HBAH melalui Stasiun Karantina Hewan Panjang Tahun 2003 *) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 URAIAN Sapi lokal Sapi eks impor Sapi bali bibit Kerbau Kuda Kambing Babi DOC Ayam Buras Ayam ras broiler Itik JUMLAH 1. Bandar Udara Branti.719 ek 59.

Dinas Peternakan atau yang membidangi peternakan di 10 kab/Kota. karantina hewan 1 unit. anaplasmosis. Sebagai gambaran. Sementara lalu lintas pemasukan Hewan Ternak BAH dan HBAH. sementara di pelabuhan Bakauheni yang memiliki arus lalu lintas barang dan orang sangat tinggi. piroplasmosis. baru pada bulan Maret 2005 ditempatkan Pos Karantina berupa Pos Check Poin. ND (lab. Dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan hewan dan kesmavet. anjing dll.545 Ton 1 ekor 25 ekor KETERANGAN Asal Australia Asal Amerika Jawa Barat Asal Jawa Dari hasil tindakan pengawasan terhadap lalu lintas hewan . lab).PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . brucellosis.s o ft w a re Tabel 9: Data Pemasukan Ternak. helminthiosis (lab). SE. HBAH melalui Karantina Hewan Panjang Tahun 2003 NO 1 2 3 4 URAIAN SAPI Brahman cross Feather meat/ meat bone Kuda Kambing JUMLAH 91. Hal ini disebabkan Stasiun Karantina Hewan kedudukannya (lokus) ada di Pelabuhan Panjang dan Tarahan (holding ground). klinis). klinis). salmonellosis. dibawah ini ditampilkan data kejadian penyakit hewan / ternak menular strategis selama tahun 2000 – 2003 E:\KEBIJ TEK-260405. BEP (klinis) dan flu burung (lab. BAH. HBAH. CRD (lab). klinis). haemochsiosis (lab). sehingga masih ada kendala untuk memantau pemasukan hewan dan bahan asal hewan dari Jawa ke Lampung. k w . gumboro.c ww w om k lic lic . BVD. cukup tinggi antara lain ayam potong. BAH.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.s o ft w a k e r.480. telur. Sedangkan yang masih positif berada di Lampung antara lain hog cholera (susfected. yang tercatat hanya 4 (empat) komoditi pada 1 (satu) tempat yaitu Pelabuhan Karantina Panjang. pullorum (lab). scabies dan orf (klinis). rabies (lab. itupun lokasinya diluar area Pelabuhan Bakauheni.412 ekor 8. serrologis). ternak. rumah potong hewan (RPH) 8 unit. Fasciollosis (lab). Coccidiosis (lab). Propinsi Lampung telah memiliki sarana dan prasarana yaitu : Pos Keswan sebanyak 12 unit. coryza/snot (lab). daging. Bandara Branti serta check poin lalu lintas lainnya tidak tersedia datanya. Hewan. yang melalui pelabuhan Bakauheni. lymphoid leucosis (Lab). BPPV 1 unit. Ayam afkir petelur.doc/Datin 15 . MCF. ramadewa (lab. sapi. . Sebagaimana diketahui bahwa HBAH masuk khususnya yang melalui Pelabuhan Bakauheni. Sementara itu beberapa jenis penyakit strategis dan ekonomis yang telah didiagnosa secara labolatoris dan hasilnya negative antara lain anthrax. tuberculosis dan PMK. surra. tempat pemotongan hewan (TPH) 64 unit dan rumah potong ayam (RPA) dengan kualifikasi untuk ekspor 1 (satu) unit.

: Jumlah Kejadian Penyakit Hewan/Ternak menular Strategis di Propinsi Lampung Tahun 2000 . sosialisasi program IB dan peralatan IB yang relative masih kurang.2003 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 PENY HWN STRATEGIS Anthrax Brucellosis Bovine Viral Diarhea Gumboro Hog Cholera Rama Dewa New Castle Desease Rabies Salmonellosis SE Inf Bovine Rinotracheaisis Surra Anaplasmosis Piroplasmosis MCF Flu Burung 2000 0 1 0 0 0 0 5 14 0 0 0 0 0 0 2 0 2001 0 0 0 0 0 0 1 19 0 0 0 0 0 0 0 0 2002 0 0 0 0 1 0 0 28 0 0 0 0 0 0 0 0 2003 0 0 0 0 0 0 4 12 0 0 1 0 0 0 0 2 KET Data diperoleh dari hasil pemeriksaan BPPV wilayah III Bandar Lampung 2. serta meningkatnya pendapatan peternak peserta IB sebagai akibat dari meningkatnya harga jual ternak hasil IB. Adapun kondisi sarana dan prasarana fisik IPMB Terbanggi besar sampai dengan tahun 2004 adalah sebagai berikut : E:\KEBIJ TEK-260405. (2) ratio cervis per-conception. (3) conception rate.s o ft w a k e r. dan N2 Cair (6) dan pengembangan IB swadaya. Sampai dengan tahun 2003 produksi mani beku IPMB Terbanggi Besar mencapai 50. dalam arti pada beberapa aspek masih diperlukan perhatian dan peningkatan.doc/Datin 16 . Dari hasil pengamatan terdapat beberapa hal yang sangat mendasar dan sangat berpengaruh terhadap kinerja IB sebagaimana tersebut diatas. Sedangkan keberhasilan program IB yang cukup monumental diantaranya adalah terbangunnya Instalasi Produksi Mani Beku di Terbanggi Besar.000 dosis mani beku kambing. (4) recording dan system pelaporan.c ww w om k lic lic .c W C re ! tr ac C tr ac k e r.000 dosis yang terdiri dari 40. tingginya animo peternak yang telah mengenal program IB untuk memanfaatkan teknologi IB. dan perkembangannya sampai saat ini cukup baik. antara lain (1) cakupan wilayah inseminasi dan peningkatan jumlah akseptor. antara lain pengetahuan dan keterampilan peternak. kualitas budidaya (terutama pakan yang diberikan). Inseminasi Buatan Inseminasi Buatan (IB) mulai diintroduksi di Lampung pada tahun 1976. .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .s o ft w a re Tabel 10.000 dosis mani beku sapi dan 10. k w . (5) distribusi dan sistem penjualan mani beku.

atau sudah berjalan selama 28 tahun.s o ft w a k e r.c ww w om k lic lic . . PERALATAN IPMB (2) Peralatan Penampungan Vagina buatan sapi Vagina buatan kambing Sterilisasi vagina buatan Incubator Rak alat alat Inner Linner Termos IB gun sapi IB gun Kambing Peralatan pemeriksaan Kualitas Mikroscope listrik Mikroscope cahaya Fotometer Refrigerator CCTV Monitor Incubator alat gelas/kaca Lemari alat alat kaca Timbangan digital Peralatan Processing Cool top Filling and Sealing Machine Refrigerator Container Prae Freezing Rak Prae Freezing Sterilisasi Straw Peralatan Printing Straw Printing Straw Manual Printing Straw Automatic Peralatan Penyimpanan & Distribusi Container deppo Container operasional Vacuum Container Container deppo 200 liter Mobil pengangkut N2Cair & Straw & pakan Mobil Operasional TERSE DIA (3) 4 2 1 1 1 4 2 4 2 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 2 0 1 0 12 2 1 0 1 KEBUTU HAN (4) 15 8 1 1 4 15 4 6 6 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 2 1 6 1 1 1 24 6 2 2 2 2 KEKURA NGAN (5) 11 6 0 0 3 11 2 2 4 0 0 0 0 0 1 2 1 0 0 1 1 4 1 0 1 12 4 1 2 2 1 Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa program IB mulai diintroduksi pada tahun 1976. Secara umum perkembangannya sampai saat ini adalah sebagai berikut : E:\KEBIJ TEK-260405. k w .s o ft w a re Tabel 11 Kondisi Sarana dan Prasarana Fisik IPMB Terbanggi Besar Sampai Dengan Tahun 2004 (dalam buah/unit) NO (1) A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 B 1 2 3 4 5 6 7 8 C 1 2 3 4 5 6 D 1 2 E 1 2 3 4 5 6.doc/Datin 17 .c W C re ! tr ac C tr ac k e r.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .

458 29.72 Tahun 2001 373. Bila dilihat dari usaha pengemukan sapi potong di Provinsi Lampung. sementara itu peternakan rakyat yang merupakan “armada semut” yang potensial (Sujarmin.58 93 2003 387.105 1.530 2.s o ft w a re Tabel 12.s o ft w a k e r.892 2000 372. BOERAWA. Hal ini menunjukan bahwa ada sesuatu yang perlu dikaji karena proses selama kurun waktu 28 tahun.941 28. .98 55 74. disisi lain sistim dan usaha pembibitan secara keseluruhan belum mendapat porsi perhatian yang memadai. Pembibitan Masalah utama yang dihadapi dalam meningkatkan produksi dan produktivitas ternak salah satunya adalah masih rendahnya ketersedian bibit ternak baik kualitas maupun kuantitasnya.663 38. 1997) sebagian besar masih merupakan usaha sambilan serta belum menariknya usaha pembibitan sapi potong bagi perusahaan peternakan karena pengembalian modalnya membutuhkan waktu yang relatif lama.458 ekor.563 42. dan PE oleh UPTD IBBITKAN di instalasi Pembuatan Mani Baku Terbanggi Besar. dan pembinaan produksi ternak bibit.350 108.39 80.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : a. dan lokasi sentra pembibitan ternak di Provinsi Lampung adalah sebagai berikut : E:\KEBIJ TEK-260405.737 1.816 33.639 1. 3. ternyata kemampuan ternak lokal dal.50 98.c ww w om k lic lic . Kinerja Pelaksanaan IB di Propinsi Lampung Tahun 1999 – 2003 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 URAIAN Populasi Sapi (ekor) Jumlah betina produktif (ekor) Akseptor (ekor) Jumlah Inseminasi/Dosis SC Ratio CR (%) Kebuntingan (%) Kelahirannya (%) 1999 372. Sedangkan pembibitan ternak kambing.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.am menyediakan bakalan hanya dapat memenuhi 15 – 20 % sedangkan 80 – 85 % masih mendatangkan dari impor (Australia).021 104.doc/Datin 18 .165 31.001 104. Provinsi Lampung mempunyai peluang yang besar terkait dengan potensi pasar dan sumberdaya pakan yang ada.50 2002 381. meliputi pembinaan. atau baru mencapai 26. Mengembangkan sentra-sentra pembibitan ternak dalam bentuk pembibitan ternak rakyat/pembibitan pedesaan atau VBC dengan mengutamakan pada daerah-daerah penyebaran ternak pemerintah dan dilaksanakan melalui Pola Sistem Pelayanan Terpadu (SPT).266 ekor.40 60.534 104.138 39.00 62.07 45. serta telah diproduksinya mani beku jenis kambing BOER.226 40. ternyata cakupannya relatife masih rendah. pelayanan kesehatan. bimbingan pemasaran/panen hasil.63% jika dibandingkan dengan potensi akseptor yang ada yaitu ± 108. k w . Jumlah dan kualitas bibit sapi lokal masih terbatas sehingga belum mampu memenuhi permintaan produksi. Untuk mengembangkan perbibitan di Provinsi Lampung.589 25. pelayanan IB (pada VBC sapi dan kambing).160 32. Adapun jenis komoditas.99 Jumlah akseptor yang dapat di inseminasi pada tahun 2003 mencapai 29.86 61. Penggunaan bibit unggul kambing ini masih pada tahap pengenalan (mulai tahun 2002) dengan realisasi akseptor ± 2.934 106.500 ekor.37 92.

c ww w om k lic lic .c W C re ! tr ac C tr ac k e r.s o ft w a re a) Sapi Potong NO 1 KABUPATEN / KOTA Lampung Selatan NO 1 2 3 1 2 3 4 5 6 7 KECAMATAN Tanjung Bintang Sido Mulyo Jati Agung Simpang Agung Padang Ratu Punggur Gunung Sugih Terbanggi Besar Seputih Mataram Kota Gajah 2 Lampung Tengah b) Kambing NO 1 2 KABUPATEN / KOTA Tanggamus Lampung Selatan NO 1 2 1 2 3 1 2 3 1 2 3 4 5 1 2 1 2 1 KECAMATAN Talang Padang Sumberejo Gedong Tataan Tanjung Bintang Way Lima Batanghari Nuban Sukadana Way Jepara Seputih Surabaya Seputih Banyak Seputih Mataram Kalirejo Padang Ratu Abung Timur Bukit Kemuning Tl.s o ft w a k e r. KABUPATEN / KOTA Tanggamus Lampung Selatan Lampung Tengah NO 1. .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . k w . 3. 2. 2. 1. KECAMATAN Pringsewu (Ambarawa) Wonosobo Palas Trimurjo E:\KEBIJ TEK-260405. bawang Tengah Lambu Kibang Kemiling 3 Lampung Timur 4 Lampung Tengah 5 6 7 Lampung Utara Tulang Bawang Bandar Lampung c) Itik NO 1.doc/Datin 19 . 1.

149.270 1.150. KABUPATEN / KOTA Tanggamus Kota Metro NO 1. Talang Padang Kab.325 13. 1.648 2. Sumatera 10.500. Perkembangan populasi parent stock. Charoen Pokphand Jaya Farm di Kec.575.942.c ww w om k lic lic . MBAI Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 Distribusi Produksi / FS Pedaging Petelur 9.000 E:\KEBIJ TEK-260405. PT. KECAMATAN Talang Padang Metro Utara e) Ayam Buras NO 1. KABUPATEN / KOTA Kota Metro NO 1.400. Lamp. KECAMATAN Seputih Raman Seputih Mataram b. 2.733.s o ft w a re d) Sapi Perah NO 1.548.612 530. MBAI) di Kec. Nama Perusahaan PT. Multi Breeder Adirama Indonesia (PT. 2. Indonesia Farming di Katibung Kabupaten Lampung Selatan.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .000 Jabotabek 10. 1.000 Lpg.doc/Datin 20 .256. Tahun 1999 – 2003 No 1. KABUPATEN / KOTA Lampung Tengah NO 1.450 2. KABUPATEN / KOTA Lampung Timur Kota Metro NO 1. Lampung Selatan dan PT. Tanggamus.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. . k w . KECAMATAN Metro Pusat g) Babi NO 1.s o ft w a k e r. KECAMATAN Batanghari Metro Pusat f) Puyuh NO 1. 2. Pembinaan pada Perusahaan Pembibitan Ayam Ras Jumlah perusahaan pembibitan Ayam ras di Provinsi Lampung ada 3 buah yaitu PT.000 10.347 1. produksi dan distribusi DOC ayam ras pada perusahaan pembibitan di Provinsi Lampung dari Tahun 1999 – 2003 adalah sebagai berikut Tabel 13 : Produksi dan Distribusi Final Stock Ayam Ras pada Perusahaan Pembibitan di Prov. Natar Kab.

perkebunan dan Agroindustri menjadi prioritas kegiatan sekaligus dalam rangka meningkatkan kapasitas tampung dari satu satuan luas lahan usaha tani.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . sedangkan melalui sumber dana APBN/APBD dimulai tahun 2003 berupa pilot proyek yaitu sapi . Salah satu faktor dominan yang mempengaruhi peningkatan produksi dan produktivitas ternak ruminansia dan unggas adalah faktor pakan hijauan dan pakan konsentrat.768. 4.000 8. dan mulai tahun 2001 sampai dengan 2003 meningkat sebesar 52.c ww w om k lic lic .68 %.480 3.46 %. Oleh karena itu upaya pemanfaatan sumber daya pertanian. k w .doc/Datin 21 .750 7.986 - Lampung Lampung Lampung Lampung Lampung Lampung Lampung Tdk.500 2. Charoen Pokphand 1999 2000 2001 2002 2003 1999 2000 2001 2002 2003 6.Berproduksi Lampung 3.124.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Kegiatan integrasi usaha peternakan dengan tanaman perkebunan/pertanian di Provinsi Lampung sudah dimulai sejak th.s o ft w a k e r.696. .s o ft w a re 2.245 1. Indonesia Farming * Kebutuhan DOC petelur mulai tahun 2002 dipenuhi dari Provinsi lain. yang melaksanakan pembibitan ayam ras petelur hanya PT.548. Ini menunjukkan bahwa iklim usaha budidaya ayam ras pedaging di Provinsi Lampung semakin berkembang dengan dukungan swasta melalui pola kemitraan seiring dengan semakin meningkatnya daya beli masyarakat serta kebutuhan untuk mengkonsumsi protein asal ternak.850.370. PT. MBAI dan sejak tahun 2002 perusahaan ini tidak lagi melaksanakan pembibitan ayam ras petelur sehingga kebutuhan bibit ayam ras petelur di Provinsi Lampung sejak tahun 2002 dipenuhi dari Provinsi lain. akan tetapi pada tahun 2000 – 2001 terjadi penurunan sebesar 27. Adapun perkembangan produksi bibit ayam ras pedaging tahun 1999 – 2000 meningkat 29.padi. sapi - E:\KEBIJ TEK-260405.000 10. 1997 yaitu pengembangan ternak kambing di kawasan kebun singkong. PT.361. Kendala yang dihadapi dalam penyediaan hijauan makanan ternak antara lain masih rendahnya kualitas pakan yang diberikan karena sebagian besar peternak tidak memiliki kebun rumput. Pakan Ternak. Dengan demikian akan diperoleh Sinergis yang Produktif yaitu tanaman pertanian/perkebunan memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik.226 2.484.15 %. Dari 3 (Tiga) buah perusahaan pembibitan ayam ras di Provinsi Lampung.

130 ekor Kambing Lada memiliki kapasitas tampung ±100.s o ft w a re sawit.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . k w .pisang. dan jenis pakan yang diproduksi adalah pakan ayam ras petelur dan pedagang. dengan jumlah petugas sampai tahun 2003 sebanyak 25 orang. 7.s o ft w a k e r. Sapi Padi memiliki kapasitas tampung ±341. pakan puyuh.coklat dan kambing .000 ekor Kambing Coklat memiliki kapasitas tampung ±30. 5.565 ekor Sapi Tebu memiliki kapasitas tampung ±65. sapi . 2004 dilanjutkan dengan sapi .c ww w om k lic lic .doc/Datin 22 . 6.tebu. kambing .228 ekor Kambing Singkong memiliki kapsitas tampung ±1. 2. Dari tanaman Pertanian dan tanaman Perkebunan di Propinsi Lampung. pakan itik dan pakan sapi. 3.singkong dan pada th. .c W C re ! tr ac C tr ac k e r.000 ekor Adapun jumlah pabrik pakan ternak di Provinsi Lampung berjumlah 5 perusahaan. 4. dapat dikembangkan integrasi ternak dengan tanaman pertanian/ perkebunan dengan daya tampung antara lain sebagai berikut: 1. Pengawasan mutu dilaksanakan oleh Dinas Peternakan atau yang membidangi peternakan Kabupaten / Kota. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka melindungi peternak dari kualitas ransum yang tidak sesuai dengan label dan Standart Nasional Indonesia (SNI) dan pada tahun 2004 dilaksanakan pelatihan pengawasan mutu pakan sebanyak 20 orang dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan E:\KEBIJ TEK-260405.700.000 ekor Sapi Nanas memiliki kapasitas tampung ±50.997 ekor Sapi Sawit memiliki kapasitas tampung ±40.

Jumlah induk sapi potong di Lampung masih sangat kurang baik kualitas maupun kuantitasnya. padahal sesungguhnya dengan pendekatan ini tidak menambah populasi. akibatnya visi peternak terhadap usaha peternakannya hanya bersifat sambilan. dan paramedis e.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. permintaan terhadap komoditi ternak (daging.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .doc/Datin 23 . k w . 2. sikap dan keterampilan) petugas lapangan relatif masih kurang antara lain Inseminator. Terjadi banyak perpindahan bibit antar wilayah. Sejak diberlakukannya otonomi daerah. yaitu dengan semakin tingginya tingkat pendapatan dan pendidikan masyarakat. jiwa kewirausahanya masih sangat lemah. b. akibatnya kegiatan penyuluhan. disisi lain pengeluaran bibit sapi dari Lampung sulit dikendalikan c. dan impor susu (bahan baku dan olahan). . susu.c ww w om k lic lic . Minat tenaga kerja terdidik di pedesaan terhadap usaha peternakan masih sangat kecil. Beberapa permasalahan pokok yang akan menjadi prioritas dalam pemecahannya antara lain : 1. Jumlah dan kualitas (pengetahuan. MASALAH Permasalahan yang masih harus terus dihadapi dan menjadi tantangan adalah aspek keberlanjutan. sementara kemampuan suplay khususnya komoditi daging sapi dan susu masih tergantung pada impor. daging. yaitu dalam bentuk impor bakalan sapi.s o ft w a k e r. Kelembagaan peternak pada umumnya kurang mandiri dan masih project oriented.telur. tenaga fungsional penyuluh peternakan tidak ada lagi. bahkan justru bisa kontra produktif E:\KEBIJ TEK-260405. umumnya lebih tertarik bekerja di sector industri dan jasa di perkotaan c.s o ft w a re BAB IV MASALAH DAN TANTANGAN YANG DIHADAPI A. kulit dan bibit ternak) terus meningkat. Tingkat pendidikan formal petani/peternak umumnya (60 . pendampingan dan sekolah lapang mengalami banyak hambatan d. Sumber Daya Manusia dan Kelembagaan a. Bibit Ternak b.70 %) adalah lulusan SD dan tidak lulus SD.

Wabah Penyakit flu burung b. Dilihat dari aspek kualitas. Kontinuitas pakan hijauan pada musim kemarau masih menjadi kendala para peternak. Rama Dewa. c. Lampung masih mendatangkan bakalan sapi impor dari Australia sekitar 100. kemudian mundur lagi ke tahun 2007. c. Brucellosis. Teknologi pengolahan pakan belum dilaksanakan oleh peternak f.s o ft w a re d. mundur ke tahun 2003. Obat dan peralatan kesehatan hewan sebagian besar masih impor. padahal potensi sumberdaya pakan local banyak yang belum dimanfaatkan. 3. . Masih kurangnya informasi tentang jumlah dan lokasi bahan baku pakan. Komponen impor bahan baku pakan masih tinggi.000 ekor per tahun (Secara Nasional 400. Perbibitan ternak kerbau. Harga pakan unggas (konsentrat) sangat fluktuatif dan pada saat – saat tertentu relative mahal jika dibandingkan dengan harga produk akhirnya. Penyakit Hewan a.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. sehingga berdampak pada rendahnya produksi dan produktivitas antara lain pertambahan berat badan harian. Target pembebasan penyakit rabies di Pulau Sumatera selalu mundur. interval kelahiran. sapi perah.doc/Datin 24 .c ww w om k lic lic .000 – 120. Usaha perbibitan ternak (diluar ayam ras) belum diminati oleh perusahaan swasta e. Gumboro. ayam buras. b. produksi susu dan kinerja reproduksi. Peternak belum melakukan pengolahan dan penyimpangan pakan yang berlimpah pada saat musim hujan dan pada saat panen. kualitas pakan yang diberikan pada ternak ruminasia umumnya masih rendah. berat lahir. ND dll) masih memungkinkan terjadi out break. Untuk usaha penggemukan sapi. Pakan Ternak a. Ditingkat peternak pada umumnya. babi. d. e. baik hijauan ataupun bahan baku konsentrat 4.s o ft w a k e r.000 – 450. Hal ini membuktikan bahwa kemungkinan ada persoalan yang mendasar dalam upaya pembebasan rabies yang belum teridentifikasi. d. k w . itik dan puyuh belum mendapat porsi pembinaan yang cukup dibandingkan dengan perlakuannya terhadap ternak sapi potong dan kambing. Penyakit menular lainnya (SE. semula ditargetkan bebas tahun 1997.000 ekor per tahun) f. Hog Cholera.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . bakalan sapi potong dari Lampung belum dapat bersaing dengan produk impor g. E:\KEBIJ TEK-260405.

6.00. Lembaga permodalan yang ada masih sangat sulit diakses oleh peternak kebanyakan. Lalu lintas hewan antar pulau dan antar Provinsi sulit dikendalikan sehingga dapat menimbulkan penyebaran penyakit 5.doc/Datin 25 . d. b.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.%) dibandingkan dengan kemampuan potensi genetic (Sapi 30 – 35 % dari populasi). pada kambing > 8 bulan dan pada ternak kerbau > 24 bulan. peralatan kesehatan dan peralatan pasca panen. sehingga masih banyak terjadi inbreeding dan penggunaan pejantan yang berkualitas rendah. c. Peralatan dan Teknologi a. Prosentase kelahiran ternak di Lampung relative masih rendah (Sapi 19. c. DOC.s o ft w a re e. Pasar a. covering pelayanan IB pada ternak sapi di Provinsi Lampung relatif masih rendah yaitu baru mencapai 26. Modal. Belum tersosialisasinya IB kambing pada masyarakat c. Pelaksanaan kawin alam tidak dibarengi dengan sistim seleksi dan penggunaan pejantan yang baik. Pengelolaan Reproduksi a.s o ft w a k e r. pendidikan dan budaya peternak dan persyaratan yang terlalu memberatkan. bagian keuntungan terbesar berada pada sector jasa yang dikuasai oleh para blantik (bukan peternak). demikian juga persentase kelahiran pada ternak kerbau dan kambing relative masih rendah dibandingkan dengan potensi genetiknya e. Kurangnya promosi terhadap konsumsi susu E:\KEBIJ TEK-260405. sehingga tingkat effisiensinya rendah b. Skala usaha peternakan umumnya masih termasuk kedalam katagori sambilan dan cabang usaha. Harga beberapa komoditi peternakan antara lain telur ayam ras. Kebijakan makro dalam bidang permodalan belum banyak menyentuh para peternak pada umumnya. d. d.63 % dari potensi IB yang ada. hal ini terkait dengan pengetahuan. pakan konsentrat. Propinsi Lampung tidak memiliki pasar hewan/ternak yang representative. Sejak diintroduksi tahun 1976. 7. ayam broiler dan telur ayam sangat fluktuatif. Jarak kelahiran (calving interval) pada sapi masih panjang yaitu rata – rata > 16 Bulan.c ww w om k lic lic . Posisi tawar peternak masih sangat lemah. Peralatan peternakan sebagian masih mengandalkan barang impor seperti peralatan IB. Sementara IB pada ternak ternak kambing baru dilaksanakan tahun 2003 dan IB pada ternak kerbau masih kesulitan dalam peyediaan mani bekunya. k w .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . . b.

Restrukturisasi organisasi pemerintahan yang melaksanakan fungsi pelayanan dibidang peternakan dan kesehatan hewan. . obat – obatan. serta kewaspadaan terhadap penyakit hewan menular lainnya terutama Brucellosis. sebagai akibat dari peningkatan jumlah penduduk.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Kurang kondusifnya iklim usaha dan investasi.c ww w om k lic lic . Lampung masih dibayangi dengan munculnya wabah (Out Break) Penyakit flu burung. tingkat pendidikan dan budaya konsumsi pangan yang terus berkembang. Dengan adanya perdagangan bebas kebijakan pajak dan bea masuk komoditi peternakan akan menjadi beban dalam usaha peternakan. 4. peningkatan kualitas dan kuantitas produk serta tuntutan terhadap peningkatan kualitas dibidang peternakan dan kesehatan hewan. 9. TANTANGAN YANG AKAN DIHADAPI KEDEPAN. Antraks. 7. sedangkan peranan peternakan terhadap pertanian diperkirakan akan terus semakin meningkat. Rama Dewa. Peran relative sektor pertanian terhadap perekonomian semakin menurun. antara lain yang perlu dicermati adalah : a. Dampak negative pelaksanaan otonomi daerah diperkirakan masih akan mewarnai pelaksanaan pembangunan peternakan. b. Globalisasi informasi dan perdagangan. c. peralatan dan bahan baku susu. dan daging sapi bahan baku pakan. 3. k w . Ketergantungan subsektor peternakan terhadap sektor lain semakin tinggi. Hog Cholera. 2. 1.s o ft w a re B. Permintaan komoditi peternakan yang terus meningkat baik jumlah ataupun kualitasnya. Ketergantungan impor sapi bakalan. Tidak efektif dan efisiennya pelayanan dibidang peternakan dan kesehatan hewan c.doc/Datin 26 . 5. Terus berlanjutnya pengurasan bibit ternak yang berkualitas ke Provinsi lain dan pemotongan ternak betina bertanduk yang masih produktif. Meningkatnya tuntutan efisiensi. Perdagangan bebas ASEAN sudah diberlakukan sejak tahun 2003 dan perdagangan bebas Asia Fasifik untuk Negara maju tahun 2010 dan untuk Negara berkembang tahun 2020.s o ft w a k e r. Transformasi struktur perekonopmian daerah/nasional akan terus berkembang yaitu : a. akibatnya usaha peternakan kurang dapat bersaing dengan Negara lain. 8. b. 6.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Rabies dan Septichaemia E:\KEBIJ TEK-260405. pendapatan masayarakat.

.s o ft w a k e r. E:\KEBIJ TEK-260405. k w . Bakauheni.s o ft w a re Efizotica. Hal ini disebabkan masih “ terbukanya “ pintu – pintu masuk penyakit yaitu diperbatasan dengan Sumatera Selatan dan Bengkulu. pintu masuk Internasional di pelabuhan Panjang serta Bandara Raden Intan. 11.c ww w om k lic lic . Persoalannya curahan input yang dibutuhkan yaitu dalam bentuk masuknya investasi (Modal. Untuk mewujudkan Lampung sebagai lumbung ternak.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Membangun komitmen masyarakat peternakan Lampung untuk bersama – sama mewujudkan Lampung sebagai salah satu lumbung ternak nasional. Teknologi.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . dan Sumberdaya Manusia berkualitas) juga ditentukan oleh sector atau lingkungan eksternal. 10. diperlukan upaya pengelolaan sumberdaya yang optimal dengan curahan input yang minimal.doc/Datin 27 .

k w . Pilihan untuk menganggap proporsi yang tetap didasarkan pada pembacaan trend proporsi protein antarjenis ternak dan antarjenis daging selama 10 tahun. proporsi sumbangan dari masing-masing jenis ternak terhadap jumlah ketersediaan protein. Selama 10 tahun terakhir. Sementara itu.s o ft w a k e r. Hal ini dimungkinkan karena perhitungan nilai konsumsi protein secara tidak langsung juga memperhitungkan laju pertambahan penduduk dan laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung yang tergambar dalam nilai daya beli masyarakat. Hal ini terjadi karena bentang ukuran populasi dengan konsumsi protein hewani sangat lebar.s o ft w a re BAB V SASARAN UMUM A.c ww w om k lic lic . ayam petelur. Faktor penting yang mempengaruhi nilai konsumsi protein per kapita per hari adalah laju pertambahan penduduk. yakni peningkatan konsumsi protein hewani asal ternak secara efisien. Sedangkan protein susu untuk saat ini hanya bertumpu pada susu yang berasal dari sapi perah. E:\KEBIJ TEK-260405. Protein daging merupakan penjumlahan protein karkas dan protein offal yang berasal dari ternak potong ruminansia dan non ruminansia. baik produksi dalam provinsi maupun pemasukkan dari luar provinsi. Protein telur berasal dari telur ayam buras. yakni dari tahun 1993 sampai dengan tahun 2003. baik dari daging. telur. . telur. Dengan demikian nilai laju pertumbuhan penduduk sebesar 0.98%.98% digunakan sebagai acuan. yakni dari tahun 1993 s/d 2003. dan burung puyuh. jumlah konsumsi protein berasal dari protein daging. Hal ini berarti bahwa tingkat konsumsi protein akan menjadi variable independent. Model prediksi ini berkebalikan dengan cara yang biasa dilakukan karena pada umumnya prediksi selalu dimulai dengan prediksi populasi dan diikuti dengan prediksi konsumsi protein. dan susu. Kelebihan penggunaan metode prediksi konsumsi protein hewani asal ternak adalah bahwa perencanaan dapat diarahkan ke inti masalah peternakan. Nilai duga yang diperolehpun akan lebih relistis dan akurat. sehingga akan berimplikasi terhadap aspek pembiayaan. sedangkan populasi ternak sebagai sumber protein hewani menjadi variable dependent. laju pertambahan penduduk di Provinsi Lampung rata-rata mencapai 0.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. dianggap tetap dan proporsional.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Pada sisi lain. maupun susu. itik.doc/Datin 28 . Demikian juga dengan imbangan protein yang berasal dari offal dan karkas. Metode Prediksi Pola prediksi penentuan sasaran pengembangan populasi ternak di Provinsi Lampung dalam jangka pendek didasarkan pada upaya peningkatan konsumsi protein hewani asal ternak per kapita per hari. Meskipun demikian terdapat kelemahan karena hasil prediksi populasi akan menjadi tampak besar.

72 4.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Telur.533 929.9493%.00 3.20 4.78 4. Ayam Ped.547 114 53. prediksi populasi akhir diduga dari faktor koreksi yang berasal dari nilai korelasi antara tingkat pemotongan dengan jumlah populasi.501 103 52.609 26.40.275 Laju (%) 1.01 4.99 4.890 993.695 91. yakni sebesar 0. dengan laju pertambahan sekitar 2.91 3.00 E:\KEBIJ TEK-260405.813 25.230 2009 417.62 2009 8.841 868.178 898.579.851.33 4.doc/Datin 29 .103 107 53.Adapun prediksi sasaran konsumsi secara lengkap tertuang pada table 14 berikut : Tabel 14 : Prediksi Sasaran Konsumsi Daging.307 28.s o ft w a re Pada sisi lain.052 24. 4. 4. namun dalam operasinya angka tersebut memerlukan adjustment.959.176 78. k w .249.652 2. Sementara proporsi sumbangan protein antarjenis ternak maupun antarjenis daging.994 164. dan 4.769 16.571 2006 400. jumlah pemotongan.12 5.00 3.66 4.264 2008 411.c ww w om k lic lic .817 73. 4.234 88.49 2. sehingga laju pertambahan penduduk diperkirakan sebesar 0. .62.776.136 718.52 4.765 71.222.378 2007 405. serta faktor koreksi pemotongan dianggap konstan. Susu dan Protein Hewani Tahun 2005 .473 188.440 27.51 2008 7.729.933 648.586 14.59 2.54 3.92 4.133 68.41 4.40 2007 7. Pertambahan penduduk mengacu kepada hasil perhitungan. Tabel 15 : Prediksi Populasi Ternak Tahun 2005 – 2009 (Ekor) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jenis Ternak Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam Pet.913 16.476 2.42 3.29 2006 7.271.00 3.98 3.894 2.54 3.189 94. Berdasarkan angka prediksi konsumsi protein ini. Nilai faktor koreksi juga diperoleh dari pengamatan terhadap trend korelasi antara tingkat pemotongan dengan jumlah populasi selama 10 tahun.98%.667 15.894 170.336 118 53.544 2.47 % per tahun.00 0.287 76.89 4.73 Laju (%) 2.606 15.310.51.512 2.30 4.73 gram per kapita per hari.108 176.890 961. B.456.427 742.s o ft w a k e r.899 671. Sasaran Jangka Pendek (2005-2009) Prediksi konsumsi protein per tahun pada tahun 2005-2009 diperkirakan mencapai 4. dan prediksi populasi pada tahun 2005-2009 secara lengkap disajikan pada Lampiran.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.53 2.634 182.962 695.2009 No 1 2 3 4 Jenis Ternak Daging (kg/kap/th) Telur (kg/kap/th) Susu (kg/kap/th) Protein Hewani (gr/kap/hr) 2005 7. maka dapat disusun suatu prediksi populasi dari berbagai jenis ternak dan berbagai sumber protein. Itik Puyuh 2005 394.147.10 4.717 97.77 3.299.806 85.833 110 53.377.67 2.761. yakni dari tahun 1993 sampai dengan tahun 2003.29.47 Prediksi jumlah penduduk.418.

671.77% per tahun.310. dan 16.365 kg.s o ft w a k e r. Prediksi populasi kambing cukup besar.176 ekor.136. Pada babi. E:\KEBIJ TEK-260405.54% per tahun. dan 54. 107. Sedangkan populasi puyuh sebesar: 164.894. dengan laju pertambahan populasi sebesar 9.695. Sedangkan offal impor mencapai 18. 2. Pada kedua komoditi ini.817.00% per tahun. 400.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. yakni: 103. 695. 76.307 ekor. dan 97.913 ekor. ayam petelur. prediksi jumlah daging impor dari 2005-2009 adalah 37.959.606.doc/Datin 30 . populasi diprediksikan sebesar : 85. Pada itik. Pada populasi sapi potong ini laju pertambahan diperkirakan sekitar 1. 2. Situasi ini akan mempengaruhi cara penentukan prediksi populasi.476. Hal ini terjadi karena ketiga jenis unggas terakhir menyumbangkan daging dalam bentuk ternak afkir. dan 43.418.571. Sedangkan populasi kerbau diprediksikan sebesar 52. dengan laju pertambahan populasi 3. 26. Pada sisi lain. prediksi populasi berdasarkan angka konsumsi telur pada ayam buras mencapai 14.377. 411.427 ekor.s o ft w a re Populasi sapi potong pada tahun 2005-2009 berdasarkan angka prediksi konsumsi protein daging adalah 394.00% per tahun.586. 182. 39.299. serta mempunyai laju pertambahan sebesar 3. k w . 961. dengan laju pertambahan populasi sebesar 3. 88.00% per tahun.609.249.962.933.634.230. 20.667. dan 742.264. Sumbangan protein daging. Pada ayam petelur.108.67% per tahun. laju pertambahan mencapai 3.271. 19. dan itik sumbangan dapat dikatakan sumbangan “semu”. dan 417.973. 176.243.833.147. Pada kelompok unggas.222. namun populasi sapi perah cukup berkembang. populasi diprediksikan sebesar: 648. 898. 110.334. 53.91% per tahun. yakni: 868.00% per tahun.765.001.275 ekor dengan laju pertambahan populasi sebesar 3. Sementara populasi ayam pedaging diprediksikan sebesar: 24. dengan pertambahan populasi sebesar 3. Prediksi populasi domba mencapai : 68. 20.678.364 kg. 25. 73. 41.899. 71. 2. Sumbangan ternak unggas terhadap protein daging yang asli hanya berasal dari ayam potong.28% per tahun. 40.533. juga berasal dari ternak unggas.579.052.189. dengan laju pertambahan sekitar 0. dan 28.851. 94.813. 993. 53.00% per tahun.544 ekor.501.440. dan 78.717 ekor. 114. Sedangkan dari ayam buras. sedangkan pada ketiga unggas yang lain prediksi populasi didasarkan pada konsumsi protein telur. 91. dengan laju 3. 929. prediksi populasi didasarkan pada konsumsi protein daging.250 ekor.769.806. dan 118 ekor. 53.473 ekor.456.00% pertahun.512.547.599.994.103.761.c ww w om k lic lic .890.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .336 ekor.776. 170. populasi diperkirakan sebesar: 2. 27.42% per tahun. . Pada ayam potong.841. Sementara kerbau dan kambing perah dianggap tidak berkembang.675. 16. dan 2.905. 15. selain dari ternak ruminan.178.133. dan 21. 405.378. dengan laju pertambahan 3. dan 188.287. 718.652. 15.234. serta laju pertambahan sebesar 3.729.894.

178.083 1. E:\KEBIJ TEK-260405.750. dan 2.775 2.121.976 1.53 5.025.866.168.825 89.343 1.95 2012 8.325 19.341 126 54.141 904.879 ekor. berdasarkan tingkat konsumsi protein hewani tersebut secara lengkap disajikan pada table 16.249. 990.57 5.608 133 55.251 21.871.712 990. 5.369. Populasi domba diprediksikan mencapai 81.147 31.103 200.120.097.051.120 33. 435.425 129 55.172 35.488 2.097 213.628.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .10 6. konsumsi protein hewani asal ternak setiap tahun diperkirakan mencapai 4. 2. 1. 33.055.098 17.421 206. Proporsi protein asal daging terhadap total konsumsi protein hewani asal ternak dari waktu ke waktu dianggap konstan. .488.172 ekor.155.22 4.483 81.532 2.62 5.32 5. baik dari ruminan maupun non ruminan. 4.088. 2.21 0. 932. Telur.691 Pada ternak ruminansia.91 6.782.851 114. dan 5. 200.483.782. k w . dan 447. 2.06 2013 8.699. Prediksi populasi ayam petelur sebesar 2.617.750.901. dan 21.318.901. Sasaran Jangka Menengah (2010-2014) Pada tahun 2010-2014.629.147.536.28 gram per kapita per hari.879 137 56.130 ekor.354 86.103.617.84 2011 8.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.103 2.536.155.901 20.209. Susu dan Protein Hewani Tahun 2010 .088.45 4.532.604. dan puyuh.158 110. 441.49 4.887.995. yakni: 1.457.307. 83. ayam petelur afkir.713 91.712 1.83 4.318 122 54.95.714. Prediksi populasi ayam potong mencapai 30. Populasi ternak potong.498. 213. dan 35.51 5. 31.425.887 2013 441.604 2012 435.249 2014 447. 1.277 101.712 ekor.995.025.354.128 33. 19.866.699. 86.871 104.84.691 ekor.9905.051.96 4.990 932.399.055. 961.130 219. dan 1.341.612 1. populasi terbesar diperkirakan berasal dari ternak kambing.doc/Datin 31 .629.27 2. 1.s o ft w a re C.c ww w om k lic lic .825.277.94 2.498 107.28 Laju (%) 1.71 5. Pada itik. 20. 20.625 194. Pada periode tahun 2010-2014 diperkirakan populasi ayam buras mencapai 17.09 4. dan 219.128.2014 No 1 2 3 4 Jenis Ternak Daging (kg/kap/th) Telur (kg/kap/th) Susu (kg/kap/th) Protein Hewani (gr/kap/hr) 2010 8.209 30.400 2011 429.17. populasi diprediksikan sebesar 766.714 2.70 4. 33. Sedangkan puyuh mencapai 194.608.168.141.300 83.592 20.399.20 Sumbangan terbesar protein hewani asal daging masih berasal dari unggas.178. 429. 904.775 ekor.s o ft w a k e r.300.628 766. Prediksi populasi sapi potong mencapai: 423.713 ekor. 5.625. baik berupa ayam potong maupun ayam buras.457 961. itik.369.421. Tabel 16 : Prediksi Konsumsi Daging.307.121. 206.400.17 2014 9.06. Tabel 17 : Prediksi Populasi Ternak Tahun 2010 – 2014 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jenis Ternak Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam Petelur Ayam Pedaging Itik Puyuh 2010 423.103.

158.750.103. baik dari ruminansia maupun non ruminansia disajikan pada table 19 E:\KEBIJ TEK-260405. dan 56. Pada tahun 2014.901. Populasi ayam petelur diprediksikan mencapai 2.617.05 2. 5. sedangkan offal mencapai 22.08 6. dan 50. dan 137 ekor. 55. 23.72 2019 10.61 2018 9.625.209.488. 2. dan 21.82 5.887.601 kg. 54.s o ft w a k e r. Sementara sumbangan protein telur berasal dari suatu populasi yang terdiri atas ayam buras 17.205.059.35 4.343.083 ekor. sedangkan kambing dan kerbau perah dianggap tidak ada.714. Populasi ternak perah yang tersedia diperkirakan hanya berasal dari sapi perah. Sasaran Jangka Panjang (2015-2019) Pada tahun 2015-2019 konsumsi protein hewani asal ternak masyarakat Lampung diperkirakan mencapai 5. 2. Telur. 22.s o ft w a re 89. 126.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . 932. 5. Disini lain sumbangan dari daging impor diperkirakan mencapai 44.249. 24.50 2017 9.29 2016 9.103.712.763.399. 20.652.72 5.50.097.147. Sementara ternak sapi perah dan kuda dianggap tidak memberikan sumbangan yang memadai terhadap ketersediaan protein daging. 46.83 Laju (%) 2. .851 ekor. 47. Babi diprediksikan mencapai 101.74 4. maka prediksi populasi ternak potong pada tahun 2014-2019. 129.172 ekor.87 4.69 6. dan 2.592.30 6.995. 20.198. 133. sedangkan populasi puyuh diprediksikan mencapai 194.03 1. 5.098.976.49 6.doc/Datin 32 . 213.929 kg.325.421.128. dan 5.2019 No 1 2 3 4 Jenis Ternak Daging (kg/kap/th) Telur (kg/kap/th) Susu (kg/kap/th) Protein Hewani (gr/kap/hr) 2015 9.c ww w om k lic lic .866. 206.77 5. 200. 961. Prediksi populasi kerbau mencapai 54. 19. Pada sisi lain.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. dan 219.89 6. 104. k w .775 ekor.61 4.536. 55.369.476. 2.87 5.776. Susu dan Protein Hewani Tahun 2015 .251 ekor.61. 110.99 1.83 gram per kapita per hari sebagaimana tertuang pada table 18 berikut : Tabel 18 : Prediksi Konsumsi Daging.400. dan 24.130 ekor. dan 91. sumbangan protein susu terhadap protein hewani asal ternak berasal dari populasi sapi perah sebanyak 122.39.612. 107. dan 990.699. konsumsi protein susu masih melibatkan pemasukkan susu dari luar daerah.120.117.782.46 Berdasarkan hal ini.532.629. Populasi itik mencapai 766.72. 49.604. dan 114. D. 904.67 5.48 4.691 ekor.

092 ekor. 3.595.469.701.840 246.516.521. sedangkan puyuh mencapai 226.270 232.418.162.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .020 94. 23.951.231.884 100. melainkan juga melibatkan pemasukan susu dari luar daerah.947 1. dan 41.918.190. 1. dan 1.866 154 57. Daging import diperkirakan mencapai 52.469.493.595 1. dan 28.124. 1. 1.419 105.883. populasi sapi potong diprediksikan mencapai 454.259. 239.140. Ayam petelur mencapai 2.331. 53. 154.049.419 ekor. 56. 39. 3. dan 158 ekor.947 ekor.376.457 1. 56. Tabel 19 : Prediksi Populasi Ternak Tahun 2015 – 2019 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jenis Ternak Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam Petelur Ayam Pedaging Itik Puyuh 2015 454.s o ft w a re .124.065 24. Kerbau diperkirakan mencapai 56. Pada ternak ruminansia besar.131 124.109.049.719 kg. 1.729 1.813 2017 467.385 3.103.244.799. Itik diperkirakan mencapai 1.443 102.595 ekor. 1.957 128.176.743.194 3. dan 253.777.840. Sumbangan terbesar diberikan oleh ayam potong yang mencapai populasi 36.483. populasi sapi perah dan kuda tetap dianggap tidak memberikan sumbangan terhadap ketersediaan protein asal daging.719. Sayangnya.979 1. dan 57. patut dicatat bahwa jumlah protein susu tersebut bukan hanya berasal dari populasi sapi perah di Provinsi Lampung saja.212.443.301.079.834 1.331.019.019.239.271. sedangkan offal mencapai 25.578 117.662 ekor.109.213 2016 460. dan 3.244.102.259. 473.701 40.444.701. 57.376 239.338 121.294 kg. 1. 460.251 36. 146. 3.743 97. Prediksi populasi terbesar pada ternak ruminansia diperoleh dari ternak kambing sebesar 1. Sementara ternak perah yang lain belum memberikan sumbangan protein.251. 22.643 22.020.493 2018 473. E:\KEBIJ TEK-260405. dan 58.918.813.366 37.457.483 1.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.079. Sedangkan sumbangan dari protein susu berasal dari prediksi populasi sapi perah sebesar 142.239 142 56.579.669.866.579.037.777. dan 480.689.213 1.c ww w om k lic lic .224.701 3.549 23. dan 24. dan 1.614 1.689 146 56. 246.075 22.951. 24. Meskipun demikian.979 ekor.231 150 57.366.385.614.102.301.224.834. 467. 27.696.883 3.213.662 253.516 39.253 2019 480.271. 57.922 ekor.295.624.295.092 Sumbangan protein daging dari populasi ternak potong tetap didominasi oleh produksi daging dari ternak non ruminansia.doc/Datin 33 . 55. 37.140.799.253.212.816 131.213. 40.595 158 57.621 24. 26.831 2.696 1. 27.884.921. 150.270.943.729.521 226.831.194 ekor.s o ft w a k e r. 232.037.190. Sementara sumbangan dari protein telur berasal dari populasi ayam buras sebesar 22. .444. k w .921.922 41.

doc/Datin 34 .c ww w om k lic lic .797 45.841 260.023 28.498 117.300.479 176 59.517. Sedangkan tingkat konsumsi protein hewani asal ternak pada tahun itu diprediksi mencapai 6. Populasi kambing diprediksi berkembang mencapai 1. Sedangkan populasi babi diperkirakan mencapai 150. k w .300. daging dan offal impor terhadap protein daging dianggap tidak ada karena kecilnya.517.258 3.483. sapi perah.171.701 1.562 ekor.383.365 1.172.624 111.610 150. sumbangan protein telur berkembang sampai 2.755 1.813 108. .575. Sedangkan sumbangan kuda.48 gram per kapita per hari.957 3.964.219 25. Sementara itu.610 ekor. dan populasi domba mencapai 120.392.938 1. Pembandingan antara prediksi populasi ayam buras dan ayam petelur sebagai penghasil daging dan telur memperlihatkan bahwa sebaran populasi lebih E:\KEBIJ TEK-260405.593 142.560 jiwa.541 1.010 2021 494.558. kontribusi ternak ruminansia kecil dan babi sangat signifikan.319 3.538 26.634 138.557 48. sapi potong import 122.858 26.147 1.149 1.476 ekor.470 44.260 27.401.38 gram per kapita per hari.401.273 274. Sedangkan populasi ayam petelur diperkirakan mencapai 3. Namun ternak itik dan puyuh dianggap tidak memberikan sumbangan protein yang signifikan.s o ft w a re E. sumbangan protein daging dari ternak ruminansia besar berasal dari populasi sapi potong yang diprediksi mencapai 515. Selanjutnya pada ternak penghasil telur.37 gram per kapita per hari.525 281.178 43.404.557 ekor.s o ft w a k e r.479. Sasaran Tahun 2024 Prediksi perkembangan jumlah penduduk menyebabkan adanya perubahan angka prediksi populasi ternak secara keseluruhan.819 1.763.023 ekor.708 135.010 3.823.701 ekor ayam pedaging sebagaimana terlihat pada table 20.419 163 58.270 1.938 ekor.700 180 59.823.203.700 ekor.267. Jumlah tersebut sebagian besar berasal dari daging ternak unggas.985.476 Pada sisi lain.562 120.599.235. Tabel 20 : Prediksi Populasi Ternak Tahun 2019 – 2024 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jenis Ternak Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam Petelur Ayam Pedaging Itik Puyuh 2020 487.669.084 2023 508.367.340 167 58.763. itik 1.577 3.360 171 59.957 ekor ayam buras dan 48.557 ekor. dan burung puyuh 288. Pada tahun 2024 jumlah penduduk diperkirakan mencapai 8. .240 2024 515.585 146.852 114.191.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.288.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .306 1. Pada tahun 2024 sumbangan protein daging terhadap total konsumsi protein hewani asal ternak diperkirakan mencapai 3.159 47.135 288.900 ekor dan kerbau 59.689.007 2022 501.378 267. Jumlah protein telur tersebut berasal dari prediksi populasi ayam petelur 3.135 ekor.279. Protein daging tersebut terutama berasal dari perkembangan populasi ternak unggas yang diprediksi mencapai 28.763.

doc/Datin 35 .s o ft w a k e r.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.s o ft w a re besar pada populasi ternak penghasil telur. sedangkan populasi kambing dan kerbau perah dianggap tidak berkembang. kontribusi susu dalam penyediaan protein hewani asal ternak pada tahun 2024 diperkirakan mencapai 5. Terakhir. .c ww w om k lic lic .20 gram per kapita per hari. k w . melainkan juga melibatkan pemasukan susu olahan dari luar daerah. Dengan demikian populasi yang lebih relevan digunakan sebagai prediktor adalah jumlah populasi pada ternak penghasil telur. Protein susu tersebut berasal dari perkiraan populasi sapi perah sebesar 180 ekor.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . E:\KEBIJ TEK-260405. Meskipun demikian ketersediaan protein susu tersebut bukan hanya berasal dari populasi sapi perah yang ada di Lampung.

doc/Datin 36 . bahan baku industri dan permintaan ekspor. telur. KEBIJAKAN UMUM Dalam rangka mencapai sasaran umum jangka panjang (2005 – 2024) . k w . Upaya yang akan menjadi prioritas untuk dilaksanakan pada kurun waktu lima tahun kedepan adalah peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan mendorong kelembagaan social dan ekonomi di pedesaan untuk lebih berperan dalam upaya pemberdayaan peternak. Ketersediaan produk produk tersebut akan dipenuhi dari upaya upaya peningkatan populasi dan produksi hasil ternak dengan intensifikasi (meningkatkan produktivitas per-satuan ternak).s o ft w a k e r.s o ft w a re BAB VI KEBIJAKAN TEKNIS PEMBANGUNAN PETERNAKAN 2005 .c W C re ! tr ac C tr ac k e r. apalagi jika dibandingkan dengan Negara Negara tetangga seperti Thailand.c ww w om k lic lic . 3. Meningkatkan Etos Kerja dan Produktivitas Sumberdaya Manusia Peternakan Lampung Sudah menjadi rahasia umum bahwa etos kerja dan produktivitas peternak di Lampung relative lebih rendah. Peranan penggunaan teknologi dan peningkatan skala usaha.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . dalam hal ini akan menjadi titik tolak dalam upaya meningkatkan pendapatan peternak. Etos kerja dan produktivitas tenaga kerja (peternak) sangat erat kaitannya dengan tingkat pendidikan formal. serta masih rendahnya minat tenaga kerja muda untuk bekerja dibidang usahatani ternak. ekstensifikasi (meningkatkan E:\KEBIJ TEK-260405. merupakan fungsi utama pengembangan ternak. 2. antar Pulau.2024 A. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha tani-ternak Kunci keberhasilan usaha di bidang peternakan terutama ditentukan oleh sampai sejauhmana peternak dapat meminimalisasi biaya produksi dan meningkatkan produktivitas ternak baik dalam bentuk daging. Malaysia dan Vietnam. jika dibandingkan dengan peternak di Jawa. susu ataupun anak dan bibit. Meningkatkan populasi dan produktivitas ternak dan hasil ternak Penyediaan produk komoditi ternak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi local. . budaya local yang juga sangat berpengaruh terhadap budaya kerja. maka kebijakan teknis yang bersifat umum yang akan dilaksanakan di Propinsi Lampung adalah sebagai berikut : 1. pengetahuan dan keterampilan peternak.

PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . yaitu terciptanya peluang kesempatan kerja produktif pada sub sector peternakan. merupakan bagian dari kebijakan umum yang strategis.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Pemerintah Daerah juga perlu melakukan upaya – upaya untuk mendorong dan memobilisasi sumber – sumber pendanaan yang ada dan berpotensi untuk diinvestasikan pada usaha Peternakan. nilai tukar rupiah) dan fiscal (pajak.c ww w om k lic lic . Meningkatkan investasi sub sektor peternakan (pra produksi. produksi dan pasca produksi) Faktor permodalan dan investasi merupakan factor yang strategis untuk mencapai sasaran umum jangka panjang. tidak ada jalan lain kecuali upaya meningkatkan mutu dan daya saing produk produk peternakan. harus diupayakan terus menerus sampai kapasitas daya tampung dan produktivitas mencapai titik jenuh . akreditasi. dan diversifikasi (vertical dan horizontal) untuk meraih nilai tambah dan sebagai upaya pelestarian komoditi ternak tertentu. Pada kondisi saat ini dan kedepan kebijakan moneter (suku bunga. kesepakatan Negara Negara APEC (2010 untuk Negara maju dan 2020 untuk Negara berkembang). Upaya standarisasi. ditingkatkan kualitasnya dan dimonitor perkembangannya. Hal ini akan berkaitan dengan upaya penerapan persyaratan kesehatan produk produk peternakan. 4. . khususnya komoditi yang akan diekspor dalam bentuk technical barrier on trade (TBT) dan sanitary and phytosanitary (SPS).Tanpa ada investasi baru maka usaha peternakan akan berjalan ditempat dan sasaran umum tidak akan tercapai. perluasan kawasan). k w . tarif bea masuk) yang merupakan kewenangan pemerintah Pusat. Oleh karena kebijakan ini berdampak jangka panjang maka harus terus menerus dilaksanakan.s o ft w a k e r. Meningkatkan mutu dan daya saing produk peternakan Dengan semakin terbukanya system perdagangan antar wilayah dan bahkan antar Negara. inflasi. aneka ternak & ternak hias/exotik serta pakan ternak dimasa mendatang dapat terwujud.s o ft w a re populasi. yang ditandai dengan era perdagangan bebas ASEAN (2003). E:\KEBIJ TEK-260405. Oleh karena itu kebijakan peningkatan populasi dan produktivitas ternak merupakan strategi jangka panjang . kambing potong. dan pelaksanaan system manajemen mutu (ISO. DOC. 5. HASEP). sertifikasi. retribusi.doc/Datin 37 . Dengan perhatian pada bidang ini diharapkan komoditi unggulan peternakan Lampung yang memiliki potensi ekspor antara lain daging ayam dan produk olahannya.

c W C re ! tr ac C tr ac k e r. k w . Pendekatan teknis tersebut adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan kemampuan mengelola sumberdaya dan menjaga kelestarian sumberdaya peternakan Lampung memiliki sumberdaya yang sangat besar yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha berbasis ternak. incubator agribisnis bagi keluarga peternak agar mereka mampu menjangkau atau mengakses dirinya dengan (1) sumberdaya atau agro input. (2) teknologi. Namun demikian jika tidak hati hati dalam pengelolaannya.s o ft w a re 6.c ww w om k lic lic . KEBIJAKAN OPERASIONAL Kebijakan operasional yang akan ditempuh dalam rangka mencapai sasaran jangka pendek (2005 – 2009) yaitu dengan menerapkan beberapa pendekatan teknis bidang khusus.doc/Datin 38 . Pembinaan Sumberdaya Manusia Pembinaan petani / peternak dilaksanakan dengan prinsip “menolong diri sendiri” (self-help) yang didasarkan atas kehendak meningkatkan kemampuan menghasilkan pendapatan (income generating). melalui kegiatan pelatihan. kelembagaan dan permodalan a. yaitu : (1) Peningkatan kesadaran dan percaya diri (awareness and self-confidence development) (2) Peningkatan kemampuan menghasilkan pendapatan (income generating ability development) (3) Peningkatan kesejahteraan ekonomi (welfare development) (4) Peningkatan kesejahteraan social ekonomi (social culture and economic development) E:\KEBIJ TEK-260405. sekolah lapang. baik yang terkait dengan aspek genetic. . bukan saja tidak akan mendukung keberhasilan usaha ternak itu sendiri. sehingga diharapkan dapat lebih akurat dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan. (3) permodalan (4) pengolahan dan pasar. Penggunaan bibit ternak eksotik yang unggul.s o ft w a k e r. B. bahkan dapat merusak lingkungan dan mengancam kelestarian pemanfaatannya. penyakit ataupun punahnya plasma nutfah asli yang belum dimanfaatkan. sehingga dimasa mendatang tidak ditemukan hal hal yang bersifat kontra produktip.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . harus dirancang secara cermat dan terpola. magang. Pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia ditempuh melalui 4 (empat) tahapan. Pengembangan SDM dan Kelembagaan Ekonomi Pedesaan Percepatan proses tranformasi dari usahatani tradisional ke usahatani industri berintikan “capacity building” untuk memberdayakan petani ternak melalui pembinaan sumberdaya manusia.

c W C re ! tr ac C tr ac k e r.c ww w om k lic lic . mandiri berbudiluhur dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. (2) keserasian. Pembinaan Kelembagaan Ekonomi Pedesaan Pembinaan kelembagaan ekonomi pedesaan merupakan bagian tidak terpisahkan dari pembinaan SDM peternak. . (4) kemitraan. (6) belajar sambil bekerja dan (7) pendekatan keluarga. misalnya KKP. k w . misalnya koperasi atau kelembagaan kemitraan. efisien. Hal lain yang juga penting adalah perlindungan pemerintah terhadap usaha peternakan pada umumnya. yaitu produktif. dalam rangka menciptakan system pembinaan yang mandiri dan berkelanjutan Pembinaan dan pengembangan kelembagaan peternak diarahkan untuk terwujudnya kelembagaan ekonomi peternak yang tangguh. diberikan bimbingan untuk dapat menjangkau (akses) dengan lembaga keuangan atau bantuan. c. Oleh karena itu peternak dengan kelembagaan kelompok dalam wadah koperasi. (1) Untuk kelompok pemula dapat diupayakan dengan bantuan cuma cuma .s o ft w a k e r. UKM yang dikelola Dinas Koperindag atau bentuk subsidi lainnya (4) Untuk kelompok mandiri diupayakan kredit komersial dengan berbagai kemudahan (kemitraan.s o ft w a re Dengan metoda pembinaan sumberdaya manusia ini diharapkan dapat menghasilakan SDM yang berkualitas. yaitu unit usaha ekonomi yang berazazkan kekeluargaan. b. Bimbingan dan Pembinaan Permodalan Bimbingan dan pembinaan permodalan diarahkan untuk menghilangkan ketergantungan dan menumbuhkan kewaspadaan memasuki system ekonomi pasar. E:\KEBIJ TEK-260405. fasilitas khusus) dan akhirnya dengan melalui kredit komersial penuh. Pembinaan SDM melalui pengembangan kelembagaan peternak dilakukan atas dasar 7 (tujuh) prinsip yaitu (1) pendekatan kelompok. yaitu melalui kebijakan yang berfihak pada dunia peternakan. (3) kepemimpinan kelompok.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . disiplin.doc/Datin 39 . Permodalan merupakan factor yang sangat penting dan menentukan dalam pembinaan SDM dan pemberdayaan ekonomi pedesaan. (5) swadaya. misalnya gaduhan ternak atau BPLM (3) Untuk kelompok maju diupayakan melalui kredit bersubsidi. kreatif. misalnya dari Departemen Sosial atau lembaga non pemerintah (NGO) (2) Untuk kelompok madya dapat diupayakan dengan bantuan bergulir.

antara lain Balai Embryo Transfer Cipelang Jawa Barat.s o ft w a re 2. kebutuhan antar Propinsi dan pasar ekspor. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung. sarana dan prasarana peternakan dimaksudkan untuk memberikan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peningkatan kualitas dan efektivitas pelayanan dibidang peternakan dan kesehatan hewan. BPTU Sembawa di Sumatera Selatan. Untuk meningkatkan produktivitas ternak di Lampung. Instalasi Pembibitan Sapi Bali di Campang Tiga Lampung Selatan. Instalasi Produksi Mani Beku (IPMB) Terbanggi Besar. produksi bibit hijauan pakan. Instalasi Pembibitan Kambing di Negeri Sakti Gedung Tataan.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Balai Karantina pertanian Panjang. Balai Latihan Penyuluh Pertanian (BLPP) Hajimena. Untuk mendukung pelayanan fungsi fungsi teknis. bahan baku industri.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Pengembangan Sumberdaya. serta beberapa institusi vertical antara lain Balai Penyidikan Pengujian Veteriner (BPPV) wilayah III Bandar Lampung . Sarana dan Prasarana Peternakan Pengembangan sumberdaya.s o ft w a k e r. pakan. kesehatan dan tatalaksana pemeliharaan. Pos Pos Inseminasi Buatan yang tersebar di 10 Kabupaten Kota. reproduksi. Dukungan Pengembangan Perbibitan Ternak Instalasi Perbibitan Ternak Kambing di Negeri Sakti dan Sapi Bali di Campang Tiga akan berperan dalam memproduksi bibit unggul (elite) sapi Bali dan Kambing (Boer.doc/Datin 40 . dan Jurusan Peternakan Politeknik Pertanian Lampung. produksi dan produktivitas ternak. guna meningkatkan ketersediaan komoditi dan produk produk peternakan untuk konsumsi masyarakat Lampung. fisiologi. utamanya akan dilaksanakan melalui teknologi Inseminasi Buatan dan Embryo Transfer yang didukung dengan peningkatan kualitas pakan. Balai Analisa Pakan di Bekasi Jawa Barat dan beberapa BPTU yang diberi mandate khusus seperti BPTU Baturaden (sapi perah) BPTU Siborong Borong (Babi) dan BPTU Pelaihari (Kambing). pemerintah provinsi telah menyediakan dukungan sarana dan prasarana peternakan yang dapat di akses oleh peternak dan yang sekaligus merupakan dukungan teknologi antara lain. BPMSOH Bogor. dalam rangka peningkatan populasi. Disamping itu terdapat juga sarana dan prasarana milik “Pusat” yang dapat diakses untuk kepentingan pelayanan bidang peternakan di Lampung. Pusat Penelitian Peternakan di Bogor.c ww w om k lic lic . Pos Pelayanan Kesehatan Hewan (12 unit). a. Dukungan Peningkatan Produktivitas Ternak Secara normatip peningkatan produktivitas ternak dapat dilakukan dengan mengoptimalkan fungsi fungsi genetic. PE). . k w . BIB Lembang dan Singosari. pengembangan teknologi pakan. b. Instalasi BPPT Lampung. kesehatan dan tatalaksana. pedoman beternak yang baik (good farming E:\KEBIJ TEK-260405. Boerawa. Jurusan Peternakan Universitas Lampung.

karena beberapa jenis pelayanan di bidang keswan sudah dapat dibiayai oleh peternak sendiri. Sumsel. Kabupaten dan Kota juga perlu didorong untuk mengembangkan Instalasi Pembibitan Ternak. Kelompok Peternak) atau bentuk kerjasama lainnya. Operasionalisasi Poskeswan kedepan diharapkan dapat dilaksanakan melalui kerjasama dengan swasta dan masyarakat. maka pengawasan lalu lintas hewan. Poskeswan atau dalam bentuk Pos Pelayanan Terpadu perlu dikembangkan pada sentra sentra pengembangan ternak di seluruh wilayah Propinsi. paling tidak menjadi 2 (dua) UPTD yaitu UPTD IB dan UPTD Perbibitan dan pakan Ternak. melalui bentuk kerjasama tripartite (Pemda. Disamping itu sebagai upaya peningkatan kualitas pelayanan dibidang kesehatan masyarakat veteriner dan sekaligus mencegah masuknya penyakit dari wilayah lain. dan tenaga teknis lain serta peralatan pendukungnya sesuai dengan standar pelayanan minimal bidang kesehatan hewan dan kesehatan mesyarakat veteriner. E:\KEBIJ TEK-260405. serta berperan dalam pembinaan kelompok kelompok VBC dan penjaringan bibit unggul. paramedic . Lampung Timur (1).s o ft w a re practices). Lampung Utara (1) Kota Bandar Lampung (1) dan Tulang Bawang (3).PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Swasta. perlu menambah jumlah Poskeswan dari 12 unit yang ada saat ini. bahan asal hewan (BAH) dan hasil bahan asal Hewan (HBAH). Disamping itu untuk memperluas jangkauan pembinaan. Perbibitan dan Pakan perlu dikembangkan. yaitu di Lampung Tengah (2).doc/Datin 41 . k w . Bahkan dalam jangka panjang untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan hewan. Hal ini sangat dimungkinkan. akan menjadi bagian tidak terpisahkan dari kegiatan pembangunan peternakan secara keseluruhan. Metro (1). Lampung Selatan (3). Bangka Belitung dan Bengkulu). dalam kurun waktu 5 tahun kedepan paling tidak perlu dibangun lagi di 3 (tiga) Kabupaten lainnya.c ww w om k lic lic . yang dapat dimulai dengan pembentukan UPTD Pembibitan Ternak di masing masing wilayah. selain telah didukung oleh BPPV wilayah III Bandar Lampung yang membawahi 4 Propinsi (Lampung.s o ft w a k e r. Kedua instalasi ini ditambah dengan IPMB Terbanggi Besar akan berperan untuk menjembatani peternak dengan teknologi.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. institusi UPTD IB. membandingkan dan dilatih ditempat ini. Sementara di tingkat Provinsi sendiri. . Dimana peternak dapat magang. fasilitasi dan pengawasan Rumah Potong Hewan. Yang perlu mendapat perhatian adalah penyediaan tenaga medis. Dukungan Teknologi dan Pelayanan Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan dibidang kesehatan hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner. c.

E:\KEBIJ TEK-260405. sedangkan mani beku yang tidak dihasilkan di IPMB akan didatangkan dari BIB Lembang dan BIB Singosari atau impor. demikian juga dengan penyakit ramadewa.c ww w om k lic lic .c W C re ! tr ac C tr ac k e r. (4) Penyakit hog cholera sampai saat ini dapat dilokalisir dan hanya terjadi di Kabupaten Lampung Timur. telah disepakati harus bebas pada tahun 2007 (3) Diharapkan Lampung ditetapkan bebas penyakit SE (free area). Way Kanan dan Lampung Barat. Implementasi daripada pelaksanaan pelayanan Inseminasi Buatan dan Embryo Transfer bekerjasama dengan Kabupaten/Kota dan para inseminator yang tersebar di 10 kabupaten / Kota sebanyak ± 180 orang. Kegiatan tersebut didukung dengan keberadaan BPPV wilayah III Bandar Lampung. Sedangkan peningkatan produksi melalui penerapan embryo transfer.doc/Datin 42 . (1) Untuk penyakit rabies telah diprogramkan oleh semua Propinsi di Pulau Sumatera dan bangka Belitung. surveillance dan pemetaan. melalui pengembangan kelompok kelompok binaan yang dirancang melalui model “Village Breeding Centre” (VBC).s o ft w a re d. Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit Hewan Menular Penyakit flu burung atau avian influenza (AI). k w . “early warning system”. Operasionalisasi daripada upaya pemberantasan dan pengendalian penyakit selain dilaksanakan dengan vaksinasi. Penyediaan mani beku dan Pelayanan Inseminasi Buatan Mani beku sapi potong dan kambing diproduksi di IPMB Terbanggi Besar. peningkatan biosecurity. tulang Bawang. Petugas kecamatan dan petugas medis dan paramedic swasta ataupun yang beroperasi secara mandiri. dilaksanakan bekerjasama dengan Balai Embryo Transfer Cipelang dan kelompok peternak . hog cholera. ramadewa. 12 unit Poskeswan. sebagai upaya membentuk kelompok ternak “elite” sebagai sumber pejantan donor untuk IB dan betina donor untuk ET. bebas pada tahun 2007 (2) Penyakit flu burung dengan menggunakan metoda vaksinasi dan pengetatan bio security.s o ft w a k e r. pengobatan massal.lima tahun kedepan penyakit ini diharapkan dapat bebas.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . brucellosis. Pos cek poin yang ada di Lampung Selatan. juga dengan meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan terhadap lalu lintas hewan dan bahan asal hewan. . karena sudah sejak tahun 1990 tidak pernak terjadi kasus penyakit tersebut. SE dan rabies merupakan penyakit hewan menular yang diprogramkan pemberantasan dan pengendaliannya secara Nasional ataupun regional. e.

dan limbah pengolahan sawit. diarahkan untuk dapat dilaksanakan secara swadaya atau sharring yang adil antara pemerintah.c ww w om k lic lic . perlu dirancang upaya atau teknik untuk meningkatkan kualitas dan penyimpanan pakan serta optimalisasi pemanfaatan sumberdaya pakan yang ada. k w . Kapasitas tampung ternak sapi pada perkebunan sawit ± 40. lahan perkebunan sawit. Dengan demikian sangat diharapkan untuk mendorong diversikasi usaha perkebunan sawit dengan sisipan usaha penggemukan sapi. baik pada skala usaha tani kecil ataupun pada skala perusahaan pertanian / perkebunan. dapat menampung ternak sapi sebanyak 549. Hal yang tidak bisa diabaikan dalam pengembangan pola integrasi ternak ini adalah pemanfaatan pupuk organic yang dihasilkan dari kotoran ternak untuk menjaga kesuburan lahan. singkong. Berdasarkan perhitungan data tahun 2003.doc/Datin 43 .200 ekor E:\KEBIJ TEK-260405.830.000 ekor. Dampak lain daripada pola ini akan mendukung pengembangan komoditi eksotik yang akan menjadi unggulan Lampung. tebu. pengolahan daun sawit.000 ekor dan ternak kambing 1. Secara garis besar pendekatan teknis yang akan dikembangkan di Lampung adalah sebagai berikut : a. Pengembangan Pakan Pakan ternak merupakan factor produksi yang paling dominan dalam usaha peternakan.s o ft w a re Pelayanan Inseminasi Buatan dan embryo tangsfer serta bentuk pelayanan aspek reproduksi dan fisiologis lainnya. peternak dan kalau memungkinkan fihak swasta. oleh karena itu dalam membangun peternakan yang mantap dan tangguh factor pakan akan menjadi kunci keberhasilan utama. yaitu antara lain :kopi dan lada organic. nenas dan tanaman padi. .c W C re ! tr ac C tr ac k e r. coklat. tampaknya yang paling mudah adalah mengharapkan pada rumput yang tumbuh di bawah pohon sawit. kopi.Secara teknis pemanfaatan pakan pada lahan pertanian dan perkebunan dapat dijelaskan sebagai berikut : • Integrasi ternak dengan perkebunan sawit Sumber pakan pada pola integrasi dengan perkebunan sawit dapat diharapkan dari rumput yang tumbuh di bawah pohon sawit. Integrasi Ternak Dengan Tanaman Pertanian dan Perkebunan Konsep paling efisien dalam pengembangan pakan untuk ruminansia adalah mengintegrasikan ternak ruminansia dengan usaha pertanian dan perkebunan. Meskipun demikian.s o ft w a k e r.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . lada. 3. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan produksi (populasi) dan produktivitas ternak yang akan berpengaruh langsung kepada pendapatan peternak.

Di Lampung masih terdapat 2 (dua) perusahaan perkebunan nenas yang memiliki potensi untuk dipadukan dengan usaha peternakan. padahal populasi kambing tahun 2003 baru mencapai 810. Secara teknis limbah nenas ini juga dapat digunakan sebagai pakan ternak kambing dan domba.000 ekor. bermitra dengan peternak di sekitar serta menjual pakan yang berasal dari limbah nenas kepada peternak yang membutuhkan.doc/Datin 44 .s o ft w a re • Integrasi ternak dengan perkebunan tebu Introduksi ternak sapi ke dalam perkebunan tebu sebenarnya telah dimulai sejak jaman penjajahan Belanda pada tahun 1830. Dengan demikian introduksi populasi baru di kawasan industri gula dapat dikatakan tidak ada masalah. Untuk meningkatkan kualitas pakan yang bersumber dari daun pucuk tebu. Artinya kalau 50% saja potensi limbah singkong dimanfaatkan untuk ternak kambing. • Integrasi ternak dengan perkebunan nenas Usaha penggemukan sapi yang terintegrasi dengan perkebunan nenas (pabrik pengalengan nenas) dengan memanfaatkan limbah telah dilaksanakan oleh salah satu perusahaan besar di Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah.70 juta ekor kambing. k w . Yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan limbah tanaman singkong untuk pakan adalah kandungan HCN yang dapat menyebabkan ternak keracunan. dengan tujuan sebagai alat transportasi tebu. kenyataannya saat ini sapi jenis Ongol dan peranakannya (PO) berkembang di Jawa khususnya disekitar perkebunan tebu.000 ekor. • Integrasi ternak dengan perkebunan singkong Potensi pakan hijauan yang berasal dari limbah tanaman singkong di Lampung pada tahun 2001 sebanyak 1. . yaitu di Kabupaten Lampung Tengah dan di Kabupaten Lampung Utara. hay atau sillase E:\KEBIJ TEK-260405. Dibeberapa tempat. Selain mampu menanggulangi persoalan limbah. yaitu mengintroduksi sapi Ongol kedalam perkebunan tebu.7 juta ton / tahun atau mampu menampung 1.s o ft w a k e r. ternak kambing telah mengalami adaptasi dan mampu mengkonsumsi daun singkong segar. bahkan ada yang sampai 100%.c ww w om k lic lic . perusahaan ini juga memanfaatkan pupuk organic untuk tanaman nenasnya. Upaya lain untuk meningkatkan daya guna daun singkong adalah dengan melalui pengolahan dan dapat disimpan dalam bentuk pellet. maka akan ada tambahan populasi sebanyak 850.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. terlebih dahulu dapat dilakukan fermentasi dan penambahan pakan acditive serta pemberian pakan konsentrat.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .

lada dan coklat Pengertian integrasi ternak kambing kedalam perkebuan kopi dan lada. DKI Jakarta dan Jawa Barat. kulit kakao. pelepah dan tandan sawit. dan sumber hijauan lainnya. sebagian besar masih dibakar.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . kopi dan lada mencapai 130 150.9 % berada di Kabupaten Lampung Selatan. Potensi pengembangan ternak kambing yang diintegrasikan dengan perkebunan coklat. rumput yang ada di sekitarnya serta pemanfaatan pupuk organic untuk tanaman utama. pengeringan dan tambahan unsur mikro. Pengembangan Teknologi Pengolahan dan Penyimpanan Pakan Teknologi pengolahan dan penyimpanan pakan yang perlu dikembangkan di Lampung antara lain : • Teknologi pengolahan dan penyimpanan jerami padi.565 ekor. lamtoro dan dadap). dan dedak kopi untuk campuran konsentrat. .5 juta rumpun) paling tidak bisa menampung ±45. daun dan rumput disekitar kebun. • Integrasi ternak dengan pertanian padi Jerami padi di Lampung yang memiliki potensi sebagai pakan ternak dan mampu menampung sapi dan kerbau sebanyak ±341. Itik yang mengkonsumsi kepala udang menghasilkan telur dengan kuning telur yang khas yaitu berwarna orange.c ww w om k lic lic . b.000 ekor • Integrasi ternak dengan perkebunan pisang Lampung merupakan salah satu pemasok utama buah pisang ke Banten. kulit coklat.000 ekor sapi per tahun. lada dan coklat) serta dari produksi ternak kambing. belum banyak dimanfaatkan. daun dan batang singkong. yang memanfaatkan bonggol. • Integrasi ternak itik di kawasan tambak udang Integrasi ternak itik di kawasan tambak udang telah diintroduksikan sejak tahun 2002 di Kabupaten Tulang Bawang. pucuk tebu.doc/Datin 45 . memiliki kandungan protein dan mineral yang baik untuk pakan udang. dimana 67.s o ft w a re • Integrasi ternak dengan perkebunan kopi . Padahal dengan sedikit proses pengolahan fermentasi. pembuatan sillase E:\KEBIJ TEK-260405. Sehingga petani mendapatkan 2(dua) sumber nilai tambah. Limbah dari tambak udang berupa kepala udang. akan meningkatkan palatabilitas dan kandungan gizi sebagai pakan. yaitu dari peningkatan produksi tanaman utama (kopi. seperti fermentasi jerami. k w .s o ft w a k e r. lebih menekankan pada pemanfaatan tanaman pelindung yang biasanya menggunakan tanaman leguminosa (glirisidae . Dari luasan yang ada di Lampung (±4.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.

k w . e. Berbagai limbah agroindustri yang mungkin untuk dikembangkan adalah limbah perikanan. perkebunan kelapa. dan konsumen. Gerakan penanaman dan pengembangan hijauan pakan Mengingat masih rendahnya apresiasi peternak terhadap pakan ternak. lokasi. Antara lain misalnya gerakan penghijauan dengan menggunakan tanaman leguminosa. gerakan tidak membakar jerami padi setelah panen. perkebunan kakao. kondisi.s o ft w a re • Teknologi penyusunan ransum. serta teknologi pengolahan yang dibutuhkan. System produksi yang digunakan adalah Mix and Delivery . Pabrik pakan mini mempunyai skala usaha 1 – 3 ton per hari dengan jangkauan sebaran 10-20 Km dari lokasi pabrik. industri tapioka. Pemikiran ini memunculkan konsep pengembangan pabrik pakan dalam skala kecil di kawasan pemeliharaan ternak. Inventarisasi Limbah Agroindustri Kegiatan dalam 5 (lima) tahun mendatang yang dapat dilakukan adalah menginventarisasi ketersediaan semua bahan pakan yang berasal dari limbah agroindustri. Inventarisasi tersebut meliputi ketersediaan jumlah. d. misalnya sampai berapa persen daun singkong racun dapat diberikan dalam ransum kambing. Dengan demikian secara ideal antara sumber bahan. keterampilan dan kemauan peternak dalam menyediakan pakan masih diperlukan kegiatan kegiatan yang bersifat ”gerakan”. (1) meningkatkan akses dengan lembaga penelitian dan (2) bagaimana mengintroduksikannya kepada peternak c. maka dalam rangka meningkatkan pengetahuan. dan pabrik kacang tanah.s o ft w a k e r. atau maksimal berapa persen bungkil sawit ada dalam ransum ayam petelur serta pemberian feed supplement (misalnya supplement blok) Tentu yang penting disini adalah. .c W C re ! tr ac C tr ac k e r. baik berupa ikan maupun udang. Informasi mendetail tentang hal ini sangat membantu pengembangan limbah agroindustri sebagai sumber pakan. artinya setelah pakan dicampur E:\KEBIJ TEK-260405. pabrik pakan. gerakan menanam rumput unggul atau gerakan pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan. pabrik dan konsumen harus berada dalam satu lingkaran yang dekat.c ww w om k lic lic . Pengembangan Pabrik Pakan Mini Masalah pokok dalam penyediaan pakan ternak adalah rentang jarak yang terbentang lebar antara sumber bahan pakan.doc/Datin 46 .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .

k w . Pada 5 tahun pertama disarankan untuk membangun 5 pabrik pakan di 5 kabupaten yang mempunyai populasi ternak cukup padat. kemitraan dengan perusahaan swasta atau melalui kebijakan anggaran ditingkat Propinsi ataupun Kabupaten.s o ft w a k e r. Surat Utang Pemerintah (SUP). akan didorong terus untuk menjadi sumber permodalan alternative dan menjadi dana abadi para peternak.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . . 4. Sistem permodalan dengan cara bergulir melalui pola Bantuan Pinjaman Langsung Masyarakat (BPLM) sebagaimana yang telah berjalan selama ini. Dukungan Informasi dan Promosi E:\KEBIJ TEK-260405. Sedangkan dukungan terhadap kegiatan pasca produksi yaitu pengolahan hasil dan pemasaran dilakukan melalui penciptaan iklim yang kondusif untuk pengembangan usaha peternakan serta kemitraan antara perusahaan peternakan dan peternakan rakyat. Dengan demikian setiap tahun dapat dibangun 1 pabrik pakan mini. Dukungan Pra Produksi dan Pasca Produksi Dukungan tersebut berupa upaya untuk meningkatkan investasi.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. pelatihan / magang. temu usahan dan lain lain. dan peralatan. sehingga tercipta peluang kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Disamping itu kebijakan ini diperlukan untuk mempercepat proses transformasi melalui dukungan terhadap proses sebelum peroduksi. pakan. modal ventura. produksi / budidaya.c ww w om k lic lic . incubator agribisnis. standarisasi. akreditasi. Pengembangan Usaha Peternakan Kebijakan pengembangan usaha peternakan dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan usaha agar investasi di bidang peternakan meningkat . a. kredit usaha kecil menengah (UKM). Dukungan Permodalan dan Investasi Dukungan permodalan dilaksanakan dengan cara mendekatkan para peternak terhadap fasilitas permodalan yang ada seperti Kredit Ketahanan Pangan (KKP). Proses ini lebih menguntungkan karena tidak diperlukan proses pengeringan. pasca panen dan pemasaran. promosi. b. Dukungan dan bimbingan ditujukan untuk memberikan kemudahan melalui pelayanan usaha. obat obatan. c. vaksin. informasi pasar.s o ft w a re kemudian langsung didistribusikan.doc/Datin 47 . sertifikasi dan pengawasan terhadap agro input yang meliputi bibit.

PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . pakan. baik pasar Nasional ataupun pasar ekspor. fisiologi. karena sampai saat ini usaha penggemukan sapi sebagian besar masih tergantung pada bakalan impor. Usaha pembibitan dan penggemukan sapi potong selain dilaksanakan dengan model inti plasma dan VBC.doc/Datin 48 . dapat pula dilaksanakan melalui model kerjasama tripartite antara swasta. kambing dan ayam ras sehingga dapat dikenal dan diminati oleh pasar. kesehatan dan tatalaksana) juga diterapkan manajemen pengelolaan perbibitan ternak yaitu pencatatan. embryo transfer dan sertifikasi.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.c ww w om k lic lic . penimbangan/ pengukuran. Yang tidak kalah pentingnya adalah juga promosi dalam rangka menanamkan kecintaan dan kebiasaan makan (food habit) produk produk hasil peternakan lokal serta upaya meningkatkan konsumsi protein hewani asal ternak (daging. 5. Pada model ini selain mengoptimalkan fungsi fungsi teknis (genetic. Dengan demikian produk produk peternakan Lampung akan lebih diminati dan usaha peternakan akan berkembang lebih cepat. Disamping itu aspek pasar juga menjadi hal yang sangat penting untuk dikelola secara kelembagaan. kastrasi. Pengembangan usaha pembibitan ternak sapi ini menjadi sangat strategis dan mutlak untuk mendapatkan porsi prioritas. Promosi dilakukan terutama terhadap komoditi unggulan peternakan Lampung yaitu sapi potong. Pengembangan Usaha Sapi dan Kambing Perah Pengembangan ternak sapi perah selalu dihubungkan dengan peternak yang memiliki keterampilan budidaya lebih baik. masih sangat relevan untuk tetap diapresiasikan kepada masyarakat Lampung. Promosi juga dilakukan dalam rangka menarik minat para investor guna mengembangkan usaha peternakan . k w . kelembagaan kelompok sebagai E:\KEBIJ TEK-260405. Pengembangan informasi melalui jaringan internet telah mulai dirintis dan akan terus dikembangkan sehingga menjadi media informasi yang dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat. Gerakan Aku Cinta Makanan Indonesia (ACMI) dan gerakan peningkatan konsumsi daging.s o ft w a re Informasi pasar dan promosi yang berkaitan dengan pengembangan usaha sangat diperlukan. . telur dan susu. Pengembangan Usaha Pembibitan dan Penggemukan Sapi Potong Pengembangan usaha perbibitan ternak sapi potong akan tetap dikembangkan melalui model pengembangan sentra bibit pedesaan (Village Breeding Centre = VBC) dengan basis peternakan rakyat. juga dikembangkan usaha penggemukan yang terintegrasi dengan VBC . Usaha penggemukan selain dilaksanakan oleh perusahaan swasta.s o ft w a k e r. IB. budidaya ataupun pengolahan. reproduksi. baik pada sector hulu. telur dan susu). seleksi dan penyortiran. pemerintah dan peternak. 6.

sebagai akibat dari kualitas bibit dan pakan yang dibawah standar. . pakan. Keempat komponen penentu ini masih bermasalah pada sentra pengembangan sapi perah di Kecamatan Talang Padang dan Metro. 9. Promosi yang luas agar masyarakat mau minum susu murni d. banten . Pengembangan Usaha Pembibitan dan Penggemukan Kambing/ Domba Peluang pasar ternak kambing kedepan sangat prospektif. dan pemasaran (konsumen susu murni dan harga yang pantas). 7.s o ft w a k e r. Pada aspek teknis antara lain perlu ada perbaikan bibit. pelayanan kesehatan dan tatalaksana pemeliharaan. f.c ww w om k lic lic . Oleh karena itu ternak kambing dan ternak domba akan dikembangkan dengan sasaran menghasilkan ternak dengan bobot minimal 40 kg pada umur 10 bulan. Jawa barat dan pasar ekspor ke Negara Negara Timur Tengah. yaitu dengan cara persilangan antara kambing PE dengan Kambing Boer. dengan menggunakan teknologi inseminasi buatan dan pengembangan sentra sentra perbibitan.s o ft w a re pengelola. Secara paralel perlu ada introduksi pengembangan ternak kambing yang memproduksi susu. Pemerintah dalam hal ini akan lebih banyak untuk mendorong untuk tumbuhnya iklim usaha yang kondusif dan membangun kemitraan antara swasta dan peternak yang lebih proporsional. Pengembangan Usaha Burung Puyuh Usaha peternakan burung puyuh dapat dilakukan pada lahan yang relatip sempit dan diusahakan secara intensif. b. Perbaikan penanganan pasca panen g. Pengembangannya yaitu sebagaimana yang telah dilaksanakan saat ini pada ternak kambing. Pengembangan Usaha Ayam Ras Usaha peternakan ayam ras sudah sangat maju dan banyak ditentukan oleh peran swasta. 8. Dalam rangka pengembangan sapi perah kedepan perlu dilakukan upaya perbaikan sebagai berikut : a.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. k w . Untuk mempermudah pembinaan dan meningkatkan posisi tawar peternak. E:\KEBIJ TEK-260405. proses pengolahan. maka kelembagaan peternak harus di restrukturisasi c.doc/Datin 49 . Sebagai upaya terakhir tapi terbatas adalah subsidi atau bantuan pakan konsentrat. terutama untuk memenuhi pasar Jakarta. walaupun sebenarnya pada kondisi saat ini semuanya bermuara pada harga jual susu di tingkat peternak dan produksi susu yang rendah.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . oleh sebab itu ternak burung puyuh dapat dikembangkan di wilayah pinggiran perkotaan seperti Kota Bandar Lampung. Kemitraan dengan perusahaan swasta e.

c ww w om k lic lic .s o ft w a k e r. Lampung Timur. perlu “direplikasi” ulang dengan konsepsi yang telah disempurnakan. Kotabumi. Pringsewu. 10. Bandarjaya. Pengembangan Usaha Ternak Babi Pembinaan dan pengembangan usaha peternakan babi dilakukan terhadap wilayah wilayah yang secara social tidak menimbulkan penolakan. seperti di kabupaten Lampung Selatan. Kalianda. misalnya pada acara perkawinan.doc/Datin 50 .s o ft w a re Metro. misalnya dikaitkan dengan upaya pemberantasan dan pengendalian penyakit flu burung. Pengembangannya selain secara mandiri . serta kota kota kabupaten dan kecamatan lainnya. kematian dan sebagainya. Pengembangan Intensifikasi Ayam Bukan Ras (buras) dan Itik Sebagaimana diketahui bahwa komoditi ayam buras posisinya sangat strategis jika dikaitkan dengan upaya peningkatan konsumsi protein hewani asal ternak. antara lain pada wilayah komunitas masyarakat Bali. Pengembangan ternak kerbau di Provinsi Lampung perlu mendapat perhatian mengingat ternak ini merupakan obyek penting dalam urusan adat istiadat suku Lampung. karena hampir 100% keluarga petani di Lampung memelihara ayam buras walaupun dengan jumlah yang relative kecil.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . persilangan dengan kerbau unggul lokal melalui E:\KEBIJ TEK-260405. . karena pada umumnya memerlukan habitat di daerah rawa – rawa walaupun juga dapat dipelihara di dataran tinggi Selain itu jarak kelahiran ternak kerbau / calving interval) cukup panjang yaitu 18 – 20 bulan sehingga menyebabkan perkembangan ternak ini lambat dibandingkan dengan ternak sapi. baik dikembangkan pada komunitas masyarakat Bali ataupun dikembangkan secara khusus di Pulau Pulau yang ada di Lampung. Adapun pengembangan ternak ini dilakukan melalui peningkatan pembinaan dan pelayanan kesehatan hewan. Lampung Tengah dan kabupaten Tulang bawang. Disamping itu juga Propinsi Lampung memiliki peluang untuk relokasi usaha peternakan Babi yang ada di DKI Jakarta. Pembinaan dan Pelayanan Teknis Ternak kerbau Usaha ternak kerbau masih merupakan peternakan rakyat dengan pemeliharaan yang relative terbatas. Oleh sebab itu program Intensifikasi Ayam Buras (intab) yang telah dintroduksi sejak tahun 1980-an. 12.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Demikian juga dengan intensifikasi ternak itik (Intik) 11. dapat dilakukan dengan system bapak angkat atau kemitraan antara peternak dengan “poultry shops” atau distributor pakan / obat lainnya. k w . Banten dan Jawa Barat.

angsa. Disamping itu juga dalam rangka meningkatkan pendapatan dan peluang usaha masyarakat dalam kurun waktu 5 (lima) tahun kedepan perlu dikembangkan juga ternak yang bersifat exotic atau ternak hias antara lain. 13. k w . Peningkatan Kerjasama dan koordinasi dengan lembaga penelitian.s o ft w a re teknologi Inseminasi Buatan serta pengembangan pembuatan mani beku ternak kerbau.doc/Datin 51 . Sedangkan ternak rusa masih diperlukan upaya sosialisasi dan ujicoba secara terencana. Peningkatan koordinasi lintas sector. hal ini sangat penting karena keberhasilan pembangunan peternakan lebih dari 60% ditentukan oleh sector lain c. Pengembangan Aneka Ternak Sebagai upaya substitusi dan dalam rangka meningkatkan konsumsi daging. ayam kipas. perguruan tinggi. maka “ Aneka Ternak” yang terdiri dari kelinci. antar kabupaten kota dan antar Propinsi dengan Pusat b. Peningkatan Fungsi Koordinasi dan Kerjasama a. 14. ISSUE POKOK PEMBANGUNAN PETERNAKAN : 1. kalkun dan kelinci. entok.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.s o ft w a k e r. terutama komoditi yang sudah familier dengan petani di Lampung yaitu entok.c ww w om k lic lic . . organisasi profesi dan swasta BAB VII RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN PROPINSI LAMPUNG TAHUN 2005 – 2009 A. ayam pelung. kalkun dan rusa perlu dikembangkan lebih luas lagi. bekisar dan lain – lain. Konsumsi Protein hewani asal ternak masih rendah E:\KEBIJ TEK-260405. ayam kate. ayam cemani. angsa. Peningkatan fungsi Koordinasi antar Provinsi dengan Kabupaten/Kota.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .

31 6.85%) dan susu 4.33 5. sebagai berikut : Tabel 14.48 6.28 kg/kapita/tahun (65.30 kg. Indonesia hanya berada di atas Banglades dengan tingkat konsumsi protein hewani 4.42%). . Thailand 100 butir.3 kg/kapita/tahun. dan ayam ras 2.30 4.55 39. maka penduduk Lampung pada tahun 2004 baru makan daging sapi 0.50 1.84 4.54 10. Perbandingan Konsumsi Daging.02 4.62 3.08 0.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. kambing dan domba 0.76 5. Secara Nasional konsumsi protein hewani asal ternak Indonesia masih sangat rendah.53 3.97 3. Sebagai gambaran perbandingan tingkat konsumsi daging.15 gram/kapita/hari atau baru mencapai 69.33% dari standar minimal FAO.03 3.35 2.21 6.2 kg/kapita/tahun.7 gram/kapita/hari atau 78.96 4.51 0.25 25. k w . Sementara konsumsi telur di Lampung pada tahun 2004 mencapai 68 butir/kapita/tahun.c ww w om k lic lic .s o ft w a re Sebagaimana diketahui bahwa konsumsi protein hewani sangat menentukan tingkat kecerdasan seseorang.doc/Datin 52 . telur 4. Vietnam 40 butir.87 17.00 9.10 2.50 17.97 20.09 kg/kapita/tahun (68. ayam kampung 3. Filipina 70 butir.15 2. serta konsumsi daging ayam E:\KEBIJ TEK-260405.83%).96 25. Pencapaian tersebut setara dengan konsumsi daging 7.16% dari standar minimal yang ditetapkan WKPG dan FAO. dan Propinsi di Indonesia.55 kg.s o ft w a k e r.97kg/kapita/tahun.36 13.63 3.00 10.72 46. telur dan susu beberapa Negara di Asia.50 Berdasarkan hasil Widya Karya Pangan dan Gizi Nasional tahun 1998 dan FAO.71 22.10 3. Jika dilihat dari konsumsi masing masing komoditi.72 7.87 0. bahwa standar konsumsi minimal protein hewani asal ternak adalah protein hewani 6 gram/kapita/hari. Bandingkan dengan konsumsi telur di Malaysia 300 butir/kapita/tahun. Jika dibandingkan dengan Negara Negara di Asia.50 6.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .35 kg/kapita/tahun (60. Telur dan Susu Beberapa Negara di Asia dan Beberapa Propinsi di Indonesia tahun 2002 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 NEGARA*/ PROPINSI** Banglades China Jepang Malaysia Philipina Thailand Indonesia Lampung Sumatera Barat Sumatera Selatan Bengkulu DKI Jakarta Jawa Barat Sulawesi Selatan Kalimantan Selatan KONSUMSI (kg/kapita/tahu) Daging Telur Susu 3.82 24.68 31.60 2.43 3.71 5.01 4.01 kg. bahkan beberapa pakar mengukur tingkat keberhasilan pembangunan dari tingkat konsumsi protein hewani dan menganggap jika konsumsi protein hewani terlalu rendah akan terjadi apa yang disebut “ loose generation”.50 6. daging 10.5 kg /kapita/tahun dan susu 7. Sementara konsumsi protein hewani yang dicapai Propinsi Lampung pada tahun 2004 baru mencapai 4. telur 6.04 7.

57 kg atau 78. Thailand 16. selain menyangkut aspek produksi dan distribusi.15 juta ekor . Propinsi Lampung pun semakin dikenal sebagai salah satu Lumbung ternak Nasional. tingkat pendidikan. . 2. yang didukung dengan peningkatan kualitas pelayanan yaitu kesehatan.56% dari total konsumsi daging. setiap tahun tidak kurang dari 40.8 kg dan Vietnam 1 kg. Sementara konsumsi beras Nasional (133 kg/kapita/tahun) adalah konsumsi beras tertinggi di Dunia.000 ekor bibit sapi dan kambing “pindah” dari Lampung ke beberapa Propinsi di sumatera. Dari data tersebut di atas dan trend konsumsi produk peternakan dari tahun ke tahun di Propinsi Lampung. bahkan sampai ke Pulau Kalimantan. Sementara pertumbuhan populasi ayam pedaging selama 5 tahun terakhir hanya 4. inseminasi buatan.doc/Datin 53 . yaitu pada tahun 2004 mencapai 5. Karena selain cepat dikembangkan.6 juta ekor atau diperlukan peningkatan populasi rata rata 10.76% per-tahun.55 kg/kapita per tahun. yang secara monumental diawali dengan program BPSD (Bimbingan Peternak Sapi Pedaging) pada tahun 1977. Artinya kebijakan pemerintah Propinsi Lampung dalam upaya meningkatkan konsumsi daging.05 %. produksi dan produktivitas ternak. maka secara bertahap yang dimulai tahun 1993. Pengurasan populasi ternak terutama sapi dan kambing Diawali dengan berbagai program peningkatan populasi. Issu rendahnya konsumsi protein hewani asal ternak. Seiring dengan perjalanan waktu. Filipina 4 kg.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .s o ft w a k e r. Akan tetapi setelah diberlakukannya UU nomor 22 tahun 1999. kemudian dilanjutkan dengan proyek penyebaran ternak P3TK-IFAD pada tahun 1983. jika sampai dengan tahun 2009 konsumsi daging ayam kampung ditargetkan naik 1 kg menjadi 4. maka populasi (sesaat) pada tahun tersebut harus mencapai 16. kemitraan penggemukan sapi. budaya dan kebijakan pemerintah. juga harganya relative terjangkau. kemitraan ayam. Sebagai gambaran.s o ft w a re Malaysia 23 kg. beberapa Propinsi di Sumatera melalui APBD dan APBN-nya banyak kegiatan pengadaan bibit ternak khususnya sapi dan kambing. Jawa Barat. Sebenarnya ini adalah peluang yang sangat baik E:\KEBIJ TEK-260405. maka peranan produk unggas khususnya daging ayam kampung dan ayam broiler memegang peranan yang sangat penting.c ww w om k lic lic . juga sangat terkait dengan daya beli masyarakat. baik yang dibiayai APBN ataupun APBD.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Propinsi Lampung dikenal sebagai penghasil ternak potong dan bibit dan secara rutin mensuplai ternak potong untuk kebutuhan pasar DKI Jakarta. Sedangkan ayam ras pedaging jika pada tahun 2009 ditargetkan naik 1 kg maka diperlukan populasi (kumulatif) sebesar 35. Dilihat dari sifatnya. Ternak tersebut sebagian dibeli (“dipindahkan”) dari Lampung. k w . dapat dipelihara oleh semua lapisan masyarakat. perlu memprioritaskan kepada komoditi unggas. komoditi unggas termasuk komoditi yang cepat dikembangkan. serta program pendukung lainnya. pengembangan pakan dan penyuluhan.

000 – 140. APBD Kabupaten / Kota. Oleh sebab itu dalam rangka melindungi peternak dari kerugian yang besar.doc/Datin 54 . Mengingat penyakit ini merupakan penyakit yang baru muncul di Lampung (Indonesia) dan baru dikenal oleh masyarakat peternakan. adalah ketergantungannya terhadap sapi bakalan impor. sehingga Lampung akan memiliki keunggulan .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . . Hal tersebut sangat wajar dan sesuai dengan hukum ekonomi.000 ekor bakalan per . perlu dukungan pembiayaan yang cukup besar baik dari APBD Propinsi.s o ft w a re untuk peternak di Lampung. Hal lain yang sampai saat ini juga menjadi bumerang dalam pengembangan peternakan di Lampung. Sapi bakalan lokal secara kualitas dan kuantitas belum mampu memenuhi kebutuhan usaha penggemukan sapi di Lampung yang membutuhkan 120. (5) peningkatan kesadaran masyarakat. ternyata dengan iming iming harga yang cukup tinggi (Rp 1 – 1. Sebagai contoh. (1) pelaksanaan biosekuriti secara ketat.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Penyakit ini juga telah menyebabkan terhentinya ekspor daging ayam dari Lampung ke Jepang. (3) pembatasan lalulintas hewan dan bahan asal hewan. Penyakit ini dapat menimbulkan kematian sampai 100% dan menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternak. pelaporan dan evaluasi.c ww w om k lic lic . maka pemerintah telah menerbitkan pedoman pengendalian dan pemberantasan penyakit flu burung pada unggas.s o ft w a k e r. Adanya wabah flu burung (avian influenza) dan penyakit strategis lainnya Penyakit flu burung pada unggas (avian influenza) di Lampung disebabkan oleh virus influenza A (highly pathogenic) dari family Orthomyxoviridae . Adapun materi pokok dari pedoman tersebut antara lain berisi langkah langkah pencegahan dan pemberantasan yaitu. (6) stamping out serta (7) monitoring. dan dibeberapa sentra telah menghasilkan bibit. Untuk ini juga perlu ada strategi pengembangan perbibitan yang komprehenship dan berkelanjutan. Propinsi lain akan lebih cepat mengembangkan kambing boerawa karena memiliki sumber pembiayaan yang jauh lebih besar dari Lampung.daya saing dan tetap sebagai salah satu lumbung ternak Nasional.5 juta per ekor kambing boerawa umur 8 bulan). (4) surveillance dan penelusuran. pada saat Propinsi Lampung sedang mulai mengembangkan kambing boerawa yaitu silangan antara Kambing PE dan Kambing Boer. 3. akan tetapi jika pengeluaran ternak bibit yang berkualitas tidak dapat dikendalikan. E:\KEBIJ TEK-260405. akan tetapi persoalannya dikuatirkan pada saatnya nanti. APBN dan partisipasi swasta dan masyarakat serta koordinasi vertical dan horizontal.tahun. oleh karena itu untuk membebaskan penyakit ini selain langkah langkah sebagaimana tersebut di atas. maka upaya yang harus menjadi prioritas adalah sosialisasi kepada masyarakat peternakan. k w . (2) pelaksanaan vaksinasi. peternak menjual kambing boerawanya. maka secara bertahap Lampung akan kekurangan bibit betina dan pejantan unggul.

Upaya pemberdayaan masyarakat yaitu dengan memberi kekuasaan . dimana upaya swastanisasi harus didasarkan pada asumsi bahwa lembaga sektor swasta mampu lebih fleksibel . mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas agar masyarakat memiliki kemandirian dalam pengambilan keputusan. dapat bersaing secara sehat diantara para penyedia jasa pelayanan serta mampu meningkatkan kualitas pelayanan dan memberikan harga yang pantas. merupakan bagian dari upaya meningkatkan pelayanan publik. dan bentuk pelayanan public lainnya di bidang peternakan.s o ft w a re Disamping penyakit Flu Burung.c ww w om k lic lic .doc/Datin 55 . partisipatif. Privatisasi adalah salah satu metoda untuk meningkatkan kualitas pelayanan tersebut. Septichaemia Epyzotica (SE).c W C re ! tr ac C tr ac k e r. serta tidak adanya rekrutmen penyuluh dan petugas lapangan.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Contoh pelayanan IB dan pelayanan kesehatan hewan berbasis masyarakat. Ramadewa pada sapi Bali. kendatipun biasanya kepentingan bisnisnya lebih dikedepankan. Pelayanan publik dibidang peternakan yang masih perlu disosialisasikan dan dikembangkan antara lain perlindungan atau jaminan kepada masyarakat untuk mendapatkan produk peternakan yang aman. sehingga peternak dapat memilih yang terbaik dengan harga yang terjangkau. dan berorientasi pada pengguna. Kurangnya akses kesehatan hewan masyarakat terhadap pelayanan peternakan dan Pelayanan publik dibidang peternakan perlu dikembangkan menjadi lebih transparan. 4. Pelimpahan kewenangan tersebut harus bertumpu pada batasan bahwa pelayanan yang dilimpahkan harus lebih efisiensi dan efektif. sehat. tapi yang penting dengan privatisasi akan terjadi persaingan yang sehat. Kurangnya akses peternak terhadap pelayanan public dibidang peternakan antara lain disebabkan banyaknya alih fungsi penyuluh pertanian. Disisi lain sebenarnya dengan diberlakukannya UU nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah seharusnya fungsi pelayanan publik semakin baik. Hog Cholera. meningkatkan aksesibilitas peternak terhadap sumber permodalan dan teknologi.s o ft w a k e r. k w . di Lampung juga terdapat beberapa penyakit menular dan strategis yang perlu mendapat perhatian dan penanganan yaitu penyakit Brucellosis . karena dalam undang undang tersebut antara lain mengatur penyerahan wewenang dari pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam system Negara Kesatuan Republik Indonesia atau disebut desentralisasi. Tugas pelayanan tersebut dapat dilaksanakan oleh institusi diluar pemerintah atau dilakukan melalui swastanisasi. . pendampingan dan penyuluhan. E:\KEBIJ TEK-260405. utuh dan halal (ASUH). dan penyakit Rabies.

c. Meningkatkan kualitas pelayanan aparat pemerintah. . dalam hal ini yaitu pemilik modal atau lembaga keuangan. Adanya peraturan perundangan yang mendukung dan berfihak pada peternak. pemerintah. Akan tetapi dari pertanyaan pertanyaan tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ada 3 (tiga) pemegang kendali primer yang memegang peranan. Meningkatkan apresiasi lembaga keuangan dan pemilik modal lainnya terhadap berbagai usaha peternakan yang layak dibiayai d. kelompok peternak dengan pemilik modal / lembaga keuangan belum ada yang memfasilitasi ? atau aparat pemerintah (petugas peternakan) tidak melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pelayan masyarakat ? Ternyata banyak sekali kemungkinan kemungkinan yang menyebabkan peternak tidak memiliki modal. Sampai dengan tahun 2003 ternak yang ada baru mencapai 468. atau masih tersedia ruang dan potensi pakan untuk 941. Jika pertumbuhan populasi ternak seperti saat ini yaitu 2-4%. k w .doc/Datin 56 . 6.41 juta unit ternak. Potensi sumberdaya alam belum dimanfaatkan secara optimal Sebagaimana diketahui bahwa Lampung memiliki potensi sumberdaya alam yang mampu menampung ternak ruminansia sebanyak 1. Akan tetapi persoalannya benarkah modal itu tidak ada ? ataukah peternak yang tidak memiliki kamampuan untuk akses ke sumber atau pemilik modal ? atau pemerintah yang belum berfihak kepada peternak ? atau lembaga keuangan dan pemilik modal yang sangat awam terhadap usaha peternakan yang sebenarnya layak ? atau antara peternak. maka untuk mencapai kapasitas daya tampung optimal (1.c ww w om k lic lic . dan peternak Faktor lain yang secara paralel harus berdampingan dengan pengembangan aspek permodalan adalah : a.820 unit ternak. Membangun dan menumbuhkan kepercayaan lembaga keuangan kepada peternak dan kelompok peternak.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .180 unit ternak atau baru mencapai 33.s o ft w a re 5. terutama dalam hal pendampingan terhadap kelompok binaan dan difasilitasi secara langsung agar kelompok dapat berhubungan dengan lembaga keuangan e.20% dari potensi sumberdaya alam yang tersedia. b.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.41 juta unit ternak). Menumbuhkan keberpihakan pemerintah (komitmen) untuk membangun usaha dibidang peternakan dan kesehatan hewan khususnya pada skala kecil dan menengah. Terbatasnya modal untuk pengembangan peternakan Masalah ini merupakan factor pembatas utama yang selalu dihadapi para peternak.s o ft w a k e r. E:\KEBIJ TEK-260405. diperlukan waktu 35 – 40 tahun.

diperkirakan tidak akan serta merta merubah sikap dan perilaku dalam melaksanakan koordinasi sesuai dengan ketentuan yang baru. Koordinasi antara Pusat. 7-10 ekor = 8.0%. misalnya menjadi 10 atau 15 tahun. serta peningkatan kualitas sumberdaya manusia.45%. peningkatan pertambahan berat badan harian dan diversifikasi produk.0%. ramah lingkungan dan berkelanjutan.25% dan cabang usaha 32.0%. akan tetapi nuansa pasal 4 ayat (2) pada UU nomor 22 tahun 1999.c ww w om k lic lic . swasta & pemerintah. masing masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarki satu sama lain”. Dari angka sebagaimana tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa peternak sapi potong yang skala usahanya masih termasuk skala usaha sambilan mencapai 88. cabang usaha 34. Propinsi dan Kabupaten Kurang dan rancunya koordinasi antar Daerah Propinsi dan Daerah Kabupaten/ Kota serta antara Pemerintah (pusat) dan Daerah Propinsi .80%.75% dan >20 ekor = 6.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .s o ft w a k e r. 8. Walaupun UU nomor 22 tahun 1999 secara otomatis tidak berlaku lagi setelah terbitnya UU nomor 32 tahun 2004.3% dan >20 0. Pada peternak kambing usaha sambilan 61. 11-30 ekor = 34. antara lain merupakan salah satu dampak negative dari pelaksanaan UU nomor 22 tahun 1999 pasal 4 ayat (2) yaitu “ Daerah Daerah sebagaimana disebut pada ayat (1).5%. 31-50 ekor = 16. menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk pengembangan investasi serta yang tidak kalah pentingnya adalah membangun komitmen semua komponen pembangunan yaitu masyarakat.00% adalah usaha sambilan dan cabang usaha 14 % E:\KEBIJ TEK-260405. k w . Disamping itu juga upaya peningkatan produksi selain dilaksanakan melalui peningkatan populasi ternak.75%. Untuk mendukung upaya tersebut diperlukan teknologi yang mudah diaplikasikan oleh peternak.0%.25%. Sedangkan ternak kambing yang memiliki 1-10 ekor 61. 11-20 ekor = 32. Ternak itik ≤ 30 ekor = 70%. 4-6 ekor = 44.70%. . 11-20 ekor = 2. Skala usaha peternakan belum ekonomis Berdasarkan hasil survey yang dilakukan pada tahun 2002 di Propinsi Lampung.05%.70%.doc/Datin 57 . Ternak babi 1-10 ekor = 58%.0%. dan cabang usaha = 11. serta pada ternak itik 86. pada ternak babi usaha sambilan 58. peternak yang memiliki sapi 1 – 3 ekor mencapai 43.0% dan >30 ekor = 8. juga dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas. 7. antara lain peningkatan bobot hidup ternak.s o ft w a re Upaya kita tentu bagaimana mendorong agar potensi sumberdaya alam yang ada dapat secara optimal dimanfaatkan dan mempercepat waktu pencapaiannya.0% dan >50 ekor = 14.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.

mandiri dan professional 3. peningkatan kualitas dan kontinuitas produk. MISI. melalui peningkatan aksesibilitas peternak terhadap modal dan teknologi. k w . dan perluasan pangsa pasar. TUJUAN 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Meningkatkan konsumsi protein hewani asal ternak masyarakat Lampung Meningkatkan produktivitas ternak Meningkatkan kualitas pelayanan di bidang peternakan Meningkatkan skala usaha peternakan Mengoptimalkan pemanfaatan teknologi tepat guna terutama dibidang pakan. .s o ft w a k e r. TUJUAN DAN SASARAN 1. Meningkatkan kualitas dan kontinuitas produk unggulan peternakan yaitu sapi potong dan kambing. perlu adanya upaya peningkatan skala usaha secara bertahap. reproduksi. budidaya dan pengolahan produk peternakan. VISI MEWUJUDKAN LAMPUNG SEBAGAI LUMBUNG TERNAK YANG TANGGUH DAN MANDIRI 2. Mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumberdaya Meningkatkan peranan Provinsi Lampung sebagai salah satu Lumbung ternak Nasional Meningkatkan pendapatan peternak 4. Memanfaatkan potensi sumberdaya alam local secara optimal.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Meningkatkan daya saing produk unggulan peternakan Lampung 4. 3.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Mewujudkan sumberdaya manusia dan kelembagaan peternakan yg tangguh . dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. dengan harga terjangkau serta semakin berperan dlm menyediakan kebutuhan nasional 2. kuantitas dan kontinuitasnya.s o ft w a re Ciri daripada usaha peternakan yang sambilan dan cabang usaha adalah kurang efisien di dalam pengelolaan factor factor produksi.c ww w om k lic lic . VISI. Oleh sebab itu dalam rangka meningkatkan daya saing kualitas produk peternakan. MISI 1. B. Meningkatkan populasi dan produksi ternak guna menyediakan bahan pangan asal ternak yang terjamin baik kualitas. SASARAN E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin 58 .

k w .doc/Datin 59 . Kambing 40. skala usaha ternak kambing 3 %.411 ekor.39 % c.73 gram/kapita/hari 2) Terwujudnya peningkatan produktivitas ternak. skala usaha ternak babi 5 % dan skala usaha ternak itik meningkat 2 %. ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS Analisis lingkungan strategis adalah suatu analisis yang dilakukan secara objektif dan komprenship dengan mempergunakan data yang akurat.543 ekor kerbau 2. masyarakat. domba 39.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. swasta dan pemerintah. dan babi 57.55 %. antara lain : a.35 % b. Covering pelayanan Inseminasi Buatan meningkat 26. Dalam hal ini dapat dibedakan secara jelas fungsi manajemen.c ww w om k lic lic .s o ft w a re Sasaran umum yang ingin dicapai pada tahun 2009 adalah : 1) Tercapainya konsumsi protein hewani asal ternak masyarakat Lampung pada tahun 2009 sebesar 4.5 %. kerbau 11. Melalui analisis ini diharapkan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Lampung dapat melihat secara objektif kondisi-kondisisi internal dan eksternal. babi 24.15 %.9 % .sector ataupun dalam pembangunan sub sektor peternakan khususnya di Propinsi Lampung. antara lain : a.15 %. Analisis lingkungan strategis merupakan satu upaya objektif untuk merumuskan dan memformulasikan strategi pembangunan yang dilakukan dengan pendekatan “SWOT”.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Service per conseption pelayanan IB ternak sapi pada tahun 2009 meningkat menjadi 1.478 ekor dan unggas 8. PE). 6) Terwujudnya optimalisasi pemanfaatan potensi sumberdaya alam untuk pengembangan peternakan pada tahun 2009 sebesar 5 % 7) Pengeluaran ternak ke Propinsi lain untuk kebutuhan bibit dan ternak potong pada tahun 2009 adalah: sapi potong 172.86 juta ekor 8) Pendapatan peternak minimal sama dengan UMR C. Tingkat kelahiran ternak pada tahun 2009 meningkat masing masing ternak sapi potong menjadi 23.s o ft w a k e r. 5) Populasi ternak sapipotong 55 % merupakan hasil IB dan ternak kambing 30 % merupakan kambing unggul hasil IB (Persilangan kambing Boer. yaitu dengan menganalisis lingkungan internal (kekuatan dan kelemahan) dan lingkungan eksternal (pelunag dan ancaman) yang dihadapi. kambing dan domba 243. Rata rata calving interval 14 bulan pada ternak sapi dan 8 bulan pada ternak kambing 3) Meningkatnya kualitas pelayanan publik dibidang peternakan. terbaru dan berasal dari lingkungan insternal dan eksternal.63 % 4) Terwujudnya peningkatan skala usaha peternakan antara lain pada tahun 2009 skala usaha sambilan dan cabang usaha pada peternakan sapi potong meningkat statusnya 1 % dan 3. Covering pelayanan kesehatan meningkat 40 % b.151 ekor. Jadi perencanaan strategis sangat penting untuk memperoleh keunggulan kinerja baik berupa produk ataupun servis yang sesuai dengan keinginan dan tuntunan stakeholder sebagaimana yang tertuang dalam visi dan misi E:\KEBIJ TEK-260405. . baik dalam pembanguanan daerah.

ayam ras. dimana 54. mengingat konsumsi daging. Secara sistematis kekuatan dan kelemahan yang dimiliki Propinsi Lampung dalam pembangunan peternakan adalah sebagai berikut : a.18% nya adalah lahan yang dapt dipergunakan untuk budidaya ternak • Kapasitas tampung Lampung untuk ternak ruminansia sebanyak 1. kulit biji kopi.180 unit ternak • Bahan baku pakan konsentrat melimpah di Lampung. Kekuatan 1) Sumberdaya Alam • Lahan sebagai basis ekologi. mollase.41 juta unit ternak. Sampai saat ini Lampung menjadi salah satu pemasok ternak potong ke DKI Jakarta. ayam ras dan pakan ternak Potensi pasar lokal juga masih dapat ditingkatkan. diharapkan seluruh jajaran dan masyarakat peternakan mampu menagntisipasi dan mampu mengubah kekuatan menjadi peluang. bungkil sawit. tellur dan susu masih rendah 4) Perusahaan Swasta Perusahaan swasta telah banyak berkembang di Lampung antara lain bergerak di bidang penggemukan sapi potong. Analisis Lingkungan Internal(Kekuatan dan Kelemahan) Secara riel Propinsi Lampung memiliki kekuatan besar yang mampu mempercepat lajunya perkembangan peternakan.c ww w om k lic lic . Banten dan Jawa Barat.20% atau 468. dedak halus.s o ft w a k e r. anatara lain jagung. sumber pakan dan tempat budidaya dimiliki Lampung sangat luas yaitu 3.3 juta ha. Dengan mengetahui kelemahan dan kekuatan internal sejak dini. pakan ternak dan distributor / deppo obat hewan Beberapa perusahaan swasta telah melakukan kemitraan dengan kelompok peternak disekitarnya E:\KEBIJ TEK-260405. tapi juga sekaligus memiliki kelemehan yang kemungkinan besar dapat menghambat kemajuan dan / atau rencana pembangunan peternakan yang telah ditetapkan.s o ft w a re yang telah ditetapkan serta dapat mengantisipasi dengan cepat kemungkinan perubahan yang juga terjadi dengan cepat. Banten dan Jawa Barat serta bibit sapi dan kambing ke Propinsi di Sumatera Lampung memiliki komoditi yang mempunyai prospek untuk di ekspor yaitu ternak kambing. 1. sementara pada tahun 2003 baru mencapai 33. gaplek dan lain lain 2) Letak geografis dan tofografis o Letak geografis Lampung sangat strategis karena berada di pintu gerbang Sumatera dan Jawa 3) Pasar Lampung dekat dengan pasar raksasa DKI Jakarta.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .c W C re ! tr ac C tr ac k e r. bungkil kelapa. serta mengubah kelemahan menjadi ancaman yang harus diatasi. k w . .doc/Datin 60 .

sementara peternak sendiri aksesibilitasnya rendah 3) Ternak • Kualitas bibit dan produktivitas ternak di Lampung masih rendah • Usaha perbibitan ternak belum diminati oleh perusahaan swasta • Tingkat kepemilikan ternak relatip masih rendah • Data populasi ternak kurang akurat • Usaha penggemukan sapi potong masih tergantung pada bakalan umpor 4) Peralatan .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . dan Pos Inseminasi Buatan b. Pelabuhan Internasional Panjang. teknologi dan informasi masih sangat rendah 2) Modal • Para peternak pada umumnya tidak memiliki modal yang cukup • Skala usaha beternak umumnya masih rendah • Lembaga permodalan sulit diakses oleh peternak pada umumnya • Kebijakan makro dibidang permodalan belum menyentuh para peternak kecil dipedesaan. sikap dan keterampilan peternak relative rendah. yaitu sapi potong dan kambing 6) Kebijakan Pemerintah Dukungan pemerintah Provinsi & Kab/Kota untuk menjadikan Lampung sebagai Lumbung Ternak Nasional Dukungan pembiayaan melalui APBD Propinsi cenderung terus meningkat 7) Sarana dan Prasarana • • Propinsi Lampung telah memiliki Instalasi pembuatan mani Beku di Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah Prasarana pendukung lainnya adalah BPPV. karantina hewan.s o ft w a k e r. • Tenaga kerja terdidik justru lebih tertarik bekerja di kota kota besar • Aksesibilitas kelembagaan peternak terhadap modal. Mesin dan Bahan E:\KEBIJ TEK-260405. Pos Satgas. Poskeswan. hal ini antara lain disebabkan tingkat pendidikan formal petani ternak juga rendah. yaitu SD kebawah. Kelemahan 1) Sumberdaya Manusia • Pengetahuan.s o ft w a re 5) Komoditi unggulan Komoditi ternak unggulan Lampung telah dikenal oleh masyarakat di luar Propinsi .doc/Datin 61 . k w .c ww w om k lic lic . BPTP.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. .

20 %. sehingga dapat menimbulkan penyebaran penyakit Jumlah Poskeswan dan petugas pelayanan kesehatan sangat terbatas . jadi masih ada peluang pengembangan sebesar 66. antara lain peralatan IB.41 juta AU.doc/Datin 62 . dan ND Lalu lintas hewan antar Pulau dan antar Propinsi sulit dikendalikan. Brucellosis.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Flu Burung. peralatan kesehatan hewan.s o ft w a re • • Sebagian besar peralatan dan mesin peternakan masih tergantung dari barang impor. . perkebunan dan perikanan serta optimalisasi pemanfaatan lahan marginal 2) Lampung memiliki kapasitas tampung ternak ruminansia sebanyak 1. Ramadewa. sementara yang ada baru mencapai 33.80 % 3) Mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku pakan lokal 4) Meningkatkan produktivitas ternakmelalui penggunaan bibit unggul.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. 7) Kebijakan Pemerintah • Pungutan retribusi di Kabupaten / Kota yang kontra produktip karena semakin menambah biaya produksi • Perencanaan dan pembiayaan pembangunan peternakan yang kurang tepat • Adanya euphoria otonomi daerah 2. peralatan dan msin budidaya Bengkel alat alat peternakan belum berkembang dengan baik 5) Obat dan pakan Sebagian bahan baku obat dan obat hewan masih diimpor Sebagian bahan baku pakan konsentrat antara lain tepung ikan masih tergantung dari bahan baku impor 6) Kesehatan Hewan Masih adanya penyakit hewan menular di Lampung antara lain SE. Analisis Lingkungan Eksternal (Peluang dan Ancaman) a. teknologi dan tatalaksana budidaya yang efisien E:\KEBIJ TEK-260405. k w . Hog Cholera.c ww w om k lic lic . Peluang 1) Mengintegrasikan usaha peternakan kedalam usaha / perusahaan pertanian.s o ft w a k e r.

10) Letak geografis Lampung yang dekat denga pasar raksasa DKI Jakarta. baik bahan baku konsentrat ataupun hijauan. Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap manfaat protein hewani bagi tubuh manusia b.doc/Datin 63 . kerbau. domba dan babi) 8) Dengan semakin baiknya pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendidikan di Lampung serta masih rendahnya konsumsi protein hewani masyarakat Lampung. Dapat dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi produksi ataupun untuk pasar ekspor 7) Ayam ras yang merupakan salah satu unggulan Lampung.s o ft w a k e r. k w . maka ini akan menjadi potensi pasar yang cukup besar 9) Dengan semakin dikenalnya Lampung sebagai salah satu Lumbung ternak Nasional dan iklim usaha yang semakin kondusip. kambing. telur dan susu. Ancaman 1) Globalisasi perdagangan 2) Euporia otonomi daerah 3) Semakin tingginya ketergantungan dan keterkaitan antar sektor 4) Adanya tuntutan efisiensi. akan menarik minat para investor untuk menanamkan modalnya dalam bidang peternakan di Lampung . KEBIJAKAN Kebijakan yang akan dilaksanakan dalam rangka pembangunan peternakan di Propinsi Lampung adalah : mencapai tujuan Kebijakan yang digunakan dalam rangka meningkatkan konsumsi protein hewani asal ternak masyarakat Lampung (Tujuan 1) . . ditunjang dengan potensi sumberdaya alam serta iklim usaha yang semakin baik.s o ft w a re 5) Pengembangan ternak kambing Boerawa yang memiliki potensi pasar di dalam dan di Luar Negeri 6) Lampung memiliki potensi bahan baku pakan yang melimpah. dan sebagai substitusi daging merah (sapi.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. juga menjadi daya tarik investasi b. STRATEGI (CARA MENCAPAI TUJUAN & SASARAN) 1. Meningkatkan produksi daging.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Banten dan Jawa Barat. kualitas dan kontinuitas produk 5) Out break penyakit flu burung dan penyakit hewan menular lainnya 6) Pengurasan populasi sapi potong dan kerbau yang diakibatkan pengeluaran yang tidak terkendali dan pemotongan ternak betina produktip 7) Ketergantungan pasokan sapi bakalan dari Australia 8) Kemungkinan terjadinya bioterorisme 9) Restrukturisasi organisasi D. dapat dirintis ulang sebagai komoditi ekspor. antara lain: a.c ww w om k lic lic . agar harganya terjangkau masyarakat E:\KEBIJ TEK-260405.

Meningkatkan kinerja aspek aspek bibit.c ww w om k lic lic . budaya dan tingkat pendidikan masyarakat. Didukung dengan organisasi yang terdesentralisasi. antara lain : a. Melakukan swastanisasi atau mengembangkan metoda pelayanan public berbasis masyarakat di bidang peternakan b. burung merpati atau yang semula fokus terhadap daging sapi (daging merah) ke daging ayam (daging putih) yang memiliki fleksibilitas yang tinggi d. Kebijakan yang digunakan dalam rangka meningkatkan produktivitas ternak (Tujuan 2). Meningkatkan pemanfaatan teknologi tepatguna bekerjasama dengan lembaga penelitian. misalnya melalui introduksi pengolahan dan penyimpanan pakan. Mengembangkan pola usaha peternakan yang efisien.2004) d. antara lain : a. Meningkatkan pengetahuan. Meningkatkan kerjasama dengan Lembaga Penelitian. efektip dan efisien c. sikap dan keterampilan peternak Kebijakan yang digunakan dalam meningkatkan kualitas pelayanan di bidang peternakan (Tujuan 3). Misalnya mengembangkan ternak kelinci. Merumuskan pedoman standar pelayanan minimal di bidang peternakan dan kesehatan hewan Kebijakan yang digunakan dalam rangka meningkatkan skala usaha peternakan (Tujuan 4). keswan tatalaksana pemeliharaan dan pengolahan produk peternakan (Tujuan 5). kemitraan dan berkelompok. efektip dan menguntungkan. oleh karena itu peningkatan koordinasi lintas sector menjadi sangat penting. pelatihan. pakan. Diversifikasi terhadap jenis produk peternakan yang biasa dikonsumsi masyarakat dengan dengan produk peternakan lain yang memiliki potensi untuk dikembangkan. reproduksi dan fisiologi ternak dan tatalaksana pemeliharaan c. perguruan tinggi dan perusahaan swasta b. kesehatan.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .s o ft w a re c. Hal lain yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan konsumsi protein hewani adalah daya beli. antara lain : a. magang dan pendampingan pemanfaatan teknologi pada pra produksi budidaya dan pasca panen E:\KEBIJ TEK-260405. k w . adalah antara lain : a.doc/Datin 64 . Kebijakan yang digunakan dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dibidang pakan reproduksi.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Meningkatkan aksesibilitas peternak / kelompok peternak kepada lembaga keuangan dan pemilik modal b. Didukung dengan adanya perubahan perilaku dari pemberi pelayanan atau mengubah sikap dan mental model (Oentarto. . murah dan mudah dilaksanakan oleh peternak b.s o ft w a k e r. Melaksanakan percontohan. Mengembangkan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan. Perguruan Tinggi dan Perusahaan Swasta c. Pengembangan pengolahan pasca panen produk produk peternakan menjadi bahan konsumsi yang menarik dan aman dikonsumsi e.

peningkatan kualitas pelayanan kesehatan hewan dan IB. Meningkatkan skala usaha dan produktivitas ternak b. optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam dan peningkatan kualitas pakan. kambing dan GPS ayam ras c.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. embryo transfer. . antara lain : a. Kebijakan yang digunakan dalam rangka meningkatkan peranan Propinsi Lampung sebagai salah satu Lumbung ternak Nasional (Tujuan 8). Menggali sumber permodalan untuk mendukung usaha peternakan yang terintegrasi dengan usaha pertanian/perkebunan/perikanan. b. Optimalisasi pemanfaatan teknologi antara lain. perkebunan dan perikanan d. Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya pakan local untuk mengganti/mengurangi ketergantungan impor bahan baku pakan.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . adalah : a. (Tujuan 9). Mendorong perusahaan swasta dibidang perkebunan/ pertanian dan agroindustri lainnya untuk membuka usaha terpadu dengan memasukan usaha peteranakan sebagai cabang atau bagian dari perusahaan intinya. antara lain : a. Mengembangkan komoditi ternak unggulan Lampung yang tidak dimiliki oleh wilayah lain antara lain ternak kambing Boer. Memberikan insentif bagi investor yang mengembangkan usahanya secara bermitra dengan masyarakat sekitar Kebijakan yang digunakan dalam rangka meningkatkan pendapatan peternak. k w . pertanian dan perikanan sebagai pakan ternak melalui pola integrasi b. c. Melakukan percepatan peningkatan populasi ternak melalui pengembangan system perbibitan. antara lain : a. Meningkatkan aksesibilitas peternak terhadap sumber permodalan dan teknologi c. c.s o ft w a re Kebijakan yang digunakan dalam rangka meningkatkan kualitas dan kontinuitas produk unggulan peternakan (Tujuan 6).doc/Datin 65 . Meningkatkan pengetahuan. Mengembangkan teknologi pengolahan dan penyimpanan pakan yang berasal dari limbah pertanian. Mengembangkan pola integrasi ternak kedalam perusahaan petani & perkebunan serta agroindustri lainnya. pengendalian pemotongan betina produktif dan pengendalian pengeluaran bibit unggul keluar Propinsi b. sikap dan keterampilan (PSK) peternak E:\KEBIJ TEK-260405. Boerawa dan penggemukan sapi eks impor d. pemda dan swasta untuk mengimpor bibit unggul terutama sapi. Memfasilitasi dan mendorong pemerintah pusat. IB. penggunaan bibit unggul. Mendorong atau bekerjasama dengan perusahaan swasta untuk memanfaatkan limbah perkebunan.c ww w om k lic lic . Kebijakan yang digunakan dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumberdaya alam (Tujuan 7).s o ft w a k e r. Mengembangangkan kawasan produk peternakan unggulan d.

E:\KEBIJ TEK-260405.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .s o ft w a k e r. Meningkatkan pangsa pasar produk produk peternakan d. PROGRAM PRIORITAS 1) Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Peternakan Sumberdaya Manusia dan a.doc/Datin 66 . untuk memperoleh manfaat yang sebesar besarnya bagi peningkatan produksi dan produktivitas ternak dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Arah Program ini diarahkan untuk menciptakan sumberdaya manusia dan kelembagaan peternakan yang tangguh dan mandiri. Tujuan a) Meningkatkan “capacity building” dari padalahan usaha pertanian/perkebunan sekaligus meningkatkan pendapatan per satuan luas lahan usaha b) Meningkatkan populasi ternak c) Meningkatkan pendapatan peternak disekitar perusahaan d) Mengembangkan usaha tani terpadu. k w . . modal dan teknplogi). 2. mampu mengoptimalkan dan mengakses sunber daya (alam. Arah Program ini diarahkan untuk mendorong perusahaan perkebunan / pertanian dan agroindustri lainnya untuk melaksanakan diversifikasi usaha bidang peternakan dan mengembangkan kemitraan dengan nilai ternak yang ada disekitar perusahaan. b. b.c ww w om k lic lic . Tujuan a) Meningkatkan profesionalisme dan produktivitas peternak dan petugas b) Meningkatkan peranan dan kualitas kelembagaan peternak dan kelembagaan lain yang mendukung pembangunan dibidang peternakan c) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak 2) Program Pengembangan Integrasi Ternak dengan Tanaman Pertanian/ Perkebunan a.s o ft w a re Mendorong tumbuhnya dan memfasilitasi kelembagaan peternak menjadi kelembagaan yang mampu berperan sebagai mediator bagi anggotanya untuk membangun usaha peternakan e.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.

Tujuan e) Mendorong percepatan peningkatan populasi ternak f) Mempertahankan stabilitas potensi Lampung sebagai lumbung ternak Nasional g) Mengembangkan potensi Lampung sebagai salah satu pusat bibit ternak sapi dan kambing h) Menyediakan daging. kuantitas dan kontinuitas pakan. utuh dan halal) f) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak E:\KEBIJ TEK-260405. pengendalian dan penolakan penyakit hewan serta peningkatan kualitas pelayanan dibidang kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet) b. Tujuan a) Meningkatkan produksi dan produktivitas ternak b) Menurunkan tingkat kematian (mortalitas) dan derajat kejadian penyakit (morbiditas) c) Meningkatkan kesehatan lingkungan budidaya d) Mencegah tejadinya penularan penyakit zoonosis dari hewan l\kepada manusia e) Meningkatkan keamanan dan kesehatan produk produk peternakan yang dikonsumsi.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Arah Program ini diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan hewan peliharaan dan ternak milik peternakan rakyat melalui upaya pencegahan. penanganan kesehatan hewan dan pengelolaan / tatalaksana budidaya b.doc/Datin 67 . sehat. .s o ft w a k e r. pengembangan kualitas. telur. Arah Program ini diarahkan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas ternak.c ww w om k lic lic . dengan mengembangkan produk yang ASUH (aman. melalui penerapan panca usaha ternak.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . susu serta produk olahannya untuk konsumsi masyarakat Lampung dalam jumlah dan kualitas yang cukup serta harga yang terjangkau i) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak 4) Program Pembinaan Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner a. yaitu penggunaan bibit unggul. pemberantasan.s o ft w a re 3) Program Peningkatan Produksi & Produktivitas Ternak a. penanganan dan penerapan teknologi reproduksi. k w .

serta dengan mengembangkan bentuk bentuk pelayanan yang berbasis masyarakat dan swastanisasi. Arah Program ini diarahkan untuk Pengembangan Kambing Boerawa yang merupakan hasil persilangan antara kambing Boer Dengan Kambing peranakan Etawa adalah membuka peluang pasar export kambing potong ke pasar Timur Tengah. pengembangan perbibitan dan pakan ternak. b. peningkatan pemberdayaan peternak dan kelompok peternak.s o ft w a re 5) Program Peningkatan Kualitas Pelayanan dibidang Peternakan a. manajemen dan akses pasar.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . partisipatip. menekan tingkat kematian dan tidak terjadinya out break penyakit hewan menular d) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak 6) Program Pengembangan agribisnis dan kemitraan peternakan a. serta meningkatkan investasi di bidang peternakan c) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak d) Mengembangkan kemitraan peternakan yang adil dan saling menguntungkan 7) Mengembangkan Ternak Kambing Boerawa a. E:\KEBIJ TEK-260405. . Tujuan a) Meningkatkan efisiensi produksi dan pemasaran hasil serta meningkatkan kualitas dan daya saing produk di pasar dalam dan luar negeri b) Menciptakan iklim yang mendorong tumbuhnya agribisnis dan agroindustri. Arah Program ini diarahkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi pedesaan. Tujuan a) Meningkatkan partisipasi dan peranan masyarakat dan swasta b) Meningkatkan tingkat keberhasilan pelayanan Inseminasi buatan c) Meningkatkan derajat kesehatan. inseminasi buatan. k w .c W C re ! tr ac C tr ac k e r.s o ft w a k e r.doc/Datin 68 . Dalam hubungan ini peranserta swasta dan badan usaha lain untuk ikut berpartisipasi mewujudkan industri peernakan yang sinergis dengan peternakan rakyat dan sumberdaya local b. terutama dalam bidang kesehatan hewan. guna memperoleh nilai tambah yang tinggi dengan masukan teknologi. penyuluhan dan pelatihan teknis.c ww w om k lic lic . Arah Program ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan public dibidang peternakan yang lebih berorientasi kepada pengguna. transparan.

s o ft w a re b. Meningkatkan konsumsi susu murni 10) Pengembangan & Pembinaan Ternak Kerbau & Aneka Ternak a. Meningkatkan kualitas SDM peternak sapi dan kambing perah 4. . Arah Program ini diarahkan untuk mengembalikan peranan ternak kerbau sebagai ternak unggulan Lampung serta mengembangkan aneka ternak sebagai komoditi substitusi untuk memenuhi kebutuhan daging. Arah Arah dari pengembangan Kambing Boerawa yang merupakan hasil persilangan antara kambing Boer Dengan Kambing peranakan Etawa adalah membuka peluang pasar export kambing potong ke pasar Timur Tengah. yang didukung dengan ketersediaan data peternakan yang akurat dan omprehenship. Meningkatkan populasi sapi dan kambing perah 5.c ww w om k lic lic . diharapkan pada umur 8 bulan dapat mencapai bobot 30 – 40 kg b) Mengembangkan kawasan pembibitan kambing Boerawa c) Meningkatkan kualitas daging kambing melalui persilangan dan perlakuan lainnya 8) Program Peningkatan kualitas data dan Perencanaan Pembangunan Peternakan a. Tujuan 1. b.s o ft w a k e r.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .doc/Datin 69 . Mengembangkan sentra – sentra peternakan sapi dan kambing perah 2. Arah Program ini diarahkan untuk mewujudkan perencanaan pembangunan peternakan yang akuntabel.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Tujuan a) Meningkatkan bobot kambing potong. k w . Meningkatkan kualitas budidaya peternakan sapi dan kambing perah 3. E:\KEBIJ TEK-260405. b. Tujuan a) Meningkatkan kualitas data peternakan yaitu data yang memenuhi criteria akurat. komprehenship dan tepat waktu b) Meningkatkan kualitas pelayanan penyediaan data dan informasi bidang peternakan c) Meningkatkan kualitas perencanaan dan proses pelaksanaan pembangunan peternakan 9) Program Pengembangan Ternak Perah a.

Lomba Kelompok Peternak INDIKATOR KINERJA oTerpilihnya juara 1. E.c ww w om k lic lic . Program Aksi & Indikator Kinerja Tahun 2005 PROGRAM PRIORITAS 1. Penerima bantuan mesin pakan 6. Peningkatan kualitas SDM dan kelembagaan peternakan PROGRAM AKSI TAHUN 2005 1. MATRIKS PROGRAM PRIORITAS. Pemberantasan dan pengendalian penyakit Flu Burung 2. Pembinaan dan pelayanan kesehatan masyarakat veteriner E:\KEBIJ TEK-260405. Pemberantasan. Tujuan a) Meningkatkan populasi & produksi ternak kerbau b) Meningkatkan peranan aneka ternak dan unggas dalam memenuhi kebutuhan daging dan telur c) Mengembangkan komoditi aneka ternak sebagai alternative usaha dibidang peternakan. o± 450 anggota kelp dan ±1500 anggota kelp lainnya termotipasi u/ meningkatkan kualitas usahanya Peternak peserta magang 20 orang PPL peserta pelatihan 50 orang Dikenalnya produk unggulan pet. Pembinaan Kesehatan Hewan dan kesehatan masyarakat veteriner 1. budidaya. . Penerima integrasi 5. yang terdiri dari 5 jenis & dapat menjadi contoh. pengelola keuangan) o Tidak terjadi out break penyakit flu burung o Masy memahami dan terampil cara pengend & penolakan peny.s o ft w a k e r. PROGRAM AKSI DAN INDIKATOR KINERJA TAHUN 2005 – 2009 1.s o ft w a re b. Pembinaan kampong tua 2. k w . Magang dan pelatihan penyuluh pertanian (PPL) 3. Pemberantasan.doc/Datin 70 . (kelembagaan Adm. flu burung Tdk terjadi out break penyakit hewan menular di Lampung Kerugian peternak dapat dihindari Menurunnya kasus gigitan oleh hewan penular rabies Masyarakat merasa aman mengkonsumsi produk peternakan (daging. Program Prioritas.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Pembinaan klp. Promosi dan sosialisasi produk unggulan peternakan 4. Pet.2 dan 3 lomba kelompok.Lampung Meningkatnya kualitas keg. pengendalian dan penolakan penyakit hewan menular pada ternak 3. pengendalian dan penolakan penyakit rabies 4. Lampung oleh Masyarakat Meningkatnya pangsa pasar produk unggulan pet. telur susu) Menurunnya kasus penularan penyakit zoonosis 2.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Pembinaan klp pet.

kualitas pakan serta pengemb. k w . Pelayanan redistribusi dan penjualan ternak tidak layak bibit asset pemda Propinsi . realistis dan meng- 2. Pembuatan mani beku di IPMB Terbanggi Besar 3.000 dosis dan Kambing 10.Pembinaan teknis adm. Menghasilkan bibit kambing Boer. yang akuntabel. Gaduhan ternak asset Pem.39 % dan CR 80% Tersedia publikasi data dalam bentuk buku statistic. Penyusunan perencanaan 2006. 8 Kab.Kab. tertib pengelolaan adm gaduhan ternak Covering pelay.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. PE & Saanen yg berkualitas sebanyak 18 ekor Menghasilkan pejantan unggul untuk diambil maninya sebanyak 2 ekor Mengasilkan bibit sapi bali unggul 7 ekor/tahun Menghasilkan pejantan sapi bali untuk diambil maninya sebanyak 2 ekor Tertib laporan. Pembin. Pet. ayam buras dan itik.Lokasi 100 Desa .Lampung . buku saku.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .Kec. Peningkatan produksi dan produktivitas ternak 1.c ww w om k lic lic . sikap dan keterampilan (PSK) peternak dalam mengelola dan memanfaatkan pakan & kompos o Berkembangnya pemanfaatan limbah pertanian/ perkebunan dan perikanan untuk pakan & kotoran untuk pupuk tanaman o Tumbuhnya minat perusahaan swasta/agroindustri untuk mengemb. Produksi mani beku sapi 35. Boerawa.s o ft w a re 3. . Prop. Berkembangnya jenis jenis ternak bibit hasil silangan. Gaduhan ternak asset Pemerintah Propinsi Lampung 5. Pengembangan perbibitan ternak Terwujudnya klpk klpk VBC sapi kambing. IB meningkat 5% S/C 1. Peningkatan kualitas pelayanan di bidang peternakan 1. integrasi ternak dgn tanaman pertanian / perkebunan 4. & peningk. Pengembangan perbibitan Kambing di IPKU Negeri Sakti 6. 66 Kec . usaha Peternakan secara terpadu Terealisasinya : Ternak setoran layak bbt 100 ekor Revolving 100 ekor Jmlh penggaduh baru 100 KK Terbinanya teknis adm.doc/Datin 71 . pengumpulan dan pengolahan data 2005 serta Pemantauan dan Evaluasi E:\KEBIJ TEK-260405. Pembinaan dan pengawasan pengemb perbibitan ternak pemerintah 4. di kelompok peternak Meningkatnya produk ternak bibit. Peningkatan kualitas pelayanan Inseminasi Buatan dan kesehatan hewan 2.000 dosis Meningkatnya performan IPMB Terbanggi besar o Meningkatnya pengetahuan. dan situs internet Up dating data di web site berjalan dengan baik Tersusunnya perencanaan pemb. Pengembangan perbibitan ternak sapi bali di IPSB Campang Tiga 7.s o ft w a k e r.

k w . Penyusunan perencanaan pemb. Pet tahun 2006 yang akuntabel. Pngemb. agribisnis peternakan 1.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Penyusunan dan sosialisasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang peternakan 5. peternak dapat nilai tambah Percontohan pabrik pakan 2 unit Tersusun dan terpublikasikan nya data pemb. Pemb. dgn baik (tepat waktu. realistis dan akomodatif Kegiatan pemb.c ww w om k lic lic . jerami padi Terbangunnya 2 unit pabrik pakan ternak di kelpk peternak Harga pakan lebih murah. dapat di laks. Demplot pabrik pakan ternak SPM yang telah disusun difahami dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Tersusunnya SPM bidang tertentu Termanfaatkannya limbah tanaman pisang untuk pakan Identifikasi tanaman tebu. Monitoring dan Pengendalian E:\KEBIJ TEK-260405. 1. Pemb. Pembinaan dan pengembangan ternak dengan pola integrasi 2. mutu sasaran) 6.s o ft w a re akomodasi aspirasi & peran serta masy 3.pet. Pengolahan dan publikasi data 2.s o ft w a k e r. peternakan tahun 2006 3. Peningkatan kualitas data & perenc. . Pet.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Pengumpulan.doc/Datin 72 . Peternakan Tersusunnya perenc.

Pemb. Peningkatan produksi dan produktivitas ternak 1. Kelp. Kambing. 8. k w . 4. Peternak Kampung Tua 7. Pembuatan mani beku di IPMB Terbanggi Besar 3. Latihan petugas IB.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . kelinci Berkembangnya jenis jenis ternak bibit hasil silangan. yang terdiri dari 5 jenis o± 450 anggota kelp dan ±1500 anggota kelp lainnya termotipasi u/ meningkatkan kualitas usahanya Peternak peserta magang 20 orang PPL peserta pelatihan 50 orang Meningkatnya kualitas pelayan bidang pet di tingkat Kecamatan (50 Kec) Dikenalnya produk unggulan peternakan Lampung oleh Masyarakat Meningkatnya pangsa pasar produk unggulan peternakan Lampung Konsepsi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan dikenal masy.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. ayam buras dan itik. kambing. Pengembangan Integ.pisang. pertanian dan Perikanan. Demplot pola integrasi sapi pada usaha tani padi 5.2 dan 3 lomba kelompok. Pengembangan pejantan unggul (Sapi. Demplot pola integrasi ternak kamb. Tersedia leaflet (10. domba. lada dan singkong.s o ft w a re 2.Sakti & Campang Tiga 3. Ternak 1. Ayam Buras. Demplot pola integrasi sapi dengan perkebunan tebu (Pengelolaan pucuk tebu) 3. Neg.000 dosis 2. Latihan pengolah produk pet.s o ft w a k e r.000 Exp) Proposal pola integrasi. Latihan petugas & pengawasan Kesmavet 4. di kelompok peternak Meningkatnya produksi ternak bibit Produksi mani beku sapi 40. 2. 2. sapi – padi • Meningkatkan PSK Peternak dapat menarik minat swasta untuk mengembangkan pola integrasi. 2. Pada usaha tani padi 3. Lomba Kelompok Peternak INDIKATOR KINERJA oTerpilihnya juara 1.000 dosis dan Kambing 10. Sosialisasi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan. Kontes Ternak 6.doc/Datin 73 . . Latihan teknis bagi petugas.c ww w om k lic lic . Program Prioritas. Peningkatan kualitas SDM dan kelembagaan peternakan PROGRAM AKSI TAHUN 2006 1. KCD & PPL 5. Demplot pola integrasi ternak kambing pola perkebunan coklat/kopi. • Tersedia demplot pola integrasi sapi – tebu. Pengembangan perbibitan ternak (Sapi. sapi.Kambing. Itik) • • • Terwujudnya klpk klpk VBC sapi. Pelatihan Teknis Pet. entok.Kerbau) di IPMB • • • Sapi pejantan unggul 5 ekor Kerbau pejantan 2 ekor Kambing pejantan Boer 20 ekor E:\KEBIJ TEK-260405. Dari swasta. Program Aksi & Indikator Kinerja Tahun 2006 PROGRAM PRIORITAS 1.

Pembinaan & peningkatan kualitas pakan o Kualitas pakan yang diberikan • Demplot pakan seimbang ditingkat peternakan setempat • Pengembangan Pabrik pakan mini o Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya • Demplot peternak sillase pakan local. Pembinaan Kesehatan Hewan dan kesehatan masyarakat veteriner 4. kate dan pelung Terjaringnya kambing pejantan boerawa yang berkualitas Produksi susu kambing 500 lt/th Menghasilkan pejantan unggul 5 ekr Prod. • Demplot pembuatan specimen o Kontinuitas pakan terjamin wafer/hay jerami • Demplot pengolahan kepala udang • Gerakan penanaman HPT • Inventarisasi & Publikasi bahan baku pakan lokal • Demplot pembuatan pakan lengkap. Kambing perah.c ww w om k lic lic .Lokasi 182 Desa . Pengemb.Boerawa 2. • Pengemb. 7. Pelayanan redistribusi dan seleksi ternak bibit asset pemerintah. Ternak 1. Pengadaan bibit kambing Boer Kamb. Ayam di IPKU Negeri Sakti • Penyebaran & Penjaringan Kambing Boerawa. Pengembangan instalasi pembibitan kambing IPKU Negeri Sakti 3. Pemberantasan dan pengendalian penyakit Flu Burung • Penyusunan pedoman/system pengend. AI. Lampung pada : . Fasilitas pet. Terealisasinya : Ternak setoran layak bbt 110 ekor Revolving 110 ekor Jmlh penggaduh baru 110 KK Terbinanya ternak asset Pem. & Pemberant.000 stek v Tersedianya bibit unggul kamb. Tdk terjadi out break penyakit hewan menular di Lampung Kerugian peternak dapat dihindari Menurunnya kasus gigitan oleh hewan penular rabies E:\KEBIJ TEK-260405. pengendalian dan penolakan penyakit hewan menular pada ternak 6. & pemberantasan AI • Sosialisasi • Vaksinasi dan Pengobatan 5. 5.Kab. Memahami & terus berperan serta dlm pengend. Boer v Berkembangnya sentra bibit kambing unggul o Terbangunnya system pengend. Pengadaan Kambing Betina Induk 5. . 4. Prop. 8 Kab 6. & Pemberantasan AI & ND o Out Break AI dpt diantisifasi o Masy.s o ft w a re 4. 66 Kec . k w . Pengembangan perbibitan Kambing & unggas di IPKU Negeri Sakti • Pemb. Pengembangan perbibitan ternak sapi bali di IPSB Campang Tiga • Penyusunan pedoman/system pengend & pemberantasan AI • Pembibitan HMT • Pengujian Bibit ternak.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. pengendalian dan penolakan penyakit rabies Produksi bibit ayam cemani. Pemberantasan.Kec.doc/Datin 74 .s o ft w a k e r. HMT 1000.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Pemberantasan.

zoonosis Jumlah & Kualitas kemitraan peternak meningkat Meningkatnya aksesibiliotas peternak kepada sumber-sumber pembiayaan usaha. & Pembinaan kemityraan peternakan (Sapi. Peningkatan kualitas pelayanan IB kualitas pelay di • Pedoman. Revisi Perda No.s o ft w a re 7. Peningkatan 4. Sosialisasi minum susu sapi dan kambing 8. Sosialisasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang peternakan 8. realistis dan akomodatif 5. Penyusunan perencanaan pemb. Meningkat Perda pengganti lebih baik.s o ft w a k e r. Peningkatan kualitas kesehatan hewan dan kesmavet 6. adm gaduhan ternak Meningkatkan produksi susu sapi dan kambing Meningkatnya minat masyarakat untuk minum susu sapi dan susu kambing Covering pelayanan IB meningkat 5% S/C 1. Masy.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. perbibitan ternak pemerintah 7. Pengemb. • Tertib laporan. tertib pengel. Pengembangan Ternak Perah 1. Sosialisasi dan pelayanan kesehatan masyarakat veteriner 6.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Promosi dan sosialisasi produk & potensi unggulan peternakan. peternakan tahun 2007 E:\KEBIJ TEK-260405. Pembinaan. Pet. (daging. k w . Pengembangan ternak kambing perah di Gedong Tataan Kab. . Pemb. pencegahan & pemb. Skala usaha meningkat • Tumbuhan LKM di tingkat kelp. bibit pet. Dukungan terhadap peternakan sapi perah di Gisting Kab. Pengumpulan. Ayam Ras & Kambing) 2. Di Lamp. Peningkatan kualitas data & perenc. 1. 9. sosialisasi.39 % dan CR 80% Meningkatnya peran serta masy dan swasta dalam yan kes wan Mortalitas & morbiditas menurun • Terbangunnya 1 – 2 unit pos pelay.doc/Datin 75 . Dikenal terutama oleh pihak investor. Pengemb. Pet tahun 2007 yang akuntabel. Pngembangan agribisnis peternakan 1. LS & KBL 3. straw dan alat IB 5. • Optimalnya peran KKMB • Produk pet. SPM yang telah disusun difahami dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Tersusunnya SPM bidang tertentu • • Pelayanan. 1 Tahun 1977. Pengembangan Pos Pelayanan Keswan 7. Tersusun dan terpublikasikan nya data pemb. Lembaga keuangan Mikro (LKM) & pembinaan KKMB 4. Pengolahan dan publikasi data 2. Pengembangan UKM dan peningk skala usaha peternakan melalui pembiayaan Perbankan 3. Unggulan Lampung semakin dikenal • Potensi pengemb. telur susu) Menurunnya kasus penularan peny. Pemb. Pembinaan & pengawasan pengemb. Pet.c ww w om k lic lic . Peternakan Tersusunnya perenc. penyediaan bidang pet. Tanggamus 2. merasa aman mengkonsumsi produk pet.

E:\KEBIJ TEK-260405.s o ft w a k e r.c ww w om k lic lic .doc/Datin 76 . Pengemb. Ternak kerbau kerbau & aneka 2. mutu sasaran) Meningkatnya produktivitas ternak kerbau melalui Inseminasi Buatan Berkembangnya aneka ternak di IPKU di Negeri Sakti.pet.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . dapat di laksanakan dengan baik (tepat waktu. k w .s o ft w a re 3. Dan 1. Pembinaan dan introduksi IB pada Pembin. Monitoring dan Pengendalian 10. Pengembangan aneka ternak IPKU di ternak Negeri Sakti Kegiatan pemb.

Pemb. Demplot pola integrasi sapi dengan perkebunan tebu (Pengelolaan pucuk tebu) 3. domba.s o ft w a k e r. Latihan teknis bagi petugas.000 dosis 3. Pembinaan & peningkatan kualitas pakan • Demplot pakan seimbang o Kualitas pakan yang diberikan ditingkat E:\KEBIJ TEK-260405.s o ft w a re 3.c ww w om k lic lic . Lomba Kelompok Peternak INDIKATOR KINERJA oTerpilihnya juara 1.pisang. pertanian dan Perikanan.doc/Datin 77 . Kelp. Pengembangan perbibitan ternak 2. Program Prioritas. . Sosialisasi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan. Kontes Ternak 6. (Sapi.000 Exp) Proposal pola integrasi. Peningkatan produksi dan produktivitas ternak 1. kambing. Demplot pola integrasi sapi pada usaha tani padi 5. Peningkatan kualitas SDM dan kelembagaan peternakan PROGRAM AKSI TAHUN 2007 1. entok. Neg. ayam buras dan itik. Latihan pengolah produk pet. 2. • Tersedia demplot pola integrasi sapi – tebu. Tersedia leaflet (10.Kerbau) di IPMB • • • Sapi pejantan unggul 5 ekor Kerbau pejantan 2 ekor Kambing pejantan Boer 20 ekor 6. Demplot pola integrasi ternak kambing pola perkebunan coklat/kopi. Pembuatan mani beku di IPMB Terbanggi Besar 4. Latihan petugas IB. Pelatihan Teknis Pet. Pengembangan pejantan unggul (Sapi.2 dan 3 lomba kelompok.Kambing. Kambing. 8. Ayam Buras. Ternak 1. KCD & PPL 5. Latihan petugas & pengawasan Kesmavet 4. Peternak Kampung Tua 7. yang terdiri dari 5 jenis o± 450 anggota kelp dan ±1500 anggota kelp lainnya termotipasi u/ meningkatkan kualitas usahanya Peternak peserta magang 20 orang PPL peserta pelatihan 50 orang Meningkatnya kualitas pelayan bidang pet di tingkat Kecamatan (50 Kec) Dikenalnya produk unggulan peternakan Lampung oleh Masyarakat Meningkatnya pangsa pasar produk unggulan peternakan Lampung Konsepsi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan dikenal masy. Pengembangan Integ. lada dan singkong. 4. Itik) • • • Terwujudnya klpk klpk VBC sapi.Sakti & Campang Tiga 3. Demplot pola integrasi ternak kamb.000 dosis dan Kambing 10. k w . Pada usaha tani padi 3. sapi. 2.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Meningkatnya produksi ternak bibit Produksi mani beku sapi 40. Program Aksi & Indikator Kinerja Tahun 2007 PROGRAM PRIORITAS 1. 2. di kelompok pet. sapi – padi • Meningkatkan PSK Peternak dapat menarik minat swasta untuk mengembangkan pola integrasi. Dari swasta.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . kelinci Berkembangnya jenis jenis ternak bibit hasil silangan.

Pembinaan. Pengadaan bibit kambing Boer Kamb. AI. Pengembangan instalasi pembibitan kambing IPKU Negeri Sakti 3. Ternak 1.Kec. HMT 1000. kate dan pelung Terjaringnya kambing pejantan boerawa yang berkualitas Produksi susu kambing 500 lt/th Menghasilkan pejantan unggul 5 ekr Prod. & Pemberantasan AI & ND o Out Break AI dpt diantisifasi o Masy.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.s o ft w a re • • • • • • • peternakan setempat Pengembangan Pabrik pakan mini o Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya Demplot peternak sillase pakan local. 8 Kab 8.Boerawa 2. • Pengemb. 4. Demplot pembuatan specimen o Kontinuitas pakan terjamin wafer/hay jerami Demplot pengolahan kepala udang Gerakan penanaman HPT Inventarisasi & Publikasi bahan baku pakan lokal Demplot pembuatan pakan lengkap. Boer v Berkembangnya sentra bibit kambing unggul o Terbangunnya system pengend. .s o ft w a k e r. Prop. telur susu) E:\KEBIJ TEK-260405. Pengadaan Kambing Betina Induk 5.Kab. Pemberantasan. Kambing perah. Tdk terjadi out break penyakit hewan menular di Lampung Kerugian peternak dapat dihindari Menurunnya kasus gigitan oleh hewan penular rabies Masy. Revolving 110 ekor Jmlh penggaduh baru 110 KK Terbinanya ternak asset Pem. Memahami & terus berperan serta dlm pengend. 9. pengendalian dan penolakan penyakit rabies 4. merasa aman mengkonsumsi produk pet. 7. pengendalian dan penolakan penyakit hewan menular pada ternak 3. & pemberantasan AI • Sosialisasi • Vaksinasi dan Pengobatan 2. Pengemb. Pengembangan perbibitan Kambing & unggas di IPKU Negeri Sakti • Pemb.Lokasi 182 Desa . Pemberantasan dan pengendalian penyakit Flu Burung • Penyusunan pedoman/system pengend. Pembinaan Kesehatan Hewan dan kesehatan masyarakat veteriner 1. Sosialisasi dan pelayanan kesehatan masyarakat veteriner Produksi bibit ayam cemani. Fasilitas pet. Pengembangan perbibitan ternak sapi bali di IPSB Campang Tiga • Penyusunan pedoman/system pengend & pemberantasan AI • Pembibitan HMT • Pengujian Bibit ternak. Pemberantasan.c ww w om k lic lic . Ayam di IPKU Negeri Sakti • Penyebaran & Penjaringan Kambing Boerawa. Lampung pada : .doc/Datin 78 .000 stek v Tersedianya bibit unggul kamb. 66 Kec . Pelayanan redistribusi dan seleksi ternak Terealisasinya : Ternak setoran layak bbt 110 ekor bibit asset pemerintah.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . & Pemberant. k w . (daging.

PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . • Optimalnya peran KKMB • Produk pet. Peningkatan kualitas pelayanan IB kualitas pelay di • Pedoman. Pengolahan dan publikasi Tersusun dan terpublikasikan nya data kualitas data & data pemb. Pemb. Pembinaan dan introduksi IB pada Meningkatnya produktivitas ternak Pembin. Pengembangan ternak kambing perah di Gedong Tataan Kab. 2. & Pembinaan kemityraan peternakan (Sapi. Pemb. Pengemb.s o ft w a re 6. tertib pengel. Dukungan terhadap peternakan sapi perah di Gisting Kab. Ternak kerbau kerbau melalui Inseminasi Buatan kerbau & aneka 4. perbibitan ternak pemerintah 1. . Tersusunnya perenc. 4. dapat di laksanakan dengan baik (tepat waktu. Meningkat • Perda pengganti lebih baik. straw dan alat IB 2. 7. Peningkatan 1. zoonosis Jumlah & Kualitas kemitraan peternak meningkat Meningkatnya aksesibiliotas peternak kepada sumber-sumber pembiayaan usaha. 2.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Unggulan Lampung semakin dikenal • Potensi pengemb. Peningkatan 1. Sosialisasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang peternakan 5. Tanggamus 2. bibit pet.c ww w om k lic lic . 5. Sosialisasi minum susu sapi dan kambing 8. 2008 Pet. Penyusunan perencanaan pemb. Lembaga keuangan Mikro (LKM) & pembinaan KKMB Promosi dan sosialisasi produk & potensi unggulan peternakan. Revisi Perda No.s o ft w a k e r. k w . Dikenal terutama oleh pihak investor. Peningkatan kualitas kesehatan hewan dan kesmavet 3. Pengembangan Pos Pelayanan Kesehatan Hewan 4. Pengemb. Pengembangan Ternak Perah Pembinaan & pengawasan pengemb.pet. 9. Di Lamp. Monitoring dan Pengendalian Kegiatan pemb. LS & KBL 3. penyediaan bidang pet. Pet th. sosialisasi. pencegahan & pemb. Pet. adm gaduhan ternak Meningkatkan produksi susu sapi dan kambing Meningkatnya minat masyarakat untuk minum susu sapi dan susu kambing Covering pelayanan IB meningkat 5% S/C 1. Pngembangan agribisnis peternakan 1. Pengembangan aneka ternak IPKU di Berkembangnya aneka ternak di IPKU ternak Negeri Sakti di Negeri Sakti. Skala usaha meningkat • Tumbuhan LKM di tingkat kelp. Pengumpulan.doc/Datin 79 . Pelayanan. realistis dan akomodatif 3. Dan 3. 1 Tahun 1977. • Tertib laporan. Peternakan perenc. Menurunnya kasus penularan peny. E:\KEBIJ TEK-260405. peternakan tahun 2008 yang akuntabel. Ayam Ras & Kamb) Pengembangan UKM dan peningk skala usaha peternakan melalui pembiayaan Perbankan Pengemb. mutu sasaran) 10.39 % dan CR 80% Meningkatnya peran serta masy dan swasta dalam yan kes wan Mortalitas & morbiditas menurun • Terbangunnya 1 – 2 unit pos pelayanan SPM yang telah disusun difahami dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Tersusunnya SPM bidang tertentu • 3.

Program Aksi & Indikator Kinerja Tahun 2008 PROGRAM PRIORITAS 1. Demplot pola integrasi ternak kambing pola perkebunan coklat/kopi.2 dan 3 lomba kelompok. Demplot pola integrasi sapi dengan perkebunan tebu (Pengelolaan pucuk tebu) 3. Sosialisasi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan. Ternak 1. Pengembangan pejantan unggul (Sapi.Kambing.s o ft w a re 4. Dari swasta. entok.c ww w om k lic lic . Latihan pengolah produk pet. Kontes Ternak 6. 4. Itik) • • • Terwujudnya klpk klpk VBC sapi.000 dosis dan Kambing 10. di kelompok peternak Meningkatnya produksi ternak bibit Produksi mani beku sapi 40. Pada usaha tani padi 3.pisang. 2. kambing.doc/Datin 80 . Pengembangan perbibitan ternak 2. Kambing. • Tersedia demplot pola integrasi sapi – tebu. pertanian dan Perikanan. KCD & PPL 5. domba. Tersedia leaflet (10. Pengembangan Integ. Kelp. (Sapi. Pembuatan mani beku di IPMB Terbanggi Besar 4.Sakti & Campang Tiga 3. Latihan petugas IB. sapi. ayam buras dan itik. Peningkatan kualitas SDM dan kelembagaan peternakan PROGRAM AKSI TAHUN 2008 1. 2. Latihan petugas & pengawasan Kesmavet 4. Demplot pola integrasi sapi pada usaha tani padi 5. Peningkatan produksi dan produktivitas ternak 1. lada dan singkong. Pemb. Ayam Buras. Demplot pola integrasi ternak kamb. yang terdiri dari 5 jenis o± 450 anggota kelp dan ±1500 anggota kelp lainnya termotipasi u/ meningkatkan kualitas usahanya Peternak peserta magang 20 orang PPL peserta pelatihan 50 orang Meningkatnya kualitas pelayan bidang pet di tingkat Kecamatan (50 Kec) Dikenalnya produk unggulan peternakan Lampung oleh Masyarakat Meningkatnya pangsa pasar produk unggulan peternakan Lampung Konsepsi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan dikenal masy. 2.s o ft w a k e r. sapi – padi • Meningkatkan PSK Peternak dapat menarik minat swasta untuk mengembangkan pola integrasi. .c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Neg. 8.000 Exp) Proposal pola integrasi. Lomba Kelompok Peternak INDIKATOR KINERJA oTerpilihnya juara 1. k w .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Pelatihan Teknis Pet. Peternak Kampung Tua 7. Latihan teknis bagi petugas. kelinci Berkembangnya jenis jenis ternak bibit hasil silangan.Kerbau) di IPMB • • • Sapi pejantan unggul 5 ekor Kerbau pejantan 2 ekor Kambing pejantan Boer 20 ekor E:\KEBIJ TEK-260405.000 dosis 3. Program Prioritas.

.Kab. 3. Fasilitas pet. pengendalian dan penolakan penyakit hewan menular pada ternak 3. Boer v Berkembangnya sentra bibit kambing unggul 1. & Pemberantasan AI & ND o Out Break AI dpt diantisifasi o Masy. HMT 1000. Lampung pada : . Prop.s o ft w a k e r. Pemberantasan.Boerawa 2. Pelayanan redistribusi dan seleksi ternak bibit asset pemerintah.Lokasi 182 Desa . Pengembangan perbibitan ternak sapi bali di IPSB Campang Tiga • Penyusunan pedoman/system pengend & pemberantasan AI • Pembibitan HMT • Pengujian Bibit ternak.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Ayam di IPKU Negeri Sakti • Penyebaran & Penjaringan Kambing Boerawa. • Demplot pembuatan specimen o Kontinuitas pakan terjamin wafer/hay jerami • Demplot pengolahan kepala udang • Gerakan penanaman HPT • Inventarisasi & Publikasi bahan baku pakan lokal • Demplot pembuatan pakan lengkap. kualitas pakan o Kualitas pakan yang diberikan • Demplot pakan seimbang ditingkat peternakan setempat • Pengembangan Pabrik pakan mini o Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya • Demplot peternak sillase pakan local. Pemberantasan.000 stek v Tersedianya bibit unggul kamb. Terealisasinya : Ternak setoran layak bbt 110 ekor Revolving 110 ekor Jmlh penggaduh baru 110 KK Terbinanya ternak asset Pem. Pengembangan perbibitan Kambing & unggas di IPKU Negeri Sakti • Pemb. Pembinaan Kesehatan Hewan dan kesehatan masyarakat veteriner Pengadaan bibit kambing Boer Pengembangan instalasi pembibitan kambing IPKU Negeri Sakti Pengadaan KambingBetina Induk Menghasilkan pejantan unggul 5 ekr Prod.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. 11. & Pemberant. Memahami & terus berperan serta dlm pengend. • Pengemb. AI.s o ft w a re 10. Pengemb. pengendalian dan penolakan penyakit rabies o Terbangunnya system pengend. Tdk terjadi out break penyakit hewan menular di Lampung Kerugian peternak dapat dihindari Menurunnya kasus gigitan oleh hewan penular rabies E:\KEBIJ TEK-260405. 13. Kambing perah.doc/Datin 81 .c ww w om k lic lic . kate dan pelung Terjaringnya kambing pejantan boerawa yang berkualitas Produksi susu kambing 500 lt/th 12.Kec. & pemberantasan AI • Sosialisasi • Vaksinasi dan Pengobatan 2. 5. k w . Kamb. Ternak 1. 4. 8 Kab Produksi bibit ayam cemani. Pembinaan & peningk. 66 Kec . Pemberantasan dan pengendalian penyakit Flu Burung • Penyusunan pedoman/system pengend.

PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

4. Pembinaan, Sosialisasi dan pelayanan kesehatan masyarakat veteriner

Masy. merasa aman mengkonsumsi produk pet. (daging, telur susu) Menurunnya kasus penularan peny. Zoonosis Jumlah & Kualitas kemitraan peternak meningkat Meningkatnya aksesibiliotas peternak kepada sumber-sumber pembiayaan usaha. Skala usaha meningkat • Tumbuhan LKM di tingkat kelp. • Optimalnya peran KKMB • Produk pet. Unggulan Lampung semakin dikenal • Potensi pengemb. Pet. Di Lamp. Dikenal terutama oleh pihak investor. • Tertib laporan, tertib pengel. adm gaduhan ternak Meningkatkan produksi susu sapi dan kambing Meningkatnya minat masyarakat untuk minum susu sapi dan susu kambing Covering pelayanan IB meningkat 5% S/C 1,39 % dan CR 80% Meningkatnya peran serta masy dan swasta dalam yan kes wan Mortalitas & morbiditas menurun • Terbangunnya 1 – 2 unit pos pelayanan SPM yang telah disusun difahami dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Tersusunnya SPM bidang tertentu •

6. Pngembangan agribisnis peternakan

1. Pengemb. & Pembinaan kemityraan peternakan (Sapi, Ayam Ras & Kamb) 2. Pengembangan UKM dan peningk skala usaha peternakan melalui pembiayaan Perbankan 3. Pengemb. Lembaga keuangan Mikro (LKM) & pembinaan KKMB 4. Promosi dan sosialisasi produk & potensi unggulan peternakan.

5. Pembinaan & pengawasan pengemb. perbibitan ternak pemerintah 7. Pengembangan Ternak Perah 1. Dukungan terhadap peternakan sapi perah di Gisting Kab. Tanggamus 2. Pengembangan ternak kambing perah di Gedong Tataan Kab. LS & KBL 3. Sosialisasi minum susu sapi dan kamb. 8. Peningkatan 1. Peningkatan kualitas pelayanan IB kualitas pelay di • Pedoman, sosialisasi, penyediaan bidang pet. straw dan alat IB 2. Peningkatan kualitas kesehatan hewan dan kesmavet 3. Pengembangan Pos Pelayanan Kesehatan Hewan 4. Sosialisasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang peternakan

5. Revisi Perda No. 1 Tahun 1977.

9. Peningkatan kualitas data & perenc. Pemb. Pet.

Pelayanan, pencegahan & pemb. bibit pet. Meningkat • Perda pengganti lebih baik. 1. Pengumpulan, Pengolahan dan publikasi Tersusun dan terpublikasikan nya data data pemb. Peternakan 2. Penyusunan perencanaan pemb. Tersusunnya perenc. Pemb. Pet tahun peternakan tahun 2009 2009 yang akuntabel, realistis dan akomodatif

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

82

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

3. Monitoring dan Pengendalian 10. Pengemb. Dan 1. Pembinaan dan introduksi IB pada Pembin. Ternak kerbau kerbau & aneka 2. Pengembangan aneka ternak IPKU di ternak Negeri Sakti

Kegiatan pemb.pet. dapat di laksanakan dengan baik (tepat waktu, mutu sasaran) Meningkatnya produktivitas ternak kerbau melalui Inseminasi Buatan Berkembangnya aneka ternak di IPKU di Negeri Sakti.

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

83

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

5. Program Prioritas, Program Aksi & Indikator Kinerja Tahun 2009
PROGRAM PRIORITAS
1. Peningkatan kualitas SDM dan kelembagaan peternakan

PROGRAM AKSI TAHUN 2009
1. Lomba Kelompok Peternak

INDIKATOR KINERJA
oTerpilihnya juara 1,2 dan 3 lomba kelompok, yang terdiri dari 5 jenis o± 450 anggota kelp dan ±1500 anggota kelp lainnya termotipasi u/ meningkatkan kualitas usahanya Peternak peserta magang 20 orang PPL peserta pelatihan 50 orang Meningkatnya kualitas pelayan bid. pet di tingkat Kecamatan (50 Kec) Dikenalnya produk unggulan peternakan Lampung oleh Masyarakat Meningkatnya pangsa pasar produk unggulan peternakan Lampung Konsepsi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan dikenal masy. Dari swasta. Tersedia leaflet (10.000 Exp) Proposal pola integrasi. • Tersedia demplot pola integrasi sapi – tebu, sapi- pisang, sapi – padi • Meningkatkan PSK Peternak dapat menarik minat swasta untuk mengembangkan pola integrasi.

2. Latihan petugas IB, Neg.Sakti & Campang Tiga 3. Latihan petugas & pengawasan Kesmavet 4. Pelatihan Teknis Pet. KCD & PPL 5. Kontes Ternak 6. Pemb. Kelp. Peternak Kampung Tua 7. Latihan pengolah produk pet. 8. Latihan teknis bagi petugas. 2. Pengembangan Integ. Ternak 1. Sosialisasi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan, pertanian dan Perikanan.

2. Demplot pola integrasi sapi dengan perkebunan tebu (Pengelolaan pucuk tebu) 3. Demplot pola integrasi ternak kambing pola perkebunan coklat/kopi, lada dan singkong. 4. Demplot pola integrasi sapi pada usaha tani padi 5. Demplot pola integrasi ternak kamb. Pada usaha tani padi 3. Peningkatan produksi dan produktivitas ternak 1. Pengembangan perbibitan ternak 2. (Sapi, Kambing, Ayam Buras, Itik)

• • •

Terwujudnya klpk klpk VBC sapi, kambing, ayam buras dan itik, entok, domba, kelinci Berkembangnya jenis jenis ternak bibit hasil silangan, di kelompok peternak Meningkatnya produksi ternak bibit Produksi mani beku sapi 40.000 dosis dan Kambing 10.000 dosis

3. Pembuatan mani beku di IPMB Terbanggi Besar 4. Pengembangan pejantan unggul (Sapi,Kambing,Kerbau) di IPMB • • •

Sapi pejantan unggul 5 ekor Kerbau pejantan 2 ekor Kambing pejantan Boer 20 ekor

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

84

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

5. Pembinaan & peningkatan kualitas pakan o Kualitas pakan yang diberikan • Demplot pakan seimbang ditingkat peternakan setempat • Pengembangan Pabrik pakan mini o Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya • Demplot peternak sillase pakan local. • Demplot pembuatan specimen o Kontinuitas pakan terjamin wafer/hay jerami • Demplot pengolahan kepala udang • Gerakan penanaman HPT • Inventarisasi & Publikasi bahan baku pakan lokal • Demplot pembuatan pakan lengkap. Terealisasinya : 6. Pelayanan redistribusi dan seleksi ternak Ternak setoran layak bbt 110 ekor bibit asset pemerintah. Revolving 110 ekor Jmlh penggaduh baru 110 KK Terbinanya ternak asset Pem. Prop. Lampung pada : - Lokasi 182 Desa - Kec. 66 Kec - Kab. 8 Kab 7. Pengembangan perbibitan Kambing & unggas di IPKU Negeri Sakti Produksi bibit ayam cemani, kate dan • Pemb. Fasilitas pet. Ayam di IPKU pelung Negeri Sakti Terjaringnya kambing pejantan • Penyebaran & Penjaringan Kambing boerawa yang berkualitas Boerawa. Produksi susu kambing 500 lt/th • Pengemb. Kambing perah. 8. Pengembangan perbibitan ternak sapi bali di IPSB Campang Tiga • Penyusunan pedoman/system pengend & pemberantasan AI • Pembibitan HMT • Pengujian Bibit ternak. 4. Pengemb. Ternak 1. Pengadaan bibit kambing Boer Kamb.Boerawa 2. Pengembangan instalasi pembibitan kambing IPKU Negeri Sakti 3. Pengadaan Kambing Betina Induk 5. Pembinaan Kesehatan Hewan dan kesehatan masyarakat veteriner 1. Pemberantasan dan pengendalian penyakit Flu Burung • Penyusunan pedoman/system pengend. & pemberantasan AI • Sosialisasi • Vaksinasi dan Pengobatan 5. Pemberantasan, pengendalian dan penolakan penyakit hewan menular pada ternak 6. Pemberantasan, pengendalian dan penolakan penyakit rabies

Menghasilkan pejantan unggul 5 ekr Prod. HMT 1000.000 stek

v Tersedianya bibit unggul kamb. Boer v Berkembangnya sentra bibit kambing unggul

o Terbangunnya system pengend. & Pemberantasan AI & ND o Out Break AI dpt diantisifasi o Masy. Memahami & terus berperan serta dlm pengend. & Pemberant. AI. Tdk terjadi out break penyakit hewan menular di Lampung Kerugian peternak dapat dihindari Menurunnya kasus gigitan oleh hewan penular rabies

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

85

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

39 % dan CR 80% Meningkatnya peran serta masy dan swasta dalam yan kes wan Mortalitas & morbiditas menurun • Terbangunnya 1 – 2 unit pos pelay. realistis dan akomodatif 3. & Pembinaan kemityraan peternakan (Sapi. 8. Pengembangan Ternak Perah 1. Peternakan Tersusunnya perenc. • Tertib laporan. Pengembangan UKM dan peningk skala usaha peternakan melalui pembiayaan Perbankan 3. Ayam Ras & Kamb) 2. Tanggamus 2. . 5. Pengumpulan. Pemb. telur susu) Menurunnya kasus penularan peny. adm gaduhan ternak Meningkatkan produksi susu sapi dan kambing Meningkatnya minat masyarakat untuk minum susu sapi dan susu kambing 6. Pengembangan Pos Pelayanan Keswan 4. tertib pengel. Unggulan Lampung semakin dikenal • Potensi pengemb.c ww w om k lic lic . Penyusunan perencanaan pemb. k w . Dikenal terutama oleh pihak investor. Promosi dan sosialisasi produk & potensi unggulan peternakan. 9. Pembinaan & pengawasan pengemb. • Optimalnya peran KKMB • Produk pet. Sosialisasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang peternakan 5. Pengemb.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .doc/Datin 86 . Peningkatan kualitas pelayanan IB kualitas pelay di • Pedoman. Peningkatan kualitas data & perenc. SPM yang telah disusun difahami dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Tersusunnya SPM bidang tertentu • • Pelayanan. Pet. bibit pet. Meningkat Perda pengganti lebih baik. LS & KBL 3.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Pengolahan dan publikasi data 2. straw dan alat IB 2. perbibitan ternak pemerintah 7. pencegahan & pemb. Sosialisasi minum susu sapi dan kamb.s o ft w a re 7. Pengemb. Pemb. Revisi Perda No. peternakan tahun 2010 E:\KEBIJ TEK-260405. Peningkatan 1. Skala usaha meningkat • Tumbuhan LKM di tingkat kelp. Pngembangan agribisnis peternakan 1. Peningkatan kualitas kesehatan hewan dan kesmavet Covering pelayanan IB meningkat 5% S/C 1. Di Lamp. Pet. Tersusun dan terpublikasikan nya data pemb. Pet tahun 2010 yang akuntabel. Dukungan terhadap peternakan sapi perah di Gisting Kab. penyediaan bidang pet. (daging. zoonosis Jumlah & Kualitas kemitraan peternak meningkat Meningkatnya aksesibiliotas peternak kepada sumber-sumber pembiayaan usaha.s o ft w a k e r. Lembaga keuangan Mikro (LKM) & pembinaan KKMB 4. sosialisasi. 1 Tahun 1977. Pembinaan. Sosialisasi dan pelayanan kesehatan masyarakat veteriner Masy. Pengembangan ternak kambing perah di Gedong Tataan Kab. merasa aman mengkonsumsi produk pet. 1.

k w . Monitoring dan Pengendalian 10. Pembinaan dan intorduksi IB pada Pembin. Pengembangan aneka ternak IPKU di ternak Negeri Sakti Kegiatan pemb. Dan 1. dapat di laksanakan dengan baik (tepat waktu. Pengemb. mutu sasaran) Meningkatnya produktivitas ternak kerbau melalui Inseminasi Buatan Berkembangnya aneka ternak di IPKU di Negeri Sakti.s o ft w a re 3.pet.doc/Datin 87 .c W C re ! tr ac C tr ac k e r.c ww w om k lic lic . Ternak kerbau kerbau & aneka 2.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . E:\KEBIJ TEK-260405.s o ft w a k e r. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful