PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

DAFTAR ISI

I

PENDAHULUAN A. B. C. D. Latar Belakang ………………………………………………………… Landasan Hukum .. …………………………………………………….. Maksud dan Tujuan …..………………………………………………… Sistimatika ….…………………………………………………………… 3 4 4 5 6 7 8 9 9 10 10 11 12 12 14 23 26 28 29 31 32 34 36 37

II.

POTENSI WILAYAH A. Potensi Sumberdaya Manusia dan Kelembagaan ………………………. B. Potensi Sumberdaya Alam ……………………………………………… C. Potensi Bidang Ekonomi ……………………………………………….. D. Potensi Sarana dan Prasarana ………………………………………….. E. PotensiTernak ………………………………………………………….. KERAGAAN YANG TELAH DICAPAI A. Konsumsi Hasil Ternak …………………………………………………. B. Produksi Ternak dan Olahannya ……………………………………….. C. Populasi Ternak …………………………………………………………. D. Investasi, Lapangan Kerja dan Pergadangan Ternak …………………… E. PDRB Peternakan ……………………………………………………….. F. Bidang Teknis …………………………………………………………... MASALAH DAN TANTANGAN YANG DIHADAPI A. Masalah …………………………………………………………………. B. Tantangan Yang Akan Dihadapi Kedepan ……………………………… SASARAN UMUM A. Metode Prediksi ………………………………………………………… B. Sasaran Jangka Pendek (2005 – 2009) …………………………………. C. Sasaran Jangka Menegah (2010 – 2014) ……………………………….. D. Sasaran Jangka Panjang (2015 – 2024) ………………………………… E. Sasaran Tahun 2004 ……………………………………………………. KEBIJAKAN TEKNIS & PEMBANGUNAN PETERNAKAN 2005-2024 A. Kebijakan Umum ……………………………………………………….. B. Kebijakan Operasional …………………………………………………..

III

IV

V

VI

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

1

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

VII

RENCANA STRATEGIS DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN TAHUN 2005 – 2009 A Issu Pokok pembangunan peternakan ………………………………….. B Visi, Misi, Tujuan dan sasaran …………………………………………. C Analisis Lingkungan Styrategis ………………………………………… D Strategi dan Program Prioritas ………………………………………….. E Matriks Program Prioritas, Program Aksi dan Indikator Kinerja ……….

52 58 59 64 70

VIII LAMPIRAN - LAMPIRAN

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

2

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Propinsi Lampung memiliki luas wilayah 3,3 juta ha, secara administrative terbagi dalam 10 wilayah Kabupaten / Kota, 162 Kecamatan, 2010 Desa dan 165 kelurahan, dengan jumlah penduduk pada tahun 2003 mencapai 6,85 juta jiwa, atau merupakan Propinsi terpadat di luar Pulau Jawa dan Bali. Pertumbuhan penduduk Lampung pada kurun waktu 1980-1990 cukup tinggi yaitu 2,67%, dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk Nasional yang hanya 1,97%. Letak geografis Propinsi Lampung sangat strategis, karena berada di ujung selatan Pulau Sumatera dan berbatasan langsung dengan Pulau Jawa, yang sampai saat ini masih merupakan pusat pertumbuhan ekonomi, budaya dan sekaligus menjadi pusat pemerintahan. Secara topografis Lampung dibagi menjadi 5 (lima) wilayah, yaitu : 1) Daerah tofografi berbukit sampai bergunung, yang meliputi daerah Bukit Barisan, Gunung Pesawaran, Gunung Rajabasa, Bukit Pugung, Bukit Pesagi dan Sekincau 2) Daerah berombak sampai bergelombang, dicirikan dengan vegetasi tanaman perkebunan seperti kopi, cengkeh, lada dan tanaman pertanian perladangan 3) Dataran alluvial, daerah ini sangat luas meliputi Lampung Tengah sampai mendekati pantai sebelah timur, ketinggian nya antara 25 – 74 m dpl, dengan kemiringan 0 – 3 % 4) Dataran rawa pasang surut, berada di sepanjang pantai timur dengan ketinggian ½ - 1 meter. 5) “river basin”, yang terdiri dari Tulang Bawang, Seputih, Sekampung, Semangka dan Way Jepara Disamping itu secara umum Lampung beriklim tropis-humid dengan angin laut lembah yang bertiup dari Samudra Indonesia, yaitu November – Maret angin bertiup dari arah barat dan barat laut, sedangkan Juli – Agustus angin bertiup dari arah timur dan tenggara. Kelembaban udara di Lampung rata rata berkisar antara 80 – 88% dan ternyata kelembaban udara akan lebih tinggi pada tempat yang tinggi. Dengan potensi wilayah yang sangat mendukung untuk Pembangunan Peternakan, sampai dengan saat ini Lampung dikenal sebagai salah satu Lumbung Ternak Nasional. Pada tahun 2003 saja Lampung mengeluarkan sapi potong dan kerbau sebanyak 150.382 ekor, kambing dan domba 139.782 ekor , dan babi 26.068 ekor, dengan nilai ± Rp 885,82 milyar. Disamping itu juga Lampung dikenal sebagai barometer industri penggemukan sapi potong, sumber bibit sapi potong dan kambing, dan pusat pengembangan kambing boer. Akan tetapi hal yang terpenting dan yang perlu disadari oleh semua pihak, adalah :

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

3

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

1) Bahwa Lampung memiliki potensi sumberdaya pakan untuk ternak ruminansia sangat melimpah. Dari potensi 1,41 juta satuan ternak baru termanfaatkan 33,20%. Demikian juga dengan potensi bahan baku pakan konsentrat seperti jagung dan limbah agro industri 2) Bahwa Lampung memiliki letak geografis yang sangat strategis, sehingga mempunyai keunggulan komperatif terhadap pasar raksasa DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat dibandingkan dengan Propinsi lain. 3) Bahwa pembangunan peternakan masih bertumpu pada peternakan rakyat yang didukung dengan sumber pembiayaan pemerintah, potensi investasi terbesar dari sector swasta masih perlu digali lebih intensif lagi Oleh sebab itu untuk membangun peternakan di Lampung diperlukan perencanaan pembangunan peternakan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek, dengan menetapkan tujuan dan sasaran yang jelas, sesuai dengan potensi yang ada, aspiratif, akomodatif, serta memperhatikan kendala, tantangan dan peluang yang terus berkembang. B. Landasan Hukum Penyusunan Kebijakan Teknis dan Perencanaan Pembangunan Peternakan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek, lebih merupakan landasan berfikir logik. Hal ini diawali dengan pemikiran bahwa pembangunan peternakan harus berkelanjutan, memiliki target dan sasaran yang jelas, harus mampu mengejar ketertinggalan atau adanya percepatan, mampu menjawab kendala tantangan dan perubahan yang terus bergulir, serta dengan pertimbangan bahwa apa yang dikerjakan saat ini akan tercermin dan berpengaruh pada pembangunan peternakan dimasa datang. Sedangkan landasan hukum yang menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan teknis ini yang merupakan salah satu dokumen perencanaan Pembangunan Peternakan berkelanjutan, adalah Undang – undang No. 32/2004, PP Nomor : 108 Tahun 2000. Renstra Propinsi Lampung, Renstra Departemen Pertanian dan Renstra Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan C. Maksud dan Tujuan 1. Maksud Maksud penyusunan Kebijakan teknis dan perencanaan pembangunan peternakan ini adalah menyusun rancangan kebijakan teknis dan perencanaan pembangunan peternakan jangka panjang, menengah dan pendek, yang memuat beberapa bahasan utama antara lain keragaan pembangunan peternakan yang telah dicapai, masalah atau tantangan yang dihadapi, memuat sasaran kuantitatif jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, menetapkan metoda atau pendekatan teknis

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

4

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

Bab IV Masalah dan Tantangan yang akan dihadapi kedepan. menengah dan jangka pendek serta renstra Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan adalah sebagai dokumen perencanaan yang akan menjadi acuan umum pelaksanaan kegiatan pembangunan peternakan di Propinsi Lampung dan akan menjadi acuan bagi Kabupaten Kota.c ww w om k lic lic . Bab II Potensi Wilayah.s o ft w a k e r. . swasta serta masyarakat peternakan pada umumnya. menengah dan jangka pendek ini terbagi dalam tujuh bab yang masing masing merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling terkait. produksi dan konsumsi hasil ternak serta hal hal yang mendukung atau sebagai penjelasan daripada tulisan ini. Sistematika Sistematika penyajian dokumen kebijakan teknis dan perencanaan pembangunan peternakan jangka panjang. Bab VII Rencana Strategis Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2005 . serta pada bab tersendiri menyusun Rencana Strategis Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. D.2009 serta Lampiran Lampiran yang memuat dinamika populasi.doc/Datin 5 . E:\KEBIJ TEK-260405.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .s o ft w a re yang akan dilaksanakan. Bab VI Kebijakan Umum dan Kebijakan Operasional. 2. k w . bab III Keragaan yang telah Dicapai. Bab V Sasaran yang akan Dicapai. Adapun rincian isi dokumen ini adalah sebagai berikut : Bab I Pendahuluan. Tujuan Tujuan disusunnya Kebijakan teknis dan perencanaan pembangunan peternakan jangka panjang.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.

c ww w om k lic lic . Tulang Bawang dan Way Kanan 26. sektor industri 10% dan sektor jasa 24%.18%).c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Kota Bandar Lampung 779. Berdasarkan sensus pertanian tahun 1993.doc/Datin 6 .s o ft w a re BAB II POTENSI WILAYAH A. Lampung Utara.92%). Renstra Provinsi Lampung tahun 2005-2009 menyebutkan bahwa pada tahun 2003 struktur tenaga kerja di Lampung masih didominasi oleh sektor pertanian sebesar 66%.02%.43%) diantaranya adalah rumah tangga peternakan. E:\KEBIJ TEK-260405.55 %). dimana 199.073. Lampung Barat 2.09%.69%).059 jiwa (8. Tenaga Pemeriksa Kebuntingan (PKB) (22 org). Lampung Timur 885. Way Kanan 359.089 KK (20.768 KK diantaranya adalah rumah tangga peternakan. Lampung Timur dan Metro sebanyak 49.179 jiwa (11.260 jiwa (11.37 %) dan Kota Metro 122. Jika dilihat dari pertumbuhannya. Lampung Selatan 20. Tanggamus 801. Lampung Selatan 1. sedangkan antara tahun 2000 dan 2001 penyerapan tenaga kerja sektor pertanian justru meningkat sebesar 1. Dengan trend seperti ini diperkirakan pertumbuhan penduduk Lampung periode 2005-2024 juga akan terjadi penurunan.85%.24%). Jika angka ini dianalogkan pada kondisi tahun 2003.s o ft w a k e r.412 jiwa (15. Tenaga Sarjana Peternakan (382 org).Tenaga inseminator (180 org).852.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . yang tersebar di Lampung Tengah. Petugas pengawas mutu pakan (25 org).578 KK.01%).177.505 jiwa (17. Tulang Bawang 723. Ini menunjukan bahwa jika dibandingkan dengan tahun 1993 peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja menurun cukup signifikan yaitu ± 6. penduduk Lampung selama tahun 1990 – 2000 rata rata tumbuh sebesar 1. k w . Kepala Cabang Dinas Peternakan Kecamatan (155 org). menurun drastis jika dibandingkan dengan pertumbuhan periode 1980-1990 (2.59%.080 jiwa (12. maka jumlah rumah tangga pertanian diperkirakan mencapai 1. Lampung Utara 549. jumlah rumah tangga di Lampung sebanyak 1. Tenaga Dokter Hewan (92 org).096 jiwa (10.417 jiwa (1.59% (974.342. Potensi Sumberdaya Manusia dan Kelembagaan Jumlah penduduk Lampung pada tahun 2003 mencapai 6.284 jiwa (5.565 KK) adalah rumah tangga pertanian. yang tersebar di Lampung barat 382.33% dan Kota Bandar Lampung 1.77%).998 jiwa.58%).46%. Lampung Tengah 1.67%) dan tahun 19711980 (5.79%).66%).275 org).25%.48%. Petugas pengawas mutu bibit (3 org) Disamping itu kelembagaan pendidikan di Lampung yang memproduksi tenaga ahli dan madya dibidang peternakan antara lain Jurusan Peternakan dan D3 Kesehatan Hewan Universitas Lampung dan D3 peternakan Politeknik . Jumlah aparat Dinas Peternakan / yang membidangi peternakan (253 org).08 juta KK. . dari jumlah tersebut 72. Hal lain yang merupakan potensi sumberdaya manusia di Provinsi Lampung yang dapat mendukung pembangunan peternakan dan kesehatan hewan tahun 2003 adalah sebagai berikut : Tenaga penyuluh pertanian (1. dimana 220. Tenaga Asisten Teknis Reproduksi (ATR) (14 org).706 jiwa (5.

kacang kacangan.s o ft w a re Sementara kelembagaan yang telah ada dan mendukung pembangunan peternakan dan kesehatan hewan di propinsi Lampung antara lain kelompok peternak (874 kelompok). BPTP. Lampung Tengah dan Lampung Timur memiliki E:\KEBIJ TEK-260405. Demikian juga wilayah wilayah dengan vegetasi monokultur padi. ditambah dengan sumberdaya manusia yang terampil.180 Unit ternak.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Potensi Sumberdaya Alam Luas wilayah Propinsi Lampung ± seluas 3. kelembagaan keuangan (8 lembaga) serta himpunan mahasiswa peternakan (1 himp).169 ha (2.945 ha (21.93%). yang terdiri dari perkampungan 248.523 ha (1.40 % dari total luas wilayah Lampung Lahan sebagai basis ekologi budidaya ternak dan penghasil bahan baku pakan. kerbau. maka akan menghasilkan peternakan selain tangguh dan berkelanjutan juga akan mampu bersaing dengan produk peternakan dari wilayah atau negeri lain.80 % ternak ruminansia besar dan kecil antara lain sapi potong. rawa dan danau 15. berbudiluhur dan mampu memanfaatkan teknologi serta cerdas menangkap peluang pasar. Sementara saat ini baru mencapai 468. kebun campuran 327.41%). tegalan dan ladang 675. Dinas Peternakan/yang membidangi peternakan (11 dinas).PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . kakao serta limbah agroindustri lainnya. perkebunan 703. Sehingga berdasarkan perhitungan ketersediaan pakan. limbah kelapa sawit. sapi perah. . antara lain wilayah yang memiliki ketinggian diatas 700 m dpl seperti Kecamatan Talang Padang. daerah rawa rawa seperti wilayah Rawasragi.550 ekor sapi/kerbau. memegang peranan utama untuk membangun peternakan yang tangguh dan berkelanjutan.47%). k w .866 ha (9. demikian juga dengan daun singkong.c ww w om k lic lic .860 ha (20. antara lain jerami padi dan jagung yang tersedia sepanjang tahun mampu menampung 49. 2002).41 juta unit ternak. lahan sawah. hutan 871.47%). Lampung memiliki potensi bahan baku pakan yang sangat besar terutama yang berasal dari limbah pertanian dan perkebunan.591 ha (0.979 ha (26.3 juta ha.604 ha (8.62%).73%). nanas. sawah 238. alang alang 90. tebu. Pulau Panggung Kabupaten Tanggamus dan sebagian wilayah di Kabupaten Lampung Barat. Karantina.96 juta ha atau 59.844 ha (1.32%).109 ha (7. Lampung juga memiliki wilayah yang secara spesifik sangat cocok untuk pengembangan ternak tertentu. BPPV. Dari rincian di atas. tegalan dan ladang.51%).s o ft w a k e r. asosiasi kemitraan peternakan ayam ras dan sapi potong (2 ass).03%) dan penggunaan lain seluas 49. Lampung mampu menampung ternak ruminansia besar dan kecil sebanyak 1.doc/Datin 7 . assosiasi bisnis peternakan (5 ass).51%) (Lampung Dalam Angka. Secara tofografis. secara agroklimat sangat cocok untuk pengembangan ternak sapi perah. lahan yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat mendukung pengembangan peternakan adalah sebagian lahan perkampungan. perkebunan dan perkebunan campuran serta alang alang seluas ± 1. Ambarawa dan sebagian besar wilayah Pantai Timur Kabupaten Tulang Bawang. atau masih terdapat peluang pengembangan sebanyak 66. organisasi profesi (8 Staf). kambing. koperasi peternakan (50 unit). dan domba. tambak 33. B. daun ubi jalar.

demikian juga dengan ubi kayu setiap tahunnya mencapai 3.885. Selama kurun waktu 1999-2003 PDRB sektor pertanian Propinsi Lampung atas dasar harga berlaku. Disamping itu juga Lampung merupakan daerah penghasil jagung dan ubi kayu yang cukup besar.63 % sedangkan atas dasar harga konstan mengalami peningkatan sebesar 2. mengalami peningkatan sebesar 3.86 %. nenas.5 juta ton. Lampung memiliki komoditi unggulan yaitu sapi potong. bahkan didaerah perkebunan tebu.86 %. kehutanan 0.c ww w om k lic lic .81 %.doc/Datin 8 .027 ekor.4 juta ekor atau equivalen dengan ± Rp. Pemulihan perekonomian di Lampung ini terutama ditunjang oleh kenyataan bahwa hampir semua sektor telah mengalami pertumbuhan positif. seperti daerah monokultur padi. Perekonomian Lampung didominasi oleh tiga sektor kegiatan ekonomi. 1. sedangkan komoditi ayam E:\KEBIJ TEK-260405. Khusus PDRB bidang peternakan pada tahun 2003 meningkat sebesar 11.54 %. C.63 %. sektor perdagangan/hotel/restoran dan sektor industri pengolahan. maka pada tahun 2003 PDRB sektor pertanian atas dasar harga berlaku terbentuk dari tanaman pangan sebesar 47. Pada tahun 2003 jumlah ternak sapi yang dijual keluar Propinsi sebanyak 149. tanaman perkebunan 21. Potensi Bidang Ekonomi Pada tahun 2001 perekonomian Lampung mengalami pertumbuhan sebesar 5.88 % dari seluruh wilayah Lampung. dan ayam 8. kambing dan ayam ras.15%. meningkat 7. hal ini terlihat dari kontribusi masing masing sektor tersebut terhadap pembentukan PDRB Propinsi Lampung. yaitu sektor pertanian. .s o ft w a k e r. kambing 135. perkebunan kelapa sawit. jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan sektor pertanian yang hanya 3. k w .c W C re ! tr ac C tr ac k e r.70 % peternakan dan hasil hasilnya 15. juga menjadi andalan pertumbuhan ekonomi daerah. menjadi andalan utama untuk pengembangan sapi potong.90 Triliun pada tahun 2003.23 Triliun pada tahun 1999 menjadi Rp.77 % dan perikanan 13.237 ekor babi 26.821. dedak halus 290. Setiap tahun Propinsi Lampung antara lain menghasilkan jagung tidak kurang dari 1 juta ton. 1. sedangkan dilihat kontribusinya terhadap sektor pertanian meningkat sebesar 7.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . kerbau 1.s o ft w a re potensi yang besar untuk pengembangan ternak itik. Dari sekian banyak usaha pada sub sektor peternakan.32 % yaitu dari Rp.068 ekor . Sementara daerah lahan kering dengan luas 89. walaupun sebenarnya sapi potong dapat dikembangkan pada wilayah yang memiliki bahan baku pakan hijauan atau serat.82 milyar.355 ekor.73 % Jika dilihat sebarannya pada masing masing lapangan usaha (sektor).84% jika dibandingka dengan nilai tahun 2002 yaitu sebesar Rp. ketiga komoditi tersebut merupakan bahan baku utama konsenrat.000 ton. Indikator ini menunjukan mulai pulihnya kondisi perekonomian Lampung secara keseluruhan pasca krisis ekonomi tahun 1997.545 ekor. domba 4. Subsektor Peternakan selain menjadi andalan pendapatan dari 220 ribu keluarga peternak.43 milyar.

522. Potensi Ternak Populasi ternak yang telah ada merupakan potensi dasar bagi pengembangan peternakan di Lampung.81 4. Ini semua akan mendukung berkembangnya investasi dan usaha dibidang peternakan. Pabrik Pakan.534 110 50.138 15.800 2003 387.988 176 725.28 2.21 3.718.705 429.000 515. babi dan ayam kampung.08 juta keluarga.381 2000 372. . Pos Inseminasi Buatan.705. Rumah Potong Hewan.159 R (%) 1. Populasi Ternak di propinsi Lampung Tahun 1999 – 2003 JENIS TERNAK Sapi potong Sapi perah Kerbau Kuda Kambing Domba Babi Ayam ras pedaging Ayam ras petelur Ayam buras Itik Puyuh 1999 372.928 635.723 23.doc/Datin 9 . listrik dan saluran telepon yang juga cukup memadai.934 105 50. kambing.c ww w om k lic lic .313 15.640.350 48.178.7 E:\KEBIJ TEK-260405. Demikian juga dengan assesibilitas wilayah Lampung cukup baik. Propinsi Lampung selama ini juga telah mengekspor pakan ternak berupa kulit nenas ke Jepang dan pakan ternak ke Australia D.648.22 10.109.188 22.s o ft w a re kampung termasuk komoditi yang strategis karena dimiliki oleh hampir seluruh keluarga pertanian yang berjumlah 1.076 123. kecuali ayam ras karena telah mengalami persaingan antar propinsi yang cukup ketat.780. k w .866 2002 381. kerbau.600 15.83 1.140. Bandara Raden Intan.600 84.063 80. domba.007.48 4. Disisi lain potensi ekspor ternak kambing ke daerah Timur Tengah cukup besar.300 2.970 1.017 22.601.409.07 0.740 19.163.012 178 726. Potensi Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana yang mendukung pembangunan peternakan di Lampung sudah cukup baik.02 6. Pos Kesehatan Hewan.44 10.716 1.000 2.220 45.848 224 742. E.456 66.938 83.920 1.179 423.131 22.624 89. karantina hewan.351 196 810.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .240 20.560 15. ekspor dan untuk kebutuhan bibit.784 425. antara lain Pelabuhan Internasional Panjang.927 40.521.051. Banten dan Jawa Barat menyebabkan komoditi peternakan terutama sapi potong.350 112 52.030 12.723 94. Populasi ternak selama lima tahun terakhir di Propinsi Lampung adalah sebagai berikut : Tabel 1. tidak mengalami hambatan dalam pemasaran produknya.490 59.924 2001 373.205 24.095 182 761.s o ft w a k e r. Instalasi Produksi Mani Beku.05 4.001 86 49.409 47.741 22.021 103 49. Letak geografis yang sangat strategis yaitu dekat dengan pasar raksasa DKI Jakarta.29 71. konsumsi propinsi lain.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Dari populasi yang ada tersebut ternak dikembangbiakan dan dibudidayakan untuk kepentingan konsumsi local. Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner.

19 4. Pada th. .84 4. Dengan demikian pencapaian konsumsi hasil peternakan masih perlu ditingkatkan baik melalui peningkatan produksi dan produktivitas ternak. konsumsi yang telah dicapai oleh Propinsi Lampung masih belum memenuhi standar.83 % untuk konsumsi Protein Hewani.90 4. peningkatan pendapatan masyarakat serta bentuk – bentuk kegiatan yang mampu mendorong aspirasi dan pengertian masyarakat tentang begitu pentingnya konsumsi protein hewani asal ternak yaitu daging. PRODUKSI TERNAK DAN OLAHANNYA Dengan makin meningkatnya permintaan akan hasil ternak baik untuk Propinsi Lampung maupun luar Propinsi Lampung maka perlu adanya upaya-upaya untuk memacu peningkatan produksi ternak. 2. 63. B. 4.51 3.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . peningkatan daya beli masyarakat serta makin meningkatnya pengetahuan masyarakat akan gizi. telur dan susu. E:\KEBIJ TEK-260405. Uraian Daging (kg/kap/th) Telur (kg/kap/th) Susu (kg/kap/th) Protein Hewan (gr/kap/hr) 1999 6.c ww w om k lic lic . KONSUMSI HASIL TERNAK Konsumsi komoditi peternakan yaitu daging. 94.45 3.71 4.48 3.s o ft w a k e r.20 4.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.0 *) Hasil Widya Karya Pangan dan Gizi Tahun 1993.doc/Datin 10 . Produksi hasil peternakan dari tahun 1999 – 2003 terlihat pada tabel.7 6. 3 berikut. 2 berikut : Tabel 2 : Konsumsi Hasil Ternak di Propinsi Lampung Tahun 1999-2003 No 1.42 3.83 2000 6.1 6. Konsumsi hasil ternak Propinsi Lampung tahun 1999-2003 dapat dilihat pada tabel.48 3.69 3. dan 68. 3. telur dan susu menunjukkan adanya peningkatan kualitas dan kuantitasnya sejalan dengan bertambahnya penduduk.13 2003 6.99 2002 6. Bila dibandingkan dengan standar berdasarkan hasil Widya Karya Pangan dan Gizi Tahun 1993.55 3.13 Standar WKPG *) 10.1 4.81 % untuk konsumsi daging.64 4.87 2001 6.93 % konsumsi susu.63 3. 2003 baru mencapai 68.95 4.s o ft w a re BAB III KERAGAAN YANG TELAH DICAPAI A.68 % konsumsi telur. k w .

520 126.11 74.199 41.90 5.32 % untuk daging.% untuk susu. 5.98 77. 1.74 2001 44. sehingga terjadi kematian ternak unggas yang mengakibatkan turunnya populasi.22% kecuali domba yang mencapai 10. Ayam Ras Petelur dan Ayam Ras Pedaging mengalami penurunan.948 24.769.669 101.38 %.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.965 128.085. 5.940. 5.407.87 2002 45.02 sampai 2.58.879. 4.208. 3.027 1.494 640.857. atau 70.40 879.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .826 2000 154. .355 135.412.07 % dan unggas selama kurun waktu 4 (Empat) tahun meningkat menjadi 136. 28.22 % untuk kulit dan 0.261 6.077 2001 121.98 Dari tabel tersebut diatas dapat dilihat bahwa produk ternak dari tahun 1999 – 2003 terjadi peningkatan yaitu masing-masing 1. POPULASI TERNAK Perkembangan populasi ternak selama 5 tahun terakhir dapat dilihat terlihat pada tabel 1 diatas. sapi potong meningkat menjadi 13.759.95%.32 78. E:\KEBIJ TEK-260405. Adapun produksi ternak dari Propinsi Lampung yang untuk memenuhi kebutuhan Propinsi lain adalah sebagai berikut : Tabel 4 : Produksi Ternak dari Lampung untuk memenuhi Kebutuhan Propinsi lain pada Th.903. 2.736.979 6. 4.080.42 4.59 %.doc/Datin 11 .s o ft w a k e r.01 39.% dari produksi untuk konsumsi lokal.944.180.248 Dari tabel tersebut diatas dapat disampaikan bahwa masing – masing selama kurun waktu 5 tahun.378.790 2.979.122.50 Ton.64 % untuk pupuk/kotoran ternak.356 141.47 37.574 2003 149.40 69. Produksi daging Propinsi Lampung berupa ternak potong yang keluar Propinsi cukup besar.c ww w om k lic lic . 2.445 5.545 4.591 2.068 8.02 4.98%. dimana dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa perkembangan ternak unggas kecuali itik pada tahun 2002 – 2003 baik Ayam Buras.237 26.00 % untuk telur.12 2000 43.21 893. Kambing 7. Jenis Ternak Sapi Potong Kerbau Kambing Domba Babi Unggas 1999 89.83 4.436.50 776.11 4.400 5. kerbau dan kambing) pertumbuhannya 1.97 951.67 %. Adapun untuk ternak potong (Sapi.966.s o ft w a re Tabel 3 : Produksi Hasil Ternak Propinsi Lampung Tahun 1999 – 2003 (dalam ton) No.79 868. k w .252 2.61 36. Komoditi Daging Telur Susu Kulit Basah Pupuk/Kotoran Ternak 1999 44. 3.07%. 19.291 1.091 34. yaitu masing-masing 16.91 2003 47. Babi 2.78 189.67% dan 3.21 %.67 37. 2. pada tahun 2003 produksi daging yang keluar Lampung setara dengan 33. Hal ini sisebabkan terjadinya wabah Flu Burung yang dimulai pada awal Agustus 2003 di beberapa Propinsi di Indonesia termasuk Propinsi Lampung.623 26. 6. 1999 – 2003 (ekor) No 1.149 2002 144.013 56. C.76 33. Kerbau -15.

74 3. Juta Rp.52 Trilyun.180 1. 2. 1.53 321.82 407. Uraian INVESTASI: Pemerintah (Dana Pembangunan) Investasi Swasta Lapangan Kerja .480 51.Selisih Satuan Rp.856.63 386.doc/Datin 12 . Demikian juga dengan besarnya nilai pendapatan yang berasal dari subsektor peternakan yang berpengaruh langsung terhadap pendapatan peternakan dan besarnya kontribusi PDRB peternakan yaitu berdasarkan hitungan harga berlaku pada tahun 2001 mencapai nilai Rp.220.950 1.000 2002 6.Peternakan Rakyat * Sapi potong * Unggas .08 478. D.802.656 707. 1. besarnya laju pertumbuhan ekonomi dan struktur perekonomian daerah pada kurun waktu tertentu.460 885.02 19.82 Trilyun dan pada tahun 2003 sebesar Rp.141 50.Perusahaan Peternakan Nilai Perdagangan Ternak .c ww w om k lic lic .169. INVESTASI. Pencapaian PDRB sub sektor peternakan atas dasar harga konstan dan berlaku dari Tahun 1999-2002 dapat dilihat pada tabel 6 dan 7 berikut : E:\KEBIJ TEK-260405. Lapangan Kerja dan Perdagangan Ternak di Propinsi Lampung Tahun 2001 . Juta Rp.74 15.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . PDRB PETERNAKAN Data PDRB suatu daerah mempunyai manfaat untuk mengetahui tingkat produk bruto yang di hasilkan oleh seluruh faktor produksi.357. E.10 21. 1. lapangan kerja dan perdagangan ternak adalah sebagai berikut : Tabel 5 : Investasi.169. LAPANGAN KERJA DAN PERDAGANGAN TERNAK Indikator ekonomi yang dapat digunakan untuk menilai kinerja pembangunan peternakan adalah besarnya investasi.s o ft w a k e r. a. Juta 21. b.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.99 418. tahun 2002 mencapai nilai Rp.s o ft w a re Sedangkan pada Tahun 2001–2002 pada Ternak Babi terjadi penurunan populasi sebesar 14. . Pencapaian sasaran investasi.90 Trilyun.000 STP STP Orang Rp. Dengan demikian PDRB yang berasal dari sub sektor peternakan akan menjadi indikator sampai berapa besar peranan sub sektor peternakan mewarnai pembangunan daerah. Juta Rp. Juta 2001 2. Jika dilihat dari indikator tersebut Propinsi Lampung mempunyai potensi yang cukup besar. Dengan melihat tabel tersebut diatas maka investasi di bidang peternakan selama 3 tahun terakhir meningkat menjadi 65.TernakPot yang masuk .14 18.000 2003 9.30% yang disebabkan adanya serangan penyakit Hog Kholera pada Babi.2003 No I.43 402.Ternak Pot yang keluar .129 1.600 821. penyerapan dan penciptaan lapangan kerja serta perdagangan ternak antar Propinsi.54 %.143 46.44 22. diantaranya karena mempunyai letak geografis yang sangat strategis dan lahan yang masih cukup luas. k w .

16 43.28 2.04 27.99 17.703. 1999 – 2003 (Juta Rupiah) Subsektor Tanaman Pengan PDRB (Rp.156.887 15.933 23.96 .90 739.87 36.55 2.79 2000 4.65 295. Juta) Persentase (%) Perikanan PDRB (Rp.372.81 92.453 44.749 21.18 21.805 R.482 11.929 17.841 42.991. Juta) Persentase (%) Total Pertanian 1999 1.284 0.776 R.587 2003 1.77 2001 5.216.98 2.35 12.249 13.00 759.(%) 5.369.344 10.c ww w om k lic lic .039 0.637 42.708.77 1. Juta) Persentase (%) Peternakan PDRB (Rp. Lampung Th.77 1.798 47.142. E:\KEBIJ TEK-260405.53 1. (Juta Rupiah) Lapangan Usaha Tanaman Pangan PDRB (Rp.895.86 2.234.515. Juta) Persentase (%) Tanaman Perkbn PDRB (Rp.49 325.102 25.478 42.219 46.97 1.566.623.73 773.716 18.0.324 14.39 22.694 27.doc/Datin 13 .75 2.93 3.875.506 16.185 41. Juta) Persentase (%) Kehutanan PDRB (Rp.59 453.103. Juta) Persentase (%) Kehutanan PDRB (Rp.77 1.179 28.65 1.478 21.94 .262 47.1.645 0.795 17.30 1.329.68 2.79 5.01 299.723 10.897 47.59 -4.92 490.24 32.125.352 2002 5.589 27.42 1.479 Tabel 7: Produk Domestik Bruto (PDRB) Sektor Pertanian Propinsi Lampung Atas Dasar Harga Konstan Propinsi Lampung Tahun 1999-2003.03 3.82 11.022 0.958 12.18 471.16 26.911 18.40 72.911.620.355 12.738.603 13.659 12.48 -7.32 7.56 501.104 2001 1.602.937 0.4.962.954 2000 1.10 721.63 10.407.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Juta) Persentase (%) Tanaman Perkbn PDRB (Rp.02 2.662.989 14. .524 17.54 26.142.35 2.688 1.115 13.73 Dari tabel tersebut dapat diartikan bahwa peranan sub sektor peternakan terhadap pertanian meningkat terus dari Tahun 1999-2002.70 1.0.298 10.911 2002 1.12 301.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.312 035 1.513 1.362 26.329.41 10. Juta) Persentase (%) Peternakan PDRB (Rp.099.613.398.809 0.29 2. k w .s o ft w a re Tabel 6 : Produk Domestik Bruto (PDRB) Sektor Pertanian Propinsi Lampung atas dasar Harga berlaku Prop.720.821.04 22. Juta) Persentase (%) Perikanan PDRB (Rp.185 27.s o ft w a k e r.302.416 2003 5.47 2.49 488.85 295.923 11.584.76 .57 .86 11.672.60 1.93 65.264 44.581 30.06 1. Juta) Persentase (%) Total Pertanian 1999 4.37 1.618 0.92 1.71 744.59 11.100. (%) 4.95 2.937 11.

k w . Blambangan Umpu Kab Way Kanan.s o ft w a re F.600 kg 245 kg 100 kg 1 ek 8 ek 1 ek 100 ek 40 ek *) hanya yang lewat / melapor melalui Stasiun Karantina Hewan Panjang/tarahan Sedangkan data pemasukan ternak. BIDANG TEKNIS 1. Srengsem. Pelabuhan Bakauheni. baik penyakit yang sifatnya strategis ataupun ekonomis. (3) pelayanan kesehatan hewan terpadu.831 ek 500 ek NO 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 URAIAN Daging aym (beku) Daging ayam (ekspor Jepang) Telur Jeroan Kulit Burung Siamang Anjing Kalong Kera JUMLAH 49.822 ek 1.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .595 ek 639. Dalam rangka pengendalian penyakit hewan yang diakibatkan oleh lalu lintas hewan/ternak/BAH/HBAH (Hasil Bahan Asal Hewan).573 ek 161 ek 30 ek 1 ek 55.s o ft w a k e r. menjadikan Lampung sebagai daerah penyangga bagi Provinsi lain di sumatera terhadap penyebaran penyakit yang berasal dari Pulau Jawa.141 kg 625. hewan.c ww w om k lic lic . serta beberapa pelabuhan yang sewaktu waktu dipergunakan yaitu antara lain Pelabuhan Sukaraja.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. dilakukan tindakan pengamanan ternak secara preventif dalam bentuk pembinaan kesehatan hewan secara utuh. BAH. antara lain (1) pengamanan sumberdaya alam. Pelabuhan sungai Menggala dan TPI Lempasing. antara lain Pelabuhan Panjang. Bandar Udara Branti. Sebagai upaya perlindungan terhadap ternak dan gangguan penyakit.doc/Datin 14 . (4) pengamanan produksi bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan. Labuhan Maringgai. BAH. Kota Agung. dilakukan pemeriksaan dan pencatatan oleh Karantina Hewan. Lemong Kab Lampung Barat.500 ek 30. Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet Provinsi Lampung yang letak geografisnya berbatasan dengan Propinsi Banten (Pulau Jawa) dan berada di ujung Selatan Pulau Sumatera. HBAH ke Provinsi Lampung atau untuk Provinsi lain yang melalui karantina hewan adalah sebagai berikut : E:\KEBIJ TEK-260405. . HBAH melalui Stasiun Karantina Hewan Panjang Tahun 2003 *) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 URAIAN Sapi lokal Sapi eks impor Sapi bali bibit Kerbau Kuda Kambing Babi DOC Ayam Buras Ayam ras broiler Itik JUMLAH 1. Data Pengeluaran Ternak. atau sebaliknya penyakit dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa. Hewan. (2) pengamanan lingkungan budidaya ternak. dengan kondisi pada tahun 2003 adalah sebagai berikut : Tabel 8. Sebagaimana diketahui bahwa pintu keluar-masuk ternak / hewan / bahan asal hewan (BAH) dan hasil bahan asal hewan (HBAH) di Lampung ada di beberapa titik. dan (5) pengamanan sarana produksi peternakan.422 kg 37.719 ek 59.126 ek 2. Simpang Pematang Kab Tulang Bawang.

dibawah ini ditampilkan data kejadian penyakit hewan / ternak menular strategis selama tahun 2000 – 2003 E:\KEBIJ TEK-260405. Dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan hewan dan kesmavet. cukup tinggi antara lain ayam potong. klinis). Bandara Branti serta check poin lalu lintas lainnya tidak tersedia datanya. Ayam afkir petelur. lab). Hal ini disebabkan Stasiun Karantina Hewan kedudukannya (lokus) ada di Pelabuhan Panjang dan Tarahan (holding ground). BAH. SE. Sedangkan yang masih positif berada di Lampung antara lain hog cholera (susfected. HBAH. lymphoid leucosis (Lab). Hewan.412 ekor 8. Sementara lalu lintas pemasukan Hewan Ternak BAH dan HBAH. k w . coryza/snot (lab). tuberculosis dan PMK. klinis). karantina hewan 1 unit. daging.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. BPPV 1 unit. sementara di pelabuhan Bakauheni yang memiliki arus lalu lintas barang dan orang sangat tinggi. BAH. HBAH melalui Karantina Hewan Panjang Tahun 2003 NO 1 2 3 4 URAIAN SAPI Brahman cross Feather meat/ meat bone Kuda Kambing JUMLAH 91. haemochsiosis (lab). sapi. telur. salmonellosis. . ternak. Sebagai gambaran. Dinas Peternakan atau yang membidangi peternakan di 10 kab/Kota. helminthiosis (lab). pullorum (lab).s o ft w a re Tabel 9: Data Pemasukan Ternak. Propinsi Lampung telah memiliki sarana dan prasarana yaitu : Pos Keswan sebanyak 12 unit. scabies dan orf (klinis). itupun lokasinya diluar area Pelabuhan Bakauheni.480.545 Ton 1 ekor 25 ekor KETERANGAN Asal Australia Asal Amerika Jawa Barat Asal Jawa Dari hasil tindakan pengawasan terhadap lalu lintas hewan .s o ft w a k e r. rabies (lab. yang melalui pelabuhan Bakauheni. baru pada bulan Maret 2005 ditempatkan Pos Karantina berupa Pos Check Poin.doc/Datin 15 .c ww w om k lic lic . serrologis). gumboro. Sebagaimana diketahui bahwa HBAH masuk khususnya yang melalui Pelabuhan Bakauheni. Sementara itu beberapa jenis penyakit strategis dan ekonomis yang telah didiagnosa secara labolatoris dan hasilnya negative antara lain anthrax. anaplasmosis. MCF. sehingga masih ada kendala untuk memantau pemasukan hewan dan bahan asal hewan dari Jawa ke Lampung. tempat pemotongan hewan (TPH) 64 unit dan rumah potong ayam (RPA) dengan kualifikasi untuk ekspor 1 (satu) unit. piroplasmosis. BVD. Coccidiosis (lab). BEP (klinis) dan flu burung (lab.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . ND (lab. yang tercatat hanya 4 (empat) komoditi pada 1 (satu) tempat yaitu Pelabuhan Karantina Panjang. surra. klinis). anjing dll. CRD (lab). brucellosis. Fasciollosis (lab). ramadewa (lab. rumah potong hewan (RPH) 8 unit.

Sedangkan keberhasilan program IB yang cukup monumental diantaranya adalah terbangunnya Instalasi Produksi Mani Beku di Terbanggi Besar. Dari hasil pengamatan terdapat beberapa hal yang sangat mendasar dan sangat berpengaruh terhadap kinerja IB sebagaimana tersebut diatas. : Jumlah Kejadian Penyakit Hewan/Ternak menular Strategis di Propinsi Lampung Tahun 2000 . k w . tingginya animo peternak yang telah mengenal program IB untuk memanfaatkan teknologi IB. (3) conception rate.s o ft w a k e r. . sosialisasi program IB dan peralatan IB yang relative masih kurang. Inseminasi Buatan Inseminasi Buatan (IB) mulai diintroduksi di Lampung pada tahun 1976.2003 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 PENY HWN STRATEGIS Anthrax Brucellosis Bovine Viral Diarhea Gumboro Hog Cholera Rama Dewa New Castle Desease Rabies Salmonellosis SE Inf Bovine Rinotracheaisis Surra Anaplasmosis Piroplasmosis MCF Flu Burung 2000 0 1 0 0 0 0 5 14 0 0 0 0 0 0 2 0 2001 0 0 0 0 0 0 1 19 0 0 0 0 0 0 0 0 2002 0 0 0 0 1 0 0 28 0 0 0 0 0 0 0 0 2003 0 0 0 0 0 0 4 12 0 0 1 0 0 0 0 2 KET Data diperoleh dari hasil pemeriksaan BPPV wilayah III Bandar Lampung 2. Adapun kondisi sarana dan prasarana fisik IPMB Terbanggi besar sampai dengan tahun 2004 adalah sebagai berikut : E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin 16 . dan perkembangannya sampai saat ini cukup baik. antara lain pengetahuan dan keterampilan peternak.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. (4) recording dan system pelaporan.000 dosis mani beku sapi dan 10. kualitas budidaya (terutama pakan yang diberikan). (5) distribusi dan sistem penjualan mani beku.c ww w om k lic lic . dan N2 Cair (6) dan pengembangan IB swadaya. (2) ratio cervis per-conception.s o ft w a re Tabel 10. dalam arti pada beberapa aspek masih diperlukan perhatian dan peningkatan. antara lain (1) cakupan wilayah inseminasi dan peningkatan jumlah akseptor.000 dosis mani beku kambing.000 dosis yang terdiri dari 40. Sampai dengan tahun 2003 produksi mani beku IPMB Terbanggi Besar mencapai 50. serta meningkatnya pendapatan peternak peserta IB sebagai akibat dari meningkatnya harga jual ternak hasil IB.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .

.c ww w om k lic lic .doc/Datin 17 . k w . Secara umum perkembangannya sampai saat ini adalah sebagai berikut : E:\KEBIJ TEK-260405.s o ft w a k e r.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . PERALATAN IPMB (2) Peralatan Penampungan Vagina buatan sapi Vagina buatan kambing Sterilisasi vagina buatan Incubator Rak alat alat Inner Linner Termos IB gun sapi IB gun Kambing Peralatan pemeriksaan Kualitas Mikroscope listrik Mikroscope cahaya Fotometer Refrigerator CCTV Monitor Incubator alat gelas/kaca Lemari alat alat kaca Timbangan digital Peralatan Processing Cool top Filling and Sealing Machine Refrigerator Container Prae Freezing Rak Prae Freezing Sterilisasi Straw Peralatan Printing Straw Printing Straw Manual Printing Straw Automatic Peralatan Penyimpanan & Distribusi Container deppo Container operasional Vacuum Container Container deppo 200 liter Mobil pengangkut N2Cair & Straw & pakan Mobil Operasional TERSE DIA (3) 4 2 1 1 1 4 2 4 2 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 2 0 1 0 12 2 1 0 1 KEBUTU HAN (4) 15 8 1 1 4 15 4 6 6 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 2 1 6 1 1 1 24 6 2 2 2 2 KEKURA NGAN (5) 11 6 0 0 3 11 2 2 4 0 0 0 0 0 1 2 1 0 0 1 1 4 1 0 1 12 4 1 2 2 1 Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa program IB mulai diintroduksi pada tahun 1976. atau sudah berjalan selama 28 tahun.s o ft w a re Tabel 11 Kondisi Sarana dan Prasarana Fisik IPMB Terbanggi Besar Sampai Dengan Tahun 2004 (dalam buah/unit) NO (1) A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 B 1 2 3 4 5 6 7 8 C 1 2 3 4 5 6 D 1 2 E 1 2 3 4 5 6.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.

dan lokasi sentra pembibitan ternak di Provinsi Lampung adalah sebagai berikut : E:\KEBIJ TEK-260405.37 92.892 2000 372. Mengembangkan sentra-sentra pembibitan ternak dalam bentuk pembibitan ternak rakyat/pembibitan pedesaan atau VBC dengan mengutamakan pada daerah-daerah penyebaran ternak pemerintah dan dilaksanakan melalui Pola Sistem Pelayanan Terpadu (SPT). serta telah diproduksinya mani beku jenis kambing BOER.350 108. Bila dilihat dari usaha pengemukan sapi potong di Provinsi Lampung.s o ft w a re Tabel 12. 1997) sebagian besar masih merupakan usaha sambilan serta belum menariknya usaha pembibitan sapi potong bagi perusahaan peternakan karena pengembalian modalnya membutuhkan waktu yang relatif lama.72 Tahun 2001 373.98 55 74.934 106. k w .563 42.226 40.doc/Datin 18 .50 2002 381. pelayanan IB (pada VBC sapi dan kambing).40 60. Untuk mengembangkan perbibitan di Provinsi Lampung.s o ft w a k e r.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.737 1.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Hal ini menunjukan bahwa ada sesuatu yang perlu dikaji karena proses selama kurun waktu 28 tahun. Provinsi Lampung mempunyai peluang yang besar terkait dengan potensi pasar dan sumberdaya pakan yang ada. Adapun jenis komoditas. ternyata kemampuan ternak lokal dal. pelayanan kesehatan. Penggunaan bibit unggul kambing ini masih pada tahap pengenalan (mulai tahun 2002) dengan realisasi akseptor ± 2.639 1. Kinerja Pelaksanaan IB di Propinsi Lampung Tahun 1999 – 2003 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 URAIAN Populasi Sapi (ekor) Jumlah betina produktif (ekor) Akseptor (ekor) Jumlah Inseminasi/Dosis SC Ratio CR (%) Kebuntingan (%) Kelahirannya (%) 1999 372.530 2. Pembibitan Masalah utama yang dihadapi dalam meningkatkan produksi dan produktivitas ternak salah satunya adalah masih rendahnya ketersedian bibit ternak baik kualitas maupun kuantitasnya.816 33. ternyata cakupannya relatife masih rendah.63% jika dibandingkan dengan potensi akseptor yang ada yaitu ± 108.58 93 2003 387. Sedangkan pembibitan ternak kambing. bimbingan pemasaran/panen hasil. sementara itu peternakan rakyat yang merupakan “armada semut” yang potensial (Sujarmin.589 25.86 61. Jumlah dan kualitas bibit sapi lokal masih terbatas sehingga belum mampu memenuhi permintaan produksi.160 32.39 80. dan PE oleh UPTD IBBITKAN di instalasi Pembuatan Mani Baku Terbanggi Besar.534 104.458 29.021 104.105 1.001 104.am menyediakan bakalan hanya dapat memenuhi 15 – 20 % sedangkan 80 – 85 % masih mendatangkan dari impor (Australia).c ww w om k lic lic .663 38.165 31. meliputi pembinaan.138 39. . atau baru mencapai 26.941 28.458 ekor.99 Jumlah akseptor yang dapat di inseminasi pada tahun 2003 mencapai 29. dan pembinaan produksi ternak bibit.500 ekor. kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : a.00 62. disisi lain sistim dan usaha pembibitan secara keseluruhan belum mendapat porsi perhatian yang memadai. BOERAWA.50 98. 3.266 ekor.07 45.

c W C re ! tr ac C tr ac k e r. 3.s o ft w a k e r. KABUPATEN / KOTA Tanggamus Lampung Selatan Lampung Tengah NO 1. k w . 2. 2. 1. .s o ft w a re a) Sapi Potong NO 1 KABUPATEN / KOTA Lampung Selatan NO 1 2 3 1 2 3 4 5 6 7 KECAMATAN Tanjung Bintang Sido Mulyo Jati Agung Simpang Agung Padang Ratu Punggur Gunung Sugih Terbanggi Besar Seputih Mataram Kota Gajah 2 Lampung Tengah b) Kambing NO 1 2 KABUPATEN / KOTA Tanggamus Lampung Selatan NO 1 2 1 2 3 1 2 3 1 2 3 4 5 1 2 1 2 1 KECAMATAN Talang Padang Sumberejo Gedong Tataan Tanjung Bintang Way Lima Batanghari Nuban Sukadana Way Jepara Seputih Surabaya Seputih Banyak Seputih Mataram Kalirejo Padang Ratu Abung Timur Bukit Kemuning Tl. 1. bawang Tengah Lambu Kibang Kemiling 3 Lampung Timur 4 Lampung Tengah 5 6 7 Lampung Utara Tulang Bawang Bandar Lampung c) Itik NO 1.c ww w om k lic lic .doc/Datin 19 .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . KECAMATAN Pringsewu (Ambarawa) Wonosobo Palas Trimurjo E:\KEBIJ TEK-260405.

Nama Perusahaan PT.000 10. KECAMATAN Seputih Raman Seputih Mataram b. KECAMATAN Batanghari Metro Pusat f) Puyuh NO 1. Multi Breeder Adirama Indonesia (PT.000 E:\KEBIJ TEK-260405. Sumatera 10. 2. Charoen Pokphand Jaya Farm di Kec.000 Lpg.400. MBAI Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 Distribusi Produksi / FS Pedaging Petelur 9.648 2. Perkembangan populasi parent stock. KECAMATAN Metro Pusat g) Babi NO 1. KABUPATEN / KOTA Lampung Timur Kota Metro NO 1. Tahun 1999 – 2003 No 1. Pembinaan pada Perusahaan Pembibitan Ayam Ras Jumlah perusahaan pembibitan Ayam ras di Provinsi Lampung ada 3 buah yaitu PT. Tanggamus.150.733.548. Indonesia Farming di Katibung Kabupaten Lampung Selatan.325 13. k w . 1.s o ft w a re d) Sapi Perah NO 1.doc/Datin 20 .s o ft w a k e r. . KABUPATEN / KOTA Kota Metro NO 1.612 530. PT.575.c ww w om k lic lic . 1.000 Jabotabek 10.450 2. 2. KABUPATEN / KOTA Tanggamus Kota Metro NO 1.942. Talang Padang Kab.500.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Natar Kab.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . 2.256.149.270 1. Lampung Selatan dan PT. Lamp. produksi dan distribusi DOC ayam ras pada perusahaan pembibitan di Provinsi Lampung dari Tahun 1999 – 2003 adalah sebagai berikut Tabel 13 : Produksi dan Distribusi Final Stock Ayam Ras pada Perusahaan Pembibitan di Prov. KECAMATAN Talang Padang Metro Utara e) Ayam Buras NO 1. KABUPATEN / KOTA Lampung Tengah NO 1.347 1. MBAI) di Kec.

MBAI dan sejak tahun 2002 perusahaan ini tidak lagi melaksanakan pembibitan ayam ras petelur sehingga kebutuhan bibit ayam ras petelur di Provinsi Lampung sejak tahun 2002 dipenuhi dari Provinsi lain.15 %.68 %. sedangkan melalui sumber dana APBN/APBD dimulai tahun 2003 berupa pilot proyek yaitu sapi .s o ft w a re 2.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.000 10. Salah satu faktor dominan yang mempengaruhi peningkatan produksi dan produktivitas ternak ruminansia dan unggas adalah faktor pakan hijauan dan pakan konsentrat.361. .548.696. Adapun perkembangan produksi bibit ayam ras pedaging tahun 1999 – 2000 meningkat 29. Charoen Pokphand 1999 2000 2001 2002 2003 1999 2000 2001 2002 2003 6. Dari 3 (Tiga) buah perusahaan pembibitan ayam ras di Provinsi Lampung.c ww w om k lic lic . Kegiatan integrasi usaha peternakan dengan tanaman perkebunan/pertanian di Provinsi Lampung sudah dimulai sejak th. Oleh karena itu upaya pemanfaatan sumber daya pertanian. Kendala yang dihadapi dalam penyediaan hijauan makanan ternak antara lain masih rendahnya kualitas pakan yang diberikan karena sebagian besar peternak tidak memiliki kebun rumput.484.500 2.doc/Datin 21 .768. akan tetapi pada tahun 2000 – 2001 terjadi penurunan sebesar 27. PT.850.124.370.480 3. 4.s o ft w a k e r.750 7. PT. Pakan Ternak. perkebunan dan Agroindustri menjadi prioritas kegiatan sekaligus dalam rangka meningkatkan kapasitas tampung dari satu satuan luas lahan usaha tani.986 - Lampung Lampung Lampung Lampung Lampung Lampung Lampung Tdk. Ini menunjukkan bahwa iklim usaha budidaya ayam ras pedaging di Provinsi Lampung semakin berkembang dengan dukungan swasta melalui pola kemitraan seiring dengan semakin meningkatnya daya beli masyarakat serta kebutuhan untuk mengkonsumsi protein asal ternak.000 8. 1997 yaitu pengembangan ternak kambing di kawasan kebun singkong. sapi - E:\KEBIJ TEK-260405.Berproduksi Lampung 3. Indonesia Farming * Kebutuhan DOC petelur mulai tahun 2002 dipenuhi dari Provinsi lain. Dengan demikian akan diperoleh Sinergis yang Produktif yaitu tanaman pertanian/perkebunan memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik. k w .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .46 %. yang melaksanakan pembibitan ayam ras petelur hanya PT.226 2.245 1.padi. dan mulai tahun 2001 sampai dengan 2003 meningkat sebesar 52.

dan jenis pakan yang diproduksi adalah pakan ayam ras petelur dan pedagang.c ww w om k lic lic .pisang.s o ft w a k e r.000 ekor Adapun jumlah pabrik pakan ternak di Provinsi Lampung berjumlah 5 perusahaan. kambing . 7. pakan itik dan pakan sapi.tebu.997 ekor Sapi Sawit memiliki kapasitas tampung ±40. sapi .228 ekor Kambing Singkong memiliki kapsitas tampung ±1.singkong dan pada th. 4. 2. k w . 5.700.doc/Datin 22 .000 ekor Kambing Coklat memiliki kapasitas tampung ±30. dengan jumlah petugas sampai tahun 2003 sebanyak 25 orang. Sapi Padi memiliki kapasitas tampung ±341.s o ft w a re sawit. . 6.565 ekor Sapi Tebu memiliki kapasitas tampung ±65. 3.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . 2004 dilanjutkan dengan sapi .000 ekor Sapi Nanas memiliki kapasitas tampung ±50.130 ekor Kambing Lada memiliki kapasitas tampung ±100. dapat dikembangkan integrasi ternak dengan tanaman pertanian/ perkebunan dengan daya tampung antara lain sebagai berikut: 1. pakan puyuh.coklat dan kambing .c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka melindungi peternak dari kualitas ransum yang tidak sesuai dengan label dan Standart Nasional Indonesia (SNI) dan pada tahun 2004 dilaksanakan pelatihan pengawasan mutu pakan sebanyak 20 orang dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan E:\KEBIJ TEK-260405. Pengawasan mutu dilaksanakan oleh Dinas Peternakan atau yang membidangi peternakan Kabupaten / Kota. Dari tanaman Pertanian dan tanaman Perkebunan di Propinsi Lampung.

PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .c W C re ! tr ac C tr ac k e r. yaitu dalam bentuk impor bakalan sapi. k w .telur. tenaga fungsional penyuluh peternakan tidak ada lagi. sikap dan keterampilan) petugas lapangan relatif masih kurang antara lain Inseminator. Jumlah induk sapi potong di Lampung masih sangat kurang baik kualitas maupun kuantitasnya. Jumlah dan kualitas (pengetahuan. disisi lain pengeluaran bibit sapi dari Lampung sulit dikendalikan c. kulit dan bibit ternak) terus meningkat. Kelembagaan peternak pada umumnya kurang mandiri dan masih project oriented. Terjadi banyak perpindahan bibit antar wilayah. Beberapa permasalahan pokok yang akan menjadi prioritas dalam pemecahannya antara lain : 1. padahal sesungguhnya dengan pendekatan ini tidak menambah populasi. susu. sementara kemampuan suplay khususnya komoditi daging sapi dan susu masih tergantung pada impor. jiwa kewirausahanya masih sangat lemah. Sumber Daya Manusia dan Kelembagaan a. akibatnya kegiatan penyuluhan. MASALAH Permasalahan yang masih harus terus dihadapi dan menjadi tantangan adalah aspek keberlanjutan. daging. dan impor susu (bahan baku dan olahan). akibatnya visi peternak terhadap usaha peternakannya hanya bersifat sambilan. b.s o ft w a k e r.70 %) adalah lulusan SD dan tidak lulus SD. dan paramedis e. Tingkat pendidikan formal petani/peternak umumnya (60 . Sejak diberlakukannya otonomi daerah. umumnya lebih tertarik bekerja di sector industri dan jasa di perkotaan c. pendampingan dan sekolah lapang mengalami banyak hambatan d. Minat tenaga kerja terdidik di pedesaan terhadap usaha peternakan masih sangat kecil. yaitu dengan semakin tingginya tingkat pendapatan dan pendidikan masyarakat.doc/Datin 23 . . bahkan justru bisa kontra produktif E:\KEBIJ TEK-260405.s o ft w a re BAB IV MASALAH DAN TANTANGAN YANG DIHADAPI A. Bibit Ternak b. permintaan terhadap komoditi ternak (daging.c ww w om k lic lic . 2.

E:\KEBIJ TEK-260405. Gumboro.000 ekor per tahun (Secara Nasional 400. Masih kurangnya informasi tentang jumlah dan lokasi bahan baku pakan. d. baik hijauan ataupun bahan baku konsentrat 4. Hal ini membuktikan bahwa kemungkinan ada persoalan yang mendasar dalam upaya pembebasan rabies yang belum teridentifikasi. 3. Komponen impor bahan baku pakan masih tinggi.000 – 120. c. Kontinuitas pakan hijauan pada musim kemarau masih menjadi kendala para peternak. Penyakit menular lainnya (SE. b. e. k w . bakalan sapi potong dari Lampung belum dapat bersaing dengan produk impor g. kualitas pakan yang diberikan pada ternak ruminasia umumnya masih rendah. . Perbibitan ternak kerbau. Untuk usaha penggemukan sapi. Dilihat dari aspek kualitas. Usaha perbibitan ternak (diluar ayam ras) belum diminati oleh perusahaan swasta e. ND dll) masih memungkinkan terjadi out break. Target pembebasan penyakit rabies di Pulau Sumatera selalu mundur. Harga pakan unggas (konsentrat) sangat fluktuatif dan pada saat – saat tertentu relative mahal jika dibandingkan dengan harga produk akhirnya.000 – 450. produksi susu dan kinerja reproduksi. d. interval kelahiran. Wabah Penyakit flu burung b. sehingga berdampak pada rendahnya produksi dan produktivitas antara lain pertambahan berat badan harian. semula ditargetkan bebas tahun 1997.000 ekor per tahun) f. Teknologi pengolahan pakan belum dilaksanakan oleh peternak f.doc/Datin 24 . Pakan Ternak a.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.s o ft w a k e r. padahal potensi sumberdaya pakan local banyak yang belum dimanfaatkan. babi. kemudian mundur lagi ke tahun 2007. c. sapi perah.s o ft w a re d. mundur ke tahun 2003. itik dan puyuh belum mendapat porsi pembinaan yang cukup dibandingkan dengan perlakuannya terhadap ternak sapi potong dan kambing. Ditingkat peternak pada umumnya. Hog Cholera.c ww w om k lic lic . Penyakit Hewan a. Lampung masih mendatangkan bakalan sapi impor dari Australia sekitar 100. Rama Dewa. Obat dan peralatan kesehatan hewan sebagian besar masih impor. berat lahir. Peternak belum melakukan pengolahan dan penyimpangan pakan yang berlimpah pada saat musim hujan dan pada saat panen. ayam buras.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Brucellosis.

Sejak diintroduksi tahun 1976. ayam broiler dan telur ayam sangat fluktuatif. Peralatan peternakan sebagian masih mengandalkan barang impor seperti peralatan IB. demikian juga persentase kelahiran pada ternak kerbau dan kambing relative masih rendah dibandingkan dengan potensi genetiknya e. Prosentase kelahiran ternak di Lampung relative masih rendah (Sapi 19. Kurangnya promosi terhadap konsumsi susu E:\KEBIJ TEK-260405. Pasar a. peralatan kesehatan dan peralatan pasca panen. c. Posisi tawar peternak masih sangat lemah.s o ft w a re e. Kebijakan makro dalam bidang permodalan belum banyak menyentuh para peternak pada umumnya. Lalu lintas hewan antar pulau dan antar Provinsi sulit dikendalikan sehingga dapat menimbulkan penyebaran penyakit 5.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Belum tersosialisasinya IB kambing pada masyarakat c. 7. 6. Harga beberapa komoditi peternakan antara lain telur ayam ras. Modal. covering pelayanan IB pada ternak sapi di Provinsi Lampung relatif masih rendah yaitu baru mencapai 26.s o ft w a k e r. Propinsi Lampung tidak memiliki pasar hewan/ternak yang representative. d. DOC. sehingga masih banyak terjadi inbreeding dan penggunaan pejantan yang berkualitas rendah. k w . b.%) dibandingkan dengan kemampuan potensi genetic (Sapi 30 – 35 % dari populasi).00. Sementara IB pada ternak ternak kambing baru dilaksanakan tahun 2003 dan IB pada ternak kerbau masih kesulitan dalam peyediaan mani bekunya. c.c ww w om k lic lic . pendidikan dan budaya peternak dan persyaratan yang terlalu memberatkan.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.63 % dari potensi IB yang ada. pakan konsentrat.doc/Datin 25 . Skala usaha peternakan umumnya masih termasuk kedalam katagori sambilan dan cabang usaha. d. . Pelaksanaan kawin alam tidak dibarengi dengan sistim seleksi dan penggunaan pejantan yang baik. hal ini terkait dengan pengetahuan. bagian keuntungan terbesar berada pada sector jasa yang dikuasai oleh para blantik (bukan peternak). sehingga tingkat effisiensinya rendah b. d. Jarak kelahiran (calving interval) pada sapi masih panjang yaitu rata – rata > 16 Bulan. b. pada kambing > 8 bulan dan pada ternak kerbau > 24 bulan. Pengelolaan Reproduksi a. Lembaga permodalan yang ada masih sangat sulit diakses oleh peternak kebanyakan. Peralatan dan Teknologi a.

4. Perdagangan bebas ASEAN sudah diberlakukan sejak tahun 2003 dan perdagangan bebas Asia Fasifik untuk Negara maju tahun 2010 dan untuk Negara berkembang tahun 2020.c ww w om k lic lic . k w . serta kewaspadaan terhadap penyakit hewan menular lainnya terutama Brucellosis. Antraks.doc/Datin 26 . 2. b.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . tingkat pendidikan dan budaya konsumsi pangan yang terus berkembang. c. Hog Cholera. Ketergantungan subsektor peternakan terhadap sektor lain semakin tinggi. Globalisasi informasi dan perdagangan. Ketergantungan impor sapi bakalan. peralatan dan bahan baku susu. obat – obatan. 9. Rabies dan Septichaemia E:\KEBIJ TEK-260405. Dengan adanya perdagangan bebas kebijakan pajak dan bea masuk komoditi peternakan akan menjadi beban dalam usaha peternakan. antara lain yang perlu dicermati adalah : a. TANTANGAN YANG AKAN DIHADAPI KEDEPAN. Kurang kondusifnya iklim usaha dan investasi. b. . 8. Transformasi struktur perekonopmian daerah/nasional akan terus berkembang yaitu : a. akibatnya usaha peternakan kurang dapat bersaing dengan Negara lain. Tidak efektif dan efisiennya pelayanan dibidang peternakan dan kesehatan hewan c. 5. Meningkatnya tuntutan efisiensi. 1. Restrukturisasi organisasi pemerintahan yang melaksanakan fungsi pelayanan dibidang peternakan dan kesehatan hewan. Permintaan komoditi peternakan yang terus meningkat baik jumlah ataupun kualitasnya. sedangkan peranan peternakan terhadap pertanian diperkirakan akan terus semakin meningkat. Terus berlanjutnya pengurasan bibit ternak yang berkualitas ke Provinsi lain dan pemotongan ternak betina bertanduk yang masih produktif. 6.s o ft w a k e r. dan daging sapi bahan baku pakan. peningkatan kualitas dan kuantitas produk serta tuntutan terhadap peningkatan kualitas dibidang peternakan dan kesehatan hewan. sebagai akibat dari peningkatan jumlah penduduk. 3. Dampak negative pelaksanaan otonomi daerah diperkirakan masih akan mewarnai pelaksanaan pembangunan peternakan.s o ft w a re B. Rama Dewa. Lampung masih dibayangi dengan munculnya wabah (Out Break) Penyakit flu burung. pendapatan masayarakat. Peran relative sektor pertanian terhadap perekonomian semakin menurun. 7.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.

10. k w . diperlukan upaya pengelolaan sumberdaya yang optimal dengan curahan input yang minimal. dan Sumberdaya Manusia berkualitas) juga ditentukan oleh sector atau lingkungan eksternal. E:\KEBIJ TEK-260405. Persoalannya curahan input yang dibutuhkan yaitu dalam bentuk masuknya investasi (Modal.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Hal ini disebabkan masih “ terbukanya “ pintu – pintu masuk penyakit yaitu diperbatasan dengan Sumatera Selatan dan Bengkulu. Teknologi.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. . pintu masuk Internasional di pelabuhan Panjang serta Bandara Raden Intan. Bakauheni.doc/Datin 27 .c ww w om k lic lic .s o ft w a re Efizotica. 11. Membangun komitmen masyarakat peternakan Lampung untuk bersama – sama mewujudkan Lampung sebagai salah satu lumbung ternak nasional. Untuk mewujudkan Lampung sebagai lumbung ternak.s o ft w a k e r.

dan susu. sedangkan populasi ternak sebagai sumber protein hewani menjadi variable dependent. Faktor penting yang mempengaruhi nilai konsumsi protein per kapita per hari adalah laju pertambahan penduduk. telur. Metode Prediksi Pola prediksi penentuan sasaran pengembangan populasi ternak di Provinsi Lampung dalam jangka pendek didasarkan pada upaya peningkatan konsumsi protein hewani asal ternak per kapita per hari. Sedangkan protein susu untuk saat ini hanya bertumpu pada susu yang berasal dari sapi perah. maupun susu. dianggap tetap dan proporsional.s o ft w a re BAB V SASARAN UMUM A. sehingga akan berimplikasi terhadap aspek pembiayaan. jumlah konsumsi protein berasal dari protein daging. Selama 10 tahun terakhir. baik produksi dalam provinsi maupun pemasukkan dari luar provinsi. baik dari daging. laju pertambahan penduduk di Provinsi Lampung rata-rata mencapai 0.s o ft w a k e r. yakni dari tahun 1993 s/d 2003. Sementara itu. yakni peningkatan konsumsi protein hewani asal ternak secara efisien. .c ww w om k lic lic . Meskipun demikian terdapat kelemahan karena hasil prediksi populasi akan menjadi tampak besar.98%. Protein telur berasal dari telur ayam buras. Hal ini berarti bahwa tingkat konsumsi protein akan menjadi variable independent. telur. Kelebihan penggunaan metode prediksi konsumsi protein hewani asal ternak adalah bahwa perencanaan dapat diarahkan ke inti masalah peternakan. Pilihan untuk menganggap proporsi yang tetap didasarkan pada pembacaan trend proporsi protein antarjenis ternak dan antarjenis daging selama 10 tahun. E:\KEBIJ TEK-260405. k w . Model prediksi ini berkebalikan dengan cara yang biasa dilakukan karena pada umumnya prediksi selalu dimulai dengan prediksi populasi dan diikuti dengan prediksi konsumsi protein. ayam petelur. proporsi sumbangan dari masing-masing jenis ternak terhadap jumlah ketersediaan protein. Nilai duga yang diperolehpun akan lebih relistis dan akurat.doc/Datin 28 . Hal ini terjadi karena bentang ukuran populasi dengan konsumsi protein hewani sangat lebar. Hal ini dimungkinkan karena perhitungan nilai konsumsi protein secara tidak langsung juga memperhitungkan laju pertambahan penduduk dan laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung yang tergambar dalam nilai daya beli masyarakat. Pada sisi lain. yakni dari tahun 1993 sampai dengan tahun 2003.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Dengan demikian nilai laju pertumbuhan penduduk sebesar 0.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .98% digunakan sebagai acuan. dan burung puyuh. Demikian juga dengan imbangan protein yang berasal dari offal dan karkas. Protein daging merupakan penjumlahan protein karkas dan protein offal yang berasal dari ternak potong ruminansia dan non ruminansia. itik.

833 110 53.147.571 2006 400.78 4.41 4.913 16.609 26. k w .695 91. yakni sebesar 0.c ww w om k lic lic .54 3.606 15.77 3.230 2009 417.98 3.512 2. prediksi populasi akhir diduga dari faktor koreksi yang berasal dari nilai korelasi antara tingkat pemotongan dengan jumlah populasi.440 27. Itik Puyuh 2005 394. maka dapat disusun suatu prediksi populasi dari berbagai jenis ternak dan berbagai sumber protein.473 188.00 3.30 4.40.40 2007 7.51.299.729. Nilai faktor koreksi juga diperoleh dari pengamatan terhadap trend korelasi antara tingkat pemotongan dengan jumlah populasi selama 10 tahun.s o ft w a re Pada sisi lain.287 76. Ayam Ped.doc/Datin 29 .176 78.10 4.89 4.59 2. sehingga laju pertambahan penduduk diperkirakan sebesar 0. serta faktor koreksi pemotongan dianggap konstan.92 4.00 E:\KEBIJ TEK-260405. .9493%.99 4. Susu dan Protein Hewani Tahun 2005 .890 961.00 3.533 929.47 % per tahun.12 5.29.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.222.377.98%.933 648. Pertambahan penduduk mengacu kepada hasil perhitungan.275 Laju (%) 1.91 3.62 2009 8.894 170. 4.133 68.899 671.33 4.761.Adapun prediksi sasaran konsumsi secara lengkap tertuang pada table 14 berikut : Tabel 14 : Prediksi Sasaran Konsumsi Daging.667 15.108 176.42 3.264 2008 411.841 868.73 gram per kapita per hari.427 742.544 2.994 164.817 73.49 2.851.178 898. jumlah pemotongan.103 107 53.652 2.959.s o ft w a k e r. Telur.01 4.806 85. Sasaran Jangka Pendek (2005-2009) Prediksi konsumsi protein per tahun pada tahun 2005-2009 diperkirakan mencapai 4.20 4.00 0.336 118 53. Tabel 15 : Prediksi Populasi Ternak Tahun 2005 – 2009 (Ekor) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jenis Ternak Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam Pet.72 4.249.052 24.52 4. namun dalam operasinya angka tersebut memerlukan adjustment.813 25.634 182. yakni dari tahun 1993 sampai dengan tahun 2003. dan prediksi populasi pada tahun 2005-2009 secara lengkap disajikan pada Lampiran.67 2.962 695.501 103 52.769 16. dan 4.00 3.234 88.47 Prediksi jumlah penduduk.73 Laju (%) 2. Sementara proporsi sumbangan protein antarjenis ternak maupun antarjenis daging.765 71.894 2. 4.378 2007 405.66 4.2009 No 1 2 3 4 Jenis Ternak Daging (kg/kap/th) Telur (kg/kap/th) Susu (kg/kap/th) Protein Hewani (gr/kap/hr) 2005 7.189 94.717 97. B.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Berdasarkan angka prediksi konsumsi protein ini.418.29 2006 7. 4.271.476 2.586 14.51 2008 7.890 993. dengan laju pertambahan sekitar 2.579.310.307 28.53 2.54 3.136 718.62.776.547 114 53.456.

103.334. dan itik sumbangan dapat dikatakan sumbangan “semu”. 20. yakni: 103.42% per tahun.806.765. 39.894.609.813. 405. 695.933.77% per tahun. serta laju pertambahan sebesar 3.307 ekor.579.547. E:\KEBIJ TEK-260405. Situasi ini akan mempengaruhi cara penentukan prediksi populasi.652. serta mempunyai laju pertambahan sebesar 3.667.994. dan 16.776.473 ekor.275 ekor dengan laju pertambahan populasi sebesar 3.310. 25. dan 118 ekor.136.841. dengan laju pertambahan populasi sebesar 9. .271. dengan laju pertambahan populasi sebesar 3.962. Pada kelompok unggas.851.67% per tahun. dengan pertambahan populasi sebesar 3.54% per tahun.s o ft w a re Populasi sapi potong pada tahun 2005-2009 berdasarkan angka prediksi konsumsi protein daging adalah 394.s o ft w a k e r. namun populasi sapi perah cukup berkembang.817.913 ekor. 15.761. 88. dan 21.287. laju pertambahan mencapai 3. Pada kedua komoditi ini.doc/Datin 30 .586. juga berasal dari ternak unggas. 15. Sedangkan dari ayam buras.675.678.189. populasi diprediksikan sebesar : 85. dan 54. 170. yakni: 868. populasi diperkirakan sebesar: 2. Sementara populasi ayam pedaging diprediksikan sebesar: 24. Sumbangan ternak unggas terhadap protein daging yang asli hanya berasal dari ayam potong. dan 417. dengan laju 3.899. sedangkan pada ketiga unggas yang lain prediksi populasi didasarkan pada konsumsi protein telur. dan 43.729.695. 400.00% per tahun.501. populasi diprediksikan sebesar: 648.717 ekor. 671.894.c ww w om k lic lic . dan 78. 2. 40.234.427 ekor. prediksi populasi berdasarkan angka konsumsi telur pada ayam buras mencapai 14. Pada ayam potong.890.00% per tahun.365 kg.00% per tahun.178. Pada ayam petelur.378. 71. 27.544 ekor.91% per tahun.364 kg. dan 742. dengan laju pertambahan 3.377.00% per tahun. dengan laju pertambahan sekitar 0.476. Pada babi.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. 110. dan 188. 929. 41.001.243. Sementara kerbau dan kambing perah dianggap tidak berkembang. 94. dan 2.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . 2. 91.299.230. Sumbangan protein daging. 53. 961. selain dari ternak ruminan. prediksi jumlah daging impor dari 2005-2009 adalah 37. k w . 114. Prediksi populasi kambing cukup besar. Sedangkan populasi puyuh sebesar: 164.533.606. 20.833.418.634. ayam petelur. 182.250 ekor.959.147.571.973. 993. Pada populasi sapi potong ini laju pertambahan diperkirakan sekitar 1. 53. Pada itik.264.512.336 ekor.052. dan 28.108.133.456. Sedangkan populasi kerbau diprediksikan sebesar 52. dan 97. 76. 19. 898. 2. prediksi populasi didasarkan pada konsumsi protein daging.176 ekor.00% per tahun. 411.222. 73.440. 176. Sedangkan offal impor mencapai 18. 16.905. Hal ini terjadi karena ketiga jenis unggas terakhir menyumbangkan daging dalam bentuk ternak afkir.249. 107.28% per tahun.599. 26.769. 53. Pada sisi lain. 718.00% pertahun. Prediksi populasi domba mencapai : 68. dengan laju pertambahan populasi 3.

995.483 81.712 ekor. 990.457 961.825.c ww w om k lic lic .399.71 5.95. Populasi domba diprediksikan mencapai 81.608.421.879 ekor.103 200.53 5.141.866. 904.307.354. 961. populasi terbesar diperkirakan berasal dari ternak kambing.249.10 6.604. 435.976 1. 2.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .425.887. 31.625 194.130 ekor.629. dan 1. 206.06 2013 8. 20.699. 213.172 ekor.995.712 990.629.025.22 4.750.617.141 904.147 31. 1.055.277.592 20.369.300 83. 429. Proporsi protein asal daging terhadap total konsumsi protein hewani asal ternak dari waktu ke waktu dianggap konstan.714.713 ekor. Populasi ternak potong.782.178.782.483.088. Prediksi populasi sapi potong mencapai: 423. ayam petelur afkir.901 20. Tabel 17 : Prediksi Populasi Ternak Tahun 2010 – 2014 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jenis Ternak Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam Petelur Ayam Pedaging Itik Puyuh 2010 423.27 2. Susu dan Protein Hewani Tahun 2010 .49 4.990 932.628.425 129 55.91 6. 5.051.712 1. baik dari ruminan maupun non ruminan.532.901.9905. dan 5.178.901.s o ft w a re C. konsumsi protein hewani asal ternak setiap tahun diperkirakan mencapai 4.871 104.369.691 Pada ternak ruminansia.825 89. k w .098 17.28 Laju (%) 1.341.775 2.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.06.051. dan 21.83 4.088.168.699. Tabel 16 : Prediksi Konsumsi Daging.51 5. dan puyuh. 1.158 110.09 4.45 4.750. 441.536.120.130 219.121. 5. berdasarkan tingkat konsumsi protein hewani tersebut secara lengkap disajikan pada table 16. 20.62 5.251 21.249 2014 447.866.20 Sumbangan terbesar protein hewani asal daging masih berasal dari unggas.628 766. dan 2.325 19. Pada periode tahun 2010-2014 diperkirakan populasi ayam buras mencapai 17.103 2.s o ft w a k e r. dan 447.103.488 2. itik.277 101. dan 219.300.879 137 56.097 213.713 91.209.94 2.318 122 54.097. Sasaran Jangka Menengah (2010-2014) Pada tahun 2010-2014.400.625.95 2012 8.84 2011 8.121. baik berupa ayam potong maupun ayam buras. 33.209 30.96 4.32 5.457. .498.17.2014 No 1 2 3 4 Jenis Ternak Daging (kg/kap/th) Telur (kg/kap/th) Susu (kg/kap/th) Protein Hewani (gr/kap/hr) 2010 8.155.172 35.318. 200. 83.536.532 2.128.083 1. Telur. 1. Prediksi populasi ayam potong mencapai 30.617.871.775 ekor.354 86. 86.28 gram per kapita per hari.400 2011 429. 932.851 114. yakni: 1.399. 2. Pada itik.155. 2.128 33.055.doc/Datin 31 .84.025.103.887 2013 441. Sedangkan puyuh mencapai 194. 19.120 33. 4.714 2.168.17 2014 9.57 5.147.21 0. dan 35. 33. Prediksi populasi ayam petelur sebesar 2.421 206.343 1.612 1. populasi diprediksikan sebesar 766.307. E:\KEBIJ TEK-260405.498 107.341 126 54.604 2012 435.70 4.608 133 55.488.691 ekor.

652. sedangkan offal mencapai 22.49 6.476.097. D. dan 137 ekor.887. 104.776.03 1.83 gram per kapita per hari sebagaimana tertuang pada table 18 berikut : Tabel 18 : Prediksi Konsumsi Daging.29 2016 9. konsumsi protein susu masih melibatkan pemasukkan susu dari luar daerah.343.601 kg.89 6.103.612. maka prediksi populasi ternak potong pada tahun 2014-2019. 129. 213. dan 114. 46.929 kg. sedangkan populasi puyuh diprediksikan mencapai 194.083 ekor.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .77 5. 133. 5.30 6.117. 47. sedangkan kambing dan kerbau perah dianggap tidak ada.750. Populasi ayam petelur diprediksikan mencapai 2. 55.61.209.46 Berdasarkan hal ini.691 ekor.098. 2.120. dan 24. 2. 20. Sementara ternak sapi perah dan kuda dianggap tidak memberikan sumbangan yang memadai terhadap ketersediaan protein daging. Disini lain sumbangan dari daging impor diperkirakan mencapai 44.325.s o ft w a re 89. dan 50. Susu dan Protein Hewani Tahun 2015 . 23.48 4.69 6.87 5.851 ekor. k w . 5. 110.doc/Datin 32 .198.712. 904. Pada sisi lain.72 5. 19.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. 20.488.625.82 5. 55. Populasi ternak perah yang tersedia diperkirakan hanya berasal dari sapi perah.50.617.72.249. 932.158.699. dan 219.536.61 2018 9.50 2017 9.87 4.251 ekor.172 ekor.995.c ww w om k lic lic . 107.39.399. Sasaran Jangka Panjang (2015-2019) Pada tahun 2015-2019 konsumsi protein hewani asal ternak masyarakat Lampung diperkirakan mencapai 5.532. sumbangan protein susu terhadap protein hewani asal ternak berasal dari populasi sapi perah sebanyak 122.604.059. 24. dan 21. Babi diprediksikan mencapai 101.128.08 6.05 2. 2.205.83 Laju (%) 2.782. 54. 200. Pada tahun 2014.72 2019 10.147. 22.629. dan 5.130 ekor.592.2019 No 1 2 3 4 Jenis Ternak Daging (kg/kap/th) Telur (kg/kap/th) Susu (kg/kap/th) Protein Hewani (gr/kap/hr) 2015 9. 961.369.901. Telur. 49. 126. 5. dan 91.35 4. Sementara sumbangan protein telur berasal dari suatu populasi yang terdiri atas ayam buras 17.866.775 ekor.976.103. Populasi itik mencapai 766. baik dari ruminansia maupun non ruminansia disajikan pada table 19 E:\KEBIJ TEK-260405. dan 990.714.s o ft w a k e r.74 4. dan 56. 206.763.61 4.421.99 1.67 5.400. . Prediksi populasi kerbau mencapai 54. dan 2.

213 2016 460.457 1.457.418. dan 24.079.831.701 40.190.483 1.729 1.943. 1. 3.777. Pada ternak ruminansia besar.419 105.239.595 158 57.190.301.244.777. 40.813 2017 467.244.621 24. sedangkan puyuh mencapai 226.295.951.921. 239.253.689 146 56.831 2.883 3.020.109. .019.103. 27.019. dan 41. 460.338 121. Itik diperkirakan mencapai 1.270. E:\KEBIJ TEK-260405. 246.385.065 24.579. 53.521.816 131.883. 146.669. 56.131 124.079. k w .643 22.s o ft w a k e r.813.102.696 1. 232.662 253.140. 57. dan 57. dan 1. Kerbau diperkirakan mencapai 56. 1.213 1. 1.212.231 150 57.037.376 239.921.799.918. 3. Daging import diperkirakan mencapai 52.521 226.701. 57.947 ekor.719. 1. 150. 3.049.331.469. 1.162. dan 158 ekor. dan 58.469.979 ekor.444.834 1.840 246.301.295.253 2019 480.251.259.224.294 kg. Sementara ternak perah yang lain belum memberikan sumbangan protein. 56. 26.109. dan 1.834. patut dicatat bahwa jumlah protein susu tersebut bukan hanya berasal dari populasi sapi perah di Provinsi Lampung saja.194 ekor.194 3.020 94. sedangkan offal mencapai 25.483.595.259.918.595 1. 24.376. Meskipun demikian.957 128.884 100.743 97.696.140.614 1.840.271.444.579.743. populasi sapi perah dan kuda tetap dianggap tidak memberikan sumbangan terhadap ketersediaan protein asal daging.516 39.701.176. Tabel 19 : Prediksi Populasi Ternak Tahun 2015 – 2019 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jenis Ternak Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam Petelur Ayam Pedaging Itik Puyuh 2015 454.s o ft w a re . 23.124.493.979 1.922 41.224.239 142 56.947 1. 37. Sementara sumbangan dari protein telur berasal dari populasi ayam buras sebesar 22.231.419 ekor. Prediksi populasi terbesar pada ternak ruminansia diperoleh dari ternak kambing sebesar 1.884.624.331.701 3. 154.212. 39.595 ekor.270 232. 22.549 23.799. Sedangkan sumbangan dari protein susu berasal dari prediksi populasi sapi perah sebesar 142.493 2018 473.951.366. Sumbangan terbesar diberikan oleh ayam potong yang mencapai populasi 36.578 117.689. 27. dan 480.c ww w om k lic lic .922 ekor.729.049. 473.866 154 57.102. Sayangnya.385 3. 467.124. populasi sapi potong diprediksikan mencapai 454. dan 253. Ayam petelur mencapai 2.866.037.614.075 22. dan 28.719 kg.366 37.213.516.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .251 36.092 Sumbangan protein daging dari populasi ternak potong tetap didominasi oleh produksi daging dari ternak non ruminansia.doc/Datin 33 .443 102.443.662 ekor.092 ekor.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. 55. 1. dan 3.213. melainkan juga melibatkan pemasukan susu dari luar daerah.271.

dan populasi domba mencapai 120.517. itik 1.593 142.985.s o ft w a re E.273 274.610 ekor.171.270 1.267.401.813 108.819 1.557 48.135 ekor.585 146.577 3. Protein daging tersebut terutama berasal dari perkembangan populasi ternak unggas yang diprediksi mencapai 28.367.48 gram per kapita per hari.557 ekor. Sedangkan tingkat konsumsi protein hewani asal ternak pada tahun itu diprediksi mencapai 6. sapi potong import 122.383.392.575. Sedangkan populasi babi diperkirakan mencapai 150.483.763.624 111.562 ekor.557 ekor.360 171 59.300. Sasaran Tahun 2024 Prediksi perkembangan jumlah penduduk menyebabkan adanya perubahan angka prediksi populasi ternak secara keseluruhan.260 27.700 180 59. Populasi kambing diprediksi berkembang mencapai 1.823.279.763. Jumlah protein telur tersebut berasal dari prediksi populasi ayam petelur 3.023 28.852 114. .823.38 gram per kapita per hari.doc/Datin 34 . Tabel 20 : Prediksi Populasi Ternak Tahun 2019 – 2024 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jenis Ternak Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam Petelur Ayam Pedaging Itik Puyuh 2020 487.964.669.023 ekor.147 1. kontribusi ternak ruminansia kecil dan babi sangat signifikan.37 gram per kapita per hari. sumbangan protein daging dari ternak ruminansia besar berasal dari populasi sapi potong yang diprediksi mencapai 515.689.319 3.c ww w om k lic lic .365 1.479.708 135.957 3.419 163 58.340 167 58.288.858 26. Namun ternak itik dan puyuh dianggap tidak memberikan sumbangan protein yang signifikan.797 45.010 2021 494.159 47.007 2022 501.701 ekor ayam pedaging sebagaimana terlihat pada table 20. Pembandingan antara prediksi populasi ayam buras dan ayam petelur sebagai penghasil daging dan telur memperlihatkan bahwa sebaran populasi lebih E:\KEBIJ TEK-260405.701 1.900 ekor dan kerbau 59.541 1.191.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .763. sumbangan protein telur berkembang sampai 2.084 2023 508.219 25.938 ekor.235. Sementara itu. Sedangkan populasi ayam petelur diperkirakan mencapai 3.755 1. Pada tahun 2024 jumlah penduduk diperkirakan mencapai 8. daging dan offal impor terhadap protein daging dianggap tidak ada karena kecilnya.178 43. sapi perah.957 ekor ayam buras dan 48.401.258 3.476 Pada sisi lain.404.841 260.599.938 1.538 26.470 44.476 ekor.558.562 120.610 150. Jumlah tersebut sebagian besar berasal dari daging ternak unggas. Selanjutnya pada ternak penghasil telur.172.149 1.135 288.378 267. Sedangkan sumbangan kuda. k w .634 138.560 jiwa.498 117.010 3.s o ft w a k e r. .306 1.525 281.203.300. Pada tahun 2024 sumbangan protein daging terhadap total konsumsi protein hewani asal ternak diperkirakan mencapai 3.479 176 59.517.700 ekor.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.240 2024 515. dan burung puyuh 288.

Protein susu tersebut berasal dari perkiraan populasi sapi perah sebesar 180 ekor. melainkan juga melibatkan pemasukan susu olahan dari luar daerah.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Dengan demikian populasi yang lebih relevan digunakan sebagai prediktor adalah jumlah populasi pada ternak penghasil telur. Meskipun demikian ketersediaan protein susu tersebut bukan hanya berasal dari populasi sapi perah yang ada di Lampung. Terakhir.doc/Datin 35 .20 gram per kapita per hari. . kontribusi susu dalam penyediaan protein hewani asal ternak pada tahun 2024 diperkirakan mencapai 5. sedangkan populasi kambing dan kerbau perah dianggap tidak berkembang. E:\KEBIJ TEK-260405.s o ft w a k e r.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.s o ft w a re besar pada populasi ternak penghasil telur.c ww w om k lic lic . k w .

3.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. telur. Meningkatkan populasi dan produktivitas ternak dan hasil ternak Penyediaan produk komoditi ternak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi local. susu ataupun anak dan bibit. k w . maka kebijakan teknis yang bersifat umum yang akan dilaksanakan di Propinsi Lampung adalah sebagai berikut : 1. Ketersediaan produk produk tersebut akan dipenuhi dari upaya upaya peningkatan populasi dan produksi hasil ternak dengan intensifikasi (meningkatkan produktivitas per-satuan ternak). dalam hal ini akan menjadi titik tolak dalam upaya meningkatkan pendapatan peternak.s o ft w a re BAB VI KEBIJAKAN TEKNIS PEMBANGUNAN PETERNAKAN 2005 . KEBIJAKAN UMUM Dalam rangka mencapai sasaran umum jangka panjang (2005 – 2024) . . bahan baku industri dan permintaan ekspor. merupakan fungsi utama pengembangan ternak. serta masih rendahnya minat tenaga kerja muda untuk bekerja dibidang usahatani ternak.s o ft w a k e r. jika dibandingkan dengan peternak di Jawa. Meningkatkan Etos Kerja dan Produktivitas Sumberdaya Manusia Peternakan Lampung Sudah menjadi rahasia umum bahwa etos kerja dan produktivitas peternak di Lampung relative lebih rendah.c ww w om k lic lic . Upaya yang akan menjadi prioritas untuk dilaksanakan pada kurun waktu lima tahun kedepan adalah peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan mendorong kelembagaan social dan ekonomi di pedesaan untuk lebih berperan dalam upaya pemberdayaan peternak. 2. budaya local yang juga sangat berpengaruh terhadap budaya kerja. ekstensifikasi (meningkatkan E:\KEBIJ TEK-260405.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Etos kerja dan produktivitas tenaga kerja (peternak) sangat erat kaitannya dengan tingkat pendidikan formal.doc/Datin 36 . Malaysia dan Vietnam. antar Pulau. Peranan penggunaan teknologi dan peningkatan skala usaha.2024 A. apalagi jika dibandingkan dengan Negara Negara tetangga seperti Thailand. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha tani-ternak Kunci keberhasilan usaha di bidang peternakan terutama ditentukan oleh sampai sejauhmana peternak dapat meminimalisasi biaya produksi dan meningkatkan produktivitas ternak baik dalam bentuk daging. pengetahuan dan keterampilan peternak.

inflasi. tidak ada jalan lain kecuali upaya meningkatkan mutu dan daya saing produk produk peternakan. 5. DOC. Hal ini akan berkaitan dengan upaya penerapan persyaratan kesehatan produk produk peternakan.c ww w om k lic lic . . aneka ternak & ternak hias/exotik serta pakan ternak dimasa mendatang dapat terwujud. akreditasi. 4. yang ditandai dengan era perdagangan bebas ASEAN (2003). harus diupayakan terus menerus sampai kapasitas daya tampung dan produktivitas mencapai titik jenuh . produksi dan pasca produksi) Faktor permodalan dan investasi merupakan factor yang strategis untuk mencapai sasaran umum jangka panjang. yaitu terciptanya peluang kesempatan kerja produktif pada sub sector peternakan. HASEP). ditingkatkan kualitasnya dan dimonitor perkembangannya. khususnya komoditi yang akan diekspor dalam bentuk technical barrier on trade (TBT) dan sanitary and phytosanitary (SPS).s o ft w a re populasi. dan diversifikasi (vertical dan horizontal) untuk meraih nilai tambah dan sebagai upaya pelestarian komoditi ternak tertentu. Meningkatkan mutu dan daya saing produk peternakan Dengan semakin terbukanya system perdagangan antar wilayah dan bahkan antar Negara. Meningkatkan investasi sub sektor peternakan (pra produksi. Dengan perhatian pada bidang ini diharapkan komoditi unggulan peternakan Lampung yang memiliki potensi ekspor antara lain daging ayam dan produk olahannya.doc/Datin 37 .s o ft w a k e r. kesepakatan Negara Negara APEC (2010 untuk Negara maju dan 2020 untuk Negara berkembang). retribusi. sertifikasi. E:\KEBIJ TEK-260405. k w . perluasan kawasan). Pemerintah Daerah juga perlu melakukan upaya – upaya untuk mendorong dan memobilisasi sumber – sumber pendanaan yang ada dan berpotensi untuk diinvestasikan pada usaha Peternakan. Oleh karena itu kebijakan peningkatan populasi dan produktivitas ternak merupakan strategi jangka panjang .c W C re ! tr ac C tr ac k e r.Tanpa ada investasi baru maka usaha peternakan akan berjalan ditempat dan sasaran umum tidak akan tercapai. kambing potong. Upaya standarisasi. Oleh karena kebijakan ini berdampak jangka panjang maka harus terus menerus dilaksanakan.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Pada kondisi saat ini dan kedepan kebijakan moneter (suku bunga. dan pelaksanaan system manajemen mutu (ISO. tarif bea masuk) yang merupakan kewenangan pemerintah Pusat. nilai tukar rupiah) dan fiscal (pajak. merupakan bagian dari kebijakan umum yang strategis.

s o ft w a k e r. Penggunaan bibit ternak eksotik yang unggul. Pengembangan SDM dan Kelembagaan Ekonomi Pedesaan Percepatan proses tranformasi dari usahatani tradisional ke usahatani industri berintikan “capacity building” untuk memberdayakan petani ternak melalui pembinaan sumberdaya manusia. yaitu : (1) Peningkatan kesadaran dan percaya diri (awareness and self-confidence development) (2) Peningkatan kemampuan menghasilkan pendapatan (income generating ability development) (3) Peningkatan kesejahteraan ekonomi (welfare development) (4) Peningkatan kesejahteraan social ekonomi (social culture and economic development) E:\KEBIJ TEK-260405. magang. Namun demikian jika tidak hati hati dalam pengelolaannya. sekolah lapang. k w . harus dirancang secara cermat dan terpola. kelembagaan dan permodalan a.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. B. bukan saja tidak akan mendukung keberhasilan usaha ternak itu sendiri. KEBIJAKAN OPERASIONAL Kebijakan operasional yang akan ditempuh dalam rangka mencapai sasaran jangka pendek (2005 – 2009) yaitu dengan menerapkan beberapa pendekatan teknis bidang khusus. Meningkatkan kemampuan mengelola sumberdaya dan menjaga kelestarian sumberdaya peternakan Lampung memiliki sumberdaya yang sangat besar yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha berbasis ternak. (2) teknologi.doc/Datin 38 . bahkan dapat merusak lingkungan dan mengancam kelestarian pemanfaatannya. baik yang terkait dengan aspek genetic. penyakit ataupun punahnya plasma nutfah asli yang belum dimanfaatkan. sehingga diharapkan dapat lebih akurat dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan. (3) permodalan (4) pengolahan dan pasar. Pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia ditempuh melalui 4 (empat) tahapan. sehingga dimasa mendatang tidak ditemukan hal hal yang bersifat kontra produktip. incubator agribisnis bagi keluarga peternak agar mereka mampu menjangkau atau mengakses dirinya dengan (1) sumberdaya atau agro input. Pembinaan Sumberdaya Manusia Pembinaan petani / peternak dilaksanakan dengan prinsip “menolong diri sendiri” (self-help) yang didasarkan atas kehendak meningkatkan kemampuan menghasilkan pendapatan (income generating). Pendekatan teknis tersebut adalah sebagai berikut : 1. .c ww w om k lic lic . melalui kegiatan pelatihan.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .s o ft w a re 6.

E:\KEBIJ TEK-260405. misalnya dari Departemen Sosial atau lembaga non pemerintah (NGO) (2) Untuk kelompok madya dapat diupayakan dengan bantuan bergulir. yaitu produktif.s o ft w a k e r. efisien. Oleh karena itu peternak dengan kelembagaan kelompok dalam wadah koperasi. Pembinaan SDM melalui pengembangan kelembagaan peternak dilakukan atas dasar 7 (tujuh) prinsip yaitu (1) pendekatan kelompok. . fasilitas khusus) dan akhirnya dengan melalui kredit komersial penuh. UKM yang dikelola Dinas Koperindag atau bentuk subsidi lainnya (4) Untuk kelompok mandiri diupayakan kredit komersial dengan berbagai kemudahan (kemitraan. (1) Untuk kelompok pemula dapat diupayakan dengan bantuan cuma cuma . (3) kepemimpinan kelompok. c.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . diberikan bimbingan untuk dapat menjangkau (akses) dengan lembaga keuangan atau bantuan.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.c ww w om k lic lic . misalnya koperasi atau kelembagaan kemitraan. (2) keserasian. Hal lain yang juga penting adalah perlindungan pemerintah terhadap usaha peternakan pada umumnya. (5) swadaya. yaitu melalui kebijakan yang berfihak pada dunia peternakan. Bimbingan dan Pembinaan Permodalan Bimbingan dan pembinaan permodalan diarahkan untuk menghilangkan ketergantungan dan menumbuhkan kewaspadaan memasuki system ekonomi pasar. Pembinaan Kelembagaan Ekonomi Pedesaan Pembinaan kelembagaan ekonomi pedesaan merupakan bagian tidak terpisahkan dari pembinaan SDM peternak.doc/Datin 39 . yaitu unit usaha ekonomi yang berazazkan kekeluargaan. b. disiplin. misalnya gaduhan ternak atau BPLM (3) Untuk kelompok maju diupayakan melalui kredit bersubsidi. dalam rangka menciptakan system pembinaan yang mandiri dan berkelanjutan Pembinaan dan pengembangan kelembagaan peternak diarahkan untuk terwujudnya kelembagaan ekonomi peternak yang tangguh. k w . (6) belajar sambil bekerja dan (7) pendekatan keluarga. misalnya KKP. kreatif. Permodalan merupakan factor yang sangat penting dan menentukan dalam pembinaan SDM dan pemberdayaan ekonomi pedesaan. mandiri berbudiluhur dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. (4) kemitraan.s o ft w a re Dengan metoda pembinaan sumberdaya manusia ini diharapkan dapat menghasilakan SDM yang berkualitas.

Pengembangan Sumberdaya. produksi dan produktivitas ternak. . b. dalam rangka peningkatan populasi. produksi bibit hijauan pakan. Untuk mendukung pelayanan fungsi fungsi teknis.doc/Datin 40 . a. pemerintah provinsi telah menyediakan dukungan sarana dan prasarana peternakan yang dapat di akses oleh peternak dan yang sekaligus merupakan dukungan teknologi antara lain. pakan. sarana dan prasarana peternakan dimaksudkan untuk memberikan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peningkatan kualitas dan efektivitas pelayanan dibidang peternakan dan kesehatan hewan. kesehatan dan tatalaksana. pengembangan teknologi pakan. Balai Latihan Penyuluh Pertanian (BLPP) Hajimena. kebutuhan antar Propinsi dan pasar ekspor. serta beberapa institusi vertical antara lain Balai Penyidikan Pengujian Veteriner (BPPV) wilayah III Bandar Lampung . Dukungan Pengembangan Perbibitan Ternak Instalasi Perbibitan Ternak Kambing di Negeri Sakti dan Sapi Bali di Campang Tiga akan berperan dalam memproduksi bibit unggul (elite) sapi Bali dan Kambing (Boer. BIB Lembang dan Singosari. Dukungan Peningkatan Produktivitas Ternak Secara normatip peningkatan produktivitas ternak dapat dilakukan dengan mengoptimalkan fungsi fungsi genetic. antara lain Balai Embryo Transfer Cipelang Jawa Barat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung. Instalasi Pembibitan Sapi Bali di Campang Tiga Lampung Selatan. BPMSOH Bogor.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Disamping itu terdapat juga sarana dan prasarana milik “Pusat” yang dapat diakses untuk kepentingan pelayanan bidang peternakan di Lampung. Sarana dan Prasarana Peternakan Pengembangan sumberdaya. Pusat Penelitian Peternakan di Bogor. guna meningkatkan ketersediaan komoditi dan produk produk peternakan untuk konsumsi masyarakat Lampung. k w . reproduksi. Balai Analisa Pakan di Bekasi Jawa Barat dan beberapa BPTU yang diberi mandate khusus seperti BPTU Baturaden (sapi perah) BPTU Siborong Borong (Babi) dan BPTU Pelaihari (Kambing). Boerawa. Balai Karantina pertanian Panjang. kesehatan dan tatalaksana pemeliharaan.c ww w om k lic lic . Instalasi BPPT Lampung. pedoman beternak yang baik (good farming E:\KEBIJ TEK-260405. Jurusan Peternakan Universitas Lampung. Pos Pos Inseminasi Buatan yang tersebar di 10 Kabupaten Kota. fisiologi. PE). Instalasi Pembibitan Kambing di Negeri Sakti Gedung Tataan. BPTU Sembawa di Sumatera Selatan.s o ft w a re 2. Pos Pelayanan Kesehatan Hewan (12 unit).c W C re ! tr ac C tr ac k e r. utamanya akan dilaksanakan melalui teknologi Inseminasi Buatan dan Embryo Transfer yang didukung dengan peningkatan kualitas pakan. dan Jurusan Peternakan Politeknik Pertanian Lampung. bahan baku industri.s o ft w a k e r. Untuk meningkatkan produktivitas ternak di Lampung. Instalasi Produksi Mani Beku (IPMB) Terbanggi Besar.

Swasta. yaitu di Lampung Tengah (2). Sementara di tingkat Provinsi sendiri. Yang perlu mendapat perhatian adalah penyediaan tenaga medis.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . yang dapat dimulai dengan pembentukan UPTD Pembibitan Ternak di masing masing wilayah. Disamping itu untuk memperluas jangkauan pembinaan. melalui bentuk kerjasama tripartite (Pemda. Hal ini sangat dimungkinkan. . Sumsel. paling tidak menjadi 2 (dua) UPTD yaitu UPTD IB dan UPTD Perbibitan dan pakan Ternak. E:\KEBIJ TEK-260405. Kelompok Peternak) atau bentuk kerjasama lainnya. Dimana peternak dapat magang. Operasionalisasi Poskeswan kedepan diharapkan dapat dilaksanakan melalui kerjasama dengan swasta dan masyarakat. Disamping itu sebagai upaya peningkatan kualitas pelayanan dibidang kesehatan masyarakat veteriner dan sekaligus mencegah masuknya penyakit dari wilayah lain. institusi UPTD IB. perlu menambah jumlah Poskeswan dari 12 unit yang ada saat ini.s o ft w a re practices). Poskeswan atau dalam bentuk Pos Pelayanan Terpadu perlu dikembangkan pada sentra sentra pengembangan ternak di seluruh wilayah Propinsi. paramedic . Metro (1). Lampung Utara (1) Kota Bandar Lampung (1) dan Tulang Bawang (3). Lampung Timur (1). Lampung Selatan (3). dalam kurun waktu 5 tahun kedepan paling tidak perlu dibangun lagi di 3 (tiga) Kabupaten lainnya.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.c ww w om k lic lic . serta berperan dalam pembinaan kelompok kelompok VBC dan penjaringan bibit unggul. Kabupaten dan Kota juga perlu didorong untuk mengembangkan Instalasi Pembibitan Ternak.doc/Datin 41 . Bahkan dalam jangka panjang untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan hewan. karena beberapa jenis pelayanan di bidang keswan sudah dapat dibiayai oleh peternak sendiri. membandingkan dan dilatih ditempat ini. Kedua instalasi ini ditambah dengan IPMB Terbanggi Besar akan berperan untuk menjembatani peternak dengan teknologi. fasilitasi dan pengawasan Rumah Potong Hewan. c. bahan asal hewan (BAH) dan hasil bahan asal Hewan (HBAH). akan menjadi bagian tidak terpisahkan dari kegiatan pembangunan peternakan secara keseluruhan. dan tenaga teknis lain serta peralatan pendukungnya sesuai dengan standar pelayanan minimal bidang kesehatan hewan dan kesehatan mesyarakat veteriner.s o ft w a k e r. selain telah didukung oleh BPPV wilayah III Bandar Lampung yang membawahi 4 Propinsi (Lampung. Perbibitan dan Pakan perlu dikembangkan. Bangka Belitung dan Bengkulu). maka pengawasan lalu lintas hewan. Dukungan Teknologi dan Pelayanan Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan dibidang kesehatan hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner. k w .

“early warning system”. bebas pada tahun 2007 (2) Penyakit flu burung dengan menggunakan metoda vaksinasi dan pengetatan bio security.s o ft w a k e r. E:\KEBIJ TEK-260405. demikian juga dengan penyakit ramadewa. peningkatan biosecurity. sedangkan mani beku yang tidak dihasilkan di IPMB akan didatangkan dari BIB Lembang dan BIB Singosari atau impor. tulang Bawang. e. surveillance dan pemetaan. sebagai upaya membentuk kelompok ternak “elite” sebagai sumber pejantan donor untuk IB dan betina donor untuk ET. k w . SE dan rabies merupakan penyakit hewan menular yang diprogramkan pemberantasan dan pengendaliannya secara Nasional ataupun regional.c ww w om k lic lic .lima tahun kedepan penyakit ini diharapkan dapat bebas. juga dengan meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan terhadap lalu lintas hewan dan bahan asal hewan. ramadewa. hog cholera. dilaksanakan bekerjasama dengan Balai Embryo Transfer Cipelang dan kelompok peternak . Sedangkan peningkatan produksi melalui penerapan embryo transfer. Implementasi daripada pelaksanaan pelayanan Inseminasi Buatan dan Embryo Transfer bekerjasama dengan Kabupaten/Kota dan para inseminator yang tersebar di 10 kabupaten / Kota sebanyak ± 180 orang. telah disepakati harus bebas pada tahun 2007 (3) Diharapkan Lampung ditetapkan bebas penyakit SE (free area).PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .c W C re ! tr ac C tr ac k e r. 12 unit Poskeswan. (4) Penyakit hog cholera sampai saat ini dapat dilokalisir dan hanya terjadi di Kabupaten Lampung Timur. .doc/Datin 42 . karena sudah sejak tahun 1990 tidak pernak terjadi kasus penyakit tersebut. Petugas kecamatan dan petugas medis dan paramedic swasta ataupun yang beroperasi secara mandiri. brucellosis. (1) Untuk penyakit rabies telah diprogramkan oleh semua Propinsi di Pulau Sumatera dan bangka Belitung. Way Kanan dan Lampung Barat. Kegiatan tersebut didukung dengan keberadaan BPPV wilayah III Bandar Lampung. pengobatan massal. Penyediaan mani beku dan Pelayanan Inseminasi Buatan Mani beku sapi potong dan kambing diproduksi di IPMB Terbanggi Besar. melalui pengembangan kelompok kelompok binaan yang dirancang melalui model “Village Breeding Centre” (VBC). Operasionalisasi daripada upaya pemberantasan dan pengendalian penyakit selain dilaksanakan dengan vaksinasi. Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit Hewan Menular Penyakit flu burung atau avian influenza (AI). Pos cek poin yang ada di Lampung Selatan.s o ft w a re d.

coklat. oleh karena itu dalam membangun peternakan yang mantap dan tangguh factor pakan akan menjadi kunci keberhasilan utama. Berdasarkan perhitungan data tahun 2003. diarahkan untuk dapat dilaksanakan secara swadaya atau sharring yang adil antara pemerintah. dan limbah pengolahan sawit.s o ft w a k e r. lahan perkebunan sawit.c ww w om k lic lic . Integrasi Ternak Dengan Tanaman Pertanian dan Perkebunan Konsep paling efisien dalam pengembangan pakan untuk ruminansia adalah mengintegrasikan ternak ruminansia dengan usaha pertanian dan perkebunan. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan produksi (populasi) dan produktivitas ternak yang akan berpengaruh langsung kepada pendapatan peternak.s o ft w a re Pelayanan Inseminasi Buatan dan embryo tangsfer serta bentuk pelayanan aspek reproduksi dan fisiologis lainnya.000 ekor dan ternak kambing 1.830. k w . perlu dirancang upaya atau teknik untuk meningkatkan kualitas dan penyimpanan pakan serta optimalisasi pemanfaatan sumberdaya pakan yang ada. Secara garis besar pendekatan teknis yang akan dikembangkan di Lampung adalah sebagai berikut : a. Dengan demikian sangat diharapkan untuk mendorong diversikasi usaha perkebunan sawit dengan sisipan usaha penggemukan sapi. Kapasitas tampung ternak sapi pada perkebunan sawit ± 40. yaitu antara lain :kopi dan lada organic. . 3. kopi. pengolahan daun sawit. tebu.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.Secara teknis pemanfaatan pakan pada lahan pertanian dan perkebunan dapat dijelaskan sebagai berikut : • Integrasi ternak dengan perkebunan sawit Sumber pakan pada pola integrasi dengan perkebunan sawit dapat diharapkan dari rumput yang tumbuh di bawah pohon sawit. Hal yang tidak bisa diabaikan dalam pengembangan pola integrasi ternak ini adalah pemanfaatan pupuk organic yang dihasilkan dari kotoran ternak untuk menjaga kesuburan lahan.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . nenas dan tanaman padi. tampaknya yang paling mudah adalah mengharapkan pada rumput yang tumbuh di bawah pohon sawit. Meskipun demikian. Pengembangan Pakan Pakan ternak merupakan factor produksi yang paling dominan dalam usaha peternakan.000 ekor. singkong. baik pada skala usaha tani kecil ataupun pada skala perusahaan pertanian / perkebunan.doc/Datin 43 .200 ekor E:\KEBIJ TEK-260405. lada. dapat menampung ternak sapi sebanyak 549. Dampak lain daripada pola ini akan mendukung pengembangan komoditi eksotik yang akan menjadi unggulan Lampung. peternak dan kalau memungkinkan fihak swasta.

7 juta ton / tahun atau mampu menampung 1. • Integrasi ternak dengan perkebunan singkong Potensi pakan hijauan yang berasal dari limbah tanaman singkong di Lampung pada tahun 2001 sebanyak 1. bahkan ada yang sampai 100%.000 ekor. • Integrasi ternak dengan perkebunan nenas Usaha penggemukan sapi yang terintegrasi dengan perkebunan nenas (pabrik pengalengan nenas) dengan memanfaatkan limbah telah dilaksanakan oleh salah satu perusahaan besar di Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah. dengan tujuan sebagai alat transportasi tebu. perusahaan ini juga memanfaatkan pupuk organic untuk tanaman nenasnya. ternak kambing telah mengalami adaptasi dan mampu mengkonsumsi daun singkong segar.c ww w om k lic lic . Upaya lain untuk meningkatkan daya guna daun singkong adalah dengan melalui pengolahan dan dapat disimpan dalam bentuk pellet. Secara teknis limbah nenas ini juga dapat digunakan sebagai pakan ternak kambing dan domba. maka akan ada tambahan populasi sebanyak 850. Dengan demikian introduksi populasi baru di kawasan industri gula dapat dikatakan tidak ada masalah. terlebih dahulu dapat dilakukan fermentasi dan penambahan pakan acditive serta pemberian pakan konsentrat. yaitu mengintroduksi sapi Ongol kedalam perkebunan tebu. Selain mampu menanggulangi persoalan limbah.s o ft w a k e r.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. bermitra dengan peternak di sekitar serta menjual pakan yang berasal dari limbah nenas kepada peternak yang membutuhkan. hay atau sillase E:\KEBIJ TEK-260405. Yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan limbah tanaman singkong untuk pakan adalah kandungan HCN yang dapat menyebabkan ternak keracunan.70 juta ekor kambing.000 ekor. .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . yaitu di Kabupaten Lampung Tengah dan di Kabupaten Lampung Utara. Artinya kalau 50% saja potensi limbah singkong dimanfaatkan untuk ternak kambing.s o ft w a re • Integrasi ternak dengan perkebunan tebu Introduksi ternak sapi ke dalam perkebunan tebu sebenarnya telah dimulai sejak jaman penjajahan Belanda pada tahun 1830. padahal populasi kambing tahun 2003 baru mencapai 810. kenyataannya saat ini sapi jenis Ongol dan peranakannya (PO) berkembang di Jawa khususnya disekitar perkebunan tebu.doc/Datin 44 . Untuk meningkatkan kualitas pakan yang bersumber dari daun pucuk tebu. k w . Dibeberapa tempat. Di Lampung masih terdapat 2 (dua) perusahaan perkebunan nenas yang memiliki potensi untuk dipadukan dengan usaha peternakan.

5 juta rumpun) paling tidak bisa menampung ±45. Dari luasan yang ada di Lampung (±4.000 ekor sapi per tahun. kulit kakao. Sehingga petani mendapatkan 2(dua) sumber nilai tambah. k w . belum banyak dimanfaatkan. dan dedak kopi untuk campuran konsentrat. Padahal dengan sedikit proses pengolahan fermentasi. daun dan batang singkong.000 ekor • Integrasi ternak dengan perkebunan pisang Lampung merupakan salah satu pemasok utama buah pisang ke Banten. sebagian besar masih dibakar. pembuatan sillase E:\KEBIJ TEK-260405. seperti fermentasi jerami. lebih menekankan pada pemanfaatan tanaman pelindung yang biasanya menggunakan tanaman leguminosa (glirisidae . pengeringan dan tambahan unsur mikro.doc/Datin 45 . Potensi pengembangan ternak kambing yang diintegrasikan dengan perkebunan coklat.s o ft w a k e r. pucuk tebu. Limbah dari tambak udang berupa kepala udang.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . daun dan rumput disekitar kebun.565 ekor. lada dan coklat) serta dari produksi ternak kambing. • Integrasi ternak itik di kawasan tambak udang Integrasi ternak itik di kawasan tambak udang telah diintroduksikan sejak tahun 2002 di Kabupaten Tulang Bawang. • Integrasi ternak dengan pertanian padi Jerami padi di Lampung yang memiliki potensi sebagai pakan ternak dan mampu menampung sapi dan kerbau sebanyak ±341. yaitu dari peningkatan produksi tanaman utama (kopi. dimana 67.s o ft w a re • Integrasi ternak dengan perkebunan kopi . akan meningkatkan palatabilitas dan kandungan gizi sebagai pakan. kopi dan lada mencapai 130 150. lamtoro dan dadap).c W C re ! tr ac C tr ac k e r. rumput yang ada di sekitarnya serta pemanfaatan pupuk organic untuk tanaman utama. memiliki kandungan protein dan mineral yang baik untuk pakan udang. kulit coklat. pelepah dan tandan sawit. DKI Jakarta dan Jawa Barat.9 % berada di Kabupaten Lampung Selatan.c ww w om k lic lic . b. Itik yang mengkonsumsi kepala udang menghasilkan telur dengan kuning telur yang khas yaitu berwarna orange. Pengembangan Teknologi Pengolahan dan Penyimpanan Pakan Teknologi pengolahan dan penyimpanan pakan yang perlu dikembangkan di Lampung antara lain : • Teknologi pengolahan dan penyimpanan jerami padi. . dan sumber hijauan lainnya. lada dan coklat Pengertian integrasi ternak kambing kedalam perkebuan kopi dan lada. yang memanfaatkan bonggol.

gerakan menanam rumput unggul atau gerakan pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan. baik berupa ikan maupun udang.s o ft w a k e r. dan pabrik kacang tanah. perkebunan kelapa. dan konsumen. Pemikiran ini memunculkan konsep pengembangan pabrik pakan dalam skala kecil di kawasan pemeliharaan ternak. artinya setelah pakan dicampur E:\KEBIJ TEK-260405.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Pengembangan Pabrik Pakan Mini Masalah pokok dalam penyediaan pakan ternak adalah rentang jarak yang terbentang lebar antara sumber bahan pakan. (1) meningkatkan akses dengan lembaga penelitian dan (2) bagaimana mengintroduksikannya kepada peternak c. pabrik pakan. e. pabrik dan konsumen harus berada dalam satu lingkaran yang dekat. Pabrik pakan mini mempunyai skala usaha 1 – 3 ton per hari dengan jangkauan sebaran 10-20 Km dari lokasi pabrik. Informasi mendetail tentang hal ini sangat membantu pengembangan limbah agroindustri sebagai sumber pakan. Dengan demikian secara ideal antara sumber bahan. maka dalam rangka meningkatkan pengetahuan. Antara lain misalnya gerakan penghijauan dengan menggunakan tanaman leguminosa. perkebunan kakao. d. . keterampilan dan kemauan peternak dalam menyediakan pakan masih diperlukan kegiatan kegiatan yang bersifat ”gerakan”. Inventarisasi tersebut meliputi ketersediaan jumlah.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. kondisi.doc/Datin 46 .s o ft w a re • Teknologi penyusunan ransum. serta teknologi pengolahan yang dibutuhkan.c ww w om k lic lic . Berbagai limbah agroindustri yang mungkin untuk dikembangkan adalah limbah perikanan. industri tapioka. System produksi yang digunakan adalah Mix and Delivery . Gerakan penanaman dan pengembangan hijauan pakan Mengingat masih rendahnya apresiasi peternak terhadap pakan ternak. gerakan tidak membakar jerami padi setelah panen. Inventarisasi Limbah Agroindustri Kegiatan dalam 5 (lima) tahun mendatang yang dapat dilakukan adalah menginventarisasi ketersediaan semua bahan pakan yang berasal dari limbah agroindustri. lokasi. atau maksimal berapa persen bungkil sawit ada dalam ransum ayam petelur serta pemberian feed supplement (misalnya supplement blok) Tentu yang penting disini adalah. misalnya sampai berapa persen daun singkong racun dapat diberikan dalam ransum kambing. k w .

modal ventura. Sedangkan dukungan terhadap kegiatan pasca produksi yaitu pengolahan hasil dan pemasaran dilakukan melalui penciptaan iklim yang kondusif untuk pengembangan usaha peternakan serta kemitraan antara perusahaan peternakan dan peternakan rakyat. temu usahan dan lain lain. c. sertifikasi dan pengawasan terhadap agro input yang meliputi bibit. promosi. Dukungan Pra Produksi dan Pasca Produksi Dukungan tersebut berupa upaya untuk meningkatkan investasi. vaksin. Dengan demikian setiap tahun dapat dibangun 1 pabrik pakan mini. sehingga tercipta peluang kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. a. . pelatihan / magang. b. pasca panen dan pemasaran. kemitraan dengan perusahaan swasta atau melalui kebijakan anggaran ditingkat Propinsi ataupun Kabupaten. akan didorong terus untuk menjadi sumber permodalan alternative dan menjadi dana abadi para peternak. Pada 5 tahun pertama disarankan untuk membangun 5 pabrik pakan di 5 kabupaten yang mempunyai populasi ternak cukup padat. Proses ini lebih menguntungkan karena tidak diperlukan proses pengeringan.doc/Datin 47 . 4. Pengembangan Usaha Peternakan Kebijakan pengembangan usaha peternakan dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan usaha agar investasi di bidang peternakan meningkat .s o ft w a k e r.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. produksi / budidaya. akreditasi. incubator agribisnis. k w . Sistem permodalan dengan cara bergulir melalui pola Bantuan Pinjaman Langsung Masyarakat (BPLM) sebagaimana yang telah berjalan selama ini. pakan. Disamping itu kebijakan ini diperlukan untuk mempercepat proses transformasi melalui dukungan terhadap proses sebelum peroduksi. standarisasi. obat obatan. kredit usaha kecil menengah (UKM).c ww w om k lic lic . Dukungan dan bimbingan ditujukan untuk memberikan kemudahan melalui pelayanan usaha. dan peralatan. informasi pasar.s o ft w a re kemudian langsung didistribusikan. Surat Utang Pemerintah (SUP).PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Dukungan Informasi dan Promosi E:\KEBIJ TEK-260405. Dukungan Permodalan dan Investasi Dukungan permodalan dilaksanakan dengan cara mendekatkan para peternak terhadap fasilitas permodalan yang ada seperti Kredit Ketahanan Pangan (KKP).

. Pengembangan usaha pembibitan ternak sapi ini menjadi sangat strategis dan mutlak untuk mendapatkan porsi prioritas. Yang tidak kalah pentingnya adalah juga promosi dalam rangka menanamkan kecintaan dan kebiasaan makan (food habit) produk produk hasil peternakan lokal serta upaya meningkatkan konsumsi protein hewani asal ternak (daging. Disamping itu aspek pasar juga menjadi hal yang sangat penting untuk dikelola secara kelembagaan. Promosi dilakukan terutama terhadap komoditi unggulan peternakan Lampung yaitu sapi potong. telur dan susu). seleksi dan penyortiran. 6. pakan. fisiologi.c ww w om k lic lic . budidaya ataupun pengolahan. Gerakan Aku Cinta Makanan Indonesia (ACMI) dan gerakan peningkatan konsumsi daging. kastrasi.doc/Datin 48 . dapat pula dilaksanakan melalui model kerjasama tripartite antara swasta. kesehatan dan tatalaksana) juga diterapkan manajemen pengelolaan perbibitan ternak yaitu pencatatan. masih sangat relevan untuk tetap diapresiasikan kepada masyarakat Lampung. Pada model ini selain mengoptimalkan fungsi fungsi teknis (genetic. Pengembangan informasi melalui jaringan internet telah mulai dirintis dan akan terus dikembangkan sehingga menjadi media informasi yang dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat. baik pasar Nasional ataupun pasar ekspor.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . k w . Usaha penggemukan selain dilaksanakan oleh perusahaan swasta. embryo transfer dan sertifikasi.s o ft w a k e r. juga dikembangkan usaha penggemukan yang terintegrasi dengan VBC . reproduksi.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. telur dan susu. kelembagaan kelompok sebagai E:\KEBIJ TEK-260405. karena sampai saat ini usaha penggemukan sapi sebagian besar masih tergantung pada bakalan impor. kambing dan ayam ras sehingga dapat dikenal dan diminati oleh pasar. Pengembangan Usaha Sapi dan Kambing Perah Pengembangan ternak sapi perah selalu dihubungkan dengan peternak yang memiliki keterampilan budidaya lebih baik. 5. pemerintah dan peternak. Usaha pembibitan dan penggemukan sapi potong selain dilaksanakan dengan model inti plasma dan VBC. Dengan demikian produk produk peternakan Lampung akan lebih diminati dan usaha peternakan akan berkembang lebih cepat. Promosi juga dilakukan dalam rangka menarik minat para investor guna mengembangkan usaha peternakan . penimbangan/ pengukuran. IB. Pengembangan Usaha Pembibitan dan Penggemukan Sapi Potong Pengembangan usaha perbibitan ternak sapi potong akan tetap dikembangkan melalui model pengembangan sentra bibit pedesaan (Village Breeding Centre = VBC) dengan basis peternakan rakyat.s o ft w a re Informasi pasar dan promosi yang berkaitan dengan pengembangan usaha sangat diperlukan. baik pada sector hulu.

banten .doc/Datin 49 . maka kelembagaan peternak harus di restrukturisasi c. yaitu dengan cara persilangan antara kambing PE dengan Kambing Boer. 9. Pemerintah dalam hal ini akan lebih banyak untuk mendorong untuk tumbuhnya iklim usaha yang kondusif dan membangun kemitraan antara swasta dan peternak yang lebih proporsional. k w . dengan menggunakan teknologi inseminasi buatan dan pengembangan sentra sentra perbibitan. terutama untuk memenuhi pasar Jakarta. Jawa barat dan pasar ekspor ke Negara Negara Timur Tengah. Perbaikan penanganan pasca panen g. Pengembangan Usaha Burung Puyuh Usaha peternakan burung puyuh dapat dilakukan pada lahan yang relatip sempit dan diusahakan secara intensif. Untuk mempermudah pembinaan dan meningkatkan posisi tawar peternak. Oleh karena itu ternak kambing dan ternak domba akan dikembangkan dengan sasaran menghasilkan ternak dengan bobot minimal 40 kg pada umur 10 bulan. proses pengolahan.s o ft w a k e r. f. Pengembangan Usaha Pembibitan dan Penggemukan Kambing/ Domba Peluang pasar ternak kambing kedepan sangat prospektif.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. dan pemasaran (konsumen susu murni dan harga yang pantas). Sebagai upaya terakhir tapi terbatas adalah subsidi atau bantuan pakan konsentrat.c ww w om k lic lic . 8. walaupun sebenarnya pada kondisi saat ini semuanya bermuara pada harga jual susu di tingkat peternak dan produksi susu yang rendah.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . pelayanan kesehatan dan tatalaksana pemeliharaan. Kemitraan dengan perusahaan swasta e. Dalam rangka pengembangan sapi perah kedepan perlu dilakukan upaya perbaikan sebagai berikut : a. 7. Promosi yang luas agar masyarakat mau minum susu murni d. pakan. oleh sebab itu ternak burung puyuh dapat dikembangkan di wilayah pinggiran perkotaan seperti Kota Bandar Lampung. E:\KEBIJ TEK-260405. sebagai akibat dari kualitas bibit dan pakan yang dibawah standar. Pengembangannya yaitu sebagaimana yang telah dilaksanakan saat ini pada ternak kambing. Pada aspek teknis antara lain perlu ada perbaikan bibit.s o ft w a re pengelola. Keempat komponen penentu ini masih bermasalah pada sentra pengembangan sapi perah di Kecamatan Talang Padang dan Metro. Pengembangan Usaha Ayam Ras Usaha peternakan ayam ras sudah sangat maju dan banyak ditentukan oleh peran swasta. . b. Secara paralel perlu ada introduksi pengembangan ternak kambing yang memproduksi susu.

Pengembangan ternak kerbau di Provinsi Lampung perlu mendapat perhatian mengingat ternak ini merupakan obyek penting dalam urusan adat istiadat suku Lampung. baik dikembangkan pada komunitas masyarakat Bali ataupun dikembangkan secara khusus di Pulau Pulau yang ada di Lampung. Adapun pengembangan ternak ini dilakukan melalui peningkatan pembinaan dan pelayanan kesehatan hewan.doc/Datin 50 . Kalianda. serta kota kota kabupaten dan kecamatan lainnya. antara lain pada wilayah komunitas masyarakat Bali. . Banten dan Jawa Barat. Demikian juga dengan intensifikasi ternak itik (Intik) 11. Lampung Tengah dan kabupaten Tulang bawang. seperti di kabupaten Lampung Selatan. Kotabumi. perlu “direplikasi” ulang dengan konsepsi yang telah disempurnakan. Bandarjaya. Oleh sebab itu program Intensifikasi Ayam Buras (intab) yang telah dintroduksi sejak tahun 1980-an.s o ft w a re Metro.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . misalnya pada acara perkawinan. Pengembangannya selain secara mandiri . kematian dan sebagainya.s o ft w a k e r. Lampung Timur. Pengembangan Intensifikasi Ayam Bukan Ras (buras) dan Itik Sebagaimana diketahui bahwa komoditi ayam buras posisinya sangat strategis jika dikaitkan dengan upaya peningkatan konsumsi protein hewani asal ternak. persilangan dengan kerbau unggul lokal melalui E:\KEBIJ TEK-260405. 10. Pembinaan dan Pelayanan Teknis Ternak kerbau Usaha ternak kerbau masih merupakan peternakan rakyat dengan pemeliharaan yang relative terbatas. Pringsewu. karena hampir 100% keluarga petani di Lampung memelihara ayam buras walaupun dengan jumlah yang relative kecil.c ww w om k lic lic . Pengembangan Usaha Ternak Babi Pembinaan dan pengembangan usaha peternakan babi dilakukan terhadap wilayah wilayah yang secara social tidak menimbulkan penolakan. dapat dilakukan dengan system bapak angkat atau kemitraan antara peternak dengan “poultry shops” atau distributor pakan / obat lainnya.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. karena pada umumnya memerlukan habitat di daerah rawa – rawa walaupun juga dapat dipelihara di dataran tinggi Selain itu jarak kelahiran ternak kerbau / calving interval) cukup panjang yaitu 18 – 20 bulan sehingga menyebabkan perkembangan ternak ini lambat dibandingkan dengan ternak sapi. misalnya dikaitkan dengan upaya pemberantasan dan pengendalian penyakit flu burung. Disamping itu juga Propinsi Lampung memiliki peluang untuk relokasi usaha peternakan Babi yang ada di DKI Jakarta. 12. k w .

s o ft w a k e r.doc/Datin 51 . kalkun dan kelinci.s o ft w a re teknologi Inseminasi Buatan serta pengembangan pembuatan mani beku ternak kerbau. ayam kipas. entok. ayam pelung. Disamping itu juga dalam rangka meningkatkan pendapatan dan peluang usaha masyarakat dalam kurun waktu 5 (lima) tahun kedepan perlu dikembangkan juga ternak yang bersifat exotic atau ternak hias antara lain. maka “ Aneka Ternak” yang terdiri dari kelinci. hal ini sangat penting karena keberhasilan pembangunan peternakan lebih dari 60% ditentukan oleh sector lain c. Peningkatan koordinasi lintas sector. angsa. bekisar dan lain – lain. ISSUE POKOK PEMBANGUNAN PETERNAKAN : 1. perguruan tinggi. angsa. .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .c ww w om k lic lic . Peningkatan fungsi Koordinasi antar Provinsi dengan Kabupaten/Kota. terutama komoditi yang sudah familier dengan petani di Lampung yaitu entok. 14. 13. antar kabupaten kota dan antar Propinsi dengan Pusat b. Sedangkan ternak rusa masih diperlukan upaya sosialisasi dan ujicoba secara terencana. Peningkatan Kerjasama dan koordinasi dengan lembaga penelitian. Pengembangan Aneka Ternak Sebagai upaya substitusi dan dalam rangka meningkatkan konsumsi daging. ayam cemani. Konsumsi Protein hewani asal ternak masih rendah E:\KEBIJ TEK-260405. k w . ayam kate.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Peningkatan Fungsi Koordinasi dan Kerjasama a. organisasi profesi dan swasta BAB VII RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN PROPINSI LAMPUNG TAHUN 2005 – 2009 A. kalkun dan rusa perlu dikembangkan lebih luas lagi.

15 gram/kapita/hari atau baru mencapai 69. kambing dan domba 0.21 6. telur 6.97 20.09 kg/kapita/tahun (68.16% dari standar minimal yang ditetapkan WKPG dan FAO.87 17.02 4.71 5.00 9.35 kg/kapita/tahun (60.10 2.15 2.50 Berdasarkan hasil Widya Karya Pangan dan Gizi Nasional tahun 1998 dan FAO. Sementara konsumsi protein hewani yang dicapai Propinsi Lampung pada tahun 2004 baru mencapai 4.82 24.c ww w om k lic lic .30 4.42%). Vietnam 40 butir.10 3.72 7.68 31.25 25.7 gram/kapita/hari atau 78.97 3.36 13.96 25.31 6. Indonesia hanya berada di atas Banglades dengan tingkat konsumsi protein hewani 4.55 39.33 5.60 2.54 10.01 kg.97kg/kapita/tahun. ayam kampung 3.87 0.5 kg /kapita/tahun dan susu 7.51 0.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .85%) dan susu 4.72 46. dan ayam ras 2.03 3. telur dan susu beberapa Negara di Asia.33% dari standar minimal FAO.53 3.doc/Datin 52 . Bandingkan dengan konsumsi telur di Malaysia 300 butir/kapita/tahun.08 0.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.48 6.04 7. sebagai berikut : Tabel 14. Secara Nasional konsumsi protein hewani asal ternak Indonesia masih sangat rendah.28 kg/kapita/tahun (65.62 3.71 22.50 1.63 3. Pencapaian tersebut setara dengan konsumsi daging 7.55 kg. .96 4. bahwa standar konsumsi minimal protein hewani asal ternak adalah protein hewani 6 gram/kapita/hari. k w .50 17. Jika dilihat dari konsumsi masing masing komoditi.3 kg/kapita/tahun. daging 10.43 3. maka penduduk Lampung pada tahun 2004 baru makan daging sapi 0.84 4. Sementara konsumsi telur di Lampung pada tahun 2004 mencapai 68 butir/kapita/tahun. telur 4. bahkan beberapa pakar mengukur tingkat keberhasilan pembangunan dari tingkat konsumsi protein hewani dan menganggap jika konsumsi protein hewani terlalu rendah akan terjadi apa yang disebut “ loose generation”. dan Propinsi di Indonesia.30 kg.35 2.83%).s o ft w a re Sebagaimana diketahui bahwa konsumsi protein hewani sangat menentukan tingkat kecerdasan seseorang. serta konsumsi daging ayam E:\KEBIJ TEK-260405.00 10. Jika dibandingkan dengan Negara Negara di Asia.s o ft w a k e r. Sebagai gambaran perbandingan tingkat konsumsi daging. Filipina 70 butir.01 4.76 5.50 6. Thailand 100 butir. Telur dan Susu Beberapa Negara di Asia dan Beberapa Propinsi di Indonesia tahun 2002 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 NEGARA*/ PROPINSI** Banglades China Jepang Malaysia Philipina Thailand Indonesia Lampung Sumatera Barat Sumatera Selatan Bengkulu DKI Jakarta Jawa Barat Sulawesi Selatan Kalimantan Selatan KONSUMSI (kg/kapita/tahu) Daging Telur Susu 3. Perbandingan Konsumsi Daging.2 kg/kapita/tahun.50 6.

Karena selain cepat dikembangkan.15 juta ekor . setiap tahun tidak kurang dari 40. Sementara konsumsi beras Nasional (133 kg/kapita/tahun) adalah konsumsi beras tertinggi di Dunia. juga harganya relative terjangkau.000 ekor bibit sapi dan kambing “pindah” dari Lampung ke beberapa Propinsi di sumatera.56% dari total konsumsi daging.c ww w om k lic lic . bahkan sampai ke Pulau Kalimantan. 2. Artinya kebijakan pemerintah Propinsi Lampung dalam upaya meningkatkan konsumsi daging.s o ft w a re Malaysia 23 kg. budaya dan kebijakan pemerintah. maka peranan produk unggas khususnya daging ayam kampung dan ayam broiler memegang peranan yang sangat penting.s o ft w a k e r. dapat dipelihara oleh semua lapisan masyarakat. Propinsi Lampung dikenal sebagai penghasil ternak potong dan bibit dan secara rutin mensuplai ternak potong untuk kebutuhan pasar DKI Jakarta.55 kg/kapita per tahun. . selain menyangkut aspek produksi dan distribusi. yaitu pada tahun 2004 mencapai 5. Ternak tersebut sebagian dibeli (“dipindahkan”) dari Lampung. yang didukung dengan peningkatan kualitas pelayanan yaitu kesehatan. baik yang dibiayai APBN ataupun APBD. Sementara pertumbuhan populasi ayam pedaging selama 5 tahun terakhir hanya 4. serta program pendukung lainnya. jika sampai dengan tahun 2009 konsumsi daging ayam kampung ditargetkan naik 1 kg menjadi 4. kemitraan penggemukan sapi. juga sangat terkait dengan daya beli masyarakat. produksi dan produktivitas ternak. Sebenarnya ini adalah peluang yang sangat baik E:\KEBIJ TEK-260405.05 %.57 kg atau 78. Pengurasan populasi ternak terutama sapi dan kambing Diawali dengan berbagai program peningkatan populasi. Filipina 4 kg. komoditi unggas termasuk komoditi yang cepat dikembangkan. Sebagai gambaran. yang secara monumental diawali dengan program BPSD (Bimbingan Peternak Sapi Pedaging) pada tahun 1977. Dari data tersebut di atas dan trend konsumsi produk peternakan dari tahun ke tahun di Propinsi Lampung. Seiring dengan perjalanan waktu. Jawa Barat. Propinsi Lampung pun semakin dikenal sebagai salah satu Lumbung ternak Nasional. Akan tetapi setelah diberlakukannya UU nomor 22 tahun 1999.doc/Datin 53 . Sedangkan ayam ras pedaging jika pada tahun 2009 ditargetkan naik 1 kg maka diperlukan populasi (kumulatif) sebesar 35.6 juta ekor atau diperlukan peningkatan populasi rata rata 10.76% per-tahun. kemudian dilanjutkan dengan proyek penyebaran ternak P3TK-IFAD pada tahun 1983. beberapa Propinsi di Sumatera melalui APBD dan APBN-nya banyak kegiatan pengadaan bibit ternak khususnya sapi dan kambing. Dilihat dari sifatnya. pengembangan pakan dan penyuluhan. perlu memprioritaskan kepada komoditi unggas.8 kg dan Vietnam 1 kg. maka secara bertahap yang dimulai tahun 1993. Thailand 16.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . k w . inseminasi buatan.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. maka populasi (sesaat) pada tahun tersebut harus mencapai 16. kemitraan ayam. tingkat pendidikan. Issu rendahnya konsumsi protein hewani asal ternak.

(5) peningkatan kesadaran masyarakat. Propinsi lain akan lebih cepat mengembangkan kambing boerawa karena memiliki sumber pembiayaan yang jauh lebih besar dari Lampung. k w .s o ft w a k e r. Penyakit ini juga telah menyebabkan terhentinya ekspor daging ayam dari Lampung ke Jepang. Penyakit ini dapat menimbulkan kematian sampai 100% dan menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternak. Mengingat penyakit ini merupakan penyakit yang baru muncul di Lampung (Indonesia) dan baru dikenal oleh masyarakat peternakan. pelaporan dan evaluasi.tahun. Untuk ini juga perlu ada strategi pengembangan perbibitan yang komprehenship dan berkelanjutan. sehingga Lampung akan memiliki keunggulan . APBD Kabupaten / Kota. adalah ketergantungannya terhadap sapi bakalan impor. dan dibeberapa sentra telah menghasilkan bibit. E:\KEBIJ TEK-260405. (1) pelaksanaan biosekuriti secara ketat. pada saat Propinsi Lampung sedang mulai mengembangkan kambing boerawa yaitu silangan antara Kambing PE dan Kambing Boer. maka secara bertahap Lampung akan kekurangan bibit betina dan pejantan unggul. ternyata dengan iming iming harga yang cukup tinggi (Rp 1 – 1. Hal lain yang sampai saat ini juga menjadi bumerang dalam pengembangan peternakan di Lampung.000 ekor bakalan per .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . . oleh karena itu untuk membebaskan penyakit ini selain langkah langkah sebagaimana tersebut di atas. perlu dukungan pembiayaan yang cukup besar baik dari APBD Propinsi. 3.doc/Datin 54 .s o ft w a re untuk peternak di Lampung. Oleh sebab itu dalam rangka melindungi peternak dari kerugian yang besar.daya saing dan tetap sebagai salah satu lumbung ternak Nasional. maka upaya yang harus menjadi prioritas adalah sosialisasi kepada masyarakat peternakan. Sapi bakalan lokal secara kualitas dan kuantitas belum mampu memenuhi kebutuhan usaha penggemukan sapi di Lampung yang membutuhkan 120. (6) stamping out serta (7) monitoring. (4) surveillance dan penelusuran.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.c ww w om k lic lic . APBN dan partisipasi swasta dan masyarakat serta koordinasi vertical dan horizontal. akan tetapi persoalannya dikuatirkan pada saatnya nanti. Adapun materi pokok dari pedoman tersebut antara lain berisi langkah langkah pencegahan dan pemberantasan yaitu.000 – 140. (3) pembatasan lalulintas hewan dan bahan asal hewan. Hal tersebut sangat wajar dan sesuai dengan hukum ekonomi. akan tetapi jika pengeluaran ternak bibit yang berkualitas tidak dapat dikendalikan.5 juta per ekor kambing boerawa umur 8 bulan). peternak menjual kambing boerawanya. Adanya wabah flu burung (avian influenza) dan penyakit strategis lainnya Penyakit flu burung pada unggas (avian influenza) di Lampung disebabkan oleh virus influenza A (highly pathogenic) dari family Orthomyxoviridae . maka pemerintah telah menerbitkan pedoman pengendalian dan pemberantasan penyakit flu burung pada unggas. (2) pelaksanaan vaksinasi. Sebagai contoh.

dan bentuk pelayanan public lainnya di bidang peternakan. Upaya pemberdayaan masyarakat yaitu dengan memberi kekuasaan . dimana upaya swastanisasi harus didasarkan pada asumsi bahwa lembaga sektor swasta mampu lebih fleksibel . partisipatif.s o ft w a k e r. Hog Cholera.doc/Datin 55 . mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas agar masyarakat memiliki kemandirian dalam pengambilan keputusan. Ramadewa pada sapi Bali. serta tidak adanya rekrutmen penyuluh dan petugas lapangan. tapi yang penting dengan privatisasi akan terjadi persaingan yang sehat. Disisi lain sebenarnya dengan diberlakukannya UU nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah seharusnya fungsi pelayanan publik semakin baik. Privatisasi adalah salah satu metoda untuk meningkatkan kualitas pelayanan tersebut. Kurangnya akses kesehatan hewan masyarakat terhadap pelayanan peternakan dan Pelayanan publik dibidang peternakan perlu dikembangkan menjadi lebih transparan. merupakan bagian dari upaya meningkatkan pelayanan publik. di Lampung juga terdapat beberapa penyakit menular dan strategis yang perlu mendapat perhatian dan penanganan yaitu penyakit Brucellosis . k w . E:\KEBIJ TEK-260405. kendatipun biasanya kepentingan bisnisnya lebih dikedepankan. meningkatkan aksesibilitas peternak terhadap sumber permodalan dan teknologi. Pelimpahan kewenangan tersebut harus bertumpu pada batasan bahwa pelayanan yang dilimpahkan harus lebih efisiensi dan efektif. Contoh pelayanan IB dan pelayanan kesehatan hewan berbasis masyarakat. Tugas pelayanan tersebut dapat dilaksanakan oleh institusi diluar pemerintah atau dilakukan melalui swastanisasi. Septichaemia Epyzotica (SE).c ww w om k lic lic . dan berorientasi pada pengguna. .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . karena dalam undang undang tersebut antara lain mengatur penyerahan wewenang dari pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam system Negara Kesatuan Republik Indonesia atau disebut desentralisasi. Kurangnya akses peternak terhadap pelayanan public dibidang peternakan antara lain disebabkan banyaknya alih fungsi penyuluh pertanian. Pelayanan publik dibidang peternakan yang masih perlu disosialisasikan dan dikembangkan antara lain perlindungan atau jaminan kepada masyarakat untuk mendapatkan produk peternakan yang aman. dapat bersaing secara sehat diantara para penyedia jasa pelayanan serta mampu meningkatkan kualitas pelayanan dan memberikan harga yang pantas. sehingga peternak dapat memilih yang terbaik dengan harga yang terjangkau. utuh dan halal (ASUH). sehat.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. dan penyakit Rabies. 4. pendampingan dan penyuluhan.s o ft w a re Disamping penyakit Flu Burung.

180 unit ternak atau baru mencapai 33. Akan tetapi dari pertanyaan pertanyaan tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ada 3 (tiga) pemegang kendali primer yang memegang peranan. terutama dalam hal pendampingan terhadap kelompok binaan dan difasilitasi secara langsung agar kelompok dapat berhubungan dengan lembaga keuangan e.41 juta unit ternak.20% dari potensi sumberdaya alam yang tersedia.820 unit ternak.41 juta unit ternak). pemerintah. Akan tetapi persoalannya benarkah modal itu tidak ada ? ataukah peternak yang tidak memiliki kamampuan untuk akses ke sumber atau pemilik modal ? atau pemerintah yang belum berfihak kepada peternak ? atau lembaga keuangan dan pemilik modal yang sangat awam terhadap usaha peternakan yang sebenarnya layak ? atau antara peternak. dalam hal ini yaitu pemilik modal atau lembaga keuangan. Sampai dengan tahun 2003 ternak yang ada baru mencapai 468.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Meningkatkan kualitas pelayanan aparat pemerintah.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .c ww w om k lic lic . k w . . c. Potensi sumberdaya alam belum dimanfaatkan secara optimal Sebagaimana diketahui bahwa Lampung memiliki potensi sumberdaya alam yang mampu menampung ternak ruminansia sebanyak 1. Menumbuhkan keberpihakan pemerintah (komitmen) untuk membangun usaha dibidang peternakan dan kesehatan hewan khususnya pada skala kecil dan menengah. Meningkatkan apresiasi lembaga keuangan dan pemilik modal lainnya terhadap berbagai usaha peternakan yang layak dibiayai d.s o ft w a re 5. 6. b. maka untuk mencapai kapasitas daya tampung optimal (1.s o ft w a k e r. Terbatasnya modal untuk pengembangan peternakan Masalah ini merupakan factor pembatas utama yang selalu dihadapi para peternak. dan peternak Faktor lain yang secara paralel harus berdampingan dengan pengembangan aspek permodalan adalah : a. Adanya peraturan perundangan yang mendukung dan berfihak pada peternak. Membangun dan menumbuhkan kepercayaan lembaga keuangan kepada peternak dan kelompok peternak. Jika pertumbuhan populasi ternak seperti saat ini yaitu 2-4%.doc/Datin 56 . diperlukan waktu 35 – 40 tahun. kelompok peternak dengan pemilik modal / lembaga keuangan belum ada yang memfasilitasi ? atau aparat pemerintah (petugas peternakan) tidak melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pelayan masyarakat ? Ternyata banyak sekali kemungkinan kemungkinan yang menyebabkan peternak tidak memiliki modal. atau masih tersedia ruang dan potensi pakan untuk 941. E:\KEBIJ TEK-260405.

0% dan >50 ekor = 14. antara lain peningkatan bobot hidup ternak. Skala usaha peternakan belum ekonomis Berdasarkan hasil survey yang dilakukan pada tahun 2002 di Propinsi Lampung. peternak yang memiliki sapi 1 – 3 ekor mencapai 43. diperkirakan tidak akan serta merta merubah sikap dan perilaku dalam melaksanakan koordinasi sesuai dengan ketentuan yang baru.0%.0%. menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk pengembangan investasi serta yang tidak kalah pentingnya adalah membangun komitmen semua komponen pembangunan yaitu masyarakat.3% dan >20 0.75% dan >20 ekor = 6. Walaupun UU nomor 22 tahun 1999 secara otomatis tidak berlaku lagi setelah terbitnya UU nomor 32 tahun 2004. Untuk mendukung upaya tersebut diperlukan teknologi yang mudah diaplikasikan oleh peternak. 11-30 ekor = 34. masing masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarki satu sama lain”. akan tetapi nuansa pasal 4 ayat (2) pada UU nomor 22 tahun 1999.00% adalah usaha sambilan dan cabang usaha 14 % E:\KEBIJ TEK-260405. misalnya menjadi 10 atau 15 tahun.05%.5%. 11-20 ekor = 2. ramah lingkungan dan berkelanjutan. 31-50 ekor = 16.0% dan >30 ekor = 8. serta peningkatan kualitas sumberdaya manusia. antara lain merupakan salah satu dampak negative dari pelaksanaan UU nomor 22 tahun 1999 pasal 4 ayat (2) yaitu “ Daerah Daerah sebagaimana disebut pada ayat (1).75%.c ww w om k lic lic . Ternak babi 1-10 ekor = 58%. 8.25%. Koordinasi antara Pusat. juga dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas.0%. Disamping itu juga upaya peningkatan produksi selain dilaksanakan melalui peningkatan populasi ternak. . 7-10 ekor = 8. Sedangkan ternak kambing yang memiliki 1-10 ekor 61.45%.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Propinsi dan Kabupaten Kurang dan rancunya koordinasi antar Daerah Propinsi dan Daerah Kabupaten/ Kota serta antara Pemerintah (pusat) dan Daerah Propinsi . Dari angka sebagaimana tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa peternak sapi potong yang skala usahanya masih termasuk skala usaha sambilan mencapai 88.s o ft w a k e r. pada ternak babi usaha sambilan 58. k w . 4-6 ekor = 44.80%. Ternak itik ≤ 30 ekor = 70%. 7.25% dan cabang usaha 32.70%. 11-20 ekor = 32.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .s o ft w a re Upaya kita tentu bagaimana mendorong agar potensi sumberdaya alam yang ada dapat secara optimal dimanfaatkan dan mempercepat waktu pencapaiannya.0%. dan cabang usaha = 11. swasta & pemerintah.70%.doc/Datin 57 . cabang usaha 34. Pada peternak kambing usaha sambilan 61. peningkatan pertambahan berat badan harian dan diversifikasi produk.0%. serta pada ternak itik 86.

peningkatan kualitas dan kontinuitas produk. VISI MEWUJUDKAN LAMPUNG SEBAGAI LUMBUNG TERNAK YANG TANGGUH DAN MANDIRI 2. B. MISI. dengan harga terjangkau serta semakin berperan dlm menyediakan kebutuhan nasional 2. Memanfaatkan potensi sumberdaya alam local secara optimal. Meningkatkan daya saing produk unggulan peternakan Lampung 4. TUJUAN DAN SASARAN 1.c ww w om k lic lic . dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.s o ft w a k e r.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Meningkatkan populasi dan produksi ternak guna menyediakan bahan pangan asal ternak yang terjamin baik kualitas. budidaya dan pengolahan produk peternakan.s o ft w a re Ciri daripada usaha peternakan yang sambilan dan cabang usaha adalah kurang efisien di dalam pengelolaan factor factor produksi. k w . . perlu adanya upaya peningkatan skala usaha secara bertahap. dan perluasan pangsa pasar. kuantitas dan kontinuitasnya. VISI. TUJUAN 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Meningkatkan konsumsi protein hewani asal ternak masyarakat Lampung Meningkatkan produktivitas ternak Meningkatkan kualitas pelayanan di bidang peternakan Meningkatkan skala usaha peternakan Mengoptimalkan pemanfaatan teknologi tepat guna terutama dibidang pakan. melalui peningkatan aksesibilitas peternak terhadap modal dan teknologi. MISI 1. Meningkatkan kualitas dan kontinuitas produk unggulan peternakan yaitu sapi potong dan kambing. SASARAN E:\KEBIJ TEK-260405. 3. reproduksi. Mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumberdaya Meningkatkan peranan Provinsi Lampung sebagai salah satu Lumbung ternak Nasional Meningkatkan pendapatan peternak 4. Oleh sebab itu dalam rangka meningkatkan daya saing kualitas produk peternakan. mandiri dan professional 3. Mewujudkan sumberdaya manusia dan kelembagaan peternakan yg tangguh .doc/Datin 58 .

ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS Analisis lingkungan strategis adalah suatu analisis yang dilakukan secara objektif dan komprenship dengan mempergunakan data yang akurat.543 ekor kerbau 2.86 juta ekor 8) Pendapatan peternak minimal sama dengan UMR C. Tingkat kelahiran ternak pada tahun 2009 meningkat masing masing ternak sapi potong menjadi 23. Rata rata calving interval 14 bulan pada ternak sapi dan 8 bulan pada ternak kambing 3) Meningkatnya kualitas pelayanan publik dibidang peternakan. Melalui analisis ini diharapkan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Lampung dapat melihat secara objektif kondisi-kondisisi internal dan eksternal. k w . dan babi 57.15 %. antara lain : a. antara lain : a. . yaitu dengan menganalisis lingkungan internal (kekuatan dan kelemahan) dan lingkungan eksternal (pelunag dan ancaman) yang dihadapi.63 % 4) Terwujudnya peningkatan skala usaha peternakan antara lain pada tahun 2009 skala usaha sambilan dan cabang usaha pada peternakan sapi potong meningkat statusnya 1 % dan 3.s o ft w a re Sasaran umum yang ingin dicapai pada tahun 2009 adalah : 1) Tercapainya konsumsi protein hewani asal ternak masyarakat Lampung pada tahun 2009 sebesar 4.478 ekor dan unggas 8. kambing dan domba 243. Covering pelayanan kesehatan meningkat 40 % b.c ww w om k lic lic . baik dalam pembanguanan daerah. skala usaha ternak babi 5 % dan skala usaha ternak itik meningkat 2 %.55 %. domba 39.9 % .sector ataupun dalam pembangunan sub sektor peternakan khususnya di Propinsi Lampung. Service per conseption pelayanan IB ternak sapi pada tahun 2009 meningkat menjadi 1. Analisis lingkungan strategis merupakan satu upaya objektif untuk merumuskan dan memformulasikan strategi pembangunan yang dilakukan dengan pendekatan “SWOT”. 5) Populasi ternak sapipotong 55 % merupakan hasil IB dan ternak kambing 30 % merupakan kambing unggul hasil IB (Persilangan kambing Boer. Jadi perencanaan strategis sangat penting untuk memperoleh keunggulan kinerja baik berupa produk ataupun servis yang sesuai dengan keinginan dan tuntunan stakeholder sebagaimana yang tertuang dalam visi dan misi E:\KEBIJ TEK-260405.411 ekor. masyarakat.39 % c.doc/Datin 59 .15 %. 6) Terwujudnya optimalisasi pemanfaatan potensi sumberdaya alam untuk pengembangan peternakan pada tahun 2009 sebesar 5 % 7) Pengeluaran ternak ke Propinsi lain untuk kebutuhan bibit dan ternak potong pada tahun 2009 adalah: sapi potong 172. Covering pelayanan Inseminasi Buatan meningkat 26.5 %.151 ekor. kerbau 11. Kambing 40. skala usaha ternak kambing 3 %.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Dalam hal ini dapat dibedakan secara jelas fungsi manajemen.73 gram/kapita/hari 2) Terwujudnya peningkatan produktivitas ternak. PE). babi 24. terbaru dan berasal dari lingkungan insternal dan eksternal.35 % b.s o ft w a k e r. swasta dan pemerintah.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .

bungkil sawit.doc/Datin 60 . sementara pada tahun 2003 baru mencapai 33. diharapkan seluruh jajaran dan masyarakat peternakan mampu menagntisipasi dan mampu mengubah kekuatan menjadi peluang.s o ft w a re yang telah ditetapkan serta dapat mengantisipasi dengan cepat kemungkinan perubahan yang juga terjadi dengan cepat.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .18% nya adalah lahan yang dapt dipergunakan untuk budidaya ternak • Kapasitas tampung Lampung untuk ternak ruminansia sebanyak 1. sumber pakan dan tempat budidaya dimiliki Lampung sangat luas yaitu 3. tellur dan susu masih rendah 4) Perusahaan Swasta Perusahaan swasta telah banyak berkembang di Lampung antara lain bergerak di bidang penggemukan sapi potong. Secara sistematis kekuatan dan kelemahan yang dimiliki Propinsi Lampung dalam pembangunan peternakan adalah sebagai berikut : a. k w . Banten dan Jawa Barat.20% atau 468. Analisis Lingkungan Internal(Kekuatan dan Kelemahan) Secara riel Propinsi Lampung memiliki kekuatan besar yang mampu mempercepat lajunya perkembangan peternakan. anatara lain jagung. Banten dan Jawa Barat serta bibit sapi dan kambing ke Propinsi di Sumatera Lampung memiliki komoditi yang mempunyai prospek untuk di ekspor yaitu ternak kambing.180 unit ternak • Bahan baku pakan konsentrat melimpah di Lampung. Sampai saat ini Lampung menjadi salah satu pemasok ternak potong ke DKI Jakarta. mengingat konsumsi daging. kulit biji kopi. dimana 54. tapi juga sekaligus memiliki kelemehan yang kemungkinan besar dapat menghambat kemajuan dan / atau rencana pembangunan peternakan yang telah ditetapkan. 1. Dengan mengetahui kelemahan dan kekuatan internal sejak dini.3 juta ha.41 juta unit ternak. bungkil kelapa. serta mengubah kelemahan menjadi ancaman yang harus diatasi. pakan ternak dan distributor / deppo obat hewan Beberapa perusahaan swasta telah melakukan kemitraan dengan kelompok peternak disekitarnya E:\KEBIJ TEK-260405.s o ft w a k e r. . dedak halus. Kekuatan 1) Sumberdaya Alam • Lahan sebagai basis ekologi. gaplek dan lain lain 2) Letak geografis dan tofografis o Letak geografis Lampung sangat strategis karena berada di pintu gerbang Sumatera dan Jawa 3) Pasar Lampung dekat dengan pasar raksasa DKI Jakarta.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. ayam ras dan pakan ternak Potensi pasar lokal juga masih dapat ditingkatkan. mollase. ayam ras.c ww w om k lic lic .

PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .s o ft w a re 5) Komoditi unggulan Komoditi ternak unggulan Lampung telah dikenal oleh masyarakat di luar Propinsi . • Tenaga kerja terdidik justru lebih tertarik bekerja di kota kota besar • Aksesibilitas kelembagaan peternak terhadap modal. k w . dan Pos Inseminasi Buatan b. Poskeswan. yaitu SD kebawah. sikap dan keterampilan peternak relative rendah. yaitu sapi potong dan kambing 6) Kebijakan Pemerintah Dukungan pemerintah Provinsi & Kab/Kota untuk menjadikan Lampung sebagai Lumbung Ternak Nasional Dukungan pembiayaan melalui APBD Propinsi cenderung terus meningkat 7) Sarana dan Prasarana • • Propinsi Lampung telah memiliki Instalasi pembuatan mani Beku di Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah Prasarana pendukung lainnya adalah BPPV. Kelemahan 1) Sumberdaya Manusia • Pengetahuan. Pelabuhan Internasional Panjang.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Mesin dan Bahan E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin 61 .s o ft w a k e r. Pos Satgas. teknologi dan informasi masih sangat rendah 2) Modal • Para peternak pada umumnya tidak memiliki modal yang cukup • Skala usaha beternak umumnya masih rendah • Lembaga permodalan sulit diakses oleh peternak pada umumnya • Kebijakan makro dibidang permodalan belum menyentuh para peternak kecil dipedesaan. sementara peternak sendiri aksesibilitasnya rendah 3) Ternak • Kualitas bibit dan produktivitas ternak di Lampung masih rendah • Usaha perbibitan ternak belum diminati oleh perusahaan swasta • Tingkat kepemilikan ternak relatip masih rendah • Data populasi ternak kurang akurat • Usaha penggemukan sapi potong masih tergantung pada bakalan umpor 4) Peralatan . .c ww w om k lic lic . hal ini antara lain disebabkan tingkat pendidikan formal petani ternak juga rendah. BPTP. karantina hewan.

s o ft w a re • • Sebagian besar peralatan dan mesin peternakan masih tergantung dari barang impor. sehingga dapat menimbulkan penyebaran penyakit Jumlah Poskeswan dan petugas pelayanan kesehatan sangat terbatas . 7) Kebijakan Pemerintah • Pungutan retribusi di Kabupaten / Kota yang kontra produktip karena semakin menambah biaya produksi • Perencanaan dan pembiayaan pembangunan peternakan yang kurang tepat • Adanya euphoria otonomi daerah 2. dan ND Lalu lintas hewan antar Pulau dan antar Propinsi sulit dikendalikan. teknologi dan tatalaksana budidaya yang efisien E:\KEBIJ TEK-260405. antara lain peralatan IB. sementara yang ada baru mencapai 33. .80 % 3) Mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku pakan lokal 4) Meningkatkan produktivitas ternakmelalui penggunaan bibit unggul. Analisis Lingkungan Eksternal (Peluang dan Ancaman) a. perkebunan dan perikanan serta optimalisasi pemanfaatan lahan marginal 2) Lampung memiliki kapasitas tampung ternak ruminansia sebanyak 1. peralatan kesehatan hewan. jadi masih ada peluang pengembangan sebesar 66. Hog Cholera. k w .doc/Datin 62 .c W C re ! tr ac C tr ac k e r.41 juta AU. Brucellosis. Peluang 1) Mengintegrasikan usaha peternakan kedalam usaha / perusahaan pertanian.c ww w om k lic lic .20 %. Ramadewa.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .s o ft w a k e r. Flu Burung. peralatan dan msin budidaya Bengkel alat alat peternakan belum berkembang dengan baik 5) Obat dan pakan Sebagian bahan baku obat dan obat hewan masih diimpor Sebagian bahan baku pakan konsentrat antara lain tepung ikan masih tergantung dari bahan baku impor 6) Kesehatan Hewan Masih adanya penyakit hewan menular di Lampung antara lain SE.

10) Letak geografis Lampung yang dekat denga pasar raksasa DKI Jakarta. dapat dirintis ulang sebagai komoditi ekspor. ditunjang dengan potensi sumberdaya alam serta iklim usaha yang semakin baik.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Ancaman 1) Globalisasi perdagangan 2) Euporia otonomi daerah 3) Semakin tingginya ketergantungan dan keterkaitan antar sektor 4) Adanya tuntutan efisiensi. juga menjadi daya tarik investasi b. kambing. Dapat dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi produksi ataupun untuk pasar ekspor 7) Ayam ras yang merupakan salah satu unggulan Lampung.s o ft w a re 5) Pengembangan ternak kambing Boerawa yang memiliki potensi pasar di dalam dan di Luar Negeri 6) Lampung memiliki potensi bahan baku pakan yang melimpah. akan menarik minat para investor untuk menanamkan modalnya dalam bidang peternakan di Lampung . antara lain: a. k w . KEBIJAKAN Kebijakan yang akan dilaksanakan dalam rangka pembangunan peternakan di Propinsi Lampung adalah : mencapai tujuan Kebijakan yang digunakan dalam rangka meningkatkan konsumsi protein hewani asal ternak masyarakat Lampung (Tujuan 1) . kualitas dan kontinuitas produk 5) Out break penyakit flu burung dan penyakit hewan menular lainnya 6) Pengurasan populasi sapi potong dan kerbau yang diakibatkan pengeluaran yang tidak terkendali dan pemotongan ternak betina produktip 7) Ketergantungan pasokan sapi bakalan dari Australia 8) Kemungkinan terjadinya bioterorisme 9) Restrukturisasi organisasi D.s o ft w a k e r. Banten dan Jawa Barat.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . maka ini akan menjadi potensi pasar yang cukup besar 9) Dengan semakin dikenalnya Lampung sebagai salah satu Lumbung ternak Nasional dan iklim usaha yang semakin kondusip. Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap manfaat protein hewani bagi tubuh manusia b. dan sebagai substitusi daging merah (sapi. domba dan babi) 8) Dengan semakin baiknya pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendidikan di Lampung serta masih rendahnya konsumsi protein hewani masyarakat Lampung. Meningkatkan produksi daging. agar harganya terjangkau masyarakat E:\KEBIJ TEK-260405. telur dan susu. kerbau. . STRATEGI (CARA MENCAPAI TUJUAN & SASARAN) 1.c ww w om k lic lic . baik bahan baku konsentrat ataupun hijauan.doc/Datin 63 .

Meningkatkan pengetahuan. misalnya melalui introduksi pengolahan dan penyimpanan pakan. efektip dan efisien c. Meningkatkan aksesibilitas peternak / kelompok peternak kepada lembaga keuangan dan pemilik modal b. antara lain : a. perguruan tinggi dan perusahaan swasta b. Pengembangan pengolahan pasca panen produk produk peternakan menjadi bahan konsumsi yang menarik dan aman dikonsumsi e. sikap dan keterampilan peternak Kebijakan yang digunakan dalam meningkatkan kualitas pelayanan di bidang peternakan (Tujuan 3). . Meningkatkan kerjasama dengan Lembaga Penelitian. Meningkatkan kinerja aspek aspek bibit.2004) d. Mengembangkan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan. Didukung dengan adanya perubahan perilaku dari pemberi pelayanan atau mengubah sikap dan mental model (Oentarto.doc/Datin 64 . antara lain : a.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Melakukan swastanisasi atau mengembangkan metoda pelayanan public berbasis masyarakat di bidang peternakan b.s o ft w a re c. pelatihan. Merumuskan pedoman standar pelayanan minimal di bidang peternakan dan kesehatan hewan Kebijakan yang digunakan dalam rangka meningkatkan skala usaha peternakan (Tujuan 4). k w . adalah antara lain : a. pakan. Melaksanakan percontohan. burung merpati atau yang semula fokus terhadap daging sapi (daging merah) ke daging ayam (daging putih) yang memiliki fleksibilitas yang tinggi d. Mengembangkan pola usaha peternakan yang efisien. keswan tatalaksana pemeliharaan dan pengolahan produk peternakan (Tujuan 5). oleh karena itu peningkatan koordinasi lintas sector menjadi sangat penting. Kebijakan yang digunakan dalam rangka meningkatkan produktivitas ternak (Tujuan 2). kemitraan dan berkelompok. kesehatan. magang dan pendampingan pemanfaatan teknologi pada pra produksi budidaya dan pasca panen E:\KEBIJ TEK-260405. reproduksi dan fisiologi ternak dan tatalaksana pemeliharaan c. efektip dan menguntungkan. budaya dan tingkat pendidikan masyarakat.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .c ww w om k lic lic . Hal lain yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan konsumsi protein hewani adalah daya beli. Didukung dengan organisasi yang terdesentralisasi.s o ft w a k e r. murah dan mudah dilaksanakan oleh peternak b. Kebijakan yang digunakan dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dibidang pakan reproduksi. Diversifikasi terhadap jenis produk peternakan yang biasa dikonsumsi masyarakat dengan dengan produk peternakan lain yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Meningkatkan pemanfaatan teknologi tepatguna bekerjasama dengan lembaga penelitian. antara lain : a. Perguruan Tinggi dan Perusahaan Swasta c. Misalnya mengembangkan ternak kelinci.

doc/Datin 65 . Meningkatkan aksesibilitas peternak terhadap sumber permodalan dan teknologi c. peningkatan kualitas pelayanan kesehatan hewan dan IB. (Tujuan 9). Meningkatkan skala usaha dan produktivitas ternak b. antara lain : a.s o ft w a k e r. Melakukan percepatan peningkatan populasi ternak melalui pengembangan system perbibitan. Mendorong atau bekerjasama dengan perusahaan swasta untuk memanfaatkan limbah perkebunan. antara lain : a. kambing dan GPS ayam ras c. IB. c. Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya pakan local untuk mengganti/mengurangi ketergantungan impor bahan baku pakan. . Memberikan insentif bagi investor yang mengembangkan usahanya secara bermitra dengan masyarakat sekitar Kebijakan yang digunakan dalam rangka meningkatkan pendapatan peternak. antara lain : a. Mengembangangkan kawasan produk peternakan unggulan d.c ww w om k lic lic . k w .s o ft w a re Kebijakan yang digunakan dalam rangka meningkatkan kualitas dan kontinuitas produk unggulan peternakan (Tujuan 6).c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Kebijakan yang digunakan dalam rangka meningkatkan peranan Propinsi Lampung sebagai salah satu Lumbung ternak Nasional (Tujuan 8). pemda dan swasta untuk mengimpor bibit unggul terutama sapi.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . penggunaan bibit unggul. Menggali sumber permodalan untuk mendukung usaha peternakan yang terintegrasi dengan usaha pertanian/perkebunan/perikanan. sikap dan keterampilan (PSK) peternak E:\KEBIJ TEK-260405. Mengembangkan komoditi ternak unggulan Lampung yang tidak dimiliki oleh wilayah lain antara lain ternak kambing Boer. pengendalian pemotongan betina produktif dan pengendalian pengeluaran bibit unggul keluar Propinsi b. Meningkatkan pengetahuan. Kebijakan yang digunakan dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumberdaya alam (Tujuan 7). perkebunan dan perikanan d. adalah : a. pertanian dan perikanan sebagai pakan ternak melalui pola integrasi b. Mengembangkan teknologi pengolahan dan penyimpanan pakan yang berasal dari limbah pertanian. embryo transfer. b. c. optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam dan peningkatan kualitas pakan. Memfasilitasi dan mendorong pemerintah pusat. Mengembangkan pola integrasi ternak kedalam perusahaan petani & perkebunan serta agroindustri lainnya. Mendorong perusahaan swasta dibidang perkebunan/ pertanian dan agroindustri lainnya untuk membuka usaha terpadu dengan memasukan usaha peteranakan sebagai cabang atau bagian dari perusahaan intinya. Boerawa dan penggemukan sapi eks impor d. Optimalisasi pemanfaatan teknologi antara lain.

doc/Datin 66 .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . 2. Tujuan a) Meningkatkan profesionalisme dan produktivitas peternak dan petugas b) Meningkatkan peranan dan kualitas kelembagaan peternak dan kelembagaan lain yang mendukung pembangunan dibidang peternakan c) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak 2) Program Pengembangan Integrasi Ternak dengan Tanaman Pertanian/ Perkebunan a. mampu mengoptimalkan dan mengakses sunber daya (alam. Arah Program ini diarahkan untuk menciptakan sumberdaya manusia dan kelembagaan peternakan yang tangguh dan mandiri. Arah Program ini diarahkan untuk mendorong perusahaan perkebunan / pertanian dan agroindustri lainnya untuk melaksanakan diversifikasi usaha bidang peternakan dan mengembangkan kemitraan dengan nilai ternak yang ada disekitar perusahaan. k w . modal dan teknplogi). untuk memperoleh manfaat yang sebesar besarnya bagi peningkatan produksi dan produktivitas ternak dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Tujuan a) Meningkatkan “capacity building” dari padalahan usaha pertanian/perkebunan sekaligus meningkatkan pendapatan per satuan luas lahan usaha b) Meningkatkan populasi ternak c) Meningkatkan pendapatan peternak disekitar perusahaan d) Mengembangkan usaha tani terpadu.s o ft w a k e r.c ww w om k lic lic . Meningkatkan pangsa pasar produk produk peternakan d. . E:\KEBIJ TEK-260405. b.s o ft w a re Mendorong tumbuhnya dan memfasilitasi kelembagaan peternak menjadi kelembagaan yang mampu berperan sebagai mediator bagi anggotanya untuk membangun usaha peternakan e. PROGRAM PRIORITAS 1) Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Peternakan Sumberdaya Manusia dan a. b.

. pengendalian dan penolakan penyakit hewan serta peningkatan kualitas pelayanan dibidang kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet) b.s o ft w a re 3) Program Peningkatan Produksi & Produktivitas Ternak a. Tujuan e) Mendorong percepatan peningkatan populasi ternak f) Mempertahankan stabilitas potensi Lampung sebagai lumbung ternak Nasional g) Mengembangkan potensi Lampung sebagai salah satu pusat bibit ternak sapi dan kambing h) Menyediakan daging.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . utuh dan halal) f) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak E:\KEBIJ TEK-260405. dengan mengembangkan produk yang ASUH (aman. pengembangan kualitas. kuantitas dan kontinuitas pakan. penanganan kesehatan hewan dan pengelolaan / tatalaksana budidaya b. pemberantasan. melalui penerapan panca usaha ternak. telur. susu serta produk olahannya untuk konsumsi masyarakat Lampung dalam jumlah dan kualitas yang cukup serta harga yang terjangkau i) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak 4) Program Pembinaan Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner a. Arah Program ini diarahkan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas ternak.doc/Datin 67 .c W C re ! tr ac C tr ac k e r. yaitu penggunaan bibit unggul.s o ft w a k e r. penanganan dan penerapan teknologi reproduksi. Arah Program ini diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan hewan peliharaan dan ternak milik peternakan rakyat melalui upaya pencegahan.c ww w om k lic lic . Tujuan a) Meningkatkan produksi dan produktivitas ternak b) Menurunkan tingkat kematian (mortalitas) dan derajat kejadian penyakit (morbiditas) c) Meningkatkan kesehatan lingkungan budidaya d) Mencegah tejadinya penularan penyakit zoonosis dari hewan l\kepada manusia e) Meningkatkan keamanan dan kesehatan produk produk peternakan yang dikonsumsi. k w . sehat.

s o ft w a k e r.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . menekan tingkat kematian dan tidak terjadinya out break penyakit hewan menular d) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak 6) Program Pengembangan agribisnis dan kemitraan peternakan a. Arah Program ini diarahkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi pedesaan. k w . terutama dalam bidang kesehatan hewan. . Arah Program ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan public dibidang peternakan yang lebih berorientasi kepada pengguna. partisipatip. Tujuan a) Meningkatkan efisiensi produksi dan pemasaran hasil serta meningkatkan kualitas dan daya saing produk di pasar dalam dan luar negeri b) Menciptakan iklim yang mendorong tumbuhnya agribisnis dan agroindustri. Dalam hubungan ini peranserta swasta dan badan usaha lain untuk ikut berpartisipasi mewujudkan industri peernakan yang sinergis dengan peternakan rakyat dan sumberdaya local b. pengembangan perbibitan dan pakan ternak.s o ft w a re 5) Program Peningkatan Kualitas Pelayanan dibidang Peternakan a. Arah Program ini diarahkan untuk Pengembangan Kambing Boerawa yang merupakan hasil persilangan antara kambing Boer Dengan Kambing peranakan Etawa adalah membuka peluang pasar export kambing potong ke pasar Timur Tengah. serta meningkatkan investasi di bidang peternakan c) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak d) Mengembangkan kemitraan peternakan yang adil dan saling menguntungkan 7) Mengembangkan Ternak Kambing Boerawa a. guna memperoleh nilai tambah yang tinggi dengan masukan teknologi. peningkatan pemberdayaan peternak dan kelompok peternak. Tujuan a) Meningkatkan partisipasi dan peranan masyarakat dan swasta b) Meningkatkan tingkat keberhasilan pelayanan Inseminasi buatan c) Meningkatkan derajat kesehatan. E:\KEBIJ TEK-260405. inseminasi buatan. transparan. serta dengan mengembangkan bentuk bentuk pelayanan yang berbasis masyarakat dan swastanisasi. manajemen dan akses pasar. penyuluhan dan pelatihan teknis. b.c ww w om k lic lic .doc/Datin 68 .c W C re ! tr ac C tr ac k e r.

Meningkatkan populasi sapi dan kambing perah 5. Arah Arah dari pengembangan Kambing Boerawa yang merupakan hasil persilangan antara kambing Boer Dengan Kambing peranakan Etawa adalah membuka peluang pasar export kambing potong ke pasar Timur Tengah. Tujuan a) Meningkatkan bobot kambing potong.c ww w om k lic lic . komprehenship dan tepat waktu b) Meningkatkan kualitas pelayanan penyediaan data dan informasi bidang peternakan c) Meningkatkan kualitas perencanaan dan proses pelaksanaan pembangunan peternakan 9) Program Pengembangan Ternak Perah a. Meningkatkan kualitas SDM peternak sapi dan kambing perah 4.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Meningkatkan kualitas budidaya peternakan sapi dan kambing perah 3.s o ft w a re b. Meningkatkan konsumsi susu murni 10) Pengembangan & Pembinaan Ternak Kerbau & Aneka Ternak a. Arah Program ini diarahkan untuk mewujudkan perencanaan pembangunan peternakan yang akuntabel. Tujuan 1. Tujuan a) Meningkatkan kualitas data peternakan yaitu data yang memenuhi criteria akurat.doc/Datin 69 . k w .s o ft w a k e r. E:\KEBIJ TEK-260405. Mengembangkan sentra – sentra peternakan sapi dan kambing perah 2. yang didukung dengan ketersediaan data peternakan yang akurat dan omprehenship. b. . diharapkan pada umur 8 bulan dapat mencapai bobot 30 – 40 kg b) Mengembangkan kawasan pembibitan kambing Boerawa c) Meningkatkan kualitas daging kambing melalui persilangan dan perlakuan lainnya 8) Program Peningkatan kualitas data dan Perencanaan Pembangunan Peternakan a.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Arah Program ini diarahkan untuk mengembalikan peranan ternak kerbau sebagai ternak unggulan Lampung serta mengembangkan aneka ternak sebagai komoditi substitusi untuk memenuhi kebutuhan daging. b.

PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . telur susu) Menurunnya kasus penularan penyakit zoonosis 2. Promosi dan sosialisasi produk unggulan peternakan 4. Pemberantasan dan pengendalian penyakit Flu Burung 2.2 dan 3 lomba kelompok.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Pembinaan dan pelayanan kesehatan masyarakat veteriner E:\KEBIJ TEK-260405. . E. Program Prioritas. PROGRAM AKSI DAN INDIKATOR KINERJA TAHUN 2005 – 2009 1. Penerima integrasi 5.Lampung Meningkatnya kualitas keg. Penerima bantuan mesin pakan 6.c ww w om k lic lic . Lampung oleh Masyarakat Meningkatnya pangsa pasar produk unggulan pet. k w . Pembinaan klp. o± 450 anggota kelp dan ±1500 anggota kelp lainnya termotipasi u/ meningkatkan kualitas usahanya Peternak peserta magang 20 orang PPL peserta pelatihan 50 orang Dikenalnya produk unggulan pet. pengendalian dan penolakan penyakit rabies 4.s o ft w a re b. pengelola keuangan) o Tidak terjadi out break penyakit flu burung o Masy memahami dan terampil cara pengend & penolakan peny. Pembinaan klp pet. MATRIKS PROGRAM PRIORITAS. Pet.doc/Datin 70 . Program Aksi & Indikator Kinerja Tahun 2005 PROGRAM PRIORITAS 1. Magang dan pelatihan penyuluh pertanian (PPL) 3. budidaya. flu burung Tdk terjadi out break penyakit hewan menular di Lampung Kerugian peternak dapat dihindari Menurunnya kasus gigitan oleh hewan penular rabies Masyarakat merasa aman mengkonsumsi produk peternakan (daging. Peningkatan kualitas SDM dan kelembagaan peternakan PROGRAM AKSI TAHUN 2005 1. Lomba Kelompok Peternak INDIKATOR KINERJA oTerpilihnya juara 1. Pemberantasan. pengendalian dan penolakan penyakit hewan menular pada ternak 3. Pembinaan kampong tua 2. yang terdiri dari 5 jenis & dapat menjadi contoh.s o ft w a k e r. (kelembagaan Adm. Pemberantasan. Tujuan a) Meningkatkan populasi & produksi ternak kerbau b) Meningkatkan peranan aneka ternak dan unggas dalam memenuhi kebutuhan daging dan telur c) Mengembangkan komoditi aneka ternak sebagai alternative usaha dibidang peternakan. Pembinaan Kesehatan Hewan dan kesehatan masyarakat veteriner 1.

Lampung . sikap dan keterampilan (PSK) peternak dalam mengelola dan memanfaatkan pakan & kompos o Berkembangnya pemanfaatan limbah pertanian/ perkebunan dan perikanan untuk pakan & kotoran untuk pupuk tanaman o Tumbuhnya minat perusahaan swasta/agroindustri untuk mengemb. Pengembangan perbibitan ternak sapi bali di IPSB Campang Tiga 7. & peningk.s o ft w a k e r. Peningkatan kualitas pelayanan di bidang peternakan 1. Peningkatan produksi dan produktivitas ternak 1. integrasi ternak dgn tanaman pertanian / perkebunan 4.Pembinaan teknis adm. k w . Produksi mani beku sapi 35. di kelompok peternak Meningkatnya produk ternak bibit. IB meningkat 5% S/C 1. buku saku. Berkembangnya jenis jenis ternak bibit hasil silangan. 8 Kab. Pengembangan perbibitan ternak Terwujudnya klpk klpk VBC sapi kambing.39 % dan CR 80% Tersedia publikasi data dalam bentuk buku statistic. Prop. Gaduhan ternak asset Pem. PE & Saanen yg berkualitas sebanyak 18 ekor Menghasilkan pejantan unggul untuk diambil maninya sebanyak 2 ekor Mengasilkan bibit sapi bali unggul 7 ekor/tahun Menghasilkan pejantan sapi bali untuk diambil maninya sebanyak 2 ekor Tertib laporan. Gaduhan ternak asset Pemerintah Propinsi Lampung 5. Menghasilkan bibit kambing Boer.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.Lokasi 100 Desa .Kab. Pelayanan redistribusi dan penjualan ternak tidak layak bibit asset pemda Propinsi . realistis dan meng- 2. Peningkatan kualitas pelayanan Inseminasi Buatan dan kesehatan hewan 2. usaha Peternakan secara terpadu Terealisasinya : Ternak setoran layak bbt 100 ekor Revolving 100 ekor Jmlh penggaduh baru 100 KK Terbinanya teknis adm.000 dosis Meningkatnya performan IPMB Terbanggi besar o Meningkatnya pengetahuan. Boerawa. tertib pengelolaan adm gaduhan ternak Covering pelay. 66 Kec . ayam buras dan itik. dan situs internet Up dating data di web site berjalan dengan baik Tersusunnya perencanaan pemb. . Pet. Pembuatan mani beku di IPMB Terbanggi Besar 3.s o ft w a re 3. Penyusunan perencanaan 2006.doc/Datin 71 . yang akuntabel.Kec. Pembin.c ww w om k lic lic .PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . kualitas pakan serta pengemb. Pembinaan dan pengawasan pengemb perbibitan ternak pemerintah 4.000 dosis dan Kambing 10. Pengembangan perbibitan Kambing di IPKU Negeri Sakti 6. pengumpulan dan pengolahan data 2005 serta Pemantauan dan Evaluasi E:\KEBIJ TEK-260405.

Peternakan Tersusunnya perenc. Pngemb. realistis dan akomodatif Kegiatan pemb. jerami padi Terbangunnya 2 unit pabrik pakan ternak di kelpk peternak Harga pakan lebih murah. Penyusunan dan sosialisasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang peternakan 5. dgn baik (tepat waktu. Pembinaan dan pengembangan ternak dengan pola integrasi 2. Peningkatan kualitas data & perenc.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Pemb. 1. Demplot pabrik pakan ternak SPM yang telah disusun difahami dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Tersusunnya SPM bidang tertentu Termanfaatkannya limbah tanaman pisang untuk pakan Identifikasi tanaman tebu. k w .doc/Datin 72 .s o ft w a re akomodasi aspirasi & peran serta masy 3. peternak dapat nilai tambah Percontohan pabrik pakan 2 unit Tersusun dan terpublikasikan nya data pemb. Pengolahan dan publikasi data 2.c ww w om k lic lic . Pengumpulan.pet. mutu sasaran) 6.s o ft w a k e r. Pemb.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . peternakan tahun 2006 3. Pet. Monitoring dan Pengendalian E:\KEBIJ TEK-260405. Penyusunan perencanaan pemb. . dapat di laks. Pet tahun 2006 yang akuntabel. agribisnis peternakan 1.

Peningkatan kualitas SDM dan kelembagaan peternakan PROGRAM AKSI TAHUN 2006 1. Latihan teknis bagi petugas. 8. Demplot pola integrasi ternak kamb. Dari swasta.Sakti & Campang Tiga 3. Pengembangan pejantan unggul (Sapi.2 dan 3 lomba kelompok.c ww w om k lic lic . Pengembangan Integ. Tersedia leaflet (10. Kambing. lada dan singkong. Demplot pola integrasi sapi pada usaha tani padi 5. Pelatihan Teknis Pet. entok. ayam buras dan itik. Neg. Pemb. Kelp. Pengembangan perbibitan ternak (Sapi. • Tersedia demplot pola integrasi sapi – tebu.000 dosis dan Kambing 10. Ternak 1. k w . Demplot pola integrasi ternak kambing pola perkebunan coklat/kopi.s o ft w a k e r.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Lomba Kelompok Peternak INDIKATOR KINERJA oTerpilihnya juara 1. kelinci Berkembangnya jenis jenis ternak bibit hasil silangan. Peningkatan produksi dan produktivitas ternak 1. Latihan pengolah produk pet.s o ft w a re 2. 4. Itik) • • • Terwujudnya klpk klpk VBC sapi. Peternak Kampung Tua 7. Program Aksi & Indikator Kinerja Tahun 2006 PROGRAM PRIORITAS 1. Demplot pola integrasi sapi dengan perkebunan tebu (Pengelolaan pucuk tebu) 3. sapi. Program Prioritas. di kelompok peternak Meningkatnya produksi ternak bibit Produksi mani beku sapi 40. sapi – padi • Meningkatkan PSK Peternak dapat menarik minat swasta untuk mengembangkan pola integrasi.000 Exp) Proposal pola integrasi.doc/Datin 73 . Sosialisasi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan. kambing.pisang. Pada usaha tani padi 3.Kambing. 2. 2. KCD & PPL 5. domba. Latihan petugas & pengawasan Kesmavet 4. Kontes Ternak 6. . Latihan petugas IB. yang terdiri dari 5 jenis o± 450 anggota kelp dan ±1500 anggota kelp lainnya termotipasi u/ meningkatkan kualitas usahanya Peternak peserta magang 20 orang PPL peserta pelatihan 50 orang Meningkatnya kualitas pelayan bidang pet di tingkat Kecamatan (50 Kec) Dikenalnya produk unggulan peternakan Lampung oleh Masyarakat Meningkatnya pangsa pasar produk unggulan peternakan Lampung Konsepsi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan dikenal masy. 2.000 dosis 2.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .Kerbau) di IPMB • • • Sapi pejantan unggul 5 ekor Kerbau pejantan 2 ekor Kambing pejantan Boer 20 ekor E:\KEBIJ TEK-260405. pertanian dan Perikanan. Ayam Buras. Pembuatan mani beku di IPMB Terbanggi Besar 3.

Lokasi 182 Desa . & Pemberantasan AI & ND o Out Break AI dpt diantisifasi o Masy.Kab. Ayam di IPKU Negeri Sakti • Penyebaran & Penjaringan Kambing Boerawa. k w . 66 Kec . Pembinaan & peningkatan kualitas pakan o Kualitas pakan yang diberikan • Demplot pakan seimbang ditingkat peternakan setempat • Pengembangan Pabrik pakan mini o Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya • Demplot peternak sillase pakan local.doc/Datin 74 . Pengadaan bibit kambing Boer Kamb. Memahami & terus berperan serta dlm pengend. Kambing perah. Ternak 1. 7. pengendalian dan penolakan penyakit hewan menular pada ternak 6. Pemberantasan.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Prop. Pemberantasan dan pengendalian penyakit Flu Burung • Penyusunan pedoman/system pengend. • Pengemb. & pemberantasan AI • Sosialisasi • Vaksinasi dan Pengobatan 5. Terealisasinya : Ternak setoran layak bbt 110 ekor Revolving 110 ekor Jmlh penggaduh baru 110 KK Terbinanya ternak asset Pem. Pengembangan instalasi pembibitan kambing IPKU Negeri Sakti 3.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Tdk terjadi out break penyakit hewan menular di Lampung Kerugian peternak dapat dihindari Menurunnya kasus gigitan oleh hewan penular rabies E:\KEBIJ TEK-260405. Pembinaan Kesehatan Hewan dan kesehatan masyarakat veteriner 4. kate dan pelung Terjaringnya kambing pejantan boerawa yang berkualitas Produksi susu kambing 500 lt/th Menghasilkan pejantan unggul 5 ekr Prod.s o ft w a re 4.s o ft w a k e r. & Pemberant. 8 Kab 6. Pelayanan redistribusi dan seleksi ternak bibit asset pemerintah. Pemberantasan. 5. . AI.000 stek v Tersedianya bibit unggul kamb. 4.Kec. • Demplot pembuatan specimen o Kontinuitas pakan terjamin wafer/hay jerami • Demplot pengolahan kepala udang • Gerakan penanaman HPT • Inventarisasi & Publikasi bahan baku pakan lokal • Demplot pembuatan pakan lengkap.Boerawa 2.c ww w om k lic lic . Boer v Berkembangnya sentra bibit kambing unggul o Terbangunnya system pengend. Fasilitas pet. HMT 1000. Lampung pada : . Pengemb. Pengembangan perbibitan ternak sapi bali di IPSB Campang Tiga • Penyusunan pedoman/system pengend & pemberantasan AI • Pembibitan HMT • Pengujian Bibit ternak. pengendalian dan penolakan penyakit rabies Produksi bibit ayam cemani. Pengembangan perbibitan Kambing & unggas di IPKU Negeri Sakti • Pemb. Pengadaan Kambing Betina Induk 5.

Penyusunan perencanaan pemb. Pngembangan agribisnis peternakan 1.39 % dan CR 80% Meningkatnya peran serta masy dan swasta dalam yan kes wan Mortalitas & morbiditas menurun • Terbangunnya 1 – 2 unit pos pelay. telur susu) Menurunnya kasus penularan peny.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Pengemb. 1 Tahun 1977. Di Lamp.c ww w om k lic lic . straw dan alat IB 5. & Pembinaan kemityraan peternakan (Sapi. Peningkatan 4. penyediaan bidang pet. Sosialisasi dan pelayanan kesehatan masyarakat veteriner 6. Revisi Perda No. Meningkat Perda pengganti lebih baik. Peternakan Tersusunnya perenc. (daging. pencegahan & pemb. merasa aman mengkonsumsi produk pet.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Sosialisasi minum susu sapi dan kambing 8. Pengolahan dan publikasi data 2. Lembaga keuangan Mikro (LKM) & pembinaan KKMB 4. adm gaduhan ternak Meningkatkan produksi susu sapi dan kambing Meningkatnya minat masyarakat untuk minum susu sapi dan susu kambing Covering pelayanan IB meningkat 5% S/C 1. Tersusun dan terpublikasikan nya data pemb. Unggulan Lampung semakin dikenal • Potensi pengemb. Peningkatan kualitas data & perenc.s o ft w a re 7. k w . Peningkatan kualitas kesehatan hewan dan kesmavet 6.s o ft w a k e r. Pengemb. perbibitan ternak pemerintah 7. 9. . Pemb. Skala usaha meningkat • Tumbuhan LKM di tingkat kelp. peternakan tahun 2007 E:\KEBIJ TEK-260405. Pembinaan & pengawasan pengemb. Pet. tertib pengel. Pet. SPM yang telah disusun difahami dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Tersusunnya SPM bidang tertentu • • Pelayanan. Promosi dan sosialisasi produk & potensi unggulan peternakan. Dikenal terutama oleh pihak investor. Pengembangan Ternak Perah 1. Pembinaan. Peningkatan kualitas pelayanan IB kualitas pelay di • Pedoman. 1. Ayam Ras & Kambing) 2. Pemb. realistis dan akomodatif 5. bibit pet. Pengembangan Pos Pelayanan Keswan 7. • Optimalnya peran KKMB • Produk pet. Pengembangan UKM dan peningk skala usaha peternakan melalui pembiayaan Perbankan 3. Masy. • Tertib laporan. Dukungan terhadap peternakan sapi perah di Gisting Kab. Pengumpulan. zoonosis Jumlah & Kualitas kemitraan peternak meningkat Meningkatnya aksesibiliotas peternak kepada sumber-sumber pembiayaan usaha.doc/Datin 75 . Sosialisasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang peternakan 8. Pengembangan ternak kambing perah di Gedong Tataan Kab. Tanggamus 2. sosialisasi. Pet tahun 2007 yang akuntabel. LS & KBL 3.

s o ft w a re 3. Ternak kerbau kerbau & aneka 2.pet. . mutu sasaran) Meningkatnya produktivitas ternak kerbau melalui Inseminasi Buatan Berkembangnya aneka ternak di IPKU di Negeri Sakti. Dan 1.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . k w . Pengembangan aneka ternak IPKU di ternak Negeri Sakti Kegiatan pemb. Monitoring dan Pengendalian 10. E:\KEBIJ TEK-260405.s o ft w a k e r. Pengemb.doc/Datin 76 .c ww w om k lic lic . dapat di laksanakan dengan baik (tepat waktu. Pembinaan dan introduksi IB pada Pembin.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.

s o ft w a re 3. Pembuatan mani beku di IPMB Terbanggi Besar 4. Peningkatan produksi dan produktivitas ternak 1. Kelp. 8. lada dan singkong. Ternak 1. kelinci Berkembangnya jenis jenis ternak bibit hasil silangan. Neg. Kontes Ternak 6. ayam buras dan itik. Itik) • • • Terwujudnya klpk klpk VBC sapi. Pada usaha tani padi 3.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Program Prioritas. Ayam Buras. entok. 2. Dari swasta. Peternak Kampung Tua 7. Pengembangan pejantan unggul (Sapi. pertanian dan Perikanan. Demplot pola integrasi ternak kambing pola perkebunan coklat/kopi. Pengembangan Integ.Kambing. yang terdiri dari 5 jenis o± 450 anggota kelp dan ±1500 anggota kelp lainnya termotipasi u/ meningkatkan kualitas usahanya Peternak peserta magang 20 orang PPL peserta pelatihan 50 orang Meningkatnya kualitas pelayan bidang pet di tingkat Kecamatan (50 Kec) Dikenalnya produk unggulan peternakan Lampung oleh Masyarakat Meningkatnya pangsa pasar produk unggulan peternakan Lampung Konsepsi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan dikenal masy. .c ww w om k lic lic . Pemb. Latihan petugas & pengawasan Kesmavet 4. 2. Peningkatan kualitas SDM dan kelembagaan peternakan PROGRAM AKSI TAHUN 2007 1.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Latihan pengolah produk pet. (Sapi.s o ft w a k e r. Latihan petugas IB. Program Aksi & Indikator Kinerja Tahun 2007 PROGRAM PRIORITAS 1.2 dan 3 lomba kelompok. Demplot pola integrasi sapi pada usaha tani padi 5.000 dosis 3.Sakti & Campang Tiga 3. • Tersedia demplot pola integrasi sapi – tebu. Kambing. sapi. kambing. Demplot pola integrasi ternak kamb.000 Exp) Proposal pola integrasi. Pelatihan Teknis Pet. KCD & PPL 5. Lomba Kelompok Peternak INDIKATOR KINERJA oTerpilihnya juara 1.pisang.000 dosis dan Kambing 10.doc/Datin 77 . domba. 2. 4. Meningkatnya produksi ternak bibit Produksi mani beku sapi 40. Pengembangan perbibitan ternak 2. Sosialisasi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan. di kelompok pet.Kerbau) di IPMB • • • Sapi pejantan unggul 5 ekor Kerbau pejantan 2 ekor Kambing pejantan Boer 20 ekor 6. Demplot pola integrasi sapi dengan perkebunan tebu (Pengelolaan pucuk tebu) 3. sapi – padi • Meningkatkan PSK Peternak dapat menarik minat swasta untuk mengembangkan pola integrasi. Latihan teknis bagi petugas. Pembinaan & peningkatan kualitas pakan • Demplot pakan seimbang o Kualitas pakan yang diberikan ditingkat E:\KEBIJ TEK-260405. k w . Tersedia leaflet (10.

HMT 1000. kate dan pelung Terjaringnya kambing pejantan boerawa yang berkualitas Produksi susu kambing 500 lt/th Menghasilkan pejantan unggul 5 ekr Prod. • Pengemb. 8 Kab 8. Pemberantasan. pengendalian dan penolakan penyakit rabies 4.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Pembinaan.s o ft w a k e r. Revolving 110 ekor Jmlh penggaduh baru 110 KK Terbinanya ternak asset Pem. k w .c W C re ! tr ac C tr ac k e r.Lokasi 182 Desa . 66 Kec . Pengembangan instalasi pembibitan kambing IPKU Negeri Sakti 3. Sosialisasi dan pelayanan kesehatan masyarakat veteriner Produksi bibit ayam cemani. pengendalian dan penolakan penyakit hewan menular pada ternak 3. Ayam di IPKU Negeri Sakti • Penyebaran & Penjaringan Kambing Boerawa. Boer v Berkembangnya sentra bibit kambing unggul o Terbangunnya system pengend. Pengadaan Kambing Betina Induk 5. Pemberantasan dan pengendalian penyakit Flu Burung • Penyusunan pedoman/system pengend.s o ft w a re • • • • • • • peternakan setempat Pengembangan Pabrik pakan mini o Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya Demplot peternak sillase pakan local. Kambing perah.000 stek v Tersedianya bibit unggul kamb. . Prop. Fasilitas pet. Lampung pada : . Pengembangan perbibitan Kambing & unggas di IPKU Negeri Sakti • Pemb. Demplot pembuatan specimen o Kontinuitas pakan terjamin wafer/hay jerami Demplot pengolahan kepala udang Gerakan penanaman HPT Inventarisasi & Publikasi bahan baku pakan lokal Demplot pembuatan pakan lengkap. telur susu) E:\KEBIJ TEK-260405. Ternak 1. Memahami & terus berperan serta dlm pengend.doc/Datin 78 . & pemberantasan AI • Sosialisasi • Vaksinasi dan Pengobatan 2. Pelayanan redistribusi dan seleksi ternak Terealisasinya : Ternak setoran layak bbt 110 ekor bibit asset pemerintah.c ww w om k lic lic .Kab. 9.Kec. 7. 4. & Pemberantasan AI & ND o Out Break AI dpt diantisifasi o Masy.Boerawa 2. AI. Pembinaan Kesehatan Hewan dan kesehatan masyarakat veteriner 1. Tdk terjadi out break penyakit hewan menular di Lampung Kerugian peternak dapat dihindari Menurunnya kasus gigitan oleh hewan penular rabies Masy. Pemberantasan. & Pemberant. (daging. Pengemb. Pengembangan perbibitan ternak sapi bali di IPSB Campang Tiga • Penyusunan pedoman/system pengend & pemberantasan AI • Pembibitan HMT • Pengujian Bibit ternak. Pengadaan bibit kambing Boer Kamb. merasa aman mengkonsumsi produk pet.

Monitoring dan Pengendalian Kegiatan pemb. Pemb. Peningkatan 1. Peningkatan 1. 4. perbibitan ternak pemerintah 1. tertib pengel. Peningkatan kualitas kesehatan hewan dan kesmavet 3. Pet th. Revisi Perda No. & Pembinaan kemityraan peternakan (Sapi. Tersusunnya perenc. Meningkat • Perda pengganti lebih baik.s o ft w a re 6. zoonosis Jumlah & Kualitas kemitraan peternak meningkat Meningkatnya aksesibiliotas peternak kepada sumber-sumber pembiayaan usaha. • Tertib laporan.39 % dan CR 80% Meningkatnya peran serta masy dan swasta dalam yan kes wan Mortalitas & morbiditas menurun • Terbangunnya 1 – 2 unit pos pelayanan SPM yang telah disusun difahami dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Tersusunnya SPM bidang tertentu • 3. Peternakan perenc. 1 Tahun 1977. Skala usaha meningkat • Tumbuhan LKM di tingkat kelp. Pngembangan agribisnis peternakan 1. 2. 2. Pengemb.s o ft w a k e r. Pengemb. Pengembangan ternak kambing perah di Gedong Tataan Kab. Di Lamp. realistis dan akomodatif 3. Pengembangan Ternak Perah Pembinaan & pengawasan pengemb. Lembaga keuangan Mikro (LKM) & pembinaan KKMB Promosi dan sosialisasi produk & potensi unggulan peternakan. Tanggamus 2. Sosialisasi minum susu sapi dan kambing 8. 2008 Pet. Penyusunan perencanaan pemb. Pengumpulan. mutu sasaran) 10.doc/Datin 79 . Ayam Ras & Kamb) Pengembangan UKM dan peningk skala usaha peternakan melalui pembiayaan Perbankan Pengemb. Pengembangan aneka ternak IPKU di Berkembangnya aneka ternak di IPKU ternak Negeri Sakti di Negeri Sakti.pet. . adm gaduhan ternak Meningkatkan produksi susu sapi dan kambing Meningkatnya minat masyarakat untuk minum susu sapi dan susu kambing Covering pelayanan IB meningkat 5% S/C 1. E:\KEBIJ TEK-260405. Pembinaan dan introduksi IB pada Meningkatnya produktivitas ternak Pembin. Sosialisasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang peternakan 5. Dan 3.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Ternak kerbau kerbau melalui Inseminasi Buatan kerbau & aneka 4. straw dan alat IB 2. Menurunnya kasus penularan peny. Pemb. Peningkatan kualitas pelayanan IB kualitas pelay di • Pedoman. • Optimalnya peran KKMB • Produk pet. Pengembangan Pos Pelayanan Kesehatan Hewan 4. 5. dapat di laksanakan dengan baik (tepat waktu.c ww w om k lic lic . 9. Unggulan Lampung semakin dikenal • Potensi pengemb. bibit pet. sosialisasi. Dukungan terhadap peternakan sapi perah di Gisting Kab. Pet. LS & KBL 3. Pengolahan dan publikasi Tersusun dan terpublikasikan nya data kualitas data & data pemb. k w . peternakan tahun 2008 yang akuntabel. Pelayanan. pencegahan & pemb.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Dikenal terutama oleh pihak investor. 7. penyediaan bidang pet.

Peningkatan produksi dan produktivitas ternak 1. 2. (Sapi. Latihan petugas & pengawasan Kesmavet 4. Tersedia leaflet (10. Program Aksi & Indikator Kinerja Tahun 2008 PROGRAM PRIORITAS 1. sapi – padi • Meningkatkan PSK Peternak dapat menarik minat swasta untuk mengembangkan pola integrasi. sapi. Demplot pola integrasi ternak kamb. 8. Latihan teknis bagi petugas. domba. Pembuatan mani beku di IPMB Terbanggi Besar 4. Program Prioritas. Pelatihan Teknis Pet. Pengembangan perbibitan ternak 2. Latihan petugas IB.c ww w om k lic lic .pisang. di kelompok peternak Meningkatnya produksi ternak bibit Produksi mani beku sapi 40. 2. 4. Ayam Buras. Demplot pola integrasi sapi dengan perkebunan tebu (Pengelolaan pucuk tebu) 3. entok. k w .s o ft w a k e r. KCD & PPL 5. lada dan singkong. Latihan pengolah produk pet.000 Exp) Proposal pola integrasi.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .doc/Datin 80 . Peternak Kampung Tua 7. Demplot pola integrasi sapi pada usaha tani padi 5. yang terdiri dari 5 jenis o± 450 anggota kelp dan ±1500 anggota kelp lainnya termotipasi u/ meningkatkan kualitas usahanya Peternak peserta magang 20 orang PPL peserta pelatihan 50 orang Meningkatnya kualitas pelayan bidang pet di tingkat Kecamatan (50 Kec) Dikenalnya produk unggulan peternakan Lampung oleh Masyarakat Meningkatnya pangsa pasar produk unggulan peternakan Lampung Konsepsi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan dikenal masy. pertanian dan Perikanan. Peningkatan kualitas SDM dan kelembagaan peternakan PROGRAM AKSI TAHUN 2008 1. Ternak 1. Kontes Ternak 6. Dari swasta.Sakti & Campang Tiga 3. Pada usaha tani padi 3. . Pemb.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. Pengembangan pejantan unggul (Sapi. Pengembangan Integ. ayam buras dan itik. Sosialisasi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan.Kerbau) di IPMB • • • Sapi pejantan unggul 5 ekor Kerbau pejantan 2 ekor Kambing pejantan Boer 20 ekor E:\KEBIJ TEK-260405. Kelp. 2. Itik) • • • Terwujudnya klpk klpk VBC sapi. Kambing.s o ft w a re 4.000 dosis dan Kambing 10. kelinci Berkembangnya jenis jenis ternak bibit hasil silangan. Neg.Kambing.2 dan 3 lomba kelompok.000 dosis 3. kambing. • Tersedia demplot pola integrasi sapi – tebu. Demplot pola integrasi ternak kambing pola perkebunan coklat/kopi. Lomba Kelompok Peternak INDIKATOR KINERJA oTerpilihnya juara 1.

HMT 1000.s o ft w a re 10. Tdk terjadi out break penyakit hewan menular di Lampung Kerugian peternak dapat dihindari Menurunnya kasus gigitan oleh hewan penular rabies E:\KEBIJ TEK-260405. Pemberantasan. 5.Kec. & Pemberantasan AI & ND o Out Break AI dpt diantisifasi o Masy. 66 Kec .c W C re ! tr ac C tr ac k e r. & pemberantasan AI • Sosialisasi • Vaksinasi dan Pengobatan 2. Kamb.s o ft w a k e r. Pemberantasan. Memahami & terus berperan serta dlm pengend. Pengemb. . Pembinaan & peningk.Boerawa 2. Ternak 1. Boer v Berkembangnya sentra bibit kambing unggul 1.Lokasi 182 Desa . kate dan pelung Terjaringnya kambing pejantan boerawa yang berkualitas Produksi susu kambing 500 lt/th 12. 4. k w . Kambing perah. Lampung pada : .c ww w om k lic lic . 11. • Pengemb. Pengembangan perbibitan ternak sapi bali di IPSB Campang Tiga • Penyusunan pedoman/system pengend & pemberantasan AI • Pembibitan HMT • Pengujian Bibit ternak. • Demplot pembuatan specimen o Kontinuitas pakan terjamin wafer/hay jerami • Demplot pengolahan kepala udang • Gerakan penanaman HPT • Inventarisasi & Publikasi bahan baku pakan lokal • Demplot pembuatan pakan lengkap. & Pemberant. Ayam di IPKU Negeri Sakti • Penyebaran & Penjaringan Kambing Boerawa. kualitas pakan o Kualitas pakan yang diberikan • Demplot pakan seimbang ditingkat peternakan setempat • Pengembangan Pabrik pakan mini o Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya • Demplot peternak sillase pakan local. 13. Pemberantasan dan pengendalian penyakit Flu Burung • Penyusunan pedoman/system pengend. Pelayanan redistribusi dan seleksi ternak bibit asset pemerintah. Terealisasinya : Ternak setoran layak bbt 110 ekor Revolving 110 ekor Jmlh penggaduh baru 110 KK Terbinanya ternak asset Pem.doc/Datin 81 . AI. Pembinaan Kesehatan Hewan dan kesehatan masyarakat veteriner Pengadaan bibit kambing Boer Pengembangan instalasi pembibitan kambing IPKU Negeri Sakti Pengadaan KambingBetina Induk Menghasilkan pejantan unggul 5 ekr Prod.000 stek v Tersedianya bibit unggul kamb. 8 Kab Produksi bibit ayam cemani. 3.Kab. Pengembangan perbibitan Kambing & unggas di IPKU Negeri Sakti • Pemb. pengendalian dan penolakan penyakit rabies o Terbangunnya system pengend.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . Prop. pengendalian dan penolakan penyakit hewan menular pada ternak 3. Fasilitas pet.

PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

4. Pembinaan, Sosialisasi dan pelayanan kesehatan masyarakat veteriner

Masy. merasa aman mengkonsumsi produk pet. (daging, telur susu) Menurunnya kasus penularan peny. Zoonosis Jumlah & Kualitas kemitraan peternak meningkat Meningkatnya aksesibiliotas peternak kepada sumber-sumber pembiayaan usaha. Skala usaha meningkat • Tumbuhan LKM di tingkat kelp. • Optimalnya peran KKMB • Produk pet. Unggulan Lampung semakin dikenal • Potensi pengemb. Pet. Di Lamp. Dikenal terutama oleh pihak investor. • Tertib laporan, tertib pengel. adm gaduhan ternak Meningkatkan produksi susu sapi dan kambing Meningkatnya minat masyarakat untuk minum susu sapi dan susu kambing Covering pelayanan IB meningkat 5% S/C 1,39 % dan CR 80% Meningkatnya peran serta masy dan swasta dalam yan kes wan Mortalitas & morbiditas menurun • Terbangunnya 1 – 2 unit pos pelayanan SPM yang telah disusun difahami dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Tersusunnya SPM bidang tertentu •

6. Pngembangan agribisnis peternakan

1. Pengemb. & Pembinaan kemityraan peternakan (Sapi, Ayam Ras & Kamb) 2. Pengembangan UKM dan peningk skala usaha peternakan melalui pembiayaan Perbankan 3. Pengemb. Lembaga keuangan Mikro (LKM) & pembinaan KKMB 4. Promosi dan sosialisasi produk & potensi unggulan peternakan.

5. Pembinaan & pengawasan pengemb. perbibitan ternak pemerintah 7. Pengembangan Ternak Perah 1. Dukungan terhadap peternakan sapi perah di Gisting Kab. Tanggamus 2. Pengembangan ternak kambing perah di Gedong Tataan Kab. LS & KBL 3. Sosialisasi minum susu sapi dan kamb. 8. Peningkatan 1. Peningkatan kualitas pelayanan IB kualitas pelay di • Pedoman, sosialisasi, penyediaan bidang pet. straw dan alat IB 2. Peningkatan kualitas kesehatan hewan dan kesmavet 3. Pengembangan Pos Pelayanan Kesehatan Hewan 4. Sosialisasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang peternakan

5. Revisi Perda No. 1 Tahun 1977.

9. Peningkatan kualitas data & perenc. Pemb. Pet.

Pelayanan, pencegahan & pemb. bibit pet. Meningkat • Perda pengganti lebih baik. 1. Pengumpulan, Pengolahan dan publikasi Tersusun dan terpublikasikan nya data data pemb. Peternakan 2. Penyusunan perencanaan pemb. Tersusunnya perenc. Pemb. Pet tahun peternakan tahun 2009 2009 yang akuntabel, realistis dan akomodatif

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

82

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

3. Monitoring dan Pengendalian 10. Pengemb. Dan 1. Pembinaan dan introduksi IB pada Pembin. Ternak kerbau kerbau & aneka 2. Pengembangan aneka ternak IPKU di ternak Negeri Sakti

Kegiatan pemb.pet. dapat di laksanakan dengan baik (tepat waktu, mutu sasaran) Meningkatnya produktivitas ternak kerbau melalui Inseminasi Buatan Berkembangnya aneka ternak di IPKU di Negeri Sakti.

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

83

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

5. Program Prioritas, Program Aksi & Indikator Kinerja Tahun 2009
PROGRAM PRIORITAS
1. Peningkatan kualitas SDM dan kelembagaan peternakan

PROGRAM AKSI TAHUN 2009
1. Lomba Kelompok Peternak

INDIKATOR KINERJA
oTerpilihnya juara 1,2 dan 3 lomba kelompok, yang terdiri dari 5 jenis o± 450 anggota kelp dan ±1500 anggota kelp lainnya termotipasi u/ meningkatkan kualitas usahanya Peternak peserta magang 20 orang PPL peserta pelatihan 50 orang Meningkatnya kualitas pelayan bid. pet di tingkat Kecamatan (50 Kec) Dikenalnya produk unggulan peternakan Lampung oleh Masyarakat Meningkatnya pangsa pasar produk unggulan peternakan Lampung Konsepsi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan dikenal masy. Dari swasta. Tersedia leaflet (10.000 Exp) Proposal pola integrasi. • Tersedia demplot pola integrasi sapi – tebu, sapi- pisang, sapi – padi • Meningkatkan PSK Peternak dapat menarik minat swasta untuk mengembangkan pola integrasi.

2. Latihan petugas IB, Neg.Sakti & Campang Tiga 3. Latihan petugas & pengawasan Kesmavet 4. Pelatihan Teknis Pet. KCD & PPL 5. Kontes Ternak 6. Pemb. Kelp. Peternak Kampung Tua 7. Latihan pengolah produk pet. 8. Latihan teknis bagi petugas. 2. Pengembangan Integ. Ternak 1. Sosialisasi integrasi ternak dengan tanaman perkebunan, pertanian dan Perikanan.

2. Demplot pola integrasi sapi dengan perkebunan tebu (Pengelolaan pucuk tebu) 3. Demplot pola integrasi ternak kambing pola perkebunan coklat/kopi, lada dan singkong. 4. Demplot pola integrasi sapi pada usaha tani padi 5. Demplot pola integrasi ternak kamb. Pada usaha tani padi 3. Peningkatan produksi dan produktivitas ternak 1. Pengembangan perbibitan ternak 2. (Sapi, Kambing, Ayam Buras, Itik)

• • •

Terwujudnya klpk klpk VBC sapi, kambing, ayam buras dan itik, entok, domba, kelinci Berkembangnya jenis jenis ternak bibit hasil silangan, di kelompok peternak Meningkatnya produksi ternak bibit Produksi mani beku sapi 40.000 dosis dan Kambing 10.000 dosis

3. Pembuatan mani beku di IPMB Terbanggi Besar 4. Pengembangan pejantan unggul (Sapi,Kambing,Kerbau) di IPMB • • •

Sapi pejantan unggul 5 ekor Kerbau pejantan 2 ekor Kambing pejantan Boer 20 ekor

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

84

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

PD

F -X C h a n ge

PD

F -X C h a n ge

!

W

N O

y

bu

to

om

to

bu
ww

y

N O
.c

W C
re

!
tr
ac

C

tr

ac

k e r- s o ft w a

k e r- s o ft w a

re

5. Pembinaan & peningkatan kualitas pakan o Kualitas pakan yang diberikan • Demplot pakan seimbang ditingkat peternakan setempat • Pengembangan Pabrik pakan mini o Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya • Demplot peternak sillase pakan local. • Demplot pembuatan specimen o Kontinuitas pakan terjamin wafer/hay jerami • Demplot pengolahan kepala udang • Gerakan penanaman HPT • Inventarisasi & Publikasi bahan baku pakan lokal • Demplot pembuatan pakan lengkap. Terealisasinya : 6. Pelayanan redistribusi dan seleksi ternak Ternak setoran layak bbt 110 ekor bibit asset pemerintah. Revolving 110 ekor Jmlh penggaduh baru 110 KK Terbinanya ternak asset Pem. Prop. Lampung pada : - Lokasi 182 Desa - Kec. 66 Kec - Kab. 8 Kab 7. Pengembangan perbibitan Kambing & unggas di IPKU Negeri Sakti Produksi bibit ayam cemani, kate dan • Pemb. Fasilitas pet. Ayam di IPKU pelung Negeri Sakti Terjaringnya kambing pejantan • Penyebaran & Penjaringan Kambing boerawa yang berkualitas Boerawa. Produksi susu kambing 500 lt/th • Pengemb. Kambing perah. 8. Pengembangan perbibitan ternak sapi bali di IPSB Campang Tiga • Penyusunan pedoman/system pengend & pemberantasan AI • Pembibitan HMT • Pengujian Bibit ternak. 4. Pengemb. Ternak 1. Pengadaan bibit kambing Boer Kamb.Boerawa 2. Pengembangan instalasi pembibitan kambing IPKU Negeri Sakti 3. Pengadaan Kambing Betina Induk 5. Pembinaan Kesehatan Hewan dan kesehatan masyarakat veteriner 1. Pemberantasan dan pengendalian penyakit Flu Burung • Penyusunan pedoman/system pengend. & pemberantasan AI • Sosialisasi • Vaksinasi dan Pengobatan 5. Pemberantasan, pengendalian dan penolakan penyakit hewan menular pada ternak 6. Pemberantasan, pengendalian dan penolakan penyakit rabies

Menghasilkan pejantan unggul 5 ekr Prod. HMT 1000.000 stek

v Tersedianya bibit unggul kamb. Boer v Berkembangnya sentra bibit kambing unggul

o Terbangunnya system pengend. & Pemberantasan AI & ND o Out Break AI dpt diantisifasi o Masy. Memahami & terus berperan serta dlm pengend. & Pemberant. AI. Tdk terjadi out break penyakit hewan menular di Lampung Kerugian peternak dapat dihindari Menurunnya kasus gigitan oleh hewan penular rabies

E:\KEBIJ TEK-260405.doc/Datin

85

.c

ww
w

om

k

lic

lic
.

k

w

.

1 Tahun 1977. Pet tahun 2010 yang akuntabel. Promosi dan sosialisasi produk & potensi unggulan peternakan.s o ft w a re 7. Lembaga keuangan Mikro (LKM) & pembinaan KKMB 4. bibit pet. Pembinaan. Pengolahan dan publikasi data 2.c W C re ! tr ac C tr ac k e r. peternakan tahun 2010 E:\KEBIJ TEK-260405. & Pembinaan kemityraan peternakan (Sapi. (daging. Dikenal terutama oleh pihak investor. Dukungan terhadap peternakan sapi perah di Gisting Kab. Pengumpulan. sosialisasi. Sosialisasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang peternakan 5. Sosialisasi minum susu sapi dan kamb. SPM yang telah disusun difahami dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Tersusunnya SPM bidang tertentu • • Pelayanan. Pengembangan ternak kambing perah di Gedong Tataan Kab. Pengembangan Pos Pelayanan Keswan 4. Meningkat Perda pengganti lebih baik. adm gaduhan ternak Meningkatkan produksi susu sapi dan kambing Meningkatnya minat masyarakat untuk minum susu sapi dan susu kambing 6. Peternakan Tersusunnya perenc. • Tertib laporan. k w . zoonosis Jumlah & Kualitas kemitraan peternak meningkat Meningkatnya aksesibiliotas peternak kepada sumber-sumber pembiayaan usaha. Tanggamus 2.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O . realistis dan akomodatif 3. penyediaan bidang pet. • Optimalnya peran KKMB • Produk pet. merasa aman mengkonsumsi produk pet. Peningkatan kualitas data & perenc. pencegahan & pemb.doc/Datin 86 . Pet. Unggulan Lampung semakin dikenal • Potensi pengemb. Peningkatan 1. 8. 9. Ayam Ras & Kamb) 2.c ww w om k lic lic . Pngembangan agribisnis peternakan 1. Penyusunan perencanaan pemb. perbibitan ternak pemerintah 7. Pemb. Pengembangan Ternak Perah 1. Pengembangan UKM dan peningk skala usaha peternakan melalui pembiayaan Perbankan 3. Tersusun dan terpublikasikan nya data pemb. Skala usaha meningkat • Tumbuhan LKM di tingkat kelp. Pet. Revisi Perda No. 5. . Di Lamp. 1. Pemb.39 % dan CR 80% Meningkatnya peran serta masy dan swasta dalam yan kes wan Mortalitas & morbiditas menurun • Terbangunnya 1 – 2 unit pos pelay. Peningkatan kualitas pelayanan IB kualitas pelay di • Pedoman. Sosialisasi dan pelayanan kesehatan masyarakat veteriner Masy. tertib pengel. telur susu) Menurunnya kasus penularan peny. Pengemb.s o ft w a k e r. straw dan alat IB 2. Pembinaan & pengawasan pengemb. LS & KBL 3. Peningkatan kualitas kesehatan hewan dan kesmavet Covering pelayanan IB meningkat 5% S/C 1. Pengemb.

c ww w om k lic lic . dapat di laksanakan dengan baik (tepat waktu.doc/Datin 87 . Dan 1.s o ft w a re 3.c W C re ! tr ac C tr ac k e r.pet. E:\KEBIJ TEK-260405. Pengembangan aneka ternak IPKU di ternak Negeri Sakti Kegiatan pemb. Pembinaan dan intorduksi IB pada Pembin. Pengemb. mutu sasaran) Meningkatnya produktivitas ternak kerbau melalui Inseminasi Buatan Berkembangnya aneka ternak di IPKU di Negeri Sakti. k w . Ternak kerbau kerbau & aneka 2. .s o ft w a k e r. Monitoring dan Pengendalian 10.PD F -X C h a n ge PD F -X C h a n ge ! W N O y bu to om to bu ww y N O .