Anda di halaman 1dari 3

Dasar sistematika putusan Dalam membuat Putusan pengadilan, seorang hakim harus memperhatikan apa yang diatur dalam

pasal 197 KUHAP, yang berisikan berbagai hal yang harus dimasukkan dalam surat Putusan. Adapun berbagai hal yang harus dimasukkan dalam sebuah putusan pemidanaan sebagaimana disebutkan dalam pasal 197 KUHAP. Sistematika Putusan Pemidanaan 1. Nomor Putusan 2. Kepala Putusan/Irah-irah (DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA) 3. Identitas Terdakwa 4. Tahapan penahanan (kalau ditahan) 5. Surat Dakwaan 6. Tuntutan Pidana 7. Pledooi 8. Fakta Hukum 9. Pertimbangan Hukum 10. Peraturan perundangan yang menjadi dasar pertimbangan 11. Terpenuhinya Unsur-unsur tindak pidana 12. Pernyataan kesalahan terdakwa 13. Alasan yang memberatkan atau meringankan hukuman 14. Kualifikasi dan pemidanaan 15. Penentuan status barang bukti 16. Biaya perkara 17. Hari dan tanggal musyawarah serta putusan 18. Nama Hakim, Penuntut Umum, Panitera Pengganti, terdakwa dan Penasehat Hukumnya Ketentuan (lain) tentang Putusan 1. Untuk putusan yang bukan pemidanaan mengacu pad Pasal 199 KUHAP. a 2. Dalam hal putusan Hakim telah melalaikan ketentuan Pasal 197 ayat (1) KUHAP cara memperbaikinya adalah dengan melalui Upaya Hukum .

3. Dalam hal terhadap putusan tersebut diajukan banding, maka Pengadilan Tinggi dapat langsung memutuskan sendiri dengan terlebih dahulu menyatakan putusan Pengadilan Negeri batal demi hukum. 4. Pengurangan hukuman dengan masa penahanan sebagaimana diatur dalam Pasal 22 ayat (4) KUHAP bersifat imperatif. 5. Perkara pidana biasa yang terdakwanya tidak hadir pada hari sidang yang telah ditentukan, berkas perkaranya tidak dapat dikembalikan kepada Jaksa, dan apabila terdakwa sudah berulang kali dipanggil tetapi tidak datang maka perkara diputus dengan amar Tuntutan Jaksa tidak dapat diterima (lihat Surat Edaran Mahkamah Agung No. MA/pemb/0068/81). 6. Dalam hal terdakwa dihukum dengan pidana penjara yang lamanya sama dengan masa penahanan yang dijalaninya, maka dalam putusan harus disebutkan memerintahkan agar terdakwa dikeluarkan dari tahanan segera setelah putusan ini diucapkan . Hal ini untuk memenuhi ketentuan yang terdapat dalam Pasal 197 ayat (1) huruf k KUHAP. Petunjuk MA tentang Diktum 1. Pada hakekatnya perumusan suatu tindak pidana dalam kaedah hukum terdiri atas : a. Perumusan tentang perbuatan yang dilarang dan karenanya dapat dipidana (tindak pidana/delik yang sebenarnya). b. Perumusan tentang keadaan yang meliputi perbuatan yang dilarang tersebut. 2. Yang disebut pada butir a diatas, merupakan bagian-bagian esensial dari suatu perumusan tindak pidana yang harus secara nyata-nyata/faktual diuraikan dalam suatu dakwaan, sehingga kalau bagian esensial tersebut tidak terbukti maka putusan harus berbunyi : dibebaskan dari dakwaan (bebas murni). 3. Yang disebut pada butir b diatas, merupakan suatu elemen (unsur, tetapi bukan merupakan bagian atau bestanddeel) dari tindak pidana atau merupakan syarat suatu perumusan tindak pidana, namun syarat-syarat itu diatur dalam bagian umum dari KUHP atau undang-undang lain tentang tindak pidana, atau syarat tersebut timbul berdasarkan asas-asas umum tentang hukum dan keadilan seperti umpamanya hal pertanggungjawaban (toerekeningsvatbaarheid) kesalahan dan bertentangan dengan hukum. 4. Meskipun elemen/unsur tersebut harus ada (merupakan syarat) namun karena bukan merupakan bagian esensial dari suatu tindak pidana, maka kalau hal tersebut tidak terbukti amar putusannya harus berbunyi lepas dari segala tuntutan hukum ( ntslag van alle o rechtsvervolging) Biaya Perkara 1. Pasal 197 ayat (1) huruf 1 KUHAP menegaskan putusan pemidanaan harus memuat ketentuan kepada siapa biaya perkara dibebankan dengan menyebutkan jumlahnya yang pasti. Dalam Tambahan Pedoman Pelaksaan KUHAP, ditentukan bahwa biaya perkara minimal Rp 500,- dan maksimal Rp 10.000,- dengan penjelasan bahwa maksimal Rp 10.000,-

itu adalah Rp 7.500,- untuk peradilan tingkat pertama dan Rp 2.500,- bagi peradilan tingkat banding. 2. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, Mahkamah Agung memberikan petunjuk agar selama belum ada perubahan hendaknya dalam memutus biaya perkara tetap m engacu pada nilai minimal dan maksimal tersebut. Hakim dalam menentukan besarnya jumlah biaya perkara harus memperhatikan kemampuan terdakwa, dengan pengertian bahwa apabila terdakwa tidak mampu atau pun tidak mau membayar, Jaksa dapat menyita sebagian barang-barang milik terpidana untuk dijual lelang yang kemudian hasilnya akan dipergunakan untuk melunasi biaya perkara tersebut.