Anda di halaman 1dari 64

TENAGA KERJA, KESEMPATAN KERJA DAN TRANSMIGRASI

BAB XII TENAGA KERJA, KESEMPATAN KERJA DAN TRANSMIGRASI A . TENAGA KERJA 1. Pendahuluan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) Tahun 1988 mengemukakan bahwa penciptaan lapangan kerja bagi angkatan kerja yang jumlahnya makin besaT merupakan tantangan utama pembangunan. Oleh karena itu perlu lebih ditingkatkan dan dimantapkan langkahlangkah pembangunan yang menyeluruh dan terpadu bagi penciptaan lapangan kerja seluas mungkin. Dalam hubungan ini kebijaksanaan perluasan lapangan kerja dalam Repelita V diarahkan agar sebagian besar pertambahan angkatan kerja dapat ditampung dengan produktivitas yang meningkat di berbagai sektor pembangunan dan daerah. Selain itu kebijaksanaan lapangan kerja juga diarahkan agar terdapat pergeseran yang lebih cepat dari lapangan kerja sektor pertanian kepada lapangan kerja sektor non pertanian, khususnya sektor industri pengolahan. Perkembangan masalah ketenagakerjaan di Indonesia antara lain dapat diikuti dari hasil Sensus Penduduk 1971 . , Sensus Penduduk 1980, Survai Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1985, dan Survai Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS), Februari 1989. Pada tahun 1971, 1980, 1985, dan 1989, angkatan kerja masingmasing berjumlah 41,3 juta orang, 52,4 juta orang, 63,8 juta

53 9

orang, dan 76,1 juta orang. Angkatan kerja yang bekerja masing-masing berjumlah 37,6 juta orang, 51,5 juta orang, 62,4 juta orang, dan 73,9 juta orang. Dalam kurun waktu tersebut jumlah orang yang menganggur atau mencari pekerjaan masingmasing sebanyak 3,6 juta orang, 0,9 juta orang, 1,4 juta orang, dan 2,2 juta orang (Tabel XII-1). Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa proses pembangunan yang berlangsung sejak Repelita I sampai pada tahun pertama Repelita V telah berhasil menciptakan lapangan kerja baru bagi sebagian besar tambahan angkatan kerja. Selain dari itu proses pembangunan dalam kurun waktu yang sama juga telah berhasil memperbaiki alokasi sektoral lapangan kerja. Pada tahun 1971 lebih dari 64% angkatan kerja bekerja di sektor pertanian. Pada tahun 1989, persentase ini adalah sekitar 55%. Selanjutnya tingkat pendidikan angkatan kerja juga telah mengalami kemajuan yang berarti. Pada tahun 1971 sekitar 29% dari angkatan kerja yang bekerja berpendidikan SD dan SD ke atas. Pada tahun 1989 persentase ini telah meningkat menjadi sekitar 55%. Daya serap teknologi dan inovasi angkatan kerja Indonesia kiranya telah meningkat secara berarti. Hal-hal ini semua telah menyumbang secara berarti bukan hanya kepada pertumbuhan ekonomi tetapi sekaligus juga kepada pengurangan kemiskinan dalam masyarakat Indonesia. Dapat dikemukakan bahwa walaupun telah dialami berbagai kemajuan keadaan ketenagakerjaan di Indonesia hingga kini masih menghadapi beberapa ketidakseimbangan yang satu sama lain membutuhkan langkah dan kebijaksanaan yang tepat. Keadaan ini tercermin dalam persentase setengah pengangguran yang relatif tinggi, dan status pekerja keiuarga yang relatif besar pula. Pertama adalah ketidakseimbangan secara umum, yaitu jumlah lapangan kerja yang dibutuhkan melebihi jumlah yang tersedia. Dalam hubungan ini untuk mewujudkan pendayagunaan tenaga kerja maka dilaksanakan berbagai kebijaksanaan perluasan lapangan kerja produktif. Sasaran utama kebijaksanaan adalah menciptakan kondisi dan suasana yang bukan saja memberi ruang gerak inisiatif yang sebesar-besarnya kepada para pelaku ekonomi tetapi juga sekaligus mendorong serta membantu perkembangan usaha-usaha kecil, usaha-usaha di sektor informal dan usaha-usaha tradisional. Ketidakseimbangan yang lain adalah kekurangseimbangan secara struktural ataupun sektoral. Walaupun telah terjadi pergeseran sebagian besar angkatan kerja Indonesia masih bekerja di sektor pertanian. Dalam hubungan ini, maka salah satu sasaran yang perlu diusahakan adalah meningkatkan daya

540

Tabel XII 1 PERKEMBANGAN ANGKATAN KERJA 1971 - 1989

Sumber : 1) BPS, 1) BPS, 1981 4) BPS, 5) BPS, Sensus Penduduk 1971, Seri D Maret 1975 Sensus Penduduk 1980, Seri S No. 2, Februari 3) BPS, SUPAS 1985, Seri S No. 5 SAKFFJ4AS 1988, Agustus 1988 SAKERNAS 1989, Februari 1989 (Sementara )

541

tampung produktif di luar sektor pertanian sehingga lapangan kerja sektor ini merupakan bagian yang semakin besar dari seluruh lapangan kerja yang ada. Dimensi lain dari ketidakseimbangan ketenagakerjaan menyangkut mutu tenaga kerja. Tuntutan akan tenaga kerja yang berketerampilan semakin meningkat bukan saja untuk memenuhi kebutuhan pembangunan tetapi juga untuk meningkatkan produktivitas dan memantapkan upaya menghapuskan kemiskinan serta meningkatkan status tenaga kerja. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sasaran lain di bidang ketenagakerjaan adalah perbaikan pendidikan dan keterampilan tenaga kerja sehingga memenuhi kebutuhan pembangunan. Masih terbatasnya lapangan kerja dibandingkan dengan angkatan kerja yang masuk ke pasar kerja juga mengakibatkan lemahnya posisi tenaga kerja. Untuk itu maka kebijaksanaan hubungan dan perlindungan tenaga kerja juga dikembangkan dalam usaha meningkatkan ketenangan kerja dan ketenangan berusaha. 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sehubungan dengan perkembangan masalah ketenagakerjaan sebagaimana yang dikemukakan terdahulu, maka dapat disampaikan bahwa langkah-langkah kebijaksanaan yang ditempuh dalam Repelita V merupakan peningkatan dan pemantapan berbagai langkah kebijaksanaan yang ditempuh dalam Repelita-repelita sebelumnya bagi perluasan dan pemerataan lapangan kerja produktif. Langkah-langkah kebijaksanaan ini dapat dikategorikan ke dalam langkah-langkah yang bersifat umum, sektoral, regional, dan langkah-langkah khusus. Langkah-langkah yang bersifat umum adalah langkah-langkah dan kebijaksanaan perluasan lapangan kerja produktif yang mencakup berbagai segi kegiatan ekonomi keuangan yang ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang bersifat padat karya. Berbagai kebijaksanaan deregulasi dan debirokratisasi yang ditempuh khususnya sejak tahun 1983 merupakan bagian dari kebijaksanaan umum ini. Langkah-langkah yang bersifat sektoral diarahkan agar kebijaksanaan pembangunan di sektor tertentu seperti pertanian, industri dan jasa berorientasi kepada perluasan lapangan kerja. Langkah-langkah yang bersifat regional mencakup upaya untuk mendorong pengembangan jumlah dan kualitas sumber daya manusia setempat agar dapat memenuhi kebutuhan pembangunan. Dengan langkah-langkah

542

yang bersifat regional tersebut diharapkan pembangunan dapat lebih memanfaatkan seluruh potensi yang ada di masing-masing daerah. Langkah-langkah yang bersifat khusus ditujukan untuk meningkatkan lapangan kerja kelompok-kelompok tertentu seperti tenaga kerja usia muda, wanita, petani miskin, dan sebagainya melalui berbagai kegiatan bantuan pembangunan, kegiatan padat karya, dan lain-lain. Pelaksanaan berbagai langkah yang telah ditempuh selama ini dilaporkan pada berbagai bab dalam lampiran pidato. Dalam bab ini dilaporkan langkah-langkah kebijak.sanaan khusus yang telah ditempuh. Adapun langkah-langkah khusus ini meliputi kegiatan pada program pembangunan pedesaan, penyebaran dan pendayagunaan tenaga kerja, pelatihan dan keterampilan tenaga kerja, serta hubungan dan perlindungan tenaga kerja. a. Pembangunan Pedesaan Program pembangunan pedesaan merupakan salah satu usaha perluasan lapangan kerja produktif terutama di daerah pedesaan. Program ini dilaksanakan melalui kegiatan proyek padat karya gaya baru (PPKGB), bantuan daerah tingkat dua, dan proyek reboisasi dan penghijauan. (1) Proyek Padat Karya Gaya Baru Kegiatan proyek padat karya gaya baru (PPKGB) dilaksanakan sejak Repelita I, ditujukan pada perluasan lapangan kerja produktif di daerah-daerah yang relatif tertinggal dan padat penduduk dengan mendayagunakan tenaga kerja penganggur dan setengah penganggur. Proyek PKGB juga dimaksudkan untuk mengatasi masalah kekurangan lapangan kerja yang sewaktu-waktu timbul karena terjadinya bencana alam atau menurunnya kegiatan ekonomi. Sejak Repelita I sampai pada Repelita IV, daerah-daerah kecamatan yang melakukan PPKGB dan jumlah tenaga kerja yang terserap , menunjukkan peningkatan, walaupun penyerapan tenaga kerja pada Repelita IV sedikit menurun (Tabel XII-2). Di lain pihak upah yang diberikan pada pekerja sejak akhir Repeli- ta II sampai pada tahun pertama Repelita V cenderung meningkat, yaitu masing-masing Rp 350,0, Rp 800,0, Rp 1.000,0 dan Rp 1.200,0 per hari. Kegiatan PPKGB dilaksanakan di pedesaan pada waktu sepi kerja. Imbalan jasa yang diberikan kepada pekerja sedikit lebih rendah dari upah m i n i m u m y a n g b e r l a k u s e t e m p a t . N a m u n

543

TABEL XII - 2 JUMLAH LOKASI/KECAMATAN DAN PENGERAHAN TENAGA KERJA DALAM RANGKA PROYEK PADAT KARYA GAYA BARU, 1968 - 1989/90

Lokasi dan Pengerahan Tenaga Kerja

1968

1973/74 (Akhir Repelita I)

1978/79 1983/84 (Akhir (Akhir Repelita II) Repelita III)

1988/89 (Akhir Repelita IV)

1989/90 2) (Tahun Pertama Repelita V)

Jumlah Lokasi/Kecamatan 1)

136 511.000

2.058 900.166

4.081 1.127.425

4.663 981.070

319 123.848

Pengerahan Tenaga Kerja (orang)

5.774

1) Kecuali tahun 1968 sampai pada Repelita I proyek berlokasi di Kabupaten/Kotamadya. 2) Angka sementara

544

ql

demikian jumlah peminat cukup banyak.

yang turut

serta dalam

kegiatan ini

Hasil fisik yang dicapai dari kegiatan PPKGB yang berupa perbaikan/pembuatan jalan desa dan saluran pengairan-pengairan tersier terus meningkat sampai pada Repelita IV. Hasil pembuatan sawah baru, penghijauan, terasering, dll. tampak menurun terus sampai pada Repelita IV bila dibandingkan dengan Repelita I (Tabel XII-3). Hal.ini disebabkan pelaksanaan PPKGB diprioritaskan pada kegiatan yang disesuaikan dengan hasrat dan kebutuhan masyarakat setempat, misalnya jalan desa dan adanya kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana alam, seperti banjir dan kekeringan. Selain itu jenis proyek yang sebelumnya dikerjakan PPKGB telah dilaksanakan oleh kegiatankegiatan lain sehubungan dengan berkembangnya program-program pembangunan, seperti pencetakan sawah dikerjakan melalui kredit perbankan, pembuatan saluran tersier melalui program pembangunan jaringan irigasi, reboisasi dan penghijauan melalui program penyelamatan hutan, tanah dan air, dan lain-lain. Untuk penyempurnaan perencanaan, dalam tahun 1989/90 telah diadakan pengkajian kembali kecamatan calon lokasi di 11 propinsi yang memenuhi kriteria PPKGB. Pengkajian dilakukan untuk menentukan skala prioritas lokasi proyek melalui penentuan klasifikasi wilayah padat karya menurut peringkat sangat maju, relatif maju, sedang berkembang dan terkebelakang. Hasil pengkajian tersebut dimanfaatkan untuk menyempurnakan perencanaan PPKGB. Dalam rangka pendayagunaan tenaga kerja juga dikembangkan sistem teknologi padat karya (TPK) dan tepat guna. TPK mulai dilaksanakan dalam Repelita III oleh petugas lapangan teknologi padat karya (PLTPK), dengan menginventarisasi berbagai teknik produksi pedesaan dan mengadakan pengkajian serta pengembangan TPK. Pada akhir Repelita III TPK dan tepat guna telah dikembangkan di 6 propinsi, dan meningkat menjadi 14 propinsi pada akhir Repelita IV. Pada tahun pertama Repelita V program tersebut dikembangkan di propinsi-propinsi lainnya sehingga mencakup 26 propinsi. Penerapan TPK meliputi berbagai jenis teknologi dan untuk itu pada tahun pertama Repelita V telah disusun dan diterbitkan buku "Profil Teknologi Padat Karya". Penerbitan ini sangat bermanfaat sebagai buku panduan bagi tenaga kerja sukarela (TKS-BUTSI), pramuka, pekerja-pekerja sosial dan lain-lain. Penerbitan buku tersebut disebarkan kepada Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat, Sarjana P e n ggerak Pembangunan P e d e s a a n ( S P 3 ) , S a t u a n T u g a s S o s i a l

545

T AB EL X II - 3 HASIL PELAKSANAAN FISIK PROYEK PADAT KARYA GAYA BARU, 1973/74 - 1989/90

1) Angka sementara

546

(Satgas), dan sebagainya. Sampai tahun pertama Repelita V telah diterapkan sebanyak 12 jenis teknologi, yaitu bata, jamur merang, ikan, kelapa, air pedesaan, anyaman, gerabah, pasca panen, kedelai, semen, kerupuk dan ubi kayu. Pengembangan dan penerapan TPK ternyata menyumbang pada peningkatan produktivitas dan pendapatan pada industri kecil serta industri rumah tangga di pedesaan. (2) Bantuan Pembangunan Daerah Tingkat Dua Pelaksanaan kegiatan program Bantuan Pembangunan Daerah Tingkat Dua (Inpres Kabupaten) ditujukan untuk membangun fasilitas umum yang disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan masing-masing daerah, seperti pasar, terminal angkutan umum, jalan, saluran pengairan, jembatan, dan sebagainya. Kegiatan program ini diarahkan dalam rangka perluasan lapangan kerja produktif dengan memanfaatkan tenaga kerja dan bahan lokal yang ada di sekitar proyek sebanyak mungkin. Lapangan kerja yang diciptakan dari program Inpres Kabupaten selama Repelita II, III, dan IV meningkat cukup pesat bila dibandingkan dengan Repelita I, walaupun selama Repelita III dan IV sedikit lebih kecil dari Repelita II (Tabel XII-4). Penurunan tersebut antara lain disebabkan meningkatnya upah pekerja, dan bertambahnya peralatan yang dibutuhkan. Namun demikian secara keseluruhan program Inpres Kabupaten telah menciptakan lapangan kerja yang cukup memadai dan menyumbang pada pengurangan pengangguran sekitar 2 - 4 juta dalam seratus hari kerja setiap Repelita. (3) Reboisasi dan Penghijauan Program reboisasi dan penghijauan yang dilaksanakan melalui pelestarian hutan, tanah dan air, diarahkan untuk konservasi lahan agar dapat mengendalikan banjir dan erosi di musim penghujan, serta kekeringan di musim kemarau. Selain itu juga program ini diarahkan untuk perluasan lapangan kerja, karena dalam pelaksanaannya membutuhkan banyak tenaga kerja, sehingga masyarakat setempat yang pada umumnya berketerampilan rendah dapat kesempatan berpartisipasi dan pendapatan mereka ditingkatkan. Lapangan kerja yang dapat diciptakan dari kegiatan reboisasi dan penghijauan sejak Repelita I sampai pada Repelita III terus mengalam i p e n i n g k a t a n , k e m u d i a n m e n u r u n p a d a

547

TABEL XII - 4 JUMLAH LAPANGAN KERJA YANG DAPAT DICIPTAKAN DAIM PROGRAM INPRES KABUPATEN/KOTAMADYA, 1973/74 - 1989/90

Tahun

Jumlah Lapangan Kerja (dalam-seratus hari kerja)

1973/74 (Akhir Repelita I) 1978/79 (Akhir Repelita II) 1983/84 (Akhir Repelita III) 1988/89 (Akhir Repelita IV) 1989/90 (Tahun Pertama Repelita V) 1) Angka sementara

1.471.354 4.293.844 2.769.423 2.685.688 534.339


1)

Repelita IV (Tabel XII-5). Namun deniikian jumlahnya masih lebih besar bila dibandingkan dengan Repelita I dan II. Secara keseluruhan kegiatan reboisasi dan penghijauan telah menciptakan lapangan kerja yang cukup boar bagi masyarakat sekitarnya, yaitu rata-rata sekitar 44 - 173 ribu dalam seratus hari kerja setiap Repelita. b. Penyebaran dan Pendayagunaan Tenaga Kerja Kebijaksanaan penyebaran dan pendayagunaan tenaga kerja terus dilanjutkan dalam Repelita V. Pelaksanaan program ini merupakan bagian dari usaha agar jumlah tenaga kerja sebagai sumber. daya manusia dapat dijadikan modal dasar pembangunan nasional. Program ini mencakup pembinaan mantan tenga kerja sukarela (TKS-BUTSI) ke arah usaha mandiri, pembatasan terhadap penggunaan tenaga kerja asing, pengembangan. informasi pasar kerja dan penyaluran tenaga kerja melalui mekanisme antar kerja.

548

TABEL XII - 5 JUMLAH LAPANGAN KERJA YANG DAPAT DICIPTAKAN DALAM PROGRAM REBOISASI DAN PENGHIJAUAN, 1973/74 - 1989/90

Jenis Kegiatan dan Lapangan Kerja

1973/74 1978/79 (Akhir (Akhir Repelita I) Repelita II)

1983/84 (Akhir Repelita III)

1988/89 (Akhir Repelita IV)

1989/90 1) (Tahun Pertama Repelita V)

1.

Reboisasi a. Luas (ha) b. Lapangan Kerja (seratus hari kerja) 120.991 19.483,2 458.987 73.910,9 527.521 84.946,9 258.428 41.614,8 30.895 4.975,0

2.

Penghijauan a. Luas (ha) b. Lapangan Kerja (seratus hari kerja) 455.395 25.498,0 437.194 24.478,9 1.568.729 87.834,5 916.194 51.298,5 46.453 2.600,9

3.

Jumlah Lapangan Kerja (seratus hari kerja)

44.981,2

98.389,7

172.781,4

92.913,3

7.576,0

1)

Angka Sementara

549

(1) Tenaga Kerja Sukarela Dalam Repelita IV dan sebelumnya kegiatan penyebaran dan penggunaan Tenaga Kerja Sukarela (TKS) diarahkan pada kegiatan membina keterampilan para pemuda dan membantu proses pembaharuan dan pembangunan masyarakat di daerah pedesaan. Singkatnya pada tahap awal perkembangannya TKS bertugas sebagai pendorong dan penggerak pembangunan di daerah pedesaan. Tugas pokok TKS tersebut meliputi perbaikan administrasi desa, kesehatan, gizi, keluarga berencana, produksi, transmigrasi, koperasi, industri, dan membantu memelihara kelestarian sumber alam. Setelah tampak manfaat keberadaan TKS di pedesaan, maka perkembangan selanjutnya terasa akan kebutuhan tenagatenaga terdidik di sektor-sektor yang sulit mendapatkan tenaga kerja tersebut, misalnya koperasi. Sehubungan dengan itu berbeda dengan Repelita IV, kegiatan penyebaran tenaga kerja sukarela terdidik (TKS Terdidik) dalam Repelita V diarahkan pada pembinaan untuk usaha mandiri, agar tumbuh dan berkembang sebagai kader-kader wiraswasta. Tenaga kerja tersebut diberikan pelatihan dalam berbagai keterampilan dan kewiraswastaan oleh Petugas Pemandu Lapangan, agar dapat bertindak sebagai konsultan manajemen koperasi, pemandu wirausaha dan motivator di Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) di desa-desa swadaya, atau sebagai tenaga teknis sektor-sektor pembangunan yang membutuhkan. Setelah selesai tugasnya, para mantan TKST diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri dan orang lain yang pada gilirannya memperluas lapangan kerja produktif. Jumlah TKS-BUTSI yang disebarkan sejak akhir Repelita I sampai pada Repelita III menunjukkan peningkatan yang cukup pesat (Tabel XII-6). Namun selama Repelita IV, terlihat sedikit menurun bila dibandingkan dengan Repelita III, tetapi jumlah tersebut masih lebih besar bila dibandingkan dengan Repelita II. Hal ini disebabkan dalam tahun .1987/88 dan 1988/89 kegiatan lebih ditekankan pada usaha untuk membina para mantan TKS-BUTSI yang ada agar dapat memulai usaha mandiri, sehingga dalam dua tahun tersebut tidak ada penugasan TKS baru. Selain itu pada tahun terakhir Repelita IV jumlah TKS terdidik yang disebarkan hanya 280 orang di 14 propinsi, karena pola penyebaran TKS diubah dan dirintis menjadi pola Bimbingan Kerja Tenaga Kerja Terdidik (BKTKT). Berdasarkan hasil rintisan tersebut maka pada tahun pertama Repelita V jumlah TKS terdidik yang ditempatkan mengalami peningkatan, yaitu sebanyak 971 orang.

550

TABEL XII - 6 PENGERAHAN TENAGA KERJA SUKARELA BUTSI, 1968 - 1989/90

Tahun 1968 1973/74 (Akhir Repelita I) 1978/79 (Akhir Repelita II) 1983/84 (Akhir Repelita III) 1988/89 (Akhir Repelita IV) 1989/90 (Tahun Pertama Repelita V)

Jumlah Pengerahan 30 (orang) 813

5.522

151.908 9.032

971 1 )

1) Angka sementara (2) Informasi Ketenagakerjaan Mekanisme Antar Kerja dan Penyaluran Melalui

Informasi tenaga kerja sangat penting peranannya dalam mempertemukan pencari kerja dan kesempatan kerja menurut lapangan usaha, jabatan dan tingkat pendidikan. Informasi tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai masukan untuk memperkirakan jumlah dan kebutuhan pelatihan kejuruan serta sebagai bahan bimbingan atatu penyuluhan jabatan. Sehubungan dengan itu, maka informasi ketenagakerjaan disebarluaskan khususnya di antara lembaga pelaksana pendidikan dan pelatih- an di samping secara umum melalui berbagai media massa. Perkembangan jumlah pencari kerja yang terdaftar, p e r mintaan tenaga kerja, penempatan tenaga k e r j a d a n jumlah 551

penghapusan pada setiap akhir Repelita cenderung meningkat (Tabel XII-7). Jumlah tenaga kerja yang dapat ditempatkan pada tahun pertama Repelita V meningkat 48% dibanding tahun terakhir Repelita IV atau 5 kali lipat dari tahun terakhir Repelita I. Tenaga kerja yang berhasil mencari pekerjaan sendiri (penghapusan) pada tahun pertama Repelita V terlihat turun 2% dibanding tahun terakhir Repelita IV, namun masih 13 kali lipat lebih besar dari tahun terakhir Repelita I. Informasi ketenagakerjaan juga dapat dimanfaatkan untuk menunjang penyaluran tenaga kerja melalui mekanisme antar kerja antar daerah (AKAD) dan antar kerja lokal (AKL) dan antar kerja antar negara (AKAN). Kegiatan antar kerja tersebut dikaitkan dengan Balai Latihan Kerja (BLK) yang bertugas melatih tenaga kerja agar memenuhi persyaratan jabatan sesuai dengan permintaan atau lowongan kerja yang tersedia. Pada Tabel XII-8 nampak bahwa jumlah tenaga kerja yang disalurkan dalam rangka AKAD, AKL dan AKAN sejak Repelita I sampai pada Repelita IV meningkat cukup pesat, kecuali yang disalurkan melalui AKAD selama Repelita IV sedikit menurun bila dibandingkan dengan Repelita III. Selain itu pada tahun pertama Repelita V tenaga kerja yang disalurkan melalui AKAD dan AKAN terlihat cukup besar bila dibandingkan rata-rata pertahun selama Repelita IV. Hal ini disebabkan oleh makin berfungsinya peranan informasi pasar kerja dalam menunjang kelancaran mekanisme antar kerja, baik di tingkat lokal, antar daerah maupun antar negara. Dalam rangka pengembangan perencanaan tenaga kerja baik secara nasional, sektoral, regional (propinsi), lokal (kabupaten) maupun instansional, maka telah disusun suatu sistem informasi pasar kerja dan perencanaan tenaga kerja (SIPPTEK) dengan menggunakan komputer. Melalui SIPPTEK disusun "data base" dan profil ketenagakerjaan. Selain dari itu dibuat proyeksi sasaran kesempatan kerja dan produktivitas tenaga kerja serta perkiraan setengah penganggur. Selanjutnya profil tenaga kerja juga menggambarkan rincian kesempatan kerja regional dan kesempatan kerja sektoral. SIPPTEK telah diuji coba di 9 propinsi terpilih, yaitu DKI, Jabar, Jateng, Jatim, Sulsel, Sumut, Sumsel, Kaltim dan Bali untuk disempurnakan dan kemudian diterapkan di propinsipropinsi lainnya. Selain itu pada tahun 1989 telah pula dilaksanakan Pelatihan Perencanaan Sumber Daya Manusia Daerah yang diikuti oleh 135 orang staf teknis Bappeda dan instansiinstansi terkait Tingkat I. 552

TABEL XII 7 JUMLAH PENDAFTARAN, PERMINTAAN DAN PENEMPATAN TENAGA KERJA MELALUI DEPARTEMEN TENAGA KERJA, 1968 1989/90

1) Angka sementara 2) Sisa pendaftaran = Pendaftaran (Penempatan + Penghapusan).

553

553

TABEL XII 8 JUMLAH TENAGA KERJA YANG DISALURKAN DALAM RANGKA AKAD, AKAN DAN AKI 1968 1989/90

1) Angka sementara

554

(3) Penggunaan Tenaga Asing Pembatasan penggunaan tenaga kerja warga negara asing pendatang, sebagai pelaksanaan dari Keppres No. 23 Tahun 1974, terus dilaksanakan. Pembatasan diklasifikasikan atas tiga kategori jabatan. Pertama, jabatan yang sama sekali tertutup bagi tenaga kerja asing, yaitu jabatan yang sudah dapat diisi oleh tenaga kerja Indonesia. Kedua, jabatan yang diizinkan untuk waktu tertentu untuk tenaga asing yang karena membutuhkan keterampilan tertentu untuk sementara waktu belum bisa diganti oleh tenaga kerja Indonesia. Pada waktunya kelak jenis jabatan ini akan tertutup bagi tenaga kerja asing, jika tenaga kerja Indonesia telah tersedia. Ketiga, jenis jabatan yang terbuka untuk sementara waktu karena jabatan yang bersangkutan membutuhkan kepercayaan pribadi pemilik modal, misalnya manajer keuangan. Secara keseluruhan jumlah jabatan yang dibatasi setiap akhir Repelita cenderung meningkat (Tabel XII-9 dan XII-10). Dibandingkan dengan akhir Repelita IV jenis jabatan yang dibatasi dan yang tertutup pada awal Repelita V masih meningkat sedikit. Dalam pada itu jenis jabatan yang terbuka sementara waktu meningkat cukup tinggi, sebesar 20%. Hal ini menunjukkan semakin meningkatnya kebutuhan akan penyediaan tenaga kerja terampil dalam pembangunan kita. c. Program Pelatihan dan Keterampilan Tenaga Kerja Peningkatan mutu sumber daya manusia sebagai sumber pertumbuhan ekonomi dapat dilaksanakan melalui pelatihan keterampilan, kewiraswastaan dan produktivitas. (1) Pelatihan Tenaga Kerja dan Produktivitas Peningkatan mutu tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan pembangunan telah diupayakan melalui penyempurnaan dan pemantapan Sistem Pelatihan Tenaga Kerja Nasional (SISLATKERNAS). Untuk itu diusahakan agar, antara lain, fasilitas pelatihan yang ada dimanfaatkan secara optimal, dan mutu instruktur, hasil pelatihan dan profesionalisme tenaga kerja ditingkatkan. Yang disebutkan terakhir ini antara lain diupayakan dengan menetapkan standardisasi dan sertifikasi uji keterampilan dan keahlian. Prioritas pelatihan keterampilan ditujukan kepada angkatan kerja usia muda di pedesaan. Pada Tabel XII-11 tampak bahwa jumlah keseluruhan tenaga kerja yang dilatih di balai pelatihan kerja c e n d e r u n g mening-

555

TABEL XII - 9 PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PEMBATASAN PENGGUNAAN TENAGA KERJA WARGA NEGARA ASING PENDATANG MENURUT IAPANGAN USAHA, 1973/74 - 1989/90

Lapangan Usaha dan Jabatan

1973/74 (Akhir Repelita I)

1978/79 (Akhir Repelita II)

1983/84 (Akhir Repelita III)

1988/89 (Akhir Repelita IV)

1989/90 1) (Tahun Pertama Repelita V)

1. Jumlah Lapangan Usaha 2. Jumlah Jenis Jabatan Yang Tertutup 3. Jumlah Jenis Jabatan Yang Diizinkan Untuk Waktu Tertentu 4. Jumlah Jenis Jabatan Yang Terbuka Untuk Sementara Waktu 5. Jumlah Jenis Jabatan

6 402

12 513

23 1.595

25 1.665

25 1.692 2.636

2S2

939

2.526

2.658

63

418

173

171

205

556

TABEL XII 10 PELAKSANAAN PEMBATASAN PENGGUNAAN TENAGA KERJA WARGA NEGARA ASING PENDATANG MENURUT LAPANGAN USAHA, TAHUN 1989/90

557

TABEL XII 11 JUMLAH TENAGA KERJA YANG DILATIH DI BERBAGAI BALAI LATIHAN KERJA, 1968 1989/90

1) Angka sementara

558

T A B E L X I I - 11 JUMLAH TENAGA KERJA YANG DILATIH DI BERBAGAI BALAI LATIHAN KERJA, 1968 - 1 9 8 9 / 9 0

Jenis Balai Latihan

1968

1978/79 1973/74 (Akhir (Akhir Repelita II) Repelita II)

1983/84 (Akhir Repelita III)

1988/89 (Akhir Repelita IV)

1989/901) (Tahun Pertama Repelita V))

1. Industri

821

27.908

53.914

91.356

161.044

29.294

2. Pertanian

481

6.457

12.635

17.478

2 1. 93 1

5.310

3. Manajemen

6.145

10.762

23.929

53.784

21.212

3.992 4. Mobile Training Unit (M1U)

25.161

150.450

182.206

771

Jumlah 1) Angka sementara

1.302

44.502

102.472

283.213

41 8. 96 5

56.587

558

kat. Perkembangan yang paling mencolok tampak dalam jumlah tenaga kerja yang dilatih di balai pelatihan industri dan mobile training unit (MIU) untuk daerah pedesaan. Pada tahun pertama Repelita V jumlah yang dilatih di bidang-bidang industri dan manejemen cukup besar sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masing-masing 29.294 orang dan 21.212 orang. (2) Pelatihan Swasta Pelatihan swasta sebagai bagian dari sistem pelatihan kerja nasional terus didorong dan dimantapkan. Hal ini antara lain dilaksanakan melalui pembinaan terhadap lembaga pelatihan swasta, baik mengenai kurikulum, fasilitas, pelatihan maupun instrukturnya. Dalam rangka memanfaatkan fasilitas pelatihan yang ada, sejak Repelita II pelatihan swasta terus didorong peranannya. Untuk itu dilaksanakan pembinaan yang mencakup pembakuan kurikulum dan silabus, pelatihan dan penataran para instruktur serta penyempurnaan sarana pelatihan. Bidang-bidang kursus swasta yang telah berhasil dibakukan meliputi otomotif/ diesel, pesawat penerima/radio/televisi dan administrasi perkantoran. Sebagai tindak lanjut usaha pembinaan tersebut, maka pada Repelita III para pengelola latihan/kursus swasta ditatar dalam bidang metodologi dan teknik administrasi, agar mereka mampu menyusun lembaran kerja (job sheet) yang merupakan unsur penting dalam pengelolaan pelatihan. Selama pelaksanaan Repelita IV peranan lembaga pelatihan swasta dan pelatihan di perusahaan terus meningkat. Sehubungan dengan itu pada tahun pertama Repelita V telah berhasil disusun standar kurikulum bagi pelatihan swasta serta pedoman uji keterampilan dan sertifikasi untuk kejuruan las dan otomotif. Selain itu juga dilaksanakan pelatihan bersama oleh lembaga pelatihan dan perusahaan. Kerja sama tersebut merupakan kombinasi program pelatihan yang diselenggarakan di suatu lembaga pelatihan yang kemudian dilanjutkan di perusahaan, baik sebagai pemantapan pelatihan melalui praktek maupun sebagai pelatihan permagangan. Pada tahun pertama Repelita V juga telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan baru yang mencakup: penyusunan sistem pelatihan dan kurikulum pelatihan instruktur, pembentukan unit pengembangan pelatihan industri di perusahaan, pelatihan pengukuran dan pcningkatan produktivitas, pelatihan supervisor dan manajemen tingkat madya serta pendidikan instruktur

559

bahasa Inggris. Di samping itu pada tahun 1989/90 juga telah terbentuk 4 unit pelatihan industri yang meliputi sektor perkayuan, makanan, tekstil, konstruksi dan logam. Pada awal Repelita V sebanyak 255.440 orang tenaga kerja telah dilatih dalam pelbagai jenis kejuruan yang diselenggarakan oleh 3.193 lembaga pelatihan swasta. Selain itu juga telah dilaksanakan pelatihan bagi 40 orang instruktur yang berasal dari pondok pesantren. d. Hubungan dan Perlindungan Tenaga Kerja Dengan bergesernya struktur ekonomi dari pertanian ke non pertanian, maka dirasakan perlunya ditumbuhkan dan dikembangkan lembaga-lembaga ketenagakerjaan. Lembaga-lembaga ini menyangkut kerja sama antara pekerja dan pengusaha dalam upaya meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keserasian hubungan di antara berbagai pihak yang terlibat di dalam proses produksi. Lembaga-lembaga dimaksud berperan sebagai wadah komunikasi dan konsultasi dalam upaya memberikan perlindungan bagi pekerja. Upaya ini dilaksanakan melalui sarana Hubungan Industrial Pancasila (HIP) yang terus dikembangkan dan dimantapkan agar tercipta hubungan yang serasi antara pelaku produksi yang mengacu kepada ketenangan bekerja dan berusaha. Berbagai kebijaksanaan yang telah ditempuh selama ini dan yang akan terus dilanjutkan dan disempurnakan menyangkut kesehatan dan keselamatan kerja, pengupahan, asuransi tenaga kerja, perjanjian perburuhan, dan lembaga ketenagakerjaan itu sendiri. (1) Keselamatan dan Kesehatan Kerja Berbagai aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), seperti hiperkes, ergonomi, dan perbaikan gizi kerja dilaksanakan untuk meningkatkan kondisi dan lingkungan kerja. Usaha meningkatkan kesadaran akan arti pentingnya K3 di tingkat nasional dan daerah terus dikembangkan. Usaha ini meliputi penyelenggaraan lomba K3, kursus, penyuluhan dan pelatihan di bidang K3. Dewan K3N/D (di tingkat nasional/daerah) serta Panitia Pembina K3 (P2K3) di perusahaan terus didorong melalui penyuluhan dan penataran agar dapat berperan lebih aktif. Dengan lebih berperannya lembaga-lembaga tersebut, maka diharapkan makin tercipta ketenangan kerja dan ketenangan berusaha serta terkurangi kebutuhan pengawasan yang dilakukan o l e h i n s t a n s i 560

di luar perusahaan. Pengawasan ketenagakerjaan oleh pemerintah sedapat mungkin dilakukan secara selektif. Sejak Repelita I, kegiatan-kegiatan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja terutama ditujukan untuk memberi perlindungan tenaga kerja, baik dari risiko jabatan (professional risk) maupun terhadap bahaya lingkungan (environmental hazards). Dalam rangka perlindungan tersebut, maka pada Repelita II pengawasan terhadap norma-norma keselamatan dan kesehatan kerja ditingkatkan, seperti pengawasan terhadap keracunan, pengaruh radiasi dan penggunaan bahan kimia. Selanjutnya selama Repelita III kebijaksanaan dalam bidang keselamatan dan kesehatan kerja ditujukan untuk meningkatkan pelaksanaan "law enforcement" di tempat-tempat kerja. Dalam Repelita IV kegiatan pengawasan ketenagakerjaan ditekankan pada pencegahan terjadinya pelanggaran-pelanggaran perundang-undangan yang berlaku guna memberikan perlindungan pekerja di perusahaan. Dalam upaya memberikan perlindungan bagi pekerja terhadap bahaya kecelakaan di tempat kerja dan meningkatkan efisiensi serta meningkatkan produktivitas di perusahaan-perusahaan maka pada tahun pertama Repelita V diadakan pengawasan K3 secara selektif. Selain itu untuk meningkatkan kesadaran arti pentingnya K3, telah diadakan penyuluhan K3 di perusahaan-perusahaan. (2) Pengupahan Kebijaksanaan penetapan upah minimum merupakan sarana untuk menciptakan ketenangan kerja yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas perusahaan dan pemerataan kesejahteraan pekerja. Pengawasan terhadap pelaksanaan upah minimum di perusahaan-perusahaan terus ditingkatkan dan terhadap yang melanggar ketetapan upah minimum ditindak dengan mengajukannya ke pengadilan. Upah minimum yang berlaku merupakan hasil telaahan masing-masing Dewan Penelitian Pengupahan Daerah yang diusulkan oleh Gubernur dan disetujui oleh Menteri Tenaga Kerja. Sampai pada tahun 1989/90 secara kumulatif telah ditetapkan sebanyak 27 upah minimum regional, 68 upah minimum sektoral dan 521 upah minimum sub sektoral. Dari hasil penetapan upah, minimum regional tercatat bahwa tingkat upah terendah terdapat di NTB sebesar Rp 650/hari dan t e r t i n g g i d i

561

P. Batam sebesar Rp 2.450/hari. Upah minimum sektoral yang terendah terdapat di NTB untuk sektor perkebunan sebesar Rp 650/hari dan tertinggi terdapat di Riau untuk sektor bangunan sebesar Rp 3.000/hari. Selanjutnya upah minimum sub sektoral yang terendah terdapat di DI Yogayakarta untuk sektor perhotelan sebesar Rp 700/hari dan yang tertinggi di Riau untuk sektor pertambangan dan migas sebesar Rp 3.500/hari. (3) Kesejahteraan Tenaga Kerja Program Asuransi Tenaga Kerja (ASTEK) terus dikembangkan baik pesertanya maupun ruang lingkupnya. Pada tahun 1989 jumlah peserta ASTEK telah mencapai 25.558 perusahaan dengan lebih dari 3,6 juta karyawan, sedangkan dana investasinya telah mencapai lebih dari Rp 650 miliar. Keadaan tersebut menunjukkan kenaikan yang cukup berarti bila dibandingkan dengan keadaan tahun 1988 ataupun sepuluh tahun sebelumnya. Dalam tahun 1978 jumlah pesertanya baru 3.263 perusahaan dengan hampir 918,6 ribu karyawan dan dana investasinya baru Rp 2,2 miliar lebih sedikit. Selain itu program yang semula hanya mencakup asuransi kecelakaan kerja, tabungan hari tua dan asuransi kematian tersebut, kini telah diperluas antara lain dengan penyediaan uang muka perumahan dan uji coba asuransi kesehatan bagi peserta dan keluarganya. Kecuali itu pada tahun 1989 telah diselesaikan lebih dari 44 ribu kasus yang meliputi kasus asuransi kecelakaan kerja, tabungan hari tua, dan asuransi kematian. Jaminan asuransi yang telah dibayarkan berjumlah Rp 14,4 miliar (Tabel XII-12). Dengan makin meluasnya jangkauan program ASTEK dan perusahaan yang menjadi peserta ASTEK, maka karyawan-karyawan perusahaan tersebut merasa lebih dilindungi serta aman dari segala resiko bahaya kecelakaan kerja. Upaya lain untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja di perusahaan-perusahaan dilakukan dengan mendorong terbentuk dan berkembangnya koperasi karyawan dan kegiatan pelayanan Keluarga Berencana (KB). Sampai pada tahun pertama Repelita V telah terbentuk 2.313 buah koperasi pekerja. Tambahan pula sebanyak 414 orang dokter dan 310 orang paramedis perusahaan-perusahaan telah ditatar di bidang pelayanan KB. (4) Perjanjian Perburuhan Untuk menciptakan ketenangan kerja dan berusaha bagi pelaku produksi serta menghindari timbulnya perselisihan antara pekerja dan pengusaha, maka diusahakan terbentuknya Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) dan atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB) di setiap perusahaan. 562

TABEL XII - 12 KASUS DAN PFMBAYARAN JAMINAN, 1979 - 1989

Jenis Asuransi

1979

1983

1988

1989 1]

1.

Asuransi Kecelakaan Kerja:

a) Kasus 10.378 b) Jaminan (ribu rupiah) 808.500

14.423 2.684.430

20.781 5.786.390

22.487 7.513.490

2.

Tabungan Hari Tua: a) Kasus b) Jaminan (ribu rupiah) 3.009 70.229 8.395 809.481 23.497 5.737.550 18.504 5.035.430

3.

Asuransi Kematian: a) Kasus b) Jaminan (ribu rupiah) 1.498 434.754 1.957 460.170 3.290 1.756.070 3.039 1.838.380

Jumlah a) Kasus b) Jaminan (ribu rupiah) 1) Angka sementara

14.885 1.313.573

24.775 3.954.081

47.568 13.280.010

44.030 14.387.300

563

Pada tahun pertama Repelita V KKB yang telah disahkan berjumlah 5.237 buah. KKB yang terbentuk menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan akhir Repelita I, Repelita II, Repelita III, dan Repelita IV, yang jumlahnya masing-masing 13 buah, 696 buah, 3.369 buah, dan 5.004 buah, (Tabel XII-13). KKB berisikan kesepakatan antara pekerja dan pengusaha yang menyangkut kondisi dan syarat kerja serta kewajiban dan hak masing-masing pihak pada umumnya. Dengan bertambahnya KKB sebagai hasil musyawarah danmufakat antara kedua pelaku produksi yaitu pekerja dan pengusaha, maka akan tercipta ketenangan bekerja bagi kedua belah pihak dan gemakin berkurang terjadinya perselisihan-perselisihan perburuhan. Perusahaan yang belum ada SPSI atau unit kerjanya diusahakan agar membuat Peraturan Perusahaan (PP) yang isinya antara lain mencakup syarat-syarat kerja dan tata tertib perusahaan. Selain usaha-usaha di atas ini terus dikembangkan rintisan perlindungan tenaga kerja di sektor informal, khususnya sektor tradisional, dengan membuat perjanjian tertulis yang disahkan oleh Pemerintah Daerah. Isi perjanjian menjelaskan hak dan kewajiban pekerja dan pemberi kerja. (5) Lembaga Ketenagakerjaan Upaya meningkatkan fungsi lembaga ketenagakerjaan, baik di tingkat pusat dan daerah maupun di tingkat perusahaan, dilakukan melalui pendidikan dan penyuluhan. Melalui penyuluhan diharapkan dapat ditumbuhkan citra saling menghormati yang merupakan unsur utama dalam membina ketenangan kerja dan ketenangan berusaha. Sistem pendidikan ini selalu mengikutsertakan serikat pekerja dan pengusaha. Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan pengamalan Hubungan Industrial Pancasila (HIP) telah dikembangkan metode dan sarana untuk pendidikan dan penyuluhan bagi Serikat Pekerja (SPSI) baik di tingkat Pusat, Daerah Tingkat I/II, maupun di unit kerja di tingkat perusahaan. Pendidikan P4-HIP juga telah mulai dilaksanakan secara mandiri oleh perusahaan, yang berarti bahwa pendidikan P4-HIP telah dirasakan manfaatnya oleh perusahaan. Sampai pada tahun pertama Repelita V telah dilaksanakan penataran P4 bagi 207.027 orang pekerja. Di samping itu penyelenggaraan pendidikan P4-HIP secara mandiri oleh perusahaan telah diikuti oleh lebih dari 60.000 orang peserta.

564

TABEL XII - 13 PERJANJIAN KERJA BERSAMA (PKB) 1973/74 - 1989/90

PKB dan Perusahaan

1973/74 (Akhir Repelita I)

1978/79 (Akhir Repelita II)

1983/84 (Akhir Repelita III)

1988/89 (Akhir Repelita IV)

1989/90 1) (Tahun Pertama Repelita V)

1. Jumlah PIB

13

696

3.369

5.003

5.237

2. Jumlah Perusahaan yang dicakup

20

1.900

5.649

6.937

5.237

1) Angka sementara

565

Sejak berganti nama menjadi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dan sekaligus merubah struktur organisasi dari federasi menjadi unitaris, sainpai pada tahun pertama Repelita V pertumbuhan dan perkembangan unit kerjanya telah mencapai 8.843 (Tabel XII-14). Dewan Pimpinan Daerah (DPD) SPSI sampai saat ini telah terdapat di semua propinsi. Selain itu telah terbentuk 266 buah Dewan Pimpinan Cabang. Kerja sama antara pemerintah dengan SPSI dan Asosiasi Pengusaha Indonesia-Kamar Dagang Indonesia (APINDO-KADIN) terus ditingkatkan dan dikembangkan. APINDO dan KADIN dewasa ini telah mempunyai perangkat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di semua propinsi dan 119 buah Dewan Pimpinan Cabang (Tingkat II). Badan Kerja Sama (BKS) Tripartite yang berfungsi sebagai wadah konsultasi, komunikasi dan musyawarah antara pekerja, pengusaha dan pemerintah terus dikembangkan. Dalam pada itu wadah antara pengusaha dan pekerja berupa lembaga Bipartite di perusahaan-perusahaan semakin menunjukkan kemajuan. Sampai pada tahun pertama Repelita V telah terbentuk Badan Kerja Sama (BKS) Tripartite di tingkat Nasional, di 27 Dati I dan di 179 Dati II. Secara kumulatif BKS Bipartite telah terbentuk di 2.732 perusahaan. Lembaga Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat dan Daerah (P4P dan P4D) yang berfungsi memberikan pelayanan hubungan ketenagakerjaan dengan, cepat, tepat, murah, konsisten dan adil telah meningkatkan frekuensi persidangan. Perselisihan yang terjadi antara pengusaha dan serikat pekerja yang disampaikan melalui P4P/P4D aelama Repelita IV jika dibandingkan dengan Repelita III menunjukkan penurunan. Jumlah kasus yang diselesaikan berturut-turut adalah 104 kasus pada tahun 1984/85 dan 72 kasus pada tahun 1988/89. Dalam tahun pertama Repelita V jumlah perselisihan yang disampaikan kepada P4P/P4D berjumlah 70 kasus. Pada tahun pertama Repelita V terjadi 20 kali pemogokan yang melibatkan tidak kurang dari sejumlah 3.728 pekerja dan menyebabkan hilan nya 23.818 jam kerja. Jumlah ini lebih kecil bila dibandingkan dengan yang terjadi pada tahun terakhir Repelita IV., yaitu 35 kali pemogokan dan melibatkan 14,6 ribu pekerja serta mengakibatkan hilangnya 39,7 ribu jam kerja. Penurunan jumlah pemogokan tersebut terjadi antara lain berkat adanya kesadaran para pekerja dan pengusaha serta mulai tumbuhnya suasana saling pengertian dalam memacu kemajuan perusahaan.

566

TABEL XII - 14 PERKEMBANGAN ORGANISASI SERIKAT PEKERJA SELURUH INDONESIA DAN SERIKAT BURUH LAPANGAN PEKERJAAN, 1973/74 - 1989/90

St ru kt ur O rg an is as i

1973/74 (Akhir Repelita I)

1978/79 (Akhir Repelita II)

1983/84 (Akhir Repelita III)

1988/89 (Akhir Repelita IV)

1989/90 (Tahun Pertama Repelita V)

1)

SPSI

2)

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Dewan Pimpinan Daerah (DPD)

187 21

187 26

274 26

266 26

266 27

Unit Kerja

3)

7.233

8.351

10.220

8.823

8.843

1) Angka sementara 2) Sebelum tahun 1986 bernama Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) 3) Sebelum tahun 1986 bernama Basis

567

B. TRANSMIGRASI 1. Pendahuluan Pembangunan transmigrasi dalam Repelita V ditujukan untuk membantu memecahkan masalah yang diakibatkan penyebaran penduduk yang kurang merata. Usaha tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki mutu- kehidupan dan pembangunan daerah, meningkatkan pengembangan sumber alam dan lingkungan hidup, memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam rangka mendorong pembangunan daerah dan memperbaiki mutu kehidupan masyarakat, terutama golongan masyarakat berpendapatan rendah dalam rangka menanggulangi masalah kemiskinan. Berdasarkan hasil sensus pertanian tahun 1969 dan tahun 1983, jumlah keluarga petani di Jawa dan Bali semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Di sisi lain luas lahan pertanian cenderung semakin berkurang sebagai akibat besarnya kebutuhan lahan bagi pembangunan. Jumlah keluarga petani yang memiliki lahan kurang dari 0,5 ha cenderung meningkat. Kecenderungan ini akan terus berlangsung di masamasa mendatang. Dampak-dampak negatif antara lain perambahan terhadap kawasan hutan yang ada dan perusakan sumber daya alam dan lingkungan sulit dihindarkan. Selain itu, pertumbuhan penduduk juga dapat mengakibatkan meningkatnya urbanisasi dan pengangguran serta terjadi konsentrasi penduduk di daerah yang tak layak huni. Dalam kaitan ini maka pelaksanaan transmigrasi dimaksudkan untuk memindahkan penduduk dari wilayahwilayah tertentu dalam upaya menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan kelestarian sumber alam dan lingkungan hidup. Di lain pihak, pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya, jumlah dan kepadatan penduduk relatif rendah. Lagi pula daerah-daerah di luar Jawa masih mempunyai potensi lahan yang cukup luas bagi pengembangan perkebunan, pertambakan dan usaha lain. Jelaslah kiranya bahwa program transmigrasi dapat menyumbang secara berarti bukan saja bagi pemberantasan kemiskinan tetapi juga bagi peningkatan sumber alam dan lingkungan. Di samping masalah penyebaran penduduk, pelaksanaan transmigrasi juga ditujukan untuk memperluas landasan yang kuat bagi pembangunan sektor-sektor lainnya. Salah satu sektor yang memberikan peluang kesempatan kerja yang besar adalah sektor pertanian. Di samping memperluas areal p e r tanian

568 produktif, kegiatan transmigrasi meningkatkan produksi berbagai komoditi pertanian. Usaha penyebaran penduduk dari satu daerah ke daerah lainnya juga diharapkan akan membantu mempercepat proses pembauran bangsa serta menunjang usaha-usaha memperkokoh pertahanan dan keamanan Nasional. Upaya program transmigrasi juga meliputi pemindahan penduduk dari daerah kawasan hutan yang seharusnya berfungsi sebagai hutan lindung, hutan margasatwa dan cagar alam. Dengan demikian diharapkan potensi manusia dan potensi alam akan lebih berimbang dan serasi. Pelaksanaan transmigrasi diupayakan agar juga makin menjadi bagian integral dari usaha penataan dan pemilikan tanah baik di daerah asal maupun di daerah penerima. Sektor lainnya yang memberikan perluasan kesempatan kerja yang besar adalah sektor industri. Pembangunan transmigrasi di sektor industri lebih menjamin tersedianya tenaga kerja yang menetap serta penyediaan bahan baku yang cukup. Usaha pengembangan industri yang mengelola-hasil pertanian di daerah transmigrasi mempunyai peluang yang cukup besar, seperti pengolahan karet, kelapa sawit, cokelat dan lain-lain. Demikian pula pengembangan sektor perdagangan sangat diperlukan untuk memungkinkan penyaluran hasil produksi dari daerah transmigrasi baik ke pusat pemasaran dalam negeri maupun luar negeri. Penyaluran barang dan jasa sangat diperlukan dalam usaha pembangunan daerah transmigrasi dan sekitarnya. Pelaksanaan transmigrasi sejak periode tahun 1968 1989/90 pada umumnya sudah memberikan sumbangan positif bagi usaha pembangunan. Hasil pembangunan sudah dirasakan baik di daerah asal maupun daerah tujuan. Hasil-hasil yang dicapai tersebut masih perlu ditingkatkan baik dalam jumlah t r a nsmi gran yang dipindahkan maupun dalam mutu pelaksanaannya. Diharapkan di masa mendatang pembangunan transmigrasi akan memberikan dampak yang lebih bermanfaat serta membantu memantapkan landasan yang lebih kuat bagi kelanjutan pembangunan. Untuk ini maka dalam pelaksanaan transmigrasi dituntut lebih ditingkatkannya koordinasi serta keserasian antar kegiatan dari berbagai sektor baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. 2. Pelaksanaan Kegiatan Transmigrasi Dalam Repelita V sasaran pembangunan transmigrasi adalah memindahkan dan menempatkan sejumlah 550 ribu kepala keluarga transmigran dari Jawa, Bali dan daerah-daerah lain yang padat penduduknya ke pulau-pulau S u m a t e r a , K a l i m a n t a n , S u l a w e s i ,

569

Maluku dan Irian Jaya yang penduduknya relatif jarang. Di samping penempatan transmigran baru tersebut selama Repelita V akan dilaksanakan pula usah.a peningkatan mutu transmigran yang sudah berada di lokasi. Kebijaksanaan pelaksanaan transmigrasi antara lain meliputi pembangunan prasarana dan sarana yang memadai baik di daerah asal maupun di daerah penerima. Di daerah asal dibangun sarana pendukung berupa bangunan transito beserta fasilitas yang diperlukan. Selain itu secara terbatas dibangun pula prasarana jalan dalam rangka menunjang berfungsinya fasilitas transito. Bangunan transito tersebut dimaksudkan sebagai. tempat penampungan transmigran sebelum diberangkatkan ke daerah penerima. Di daerah penerima prasarana dan sarana merupakan landasan bagi tumbuhnya masyarakat baru. Prasarana yang dibangun meliputi pembangunan jalan penghubung, jalan poros, jalan desa, jalan pertanian, saluran irigasi, lahan usaha dan perumahan, fasilitas air bersih dan jamban keluarga. Di samping pembangunan prasarana, dalam usaha pembinaan sosial ekonomi masyarakat transmigrasi dibangun pula sarana dan fasilitas lainnya seperti sekolah, bangunan koperasi (KUD), balai pengobatan, balai desa, rumah ibadah, kantor pos pembantu, dan rumah petugas beserta perlengkapannya. Seluruh prasarana, sarana dan fasilitas-fasilitas tersebut tidak saja diperuntukkan bagi transmigran tetapi . juga bagi penduduk setempat. Untuk mencapai hasil yang optimal dari pembangunan transmigrasi maka pemilihan lokasi yang tepat yang memenuhi persyaratan pemukiman memegang peranan penting. Persyaratan yang dikehendaki adalah pemukiman yang layak huni serta dapat berkembang dengan cepat di bidang sosial dan ekonominya. Selain itu pencapaian hasil yang optimal juga membutuhkan koordinasi dalam aspek-aspek utama kegiatan baik pada tahap perencanaan maupun pada tahap pelaksanaannya. Sektor-sektor yang sangat erat hubungannya dengan pelaksanaan transmigrasi antara lain adalah pertanian dan pengairan, perkebunan, perikanan, kehutanan, industri dan jasa lainnya. Ada 2 tahap perencanaan pemukiman, yaitu perencanaan makro dan perencanaan mikro. Perencanaan makro merupakan perencanaan awal. Pada tahap ini disusun perencanaan jangka panjang,'menengah atau 5 tahun dan jangka pendek atau tahunan. Untuk ini dibutuhkan informasi mengenai keadaan fisik, topografi, curah hujan, kesuburan tanah dan aspek lain dari calon lokasi transmigrasi. I n f o r m a s i d i s i a p k a n b a i k m e l a l u i

570

pertemuan antar sektor maupun penelitian langsung. Setelah tahap perencanaan makro selesai, kegiatan dilanjutkan dengan perencanaan . mikro. Pada tahap perencanaan mikro sudah diketahui dengan pasti jumlah daya tampung dari masing-masing lokasi.,Di dalam perencanaan mikro, di samping pertimbangan teknis juga diupayakan penyelesaian masalah non teknis seperti penyelesaian masalah status tanah. Atas dasar berbagai pertimbangan ini maka dilaksanakan pemilihan lokasi. Setelah tahap pemilihan lokasi, kegiatan selanjutnya adalah pembuatan rencana pengembangan. Rencana pengembangan di daerah transmigrasi mencakup pola tata ruang, pola pengembangan produksi, pola pemasaran, pola pengembangan sosial budaya serta pola-pola lainnya dalam usaha mempercepat pertumbuhan daerah pemukiman transmigrasi. Setelah tahap perencanaan selesai maka dilaksanakan persiapan fisik di lapangan. Kegiatan ini meliputi pembangunan prasarana, sarana dan fasilitas-fasilitas penunjang dalam rangka pembangunan daerah produksi baru. Fasilitas-fasilitas penunjang yang perlu disiapkan bagi pembentukan suatu unit pemukiman antara lain adalah balai desa, kantor unit transmigrasi, rumah ibadah, balai pengobatan, sekolah dan lain-lain. Di samping itu dilakukan pula penataan dan penyiapan lahan. Bagi setiap kepala keluarga disediakan lahan seluas 2,0 ha yang masing-masing terdiri dari 0,25 ha untuk rumah dan lahan pekarangan serta lahan usaha seluas 1,75 ha. Pembukaan lahan pekarangan dan lahan usaha I seluas 1,0 ha dibantu oleh pemerintah sampai siap tanam. Sedangkan pembukaan sisa lahan seluas 1,0 ha sebagai lahan usaha II, dilaksanakan oleh transmigran sendiri. Di samping kebijaksanaan pemindahan transmigran baru dari daerah asal, kegiatan transmigrasi juga ditujukan untuk turut memecahkan masalah penduduk di daerah penerima. Permasalahan di daerah penerima meliputi antara lain penduduk setempat yang tidak memiliki tanah, petani peladang yang berpindah-pindah dan terpencar-pencar serta penduduk yang bertempat tinggal di kawasan hutan lindung atau suaka alam. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka dalam kegiatan transmigrasi dilaksanakan kebijaksanaan Alokasi Pemukiman bagi Penduduk Daerah Transmigrasi (APPDT). Besarnya jumlah alokasi penduduk di daerah penerima diperkirakan sekitar 20% dari kapasitas pemukiman. Namun jumlah tersebut dapat diperbesar tergantung pada permasalahan yang dihadapi di daerah masing-masing. Misalnya propinsi Lampung dan S u l a w e s i T e n g g a r a

571

pada tahun terakhir Repelita IV dan tahun pertama Repelita V seluruh program penempatan transmigrasi berasal dari penduduk yang tinggal di kawasan hutan lindung. Pemindahan penduduk dari hutan lindung tersebut membantu menyelamatkan sumber daya alam dan lingkungan hidup dari perusakan. Di daerah lain yang permasalahan penduduk setempatnya kurang menonjol, persentase APPDT bervariasi disekitar angka 20% walaupun tidak sebesar di Lampung dan Sulawesi Tenggara. Di samping itu, pengalokasian APPDT di dalam program transmigrasi dimaksudkan pula sebagai salah satu usaha pengintegrasian transmigran dengan penduduk setempat. Usaha tersebut sekaligus merupakan upaya memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Setelah tahap perencanaan dan tahap persiapan fisik selesai maka transmigran didatangkan. Tahap pembinaan dimulai sejak transmigran berada di lokasi. Pada saat itu bantuan pangan diberikan selama 12 sampai 18 bulan. Bantuan pangan terdiri dari 9 bahan pokok dan dimaksudkan agar transmigran dapat segera mengerjakan lahan pekarangan maupun Lahan Usaha I untuk produksi pertaniannya. Diperkirakan sebelum bantuan pangan dihentikan lahan pertanian yang diusahakan tersebut telah dapat menghasilkan sehingga selanjutnya tidak diperlukan lagi bantuan. Di samping bantuan pangan diberikan pula paket sarana produksi kepada transmigran. Paket tersebut terdiri atas peralatan pertanian dan non pertanian, seperti parang, cangkul, alat-alat pertukangan dan alat-alat lainnya. Dalam usaha mendayagunakan sarana produksi dan peralatan pertanian yang telah diberikan agar dapat digunakan sesuai dengan harapan, maka dilaksanakan berbagai bentuk penyuluhan, seperti pembuatan petak percontohan, pelatihan dan pendidikan serta bimbingan. Juga diberikan petunjuk mengenai cara dan teknik pertanian yang baik di lahan transmigran. Selanjutnya disediakan pula sarana dan prasarana pendidikan bagi anakanak transmigran, sarana kesehatan, penyuluhan tentang keluarga berencana dan lain-lain. Usaha pembinaan tersebut dimaksudkan agar masyarakat transmigran dapat secepat-cepatnya hidup lebih baik bila dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Begitu pula diharapkan anak-anak atau generasi berikutnya dapat berkembang tidak hanya menjadi petani tradisional melainkan menjadi petani maju serta mampu mencapai tingkat kehidupan yang lebih tinggi. Melalui bimbingan dan penyuluhan diharapkan tumbuh kader-kader pemuda transmigran yang berwawasan luas serta mampu meningkatkan produksi pertanian dan industri. Agar usaha-usaha tersebut dapat segera terwujud maka selama Repelita V di lokasi-lokasi yang perkembangannya lambat

572

akan dilakukan pembinaan khusus dalam rangka melaksanakan usaha peningkatan mutu. Pembinaan khusus dikonsentrasikan kepada transmigran yang pendapatannya masih di bawah tingkat rata-rata. Hal ini dilaksanakan dengan mengoptimalisasikan pemanfaatan lahan pertanian serta pengembangan Lahan Usaha II. Komponen pembinaan khusus meliputi penyuluhan pertanian, peningkatan prasarana, penyediaan kredit melalui koperasi, perbaikan lingkungan, dan peningkatan peranan wanita. Selain usaha meningkatkan pendapatan petani transmigran diupayakan pula agar terjalin kerja sama yang saling menguntungkan antara petani, koperasi dan pihak swasta dalam usaha peningkatan produksi, pengolahan hasil pertanian dan pemasaran. Melalui usaha pembinaan dan penyuluhan yang lebih baik diharapkan dalam waktu 5 tahun para transmigran akan mampu mencapai tingkat kehidupan yang layak. Bersamaan dengan kegiatan di daerah penerima, di daerah asal juga dilakukan kegiatan pemilihan kecamatan atau desa yang akan menjadi sumber pemindahan penduduk. Pemilihan tersebut didasarkan atas kriteria bahwa transmigrasi dari daerahdaerah yang bersangkutan akan memberikan manfaat dan pengaruh yang cukup besar dalam rangka mengurangi kepadatan penduduk dan mengatasi kemiskinan. Demikianlah maka prioritas utama diberikan kepada kecamatan atau desa yang padat penduduknya dan relatif miskin, yang menghadapi masalah kelestarian sumber alam, merupakan daerah kritis, dan atau daerah bencana alam serta daerah-daerah yang terkena proyek-proyek pembangunan. Dengan demikian diharapkan akan dapat dilaksanakan usaha rehabilitasi sehingga daerah yang sebelumnya menghadapi masalah tekanan penduduk akan dapat menata kembali daerahnya sesuai dengan daya dukung lingkungannya. Di daerah-daerah yang sudah ditentukan sebagai tempat asal penduduk yang akan dipindahkan, diselenggarakan penerangan dan penyuluhan mengenai maksud dan tujuan program transmigrasi. Di dalam melaksanakan penerangan disampaikan informasi mengenai keadaan daerah penerima yang sesungguhnya. Hal ini dimaksudkan agar calon penduduk yang dipindahkan mengetahui kondisi daerah yang akan menerimanya sebagaimana adanya. Agar usaha penerangan dan penyuluhan tersebut mencapai sasarannya maka digunakan berbagai jenis media seperti radio, televisi dan selebaran-selebaran. Penerangan dan penyuluhan dimaksudkan untuk memberikan informasi yang lengkap, terinci, dan jelas mengenai peluang yang ada di daerah penerima transmigrasi, khususnya daerah pemukiman transmigrasi. Selanjutnya baru diikuti dengan pendaftaran dan seleksi calon transmigran.

573

Bagi anggota masyarakat yang berminat didaftar sebagai calon transmigran. Pendaftaran ini dimaksudkan untuk mengetahui dan memantau secara dini identitas calon-calon transmigran. Calon-calon yang sudah mendaftar tersebut akan diseleksi secara cermat berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Kriteria-kriteria untuk menjadi transmigran antara lain berpenghasilan rendah, relatif muda, petani, sudah berkeluarga dan sehat jasmani dan rohani. Kriteria lain yang digunakan adalah calon transmigran tersebut hendaknya mempunyai motivasi tinggi untuk mengubah taraf hidupnya namun kemampuannya sangat terbatas. Calon transmigran yang terpilih akan dididik dan dilatih terlebih dahulu di daerah asal. Pendidikan dan pelatihan awal ini dimaksudkan untuk memberikan dasar pengetahuan dan keterampilan mengenai budi daya dan teknologi pertanian di daerah baru. Setelah seluruh persiapannya selesai maka transmigran siap untuk diberangkatkan. Jenis angkutan yang digunakan adalah kendaraan umum seperti bus, kereta api atau kapal laut. Namun bagi lokasi-lokasi yang sulit dijangkau apabila dipandang perlu akan digunakan angkutan udara. Selama dalam perjalanan diberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dengan penyediaan petugas kesehatan, keamanan serta obat-obatan. Di samping pengaturan yang telah ditetapkan, dalam Repelita V akan diupayakan peningkatan arus transmigrasi swakarsa yang teratur dan terarah. Usaha tersebut dapat terwujud apabila di daerah penerima terjadi peningkatan dan pertumbuhan yang dapat memberikan peluang bagi penyerapan tenaga kerja yang menetap. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam pelaksanaan transmigrasi swakarsa sudah sejak awal diikutsertakan pihak swasta dan instansi-instansi yang terkait. Pihak swasta diberikan informasi yang seluas-luasnya mengenai kemungkinan menanamkan modalnya `di daerah transmigrasi. Untuk menarik minat para investor diberikan kemudahan-kemudahan antara lain dibantu mempersiapkan studi mengenai usaha yang kan dikembangkan serta dibantu perizinannya. Secara keseluruhan, pelaksanaan transmigrasi terus meningkat dari Repelita ke Repelita. Selama Repelita I, II, III dan IV transmigran umum dan swakarsa yang berhasil dipindahkan masing-masing sekitar 40 ribu kepala keluarga, 60 ribu kepala keluarga, 535 ribu kepala keluarga dan 750 ribu kepala keluarga (Tabel XII-15). Dengan demikian jumlah transmigran yang pindahkan selama empat Repelita adalah sekitar 1,4 juta keluarga atau sekitar 7,0 juta jiwa.

574

TABEL XII - 15 JUMLAH TRANSMIGRAN UMUM DAN TRANSMIGRAN SWAKARSA, 1968 1989/90 (kk)

575

575

Pemindahan jumlah penduduk yang demikian besar mempunyai pengaruh positif bagi pembangunan daerah. Di daerah asal tekanan penduduk di daerah-daerah kurang layak huni telah dapat dikurangi. Pemindahan penduduk dari daerah-daerah tertentu lainnya telah membantu pemanfaatan sumber daya alam air dan tanah secara lebih efisien dengan dimungkinkannya pembangunan bendungan dan pengembangan wilayah secara lebih terpadu. Di daerah penerima kedatangan keluarga baru dalam jumlah relatif besar telah membawa serta. investasi baru bukan hanya dalam bentuk prasarana ekonomi dan sosial tetapi juga dalam bentuk kegiatan ekonomi yang langsung meningkatkan produksi dalam jangka pendek. Pengaruh positif yang mendasar bagi pembangunan daerah di daerah penerima adalah bahwa kedatangan keluargakeluarga baru transmigran telah merubah imbangan sumber alam dan sumber daya manusia ke arah yang lebih optimal daripada keadaan sebelumnya. Imbangan yang lebih optimal ini bukan hanya memacu perkembangan daerah tetapi juga mempermudah pelaksanaan kebijaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan. Dalam Repelita V pelaksanaan transmigrasi swakarsa telah diprogramkan dan diarahkan sejak tahap perencanaan. Hal ini berarti bahwa penempatan transmigran swakarsa diarahkan pada lokasi-lokasi di mana akan dilaksanakan berbagai program pembangunan, khususnya di bidang perkebunan, pertambakan, dan hutan tanaman industri. Kebijaksanaan tersebut merupakan salah satu usaha dalam rangka peningkatan mutu pelaksanaan transmigrasi. Begitu pula di dalam pelaksanaan transmigran umum yang dipindahkan dan yang ditempatkan menurut propinsi telah disesuaikan dengan sasaran pembangunan. Dari penyebaran tersebut terlihat bahwa Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan propinsi pengirim transmigran umum yang terbesar bila dibandingkan dengan propinsi daerah asal lainnya (Tabel XII-16). Sampai dengan akhir Repelita IV propinsi-propinsi tertentu di Sumatera ternyata merupakan daerah tujuan utama pelaksanaan transmigrasi (Tabel XII-17). Di masa-masa mendatang pelaksanaan transmigrasi umum akan diarahkan ke wilayah bagian timur seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung tercapainya sasaran pemerataan pembangunan. Sejalan dengan usaha-usaha tersebut, selama periode 1969/70 - 1989/90 telah dilaksanakan pembangunan prasarana (Tabel XII-18). Selama Repelita I, II, III dan IV panjang jalan yang dibangun masing-masing sekitar 4 ribu km, 5 ribu km, 26 ribu km dan 14 ribu km. Dengan demikian dalam periode empat Repelita telah dibangqn jalan baru sekitar 49 ribu km dan jembatan sekitar 43 km. Selain pembangunan jalan baru, dilak-

576

576

TABEL XII 16 JUMLAH TRANSMIGRASI UMUM YANG DIPINDAHKAN 1968 1989/90 (kk)

1) Alokasi Pemukiman Bagi Penduduk Daerah Transmigrasi

577

577

TABEL XII 17 JUMLAH TRANSMIGRASI UMUM YANG DITEMPATKAN, 1968 1989/90 (KK)

578

T A B E L X I I - 18 PEMBBANGUNAN DAN PEMELIHARAAN PRASARANA JALAN DI MUKIMAN TRANSMIGASI, 1973/74 - 1989/90

579

1973/74

1978/79

1983/84

1988/89

sanakan pula pemeliharaan jalan-jalan yang sudah dibangun tetapi belum dapat berfungsi dengan baik. Kegiatan pemeliharaan ini memperoleh prioritas yang tinggi di masa-masa mendatangg karena akan sangat membantu perkembangan lokasi pemukiman. Selama 10 tahun terakhir panjang jalan dan jembatan yang. dipelihara masing-masing sekitar 7 ribu km dan 33 km. Kondisi yang baik akan memperlancar K e g i a t a n jalan 1989/90 hubungan dari daerah pemukiman ke ( T a h u n P e r t a m a Repelita V) pusat-pusat pemasaran. Selain pembangunan dan pemeliharaan jalan selama periode tahun 1969/70 - 1989/90 dilaksanakan pula pembuiaan lahan bagi transmigran yang meliputi lahan pekarangan dan Lahan Usaha I (Tabel XII-19). Luas lahan yang dibuka selama Repelita I, II, III dan IV masing-masing sekitar 46 ribu ha, 83 ribu ha, 448 ribu ha dan 187 ribu ha. Dengan demikian luas lahan yang dibuka selama empat Repelita sekitar 766 ribu ha atau menampung sekitar 627 ribu kepala keluarga. Hasil pelaksanaan perkaplingan dapat terlihat pada Tabel XII-20. Selama Repelita I, 11, 111 dan IV pelaksanaan perkaplingan untuk transmigran masing-masing sekitar 46 ribu ha, 83 ribu ha, 362 ribu ha dan 200 ribu ha. Dengan demikian lahan yang telah dikapling selama empat Repelita sekitar 700 ribu ha. Luas perkaplingan disesuaikan dengan jumlah penempatan transmigran dan setidaktidaknya transmigran yang sudah berada di lokasi memperoleh kepastian mengenai status lahan yang digarapnya. Jumlah rumah yang dibangun melalui program transmigrasi selama 20 tahun sekitar 640 ribu unit (Tabel XII-21). Jumlah rumah dan fasilitas umum yang dibangun disesuaikan dengan sasaran penempatan. Jumlah rumah yang dibangun berbeda dengan jumlah transmigran yang ditempatkan. Perbedaan tersebut disebabkan karena jumlah yang dibangun belum termasuk pembangunan dari sektor perkebunan melalui Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Bersamaan dengan pembangunan rumah telah dibangun l sarana penunjang lainnya, seperti sarana air bersih, balai pengobatan, rumah ibadah, rumah petugas dan gudang yang jumlahnya disesuaikan dengan standar yang ada. Kegiatan di daerah penerima seperti pembangunan prasarana dan sarana menyangkut pembangunan daerah yang didasarkan pada kontribusinya terhadap pembentukan struktur pengembangan wilayah dan daya dukung lingkungan tanpa melampaui batas-batas yang telah ditentukan. Hasil pembangunan di bidang transmigrasi menyiapkan terbentuknya satuan pemukiman baru atau desa baru. Desa baru tersebut berkembang lebih lanjut menjadi satuan ekonomi dan sosial budaya yang memenuhi persyaratan minimal dalam pembangunan daerah.

TABEL XII - 19 PEMBUKAAN LAHAN UNTUK TRANSMIGRASI, 1973/74 - 1989/90 1973/74 (Akhir Repelita I) 1978/79 (Akhir Repelita II) 1983/84 (Akhir Repelita III) 1988/89 (Akhir Rep el it a IV) 1989/90 (Tahun Pertama Rep el it a V)

Kegiatan

1.

Jumlah KK Yang Di tampung

25.537

21.090

60.345

19.548

16.181

2.

Lahan Pekarangan (ha)

6.384,25

5.275,50

22.307,25

2.443,50

12.040,25

3.

Lahan Usaha I (ha)

19.153,00

34.125,00

89.299,00

9.774,00

36.505,25

581

TABEL XII - 20 PELAKSANAAN PERKAPLINGAN UNTUK TRANSMIGRAN, 1978/79 - 1989/90 (ha)

Jenis Lahan

1978/79 (Akhir Repelita II)

1983/84 (Akhir RepeTita III)

1988/89 (Akhir Repelita IV)

1989/90 (Tahun Pertama Repelita V)

1.

Lahan Pekarangan

4. 16 4, 25

2 8. 64 4, 50

9. 50 7, 75

2.907,00

2.

Lahan Usaha

16.994,00

11 8. 56 8, 75

30.156,00

11.628,00

Jumlah

Z1.158,25

147.213,25

3 9. 66 3, 75

14.535,00

582

TABEL XII - 21 PEMBUATAN BANGUNAN DI DAERAH PEMUKIMAN TRANSMIGRASI, 1978/79 - 1989/90 (unit) 1978/79 (Akhir Repelita II) 1983/84 (Akhir Repelita III) 1988/89 (Akhir Repelita IV) 1989/90 (Tahun Pertama Repelita V)

Jenis

1. Rumah Transmigran dan Jamban

15.350

62.114

10.186

11.954

2. Sarana Air Bersih

3.225

20.500

23.009

5.411 52

3. Balai Pengobatan

29

35

28

4 . Rumah Ibadah

40

233

59

119

5. Rumah Petugas

15S

248

39

119

6. Gudang (pangan dan saprodi)

58

35

43

86

583

Kegiatan pembinaan dimulai sejak transmigran berada di pemukiman baru. Kepada setiap kepala keluarga transmigran diberikan jaminan hidup selama setahun di daerah non pasang surut dan 18 bulan di daerah pasang surut. Jaminan hidup antara lain terdiri dari beras, lauk pauk, minyak goreng dan minyak tanah. Di samping itu di daerah pemukiman transmigrasi dilaksanakan pula program pembangunan di berbagai bidang yang meliputi pengembangan bidang ekonomi dan sosial budaya. Tujuan pembinaan adalah untuk membentuk landasan yang kuat agar dalam waktu yang relatif singkat yaitu selama lima tahun, masyarakat transmigran mampu mandiri. Setelah masa pembinaan tersebut, selanjutnya tugas pembinaan menjadi tanggung jawab daerah seperti daerah-daerah lainnya. Sampai dengan tahun pertama Repelita V jumlah transmigran yang masih dibina berjumlah sekitar 410 ribu kepala keluarga. Jumlah tersebut sebagian hasil pendapatan selama Repelita IV dan sebagian hasil penempatan tahun pertama Repelita V (Tabel XII-22). Segi lain dalam kebijaksanaan pembinaan adalah melaksanakan usaha rehabilitasi di lokasi-lokasi yang kondisinya relatif sulit berkembang. Rehabilitasi tersebut merupakan salah satu upaya dalam rangka peningkatan mutu kehidupan transmigran. Rehabilitasi dapat berupa perbaikan prasarana dan sarana atau tambahan investasi seperti bantuan dalam bentuk kredit dengan syarat yang memadai. Dengan langkah-langkah tersebut diharapkan pendapatan. transmigran meningkat di atas rata-rata pendapatan nasional. Kegiatan lain dalam pembinaan adalah pelatihan dan pendidikan. Jumlah transmigran yang dilatih dan dididik selama Repelita II, III, IV dan tahun pertama Repelita V masingmasing sekitar 9 ribu ora , 37 ribu orang, 25 ribu orang dan 4 ribu orang (Tabel XII-23). Dengan demikian selama 20 tahun jumlah transmigran yang dilatih dan dididik sekitar 80 ribu orang. Perkembangan produktivitas pada beberapa jenis tanaman pertanian sangat bervariasi (Tabel XII-24). Misalnya produksi singkong rata-rata sekitar 6,2 ton per ha. Palawija dan padi berkisar antara 1,6 ton/ha sampai 1,5 ton/ha. Rendahnya produktivitas tersebut ditentukan oleh banyak faktor, antara lain tingkat kematangan tanah yang masih rendah, teknologi yang masih sangat sederhana dan frekuensi serangan hama cukup tinggi. Untuk mengurangi resiko kegagalan dilaksanakan sistem tumpang sari dengan tanaman perkebunan. Caranya adalah dengan menanam tanaman keras pada lahan pekarangan dan lahan usaha I

584

T A B E L X I I - 22 JUMLAH TRANSMIGRAN YANG DIBINA, 19 73 /7 4 - 1989/90

585

TABEL XII - 23 JUMLAH TRANSMIGRAN YANG DILATIH DAN DIDIDIK MENURUT DAERAH DAN JENIS KETERAMPILAN, 1978/79 - 1989/90

586

TABEL XII - 24 PRODUKTIVITAS LAHAN UNTUK BEBERAPA JENIS TANAMAN PERTANIAN DI DAERAH TRANSMIGASI, 1973/74 - 1989/90

587

di samping tanaman pangan. Usaha pengembangan tanaman perkebunan menunjukkan hasil yang cukup baik seperti kelapa, cengkeh dan kopi (Tabel XII-25). Usaha tersebut terus ditingkatkan melalui pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Pola PIR mencakup komoditi karet dan kelapa sawit. Luas komoditi tersebut terus meningkat selama Repelita III. Dalam Repelita III luasnya dibawah 10 ribu ha. Dalam Repelita IV dan tahun pertama Repelita V jumlah tersebut telah jauh dilampaui. Meningkatnya luas tanaman perkebunan tersebut menunjukkan bahwa di dalam pembangunan transmigrasi sudah semakin terkait usaha pengembangan perkebunan.

TABEL XII - 25 LUAS PRODUKSI TANAMAN KERAS DAERAH TRANSMIGRASI, 1978/79 - 1989/90 (ha)

1978/79 Komoditi (Akhir Repelita II)

1983/84 (Akhir Repelita III)

1989/90 (Akhir (Tahun Pertama Repelita IV) Repelita V)

1988/89

Kelapa

20

1.197

40.688

41.105 22.090

Cengkeh

40

3.614

21.209

Kopi

120

741

4.583

5.681

Perkembangan populasi ternak besar dan sedang selama Repelita II, III, IV dan tahun pertama Repelita V terus meningkat (Tabel XII-26). Populasi ternak besar dan sedang seperti sapi, kerbau dan kambing selama Repelita II adalah 10 ekor untuk setiap 1.000 kepala keluarga. Jumlah ini meningkat terus sehingga pada tahun pertama Repelita V telah mencapai 500 ekor. Sedangkan populasi unggas pertumbuhannya turun naik dipengaruhi oleh iklim. Ternak unggas sangat r e n t a n t erhadap penyakit. 588

TABEL XII - 26 POPULASI TFRNAK DAERAH TRANMIGRASI UNTUK SETIAP 1.000 KK, 1973/74 - 1989/90 (ekor) 19 73 /7 4 (Akhir Repelita I) 1 97 8/ 79 (Akhir Repelita II) 1983/84 (Akhir Repelita III)

J e n i s

19 88 /8 9 (Akhir Repelita IV)

1989/90 (Tahun Pertama Repelita V)

1. T e r n a k b e s a r d a n s e d a n g (Sapi, Kerbau dan Kambing)

10

210

214

455

512

2. T e r n a k U n g g a s (Ayam dan Itik)

3.150

4.890

3. 67 9

9.745

5.751

589

3. Peningkatan Kegiatan Koordinasi Usaha pembangunan di bidang transmigrasi pada umumnya mempunyai kaitan yang luas. Oleh karena itu pelaksanaannya memerlukan koordinasi secara lintas sektoral serta lintas regional sejak tahap persiapan sampai dengan tahap pelaksanaan. Usaha untuk meningkatkan koordinasi tersebut terus dilakukan selama Repelita I sampai dengan tahun pertama Repelita V. Dalam Repelita III telah dikeluarkan Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 1984. Keputusan tersebut mengatur koordinasi lintas sektoral baik antar sektor dan antar daerah maupun antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah mulai dari tahap perencanaan sampai dengan pengawasan. Dalam Keppres tersebut juga dipertegas bahwa penyelenggaraan transmigrasi merupakan tugas dan tanggung jawab Menteri Transmigrasi yang pelaksanaannya dilakukan secara terpadu dan terkoordinasi dengan Departemen dan Lembaga Pemerintah lainnya yang lingkup tugas dan fungsinya berkaitan dengan penyelenggaraan transmigrasi. Keputusan Presiden tersebut dipertegas lagi dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah. Kedua keputusan tersebut membelikan dukungan yang kuat untuk lebih meningkatkan koordinasi dan keterpaduan dengan instansi-instansi yang mempunyai tugas kegiatan yang langsung berkaitan dengan penyelenggaraan transmigrasi.

590