Anda di halaman 1dari 7

Naldo Sofian, 0806451473 1 Laporan Tugas Mandiri 1 Modul Saraf dan Jiwa Hubungan Antara Stress Emosional dan

Kejadian Syncope Oleh Naldo Sofian, 0806451473 A. Pengantar Seseorang dapat mengalami berbagai perubahan dalam berbagai aspek fisiologis tubuh saat mengalami suatu perubahan yang terkait dengan kesehatan mental mereka. Hal tersebut tentunya terkait dengan berbagai perubahan dalam pusat emosional yang diteruskan melalui persarafan yang ada sehingga termanifestasi pada berbagai organ lain sebagai bentuk adaptasi tubuh. Dalam bahasan kali ini, penulis akan melihat secara khusus mengenai pingsan (syncope)1 serta hubungan terjadinya dengan stress emosional. B. Isi 1. Syncope a. Definisi dan Jenis Secara sederhana, syncope dapat diartikan sebagai pingsan atau hilangnya kesadaran sementara waktu yang disebabkan oleh iskemia serebral umum .1 Definisi lain menyebutkan bahwa Syncope is defined as a transient, self-limited loss of consciousness with an inability to maintain postural tone that is followed by spontaneous recovery. 2 Namun Perlu diperhatikan pula keadaan utama dari syncope ini adalah terjadinya hipoperfusi serebral. 3 Jenis-jenis dari syncope spontan itu sendiri terbagi menjadi beberapa jenis: a. Cardiac syncope Pada kasus tersebut, terdapat dua penyebab: aritmia dan penyakit strukturalnya.. Adapun aritmia yang tersering berbentuk takikardia maupun bradikardia. Keduanya sama-sama menyebabkan penurunan curah jantung sehingga menyebabkan syncope. Pada kasus lain seperti atrioventricular dan sinoatrial block, aliran darah masih dapat mengalir selama adanya perbedaan tekanan. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. 3 b. Reflex syncope Syncope tersebut mengacu pada sekumpulan kondisi dimana mekanisme efektor dari sistem kardiovaskular yang normalnya berfungsi mengatur sirkulasi, berubah menjadi overaktif sehingga menyebabkan vasodilatasi dan/atau bradikardia. Hal tersebut kemudian menyebabkan timbulnya penurunan tekanan darah dan perfusi serebral. 3

Naldo Sofian, 0806451473

Naldo Sofian, 0806451473 2 Laporan Tugas Mandiri 1 Modul Saraf dan Jiwa c. Syncope karena Hipotensi Ortostatik3 Pada keadaan tersebut, penyebab utamanya adalah kegagalan dari sistem saraf otonom untuk beradaptasi terhadap stress yang memang berlebihan (contohnya seperti berdiri terlalu lama, suhu ekstrim, Adaptasi yang gagal tersebut tercermin pada lemahnya vasokonstriksi dan banyaknya darah yang tertampung di dalam vena. 3 Ada pula syncope yang diinduksi. Metode-metode yang memungkinkan terjadinya hal tersebut terdiri antara lain:3

Naldo Sofian, 0806451473

Naldo Sofian, 0806451473 3 Laporan Tugas Mandiri 1 Modul Saraf dan Jiwa

b. Urutan Manifestasi Klinis3 Urutan gejala klinis yang muncul menjelang syncope dapat digambarkan sebagai berikut

Ada pun pada keadaan syncope tersebut dapat terjadi perubahan sebaga berikut: 1. Penurunan respons yang dapat diperiksa melalui respons verbal 2. Nystagmus, mata tetap terbuka, 3. Pernafasan tetap normal pada beberapa detik pertama, namun pada kasus asistol, pernafasan dapat berhenti sekitar 40 detik kemudian. Hal tersebut menunjukkan bahwa batang otak lebih resisten terhadap keadaan iskemi daripada korteks serebri 4. Kekakuan pada tubuh atau myoclonic jerks

Naldo Sofian, 0806451473

Naldo Sofian, 0806451473 4 Laporan Tugas Mandiri 1 Modul Saraf dan Jiwa

Gambar 1. Grafik EEG saat syncope oleh karena asistole3 Sesudah syncope, dapat pula terjadi 1. Apneu oleh karena darah masih berada dalam keadaan deoxygenated 2. Flushing sebagai bentuk perbaikan sirkulasi darah segera oleh adanya overshoot dari tekanan arteri 3. Epileptic seizure (Jarang terjadi. Biasanya pada anak)

Naldo Sofian, 0806451473

Naldo Sofian, 0806451473 5 Laporan Tugas Mandiri 1 Modul Saraf dan Jiwa 2. Stress Emosional dan Hubungannya Dengan Penyakit Fisik Secara umum, respons terhadap stress dapat muncul dalam bentuk respons fisiologis berikut ini:5 1. Neurotransmitter response5 a. Peningkatan sintesis norepinefrin otak b. Peningkatan turnover serotonin yang dapat menurunkan serotonin c. Peningkatan transmisi dopaminergic 2. Endocrine response5 a. Pelepasan ACTH sehingga merangsang kortisol adrenal b. Penurunan testosteron pada stress berkepanjangan c. Penurunan hormon tiroid 3. Immune Response5 a. Pada stress akut, dapat mengaktivasi sistem imun melalui peningkatan sitokin b. Pada stress kronik, jumlah dan aktivitas natural killer cells berkurang Keterangan: Neurotransmitter response - Banyak bentuk stressor yang meningkatkan produksi norepinefrin, di locus ceruleus otak dan menyebabkan pelepasan katekolamin dari sistem saraf otonom. Hal tersebut terjadi dengan didahului peningkatan tirosin hidroksilase. - Peningkatan turnover serotonin rupanya dapat terjadi dengan menggunakn glukokortikoid sebagai efek penguatnya, tetapi efek tersebut mungkin berbeda karena baru diketahui demikian pada reseptor 5-HT2 yang dapat memperkuat aktivitas sistem saraf pusat. Stress dapat pula meningkatkan jalur dopaminergic melalui jalur mesoprefrontal. - Melalui sistem saraf simpatis, melepaskan norepinefrin dan neuropeptide Y. Ada pula yang bersambung denga kelenjar adrenal sehingga menyebabkan pelepasan epinefrin. Endocrine Response Stress merangsang pelepasan corticotropin releasing hormone (CRH). CRH akan dilepaskan dari hipotalamus menuju aliran darah dalam hipofisis. Adrenocorticotropin hormone (ACTH) akan dilepaskan ke dalam aliran sistemik tubuh. Sesampainya di korteks adrenal, ACTH akan menstimulasi produksi glukokortikoid yang secara umum berguna untuk meningkatkan penggunaan energy, aktivitas kardiovaskular untuk respons fight or fligt, dan inhibisi fungsi (pertumbuhan, reproduksi, dan imunitas) Ada pula beberapa substansi yang dapat memicu pelepasan glukokortikoid dengan mem-bypass sekresi CRH, seperti katekolamin, vasopressin, dan oksitosin.

Dalam hubungannya dengan psychophysiology, terjadi beberapa perubahan dalam tubuh yang dapat menyebabkan efek secara sistemik. Dasar dari pernyataan tersebut adalah adanya stressor, baik fisik maupun emosi, yang dapat merubah set point dalam berbagai Naldo Sofian, 0806451473

Naldo Sofian, 0806451473 6 Laporan Tugas Mandiri 1 Modul Saraf dan Jiwa refleks homeostasis di dalam tubuh. Dasar-dasar tersebut termasuk pula mekanisme adaptasi terhadap stressor serta kemampuan kembali ke keadaan normal. Kegagalan melakukan hal tersebut dapat menyebabkan disregulasi, termasuk sistem persarafan otonom. 4 Pada saat marah, misalnya, perubahan tersebut antara lain: a. Sympatethic Arousal b. Peningkatan perbandingan norepinefrin dengan epinefrin c. Peningkatan vasokonstriksi d. Peningkatan lipid serum, LDL e. Penurunan IL-10 dan peningkatan ekspresi TNFf. Peningkatan inflamasi Contoh tersebut memang menyebutkan adanya perubahan dari faktor-faktor yang umumnya kita ketahui sebagai pathogenesis dari suatu penyakit. Pada kenyataannya, tidak semua keadaan tersebut memicu timbulnya penyakit secara langsung. Namun, stress lebih bersifat sebagai pemicu dari penyakit yang bersifat laten atau subklinis. 6 Contoh dari penyakit-penyakit yang dapat dipicu oleh stress antara lain berupa angina, aritmia, asma, penyakit pada jaringan ikat (SLE, rheumatoid arthritis), sakit kepala, hipertensi, sindrom hiperventilasi, inflammatory bowel diseases, ulcerative colitis, neurodermatitis, obesitas, osteoarthritis, peptic ulcer disease, Raynaud disease, syncope, hypotension, urticaria, dan angioedema.4

Gambar 2. Sitokin pada saat respons stress6 Naldo Sofian, 0806451473

Naldo Sofian, 0806451473 7 Laporan Tugas Mandiri 1 Modul Saraf dan Jiwa

C. Penutup Suatu hal dikategorikan sebagai stress tergantung dari persepsi masing-masing individu. Selain itu, efeknya pada homeostasis tubuh juga bersifat individual karena setiap orang mempunyai kerentanan tersendiri pada salah satu atau beberapa organ akibat efek stress tersebut. Jadi, stress tidak dapat dikatakan sebagai penyebab primer, tetapi stress merupakan penguat efek patologis yang sudah timbul pada pasien. Oleh karena itu, pada pemicu ini perlu diketahui terlebih dahulu apa penyakit yang sedang dideritanya. D. Daftar Pustaka 1. Kumala P, Komala S, Santoso AH, Sulaiman JR, Rienita Y. Kamus saku kedokteran Dorland. Terjemahan dari Dorland s pocket medical dictionary. Edisi ke-25. Jakarta: EGC.p1041, 1995. 2. Morag R. Syncope [Online]. Emedicine. October 22th, 2010. [Cited December 1st, 2010]. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/811669-overview 3. Wieling W, Thijs RD, Dijk N, Wilde AAM, Benditt DG, Dijk JG. Symptoms and signs of syncope: a review of the link between physiology and clinical clues. Brain [Online] 2009; 113. July 8th, 2009 [Cited Desember 1st, 2010]. Available at: http://brain.oxfordjournals.org/content/early/2009/07/08/brain.awp179.full 4. Lehrer P. Anger, stress, dysregulation produces wear and tear on the lung. Thorax [Editorial] 2006; 61:833-4. [Cited December 1st, 2010]. Available at: 5. Sadock BJ, Sadock VA. Psychosomatic disorder. In: Kaplan and Sadock s pocket handbook of clinical psychiaty. 4th Ed. Philadelphia: LWW. p256-7, 2005. 6. Dimsdale JE, Irwin M, Keefe FJ, Stein MB. Stress and psychiatry. In: Sadock BJ, Sadock VA, Kaplan and Sadock s comprehensive textbook of psychiaty. 8th Ed. Philadelphia: LWW. p2180-4, 2005.

Naldo Sofian, 0806451473