Anda di halaman 1dari 3

KASUS-KASUS YANGMENGILUSTRASIKAN KEWAJIBAN KEPADA KLIEN Kasus pertama berkaitan dengan kelalaian. 1136 Tenants Corp V.

Max Rothenberg & Co (1971) Gugatan kerugian disebabkan oleh kegagaalan tergugat untuk menemukan adanya penggelapan senilai lebih dari $110.000 yang dilakukan oleh Riker, salah seorang staf manajemen penggugat. Secara lisan Riker telah menugaskan Rothenberg dengan imbalan tahunan sebesar $600. Pengadilan menyimpulkan bahwa tergugat ditugaskan untuk melakukan suatu prosedur audit secara terbatas, seperti memeriksa rekening bank, faktur dan tagihan. Kenyataannya, salah satu kertas kerja CPA yang berjudul Missing Invoices menunjukkan adanya pembayaran lebih dari $40.000 yang tidak memiliki dokumen pendukung. CPA tidak memberitahukan penggugat tentang faktur-faktur ini serta tidak melakukan upaya untuk mendapatkannya. Pengadilan juga menyimpulkan akibat kelalaian CPA dalam melaksanakan jasa, timbul kerugian sebesar $237.000. Kasus diatas seringkali digunakan untuk menunjukkan pentingnya memiliki kontrak tertulis (engagement letter) untuk setiap perikatan professional. Selain itu yang menjadi pokok masalah adalah kelalaian CPA untuk memberitahu klien tentang adanya kecurangan yang dilakukan oleh karyawan klien, tanpa memandang jenis jasa yang diberikan.

Kasus kedua berkaiatan dengan pelanggaran kontrak. Fund of Funds, Ltd V. Arthur Andersen & Co Dalam kasus ini, penggugat menggugat auditor atas pelanggaran kontrak karena auditor lalai mengungkapkan adanya penyimpangan kepada klien sesuai dengan isi surat perikatan yang mewajibkan auditor menyajikan secara spesifik setiap penyimpangan yang muncul. Penyimpangan karena adanya pembebanan lebih stas sebuah kontrak antara penggugat dengan King Resources. Andersen mengakui bahwa ia menemukan adanya pelanggaran kontrak tersebut ketika ia mengaudit King (King Resources juga diaudit Andersen), namun menolak untuk mengungkapkannya kepada Fund of Funds, karena terbentur pada peraturan etika AICPA 301 (di Indonesia kode etik API seksi 140) yang melarang pengungkapan informasi rahasia. Dalam kasus ini jika Andersen menemukan penyimpangan tersebut ketika mengaudit Fund of Funds, maka auditor wajib menyampaikan informasi tersebut kepada kliennya.

KEWAJIBAN KEPADA PIHAK KETIGA Pihak ketiga (Third party) dapat didefinisikan sebagai seseorang yang tidak mengetahui tentang pihak-pihak yang berada di dalam kontrak. Terdapat dua kelompok pihak ketiga yaitu: pemegang hak utama atau primary beneficiary (sesorang yang namanya telah diketahui oleh auditor sebelum audit dilaksanakan sebagai penerima utama laporan auditor. Pemegang hak lainnya (other beneficiary) adalah pihak ketiga yang namanya tidak disebutkan, seperti para kreditor, pemegang saham, dan investor potensial. Kewajiban pada pemegang hak utama Kasus bersejarah yang terjadi pada tahun 1931, Ultramares Corp V. Touche. Touche adalah auditor yang digugat akibat kegagalannya untuk menemukan transaksi fiktif yang menyebabkan terjadinya lebih saji atas aktiva dan ekuitas pemegang saham sebesar $700.000 dalam audit laporan keuangan Fred Stern & Co. setlah menerima laporan keuangan yang telah diaudit tersebut, Ultramares memberikan sejumlah besar pinjaman uang kepada Stern, yang kemudian ternyata tidak mampu mengembalikan pinjaman tersebut, karena memang benar-benar tidak mampu memenuhi kewajiban-kewajibannya. Kemudian Ultramares menggugat kantor CPA yang mengaudit dengan pasal kelalaian dan kecurangan. Pengadilanmenyatakan auditor bersalah atas kelalaian yang diperbuatnya, namun akuntan tidak harus bertanggung jawab kepada pihak ketiga, kecuali kepada pemegang hak utama. Oleh karena itu sebagi pemegang hak utama, Ultramares dapat menggugat dan menerima ganti rugi akibat kelalaian biasa seorang auditor. Kewajiban kepada pemegang hak lainnya Dua ketegori pihak ketiga lainsebagi pemegang hak sebagi berikut:
Golongan yang telah diketahui sebelumnya (foreseen class)

Restatement (second) of Torts 552 ayat (2) memperluas kewajiban auditor kepada sekelompok terbatas orang-orang yang mendapatkan manfaat sebagimana dimaksudkan oleh CPA dengan cara memberikan informasi. Dengan demikian apabila klien menginformasikan kepada CPA bahwa laporan audit akan digunakan untuk mendapatkan pinjaman bank, maka semua bank merupakan pihak yang telah diketahui sebelumnya.
Pihak yang dapat diketahui sebelumnya (foreseeable parties)

Perorangan atau entitas yang diketahui ataupun yang akan diketahui auditor akan mengandalkan laporan audit dalam membuat keputusan bisnis dan investasi digolongkan sebagai pihak-pihak yang dapat diketahui sebelumnya.

JIMY ABADI 040810072