Anda di halaman 1dari 22

Corporate Social Responsibility : Self Regulation atau Mandatory

Oleh : Dr. Busyra Azheri, SH., MH

PENDAHULUAN
CSR bagian dari bentuk long term commitment korpoorasi terhadap perbaikan kualitas hidup lingkungannya baik internal (shareholders dan karyawan) maupun eksternal Salah satu cara dalam mendapatkan ijin sosial bagi kegiatan operasional perusahaan dari masyarakat sekitar menjadi bagian dari strategi bisnis membangun image/citra perusahaan Wacana ini di Indonesia dimulai pada awal 2000 dan semarak lima tahun belakangan ini Implementasi CSR beragam dan utamanya dimotori oleh Industri Ekstraktif

MUNCUL KONTROVERSI
DPR menyepakati adanya ketentuan Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas (UUPT) tanggal 20 Juli 2007 Sebagian pihak berpendapat apabila CSR berlaku wajib: membebani industri menurunkan daya saing menghambat iklim investasi di dalam negeri memincu hekangnya modal dari Indonesia

Maksud pihak regulator Perusahaan tidak hanya mengeksploitasi sumber daya demi mengejar keuntungan ekonomi (minimize loses and maximize profits) saja, tetapi juga tidak mengabaikan pertanggungjawaban sosialnya (Corporate Social Responsibility).

Dikhawatirkan dapat menurunkan ekspor yang berdampak pada meningkatnya angka pengangguran

Dasar Hukum
UUD 1945 Pasal 33 UU No.22/2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi UU No.25/2004 Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional UU No. 25/2007 Tentang Penanaman Modal UU No. 40 /2007 tentang Perseroan Terbatas PERMEN BUMN /No 5/ 2007 Tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara Dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan UU No. 4/2009 Tentang Pokok-Pokok Pertambangan UU No.32/2009 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup DLL

Pasal 74 UU No. 40 Tahun 2007


1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. 2. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran. 3. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 4. Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah

Penjelasan Pasal 74 UU PT:


Ayat (1) Ketentuan ini bertujuan untuk tetap menciptakan hubungan Perseroan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat. Yang dimaksud dengan Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang sumber daya alam adalah Perseroan yang kegiatan usahanya mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam. Yang dimaksud dengan Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya yang berkaitan dengan sumber daya alam adalah Perseroan yang tidak mengelola dan tidak memanfaatkan sumber daya alam, tetapi kegiatan usahanya berdampak pada fungsi kemampuan sumber daya alam. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan adalah dikenai segala bentuk sanksi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang terkait. Ayat (4) Cukup jelas.

Corporate Social Responsibility (Makna Etimologis)


CORPORATE Pelaku/kelompok pemanfaat sumber daya yang memperoses input menjadi output untuk menghasilkan keuntungan SOCIAL Hal-hal yang berkenaan dengan Masyarakat RESPONSIBILITY Tanggung jawab

Ragam Definisi Corporate Social Responsibility


World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) : CSR sebagai suatu komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan, berikut masyarakat setempat (lokal) dan masyarakat secara keseluruhan, dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan

Penjelasan Pasal 15 huruf b UU No 25 Tentang Penanaman Modal

Yang dimaksud dengan tanggung jawab sosial perusahaan adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat.

CSR menurut PER/No 5/ 2007 Tentang Program Kemitraan BUMN Dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan

CSR dalam konteks BUMN dilihat sebagai program-program kemitraan dan bina lingkungan CSR BUMN dalam perspektif kemitraan, adalah program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. CSR BUMN dalam perspektif bina lingkungan, adalah pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN.

Pemaknaan General Konsep CSR


Elemen penting dalam kerangka sustainability, yang mencakup aspek ekonomi, lingkungan dan sosial budaya (triple bottom line). Penting dalam pengelolaan biaya dan keuntungan kegiatan bisnis dengan stakeholders baik secara internal (pekerja, shareholders dan penanam modal) maupun eksternal (kelembagaan pengaturan umum, anggota-anggota masyarakat, kelompok masyarakat sipil dan perusahaan lain)

Corporate social responsibility merupakan suatu elemen yang penting dalam kerangka sustainability (ekonomi, lingkungan dan sosial budaya) Corporate social responsibility : proses penting dalam pengelolaan biaya dan keuntungan kegiatan bisnis dengan stakeholders baik secara internal (pekerja, shareholders dan penanam modal) maupun eksternal (kelembagaan pengaturan umum, anggota-anggota masyarakat, kelompok masyarakat sipil dan perusahaan lain), CSR tidak hanya terbatas pada konsep pemberian donor saja, tapi konsepnya sangat luas dan tidak bersifat statis dan pasif, akan tetapi merupakan hak dan kewajiban yang dimiliki bersama antar stakeholders.

Perkembangan CSR
Australia, dimana sudah ada standarisasi lingkungan hidup, hubungan industrial, HAM maupun CSR Kanada, CSR di atur dan diaplikasikan mengarah pada aspek kesehatan, hubungan industrial, proteksi lingkungan dan penyelesaian permasalahan-permasalahan sosial. Malaysia : CSR di dorong oleh pelaksana bursa Singapore : Ada Singapore compact mengenai CSR Vietnam : 2004 mengadakan evaluasi CSR hasilnya perbaikan kinerja korporasi dan pemerintahan Uni Eropa : Wacana CSR berkembang 4 tahun belakangan ini, berada pada tahapan pemahaman

Kasus Indonesia
Corporate Social Responsibility diaplikasikan pada kegiatan-kegiatan yang menyentuh aspek-aspek sosial, pendidikan, pelatihan keterampilan dan aspek ekonomi

Program Community Development

Skenario Konsep dan Praktek CSR di Indonesia

1. Skenario CSR tidak perlu diatur 2. Skenario CSR perlu di atur

Skenario CSR Tidak Perlu Diatur


CSR berprinsip pada kesukarelaan (voluntary) dan kepedulian, Self Regulation Bagian strategi bisnis perusahaan Etika bisnis corporate citizenship

Pengaturan CSR menjadi tidak relevan, karena dikhawatirkan akan menjadi beban/cost perusahaan dan kontraproduktif dengan iklim investasi kondusif yang menjadi harapan para investor

Skenario CSR perlunya Regulasi


Bentuk internalisasi dari eksternalitas yang ditimbulkan oleh aktivitas usaha perusahaan baik dampak sosial, ekonomi maupun lingkungan

Hal Penting dalam Regulasi CSR


A. Sisi Substansi :

1. CSR merupakan bagian bentuk internalisasi dari ekternalitas perusahaan maka kerangka pengaturannya dengan memperjelas siapa yang terkena dampak ekternalitas wilayah cakupannya, cakupan programnya, bentuk keterlibatan stakeholders serta pendekatan dalam implementasi programnya. 2. Menghindari pengaturan teknis pelaksanaan CSR, karena dikhawatirkan pelaksanaan CSR hanya sebatas formalitas belaka 3. Bahan pertimbangan lainnya adalah bahwa di Indonesia saat ini sudah ada beberapa peraturan yang dapat dijadikan sebagai acuan dasar

B. Sisi Kelembagaan
Adanya berbagai aturan menyangkut CSR di beberapa sektor (UU LH, UU Pertambangan,UU Migas, UU Penanaman Modal, maka sangat dimungkinkan terjadi overleaping/tumpang-tindih kebijakan ) Infrastruktur kelembagaan yang mendukung implementasi dari berbagai aturan (Sejauhmana keterlibatan pemerintah, institusi yang melakukan monitoring, bentuk evaluasi)

ISU YANG TERKAIT DENGAN REGULASI CSR 1. Bagaimana CSR dimaknai oleh setiap stakeholders. 2. Jenis kegiatan industri yang melakukan CSR (skala usahanya, industri yang wajib melakukan CSR dan yang tidak wajib) 3. Menyangkut biaya apakah pengalokasiannya di alokasikan dari biaya keuntungan ataukah biaya operasional perusahaan. 4. Ruang lingkup kegiatan, hal ini terkait kepada pendefinisian pelaksanan CSR di Indonesia 5. Sanksi, (bentuk sangsi, bukti materiil yang dijadikan dasar pemberian sangsi, lembaga yang memberikan sangsi, pencabutan sangsi)

Catatan Akhir
Konsep CSR masih dipahami berbeda oleh Stakeholders terutama di dalam pengimplementasiannya apakah mandatory atau voluntary Dalam perspektif etika bisnis maka CSR harusnya menjadi bagian dari corporate culture dan corporate values sehingga kemudian CSR menjadi self regulation dalam korporat Pelaksanaan CSR adalah merupakan suatu wujud apresiasi dalam penciptaan kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan Pentingnya kesepahaman pandangan tentang konsep dan bentuk CSR yang akan dijalankan

Terima Kasih