Anda di halaman 1dari 37

TUGAS MATA KULIAH MANAJEMEN INVESTASI

ANALISIS FUNDAMENTAL DAN NILAI INTRINSIK SAHAM

Oleh:

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI 28

KONSENTRASI MANAJEMEN KEUANGAN SEKTOR PUBLIK FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA

I. PENDAHULUAN Investasi dalam saham-saham perusahaan merupakan salah satu alternatif yang menarik dibandingkan dengan menyimpan dana di deposito karena saat ini suku bunga deposito berada pada tingkat yang rendah sementara saham dapat memberikan keuntungan yang cukup tinggi baik dari deviden maupun kenaikan harga saham itu sendiri (capital gain). Namun demikian, sebagaimana falsafah dalam investasi bahwa high risk high return, maka investasi di saham juga mengandung resiko yang cukup tinggi. Oleh karena itu, sebelum melakukan investasi di saham, maka harus terlebih dulu dilakukan analisis terhadap saham perusahaan dan faktorfaktor yang mempengaruhinya. Hal ini dimaksudkan agar keputusan investasi yang dilakukan merupakan keputusan yang tepat sehingga dapat memperoleh return sesuai yang diharapkan dan menghindari terjadinya kerugian. Analisis saham perusahaan dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain analisis teknikal dan analisis fundamental. Analisis teknikal dilakukan dengan membuat trend harga saham selama beberapa periode sebelumnya dan data tersebut kemudian dipergunakan untuk memprediksikan harga saham periode mendatang. Sedangkan analisis fundamental mencoba memperkirakan harga saham di masa mendatang dengan memperkirakan faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa mendatang. Analisis fundamental dilakukan dengan melakukan analisis kondisi ekonomi makro/pasar, kondisi industri tempat perusahaan bernaung dan kondisi keuangan perusahaan.

28

Analisis fundamental tersebut menjadi dasar untuk menaksir nilai intrinsik (intrinsic value) saham perusahaan dan selanjutnya membandingkannya dengan harga pasar saham tersebut pada saat ini (current market price). Nilai intrinsik menunjukkan present value arus kas yang diharapkan dari suatu saham. Perhitungan nilai intrinsik dilakukan untuk menilai apakah harga suatu saham itu wajar atau dinilai terlalu rendah (under valued) atau dinilai terlalu tinggi (over value), yaitu dengan cara membandingkan nilai intrinsik dengan nilai pasar saham tersebut. Perhitungan ini penting untuk pengambilan keputusan apakah akan membeli atau menjual saham tersebut.

II . ANALISIS EKONOMI MAKRO Kondisi makro ekonomi adalah suatu lingkungan dimana semua perusahaan beroperasi. Kondisi makro ekonomi mempunyai pengaruh yang penting lain:

terhadap

kelangsungan

dan

perkembangan

bisnis

suatu

perusahaan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, anatara Produk Domestik Bruto (PDB), merupakan ukuran dari produksi total barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Pertumbuhan PDB yang pesat menandakan perekonomian yang sedang berkembang sehingga meningkatkan kesempatan bagi perusahaan untuk meningkatkan penjualan dan menaikkan laba.

Inflasi, merupakan tingkat kenaikan barang-barang secara umum di pasar. Tingkat inflasi yang tinggi sering diasosiasikan oleh kejenuhan ekonomi, dimana permintaan atas barang dan jasa melebihi kapasitas produksi yang produktif, yang akan menyebabkan kenaikan harga. mempengaruhi daya beli masyarakat. Apabila inflasi menurun, maka daya beli akan meningkat. Pada saat daya beli masyarakat meningkat, maka jumlah konsumsi jasa telekomunikasi juga akan meningkat

28

Nilai kurs berpengaruh terhadap industri yang mempunyai pinjaman luar negari atau melakukan transaksi ekspor dan impor. Sebagian peralatan yang digunakan dalam industri telekomunikasi di Indonesia masih diimpor dari luar negeri, sehingga perubahan kurs akan berpengaruh terhadap biaya produksinya.

Pertumbuhan penduduk mengambarkan kenaikan potensi pasar atas produk-produk yang dihasilkan oleh industri.

Analisis kondisi ekonomi makro adalah sebagai berikut:


1.

Pertumbuhan ekonomi Setelah terpuruk pada tahun 1997 karena krisis ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan yang positif sejak tahun 1999 . Selanjutnya perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan yang fluktuatif sampai tahun 2001, namun mulai akhir 2001 menunjukkan trend pertumbuhan yang meningkat. Pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun 2004 adalah sebesar 5,13 % dan tingkat pertumbuhan s.d triwulan I tahun 2005 adalah sebesar 6 %. Pada tahun 2005 diprediksikan ekonomi akan mengalami pertumbuhan sebesar 5.5 6 %. Namun karena adanya kebijakan pemerintah untuk melakukan penghematan pemakaian bahan bakar minyak terkait dengan harga minyak yang melambung tinggi, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di bawah target yang diprediksikan. Grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah sebagai berikut

Trend pertumbuhan ekonomi yang cukup baik ini berdampak positif bagi peningkatan daya beli dan pertambahan produksi, termasuk untuk industri telekomunikasi.

28

2.

PDB (Produk Domestik Bruto) PDB merupakan salah satu variabel yang sering digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi. Angka PDB menunjukkan jumlah total barang dan jasa yang diproduksi dalam negeri. Sejak tahun 2000 PDB Indonesia mengalami trend yang terus naik sampai sekarang. Kalau pada periode Maret 2000 PDB Indonesia (triwulanan) sebesar Rp 324.232 miliar , pada bulan Maret 2005 PDB Indonesia telah mencapai Rp 639.748 miliar. Lonjakan PDB yang cukup besar terjadi pada tahun 2004. Hal ini menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi yang cukup baik dan optimisme di masa depan terhadap pemulihan perekonomian Indonesia setelah krisis tahun 1997. Perkembangan PDB Indonesia periode 2000-2005 adalah sebagai berikut:

3.

Inflasi Pada bulan Januari 2003 tingkat inflasi adalah sebesar 8,68 % dan kemudian mengalami trend penurunan sampai dengan periode Februari 2004 yaitu sebesar 4,60 %. Sejak Februari 2004 sampai dengan Mei 2005 inflasi mengalami trend meningkat , untuk periode bulan Desember 2004 inflasi mencapai 6.4 % dan pada bulan Mei 2005 menjadi 7.40 % . Tingkat inflasi tertinggi terjadi pada Maret 2005, yaitu sebesar 8,81 % yang antara lain disebabkan karena kebijakan pengurangan subsidi BBM oleh pemerintah sehingga mengakibatkan harga BBM naik yang diikuti kenaikan harga-harga umum. Perkembangan tingkat inflasi di Indonesia pada tahun 2003 -2005 adalah sebagai berikut:

4.

Kurs

28

Kur mata uang rupiah terhadap US dollar mengalami fluktuasi selama periode 20032005. Mulai awal 2003 sampai dengan Mei 2004, kurs masih berada di bawah level Rp 9.000. Namun setelah itu, kurs berada di atas angka Rp 9.000 dan mengalami trend naik yang pada akhir 2004 mencapai Rp 9.290 dan pada bulan Juli (14/7) mencapai Rp 9.815. Kurs yang cenderung meningkat ini tentunya akan mempengaruhi biaya perusahaan, khususnya untuk perusahaan export-import, perusahaan yang struktur modalnya diperoleh dari hutang luar negeri dan perusahaan yang dalam operasionalnya membutuhkan bahan baku maupun perlengkapan dari luar negeri. Perkembangan kurs mata uang rupiah terhadap dollar Amerika untuk periode 2003 s.d 2005 adalah sebagai berikut:

5.

Jumlah penduduk Jumlah penduduk Indonesia cukup besar dan mengalami trend pertumbuhan meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 1990 penduduk Indonesia adalah 179.5 juta dan pada tahun 2002 sudah mencapai 212 juta. Perkembangan penduduk di Indonesia untuk periode 1990-2002 adalah sebagai berikut:

28

Jumlah penduduk Indonesia yang besar tersebut menjadi potensi pangsa pasar bagi produk-produk industri telekomunikasi. Berdasarkan data ekonomi makro seperti tersebut di atas, yaitu dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 % , peningkatan PDB dan pertumbuhan penduduk, diharapkan industri telekomunikasi pada tahun 2005 juga mengalami pertumbuhan. Namun biaya untuk melakukan bisnis juga meningkat karena inflasi yang meningkat dan melemahnya mata uang rupiah terhadap USD. Industri jaringan telekomunikasi diperkirakan tidak akan mengalami pertumbuhan penjualan sekitar 20-25 persen seperti tahun 2000 atau 2001. Dengan skenario perbaikan daya beli masyarakat yang perlahan, pertumbuhan penjualan sekitar 10 persen untuk tahun 2005 mungkin lebih realistis. Dengan perbaikan daya beli masyarakat yang perlahan, kemampuan perusahaan untuk menaikkan harga jual sangatlah terbatas. Hal ini karena industri telekomunikasi lebih mementingkan pertumbuhan volume penjualan sehingga konsumsi masyarakat dapat terus meningkat. Seiring dengan meningkatnya inflasi pada tahun 2005, maka biaya untuk melakukan bisnis (cost of doing business) juga akan mengalami peningkatan. Dengan demikian, faktor pertumbuhan penjualan dan biaya akan saling meng-offset satu dengan yang lain. Pertumbuhan penjualan untuk 2005 mungkin tak terlalu tinggi seperti tahun-tahun sebelumnya. Jadi, diperkirakan pertumbuhan laba (profit, yang diukur dari laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi/EBITDA) untuk perusahaan-perusahaan telekomunikasi berada pada kisaran 10-15 persen untuk 2005. III. ANALISIS INDUSTRI PERTAMBANGAN Indonesia selama ini terkenal memiliki variasi dan potensi cadangan mineral yang cukup diperhitungkan dunia. Tapi sayangnya minat investor asing untuk berinvestasi rendah. Untuk itu, keberlangsungan industri dan profesi pertambangan di Indonesia di masa depan tampaknya perlu dipertanyakan.

28

Keengganan para investor asing untuk berinvestasi terlihat dari 235 Kontrak Karya (KK) pertambangan yang telah ditandatangani di Indonesia ternyata hanya 35 (15%) yang ditindaklanjuti sampai berproduksi. Padahal, sektor industri pertambangan merupakan mesin pertumbuhan eknomi yang handal, terutama bagi Kawasan imur Indonesia (KTI) yang mempunyai comparative advantage di bidang ini. Kondisi industri pertambangan di tanah air belakangan terlihat suram. Keberlangsungan industri dan profesi pertambangan di Indonesia pada masa depan tampaknya perlu dipertanyakan. Selain karena banyaknya proyek tambang yang ditutup akibat cadangannya telah habis, banyak kebijakan industri pertambangan di tanah air yang tumpang tindih, tidak jelas serta sering berubah-ubah sehingga menurunkan kepercayaan dunia terhadap iklim usaha pertambangan di Indonesia Padahal, menduduki "Lihat ton sekitar Sedangkan kedua dengan di sementara saja yang pada 1967-1998 pertama tembaga nomor satu juta emas, dengan 74 Indonesia potensi juta misalnya, penghasil kita di Asia, ton," menduduki ton ketiga per per di tahun. Indonesia mineral sebesar juga di 32,18 nikel tercatat Asia. juta yang

peringkat cadangan 6,5 untuk Asia produksi batubara merupakan

katanya. peringkat tahun, Asia *

3.370 peringkat ton

menduduki

28

IV. ANALISIS PERUSAHAAN Analisis kondisi 2 perusahaan yang bergerak di industri pertambangan, yaitu PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk dan PT Indosat, Tbk dilakukan melalui analisis terhadap laporan keuangan perusahaan, baik Laporan Posisi Keuangan maupun Laporan Rugi Laba, dan selanjutnya dilakukan perhitungan beberapa ratio yang signifikan mempengaruhi kemampuan perusahaan memperoleh laba . A. PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA TBK
1.

Laporan Keuangan Ringkasan Laporan Posisi Keuangan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (dalam miliar rupiah)

28

Ringkasan Laporan Laba Rugi PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (dalam miliar rupiah)

28

Perubahan Komposisi Kepemilikan Saham PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

28

2.

Ringkasan Indikator Fundamental RATIO Ratio 2003 8,942 11,170 80,05% 8,942 154 687 8,101 11,170 72,52% 15,141 154 98 27,116 50,283 Ratio 2004 Perubahan

Likuiditas Current assets Current liabilities Current Ratio Current assets Persediaan Aktiva lancar lainnya Quick assets Current liabilities Quick Ratio Rasio Aktivitas COGS Persediaan Inventory turnover Pendapatan usaha Total assets 28

9,204 11,677 78,82% (1,23%) 9,204 203 750 8,251 11,677 70,66% (1,86%) 20,021 203 99 (1) 33,948 56,269

Total asset turnover Piutang usaha Pendapatan Usaha per hari Average collection priod Persediaan Pendapatan Usaha per hari Days to sell inventory Leverage Total Kewajiban Total assets Total debt to total assets Total Kewajiban Ekuitas Total debt to Equity EBIT Interest Expense Times Interest Earned Profitabilitas Laba Bersih Pendapatan usaha Net profit margin Laba Bersih Total assets Return on assets Laba Bersih Ekuitas Return on equity Laba Usaha Pendapatan usaha Operating Margin After Depreciation Market Price Harga pasar saham Earning per share Price to earnings Harga pasar saham Book value per saham Market to book value
3.

0,54 2,833 74 38,13 154 74 2,07 29,262 50,283 58,19% 29,262 21,021 139,20% 12,834 1,383 927,98% 6,087 27,116 22,45% 6,087 50,283 12,11% 6,087 21,021 28,96% 11,975 27,116 44,16% 3,375 301.95 11,18 6,750 2,085.42 3,24

0,60 0,06 3,319 93 35,69 (2,44) 203 93 2,18 0,11 31,069 56,269 55,22% (2,97%) 31,069 25,200 123,29% (15,91) 13,358 1,270 1051,81% 123,83 6,129 33,948 18,05% (4,4%) 6,129 56,269 10,89% (1,22%) 6,129 25,200 24,32% (4,64%) 13,927 33,948 41,02% (3,14%) 4,825 304.03 15,87 4,69 4,825 1,250.12 3,86 0,62

Analisis Indikator Fundamental


a.

Likudiditas Perusahaan

28

Likuiditas perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan melaksanakan operasinya dalam jangka pendek, seperti membayar biaya opersional, kewajiban jangka pendek, dan membayar dividen tunai. Nisbah lancar sebesar 80,05% dan 78,82 menunjukkan bahwa aktiva lancar PT Telkom hanya mampu mencover 0,80 kali hutang hutang lancarnya pada tahun 2003 dan 0,78 kali hutang kewajiban lancarnya pada tahun 2004. Bila kita perhatikan ada sedikit penurunan kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban lancarnya. Kemudian apabila kita lihat rasio cepatnya (Quick ratio) yaitu kemampuan perusahaan melunasi kewajiban lancarnya dari aktivanya yang paling lancar (yaitu kas dan setara kas, surat berharga, piutang) maka perusahaan hanya mampu mengcover 0,73 kali hutang lancarnya pada tahun 2003 dan 0,71 kali pada tahun 2004. Sama halnya dengan rasio lancar, rasio cepat perusahaan juga mengalami sedikit penurunan.
b.

Rasio Aktivitas Periode perputaran persediaan perusahaan sangat bagus yaitu 98 kali dalam setahun pada tahun 2003 dan 99 kali selama tahun 2004 atau rata-rata perputaran persediaan tidak sampai 4 hari. Perputaran persediaan dari tahun 2003 ke tahun 2004 juga menunjukkan adanya perbaikan sedikit yaitu sebesar 1 kali. Tidak sama dengan rasio perputaran persediaan, rasio perputaran aktiva perusahaan sangat kecil yaitu hanya 0,54 kali pada tahun 2003 dan 0,60 pada tahun 2004. Ini dikarenakan umumnya aktiva perusahaan yaitu lebih dari 80% merupakan aktiva tidak lancar. Walaupun demikian, rasio perputaran aktiva perusahaan menunjukkan perbaikan sedikit di tahun 2004 dibanding tahun 2003. Rata-rata periode pengumpulan piutang perusahaan masih di atas 2 bulan yaitu rata-rata 38 hari pada tahun 2003 menjadi 36 hari pada tahun 2004. Data yang ada menunjukkan adanya perbaikan periode pengumpulan piutang sekitar 2 hari. Sejalan dengan perputaran persediaan yang tinggi, waktu untuk menjual persediaan juga sangat cepat yaitu hanya 2 Days to sell inventory

c.

Leverage

28

Pembiayaan perusahaan yang berasal dari utang lebih dominan daripada modal sendiri. Dari seluruh pembelanjaan perusahaan selama tahun 2003, kreditur menyediakan 58,19% atau persentase utang adalah 139,2% dari modal sendiri. Sedangkan selama tahun 2004 kreditur menyediakan sebesar 55,22% dari seluruh total pembelanjaan atau 123,29 dari seluruh modal sendiri. Akan tetapi terdapat sedikit penurunan pembiayaan dari utang pada tahun 2004 dibanding tahun 2003. Walaupun begitu, tingkat pembayaran pinjaman sangat aman yakni 9,3 kali pada tahun 2003 dan 10,51 kali pada tahun 2004. Berarti juga terdapat peningkatan tingkat pembayaran bunga pinjaman selama tahun 2004.
d.

Profitabilitas Umumnya tingkat profitabilias perusahaan menurun selama tahun 2004 dibandingkan selama tahun 2003. Tingkat pengembalian dari modal sendiri lebih dari 2 kali tingkat pengembalian obligasi yang berkisar antara 9,5% - 14% yaitu 28,96% pada tahun 2003 dan 24,32% pada tahun 2005. Sedangkan, tingkat pengembalian dari total aktiva hanya sebesar 12,11% selama tahun 2003 dan 10,89% selama tahun 2004. Tingkat pengembalian ini umumnya setara dengan tingkat pengembalian dari obligasi yang berkisar antara 9,5% 14%. Penurunan karena return rata-rata utang yang lebih rendah dari return ratarata modal sendiri.

e.

Market Price Ratio Harga pasar saham dibanding laba per lembar saham pada tahun 2004 masih lebih baik daripada pada tahun 2003 yaitu terjadi peningkatan nilai pasar saham dibanding laba per lembar sebesar 4,69. Demikian juga halnya harga pasar saham dibanding nilai bukunya menunjukkan adanya perbaikan sedikit yakni sebesar 0,62.

B. PT INDOSAT, tbk

28

1.

Laporan Rugi Laba

PT. INDOSAT , TBK CONSOLIDATED STATEMENTS OF INCOME Naik (turun) (%) 28.10 24.24 37.77 321.33 30.87 14.90 82.08 50.17 -4164.14 -100.00 11.11 -73.15 -73.28 -73.27

2003 8,235,26 7 5,887,37 2 2,347,89 5 43,693 -838,666 -794,973 33,771 1,586,69 3 17,828 4,499,94 7 -22,497 6,081,97 1 1,174.69 1,173.21

2004 10,549,07 0 7,314,361 3,234,709 184,091 -1,097,531 -913,440 61,489 2,382,758 -724,554

Operating Revenue Operating Expenses OPERATING INCOME Other income (expenses) Financing cost Other ExpensesNet Equity in net Income of Associated Companies INCOME BEFORE INCOME TAX AND EXTRAORDINARY ITEM Income Tax Benefit (Expense)Net Extra Ordinary Item Minority Interest in Net Income NET INCOME BASIC EARNINGS PER SHARE DILUTED EARNINGS PER SHARE BASIC EARNINGS PER ADS (50 B shares per ADS) DILUTED EARNINGS PER ADS

-24,996 1,633,208 313.91 313.63

58,734.6 3 58,660.7 7

15,695.59 15,681.59

-73.28 -73.27

28

a.

Analisa Tren

Perkembangan Penjualan Penjualan atau operating revenue PT Indosat pada tahun 2004 meningkat sebesar 28,10 % jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama berasal dari penjualan atau jasa telepon selular.

Laba Operasi Laba operasi Indosat tahun 2004 meningkat sebesar 37,77 % dari tahun 2003

Income before Tax and extra ordinary item Income before Tax and extra ordinary item tahun 2004 meningkat sebesar 50,17 % jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

b.

Ratio Profitabilitas 2004

P r o f i t a b i l i t a s 1 . N e t p r o f

2003 After EOI

Before EOI

28

i t m a r g i n : Laba Bersih Pendapatan usaha NPM 2 . R e t u r n o n a s s e t s : Laba Bersih Total assets ROA 3 . R e t u r 6,081,97 1 26,059,19 2 23.34% 1,582,024 26,059,192 1,633,20 8 6,081,97 1 8,235,267 73.85% 1,633,20 1,582,024 8 8,235,267 10,549,070 19.21% 15.48%

27,872,467 6.07% 5.86%

28

n o n e q u i t y : Laba Bersih Ekuitas ROE 4 . O p e r a t i n g M a r g i n Laba Usaha Pendapatan usaha OM 2,347,895 8,235,267 28.51% 2,347,895 3,234,709 8,235,267 10,549,070 28.51% 30.66% 6,081,97 1 12,187,00 7 49.91% 1,582,024 12,187,007 12.98% 1,633,20 8 13,349,042 12.23%

Operating Margin Ratio PT Indosat tahun 2004 mengalami peningkatan sebesar 2,15% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sedangkan Net Profit Margin Ratio, ROA, dan ROE mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal tersebut tertutama disebabkan karena pada tahun 2003 PT Indosat mengakui

28

Pendapatan Luar Biasa sebesar Rp 4.499,9 miliar (SAK 38) yang berasal dari realisasi pendapatan yang sebelumnya dilaporkan dalam neraca sebagai Difference in Value from Restructuring Transactions of Entities under Common Control yang berasal dari cross-ownership transactions dengan Telkom. Tetapi jika dihitung sebelum Pendapatan Luar biasa maka Net Profit Margin Ratio, ROA, dan ROE sedikit menurun.
2.

Laporan Posisi Keuangan PT INDOSAT Tbk CONSOLIDATED BALANCE SHEETS 2003 2004 Naik (turun) (%)

A SS E TS C U R R E N T A SS E TS Ca sh an d ca sh eq ui val ent s Sh

4,509,508 65,437

3,993,585 1,377

-11.44 -97.90

28

ort ter m in ve st me nts Ac co un ts rec eiv abl e 1,232,106 Trade Others In ve nt ori es Ot he r As set Ad va nc es Pr ep aid tax es Pr ep aid ex pe ns es Ot 84,088 1,310,613 18,348 -78.18

120,099

113,684

-5.34

2,102

36,476

88,064

141.43

1,266,636

661,655

-47.76

123,360 23,381

254,155 24,874

106.03 6.39

28

he r cu rre nt ass ets To tal Cu rre nt As set s N O NC U R R E N T A SS E TS Du e fro m rel ate d pa rti es De fer re d tax ass ets net 28

7,461,091

6,468,457

-13.30

33,432

47,953

43.43

136,637

33,204

-75.70

In ve st me nts in ass oci ate d co m pa nie s Ot he r lo ng ter m in ve st me nts Pr op ert y an d eq ui p me nt Go od wi ll an d ot he r 28

191,616

33,134

-82.71

191,269

102,157

-46.59

14,093,127 3,344,939

17,243,176 3,012,578

22.35 -9.94

int an gi ble ass ets net Lo ng ter m rec eiv abl es Lo ng ter m pr ep aid pe nsi on net of cu rre nt po rti on Lo ng ter m ad va nc es Ot he 28

132,156

129,671

-1.88

136,650

180,183

31.86

93,829 244,446

290,801 331,153

209.93 35.47

rs To tal No ncu rre nt As set s T O T A L A SS E TS LI A BI LI TI ES A N D ST O C K H O L D E R S E Q UI T Y C U 28

18,598,101

21,404,010

15.09

26,059,192

27,872,467

6.96

3,426,581

4,660,892

36.02

R R E N T LI A BI LI TI ES N O NC U R R E N T LI A BI LI TI ES T O T A L LI A BI LI TI ES MI N O RI T Y IN TE R ES 28

10,445,604

9,862,533

-5.58

13,872,185 147,125

14,523,425 164,450

11.78

T ST O C K H O L D E RS E Q UI T Y T O T A L LI A BI LI TI ES A N D ST O C K H O L D E R S E Q UI T Y

12,039,882

13,184,592

9.51

26,059,192

27,872,467

6.96

28

a.

Likuiditas Perusahaan

Cur rent ratio : Current assets Current liabilities 1. Current Ratio Quic k Rati o: Current assets Persediaan Aktiva lancar lainnya Quick assets Current liabilities 2. Quick Ratio

2003 7,461,09 1 3,426,58 1 217.74%

2004 6,468,457 4,660,892 138.78%

7,461,09 1 6,468,457 120,099 113,684 1,449,8 1,030,8 53 50 5,891,13 9 5,323,923 3,426,58 1 4,660,892 171.92% 114.23%

Likuiditas perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan melaksanakan operasinya dalam jangka pendek, seperti membayar biaya opersional, kewajiban jangka pendek, dan membayar dividen tunai. Ratio lancar sebesar 217.74% dan 138.78% menunjukkan bahwa aktiva lancar PT Indosat mampu mencover 2,17 kali hutang hutang lancarnya pada tahun 2003 dan 1,38 kali hutang kewajiban lancarnya pada tahun 2004. Bila kita perhatikan ada penurunan kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban lancarnya. Kemudian apabila kita lihat rasio cepatnya (Quick Rasio) yaitu kemampuan perusahaan melunasi kewajiban lancarnya dari aktivanya yang paling lancar (yaitu kas dan setara kas, surat berharga, piutang) maka perusahaan mampu mengcover 1,71 kali hutang lancarnya pada tahun 2003 dan 1,14 kali pada tahun 2004. Sama halnya dengan rasio lancar, rasio cepat perusahaan juga mengalami penurunan.

28

b. Ratio

aktivitas:

Inve ntor y turn over : Sales Persediaan Inventory Turnover Tota l asset turn over : Pendapatan usaha Total assets AT Ave rage colle ctio n prio d: Piutang usaha Pendapatan Usaha per hari ACP Day s to sell inve ntor y: Persediaan Pendapatan Usaha per hari DSI

2003 8,235,267 120,099 69

2004 10,549,070 113,684 93

2,347,895 3,234,709 26,059,1 27,872,46 92 7 0.09 0.12

1,232,106 1,310,613. .0 0 6,433 8,862 192 148

120,099 6,433 19

113,684 8,862 13

28

Periode perputaran persediaan perusahaan cukup bagus yaitu 69 kali dalam setahun pada tahun 2003 dan 93 kali selama tahun 2004 atau rata-rata perputaran persediaan tidak sampai 5 hari. Perputaran persediaan dari tahun 2003 ke tahun 2004 juga menunjukkan adanya perbaikan sedikit yaitu sebesar 1,3 kali. Tidak sama dengan rasio perputaran persediaan, rasio perputaran aktiva perusahaan sangat kecil yaitu hanya 0,09 kali pada tahun 2003 dan 0,12 pada tahun 2004. Ini dikarenakan umumnya aktiva perusahaan yaitu lebih dari 80% merupakan aktiva tidak lancar. Walaupun demikian, rasio perputaran aktiva perusahaan menunjukkan perbaikan sedikit di tahun 2004 dibanding tahun 2003. Rata-rata periode pengumpulan piutang perusahaan masih di atas 5 bulan yaitu rata-rata 192 hari pada tahun 2003 menjadi 148 hari pada tahun 2004. Data yang ada menunjukkan adanya perbaikan periode pengumpulan piutang sekitar 44 hari. Sejalan dengan perputaran persediaan yang tinggi, waktu untuk menjual persediaan juga sangat cepat yaitu dari 19 hari pada tahun 2003 menjadi 13 hari pada tahun 2004.
c.

Market Price

M a r k e t P r i c e P r i c e t o

2003

2004

28

e a r n i n g s : Harga pasar saham Earning per share PE R M a r k e t t o b o o k v a l u e : Harga pasar saham Book value per saham Market To Book Value 3,040 2,350.88 1.29 5,750 2,575.04 2.2 3 3,040 305.56 9.95 5,750 304.03 18.91

PER dan Market To Book Value PT Indosat memiliki kecenderungan melonjak Hal ini berarti investor menghargai perusahaan jauh lebih tinggi dari kemampuannya menghasilkan laba. V. Perhitungan Nilai Intrinsik SAHAM

28

Nilai intrinsik menunjukkan present value arus kas yang diharapkan dari suatu saham. Present value dilakukan dengan menggunakan tingkat bunga yang layak, yaitu sebesar tingkat bunga yang bebas risiko (risk free) ditambah dengan premi atas risiko (risk premium). Perhitungan nilai intrinsik ini penting untuk melihat apakah suatu saham itu dinilai terlalu rendah, terlalu tinggi atau wajar jika dibandingkan dengan nilai pasar saham tersebut saat ini. Perhitungan tersebut penting untuk pengambilan keputusan apakah saham perlu dibeli atau dijual. Patokan yang dapat dipergunakan adalah sebagai berikut:

Jika nilai intrinsik > harga pasar saat ini, maka saham tersebut dinilai under valued (terlalu rendah) sehingga layak dibeli atau ditahan jika saham tersebut telah dimiliki.

Jika nilai intrinsik < harga pasar saat ini, maka saham tersebut dinilai over valued (terlalu mahal) sehingga layak dijual. Jika nilai intrinsik = harga pasar saat ini , maka saham tersebut dinilai wajar dan berada dalam kondisi keseimbangan. Penilaian intrinsik saham dapat dilakukan dengan beberapa model penilaian

misalnya metode present value atas deviden, metode price earnings ratio (PER), metode price to book, metode price to cash flow, dan metode price to sales. Dalam paper ini, akan digunakan pendekatan atau metode kapitalisasi penghasilan (pendekatan present value) dengan asumsi tingkat pertumbuhan yang tetap (constant growth). Metode ini mencoba menaksir nilai suatu saham pada saat ini dengan menggunakan tingkat bunga tertentu dan arus kas yang diharapkan akan diterima oleh pemegang saham. Jadi, nilai intrinsik suatu saham adalah nilai sekarang arus kas yang diharapkan akan diterima, yang dirumuskan sebagai berikut: di mana: r CF = tingkat bunga yang layak, dalam hal ini adalah biaya ekuitas (cost of equity) yang ditanggung oleh perusahaan atau disebut juga ke. = Cash Flow dari suatu saham bisa berasal dari dividen dan juga hasil penjualan saham itu sendiri:

28

Dengan asumsi pertumbuhan yang tetap maka rumus di atas menjadi: di mana: D0 = dividen saat ini g k = constant perpetual growth rate = required return

Asumsi yang digunakan:

Tingkat pertumbuhan Industri telekomunikasi merupakan industri yang masih terus tumbuh (Growth) dan belum mencapai tahap mature, sehingga tingkat pertumbuhannya pada masa mendatang diasumsikan akan konstan dengan tingkat pertumbuhan sebesar 10 %. Tingkat pertumbuhan sebesar 10 % tersebut kami anggap cukup realistis mengingat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan mencapai sekitar 5%, sementara prospek industri telekomunikasi ke depan masih cukup cerah sehingga pertumbuhannya akan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi.

Required return (k) Return yang diharapkan (k) dihitung dengan menggunakan rumus Required Rate of Returnnya dari Model CAPM sebagai berikut: E (Ri) = Rf + (E (Rm Rf)) Rf = Risk free, dihitung berdasarkan tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (jangka waktu 1 bulan per 13 Juli 2005) yaitu sebesar 8,50 % = merupakan ukuran sensitivitas saham terhadap fluktuasi pasar (IHSG) yang dihitung dengan menggunakan persamaan regresi antara perubahan harga saham perusahaan (closing price) dengan perubahan IHSG berdasarkan data mingguan selama periode 1 Januari 2004 s.d Mei 2005. untuk Telkom = 0,877 untuk Indosat = 0,7 Risk Premium = Rm Rf

28

Berdasarkan Credit Rating Indonesia yaitu BB-, maka perkiraan country risk premiumnya adalah sebesar 5.5 %
A.

NILAI INTRINSIK SAHAM TELKOM Dividen yang dibagikan oleh PT Telekomunikasi Indonesia selama 5 tahun terakhir mulai tahun 2000 adalah sebagai berikut: 2000 2001 201,80 210,82 104,47% -4,47% 44,80% -2,00% 2002 398,80 331,16 83,04% 16,96% 55,00% 9,33% 2003 301,95 301,95 100,00 % 0,00% 35,20% 0,00% 2004 Rata-

EPS (Rp) Dividen (Rp) Dividen payout rate Retention rate ROE Growth

137,65 88,16 64,05 % 35,95 % 19,20 % 6,90%

rata 304,03 268,846 7.112 233,0225 2339,24% 2239,24% 30,30% -678,49% 87,89% 12,11% 38,55% 3,56%

Kalau kita melihat trend pembagian dividen 5 tahun terakhir ini, terlihat kecenderungan peningkatan tetapi peningkatan di tahun 2004 kelihatan sangat tidak normal (outlier) sehingga tidak dimasukkan dalam perhitungan rata-rata. Sedangkan tingkat bunga yang diharapkan (required return) dari investasi saham PT Telkom adalah : E (R) = Rf + (Rm-Rf) E (R) = 8.5 % + 0,877 (5,5%) = 13,3235 % sehingga k = 13,3235 % Dengan demikian nilai intrinsik saham PT Telkom dengan required return (k) sebesar 13,3235%, dan asumsi pertumbuhan rata-rata sebesar 10% adalah:

28

Berdasarkan hasil perhitungan nilai intrinsik saham PT Telkom dibandingkan dengan nilai pasar saham PT Telkom di akhir tahun 2004 yaitu Rp5,100 maka berarti nilai intrinsik saham telkom lebih tinggi dari harga pasarnya. Oleh karena itu direkomendasikan untuk tetap mempertahankan saham Telkom yang kita miliki atau membeli saham Telkom yang ada di pasar.

B.

NILAI INTRINSIK SAHAM INDOSAT Dividen yang dibagikan oleh PT Indosat selama 3 tahun terakhir mulai tahun 2003 adalah sebagai berikut: Deviden 2001 122,14 35 % 2002 112,24 (8,1%) 40 % 2003 29,23 (73,95%) 45% 2004 145,55 397% 48% Rata-rata 102,29 104,98%

Dividen (Rp) Pertumbuhan/Penurunan Payout ratio

Sedangkan pergerakan laba bersih per saham (EPS) adalah sebagai berikut: EPS EPS (Rp) Pertumbuhan/Penuruna n 2001 280,60 2002 2003 2004 65,51 305,17 313,91 (76,6%) 369% 2,86 %

Catatan EPS tahun 2003 tidak termasuk extra ordinary item, jika termasuk extra ordinary item maka EPS menjadi sebesar 1.174,69 Prediksi pertumbuhan deviden (growth): Pembayaran deviden dari tahun 2001 sampai dengan 2004 sangat berfluktuasi, oleh karena itu jika berdasarkan realisasi pembayaran tahun-tahun sebelumnya sulit diprediksikan pertumbuhan pembayaran deviden (g). Tetapi payout ratio (ratio pembayaran deviden berdasarkan EPS) pertumbuhannnya relatif stabil berkisar antara 5 % dan 3 %. Oleh karena itu pembayaran deviden

28

tahun mendatang (D1), relatif dapat diprediksikan berdasarkan payout ratio dan EPS tahun 2004. Payout ratio 2005 = 50 % D1 (2005) = 50% x EPS 2004 = 50% x 313,91 = 156,95 Growth = (156,95-145,95)/145,95 = 7,8 % Required Rate of Return Saham Indosat E (Ri) Jadi = Rf + (E (Rm Rf) = 8,5+ 0,7 (5,5%) = 12,35% k = 12,35 % 2 0 0 1 2 8 0 , 6 0 1 2 2 , 1 4 3 5 % 6 2 0 0 2 6 5 , 5 1 1 1 2 , 2 4 4 0 % 6 2 0 0 3 3 0 5 , 7 1 2 9 , 2 3 4 5 % 5

2004

D1

EPS

313,91 145,55

Dividen

156,95 48% 50% 52%

Payout ratio Plowback Ratio (b)

28

5 % 3 . 1 7 %

ROE Growth

0 % 1 3 . 7 0 %

5 % 1 2 . 9 8 %

12.23% 7,8%

Dengan asumsi pertumbuhan konstan sebesar 7,8%, deviden (D0) Rp 145,55 dan k =12,35%, maka nilai intrinsik saham Indosat adalah: Vo = 145,55 (1+7,8%)/(12,35%-7,8%) = 156,95/4,55% = 3.449,45

Jika dibandingkan dengan harga saham sekarang sebesar Rp 5.200,00, maka berarti nilai intrinsik saham tersebut lebih rendah daripada harga pasarnya, sehingga direkomendasikan untuk dijual.

Sumber Data:
1. 2.

Laporan Tahunan 2004 PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. http://www.telkom.co.id/infoterkini/view_news.asp?id=1025&newscat=

http://www.telkom.co.id/infoterkini/view_news.asp?id=1333&newscat= 3. Laporan Tahunan 2004 PT Indosat 4. Data Statistik BI 5. Data BPS

28