Anda di halaman 1dari 912

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI NO. 1 (REVISI 1998) PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN

KEUANGAN

Paragraf-paragraf yang dicetak dengan huruf tebal dan miring (bold italic) adalah paragraf standar, yang harus dibaca dalam konteks dengan paragraf-paragraf penjelasan serta Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk hal-hal yang tidak material.
Pe n d a h u l u a n Pemahaman dan dapat dibandingkannya laporan keuangan antar perusahaan akan semakin meningkat apabila laporan keuangan disajikan dalam format yang seragam dan menggunakan deskripsi yang sama untuk pospos yang sejenis. Namun demikian dalam kenyataannya keseragaman tersebut mungkin sulit diterapkan bahkan dapat menghalangi perusahaan untuk memberikan informasi yang relevan bagi pengguna laporan sesuai dengan kondisi masing-masing perusahaan. Pernyataan ini dimaksudkan untuk meningkatkan mutu laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan melalui: a) b) penerapan persyaratan dalam PSAK termasuk persyaratan pengungkapan; pemberian pedoman struktur laporan keuangan termasuk persyaratan minimum dari setiap komponen utama laporan, kebijakan akuntansi dan catatan atas laporan keuangan; penetapan persyaratan praktis untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan Materialitas, Kelangsungan Usaha, Pemilihan Kebijakan Akuntansi dalam hal tidak ada pengaturan oleh PSAK, Konsistensi dan Penyajian Informasi Komparatif.

c)

Tu j u a n Tujuan pernyataan ini adalah menetapkan dasar-dasar bagi penyajian

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

1.1

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statements) yang selanjutnya disebut Laporan Keuangan agar dapat dibandingkan baik dengan laporan keuangan perusahaan periode sebelumnya maupun dengan laporan keuangan perusahaan lain. Pengakuan, pengukuran dan pengungkapan transaksi dan peristiwa tertentu diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi terkait. Ruang Lingkup

01 Pernyataan ini diterapkan dalam penyajian laporan keuangan untuk tujuan umum yang disusun dan disajikan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan.
02 Laporan keuangan untuk tujuan umum adalah laporan keuangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna laporan. Laporan keuangan untuk tujuan umum termasuk juga laporan keuangan yang disajikan terpisah atau yang disajikan dalam dokumen publik lainya seperti laporan tahunan atau prospektus. Pernyataan ini berlaku pula untuk laporan keuangan konsolidasian. 03 Pernyataan ini menggunakan terminologi yang cocok bagi perusahaan yang berorientasi profit. Organisasi Nirlaba dan perusahaan lainnya yang akan menerapkan standar ini mungkin perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap deskripsi beberapa pos yang terdapat dalam laporan keuangan dan istilah laporan keuangan itu sendiri serta dapat pula menyajikan komponen-komponen tambahan dalam laporan keuangannya. 04 Pernyataan ini menggantikan PSAK 1 tentang Pengungkapan Kebijakan Akuntansi dan PSAK 9 tentang Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek. Tujuan Laporan Keuangan

05 Tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-

1.2

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, suatu laporan keuangan menyajikan informasi mengenai perusahaan yang meliputi: a) aktiva; b) kewajiban; c) ekuitas; d) pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian; dan e) arus kas. Informasi tersebut diatas beserta informasi lainnya yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas pada masa depan khususnya dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas. Tanggung Jawab Atas Laporan Keuangan

06 Manajemen perusahaan bertanggungjawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan perusahaan. Komponen Laporan Keuangan

07 Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponenkomponen berikut ini: a) neraca, b) laporan laba-rugi, c) laporan perubahan ekuitas, d) laporan arus kas, dan e) catatan atas laporan keuangan.
Informasi Tambahan

08 Perusahaan dianjurkan untuk menyajikan telaahan keuangan yang menjelaskan karakteristik utama yang mempengaruhi kinerja keuangan, posisi keuangan perusahaan dan kondisi ketidakpastian 09 Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

1.3

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting. Penyajian Secara Wajar

10 Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, perubahan ekuitas, dan arus kas perusahaan dengan menerapkan PSAK secara benar disertai pengungkapan yang diharuskan PSAK dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Informasi lain tetap diungkapkan untuk menghasilkan penyajian yang wajar walaupun pengungkapkan tersebut tidak diharuskan oleh PSAK. 11 Apabila PSAK belum mengatur masalah pengakuan, pengukuran, penyajian atau pengungkapan dari suatu transaksi atau peristiwa, maka penyajian secara wajar dapat dicapai melalui pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi yang sesuai dengan paragraf 14 serta menyajikan jumlah yang dihasilkan sedemikian rupa sehingga memberikan informasi yang relevan, andal, dapat dibandingkan dan dapat dipahami.
12 PSAK dimaksudkan agar laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja dan arus kas sehingga tujuan laporan keuangan tersebut dapat tercapai. PSAK mungkin tidak mengatur pengungkapan informasi tertentu padahal pengungkapan informasi tersebut diperlukan guna menyajikan laporan keuangan secara wajar. Dalam hal tersebut maka perusahaan harus memberikan tambahan pengungkapan informasi yang relevan sehingga laporan keuangan dapat disajikan secara wajar. 13 Kecepatan inovasi dalam dunia bisnis sering mengakibatkan belum diaturnya suatu transaksi atau peristiwa dalam PSAK. Dalam kondisi tersebut, penyajian secara wajar laporan keuangan dapat dicapai dengan memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi sesuai dengan paragraf 14 serta menyajikan informasi menggunakan konsep yang terdapat dalam kerangka dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. Kebijakan Akuntansi

14

Manajemen memilih dan menerapkan kebijakan akun-

1.4

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

tansi agar laporan keuangan memenuhi ketentuan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Jika belum diatur dalam PSAK, maka manajemen harus menetapkan kebijakan untuk memastikan bahwa laporan keuangan menyajikan informasi: a) relevan terhadap kebutuhan para pengguna laporan untuk pengambilan keputusan; dan b) dapat diandalkan, dengan pengertian: i) mencerminkan kejujuran penyajian hasil dan posisi keuangan perusahaan; ii) menggambarkan substansi ekonomi dari suatu kejadian atau transaksi dan tidak semata-mata bentuk hukumnya; iii) netral yaitu bebas dari keberpihakan; iv) mencerminkan kehati-hatian; dan v) mencakup semua hal yang material.
15 Kebijakan akuntansi adalah prinsip khusus, dasar, konvensi, peraturan dan praktik yang diterapkan perusahaan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan. 16 Apabila belum ada pengaturan oleh PSAK, maka manjemen menggunakan pertimbangannya untuk menetapkan kebijakan akuntansi yang memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan. Dalam melakukan pertimbangan tersebut manajemen memperhatikan: a) persyaratan dan pedoman Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang mengatur hal-hal yang mirip dengan masalah terkait; b) definisi, kriteria pengakuan dan pengukuran aktiva, kewajiban, penghasilan dan beban yang ditetapkan dalam kerangka dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan; dan c) pernyataan yang dibuat oleh badan pembuat standar lain dan praktik industri yang lazim sepanjang konsisten dengan huruf a dan b paragraf ini. Kelangsungan Usaha

17 Laporan keuangan harus disusun berdasarkan asumsi kelangsungan usaha. Apabila laporan keuangan tidak disusun berdasarkan asumsi kelangsungan usaha maka kenyataan tersebut harus diungkapkan bersama dengan dasar lain yang digunakan dalam

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

1.5

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

penyusunan laporan keuangan serta alasan mengapa asumsi kelangsungan usaha perusahaan tidak dapat digunakan.
18 Manajemen bertanggung jawab untuk mempertimbangkan apakah asumsi kelangsungan usaha masih layak digunakan dalam menyiapkan laporan keuangan. Dalam mempertimbangkan apakah dasar asumsi kelangsungan usaha dapat digunakan, manajemen memperhatikan semua informasi masa depan yang relevan paling sedikit untuk jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca. Tingkat pertimbangan tergantung pada kasus demi kasus. Apabila selama ini perusahaan menghasilkan laba dan mempunyai akses ke sumber pembiayaan maka asumsi kelangsungan usaha mungkin dapat disimpulkan tanpa melalui analisis rinci. Dalam kasus lain, manajemen perlu memperhatikan faktor yang mempengaruhi profitabilitas masa kini maupun masa yang akan datang, jadual pembayaran utang dan sumber potensial pembiayaan pengganti sebelum dapat menyimpulkan bahwa asumsi kelangsungan usaha dapat digunakan. Dasar Akrual

19 Perusahaan harus menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas.
20 Dalam akuntansi akrual, aktiva, kewajiban, ekuiti, penghasilan dan beban diakui pada saat kejadian bukan saat kas atau setara kas diterima dan dicatat serta disajikan dalam laporan keuangan pada periode terjadinya. Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungan langsung antara biaya yang timbul dengan pos penghasilan tertentu yang diperoleh. Proses yang biasanya disebut pengkaitan biaya dengan pendapatan (matching concept) melibatkan secara bersamaan atau gabungan penghasilan dan beban yang dihasilkan secara langsung dan bersamasama dari transaksi atau peristiwa lain yang sama. Misalnya berbagai komponen beban yang membentuk harga pokok penjualan diakui pada saat yang sama dengan pengakuan penghasilan yang diperoleh dari penjualan barang yang bersangkutan. Namun demikian penggunaan konsep matching tidak memperkenankan pengakuan pos dalam neraca yang tidak memenuhi kriteria pengakuan aktiva dan kewajiban. Beban segera diakui dalam laporan laba-rugi kalau pengeluaran tidak menghasilkan manfaat ekonomi masa depan atau sepanjang manfaat ekonomi masa depan tidak lagi memenuhi syarat untuk diakui dalam neraca sebagai aktiva.

1.6

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

Konsistensi

Penyajian

21 Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus konsisten kecuali: a) terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi perusahaan atau perubahan penyajian akan menghasilkan penyajian yang lebih tepat atas suatu transaksi atau peristiwa; atau b) perubahan tersebut diperkenankan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan.
22 Akusisi atau pelepasan yang signifikan atau kajian ulang terhadap penyajian laporan keuangan mungkin akan menghasilkan kesimpulan bahwa laporan keuangan harus disajikan secara berbeda. Namun demikian perubahan penyajian dapat dilaksanakan apabila manfaat perubahan tersebut jelas atau struktur yang baru mempunyai kecenderungan akan dipergunakan seterusnya. Apabila dilakukan perubahan penyajian laporan keuangan, perusahaan harus mengklasifikasi ulang informasi komparatif sesuai dengan paragraf 28. Materialitas dan Agregasi

23 Pos-pos yang material disajikan terpisah dalam laporan keuangan sedangkan yang tidak material digabungkan dengan jumlah yang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis.
24 Laporan keuangan merupakan hasil dari proses atas sejumlah transaksi yang diklasifikasikan sesuai sifat atau fungsinya. Tahap akhir dari proses penggabungan saldo dan pengklasifikasian adalah penyajian dalam laporan keuangan atau catatan atas laporan keuangan. Jika suatu klasifikasi pos tidak material maka dapat digabungkan dengan pos lain yang sejenis dalam laporan keuangan atau catatan atas laporan keuangan. Suatu pos mungkin tidak cukup material untuk disajikan terpisah dalam laporan keuangan tetapi cukup material untuk disajikan terpisah dalam catatan atas laporan keuangan. Informasi dianggap material jika dengan tidak diungkapkannya informasi tersebut dapat mempengaruhi pengguna laporan dalam pengambilan keputusan ekonomi. Untuk menentukan materialitas suatu pos maka besaran dan sifat unsur tersebut harus dianalisis dimana masing-masing dapat menjadi faktor penentu.

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

1.7

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

Saling

Hapus

( Offsetting )

25 Aktiva, kewajiban, Pos-pos penghasilan dan beban disajikan secara terpisah kecuali saling hapus diperkenankan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan.
26 Saling hapus akan mempengaruhi pemahaman pengguna laporan terhadap suatu transaksi yang telah dilakukan dan mempengaruhi penilaian pengguna laporan atas arus kas perusahaan pada masa depan kecuali mencerminkan substansi transaksi atau peristiwa,. Aktiva yang dilaporkan sebesar nilai setelah dikurangi dengan penyisihan tidak termasuk kategori saling hapus. 27 Dalam aktivitas normal, perusahaan juga melakukan transaksi-transaksi lain yang bukan merupakan penghasil utama pendapatan dan bersifat insidentil. Hasil dari transaksi tersebut disajikan dengan mengurangkan setiap pendapatan dengan beban yang berkaitan sepanjang penyajian tersebut menggambarkan substansi transaksi atau peristiwa tersebut. Contoh: a) keuntungan dan kerugian atas pelepasan aktiva tidak lancar termasuk investasi dan aktiva operasional dilaporkan dengan mengurangkan penerimaan dengan nilai tercatat dan beban yang timbul akibat pelepasan aktiva tersebut; b) pengeluaran yang diganti berdasarkan perjanjian kontrak dengan pihak ketiga disajikan sebesar nilai setelah dikurangi dengan penggantian yang diterima; dan c) pos luar biasa disajikan sebesar nilai setelah dikurangi pajak terkait dan hak minoritas sedangkan nilai bruto disajikan pada catatan atas laporan keuangan. Informasi Komparatif

28 Informasi kuantitatif harus diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya kecuali dinyatakan lain oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya diungkapkan kembali apabila relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan.

1.8

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

29 Pada beberapa kasus, informasi naratif yang disajikan pada laporan keuangan periode sebelumnya masih releven untuk diungkapkan pada periode berjalan. Misalnya rincian tentang sengketa hukum yang dihadapi, dimana hasil akhirnya belum diketahui secara pasti pada periode sebelumnya dan masih dalam proses penyelesaian, perlu diungkapkan kembali pada periode berjalan. Pengguna laporan akan memperoleh manfaat dari informasi adanya ketidakpastian pada tanggal neraca sebelumnya dan langkah-langkah yang telah dilakukan pada periode berjalan untuk mengatasi ketidakpastian tersebut.

30 Apabila penyajian atau klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan diubah maka penyajian periode sebelumnya direklasifikasi untuk memastikan daya banding. Sifat, jumlah serta alasan reklasifikasi harus diungkapkan. Apabila reklasifikasi tersebut tidak praktis dilakukan maka alasannya harus diungkapkan.
31 Terdapat suatu keadaan dimana reklasifikasi guna menjaga daya banding informasi komparatif dengan informasi pada periode berjalan tidak praktis dilakukan, misalnya pada periode sebelumnya data dikumpulkan sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan dilakukan reklasifikasi serta tidak praktis untuk menciptakan kembali informasi tersebut. Dalam keadaan demikian maka sifat penyesuaian terhadap informasi komparatif yang seharusnya dilakukan harus diungkapkan. Identifikasi Laporan Keuangan

32 Laporan keuangan diidentifikasikan dan dibedakan secara jelas dari informasi lain dalam dokumen publikasi yang sama.
33 Laporan keuangan sering disajikan sebagai bagian dari suatu dokumen seperti laporan tahunan atau prospektus. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan hanya berlaku untuk laporan keuangan dan tidak berlaku untuk informasi lain yang disajikan dalam laporan tahunan atau dokumen lainnya. Oleh karena itu sangat penting bagi pengguna untuk mampu membedakan laporan yang disusun sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan dari informasi lain yang juga bermanfaat bagi pengguna laporan tetapi tidak perlu disajikan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan.

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

1.9

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

34 Setiap komponen laporan keuangan harus diidentifikasi secara jelas. Disamping itu, informasi berikut ini disajikan dan diulangi, bilamana perlu, pada setiap halaman laporan keuangan: a) nama perusahaan pelapor atau identitas lain; b) cakupan laporan keuangan, apakah mencakup hanya satu entitas atau beberapa entitas; c) tanggal atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan, mana yang lebih tepat bagi setiap komponen laporan keuangan; d) mata uang pelaporan; dan e) satuan angka yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan.
35 Ketentuan paragraf 34 dapat dipenuhi dengan menyajikan judul halaman dan singkatan judul kolom pada setiap halaman laporan keuangan. Diperlukan pertimbangan dalam menentukan cara terbaik dalam menyajikan informasi tersebut diatas. Disamping itu, laporan keuangan sering lebih mudah dipahami dengan cara menyajikan informasi keuangan dalam ribuan, jutaan atau milyaran rupiah. Hal ini dapat diterima sepanjang tingkat ketepatan penyajian diungkapkan dan informasi yang relevan tidak hilang. Periode Pelaporan

36 Laporan keuangan setidaknya disajikan secara tahunan. Apabila tahun buku perusahaan berubah dan laporan keuangan tahunan disajikan untuk periode yang lebih panjang atau pendek dari periode satu tahun maka sebagai tambahan terhadap periode cakupan laporan keuangan, perusahaan harus mengungkapkan: a) alasan penggunaan periode pelaporan selain periode satu tahunan; dan b) fakta bahwa jumlah komparatif dalam laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan tidak dapat diperbandingkan.
37 Dalam keadaan sangat luar biasa, perusahaan mungkin terpaksa atau memutuskan untuk mengubah tanggal neracanya misalnya akibat di akuisisi oleh perusahaan lain yang mempunyai tanggal neraca yang berbeda. Dalam kasus seperti ini, pengguna laporan perlu mengetahui bahwa jumlah yang disajikan pada periode berjalan dan jumlah komparatif

1.10

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

tidak dapat dibandingkan dan alasan perubahan tanggal neraca diungkapkan. Tepat Waktu

38 Manfaat suatu laporan keuangan akan berkurang jika laporan tersebut tidak tersedia tepat pada waktunya. Suatu perusahaan sebaiknya mengeluarkan laporan keuangannya paling lama 4 bulan setelah tanggal neraca. Faktor-faktor seperti kompleksitas operasi perusahaan tidak cukup menjadi pembenaran atas ketidak mampuan perusahaan menyediakan laporan keuangan tepat waktu. NERACA Pembagian Lancar dengan Tidak Lancar Pendek dengan Jangka Panjang. dan Jangka

39 Perusahaan menyajikan aktiva lancar terpisah dari aktiva tidak lancar dan kewajiban jangka pendek terpisah dari kewajiban jangka panjang kecuali untuk industri tertentu yang diatur dalam SAK khusus. Aktiva lancar disajikan menurut ukuran likuiditas sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh temponya. 40 Perusahaan harus mengungkapkan informasi mengenai jumlah setiap aktiva yang akan diterima dan kewajiban yang akan dibayarkan sebelum dan sesudah dua belas bulan dari tanggal neraca.
41 Apabila perusahaan menyediakan barang atau jasa dalam siklus operasi perusahaan yang dapat diidentifikasi dengan jelas, maka klasifikasi aktiva lancar dan tidak lancar serta kewajiban jangka pendek dan jangka panjang dalam neraca memberikan informasi yang bermanfaat dengan membedakan aktiva bersih sebagai modal kerja dengan aktiva yang digunakan untuk operasi jangka panjang. Pengklasifikasian tersebut juga menonjolkan aktiva yang diharapkan akan direalisasi dalam siklus operasi berjalan dan kewajiban yang akan jatuh tempo pada periode yang sama. Informasi tentang tanggal jatuh tempo aktiva dan kewajiban bermanfaat dalam menilai likuiditas dan solvabilitas perusahaan.

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

1.11

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

Aktiva

Lancar

42 Suatu aktiva diklasifikasikan sebagai aktiva lancar, jika aktiva tersebut: a) diperkirakan akan direalisasi atau dimiliki untuk dijual atau digunakan dalam jangka waktu siklus operasi normal perusahaan; atau b) dimiliki untuk diperdagangkan atau untuk tujuan jangka pendek dan diharapkan akan direalisisr dalam jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca; atau c) berupa kas atau setara kas yang penggunaannya tidak dibatasi; Aktiva yang tidak termasuk kategori tersebut diatas diklasifikasikan sebagai aktiva tidak lancar.
43 Siklus operasi perusahaan merupakan rata-rata jangka waktu antara perolehan bahan baku memasuki proses dan realisasinya menjadi kas atau instrumen yang siap dijadikan kas. Aktiva lancar termasuk persediaan dan piutang dagang yang dijual, dikonsumsi dan direalisasi sebagai bagian dari siklus normal operasi perusahaan walaupun aktiva tersebut tidak diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca. Surat berharga diklasifikasikan sebagai aktiva lancar apabila surat berharga tersebut diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca dan jika lebih dari dua belas bulan diklasifikasikan sebagai aktiva tidak lancar. Untuk tujuan pengklasifikasian ini, siklus operasi diasumsikan satu tahun kecuali untuk kegiatan atau industri tertentu dimana jangka waktu yang lebih panjang jelas lebih layak. Kewajiban Jangka Pendek

44 Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek, jika: a) diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal operasi perusahaan; atau b) jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca. Semua kewajiban lainnya harus diklasifikasikan sebagai kewajiban

1.12

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

jangka panjang.
45 Kewajiban jangka pendek dapat diklasifikasikan dengan cara yang serupa dengan aktiva lancar. Beberapa kewajiban jangka pendek seperti utang dagang dan biaya pegawai serta biaya operasi lainnya membentuk sebagian modal kerja yang digunakan dalam siklus operasi normal perusahaan. Pos-pos operasi seperti tersebut diatas diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek walaupun pos-pos tersebut diselesaikan dalam jangka waktu lebih dari dua belas bulan dari tanggal neraca. 46 Kewajiban jangka pendek lainnya lebih sulit untuk dikaitan dengan siklus operasi berjalan meskipun akan jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan sejak tanggal neraca. Misalnya bagian dari kewajiban berbunga (interest-bearing liabilities) yang akan jatuh tempo dalam periode berjalan, cerukan, utang dividen, pajak penghasilan dan utang selain utang dagang. Kewajiban berbunga jangka panjang (interest-bearing liabilities) yang digunakan untuk membiayai modal kerja dan tidak jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan merupakan kewajiban jangka panjang.

47 Kewajiban berbunga jangka panjang tetap diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang, walaupun kewajiban tersebut akan jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan sejak tanggal neraca, apabila: a) kesepakatan awal perjanjian pinjaman untuk jangka waktu lebih dari dua belas bulan; b) perusahaan bermaksud membiayai kembali kewajibannya dengan pendanaan jangka panjang; dan c) maksud tersebut pada huruf (b) didukung dengan perjanjian pembiayaan kembali atau penjadualan kembali pembayaran yang resmi disepakati sebelum laporan keuangan disetujui. Jumlah kewajiban yang dikeluarkan dari penyajian dalam kelompok kewajiban jangka pendek sesuai dengan paragraf ini beserta informasi yang mendukung penyajian tersebut harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
48 Terdapat kewajiban yang akan jatuh tempo dalam siklus operasi tahun berikutnya, diharapkan dapat dibiayai kembali atau diperpanjang kembali sehingga tidak diharapkan adanya penggunaan modal kerja

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

1.13

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

lancar. Kewajiban seperti itu merupakan bagian dari pembiayaan jangka panjang perusahaan dan diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang. Dalam hal tidak terdapat perjanjian mengenai pembiayaan kembali, maka pembiayaan kembali tidak dapat di asumsikan akan terjadi secara otomatis sehingga kewajiban harus diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek. Perjanjian kembali harus secara resmi disepakati sebelum laporan keuangan disetujui yang membuktikan bahwa pada tanggal neraca substansi kewajiban merupakan kewajiban jangka panjang. Informasi yang disajikan dalam Neraca

49 Neraca perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur posisi keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. Neraca, minimal mencakup pos-pos berikut: a) aktiva berwujud; b) aktiva tidak berwujud; c) aktiva keuangan; d) investasi yang diperlakukan menggunakan metode ekuitas; e) persediaan; f) piutang usaha dan piutang lainnya; g) kas dan setara kas; h) hutang usaha dan utang lainnya; i) kewajiban yang diestimasi; j) kewajiban berbunga jangka panjang; k) hak minoritas; dan l) modal saham dan pos ekuitas lainnya. Pos, judul, dan sub-jumlah lain disajikan dalam neraca apabila diwajibkan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan atau apabila penyajian tersebut diperlukan untuk menyajikan posisi keuangan perusahaan secara wajar.
50 Pernyataan ini tidak mengatur susunan atau format mengenai pos-pos yang harus disajikan dalam neraca. Paragraf 49 merupakan suatu daftar pos-pos yang berbeda dalam sifat maupun fungsinya sehingga layak disajikan di neraca secara terpisah. Penyesuaian terhadap pos-pos tersebut diatas meliputi: a) penambahan pos-pos dilakukan jika PSAK mewajibkan penyajian secara terpisah dalam neraca, atau apabila suatu pos sangat ma-

1.14

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

b)

terial sehingga penyajian yang terpisah akan membantu penyajian posisi keuangan secara wajar; istilah yang digunakan dan urutan pos-pos dapat diubah sesuai dengan sifat perusahaan dan transaksinya guna memberikan informasi yang diperlukan bagi pemahaman posisi keuangan perusahaan secara menyeluruh.

51 Pertimbangan apakah pos-pos tambahan disajikan secara terpisah didasarkan atas penilaian dari: a) sifat, likuiditas dan materialitas aktiva. b) fungsi pos-pos tersebut dalam perusahaan. c) jumlah, sifat dan jangka waktu kewajiban. 52 Aktiva dan kewajiban yang berbeda dalam sifat dan fungsi kadang-kadang diukur dengan dasar pengukuran yang berbeda. Misalnya aktiva tertentu dicatat atas dasar biaya perolehan atau penilaian kembali, maka penggunaan dasar pengukuran yang berbeda untuk setiap aktiva mengindikasikan bahwa sifat dan fungsi aktiva tersebut juga berbeda sehingga aktiva tersebut harus disajikan secara terpisah. Informasi Laporan Disajikan di Keuangan Neraca atau di Catatan Atas

53 Perusahaan harus mengungkapkan, di neraca atau di catatan atas laporan keuangan, sub-klasifikasi pos-pos yang disajikan, diklasifikasikan dengan cara yang tepat sesuai dengan operasi perusahaan. Setiap pos di sub-klasifikasikan, jika memungkinkan, sesuai dengan sifatnya; dan jumlah terutang atau piutang pada perusahaan induk, anak perusahaan, perusahaan asosiasi dan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa lainnya diungkapkan secara terpisah.
54 Rincian yang tercakup dalam sub-klasifikasi, di neraca atau di catatan atas laporan keuangan, tergantung pada persyaratan dari PSAK dan materialitas jumlah pos yang bersangkutan. Faktor-faktor yang diuraikan pada paragraf 51 dapat digunakan dalam menentukan dasar bagi subklasifikasi.

55 Perusahaan mengungkapkan hal-hal berikut di neraca atau di catatan atas laporan keuangan:

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

1.15

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

a)

b) c) d)

untuk setiap jenis saham : i) jumlah saham modal dasar; ii) jumlah saham yang diterbitkan dan disetor penuh; iii) nilai nominal saham; iv) ikhtisar perubahan jumlah saham beredar; v) hak, keistimewaan dan pembatasan yang melekat pada setiap jenis saham, termasuk pembatasan atas dividen dan pembayaran kembali atas modal; vi) saham perusahaan yang dikuasai oleh perusahaan itu sendiri atau oleh anak perusahaan atau perusahaan asosiasi; dan vii) saham yang dicadangkan untuk hak opsi dan kontrak penjualan, termasuk nilai dan persyaratannya; penjelasan mengenai sifat dan tujuan pos cadangan dalam ekuitas; penjelasan apakah dividen yang diusulkan tapi secara resmi belum disetujui untuk dibayarkan telah diakui atau tidak sebagai kewajiban; dan jumlah dividen saham preferen kumulatif yang belum diakui.

Perusahaan yang modalnya tidak terbagi dalam saham, seperti persekutuan, mengungkapkan informasi yang setara dengan persyaratan di atas, yang memperlihatkan perubahan dalam suatu periode dari setiap jenis penyertaan serta hak, keistimewaan dan pembatasan yang melekat pada setiap jenis penyertaan.
LAPORAN Informasi LABA Disajikan RUGI dalam Laporan Laba Rugi

56 Laporan laba rugi perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur kinerja keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos berikut: a) pendapatan; b) laba rugi usaha; c) beban pinjaman; d) bagian dari laba atau rugi perusahaan afiliasi dan asosiasi yang diperlakukan menggunakan metode ekuitas;

1.16

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

e) f) g) h) i)

beban pajak; laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan; pos luar biasa; hak minoritas; dan laba atau rugi bersih untuk periode berjalan.

Pos, judul dan sub-jumlah lainnya disajikan dalam laporan laba rugi apabila diwajibkan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan atau apabila penyajian tersebut diperlukan untuk menyajikan kinerja keuangan perusahaan secara wajar.
57 Berbagai kegiatan, transaksi dan peristiwa menghasilkan pengaruh berbeda terhadap stabilitas, risiko dan prediksi. Pengungkapan unsur-unsur kinerja membantu dalam memahami hasil yang dicapai dan dalam menilai hasil yang akan diperoleh pada masa akan datang. Dalam rangka menyajikan laporan laba rugi secara wajar maka dapat dilakukan penambahan pos-pos dan perubahan istilah-istilah yang dipakai serta perubahan urut-urutan dari pos-pos yang terdapat dalam laporan laba rugi. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan penambahan dan perubahan tersebut meliputi materialitas, hakekat dan fungsi dari berbagai komponen pendapatan dan beban. Informasi Disajikan di Laporan Laba Rugi atau di Catatan Atas Laporan Keuangan

58 Perusahaan menyajikan, di laporan laba rugi atau di catatan atas laporan keuangan, rincian beban dengan menggunakan klasifikasi yang didasarkan pada sifat atau fungsi beban di dalam perusahaan.
59 Perusahaan disarankan untuk menyajikan rincian seperti tersebut dalam paragraf 58 di atas pada laporan laba rugi. Pos-pos beban di sub-klasisifikasikan lebih lanjut dalam rangka menonjolkan cakupan komponen-komponen kinerja keuangan yang mungkin berbeda dalam hal stabilitas, potensi menghasilkan laba atau rugi dan prediksi. Informasi tersebut dapat disajikan dengan salah satu dari dua cara. 60 Rincian yang pertama disajikan dengan metode sifat beban. Beban disajikan dalam laporan laba rugi sesuai dengan sifatnya (contoh:

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

1.17

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

penyusutan, pembelian bahan baku, beban transportasi, gaji dan upah, beban iklan) dan tidak dialokasikan menurut berbagai fungsi dalam perusahaan. Metode ini sederhana dan cocok diterapkan pada perusahaan kecil sebab tidak perlu dialokasikan menurut berbagai fungsi dalam perusahaan. Contoh: Pendapatan Pendapatan operasi lain Perubahan persediaan barang jadi dan barang dalam proses Bahan baku yang digunakan Beban pegawai Beban penyusutan dan amortisasi Beban operasi lain Jumlah beban operasi Laba operasi X X X X X X X (X) X

61 Perubahan persediaan barang jadi dan barang dalam proses selama suatu periode menggambarkan penyesuaian terhadap beban produksi yang mencerminkan bahwa produksi meningkatkan jumlah persediaan atau penjualan menurunkan jumlah persediaan barang jadi karena jumlah penjualan melebihi jumlah produksi. 62 Rincian yang kedua disajikan dengan metode beban fungsional atau metode beban pokok penjualan yang mengklasifikasikan beban sesuai dengan fungsinya sebagai bagian dari harga pokok penjualan, kegiatan distribusi atau administrasi. Penyajian dengan metode ini memberikan informasi yang lebih relevan kepada pengguna laporan, namun alokasi biaya ke masing-masing fungsi merupakan proses arbitrase dan membutuhkan banyak pertimbangan. Contoh klasifikasi yang menggunakan metode beban fungsional adalah sebagai berikut:

1.18

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

Pendapatan Beban pokok penjualan Laba kotor Pendapatan operasi lainnya Beban pemasaran Beban administrasi dan umum Beban operasi lain Laba operasi

X (X) X X (X) (X) (X) X

63 Perusahaan yang mengklasifikasikan beban menurut fungsinya harus mengungkapkan informasi tambahan mengenai sifat beban, termasuk beban penyusutan dan amortisasi serta biaya pegawai.
64 Pemilihan metode analisis antara metode harga pokok penjualan dan metode sifat beban tergantung pada faktor historis dan industri serta sifat organisasi. Kedua metode tersebut memberikan indikasi bahwa biaya-biaya dapat berubah, langsung atau tidak langsung, dengan tingkat penjualan atau produksi. Karena masing-masing metode mempunyai manfaat yang berbeda bagi setiap jenis perusahaan maka Pernyataan ini memberikan kebebasan memilih metode yang paling menghasilkan penyajian elemen laporan laba rugi secara wajar. Namun demikian, karena informasi yang disajikan dengan metode sifat beban berguna dalam memprediksi arus kas pada masa depan maka pengungkapan tambahan diperlukan apabila informasi disajikan dengan metode harga pokok penjualan.

65 Perusahaan mengungkapkan dalam laporan laba rugi atau dalam catatan atas laporan keuangan; jumlah dividen per saham yang diumumkan.
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

66 Perusahaan harus menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagai komponen utama laporan keuangan, yang menunjukkan:

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

1.19

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

a) b) c) d) e) f)

laba atau rugi bersih periode yang bersangkutan; setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian beserta jumlahnya yang berdasarkan PSAK terkait diakui secara langsung dalam ekuitas; pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan perbaikan terhadap kesalahan mendasar sebagaimana diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan terkait. transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemilik; saldo akumulasi laba atau rugi pada awal dan akhir periode serta perubahannya; dan rekonsiliasi antara nilai tercatat dari masing-masing jenis modal saham, agio dan cadangan pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan.

67 Perubahan ekuitas perusahaan menggambarkan peningkatan atau penurunan aktiva bersih atau kekayaan selama periode bersangkutan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan dalam laporan keuangan. Laporan perubahan ekuitas, kecuali untuk perubahan yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham seperti setoran modal dan pembayaran dividen, menggambarkan jumlah keuntungan dan kerugian yang berasal dari kegiatan perusahaan selama periode yang bersangkutan LAPORAN ARUS KAS

68 Laporan arus kas disusun berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan terkait. CATATAN Struktur ATAS LAPORAN KEUANGAN

69 Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kas harus berkaitan dengan informasi yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan: a) informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi yang penting;

1.20

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

b) c)

informasi yang diwajibkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan tetapi tidak disajikan di neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas ; informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar.

70 Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen. Catatan atas laporan keuangan juga mencakup informasi yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan serta pengungkapanpengungkapan lain yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar. 71 Dalam rangka membantu pengguna laporan memahami laporan keuangan dan membandingkannya dengan laporan keuangan perusahaan lain, maka catatan atas laporan keuangan umumnya disajikan dengan urutan sebagai berikut: a) pengungkapan mengenai dasar pengukuran dan kebijakan akuntansi yang diterapkan; b) informasi pendukung pos-pos laporan keuangan sesuai urutan sebagaimana pos-pos tersebut disajikan dalam laporan keuangan dan urutan penyajian komponen laporan keuangan; c) pengungkapan lain termasuk kontinjensi, komitmen dan pengungkapan keuangan lainnya serta pengungkapan yang bersifat nonkeuangan. Sistematika struktur dalam catatan atas laporan keuangan agar tetap dipertahankan sepanjang hal tersebut praktis untuk dilaksanakan Penyajian Kebijakan Akuntansi

72 Bagian kebijakan akuntansi dalam catatan atas laporan keuangan menjelaskan hal-hal sebagai berikut: a) dasar pengukuran dalam menyiapkan laporan keuangan; b) kebijakan akuntansi tertentu yang diperlukan guna memahami laporan keuangan secara benar.

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

1.21

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

73 Pengguna laporan perlu mengetahui dasar pengukuran yang digunakan (nilai historis, nilai pasar, nilai realisasi, nilai wajar atau nilai sekarang) sebagai landasan dalam penyiapan laporan keuangan. Apabila lebih dari satu dasar pengukuran digunakan dalam laporan keuangan, maka informasi yang disajikan cukup memadai untuk dapat mengindikasikan aktiva dan kewajiban yang menggunakan dasar pengukuran tersebut. Selanjutnya, dalam menentukan apakah kebijakan akuntansi tertentu harus diungkapkan, manajemen mempertimbangkan apakah pengungkapan tersebut akan membantu pengguna laporan untuk memahami bagaimana transaksi dan peristiwa tercermin di laporan laba rugi dan neraca. Kebijakan akuntansi meliputi, tetapi tidak terbatas pada, hal-hal sebagai berikut: a) pengakuan pendapatan; b) prinsip-prinsip konsolidasi; c) penggabungan usaha; joint venture; d) e) pengakuan beban termasuk metode penyusutan atau amortisasi aktiva berwujud dan aktiva tidak berwujud; f) kapitalisasi biaya pinjaman dan pengeluaran lainnya; g) kontrak konstruksi; h) properti investasi; i) instrumen keuangan dan investasi; j) sewa guna usaha; k) biaya riset dan pengembangan; l) persediaan m) pajak termasuk pajak tangguhan; n) penyisihan; o) biaya manfaat pensiun; p) penjabaran mata uang asing dan hedging; q) definisi segmen usaha dan geografis dan dasar alokasi biaya antar segmen; r) definisi kas dan setara kas; s) akuntansi inflasi; dan t) hibah pemerintah. Pengungkapan Lain

74 Perusahaan mengungkapkan hal-hal berikut ini jika tidak diungkapkan dibagian manapun dari informasi yang dipublikasi-

1.22

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

kan bersama dengan laporan keuangan: a) domisili dan bentuk hukum perusahaan, negara tempat pendirian perusahaan, alamat kantor pusat perusahaan serta lokasi utama bisnis jika berbeda dari lokasi kantor pusat; b) keterangan mengenai hakekat operasi dan kegiatan utama perusahaan; c) nama perusahaan dalam grup, nama perusahaan asosiasi, nama perusahaan induk dan perusahaan holding; d) nama anggota direksi dan komisaris; dan e) jumlah karyawan pada akhir periode atau rata-rata jumlah karyawan selama periode yang bersangkutan. 75 Untuk setiap jenis pinjaman atau penerbitan surat berharga yang bersifat utang dalam mata uang asing, perusahaan harus mengungkapkan informasi berikut ini: a) karakteristik umum dari setiap pinjaman dan surat berharga yang bersifat utang termasuk informasi mengenai suku bunga dan nama kreditur; b) nilai nominal dalam mata uang asing, jangka waktu pinjaman, tanggal jatuh tempo, jadual angsuran atau pembayaran; c) dasar konversi utang menjadi efek lain jika pinjaman dapat di konversi; d) nilai kurs yang digunakan pada tanggal neraca; e) jaminan kredit; f) hal penting lain, misalnya persyaratan kredit tidak dipenuhi. 76 Apabila suatu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan diterapkan sebelum tanggal berlaku efektif dan penerapan lebih dini tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Pernyataan tersebut, maka fakta tersebut harus diungkapkan.
TANGGAL BERLAKU EFEKTIF

77 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan ini berlaku efektif untuk penyusunan dan penyajian laporan keuangan yang mencakup periode laporan yang dimulai tanggal 1 Januari 1999. Penerapan lebih dini dianjurkan.

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

1.23

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

Lampiran Ilustrasi Perubahan Ekuitas

Lampiran ini hanya ilustrasi dan bukan bagian dari Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan ini. Tujuan lampiran ini adalah mengilustrasikan penerapan Pernyataan ini dalam rangka membantu memahami artinya. Urutan penyajian dan deskripsi, bila perlu, dapat diubah sesuai dengan kondisi masing-masing perusahaan agar tercapai penyajian laporan keuangan secara wajar, dengan memperhatikan PSAK terkait.

1.24

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

P ENYAJIAN L APORAN K EUANGAN

PSAK N O . 1 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

PT XYZ dan Anak Perusahaan Laporan Perubahan Ekuitas Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 19-2 (dalam ribuan rupiah)
Modal Saham Saldo per 31/12/19-0 Perubahan kebijakan akuntansi Saldo yang disajikan kembali Selisih revaluasi aktiva tetap Laba Rugi belum direalisasi dari pemilikan efek Selisih kurs Keuntungan/kerugian neto yang tidak diakui pada laporan laba rugi Laba bersih periode berjalan Dividen Penempatan modal saham Saldo per 31/12/19-1 Selisih revaluasi aktiva tetap Laba Rugi belum direalisasi dari pemilikan efek Selisih kurs Keuntungan/kerugian neto yang tidak diakui pada laporan laba rugi Laba bersih periode berjalan Dividen Penerbitan modal saham Saldo per 31/12/19-2 X X Agio Saham X X Selisih Revaluasi X X X (X) (X) Selisih Kurs (X) (X) Saldo Laba X (X) X Jumlah

X (X) X X (X) (X)

(X) X (X)

X X

X X X (X) X (X) (X) X

X X (X) X X (X) X (X)

(X)

(X) X (X)

X X

X X X (X) X

(X) X (X) X X

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

1.25

PSAK no 02

Page 1 of 20

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 2 LAPORAN ARUS KAS

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 2 tentang Laporan Arus Kas disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI PENDAHULUAN Tujuan Ruang Lingkup Kegunaan Informasi Arus Kas Definisi Kas dan Setara Kas PENJELASAN Penyajian Laporan Arus Kas Aktivitas Operasi Aktivitas Investasi Aktivitas Pendanaan Pelaporan Arus Kas dari Aktivitas Operasi Pelaporan Arus Kas dari Aktivitas Investasi dan Pendanaan Pelaporan Arus Kas atas dasar Arus Kas Bersih Arus Kas dalam Mata Uang Asing Pos Luar Biasa

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02
Bunga dan Dividen Pajak Penghasilan Investasi pada Anak Perusahaan, Perusahaan Asosiasi dan Joint Venture Perolehan dan Pelepasan (Disposal) Anak Perusahaan dan Unit Bisnis Lainnya Transaksi Bukan Kas Komponen Kas dan Setara Kas Pengungkapan Lain PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 2 LAPORAN ARUS KAS Masa Transisi Tanggal Berlaku LAMPIRAN 1. Laporan Arus Kas untuk Perusahaan bukan Lembaga Keuangan 2. Laporan Arus Kas untuk Lembaga Keuangan

Page 2 of 20

PENDAHULUAN
Tujuan Informasi tentang arus kas suatu perusahaan berguna bagi para pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan arus kas tersebut. Dalam proses pengambilan keputusan ekonomi, para pemakai perlu melakukan evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas serta kepastian perolehannya . Tujuan Pernyataan ini adalah memberi informasi historis mengenai perubahan kas dan setara kas dari suatu perusahaan melalui laporan arus kas yang mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi maupun pendanaan (financing) selama suatu periode akuntansi. go top Ruang Lingkup 01 Perusahaan harus menyusun laporan arus kas sesuai dengan persyaratan dalam Pernyataan ini dan harus menyajikan laporan tersebut sebagai bagian yang tak terpisahkan (integral) dari laporan keuangan untuk setiap periode penyajian laporan keuangan . 02 Para pemakai laporan ingin mengetahui bagaimana perusahaan menghasilkan dan menggunakan kas dan setara kas. Hal tersebut bersifat umum dan tidak tergantung pada aktivitas perusahaan serta apakah kas dapat dipandang sebagai produk perusahaan, seperti yang berlaku di lembaga keuangan. Pada dasarnya perusahaan memerlukan kas dengan alasan yang sama meskipun terdapat perbedaan dalam aktivitas penghasil pendapatan utama (revenue-producing activities). Perusahaan membutuhkan kas untuk melaksanakan usaha, untuk melunasi kewajiban, dan untuk membagikan dividen kepada para investor. Pernyataan ini mewajibkan semua perusahaan menyajikan laporan arus kas. go top Kegunaan Informasi Arus Kas 03 Jika digunakan dalam kaitannya dengan laporan keuangan yang lain, laporan arus kas dapat

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02

Page 3 of 20

memberikan informasi yang memungkinkan para pemakai untuk mengevaluasi perubahan dalam aktiva bersih perusahaan, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan untuk mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dalam rangka adaptasi dengan perubahan keadaan dan peluang. Informasi arus kas berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan memungkinkan para pemakai mengembangkan model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang dari arus kas masa depan (future cash flows) dari berbagai perusahaan. Informasi tersebut juga meningkatkan daya banding pelaporan kinerja operasi berbagai perusahaan karena dapat meniadakan pengaruh penggunaan perlakuan akuntansi yang berbeda terhadap transaksi dan peristiwa yang sama. 04 Informasi arus kas historis sering digunakan sebagai indikator dari jumlah, waktu, dan kepastian arus kas masa depan. Di samping itu informasi arus kas juga berguna untuk meneliti kecermatan dari taksiran arus kas masa depan yang telah dibuat sebelumnya dan dalam menentukan hubungan antara profitabilitas dan arus kas bersih serta dampak perubahan harga. go top Definisi 05 Beberapa istilah yang dipergunakan dalam Pernyataan-ini masing-masing didefinisikan sebagai berikut: Kas terdiri dari saldo kas (cash on hand) dan rekening giro. Setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang signifikan Arus kas adalah arus masuk dan arus keluar kas atau setara kas. Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan ( principal revenueproducing activities) dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan. Aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan aktiva jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas. Aktivitas pendanaan (financing) adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman perusahaan . go top Kas dan Setara Kas 06 Setara kas dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk investasi atau tujuan lain. Untuk memenuhi persyaratan setara kas, investasi harus segera dapat diubah menjadi kas dalam jumlah yang telah diketahui tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang signifikan. Karenanya, suatu investasi baru dapat memenuhi syarat sebagai setara kas hanya jika segera akan jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang dari tanggal perolehannya. Investasi dalam bentuk saham tidak termasuk setara kas, kecuali substansi investasi saham tersebut adalah setara kas. Sebagai contoh, saham preferen yang dibeli dan akan segera jatuh tempo serta tanggal penebusan (redemption date) telah ditentukan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02

Page 4 of 20

07 Pinjaman bank pada umumnya termasuk aktivitas pendanaan . Namun demikian, cerukan (bank overdraft) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pengelolaan kas perusahaan. Dalam keadaan tersebut, cerukan termasuk komponen kas dan setara kas. Karakteristik dari pengaturan perbankan tersebut timbulnya fluktuasi saldo bank dari positif ke overdraft. 08 Arus kas tidak mencakupi mutasi di antara pos-pos yang termasuk dalam kas atau setara kas, karena komponen tersebut lebih merupakan bagian dari pengelolaan kas perusahaan dan bukan sebagai bagian dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan . go top

PENJELASAN
Penyajian Laporan Arus Kas 09 Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasi menurut aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. 10 Perusahaan menyajikan arus kas dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan dengan cara yang paling sesuai dengan bisnis perusahaan tersebut. Klasifikasi menurut aktivitas memberikan informasi yang memungkinkan para pengguna laporan untuk menilai pengaruh aktivitas tersebut terhadap posisi keuangan perusahaan serta terhadap jumlah kas dan setara kas. Informasi tersebut dapat juga digunakan untuk mengevaluasi hubungan di antara ketiga aktivitas tersebut. 11 Suatu transaksi tertentu dapat meliputi arus kas yang diklasifikasi ke dalam lebih dari satu aktivitas. Sebagai contoh, jika pelunasan pinjaman bank meliputi pokok pinjaman dan bunga, maka bunga merupakan unsur yang dapat diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi dan pokok pinjaman merupakan unsur yang diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan. go top Aktivitas operasi 12 Jumlah arus kas yang berasal dari aktivitas operasi merupakan indikator yang menentukan apakah dari operasinya perusahaan dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan pada sumber pendanaan dari luar. Informasi mengenai unsur tertentu arus kas historis bersama dengan informasi lain, berguna dalam memprediksi arus kas operasi masa depan. 13 Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan. Oleh karena itu, arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba atau rugi bersih. Beberapa contoh arus kas dari aktivitas operasi adalah:

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02

Page 5 of 20

penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa; penerimaan kas dari royalti, fees, komisi dan pendapatan lain; pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa; pembayaran kas kepada karyawan; penerimaan dan pembayaran kas oleh perusahaan asuransi sehubungan dengan premi, klaim, anuitas dan manfaat asuransi lainnya; pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak penghasilan kecuali jika dapat diidentifikasikan secara khusus sebagai bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi; penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak yang diadakan untuk tujuan transaksi usaha dan perdagangan.

Beberapa transaksi, seperti penjualan peralatan pabrik, dapat menimbulkan keuntungan atau kerugian yang dimasukkan dalam perhitungan laba atau rugi bersih. Arus kas yang menyangkut transaksi semacam itu merupakan arus kas dari aktivitas investasi. 14 Perusahaan sekuritas dapat memiliki sekuritas untuk diperdagangkan sehingga sama dengan persediaan yang dibeli untuk dijual kembali. Karenanya, arus kas yang berasal dari pembelian dan penjualan dalam transaksi atau perdagangan sekuritas tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi. Sama halnya dengan pemberian kredit oleh lembaga keuangan juga harus diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, karena berkaitan dengan aktivitas penghasil utama pendapatan lembaga keuangan tersebut. penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak yang diadakan untuk tujuan transaksi usaha dan perdagangan. go top Aktivitas Investasi 15 Pengungkapan terpisah arus kas yang berasal dari aktivitas investasi perlu dilakukan sebab arus kas tersebut mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas investasi adalah: pembayaran kas untuk membeli aktiva tetap, aktiva tak berwujud, dan aktiva jangka panjang lain, termasuk biaya pengembangan yang dikapitalisasi dan aktiva tetap yang dibangun sendiri; penerimaan kas dari penjualan tanah, bangunan dan peralatan, aktiva tak berwujud dan aktiva jangka panjang lain; perolehan saham atau instrumen keuangan perusahaan lain; uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain serta pelunasannya (kecuali yang dilakukan oleh lembaga keuangan); pembayaran kas sehubungan dengan futures contracts, forward contracts, option contracts dan swap contracts kecuali apabila kontrak tersebut dilakukan untuk tujuan perdagangan (dealing or trading), atau apabila pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan;

Jika suatu kontrak dimaksudkan untuk menangkal (hedge) suatu posisi yang dapat diidentifikasi, maka arus kas dari kontrak tersebut diklasifikasikan dengan cara yang sama seperti arus kas dari posisi yang ditangkalnya.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02

Page 6 of 20

go top Aktivitas Pendanaan 16 Pengungkapan terpisah arus kas yang timbul dari aktivitas pendanaan perlu dilakukan sebab berguna untuk memprediksi klaim terhadap arus kas masa depan oleh para pemasok modal perusahaan. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan adalah: penerimaan kas dari emisi saham atau instrumen modal lainnya pembayaran kas kepada para pemegang saham untuk menarik atau menebus saham perusahaan penerimaan kas dari emisi obligasi, pinjaman, wesel, hipotik dan pinjaman lainnya pelunasan pinjaman pembayaran kas oleh penyewa guna usaha (lessee) untuk mengurangi saldo kewajiban yang berkaitan dengan sewa guna usaha pembiayaan (finance lease).

go top Pelaporan Arus Kas dari Aktivitas Operasi 17 Perusahaan harus melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan salah satu dari metode berikut ini: a. metode langsung: dengan metode ini kelompok utama dari penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto diungkapkan; atau b. metode tidak langsung: dengan metode ini laba atau rugi bersih disesuaikan dengan mengoreksi pengaruh dari transaksi bukan kas, penangguhan (deferral) atau akrual dari penerimaan atau pembayaran kas untuk operasi dimasa lalu dan masa depan, dan unsur penghasilan atau beban yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan . 18 Perusahaan dianjurkan untuk melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan metode langsung. Metode ini menghasilkan informasi yang berguna dalam mengestimasi arus kas masa depan yang tidak dapat dihasilkan dengan metode tidak langsung. Dengan metode langsung, informasi mengenai kelompok utama penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto dapat diperoleh baik: a. dari catatan akuntansi perusahaan; atau b. dengan menyesuaikan penjualan, beban pokok penjualan dan pos-pos lain dalam laporan laba rugi untuk: perubahan persediaan, piutang usaha, dan hutang usaha selama periode berjalan; pos bukan kas lainnya; dan pos lain yang berkaitan dengan arus kas investasi dan pendanaan. 19 Dalam metode tidak langsung, arus kas bersih dari aktivitas operasi ditentukan dengan menyesuaikan laba atau rugi bersih dari pengaruh: a. perubahan persediaan dan piutang usaha serta hutang usaha selama periode berjalan; b. pos bukan kas seperti penyusutan, penyisihan, pajak ditangguhkan, keuntungan dan kerugian valuta asing yang belum direalisasi, laba perusahaan asosiasi yang belum dibagikan dan hak minoritas dalam laba/rugi konsolidasi; dan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02
c. semua pos lain yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan.

Page 7 of 20

Sebagai alternatif, berdasarkan arus kas bersih dari aktivitas operasi dapat dilaporkan (tidak langsung) dengan menyajikan pendapatan dan beban yang diungkapkan dalam laporan laba rugi serta perubahan dalam persediaan, piutang usaha dan hutang usaha selama periode. go top Pelaporan Arus Kas dari Aktivitas Investasi dan Pendanaan 20 Perusahaan harus melaporkan secara terpisah kelompok utama penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto yang berasal dari aktivitas investasi dan pendanaan, kecuali sebagaimana dijelaskan pada paragraf 21 dan 23 arus kas dilaporkan atas dasar arus kas bersih. go top Pelaporan Arus Kas atas Dasar Arus Kas Bersih 21 Arus kas yang berasal dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan berikut ini dapat disajikan menurut arus kas bersih: a. penerimaan dan pengeluaran kas untuk kepentingan para pelanggan apabila arus kas tersebut lebih mencerminkan aktivitas pelanggan daripada aktivitas perusahaan; dan b. penerimaan dan pengeluaran kas untuk pos-pos dengan perputaran cepat, dengan volume transaksi yang besar, dan dengan jangka waktu singkat (maturity short). 22 Beberapa contoh penerimaan dan pembayaran kas sebagaimana dijelaskan pada paragraf 21 (a) adalah: penerimaan dan pembayaran rekening giro; dana pelanggan yang dikelola oleh perusahaan investasi; dan sewa yang ditagih oleh pengelola dan selanjutnya disetor kepada pemilik properti.

Beberapa contoh penerimaan dan pengeluaran kas sebagaimana dijelaskan pada paragraf 21 (b) adalah pembayaran dan penerimaan untuk: transaksi kartu kredit para nasabah; pembelian dan penjualan surat-surat berharga; dan pinjaman jangka pendek lain dengan jangka waktu 3 (tiga) bulan atau kurang.

23 Arus kas yang berasal dari aktivitas suatu lembaga keuangan berikut ini dapat dilaporkan dengan dasar arus kas bersih: penerimaan dan pembayaran kas sehubungan dengan deposito berjangka waktu tetap; penempatan dan penarikan deposit pada lembaga keuangan lainnya; dan pemberian dan pelunasan kredit.

go top

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02

Page 8 of 20

Arus Kas dalam Mata Uang Asing 24 Arus kas yang berasal dari transaksi dalam valuta asing harus dibukukan dalam mata uang yang digunakan dalam pelaporan keuangan dengan menjabarkan jumlah mata uang asing tersebut menurut kurs pada tanggal transaksi arus kas. 25 Arus kas anak perusahaan di luar negeri dijabarkan berdasarkan kurs transaksi pada tanggal arus kas. 26 Arus kas dalam mata uang asing dilaporkan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 10 tentang Transaksi dalam Mata Uang Asing. Pernyataan tersebut memperkenankan digunakannya suatu kurs yang mendekati kurs sebenarnya. Sebagai contoh, kurs rata-rata untuk periode yang bersangkutan dapat digunakan untuk membukukan transaksi dalam mata uang asing atau penjabaran arus kas anak perusahaan luar negeri. Akan tetapi, tidak diperkenankan digunakannya kurs tanggal neraca untuk menjabarkan laporan arus kas anak perusahaan luar negeri. 27 Keuntungan dan kerugian yang belum d irealisasi yang timbul akibat perubahan kurs bukan merupakan arus kas. Namun demikian, pengaruh perubahan kurs terhadap kas dan setara kas dalam mata uang asing dilaporkan dalam laporan arus kas untuk merekonsiliasikan saldo awal dan akhir kas dan setara kas. Jumlah selisih kurs tersebut disajikan terpisah dari arus kas aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. go top Pos Luar Biasa 28 Arus kas sehubungan dengan pos luar biasa harus diklasifikasi sebagai aktivitas operasi, investasi dan pendanaan sesuai dengan sifat transaksinya dan diungkapkan secara terpisah. 29 Arus kas yang menyangkut pos luar biasa diungkapkan secara tersendiri pada arus kas aktivitas operasi, investasi atau pendanaan dalam laporan arus kas, agar para pemakai dapat memahami hakekat dan pengaruhnya terhadap arus kas saat ini dan masa mendatang. Pengungkapan tersebut dilakukan sebagai tambahan dari pengungkapan terpisah mengenai hakekat dan jumlah dari pos luar biasa yang dipersyaratkan dalam Pernyataan Akuntansi Keuangan No. 25 tentang Laba atau Rugi Bersih Untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi. go top Bunga dan Dividen 30 Arus kas dari bunga dan dividen yang diterima dan dibayarkan, masing-masing harus diungkapkan tersendiri. Masing-masing harus diklasifikasi secara konsisten antar periode sebagai aktivitas operasi, investasi atau pendanaan. 31 Jumlah bunga yang dibayar selama suatu periode diungkapkan dalam laporan arus kas baik yang telah diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi maupun yang dikapitalisasi menurut alternatif perlakuan yang diperkenankan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 18 tentang Akuntansi Bunga untuk Periode Konstruksi. 32 Bunga yang dibayar dan bunga serta dividen yang diterima oleh lembaga keuangan biasanya

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02

Page 9 of 20

diklasifikasikan sebagai arus kas operasi. Namun demikian, bagi perusahaan lain belum ada kesepakatan mengenai klasifikasi arus kas ini. Bunga yang dibayarkan dan bunga serta dividen yang diterima dapat diklasifikasi sebagai arus kas operasi karena mempengaruhi laba atau rugi bersih. Sebagai alternatif, bunga yang dibayar dan bunga serta dividen yang diterima dapat diklasifikasi, masing-masing sebagai arus kas pendanaan dan arus kas investasi karena merupakan biaya perolehan sumber daya keuangan atau sebagai hasil investasi (return on investments). 33 Dividen yang dibayar dapat diklasifikasi sebagai arus kas pendanaan karena merupakan biaya perolehan sumber daya keuangan. Sebagai alternatif, dividen yang dibayar dapat diklasifikasi sebagai komponen arus kas dari aktivitas operasi dengan maksud untuk membantu para pengguna laporan arus kas dalam menilai kemampuan perusahaan membayar dividen dari arus kas operasi. go top Pajak Penghasilan 34 Arus kas yang berkaitan dengan pajak penghasilan harus diungkapkan tersendiri dan diklasifikasi sebagai arus kas aktivitas operasi kecuali jika secara spesifik dapat diidentifikasikan sebagai aktivitas pendanaan dan investasi. 35 Pajak penghasilan atas pendapatan yang diterima dapat diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, investasi, atau pendanaan dalam laporan arus kas. Walaupun beban pajak penghasilan (tax expense) dapat dengan mudah diidentifikasikan dengan aktivitas investasi atau pendanaan, arus kas yang bersangkutan seringkali tidak mudah diidentifikasikan dan dapat terjadi dalam periode yang berbeda dengan transaksi arus kas yang mendasarinya. Oleh karena itu, pajak yang dibayar biasanya diklasifikasikan sebagai arus kas dari aktivitas operasi. Namun demikian, jika arus kas pajak tersebut dapat diidentifikasikan dengan transaksi individual yang menimbulkan arus kas yang bersangkutan, maka arus kas tersebut diklasifikasi sebagai aktivitas pendanaan atau investasi, sesuai dengan jenis aktivitas tersebut. Apabila arus kas pajak dialokasikan pada lebih dari satu jenis aktivitas, maka jumlah keseluruhan pajak yang dibayar harus diungkapkan. go top Investasi Pada Anak Perusahaan, Perusahaan Asosiasi dan Joint Venture 36 Apabila akuntansi untuk investasi pada perusahaan asosiasi atau anak perusahaan dibukukan dengan menggunakan metode ekuiti atau metode biaya perolehan, maka investor membatasi pelaporannya dalam laporan arus kas sejumlah arus kas yang terjadi antara investor dan investee, misalnya sejumlah dividen dan uang muka yang diterima. go top Perolehan dan Pelepasan (Disposal) Anak Perusahaan dan Unit Bisnis lainnya 37 Keseluruhan arus kas yang berasal dari perolehan dan pelepasan anak perusahaan atau unit bisnis lainnya harus diungkapkan secara terpisah dan diklasifikasi sebagai aktivitas investasi . 38 Perusahaan harus mengungkapkan hal-hal berikut secara keseluruhan, sehubungan dengan perolehan dan pelepasan anak perusahaan dan unit bisnis lainnya selama satu periode: a. jumlah harga perolehan atau pelepasan; b. bagian nilai perolehan atau pelepasan yang dibayarkan dengan kas dan setara kas.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02

Page 10 of 20

c. jumlah kas dan setara kas pada anak perusahaan atau unit bisnis yang diperoleh atau dilepaskan; dan d. jumlah aktiva dan kewajiban selain kas atau setara kas pada anak perusahaan atau unit bisnis yang diperoleh atau dilepaskan, diikhtisarkan berdasarkan kategori utamanya. 39 Penyajian tersendiri pengaruh arus kas dari akuisisi dan pelepasan anak perusahaan dan unit bisnis lainnya sebagai suatu pos tunggal, bersama -sama dengan pengungkapan tersendiri jumlah aktiva dan kewajiban yang diakuisisi akan membantu membedakan arus kas yang berasal dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan lainnya. Pengaruh arus kas dari pelepasan tidak boleh dikurangkan dari arus kas dalam rangka akuisisi. 40 Jumlah keseluruhan kas yang dibayarkan untuk pembelian atau diterima atas pelepasan tersebut dilaporkan dalam laporan arus kas setelah memperhitungkan dalam jumlah neto yaitu kas atau setara kas yang diperoleh atau dibayarkan. go top Transaksi bukan Kas 41 Transaksi investasi dan pendanaan yang tidak memerlukan penggunaan kas atau setara kas harus dikeluarkan dari laporan arus kas. Transaksi semacam itu harus diungkapkan sedemikian rupa pada catatan atas laporan keuangan sehingga dapat memberikan semua informasi yang relevan mengenai aktivitas investasi dan pendanaan tersebut. 42 Terdapat aktivitas investasi dan pendanaan yang tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap arus kas periode berjalan meskipun mempengaruhi struktur aktiva serta modal perusahaan. Tidak dimasukannya transaksi bukan kas dalam laporan arus kas ini konsisten dengan tujuan laporan arus kas sebab transaksi tersebut tidak mempengaruhi arus kas dalam periode berjalan. Beberapa contoh transaksi non kas adalah: perolehan aktiva secara kredit atau melalui sewa guna usaha pembiayaan (finance lease); akuisisi perusahaan melalui emisi saham; dan konversi hutang menjadi modal.

go top Komponen Kas dan Setara kas 43 Perusahaan harus mengungkapkan komponen kas dan setara kas dan harus menyajikan rekonsiliasi jumlah tersebut dalam laporan arus kas dengan pos yang sama yang disajikan di neraca. 44 Karena keanekaragaman praktek pengelolaan kas dan perbankan dan agar sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku, perusahaan harus mengungkapkan kebijaksanaan yang dianut dalam menentukan komponen kas dan setara kas. 45 Pengaruh setiap perubahan dalam kebijaksanaan untuk menentukan komponen kas dan setara kas seperti misalnya perubahan dalam klasifikasi instrumen keuangan yang sebelumnya diperlakukan sebagai bagian dari portofolio investasi perusahaan, dilaporkan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 25 tentang Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02

Page 11 of 20

go top Pengungkapan Lain 46 Perusahaan harus mengungkapkan jumlah saldo kas dan setara kas yang signifikan yang tidak dapat digunakan dengan bebas, oleh perusahaan atau group usaha tersebut. 47 Dalam keadaan tertentu saldo kas dan setara kas yang dimiliki oleh perusahaan tidak dapat digunakan dengan bebas oleh group perusahaan. Misalnya, saldo kas dan setara kas milik anak perusahaan yang beroperasi di suatu negara yang memberlakukan lalu lintas devisa atau memberlakukan pembatasan hukum lainnya sehingga saldo kas tersebut tidak dapat dialihkan oleh anak perusahaan kepada induk perusahaan. go top

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 2 LAPORAN ARUS KAS


Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 2 terdiri dari paragraf 48-67. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1-147. 48 Perusahaan harus menyusun laporan arus kas sesuai dengan persyaratan dalam Pernyataan ini dan harus menyajikan laporan tersebut sebagai bagian yang tak terpisahkan (integral) dari laporan keuangan untuk setiap periode penyajian laporan keuangan . Penyajian Laporan Arus Kas 49 Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasi menurut aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Pelaporan Arus Kas dari Aktivitas operasi 50 Perusahaan harus melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan salah satu dari metode berikut ini: a. metode langsung: dengan metode ini kelompok utama dari penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto diungkapkan; atau b. metode tidak langsung: dengan metode ini laba atau rugi bersih disesuaikan dengan mengoreksi pengaruh dari transaksi bukan kas, penangguhan (deferral) atau akrual dari penerimaan atau pembayaran kas untuk operasi dimasa lalu dan masa depan, dan unsur penghasilan atau beban yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan. Pelaporan Arus Kas dari Aktivitas Investasi dan Pendanaan 51 Perusahaan harus melaporkan secara terpisah kelompok utama penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto yang berasal dari aktivitas investasi dan pendanaan, kecuali sebagaimana dijelaskan pada paragraf 21 dan 23 arus kas dilaporkan atas dasar arus kas bersih. Pelaporan Arus Kas atas Dasar Arus Kas Bersih 52 Arus kas yang berasal dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan berikut ini dapat

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02
disajikan menurut arus kas bersih:

Page 12 of 20

a. penerimaan dan pengeluaran kas untuk kepentingan para pelanggan apabila arus kas tersebut lebih mencerminkan aktivitas pelanggan daripada aktivitas perusahaan; dan b. penerimaan dan pengeluaran kas untuk pos-pos dengan perputaran cepat, dengan volume transaksi yang besar, dan dengan jangka waktu singkat (maturity short). 53 Arus kas yang berasal dari aktivitas suatu lembaga keuangan berikut ini dapat dilaporkan dengan dasar arus kas bersih: penerimaan dan pembayaran kas sehubungan dengan deposito berjangka waktu tetap; penempatan dan penarikan deposit pada lembaga keuangan lainnya; dan pemberian dan pelunasan kredit.

Arus Kas dalam Mata Uang Asing 54 Arus kas yang berasal dari transaksi dalam valuta asing harus dibukukan dalam mata uang yang digunakan dalam pelaporan keuangan dengan menjabarkan jumlah mata uang asing tersebut menurut kurs pada tanggal transaksi arus kas. 55 Arus kas anak perusahaan di luar negeri dijabarkan berdasarkan kurs transaksi pada tanggal arus kas. Pos Luar Biasa 56 Arus kas sehubungan dengan pos luar biasa harus diklasifikasi sebagai aktivitas operasi, investasi dan pendanaan sesuai dengan sifat transaksinya dan diungkapkan secara terpisah. Bunga dan Dividen 57 Arus kas dari bunga dan dividen yang diterima dan dibayarkan, masing-masing harus diungkapkan tersendiri. Masing-masing harus diklasifikasi secara konsisten antar periode sebagai aktivitas operasi, investasi atau pendanaan. Pajak Penghasilan 58 Arus kas yang berkaitan dengan pajak penghasilan harus diungkapkan tersendiri dan diklasifikasi sebagai arus kas aktivitas operasi kecuali jika secara spesifik dapat diidentifikasikan sebagai aktivitas pendanaan dan investasi. Perolehan dan Pelepasan (Disposal) Anak perusahaan dan Unit Bisnis lainnya 59 Keseluruhan arus kas yang berasal dari perolehan dan pelepasan anak perusahaan atau unit bisnis lainnya harus diungkapkan secara terpisah dan diklasifikasi sebagai aktivitas investasi . 60 Perusahaan harus mengungkapkan hal-hal berikut secara keseluruhan, sehubungan dengan perolehan dan pelepasan anak perusahaan dan unit bisnis lainnya selama satu periode: a. jumlah harga perolehan atau pelepasan; b. bagian nilai perolehan atau pelepasan yang dibayarkan dengan kas dan setara kas. c. jumlah kas dan setara kas pada anak perusahaan atau unit bisnis yang diperoleh atau dilepaskan; dan d. jumlah aktiva dan kewajiban selain kas atau setara kas pada anak perusahaan atau unit

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02

Page 13 of 20

bisnis yang diperoleh atau dilepaskan, diikhtisarkan berdasarkan kategori utamanya. Transaksi bukan Kas 61 Transaksi investasi dan pendanaan yang tidak memerlukan penggunaan kas atau setara kas harus dikeluarkan dari laporan arus kas. Transaksi semacam itu harus diungkapkan sedemikian rupa pada catatan atas laporan keuangan sehingga dapat memberikan semua informasi yang relevan mengenai aktivitas investasi dan pendanaan tersebut. Komponen Kas atau Setara Kas 62 Perusahaan harus mengungkapkan komponen kas dan setara kas dan harus menyajikan rekonsiliasi jumlah tersebut dalam laporan arus kas dengan pos yang sama yang disajikan di neraca . Pengungkapan Lain 63 Perusahaan harus mengungkapkan jumlah saldo kas dan setara kas yang signifikan yang tidak dapat digunakan dengan bebas, oleh perusahaan atau grup usaha tersebut. go top Masa Transisi 64 Pernyataan ini berlaku secara prospektif dan pada saat permulaan pelaksanaan Pernyataan ini bila disusun laporan keuangan komparatif, maka Laporan Arus Kas tidak wajib disusun secara komparatif. go top Tanggal Efektif 65 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini sangat dianjurkan. go top

LAMPIRAN 1 LAPORAN ARUS KAS UNTUK PERUSAHAAN BUKAN LEMBAGA KEUANGAN Lampiran ini hanya merupakan suatu ilustrasi dan bukan merupakan bagian dari Pernyataan. Tujuan lampiran ini adalah untuk mengilustrasikan penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 2 tentang Laporan Arus Kas. 01 Contoh-contoh ini hanya menunjukkan jumlah pada periode berjalan. 02 Informasi dalam laporan laba rugi dan neraca disajikan untuk memperlihatkan penyusunan laporan arus kas dengan metode langsung dan tidak langsung. Untuk menyederhanakan, contoh

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02

Page 14 of 20

neraca maupun laporan laba rugi terlampir tidak disajikan menurut persyaratan pengungkapan dan penyajian menurut standar akuntansi keuangan. 03 Informasi tambahan berikut juga relevan untuk menyusun laporan arus kas:
l

semua saham anak perusahaan diperoleh dengan Rp. 590. Nilai wajar aktiva yang diperoleh dan hutang diasumsikan sebagai berikut: - persediaan Rp. 100 - piutang dagang - kas - tanah, bangunan dan peralatan - hutang dagang - hutang jangka panjang Rp. 100 Rp. 40 Rp. 650 Rp. 100 Rp. 200

l l

l l

Rp. 250 diperoleh dari penerbitan modal saham dan Rp. 250 diperoleh dari pinjaman jangka panjang beban bunga Rp. 400, dan telah dibayar sebesar Rp. 170 selama periode tersebut, Rp. 100 yang merupakan beban bunga periode sebelumnya juga dibayar pada periode tersebut. dividen yang dibayarkan Rp. 1.200 hutang pajak pada awal dan akhir periode masing-masing sebesar Rp. 400 dan Rp. 1000. Selama periode disisihkan Rp. 200 untuk tambahan pajak. Pajak yang terutang dari dividen yang diterima berjumlah Rp. 100 selama periode, perusahaan memperoleh tanah, bangunan dan peralatan dengan harga total Rp. 1.250, Rp. 900 diperoleh dari sewa guna usaha keuangan. Pembayaran kas sebesar Rp. 350 untuk pembelian tanah, bangunan dan peralatan. pabrik dengan nilai buku Rp. 80 dan akumulasi penyusutan Rp. 60 dijual dengan harga Rp. 20 piutang dagang pada akhir 19-2 termasuk bunga piutang sebesar Rp. 100

PT ABC Neraca Konsolidasi Per 31 Desember 19-2 dan 19-1 dalam rupiah Aktiva Kas dan setara kas Piutang Dagang Persediaan Investasi Portfolio Tanah, Bangunan & Peralatan Akumulasi Penyusutan Tanah, Bangunan & Peralatan (neto) Jumlah Aktiva 3.730 (1.450) 2.280 8.090 19-2 410 1.900 1.000 2.500 1.910 (1.060) 850 6.660 19-1 160 1.200 1.950 2.500

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02
Kewajiban Hutang Dagang Hutang Bunga Hutang Pajak Penghasilan Hutang Jangka Panjang Jumlah Kewajiban Ekuitas Modal Saham Saldo Laba Jumlah Ekuitas Jumlah Kewajiban dan Ekuitas PT ABC Laporan Laba Rugi Konsolidasi Tahun yang berakhir 31 Desember 19-2 1.500 3.410 4.910 8.090 250 230 400 2.300 3.180

Page 15 of 20

1.890 100 1.000 1.040 4.030 1.250 1.380 2.630 6.660

dalam rupiah Penjualan Beban Pokok Penjualan Laba Bruto Penyusutan Beban Administrasi dan Penjualan Beban Bunga Penghasilan Investasi Kerugian Selisih Kurs Laba Bersih Sebelum Pajak dan Pos Luar Biasa Pos Luar Biasa - hasil penyelesaian asuransi gempa bumi Laba Bersih Setelah Pos Luar Biasa Pajak Penghasilan Laba Bersih PT ABC Laporan Arus Kas (Metode Langsung) Tahun yang Berakhir 31 Desember 19-2 dalam rupiah Arus Kas dari Aktivitas Operasi Penerimaan kas dari pelanggan Pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan Kas yang dihasilkan operasi Pembayaran bunga 30.150 (27.600) 2.550 (270) 30.650 (26.000) 4.650 (450) (910) (400) 500 (40) 3.350 180 3.530 (300) 3.230

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02
Pembayaran pajak penghasilan Arus kas sebelum pos luar biasa Hasil dari asuransi karena gempa bumi Arus kas bersih dari aktivitas operasi Arus Kas dari Aktivitas Investasi Perolehan anak perusahaan X dengan kas (Catatan A) Pembelian tanah, bangunan dan peralatan (Catatan B) Hasil dari penjualan peralatan Penerimaan bunga Penerimaan dividen Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan Hasil dari penerbitan modal saham Hasil dari pinjaman jangka panjang Pembayaran hutang sewa guna usaha keuangan Pembayaran dividen * Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan Kenaikan bersih kas dan setara kas Kas dan setara kas pada awal periode (Catatan C) Kas dan setara kas pada akhir periode * Dapat juga dilaporkan sebagai arus kas operasi. Lihat paragraf 33. 250 250 (90) (1.200) (550) (350) 20 200 200 (900) 1.380 180

Page 16 of 20

1.560

(480)

(790) 290 120 410

PT ABC Laporan Arus Kas (Metode Tidak Langsung) Tahun yang Berakhir 31 Desember 19-2 dalam rupiah Arus Kas dari Aktivitas Operasi Laba bersih sebelum pajak dan pos luar biasa Penyesuaian untuk: Penyusutan Kerugian selisih kurs Penghasilan investasi Beban bunga Laba operasi sebelum perubahan modal kerja Kenaikan piutang dagang dan piutang lain Penurunan persediaan Penurunan hutang dagang Kas dihasilkan dari operasi 450 40 (500) 400 3.740 (500) 1.050 (1.740) 2.550 3.350

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02
Kas dihasilkan dari operasi Pembayaran bunga Pembayaran pajak penghasilan Arus kas sebelum pos luar biasa Hasil dari penyelesaian asuransi gempa bumi Arus kas bersih dari aktivitas operasi Arus Kas dari Aktivitas Investasi Perolehan anak perusahaan X dengan kas (Catatan A) Pembelian tanah, bangunan dan peralatan (Catatan B) Hasil dari penjualan peralatan Penerimaan bunga Penerimaan dividen Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan Hasil dari penerbitan modal saham Hasil dari pinjaman jangka panjang Pembayaran hutang sewa guna usaha keuangan Pembayaran dividen * Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan Kenaikan bersih kas dan setara kas Kas dan setara kas pada awal periode (Catatan C) Kas dan setara kas pada akhir periode 250 250 (90) (1.200) (550) (350) 20 200 200 2.550 (270) (900) 1.380 180

Page 17 of 20

1.560

(480)

(790) 290 120 410

Catatan atas Laporan Arus Kas (metode langsung dan metode tidak langsung) A. Perolehan Anak Perusahaan Selama periode ini perusahaan membeli anak perusahaan X. Nilai wajar dari aktiva yang diperoleh dan kewajiban diasumsikan sebagai berikut: dalam rupiah Kas Persediaan Piutang dagang Tanah, Bangunan dan Peralatan Hutang Dagang Hutang Jangka Panjang Total harga beli Dikurangi: kas dari X 40 100 100 650 (100) (200) 590 (40)

Arus kas dari perolehan anak perusahaan 550 B. Tanah, Bangunan dan Peralatan Selama periode ini, perusahaan memperoleh tanah, bangunan dan peralatan dengan nilai total Rp. 1.250 di mana Rp. 900 diantaranya diperoleh melalui sewa guna usaha keuangan. Pembayaran kas untuk perolehan ini adalah Rp. 350. C. Kas dan setara Kas Kas dan setara kas terdiri dari kas di tangan dan saldo bank, serta investasi dalam instrumen pasar uang. Kas dan setara kas dalam laporan arus kas meliputi jumlah-jumlah dalam neraca berikut ini:

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02
19-2 Kas dan Bank Investasi Jangka Pendek Kas dan setara kas yang dilaporkan sebelumnya Pengaruh perubahan nilai tukar valuta Kas dan setara kas setelah dinyatakan kembali 40 370 410 ____ 410 19-1 25 135 160 (40) 120

Page 18 of 20

Kas dan setara kas pada akhir periode meliputi rekening deposito bank sebanyak Rp.100 yang dipegang oleh anak perusahaan dan tidak dapat digunakan dengan bebas oleh holding company karena adanya pembatasan arus valuta. Kelompok perusahaan ini mempunyai fasilitas pinjaman sebesar Rp. 2.000, Rp. 700 diantaranya hanya dapat digunakan untuk ekspansi di masa depan. D. Informasi segmen dalam rupiah Segmen A Arus kas dari: Aktivitas Operasi Aktivitas Investasi Aktivitas Pendanaan 1.700 (640) (570) 490 Alternatif penyajian (metode tidak langsung) Sebagai alternatif, dalam laporan arus kas dengan metode tidak langsung, laba operasi sebelum perubahan modal kerja kadang kadang disajikan sebagai berikut (dalam rupiah): Pendapatan di luar pendapatan investasi Biaya operasi di luar penyusutan Laba operasi sebelum perubahan modal kerja go top 30.650 (26.910) 3.740 (140) 160 (220) (200) 1.560 (480) (790) 290 Segmen B Total

LAMPIRAN 2 LAPORAN ARUS KAS UNTUK LEMBAGA KEUANGAN Lampiran ini hanya ilustratif dan bukan merupakan bagian dari Pernyataan ini. Tujuan lampiran ini untuk mengilustrasikan penerapan Pernyataan untuk membantu dalam memperjelas artinya. 01 Contoh ini memperlihatkan jumlah periode berjalan. Jumlah yang menyangkut periode sebelumnya harus disajikan sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berkaitan. 02 Contoh disajikan dengan menggunakan metode langsung.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02

Page 19 of 20

BANK ABC Laporan Arus Kas (Metode Langsung) Tahun yang Berakhir 31 Desember 19-2 dalam rupiah Arus Kas dari Aktivitas Operasi Penerimaan bunga dan komisi Pembayaran bunga Pembayaran piutang yang telah dihapus Pembayaran kas pada karyawan dan pemasok Laba operasi sebelum perubahan dalam aktiva operasi (Kenaikan) Penurunan dalam Aktiva Operasi: Dana jangka pendek Deposito untuk tujuan pengendalian moneter Dana uang muka pada langganan Kenaikan bersih dalam piutang kartu kredit Surat berharga jangka pendek yang diperjualbelikan Kenaikan (Penurunan) dalam Hutang Operasi: Deposito dari pelanggan Sertifikat deposito yang diperjualbelikan Kas bersih dari aktivitas operasi sebelum pajak penghasilan Pajak penghasilan Arus kas bersih dari aktivitas operasi Arus Kas dari Aktivitas Investasi Pelepasan anak perusahaan Y Dividen yang diterima Bunga yang diterima Hasil penjualan surat berharga yang tidak diperjualbelikan Pembelian surat berharga yang tidak diperjualbelikan Pembelian tanah, bangunan dan peralatan Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan Penerbitan modal pinjaman Penerbitan saham prioritas oleh anak perusahaan Pembayaran kembali pinjaman jangka panjang Penurunan bersih pinjaman lain Pembayaran dividen Arus kas bersih dari aktivitas pendanaan Pengaruh perubahan kurs valuta kas dan setara kas Kenaikan bersih kas dan setara kas Kas dan setara kas pada awal periode Kas dan setara kas pada akhir periode 1.000 800 (200) (1.000) (400) 200 600 4.790 4.050 8.840 50 200 300 1.200 (600) (500) 650 600 (200) 3.440 (100) 3.340 (650) 234 (288) (360) (120) 28.447 (23.463) 237 (997) 4.224

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 02

Page 20 of 20

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 02 Laporan Arus Kas.htm

10/16/03

PSAK no 03

Page 1 of 7

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 3 LAPORAN KEUANGAN INTERIM

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 3 tentang Laporan Keuangan Interim disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI PENDAHULUAN Tujuan Ruang Lingkup Definisi PENJELASAN Pandangan Sehubungan Dengan Laporan Keuangan Interim Pelaporan dan Pengungkapan Biaya dan Beban Pendapatan dan Beban Musiman Penyisihan Pajak Penghasilan Penghapusan Segmen Usaha, Pos Luar Biasa, Transaksi Tidak Biasa dan Tidak Sering Terjadi serta Kewajiban Kontinjen Perubahan Akuntansi PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 3 LAPORAN KEUANGAN INTERIM Penyajian Laporan Keuangan Interim

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 03 Laporan Keuangan Interim.htm

10/16/03

PSAK no 03
Pengungkapan Ringkasan Data Keuangan Interim Tanggal Efektif

Page 2 of 7

PENDAHULUAN
Tujuan Salah satu karakteristik kualitatif informasi keuangan adalah tepat waktu. Informasi harus disampaikan sedini mungkin untuk dapat digunakan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan ekonomi dan untuk menghindari kelambatan pengambilan keputusan tersebut. Dengan meningkatnya jumlah perusahaan yang menjual surat berharga di pasar modal, laporan keuangan interim menjadi semakin diperlukan. Pemakai laporan keuangan membutuhkan laporan keuangan perusahaan secepat mungkin untuk memberikan gambaran tentang kegiatan perusahaan. go top Ruang Lingkup 01 Pernyataan ini berlaku untuk perusahaan yang diwajibkan untuk menyajikan laporan keuangan interim oleh peraturan perundangan yang berlaku, misalnya pasar modal, dan lain-lain. Untuk industri yang telah diatur dalam standar akuntansi keuangan industri yang bersangkutan secara khusus, misalnya perbankan, maka harus mengikuti standar khusus tersebut. go top Definisi 02 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan keuangan tahunan Laporan keuangan interim:
l l

Harus dipandang sebagai bagian yang integral dari periode tahunan. Dapat disusun secara bulanan, triwulanan atau periode lain yang kurang dari setahun dan mencakupi seluruh komponen laporan keuangan sesuai standar akuntansi keuangan.

go top

PENJELASAN
Pandangan Sehubungan Dengan Laporan Keuangan Interim 03 Dua pandangan sehubungan dengan laporan keuangan interim adalah sebagai berikut: a. Pandangan yang menganggap periode interim sebagai dasar periode akuntansi dan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 03 Laporan Keuangan Interim.htm

10/16/03

PSAK no 03

Page 3 of 7

menyimpulkan bahwa hasil operasi tiap periode ditentukan dengan cara yang sama seperti pada periode tahunan. b. Pandangan yang menganggap periode interim sebagai bagian yang integral dengan periode tahunan. 04 Pernyataan ini dikembangkan berdasarkan pandangan kedua yang menganggap laporan keuangan interim sebagai bagian integral dengan periode tahunan. go top Pelaporan dan Pengungkapan 05 Unsur yang sama antara pelaporan keuangan interim dengan pelaporan keuangan tahunan adalah:
l l

Dasar pengakuan pendapatan. Kebijakan akuntansi dasar pelaporan pada periode interim, kecuali jika ada perubahan dalam standar akuntansi. Penyajian penggolongan aktiva sebagai lancar dan tidak lancar, dan kewajiban sebagai jangka pendek dan jangka panjang.

go top Biaya dan Beban 06 Pelaporan biaya dan beban diklasifikasikan dalam dua kelompok yaitu: a. Beban yang dapat dihubungkan dengan pendapatan ditentukan atas dasar yang sama dengan dasar yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan tahunan kecuali untuk persediaan dengan modifikasi sebagai berikut: Perusahaan yang dalam periode interim menggunakan estimasi laba kotor dalam menentukan nilai persediaan atau metode lain yang berbeda dengan metode yang digunakan dalam penilaian persediaan akhir tahun, harus mengungkapkan hal tersebut dalam laporan keuangan interim. Perusahaan yang melakukan penilaian persediaan berdasarkan biaya standar tidak perlu melaporkan penyimpangan atau selisih dengan biaya aktual yang terjadi, jika selisih biaya tersebut tidak material atau diharapkan bisa diselesaikan pada akhir tahun. Pengaruh dari penyimpangan yang tidak direncanakan dan tidak diperkirakan harus dilaporkan pada akhir periode interim dengan prosedur yang sama seperti yang digunakan pada akhir tahun. Kerugian yang disebabkan penurunan harga pasar tidak boleh ditangguhkan untuk dibebankan ke periode di luar periode penurunan harga tersebut. Pemulihan harga yang sama boleh diakui sebagai keuntungan pada periode interim selanjutnya, keuntungan yang diakui tidak boleh melebihi kerugian yang telah dibebankan pada periode sebelumnya. b. Biaya dan beban lain-lain Untuk periode pelaporan interim, biaya dan beban lain-lain termasuk biaya produksi dibebankan atas dasar yang sama seperti periode tahunan. go top Pendapatan dan Beban Musiman

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 03 Laporan Keuangan Interim.htm

10/16/03

PSAK no 03

Page 4 of 7

07 Laporan keuangan interim memberi gambaran pendapatan dan beban periode interim tersebut. Laporan keuangan interim tertentu diperbandingkan dengan periode sebelumnya memberi manfaat yang lebih besar bagi para pemakai laporan dalam contoh kondisi-kondisi sebagai berikut:
l

Laporan keuangan interim diperbandingkan dengan laporan keuangan interim periode sebelumnya, untuk mengetahui kecenderungan (trend) posisi keuangan dan kinerja. Laporan keuangan interim diperbandingkan dengan interim yang sama dalam periode akuntansi yang lalu, untuk mengetahui kecenderungan berulang (cyclical) musiman dari kegiatan usaha. Laporan keuangan interim diperbandingkan dengan laporan keuangan kumulatif dari awal tahun buku sampai dengan tanggal laporan keuangan interim untuk mengetahui kontribusi atau pengaruh periode interim yang dilaporkan pada periode berjalan. Laporan keuangan interim diperbandingkan dengan laporan keuangan tahun buku yang lalu, untuk mendapat gambaran pengaruh dan kinerja interim tersebut terhadap posisi keuangan, kinerja dan arus kas periode akuntansi yang lalu.

go top Penyisihan Pajak Penghasilan 08 Pada akhir tiap periode interim, perusahaan harus membuat taksiran pajak penghasilan untuk dibebankan pada periode interim. Perhitungan pajak penghasilan periode interim harus sesuai dengan kebijakan akuntansi tentang pajak penghasilan yang dianut pada akhir tahun. go top Penghapusan segmen Usaha, Pos Luar Biasa, Transaksi Tidak Biasa atau Tidak Sering Terjadi serta Kewajiban Kontinjen 09 Penghapusan segmen usaha, penggabungan usaha, pos luar biasa, dan kejadian yang tidak biasa dan tidak sering terjadi harus dibebankan pada periode interim saat terjadinya dan tidak boleh dibebankan pada periode lain. 10 Pos luar biasa harus diungkapkan secara terpisah dan dimasukkan dalam laporan laba rugi periode interim saat pos luar biasa terjadi. Dalam menentukan materialitas, pos luar biasa harus dihubungkan langsung dengan estimasi pendapatan tahunan. 11 Peristiwa atau kejadian yang tidak biasa dan tidak sering terjadi dan berpengaruh material terhadap hasil operasi tetapi tidak dapat dikelompokkan dalam pos luar biasa juga harus dilaporkan dan diungkapkan secara terpisah dalam laporan laba rugi periode interim. 12 Kewajiban kontinjen dan ketidakpastian lain yang diperkirakan dapat mempengaruhi kewajaran penyajian data keuangan pada tanggal neraca harus diungkapkan dalam laporan keuangan interim dengan cara yang sama seperti dalam laporan keuangan tahunan. Pengungkapan tersebut harus diulang dalam laporan keuangan interim berikutnya dan dalam laporan keuangan tahunan sampai kewajiban kontinjen itu terselesaikan. go top Perubahan Akuntansi

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 03 Laporan Keuangan Interim.htm

10/16/03

PSAK no 03

Page 5 of 7

13 Perubahan akuntansi dalam periode interim yang memerlukan penyesuaian harus dilaporkan dalam periode interim saat perubahan itu terjadi dengan cara yang sama seperti yang dilaporkan dalam laporan keuangan tahunan sebagaimana yang diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.25 tentang Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi. 14 Perusahaan berkewajiban mengungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan bila mengetahui akan ada perubahan akuntansi dalam periode laporan keuangan interim berikutnya. 15 Laporan keuangan interim harus menunjukkan perubahan akuntansi; a. yang terjadi pada periode interim yang dilaporkan, b. yang terjadi pada periode interim sebelumnya dalam tahun buku yang sama, bila berpengaruh material pada periode interim yang dilaporkan. 16 Bila dimungkinkan, perusahaan sebaiknya melakukan perubahan akuntansi dalam periode interim pertama dari suatu tahun buku. Perubahan akuntansi yang dilakukan setelah periode interim pertama dalam satu tahun buku cenderung mengaburkan hasil usaha dan menyulitkan pengungkapan informasi keuangan. 17 Dalam menentukan materialitas pelaporan pengaruh kumulatif dari perubahan akuntansi atau koreksi kesalahan, jumlah yang ada harus dihubungkan dengan estimasi pendapatan setahun penuh dan kecenderungan laba pada periode interim berikutnya dalam tahun buku yang sama. Perubahan yang material bila dikaitkan dengan suatu periode interim tetapi tidak material bila dikaitkan dengan estimasi pendapatan setahun penuh atau dengan kecenderungan laba harus diungkapkan secara tersendiri dalam periode interim tersebut. go top

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 3 LAPORAN KEUANGAN INTERIM


Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 3 terdiri dari paragraf 18-24. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1- 17. Penyajian Laporan Keuangan Interim 18 Pernyataan ini berlaku untuk perusahaan yang diwajibkan untuk menyajikan laporan keuangan interim oleh peraturan perundangan yang berlaku, misalnya pasar modal, dan lain-lain. Untuk industri yang telah diatur dalam standar akuntansi keuangan industri yang bersangkutan secara khusus, misalnya perbankan, maka harus mengikuti standar khusus tersebut. 19 Laporan keuangan interim meliputi neraca, laporan laba rugi dan saldo laba interim, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan interim harus disajikan secara komparatif dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Perhitungan laba-rugi interim harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan periode interim terakhir yang dilaporkan (year-to-date). 20 Laporan keuangan interim harus menggolongkan aktiva sebagai kelompok lancar dan tidak lancar, dan kewajiban sebagai kelompok jangka pendek dan jangka panjang sesuai laporan keuangan tahunan. Kalau suatu aktiva dan kewajiban dapat atau harus direalisasikan dalam jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca interim, maka aktiva tersebut digolongkan sebagai

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 03 Laporan Keuangan Interim.htm

10/16/03

PSAK no 03

Page 6 of 7

lancar; atau kewajiban tersebut digolongkan sebagai jangka pendek; kalau tidak aktiva tersebut digolongkan sebagai tidak lancar atau kewajiban tersebut digolongkan sebagai jangka panjang. Khusus untuk perusahaan tertentu seperti bank dan asuransi yang mempunyai metode khusus dalam penggolongan aktiva, maka penggolongan aktiva harus dilakukan sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku. go top Pengungkapan Ringkasan Data Keuangan Interim 21 Apabila perusahaan melaporkan ringkasan informasi keuangan pada tanggal laporan keuangan interim, data berikut merupakan data minimum yang harus dilaporkan:
l

l l l l

l l l

pendapatan atau penjualan kotor, beban, estimasi pajak penghasilan, pos luar biasa (termasuk pengaruh terhadap pajak penghasilan yang terkait), pengaruh kumulatif perubahan akuntansi, perubahan akuntansi dan laba bersih; data laba bersih per saham untuk setiap periode interim yang disajikan; pendapatan dan beban musiman; perubahan yang penting dalam taksiran pajak penghasilan; pelepasan suatu segmen usaha, pos luar biasa, transaksi tidak biasa dan tidak sering terjadi; kewajiban kontinjen; perubahan akuntansi; dan perubahan yang material pada unsur laporan arus kas.

22 Suatu perubahan kebijakan akuntansi harus diterapkan secara retrospektif dengan melaporkan jumlah setiap penyesuaian yang terjadi yang berhubungan dengan periode sebelumnya sebagai suatu penyesuaian pada saldo laba awal periode (retained earnings), kecuali jika jumlah tersebut tidak dapat ditentukan secara wajar. Informasi komparatif harus dinyatakan kembali, kecuali jika untuk melaksanakannya dianggap tidak praktis. Pengaruh perubahan akuntansi terhadap hasil keuangan untuk periode interim pada periode interim berikutnya harus diungkapkan . 23 Laporan keuangan interim terakhir, misalnya triwulan keempat tidak perlu disusun karena pada dasarnya laporan keuangan tersebut dapat digantikan dengan laporan keuangan tahunan. Dalam hal laporan keuangan interim triwulan keempat hendak diterbitkan, maka penerbitannya dilakukan bersamaan dengan penerbitan laporan keuangan tahunan. Di samping itu, isi dari laporan keuangan interim triwulan keempat harus merupakan selisih dari laporan keuangan tahunan dan laporan keuangan interim sebelumnya tahun yang bersangkutan. go top Tanggal Efektif 24 Pernyataan ini berlaku untuk penyusunan laporan keuangan interim yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini sangat dianjurkan. go top

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 03 Laporan Keuangan Interim.htm

10/16/03

PSAK no 03

Page 7 of 7

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 03 Laporan Keuangan Interim.htm

10/16/03

PSAK no 04

Page 1 of 8

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 4 LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 4 tentang Laporan Keuangan Konsolidasi disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI PENDAHULUAN Tujuan Ruang Lingkup Definisi PENJELASAN Kriteria Penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasi Prosedur Konsolidasi Penyajian Tersendiri Laporan Keuangan Induk Perusahaan Pengungkapan PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 4 LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI Kriteria Penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasi Prosedur Konsolidasi Penyajian Tersendiri Laporan Keuangan Induk Perusahaan Pengungkapan Tanggal Efektif

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 04 Laporan Keuangan Konsolidasi.htm

10/16/03

PSAK no 04

Page 2 of 8

PENDAHULUAN
Tujuan Pernyataan ini mengatur penyajian laporan keuangan konsolidasi suatu kelompok perusahaan yang berada di bawah pengendalian suatu induk perusahaan. Laporan keuangan konsolidasi disajikan untuk memenuhi kebutuhan informasi keuangan yang meliputi posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas dari suatu kelompok perusahaan, yang secara ekonomis dianggap merupakan satu kesatuan usaha. go top Ruang Lingkup 01 Pernyataan ini tidak mengatur: a. Metode akuntansi untuk penggabungan usaha serta pengaruhnya terhadap konsolidasi, termasuk goodwill yang timbul dalam penggabungan usaha; b. Akuntansi untuk investasi pada perusahaan asosiasi; dan c. Akuntansi untuk investasi pada pengendalian bersama operasi dan aktiva. 02 Pernyataan ini diberlakukan untuk semua induk perusahaan sepanjang belum ada pengaturan khusus dalam Pernyataan tersendiri mengenai penyusunan laporan keuangan konsolidasi . go top Definisi 03 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Pengendalian (Control) adalah kemampuan untuk mengatur kebijakan finansial dan operasional dari suatu perusahaan untuk mendapatkan manfaat dari kegiatan perusahaan tersebut. Anak perusahaan (Subsidiary) adalah perusahaan yang dikendalikan oleh perusahaan lain (yang disebut induk perusahaan). Induk perusahaan (Parent company) adalah perusahaan yang memiliki satu atau lebih anak perusahaan. Kelompok (group) perusahaannya. perusahaan adalah kumpulan induk perusahaan dan seluruh anak

Laporan keuangan konsolidasi adalah suatu laporan keuangan dari suatu group perusahaan yang disajikan sebagai satu kesatuan ekonomi . Hak minoritas adalah bagian hasil usaha dan bagian aktiva neto dari anak perusahaan yang tidak dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh induk perusahaan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 04 Laporan Keuangan Konsolidasi.htm

10/16/03

PSAK no 04

Page 3 of 8

go top

PENJELASAN
04 Para pengguna laporan keuangan pada umumnya ingin mengetahui dan mendapatkan informasi tentang posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas dari suatu kelompok perusahaan secara keseluruhan. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui penyajian laporan keuangan konsolidasi yang menyajikan informasi keuangan dari suatu kelompok perusahaan sebagai satu kesatuan ekonomi meskipun masing-masing perusahaan dalam kelompok tersebut merupakan suatu entitas hukum yang terpisah satu sama lain. go top Kriteria Penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasi 05 Laporan keuangan konsolidasi menggabungkan seluruh perusahaan yang dikendalikan oleh induk perusahaan, kecuali anak perusahaan sebagaimana dimaksud dalam paragraf 6. Pengendalian (control) dianggap ada apabila induk perusahaan memiliki baik secara langsung atau tidak langsung (melalui anak perusahaan), Iebih dari 50% hak suara pada suatu perusahaan. Walaupun suatu perusahaan memiliki hak suara 50% atau kurang, pengendalian tetap dianggap ada apabila dapat dibuktikan adanya salah satu kondisi berikut: a. Mempunyai hak suara yang lebih dari 50% berdasarkan suatu perjanjian dengan investor lainnya; b. Mempunyai hak untuk mengatur dan menentukan kebijakan finansial dan operasional perusahaan berdasarkan anggaran dasar atau perjanjian; c. Mampu menunjuk atau memberhentikan mayoritas pengurus perusahaan; d. Mampu menguasai suara mayoritas dalam rapat pengurus. 06 Anak perusahaan tidak dikonsolidasikan apabila: a. Pengendalian dimaksudkan, untuk sementara karena saham anak perusahaan dibeli dengan tujuan untuk dijual atau dialihkan dalam jangka pendek. b. Anak perusahaan dibatasi oleh suatu restriksi jangka panjang sehingga mempengaruhi secara signifikan kemampuannya dalam mentransfer dana kepada induk perusahaan. Anak perusahaan yang tidak dikonsolidasikan tersebut harus dipertanggungjawabkan oleh induk perusahaan sebagaimana anak perusahaan lainnya, sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 13 tentang Akuntansi untuk Investasi. 07 Anak perusahaan yang mempunyai kegiatan usaha yang berbeda dengan kegiatan perusahaan lainnya dalam kelompok perusahaan tersebut, harus tetap dikonsolidasikan. Dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi harus diungkapkan kegiatan usaha khusus dari anak perusahaan tersebut. go top Prosedur Konsolidasi 08 Dalam menyusun laporan keuangan konsolidasi, laporan keuangan induk perusahaan dan anak perusahaan digabungkan satu persatu dengan menjumlahkan unsur-unsur yang sejenis dari aktiva,

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 04 Laporan Keuangan Konsolidasi.htm

10/16/03

PSAK no 04

Page 4 of 8

kewajiban, ekuitas, pendapatan dan beban. Agar laporan keuangan konsolidasi dapat menyajikan informasi keuangan dari kelompok perusahaan tersebut sebagai satu kesatuan ekonomi, maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut: a. Saldo nilai tercatat (carrying amount) penyertaan induk perusahaan pada masing-masing anak perusahaan dieliminasi dengan ekuitas anak perusahaan yang menjadi bagian induk perusahaan. b. Saldo antar perusahaan dan transaksi antar perusahaan dalam kelompok perusahaan tersebut, termasuk penjualan, beban dan dividen harus dieliminasi seluruhnya. c. Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi (unrealized profits) yang berasal dari transaksi antar perusahaan harus dieliminasi. d. Hak minoritas dalam laba bersih disajikan sebagai pengurang dari laba bersih konsolidasi untuk mendapatkan jumlah laba bersih yang menjadi hak pemegang saham induk perusahaan. e. Hak minoritas dalam aktiva bersih disajikan tersendiri dalam neraca konsolidasi, di antara ekuitas dan kewajiban. Hak minoritas dalam aktiva bersih terdiri dari: i. Suatu jumlah pada saat terjadinya penggabungan usaha, yang dihitung dengan cara yang ditentukan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 22 tentang Akuntansi Penggabungan Usaha; dan ii. Bagian pemegang saham minoritas atas perubahan ekuitas yang terjadi setelah tanggal penggabungan usaha. 09 Laporan keuangan induk perusahaan dan anak perusahaan yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi lazimnya adalah laporan keuangan dengan tanggal pelaporan yang sama. Apabila ternyata tanggal pelaporannya berbeda, anak perusahaan biasanya menyusun laporan keuangan dengan tanggal pelaporan yang sama dengan induk perusahaan. Apabila penyesuaian tanggal tersebut tidak dapat dilakukan, laporan keuangan dengan tanggal pelaporan yang berbeda tersebut dapat juga digunakan untuk tujuan konsolidasi sepanjang perbedaan tanggal pelaporan tersebut tidak lebih dari 3 (tiga) bulan. Sesuai dengan asas konsistensi, baik jangka waktu periode laporan maupun perbedaan dalam tanggal pelaporan harus selalu sama dari waktu ke waktu. 10 Apabila laporan keuangan dengan tanggal pelaporan yang berbeda digunakan untuk tujuan konsolidasi, maka penyesuaian yang diperlukan harus dilakukan untuk pengaruh yang material dari setiap peristiwa atau transaksi antar perusahaan, yang terjadi antara tanggal pelaporan yang berbeda tersebut dengan tanggal pelaporan laporan keuangan konsolidasi. 11 Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi yang sama untuk peristiwa dan transaksi sejenis dalam kondisi yang sama. Apabila suatu perusahaan dalam kelompok tersebut menggunakan kebijakan akuntansi yang berbeda dari kebijakan akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan konsolidasi, maka dilakukan penyesuaian yang diperlukan terhadap laporan keuangan perusahaan tersebut. Apabila penyesuaian yang diperlukan tersebut tidak dapat dihitung, maka fakta tersebut harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi, beserta proporsi unsur tersebut terhadap unsur sejenis dalam laporan keuangan konsolidasi . 12 Bila akuisisi dilakukan dalam tahun berjalan, maka hasil usaha anak perusahaan yang disajikan dalam laporan keuangan konsolidasi adalah hasil usaha yang terhitung sejak tanggal akuisisi, yaitu sejak pengendalian secara efektif terjadi. Apabila dilakukan pengalihan/penjualan penyertaan atau pengurangan penyertaan pada anak perusahaan yang menyebabkan induk perusahaan kehilangan kendali terhadap anak perusahaan, maka hasil usaha anak perusahaan yang dikonsolidasikan adalah hasil usaha sampai dengan tanggal penjualan/pengalihan penyertaan tersebut. Selisih antara saldo penyertaan induk perusahaan dan saldo aktiva dan kewajiban anak perusahaan pada saat pengalihan/penjualan diakui sebagai keuntungan atau kerugian pada laporan keuangan konsolidasi. Untuk menjamin daya banding laporan keuangan antar periode, maka dalam informasi tambahan diungkapkan mengenai pengaruh dari akuisisi anak perusahaan dan pengalihan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 04 Laporan Keuangan Konsolidasi.htm

10/16/03

PSAK no 04

Page 5 of 8

penyertaan terhadap posisi keuangan dan hasil usaha periode berjalan dan periode sebelumnya. 13 Terhitung sejak suatu perusahaan tidak memenuhi syarat sebagai anak perusahaan dan juga tidak merupakan perusahaan asosiasi sebagaimana diatur pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 15 tentang Akuntansi Untuk Investasi Dalam Perusahaan Asosiasi, maka perlakuan akuntansi atas investasi tersebut harus mengacu pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 13 tentang Akuntansi Untuk Investasi. 14 Kerugian yang menjadi bagian dari pemegang saham minoritas pada suatu anak perusahaan dapat melebihi bagiannya dalam modal disetor. Kelebihan tersebut dan kerugian lebih lanjut yang menJadi bagian pemegang saham minoritas, harus dibebankan pada pemegang saham mayoritas, kecuali terdapat kewajiban yang mengikat pemegang saham minoritas untuk menutupi kerugian tersebut dan pemegang saham minoritas mampu memenuhi kewajibannya. Apabila pada periode selanjutnya, anak memenuhi kewajibannya. Apabila pada periode selanjutnya, anak perusahaan melaporkan laba, maka laba tersebut harus terlebih dahulu dialokasikan kepada pemegang saham mayoritas sampai seluruh bagian kerugian pemegang saham minoritas yang dibebankan pada pemegang saham mayoritas dapat ditutup. 15 Apabila anak perusahaan mengeluarkan saham preferen kumulatif yang dimiliki oleh pemegang saham di luar group, maka induk perusahaan menghitung bagiannya atas laba atau rugi anak perusahaan setelah dilakukan penyesuaian terhadap dividen preferen, walaupun dividen tersebut belum dideklarasikan. go top Penyajian Tersendiri Laporan Keuangan Induk Perusahaan 16 Apabila dipenuhi kriteria konsolidasi maka laporan keuangan konsolidasi wajib disusun. Untuk tujuan pelaporan keuangan, induk perusahaan yang memenuhi kriteria konsolidasi tidak boleh menyajikan tersendiri laporan keuangannya (tanpa konsolidasi) karena hanya ada satu laporan keuangan yang berlaku umum (general purpose financial statement) yaitu laporan keuangan konsolidasi. Akan tetapi laporan keuangan tersendiri boleh disajikan apabila bertujuan untuk memberikan informasi tambahan bagi pengguna laporan keuangan konsolidasi. Dalam laporan keuangan induk perusahaan yang disajikan tersendiri tersebut, penyertaan pada anak perusahaan harus dipertanggungjawabkan dengan menggunakan metode ekuitas. go top Pengungkapan (Disclosure) 17 Agar para pengguna laporan keuangan konsolidasi dapat memahami hubungan antara perusahaan-perusahaan dalam suatu group, maka pengungkapan atas hal-hal berikut harus dilakukan: a. Daftar anak perusahaan (yang signifikan) yang antara lain mencakup: nama, tempat kedudukan, persentase pemilikan dan persentase hak suara (apabila berbeda dengan persentase pemilikan). b. Alasan untuk tidak mengkonsolidasikan suatu anak perusahaan. c. Sifat hubungan antara induk perusahaan dan anak perusahaan yang menyebabkan induk perusahaan dapat melakukan pengendalian terhadap anak perusahaan meskipun hak suara induk perusahaan, baik langsung maupun tidak langsung, 50% atau kurang. 18 Apabila laporan keuangan induk perusahaan disajikan tersendiri dengan tujuan untuk

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 04 Laporan Keuangan Konsolidasi.htm

10/16/03

PSAK no 04

Page 6 of 8

memberikan informasi tambahan (bukan sebagai laporan keuangan pokok), metode yang digunakan untuk mempertanggungjawabkan penyertaan pada anak perusahaan, harus diungkapkan. go top

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 4 LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI


Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 4 terdiri dari paragraf 19-29. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1 -18 Ruang Lingkup Laporan Keuangan Konsolidasi 19 Suatu induk perusahaan yang memiliki baik langsung maupun tidak langsung melalui anak perusahaan lebih dari 50% saham berhak suara pada perusahaan lain, harus menyajikan laporan keuangan konsolidasi. Suatu perusahaan yang memiliki 50% atau kurang saham berhak suara pada perusahaan lain, wajib menyusun laporan keuangan konsolidasi apabila dapat dibuktikan bahwa pengendalian tetap ada. Laporan keuangan konsolidasi harus mengkonsolidasikan seluruh anak perusahaan baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri. 20 Anak perusahaan tidak dikonsolidasikan apabila: a. Pengendalian pada anak perusahaan bersifat sementara karena anak perusahaan khusus diakuisisi dengan tujuan untuk dijual kembali atau dialihkan dalam jangka pendek. b. Anak perusahaan dibatasi oleh suatu restriksi jangka panjang sehingga tidak mampu mengalihkan dananya kepada induk perusahaan. Penyertaan induk perusahaan pada anak perusahaan yang memenuhi salah satu kriteria di atas harus dipertanggungjawabkan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 13 tentang Akuntansi untuk Investasi. go top Prosedur Konsolidasi 21 Transaksi dan saldo resiprokal antara induk perusahaan dan anak perusahaan harus dieliminasi. 22 Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi, yang timbul dari transaksi antara induk perusahaan dan anak perusahaan, harus dieliminasi. 23 Untuk tujuan konsolidasi, tanggal pelaporan keuangan anak perusahaan pada dasarnya harus sama dengan tanggal pelaporan keuangan perusahaan induk. Apabila tanggal pelaporan tersebut berbeda maka laporan keuangan anak perusahaan dengan tanggal pelaporan yang berbeda tersebut dapat digunakan untuk tujuan konsolidasi sepanjang: a. Perbedaan tanggal pelaporan tersebut tidak lebih dari 3 (tiga) bulan. b. Peristiwa atau transaksi material yang terjadi di antara tanggal pelaporan tersebut diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi. Apabila laporan keuangan dengan tanggal pelaporan yang berbeda (yang lebih dari tiga bulan) digunakan untuk tujuan konsolidasi, maka penyesuaian yang diperlukan harus dilakukan untuk pengaruh dari setiap peristiwa atau transaksi antar perusahaan yang signifikan, yang terjadi

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 04 Laporan Keuangan Konsolidasi.htm

10/16/03

PSAK no 04
antara tanggal pelaporan yang berbeda tersebut.

Page 7 of 8

24 Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi yang sama untuk transaksi, peristiwa dan keadaan yang sama atau sejenis. Apabila tidak mungkin digunakan kebijakan akuntansi yang sama dalam menyusun laporan keuangan konsolidasi, maka harus diungkapkan penggunaan kebijakan akuntansi yang berbeda tersebut dan proporsi unsur yang terkait dengan kebijakan akuntansi tersebut terhadap unsur sejenis dalam laporan keuangan konsolidasi. 25 Hak minoritas ( minority interest) harus disajikan tersendiri dalam neraca konsolidasi antara kewajiban dan modal. Hak minoritas dalam laba disajikan tersendiri dalam laporan laba rugi konsolidasi. 26 Investasi pada anak perusahaan harus dipertanggungjawabkan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 13 tentang Akuntansi untuk Investasi, terhitung sejak investasi tersebut tidak memenuhi persyaratan sebagai anak perusahaan dan juga bukan perusahaan asosiasi berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 15 tentang Akuntansi untuk Investasi pada Perusahaan Asosiasi. go top Penyajian Tersendiri Laporan Keuangan Induk Perusahaan 27 Induk perusahaan yang memenuhi kriteria konsolidasi, tidak boleh menyajikan tersendiri laporan keuangannya (tanpa konsolidasi) sebagai laporan keuangan untuk tujuan pelaporan keuangan (general purpose financial statement). Laporan keuangan tersendiri induk perusahaan hanya dapat disajikan sebagai informasi tambahan dalam laporan keuangan konsolidasi. Dalam laporan keuangan tersendiri tersebut penyertaan pada anak perusahaan harus menggunakan metode ekuitas. go top Pengungkapan 28 Pengungkapan berikut harus disajikan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi: a. Daftar anak perusahaan (yang signifikan), yang antara lain mencakup: nama anak perusahaan, tempat domisili, bidang usaha dan persentase pemilikan dan persentase hak suara (apabila berbeda dengan persentase pemilikan). b. Alasan untuk tidak mengkonsolidasikan anak perusahaan, sebagaimana diatur pada paragraf 20. c. Sifat hubungan antara induk perusahaan dan anak perusahaan yang menyebabkan induk perusahaan dapat melakukan pengendalian terhadap anak perusahaan meskipun hak suara induk perusahaan, baik langsung maupun tidak langsung, 50% atau kurang. d. Pengaruh dari akuisisi dan penjualan atau pengalihan penyertaan pada anak perusahaan terhadap posisi keuangan dan hasil usaha konsolidasi tahun berjalan dan tahun sebelumnya. go top Tanggal Efektif 29 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan konsolidasi yang mencakupi periode yang

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 04 Laporan Keuangan Konsolidasi.htm

10/16/03

PSAK no 04
dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini dianjurkan. go top

Page 8 of 8

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 04 Laporan Keuangan Konsolidasi.htm

10/16/03

PSAK no 05

Page 1 of 6

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 5 PELAPORAN INFORMASI KEUANGAN MENURUT SEGMEN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 5 tentang Pelaporan Informasi Keuangan Menurut Segmen disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN Tujuan Pernyataan ini menjelaskan pelaporan informasi keuangan menurut segmen dari suatu perusahaan - khususnya yang beroperasi dalam industri dan wilayah geografis yang berbeda. Ruang Lingkup 01 Pernyataan ini berlaku bagi perusahaan yang menerbitkan surat-surat berharga yang diperdagangkan kepada publik. Dalam Pernyataan ini, yang dimaksud dengan entitas yang secara ekonomi signifikan, termasuk anak perusahaan, adalah entitas dengan tingkat pendapatan, laba,

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 05 Pelaporan Informasi Keuangan Menurut Segmen.htm 10/16/03

PSAK no 05

Page 2 of 6

aktiva atau jumlah tenaga kerja yang signifikan di negara tempat operasi utama perusahaan dilaksanakan. 02 Apabila yang disajikan meliputi baik laporan keuangan induk perusahaan maupun laporan keuangan konsolidasi, maka informasi yang dimaksud dalam Pernyataan ini hanya perlu disajikan dalam bentuk informasi yang dikonsolidasikan. Apabila laporan keuangan anak perusahaan juga diterbitkan, maka informasi menurut segmen juga perlu disajikan untuk anak perusahaan . Definisi 03 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Segmen perusahaan adalah komponen suatu entitas yang aktivitasnya mewakili kegiatan usaha utama atau kelompok pelanggan. Suatu segmen dapat berbentuk sebuah anak perusahaan, suatu divisi, suatu departemen, dalam beberapa hal sebuah joint venture atau anak perusahaan lain bukan investasi. Aktiva, kinerja dan aktivitas segmen tersebut secara jelas dapat dipisahkan secara fisik dan operasional dari aktiva, kinerja dan aktivitas yang lain dalam entitas yang sama. Segmen Industri adalah komponen perusahaan yang dapat dibedakan (distinguishable components) dan menghasilkan suatu produk atau jasa yang berbeda menurut pembagian industri, atau sekelompok produk atau jasa sejenis yang berbeda, terutama untuk para pelanggan di luar perusahaan. Sebagai misal, industri dapat dikelompokkan menjadi industri perhotelan dan pariwisata, industri transpor, industri pertambangan, industri jasa profesional dan lain-lain. Segmen Geografis adalah komponen perusahaan yang dapat dibedakan dan mempunyai usaha di suatu atau sekelompok negara dalam suatu wilayah geografis tertentu. Pendapatan Segmen adalah pendapatan yang dapat diatribusikan atau dikaitkan secara langsung pada suatu segmen, atau bagian yang relevan dari pendapatan yang dapat dialokasikan secara layak pada suatu segmen. Pendapatan ini merupakan hasil transaksi baik dengan pihak luar perusahaan maupun dengan segmen lain dalam perusahaan yang sama. Beban Segmen adalah beban yang dapat diatribusikan secara langsung pada suatu segmen atau bagian yang relevan dari suatu beban yang dapat dialokasikan secara layak sebagai beban suatu segmen . PENJELASAN 04 Tingkat profitabilitas, kesempatan berkembang, prospek masa depan dan risiko investasi sangat berbeda di antara segmen-segmen industri dan geografis. Dengan demikian para pemakai laporan keuangan memerlukan informasi segmen untuk mengkaji prospek dan risiko suatu perusahaan yang didiversifikasi, suatu informasi yang tidak dapat diperoleh dari data yang diagregasikan. Tujuan penyajian informasi menurut segmen adalah menyediakan informasi bagi para pemakai laporan keuangan mengenai skala relatif, kontribusi laba, dan trend pertumbuhan dari berbagai industri dan wilayah geografis perusahaan yang didiversifikasi untuk memungkinkan para pemakai laporan keuangan membuat pertimbangan yang lebih baik terhadap perusahaan secara keseluruhan. 05 Pelaporan informasi segmen tidak dimaksudkan untuk memberi kesan bahwa segmen semacam itu dipandang sebagai bisnis yang independen atau perbandingan antar segmen yang serupa dari perusahaan yang berbeda dapat dilakukan. 06 Pelaporan informasi segmen melibatkan keputusan yang sebagian berdasar pertimbangan pelapor. Keputusan semacam itu meliputi pengidentifikasian segmen dan pengalokasian

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 05 Pelaporan Informasi Keuangan Menurut Segmen.htm 10/16/03

PSAK no 05

Page 3 of 6

pendapatan dan beban pada segmen tersebut. Informasi tentang dasar yang dipakai dalam penyusunan laporan menurut segmen dapat meningkatkan pemahaman para pemakai tentang data yang dihasilkan. 07 Kadang-kadang timbul kekhawatiran bahwa pengungkapan informasi segmen akan melemahkan posisi daya saing suatu perusahaan karena informasi yang lebih rinci tersedia bagi pesaing, pelanggan, pemasok dan pihak lain. Dengan alasan ini, ada yang berpendapat merupakan hal yang wajar jika perusahaan diperkenankan untuk tidak mengungkapkan informasi segmen tertentu kalau pengungkapannya dianggap merugikan. Pendapat lain menyatakan bahwa pengungkapan bagi perusahaan yang didiversifikasi tidak lebih merugikan daripada pengungkapan informasi yang dipersyaratkan bagi suatu perusahaan yang hanya beroperasi dalam satu industri atau wilayah geografis, apalagi informasi yang relevan juga tersedia dari sumber lain. Selanjutnya, analisis informasi keuangan yang diagregasikan menurut segmen dipandang dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pemakai melakukan pengkajian lebih baik terhadap kinerja perusahaan masa lalu serta prospek perusahaan di masa depan. Metode Pelaporan Informasi Segmen Identifikasi Pelaporan Segmen 08 Segmen industri dan segmen geografis merupakan dasar yang biasanya digunakan dalam penyajian informasi operasi menurut segmen. Suatu perusahaan akan menyediakan informasi dengan dua dasar ini sepanjang dapat diterapkan pada operasinya. 09 Informasi segmen industri biasanya disajikan menurut pengelompokan umum dari produk atau jasa yang terkait atau menurut jenis pelanggan. Informasi segmen geografis kadang-kadang disajikan menurut lokasi operasi perusahaan, menurut pasar, atau kedua-duanya. Operasi perusahaan di dalam negeri umumnya dipandang sebagai segmen tersendiri. Beberapa negara mengharuskan pengungkapan terpisah penjualan ekspor dari operasi dalam negeri. 10 Untuk tujuan pelaporan, segmen industri dan geografis dapat ditentukan dengan berbagai cara. Pengelompokan aktivitas perusahaan menurut segmen untuk tujuan ini merupakan tanggung jawab manajemen. Dalam keputusannya, manajemen biasanya mempertimbangkan banyak faktor, antara lain kesamaan dan perbedaan produk serta aktivitas perusahaan; profitabilitas, risiko dan pertumbuhan produk serta aktivitas perusahaan; dan bidang-bidang operasi serta pemasaran dan kepentingan relatif masing-masing bidang terhadap perusahaan secara keseluruhan. Adanya ketentuan-ketentuan khusus yang harus dipenuhi dan karakteristik dari industri tertentu seperti industri perbankan dan asuransi merupakan faktor tambahan yang harus dipertimbangkan dalam penentuan segmen yang harus dilaporkan. 11 Pengelompokan organisasi seperti divisi, anak perusahaan, atau cabang biasanya dibentuk sesuai dengan kebutuhan manajemen. Pengelompokan semacam itu seringkali sesuai dengan penetapan segmen perusahaan, sehingga mempermudah pelaporan segmen. Jika tidak demikian, pelaporan segmen membutuhkan reklasifikasi data. 12 Dalam menentukan segmen, adalah relevan untuk mempertimbangkan kaitan antar aktivitas perusahaan. Misalnya, penyajian bagian-bagian aktivitas perusahaan yang sangat terintegrasi dan tergantung satu sama lain sebagai segmen-segmen yang terpisah mungkin menyesatkan. Pertimbangan yang sama tidak perlu harus berlaku dalam menentukan segmen geografis yang ingin dilaporkan. 13 Beberapa pendapat mempertimbangkan kebutuhan untuk memberikan petunjuk mengenai bagaimana menentukan materialitas suatu segmen sebelum dilaporkan secara terpisah dan membatasi segmen sampai pada jumlah secukupnya agar tidak menjadi terlalu rumit. Petunjuk tersebut adalah 10 persen dari pendapatan atau laba usaha atau total aktiva yang

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 05 Pelaporan Informasi Keuangan Menurut Segmen.htm 10/16/03

PSAK no 05

Page 4 of 6

dikonsolidasikan, meskipun petunjuk kuantitatif semacam itu bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan segmen pelaporan. Sebagai pertimbangan dan pengujian pilihan dasar segmentasi, dapat dipertimbangkan tiga dasar segmentasi sebagai berikut: (a) Penjualan kepada pelanggan yang tak mempunyai hubungan istimewa, memberi peluang dasar segmentasi dasar segmentasi jenis-jenis pendapatan sebesar 10 persen ke atas, (b) Apabila laba operasi merupakan hal yang penting, maka laba operasi atau rugi operasi 10 persen ke atas disajikan terpisah, (c) Apabila penggunaan aktiva adalah penting, maka aktiva segmen berjumlah 10 persen ke atas dari Jumlah aktiva entitas dilaporkan terpisah. 14 Penjualan antar segmen dan pendapatan antar segmen lainnya tidak selalu dapat ditentukan secara obyektif (arm's length basis). Karena alasan ini, pengungkapan jumlah pendapatan semacam itu dan penjelasan dasar penetapan harga antar segmen (seperti harga pasar, biaya, atau harga pasar dikurangi diskonto) sangat bermanfaat. Hasil Segmen 15 Tolak ukur profitabilitas suatu segmen diungkapkan sebagai hasil segmen. Hasil segmen adalah selisih antara pendapatan segmen dan beban segmen dan umumnya mencerminkan laba usaha, meskipun dasar yang lain sering lebih cocok. Penghasilan bunga dan beban bunga biasanya tidak termasuk dalam hasil segmen kecuali kalau operasi segmen terutama bersifat finansial. Juga pajak penghasilan, hak minoritas (minority interest) dan pos luar biasa (extraordinary item) lazimnya tidak dimasukkan sebagai hasil segmen. 16 Kalau pendapatan dan beban tidak dapat langsung diatribusikan pada suatu segmen tetapi terdapat dasar alokasi yang layak, maka pendapatan dan beban tersebut dapat dialokasikan dengan menggunakan dasar yang layak tersebut. Namun demikian, beban bersama pada banyak perusahaan seperti beban kantor pusat tidak dialokasikan pada masing-masing segmen karena beban tersebut dimanfaatkan bersama sedemikian rupa sehingga alokasi di antara segmen dipandang tidak bermanfaat. Aktiva dan Kewajiban Segmen 17 Pengungkapan aktiva segmen memberikan indikasi penggunaan sumber daya untuk mencapai hasil operasi segmen. Aktiva semacam itu termasuk semua aktiva berwujud dan tak berwujud yang dapat diidentifikasi pada segmen tertentu. Aktiva yang dimanfaatkan oleh dua atau lebih segmen harus dialokasikan di antara segmen-segmen tersebut dengan dasar alokasi yang layak. Kewajiban biasanya tidak dialokasikan karena dianggap berkaitan dengan perusahaan secara keseluruhan atau karena dipandang meningkatkan hasil pembelanjaan dan bukan hasil operasi . Informasi yang Dilaporkan 18 Informasi untuk setiap segmen yang dilaporkan berikut ini pada umumnya diperlukan: (a) uraian kegiatan setiap segmen industri yang dilaporkan dan indikasi mengenai komposisi setiap wilayah geografis yang dilaporkan, (b) penjualan atau pendapatan operasi lainnya, dengan pemisahan antara pendapatan dari pelanggan di luar perusahaan dan pendapatan dari segmen lain,

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 05 Pelaporan Informasi Keuangan Menurut Segmen.htm 10/16/03

PSAK no 05

Page 5 of 6

(c) hasil segmen, dan (d) aktiva segmen yang digunakan, dinyatakan baik dalam jumlah uang atau sebagai persentase dari jumlah yang dikonsolidasikan. Hubungan antara jumlah dari informasi pada segmen-segmen individual dan informasi agregat dalam laporan keuangan diperjelas dengan menyajikan rekonsiliasi. Mungkin juga berguna untuk mengungkapkan informasi lain seperti jumlah pendapatan setiap segmen dari investasi yang dibukukan dengan metode equity, hak minoritasnya, atau pos luar biasa. Penyusutan, deplesi, amortisasi, riset dan pengembangan serta pengeluaran modal selama periode kadang-kadang diungkapkan untuk setiap segmen yang dilaporkan. Kadang-kadang informasi non keuangan seperti jumlah karyawan untuk setiap segmen yang dilaporkan juga diungkapkan.

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 5 PELAPORAN INFORMASI KEUANGAN MENURUT SEGMEN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan NO.5 terdiri dari paragraf 19-25. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1-18. 19 Perusahaan yang menerbitkan surat berharga yang diperdagangkan pada publik, harus melaporkan informasi keuangan yang dijelaskan dalam paragraf 20-23 untuk segmen industri dan untuk segmen geografis yang dianggap signifikan bagi perusahaan. Kalau yang disajikan meliputi baik laporan keuangan induk perusahaan maupun laporan keuangan konsolidasi, inforMasi segmen yang perlu disajikan hanya terbatas pada laporan keuangan konsolidasi. 20 Perusahaan harus menggambarkan aktivitas masing-masing segmen industri dan menunjukkan komposisi masing-masing wilayah geografis yang dilaporkan. 21 Untuk setiap segmen industri dan geografis yang dilaporkan, informasi keuangan berikut ini harus diungkapkan: (a) penjualan atau pendapatan operasi lainnya, dibedakan antara pendapatan yang dihasilkan dari pelanggan di luar perusahaan dan pendapatan dari segmen lain, (b) hasil segmen, (c) aktiva segmen yang digunakan, dinyatakan dalam jumlah uang atau sebagai persentase dari jumlah yang dikonsolidasikan, dan (d) dasar penetapan harga antar segmen. 22 Perusahaan harus menyajikan rekonsiliasi antara informasi segmen-segmen individual dan informasi keseluruhan dalam laporan keuangan. 23 Perubahan dalam penentuan segmen dan perubahan dalam praktek akuntansi yang digunakan dalam pelaporan informasi segmen yang membawa pengaruh material terhadap informasi segmen harus diungkapkan. Pengungkapan tersebut harus mencakupi uraian mengenai hakekat perubahan, penjelasan mengenai alasan perubahan dan pengaruh dari perubahan sepanjang informasi dapat ditentukan secara wajar.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 05 Pelaporan Informasi Keuangan Menurut Segmen.htm 10/16/03

PSAK no 05

Page 6 of 6

Masa Transisi 24 Tidak ada angka-angka komparatif yang perlu disajikan pada periode pertama penerapan Pernyataan ini kalau informasi yang diperlukan tidak tersedia. Tanggal Efektif 25 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal Januari 1995. Penerapan lebih dini dianjurkan.

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 05 Pelaporan Informasi Keuangan Menurut Segmen.htm 10/16/03

PSAK no 06

Page 1 of 4

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 6 AKUNTANSI DAN PELAPORAN BAGI PERUSAHAAN DALAM TAHAP PENGEMBANGAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 6 tentang Akuntansi dan Pelaporan Bagi Perusahaan Dalam Tahap Pengembangan disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN Pada masa lalu banyak perusahaan dalam tahap pengembangan sering mengikuti praktek-praktek akuntansi dan pelaporan keuangan khusus yang berbeda dengan perusahaan yang telah berjalan. Praktek-praktek tersebut antara lain dilakukan dengan mengkapitalisasi atau menunda pembebanan semua jenis biaya yang terjadi tanpa mempertimbangkan kemungkinan pemulihannya atau mengurangkan biaya-biaya tersebut pada pendapatan. Di samping itu sebagai alternatif lain beberapa perusahaan dalam tahap pengembangan menyajikan laporan keuangan dengan cara yang tidak berbeda dengan perusahaan-perusahaan yang telah beroperasi, sesuai dengan prinsipprinsip akuntansi yang berlaku.

file://C:\P.S....\PSAK 06 Akuntansi dan Pelaporan Bagi Perusahaan dalam Tahap Pengembangan.ht

10/17/03

PSAK no 06

Page 2 of 4

Tujuan Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi dan pelaporan bagi perusahaan dalam tahap pengembangan. Ruang Lingkup 01 Pernyataan ini berlaku bagi setiap laporan keuangan yang disajikan secara terpisah baik oleh perusahaan baru, anak perusahaan dari perusahaan yang telah berjalan maupun oleh unit investasi lain yang sedang berada dalam tahap pengembangan. Pernyataan ini tidak berlaku dan tidak mengubah standar akuntansi keuangan berlaku bagi laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan berjalan yang sedang melakukan program perluasan, perusahaan dalam industri ekstraktif yang sedang melakukan aktivitas eksplorasi dan pengembangan dan perusahaan dalam industri real estate yang melakukan pengembangan properti. Identifikasi Perusahaan dalam Tahap Pengembangan 02 Untuk mengidentifikasikan perusahaan sebagai perusahaan dalam tahap pengembangan dalam pernyataan ini, diperlukan dua persyaratan: (a) perusahaan sedang mencurahkan semua kegiatan untuk mendirikan perusahaan baru; dan (b) memenuhi salah satu dari dua persyaratan yang diuraikan dalam paragraf 4. 03 Kegiatan perusahaan yang sedang mencurahkan semua kegiatannya untuk mendirikan usaha baru lazimnya meliputi aktivitas-aktivitas seperti perencanaan keuangan; pencarian dana; penelitian dan pengembangan; pencarian sumber pasok; pembelian aktiva tetap dan aktiva operasi yang lain seperti hak pengelolaan sumber daya alam; rekrutmen dan pelatihan personalia; pengembangan pasar; dan percobaan produksi. 04 Salah satu dari dua persyaratan lain yang harus dipenuhi adalah: (a) kegiatan utama belum dimulai; atau (b) kegiatan utama telah dimulai tetapi belum menghasilkan pendapatan dalam jumlah yang material.

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 6 AKUNTANSI DAN PELAPORAN BAGI PERUSAHAAN DALAM TAHAP PENGEMBANGAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 6 terdiri dari paragraf 5 -10. Pernyataan Ini harus dibaca dalam konteks paragraf 14. Akuntansi dan Pelaporan Keuangan 05 Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam tahap pengembangan menyajikan: (a) posisi keuangan, arus kas serta hasil kegiatan pra operasi sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku di Indonesia bagi perusahaan yang telah beroperasi; dan

file://C:\P.S....\PSAK 06 Akuntansi dan Pelaporan Bagi Perusahaan dalam Tahap Pengembangan.ht

10/17/03

PSAK no 06

Page 3 of 4

(b) informasi lainnya yang dipersyaratkan dalam paragraf 6. Prinsip akuntansi yang berlaku umum berlaku bagi setiap perusahaan dalam tahap pengembangan baik dalam pengakuan pendapatan maupun dalam menentukan apakah biaya dibukukan sebagai beban pada periode berjalan, atau ditangguhkan pembebanannya (dikapitalisasi) untuk disusutkan/diamortisasi selama beberapa periode sesuai dengan pemulihan manfaatnya di masa depan. Penangguhan pembebanan tersebut hanya terbatas pada biaya-biaya yang memiliki manfaat di masa depan yang antara lain meliputi beban pendirian perusahaan . 06 Laporan keuangan pokok dan informasi lainnya yang perlu disajikan meliputi: (a) Neraca, termasuk kerugian kumulatif yang dilaporkan dengan judul yang jelas seperti "kerugian kumulatif selama tahap pengembangan" dalam kelompok ekuitas. (b) Laporan Laba Rugi yang menunjukkan jumlah pendapatan dan beban selama periode, termasuk jumlah kumulatif sejak pendirian perusahaan. (c) Laporan Arus Kas yang menunjukkan sumber dan penggunaan kas dan setara kas setiap periode, termasuk jumlah kumulatif sejak pendirian perusahaan. (d) Untuk setiap emisi, suatu Laporan Ekuitas yang menunjukkan (sejak pendirian perusahaan): (i) tanggal dan jumlah saham atau instrumen-instrumen permodalan lainnya. (ii) jumlah uang (per lembar dan total) baik kas maupun nonkas sebagai penukar dari saham atau instrumen permodalan lainnya yang dikeluarkan perusahaan. (iii) jumlah yang dibayar dengan aktiva non kas, hakekat dari aktiva non kas dan dasar penjabarannya. 07 Laporan keuangan harus diidentifikasikan sebagai laporan keuangan perusahaan dalam tahap pengembangan, termasuk penjelasan mengenai hakekat aktivitas tahap pengembangan yang dilaksanakan. 08 Laporan keuangan pada tahun pertama setelah perusahaan tidak lagi berada dalam tahap pengembangan harus mengungkapkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya perusahaan masih berada dalam tahap pengembangan. Kalau laporan keuangan tahun-tahun sebelumnya disajikan untuk tujuan perbandingan, jumlah kumulatif dan informasi tambahan lainnya yang dipersyaratkan dalam paragraf 6-7 tidak perlu diungkapkan. Masa Transisi 09 Bagi perusahaan yang telah mengkapitalisasi biaya pra operasi sebelum diberlakukannya Pernyataan ini dapat membebankan sekaligus saldo biaya pra-operasi tersebut pada tahun berjalan atau mengarmortisasikannya paling lama dalam waktu 3 (tiga) tahun. Perubahan kebijakan akuntansi tersebut harus diterapkan secara prospektif. Tanggal Efektif 10 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakup periode yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini dianjurkan.

file://C:\P.S....\PSAK 06 Akuntansi dan Pelaporan Bagi Perusahaan dalam Tahap Pengembangan.ht

10/17/03

PSAK no 06

Page 4 of 4

Navigation

file://C:\P.S....\PSAK 06 Akuntansi dan Pelaporan Bagi Perusahaan dalam Tahap Pengembangan.ht

10/17/03

PSAK no 07

Page 1 of 6

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 7 PENGUNGKAPAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 7 tentang Pengungkapan Pihak-Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN Tujuan Pernyataan ini berhubungan dengan pengungkapan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa dan transaksi antara perusahaan pelapor dan pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Ruang Lingkup 01 Persyaratan Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan dari setiap perusahaan pelapor.

file://C:\P.S.A.K\I...\PSAK 07 Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa.ht

10/16/03

PSAK no 07

Page 2 of 6

02 Pengungkapan transaksi tidak diperlukan: - dalam laporan keuangan konsolidasi sehubungan dengan transaksi intra-kelompok. - dalam laporan keuangan induk perusahaan bila laporan itu tersedia atau ikut diterbitkan bersama dengan laporan keuangan konsolidasi. - dalam laporan keuangan anak perusahaan yang dimiliki seluruhnya oleh induk perusahaan dan telah disusun laporan keuangan konsolidasinya, dan dalam laporan keuangan badan usaha milik negara/daerah mengenai transaksi dengan badan usaha milik negara/daerah lainnya. Definisi 03 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa adalah pihak-pihak yang dianggap mempunyai hubungan istimewa bila satu pihak mempunyai kemampuan untuk mengendalikan pihak lain atau mempunyai pengaruh signifikan atas pihak lain dalam mengambil keputusan keuangan dan operasional. Transaksi antara Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa adalah suatu pengalihan sumber daya atau kewajiban antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, tanpa menghiraukan apakah suatu harga diperhitungkan. Pengendalian adalah kepemilikan langsung melalui anak perusahaan dengan lebih dari setengah hak suara dari suatu perusahaan, atau suatu kepentingan substansial dalam hak suara dan kekuasaan untuk mengarahkan kebijakan keuangan dan operasi manajemen perusahaan berdasarkan anggaran dasar atau perjanjian. Pengaruh Signifikan (untuk tujuan Pernyataan ini) adalah penyertaan dalam pengambilan keputusan kebijakan keuangan dan operasi suatu perusahaan, tetapi tidak mengendalikan kebijakan itu. Pengaruh signifikan dapat dijalankan dengan berbagai cara antara lain berdasarkan perwakilan dalam dewan komisaris atau penyertaan dalam proses perumusan kebijakan, transaksi antar perusahaan yang material, pertukaran karyawan manajerial atau ketergantungan pada informasi teknis. Pengaruh signifikan dapat diperoleh berdasarkan kepemilikan bersama, anggaran dasar atau perjanjian. Dengan kepemilikan bersama, pengaruh signifikan dianggap sesuai dengan definisi yang dimuat dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 4 tentang Laporan Keuangan Konsolidasi. PENJELASAN 04 Pernyataan ini hanya berlaku untuk pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa yang digambarkan sebagai berikut: (a) perusahaan yang melalui satu atau lebih perantara (intermediaries), mengendalikan, atau dikendalikan oleh, atau berada di bawah pengendalian bersama, dengan perusahaan pelapor (termasuk holding companies, subsidiaries dan fellow subsidiaries); (b) perusahaan asosiasi (associated company); (c) perorangan yang memiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu kepentingan hak suara di perusahaan pelapor yang berpengaruh secara signifikan, dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksudkan dengan anggota keluarga dekat adalah mereka yang

file://C:\P.S.A.K\I...\PSAK 07 Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa.ht

10/16/03

PSAK no 07

Page 3 of 6

dapat diharapkan mempengaruhi atau dipengaruhi perorangan tersebut dalam transaksinya dengan perusahaan pelapor); (d) karyawan kunci, yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin dan mengendalikan kegiatan perusahaan pelapor yang meliputi anggota dewan komisaris, direksi dan manajer dari perusahaan serta anggota keluarga dekat orang-orang tersebut; (e) perusahaan di mana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan dalam (c) atau (d), atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut. ini mencakup perusahaan-perusahaan yang dimiliki anggota dewan komisaris, direksi atau pemegang saham utama dari perusahaan pelapor dan perusahaan-perusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan perusahaan pelapor. Dalam mempertimbangkan setiap kemungkinan hubungan istimewa, perhatian diarahkan pada substansi hubungan, bukan hanya pada bentuk hukumnya. 05 Pihak-pihak berikut tidak dianggap sebagai pihak-pihak yang mempunyai hubungan Istimewa: (a) (i) penyandang dana (ii) serikat dagang; (iii) perusahaan pelayanan umum (public utilities); (iv) departemen dan instansi pemerintah; dalam pelaksanaan urusan normal dengan perusahaan pelapor (meskipun pihak-pihak tersebut dapat membatasi kebebasan suatu perusahaan atau ikut serta dalam proses pengambilan keputusan). (b) satu-satunya pelanggan, pemasok, pemegang hak franchise, distributor atau perwakilan/agen umum dengan siapa suatu perusahaan mengadakan transaksi usaha dengan volume yang signifikan, semata-mata karena ketergantungan ekonomis yang diakibatkan oleh keadaan. Persoalan Pihak-Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa 06 Pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa merupakan gejala normal dalam perniagaan dan usaha. Misalnya, perusahaan seringkali melaksanakan kegiatannya secara terpisah-pisah melalui anak perusahaan dan atau perusahaan afiliasi, memperoleh kepentingan dalam perusahaan lain - untuk tujuan investasi atau untuk alasan perniagaan - dalam proporsi yang cukup untuk mengendalikan atau melaksanakan pengaruh yang signifikan dalam pengambilan keputusan keuangan dan operasi perusahaan penerima investasi (investee). 07 Hubungan istimewa dengan suatu pihak dapat mempunyai dampak atas posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan pelapor. Pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa dapat melakukan transaksi yang tidak akan dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. Transaksi antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa juga dapat dilakukan dengan harga yang berbeda dengan transaksi serupa yang dilakukan antara pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. 08 Posisi keuangan dan hasil usaha dari suatu perusahaan dapat terpengaruh oleh hubungan istimewa dengan suatu pihak walaupun tidak terjadi sesuatu transaksi dengan pihak tersebut.

file://C:\P.S.A.K\I...\PSAK 07 Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa.ht

10/16/03

PSAK no 07

Page 4 of 6

Suatu hubungan istimewa dapat mempengaruhi transaksi perusahaan pelapor dengan pihak lain. Sebagai contoh, suatu anak perusahaan dapat mengakhiri hubungan dengan suatu mitra dagangnya karena induk perusahaan telah mengakuisisi suatu perusahaan lain yang berusaha dalam bidang perdagangan yang sama dengan mitra dagang terdahulu. Di samping itu, suatu tindakan dapat tertunda karena pengaruh yang signifikan dari pihak lain. Sebagai contoh, suatu anak perusahaan dapat diinstruksikan oleh induknya untuk tidak ikut serta dalam riset dan pengembangan . 09 Karena terdapat kesulitan yang melekat bagi manajemen untuk menentukan dampak dari pengaruh tidak terjadinya suatu transaksi, maka pengungkapan dampak semacam itu tidak diharuskan oleh Pernyataan ini. 10 Pengakuan akuntansi suatu pengalihan sumber daya secara normal didasarkan pada suatu harga yang disepakati pihak yang bersangkutan. Harga yang berlaku antara pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa adalah harga pertukaran antara pihak yang independen (arm's length price). Pihak yang mempunyai hubungan istimewa mungkin mempunyai suatu tingkat keluwesan dalam proses penentuan harga, yang tidak terdapat dalam transaksi antara pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. 11 Berbagai macam metode digunakan untuk menentukan harga dalam suatu transaksi antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 12 Suatu cara untuk menentukan harga dalam suatu transaksi antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah dengan metode harga pasar bebas yang dapat diperbandingkan. Bila barang atau jasa dipasok dalam suatu transaksi antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa, dan keadaan yang bersangkutan itu adalah serupa dengan keadaan dalam transaksi perdagangan normal, metode ini sering digunakan. Metode ini juga sering digunakan untuk menentukan biaya pembelanjaan . 13 Bila barang dialihkan antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebelum dijual kepada pihak yang independen, metode harga penjualan kembali (resale price) sering digunakan. Metode ini mengurangi harga penjualan kembali dengan suatu margin yang wajar. Metode ini juga digunakan untuk pengalihan/transfer sumber daya lain, seperti hak dan jasa. 14 Pendekatan lain adalah metode biaya-plus (cost-plus method), yang menambahkan suatu kenaikan (mark-up) tertentu pada biaya pemasok. Kesulitan-kesulitan mungkin dialami baik dalam menentukan unsur biaya yang dapat diatribusikan maupun kenaikan (mark-up) tersebut. Di antara ukuran-ukuran yang dapat membantu menentukan harga transfer adalah hasil (return) yang dapat dibandingkan dalam industri sejenis atas volume penjualan atau modal yang digunakan. 15 Adakalanya harga transaksi antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa tidak ditentukan menurut salah satu dari metode yang diuraikan dalam paragraf 13 sampai dengan paragraf 15 di atas. Kadang-kadang bahkan sama sekali tidak ada harga yang diperhitungkan, misalnya pemberian jasa manajemen tanpa memperhitungkan imbalan dan pemberian pinjaman tanpa bunga . 16 Kadangkala, transaksi tidak terjadi jika tidak terdapat hubungan istimewa. Misalnya, suatu perusahaan yang biasanya menjual sebagian besar produksinya dengan harga pokok kepada induk perusahaannya akan mengalami kesulitan mendapatkan pelanggan lain apabila suatu saat induk perusahaannya tidak membeli produk tersebut. Pengungkapan 17 Berikut ini adalah contoh situasi transaksi antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa mungkin memerlukan pengungkapan oleh suatu perusahaan pelapor:

file://C:\P.S.A.K\I...\PSAK 07 Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa.ht

10/16/03

PSAK no 07

Page 5 of 6

- pembelian atau penjualan barang, - pembelian atau penjualan properti dan aktiva lain, - pemberian atau penerimaan jasa, - pengalihan riset dan pengembangan, - pendanaan (termasuk pemberian pinjaman dan penyetoran modal baik secara tunai maupun dalam bentuk natura), - garansi dan penjaminan (collateral), dan - kontrak manajemen. 18 Agar pembaca laporan keuangan dapat mendapatkan gambaran tentang pengaruh hubungan istimewa, perusahaan pelapor wajib mengungkapkan adanya hubungan istimewa bila terdapat pengendalian (control), sehubungan dengan transaksi antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 19 Jika terdapat transaksi antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa, perlu diungkapkan hakekat transaksi dan unsur-unsur transaksi yang diperlukan agar laporan keuangan tersebut dapat dimengerti. Unsur-unsur ini biasanya mencakup: - suatu petunjuk mengenai volume transaksi, baik jumlahnya maupun proporsinya, jumlah atau proporsi pos-pos terbuka (outstanding items), dan - kebijakan harga. 20 Pos-pos serupa biasanya diagregasikan kecuali jika pengungkapan terpisah diperlukan agar pengaruh dari transaksi antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa pada laporan keuangan perusahaan pelopor dapat dimengerti. 21 Pengungkapan transaksi-transaksi antar perusahaan yang laporan keuangannya telah dikonsolidasikan tidak diperlukan dalam laporan keuangan konsolidasi karena laporan keuangan konsolidasi telah menyajikan informasi mengenai induk perusahaan dan anak perusahaan sebagai satu kesatuan ekonomi.

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 7 PENGUNGKAPAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 7 terdiri dari paragraf 22-25. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1 - 21. 22 Pernyataan ini diterapkan hanya pada hubungan istimewa yang dijelaskan dalam paragraf dengan pengecualian sebagaimana diuraikan dalam paragraf 1.

file://C:\P.S.A.K\I...\PSAK 07 Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa.ht

10/16/03

PSAK no 07

Page 6 of 6

23 Jika telah terjadi transaksi antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, perusahaan pelapor harus mengungkapkan hakekat hubungan istimewa, jenis dan unsur transaksi yang diperlukan untuk pemahaman laporan keuangan tersebut. 24 Pos-pos yang berhakekat sama dapat diungkapkan secara agregatif kecuali bila pengungkapan terpisah diperlukan untuk memahami dampak transaksi antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa pada laporan keuangan perusahaan pelapor. Tanggal Efektif 25 Pernyataan ini berlaku untuk penyusunan laporan keuangan yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan yang lebih dini sangat dianjurkan .

Navigation

file://C:\P.S.A.K\I...\PSAK 07 Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa.ht

10/16/03

PSAK no 08

Page 1 of 7

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 8 KONTINJENSI DAN PERISTIWA SETELAH TANGGAL NERACA

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 8 tentang Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN Tujuan Pernyataan ini mengatur perlakuan dalam laporan keuangan mengenai: (a) kontinjensi, dan (b) peristiwa setelah tanggal neraca. Ruang Lingkup

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 08 Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca.htm 10/16/03

PSAK no 08

Page 2 of 7

01 Tidak termasuk dalam masalah kontinjensi adalah: (a) kewajiban perusahaan asuransi jiwa yang timbul dari penerbitan polis; (b) kewajiban menyangkut dana pensiun; (c) komitmen yang timbul dari perjanjian sewa guna usaha Jangka panjang; (d) pajak penghasilan. Definisi 02 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Kontinjensi merupakan suatu kondisi atau situasi, dengan hasil akhir berupa keuntungan atau kerugian, yang baru dapat dikonfirmasikan setelah terjadinya atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa yang tidak pasti terjadi di masa depan. Peristiwa-peristiwa setelah tanggal neraca, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan, adalah peristiwa yang terjadi antara tanggal neraca dan tanggal penerbitan laporan keuangan. Dua jenis peristiwa dapat diidentifikasi: (1) peristiwa yang menyediakan bukti lebih lanjut mengenai kondisi yang telah ada pada tanggal neraca dan (2) peristiwa yang mengindikasikan kondisi yang timbul setelah tanggal neraca.

PENJELASAN Kontinjensi 03 Istilah kontinjensi yang digunakan dalam Pernyataan ini dibatasi pada kondisi atau situasi pada tanggal neraca yang dampak keuangannya harus ditentukan oleh peristiwa-peristiwa di masa depan baik yang dapat maupun yang tidak dapat terjadi. Banyak di antara kondisi atau situasi semacam itu direfleksikan sebagai akrual dalam laporan keuangan sesuai dengan konsep dasar akuntansi mengenai akrual. 04 Estimasi terhadap banyak aktivitas perusahaan yang sedang berjalan dan terjadi berulangulang dibutuhkan dalam penyusunan laporan keuangan. Tetapi fakta bahwa estimasi diperlukan dalam hubungan ini tidak dengan sendirinya menciptakan jenis ketidakpastian yang dapat diidentifikasikan sebagai kontinjensi, meskipun untuk menentukan jumlah yang tercantum dalam laporan keuangan dipergunakan prosedur yang sama. Misalnya, fakta bahwa estimasi masa manfaat digunakan untuk menentukan penyusutan tidak dengan sendirinya membuat penyusutan dapat disebut sebagai kontinjensi; masa manfaat dari suatu aktiva yang lambat laun habis bukan merupakan peristiwa yang tidak pasti. Jumlah terhutang yang berasal dari jasa yang telah diterima juga bukan merupakan kontinjensi seperti yang didefinisikan dalam paragraf 2, meskipun jumlah tersebut mungkin telah diestimasi; tidak ada hal yang tidak pasti mengenai fakta bahwa kewajiban ini telah terjadi.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 08 Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca.htm 10/16/03

PSAK no 08

Page 3 of 7

05 Ketidakpastian mengenai peristiwa-peristiwa di masa depan dapat dinyatakan dalam serangkaian hasil akhir (outcomes). Rangkaian ini dapat disajikan dalam angka-angka probabilitas yang pada umumnya menunjukkan tingkat kecermatan yang tidak didukung oleh informasi yang tersedia. Rangkaian hasil akhir juga dapat disajikan dalam bentuk penjelasan umum, dengan menggunakan terminologi seperti dari tingkat besar kemungkinan terjadi (probable) sampai dengan tingkat tipis kemungkinan terjadi (remote) . 06 Estimasi hasil akhir dan dampak keuangan dari kontinjensi ditentukan oleh pertimbangan (judgement) manajemen perusahaan. Pertimbangan ini didasarkan pada informasi yang tersedia sampai pada tanggal laporan keuangan mendapat persetujuan formal untuk diterbitkan dan akan mencakup peninjauan kembali (review) terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah tanggal neraca, dilengkapi dengan pengalaman dari transaksi serupa dan dalam beberapa kasus, laporan dari para ahli yang independen. Perlakuan Akuntansi Kerugian Kontinjensi 07 Perlakuan akuntansi kerugian kontinjen ditentukan oleh akibat yang diharapkan dari kontinjensi. Jika besar kemungkinan terjadi suatu kontinjensi akan berakhir dengan kerugian bagi perusahaan, maka kerugian itu wajib diakui dalam laporan keuangan . 08 Estimasi jumlah kerugian kontinjensi yang harus diakui dalam laporan keuangan dapat didasarkan atas informasi yang menyediakan serangkaian angka-angka kerugian yang dapat ditimbulkan oleh kontinjensi. Estimasi terbaik dari kerugian di dalam rangkaian angka-angka itu diakru. Kalau di dalam rangkaian tersebut tidak dapat dipilih suatu estimasi yang terbaik, maka setidak-tidaknya jumlah minimum dari rangkaian tersebut yang diakru. Pengungkapan diperlukan bila terdapat kemungkinan kerugian tambahan di atas jumlah kerugian yang diakru. 09 Bila terdapat bukti yang bertentangan atau yang tidak mencukupi sebagai dasar untuk mengestimasi jumlah kerugian kontinjensi, maka pengungkapan mengenai eksistensi serta bentuk kontinjensi perlu dilakukan. 10 Kerugian potensial bagi perusahaan dapat dikurangi atau dihindari karena kewajiban kontinjensi dipertemukan (matched) dengan tuntutan (klaim) balasan atau tuntutan terhadap pihak ketiga. Dalam kasus semacam itu jumlah dari setiap akrual dapat ditentukan setelah memperhitungkan kemungkinan ganti rugi (probable recovery) yang dapat diklaim. 11 Eksistensi dan jumlah jaminan (guarantees), kewajiban yang timbul dari pendiskontoan wesel dan kewajiban serupa yang dipikul perusahaan pada umumnya diungkapkan dalam laporan keuangan dalam bentuk catatan atas laporan keuangan, meskipun tipis kemungkinan timbulnya kerugian bagi perusahaan (remote) . 12 Karena risiko bisnis yang bersifat umum atau yang tidak dapat dispesifikasikan yang diakui tidak terkait dengan kondisi atau situasi yang ada pada tanggal neraca, maka tidak dibenarkan untuk membentuk penyisihan (provision) untuk kontinjensi . Perlakuan Akuntansi Keuntungan Kontinjensi 13 Keuntungan kontinjensi tidak diakui dalam laporan keuangan karena dapat mengakibatkan pengakuan pendapatan (revenue) yang mungkin tidak akan pernah direalisasi. Tetapi bila realisasi suatu keuntungan dapat dipastikan, maka keuntungan semacam itu bukan kontinjensi dan pengakruan keuntungan dapat dibenarkan . Penentuan Jumlah Kontinjensi dalam Laporan Keuangan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 08 Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca.htm 10/16/03

PSAK no 08

Page 4 of 7

14 Jumlah kontinjensi yang dinyatakan dalam laporan keuangan didasarkan pada informasi yang tersedia pada tanggal laporan keuangan yang telah mendapat persetujuan formal untuk diterbitkan. Oleh karena itu, peristiwa yang terjadi setelah tanggal neraca yang menunjukkan bahwa suatu aktiva mungkin telah berkurang atau suatu kewajiban mungkin telah terjadi pada tanggal neraca diperhitungkan dalam mengidentifikasi kontinjensi dan dalam menentukan jumlah di mana kontinjensi semacam itu dicantumkan dalam laporan keuangan. 15 Dalam beberapa kasus setiap kontinjensi dapat diidentifikasi secara terpisah dan keadaan khusus dari setiap situasi dipertimbangkan dalam penentuan jumlah kontinjensi. Tuntutan hukum yang substansial terhadap perusahaan merupakan contoh dari kontinjensi semacam ini. Diantara faktor-faktor yang harus dipertimbangkan manajemen dalam mengevaluasi kontinjensi adalah kemajuan dalam proses penuntutan pada tanggal laporan keuangan mendapat persetujuan secara formal untuk diterbitkan, pendapat ahli hukum atau para penasehat lain, pengalaman perusahaan dalam kasus serupa, dan pengalaman perusahaan-perusahaan lain dalam situasi serupa. 16 Kalau ketidakpastian yang menciptakan kontinjensi menyangkut suatu transaksi individual tidak berbeda dengan sejumlah besar transaksi yang serupa, maka jumlah kontinjensi tidak perlu ditentukan secara individual, tetapi dapat didasarkan atas sekelompok transaksi yang sama. Contoh dari kontinjensi semacam ini adalah jaminan untuk produk yang telah dijual, dan estimasi bagian dari piutang-piutang yang tidak dapat ditagih. Biaya ini pada umumnya sering terjadi dan jumlah kewajiban atau kerugian dapat ditaksir dengan cukup cermat berdasarkan pengalaman, meskipun transaksi-transaksi tertentu yang mengakibatkan kerugian tidak dapat diidentifikasikan. Akrual biaya-biaya ini dapat dilakukan dalam periode yang sama dengan periode terjadinya transaksi. Peristiwa Setelah Tanggal Neraca 17 Peristiwa antara tanggal neraca dan tanggal penerbitan laporan keuangan yang telah mendapat persetujuan formal dapat mengindikasikan kebutuhan untuk melakukan penyesuaian terhadap aktiva dan kewajiban atau mewajibkan perusahaan untuk melakukan pengungkapan. 18 Proses yang terjadi untuk menyetujui penerbitan laporan keuangan akan berbeda tergantung pada struktur manajemen dan prosedur yang ditempuh dalam penyusunan dan finalisasi laporan keuangan, tetapi tanggal persetujuan penerbitan tersebut biasanya adalah tanggal laporan keuangan yang telah mendapat persetujuan formal untuk diterbitkan di luar perusahaan. 19 Penyesuaian aktiva dan kewajiban diperlukan untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah tanggal neraca yang memberi informasi tambahan untuk menentukan jumlah-jumlah yang berkaitan dengan kondisi yang berlaku pada tanggal neraca. Misalnya, penyesuaian dapat dilakukan terhadap kerugian piutang dagang setelah adanya konfirmasi mengenai bangkrutnya pelanggan yang terjadi setelah tanggal neraca. 20 Penyesuaian aktiva dan kewajiban tidak perlu dilakukan untuk peristiwa yang terjadi setelah tanggal neraca, jika peristiwa tersebut tidak berkaitan dengan kondisi yang berlaku pada tanggal neraca. Contohnya adalah penurunan harga pasar dari investasi antara tanggal neraca dan tanggal penerbitan laporan keuangan yang telah mendapat persetujuan formal. Penurunan harga pasar biasanya tidak ada kaitannya dengan kondisi investasi pada tanggal neraca, tetapi merefleksikan keadaan yang terjadi pada periode berikutnya. Tetapi, pengungkapan pada umumnya dilakukan terhadap peristiwa yang terjadi pada periode berikutnya yang menunjukkan perubahan kondisi aktiva atau kewajiban yang tidak biasa pada tanggal neraca; misalnya, musnahnya suatu pabrik akibat kebakaran yang terjadi setelah tanggal neraca. 21 Peristiwa setelah tanggal neraca yang menunjukkan kondisi yang terjadi setelah tanggal neraca perlu diungkapkan kalau tanpa pengungkapan tersebut akan mempengaruhi kemampuan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 08 Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca.htm 10/16/03

PSAK no 08

Page 5 of 7

pembaca laporan keuangan untuk melakukan evaluasi dan keputusan yang tepat. Contoh dari peristiwa semacam itu adalah akuisisi perusahaan lain. 22 Ada peristiwa yang meskipun terjadi setelah tanggal neraca, kadang-kadang direfleksikan dalam laporan keuangan karena persyaratan peraturan perundangan atau karena kekhususannya. Pos-pos khusus ini antara lain meliputi jumlah dividen yang diusulkan atau diumukan setelah tanggal neraca sehubungan dengan periode yang dicakup oleh laporan keuangan. 23 Peristiwa yang terjadi setelah tanggal neraca dapat memberi petunjuk bahwa seluruh atau sebagian usaha perusahaan tidak lagi menjadi usaha yang berkesinambungan. Deteriorasi hasil operasi dan posisi keuangan setelah tanggal neraca memberi petunjuk adanya kebutuhan untuk mempertimbangkan apakah masih tepat untuk menggunakan asumsi kelangsungan usaha (going concern) dalam penyusunan laporan keuangan. Pengungkapan - Kontinjensi 24 Jika kerugian kontinjensi tidak diakui, sifat dan estimasi dampak keuangannya pada umumnya diungkapkan melalui catatan atas laporan keuangan, kecuali kalau tipis kemungkinan terjadinya kerugian. Namun demikian, kalau estimasi dampak keuangan yang dapat diandalkan tidak dapat dilakukan, fakta ini perlu diungkapkan. Kontinjensi yang diakui memerlukan pengungkapan secara terpisah. Keberadaan dan jenis dari keuntungan kontinjen biasanya diungkapkan melalui catatan atas laporan keuangan kalau besar kemungkinan terjadi bahwa perusahaan akan dapat merealisasi keuntungan yang diharapkan. Yang penting dalam hubungan ini adalah bahwa pengungkapan dapat mencegah timbulnya implikasi yang menyesatkan mengenai kemungkinan realisasinya. Pengungkapan - Peristiwa Setelah Tanggal Neraca 25 Kalau dampak dari peristiwa yang terjadi setelah tanggal neraca diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan, untuk memungkinkan para pemakai laporan keuangan membuat evaluasi dan keputusan sebagaimana mestinya, informasi yang diberikan mencakup uraian mengenai peristiwa yang bersangkutan dan, kalau mungkin, estimasi mengenai dampak keuangannya. STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 8 KONTINJENSI DAN PERISTIWA SETELAH TANGGAL Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.8 terdiri dari paragraf 26-34. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1-25. Kontinjensi 26 Jumlah kerugian kontinjen (setelah memperhitungkan setiap kemungkinan untuk memperoleh probable recovery) h arus diakui melalui suatu pembebanan dalam laporan laba/rugi jika: (a) besar Kemungkinan terjadi (probable) peristiwa di waktu mendatang akan memberikan penegasan bahwa suatu aktiva telah berkurang atau suatu kewajiban telah terjadi pada tanggal neraca; dan (b) dapat dilakukan estimasi yang layak terhadap jumlah kerugian yang ditimbulkan. 27 Keberadaan kerugian kontinjensi harus diungkapkan dalam laporan keuangan jika salah satu dari kondisi dalam paragraf 26 tidak dipenuhi, kecuali kalau kemungkinan terjadinya kerugian sangat tipis (remote).

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 08 Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca.htm 10/16/03

PSAK no 08

Page 6 of 7

28 Keuntungan kontinjen tidak dapat diakui dalam laporan keuangan. Keberadaan keuntungan kontinjen harus diungkapkan jika besar kemungkinan terjadi (probable) bahwa keuntungan itu akan dapat direalisasi. Peristiwa Setelah Tanggal Neraca 29 Aktiva dan kewajiban harus disesuaikan untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah tanggal neraca yang dapat memberi bukti tambahan untuk membantu estimasi terhadap jumlah yang berkaitan dengan kondisi yang telah ada pada tanggal neraca atau yang dapat memberikan petunjuk tidak berlakunya asumsi kelangsungan usaha (going concern) yang menyangkut baik keseluruhan ataupun sebagian perusahaan. 30 Dividen yang berkaitan dengan periode yang dicakup oleh laporan keuangan dan yang diusulkan atau diumumkan setelah tanggal neraca tetapi sebelum laporan keuangan disetujui harus disesuaikan atau diungkapkan. 31 Aktiva dan kewajiban tidak disesuaikan, tetapi pengungkapan harus dilakukan, mengenai peristiwa yang terjadi setelah tanggal neraca yang tidak mempengaruhi kondisi aktiva atau kewajiban pada tanggal neraca. Pengungkapan ini penting, karena jika tidak diungkapkan dapat mempengaruhi kemampuan para pembaca laporan keuangan dalam melakukan evaluasi dan keputusan yang benar. Pengungkapan 32 Pengungkapan sebagaimana dimaksud dalam paragraf 27 atau 28 harus mencakup informasi berikut: (a) jenis kontinjensi. (b) faktor ketidakpastian yang dapat mempengaruhi hasil akhir dimasa depan. (c) estimasi mengenai dampak keuangan atau pernyataan bahwa estimasi semacam itu tidak dapat dibuat. 33 Bila pengungkapan dari kejadian setelah tanggal neraca diharuskan oleh paragraf 31 dalam pernyataan ini, informasi berikut ini harus diberikan: (a) jenis peristiwa (b) estimasi mengenai dampak keuangan, atau pernyataan bahwa estimasi semacam itu tidak dapat dibuat. Tanggal Efektif 34 Pernyataan ini mulai berlaku untuk laporan keuangan yang mencakup periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini dianjurkan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 08 Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca.htm 10/16/03

PSAK no 08

Page 7 of 7

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 08 Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca.htm 10/16/03

PSAK no 09

Page 1 of 8

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 9 PENYAJIAN AKTIVA LANCAR DAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 9 tentang Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN 01 Pernyataan ini menjelaskan tentang pengertian dan penyajian aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek dalam laporan keuangan. Pernyataan ini tidak menjelaskan tentang dasar penilaian aktiva dan kewaiiban tersebut. PENJELASAN 02 Pengidentifikasian aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek dianggap berguna untuk membantu pemakai laporan keuangan dalam menganalisis posisi keuangan suatu perusahaan. 03 Selisih lebih aktiva lancar dari kewajiban jangka pendek sering disebut sebagai aktiva lancar

file://C:\P.S.A.K\Indonesia...\PSAK 09 Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek.ht

10/16/03

PSAK no 09
bersih (net current assets) atau modal kerja bersih (net working capital). Beberapa Pandangan tentang Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek

Page 2 of 8

04 Terdapat anggapan bahwa pengklasifikasian aktiva dan kewajiban menjadi "lancar" dan "tak lancar" dimaksudkan untuk mengukur tingkat likuiditas suatu perusahaan. Likuiditas adalah tingkat kemampuan perusahaan untuk melanjutkan aktivitas usahanya sehari-hari tanpa mengalami kesulitan pendanaan/keuangan. Anggapan lain adalah bahwa pengklasifikasian tersebut memberikan identifikasi tentang sumber dana dan kewajiban suatu perusahaan yang terus menerus berputar (continuously circulating). 05 Tujuan tersebut sampai suatu batas tertentu menjadi tidak selaras, berhubung dalam mengukur tingkat likuiditas, kriteria untuk pengklasifikasian aktiva dan kewajiban menjadi lancar dan tidak lancar adalah apakah aktiva atau kewajiban tersebut dapat dicairkan atau direalisasikan dalam jangka pendek, sedangkan kriteria untuk pengklasifikasian aktiva dan kewajiban sebagai suatu perputaran (circulating), adalah apakah aktiva atau kewajiban tersebut digunakan atau diselesaikan dalam rangka menghasilkan pendapatan selama siklus operasi normal dari suatu perusahaan. Misalnya, pekerjaan kontstruksi dalam proses, dengan kriteria pertama, sebagian besar akan dikeluarkan dari klasifikasi aktiva lancar, sementara dengan kriteria kedua termasuk dalam aktiva lancar. Praktek Yang Berlaku saat Ini 06 Dalam praktek, yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar adalah aktiva yang diharapkan dapat direalisasikan dalam waktu satu tahun atau dalam siklus operasi normal perusahaan, yang mana yang lebih lama; yang diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek adalah kewajiban yang akan dilunasi sesuai dengan permintaan kreditur atau yang akan dilunasi dalam waktu satu tahun. Meskipun pendekatan ini digunakan sebagai peraturan umum, tidak menutup kemungkinan bahwa ada aktiva atau kewajiban tertentu yang dimasukkan ke dalam atau dikeluarkan dari aktiva lancar atau kewajiban jangka pendek berdasarkan kriteria yang berbeda. Oleh sebab itu, klasifikasi lancar dan tak lancar di dalam praktek lebih berdasarkan pada konvensi dan bukan pada suatu konsep tertentu. Paragraf 7-12 di bawah ini menggambarkan cakupan aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek yang berlaku dalam praktek saat ini. Cakupan Aktiva Lancar 07 Aktiva lancar antara lain meliputi: (a) Kas dan bank. (i) Yang dimaksud dengan kas ialah alat pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan. (ii) Yang dimaksud dengan bank adalah sisa rekening giro perusahaan yang dapat dipergunakan secara bebas untuk membiayai kegiatan umum perusahaan. (iii) Pos-pos berikut ini tidak dapat digolongkan sebagai bagian dari kas dan bank pada neraca: dana yang disisihkan untuk tujuan tertentu; - persediaan perangko, - cek mundur, - cek kosong dari pihak ketiga,

file://C:\P.S.A.K\Indonesia...\PSAK 09 Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek.ht

10/16/03

PSAK no 09

Page 3 of 8

- rekening giro pada bank di luar negeri yang tidak dapat segera dipakai. (iv) Kas dan bank yang penggunaannya dibatasi dapat dimasukkan dalam aktiva lancar hanya jika pembatasan tersebut dilakukan untuk menyisihkan dana untuk melunasi kewajiban jangka pendek atau jika pembatasan tersebut hanya berlaku selama satu tahun. (v) Saldo kredit pada perkiraan bank disajikan pada kelompok kewajiban sebagai kewajiban jangka pendek. Saldo kredit dan debit rekening giro pada bank yang sama dapat digabung dan disajikan pada neraca sebagai satu kesatuan. (b) Surat-surat berharga yang mudah dijual dan tidak dimaksudkan untuk ditahan. (i) Surat berharga yang mudah dijual merupakan bentukpenyertaan sementara dalam rangka pemanfaatan dana yang tidak digunakan. (ii) Bentuk penyertaan sementara ini harus mempunyai sifat sebagai berikut: - Mempunyai pasaran dan dapat diperjualbelikan dengan segera. - Dimaksudkan untuk dijual dalam jangka waktu dekat bila terdapat kebutuhan dana untuk kegiatan umum perusahaan, - Tidak dimaksudkan untuk menguasai perusahaan lain. (c) Deposito jangka pendek. (d) Wesel tagih yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun. (e) Piutang. (i) Menurut sumber terjadinya, piutang digolongkan dalam dua kategori yaitu piutang usaha dan piutang lain-lain. Piutang usaha meliputi piutang yang timbul karena penjualan produk atau penyerahan jasa dalam rangka kegiatan usaha normal perusahaan. Piutang yang timbul dari transaksi di luar kegiatan usaha normal perusahaan digolongkan sebagai piutang lain-lain. Piutang usaha dan piutang lain-lain yang diharapkan dapat tertagih dalam satu tahun atau siklus usaha normal, diklasifikasikan sebagai aktiva lancar. Kadang-kadang seluruh piutang usaha diklasifikasikan sebagai aktiva lancar tanpa memandang jangka waktu tertagihnya. Dalam kasus demikian, jumlah piutang usaha yang jangka waktu penagihannya lebih dari satu tahun atau siklus usaha normal, harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. (ii) Piutang yang diperkuat dengan promes disebut wesel. (iii) Piutang usaha, wesel tagih dan piutang lain-lain harus disajikan secara terpisah dengan identifikasi yang jelas. (iv) Piutang dinyatakan sebesar jumlah kotor tagihan dikurangi dengan taksiran jumlah yang tidak dapat ditagih. Jumlah kotor piutang harus tetap disajikan pada neraca diikuti dengan penyisihan untuk piutang yang diragukan atau taksiran jumlah yang tidak dapat ditagih . (v) Saldo kredit piutang individual jika jumlahnya material harus disajikan dalam kelompok

file://C:\P.S.A.K\Indonesia...\PSAK 09 Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek.ht

10/16/03

PSAK no 09
kewajiban.

Page 4 of 8

(vi) Jumlah piutang yang dijaminkan harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. (vii) Kewajiban bersyarat dalam hubungannya dengan penjualan piutang yang disertai perjanjian untuk dibeli kembali (sale of accounts receivable/notes receivable discounted with recourse) kepada suatu lembaga keuangan harus dijelaskan secukupnya. (g) Persediaan. (h) Pembayaran uang muka untuk pembelian aktiva lancar. (i) Pembayaran pajak di muka (j) Biaya dibayar di muka. (i) Biaya dibayar di muka dimaksudkan sebagai biaya yang telah terjadi, yang akan digunakan untuk aktivitas perusahaan yang akan datang, misalnya: premi asuransi, bunga, alat tulis dan keperluan kantor dan lain sebagainya. (ii) Bagian dari biaya dibayar di muka yang akan memberikan manfaat untuk beberapa periode kegiatan diklasifikasikan sebagai aktiva tak lancar. 08 Pos-pos berikut ini tidak dapat diklasifikasikan sebagai aktiva lancar: (a) Kas/bank maupun sumber lain yang dibatasi penggunaannya, seperti dana yang disisihkan untuk perolehan aktiva tetap atau pelunasan kewajiban jangka panjang. (b) Pernyertaan dalam surat berharga atau pembayaran uang muka dengan makud untuk menguasai atau melakukan afiliasi dengan perusahaan lain; (c) Piutang lain-lain yang timbul dari transaksi di luar kegiatan utama perusahaan yang tidak diharapkan pencairannya dalam jangka waktu satu tahun, seperti uang muka pada pemegang saham atau direksi; (d) Aktiva yang dapat disusutkan maupun aktiva tetap lainnya. Cakupan Kewajiban Jangka Pendek 09 Kewajiban Jangka Pendek meliputi antara lain: (a) Pinjaman bank dan pinjaman lainnya. Jika suatu pinjaman dilunasi sesuai dengan jadual yang disetujui oleh kreditur, maka pinjaman tersebut diklasifikasikan sesuai dengan jadual pelunasannya, dengan mengabaikan bahwa hak kreditur sesungguhnya memiliki hak untuk meminta pelunasan sewaktu-waktu. (b) Bagian kewajiban jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun sejak tanggal neraca, dengan pengecualian seperti tersebut pada paragraf 11. (c) Hutang usaha dan biaya yang masih harus dibayar. (d) Uang muka penjualan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia...\PSAK 09 Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek.ht

10/16/03

PSAK no 09

Page 5 of 8

(e) Hutang pembelian aktiva tetap, pinjaman bank dan rupa-rupa hutang lainnya yang harus diselesaikan dalam waktu satu tahun. (f) Penyisihan kewajiban pajak (g) Hutang dividen. (h) Pendapatan yang ditangguhkan dan uang muka dari pelanggan. (i) Kewajiban kontinjen (sehubungan dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 8 tentang Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca). 10 Pinjaman yang dinyatakan dapat dilunasi sewaktu-waktu sesuai permintaan kreditur biasanya diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek. Akan tetapi, jika kreditur telah menyetujui suatu jadual pelunasan atas suatu pinjaman, maka pinjaman tersebut diklasifikasikan sesuai dengan jadual pelunasannya, dengan mengabaikan bahwa kreditur memiliki hak untuk meminta pelunasan sewaktu-waktu. 11 Bagian kewajiban jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun setelah tanggal neraca disajikan dalam neraca sebagai bagian dari kewajiban jangka pendek, kecuali jika perusahaan bermaksud melunasinya dengan cara menimbulkan kewajiban jangka panjang baru. Begitupun, bagian dari kewajiban jangka panjang yang akan dilunasi dalam waktu satu tahun seringkali diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang bila aktiva yang akan digunakan untuk pelunasan kewajiban tersebut pada tanggal neraca telah dikeluarkan dari aktiva lancar. 12 Apabila suatu perusahaan mengeluarkan suatu kewajiban dari klasifikasi jangka pendek sehubungan dengan paragraf 11, maka jumlah dan keterangan lain yang relevan harus diungkapkan secukupnya. Penyajian Dalam Laporan Keuangan 13 Dengan adanya pengelompokan dan penjumlahan aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek di neraca, maka akan meningkatkan kegunaan informasi yang disajikan. 14 Untuk memungkinkan pengidentifikasian secukupnya atas pemisahan aktiva dan kewajiban suatu perusahaan, jumlah aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek yang tersajikan lazimnya tidak dikurangkan dengan aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek lainnya. Akan tetapi saling menghapuskan (offsetting) demikian mungkin benar, bila dibenarkan menurut hukum dan saling menghapuskan (offsetting) tersebut merupakan realisasi atau penyelesaian aktiva atau kewajiban yang diharapkan. Keterbatasan Pengklasifikasian Lancar dan Tidak Lancar 15 Klasifikasi lancar dan tidak lancar pada umumnya dipercaya dapat memberikan identifikasi tentang bagian modal perusahaan yang relatif likuid yang dapat digunakan untuk memenuhi kewajiban perusahaan dalam siklus operasi yang normal. Akan tetapi selama usaha perusahaan tetap berlangsung, maka perusahaan harus secara terus-menerus menggantikan persediaan yang sudah direalisasi dengan persediaan baru agar terjadi kesinambungan usaha. Aktiva lancar juga mungkin mencakup persediaan yang diperkirakan tidak dapat direalisasi dalam jangka waktu dekat. Sebaliknya, banyak perusahaan membiayai operasinya dengan pinjaman bank yang dinyatakan dapat dilunasi sewaktu-waktu sesuai dengan permintaan bank dan karenanya diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek, walaupun pada kenyataannya persyaratan pelunasan sesuai permintaan bank tersebut merupakan proteksi bagi bank, dan kenyataannya telah merupakan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia...\PSAK 09 Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek.ht

10/16/03

PSAK no 09

Page 6 of 8

kesepakatan antara peminjam dan pemberi pinjaman bahwa pinjaman tersebut akan berlangsung untuk jangka waktu yang cukup lama. 16 Banyak pihak yang berpendapat bahwa adanya selisih lebih aktiva lancar atas kewajiban jangka pendek merupakan indikasi bahwa kondisi keuangan suatu perusahaan dalam keadaan baik, sedangkan selisih lebih kewajiban jangka pendek atas aktiva lancar dipandang sebagai indikasi adanya masalah keuangan. Pengambilan kesimpulan yang demikian tidak tepat tanpa mempertimbangkan karakteristik usaha perusahaan tersebut dan setiap komponen aktiva lancar dan kewajiban jangka pendeknya. 17 Pengklasifikasian lancar dan tidak lancar untuk aktiva dan kewajiban biasanya tidak dipandang tepat untuk laporan keuangan dari perusahaan yang periode siklus operasi normalnya tidak dapat ditentukan atau sangat panjang. 18 Sementara banyak pihak yang berpendapat bahwa identifikasi aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek adalah sarana yang berguna untuk melakukan analisis keuangan, pihak lain menganggap pengklasifikasian tersebut kurang kegunaannya bahkan dapat menyesatkan. Untuk mengurangi kekaburan, Pernyataan ini dimaksudkan untuk mengharmonisasikan praktek perusahaan yang memilih menyajikan aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek dalam laporan keuangannya.

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 9 PENYAJIAN AKTIVA LANCAR DAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 9 terdiri dari paragraf 19-26. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1-18. 19 Perusahaan wajib menyajikan aktiva dan kewajibannya berdasarkan klasifikasi lancar dan tidak lancar pada waktu menyusun laporan keuangan, kecuali pengklasifikasian lancar dan tidak lancar untuk aktiva dan kewajiban biasanya tidak dipandang tepat untuk laporan keuangan dari perusahaan yang periode siklus operasi normalnya tidak dapat ditentukan atau sangat panjang dan yang diatur secara khusus untuk jenis industri tertentu. Paragraf 20-25 dari Pernyataan ini diterapkan apabila perusahaan memilih melakukan pengklasifikasian tersebut. Penerapan Klasifikasi Lancar dan Tidak Lancar Aktiva Lancar 20 Aktiva lancar adalah aktiva yang dapat direalisasikan dalam satu tahun atau dalam siklus operasi normal perusahaan, mana yang lebih lama, antara lain meliputi: (a) Kas dan bank. (b) Surat-surat berharga yang mudah dijual dan tidak dimaksudkan untuk ditahan. (c) Deposito jangka pendek. (d) Wesel tagih yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun. (e) Piutang usaha.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia...\PSAK 09 Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek.ht

10/16/03

PSAK no 09

Page 7 of 8

Piutang usaha dapat seluruhnya dimasukkan sebagai aktiva lancar, bila jumlah yang jangka waktu penagihannya lebih dari satu tahun atau siklus usaha normal diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. (f) Piutang lain-lain yang diharapkan akan direalisasikan dalam waktu satu tahun. (g) Persediaan. (h) Pembayaran uang muka pembelian aktiva lancar. (i) Pembayaran pajak di muka. (j) Biaya dibayar di muka yang akan menjadi beban dalam waktu satu tahun sejak tanggal neraca. Kewajiban Jangka Pendek 21 Kewajiban jangka pendek adalah kewajiban yang diharapkan akan dilunasi dalam waktu satu tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan, mana yang lebih lama, antara lain meliputi: (a) Pinjaman bank dan pinjaman lainnya. Jika suatu pinjaman dilunasi sesuai dengan jadual yang disetujui oleh kreditur, maka pinjaman tersebut diklasifikasikan sesuai dengan jadual pelunasannya, dengan mengabaikan hak kreditur untuk meminta pembayaran sewaktu waktu. (b) Bagian kewajiban jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun sejak tanggal neraca, dengan pengecualian seperti tersebut pada paragraf 22. (c) Hutang usaha dan biaya yang masih harus dibayar. (d) Uang muka penjualan. (e) Hutang pembelian aktiva tetap, pinjaman bank dan rupa-rupa hutang lainnya yang harus diselesaikan dalam waktu satu tahun . (f) Penyisihan kewajiban pajak. (g) Hutang dividen. (h) Pendapatan yang ditangguhkan dan uang muka dari pelanggan. (i) Kewajiban kontinjen (sehubungan dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 8 tentang Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca). 22 Bagian kewajiban jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun setelah tanggal neraca dapat tidak diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek jika perusahaan bermaksud untuk membiayai kembali (refinance) kewajiban tersebut dengan pendanaan jangka panjang dan terdapat jaminan bahwa perusahaan akan mampu melakukannya. Kemampuan perusahaan tersebut ditunjukkan dengan adanya: (a) penerbitan modal saham atau kewajiban (obligation) jangka panjang baru setelah tanggal neraca; atau

file://C:\P.S.A.K\Indonesia...\PSAK 09 Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek.ht

10/16/03

PSAK no 09

Page 8 of 8

(b) perjanjian pendanaan yang tidak dapat dibatalkan dan tidak akan jatuh tempo dalam satu tahun setelah tanggal neraca serta kreditur atau investor yang bersangkutan mempunyai kemampuan keuangan untuk memenuhi perjanjian tersebut. 23 Jika bagian kewajiban jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun setelah tanggal neraca tidak diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek sehubungan dengan paragraf 22, maka jumlah kewajiban tersebut dan persyaratan pendanaan kembali harus diungkapkan. Penyajian Dalam Laporan Keuangan 24 Jumlah aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek yang disajikan dalam laporan keuangan tidak dapat saling menghapus (offset), kecuali dimungkinkan menurut hukum. 25 Jumlah aktiva lancar yang dijaminkan harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Tanggal Efektif 26 Pernyataan ini berlaku untuk penyusunan laporan keuangan yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini sangat dianjurkan .

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia...\PSAK 09 Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek.ht

10/16/03

PSAK no 10

Page 1 of 8

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 10 TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 10 tentang Transaksi Dalam Mata Uang Asing Asing disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN Tujuan Suatu perusahaan dapat melakukan aktivitas yang menyangkut valuta asing (foreign activities) dalam dua cara; melakukan transaksi dalam mata uang asing atau memiliki kegiatan usaha luar negeri (foreign operations). Untuk memasukkan transaksi dalam valuta asing pada laporan keuangan suatu perusahaan, transaksi harus dinyatakan dalam mata uang pelaporan perusahaan. Pernyataan ini mengatur akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing yang meliputi penentuan kurs yang digunakan dan pengakuan pengaruh keuangan dari perubahan kurs vaiuta asing dalam laporan keuangan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 10 Transaksi dalam Mata Uang Asing.htm

10/17/03

PSAK no 10

Page 2 of 8

Ruang Lingkup 01 Pernyataan ini harus diterapkan dalam akuntansi untuk transaksi dalam valuta asing. 02 Pernyataan ini mengatur akuntansi hedge sebatas selisih kurs dalam transaksi hedge. Aspek lain dari akuntansi hedge diatur dalam standar akuntansi keuangan terkait. 03 Pernyataan ini tidak mengatur tentang penjabaran laporan keuangan dari kegiatan usaha luar negeri untuk tujuan konsolidasi, atau konsolidasi parsial, atau melalui penerapan dengan metode ekuitas (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 11 tentang Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing). 04 Pernyataan ini tidak mengatur penyajian laporan arus kas tentang arus kas yang bersumber dari transaksi valuta asing (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 2 tentang Laporan Arus Kas). Definisi 05 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Kegiatan usaha luar negeri (foreign operation) adalah suatu anak perusahaan (subsidiary), perusahaan asosiasi (associates), usaha patungan (joint venture) atau cabang perusahaan pelapor, yang aktivitasnya dilaksanakan di suatu negara di luar negara perusahaan pelapor. Kegiatan usaha tersebut dapat merupakan suatu bagian integral dari suatu perusahaan pelapor atau suatu entitas asing. Entitas asing (foreign entity) adalah suatu kegiatan usaha luar negeri (foreign operation), yang aktivitasnya bukan merupakan suatu bagian integral dari perusahaan pelapor. Mata uang pelaporan adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan. Mata uang asing adalah mata uang selain mata uang pelaporan suatu perusahaan. Kurs adalah rasio pertukaran dua mata uang. Selisih kurs (exchange difference) adalah selisih yang dihasilkan dari pelaporan jumlah unit mata uang asing yang sama dalam mata uang pelaporan pada kurs yang berbeda. Kurs penutup (closing rate) adalah nilai tukar spot pada tanggal neraca. Investasi neto dalam suatu entitas asing adalah bagian (share) perusahaan pelapor dalam aktiva neto suatu entitas asing. Pos moneter adalah kas dan setara kas, aktiva dan kewajiban yang akan diterima atau dibayar yang jumlahnya pasti atau dapat ditentukan. Nilai wajar (fair value) adalah suatu jumlah yang dapat digunakan sebagai dasar pertukaran aktiva atau penyelesaian kewajiban antara pihak yang paham (knowledgeable) dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm's length transaction). PENJELASAN

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 10 Transaksi dalam Mata Uang Asing.htm

10/17/03

PSAK no 10

Page 3 of 8

Pengakuan Awal 06 Suatu transaksi dalam mata uang asing adalah suatu transaksi yang didenominasi atau membutuhkan penyelesaian dalam suatu mata uang. asing, termasuk transaksi yang timbul ketika suatu perusahaan: (a) membeli atau menjual barang atau jasa yang harganya didenominasi dalam suatu mata uang asing. (b) meminjam (hutang) atau meminjamkan (piutang) dana yang didenominasi dalam suatu mata uang asing. (c) menjadi suatu pihak untuk suatu perjanjian dalam valuta asing yang belum terlaksana; atau (d) memperoleh atau melepaskan aktiva, didenominasi dalam suatu mata uang asing. menimbulkan atau melunasi kewajiban, yang

07 Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi. 08 Kurs tunai yang berlaku pada tanggal transaksi sering disebut kurs spot (spot rate). Untuk alasan praktis, suatu kurs yang mendekati kurs tanggal transaksi sering digunakan, contohnya, suatu kurs rata-rata selama seminggu atau sebulan mungkin digunakan untuk seluruh transaksi dalam setiap mata uang asing yang terjadi selama periode itu. Namun, jika kurs berfluktuasi secara signifikan, penggunaan kurs rata-rata untuk satu periode tidak dapat diandalkan. Pelaporan Pada Tanggal Neraca Berikutnya 09 Pada setiap tanggal neraca: (a) pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca. Apabila terdapat kesulitan dalam menentukan kurs tanggal neraca, maka dapat digunakan kurs tengah Bank Indonesia sebagai indikator yang obyektif; (b) pos non-moneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca tetapi tetap harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal transaksi; dan (c) pos non-moneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan. 10 Nilai terbawa dari suatu pos ditentukan sesuai dengan standar akuntansi yang relevan. Misalnya, instrumen keuangan dan properti tertentu (investasi yang dilakukan Dana Pensiun), mungkin dinilai pada nilai wajar atau pada biaya historis. Apakah nilai tercatat ditentukan berdasarkan biaya historis atau nilai wajar, nilai yang ditentukan untuk pos valuta asing dilaporkan pada mata uang pelaporan sesuai dengan Pernyataan ini. Pengakuan Selisih Kurs (Recognition of Exchange Differences) 11 Paragraf 13 hingga 17 menjelaskan perlakuan akuntansi yang diharuskan Pernyataan ini sehubungan dengan selisih kurs atas transaksi dalam mata uang asing. Paragraf tersebut juga mencakup perlakuan wajib (benchmark treatment) untuk selisih kurs sebagai akibat devaluasi atau depresiasi luar biasa suatu mata uang yang tidak memungkinkan dilakukannya hedging dan yang

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 10 Transaksi dalam Mata Uang Asing.htm

10/17/03

PSAK no 10

Page 4 of 8

menimbulkan kewajiban tak terselesaikan sehubungan dengan perolehan aktiva dalam mata uang asing. Perlakuan alternatif yang diijinkan untuk selisih kurs seperti itu dijelaskan dalam paragraf 20. 12 Pernyataan ini mengatur akuntansi hedge sebatas selisih kurs dalam transaksi hedge. Aspek lain dari akuntansi hedge diatur dalam standar akuntansi keuangan terkait. 13 Kecuali untuk hal-hal yang diuraikan dalam paragraf 16 dan 18, selisih penjabaran pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mate uang asing pada tanggal neraca dan laba rugi kurs yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi periode berjalan. 14 Selisih kurs timbul apabila terdapat perubahan kurs antara tanggal transaksi dan tanggal penyelesaian (settlement date) pos moneter yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing. Bila timbulnya dan penyelesaian suatu transaksi berada dalam suatu periode akuntansi yang sama, maka seluruh selisih kurs diakui dalam periode tersebut. Namun jika timbulnya dan diselesaikannya suatu transaksi berada dalam beberapa periode akuntansi, maka selisih kurs harus diakui untuk setiap periode akuntansi dengan memperhitungkan perubahan kurs untuk masing-masing periode. Transaksi Valuta Berjangka 15a Salah satu transaksi valuta berjangka SWAP adalah transaksi pertukaran dua valuta asing melalui pembelian tunai dengan penjualan kembali secara berjangka atau penjualan tunai dengan pembelian kembali secara berjangka. Pada hakekatnya transaksi tersebut dilakukan untuk lebih mendapatkan kepastian tentang kurs penjabaran yang bersifat tetap selama dalam kontrak sehingga pembuat transaksi terhindar dari kerugian akibat perubahan kurs. Dalam transaksi SWAP pembuat transaksi umumnya memperhitungkan premi yang ditetapkan terlebih dahulu . b. Perlakuan akuntansi transaksi valuta berjangka yang dilakukan untuk tujuan hedging hutang adalah sebagai berikut: (i) Selisih kurs tunai (spot rate) dan kurs masa depan (forward rate) dicatat sebagai diskonto atau premi yang arus diamortisasi sesuai dengan jangka waktu kontrak valuta berjangka. (ii) Setiap akhir periode harus dihitung selisih kurs untuk hutang dalam mata uang asing (yang diproteksi melalui hedging), forward receivable dan forward payable dalam mata uang asing. Selisih kurs yang timbul sebagai akibat perbedaan antara kurs tanggal neraca dengan kurs tunai pada saat terjadinya transaksi diakui sebagai keuntungan atau kerugian kurs periode berjalan. (iii) Dalam neraca, forward receivable atau forward payable, dan diskonto atau premi yang belum diamortisasi yang timbul dari kontrak valuta berjangka yang berhubungan harus dijadikan satu di bagian aktiva atau kewajiban, tergantung pada posisi neto dari seluruh pos tersebut. Investasi Neto dalam suatu Entitas Asing 16 Selisih kurs yang timbul pada suatu pos moneter yang dalam substansinya membentuk bagian investasi neto perusahaan dalam suatu entitas asing harus diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam laporan keuangan perusahaan hingga saat pelepasan (disposal) investasi neto dan pada saat tersebut harus diakui sebagai pendapatan atau beban (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 11 tentang Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing). 17 Suatu perusahaan mungkin memiliki suatu pos moneter berupa hutang piutang dengan suatu entitas asing. Apabila timbulnya dan penyelesaian pos moneter tersebut tidak terencana, dalam

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 10 Transaksi dalam Mata Uang Asing.htm

10/17/03

PSAK no 10

Page 5 of 8

substansinya merupakan suatu perluasan, atau pengurangan dari, investasi neto perusahaan dalam entitas asing tersebut. Pos moneter itu mungkin mencakup piutang jangka panjang atau pinjaman tetapi tidak mencakup piutang dagang atau hutang dagang. 18 Selisih kurs yang timbul dari kewajiban valuta asing yang diperhitungkan sebagai suatu hedging dari investasi neto perusahaan dalam suatu entitas asing harus diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam laporan keuangan perusahaan hingga pelepasan (disposal) investasi neto, dan pada saat tersebut harus diakui sebagai pendapatan atau sebagai beban (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 11 tentang Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing) . Perlakuan Alternatif yang Diijinkan 19 Perlakuan wajib (benchmark treatment) untuk selisih kurs pada paragraf 20 dijelaskan pada paragraf 13. 20 Selisih kurs dapat disebabkan karena suatu devaluasi atau depresiasi luar biasa suatu mata uang dalam keadaan tidak tersedia fasilitas hedging dan menimbulkan kewajiban yang tak terselesaikan akibat-perolehan aktiva yang baru saja dilakukan dan harus dilunasi dalam mata uang asing. Selisih kurs tersebut dapat dimasukkan sebagai nilai tercatat (carrying amount) aktiva tersebut sepanjang nilai tercatat aktiva yang telah disesuaikan tidak melebihi jumlah terendah antara biaya pengganti (replacement cost) dan jumlah yang dapat diperoleh kembali (amount recoverable) dari penjualan atau penggunaan aktiva tersebut. Alternatif yang dipilih harus diungkapkan secukupnya. 21 Selisih kurs tidak termasuk dalam nilai tercatat suatu aktiva jika tersedia fasilitas hedging hutang valuta asing yang timbul dari perolehan aktiva. Tetapi, kerugian akibat perubahan kurs adalah bagian yang secara langsung dapat diatribusikan pada biaya perolehan aktiva jika kewajiban tidak dapat diselesaikan dan tidak terdapat alat praktis untuk hedging, contohnya, jika sebagai hasil dari pengendalian valuta asing terdapat penundaan dalam memperoleh mata uang asing. Maka dalam keadaan demikian biaya perolehan aktiva termasuk selisih kurs. Pengungkapan 22 Perusahaan harus mengungkapkan: (a) jumlah selisih kurs yang diperhitungkan dalam laba neto atau kerugian untuk periode tersebut; (b) selisih kurs neto yang diklasifikasikan dalam kelompok ekuitas sebagai suatu unsur yang terpisah, dan rekonsiliasi selisih kurs tersebut pada awal dan akhir periode; dan (c) jumlah selisih kurs yang timbul selama periode, yang termasuk dalam nilai tercatat suatu aktiva sesuai dengan perlakuan alternatif yang diijinkan dalam paragraf 20. 23 Perusahaan mengungkapkan dampak atas pos-pos moneter mata uang asing sehubungan dengan suatu perubahan dalam kurs yang terjadi setelah tanggal neraca jika perubahan tersebut sedemikian besar sehingga bila tidak diungkapkan akan mempengaruhi kemampuan pembaca laporan keuangan untuk membuat evaluasi dan keputusan yang tepat (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 8 tentang Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca). 24 Pengungkapan juga diperlukan sehubungan dengan kebijakan manajemen risiko mata uang asing.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 10 Transaksi dalam Mata Uang Asing.htm

10/17/03

PSAK no 10

Page 6 of 8

PERSYARATAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 10 TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 10 terdiri dari paragraf 25 - 35. Pernyataan Ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1 - 24. 25 Pernyataan ini harus diterapkan dalam akuntansi untuk transaksi dalam valuta asing. Pengakuan Awal 26 Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi. Pelaporan Pada Tanggal Neraca Berikutnya 27 Pada setiap tanggal neraca: (a) pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca; (b) pos non-moneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca tetapi tetap harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal transaksi; dan (c) pos non-moneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan. Pengakuan Selisih Kurs (Recognition of Exchange Differences) 28 Kecuali untuk hal-hal yang diatur dalam paragraf 31 dan 32, selisih penjabaran pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing pada tanggal neraca dan laba rugi kurs yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi periode berjalan. Transaksi Valuta Berjangka 29a. Salah satu transaksi valuta berjangka SWAP adalah transaksi pertukaran dua valuta asing melalui pembelian tunai dengan penjualan kembali secara berjangka atau penjualan tunai dengan pembelian kembali secara berjangka. Pada hakikatnya transaksi tersebut dilakukan untuk lebih mendapatkan kepastian tentang kurs penjabaran yang bersifat tetap selama dalam kontrak sehingga pembuat transaksi terhindar dari kerugian akibat perubahan kurs. Dalam transaksi SWAP pembuat transaksi umumnya memperhitungkan premi yang ditetapkan terlebih dahulu. b. Perlakuan akuntansi transaksi valuta berjangka yang dilakukan untuk tujuan hedging hutang adalah sebagai berikut: (i) Selisih kurs tunai (spot rate) dan kurs masa depan (forward rate) dicatat sebagai diskonto atau premi yang harus diamortisasi sesuai dengan jangka waktu kontrak valuta berjangka . (ii) Setiap akhir periode harus dihitung selisih kurs untuk hutang dalam mata uang asing (yang diproteksi melalui hedging), forward receivable dan forward payable dalam mata uang asing. Selisih kurs yang timbul sebagai akibat perbedaan antara kurs tanggal neraca dengan kurs tunai

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 10 Transaksi dalam Mata Uang Asing.htm

10/17/03

PSAK no 10

Page 7 of 8

pada saat terjadinya transaksi diakui sebagai keuntungan atau kerugian kurs periode berjalan. (iii) Dalam neraca, forward receivable atau forward payable, dan diskonto atau premi yang belum diamortisasi yang timbul dari kontrak valuta berjangka yang berhubungan harus dijadikan satu di bagian aktiva atau kewajiban, tergantung pada posisi neto dari seluruh pos tersebut. Investasi Neto dalam suatu Entitas Asing 30 Selisih kurs yang timbul pada suatu pos moneter yang dalam substansinya membentuk bagian investasi neto perusahaan dalam suatu entitas asing harus diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam laporan keuangan perusahaan hingga saat pelepasan (disposal) investasi neto dan pada saat tersebut harus diakui sebagai pendapatan atau beban (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 11 tentang Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing). 31 Selisih kurs yang timbul dari kewajiban valuta asing yang diperhitungkan sebagai suatu hedging dari investasi neto perusahaan dalam suatu entitas asing harus diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam laporan keuangan perusahaan hingga pelepasan (disposal) investasi neto, dan pada saat tersebut harus diakui sebagai pendapatan atau sebagai beban (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 11 tentang Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing). Perlakuan Alternatif yang Diijinkan 32 Selisih kurs dapat disebabkan karena suatu devaluasi atau depresiasi luar biasa suatu mata uang di mana tidak mungkin dilakukan hedging dan menimbulkan kewajiban yang tak terselesaikan akibat perolehan aktiva yang harus dibayar dalam suatu mata uang asing . Selisih kurs tersebut dapat dimasukkan sebagai nilai tercatat (carrying amount) aktiva yang bersangkutan dengan pengertian nilai tercatat yang disesuaikan tersebut tidak melampaui jumlah terendah antara biaya pengganti (replacement cost) dan jumlah yang mungkin diperoleh kembali (amount recoverable) dari penjualan atau penggunaan aktiva tersebut Alternatif yang dipilih harus diungkapkan secukupnya. Pengungkapan 33 Perusahaan harus mengungkapkan: (a) jumlah selisih kurs yang diperhitungkan dalam laba neto atau kerugian untuk periode tersebut; (b) selisih kurs neto yang diklasifikasikan dalam kelompok ekuitas sebagai suatu unsur yang terpisah, dan rekonsiliasi selisih kurs tersebut pada awal dan akhir periode; dan (c) jumlah selisih kurs yang timbul selama periode, yang termasuk dalam nilai tercatat suatu aktiva sesuai dengan perlakuan alternatif yang diijinkan dalam paragraf 32. Masa Transisi 34 Pada saat Pernyataan ini pertama kali diterapkan, perusahaan harus mengklasifikasikan secara terpisah dan mengungkapkan saldo kumulatif, pada awal periode, selisih kurs yang ditangguhkan dan diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam periode sebelumnya, kecuali jika jumlah tersebut tidak dapat ditentukan secara wajar. Dalam hal tersebut maka perlu dijelaskan alasannya . Tanggal Efektif 35 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini dianjurkan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 10 Transaksi dalam Mata Uang Asing.htm

10/17/03

PSAK no 10

Page 8 of 8

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 10 Transaksi dalam Mata Uang Asing.htm

10/17/03

PSAK no 11

Page 1 of 9

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 11 PENJABARAN LAPORAN KEUANGAN DALAM MATA UANG ASING

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 11 tentang Penjabaran Laporan Keuangan Dalam Mata Uang Asing disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN Tujuan Suatu perusahaan dapat melakukan aktivitas yang menyangkut valuta asing (foreign activities) dalam dua cara; melakukan transaksi dalam mata uang asing atau memiliki kegiatan usaha luar negeri (foreign operations). Untuk memasukkan kegiatan usaha luar negeri pada laporan keuangan suatu perusahaan, laporan keuangan kegiatan usaha luar negeri harus dijabarkan ke dalam mata uang pelaporan perusahaan. Pernyataan ini mengatur akuntansi untuk penjabaran laporan keuangan dalam mata uang asing yang meliputi penentuan kurs yang digunakan dan pengakuan pengaruh keuangan dari perubahan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia ...\PSAK 11 Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing.ht

10/17/03

PSAK no 11
kurs valuta asing dalam laporan keuangan. Ruang Lingkup

Page 2 of 9

01 Pernyataan ini harus diterapkan dalam penjabaran laporan keuangan dari kegiatan usaha luar negeri untuk tujuan konsolidasi, atau konsolidasi parsial atau melalui penerapan dengan metode ekuitas. 02 Pernyataan ini tidak mengatur akuntansi untuk transaksi dalam valuta asing (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.10 tentang Transaksi dalam Mata Uang Asing) . 03 Pernyataan ini tidak menspesifikasi mata uang yang digunakan perusahaan dalam menyajikan laporan keuangannya. Suatu perusahaan biasanya menggunakan mata uang resmi negara tempat perusahaan berdomisili. Jika perusahaan menggunakan mata uang lainnya, Pernyataan ini mewajibkan pengungkapan alasan penggunaan mata uang tersebut Pernyataan ini juga mewajibkan pengungkapan alasan perubahan mata uang pelaporan. 04 Pernyataan ini tidak mengatur pelaporan kembali laporan keuangan dalam mata uang pelaporan ke mata uang lain. 05 Pernyataan ini tidak mengatur penyajian laporan arus kas tentang arus kas yang bersumber dari penjabaran arus kas suatu kegiatan usaha luar negeri (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nos 2 tentang Laporan Arus Kas). Definisi 06 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Kegiatan usaha luar negeri (foreign operation) adalah suatu anak perusahaan (subsidiary), perusahaan asosiasi (associates), usaha patungan (joint venture) atau cabang dari perusahaan pelapor, yang aktivitasnya dilaksanakan di suatu negara di luar negara perusahaan pelapor. Kegiatan usaha tersebut dapat merupakan suatu bagian integral dari suatu perusahaan pelapor atau suatu entitas asing. Entitas asing (foreign entity) adalah suatu kegiatan usaha luar negeri (foreign operation), yang aktivitasnya bukan merupakan suatu bagian integral dari perusahaan pelapor. Mata uang pelaporan adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan. Mata uang asing adalah mata uang selain mata uang pelaporan suatu perusahaan. Nilai tukar (kurs) adalah rasio pertukaran dua mata uang. Beda nilai tukar (exchange difference) adalah selisih yang dihasilkan dari pelaporan jumlah unit mata uang asing yang sama dalam mata uang pelaporan pada nilai tukar yang berbeda. Kurs penutup (closing rare) adalah nilai tukar spot pada tanggal neraca. Investasi neto dalam suatu entitas asing adalah bagian (share) perusahaan pelapor dalam aktiva neto suatu entitas asing. Pos moneter adalah kas dan setara kas, aktiva dan kewajiban yang akan diterima atau dibayar yang jumlahnya pasti atau dapat ditentukan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia ...\PSAK 11 Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing.ht

10/17/03

PSAK no 11

Page 3 of 9

Nilai wajar (fair value) adalah suatu jumlah yang dapat digunakan sebagai dasar pertukaran aktiva atau penyelesaian kewajiban antara pihak yang paham (knowledgeable) dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm's length transaction). PENJELASAN Klasifikasi Kegiatan Usaha Luar Negeri 07 Metode yang digunakan untuk menjabarkan laporan keuangan suatu kegiatan usaha luar negeri tergantung pada cara pendanaan dan operasi perusahaan pelapor. Untuk tujuan ini, kegiatan usaha luar negeri diklasifikasikan baik sebagai "kegiatan usaha luar negeri yang merupakan bagian integral dengan operasi perusahaan pelapor" atau sebagai "entitas asing". 08 Suatu kegiatan usaha luar negeri yang merupakan bagian integral dengan operasi perusahaan pelapor menjalankan usahanya seolah-olah suatu perluasan dari operasi perusahaan pelapor. Sebagai contoh, suatu kegiatan usaha luar negeri semacam itu mungkin hanya menjual barangbarang yang diimpor dari perusahaan pelapor dan mengirimkan hasilnya ke perusahaan pelapor. Dalam keadaan tersebut, suatu perubahan dalam nilai tukar antara mata uang pelaporan (reporting currency) dengan mata uang kegiatan usaha luar negeri (foreign operation) memiliki dampak langsung pada arus kas dari operasi perusahaan pelapor. Karenanya, perubahan dalam nilai tukar mempengaruhi masing-masing pos moneter pada kegiatan usaha luar negeri daripada investasi neto perusahaan pelapor dalam operasi tersebut. 09 Sebaliknya, suatu entitas asing mengakumulasikan kas dan pos moneter lainnya, mengadakan pengeluaran, menghasilkan pendapatan atau berhutang, dalam mata uang setempat. Entitas asing mungkin juga melakukan transaksi dalam mata uang asing, termasuk transaksi dalam mata uang perusahaan pelapor. Perubahan dalam nilai tukar hanya sedikit atau bahkan tidak berdampak atas arus kas dari operasi baik sekarang maupun yang akan datang untuk entitas asing maupun perusahaan pelapor. Perubahan dalam nilai tukar mempengaruhi investasi neto perusahaan pelapor dalam entitas asing ketimbang pos-pos moneter dan non-moneter secara individual yang dipegang oleh entitas asing. 10 Indikasi entitas asing (foreign entity) (a) walaupun perusahaan pelapor mungkin mengendalikan kegiatan usaha luar negeri, tetapi masih terdapat tingkat otonomi yang memadai; (b) transaksi-transaksi dengan perusahaan pelapor bukan suatu proporsi besar bagi kegiatan usaha luar negeri; (c) aktivitas operasi luar negeri dibiayai terutama dari operasinya sendiri atau pinjaman lokal, bukan dari perusahaan pelapor; (d) biaya tenaga kerja, bahan baku dan komponen lainnya dari produk atau jasa kegiatan usaha luar negeri terutama dibayar atau diselesaikan dalam mata uang lokal daripada dalam mata uang pelaporan; (e) penjualan kegiatan usaha luar negeri terutama dalam mata uang yang berbeda dengan mata uang pelaporan; dan (f) pengelolaan arus kas mandiri. Penggolongan yang tepat untuk setiap kegiatan usaha pada prinsipnya dapat ditentukan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia ...\PSAK 11 Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing.ht

10/17/03

PSAK no 11

Page 4 of 9

berdasarkan informasi yang berkaitan dengan indikator tersebut di atas. Kadang-kadang pembedaan suatu kegiatan usaha luar negeri {foreign operation) sebagai suatu entitas asing atau kegiatan usaha luar negeri yang merupakan bagian integral dari perusahaan pelapor mungkin tidak jelas, dan memerlukan pertimbangan. Kegiatan Usaha Luar Negeri (Foreign Operation) yang Merupakan Bagian Integral dari Perusahaan Pelapor 11 Laporan keuangan dari suatu kegiatan usaha luar negeri yang merupakan bagian integral dari perusahaan pelapor harus dijabarkan dengan menggunakan prosedur sebagaimana dinyatakan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 10 tentang Transaksi dalam Mata Uang Asing, seolah-olah transaksi kegiatan usaha luar negeri tersebut merupakan transaksi perusahaan pelapor sendiri. 12 Masing-masing pos dalam laporan keuangan kegiatan usaha luar negeri dijabarkan seolah-olah seluruh transaksi telah dilaksanakan sendiri oleh perusahaan pelapor. (a) Biaya perolehan dan beban penyusutan aktiva tetap berwujud, dijabarkan menggunakan kurs tanggal transaksi atau, jika aktiva dinilai dengan nilai wajar, menggunakan kurs pada tanggal penilaian. (b) Biaya persediaan (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 14 tentang Persediaan) dijabarkan dengan menggunakan kurs pada saat biaya terjadi. (c) Jumlah yang dapat dipulihkan (recoverable amount) atau nilai yang dapat direalisasikan (realisable value) dari suatu aktiva dijabarkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat penilaian. Contohnya, apabila nilai realisasi neto dari suatu pos persediaan ditentukan dalam suatu mata uang asing maka jumlah tersebut dijabarkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal nilai realisasi neto ditentukan, atau kurs penutup (closing rate) karena biasanya penilaian dilakukan pada saat tanggal neraca. Suatu penyesuaian mungkin diperlukan untuk mengurangi nilai tercatat suatu aktiva dalam laporan keuangan perusahaan pelapor sehingga menjadi jumlah yang terpulihkan atau nilai realisasi neto, meskipun penyesuaian tersebut tidak diperlukan dalam laporan keuangan kegiatan usaha luar negeri. Sebaliknya, penyesuaian dalam laporan keuangan kegiatan usaha luar negeri perlu dieliminasi balik (reverse) dalam laporan keuangan perusahaan pelapor. 13 Untuk tujuan praktis, apabila kurs yang sebenarnya sulit diketahui, maka seringkali digunakan kurs rata-rata selama periode yang bersangkutan sebagai dasar penjabaran. Entitas Asing 14 Dalam menjabarkan laporan keuangan suatu entitas asing untuk disatukan/diinkorporasi dengan laporan keuangan perusahaan pelapor, digunakan prosedur sebagai berikut: (a) Aktiva dan kewajiban entitas asing, baik moneter maupun non moneter dijabarkan dengan menggunakan kurs penutup (closing rate). (b) Pendapatan dan beban entitas asing dijabarkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal transaksi. (c) Beda nilai tukar yang terjadi disajikan sebagai "selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan" dan disajikan sebagai bagian dari ekuitas sampai pelepasan investasi neto yang bersangkutan . 15 Berdasarkan pertimbangan praktis, suatu kurs yang mendekati nilai tukar sebenarnya, misalnya

file://C:\P.S.A.K\Indonesia ...\PSAK 11 Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing.ht

10/17/03

PSAK no 11

Page 5 of 9

kurs rata-rata selama suatu periode, sering kali digunakan untuk menjabarkan pendapatan dan beban suatu entitas asing. 16 Penjabaran laporan keuangan suatu entitas asing mengakibatkan pengakuan beda nilai tukar yang timbul dari: (a) penjabaran pendapatan dan beban dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal transaksi dan aktiva serta kewajiban dengan menggunakan kurs penutup; (b) penjabaran saldo awal investasi neto dalam entitas asing dengan kurs yang berbeda dari yang dilaporkan sebelumnya; dan (c) perubahan lain atas ekuitas dalam entitas asing. Beda nilai tukar ini tidak diakui sebagai pendapatan atau beban untuk periode yang bersangkutan, karena perubahan dalam nilai tukar hanya sedikit atau bahkan tidak berdampak atas arus kas dari operasi baik sekarang maupun yang akan datang untuk entitas asing maupun perusahaan pelapor. Bila suatu entitas asing dikonsolidasikan tapi tidak dimiliki seluruhnya, akumulasi beda nilai tukar yang ditimbulkan penjabaran dan teratribusi untuk kepentingan minoritas, dialokasikan dan dilaporkan sebagai suatu bagian dari kepentingan minoritas dalam neraca konsolidasi. 17 Setiap goodwill yang timbul dari akuisisi suatu entitas asing dan setiap penyesuaian nilai wajar terhadap nilai tercatat (carrying value) aktiva dan kewajiban yang timbul sehubungan akuisisi suatu entitas asing diperlakukan dengan salah satu cara sebagai: (a) aktiva dan kewajiban dari entitas asing dan dijabarkan dengan kurs penutup (closing rate) sesuai dengan paragraf 14; atau (b) aktiva dan kewajiban perusahaan pelapor yang telah dinyatakan dalam mata uang pelaporan atau sebagai pos non moneter dalam mata uang asing yang dilaporkan dengan menggunakan nilai tukar pada tanggal transaksi sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 10 tentang Transaksi dalam Mata Uang Asing paragraf 27 (b). 18 Penyatuan/inkorporasi laporan keuangan entitas asing dalam perusahaan pelapor mengikuti prosedur normal, misalnya pengeliminasian saldo intragroup dan transaksi intragroup dari satu anak perusahaan (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 4 tentang Laporan Keuangan Konsolidasi, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 15 tentang Akuntansi untuk Investasi dalam Perusahaan Asosiasi, dan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 12 tentang Pelaporan Keuangan mengenai Bagian Partisipasi dalam Pengendalian Bersama Operasi dan Aset). Akan tetapi beda nilai tukar yang timbul pada suatu pos moneter intragroup, baik jangka pendek atau jangka panjang, tidak dapat dieliminasi terhadap saldo intragroup lainnya karena pos moneter menunjukkan suatu komitmen untuk menukar satu mata uang ke mata uang lainnya dan memberikan dampak pada perusahaan pelapor tentang keuntungan atau kerugian karena fluktuasi kurs mata uang. Sehubungan dengan itu, dalam laporan keuangan konsolidasi perusahaan pelapor beda nilai tukar diakui sebagai penghasilan atau beban atau jika timbul karena keadaan seperti dijelaskan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 10 tentang Transaksi dalam Mata Uang Asing, paragraf 31, diklasifikasikan sebagai ekuitas hingga pelepasan investasi neto. 19 Jika laporan keuangan suatu entitas asing disusun pada tanggal pelaporan yang berbeda dengan tanggal laporan perusahaan pelapor, untuk tujuan penyatuan laporan keuangan entitas asing seringkali menyusun laporan pada tanggal yang sama dengan perusahaan pelapor. Jika penyesuaian tersebut tidak praktis, sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 4 tentang Laporan Keuangan Konsolidasi, laporan keuangan dapat disusun pada tanggal pelaporan yang berbeda selama perbedaan tidak lebih dari tiga bulan. Dalam keadaan tersebut, aktiva dan kewajiban entitas asing dijabarkan dengan nilai tukar pada tanggal neraca entitas asing.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia ...\PSAK 11 Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing.ht

10/17/03

PSAK no 11

Page 6 of 9

Penyesuaian dilakukan untuk mengungkapkan perubahan nilai tukar yang signifikan yang terjadi sampai dengan tanggal neraca perusahaan pelapor. Pelepasan (Disposal) Suatu Entitas Asing 20 Pada pelepasan (disposal) suatu entitas asing, jumlah kumulatif beda nilai tukar yang telah ditangguhkan dan berkaitan dengan entitas asing tersebut harus diakui sebagai pendapatan atau sebagai beban dalam periode yang sama pada waktu keuntungan atau kerugian pelepasan (disposal) diakui. 21 Suatu perusahaan mungkin melepas kepentingannya dalam suatu entitas asing melalui penjualan, likuidasi, pembayaran kembali modal saham, pembebasan seluruh, atau sebagian, dari entitas. Pembayaran dividen hanya dianggap sebagai suatu pelepasan (disposal) jika sebenarnya merupakan pengembalian atas investasi. Dalam keadaan pelepasan sebagian (partial disposal), hanya bagian proporsional akumulasi beda nilai tukar yang diperhitungkan sebagai keuntungan atau kerugian. Penurunan (write down) nilai tercatat suatu entitas asing tidak merupakan suatu pelepasan (disposal) sebagian. Dengan demikian, tidak ada bagian dari keuntungan atau kerugian beda nilai tukar yang ditangguhkan diakui pada waktu pencatatan. Perubahan dalam Klasifikasi Kegiatan Usaha Luar Negeri (Foreign Operation) 22 Jika terdapat perubahan klasifikasi suatu kegiatan usaha luar negeri, prosedur penjabaran yang dapat diterapkan pada klasifikasi yang direvisi harus diterapkan sejak tanggal perubahan klasifikasi. 23 Suatu perubahan dalam cara pembiayaan dan operasi suatu kegiatan usaha luar negeri sehubungan dengan perusahaan pelapor dapat menyebabkan perubahan klasifikasi kegiatan usaha luar negeri itu. Jika suatu kegiatan usaha luar negeri yang integral dengan operasi perusahaan pelapor diklasifikasikan kembali sebagai suatu entitas asing, beda nilai tukar yang timbul pada penjabaran aktiva non-moneter pada tanggal pengklasifikasian ulang diklasifikasikan sebagai ekuitas. Jika suatu entitas asing diklasifikasikan ulang sebagai suatu kegiatan usaha luar negeri yang integral dengan operasi perusahaan pelapor, jumlah yang dijabarkan dari pos non moneter pada tanggal perubahan diperlakukan sebagai biaya historis untuk pos-pos tersebut pada tanggal perubahan dan periode berikutnya. Beda nilai tukar yang telah ditangguhkan tidak diakui sebagai pendapatan atau beban hingga pelepasan (disposal) operasi. Pengungkapan 24 Perusahaan harus mengungkapkan beda nilai tukar bersih yang diklasifikasikan dalam kelompok ekuitas sebagai suatu unsur yang terpisah, dan rekonsiliasi beda nilai tukar tersebut pada awal dan akhir periode. 25 Jika mata uang pelaporan berbeda dengan mata uang negara tempat perusahaan berdomisili, alasan untuk menggunakan mata uang yang berbeda harus diungkapkan. Alasan untuk setiap perubahan dalam mata uang pelaporan juga harus diungkapkan. 26 Jika terdapat suatu perubahan dalam klasifikasi suatu kegiatan usaha luar negeri yang signifikan, perusahaan harus mengungkapkan: (a) sifat perubahan dalam klasifikasi; (b) alasan perubahan; (c) dampak perubahan atas klasifikasi modal pemegang saham; dan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia ...\PSAK 11 Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing.ht

10/17/03

PSAK no 11

Page 7 of 9

(d) dampak pada laba bersih atau kerugian untuk setiap periode sebelumnya jika perubahan klasifikasi terjadi pada periode sebelumnya yang paling awal . 27 Suatu perusahaan harus mengungkapkan metode yang dipilih sesuai dengan paragraf 17 untuk menjabarkan goodwill dan penyesuaian nilai wajar yang timbul pada akuisisi suatu entitas asing. 28 Perusahaan mengungkapkan dampak atas pos-pos moneter mata uang asing atau atas laporan keuangan suatu kegiatan usaha luar negeri sehubungan dengan suatu perubahan dalam nilai tukar yang terjadi setelah tanggal neraca jika perubahan tersebut adalah sedemikian besar sehingga bila tidak diungkapkan akan mempengaruhi kemampuan pembaca laporan keuangan untuk membuat evaluasi dan keputusan yang tepat (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 8 tentang Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tangga/ Neraca). 29 Pengungkapan juga diperlukan sehubungan dengan kebijakan manajemen risiko mata uang asing.

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 11 PENJABARAN LAPORAN KEUANGAN DALAM MATA UANG ASING Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 11 terdiri i dari paragraf 30 40. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1 - 29. 30 Pernyataan ini harus diterapkan dalam penjabaran laporan keuangan dari kegiatan usaha luar negeri untuk tujuan konsolidasi, atau konsolidasi parsial atau melalui penerapan dengan metode ekuitas. Kegiatan Usaha Luar Negeri yang merupakan bagian dari Perusahaan Pelapor 31 Laporan keuangan dari suatu kegiatan usaha luar negeri yang merupakan bagian integral dengan operasi dari perusahaan pelapor harus dijabarkan dengan menggunakan prosedur sebagaimana dinyatakan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 10 tentang Transaksi dalam Mata Uang Asing, seolah-olah transaksi kegiatan usaha luar negeri tersebut merupakan transaksi perusahaan pelapor sendiri. Entitas Asing 32 Dalam menjabarkan laporan keuangan suatu entitas asing untuk disatukan/diinkorporasi dengan laporan keuangan perusahaan pelapor, digunakan prosedur sebagai berikut: (a) Aktiva dan kewajiban entitas asing, baik moneter maupun non moneter dijabarkan dengan menggunakan kurs penutup (closing rate). (b) Pendapatan dan beban entitas asing dijabarkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal transaksi. (c) Beda nilai tukar yang terjadi disajikan sebagai "selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan" dan disajikan sebagai bagian dari ekuitas sampai pelepasan investasi neto yang bersangkutan .

file://C:\P.S.A.K\Indonesia ...\PSAK 11 Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing.ht

10/17/03

PSAK no 11

Page 8 of 9

Pelepasan (Disposal) Suatu Entitas Asing 33 Pada pelepasan (disposal) suatu entitas asing, jumlah kumulatif beda nilai tukar yang telah ditangguhkan dan berkaitan dengan entitas asing tersebut harus diakui sebagai pendapatan atau sebagai beban dalam periode yang sama pada waktu keuntungan atau kerugian pelepasan (disposal) diakui. Perubahan dalam Klasifikasi Kegiatan Usaha Luar Negeri (Foreign Operation) 34 Jika terdapat perubahan klasifikasi suatu kegiatan usaha luar negeri, prosedur penjabaran yang dapat diterapkan pada klasifikasi yang direvisi harus diterapkan sejak tanggal perubahan klasifikasi. Pengungkapan 35 Perusahaan harus mengungkapkan beda nilai tukar bersih yang diklasifikasikan dalam kelompok ekuitas sebagai suatu unsur yang terpisah, dan rekonsiliasi beda nilai tukar tersebut pada awal dan akhir periode. 36 Jika mata uang pelaporan berbeda dengan mata uang negara tempat perusahaan berdomisili, alasan untuk menggunakan mata uang yang berbeda harus diungkapkan. Alasan untuk setiap perubahan dalam mata uang pelaporan juga harus diungkapkan. 37 Jika terdapat suatu perubahan dalam klasifikasi suatu kegiatan usaha luar negeri yang signifikan, perusahaan harus mengungkapkan: (a) sifat perubahan dalam klasifikasi; (b) alasan perubahan; (c) dampak perubahan atas klasifikasi modal pemegang saham; dan (d) dampak pada laba bersih atau kerugian untuk setiap periode sebelumnya jika perubahan klasifikasi terjadi pada periode sebelumnya yang paling awal . 38 Suatu perusahaan harus mengungkapkan metode yang dipilih sesuai dengan paragraf 17 untuk menjabarkan goodwill dan penyesuaian nilai wajar yang timbul pada akuisisi suatu entitas asing. Masa Transaksi 39 Pada saat Pernyataan ini pertama kali diterapkan, perusahaan harus mengklasifikasikan secara terpisah dan mengungkapkan saldo kumulatif, pada awal periode, beda nilai tukar yang ditangguhkan dan diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam periode sebelumnya, kecuali jika jumlah tersebut tidak dapat ditentukan secara wajar. Dalam hal tersebut maka perlu dijelaskan alasannya. Tanggal Efektif 40 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakup periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini dianjurkan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia ...\PSAK 11 Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing.ht

10/17/03

PSAK no 11

Page 9 of 9

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia ...\PSAK 11 Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing.ht

10/17/03

PSAK no 12

Page 1 of 8

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 12 PELAPORAN KEUANGAN MENGENAI BAGIAN PARTISIPASI DALAM PENGENDALIAN BERSAMA OPERASI DAN ASET

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 12 tentang Pelaporan Keuangan Mengenai Partisipasi (Interest) Dalam Pengendalian Bersama Operasi dan Aset (Jointly Controlled Operations And Jointly Controlled Assets) disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN Tujuan Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur akuntansi untuk bagian partisipasi (interest) pada joint ventures, dan pelaporan aktiva, kewajiban, pendapatan dan beban dalam laporan keuangan para venturer dan para investor. Ruang Lingkup

...\PSAK 12 Pelaporan Keuangan Mengenai Bagian Partisipasi dalam Pengendalian Bersama Operasi 10/17/03 d

PSAK no 12

Page 2 of 8

01 Pernyataan ini mengatur: (a) Perlakuan akuntansi atas bagian partisipasi (interest) pada pengendalian bersama operasi (PBO) dan pelaporan pendapatan bersama; (b) Perlakuan akuntansi atas bagian partisipasi (interest) pada pengendalian bersama aset (PBA) dan pelaporan aktiva, kewajiban, beban dan pendapatan bersama. 02 Pernyataan ini tidak mengatur perlakuan akuntansi atas bagian partisipasi (interest) pada pengendalian bersama entitas hukum (jointly controlled entities). Definisi 03 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Joint Ventures adalah perjanjian kontraktual antara dua atau lebih pihak untuk melaksanakan kegiatan ekonomi yang dikendalikan bersama. Pengendalian (Control) adalah wewenang (power) untuk mengatur dan menentukan kebijakan keuangan dan operasi dari suatu kegiatan usaha dengan tujuan untuk mendapat manfaat dari kegiatan tersebut. Pengendalian bersama (joint control) adalah pengendalian bersama oleh para venturer atas suatu kegiatan usaha yang didasarkan pada perjanjian kontraktual. Pengaruh signifikan adalah wewenang untuk ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai kebijakan keuangan dan operasi, walaupun tidak dapat melakukan pengendalian atau pengendalian bersama terhadap kebijakan tersebut. Venturer adalah salah satu pihak dalam joint ventures yang ikut melakukan pengendalian bersama terhadap joint ventures tersebut. Investor dalam suatu joint ventures adalah salah satu pihak dalam joint ventures yang tidak ikut melakukan pengendalian bersama terhadap joint ventures tersebut. Proportionate consolidation adalah suatu metode akuntansi dan pelaporan keuangan dimana atas setiap aset, kewajiban, pendapatan dan beban dari suatu joint ventures digabungkan satu persatu (line-by-line) dengan unsur yang sama dengan laporan keuangan venturer. Metode ekuitas adalah metode akuntansi dan pelaporan keuangan dimana bagian partisipasi (interest) pada suatu joint ventures pada awalnya dibukukan sebesar biaya perolehan (cost) dan selanjutnya disesuaikan terhadap perubahan dalam bagian venturer atas aset bersih (net asset) dari joint ventures yang terjadi setelah perolehan (post acquisition). Laporan laba rugi mencerminkan bagian venturer atas hasil usaha joint venture. PENJELASAN 04 Joint ventures dapat dilakukan dalam berbagai bentuk (forms) dan struktur (structures). Pernyataan ini hanya mengatur dua jenis umum joint ventures, yaitu pengendalian bersama operasi (jointly controlled operation), dan pengendalian bersama aset (jointly controlled asset), yang secara umum memenuhi definisi joint ventures. Ciri-ciri umum dari suatu joint ventures adalah sebagai berikut:

...\PSAK 12 Pelaporan Keuangan Mengenai Bagian Partisipasi dalam Pengendalian Bersama Operasi 10/17/03

PSAK no 12

Page 3 of 8

(a) dua atau lebih venturer diikat oleh suatu perjanjian kontraktual (contractual arrangement); dan (b) perjanjian kontraktual tersebut menciptakan pengendalian bersama (joint control). Walaupun suatu entitas hukum yang dikendalikan bersama (jointly controlled entity) memenuhi definisi joint ventures, akan tetapi perlakuan akuntansinya bagi para venturer dan investors di luar cakupan Pernyataan ini. Perjanjian Kontraktual (Contractual Arrangement) 05 Keberadaan perjanjian kontraktual membedakan joint ventures dengan investasi dalam perusahaan asosiasi yang investornya mempunyai pengaruh signifikan (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 15 tentang Akuntansi Untuk Investasi Dalam Perusahaan Asosiasi). Aktivitas yang tidak disertai dengan perjanjian kontraktual yang menciptakan pengendalian bersama (joint control) tidak merupakan joint ventures menurut Pernyataan ini. 06 Perjanjian kontraktual dapat dinyatakan dengan berbagai cara, misalnya dengan suatu kontrak antara para venturer atau dengan notulen rapat antara para venturer. Apapun bentuknya, perjanjian kontraktual biasanya tertulis dan mengatur hal-hal tertentu seperti: (a) aktivitas, jangka waktu dan kewajiban pelaporan dari joint ventures tersebut; (b) penunjukan pengurus joint ventures dan hak suara para venturer; (c) partisipasi finansial masing-masing venturer; (d) cara pembagian output, pendapatan, beban atau hasil usaha joint ventures kepada para venturer. 07 Perjanjian kontraktual menciptakan pengendalian bersama terhadap joint ventures. Persyaratan tersebut menghendaki agar tidak ada satupun venturer yang dapat mengendalikan sendiri aktivitas tersebut. Perjanjian tersebut mengatur pengambilan keputusan penting yang memerlukan persetujuan dari seluruh venturer dan pengambilan keputusan yang cukup mendapat persetujuan mayoritas para venturer. 08 Perjanjian kontraktual tersebut dapat menunjuk salah satu venturer sebagai operator atau manager joint ventures. Operator tersebut tidak mengendalikan joint ventures, tetapi melaksanakan kebijakan keuangan dan operasi yang telah disetujui oleh seluruh venturer sesuai dengan perjanjian kontraktual. Pengendalian Bersama Operasi (Jointly Controled Operation ) 09 Dalam Pengendalian Bersama Operasi (PBO) kegiatan joint ventures meliputi pemanfaatan aset dan sumber daya lainnya dari para venturer dan tidak memerlukan pembentukan suatu perseroan terbatas, firma, atau badan usaha lain atau suatu pengelolaan keuangan yang terlepas dari ventures. Masing-masing venturer menggunakan aktiva tetapnya, dan mengelola sendiri persediaannya. Masing-masing venturer juga memikul pengeluarannya, menyelesaikan kewajibannya serta mencari sumber pendanaan untuk aktivitasnya sendiri. Aktivitas joint ventures dapat dilakukan oleh karyawan venturer yang juga melakukan aktivitas lainnya dari venturer sendiri. Perjanjian joint ventures biasanya mengatur cara pembagian pendapatan dari penjualan produk bersama (joint product) dan pembagian beban bersama lainnya yang terjadi.

...\PSAK 12 Pelaporan Keuangan Mengenai Bagian Partisipasi dalam Pengendalian Bersama Operasi 10/17/03

PSAK no 12

Page 4 of 8

10 Contoh dari PBO adalah bila dua atau lebih venturer menggabungkan operasi, sumber daya dan keahliannya dalam rangka memproduksi, memasarkan dan mendistribusikan bersama suatu produk tertentu, misalnya pesawat terbang. Proses produksi komponen pesawat tertentu dilakukan oleh masing-masing venturer. Setiap venturer memikul biayanya sendiri dan memperoleh bagian dari hasil penjualan pesawat terbang sesuai dengan cara pembagian yang telah disepakati dalam perjanjian kontraktual. 11 Sehubungan dengan bagian partisipasi (interest) venturer pada PBO, setiap venturer membukukan dan menyajikan dalam laporan keuangannya masing-masing: (a) aktiva yang dikendalikannya sendiri dan kewajiban yang timbul atas aktivitasnya sendiri; dan (b) beban (expenses) yang terjadi atas aktivitasnya sendiri dan bagiannya (its share) atas pendapatan bersama dari penjualan barang dan jasa oleh joint ventures tersebut. 12 Laporan keuangan tersendiri untuk joint venture wajib disusun apabila jumlahnya material dan proyek kerja sama diselesaikan dalam jangka panjang. Jenis, bentuk dan isi laporan keuangan disesuaikan dengan kebutuhan venturer dan perjanjian kontraktual . Pengendalian Bersama Aset (Jointly Controlled Assets) 13 Dalam Pengendalian Bersama Aset (PBA), para venturer melakukan pengendalian bersama dan kepemilikan bersama atas satu atau lebih aset yang diserahkan oleh venturer, atau dibeli untuk digunakan dalam melaksanakan kegiatan joint venture. Aset tersebut digunakan untuk menghasilkan keuntungan bagi para venturer. Masing-masing venturer dapat mengambil bagiannya (its share) atas output yang dihasilkan oleh aset tersebut dan masing-masing memikul bagiannya atas beban yang terjadi . 14 Dalam pelaksanaan joint ventures semacam ini; tidak perlu didirikan suatu perseroan terbatas, firma, atau bagian usaha lain. Masing-masing venturer dapat menikmati bagiannya atas hasil pemanfaatan aset tersebut pada masa mendatang melalui bagiannya dalam pengendalian bersama aset tersebut. 15 Banyak aktivitas dalam industri penambangan minyak, gas dan mineral yang dilaksanakan melalui PBA; misalnya, beberapa perusahaan minyak dapat mengendalikan dan mengoperasikan bersama saluran minyak (oil pipeline). Masing-masing venturer menggunakan saluran tersebut untuk mengangkut produknya dan memikul bagiannya atas beban pengoperasian saluran tersebut dalam proporsi yang telah disetujui. Contoh lain pengendalian bersama aset adalah bila dua perusahaan mengendalikan bersama suatu properti, masing-masing venturer mendapat bagian atas pendapatan sewa dan memikul bagiannya atas beban yang terjadi. 16 Sehubungan dengan bagian partisipasi (interest) venturer dalam pengendalian bersama aset, setiap venturer membukukan dan menyajikan dalam laporan keuangannya masing-masing: (a) bagiannya (share) atas aset yang dikendalikan bersama, diklasifikasikan menurut sifat dari aset tersebut, bukan sebagai investasi. Sebagai contoh bagiannya atas saluran minyak diklasifikasikan sebagai aktiva tetap. (b) setiap kewajiban yang menjadi tanggungannya sendiri, misalnya pinjaman bank yang digunakannya untuk membiayai partisipasinya pada joint venture; (c) bagiannya (share) atas setiap kewajiban bersama yang ditanggung bersama oleh para para venturer sehubungan dengan joint ventures;

...\PSAK 12 Pelaporan Keuangan Mengenai Bagian Partisipasi dalam Pengendalian Bersama Operasi 10/17/03

PSAK no 12

Page 5 of 8

(d) bagiannya (share) atas output joint ventures, dan bagiannya atas beban bersama yang terjadi pada joint ventures tersebut; dan (e) beban yang menjadi tanggungannya sendiri sehubungan dengan partisipasinya dalam joint ventures, misalnya bunga atas pinjaman bank yang digunakan untuk membiayai partisipasinya pada joint venture. 17 Perlakuan akuntansi PBA mencerminkan substansi dan realitas ekonomi dan bentuk formal joint ventures. Pembukuan tersendiri untuk joint ventures tersebut dapat dibatasi misalnya pada beban bersama yang terjadi yang akhirnya harus ditanggung bersama oleh para para venturer sesuai dengan pembagian yang telah disepakati. Laporan keuangan tersendiri wajib disusun untuk joint ventures tersebut apabila jumlahnya material dan proyek kerja sama diselesaikan dalam jangka panjang. Jenis, bentuk dan isi laporan keuangan disesuaikan dengan kebutuhan venturer dan perjanjian kontraktual. Transaksi antara venturer dan Joint Ventures 18 Apabila venturer menyerahkan atau menjual suatu aset kepada joint ventures, pengakuan keuntungan atau kerugian harus merefleksikan substansi dari transaksi tersebut. Apabila aset tersebut masih dalam penguasaan joint venture, dan venturer telah mentransfer resiko dan manfaat yang signifikan atas aset tersebut, maka venturer tersebut hanya mengakui keuntungan penjualan sebesar bagian partisipasi (interest) venturer lainnya. Venturer harus mengakui seluruh kerugian apabila akibat penyerahan atau penjualan aset tersebut terdapat bukti terjadinya penurunan nilai realisasi neto (net realisable value) aktiva lancar atau penurunan yang tidak bersifat sementara (other than temporary) nilai tercatat (carrying amount) aset jangka panjang. 19 Apabila venturer membeli aset dari suatu joint ventures, venturer tidak boleh mengakui bagiannya baik atas keuntungan maupun kerugian joint ventures dari transaksi tersebut sampai saat aset tersebut dijual oleh venturer kepada pihak lain yang independen. Apabila akibat pembelian aset tersebut terdapat bukti bahwa terjadi penurunan nilai realisasi neto (net realisable value) aktiva lancar atau penurunan yang tidak bersifat sementara (other than temporary) nilai tercatat (carrying amount} aset jangka panjang, maka venturer harus mengakui segera bagiannya atas kerugian tersebut. Pelaporan Bagian Partisipasi (Interest) dalam laporan Keuangan Investor 20 Bagian partisipasi (interest) investor dalam suatu joint venture, yang tidak ikut melakukan joint control, diperlakukan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 13 tentang Akuntansi untuk Investasi, atau jika investor mempunyai pengaruh signifikan, diperlakukan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 15 tentang Akuntansi untuk Investasi dalam Perusahaan Asosiasi. Operator Joint Ventures 21 Satu atau lebih venturer dapat bertindak sebagai operator atau manajer dari suatu joint ventures. Kepada operator biasanya dibayarkan suatu imbalan (management fee) untuk pelaksanaan tugas tersebut. Imbalan tersebut dipertanggungjawabkan joint ventures sebagai beban dan sebaliknya diakui oleh operator sebagai pendapatan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 23 tentang Pendapatan. Pengungkapan 22 Venturer harus mengungkapkan jumlah agregat dari kontinjensi berikut ini, terpisah dari

...\PSAK 12 Pelaporan Keuangan Mengenai Bagian Partisipasi dalam Pengendalian Bersama Operasi 10/17/03

PSAK no 12
kontinjensi lainnya dari venturer:

Page 6 of 8

(a) setiap kontinjensi yang timbul akibat bagian partisipasi (interest) venturer pada joint ventures dan bagiannya atas kontinjensi yang timbul akibat tindakannya yang dilakukan secara bersama sama dengan para venturer lainnya; (b) bagiannya atas kontinjensi joint ventures apabila venturer tersebut ikut bertanggung jawab atas kontinjensi tersebut; dan (c) kontinjensi yang timbul karena venturer ikut menanggung kewajiban venturer lainnya. 23 Venturer harus mengungkapkan jumlah agregat komitmen berikut ini, terpisah dari komitmen lainnya dari venturer: (a) komitmen modal/finansial venturer sehubungan dengan bagian partisipasinya (interest) pada joint ventures dan penyetoran atau penyetoran modal yang telah dilakukannya pada joint ventures; (b) bagiannya atas komitmen modal/finansial yang dibuat oleh joint ventures. 24 Agar pemakai laporan keuangan venturer memperoleh pemahaman yang jelas mengenai aktivitasnya; venturer harus mengungkapkan daftar dan deskripsi bagian partisipasinya (interest) yang signifikan pada joint ventures.

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 12 PELAPORAN KEUANGAN MENGENAI BAGIAN PARTISIPASI (INTEREST) DALAM PENGENDALIAN BERSAMA OPERASI DAN ASET (JOINTLY CONTROLLED OPERATIONS AND JOINTLY CONTROLLED ASSET) Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 12 terdiri dari paragraf 25-34. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1-24. Pelaporan Badan Partisipasi (Interest) pada Pengendalian Bersama Operasi (Jointly Controlled Operations) 25 Sehubungan dengan bagian partisipasinya pada PBO, venturer harus membukukan dan menyajikan dalam laporan keuangannya: (a) aset yang dikendalikannya sendiri dan kewajiban yang timbul atas aktivitasnya sendiri; dan (b) beban yang terjadi oleh venturer sendiri dan bagiannya atas pendapatan yang dihasilkan dari penjualan barang atau jasa oleh joint ventures. 26 Laporan keuangan tersendiri untuk joint venture wajib disusun apabila jumlahnya material dan proyek kerja sama diselesaikan dalam jangka panjang. Jenis, bentuk dan isi laporan keuangan disesuaikan dengan kebutuhan venturer dan perjanjian kontraktual . Pelaporan Bagian Partisipasi (Interest) pada Pengendalian Bersama Aset 27 Sehubungan dengan bagian partisipasinya pada PBA, venturer harus membukukan dan

...\PSAK 12 Pelaporan Keuangan Mengenai Bagian Partisipasi dalam Pengendalian Bersama Operasi 10/17/03

PSAK no 12
menyajikan dalam laporan keuangannya:

Page 7 of 8

(a) bagiannya (interest) atas aset yang dikendalikan bersama, diklasifikasikan menurut sifat dari aset tersebut; (b) kewajiban yang timbul dan menjadi kewajiban venturer sendiri; (c) bagiannya atas kewajiban bersama yang timbul bersama sama dengan venturer lain sehubungan dengan joint ventures; (d) bagiannya atas output joint ventures, dan bagiannya atas beban bersama joint ventures tersebut; dan (e) beban yang terjadi yang menjadi tanggungan venturer sendiri yang berkaitan dengan bagian partisipasinya (interest) dalam joint ventures. Apabila penerapan metode proportionate consolidation tersebut di atas tidak praktis untuk diterapkan, maka venturer dapat menggunakan metode ekuitas (equity method) untuk membukukan dan menyajikan partisipasinya pada PBA. 28 Laporan keuangan tersendiri wajib disusun untuk joint ventures tersebut apabila jumlahnya material dan proyek kerja sama diselesaikan dalam jangka panjang. Jenis, bentuk dan isi laporan keuangan disesuaikan dengan kebutuhan venturer dan perjanjian kontraktual. Transaksi antara Venturer dan Joint Ventures 29 Apabila venturer menyerahkan atau menjual suatu dengan kebutuhan venturer dan perjanjian kontraktual. aset kepada joint ventures, pengakuan keuntungan atau kerugian harus merefleksikan substansi dari transaksi tersebut. Apabila aset tersebut masih dalam penguasaan joint venture, dan venturer telah mentransfer risiko dan manfaat yang signifikan atas aset tersebut, maka venturer tersebut hanya mengakui keuntungan penjualan sebesar bagian partisipasi (interest) venturer lainnya. Venturer harus mengakui seluruh kerugian apabila akibat penyerahan atau penjualan aset tersebut terdapat bukti terjadinya penurunan nilai realisasi neto (net realisable value) aktiva lancar atau penurunan yang tidak bersifat sementara (other than temporary) nilai tercatat (carrying amount) aset jangka panjang. 30 Apabila venturer membeli aset dari suatu joint ventures, venturer tidak boleh mengakui bagiannya baik atas keuntungan maupun kerugian joint ventures dari transaksi tersebut sampai saat aset tersebut dijual oleh venturer kepada pihak lain yang independen. Apabila akibat pembelian aset tersebut terdapat bukti bahwa terjadi penurunan nilai realisasi neto (net realisable value) aktiva lancar atau penurunan yang tidak bersifat sementara (other than temporary) nilai tercatat (carrying amount) aset jangka panjang, maka venturer harus mengakui segera bagiannya atas kerugian tersebut. Pelaporan Bagian Partisipasi (Interest) dalam Laporan Keuangan Investor 31 Bagian partisipasi (interest) investor dalam suatu joint venture, yang tidak ikut melakukan joint control, diperlakukan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 13 tentang Akuntansi untuk Investasi, atau jika investor mempunyai pengaruh signifikan, diperlakukan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 15 tentang Akuntansi untuk Investasi dalam Perusahaan Asosiasi. Operator Joint Ventures

...\PSAK 12 Pelaporan Keuangan Mengenai Bagian Partisipasi dalam Pengendalian Bersama Operasi 10/17/03

PSAK no 12

Page 8 of 8

32 Operator atau manajer suatu joint ventures mempertanggungjawabkan imbalan (management fee) yang diterimanya sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 23 tentang Pendapatan. Pengungkapan 33 Venturer harus mengungkapkan jumlah agregat dari kontinjensi berikut ini, terpisah dari kontinjensi lainnya dari venturer: (a) setiap kontinjensi yang timbul akibat bagian partisipasi (interest) venturer pada joint ventures dan bagiannya atas kontinjensi yang timbul akibat tindakannya yang dilakukan secara bersama sama dengan para venturer lainnya; (b) bagiannya atas kontinjensi joint ventures dimana venturer tersebut ikut bertanggung jawab; dan (c) kontinjensi yang timbul karena venturer ikut menanggung kewajiban venturer lainnya. 34 Venturer harus mengungkapkan jumlah agregat komitmen berikut ini, terpisah dari komitmen lainnya dari venturer: (a) komitmen modal/finansial venturer sehubungan dengan bagian partisipasinya (interest) pada joint ventures dan penyetoran atau penyetoran modal yang telah dilakukannya pada joint ventures; (b) bagiannya atas komitmen modal/finansial yang dibuat oleh joint ventures. 35 Agar pemakai laporan keuangan venturer memperoleh pemahaman yang jelas mengenai aktivitasnya, venturer harus mengungkapkan daftar dan deskripsi bagian partisipasinya (interest) yang signifikan pada joint ventures. Tanggal Efektif 36 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakup periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini dianjurkan.

Navigation

...\PSAK 12 Pelaporan Keuangan Mengenai Bagian Partisipasi dalam Pengendalian Bersama Operasi 10/17/03

PSAK no 13

Page 1 of 10

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 13 AKUNTANSI UNTUK INVESTASI

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 13 tentang Akuntansi Untuk Investasi disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN Tujuan Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi untuk investasi dalam laporan keuangan beserta pengungkapannya . Ruang Lingkup 01 Pernyataan ini mengatur perlakuan akuntansi untuk investasi dalam laporan keuangan perusahaan dan persyaratan pengungkapan yang berhubungan. 02 Pernyataan ini tidak mengatur:

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 13 Akuntansi untuk Investasi.htm

10/17/03

PSAK no 13

Page 2 of 10

(a) dasar pengakuan atas bunga, royalti, dividen dan sewa yang dihasilkan oleh investasi, yang telah diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 23 tentang Pendapatan, dan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 30 tentang Akuntansi Sewa Guna Usaha; (b) investasi pada anak perusahaan; (c) investasi pada perusahaan asosiasi dan joint venture; (d) goodwill, hak paten, trademarks dan aktiva yang serupa; (e) finance leases sebagaimana yang didefinisikan pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 30 tentang Akuntansi Sewa Guna Usaha; dan (f) investasi Dana Pensiun dan perusahaan asuransi jiwa. Definisi 03 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Investasi adalah suatu aktiva yang digunakan perusahaan untuk pertumbuhan kekayaan (accretion of wealth) melalui distribusi hasil investasi (seperti bunga, royalti, dividen dan uang sewa), untuk apresiasi nilai investasi, atau untuk manfaat lain bagi perusahaan yang berinvestasi seperti manfaat yang diperoleh melalui hubungan perdagangan. Persediaan dan aktiva tetap bukan merupakan investasi. Investasi Lancar adalah investasi yang dapat segera dicairkan dan dimaksudkan untuk dimiliki selama setahun atau kurang. Investasi Jangka Panjang adalah investasi selain investasi lancar. Investasi Properti adalah investasi pada tanah atau bangunan yang tidak digunakan atau dioperasikan oleh perusahaan yang berinvestasi atau perusahaan lain dalam grup yang sama dengan perusahaan yang berinvestasi. Investasi Dagang adalah investasi yang ditujukan untuk mempermudah atau mempertahankan bisnis atau hubungan perdagangan. Nilai wajar (fair value) adalah suatu jumlah yang dapat digunakan sebagai dasar pertukaran aktiva atau penyelesaian kewajiban antara pihak yang paham (knowledgeable) dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm's length transaction). Nilai pasar adalah jumlah yang dapat diperoleh dari penjualan suatu investasi dalam pasar yang aktif. Dapat dipasarkan berarti terdapat suatu pasar yang aktif darimana suatu nilai pasar (atau beberapa indikator yang memungkinkan nilai pasar dihitung) tersedia. PENJELASAN Bentuk Investasi 04 Perusahaan melakukan investasi dengan alasan yang berbeda-beda. Bagi beberapa

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 13 Akuntansi untuk Investasi.htm

10/17/03

PSAK no 13

Page 3 of 10

perusahaan, aktivitas investasi merupakan unsur penting dari operasi perusahaan, dan penilaian kinerja perusahaan mungkin sebagian besar, atau seluruhnya bergantung pada hasil yang dilaporkan mengenai aktivitas ini. Beberapa perusahaan melakukan investasi sebagai cara untuk menempatkan kelebihan dana dan beberapa perusahaan lain melakukan perdagangan investasi untuk mempererat hubungan bisnis atau memperoleh suatu keuntungan perdagangan. 05 Terdapat beberapa jenis investasi yang dapat dibuktikan dengan sertifikat atau dokumen lain yang serupa. Hakekat suatu investasi dapat berupa hutang, selain hutang jangka pendek atau hutang dagang, atau instrumen ekuitas. Pada umumnya investasi memiliki hak finansial, sebagian berwujud seperti investasi tanah, bangunan, emas, berlian atau komoditi lain yang dapat dipasarkan. 06 Untuk beberapa jenis investasi, terdapat pasar yang aktif yang dapat membentuk nilai pasar. Untuk jenis investasi tersebut, nilai pasar digunakan sebagai indikator penetapan nilai wajar. Sedangkan untuk investasi yang tidak memiliki pasar yang aktif, cara lain digunakan untuk menentukan nilai wajar. Pengklasifikasian Investasi 07 Kebanyakan perusahaan menyajikan neraca yang membedakan aktiva lancar dengan aktiva jangka panjang sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 9 tentang Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek. Investasi lancar termasuk dalam aktiva lancar. Kenyataan bahwa investasi yang dapat dipasarkan telah dimiliki lebih dari satu tahun tidak membatasi penyajiannya sebagai aktiva lancar. 08 Investasi yang dimiliki terutama untuk melindungi, mempermudah atau mempertahankan bisnis atau hubungan perdagangan, sering disebut investasi dagang, tidak dilakukan dengan maksud bahwa investasi tersebut akan tersedia sebagai sumber kas tambahan sehingga digolongkan sebagai aktiva jangka panjang. Investasi lain, seperti investasi pada properti, dimaksudkan untuk dimiliki selama beberapa tahun untuk mendapatkan penghasilan dan capital gain. Oleh karena itu investasi tersebut digolongkan sebagai aktiva jangka panjang meskipun dapat dipasarkan . 09 Beberapa perusahaan tidak membedakan antara aktiva lancar dan jangka panjang, dan perusahaan lain mungkin disyaratkan oleh peraturan untuk mengadopsi format neraca yang tidak diklasifikasikan (unclassified). Banyak perusahaan seperti itu bergerak dalam bidang keuangan, seperti bank dan perusahaan asuransi . Biaya Investasi 10 Biaya perolehan suatu investasi mencakup biaya perolehan lain di samping harga beli, seperti komisi broker, jasa bank dan pungutan oleh bursa efek. 11 Jika suatu atau sebagian investasi diperoleh dengan penerbitan saham atau surat berharga lain, maka biaya perolehannya adalah nilai wajar dari surat berharga yang diterbitkan dan bukan nilai nominal atau par value. Jika suatu atau sebagian investasi diperoleh dengan pertukaran dengan aktiva yang lain, biaya perolehan investasi tersebut ditentukan dengan mengacu pada nilai wajar dari aktiva yang diserahkan. Dapat juga digunakan nilai wajar dari aktiva yang diperoleh apabila dianggap lebih andal berdasarkan data/bukti yang tersedia. 12 Piutang bunga, royalti, dividen dan sewa sehubungan dengan suatu investasi secara umum dianggap sebagai penghasilan (return) investasi tersebut. Tetapi, dalam keadaan tertentu, arus masuk seperti itu dapat merupakan suatu pemulihan biaya dan tidak merupakan penghasilan. Misalnya, jika bunga yang belum dibayar telah diakru sebelum pembelian investasi yang berbunga dan oleh karena itu dimasukkan dalam biaya perolehan yang dibayar untuk investasi tersebut, penerimaan berikutnya dari bunga dialokasikan antara periode sebelum dan sesudah pembelian;

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 13 Akuntansi untuk Investasi.htm

10/17/03

PSAK no 13

Page 4 of 10

bagian sebelum pembelian dikurangi dari biaya perolehan. Jika dividen dideklarasikan dari laba pra akuisisi, maka dividen pra akuisisi tersebut dikurangkan dari biaya perolehan. Jika sulit untuk membuat alokasi semacam itu, kecuali dengan dasar arbitrer, biaya suatu investasi biasanya dikurangi dengan piutang dividen apabila dapat diyakinkan bahwa dividen tersebut merupakan pemulihan biaya (cost recovery). 13 Perbedaan antara biaya perolehan dan nilai penebusan (redemption value) suatu investasi dalam sekuritas hutang (diskonto atau premi pada pembelian) biasanya diamortisasi oleh investor selama periode dari pembelian sampai saat jatuh tempo sehingga hasil yang konstan (constant yield) diperoleh dari investasi tersebut. Diskonto atau premi yang diamortisasi tersebut dikreditkan atau dibebankan pada penghasilan bunga, dan sehingga merupakan penambahan atau pengurangan dari nilai tercatat sekuritas (carrying value) tersebut. Nilai tercatat yang dihasilkan, selanjutnya dianggap sebagai harga perolehan. Nilai Tercatat Investasi (Carrying Amount of Investment) Investasi Lancar 14 Ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai nilai tercatat yang tepat untuk investasi lancar. Sebagian pendapat menekankan bahwa, untuk laporan keuangan yang dipersiapkan menurut biaya perolehan, aturan umum tentang biaya dan nilai bersih yang direalisasi yang mana yang lebih rendah dapat diterapkan pada investasi; dan karena kebanyakan investasi lancar dapat dipasarkan, nilai tercatatnya adalah biaya atau nilai pasar yang mana yang lebih rendah. Pendukung metode penentuan nilai tercatat ini berpendapat bahwa metode tersebut memberikan nilai neraca yang wajar (prudent) dan tidak menyebabkan pengakuan keuntungan yang tidak direalisasi dalam penghasilan. 15 Pendapat lain mengatakan bahwa, karena investasi lancar merupakan kekayaan yang siap direalisasikan, atau suatu substitusi kas, maka adalah tepat untuk menilai mereka pada nilai wajar, biasanya pada nilai pasar. Perusahaan tidak memperhatikan unsur harga perolehan melainkan kas yang dapat diperoleh dengan menjualnya kembali. Investasi lancar dibedakan dari persediaan karena investasi lancar pada umumnya dapat dijual dengan mudah, sedangkan biasanya tidak tepat untuk mengakui laba pada penjualan persediaan sebelum penjualan tersebut dipastikan. Setiap investasi dapat dilepaskan oleh bisnis tersebut - misalnya sebuah investasi ekuitas dapat dijual dan hasilnya diinvestasikan kembali dalam deposito- bank tanpa menimbulkan kerugian bagi bisnis tersebut - dan oleh karena itu adalah pantas untuk melaporkan investasi tersebut pada nilai pasar. 16 Pada umumnya, perhatian suatu perusahaan adalah pada nilai keseluruhan dari portofolio investasi lancar, dan bukan pada investasi individual, karena investasi tersebut dimiliki secara kolektif sebagai tempat penyimpanan kekayaan . Konsisten dengan pandangan ini, investasi yang dicatat pada biaya atau nilai pasar yang mana yang lebih rendah dinilai pada suatu dasar portofolio agregat, dalam total atau dengan kategori investasi, dan tidak pada basis investasi individual. Namun, yang lain berpendapat bahwa penggunaan dasar portofolio menghasilkan kerugian yang dikompensasi dengan keuntungan yang tidak direalisasi. Investasi Jangka Panjang 17 Investasi jangka panjang biasanya dicatat pada biaya perolehan. Namun, jika terdapat penurunan yang tidak bersifat sementara dalam penilaian investasi jangka panjang tersebut, nilai tercatat dikurangi untuk mengakui penurunan tersebut. Indikator nilai suatu investasi dapat diperoleh dengan mengacu pada nilai pasarnya, aktiva dan kinerja investee serta arus kas yang diharapkan dari investasi tersebut. Risiko dan jenis serta penyertaan (stake) investor pada investee juga diperhitungkan. Pembatasan distribusi oleh (misalnya: pembayaran dividen atau pembayaran kembali investasi) investee tersebut atau pelepasan investasi oleh investor mungkin

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 13 Akuntansi untuk Investasi.htm

10/17/03

PSAK no 13
mempengaruhi investasi.

Page 5 of 10

18 Banyak investasi jangka panjang yang secara individual penting bagi perusahaan yang melakukan investasi. Nilai tercatat dari investasi jangka panjang karenanya, biasanya ditentukan secara individual. Namun, dari beberapa negara, sekuritas ekuitas mudah dipasarkan yang diklasifikasikan sebagai investasi jangka panjang dapat dinilai menurut yang terendah antara biaya dan nilai pasar yang ditentukan pada basis portofolio. Dalam hal ini, penurunan sementara dan pemulihan atas penurunan tersebut dimasukkan dalam ekuitas. 19 Penurunan selain penurunan sementara dalam nilai tercatat investasi jangka panjang dibebankan pada laporan laba rugi. Penurunan nilai tercatat dapat dipulihkan jika selanjutnya terdapat kenaikan dalam nilai investasi tersebut, atau jika alasan penurunan tersebut tidak relevan lagi. Pemulihan tersebut tidak boleh menyebabkan nilai investasi melebihi biaya perolehannya semula (original cost). 20 Investasi properti lazimnya dicatat sebagai investasi jangka panjang, kecuali apabila dimaksudkan untuk dimiliki dalam waktu 1 (satu) tahun atau kurang. Investasi properti tidak boleh disajikan sebagai bagian dari aktiva tetap dan tidak boleh disusutkan. Pelepasan Investasi (Disposal of Investment) 21 Pelepasan investasi dapat terjadi karena penjualan, kerusakan, bencana, peraturan pemerintah dan sebagainya sehingga tidak dapat digunakan lagi oleh perusahaan. Pada penjualan suatu investasi, selisih antara nilai tercatat dan hasil neto, diakui pada laporan laba rugi sebagai keuntungan atau kerugian penjualan. 22 Setiap penurunan nilai pasar investasi lancar yang dicatat pada yang terendah antara biaya dan nilai pasar pada dasar portofolio dilakukan terhadap biaya perolehan secara agregat; investasi individual tetap dicatat pada biaya. Dengan demikian, laba atau rugi penjualan suatu investasi individual didasarkan pada biaya perolehan; namun penurunan agregat pada nilai pasar dari portofolio tersebut perlu ditentukan. 23 Bila pelepasan sebagian dari investasi tertentu yang dimiliki suatu perusahaan nilai tercatat harus dialokasikan pada bagian yang dijual. Nilai tercatat ini biasanya ditentukan dari nilai tercatat rata-rata dari total investasi. Pemindahan Investasi 24 Kadang-kadang investasi jangka panjang direklasifikasi sebagai investasi lancar. Pemindahan tersebut dilakukan berdasarkan nilai terendah antara biaya perolehan dari nilai tercatat jika investasi lancar dicatat pada nilai terendah antara biaya dan nilai pasar. 25 Investasi yang direklasifikasi dari lancar ke jangka panjang masing-masing dipindahkan berdasarkan nilai terendah antara biaya perolehan dan nilai pasar. Perubahan Investasi dalam Suatu Portfolio 26 Suatu perusahaan dengan aktivitas investasi yang signifikan biasanya selalu mempunyai suatu portofolio investasi yang diperdagangkan secara tetap. Dalam melakukan perdagangan, perusahaan tersebut berusaha meningkatkan kualitas dan hasil portofolio investasi. Dalam pelepasan investasi tertentu dana yang diperoleh tersedia untuk reinvestasi atau mungkin tetap sebagai unsur kas dalam portofolio tersebut. Laporan Laba Rugi

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 13 Akuntansi untuk Investasi.htm

10/17/03

PSAK no 13

Page 6 of 10

27 Beberapa perusahaan yang mencatat investasi lancar berdasarkan nilai pasar dengan alasan bahwa investasi tersebut adalah tempat penyimpanan kekayaan bersih mengakui setiap keuntungan dan kerugian akibat fluktuasi nilai pasar sebagai unsur penghasilan yang dipertanggungjawabkan dalam laporan laba rugi bersama -sama dengan laba dan rugi pada pelepasan. Namun, di beberapa negara keuntungan semacam itu tidak dibolehkan untuk dimasukkan dalam penghasilan melainkan dikredit langsung ke modal pemilik dan dipertanggungjawabkan dengan jalan yang sama dengan surplus revaluasi pada investasi jangka panjang. 28 Jika investasi lancar dicatat pada metode terendah antara biaya dan nilai pasar, setiap penurunan nilai pasar dan setiap kebalikan dari penurunan tersebut dimasukkan dalam laporan laba rugi bersama dengan laba dan rugi pelepasan. 29 Setiap penurunan nilai tercatat secara permanen dalam nilai investasi jangka panjang, dan pemulihan dari penurunan tersebut, dan laba dan rugi pada pelepasan investasi jangka panjang, dimasukkan dalam penghasilan dan disajikan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 25 tentang Laba atau Rugi Bersih Untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi. Perusahaan yang Berspesialisasi pada Investasi 30 Ada perusahaan yang berspesialisasi pada investasi yang bisnis utamanya adalah memiliki suatu portofolio dari sekuritas yang dapat dipasarkan sebagai alat investasi bagi pemegang sahamnya. Perusahaan-perusahaan ini mencatat investasinya pada nilai wajar, biasanya nilai pasar, karena merupakan dasar yang paling tepat dalam keadaan tersebut. Perusahaan menganggap laba dan rugi yang belum direalisasi pada investasi mereka merupakan hal yang sama substansinya dengan keuntungan dan rugi yang belum direalisasi dan karenanya mempertanggungjawabkannya dengan cara yang sama. Perusahaan-perusahaan tersebut mengungkapkan ikhtisar semua mutasi dalam nilai investasi untuk periode tertentu. 31 Anggaran Dasar perusahaan-perusahaan ini melarang distribusi seperti dividen dari laba pada pelepasan investasi dan mensyaratkan suatu pembedaan yang tegas antara penghasilan yang timbul dari bunga dan dividen dan keuntungan atau rugi yang timbul dari pelepasan investasi. Karenanya, perusahaan-perusahaan ini mengeluarkan semua perubahan nilai investasi baik yang direalisasi maupun yang tidak dari penghasilan . Pengungkapan 32 Pengungkapan berikut adalah tepat: (a) kebijakan akuntansi untuk: (i) penentuan nilai tercatat dari investasi, (ii) perlakuan perubahan dalam nilai pasar investasi lancar yang dicatat pada nilai pasar, dan (b) jumlah signifikan yang dilaporkan sebagai penghasilan investasi untuk: (i) bunga, royalti, dividen dan sewa pada investasi jangka panjang dan lancar, dan (ii) laba dan rugi pada pelepasan investasi lancar dan perubahan dalam nilai investasi tersebut; (c) nilai pasar dari investasi yang dapat dipasarkan jika tidak dicatat dalam nilai pasar;

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 13 Akuntansi untuk Investasi.htm

10/17/03

PSAK no 13

Page 7 of 10

(d) nilai wajar dari investasi properti jika dipertanggungjawabkan sebagai investasi jangka panjang dan tidak dicatat pada nilai wajar; (e) pembatasan yang signifikan pada kemampuan realisasi investasi atau pengiriman uang dari penghasilan dan hasil pelepasan; (f) untuk investasi jangka panjang yang dinyatakan pada jumlah yang dinilai kembali: (i) kebijakan untuk kekerapan revaluasi, (ii) tanggal revaluasi yang terakhir, (g) untuk perusahaan yang bisnis utamanya adalah mengelola investasi analisa portofolio investasi. 33 Pengungkapan berikut dapat diberikan untuk membantu pemahaman pembaca mengenai laporan keuangan: (a) suatu analisa investasi jangka panjang menurut kategorinya; (b) penilaian mengenai nilai wajar investasi yang tidak dapat dipasarkan; (c) bilamana investasi tidak dapat dipasarkan, metode perbandingan dengan biaya, yang dapat diterapkan; perkiraan nilai digunakan untuk

(d) jumlah setiap surplus revaluasi sebelumnya yang berhubungan dengan investasi yang dilepas selama tahun tersebut dan yang telah didistribusikan sebelumnya atau dikonversikan ke dalam modal saham; dan (e) rincian dari setiap investasi tunggal yang menunjukkan proporsi yang signifikan dalam pelaporan aktiva perusahaan.

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 13 AKUNTANSI UNTUK INVESTASI Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 13 terdiri dari paragraf 34 - 46. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1 - 33. 34 Perusahaan harus mempertanggungjawabkan investasi sesuai dengan paragraf 35 - 43. Pengklasifikasian Investasi 35 Sebuah perusahaan yang membedakan antara aktiva lancar dan tak lancar dalam laporan keuangannya harus menyajikan investasi lancar sebagai aktiva lancar dan investasi jangka panjang sebagai aktiva tak lancar. 36 Perusahaan yang tidak membedakan antara investasi lancar dan jangka panjang dalam neracanya harus membuat suatu perbedaan untuk tujuan pengukuran dan menentukan nilai tercatat untuk investasi sesuai dengan paragraf 38 - 39.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 13 Akuntansi untuk Investasi.htm

10/17/03

PSAK no 13

Page 8 of 10

Investasi Properti 37 Investasi berupa properti dapat merupakan investasi lancar atau investasi jangka panjang. Perlakuan akuntansinya harus sesuai dengan hakekat investasi tersebut. Nilai Tercatat dari Investasi 38 Investasi yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar harus dicatat dalam neraca pada nilai terendah antara biaya dan nilai pasar: Biaya (cost) dapat ditentukan berdasarkan FIFO, rata-rata tertimbang atau LIFO. Nilai pasar dapat ditentukan berdasarkan portofolio agregat, dalam total atau menurut kategori investasi, atau pada dasar investasi individual, yang ditetapkan secara konsisten. 39 Investasi yang diklasifikasikan sebagai aktiva tak lancar harus dicatat dalam neraca berdasarkan biaya perolehan, kecuali jika harga pasar investasi jangka panjang menunjukkan penurunan nilai di bawah biaya perolehan secara signifikan dan permanen, perlu dilakukan penyesuaian atas nilai investasi tersebut. Penilaian dalam hal ini dilakukan untuk masing-masing investasi secara individual. Pelepasan Investasi 40 Pada pelepasan suatu investasi perbedaan antara hasil pelepasan bersih dengan nilai tercatatnya harus dibebankan atau dikreditkan kepada penghasilan. Jika investasi tersebut merupakan aktiva lancar yang ditangani secara agregat dengan metode yang terendah antara biaya atau nilai pasar, laba rugi penjualan masing-masing investasi ditentukan atas dasar biaya perolehannya. Pemindahan Investasi 41 Untuk investasi jangka panjang yang direklasifikasi sebagai investasi lancar, pemindahan harus dilakukan berdasarkan nilai tercatat. 42 Investasi yang direklasifikasi dari lancar ke jangka panjang masing-masing harus dipindahkan pada metode terendah antara biaya dan nilai pasar, atau pada nilai pasar jika investasi tersebut sebelumnya dinyatakan pada nilai tersebut. Laporan Laba Rugi 43 Hal-hal berikut ini harus masuk dalam penghasilan: (a) penghasilan investasi berupa: (i) bunga, royalti, dividen dan sewa pada investasi lancar dan jangka panjang, (ii) laba dan rugi pada pelepasan investasi lancar, (iii) penurunan nilai pasar dan pemulihan penurunan tersebut disyaratkan untuk menyatakan investasi lancar pada yang lebih rendah biaya dan nilai pasar; (b) penurunan secara signifikan dan permanen nilai tercatat investasi jangka panjang, dan pemulihannya; dan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 13 Akuntansi untuk Investasi.htm

10/17/03

PSAK no 13

Page 9 of 10

(c) laba dan rugi pelepasan investasi jangka panjang, dihitung sesuai dengan paragraf 40. Pengungkapan 44 Pengungkapan berikut adalah tepat: (a) kebijakan akuntansi untuk: (i) penentuan nilai tercatat dari investasi. (ii) perlakuan perubahan dalam nilai pasar investasi lancar yang dicatat pada nilai pasar, dan (b) jumlah signifikan yang dilaporkan sebagai penghasilan investasi untuk: (i) bunga, royalti, dividen dan sewa pada investasi jangka panjang dan lancar, dan (ii) laba dan rugi pada pelepasan investasi lancar dan perubahan dalam nilai investasi tersebut; (c) nilai pasar dari investasi yang dapat dipasarkan jika tidak dicatat dalam nilai pasar; (d) nilai wajar dari investasi properti jika dipertanggungjawabkan sebagai investasi jangka panjang dan tidak dicatat pada nilai wajar; (e) pembatasan yang signifikan pada kemampuan realisasi investasi atau pengiriman uang dari penghasilan dan hasil pelepasan; (f) untuk investasi jangka panjang yang dinyatakan pada jumlah yang dinilai kembali: (i) kebijakan untuk kekerapan revaluasi, (ii) tanggal revaluasi yang terakhir, (g) untuk perusahaan yang bisnis utamanya adalah mengelola investasi analisa portofolio investasi. Masa Transisi 45 Perubahan kebijakan akuntansi yang timbul pada saat permulaan pelaksanaan pernyataan diterapkan secara prospektif. Tanggal Efektif 46 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini sangat dianjurkan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 13 Akuntansi untuk Investasi.htm

10/17/03

PSAK no 13

Page 10 of 10

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 13 Akuntansi untuk Investasi.htm

10/17/03

PSAK no 14

Page 1 of 9

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 tentang Persediaan disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN Tujuan Tujuan Pernyataan ini adalah untuk merumuskan perlakuan akuntansi untuk persediaan menurut sistem biaya historis. Permasalahan pokok dalam akuntansi persediaan adalah jumlah biaya yang harus diakui sebagai aktiva dan konversi selanjutnya sampai pendapatan yang bersangkutan diakui. Pernyataan ini menyediakan pedoman praktis dalam penentuan biaya dan pengakuan selanjutnya sebagai beban, termasuk setiap penurunannya menjadi nilai realisasi bersih (net realisable value). Pernyataan ini juga menyediakan pedoman rumus biaya yang digunakan untuk membebankan biaya pada persediaan. Ruang Lingkup

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 14 Persediaan.htm

10/17/03

PSAK no 14

Page 2 of 9

01 Pernyataan ini harus diaplikasikan dalam penyusunan laporan keuangan dalam konteks sistem biaya historis tentang akuntansi persediaan selain: (a) pekerjaan dalam proses yang timbul dalam kontrak konstruksi (construction contracts) (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 34 tentang Kontrak Konstruksi); (b) instrumen keuangan; dan (c) persediaan yang dimiliki oleh produsen peternakan, produk pertanian dan kehutanan, dan hasil tambang sepanjang persediaan tersebut dinilai berdasarkan nilai realisasi bersih sesuai dengan kelaziman praktek yang berlaku dalam industri tertentu. 02 Persediaan yang dirujuk dalam paragraf 1 (c) diukur dengan nilai realisasi bersih pada tahap produksi tertentu. Hal tersebut terjadi, misalnya, ketika hasil pertanian telah dipanen atau hasil tambang telah ditambang dan penjualan telah dijamin berdasarkan kontrak berjangka atau jaminan pemerintah, atau bila terdapat suatu pasar homogen dan risiko kegagalan pemasaran tidak berarti. Persediaan tersebut tidak termasuk dalam lingkup Pernyataan ini. Definisi 03 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Persediaan adalah aktiva: (a) tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal; (b) dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau (c) dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. Nilai realisasi bersih adalah taksiran harga penjualan dalam kegiatan usaha normal dikurangi taksiran biaya penyelesaian dan taksiran biaya yang diperlukan untuk melaksanakan penjualan. 04 Persediaan meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali, misalnya, barang dagang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali, atau pengadaan tanah dan properti lainnya untuk dijual kembali. Persediaan juga mencakupi barang jadi yang telah diproduksi, atau barang dalam penyelesaian yang sedang diproduksi perusahaan, dan termasuk bahan serta perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi. Bagi perusahaan jasa, persediaan meliputi biaya jasa seperti diuraikan dalam paragraf 16, di mana pendapatan yang bersangkutan belum diakui perusahaan. (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 23 tentang Pendapatan). PENJELASAN Pengukuran Persediaan 05 Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah (the lower of cost and net realizable value). Biaya Persediaan 06 Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi dan biaya lain yang

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 14 Persediaan.htm

10/17/03

PSAK no 14

Page 3 of 9

timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai (present location and condition). Biaya Pembelian 07 Biaya pembelian persediaan meliputi harga pembelian, bea masuk dan pajak lainnya (kecuali yang kemudian dapat ditagih kembali oleh perusahaan kepada kantor pajak), dan biaya pengangkutan, penanganan dan biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi, bahan dan jasa. Diskon dagang (trade discount), rabat dan pos lain yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian. 08 Dalam keadaan yang jarang terjadi, biaya pembelian yang meliputi selisih valuta asing yang timbul secara langsung dalam perolehan persediaan yang ditagih dalam valuta asing, diperkenankan sebagai perlakuan alternatif seperti yang diuraikan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 10 tentang Transaksi Dalam Mata Uang Asing. Selisih valuta asing tersebut terbatas pada yang ditimbulkan dari devaluasi atau depresiasi suatu mata uang yang cukup besar dan terhadap peristiwa tersebut tidak mungkin dilakukan hedging, dan membawa dampak pada hutang yang tidak dapat diselesaikan dan timbul dari perolehan persediaan yang baru saja dilakukan.(Namun, apabila tersedia kesempatan hedging sebelum devaluasi terjadi akan tetapi kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan maka selisih kurs yang timbul akibat devaluasi tidak boleh diperhitungkan sebagai bagian dari biaya pembelian). Biaya Konversi 09 Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan unit yang diproduksi dan biaya overhead produksi tetap dan variabel yang dialokasikan secara sistematis, yang terjadi dalam proses konversi bahan menjadi barang jadi. Biaya overhead produksi tetap adalah biaya produksi tak langsung yang relatif konstan, tanpa memperhatikan volume produksi yang dihasilkan, seperti penyusutan dan pemeliharaan bangunan dan peralatan pabrik, dan biaya manajemen dan administrasi pabrik. Biaya overhead produksi variabel adalah biaya yang berubah secara langsung, atau hampir secara langsung, mengikuti perubahan volume produksi, seperti bahan tak langsung dan upah tak langsung. 10 Pengalokasian biaya overhead produksi tetap ke biaya konversi didasarkan pada kapasitas normal fasilitas produksi. Kapasitas normal adalah produksi rata-rata yang diharapkan akan tercapai selama suatu periode atau musim dalam keadaan normal, dengan memperhitungkan hilangnya kapasitas selama pemeliharaan terencana. Tingkat produksi aktual dapat digunakan bila mendekati kapasitas normal. Pembebanan biaya overhead produksi tetap pada setiap unit produk tidak bertambah sebagai akibat dari rendahnya produksi atau tidak terpakainya kapasitas pabrik. Biaya overhead yang tidak teralokasi diakui sebagai beban pada periode terjadinya. Dalam periode produksi luar biasa tinggi, biaya overhead yang dialokasikan pada unit produk diturunkan, agar persediaan tidak dinilai di atas biaya. Biaya overhead produksi variabel dialokasikan pada unit produk atas dasar penggunaan fasilitas produksi yang sebenarnya. 11 Proses produksi mungkin menghasilkan lebih dari satu jenis produk secara serentak. Hal tersebut terjadi, misalnya, bila dihasilkan produk bersama (joint product) atau bila terdapat produk utama dan produk sampingan. Bila biaya konversi tidak dapat diidentifikasikan secara terpisah, biaya tersebut dialokasikan antar produk secara rasional dan konsisten. Pengalokasian misalnya dapat dilakukan berdasarkan perbandingan harga jual untuk masing masing produk, baik pada tahap proses produksi pada waktu produk telah dapat diidentifikasikan secara terpisah, atau pada saat produksi telah selesai. Sebagian besar produk sampingan, pada hakekatnya tidak material. Kalau kasusnya demikian, produk sampingan sering kali dinilai berdasarkan nilai realisasi bersih dan nilai tersebut dapat dikurangkan pada biaya produk utama. Dengan demikian, nilai produk utama tidak berbeda secara material dari biayanya.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 14 Persediaan.htm

10/17/03

PSAK no 14

Page 4 of 9

Biaya Lain-Lain 12 Biaya lain hanya dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang biaya tersebut timbul agar persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai. Misalnya, dalam keadaan tertentu diperkenankan untuk membebankan biaya overhead non produksi atau biaya perancangan produk untuk pelanggan khusus sebagai biaya persediaan. 13 Beberapa contoh biaya yang dikeluarkan dari biaya persediaan dan diakui sebagai beban dalam periode terjadinya adalah: (a) jumlah pemborosan bahan, upah, atau biaya produksi lainnya yang tidak normal; (b) biaya penyimpanan, kecuali biaya tersebut diperlukan dalam proses produksi sebelum dilanjutkan pada tahap produksi berikutnya; (c) biaya administrasi dan umum yang tidak memberikan sumbangan untuk membuat persediaan berada dalam lokasi dan kondisi sekarang; dan (d) biaya penjualan. 14 Dalam keadaan tertentu, biaya pinjaman (borrowing costs) dimasukkan sebagai biaya persediaan sesuai dengan Pernyataan akuntansi keuangan tentang hal tersebut. Biaya Persediaan Pemberian Jasa 15 Biaya persediaan perusahaan jasa terutama meliputi upah dan biaya personalia lainnya yang secara langsung menangani pemberian jasa, termasuk tenaga penyelia, dan overhead yang diatribusikan. Upah dan biaya lainnya yang menyangkut personalia penjualan serta administrasi umum tidak termasuk sebagai biaya persediaan, tapi diakui sebagai beban pada periode terjadinya . Teknik Pengukuran Biaya 16 Teknik pengukuran biaya persediaan, seperti metode biaya standar atau metode eceran (retail method), demi kemudahan, dapat digunakan bila hasilnya mendekati biaya historis. Biaya standar memperhitungkan tingkat normal penggunaan bahan dan perlengkapan (supplies), upah, efisiensi dan pemanfaatan kapasitas. Biaya standar ditelaah secara berkala dan, bila perlu, direvisi sesuai dengan kondisi terakhir. 17 Metode eceran sering kali digunakan dalam perdagangan eceran untuk menilai persediaan sejumlah besar barang yang berubah dengan cepat, dan memiliki margin yang tidak jauh berbeda sehingga tidak praktis kalau digunakan metode penetapan biaya lainnya. Biaya persediaan ditentukan dengan mengurangi harga jual persediaan dengan persentase margin bruto yang sesuai. Persentase tersebut digunakan dengan memperhatikan persediaan yang telah diturunkan nilainya (marked down) di bawah harga jual normal. Persentasi rata-rata sering digunakan untuk setiap departemen penjualan eceran yang menjual kelompok barang yang berbeda. Rumus Biaya 18 Biaya persediaan untuk barang yang lazimnya tidak dapat diganti dengan barang lain (not ordinary interchangeable) dan barang serta jasa yang dihasilkan dan dipisahkan untuk proyek khusus harus diperhitungkan berdasarkan identifikasi khusus terhadap biayanya masing masing.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 14 Persediaan.htm

10/17/03

PSAK no 14

Page 5 of 9

19 Yang dimaksud dengan identifikasi khusus biaya adalah atribusi biaya ke barang tertentu yang dapat diidentifikasikan dalam persediaan. Cara ini merupakan perlakuan yang sesuai bagi barang yang dipisahkan untuk proyek khusus, baik yang dibeli maupun yang dihasilkan. Namun demikian identifikasi khusus biaya tidak tepat bagi sejumlah besar barang homogen yang dapat menggantikan satu sama lain (ordinarily interchangeable). Dalam keadaan demikian, metode pemilihan barang yang masih berada dalam persediaan dapat digunakan untuk menentukan di muka dampaknya terhadap laba rugi periode berjalan. 20 Biaya persediaan, kecuali yang disebut dalam paragraf 19, harus dihitung dengan menggunakan rumus biaya masuk pertama keluar pertama (MPKP atau FIFO), rata-rata tertimbang (weighted average cost method), atau masuk terakhir keluar pertama (MTKP atau LIFO). 21 Formula MPKP/FIFO mengasumsikan barang dalam persediaan yang pertama dibeli akan dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga yang tertinggal dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi kemudian. Dengan rumus biaya rata-rata tertimbang, biaya setiap barang ditentukan berdasarkan biaya rata-rata tertimbang dari barang serupa pada awal periode dan biaya barang serupa yang dibeli atau diproduksi selama periode. Perhitungan rata-rata dapat dilakukan secara berkala, atau pada setiap penerimaan kiriman, tergantung pada keadaan perusahaan. Rumus MTKP/LIFO mengasumsikan barang yang dibeli atau diproduksi terakhir dijual atau digunakan terlebih dahulu, sehingga yang termasuk dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi terdahulu. Nilai Realisasi Bersih 22 Biaya persediaan mungkin tidak akan diperoleh kembali (recoverable) bila barang rusak, seluruh atau sebagian barang telah usang atau bila harga penjualan menurun. Biaya persediaan juga tidak akan diperoleh kembali jika estimasi biaya penyelesaian atau estimasi biaya penjualan meningkat. Praktek penurunan nilai persediaan di bawah biaya menjadi nilai realisasi bersih konsisten dengan pandangan bahwa aktiva seharusnya tidak dinyatakan melebihi jumlah yang mungkin dapat direalisasi melalui penjualan atau penggunaan. 23 Nilai persediaan biasanya diturunkan ke nilai realisasi bersih secara terpisah untuk setiap barang dalam persediaan. Namun demikian, dalam beberapa kondisi, penurunan nilai persediaan mungkin lebih sesuai jika dihitung terhadap kelompok barang serupa atau yang berkaitan. Misalnya barang-barang yang termasuk dalam lini produk dengan tujuan atau penggunaan akhir yang serupa, diproduksi dan dipasarkan di wilayah yang sama, dan tidak dapat dievaluasi terpisah dari barang-barang lain dalam lini produk tersebut. Penurunan nilai persediaan tidak tepat jika dihitung berdasarkan klasifikasi persediaan, misalnya, barang jadi, atau seluruh persediaan dalam suatu industri atau segmen geografis tertentu. Perusahaan jasa pada umumnya mengakumulasikan biaya dalam hubungannya dengan setiap jasa agar dapat menetapkan harga jual jasa tersebut. Dengan demikian, masing-masing jenis jasa tersebut dibukukan tersendiri. 24 Estimasi nilai realisasi bersih didasarkan pada bukti paling andal yang tersedia pada saat estimasi dilakukan terhadap jumlah persediaan yang diharapkan dapat direalisasi. Estimasi ini mempertimbangkan fluktuasi harga atau biaya yang langsung terkait dengan peristiwa yang terjadi setelah akhir periode sepanjang peristiwa tersebut menegaskan (confirm) kondisi yang ada pada akhir periode. 25 Estimasi nilai realisasi bersih juga mempertimbangkan tujuan pengadaan persediaan yang bersangkutan. Misalnya, nilai realisasi bersih kuantitas persediaan yang dimiliki untuk memenuhi kontrak penjualan produk atau jasa didasarkan pada harga kontrak. Bila kontrak penjualan adalah untuk kuantitas barang yang lebih kecil daripada persediaan, nilai realisasi bersih untuk kelebihannya harus didasarkan pada harga penjualan umum. Kerugian kontinjen dari kontrak pembelian yang melebihi kuantitas persediaan yang dimiliki dan kerugian kontinjen dari kontrak

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 14 Persediaan.htm

10/17/03

PSAK no 14

Page 6 of 9

pembelian diperlakukan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 8 tentang Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca. 26 Nilai bahan baku dan perlengkapan (supplies) lain yang diadakan untuk digunakan dalam produksi persediaan tidak diturunkan di bawah biaya bila barang jadi yang dihasilkan diharapkan dapat dijual sebesar atau di atas biaya. Namun demikian, bila penurunan harga bahan baku mengindikasikan biaya barang jadi yang dihasilkan akan melebihi nilai realisasi bersih, maka nilai bahan diturunkan ke nilai realisasi bersih. Dalam kondisi semacam itu, biaya ganti (Replacement cost) merupakan tolak ukur terbaik yang tersedia bagi nilai realisasi bersih 27 Nilai realisasi bersih yang telah ditentukan harus ditinjau kembali pada setiap periode berikutnya. Apabila kondisi yang semula mengakibatkan penurunan nilai persediaan di bawah biaya ternyata tidak lagi berlaku, maka jumlah penurunan nilai harus dieliminasi balik (reversed) sedemikian rupa sehingga jumlah tercatat baru persediaan adalah yang terendah dari biaya atau nilai realisasi bersih yang telah direvisi. Hal ini timbul misalnya, jika suatu barang dalam persediaan, yang dicantumkan sebesar nilai realisasi bersih karena harga jualnya telah turun, masih dimiliki pada periode berikutnya dan harga jualnya telah meningkat. Pengakuan Sebagai Beban 28 Jika barang dalam persediaan dijual maka nilai tercatat persediaan tersebut harus diakui sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut. Setiap penurunan nilai persediaan di bawah biaya menjadi nilai realisasi bersih dan seluruh kerugian persediaan harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut. Setiap pemulihan kembali penurunan nilai persediaan karena peningkatan kembali nilai realisasi bersih, harus diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah beban persediaan pada periode terjadinya pemulihan tersebut. 29 Proses pengakuan nilai tercatat persediaan yang telah dijual sebagai beban menghasilkan pengaitan (matching) beban dengan pendapatan. 30 Beberapa persediaan dapat dialokasikan ke rekening aktiva lainnya seperti misalnya persediaan yang digunakan sebagai komponen aktiva tetap yang dibangun sendiri, pabrik atau peralatan. Persediaan yang dialokasikan ke aktiva lain dengan cara ini diakui sebagai beban selama masa manfaat aktiva tersebut. Pengungkapan 31 Laporan keuangan harus mengungkapkan: (a) kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan, termasuk rumus biaya yang dipakai; (b) total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai tercatat menurut klasifikasi yang sesuai bagi perusahaan; (c) jumlah tercatat persediaan yang dicatat sebesar nilai realisasi bersih (d) jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui sebagai penghasilan selama periode sebagaimana dijelaskan pada paragraf 28; (e) kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan yang diturunkan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 28; dan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 14 Persediaan.htm

10/17/03

PSAK no 14

Page 7 of 9

(f) nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban. 32 Informasi tentang jumlah tercatat yang disajikan dalam berbagai klasifikasi persediaan dan tingkat perubahannya masing-masing berguna bagi para pemakai laporan keuangan. Klasifikasi persediaan yang biasa digunakan adalah barang dagang, perlengkapan produksi, bahan baku, pekerjaan dalam penyelesaian dan barang jadi. Persediaan dalam perusahaan jasa biasanya disebut pekerjaan dalam penyelesaian. 33 Laporan keuangan harus mengungkapkan salah satu informasi berikut ini: (a) biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode tertentu, atau (b) biaya operasi, yang dapat diaplikasikan pada pendapatan, diakui sebagai beban selama periode laporan keuangan, diklasifikasikan sesuai dengan hakekatnya. 34 Biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode meliputi biaya yang sebelumnya termasuk dalam pengukuran barang dalam persediaan yang telah dijual dan biaya overhead produksi yang tidak teralokasikan serta jumlah abnormal biaya produksi persediaan. Kondisi perusahaan juga membuka peluang untuk memasukkan biaya lainnya, seperti biaya distribusi. 35 Beberapa perusahaan menggunakan format laporan laba rugi yang berbeda, yang mengakibatkan diungkapkannya berbagai jumlah sebagai pengganti biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode yang bersangkutan. Dengan format yang berbeda ini, perusahaan mengungkapkan jumlah biaya operasi yang dapat diaplikasikan pada pendapatan periode tersebut, dan diklasifikasikan menurut hakekatnya. Dalam kasus ini, perusahaan mengungkapkan biaya yang diakui sebagai beban untuk bahan baku dan barang-barang habis terpakai (consumables), tenaga kerja dan biaya operasi lainnya bersama -sama dengan jumlah perubahan bersih persediaan pada periode tersebut. 36 Skala, insiden dan hakekat penurunan nilai persediaan menjadi nilai realisasi bersih mungkin sedemikian materialnya sehingga memerlukan pengungkapan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.25 tentang Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi. PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 14 PERSEDIAAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 14 terdiri dari paragraf 7-45. Pernyataan Ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1-36. 37 Pernyataan ini harus diaplikasikan dalam penyusunan laporan keuangan dalam konteks sistem biaya historis tentang akuntansi persediaan selain: (a) pekerjaan dalam proses yang timbul dalam kontrak konstruksi (construction contracts) (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 34 tentang Kontrak Konstruksl); (b) instrumen keuangan; dan (c) persediaan produsen peternakan, produk pertanian dan kehutanan, dan hasil tambang sepanjang persediaan tersebut dinilai berdasarkan nilai realisasi bersih sesuai dengan kelaziman praktek yang berlaku dalam industri tertentu.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 14 Persediaan.htm

10/17/03

PSAK no 14

Page 8 of 9

38 Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah (the lower of costant net realizable value). 39 Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai (present location and condition). 40 Biaya persediaan untuk barang yang lazimnya tidak dapat diganti dengan barang lain (not ordinary interchangeable} dan barang serta jasa yang dihasilkan dan dipisahkan untuk proyek khusus harus diperhitungkan berdasarkan identifikasi khusus terhadap biayanya masing masing. 41 Biaya persediaan, kecuali yang disebut dalam paragraf 40, harus dihitung dengan menggunakan rumus biaya masuk pertama keluar pertama (MPKP atau FIFO), rata-rata tertimbang (weighted average cost method), atau masuk terakhir keluar pertama (MTKP atau LIFO). 42 Jika barang dalam persediaan dijual, maka nilai tercatat persediaan tersebut harus diakui sebagai beban pada periode di mana pendapatan atas penjualan tersebut diakui. Setiap penurunan nilai persediaan di bawah biaya menjadi nilai realisasi bersih dan seluruh kerugian persediaan harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut. Setiap pemulihan kembali penurunan nilai persediaan karena peningkatan kembali nilai realisasi bersih, harus diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah beban persediaan pada periode terjadinya pemulihan tersebut. 43 Laporan keuangan harus mengungkapkan: (a) kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan, termasuk rumus biaya yang dipakai; (b) total jumlah tercatat persediaan dan jumlah tercatat menurut klasifikasi yang sesuai bagi perusahaan; (c) jumlah tercatat persediaan yang dicatat sebesar nilai realisasi bersih (d) jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui sebagai penghasilan selama periode sesuai dengan paragraf 42; (e) kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan yang diturunkan sesuai dengan paragraf 42; dan (f) nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban. 44 Laporan keuangan harus mengungkapkan salah satu informasi berikut ini: (a) biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode tertentu, atau (b) biaya operasi, yang dapat diaplikasikan pada pendapatan, diakui sebagai beban selama periode laporan keuangan, diklasifikasikan sesuai dengan hakekatnya. Tanggal Efektif 45 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini dianjurkan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 14 Persediaan.htm

10/17/03

PSAK no 14

Page 9 of 9

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 14 Persediaan.htm

10/17/03

PSAK no 15

Page 1 of 6

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 15 AKUNTANSI UNTUK INVESTASI DALAM PERUSAHAAN ASOSIASI

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 15 tentang Akuntansi Untuk Investasi Dalam Perusahaan Asosiasi disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN Tujuan Pernyataan ini mengatur perlakuan akuntansi untuk investor yang melakukan investasi dalam perusahaan asosiasi (associates). Ruang Lingkup 01 Pernyataan ini tidak mengatur: (a) investasi pada anak perusahaan;

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Ve...\PSAK 15 Akuntansi untuk Investasi dalam Perusahaan Asosiasi.ht

10/17/03

PSAK no 15

Page 2 of 6

(b) investasi pada joint venture; (c) goodwill, hak paten, trademarks dan aktiva yang serupa; (d) finance leases sebagaimana didefinisikan pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 30 tentang Akuntansi Sewa Guna Usaha; dan (e) investasi Dana Pensiun dan perusahaan asuransi jiwa. Definisi 02 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Perusahaan Asosiasi adalah suatu perusahaan yang investornya mempunyai pengaruh yang signifikan dan bukan merupakan anak perusahaan maupun joint venture dari investornya. Joint Venture adalah perjanjian kontraktual yang melibatkan dua atau lebih pihak-pihak untuk melaksanakan kegiatan ekonomi yang dikendalikan bersama. Pengaruh Signifikan adalah wewenang untuk berpartisipasi dalam keputusan yang menyangkut kebijakan keuangan serta operasi investee tapi bukan merupakan pengendalian terhadap kebijakan tersebut. Pengendalian (dalam Pernyataan ini) adalah kekuatan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasi dari sebuah perusahaan untuk mendapat manfaat dari aktivitasnya. Anak Perusahaan (Subsidiary) adalah perusahaan yang dikendalikan oleh perusahaan lain (yang disebut induk perusahaan). Metode Ekuitas (Equity Method) adalah metode akuntansi yang mencatat investasi pada mulanya sebesar biaya perolehan {cost) dan selanjutnya disesuaikan untuk perubahan dalam bagian pemilikan investor atas aktiva bersih investee yang terjadi setelah perolehan. Laporan laba rugi investor merefleksikan bagian laba atau rugi investor atas hasil usaha investee. Metode Biaya (Cost Method) adalah metode akuntansi yang mencatat investasi dicatat sebesar biaya perolehan. Penghasilan baru diakui oleh investor apabila investee mendistribusikan laba bersih (kecuali dividen saham) yang berasal dari laba setelah tanggal perolehan. PENJELASAN Pengaruh Signifikan 03 Istilah "perusahaan asosiasi" digunakan untuk menggambarkan suatu perusahaan dimana investor mempunyai pengaruh signifikan. 04 Jika investor memiliki, baik langsung maupun tidak langsung melalui anak perusahaan, 20% atau lebih dari hak suara pada perusahaan investee, maka investor dipandang mempunyai pengaruh signifikan. Sebaliknya, jika investor memiliki, baik langsung maupun tidak langsung melalui anak perusahaan, kurang dari 20% hak suara, dianggap investor tidak memiliki pengaruh signifikan. Kepemilikan substansial atau mayoritas oleh investor lain tidak perlu menghalangi investor memiliki pengaruh signifikan. Apabila investor mempunyai pengaruh yang signifikan maka investasi pada investee dicatat dengan menggunakan metode ekuitas. Sebaliknya apabila investor tidak

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Ve...\PSAK 15 Akuntansi untuk Investasi dalam Perusahaan Asosiasi.ht

10/17/03

PSAK no 15

Page 3 of 6

mempunyai pengaruh yang signifikan maka investasi dicatat dengan menggunakan metode biaya. Metode Akuntansi Metode Ekuitas 05 Menurut metode ekuitas, investasi pada awalnya dicatat sebesar biaya perolehan dan nilai tercatat ditambahkan atau dikurangi untuk mengakui bagian investor atas laba atau rugi investee setelah tanggal perolehan. Distribusi laba (kecuali dividen saham) yang diterima dari investee mengurangi nilai tercatat (carrying amount) investasi. Penyesuaian terhadap nilai tercatat tersebut juga diperlukan untuk mengubah hak kepemilikan proporsional investor pada investee yang timbul dari perubahan dalam ekuitas investee yang belum diperhitungkan ke dalam laporan laba rugi. Perubahan semacam itu meliputi perubahan yang timbul sebagai akibat dari revaluasi aktiva tetap, perbedaan dalam penjabaran valuta asing, dan dari penyesuaian selisih yang timbul dari penggabungan usaha. Metode Biaya 06 Menurut metode biaya, investor mencatat investasinya pada perusahaan investee sebesar biaya perolehan. Investor mengakui penghasilan hanya sebatas distribusi laba (kecuali dividen saham) yang diterima yang berasal dari laba bersih yang diakumulasikan oleh investee setelah tanggal perolehan. Penerimaan dividen yang melebihi laba tersebut dipandang sebagai pemulihan investasi dan dicatat sebagai pengurangan terhadap biaya investasi sesuai Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 13 tentang Akuntansi untuk Investasi. Pilihan Metode Akuntansi dalam Laporan Keuangan Konsolidasi 07 Pengakuan penghasilan berdasarkan dividen yang diterima tidak dapat digunakan sebagai ukuran yang memadai untuk merefleksikan penghasilan yang diperoleh investor dari investasi dalam suatu perusahaan asosiasi karena distribusi yang diterima tersebut hampir tidak ada hubungannya dengan kinerja perusahaan asosiasi. Mengingat pengaruhnya yang signifikan terhadap perusahaan asosiasi, investor memiliki tolok ukur atas kinerja perusahaan asosiasi, yaitu imbalan investasi {return on investment}. Investor melaksanakan tanggungjawab ini dengan memperluas lingkup laporan keuangan konsolidasi sehingga mencakup bagiannya atas hasil usaha perusahaan asosiasi dan dengan demikian menyediakan analisis terhadap penghasilan serta investasi sehingga rasio yang lebih relevan dapat dihitung. Dengan demikian, penerapan metode ekuitas memungkinkan pelaporan aktiva bersih dan penghasilan bersih oleh investor dengan lebih informatif . 08 Investasi di perusahaan asosiasi dipertanggungjawabkan dengan menggunakan metode biaya jika perusahaan asosiasi beroperasi dengan pembatasan yang ketat dalam jangka panjang sehingga secara signifikan mempengaruhi kemampuannya untuk mengalihkan dana kepada investor. Investasi di perusahaan asosiasi juga dipertanggungjawabkan dengan menggunakan metode biaya jika investasi diperoleh dan dimiliki secara khusus dengan tujuan untuk dijual dalam jangka pendek. 09 Investor menghentikan penggunaan metode ekuitas sejak tanggal dimana: (a) investor tidak lagi memiliki pengaruh signifikan dalam perusahaan asosiasi tetapi menahan, seluruh atau sebagian, investasinya; atau (b) penggunaan metode ekuitas tidak lagi sesuai karena beberapa alasan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 8.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Ve...\PSAK 15 Akuntansi untuk Investasi dalam Perusahaan Asosiasi.ht

10/17/03

PSAK no 15

Page 4 of 6

Pada saat penghentian penggunaan metode ekuitas, jumlah investasi yang terbawa pada tanggal tersebut diperlakukan sebagai biaya (cost). Penerapan Metode Ekuitas 10 Terdapat beberapa prosedur dalam penerapan metode ekuitas yang tidak berbeda dengan prosedur konsolidasi sebagaimana dijelaskan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 4 tentang Laporan Keuangan Konsolidasi. Selanjutnya, konsep yang mendasari prosedur konsolidasi yang digunakan dalam perolehan anak perusahaan digunakan dalam perolehan investasi dalam perusahaan asosiasi. 11 Investasi dalam perusahaan asosiasi dipertanggungjawabkan dengan metode ekuitas sejak tanggal pada saat investasi tersebut memenuhi definisi perusahaan asosiasi. Selisih (baik positif maupun negatif) antara biaya perolehan (acquisition cost} dengan bagian investor atas nilai wajar aktiva neto yang dapat diidentifikasi {net identificable asset) pada tanggal akuisisi harus dipertanggungjawabkan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 22 tentang Akuntansi Penggabungan Usaha. Penyesuaian yang diperlukan terhadap bagian investor atas laba rugi setelah akuisisi harus dilakukan untuk hal-hal berikut: (a) Penyusutan aktiva tetap berdasarkan nilai wajarnya. (b) Amortisasi atas selisih antara biaya perolehan dan bagian investor atas nilai wajar aktiva neto yang dapat diidentifikasi (investor's share of the fair value of net identifiable assets). 12 Laporan keuangan perusahaan asosiasi yang paling akhir digunakan oleh investor dalam penerapan metode ekuitas; laporan tersebut biasanya disajikan pada tanggal yang sama dengan laporan keuangan investor. Jika tanggal pelaporan tersebut berbeda, perusahaan asosiasi sering menyajikan, untuk digunakan oleh investor, laporan pada tanggal yang sama dengan laporan keuangan investor. Jika penyamaan tanggal tidak mungkin dilakukan, dapat digunakan laporan keuangan yang disusun pada tanggal pelaporan yang berbeda, akan tetapi prinsip konsistensi mempersyaratkan bahwa jangka waktu penggunaan tanggal tersebut konsisten dari periode ke periode. 13 Jika digunakan laporan keuangan dengan tanggal pelaporan yang berbeda, penyesuaian dilakukan terhadap dampak dari setiap transaksi atau peristiwa signifikan yang terjadi antara investor dan perusahaan asosiasi antara tanggal laporan keuangan perusahaan asosiasi dan tanggal laporan keuangan investor. 14 Laporan keuangan investor lazimnya disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi untuk transaksi dan peristiwa yang sama dalam keadaan yang serupa. Apabila perusahaan asosiasi menggunakan kebijakan akuntansi yang lain daripada yang digunakan investor untuk transaksi dan peristiwa yang sama, maka penyesuaian tertentu dilakukan terhadap laporan keuangan perusahaan asosiasi apabila laporan tersebut digunakan oleh investor dalam penerapan metode ekuitas. Jika penyesuaian semacam itu tidak dapat dilakukan, fakta adanya perbedaan tersebut harus diungkapkan. 15 Jika perusahaan asosiasi memiliki saham preferen kumulatif yang dimiliki oleh pihak luar, investor menghitung bagiannya atas laba atau rugi setelah penyesuaian untuk dividen saham prioritas dengan mengabaikan apakah dividen tersebut telah atau belum dideklarasikan. 16 Jika, berdasarkan metode ekuitas, bagian investor atas kerugian perusahaan asosiasi sama

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Ve...\PSAK 15 Akuntansi untuk Investasi dalam Perusahaan Asosiasi.ht

10/17/03

PSAK no 15

Page 5 of 6

atau melebihi nilai tercatat dari investasi, maka investasi dilaporkan nihil. Kerugian selanjutnya diakru oleh investor apabila telah timbul kewajiban atau investor melakukan pembayaran kewajiban perusahaan asosiasi yang dijaminnya. Jika perusahaan asosiasi selanjutnya laba, investor akan mengakui penghasilan apabila setelah bagiannya atas laba menyamai bagiannya atas kerugian bersih yang belum diakui. 17 Jika terjadi penurunan permanen atas nilai investasi dalam perusahaan asosiasi, nilai tercatat dikurangkan untuk mengakui penurunan tersebut. Karena investasi pada perusahaan asosiasi secara individual penting bagi investor, maka nilai tercatat ditentukan untuk setiap perusahaan asosiasi secara individual. Kontinjensi 18 Sesuai dengan paragraf 12 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 8 tentang Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca, investor mengungkapkan: (a) bagiannya atas kontinjensi dan komitmen modal dari perusahaan asosiasi di mana investor secara kontinjen ikut bertanggungjawab; dan (b) kontinjensi yang timbul karena investor ikut bertanggung jawab terhadap semua kewajiban perusahaan asosiasi. Pengungkapan 19 Agar para pemakai laporan keuangan memahami dengan jelas, investor mengungkapkan nama perusahaan asosiasi yang signifikan termasuk proporsi hak kepemilikannya. PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 15 AKUNTANSI UNTUK INVESTASI DAN PERUSAHAAN ASOSIASI Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 15 terdiri dari paragraf 20-26. Pernyataan Ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1-19. Laporan Keuangan Konsolidasi 20 Investasi dalam perusahaan asosiasi harus dipertanggungjawabkan dalam laporan keuangan konsolidasi menurut metode ekuitas, apabila investor mempunyai pengaruh signifikan dan menurut metode biaya, apabila investor tidak mempunyai pengaruh signifikan. 21 Investor harus menghentikan penggunaan metode ekuitas sejak tanggal pada saat: (a) investor tidak lagi memiliki pengaruh signifikan dalam perusahaan asosiasi; atau (b) penggunaan metode ekuitas tidak lagi sesuai karena perusahaan asosiasi beroperasi di bawah pembatasan ketat dalam jangka panjang yang secara signifikan mempengaruhi kemampuannya untuk memindahkan dana kepada investor. Nilai tercatat dari investasi pada tanggal tersebut untuk selanjutnya harus diperlakukan sebagai biaya. Penerapan Metode Ekuitas 22 Nilai tercatat dari investasi dalam perusahaan asosiasi harus dikurangi untuk mengakui penurunan permanen, dalam nilai investasi. Pengurangan tersebut harus ditentukan dan dibuat

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Ve...\PSAK 15 Akuntansi untuk Investasi dalam Perusahaan Asosiasi.ht

10/17/03

PSAK no 15
untuk setiap investasi secara individual.

Page 6 of 6

23 Selisih (baik positif maupun negatif) antara biaya perolehan laquisition cost) dengan bagian investor atas nilai wajar aktiva neto yang dapat diidentifikasi (net identificable asset) pada tanggal akuisisi harus dipertanggungjawabkan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 22 tentang Akuntansi Penggabungan Usaha. Penyesuaian yang diperlukan terhadap bagian investor atas laba rugi setelah akuisisi harus dilakukan untuk hal-hal berikut: (a) Penyusutan aktiva tetap berdasarkan nilai wajarnya. (b) Amortisasi atas selisih antara biaya perolehan dan bagian investor atas nilai wajar aktiva neto yang dapat diidentifikasi (investor's share of the fair value of net identificable assets) . Pengungkapan 24 Pengungkapan berikut harus dibuat: (a) daftar dan penjelasan dari perusahaan asosiasi yang signifikan yang meliputi: nama, tempat, kedudukan, persentase kepemilikan dan persentase hak suara (apabila berbeda dengan persentase kepemilikan). (b) metode yang digunakan untuk mempertanggungjawabkan investasi tersebut. 25 Investasi dalam perusahaan asosiasi yang dipertanggungjawabkan dengan metode ekuitas, harus diklasifikasikan sebagai aktiva jangka panjang dan diungkapkan sebagai pos terpisah dalam neraca. Bagian investor atas pos luar biasa atau pos masa lalu (prior period items) yang berasal dari investee harus diungkapkan secara terpisah. Tanggal Efektif 26 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini dianjurkan.

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Ve...\PSAK 15 Akuntansi untuk Investasi dalam Perusahaan Asosiasi.ht

10/17/03

PSAK no 16

Page 1 of 15

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 AKTIVA TETAP DAN AKTIVA LAIN-LAIN

AKTIVA TETAP DAN AKTIVA LAIN-LAIN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 tentang Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN Tujuan Tujuan Pernyataan ini adalah mengatur perlakuan akuntansi untuk aktiva tetap. Masalah utama dalam akuntansi untuk aktiva tetap adalah saat (timing) pengakuan aktiva, penentuan jumlah tercatat, dan pembebanan penyusutan, serta penentuan dan perlakuan akuntansi atas penurunan nilai tercatat (carrying value). Pernyataan ini mensyaratkan bahwa aktiva tetap dapat diakui sebagai aktiva jika memenuhi definisi dan kriteria pengakuan suatu aktiva dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain.htm

10/17/03

PSAK no 16
Laporan Keuangan. Pernyataan ini juga mengatur kriteria penggolongan aktiva lain-lain Ruang Lingkup

Page 2 of 15

01 Pernyataan ini harus diterapkan dalam akuntansi aktiva tetap dan aktiva lain-lain kecuali bila standar akuntansi keuangan lainnya mensyaratkan suatu perlakuan akuntansi yang berbeda . 02 Pernyataan ini tidak berlaku untuk: (a) hutan dan sumber daya alam serupa yang dapat diperbaharui; (b) kuasa pertambangan, eksplorasi dan penggalian mineral, minyak, gas alam dan sumber daya alam serupa yang tidak dapat diperbaharui. Namun demikian, Pernyataan ini berlaku untuk aktiva tetap yang digunakan untuk mengembangkan atau memelihara aktivitas atau aktiva yang tercakup dalam (a) dan (b) di atas, tetapi dapat dipisahkan dari aktivitas atau aktiva tersebut. 03 Dalam keadaan tertentu, standar akuntansi keuangan mengijinkan pengakuan awal jumlah tercatat aktiva tetap menggunakan pendekatan yang berbeda dari yang dijelaskan dalam Pernyataan ini. Contohnya, dalam perlakuan alternatif yang diijinkan untuk goodwill negatif, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.22 tentang Penggabungan Usaha, mensyaratkan aktiva tetap yang diperoleh dalam penggabungan usaha diukur pada awalnya dengan nilai wajar sekalipun nilai tersebut melebihi biayanya. Tetapi, dalam keadaan tersebut, seluruh aspek perlakuan akuntansi untuk aktiva tersebut, termasuk penyusutan, ditentukan oleh ketentuan dalam Pernyataan ini. 04 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 13 tentang Akuntansi untuk investasi, mengijinkan suatu perusahaan untuk memperlakukan investasi properti sebagai properti, sesuai dengan Pernyataan ini, atau sebagai investasi jangka panjang, sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.13 tentang Akuntansi untuk Investasi. Definisi 05 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Penyusutan adalah alokasi sistematik jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aktiva sepanjang masa manfaat. Jumlah yang dapat disusutkan (depreciable amount) adalah biaya perolehan suatu aktiva, atau jumlah lain yang disubstitusikan untuk biaya perolehan dalam laporan keuangan, dikurangi nilai sisanya. Masa manfaat adalah: (a) periode suatu aktiva diharapkan digunakan oleh perusahaan; atau

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain.htm

10/17/03

PSAK no 16

Page 3 of 15

(b) jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh dari aktiva oleh perusahaan. Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar imbalan lain yang diberikan untuk memperoleh suatu aktiva pada saat perolehan atau konstruksi sampai dengan aktiva tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dipergunakan. Nilai sisa adalah jumlah neto yang diharapkan dapat diperoleh pada akhir masa manfaat suatu aktiva setelah dikurangi taksiran biaya pelepasan. Nilai wajar adalah suatu jumlah, untuk itu suatu aktiva mungkin ditukar atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar {arm's length transaction). Jumlah tercatat {carrying amount) adalah nilai buku, yaitu biaya perolehan suatu aktiva setelah dikurangi akumulasi penyusutan. Jumlah yang dapat diperoleh kembali {recoverable amount) adalah jumlah yang diharapkan dapat diperoleh kembali dari penggunaan suatu aktiva di masa yang akan datang, termasuk nilai sisanya atas pelepasan aktiva. PENJELASAN Pengakuan Aktiva Tetap 06 Suatu benda berwujud harus diakui sebagai suatu aktiva dan dikelompokkan sebagai aktiva tetap bila: (a) besar kemungkinan (probable) bahwa manfaat keekonomian di masa yang akan datang yang berkaitan dengan aktiva tersebut akan mengalir ke dalam perusahaan; dan (b) biaya perolehan aktiva dapat diukur secara andal. 07 Aktiva tetap sering merupakan suatu bagian utama aktiva perusahaan, dan karenanya signifikan dalam penyajian posisi keuangan. Lebih jauh lagi, penentuan apakah suatu pengeluaran merupakan suatu aktiva atau beban dapat berpengaruh signifikan pada hasil operasi yang dilaporkan perusahaan . 08 Dalam menentukan apakah suatu pos memenuhi kriteria pertama untuk pengakuan, suatu perusahaan harus menilai tingkat kepastian aliran manfaat keekonomian masa yang akan datang berdasarkan bukti yang tersedia pada waktu pengakuan awal. Adanya kepastian yang cukup bahwa manfaat keekonomian masa yang akan datang akan mengalir ke perusahaan membutuhkan suatu kepastian bahwa perusahaan akan menerima imbalan dan menerima risiko terkait. Kepastian ini biasanya hanya tersedia jika risiko dan imbalan telah diterima perusahaan. Sebelum hal ini terjadi, transaksi untuk memperoleh aktiva biasanya dapat dibatalkan tanpa sanksi yang signifikan, dan karenanya aktiva tidak diakui. 09 Kriteria kedua untuk pengakuan biasanya dapat dipenuhi langsung karena transaksi pertukaran mempunyai bukti pembelian aktiva mengidentifikasikan biayanya. Dalam keadaan suatu aktiva yang dikonstruksi sendiri, suatu pengukuran yang dapat diandalkan atas biaya dapat dibuat dari transaksi dengan pihak eksternal dan perusahaan untuk perolehan bahan baku, tenaga kerja dan input lain yang digunakan dalam proses konstruksi . 10 Dalam mengidentifikasikan suatu pos terpisah dari aktiva tetap, pertimbangan dibutuhkan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain.htm

10/17/03

PSAK no 16

Page 4 of 15

dalam mengaplikasikan kriteria dalam definisi untuk keadaaan khusus atau jenis perusahaan khusus. Mungkin tepat untuk mengagregatkan pos individu yang tidak signifikan, seperti cetakan dan perkakas, dan untuk menerapkan kriteria untuk nilai agregat. Kebanyakan suku cadang dan peralatan pemeliharaan dan reparasi (servicing) biasanya dianggap sebagai persediaan dan diakui sebagai suatu beban pada saat dikonsumsi. Tetapi, suku cadang utama dan peralatan siap pakai dikualifikasi sebagai aktiva tetap jika perusahaan mengharapkan untuk menggunakannya selama lebih dari satu periode. Demikian pula jika suku cadang dan peralatan pemeliharaan dan reparasi (servicing) dapat digunakan hanya dalam hubungan dengan suatu pos aktiva tetap dan penggunaannya diharapkan tidak teratur, dibukukan sebagai aktiva tetap dan disusutkan sepanjang suatu periode waktu yang tidak melebihi masa manfaat dari aktiva yang berhubungan. 11 Dalam keadaan tertentu, adalah tepat untuk mengalokasikan pengeluaran total pada suatu aktiva pada komponennya dan membukukan setiap komponen secara terpisah apabila harga perolehan masing-masing komponen dapat diperoleh dari pemasok atau pembuat. Hal ini adalah keadaan di mana komponen aktiva memiliki masa manfaat berbeda atau menyediakan manfaat bagi perusahaan dengan pola berbeda dan karenanya memerlukan penggunaan tarif dan metode penyusutan berbeda. Contohnya, suatu pesawat terbang dan mesinnya harus diperlakukan sebagai aktiva yang terpisah jika memiliki masa manfaat berbeda . 12 Aktiva tetap dapat diperoleh untuk alasan keamanan atau lingkungan. Perolehan aktiva tetap semacam itu, di mana tidak secara langsung meningkatkan manfaat keekonomian masa yang akan datang dari suatu aktiva tetap tertentu yang ada dapat diperlukan bagi perusahaan untuk memperoleh manfaat keekonomian masa yang akan datang dari aktiva yang lain. Dalam keadaan ini, perolehan aktiva tetap semacam itu memenuhi kualifikasi pengakuan aktiva, karena memungkinkan manfaat keekonomian masa yang akan datang dari aktiva yang berkaitan untuk diperoleh perusahaan dalam kelebihan apa yang dapat diperoleh jika aktiva tetap tersebut tidak diperoleh. Tetapi, aktiva tersebut hanya diakui sepanjang hasil jumlah tercatat aktiva tersebut dan aktiva yang berkaitan tidak melebihi jumlah total yang mungkin diperoleh kembali (recoverable amount) dari aktiva. Misalnya, suatu perusahaan yang memproduksi bahan kimia harus dapat memasang sarana pengendali zat kimia (chemical handling processes} tertentu yang baru untuk memenuhi persyaratan lingkungan hidup pada produksi dan penyimpanan bahan kimia yang berbahaya; peninggian pabrik yang berkaitan diakui sebagai suatu aktiva sepanjang dapat diperoleh kembali (recoverable) karena, tanpanya, perusahaan tidak dapat memproduksi dan menjual bahan kimia. Pengakuan Awal Aktiva tetap 13 Suatu benda berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aktiva dan dikelompokkan sebagai aktiva tetap, pada awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan . Komponen Biaya 14 Biaya perolehan suatu aktiva tetap terdiri dari harga belinya, termasuk bea impor dan PPN Masukan Tak Boleh Restitusi (non-refundable), dan setiap biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dalam membawa aktiva tersebut ke kondisi yang membuat aktiva tersebut dapat bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan; setiap potongan dagang dan rabat dikurangkan dari harga pembelian. Contoh dari biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah: (a) Biaya persiapan tempat; (b) biaya pengiriman awal (initial delivery) dan biaya simpan dan bongkar-muat (handling costs); (c) biaya pemasangan (installation costs); dan (d) biaya profesional seperti arsitek dan insinyur.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain.htm

10/17/03

PSAK no 16

Page 5 of 15

15 Jika pembayaran untuk suatu aktiva tetap ditangguhkan melampaui jangka waktu kredit normal, biayanya adalah yang disamakan dengan harga tunai; perbedaan antara jumlah ini dan pembayaran total diakui sebagai beban bunga selama periode kredit selama tidak dikapitalisasi menurut perlakuan alternatif Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 26 tentang Akuntansi Bunga untuk Periode Konstruksi. 16 Biaya administrasi dan overhead umum lainnya bukan merupakan suatu komponen biaya aktiva tetap sepanjang biaya tersebut tidak dapat diatribusikan secara langsung pada biaya perolehan aktiva atau membawa aktiva ke kondisi kerjanya. Demikian pula biaya permulaan (start-up costs) dan pra-produksi serupa tidak merupakan bagian biaya suatu aktiva kecuali biaya tersebut perlu untuk membawa aktiva ke kondisi kerjanya. Rugi operasi awal yang terjadi sebelum suatu aktiva mencapai kinerja yang direncanakan diakui sebagai suatu beban. 17 Biaya perolehan suatu aktiva yang dikonstruksi sendiri ditentukan menggunakan prinsip yang sama seperti suatu aktiva yang diperoleh. Jika suatu perusahaan membuat aktiva serupa untuk dijual dalam keadaan usaha normal, biaya perolehan aktiva biasanya sama dengan biaya memproduksi aktiva untuk dijual (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 14 tentang Persediaan). Karenanya, setiap laba internal dieliminasi dalam menetapkan biaya tersebut. Demikian pula biaya dari jumlah yang abnormal dari bahan baku yang tak terpakai, tenaga kerja, atau sumber daya lain yang terjadi dalam-memproduksi suatu aktiva yang dikonstruksi sendiri tidak dimasukkan dalam biaya perolehan aktiva. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 26 tentang Akuntansi Bunga untuk Periode Konstruksi, membuat kriteria yang harus dipenuhi sebelum biaya bunga dapat diakui sebagai suatu komponen biaya aktiva tetap. 18 Biaya perolehan suatu aktiva yang digunakan oleh lessee dalam suatu lease keuangan ditentukan menggunakan prinsip dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 30 tentang Akuntansi Sewa Guna Usaha. Perolehan secara Gabungan 19 Harga perolehan dari masing-masing aktiva tetap yang diperoleh secara gabungan ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan tersebut berdasarkan perbandingan nilai wajar masingmasing aktiva yang bersangkutan. Pertukaran Aktiva 20 Suatu aktiva tetap dapat diperoleh dalam pertukaran atau pertukaran sebagian untuk suatu aktiva tetap yang tidak serupa atau aktiva lain. Biaya dari pos semacam itu diukur pada nilai wajar aktiva yang dilepaskan atau yang diperoleh, yang mana yang lebih andal, ekuivalen dengan nilai wajar aktiva yang dilepaskan setelah disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau setara kas yang ditransfer. 21 Suatu aktiva tetap dapat diperoleh dalam pertukaran atas suatu aktiva yang serupa yang memiliki manfaat yang serupa dalam bidang usaha yang sama dan memiliki suatu nilai wajar serupa. Suatu aktiva tetap juga dapat dijual dalam pertukaran dengan kepemilikan aktiva yang serupa. Dalam kedua keadaan tersebut, karena proses perolehan penghasilan (earning process) tidak lengkap, tidak ada keuntungan atau kerugian yang diakui dalam transaksi. Sebaliknya, biaya perolehan aktiva baru adalah jumlah tercatat dari aktiva yang dilepaskan. Tetapi, nilai wajar aktiva yang diterima dapat menyediakan bukti dari suatu pengurangan (impairment) aktiva yang dilepaskan.-Dalam keadaan ini aktiva yang dilepaskan diturun-nilai buku-kan (written down) dan nilai turun nilai buku (written down) ini ditetapkan untuk aktiva baru. Contoh dari pertukaran aktiva serupa termasuk pertukaran pesawat terbang, hotel, bengkel dan properti real estate lainnya. Jika aktiva lain seperti kas termasuk sebagai bagian transaksi pertukaran, ini dapat mengindikasikan bahwa pos yang dipertukarkan tidak memiliki suatu nilai yang serupa.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain.htm

10/17/03

PSAK no 16

Page 6 of 15

Aktiva Donasi 22 Aktiva tetap yang diperoleh dari sumbangan harus dicatat sebesar harga taksiran atau harga pasar yang layak dengan mengkreditkan akun "Modal Donasi. " Pengeluaran Sebelah Perolehan (Subsequent Expenditures) 23 Pengeluaran setelah perolehan awal suatu aktiva tetap yang memperpanjang masa manfaat atau yang kemungkinan besar memberi manfaat keekonomian di masa yang akan datang dalam bentuk peningkatan kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja, harus ditambahkan pada jumlah tercatat aktiva yang bersangkutan. 24 Pengeluaran setelah perolehan (subsequent expenditures) pada properti, pabrik dan peralatan hanya diakui sebagai suatu aktiva jika pengeluaran meningkatkan kondisi aktiva melebihi standar kinerja semula. Contoh peningkatan yang menghasilkan peningkatan manfaat keekonomian masa yang akan datang mencakup: (a) modifikasi suatu pos sarana pabrik untuk memperpanjang usia manfaatnya, termasuk suatu peningkatan kapasitasnya; (b) peningkatan kemampuan mesin (upgrading machine parts)untuk mencapai peningkatan besar dalam kualitas output; dan (c) penerapan proses produksi baru yang memungkinkan suatu pengurangan besar biaya operasi. 25 Pengeluaran untuk perbaikan atau perawatan aktiva tetap untuk menjaga manfaat keekonomian masa yang akan datang yang dapat diharapkan perusahaan, untuk mempertahankan standar kinerja semula atas suatu aktiva, biasanya diakui sebagai beban saat terjadi. Contohnya, biaya pemeliharaan dan reparasi (servicing) atau turun mesin (overhauling) pabrik dan peralatan biasanya merupakan beban, karena memelihara, daripada meningkatkan, standar kinerja semula. 26 Perlakuan akuntansi yang tepat untuk pengeluaran yang terjadi setelah perolehan suatu aktiva tetap tergantung pada keadaan yang diperhitungkan pada pengukuran awal dan pengakuan pos yang berkaitan dari aktiva tetap dan apakah pengeluaran setelah perolehan (subsequent expenditures) dapat pulang pokok. Contohnya, jika jumlah tercatat aktiva tetap telah memperhitungkan suatu kerugian dalam manfaat keekonomian, pengeluaran setelah perolehan (subsequent expenditures) untuk memelihara manfaat keekonomian masa yang akan datang yang diharapkan dari aktiva dikapitalisasi asalkan saja jumlah tercatat tidak melebihi jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aktiva. Ini juga keadaan di mana harga pembelian suatu aktiva telah mencerminkan kewajiban perusahaan untuk membuat pengeluaran dalam masa yang akan datang yang perlu untuk membawa aktiva ke kondisi kerjanya. Contohnya adalah perolehan suatu gedung membutuhkan renovasi. Dalam keadaan tersebut, pengeluaran setelah perolehan ditambahkan ke jumlah tercatat aktiva sepanjang dapat diperoleh kembali dari manfaat masa yang akan datang dari aktiva . 27 Komponen utama dari beberapa aktiva tetap dapat membutuhkan penggantian pada jangka waktu yang teratur. Misalnya, suatu tungku pembakaran butuh untuk pelapisan-dalamulang (relining) setelah beberapa jam tertentu dari penggunaannya atau interior pesawat terbang seperti tempat duduk dan dapur mungkin membutuhkan penggantian beberapa kali sepanjang usia pesawat. Komponen dibukukan sebagai aktiva terpisah karena memiliki masa manfaat yang berbeda dari aktiva tetap yang berhubungan. Karenanya, asalkan kriteria pengakuan dalam paragraf 6 dipenuhi, pengeluaran yang terjadi dalam mengganti atau memperbaharui komponen dibukukan sebagai perolehan suatu aktiva terpisah dan aktiva yang diganti dihapus.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain.htm

10/17/03

PSAK no 16

Page 7 of 15

Pengaturan Berikutnya (Subsequent Measurement) terhadap Pengakuan Awal 28 Aktiva tetap disajikan berdasarkan nilai perolehan aktiva tersebut dikurangi akumulasi penyusutan. 29 Penilaian kembali atau revaluasi aktiva tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena Standar Akuntansi Keuangan menganut penilaian aktiva berdasarkan harga perolehan atau harga pertukaran. Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah. Dalam hal ini laporan keuangan harus menjelaskan mengenai penyimpangan dari konsep harga perolehan di dalam penyajian aktiva tetap serta pengaruh penyimpangan tersebut terhadap gambaran keuangan perusahaan. Selisih antara nilai revaluasi dengan nilai buku (nilai tercatat) aktiva tetap dibukukan dalam akun modal dengan nama "Selisih penilaian kembali aktiva tetap." Penyusutan 30 Jumlah dapat disusutkan (depreciable) suatu aktiva tetap harus dialokasikan secara sistematis sepanjang masa manfaatnya. Metode penyusutan harus mencerminkan pola pemanfaatan keekonomian aktiva (the pattern in which the asset's economic benefits are consumed by the enterprise) oleh perusahaan. Penyusutan untuk setiap periode diakui sebagai beban untuk periode yang bersangkutan, kecuali termasuk sebagai jumlah tercatat aktiva lain. 31 Bersamaan dengan manfaat keekonomian yang diwujudkan dalam suatu aktiva dikonsumsi oleh perusahaan, jumlah tercatat aktiva berkurang untuk mencerminkan konsumsi ini, biasanya dalam bentuk beban penyusutan. Suatu beban penyusutan tetap diadakan walaupun nilai pasar aktiva melebihi jumlah tercatatnya. 32 Manfaat keekonomian yang diwujudkan dalam suatu pos aktiva tetap dikonsumsi oleh perusahaan sepanjang masa manfaat aktiva. Tetapi, faktor lain seperti keusangan teknis dan aus serta rusak (wear and tear) saat suatu aktiva menganggur (idle), juga dapat mengurangi manfaat keekonomiannya yang mungkin telah diharapkan tersedia dari aktiva. Karenanya, seluruh faktor berikut harus dipertimbangkan dalam menentukan masa manfaat suatu aktiva: (a) penggunaan aktiva yang diharapkan oleh perusahaan. Penggunaan dinilai dengan pedoman kapasitas aktiva yang diharapkan atau output fisik; (b) keusangan fisik yang diharapkan, yang tergantung pada faktor operasional seperti jumlah pergantian kelompok kerja (shifts) di mana aktiva digunakan dan program perbaikan dan perawatan dari perusahaan, dan perawatan aktiva pada saat menganggur (idle); (c) keusangan teknis yang timbul dari perubahan atau perbaikan produksi, atau dari perubahan permintaan pasar untuk produk atau jasa yang dihasilkan oleh aktiva; dan (d) pembatasan hukum atau yang serupa atas penggunaan aktiva, seperti habisnya waktu dari sewa guna usaha yang berkaitan . 33 Masa manfaat aktiva ditentukan berdasarkan kegunaan yang diharapkan oleh perusahaan. Kebijakan manajemen aktiva suatu perusahaan mempengaruhi jumlah penyusutan aktiva setelah suatu waktu yang ditentukan atau setelah konsumsi dari proporsi tertentu atas manfaat keekonomian yang diwujudkan dalam aktiva. Karenanya, masa manfaat suatu aktiva dapat lebih pendek daripada usia keekonomiannya. Estimasi masa manfaat suatu aktiva tetap merupakan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain.htm

10/17/03

PSAK no 16

Page 8 of 15

masalah pertimbangan yang berdasarkan pada pengalaman perusahaan dengan aktiva serupa. 34 Tanah dan bangunan harus diperlakukan sebagai aktiva yang terpisah untuk tujuan akuntansi, walaupun diperoleh secara sekaligus. Tanah biasanya memiliki usia tak terbatas, oleh karena itu tidak disusutkan. Bangunan memiliki usia terbatas, oleh karena itu disusutkan. Peningkatan nilai tanah tempat bangunan didirikan tidak mempengaruhi masa manfaat bangunan. 35 Jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aktiva ditentukan setelah mengurangi nilai sisa aktiva. Dalam prakteknya, nilai sisa suatu aktiva sering tidak signifikan dan karenanya tidak material dalam penghitungan jumlah yang dapat disusutkan. Jika benchmark treatment digunakan dan nilai sisa signifikan, nilai sisa diestimasi pada tanggal perolehan dan berikutnya tidak meningkat untuk perubahan harga. Tetapi, jika perlakuan alternatif yang diijinkan yang digunakan, suatu estimasi harus dibuat pada tanggal penilaian kembali berikutnya atas aktiva. Estimasi berdasarkan pada nilai sisa pada tanggal estimasi aktiva serupa yang telah mencapai akhir masa manfaatnya dan telah beroperasi dalam kondisi yang serupa dengan kondisi di mana aktiva akan digunakan . 36 Jika pembelian suatu aktiva mengakibatkan perusahaan mengeluarkan biaya membongkar, memindahkan, memperbaiki, pada akhir masa manfaat aktiva, biaya tersebut diakui sebagai suatu beban sepanjang usia aktiva, dengan cara: (a) mengurangi biaya yang diestimasi dalam menentukan nilai sisa aktiva dan dengan cara demikian meningkatkan beban penyusutan tahunan. Setiap jumlah tercatat negatif yang dihasilkan, diakui sebagai suatu hutang; atau (b) jika biaya yang diestimasi tidak dikurangkan dalam menetapkan nilai sisa, dengan mengakui biaya sebagai suatu beban terpisah sepanjang usia aktiva sedemikian rupa sehingga hutang untuk biaya ini tersedia penuh pada akhir masa manfaat aktiva. 37 Berbagai metode penyusutan dapat digunakan untuk mengalokasikan jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aktiva pada suatu dasar sistematis sepanjang masa manfaatnya. Metode ini mencakup metode penyusutan berdasarkan waktu, penggunaan dan kriteria lainnya (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.17 tentang Akuntansi Penyusutan). Metode yang digunakan untuk suatu aktiva dipilih berdasarkan pola yang diharapkan atas manfaat keekonomian dan secara konsisten digunakan dari periode ke periode kecuali terdapat perubahan dalam pola yang diharapkan atas manfaat keekonomian aktiva tersebut. 38 Beban penyusutan untuk suatu periode biasanya diakui sebagai suatu beban. Tetapi, dalam keadaan tertentu, manfaat keekonomian yang terwujud dalam suatu aktiva diserap perusahaan dalam memproduksi aktiva lain bukan memberikan kenaikan pada suatu beban. Dalam keadaan ini, beban penyusutan mencakup bagian biaya perolehan aktiva lain dan termasuk dalam jumlah tercatatnya. Sebagai contoh, penyusutan pabrik dan peralatan pabrik termasuk dalam biaya proses produksi persediaan (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.14 tentang Persediaan). Demikian pula, penyusutan aktiva tetap yang digunakan untuk aktivitas pengembangan dapat dimasukkan dalam biaya pengembangan yang dikapitalisasi sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 20 tentang Biaya Riset dan Pengembangan. Telaah Ulang Masa Manfaat (Review of Useful Life) 39 Masa manfaat suatu aktiva tetap harus ditelaah ulang secara periodik dan, jika harapan berbeda secara signifikan dengan estimasi sebelumnya, beban penyusutan untuk periode sekarang dan masa yang akan datang harus disesuaikan. 40 Sepanjang usia suatu aktiva dapat menjadi jelas bahwa estimasi masa manfaat adalah tidak tepat. Sebagai contoh, masa manfaat dapat diperpanjang oleh pengeluaran setelah perolehan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain.htm

10/17/03

PSAK no 16

Page 9 of 15

(subsequent expenditures) pada aktiva yang meningkatkan kondisi aktiva melampaui standar kinerja yang dinilai pada mulanya. Alternatif lain, perubahan teknologi atau perubahan dalam pasar produk dapat mengurangi masa manfaat aktiva. Dalam keadaan tersebut, masa manfaat dan, karenanya, tarif penyusutan disesuaikan untuk periode sekarang dan masa yang akan datang. 41 Kebijakan perbaikan dan perawatan perusahaan juga dapat mempengaruhi masa manfaat suatu aktiva Kebijakan dapat menghasilkan suatu perpanjangan masa manfaat aktiva atau suatu peningkatan dalam nilai sisanya. Tetapi, penggunaan kebijakan tersebut tidak meniadakan kebutuhan untuk membebankan penyusutan . Telaah Ulang Metode Penyusutan 42 Metode penyusutan yang digunakan untuk aktiva tetap ditelaah ulang secara periodik dan jika terdapat suatu perubahan signifikan dalam pola pemanfaatan ekonomi yang diharapkan dari aktiva tersebut, metode penyusutan harus diubah untuk mencerminkan perubahan pola tersebut. Perubahan metode penyusutan harus diperlakukan sebagai suatu perubahan kebijakan akuntansi dan dilaporkan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.25 tentang Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi dan beban penyusutan untuk periode sekarang dan masa yang akan datang harus disesuaikan. Penurunan Nilai Manfaat Keekonomian 43 Apabila manfaat keekonomian suatu aktiva tetap tidak lagi sebesar jumlah tercatat, maka aktiva tersebut harus dinyatakan sebesar jumlah yang sepadan dengan nilai manfaat keekonomian yang tersisa. Penurunan nilai kegunaan aktiva tetap tersebut dilaporkan sebagai kerugian. Penghentian dan Pelepasan 44 Suatu aktiva tetap dieliminasi dari neraca ketika dilepaskan atau bila aktiva secara permanen ditarik dari penggunaannya dan tidak ada manfaat keekonomian masa yang akan datang diharapkan dari pelepasannya. 45 Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian atau pelepasan suatu aktiva tetap diakui sebagai keuntungan atau kerugian dalam laporan laba rugi. 46 Jika suatu aktiva tetap dipertukarkan untuk suatu aktiva yang serupa, dalam keadaan yang dijelaskan dalam paragraf 21, biaya perolehan aktiva yang diperoleh adalah sama dengan jumlah tercatat aktiva yang dilepaskan dan tidak ada keuntungan atau kerugian yang dihasilkan. 47 Transaksi jual dan sewa guna usaha balik (sale and leaseback) dibukukan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 30 tentang Akuntansi Sewa Guna Usaha. 48 Aktiva tetap yang dihentikan dari penggunaan aktif dan ditahan untuk dilepaskan dinilai pada yang terendah antara jumlah tercatatnya dan nilai realisasi neto. Pengungkapan 49 Laporan keuangan harus mengungkapkan, dalam hubungan dengan setiap jenis aktiva tetap: (a) dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto. Jika lebih dari satu dasar yang digunakan, jumlah tercatat bruto untuk dasar dalam setiap kategori harus diungkapkan; (b) metode penyusutan yang digunakan;

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain.htm

10/17/03

PSAK no 16

Page 10 of 15

(c) masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan; (d) jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode; (e) suatu rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode memperlihatkan: (i) penambahan; (ii) pelepasan; (iii) akuisisi melalui penggabungan usaha; (iv) revaluasi yang dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah; (v) penurunan nilai tercatat sesuai dengan paragraf 43; (vi) penyusutan; (vii) beda nilai tukar neto yang timbul pada penjabaran laporan keuangan suatu entitas asing; dan (viii)setiap pengklasifikasian kembali. 50 Laporan keuangan juga harus mengungkapkan: (a) eksistensi dan batasan atas hak milik, dan aktiva tetap yang dijaminkan untuk hutang; (b) kebijakan akuntansi untuk biaya perbaikan yang berkaitan dengan aktiva tetap; dan (c) jumlah pengeluaran pada akun aktiva tetap dalam konstruksi; dan (d) jumlah komitmen untuk akuisisi aktiva tetap. 51 Pemilihan metode penyusutan dan estimasi masa manfaat aktiva adalah masalah pertimbangan. Karenanya, pengungkapan metode yang digunakan dan usia manfaat yang diestimasi atau tarif penyusutan menyediakan pemakai laporan keuangan dengan informasi yang mengijinkan mereka meninjau kebijakan yang dipilih oleh manajemen dan memungkinkan perbandingan dibuat dengan perusahaan lain. Untuk alasan serupa, adalah perlu untuk mengungkapkan penyusutan yang dialokasikan dalam suatu periode dan akumulasi penyusutan pada akhir periode tersebut. 52 Suatu perusahaan mengungkapkan hakekat dan pengaruh suatu perubahan dalam suatu estimasi akuntansi yang memiliki pengaruh material dalam periode sekarang atau yang mana diharapkan untuk miliki suatu pengaruh material dalam periode berikutnya sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.25 tentang Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi. Pengungkapan tersebut dapat timbul dari perubahan estimasi dalam: (a) nilai sisa; (b) biaya pembongkaran, pemindahan dan perbaikan;

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain.htm

10/17/03

PSAK no 16

Page 11 of 15

(c) masa manfaat; dan (d) metode penyusutan. 53 Jika aktiva tetap dicatat pada jumlah yang dinilai kembali hal berikut harus diungkapkan: (a) dasar yang digunakan untuk menilai kembali aktiva; (b) tanggal efektif penilaian kembali; (c) nama penilai independen, bila ada; (d) hakekat setiap petunjuk yang digunakan untuk menentukan biaya pengganti; (e) jumlah tercatat setiap jenis aktiva tetap; (f) surplus penilaian kembali aktiva tetap. 54 Para pemakai laporan keuangan juga menemui bahwa informasi berikut adalah relevan dengan kebutuhan mereka; (a) jumlah tercatat aktiva tetap yang menganggur secara temporer; (b) jumlah tercatat bruto dari setiap aktiva tetap yang disusutkan penuh yang masih dalam penggunaan; (c) jumlah tercatat aktiva tetap yang dihentikan dari penggunaan aktif dan ditahan untuk dihentikan; dan (d) jika benchmark treatment digunakan, nilai wajar aktiva tetap jika secara material berbeda dari jumlah tercatatnya. Karena itu, perusahaan dianjurkan untuk mengungkapkan jumlah jumlah di atas. Aktiva Lain-lain 55 Pos-pos yang tidak dapat secara layak digolongkan dalam aktiva tetap, dan juga tidak dapat digolongkan dalam aktiva lancar, investasi/penyertaan maupun aktiva tak berwujud, seperti : aktiva tetap yang tidak digunakan, piutang kepada pemegang saham, beban yang ditangguhkan dan aktiva lancar lainnya disajikan dalam kelompok aktiva lain-lain 56 Biaya yang tidak dilaporkan sebagai beban pada periode terjadinya karena dianggap memberikan manfaat bagi periode-periode selanjutnya digolongkan sebagai beban yang ditangguhkan . Pos-pos yang termasuk dalam golongkan ini antara lain: a. Biaya pendirian perusahaan yang timbul pada perusahaan dalam tahap pengembangan. (Lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 6 tentang Akuntansi Dan Pelaporan Bagi Perusahaan Dalam Tahap Pengembangan) b. Biaya emisi saham, yaitu biaya yang terjadi dalam rangka pemasyarakatan saham perusahaan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain.htm

10/17/03

PSAK no 16

Page 12 of 15

yang meliputi biaya notaris/penasihat hukum, penilai, biaya percetakan efek dan prospektus, biaya pendaftaran, penjamin emisi dan lain sebagainya . 57 Selisih hutang pajak penghasilan yang dihitung berdasarkan laba kena pajak dengan perhitungan pajak penghasilan berdasarkan laba akuntansi yang disebabkan oleh pos tidak lancar (saldo debit) disajikan dalam kelompok aktiva lain-lain. PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 16 AKTIVA TETAP DAN AKTIVA LAIN-LAIN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 16 terdiri dari paragraf 58 - 76. Pernyataan Ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1 - 57. 58 Pernyataan ini harus diterapkan dalam akuntansi aktiva tetap dan aktiva lain-lain kecuali bila standar akuntansi keuangan lainnya mensyaratkan suatu perlakuan akuntansi yang berbeda . Pengakuan Aktiva tetap 59 Suatu benda berwujud harus diakui sebagai suatu aktiva dan dikelompokkan sebagai aktiva tetap bila: (a) besar kemungkinan (probable) bahwa manfaat keekonomian di masa yang akan datang yang berkaitan dengan aktiva tersebut akan mengalir ke dalam perusahaan; dan (b) biaya perolehan aktiva dapat diukur secara andal. Pengakuan Awal Aktiva tetap 60 Suatu benda berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aktiva dan dikelompokkan sebagai aktiva tetap, pada awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan . 61 Harga perolehan dari masing-masing aktiva tetap yang diperoleh secara gabungan ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan tersebut berdasarkan perbandingan nilai wajar masingmasing aktiva yang bersangkutan. 62 Suatu aktiva tetap dapat diperoleh dalam pertukaran atau pertukaran sebagian untuk suatu aktiva tetap yang tidak serupa atau aktiva lain. Biaya dari pos semacam itu diukur pada nilai wajar aktiva yang dilepas atau yang diperoleh, yang mana yang lebih andal, ekuivalen dengan nilai wajar aktiva yang dilepaskan setelah disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau setara kas yang ditransfer. 63 Aktiva tetap yang diperoleh dari sumbangan harus dicatat sebesar harga taksiran atau harga pasar yang layak dengan mengkreditkan akun Modal yang Berasal dari Sumbangan. Pengeluaran Setelah Perolehan (Subsequent Expenditures) 64 Pengeluaran setelah perolehan awal suatu aktiva tetap yang memperpanjang masa manfaat atau yang kemungkinan besar memberi manfaat keekonomian di masa yang akan datang dalam bentuk peningkatan kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja, harus ditambahkan pada jumlah tercatat aktiva yang bersangkutan. Pengukuran Berikutnya (Subsequent Measurement) terhadap Pengakuan Awal

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain.htm

10/17/03

PSAK no 16

Page 13 of 15

65 Aktiva tetap disajikan berdasarkan nilai perolehan aktiva tersebut dikurangi akumulasi penyusutan. 66 Penilaian kembali atau revaluasi aktiva tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena Standar Akuntansi Keuangan menganut penilaian aktiva berdasarkan harga perolehan atau harga pertukaran. Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah. Dalam hal ini laporan keuangan harus menjelaskan mengenai penyimpangan dari konsep harga perolehan di dalam penyajian aktiva tetap serta pengaruh daripada penyimpangan tersebut terhadap gambaran keuangan perusahaan. Selisih antara nilai revaluasi dengan nilai buku (nilai tercatat) aktiva tetap dibukukan dalam akun modal dengan nama Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap . Penyusutan 67 Jumlah dapat disusutkan (depreciable) suatu aktiva tetap harus dialokasikan secara sistematis sepanjang masa manfaatnya. Metode penyusutan harus mencerminkan pola pemanfaatan ekonomi aktiva (the pattern in which the asset's economic benefits are consumed by the enterprise) oleh perusahaan. Penyusutan untuk setiap periode diakui sebagai beban untuk periode yang bersangkutan, kecuali termasuk sebagai jumlah tercatat aktiva lain. 68 Masa manfaat suatu aktiva tetap harus ditelaah ulang secara periodik dan, jika harapan berbeda secara signifikan dengan estimasi sebelumnya, beban penyusutan untuk periode sekarang dan masa yang akan datang harus disesuaikan. 69 Metode penyusutan yang digunakan untuk aktiva tetap ditelaah ulang secara periodik dan jika terdapat suatu perubahan signifikan dalam pola pemanfaatan ekonomi yang diharapkan dari aktiva tersebut, metode penyusutan harus diubah untuk mencerminkan perubahan pola tersebut. Perubahan metode penyusutan harus diperlakukan sebagai suatu perubahan kebijakan akuntansi dan dilaporkan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.25 tentang Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi dan beban penyusutan untuk periode sekarang dan masa yang akan datang harus disesuaikan. 70 Apabila manfaat keekonomian suatu aktiva tetap tidak lagi sebesar jumlah tercatatnya maka aktiva tersebut harus dinyatakan sebesar jumlah yang sepadan dengan nilai manfaat keekonomian yang tersisa. Penurunan nilai kegunaan aktiva tetap tersebut dilaporkan sebagai kerugian. Penghentian dan Pelepasan 71 Suatu aktiva tetap dieliminasi dari neraca ketika dilepaskan atau bila aktiva secara permanen ditarik dari penggunaannya dan tidak ada manfaat keekonomian masa yang akan datang diharapkan dari pelepasannya. 72 Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian atau pelepasan suatu aktiva tetap diakui sebagai keuntungan atau kerugian dalam laporan laba rugi. Pengungkapan 73 Laporan keuangan harus mengungkapkan, dalam hubungan dengan setiap jenis aktiva tetap: (a) dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto. Jika lebih dari satu dasar yang digunakan, jumlah tercatat bruto untuk dasar dalam setiap kategori harus diungkapkan;

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain.htm

10/17/03

PSAK no 16

Page 14 of 15

(b) metode penyusutan yang digunakan; (c) masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan; (d) jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode; (e) suatu rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode memperlihatkan: (i) penambahan; (ii) pelepasan; (iii) akuisisi melalui penggabungan usaha; (iv) revaluasi yang dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah; (v) penurunan nilai tercatat sesuai dengan paragraf 66; (vi) penyusutan; (vii) perbedaan pertukaran neto yang timbul pada penjabaran laporan keuangan suatu entitas asing; dan (viii) setiap pengklasifikasian kembali. 74 Laporan keuangan juga harus mengungkapkan: (a) eksistensi dan batasan atas hak milik, dan aktiva tetap yang dijaminkan untuk hutang; (b) kebijakan akuntansi untuk biaya perbaikan yang berkaitan dengan aktiva tetap; dan (c) jumlah pengeluaran pada akun aktiva tetap dalam konstruksi; dan (d) jumlah komitmen untuk akuisisi aktiva tetap. 75 Jika aktiva tetap dicatat pada jumlah yang dinilai kembali hal berikut harus diungkapkan: (a) dasar yang digunakan untuk menilai kembali aktiva; (b) tanggal efektif penilaian kembali; (c) nama penilai independen, bila ada; (d) hakekat setiap petunjuk yang digunakan untuk menentukan biaya pengganti; (e) jumlah tercatat setiap jenis aktiva tetap; (f) surplus penilaian kembali aktiva tetap. Aktiva lain-lain

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain.htm

10/17/03

PSAK no 16

Page 15 of 15

76 Pos-pos yang tidak dapat secara layak digolongkan dalam aktiva tetap, dan juga tidak dapat digolongkan dalam aktiva lancar, investasi/penyertaan maupun aktiva tak berwujud, seperti: aktiva tetap yang tidak digunakan, piutang kepada pemegang saham, beban yang ditangguhkan dan aktiva lancar lainnya disajikan dalam kelompok aktiva lain-lain. 77 Apabila perusahaan memilih untuk menghitung pajak penghasilan menurut laba akuntansi, selisih perhitungan tersebut dengan hutang pajak (yang dihitung menurut laba kena pajak), yang disebabkan "perbedaan waktu" pengakuan pendapatan dan beban untuk tujuan akuntansi dengan tujuan pajak, ditampung dalam akun "pajak penghasilan yang ditangguhkan", dikelompokkan sebagai bagian dari aktiva lain-lain dan dialokasikan pada beban kena pajak penghasilan tahuntahun mendatang. Tanggal Aktif 78 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal Januari 1 995. Penerapan lebih dini dianjurkan .

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain.htm

10/17/03

PSAK no 17

Page 1 of 5

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 17 AKUNTANSI PENYUSUTAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 17 tentang Akuntansi Penyusutan disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN Tujuan Alokasi biaya yang tepat harus dilakukan di antara berbagai pos aktiva dan beban (misalnya dalam penetapan unsur harga perolehan properti, pabrik dan peralatan atau biaya pemeliharaan), karena akan mempengaruhi perhitungan laba untuk serangkaian periode akuntansi. Demikian pula, biaya umum (common cost) yang berkenaan dengan lebih dari satu aktivitas harus didistribusikan dengan tepat menurut dasar pembebanan yang layak, seperti faktor waktu atau faktor penggunaan. Tujuan dari Pernyataan ini adalah mengatur tentang pembebanan penyusutan aktiva yang dapat disusutkan. Masalah utama dalam akuntansi penyusutan suatu aktiva adalah penentuan jumlah

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 17 Akuntansi Penyusutan.htm

10/17/03

PSAK no 17
yang dapat disusutkan, metode penyusutan dan penentuan masa manfaat keekonomian. Ruang Lingkup

Page 2 of 5

01 Pernyataan ini menyangkut akuntansi penyusutan dan diterapkan untuk seluruh aktiva yang dapat disusutkan kecuali: (a) hutan dan sumber daya alam serupa yang dapat diperbaharui (b) pengeluaran eksplorasi dan penggalian mineral, minyak, gas alam dan sumber daya alam serupa yang tidak dapat diperbaharui; (c) pengeluaran riset dan pengembangan; (d) goodwill. Definisi 02 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam pernyataan ini: Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Penyusutan untuk periode akuntansi dibebankan ke pendapatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Aktiva yang dapat disusutkan adalah aktiva yang: (a) diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi, dan (b) memiliki suatu manfaat yang terbaatas, dan (c) ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau memasok barang dan jasa, untuk disewakan atau untuk tujuan administrasi. Masa manfaat adalah: (a) periode suatu aktiva diharapkan digunakan oleh perusahaan; atau (b) jumlah produksi unit serupa yang diharapkan diperoleh dari aktiva oleh perusahaan Jumlah yang dapat disusutkan (depreciable amount) adalah biaya perolehan suatu aktiva, atau jumlah lain yang disubstitusikan untuk biaya dalam laporan keuangan dikurangi nilai sisanya. Penghapusan aktiva adalah penghapusan nilai buku suatu aktiva yang dilakukan apabila nilai buku yang tercantum tidak lagi menggambarkan manfaat dari aktiva yang bersangkutan. Penghapusan aktiva berbeda dengan penyusutan. Penjelasan 03 Aktiva yang dapat disusutkan seringkali merupakan begian signifikan aktiva perusahaan. Penyusutan karenanya dapat berpengaruh secara signifikan dalam menentukan dan menyajikan posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan. 04 Pandangan pertama menyatakan bahwa jika nilai dari suatu aktiva telah meningkat melampaui

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 17 Akuntansi Penyusutan.htm

10/17/03

PSAK no 17

Page 3 of 5

jumlah tercatat (carrying amount) dalam laporan keuangan, adalah tidak perlu untuk membebankan penyusutan. Pandangan kedua menyatakan bahwa penyusutan harus dibebankan pada setiap periode akuntansi berdasarkan jumlah yang dapat disusutkan tanpa memandang kenaikan nilai jual kembali aktiva. Masa Manfaat 05 Estimasi dari masa manfaat suatu aktiva yang dapat disusutkan atau suatu kelompok aktiva serupa yang dapat disusutkan adalah suatu masalah pertimbangan yang biasanya berdasarkan pengalaman dengan jenis aktiva yang serupa. Untuk suatu aktiva yang menggunakan teknologi baru atau yang digunakan dalam produksi suatu produk baru atau yang digunakan dalam pemberian suatu jasa baru dan hanya sedikit pengalaman mengenai jasa tersebut, estimasi masa manfaat lebih sulit namun tetap dibutuhkan. 06 Masa manfaat dari suatu aktiva yang dapat disusutkan untuk suatu perusahaan mungkin lebih pendek daripada usia fisiknya. Sebagai tambahan terhadap aus atau kerusakan fisik (physical wear and tear) yang tergantung pada faktor operasional (seperti frekuensi penggunaan aktiva, program perbaikan dan pemeliharaan), faktor-faktor lain juga perlu dipertimbangkan. Faktor-faktor tersebut termasuk keusangan yang timbul dari perubahan teknologi atau perbaikan dalam produksi, keusangan yang timbul dari perubahan dalam permintaan pasar terhadap output produk atau jasa dari aktiva, dan pembatasan hukum seperti tanggal batas penggunaan. Nilai sisa 07 Nilai sisa suatu aktiva seringkali tidak signifikan dan dapat diabaikan dalam penghitungan jumlah yang dapat disusutkan. Jika nilai sisa signifikan, nilai tersebut diestimasi pada tanggal perolehan atau pada tanggal dilakukannnya revaluasi aktiva (hanya mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah), berdasarkan nilai yang dapat direalisasikan pada tanggal tersebut untuk aktiva yang sama yang telah mencapai akhir masa manfaatnYa dan beroperasi dalam kondisi yang hampir sama dengan aktiva yang akan digunakan. Nilai sisa kotor selalu dikurangi dengan harapan biaya pelepasan pada akhir masa manfaat suatu aktiva. Metode Penyusutan 08 Jumlah yang dapat disusutkan dialokasi ke setiap periode akuntansi selama masa manfaat aktiva dengan berbagai metode yang sistematis. Metode manapun yang dipilih, konsistensi dalam penggunaannya adalah perlu, tanpa memandang tingkat profitabilitas perusahaan dan pertimbangan perpajakan, agar dapat menyediakan daya banding hasil operasi perusahaan dari periode ke periode. 09 Penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dapat dikelompokkan menurut kriteria berikut: (a) berdasarkan waktu: (i) metode garis lurus (straight-line method) (ii) metode pembebanan yang menurun: - metode jumlah-angka-tahun (sum-of-the years-digit method) - metode saldo-menurun/saldo-menurun-ganda (declining/double-declining balance method) (b) berdasarkan penggunaan:

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 17 Akuntansi Penyusutan.htm

10/17/03

PSAK no 17

Page 4 of 5

(i) metode jam-jasa (service-hours method) (ii) metode jumlah unit produksi (productive-output method). (c) berdasarkan kriteria lainnya: (i) metode berdasarkan jenis dan kelompok (group and composite method) (ii) metode anuitas (annuity method) (iii) sistem persediaan (inventory systems) Tanah dan Bangunan 10 Tanah biasanya memiliki masa manfaat yang tidak terbatas dan biasanya tidak dianggap sebagai suatu aktiva yang dapat disusutkan. Namun, tanah yang memiliki masa manfaat terbatas bagi perusahaan diperlakukan sebagai aktiva yang dapat disusutkan. 11 Bangunan merupakan aktiva yang dapat disusutkan sesuai definisi dalam paragraf 2. Pengungkapan 12 Pemilihan suatu metode alokasi dan estimasi masa manfaat suatu aktiva yang dapat disusutkan adalah merupakan masalah pertimbangan. Pengungkapan metode yang digunakan dan estimasi masa manfaat atau tingkat penyusutan yang digunakan menyediakan bagi para pemakai laporan keuangan informasi yang membuat mereka dapat menelaah kebijakan yang dipilih manajemen dan dapat membuat perbandingan dengan perusahaan lain. Untuk alasan serupa, adalah perlu untuk mengungkapkan jumlah yang dapat disusutkan yang dialokasikan dalam suatu periode dan akumulasi penyusutan pada akhir periode tersebut. PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 17 AKUNTANSI PENYUSUTAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No 17 terdiri dari paragraf 13-18. Standar ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1-12. 13 Jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aktiva dialokasi berdasar suatu dasar sistematis dan beralasan selama masa manfaat tersebut. 14 Metode penyusutan yang dipilih harus digunakan secara konsisten dari periode ke periode kecuali perubahan keadaan yang memberi alasan atau dasar suatu perubahan metode. Dalam suatu periode akuntansi di mana metode penyusutan berubah, pengaruh perubahan harus dikuantifikasikan dan harus diungkapkan. Alasan perubahan harus diungkapkan. 15 Masa manfaat dari suatu aktiva mempertimbangkan faktor berikut: yang dapat disusutkan harus diestimasi setelah

(a) taksiran aus dan kerusakan fisik (physical wear and tear) (b) keusangan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 17 Akuntansi Penyusutan.htm

10/17/03

PSAK no 17

Page 5 of 5

(c) pembatasan hukum atau lainnya atas penggunaan aktiva. 16 Masa manfaat dari aktiva yang dapat disusutkan harus ditinjau secara periodik dan persentase penyusutan disesuaikan untuk periode sekarang dan yang akan datang jika terdapat perbedaan besar dari estimasi sebelumnya. Pengaruh perubahan harus diungkapkan dalam periode akuntansi di mana perubahan terjadi . 17 Pengungkapan tentang penyusutan merujuk kepada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.16 tentang Aktiva Tetap. Tanggal Efektif 18 Standar Akuntansi Keuangan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi periode yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995.

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 17 Akuntansi Penyusutan.htm

10/17/03

PSAK no 18

Page 1 of 12

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 18 AKUNTANSI DANA PENSIUN

DIREKTUR JENDERAL LEMBAGA KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN Dana Pensiun berperan sangat penting dalam pembangunan baik dari segi ekonomi maupun kesejahteraan sosial. Dalam periode Pembangunan Jangka Panjang Tahap II peran swasta dan dana non APBN diharapkan semakin meningkat dan semakin penting. Melalui program pensiun diharapkan tabungan masyarakat dapat terakumulasi dan dikelola secara bijak dan aman agar kesejahteraan pensiunan terjamin dan kebutuhan pembiayaan pembangunan dapat terpenuhi secara berkesinambungan. Sehubungan dengan itu maka telah diberlakukan Undang-Undang Nomor: 11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun. Dana Pensiun sebagai suatu lembaga yang mandiri dan mendapatkan kepercayaan untuk mengelola dana milik peserta program pensiun haruslah dikelola secara profesional. Sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, pengurus Dana Pensiun secara berkala berkewajiban untuk membuat laporan tertentu sehubungan dengan pertanggung-jawabannya. Salah satu laporan penting adalah laporan keuangan. Mengingat bahwa misi dan kegiatan Dana Pensiun adalah berlainan dengan perusahaan, maka sudah jelas perlu disusun standar akuntansi secara khusus sebagai pedoman bagi Dana Pensiun dalam penyusunan laporan keuangan. Kami sangat gembira bahwa ikatan Akuntan Indonesia dengan tanggap telah mengisi kebutuhan tersebut dengan berhasil menyusun Standar Akuntansi Keuangan untuk Dana Pensiun. Dengan berlakunya Standar Akuntansi Keuangan tersebut diharapkan agar laporan keuangan Dana Pensiun dapat menyajikan informasi keuangan yang signifikan secara lebih andal dan dapat diperbandingkan sehingga dapat meningkatkan keamanan dan kredibilitas Dana Pensiun. Sehubungan dengan itu kami memberikan penghargaan dan berterima kasih kepada Komite Prinsip Akuntansi Indonesia - Ikatan Akuntan Indonesia yang telah berhasil menyusun Standar Akuntansi Keuangan Dana Pensiun tepat pada waktunya. Jakarta, 9 September 1994 Direktur Jenderal Lembaga Keuangan

DR. Ir. Bambang Subianto, MBA KATA PENGANTAR Dana Pensiun sebagai lembaga yang mendapatkan kepercayaan untuk mengelola dana peserta program pensiun adalah sangat penting dipandang dari sudut ekonomi dan sosial. Kebijakan manajemen dana pensiun sangat menentukan portofolio investasi dana peserta. Arah investasi

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 18 Akuntansi Dana Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 18

Page 2 of 12

Dana Pensiun yang jumlahnya diantisipasikan semakin lama semakin signifikan akan sangat menentukan pilihan prioritas pendanaan sektor industri dalam pembangunan. Nasib para pensiunan juga tergantung pada keberhasilan Dana Pensiun. Sehubungan dengan itu maka sebagaimana layaknya suatu lembaga yang didalamnya tersangkut kepentingan publik manajemen Dana Pensiun haruslah transparan. Laporan keuangan adalah cermin manajemen, dan oleh karena itu Dana Pensiun harus menyusun laporan keuangan sedemikian rupa agar para pembaca yang berkepentingan tidak tersesat. Di tinjau dari misi dan kegiatan usahanya, Dana Pensiun mempunyai kekhususan yang berlainan dengan suatu perusahaan. Maka informasi keuangan pokok yang perlu disajikan dalam laporan keuangan juga mempunyai kekhususan. Pihak yang paling utama harus dilindungi kepentingannya adalah para peserta program pensiun yang telah mempercayakan hari tuanya kepada Dana Pensiun, dan mereka sangat berkepentingan untuk mengetahui setiap saat apakah jumlah aktiva bersih cukup tersedia untuk membayar manfaat pensiun pada saatnya, di samping itu juga diperlukan informasi tentang perubahan yang terjadi atas aktiva bersih tersebut serta penyebab perubahan. Oleh karena itu Laporan Aktiva Bersih dan Laporan Perubahan Aktiva Bersih menjadi sangat penting bagi Dana Pensiun. Untuk tujuan perpajakan dan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku serta masukan yang diterima baik dari akademisi maupun praktisi selama public hearing; di samping kedua laporan tersebut di atas, untuk Dana Pensiun juga perlu disusun neraca, laporan hasil usaha, dan laporan arus kas. Sehubungan dengan kekhususan jenis informasi yang diperlukan, maka menyimpang dari kelaziman, di samping harga perolehan digunakan juga nilai wajar dalam penilaian aktiva tertentu. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 18 tentang Akuntansi Dana Pensiun ini disusun dengan mengadaptasi IAS 26 Accounting and Reporting by Retirement Benefit Plans dengan memperhatikan peraturan perundangan tentang Dana Pensiun yang berlaku di Indonesia, khususnya Undang Undang No. 11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun serta peraturan pelaksanaannya. Akuntansi Dana Pensiun merupakan sesuatu yang baru, yang memerlukan ketekunan semua pihak terkait untuk selalu menyempurnakan. Pada kesempatan ini Komite PAI ingin menyampaikan terima kasih kepada Bapak Direktur Jenderal Lembaga Keuangan, DR. Bambang Soebianto yang telah menaruh perhatian khusus atas Dana Pensiun termasuk masalah akuntansinya, Direktur Dana Pensiun, Drs. Indomen Saragih, Direktur Pembinaan Jasa Akuntan dan Penilai, Drs. Kartomo Wiryobroto, beserta staf Departemen Keuangan lainnya, Asosiasi Dana Pensiun Indonesia, Persatuan Aktuaris Indonesia yang telah banyak memberikan masukan yang berharga. Kepada Dra. Yosepha Sayekti M.Com, Dra. Merliyana Syamsul dan Dra. Rosita Sinaga yang telah bersedia melakukan penelitian tentang Akuntansi Dana Pensiun, Komite PAI ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan; tanpa bantuan mereka mungkin Pernyataan ini belum dapat diterbitkan. Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Ketua Jusuf Halim Sekretaris Hein G. Surjaatmadja Anggota Katjep K. Abdoelkadir Anggota

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 18 Akuntansi Dana Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 18

Page 3 of 12

Wahjudi Prakarsa Anggota Jan Hoesada Anggota M. Ashadi Anggota Mirza Mochtar Anggota IPG. Ary Suta Anggota Sobo Sitorus Anggota Timoty Marnandus Anggota Mirawati Soedjono Anggota

DAFTAR ISI paragraf SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL LEMBAGA KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KATA PENGANTAR PENDAHULUAN Tujuan Ruang Lingkup Definisi PENJELASAN Akuntansi dan Pelaporan Dana Pensiun Program Pensiun luran Pasti Program Pensiun Manfaat Pasti Kewajiban Aktuaria Frekuensi Penilaian Aktuarial Laporan Keuangan Dana Pensiun Penilaian Aktiva Dana Pensiun

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 18 Akuntansi Dana Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 18

Page 4 of 12

Penyajian Informasi dalam Laporan Keuangan PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO.18 AKUNTANSI DANA PENSIUN Laporan Keuangan Dana Pensiun Laporan Aktiva Bersih Laporan Perubahan Aktiva Bersih Neraca, Perhitungan Hasil Usaha dan Laporan Arus Kas Penilaian Aktiva Dana Pensiun Pengungkapan Masa Transisi Tanggal Efektif

PENDAHULUAN Tujuan Dana Pensiun merupakan suatu badan hukum yang berdiri sendiri dan terpisah dari Pemberi Kerja, yang berfungsi untuk mengelola dan menjalankan program pensiun sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Mengingat bahwa Dana Pensiun mempunyai tujuan dan kegiatan usaha yang berlainan dengan perusahaan pada umumnya, maka perlu disusun Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku khusus untuk Dana Pensiun sebagai pedoman proses akuntansi serta proses penyusunan laporan keuangan. Kekhususan Standar Akuntansi Keuangan Dana Pensiun terutama mengenai isi laporan keuangan, penilaian aktiva dan penentuan kewajiban manfaat pensiun. Ruang Lingkup 01 Pernyataan ini harus diterapkan dalam akuntansi dan pelaporan Dana Pensiun. 02 Pernyataan ini mengatur tentang akuntansi dan pelaporan oleh Dana Pensiun kepada pihak yang berkepentingan. Pernyataan ini tidak mengatur pelaporan kepada masing-masing peserta program pensiun tentang hak manfaat pensiun mereka masing-masing. 03 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 24 tentang Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun, mengatur tentang penentuan biaya pensiun dan aktiva/kewajiban sehubungan program pensiun yang harus dilaporkan dalam laporan keuangan Pemberi Kerja. Dengan demikian pernyataan ini perlu dikaji dalam kaitannya dengan Standar Akuntansi Keuangan tersebut. 04 Standar Akuntansi Keuangan lainnya juga berlaku dalam penyusunan laporan keuangan Dana

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 18 Akuntansi Dana Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 18
Pensiun sepanjang tidak diatur dalam Pernyataan ini.

Page 5 of 12

05 Pernyataan ini berlaku untuk Program Pensiun luran Pasti (PPIP) dan Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP), sebagaimana dimaksud di dalam peraturan perundangan yang berlaku di bidang Dana Pensiun. 06 Pernyataan ini tidak mengatur tentang kesejahteraan karyawan dalam bentuk lainnya, misalnya kewajiban pemberian pesangon, pengaturan kompensasi yang ditangguhkan (deferred compensation management), tunjangan kesehatan dan kesejahteraan program bonus dan lainlain. Program jaminan kesejahteraan sosial yang diwajibkan pemerintah (jamsostek) juga di luar lingkup Pernyataan ini. Definisi 07 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun. Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) adalah Dana Pensiun yang dibentuk oleh orang atau badan yang memperkerjakan karyawan, selaku pendiri, untuk menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti atau Program Pensiun luran Pasti, bagi kepentingan sebagian atau seluruh karyawannya, sebagai peserta, dan yang menimbulkan kewajiban bagi pemberi kerja. Dana Pensiun Lembaga Keuangan {DPLK) adalah Dana Pensiun yang dibentuk oleh bank atau perusahaan asuransi jiwa untuk menyelenggarakan Program Pensiun luran Pasti bagi perorangan, baik karyawan maupun Pekerja Mandiri yang terpisah dari Dana Pensiun Pemberi Kerja bagi karyawan bank atau perusahaan asuransi jiwa yang bersangkutan. Peraturan Dana Pensiun adalah penyelenggaraan program pensiun. peraturan yang berisi ketentuan yang menjadi dasar

Program Pensiun adalah setiap program yang mengupayakan manfaat pensiun bagi Peserta. Program Pensiun luran Pasti (PPIP) adalah Program Pensiun yang iurannya ditetapkan dalam Peraturan Dana Pensiun dan seluruh iuran serta hasil pengembangannya dibukukan pada rekening masing-masing peserta sebagai manfaat pensiun. Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP) adalah Program Pensiun yang manfaatnya ditetapkan dalam Peraturan Dana Pensiun atau Program Pensiun lain yang bukan merupakan Program Pensiun luran Pasti. Manfaat Pensiun adalah pembayaran berkala yang dibayarkan kepada peserta pada saat dan dengan cara yang ditetapkan dalam Peraturan Dana Pensiun. Peserta adalah setiap orang yang memenuhi persyaratan Peraturan Dana Pensiun untuk menjadi penerima manfaat pensiun. Pemberi Kerja adalah badan usaha yang memiliki program pensiun bagi karyawannya. Pemberi Kerja dapat merupakan pendiri atau mitra pendiri. Pendiri adalah: (a) orang atau badan yang membentuk Dana Pensiun Pemberi Kerja;

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 18 Akuntansi Dana Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 18

Page 6 of 12

(b) bank/perusahaan asuransi jiwa yang membentuk Dana Pensiun Lembaga Keuangan Mitra Pendiri adalah pemberi kerja yang ikut serta dalam suatu Dana Pensiun Pemberi Kerja Pendiri untuk kepentingan sebagian atau seluruh karyawannya. Kewajiban Aktuaria (Present Value of Accumulated Pension Benefit /Actuarial Present Value of Promised Retirement Benefit) adalah nilai sekarang pembayaran manfaat pensiun yang akan dilakukan Dana Pensiun kepada karyawan yang masih bekerja dan yang sudah pensiun, yang dihitung berdasarkan jasa yang telah diberikan. Pendanaan adalah pembayaran iuran oleh pemberi kerja atau pemberi kerja dan peserta atau peserta yang sifatnya tidak dapat ditarik kembali, dalam rangka menyiapkan dana untuk memenuhi kewajiban membayar manfaat pensiun. Aktiva Bersih adalah total seluruh aktiva Dana Pensiun tidak termasuk piutang jasa lalu (past service) yang belum jatuh tempo, dikurangi dengan seluruh kewajiban kecuali kewajiban aktuaria yang dihitung oleh aktuaris. Selisih Kewajiban Aktuaria adalah selisih Kewajiban Aktuaria dan Aktiva Bersih. Nilai Wajar adalah suatu jumlah, untuk itu suatu aktiva mungkin ditukar atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar {arm's length transaction). Pihak adalah perorangan, perusahaan, usaha bersama atau setiap kelompok yang terorganisasi. PENJELASAN Akuntansi dan Pelaporan Dana Pensiun 08 Program Pensiun dapat dibedakan menjadi dua yaitu Program Pensiun luran Pasti (PPIP) dan Program Pensiun Manfaat Pasti ( PPM P) . 09 Dana Pensiun dapat berupa Dana Pensiun Pemberi Kerja atau Dana Pensiun Lembaga Keuangan. Dana Pensiun Pemberi Kerja dapat menyelenggarakan PPIP atau PPMP, sedangkan Dana Pensiun Lembaga Keuangan hanya dapat menyelenggarakan PPIP. 10 Pembentukan dan pengelolaan Dana Pensiun harus didasarkan pada peraturan perundangan yang berlaku. Program Pensiun Iuran Pasti 11 Dalam PPIP, jumlah yang diterima oleh peserta pada saat pensiun tergantung pada jumlah iuran dari pemberi kerja, atau iuran peserta dan pemberi kerja atau iuran peserta, dan hasil usaha. Kewajiban dari pemberi kerja adalah membayar iuran sesuai dengan yang ditetapkan dalam Peraturan Dana Pensiun. Bantuan aktuaris biasanya tidak diperlukan, meskipun nasehat aktuaris kadang-kadang digunakan untuk memperkirakan manfaat pensiun yang akan diterima peserta pada saat pensiun, berdasarkan jumlah iuran saat ini dan dimasa datang serta estimasi hasil investasi Dana Pensiun. 12 Peserta berkepentingan untuk mengetahui kegiatan investasi Dana Pensiun karena sangat menentukan manfaat pensiun yang diterima. Baik peserta maupun pemberi kerja berkepentingan untuk mengetahui apakah iuran telah dilakukan sesuai dengan Peraturan Dana Pensiun,

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 18 Akuntansi Dana Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 18

Page 7 of 12

pengawasan atas kekayaan Dana Pensiun telah dilakukan secara tepat kegiatan operasional Dana Pensiun telah dilaksanakan secara efisien dan wajar. Sedangkan Pemerintah berkepentingan untuk mengetahui apakah Dana Pensiun telah dikelola sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. 13 Tujuan dari pelaporan Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPIP adalah untuk menyediakan informasi secara periodik mengenai penyelenggaraan program pensiun, posisi keuangan serta kinerja investasinya. Tujuan tersebut lazimnya dapat dipenuhi dengan menyusun laporan yang antara lain terdiri dari: a. penjelasan atas kegiatan penting Dana Pensiun selama suatu periode pelaporan dan dampak setiap perubahan Peraturan Dana Pensiun; b. Iaporan tentang transaksi dan kinerja investasi selama periode pelaporan dan posisi keuangan Dana Pensiun pada akhir periode pelaporan; dan c. penjelasan mengenai kebijakan/arahan investasi. Program Pensiun Manfaat Pasti 14 Dalam PPMP, besarnya pembayaran manfaat pensiun yang diJanJikan kepada peserta ditentukan dengan rumus manfaat pensiun yang telah ditetapkan dalam Peraturan Dana Pensiun. Rumus tersebut dipengaruhi oleh masa kerja, faktor penghargaan per tahun masa kerja dan penghasilan dasar pensiun. 15 PPMP membutuhkan bantuan aktuaris secara periodik untuk menentukan besarnya nilai kewajiban aktuaria, mengkaji kembali asumsi aktuarial yang digunakan dan merekomendasikan tingkat iuran yang seharusnya. 16 Tujuan pelaporan Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP adalah menyediakan informasi secara periodik mengenai penyelenggaraan program pensiun, posisi keuangan serta kinerja investasinya yang berguna untuk menentukan besarnya kekayaan Dana Pensiun dihubungkan dengan besarnya kewajibannya membayar manfaat pensiun kepada peserta pada saat tertentu. Tujuan ini lazimnya dapat dipenuhi dengan menyusun laporan yang antara lain terdiri dari: a. penjelasan mengenai kegiatan penting selama suatu periode pelaporan dan dampak dari setiap perubahan peraturan Dana Pensiun; b. Iaporan tentang transaksi dan kinerja investasi selama periode pelaporan dan posisi keuangan Dana Pensiun pada akhir periode pelaporan; c. penjelasan mengenai kebijakan/arahan investasi; dan d. perhitungan kewajiban aktuaria berdasarkan laporan aktuaris yang terakhir. Kewajiban Aktuaria 17 Dalam laporan keuangan Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP, perlu diungkapkan penjelasan yang memadai mengenai sumber perhitungan kewajiban aktuaria seperti metode penilaian dan asumsi aktuarial yang digunakan aktuaris, nama aktuaris dan tanggal laporan aktuaris yang terakhir. Frekuensi Penilaian Aktuarial

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 18 Akuntansi Dana Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 18

Page 8 of 12

18 Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP wajib memiliki laporan aktuaris sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Dalam laporan keuangan Dana Pensiun harus disebutkan tanggal laporan aktuaris terakhir yang digunakan sebagai dasar penyusunan laporan keuangan yang bersangkutan. Laporan Keuangan Dana Pensiun 19 Laporan keuangan Dana Pensiun terdiri dari laporan aktiva bersih, laporan perubahan aktiva bersih, neraca, perhitungan hasil usaha, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan . 20 Khusus untuk Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP, laporan mengenai kewajiban aktuaria dan perubahannya perlu disusun sebagai lampiran laporan keuangan. 21 Sebagai informasi tambahan atas laporan keuangan perlu disajikan antara lain portofolio investasi, rincian biaya yang merupakan beban Dana Pensiun selama satu periode sesuai dengan Peraturan Dana Pensiun (untuk Dana Pensiun Pemberi Kerja) atau rincian biaya yang dapat dipungut dari Peserta atau dibebankan pada rekening Peserta selama satu periode sesuai dengan Peraturan Dana Pensiun (untuk Dana Pensiun Lembaga Keuangan) . Penilaian Aktiva Dana Pensiun 22 Aktiva Dana Pensiun dinilai sesuai dengan SAK yang berlaku, namun mengingat tujuan Dana Pensiun dan kekhususan informasi yang diperlukan maka dalam neraca, untuk aktiva tertentu disamping nilai historis perlu ditentukan pula nilai wajarnya. Selisih antara nilai historis dan nilai wajar disajikan sebagai Selisih Penilaian Investasi. Untuk tujuan penyusunan laporan aktiva bersih dan laporan perubahan aktiva bersih, investasi Dana Pensiun dinilai berdasarkan nilai wajar (fair value). Surat-surat berharga dinilai berdasarkan harga pasar karena dianggap sebagai nilai yang paling tepat untuk mengukur nilai surat berharga pada tanggal laporan dan hasil investasi selama periode tersebut. Surat-surat berharga yang nilai jatuh temponya sudah ditetapkan dan memang dimaksudkan untuk membayar manfaat pensiun dinilai berdasarkan nilai jatuh temponya dengan asumsi tingkat pengembalian yang tetap. Jika suatu investasi tidak mempunyai nilai wajar maka perlu diungkapkan alasan mengapa nilai wajar tidak dapat ditentukan. Aktiva operasional dinilai berdasarkan nilai buku. Penyajian Informasi dalam Laporan Keuangan 23 Laporan keuangan Dana Pensiun perlu mengungkapkan informasi relevan antara lain sebagai berikut: (a) laporan aktiva bersih: (i) nilai aktiva pada akhir periode dengan klasifikasi yang tepat, (ii) dasar penilaian aktiva, (iii) investasi sesuai dengan rincian jumlah investasi menurut jenis, (iv) kewajiban selain daripada kewajiban aktuaria; (b) laporan perubahan aktiva bersih:

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 18 Akuntansi Dana Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 18

Page 9 of 12

(i) biaya jasa kini (iuran normal) yang jatuh tempo baik yang berasal dari pemberi kerja atau pemberi kerja dan peserta atau peserta, (ii) biaya jasa lalu (iuran tambahan) yang jatuh tempo, (iii) hasil investasi antara lain bunga, dividen, dan sewa, (iv) pendapatan lain-lain, (v) manfaat yang sudah dibayarkan dan yang masih terhutang, dirinci untuk peserta yang pensiun, yang meninggal atau yang cacat, juga untuk pembayaran manfaat secara sekaligus, (vi) beban administrasi, (vii) beban investasi, (viii) beban lain-lain (ix) pajak penghasilan, (x) keuntungan atau kerugian dari pelepasan investasi dan penurunan atau kenaikan nilai investasi, dan (xi) pengalihan dana ke/dan dari Dana Pensiun lain; (c) neraca: (i) posisi keuangan Dana Pensiun, (ii) nilai historis, khusus untuk investasi ditentukan juga nilai wajarnya; (d) perhitungan hasil usaha: (i) pendapatan dan beban investasi, (ii) beban administrasi, (iii) pendapatan lain-lain; (e) laporan arus kas: laporan arus kas disajikan sesuai dengan sifat kegiatan usaha Dana Pensiun selama periode pelaporan; (f) catatan atas laporan keuangan, mencakup: (i) penjelasan mengenai program pensiun serta perubahan yang terjadi selama periode laporan, antara lain: - nama pendiri Dana Pensiun dan mitra pendiri (jika ada),

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 18 Akuntansi Dana Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 18

Page 10 of 12

- kelompok karyawan yang menjadi peserta program pensiun, - jumlah peserta program pensiun dan jumlah pensiunan, - jenis program pensiun, - iuran yang berasal dari peserta, jika ada, - untuk PPMP, penjelasan mengenai manfaat pensiun yang dijanjikan, - penjelasan mengenai rencana penggabungan, pemisahan, pemindahan kelompok peserta dan pembubaran Dana Pensiun (jika besar kemungkinannya terjadi); (ii) penjelasan singkat mengenai kebijakan akuntansi yang penting, (iii) penjelasan mengenai kebijakan pendanaan, (iv) rincian portofolio investasi, dan (v) perhitungan kewajiban aktuaria, metode penilaian, asumsi aktuarial, nama dan tanggal laporan aktuaris terakhir (dalam hal PPMP).

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 18 AKUNTANSI DANA PENSIUN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 18 terdiri dari paragraf 24-31 Standar Ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1-23. Laporan Keuangan Dana Pensiun 24 Laporan keuangan Dana Pensiun, baik yang menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP) maupun Program Pensiun luran Pasti (PPIP) mencakup: (a) Laporan Aktiva Bersih (b) Laporan Perubahan Aktiva Bersih (c) Neraca (d) Perhitungan Hasil Usaha (e) Laporan Arus Kas (f) Catatan Atas Laporan Keuangan Laporan Aktiva Bersih 25 Laporan ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang jumlah aktiva bersih yang tersedia

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 18 Akuntansi Dana Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 18
untuk membayar kewajiban manfaat pensiun kepada peserta pada tanggal laporan.

Page 11 of 12

Total seluruh aktiva Dana Pensiun tidak termasuk piutang jasa lalu (past service) yang belum jatuh tempo, dikurangi seluruh kewajiban kecuali kewajiban aktuaria, menunjukkan jumlah aktiva bersih yang tersedia untuk manfaat pensiun pada tanggal laporan. Aktiva untuk tujuan penyusunan laporan ini, dinilai sesuai dengan penjelasan pada butir 28. Laporan Perubahan Aktiva Bersih 26 Laporan ini berisi informasi tentang perubahan atas jumlah aktiva bersih yang tersedia untuk manfaat pensiun, serta menguraikan penyebab perubahan tersebut yang diperinci atas pertambahan dan atau pengurangan yang terjadi selama suatu periode tertentu. Neraca, Perhitungan Hasil Usaha dan Laporan Arus Kas 27 Neraca, laporan hasil usaha dan laporan arus kas disusun berdasarkan Kerangka Dasar Penyusunan dan Pelaporan Laporan Keuangan yang berazas utama biaya historis. Khusus untuk investasi, ditentukan juga nilai wajarnya. Selisih antara nilai historis dan nilai wajar disajikan sebagai Selisih Penilaian Investasi. Selisih Penilaian Investasi bukan merupakan unsur hasil usaha, tetapi akan mengoreksi nilai historis menjadi nilai wajar. Untuk penyusunan laporan keuangan Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP, penentuan kewajiban aktuaria berdasarkan laporan aktuaris terakhir. Di dalam Neraca, selisih antara nilai kewajiban aktuaria dan aktiva bersih disajikan sebagai Selisih Kewajiban Aktuaria. Dalam Neraca Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP, piutang kepada pemberi kerja sehubungan dengan jasa masa lalu karyawan diakui sebesar jumlah yang telah jatuh tempo pada tanggal laporan. Penilaian Aktiva Dana Pensiun 28 Untuk tujuan penyusunan laporan aktiva bersih dan laporan perubahan aktiva bersih, aktiva dinilai sebagai berikut: (a) uang tunai, rekening giro dan deposito di bank dinilai menurut nilai nominal; (b) sertifikat deposito, Surat Berharga Bank Indonesia, Surat Berharga Pasar Uang dan surat pengakuan hutang lebih dari setahun dinilai berdasarkan nilai tunai; (c) surat berharga berupa saham dan obligasi yang diperjualbelikan di bursa efek, dinilai menurut nilai pasar yang wajar pada tanggal laporan; (d) penyertaan pada perusahaan yang sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek, dilaporkan berdasarkan nilai appraisal sebagai hasil penilaian independen; (e) investasi pada tanah dan bangunan dilaporkan berdasarkan nilai appraisal sebagai hasil penilaian independen; (f) piutang dilaporkan berdasarkan jumlah yang dapat ditagih, setelah memperhitungkan penyisihan piutang tak tertagih; dan (g) aktiva operasional antara lain komputer, peralatan kantor dan peralatan lainnya dilaporkan berdasarkan nilai buku.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 18 Akuntansi Dana Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 18

Page 12 of 12

Bila suatu aktiva, misalnya gedung digunakan sebagian untuk investasi dan sebagian untuk kegiatan operasional, maka penggolongan aktiva sebagai investasi atau aktiva operasional ditentukan berdasarkan yang mana yang lebih signifikan. Pengungkapan 29 Informasi tentang hal tersebut di bawah ini perlu diungkapkan secukupnya dalam catatan atas laporan keuangan, antara lain: (a) penjelasan mengenai program pensiun serta perubahan yang terjadi selama periode laporan, nama pendiri Dana Pensiun dan mitra pendiri (jika ada); - kelompok karyawan yang menjadi peserta program pensiun; - jumlah peserta program pensiun dan jumlah pensiunan; - jenis program pensiun; - iuran yang berasal dari peserta, jika ada; - untuk PPMP, penjelasan mengenai manfaat pensiun yang dijanjikan; - penjelasan mengenai rencana penggabungan, pemisahan, pemindahan kelompok peserta dan pembubaran Dana Pensiun (jika besar kemungkinannya terjadi); (b) penjelasan singkat mengenai kebijakan akuntansi yang penting, (c) penjelasan mengenai kebijakan pendanaan, (d) rincian portofolio investasi, (e) perhitungan kewajiban aktuaria, metode penilaian, asumsi aktuarial, nama dan tanggal laporan aktuaris terakhir (dalam hal PPMP). Masa Transisi 30 Jika penerapan Pernyataan ini mengakibatkan perubahan kebijakan akuntansi, perubahan tersebut dilaporkan secara prospektif. Tanggal Efektif 31 Pernyataan ini mulai berlaku untuk laporan keuangan Dana Pensiun yang mencakup periode yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini sangat dianjurkan .

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 18 Akuntansi Dana Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 19

Page 1 of 7

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 19 AKTIVA TAK BERWUJUD

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 19 tentang Aktiva Tak Berwujud disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN Tujuan Pernyataan ini mengatur pengungkapannya. Ruang Lingkup 01 Pernyataan ini tidak mengatur perlakuan akuntansi untuk: (a) biaya riset dan pengembangan; dan mengatur akuntansi untuk aktiva tak berwujud beserta

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 19 Aktiva tak Berwujud.htm

10/17/03

PSAK no 19

Page 2 of 7

(b) goodwill. Definisi 02 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Aktiva tak berwujud (in tangible asset) adalah aktiva tak lancar (noncurrent asset) dan tak berbentuk yang memberikan hak keekonomian dan hukum kepada pemiliknya dan dalam laporan keuangan tidak dicakup secara terpisah dalam klasifikasi aktiva yang lain. Salah satu karakteristik aktiva tak berwujud yang paling penting adalah tingkat ketidakpastian mengenai nilai dan manfaatnya di kemudian hari. Dalam banyak kasus, nilai aktiva tak berwujud berkisar antara nihil sampai dengan jumlah yang besar. Aktiva tak berwujud antara lain dapat berbentuk hak paten, hak cipta, franchise, merk dagang dan goodwill. PENJELASAN 03 Perlakuan akuntansi aktiva tak berwujud menyangkut masalah yang tidak berbeda dengan perlakuan akuntansi terhadap aktiva tetap, diantaranya adalah penentuan nilai perolehan, perlakuan akuntansi selanjutnya terhadap nilai perolehan tersebut dalam kondisi usaha normal (amortisasi), dan perlakuan akuntansi atas penurunan nilai aktiva tak berwujud yang material dan permanen. Kesulitan yang dihadapi dalam pemecahan masalah perlakuan akuntansi aktiva tak berwujud pada umumnya disebabkan oleh sifat aktiva tersebut, seperti tidak adanya wujud fisik yang menyebabkan bukti keberadaannya kabur, dan kesulitan dalam penentuan nilai perolehan serta masa manfaat keekonomiannya. 04 Aktiva tak berwujud dibedakan menurut sifat kekhususannya, masa manfaatnya, hubungannya dengan kegiatan usaha, dan penghapusannya. Dasar penggolongan aktiva tak berwujud adalah sebagai berikut: - Kemampuan untuk diidentifikasikan: dapat atau tidak dapat diidentifikasikan secara khusus. - Cara perolehan: diperoleh secara individual, secara kelompok, melalui penggabungan badan usaha atau dikembangkan sendiri. - Masa manfaat yang diharapkan: tergantung pada pembatasan yang diatur oleh hukum/perjanjian, pada faktor keekonomian atau manusia, atau pada jangka waktu yang tidak terbatas atau tidak dapat ditentukan di masa depan. - Kemampuan untuk dipisahkan dari keseluruhan perusahaan: hak yang dapat dialihkan tanpa bukti pemilikan, dapat dijual atau tidak dapat dipisahkan dari perusahaan atau dari bagian pokoknya. 05 Perusahaan harus mencatat nilai perolehan aktiva tak berwujud yang diperoleh dari individu atau badan usaha lain sebagai aktiva. Biaya pemeliharaan atau penyimpanan aktiva tak berwujud yang tidak dapat diidentifikasikan secara khusus, tidak dapat ditentukan masa manfaatnya/umurnya, atau tidak dapat dihindarkan dalam suatu kegiatan usaha harus dibebankan dalam laporan laba rugi periode yang bersangkutan. 06 Aktiva tak berwujud yang diperoleh harus dicatat sebesar harga perolehan pada tanggal akuisisi. Harga perolehan tersebut dinilai sebesar jumlah yang dibayar, nilai wajar dari aktiva lain yang diperoleh, nilai tunai dari kewajiban yang ada atau nilai wajar dari aktiva yang diterima untuk saham yang dikeluarkan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 19 Aktiva tak Berwujud.htm

10/17/03

PSAK no 19

Page 3 of 7

07 Aktiva tak berwujud yang diperoleh secara kelompok atau sebagai bagian dari perusahaan yang diakuisisi, harus dicatat sebesar harga perolehan pada tanggal akuisisi. Penilaian harga perolehan ini tergantung pada- apakah aktiva tak berwujud tersebut dapat diidentifikasikan secara khusus atau tidak. Harga perolehan aktiva tak berwujud yang dapat diidentifikasikan adalah sebagian dari harga perolehan sekelompok aktiva atau perusahaan yang diakuisisi yang biasanya ditentukan dari nilai wajar masing-masing aktiva tersebut. 08 Nilai aktiva tak berwujud pada akhirnya akan habis pada saat tertentu, sehingga harga perolehan aktiva tak berwujud harus diamortisasi secara sistematis selama taksiran masa manfaatnya dan tidak boleh dibebankan seluruhnya pada periode perolehan. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menaksir masa manfaat suatu aktiva tak berwujud adalah sebagai berikut: - Ketentuan hukum, peraturan, perjanjian yang membatasi masa manfaat maksimum. - Kemungkinan untuk memperbarui atau memperpanjang batas masa manfaat yang telah ditentukan. - Pengaruh keusangan, permintaan, persaingan dan faktor perubahan ekonomi dan teknologi yang mempengaruhi masa manfaat. - Prakiraan tindakan yang akan dilakukan oleh pesaing, pelaksana hukum/peraturan dan lainnya yang membatasi keunggulan dalam daya saing (competitive advantage). - Adanya suatu masa manfaat yang tidak terbatas, dan masa manfaat yang diharapkan tidak dapat ditaksir secara wajar. - Kemungkinan aktiva tak berwujud terdiri dari beberapa jenis/faktor yang mempunyai masa manfaat yang berbeda. Untuk menentukan masa manfaat aktiva tak berwujud secara wajar maka hal-hal tersebut di atas harus dianalisa terlebih dahulu. Taksiran masa manfaat yang wajar biasanya ditentukan dengan membuat batas atas dan batas bawah karena taksiran masa manfaat yang sesungguhnya sulit untuk ditentukan. 09 Periode amortisasi tidak boleh melebihi 20 (duapuluh) tahun berdasarkan pertimbangan bahwa dalam 20 (duapuluh) tahun sudah banyak perkembangan yang terjadi sehingga untuk tenggang waktu selebihnya aktiva tak berwujud diperkiraan tidak lagi memiliki manfaat keekonomian. Oleh karena itu, meskipun analisa pada saat perolehan suatu aktiva tak berwujud menunjukan masa manfaat yang melebihi 20 (duapuluh) tahun, periode amortisasi tidak boleh melebihi 20 (duapuluh) tahun. 10 Metode amortisasi aktiva tak berwujud adalah metode garis lurus (straight line method), kecuali jika ada metode lain yang lebih sesuai dengan kondisi perusahaan. Laporan keuangan harus mengungkapkan metode dan periode amortisasi yang digunakan. 11 Perusahaan harus mengevaluasi periode amortisasi aktiva tak berwujud secara teratur untuk memutuskan apakah peristiwa dan kondisi selanjutnya menuntut perubahan taksiran masa manfaat yang telah ditentukan. Jika taksiran masa manfaat berubah, maka jumlah harga perolehan yang belum diamortisasi harus dibebankan pada sisa masa manfaat yang baru, dengan syarat tidak boleh melebihi 20 (duapuluh) tahun dari tanggal perolehan. Taksiran nilai dan manfaat masa depan suatu aktiva tak berwujud yang belum diamortisasi tersebut harus dikurangi dengan jumlah tertentu sebagai beban usaha dalam laporan laba rugi periode yang bersangkutan. Meskipun demikian, kerugian pada satu atau beberapa tahun tertentu secara berurutan tidak

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 19 Aktiva tak Berwujud.htm

10/17/03

PSAK no 19

Page 4 of 7

dapat dijadikan alasan untuk membebankan semua atau sebagian harga perolehan aktiva tak berwujud yang belum diamortisasi sebagai pembebanan luar biasa pada periode yang bersangkutan. Jika ada pembebanan luar biasa, maka alasan pembebanannya harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 19 AKTIVA TAK BERWUJUD Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 19 terdiri dari paragraf 12 - 20. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1 -11. 12 Pengertian dan sifat aktiva tak berwujud: - Aktiva tak berwujud adalah aktiva tidak lancar (noncurrent atau capital asset) yang tidak berwujud dan nilainya tergantung pada hak-hak yang dinikmati pemiliknya. - Ciri khas aktiva tak berwujud yang paling utama adalah tingkat ketidakpastian mengenai nilai dan manfaatnya di kemudian hari. - Aktiva tak berwujud ada dan mempunyai nilai karena eksistensinya yang berkaitan dengan aktiva berwujud perusahaan . Perlakuan Akuntansi 13 Klasifikasi aktiva tak berwujud: - Aktiva tak berwujud dibedakan menurut sifat kekhususan, masa manfaat, metode amortisasi dan hubungannya dengan kegiatan usaha. - Berdasarkan eksistensinya, aktiva tak berwujud dapat dikelompokkan dalam 2 (dua) kategori: a. Aktiva tak berwujud yang eksistensinya dibatasi oleh ketentuan perundang-undangan, peraturan pemerintah, perjanjian yang dibuat antara para pihak atau sifat dari aktiva tersebut, misalnya hak paten, hak sewa, hak cipta, franchise yang terbatas, lisensi. b. Aktiva tak berwujud yang masa manfaatnya tidak terbatas dan tidak dapat dipastikan masa berakhir nya, misalnya merk dagang, proses dan formula rahasia, perpetual franchise, goodwill. 14 Penilaian aktiva tak berwujud tergantung pada tujuan pelaporan: - Kalau tujuannya adalah untuk mengukur dan melaporkan aktiva tak berwujud secara keseluruhan dalam rangka penggabungan usaha, maka biasanya digunakan cara dengan menilai perusahaan secara keseluruhan dan kemudian mengurangi jumlah tersebut dengan nilai aktiva lain yang dapat diukur secara langsung. Cara seperti ini sifatnya subyektif, kecuali kalau nilai perusahaan dapat ditentukan secara obyektif di bursa saham. - Kalau tujuannya untuk melaporkan aktiva tertentu, maka pengukuran secara independen akan lebih bermanfaat. 15 Perolehan aktiva tak berwujud: - Aktiva tak berwujud dapat diperoleh dengan cara membeli dari pihak luar atau dikembangkan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 19 Aktiva tak Berwujud.htm

10/17/03

PSAK no 19

Page 5 of 7

sendiri oleh perusahaan. Biaya yang terjadi sehubungan dengan aktiva tak berwujud yang dikembangkan sendiri dicatat sebagai beban usaha, kecuali aktiva tak berwujud tersebut dapat diidentifikasikan secara spesifik. - Perusahaan harus mencatat nilai perolehan aktiva tak berwujud yang diperoleh baik secara satuan maupun dari akuisisi perusahaan lain sebagai aktiva. - Biaya pemeliharaan, atau penyimpanan aktiva tak berwujud yang tidak dapat diidentifikasikan secara khusus, atau biaya yang tidak dapat dihindarkan dalam suatu kegiatan usaha dan merupakan bagian dari perusahaan secara keseluruhan, harus dibebankan dalam laporan laba rugi periode yang bersangkutan. 16 Harga perolehan aktiva tak berwujud: - Aktiva tak berwujud yang diperoleh secara satuan harus dicatat sebesar harga perolehan pada tanggal perolehannya. - Harga perolehan tersebut dinilai berdasarkan jumlah pembayaran yang dilakukan, nilai wajar dari aktiva lain yang diperoleh, nilai tunai dari kewajiban yang ada atau nilai wajar dari aktiva yang diterima untuk saham yang dikeluarkan . - Aktiva tak berwujud yang diperoleh secara kelompok atau sebagai bagian dari perusahaan yang diakuisisi, harus dicatat sebesar harga perolehan pada tanggal perolehannya. - Penilaian atas harga perolehan tergantung pada apakah aktiva tak berwujud tersebut dapat diidentifikasikan secara khusus atau tidak. - Harga perolehan aktiva tak berwujud yang dapat diidentifikasikan adalah merupakan bagian dari jumlah harga perolehan sekelompok aktiva dari perusahaan yang diakuisisi . - Harga perolehan aktiva tak berwujud yang dapat diidentifikasikan tidak boleh dimasukkan dalam goodwill. 17 Amortisasi aktiva tak berwujud: - Nilai aktiva tak berwujud pada akhirnya akan habis pada saat tertentu, sehingga harga perolehan aktiva tak berwujud harus diamortisasi secara sistematis selama taksiran masa manfaatnya. - Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menaksir masa manfaat suatu aktiva tak berwujud adalah sebagai berikut: a. Ketentuan hukum atau perjanjian yang membatasi masa manfaat maksimum. b. Kemungkinan untuk memperpanjang atau memperbaharui batas masa manfaat yang semula telah ditentukan. c. Pengaruh keusangan, permintaan, persaingan dan faktor keekonomian lain dapat mengurangi masa manfaat. d. Perkiraan tindakan yang akan dilakukan oleh saingan yang dapat mempengaruhi keunggulan komparatif perusahaan tersebut.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 19 Aktiva tak Berwujud.htm

10/17/03

PSAK no 19

Page 6 of 7

e. Adanya suatu masa manfaat yang tidak terbatas dan manfaat yang diharapkan tidak dapat ditaksir secara wajar. f. Suatu aktiva tak berwujud mungkin terdiri dari beberapa unsur yang mempunyai masa manfaat yang berbeda satu dengan yang lainnya. - Harga perolehan untuk setiap aktiva tak berwujud harus diamortisasi berdasarkan taksiran masa manfaat aktiva tersebut dan tidak boleh dibebankan seluruhnya pada periode perolehan. - Untuk menentukan masa manfaat aktiva tak berwujud secara wajar, hal-hal yang dikemukakan sebelumnya harus dianalisa terlebih dahulu. - Periode amortisasi tidak boleh melebihi 20 (dua puluh) tahun. Periode 20 tahun ditentukan berdasarkan pertimbangan bahwa dalam jangka waktu 20 tahun sudah banyak perkembangan yang terjadi sehingga setelah lewat waktu 20 tahun aktiva tak berwujud tersebut diperkirakan tidak ada manfaat keekonomiannya lagi. - Apabila analisa pada saat perolehan suatu aktiva tak berwujud dapat menunjukkan bahwa sesungguhnya aktiva tak berwujud tersebut mempunyai masa manfaat melebihi 20 (dua puluh) tahun, masa manfaat sebagai dasar amortisasi setinggi-tingginya adalah 20 (dua puluh) tahun. 18 Metode amortisasi: - Metode amortisasi aktiva tidak tetap berwujud adalah metode garis lurus (straight line), kecuali jika suatu perusahaan mempunyai metode lain yang lebih sesuai dengan, kondisi perusahaan yang bersangkutan. - Laporan keuangan harus mengungkapkan metode dan periode amortisasi aktiva tak berwujud yang digunakan. 19 Evaluasi atas amortisasi: - Perusahaan harus dapat mengevaluasi periode amortisasinya secara teratur untuk menentukan apakah peristiwa dan kondisi selanjutnya menuntut perubahan taksiran masa manfaat yang telah ditentukan tersebut. - Jika taksiran masa manfaat berubah, maka jumlah harga perolehan yang belum diamortisasi harus dibebankan pada sisa manfaat setelah kenaikan/penurunan masa manfaat tersebut dengan syarat jumlah masa manfaat tidak boleh melebihi 20 (dua puluh) tahun dari tanggal perolehan. - Taksiran nilai dan manfaat di masa akan datang atas suatu aktiva tak berwujud dapat menunjukkan bahwa nilai aktiva tak berwujud yang belum diamortisasikan tersebut harus dikurangi sejumlah tertentu (write-down) sebagai beban usaha dalam laporan laba rugi periode yang bersangkutan. - Kerugian pada satu atau beberapa tahun tertentu secara berurutan tidak dapat dijadikan alasan untuk membebankan semua atau sebagian harga perolehan yang belum diamortisasi sebagai pembebanan luar biasa, dan jika ada, harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Tanggal Efektif 20 Pernyataan ini mulai berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini sangat dianjurkan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 19 Aktiva tak Berwujud.htm

10/17/03

PSAK no 19

Page 7 of 7

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 19 Aktiva tak Berwujud.htm

10/17/03

PSAK no 20

Page 1 of 9

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 20 BIAYA RISET DAN PENGEMBANGAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 20 tentang Biaya Riset dan Pengembangan disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN Tujuan Tujuan Pernyataan ini adalah untuk mengatur perlakuan akuntansi untuk biaya riset dan pengembangan. Permasalahan pokok dalam akuntansi untuk biaya dari kegiatan riset dan pengembangan adalah apakah biaya seperti itu harus diakui sebagai aktiva atau beban. Pernyataan ini menggunakan kriteria pengakuan yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan untuk menentukan kapan biaya riset dan pengembangan harus diakui sebagai beban dan kapan harus diakui sebagai aset. Pernyataan ini juga menyediakan pedoman praktis untuk penerapan kriteria-kriteria tersebut. Ruang Lingkup

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 20 Biaya Riset dan Pengembangan.htm

10/17/03

PSAK no 20

Page 2 of 9

01 Pernyataan ini harus diterapkan pada akuntansi untuk biaya riset dan pengembangan. 02 Pernyataan ini tidak diterapkan pada biaya eksplorasi dan pengembangan cadangan minyak, gas, mineral, dan sumber daya alam lain dalam industri ekstraktif. Akan tetapi, Pernyataan ini berlaku untuk kegiatan riset dan pengembangan lain dalam industri tersebut. Kegiatan Riset dan Pengembangan untuk Kepentingan Pihak Lain Berdasarkan Kontrak 03 Suatu perusahaan mungkin melakukan kegiatan riset dan pengembangan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan kontrak. Bila substansi kontrak sedemikian rupa sehingga risiko dan manfaat dari kegiatan tersebut merupakan, atau akan dialihkan kepada pihak lain, maka biaya-biaya yang timbul dari kegiatan riset dan pengembangan tersebut diperlakukan sama dengan perlakuan terhadap persediaan atau kontrak konstruksi. Pemberi kerja yang menerima risiko dan manfaat sehubungan dengan biaya riset dan pengembangan ini mempertanggungjawabkan biaya yang terjadi sesuai dengan Pernyataan ini. 04 Bila substansi kontrak tersebut sedemikian rupa sehingga risiko dan manfaat yang diperoleh dari kegiatan riset dan pengembangan tersebut bukan merupakan, dan tidak akan, dialihkan kepada pihak lain, maka biaya yang timbul diperlakukan sesuai dengan Pernyataan ini. Faktorfaktor yang mengindikasikan risiko dan manfaat kegiatan riset dan pengembangan tidak dialihkan ke pihak lain meliputi: (a) perusahaan secara kontraktual diwajibkan untuk membayar kembali setiap dana yang diberikan oleh pihak lain, tanpa memperhatikan hasil dari kegiatan riset dan pengembangan tersebut; dan (b) walaupun kontrak tidak mengharuskan perusahaan untuk membayar kembali dana yang diberikan oleh pihak lain, namun pembayaran kembali dapat diharuskan sebagai opsi pihak lain tersebut atau kondisi yang ada menunjukkan pembayaran kembali tersebut besar kemungkinannya dilakukan . Definisi 05 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Riset adalah penelitian yang orisinal dan terencana yang dilaksanakan dengan harapan memperoleh pengetahuan dan pemahaman teknis atau ilmiah yang baru. Pengembangan adalah penerapan hasil riset atau pengetahuan lain ke dalam suatu rencana atau desain untuk menghasilkan, bahan, alat, produk, proses, sistem atau jasa, sebelum dimulainya produksi komersial atau pemakaian. 06 Walaupun hakekat kegiatan yang tercakup dalam riset dan pengembangan secara umum dapat dipahami, tetapi pada prakteknya sulit untuk mengidentifikasikannya secara khusus. Walaupun definisi tersebut di atas dapat membantu perusahaan, seringkali identifikasi kegiatan riset dan pengembangan tergantung pada jenis bisnis, bagaimana bisnis diorganisasi dan jenis proyek yang dilakukan. 07 Contoh kegiatan riset adalah: (a) kegiatan yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru; (b) penelitian lebih lanjut terhadap kemungkinan penerapan hasil riset atau pengetahuan lainnya;

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 20 Biaya Riset dan Pengembangan.htm

10/17/03

PSAK no 20

Page 3 of 9

(c) penelitian untuk menemukan alternatif produk dan proses; dan (d) formulasi dan desain kemungkinan alternatif-alternatif produk dan proses baru atau disempurnakan. 08 Contoh kegiatan pengembangan adalah: (a) evaluasi alternatif produk atau proses produksi; (b) rancangan, konstruksi, dan pengujian prototipe dan model sebelum diproduksi; (c) rancangan peralatan dan cetakan yang melibatkan teknologi baru; (d) rancangan, konstruksi dan operasi pabrik percontohan (pilot plant) yang skala ekonominya tidak layak untuk produksi komersial . 09 Contoh kegiatan yang mungkin berhubungan dekat dengan kegiatan riset dan pengembangan tetapi tidak merupakan kegiatan riset ataupun pengembangan antara lain: (a) penerapan rekayasa sepenuhnya dalam kegiatan produksi pada tahap awal produksi komersial; (b) kendali mutu selama produksi komersial, meliputi pengujian rutin terhadap hasil produksi; (c) perbaikan terhadap kerusakan yang terjadi selama produksi komersial; (d) usaha rutin untuk meningkatkan, memperkaya atau menyempurnakan kualitas produk yang telah ada; (e) penyesuaian dari kemampuan yang ada terhadap permintaan khusus atau kebutuhan pelanggan sebagai bagian dari kegiatan komersial ,yang berkesinambungan; (f) perubahan rancangan secara musiman ataupun periodik dari produk yang telah ada; (g) rancangan rutin dari peralatan dan cetakan; dan (h) kegiatan-kegiatan yang mencakup rekayasa konstruksi dan rancang bangun sehubungan dengan konstruksi, relokasi, pengaturan kembali, atau fasilitas permulaan yang digunakan (startup of facilities) dan peralatan selain fasilitas dan peralatan yang digunakan semata-mata untuk proyek riset dan pengembangan tertentu. (i) riset pasar.

PENJELASAN Komponen Biaya Riset dan Pengembangan 10 Biaya riset dan pengembangan harus mencakup semua biaya yang secara langsung dapat diatribusikan ke kegiatan riset dan pengembangan atau yang dapat dialokasikan menurut dasar yang wajar pada kegiatan tersebut.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 20 Biaya Riset dan Pengembangan.htm

10/17/03

PSAK no 20

Page 4 of 9

11 Biaya riset dan pengembangan meliputi: (a) upah, gaji dan biaya pegawai lainnya yang terlibat dalam kegiatan riset dan pengembangan; (b) biaya bahan dan jasa yang dikonsumsi dalam kegiatan riset dan pengembangan; (c) penyusutan properti, pabrik dan peralatan yang digunakan untuk kegiatan riset dan pengembangan; (d) biaya overhead, di luar biaya administrasi umum, yang berhubungan dengan kegiatan riset dan pengembangan. Biaya biaya ini dialokasikan dengan menggunakan dasar yang sama dengan yang digunakan pada persediaan (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No . 14 tentang Persediaan); dan (e) biaya-biaya lain, seperti amortisasi paten dan lisensi, bila aktiva-aktiva tersebut digunakan dalam kegiatan riset dan pengembangan. 12 Biaya penjualan tidak termasuk dalam biaya riset dan pengembangan. Pengakuan Biaya Riset dan Pengembangan 13 Alokasi biaya riset dan pengembangan pada periode yang berbeda ditentukan dengan melihat hubungan antara biaya dan manfaat keekonomian yang diharapkan perusahaan akan diperoleh dari kegiatan riset dan pengembangan tersebut. Bila besar kemungkinan biaya tersebut akan meningkatkan manfaat keekonomian masa depan dan biaya tersebut dapat diukur secara andal, maka biaya-biaya tersebut memenuhi syarat untuk diakui sebagai aktiva. Sifat riset adalah sedemikian rupa sehingga terdapat ketidakpastian (insufficient certainty) bahwa manfaat keekonomian masa depan akan direalisasi sebagai hasil dari pengeluaran riset tertentu. Oleh karena itu, biaya riset diakui sebagai beban dalam periode terjadinya. Kegiatan pengembangan merupakan tindak lanjut fase riset dalam kegiatan riset dan pengembangan. Dalam beberapa hal, perusahaan dapat menentukan probabilitas penerimaan manfaat keekonomian di masa mendatang. Oleh karena itu biaya pengembangan diakui sebagai aktiva bila memenuhi kriteria tertentu yang mengindikasikan bahwa besar kemungkinan biaya-biaya tersebut akan meningkatkan manfaat keekonomian masa depan. Biaya Riset 14 Biaya riset harus diakui sebagai beban dalam periode terjadinya dan tidak boleh diakui sebagai aktiva dalam periode berikutnya . Biaya Pengembangan 15 Biaya pengembangan suatu proyek diakui sebagai beban dalam periode terjadinya kecuali apabila dipenuhi kriteria untuk pengakuan sebagai aktiva sebagaimana dijelaskan pada paragraf 16. Biaya pengembangan yang semula telah diakui sebagai beban tidak boleh diakui sebagai aktiva dalam periode berikutnya . 16 Biaya pengembangan diakui sebagai aktiva bila memenuhi semua kriteria berikut: (a) produk atau proses didefinisikan dengan jelas dan biaya biaya yang dapat diatribusikan kepada produk atau proses dapat diidentifikasi secara terpisah dan diukur secara andal; (b) kelayakan teknis dari produk atau proses dapat ditunjukkan;

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 20 Biaya Riset dan Pengembangan.htm

10/17/03

PSAK no 20

Page 5 of 9

(c) perusahaan bermaksud untuk memproduksi dan memasarkan, atau menggunakan produk atau proses tersebut; (d) adanya pasar untuk produk atau proses tersebut, atau jika akan digunakan sendiri, kegunaannya untuk perusahaan dapat ditunjukkan. (e) terdapat sumber daya yang cukup, atau ketersediaannya dapat ditunjukkan, untuk menyelesaikan proyek dan memasarkan atau menggunakan produk atau proses tersebut. Biaya pengembangan suatu proyek yang diakui sebagai aktiva tidak boleh melebihi jumlah yang mungkin dipulihkan oleh manfaat keekonomian masa depan yang berhubungan, setelah dikurangi dengan biaya pengembangan lebih lanjut, biaya produksi yang bersangkutan, dan biaya penjualan dan administrasi yang terjadi secara langsung dalam memasarkan produk tersebut. 17 Biaya pengembangan suatu proyek dapat memenuhi definisi suatu aktiva, namun mungkin tidak memenuhi kriteria pengakuan aktiva karena terdapat ketidakpastian (insufficient certainty) bahwa manfaat keekonomian masa depan akan diperoleh perusahaan sebagai hasil dari biaya pengembangan. Dalam keadaan tersebut, biaya pengembangan diakui sebagai beban dalam periode terjadinya dan tidak diakui sebagai aktiva dalam periode berikutnya. 18 Manfaat keekonomian yang diharapkan diperoleh dari kegiatan pengembangan meliputi pendapatan dari penjualan produk atau proses, dan penghematan biaya atau manfaat lain yang diakibatkan dari penggunaan produk atau proses oleh perusahaan itu sendiri. Estimasi pendapatan dan penghematan biaya didasarkan pada harga dan biaya masa depan jika besar kemungkinan harga penjualan masa depan akan lebih rendah daripada yang harga yang lazim pada akhir periode, dan harga jual yang lebih rendah itu tidak akan sepenuhnya dikompensasi dengan tambahan penghematan biaya. Dalam hal sebaliknya, estimasi pendapatan dan penghematan biaya didasarkan pada harga atau kondisi yang lazim pada akhir periode. 19 Penerapan kriteria pengakuan aktiva dalam paragraf 16 melibatkan penilaian ketidakpastian yang melingkupi kegiatan pengembangan. Ketidakpastian tersebut diperhitungkan dengan hati-hati dalam membuat pertimbangan dan keputusan (judgement) sehubungan dengan penentuan jumlah biaya pengembangan untuk diakui sebagai aktiva. Penerapan prinsip kehati-hatian tidak boleh menyebabkan pengakuan aktiva yang secara sengaja diperendah (understatement). Amortisasi Biaya Pengembangan 20 Jumlah biaya pengembangan yang diakui sebagai aktiva harus diamortisasi dan diakui sebagai beban menurut dasar yang sistematik untuk mencerminkan pola di mana manfaat keekonomian yang berhubungan diakui. 21 Hubungan antara biaya pengembangan dan manfaat keekonomian yang diharapkan perusahaan biasanya dapat ditentukan secara umum dan tidak langsung karena sifat kegiatan pengembangan tersebut. Ketika mengamortisasi biaya pengembangan menurut dasar yang sistematis untuk mencerminkan pola dimana manfaat keekonomian yang berhubungan diakui, perusahaan memperhatikan: (a) pendapatan atau manfaat lain dari penjualan atau penggunaan produk atau proses; atau (b) jangka waktu selama produk atau proses diharapkan dijual atau digunakan. Amortisasi dimulai ketika produk atau proses tersedia untuk dijual atau digunakan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 20 Biaya Riset dan Pengembangan.htm

10/17/03

PSAK no 20

Page 6 of 9

22 Keusangan teknologi dan ekonomi menimbulkan ketidakpastian yang membatasi jumlah unit dan jangka waktu terhadap biaya pengembangan yang diamortisasi. Oleh karena itu, biasanya sulit untuk mengestimasi biaya selanjutnya dan pendapatan di masa depan dari produk atau proses yang baru dalam periode yang pendek. Dengan alasan tersebut, biaya pengembangan biasanya diamortisasi dalam periode yang tidak lebih dari lima tahun. 23 Dalam beberapa Keadaan, manfaat keekonomian yang diperoleh dari biaya pengembangan digunakan untuk memproduksi aktiva yang lain daripada suatu beban. Dalam hal ini, amortisasi biaya pengembangan mencakup bagian biaya aktiva lain dan dimasukkan dalam nilai tercatat dari aktiva lain tersebut. Misalnya, biaya pengembangan yang sebelumnya diakui sebagai aktiva mungkin termasuk dalam biaya pabrikasi persediaan. Biaya pengembangan yang termasuk dalam nilai tercatat aktiva lain dengan cara ini diakui sebagai beban pada saat yang sama dengan biaya lain dari aktiva tersebut. Penurunan Nilai (Impairment) Biaya Pengembangan 24 Biaya pengembangan suatu proyek harus diturunkan nilainya apabila saldo yang belum diamortisasi, tidak mungkin lagi akan dipulihkan dengan manfaat keekonomian masa depan yang diharapkan. Saldo yang belum diamortisasi dari biaya pengembangan suatu proyek harus dihapusbukukan segera setelah setiap kriteria dalam paragraf 16 untuk pengakuan biaya pengembangan sebagai aktiva tidak lagi dipenuhi. Jumlah penurunan nilai atau penghapusan tersebut harus diakui sebagai beban dalam periode di mana penurunan nilai atau penghapusan itu terjadi. 25 Saldo yang belum diamortisasi dari biaya pengembangan suatu proyek yang diakui sebagai aktiva ditelaah pada akhir setiap periode. Keadaan atau peristiwa sekarang mungkin mengindikasikan saldo yang belum diamortisasi tersebut, bersama -sama dengan biaya-biaya lain yang relevan, melebihi manfaat keekonomian masa depan yang relevan. Atau kemungkinan lain, saldo yang belum diamortisasi tersebut tidak lagi memenuhi kriteria pengakuan sebagai suatu aktiva. 26 Jumlah biaya pengembangan yang diturunkan nilainya atau dihapus-bukukan sesuai dengan paragraf 24 harus dipulihkan kembali bila tidak terdapat lagi keadaan dan peristiwa yang mendorong penurunan nilai atau penghapusan tersebut tidak lagi ada dan terdapat bukti yang meyakinkan bahwa keadaan dan peristiwa yang baru akan memperkokoh ramalan masa depan. Jumlah yang dipulihkan kembali dikurangi dengan jumlah yang seharusnya telah diakui sebagai amortisasi sebagaimana diatur dalam paragraf 20 seandainya penurunan nilai dan penghapusan tersebut tidak terjadi. Jumlah yang dipulihkan kembali tersebut harus dikompensasi dengan jumlah biaya pengembangan yang diakui sebagai beban untuk periode tersebut. 27 Jumlah penurunan nilai atau penghapusan yang dipulihkan kembali dikurangi dengan jumlah amortisasi yang seharusnya diakui sebagai beban selama periode dimana aktiva tersebut diturunkan nilainya atau dihapus-bukukan. Hal ini perlu dilakukan apabila misalnya perusahaan telah mengakui pendapatan atau manfaat lain dari penjualan atau penggunaan produk atau proses selama periode di mana aktiva diturunkan nilainya atau dihapus-bukukan. 28 Keadaan atau peristiwa yang mendorong penurunan nilai atau penghapusan biaya pengembangan seperti yang diatur dalam paragraf 25 mungkin berubah sehingga jumlah yang diturunkan nilainya {write-down) atau dihapus-bukukan (write-off) memenuhi syarat pengakuan sebagai aktiva kembali. Dalam hal ini, jumlah yang diturunkan nilainya atau dihapus-bukukan dipulihkan kembali. PengungKapan 29 Laporan keuangan harus mengungkapkan:

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 20 Biaya Riset dan Pengembangan.htm

10/17/03

PSAK no 20

Page 7 of 9

(a) kebijakan akuntansi untuk biaya riset dan pengembangan; (b) jumlah biaya riset dan pengembangan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan; (c) metode amortisasi yang digunakan; (d) masa manfaat atau tingkat amortisasi yang digunakan; dan (e) rekonsiliasi saldo biaya pengembangan yang belum di amortisasi pada awal dan akhir periode yang menunjukkan: (i) biaya pengembangan yang diakui sebagai aktiva sesuai dengan paragraf 16; (ii) biaya pengembangan yang diakui sebagai beban sesuai dengan paragraf 20 atau 24; (iii) biaya pengembangan yang dialokasikan ke akun aktiva lain; dan (iv) biaya pengembangan yang dipulihkan kembali sesuai dengan paragraf 26. 30 Perusahaan dianjurkan untuk memasukkan baik dilaporan keuangan atau di laporan tahunan; penjelasan tentang aktivitas riset dan pengembangan. Dianjurkan pula untuk mengungkapkan kondisi atau peristiwa yang menyebabkan pengakuan suatu biaya untuk penurunan biaya perolehan pengembangan terkait dengan paragraf 24 dan pemulihannya terkait pada paragraf 26. PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 20 BIAYA RISET DAN PENGEMBANGAN Pernyataan Pernyataan Akuntansi Keuangan No. 20 terdiri dari paragraf 31 - 40. Pernyataan ini harus dibaca dalam Konteks paragraf 1 - 30. Komponen Biaya Riset dan Pengembangan 31 Biaya riset dan pengembangan harus mencakupi semua biaya yang secara langsung dapat diatribusikan ke kegiatan riset dan pengembangan atau yang dapat dialokasikan menurut dasar yang wajar pada kegiatan tersebut. Pengakuan Biaya Riset dan Pengembangan 32 Biaya riset harus diakui sebagai beban dalam periode terjadinya dan tidak boleh diakui sebagai aktiva dalam periode berikutnya . 33 Biaya pengembangan suatu proyek diakui sebagai beban dalam periode terjadinya kecuali apabila dipenuhi kriteria untuk pengakuan sebagai aktiva sebagaimana dijelaskan pada paragraf 34. Biaya pengembangan yang semula telah diakui sebagai beban tidak boleh diakui sebagai aktiva dalam periode berikutnya . 34 Biaya pengembangan diakui sebagai aktiva bila memenuhi semua kriteria berikut: (a) produk atau proses didefinisikan dengan jelas dan biaya biaya yang dapat diatribusikan kepada produk atau proses dapat diidentifikasi secara terpisah dan diukur secara andal;

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 20 Biaya Riset dan Pengembangan.htm

10/17/03

PSAK no 20

Page 8 of 9

(b) kelayakan teknis dari produk atau proses dapat ditunjukkan; (c) perusahaan bermaksud untuk memproduksi dan memasarkan, atau menggunakan produk atau proses tersebut; (d) adanya pasar untuk produk atau proses tersebut, atau jika akan digunakan sendiri kegunaannya untuk perusahaan dapat ditunjukkan. (e) terdapat sumber daya yang cukup, atau ketersediaannya dapat ditunjukkan, untuk menyelesaikan proyek dan memasarkan atau menggunakan produk atau proses tersebut. Biaya pengembangan suatu proyek yang diakui sebagai aktiva tidak boleh melebihi jumlah yang mungkin dipulihkan oleh manfaat keekonomian masa depan yang berhubungan, setelah dikurangi dengan biaya pengembangan lebih lanjut, biaya produksi yang bersangkutan, dan biaya penjualan dan administrasi yang terjadi secara langsung dalam memasarkan produk tersebut. 35 Jumlah biaya pengembangan yang diakui sebagai aktiva harus diamortisasi dan diakui sebagai beban menurut dasar yang sistematik untuk mencerminkan pola di mana manfaat keekonomian yang berhubungan diakui. Penurunan Nilai (Impairment) Biaya Pengembangan 36 Biaya pengembangan suatu proyek harus diturunkan nilainya apabila saldo yang belum diamortisasi, tidak mungkin lagi akan dipulihkan dengan manfaat keekonomian masa depan yang diharapkan. Saldo yang belum diamortisasi dari biaya pengembangan suatu proyek harus dihapusbukukan segera setelah setiap kriteria dalam paragraf 34 untuk pengakuan biaya pengembangan sebagai aktiva tidak lagi dipenuhi. Jumlah penurunan nilai atau penghapusan tersebut harus diakui sebagai beban dalam periode di mana penurunan nilai atau penghapusan itu terjadi. 37 Jumlah biaya pengembangan yang diturunkan nilainya atau dihapus-bukukan sesuai dengan paragraf 36 harus dipulihkan kembali bila tidak terdapat lagi keadaan dan peristiwa yang mendorong penurunan nilai atau penghapusan tersebut tidak lagi ada dan terdapat bukti yang meyakinkan bahwa keadaan dan peristiwa yang baru akan memperkokoh ramalan masa depan. Jumlah yang dipulihkan kembali dikurangi dengan jumlah yang seharusnya telah diakui sebagai amortisasi sebagaimana diatur dalam paragraf 35 seandainya penurunan nilai dan penghapusan tersebut tidak terjadi. Jumlah yang dipulihkan kembali tersebut harus dikompensasi dengan jumlah biaya pengembangan yang diakui sebagai beban untuk periode tersebut. Pengungkapan 38 Laporan keuangan harus mengungkapkan: (a) kebijakan akuntansi untuk biaya riset dan pengembangan; (b) jumlah biaya riset dan pengembangan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan; (c) metode amortisasi yang digunakan; (d) masa manfaat atau tingkat amortisasi yang digunakan; dan (e) rekonsiliasi saldo biaya pengembangan yang belum di amortisasi pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 20 Biaya Riset dan Pengembangan.htm

10/17/03

PSAK no 20

Page 9 of 9

(i) biaya pengembangan yang diakui sebagai aktiva sesuai dengan paragraf 34; (ii) biaya pengembangan yang diakui sebagai beban sesuai dengan paragraf 35 atau 36; (iii) biaya pengembangan yang dialokasikan ke akun aktiva lain; dan (iv) biaya pengembangan yang dipulihkan kembali sesuai dengan paragraf 37. Masa Transisi 39 Bila penerapan Pernyataan ini mengakibatkan perubahan dalam kebijakan akuntansi, suatu perusahaan diharuskan untuk mengakui sebagai aktiva hanya biaya pengembangan yang terjadi setelah tanggal efektif Pernyataan ini dan memenuhi kriteria dalam paragraf 34. Tanggal Efektif 40 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini dianjurkan.

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 20 Biaya Riset dan Pengembangan.htm

10/17/03

PSAK no 21

Page 1 of 12

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 21 AKUNTANSI EKUITAS

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 21 tentang Akuntansi Ekuitas disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI PENDAHULUAN Tujuan Ruang Lingkup Definisi PENJELASAN Bentuk Hukum Perusahaan dan Ekuitas Klasifikasi Instrumen Keuangan Kewajiban Ekuitas PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN No 21 AKUNTANSI EKUITAS AKUNTANSI EKUITAS UNTUK BADAN USAHA BUKAN PT AKUNTANSI EKUITAS UNTUK BADAN USAHA BERBENTUK PT Unsur Penambah Modal Disetor PT Pencatatan Penambah Modal Disetor PT Pencatatan Pengurangan Modal Disetor PT

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 21 Akuntansi Ekuitas.htm

10/17/03

PSAK no 21
Penebusan/Penarikan Kembali Modal Saham PT Perolehan Kembali Saham Beredar dengan Cost Method Perolehan Kembali Saham Beredar dengan Par Value Method Perolehan Kembali Saham Sumbangan Dividen PT Bentuk Pembagian Dividen Dividen Saham Konversi Agio Menjadi Saham Penyajian dan Pengungkapan Penyajian Modal Penyajian dan Pengungkapan Saldo Laba Pengungkapan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca Pengungkapan per Jenis Saham Pengungkapan Kerugian PT 50% dari Modal Pengungkapan Kerugian PT 75% dari Modal Pengungkapan Dividen Pengungkapan Saham Beredar Yang Diperoleh Kembali Pengungkapan Bagian Lain Ekuitas Reorganisasi Selisih Penilaian Kembali Tanggal Efektif

Page 2 of 12

PENDAHULUAN
Tujuan Ekuitas sebagai bagian hak pemilik dalam perusahaan harus dilaporkan sedemikian rupa sehingga memberikan informasi mengenai sumbernya secara jelas dan disajikan sesuai dengan peraturan perundangan dan akta pendirian yang berlaku. go top Ruang Lingkup 01 Ruang lingkup ekuitas yang diatur disini adalah untuk 1. perusahaan BUMN, 2. perusahaan swasta, dan 3. koperasi sesuai UU-RI. go top Definisi 02 Ekuitas merupakan bagian hak pemilik dalam perusahaan yaitu selisih antara aktiva dan kewajiban yang ada, dan dengan demikian tidak merupakan ukuran nilai jual perusahaan tersebut. 03 Pada dasarnya ekuitas berasal dari investasi pemilik dan hasil usaha perusahaan. Ekuitas akan berkurang terutama dengan adanya penarikan kembali penyertaan oleh pemilik, pembagian keuntungan atau karena kerugian.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 21 Akuntansi Ekuitas.htm

10/17/03

PSAK no 21

Page 3 of 12

04 Ekuitas terdiri atas setoran pemilik yang seringkali disebut modal atau simpanan pokok anggota untuk badan hukum koperasi, saldo laba, dan unsur lain. go top

PENJELASAN
Bentuk Hukum Perusahaan dan Ekuitas 05 Bentuk hukum perusahaan dan ekuitas adalah sebagai berikut: 1. Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/D) Ditinjau dari bentuk hukum dan ekuitas, BUMN/D dapat dibedakan menjadi: a. Perusahaan Jawatan (Perjan) Sebagai BUMN, modal Perusahaan Jawatan tidak terpisahkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). b. Perusahaan Umum (Perum) Sebagai BUMN, modal Perusahaan Umum yang disetor merupakan kekayaan negara yang dipisahkan dari APBN dan tidak terdiri atas saham. Dari sudut akuntansi ekuitas, kecuali modal yang tidak terdiri dari saham, pada prinsipnya cara pengklasifikasian dan penyajian adalah sama dengan PT (Persero). c. PT (Persero) PT (Persero) adalah BUMN berbentuk perseroan terbatas yang mayoritas sahamnya dimiliki negara. Dari sudut akuntansi ekuitas, tidak ada perbedaan antara suatu PT (Persero) dengan Perseroan Terbatas. d. Disamping BUMN tersebut di atas, terdapat Perusahaan Negara (PN) yang secara khusus dibentuk berdasarkan suatu peraturan perundangan pendirian, yang di dalamnya mengatur juga mengenai modal. e. Modal suatu Perusahaan Daerah adalah kekayaan yang terpisah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah . 2. Perusahaan Swasta Ditinjau dari sudut bentuk hukum dan ekuitas, perusahaan swasta dapat berbentuk: a. Perusahaan Perorangan Perusahaan Perorangan bukan suatu badan hukum, dan modalnya tidak terbagi atas saham. Harta kekayaan pribadi pemilik perusahaan terikat pada hutang piutang usaha perorangan. b. Persekutuan Perdata Persekutuan Perdata bukan suatu badan hukum, dan modalnya tidak terdiri atas saham. c. Firma Modal Firma tidak terbagi atas saham dan para anggota Firma bertanggungjawab renteng atas kewajiban Firma sebagai suatu persekutuan orang. d. Commanditaire Vennootschap (C.V.) Modal suatu persekutuan C.V. harus dipisahkan antara Modal Pesero Aktif dan Modal Pesero Komanditer. Pesero aktif adalah pesero yang bertindak aktif sebagai pengurus C.V. Pesero Komanditer adalah pesero tidak aktif sebagai pengurus C.V. dan hanya bertanggung-jawab sebatas modal C.V. yang menjadi bagiannya. e. Perseroan Terbatas (PT) Modal Perseroan Terbatas terdiri atas saham. Tanggung jawab persero terbatas pada jumlah modal saham yang disetor apabila PT telah disahkan Menteri Kehakiman. 3. Koperasi Koperasi adalah badan hukum. Modal pokok koperasi adalah simpanan pokok anggota, mirip saham atas nama, tak dapat dipindahtangankan dan dapat diambil kembali bila anggota keluar dari keanggotaan koperasi. Ekuitas koperasi atau kekayaan bersih koperasi adalah

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 21 Akuntansi Ekuitas.htm

10/17/03

PSAK no 21

Page 4 of 12

simpanan pokok, simpanan lain, pinjaman-pinjaman, penyisihan hasil usaha termasuk cadangan. go top
Klasifikasi Instrumen Keuangan

Kewajiban 06 Klasifikasi instrumen keuangan ditentukan berdasarkan substansi pengakuan awal transaksi (contractual arrangement on initial recognition). Apabila pada awal transaksi penyerahan suatu instrumen keuangan mengandung kewajiban kontraktual untuk menyerahkan uang tunai atau sejenisnya di masa yang akan datang, maka instrumen keuangan tersebut digolongkan sebagai kewajiban . Ekuitas 07 Apabila pemegang instrumen keuangan tak mempunyai hak keuangan masa depan pada penerbit instrumen, namun berhak secara proporsional atas dividen atau distribusi berlandas ekuitas, maka instrumen tersebut digolongkan sebagai ekuitas. Instrumen keuangan yang tak mengandung pemaksaan pelaksanaan kewajiban keuangan pada saat perusahaan dalam kondisi kurang menggembirakan, digolongkan sebagai instrumen ekuitas. 08 Instrumen keuangan yang tergolong bukan kelompok kewajiban dikelompokkan di bawah judul Ekuitas. go top

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 21 AKUNTANSI EKUITAS


Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 21 terdiri dari Paragraf 9-45. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1-8. 09 Ekuitas sebagai bagian hak pemilik dalam perusahaan harus dilaporkan sedemikian rupa sehingga memberikan informasi mengenai sumbernya secara jelas dan disajikan sesuai dengan peraturan perundangan dan akta pendirian yang berlaku. Pada pokoknya, pengungkapan unsur ekuitas diharapkan secara jelas mengelompokkan modal disetor, saldo laba, selisih penilaian kembali aktiva tetap, dan modal sumbangan. Rincian tiap kelompok diperkenankan, selama tak bertentangan dengan Pernyataan ini. go top

AKUNTANSI EKUITAS UNTUK BADAN USAHA BUKAN PT


10 Akuntansi untuk ekuitas Badan Usaha bukan PT harus dilaporkan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku untuk badan usaha tersebut dan standar akuntansi keuangan yang berlaku khusus untuk industri yang bersangkutan, misalnya Koperasi.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 21 Akuntansi Ekuitas.htm

10/17/03

PSAK no 21

Page 5 of 12

go top

AKUNTANSI EKUITAS UNTUK BADAN USAHA BERBENTUK PT


11 Modal saham meliputi saham preferen, saham biasa dan akun Tambahan Modal Disetor. Pos modal lainnya seperti modal yang berasal dari sumbangan dapat disajikan sebagai bagian dari tambahan modal disetor. go top Unsur Penambahan Modal Disetor PT 12 Akun Tambahan Modal Disetor terdiri dari berbagai macam unsur penambah modal, seperti; agio saham, tambahan modal dari perolehan kembali saham dengan harga yang lebih rendah dari pada jumlah yang diterima pada saat pengeluaran, tambahan modal dari penjualan saham yang diperoleh kembali dengan harga di atas jumlah yang dibayarkan pada saat perolehannya, tambahan modal dari perbedaan kurs modal disetor dan lain sebagainya . Akun Tambahan Modal Disetor tidak boleh didebit atau dikredit dengan pos laba/rugi usaha maupun laba/rugi luar biasa . go top Pencatatan Penambahan Modal Disetor PT 13 Penambahan modal disetor dicatat berdasarkan: a. Jumlah uang yang diterima. b. Setoran saham dalam bentuk uang, sesuai transaksi nyata. Untuk jenis saham yang diatur dalam bentuk Rupiah dalam akta pendirian, setoran saham tunai dalam bentuk mata uang asing dinilai dengan kurs berlaku tanggal setoran. Untuk jenis saham yang diatur dalam mata uang asing dalam akta pendiriannya, setoran tunai baik Rupiah atau mata uang asing lain harus dikonversi ke mata uang asing dalam akta pendirian sesuai kurs resmi yang berlaku pada tanggal setoran, kecuali akta pendirian atau keputusan Pemerintah menentukan kurs tetap. Selisih kurs mata uang asing yang timbul sehubungan dengan transaksi modal, harus dibukukan sebagai bagian dari modal dalam akun Selisih Kurs atas Modal Disetor dan bukan merupakan unsur laba rugi. c. Besarnya tagihan yang timbul atau hutang yang dikonversi menjadi modal. d. Setoran saham dalam dividen saham dilakukan dengan harga wajar saham, yaitu harga pasar tanggal transaksi untuk PT yang sahamnya terdaftar di Bursa Efek, atau nilai wajar yang disepakati Rapat Umum Pemegang Saham untuk saham yang tidak ada harga pasarnya. e. Nilai wajar aktiva bukan kas yang diterima. f. Setoran saham dalam bentuk barang (inbreng), menggunakan nilai wajar aktiva bukan kas yang diserahkan, yaitu nilai appraisal tanggal transaksi yang disetujui Dewan Komisaris untuk PT yang sahamnya terdaftar di Bursa Efek, atau nilai kesepakatan Dewan Komisaris dan penyetor bentuk barang. go top Pencatatan Pengurangan Modal Disetor PT 14 Pengurangan modal disetor lazimnya dicatat berdasarkan:

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 21 Akuntansi Ekuitas.htm

10/17/03

PSAK no 21

Page 6 of 12

a. jumlah uang yang dibayarkan; atau b. besarnya hutang yang timbul; atau c. nilai wajar aktiva bukan kas yang diserahkan. 15 Pengeluaran saham dicatat sebesar nilai nominal yang bersangkutan. Bila jumlah yang diterima dari pengeluaran saham tersebut lebih besar dari pada nilai nominalnya, selisih yang terjadi dibukukan pada akun Agio Saham. 16 Bila ketentuan hukum yang ada memungkinkan penarikan kembali saham yang telah dikeluarkan, maka pencatatan transaksi ini dilakukan dengan mendebet akun Modal Saham dan mengkredit Modal Saham Yang Diperoleh Kembali sebesar jumlah yang dibukukan pada saat perolehan kembali saham yang bersangkutan. 17 Saham yang dikeluarkan sehubungan dengan penyertaan modal dalam bentuk penyerahan aktiva bukan kas atau pemberian jasa umumnya dinilai sebesar nilai wajar aktiva/jasa tersebut atau nilai wajar saham yang bersangkutan, tergantung mana yang lebih jelas. go top Penebusan/Penarikan Kembali Modal Saham PT Perolehan Kembali Saham Beredar dengan Cost Method 18 Jika perusahaan memperoleh kembali saham yang telah dikeluarkan, selisih antara jumlah yang dibayarkan pada saat perolehan kembali dengan jumlah yang diterima pada saat pengeluaran saham tidak diakui sebagai laba atau rugi perusahaan. Perolehan kembali saham yang telah dikeluarkan dapat dicatat dengan menggunakan cost atau par value method. Dengan cost method, saham yang diperoleh kembali dicatat sebesar harga perolehan kembali dan disajikan sebagai pengurang atas jumlah modal. 19 Saham yang dibeli kembali dicatat sesuai harga perolehan kembali, disajikan sebagai pengurang akun Modal Saham, untuk saham sejenis, disajikan dalam jumlah lembar dan nilai nominal. Kemudian, selisih harga perolehan kembali dengan nilai nominal disajikan sebagai pengurang atau penambah akun Agio Saham, disajikan per jenis saham dan Rupiah, dengan judul Tambahan (Pengurang) Agio Modal Dari Perolehan Kembali Saham. Apabila agio saham menjadi defisit (disagio) karena transaksi perolehan kembali, defisit tersebut dibebankan pada saldo laba. go top Perolehan Kembali Saham Beredar dengan Par Value Method 20 Metode nilai nominal atau par value method lazimnya digunakan dalam hal saham yang diperoleh kembali tersebut akan dikeluarkan lagi dikemudian hari. Dengan metode nilai nominal (par value method), saham yang diperoleh kembali dicatat sebesar nilai nominal saham yang bersangkutan dan disajikan sebagai pengurang akun Modal Saham. Apabila saham yang diperoleh kembali tersebut semula dikeluarkan dengan harga di atas pari, akun Agio Saham akan didebit dengan agio saham yang bersangkutan. Dalam hal jumlah yang dibayarkan lebih besar dari pada jumlah yang diterima pada saat pengeluarannya, selisih tersebut dibukukan dengan mendebet akun Saldo Laba. Sebaliknya bila jumlah yang dibayarkan lebih kecil, selisihnya dianggap sebagai unsur penambah modal dan dibukukan dengan mengkredit akun Tambahan Modal dari Perolehan Kembali Saham. Metode ini

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 21 Akuntansi Ekuitas.htm

10/17/03

PSAK no 21
lazimnya digunakan bila perolehan kembali dilakukan dalam rangka penarikan saham. go top Perolehan Kembali Saham Sumbangan

Page 7 of 12

21 Saham yang diperoleh kembali dari sumbangan lazimnya dicatat sebesar jumlah yang diterima pada saat pengeluarannya dengan mendebet akun Modal Saham Yang Diperoleh Kembali dan mengkredit akun Modal Yang Berasal Dari Sumbangan. Pada saat saham tersebut dijual kembali, selisih antara jumlah yang tercatat dengan harga jualnya ditambahkan pada akun Modal Yang Berasal Dari Sumbangan. go top Dividen PT Bentuk Pembagian Dividen 22 Kewajiban perusahaan untuk membagi dividen timbul pada saat deklarasi dividen, dan dengan demikian pada saat tersebut saldo laba akan dibebani dengan jumlah dividen termaksud. Kewajiban yang timbul lazimnya disajikan dalam kelompok kewajiban lancar. Bila dividen dibagikan dalam bentuk aktiva bukan kas, maka saldo laba akan didebit sebesar nilai wajar aktiva yang diserahkan. Dasar pencatatan untuk pembagian dividen dalam bentuk aktiva bukan kas dan saham harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. go top Dividen Saham 23 Pembagian dividen termasuk dividen saham berasal dari saldo laba. Pembagian dividen saham adalah pembagian saldo laba kepada pemegang saham, yang diinvestasikan kembali oleh mereka dalam bentuk modal disetor. Pembagian dividen saham dicatat berdasarkan nilai wajar saham. Termasuk dalam pengertian nilai wajar adalah harga pasar saham PT yang sahamnya terdaftar di Bursa Efek atau harga sesuai peraturan dalam Akta Pendirian PT yang sahamnya tidak terdaftar di Bursa Efek, dengan syarat telah disetujui Rapat Umum Pemegang Saham serta tak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku. go top Konversi Agio Menjadi Saham 24 Konversi agio menjadi saham digolongkan sebagai Modal Disetor sebesar nilai nominal. Konversi agio menjadi saham tak boleh digolongkan sebagai pembagian dividen. go top Penyajian dan Pengungkapan Penyajian Modal

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 21 Akuntansi Ekuitas.htm

10/17/03

PSAK no 21

Page 8 of 12

25 Penyajian modal dalam neraca harus dilakukan sesuai dengan ketentuan pada akta pendirian perusahaan dan peraturan yang berlaku serta menggambarkan hubungan keuangan yang ada. 26 Modal dasar, modal yang ditempatkan dan modal yang disetor, nilai nominal dan banyaknya saham untuk setiap jenis saham harus dinyatakan dalam neraca. 27 Bila terdapat lebih dari satu jenis saham, hak preferen dari suatu golongan saham atas dividen dan pelunasan modal pada saat likuidasi harus dicantumkan dalam laporan keuangan. 28 Dalam hal terdapat tunggakan dividen atas saham preferen dengan hak dividen kumulatif, jumlah tunggakan tiap saham dan jumlah keseluruhan dividen periode sebelumnya harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. 29 Perubahan atas modal yang ditanam dalam tahun berjalan harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. 30 Modal disajikan dalam neraca setelah kewajiban. Bentuk penyajiannya sesuai Akta Pendirian Badan Usaha tersebut, misalnya: saham adalah penyertaan modal dalam kepemilikan Perseroan Terbatas. 31 Pada perusahaan yang terdaftar pada bursa efek, saham dapat ditempatkan dengan dasar pesanan. Dengan dasar ini saham hanya akan dikeluarkan jika pemesan telah membayar penuh harga saham yang bersangkutan. Pesanan saham dicatat dengan mendebet akun Piutang Kepada Pemesan Saham dan mengkredit akun Modal Saham Yang Dipesan. Akun Modal Saham Yang Dipesan disajikan dalam kelompok modal di bawah akun Modal Saham. Akun Piutang kepada Pemesan Saham sebesar sisa harga saham yang belum dilunasi dalam transaksi semacam ini lazimnya disajikan dalam kelompok aktiva lancar. Apabila piutang ini tidak dimaksudkan untuk ditagih dalam waktu dekat, akun ini dapat disajikan dalam kelompok mengurangi akun Modal Saham Yang Dipesan. Pada saat harga saham sudah dibayar penuh, akun Modal Saham Yang Dipesan akan didebit dan akun Modal Saham dikredit. Dalam hal pemesan gagal melunasi sisa pembayarannya, maka tergantung pada kebijakan perusahaan dan dilandaskan pada peraturan hukum yang berlaku, perusahaan dapat mengambil salah satu tindakan di bawah ini: a. mengembalikan jumlah pembayaran yang telah dilakukan; b. mengembalikan jumlah pembayaran yang telah dilakukan dikurangi dengan jumlah tertentu; c. jumlah pembayaran yang telah dilakukan diakui sebagai unsur penambah modal dan disajikan sebagai tambahan modal dari pembatalan penjualan saham; d. mengeluarkan saham yang sebanding dengan jumlah pembayaran yang telah dilakukan. go top Penyajian dan Pengungkapan Saldo Laba 32 Saldo laba menunjukkan akumulasi hasil usaha periodik setelah memperhitungkan pembagian dividen dan koreksi laba-rugi periode lalu. Akun ini harus dinyatakan terpisah dari akun Modal Saham. Seluruh saldo laba dianggap bebas untuk dibagikan sebagai dividen, kecuali jika diberikan indikasi mengenai pembatasan terhadap saldo laba, misalnya; dicadangkan untuk perluasan pabrik, atau untuk memenuhi ketentuan Undang-Undang maupun ikatan tertentu.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 21 Akuntansi Ekuitas.htm

10/17/03

PSAK no 21

Page 9 of 12

Saldo laba yang tidak tersedia untuk dibagikan sebagai dividen karena pembatasan-pembatasan tersebut, dilaporkan dalam akun tersendiri yang menggambarkan tujuan pencadangan termaksud; pembatasan-pembatasan yang ada harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. 33 Saldo laba tidak boleh dibebani atau dikredit dengan pos-pos yang seharusnya diperhitungkan pada laporan laba rugi tahun berjalan. 34 Pengungkapan saldo laba harus meliputi: a. Pengungkapan penjatahan (apropriasi) dan pemisahan saldo laba, menjelaskan jenis penjatahan dan pemisahan, tujuan penjatahan dan pemisahan saldo laba, serta jumlahnya. Perubahan akun-akun penjatahan atau pemisahan saldo laba, harus pula diungkapkan. b. Peraturan, perikatan, batasan dan jumlah batasan di sekitar saldo laba, harus diungkapkan. Misalnya, selama perjanjian kredit berlangsung, perusahaan tak diizinkan membagi saldo laba tanpa seijin kreditur. c. Perubahan saldo laba karena penggabungan usaha dengan metode penyatuan kepentingan (pooling of interests). d. Koreksi masa lalu, baik bruto maupun neto setelah pajak. Pengungkapan harus dilakukan dengan penjelasan bentuk kesalahan laporan keuangan terdahulu, dampak koreksi terhadap laba usaha, laba bersih dan nilai saham perlembar. e. Pengungkapan jumlah dividen dan dividen per lembar saham, pengungkapan keterbatasan saldo laba tersedia bagi dividen. f. Tunggakan dividen, baik jumlah maupun tunggakan perlembar saham. g. Pengungkapan deklarasi dividen setelah tanggal neraca, sebelum tanggal penerbitan laporan keuangan. h. Pengungkapan dividen saham dan pecah-saham, pengungkapan jumlah yang dikapitalisasi dan saji ulang laba persaham (EPS) agar laporan keuangan berdaya banding. go top Pengungkapan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca 35 Kewajiban pengungkapan kejadian penting setelah tanggal laporan keuangan dalam catatan atas laporan keuangan, seperti penjualan saham besar-besaran, deklarasi dividen setelah tanggal neraca sebelum tanggal Pendapat Akuntan Independen, rekapitalisasi dan transaksi modal yang lain. go top Pengungkapan Per Jenis Saham 36 Informasi tiap jenis saham harus diungkap terpisah dalam catatan atas laporan keuangan, meliputi:
l l l l l

modal dasar; modal ditempatkan atau dipesan belum disetor; modal disetor; harga pari, harga nominal per lembar; perubahan lembar saham tiap jenis saham dan saldo nilai Rupiah per jenis saham selama periode akuntansi; hak istimewa atau hak mendahului;

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 21 Akuntansi Ekuitas.htm

10/17/03

PSAK no 21
l l

Page 10 of 12

batasan khusus; dan penjelasan bila dapat konversi, tarif konversi.

go top Pengungkapan Kerugian PT 50 % dari Modal 37 Apabila perseroan menderita kerugian sebesar lima puluh persen dari modalnya, kewajiban untuk diumumkan dalam register kepaniteraan Pengadilan Negeri dan dalam Berita Negara, diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan, selama Undang-Undang yang terkait masih berlaku. go top Pengungkapan Kerugian PT 75 % dari Modal 38 Apabila perseroan mencapai akumulasi kerugian sebesar tujuh puluh lima persen dari modal, penjelasan bahwa demi hukum PT tersebut bubar, diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan, selama Undang-Undang yang terkait masih berlaku. 39 Bila persyaratan modal minimum yang ditentukan oleh peraturan perundangan yang berlaku atau akta pendirian tidak atau belum dipenuhi, maka harus diungkapkan. Misalnya batas minimum modal disetor dan jumlah pemegang saham PT yang sahamnya terdaftar di Bursa Efek. go top Pengungkapan Dividen 40 Pengungkapan dividen meliputi:
l l l l l l l

l l

jumlah dividen; dividen per lembar saham; bentuk dividen; batasan saldo laba minimum dalam kaitan dengan ketersediaan dividen; hutang dividen; hutang dividen per lembar saham; pengumuman pembagian dividen, setelah tanggal neraca, sebelum tanggal Pendapat Akuntan Independen; jumlah kapitalisasi dividen saham dan pecah-saham, perlembar dan jumlah keseluruhan; dan laba per saham perlu disaji ulang (restated) berdasarkan jumlah saham yang setara setelah pecah-saham agar dapat diperbandingkan.

go top Pengungkapan Saham Beredar Yang Diperoleh Kembali 41 Pengungkapan saham beredar yang diperoleh kembali meliputi:
l

Saham beredar yang diperoleh kembali, metode cost, disajikan sebagai pengurang jumlah

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 21 Akuntansi Ekuitas.htm

10/17/03

PSAK no 21

Page 11 of 12

Modal. Lembar saham yang diperoleh kembali dan dipegang perusahaan harus diungkapkan. Saham beredar yang diperoleh kembali, metode nilai pari (par value), sebagai pengurang saham beredar (yaitu modal disetor) sejenis. Selisih nilai perolehan kembali dan nilai pari dijumlahkan atau dikurangkan pada Agio Saham sejenis. Lembar saham yang diperoleh kembali dan dipegang perusahaan harus diungkapkan.

go top Pengungkapan Bagian Lain Ekuitas 42 Pengungkapan bagian lain Ekuitas (seperti saldo laba, agio, selisih penilaian kembali aktiva tetap dan cadangan) harus dilakukan secara terpisah, meliputi:
l l

perubahan selama periode akuntansi; dan batasan distribusi.

go top Reorganisasi 43 Kuasi reorganisasi merupakan prosedur penataan kembali ekuitas yang dilakukan dalam hal perusahaan menderita kerugian terus menerus dan terdapat defisit dalam jumlah yang sangat material. Tindakan ini harus didasarkan atas keputusan formal para pemegang saham. Dengan kuasi reorganisasi, perusahaan menyelenggarakan dasar pembukuan baru yang membukukan aktiva tertentu sebesar nilai wajar yang lebih rendah dari nilai bukunya dengan mendebet akun Defisit dan menurunkan nilai nominal saham. Penyesuaian ekuitas berkenaan dengan tindakan termaksud harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. go top Selisih Penilaian Kembali 44 Sesuai Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.16 tentang Aktiva Tetap dan Aktiva Lainlain, penilaian atau revaluasi aktiva tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena Standar Akuntansi Keuangan menganut penilaian berdasarkan harga perolehan. Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah. Dalam hal ini laporan keuangan harus menjelaskan penyimpangan dari konsep harga perolehan di dalam penyajian aktiva tetap serta pengaruh penyimpangan tersebut terhadap gambaran keuangan perusahaan. Selisih antara nilai revaluasi dengan nilai buku (nilai tercatat) aktiva tetap dibukukan dalam kelompok modal di antara tambahan modal disetor dan saldo laba dengan nama akun Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap. go top Tanggal Efektif 45 Pernyataan ini mulai berlaku untuk penyusunan laporan keuangan yang mencakupi periode yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini sangat dianjurkan. go top

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 21 Akuntansi Ekuitas.htm

10/17/03

PSAK no 21

Page 12 of 12

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 21 Akuntansi Ekuitas.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 1 of 21

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 22 AKUNTANSI PENGGABUNGAN USAHA

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 22 tentang Akuntansi Penggabungan Usaha disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI PENDAHULUAN Tujuan Ruang Lingkup Definisi PENJELASAN Sifat dari Penggabungan Usaha Akuisisi (Acquisition) Reverse Acquisition Penyatuan Kepemilikan (Uniting of Interest) Akuisisi (Acquisition) Akuntansi untuk Akuisisi Tanggal Akuisisi Biaya perolehan (Cost of Acquisition) Pengakuan Aktiva dan Kewajiban Teridentifikasi Alokasi Biaya Perolehan (Allocation of Cost of Acquisition)

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22
Pembelian Saham Secara Bertahap (Successive Share Purchases) Penentuan Nilai Wajar Aktiva dan Kewajiban yang Diakuisisi Goodwill yang Timbul dari Suatu Akuisisi Goodwill Negatif yang Timbul dari Akuisisi Penyesuaian atas Harga Beli (Purchase Consideration) tergantung pada Peristiwa Mendatang Perubahan Kemudian pada Biaya Perolehan (Acquisition Cost) Identifikasi Kemudian atau Perubahan Nilai aktiva dan Kewajiban Penyatuan Kepemilikan Pengungkapan PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO.22 AKUNTANSI PENGGABUNGAN USAHA Akuisisi Penyatuan Kepemilikan Pengungkapan Masa Transisi Tanggal Efektif

Page 2 of 21

PENDAHULUAN Tujuan Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi untuk penggabungan usaha (business combination). Pernyataan ini mengatur akuisisi (acquisition) suatu perusahaan oleh perusahaan lainnya dan juga penyatuan kepemilikan (uniting/pooling of interest) apabila pengakuisisi tidak dapat diidentifikasi. Akuntansi untuk akuisisi mencakup penentuan biaya perolehan (cost of acquisition), alokasi biaya perolehan (cost) pada aktiva dan kewajiban dari perusahaan yang diakuisisi, dan akuntansi untuk goodwill yang timbul pada saat dan setelah akuisisi. Masalah akuntansi lain sehubungan dengan penggabungan usaha adalah penentuan jumlah kepemilikan minoritas, akuntansi untuk serangkaian akuisisi selama suatu periode tertentu, perubahan yang terjadi atas biaya perolehan, identifikasi terhadap aktiva dan kewajiban, dan pengungkapan yang diperlukan. Ruang Lingkup 01 Pernyataan ini harus diterapkan dalam akuntansi penggabungan usaha (business combinations). 02 Penggabungan usaha dapat dilakukan dengan berbagai cara yang didasarkan pada pertimbangan hukum, perpajakan atau alasan lainnya. Penggabungan usaha dapat berupa pembelian saham suatu perusahaan oleh perusahaan lain atau pembelian_aktiva neto_suatu perusahaan. Penggabungan usaha~dapat dilakukan dengan penerbitan saham atau dengan penyerahan kas, aktiva setara kas atau aktiva lainnya. Transaksi dapat terjadi antar pemegang saham perusahaan yang bergabung atau antara suatu perusahaan dengan pemegang saham perusahaan lain. Penggabungan usaha dapat berupa pembentukan suatu badan usaha baru (new enterprise) untuk mengendalikan perusahaan yang bergabung, pengalihan aktiva neto dari satu atau lebih badan usaha yang bergabung kepada badan usaha lain atau pembubaran satu atau lebih badan usaha yang bergabung. Apabila substansi dari transaksi konsisten dengan definisi penggabungan usaha dalam Pernyataan ini, maka perlakuan akuntansinya harus mengacu pada Pernyataan ini, terlepas dari bentuk hukum yang dipilih dalam melakukan penggabungan usaha. 03 Penggabungan usaha dapat menyebabkan timbulnya hubungan induk dan anak perusahaan. Dalam keadaan demikian, induk perusahaan menerapkan Pernyataan ini dalam

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 3 of 21

laporan keuangan konsolidasinya. Kepemilikannya pada anak perusahaan dicatat sebagai investasi (penyertaan) pada anak perusahaan. 04 Penggabungan usaha (business combination) dapat dilakukan melalui pembelian aktiva neto, termasuk goodwill, dari badan usaha lain dan bukan pembelian saham badan usaha lain tersebut. Penggabungan usaha tersebut tidak menyebabkan timbulnya hubungan induk dan anak perusahaan. Dalam keadaan tersebut, perusahaan pengakuisisi menerapkan Pernyataan ini dalam penyusunan laporan keuangannya sendiri, serta dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi. 05 Penggabungan usaha (business combination) dapat mengakibatkan terjadinya legal merger. Suatu legal merger biasanya merupakan merger dua badan usaha melalui salah satu cara berikut: (a) aktiva dan kewajiban dari suatu perusahaan dialihkan ke perusahaan lain dan perusahaan yang melakukan pengalihan tersebut dibubarkan, atau (b) aktiva dan kewajiban dari dua atau lebih perusahaan dialihkan ke perusahaan baru dan kedua perusahaan yang melakukan pengalihan tersebut dibubarkan. Seringkali legal merger terjadi dalam rangka restrukturisasi atau reorganisasi dari suatu group. Transaksi demikian cakupan Pernyataan ini karena merupakan transaksi antar perusahaan dibawah pengendalian yang sama (under common control). 06 Pernyataan ini tidak mengatur tentang laporan keuangan tersendiri (separate financial statements) suatu induk perusahaan selain dalam situasi seperti yang dijelaskan pada paragraf 4. 07 Pernyataan ini tidak mengatur: (a) Transaksi antara perusahaan yang berada di bawah pengendalian yang sama (under common control); dan (b) Bagian partisipasi dalam pengendalian bersama operasi dan aset (diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 12 tentang Pelaporan Keuangan Mengenai Bagian Partisipasi dalam Pengendalian Bersama Operasi dan Aset) Definisi 08 Berikut ini adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Penggabungan Usaha (Business Combination) adalah penyatuan dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan menyatu dengan (uniting with) perusahaan lain atau memperoleh kendali (control) atas aktiva dan operasi perusahaan lain. Akuisisi (Acquisition) adalah suatu penggabungan usaha di mana salah satu perusahaan, yaitu pengakuisisi (acquirer) memperoleh kendali atas aktiva neto dan operasi perusahaan yang diakuisisi (acquirer), dengan memberikan aktiva tertentu, mengakui suatu kewajiban, atau mengeluarkan saham. Penyatuan Kepemilikan (Uniting of Interest/Pooling of Interest) adalah suatu penggabungan usaha dimana para pemegang saham perusahaan yang bergabung bersama -sama menyatukan kendali atas seluruh, atau secara efektif seluruh aktiva neto dan operasi

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 4 of 21

perusahaan yang bergabung tersebut dan selanjutnya memikul bersama segala resiko dan manfaat yang melekat pada entitas gabungan, sehingga tidak pengakuisisi (acquirer). ada pihak yang dapat diidentifikasi sebagai perusahaan

Pengendalian (Control) adalah kekuatan (power) untuk menentukan kebijakan keuangan dan operasi suatu badan usaha agar dapat menikmati manfaat dari kegiatan perusahaan tersebut. Induk Perusahaan adalah perusahaan yang memiliki satu atau lebih anak perusahaan. Anak Perusahaan adalah perusahaan yang dikendalikan oleh perusahaan lain (yang dikenal sebagai induk perusahaan). Kepemilikan Minoritas (Minority interest) adalah bagian hasil usaha dan bagian aktiva neto anak perusahaan, yang tidak dimiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui anak perusahaan, oleh induk perusahaan. Nilai wajar (fair value) adalah suatu jumlah yang dapat digunakan sebagai dasar pertukaran aktiva atau penyelesaian kewajiban antara pihak yang paham (knowledgeable) dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm's length transaction). Tanggal akuisisi adalah tanggal pada saat kendali atas aktiva neto dan operasi perusahaan yang diakuisisi (acquiree) secara efektif beralih ke perusahaan pengakuisisi (acquirer).

PENJELASAN Sifat Penggabungan Usaha 09 Dalam akuntansi penggabungan usaha, substansi dari suatu akuisisi berbeda dengan penyatuan kepemilikan dan substansi transaksi tersebut perlu direfleksikan dalam laporan keuangan. Oleh karena itu, metode akuntansi yang berbeda digunakan untuk masing-masing jenis penggabungan usaha tersebut di atas. Akuisisi (Acquisition) 10 Pada dasarnya, pada semua penggabungan usaha, salah satu perusahaan yang bergabung memperoleh kendali atas perusahaan lain. Pengendalian (control) diasumsikan diperoleh apabila salah satu perusahaan yang bergabung memperoleh lebih dari 50% hak suara pada perusahaan lain, kecuali apabila dapat dibuktikan sebaliknya bahwa tidak terdapat pengendalian walaupun pemilikan lebih dari 50%. Meskipun salah satu dari perusahaan yang bergabung tidak memiliki lebih dari 50% hak suara pada perusahaan lain, perusahaan pengakuisisi mungkin tetap dapat diidentifikasi apabila salah satu perusahaan yang bergabung memperoleh: (a) kekuasaan (power) lebih dari 50% hak suara atas perusahaan yang lain tersebut berdasarkan perjanjian dengan investor lain; (b) kekuasaan (power) untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasi perusahaan lain tersebut berdasarkan anggaran dasar atau perjanjian;

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 5 of 21

(c) kekuasaan untuk mengangkat dan memberhentikan sebagian besar anggota pengurus perusahaan yang lain tersebut; (d) kekuasaan untuk mendapatkan hak suara mayoritas dalam rapat direksi perusahaan yang lain tersebut. 11 Walaupun kadangkala sulit untuk mengidentifikasi perusahaan pengakuisisi, akan tetapi terdapat salah satu indikasi berikut untuk menentukan pengakuisisi (acquirer). Sebagai contoh: (a) nilai wajar suatu perusahaan yang bergabung lebih besar secara signifikan daripada perusahaan lainnya. Dalam hal ini, perusahaan yang lebih besar tersebut adalah pengakuisisi . (b) penggabungan usaha dilaksanakan melalui pertukaran saham berhak suara (voting common shares) dengan uang kas. Dalam hal ini, perusahaan yang membayar tunai tersebut adalah perusahaan pengakuisisi; atau (c) penggabungan usaha mengakibatkan manajemen suatu perusahaan mendominasi penentuan anggota manajemen perusahaan gabungan. Dalam hal ini, perusahaan yang dominan tersebut adalah perusahaan pengakuisisi. Reverse Acquisition 12 Kadangkala suatu perusahaan memperoleh saham perusahaan lain tetapi, sebagai bagian dari suatu transaksi pertukaran, perusahaan tersebut mengeluarkan sahamnya yang berhak suara (voting shares) dalam jumlah tertentu sehingga menyebabkan pengendalian perusahaan atas perusahaan gabungan beralih ke pemegang saham perusahaan yang sahamnya telah diakuisisi. Akuisisi ini disebut Reverse Acquisition. Meskipun secara formal perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut dapat disebut sebagai induk perusahaan, akan tetapi perusahaan yang pemegang sahamnya sekarang mengendalikan perusahaan gabungan adalah perusahaan pengakuisisi yang menikmati hak suara tersebut atau kekuasaan lainnya seperti dijelaskan pada paragraf 10. Perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut dianggap telah diakuisisi oleh perusahaan lain yang bergabung, dan perusahaan lain tersebut dianggap sebagai perusahaan pengakuisisi dan dengan demikian harus menerapkan metode pembelian atas aktiva dan kewajiban perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut. Penyatuan Kepemilikan (Uniting of Interest) 13 Dalam keadaan tertentu, mungkin sulit sekali mengidentifikasi pengakuisisi. Tidak ada pihak dominan yang timbul dari penggabungan tersebut, akan tetapi para pemegang saham perusahaan yang bergabung bersama -sama mengendalikan seluruh (atau secara efektif seluruh) aktiva neto dan operasi. Di samping itu, manajemen perusahaan-perusahaan yang bergabung menjadi bagian dari manajemen perusahaan gabungan. Akibatnya, para pemegang saham perusahaan yang bergabung bersama -sama berbagi risiko dan manfaat atas perusahaan gabungan tersebut. Penggabungan usaha demikian diperlakukan sebagai penyatuan kepemilikan (uniting of interest). 14 Pembagian bersama risiko dan manfaat secara seimbang biasanya tidak mungkin tanpa adanya pertukaran hak suara yang seimbang antar perusahaan-perusahaan yang bergabung. Pertukaran tersebut menjamin bahwa porsi pemilikan perusahaan yang bergabung, dan juga risiko serta manfaat pada perusahaan gabungan dapat dipertahankan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 6 of 21

dan wewenang kedua belah pihak dalam pengambilan keputusan tetap terlindungi. Meskipun demikian, agar keseimbangan pertukaran menjadi efektif, tidak boleh terjadi penurunan signifikan atas hak suara pada salah satu dari perusahaan yang bergabung, agar tidak ada salah satu pihak yang pengaruhnya berkurang. 15 Untuk mencapai pembagian risiko dan manfaat secara seimbang antar perusahaan yang bergabung maka: (a) mayoritas dari saham berhak suara perusahaan yang bergabung dipertukarkan atau digabungkan; (b) nilai wajar suatu perusahaan tidak berbeda secara signifikan dengan nilai wajar perusahaan lainnya; (c) para pemegang saham setiap perusahaan tetap mempertahankan hak suara dan kepemilikan yang seimbang dalam perusahaan gabungan, relatif sama dengan sebelum perusahaan bergabung. 16 Pembagian risiko dan manfaat secara seimbang pada perusahaan gabungan semakin berkurang dan perusahaan pengakuisisi semakin dapat diidentifikasi bila: (a) keseimbangan nilai wajar perusahaan yang bergabung menurun dan persentase saham berhak suara yang dipertukarkan berkurang. (b) kesepakatan finansial secara relatif menguntungkan sekelompok pemegang saham dari suatu perusahaan dibandingkan dengan kelompok pemegang saham lainnya. Kesepakatan finansial tersebut dapat terjadi baik sebelum maupun setelah penggabungan usaha; dan (c) bagian ekuitas salah satu pihak pada perusahaan gabungan tergantung pada kinerja yang akan dicapai oleh perusahaan setelah penggabungan terjadi.

Akuisisi (Acquisition) Akuntansi untuk Akuisisi 17 Penggabungan usaha melalui akuisisi harus dipertanggungjawabkan dengan menggunakan sebagaimana diatur pada paragraf 19 - 56. 18 Penggunaan metode pembelian untuk akuisisi suatu perusahaan dibukukan seperti halnya pembelian aktiva lainnya. Hal ini dilakukan karena dalam akuisisi terjadi transaksi pengalihan aktiva, timbulnya kewajiban atau penerbitan saham dalam rangka memperoleh kendali atas aktiva neto dan operasi perusahaan lain. Metode pembelian menggunakan biaya perolehan (cost) sebagai dasar untuk mencatat akuisisi tersebut. Tanggal Akuisisi

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 7 of 21

19 Sejak tanggal akuisisi, perusahaan pengakuisisi harus: (a) melaporkan hasil usaha perusahaan yang diakuisisi dalam laporan laba ruginya; dan (b) melaporkan aktiva dan kewajiban perusahaan yang diakuisisi dalam neracanya serta goodwill yang timbul dari akuisisi tersebut. 20 Tanggal akusisi adalah tanggal pada saat kendali atas aktiva dan operasi suatu perusahaan yang diakuisisi secara efektif dialihkan kepada perusahaan pengakuisisi dan tanggal pada saat penerapan metode pembelian dimulai. Hasil usaha dari perusahaan yang diakuisisi dimasukkan ke dalam laporan keuangan perusahaan pengakuisisi dimulai sejak tanggal akuisisi. Pada hakekatnya, tanggal akuisisi adalah tanggal sejak perusahaan pengakuisisi mempunyai wewenang untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasi suatu perusahaan untuk mendapatkan manfaat dari kegiatannya. Pengendalian dianggap belum dialihkan kepada perusahaan pengakuisisi sebelum semua kondisi yang diperlukan untuk melindungi kepentingan pihak yang terkait dilaksanakan. Namun, hal ini tidak berarti bahwa suatu transaksi harus diselesaikan secara hukum sebelum kendali secara efektif beralih kepada perusahaan pengakuisisi. Dalam menentukan apakah kendali secara efektif telah dialihkan, substansi akuisisi perlu dipertimbangkan . Biaya Perolehan (Cost of Acquisition) 21 Suatu akuisisi harus dibukukan sebesar biaya ' perolehan, yaitu jumlah kas atau aktiva setara kas yang dibayar atau nilai wajar (pada tanggal pertukaran) aktiva lain yang diberikan oleh perusahaan pengakuisisi, sebagai imbalan atas perolehan kendali atas aktiva neto perusahaan lain, ditambah biaya-biaya lain yang secara langsung dapat diatribusikan pada akuisisi tersebut. 22 Jika dalam suatu akuisisi terdapat lebih dari satu transaksi pertukaran, maka biaya perolehannya adalah penjumlahan dari seluruh transaksi. Apabila akuisisi dilakukan secara bertahap, maka pembedaan antara tanggal akuisisi dan tanggal transaksi pertukaran sangat penting. Karena akuntansi akuisisi dimulai sejak tanggal akuisisi, maka digunakan informasi biaya perolehan dan nilai wajar yang ditentukan pada setiap tanggal transaksi pertukaran. 23 Aktiva moneter yang diberikan dan kewajiban yang timbul dinilai berdasarkan nilai wajarnya pada tanggal pertukarkan. Jika penyelesaian (settlement) harga pembelian ditangguhkan, maka biaya perolehannya bukan nilai nominal kewajiban akan tetapi nilai sekarang (present value) dari harga pembelian tersebut, dengan memperhitungkan premi atau diskonto yang mungkin timbul pada saat penyelesaian. 24 Dalam menentukan biaya perolehan, surat-surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan pengakuisisi dinilai berdasarkan nilai wajar yaitu harga pasar pada tanggal transaksi pertukaran. Bila harga pasar pada suatu tanggal tertentu tidak dapat digunakan sebagai indikator yang tepat, pergerakan harga pada suatu periode tertentu sebelum dan sesudah diumumkannya syarat-syarat akuisisi perlu dipertimbangkan . Bila pasar tidak dapat dipercaya (unreliable) atau bila tidak terdapat penawaran harga, maka nilai wajar surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan pengakuisisi diestimasi secara proporsional dengan nilai wajar perusahaan pengakuisisi atau secara proporsional dengan nilai wajar perusahaan yang diakuisisi, tergantung mana yang lebih dapat ditentukan. Harga pembelian yang dibayar tunai kepada para pemegang saham perusahaan yang diakuisisi sebagai alternatif pembayaran dengan surat berharga, juga dapat menjadi bukti tentang total nilai wajar yang dibayarkan. Semua aspek akuisisi, termasuk faktor-faktor signifikan yang mempengaruhi negosiasi, perlu dipertimbangkan, dan penilaian independen dapat digunakan sebagai alat bantu dalam menentukan nilai wajar surat berharga yang dikeluarkan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 8 of 21

25 Di samping harga pembelian, perusahaan pengakuisisi dapat mengeluarkan biaya langsung (direct cost) sehubungan dengan akuisisi tersebut. Biaya ini dapat terdiri dari biaya registrasi dan emisi saham, dan honorarium tenaga profesional seperti akuntan, penasehat hukum, penilai dan konsultan lainnya sehubungan dengan akuisisi. Biaya administrasi umum, termasuk biaya divisi akuisisi, dan biaya lain yang tidak dapat secara langsung diatribusikan pada akuisisi tertentu, tidak diakui sebagai biaya perolehan tetapi dibebankan pada saat terjadi pada periode berjalan. Pengakuan Aktiva dan Kewajiban yang Dapat Diidentifikasi 26 Aktiva dan kewajiban yang diperoleh harus dibukukan secara terpisah pada tanggal akuisisi jika: (a) besar kemungkinan (probable) bahwa segala manfaat terkait pada masa yang akan datang akan mengalir ke atau dari perusahaan pengakuisisi; dan (b) tersedia suatu ukuran yang andal sehubungan dengan biaya perolehan atau nilai wajarnya. 27 Aktiva dan kewajiban yang diakuisisi yang memenuhi kriteria pengakuan tersebut pada paragraf 26 dinyatakan dalam Pernyataan ini sebagai aktiva dan kewajiban teridentifikasi (identifiable assets and liabilities). Apabila aktiva dan kewajiban yang diperoleh tidak memenuhi kriteria pengakuan di atas, maka hal tersebut dapat mempengaruhi penentuan nilai goodwill, sebab goodwill merupakan selisih antara perolehan dengan jumlah aktiva dan kewajiban teridentifikasi tersebut 28 Aktiva dan kewajiban teridentifikasi yang diperoleh oleh perusahaan pengakuisisi dapat meliputi aktiva dan kewajiban yang tidak pernah dilaporkan dalam laporan keuangan perusahaan yang diakuisisi. Hal ini mungkin disebabkan karena aktiva dan kewajiban tersebut memang belum memenuhi syarat untuk dibukukan sebelum tanggal akuisisi. 29 Aktiva dan kewajiban yang harus dibukukan pada tanggal akuisisi dapat juga meliputi aktiva dan kewajiban yang timbul karena akuisisi tersebut. Sebagai contoh, dalam melakukan akuisisi perusahaan pengakuisisi meminjam uang untuk memberikan kompensasi kepada para karyawan perusahaan yang diakuisisi atas jasa yang diberikan sebelum akuisisi. Akan tetapi, penerapan kriteria pengakuan (recognition criteria) tidak memperkenankan diciptakannya suatu penyisihan untuk menutup kerugian operasi masa mendatang. Alokasi Biaya Perolehan (Allocation of Cost of Acquisition) 30 Aktiva dan kewajiban yang diakui sesuai dengan paragraf 26 harus diukur dengan menjumlahkan: (a) nilai wajar aktiva dan kewajiban teridentifikasi yang di peroleh pada tanggal transaksi pertukaran sepanjang kepemilikan (interest) perusahaan pengakuisisi diperoleh melalui transaksi pertukaran; dan (b) hak minoritas atas Nilai tercatat aktiva dan kewajiban anak perusahaan sebelum tanggal akuisisi. Goodwill yang timbul harus diakui sesuai dengan Pernyataan ini. 31 Biaya perolehan dialokasikan pada aktiva dan kewajiban sesuai dengan paragraf 26

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 9 of 21

berdasarkan nilai wajar aktiva dan kewajiban pada tanggal pertukaran. Namun, biaya perolehan tersebut hanya berkaitan dengan persentase aktiva dan kewajiban yang dapat diidentifikasi yang diperoleh oleh perusahaan pengakuisisi. Oleh karena itu, jika perusahaan pengakuisisi tidak membeli seluruh saham perusahaan yang diakuisisi, maka kepemilikan minoritas yang ada ditetapkan berdasarkan proporsi minoritas atas nilai tercatat aktiva dan kewajiban anak perusahaan sebelum tanggal akuisisi. Hal ini karena hak minoritas tidak menjadi bagian dari transaksi pertukaran dalam akuisisi tersebut. Pembelian Saham Secara Bertahap (Successive Share Purchases) 32 Suatu akuisisi mungkin terdiri serangkaian transaksi pertukaran, misalnya dengan pembelian secara bertahap (successive purchase) di bursa efek. Bila hal ini terjadi, setiap transaksi signifikan harus diperlakukan tersendiri untuk menentukan nilai wajar aktiva dan kewajiban teridentifikasi yang diakuisisi dan dalam menentukan jumlah goodwill pada transaksi tersebut. Hal ini mengakibatkan adanya perbandingan bertahap biaya perolehan masing-masing investasi dengan persentase pemilikan pengakuisisi terhadap nilai wajar aktiva dan kewajiban teridentifikasi yang diperoleh pada setiap tahap pembelian. 33 Jika akuisisi dilakukan secara bertahap (successive purchases), nilai wajar aktiva dan kewajiban teridentifikasi dapat berbeda-beda pada setiap tanggal transaksi pertukaran. Jika seluruh aktiva dan kewajiban teridentifikasi yang berhubungan dengan akuisisi dinyatakan kembali (restated) berdasarkan nilai wajarnya pada saat pembelian masing-masing tahap, maka penyesuaian terhadap kepemilikan yang telah diperoleh sebelumnya merupakan suatu revaluasi dan oleh karena itu harus diperlakukan sebagai revaluasi. 34 Sebelum memenuhi persyaratan sebagai suatu akuisisi, suatu transaksi mungkin memenuhi persyaratan sebagai investasi pada perusahaan asosiasi dan dibukukan dengan menggunakan metode ekuiti sebagaimana diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 15 tentang Akuntansi untuk Investasi dalam Perusahaan Asosiasi. Dalam hal demikian, penentuan nilai wajar aktiva dan kewajiban teridentifikasi yang diperoleh dan pengakuan goodwill dianggap terjadi pada tanggal metode ekuiti diterapkan. Jika investasi sebelumnya tidak memenuhi persyaratan sebagai investasi pada perusahaan asosiasi, maka nilai wajar aktiva dan kewajiban teridentifikasi ditentukan pada setiap tahap transaksi pembelian sedangkan goodwill ditentukan pada tanggal akuisisi. Penentuan Nilai Wajar Aktiva dan Kewajiban yang Diakuisisi 35 Nilai wajar aktiva dan kewajiban yang diakuisisi ditentukan berdasarkan tujuan penggunaannya oleh perusahaan pengakuisisi. Tujuan penggunaan aktiva biasanya tidak berbeda dengan tujuan semula penggunaannya kecuali aktiva tersebut akan digunakan untuk tujuan lain. Jika suatu aktiva dimaksudkan digunakan untuk tujuan lain dan penilaiannya dilakukan berdasarkan tujuan baru tersebut, maka penilaian aktiva lain yang terkait harus dilakukan dengan dasar yang konsisten. Jika suatu aktiva atau segmen usaha dari perusahaan yang diakuisisi dihentikan, maka hal ini harus dipertimbangkan dalam penentuan nilai wajarnya. 36 Pedoman umum dalam menentukan nilai wajar aktiva dan kewajiban yang diakuisisi adalah sebagai berikut: (a) surat berharga yang diperjualbelikan (marketable securities) dinilai berdasarkan harga pasar yang berlaku; (b) surat berharga yang tidak diperjualbelikan (non marketable securities) dinilai berdasarkan nilai estimasi dengan mempertimbangkan ukuran seperti price earnings ratio, pembagian dividen dan tingkat pertumbuhan yang diharapkan dengan memperbandingkan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22
perusahaan yang mempunyai karakteristik yang sama;

Page 10 of 21

(c) piutang dinilai berdasarkan nilai sekarang dari jumlah yang akan diterima dengan menggunakan tingkat bunga yang sesuai, dikurangi penyisihan piutang sangsi dan biaya penagihan, sesuai keadaan. Tapi piutang jangka pendek tidak perlu dihitung nilai sekarangnya jika selisih antara nilai nominal dan nilai sekarang tidak material; (d) persediaan: (i) barang jadi dan barang dagangan dinilai berdasarkan harga jual dikurangi: (a) penjumlahan biaya penjualan (cost of disposal) dan (b) taksiran keuntungan yang wajar atas penjualan yang ditentukan berdasarkan tingkat keuntungan barang sejenis; (ii) barang dalam proses dinilai berdasarkan harga jual barang jadi dikurangi: (a) penjumlahan biaya untuk penyelesaian, (b) biaya penjualan dan (c) taksiran keuntungan yang wajar atas penjualan yang ditentukan berdasarkan tingkat keuntungan barang sejenis; (iii) bahan baku dinilai berdasarkan biaya pengganti saat itu (current replacement cost); (e) tanah dan bangunan: (i) apabila akan digunakan sesuai dengan tujuan penggunaan berdasarkan nilai pasar untuk tujuan penggunaan tersebut; sebelumnya, dinilai

(ii) apabila akan digunakan untuk tujuan yang_berbeda dengan tujuan penggunaan sebelumnya, dinilai berdasarkan nilai pasar sesuai dengan tujuan penggunaan yang diharapkan; (iii)apabila akan dijual atau sementara ditahan dan selanjutnya akan dijual kembali, dinilai berdasarkan nilai realisasi neto (net realisable value);

(f) pabrik dan peralatan (plant and equipment) (i) jika akan digunakan, dinilai berdasarkan nilai pasar yang ditentukan oleh perusahaan penilai. Jika sulit untuk menentukan harga pasar, karena pabrik atau peralatan tersebut sangat khusus sifatnya, dinilai berdasarkan biaya pengganti saat ini setelah memperhitungkan jumlah penyusutan (depreciated replacement cost); (ii) jika akan digunakan untuk sementara waktu (temporer), dinilai berdasarkan harga terendah antara biaya pengganti saat itu (current replacement cost) untuk kapasitas yang sebanding dan nilai realisasi neto (net realisable value); dan (iii) apabila akan dijual atau sementara ditahan untuk selanjutnya akan dijual kembali, dinilai

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22
berdasarkan nilai realisasi netonya;

Page 11 of 21

(g) Aktiva tak berwujud, seperti hak paten dan lisensi, dinilai berdasarkan nilai taksiran; (h) Aktiva neto atau kewajiban program pensiun manfaat pasti, ditentukan berdasarkan nilai sekarang aktuaria (actuarial present value) dari manfaat pensiun yang dijanjikan dikurangi nilai wajar aktiva yang tersedia untuk program pensiun; (i) tagihan dan kewajiban pajak, ditentukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku berkenaan dengan terjadinya penggabungan usaha; (j) hutang usaha, wesel bayar, hutang jangka panjang, kewajiban, akrual dan hutang lainnya dinilai berdasarkan nilai sekarang (present value) jumlah yang akan dibayar yang didiskontokan dengan menggunakan tingkat wajar saat itu. Akan tetapi hutang jangka pendek tidak perlu didiskontokan apabila selisih antara nilai nominal dan nilai sekarang tidak material; dan (k) kewajiban sehubungan dengan penutupan pabrik dan pemutusan kontrak akibat akuisisi, dinilai berdasarkan nilai sekarang jumlah yang akan dibayar dan didiskontokan berdasarkan tingkat bunga wajar saat itu. Beberapa pedoman tersebut di atas mengasumsikan bahwa nilai wajar akan ditentukan dengan menggunakan pendiskontoan (discounting). Bila pedoman tersebut tidak menyatakan digunakannya pendiskontoan, maka pendiskontoan tidak wajib digunakan dalam menentukan nilai wajar aktiva dan kewajiban yang dapat diidentifikasi . GoodwilI yang timbul dari Suatu Akuisisi 37 Selisih lebih antara biaya wajar dan bagian (interest) perusahaan pengakuisisi atas nilai wajar aktiva dan kewajiban yang dapat diidentifikasi pada tanggal transaksi pertukaran diakui sebagai goodwill dan disajikan sebagai aktiva. 38 Goodwill yang timbul akibat akuisisi mencerminkan pembayaran yang dilakukan oleh pengakuisisi untuk mengantisipasi manfaat keekonomian yang akan diperoleh di masa mendatang. Manfaat keekonomian tersebut mungkin dihasilkan dari suatu sinergi antar aktiva yang diakuisisi, atau dari aktiva yang tidak memenuhi persyaratan untuk diakui dalam laporan keuangan, namun perusahaan pengakuisisi bersedia membayarnya dalam akuisisi tersebut. 39 Goodwill harus diamortisasi sebagai beban selama masa manfaatnya. Dalam mengamortisasi goodwill, harus digunakan metode garis lurus, kecuali terdapat metode lain yang dianggap lebih tepat pada keadaan tertentu. Periode amortisasi goodwill tidak boleh lebih dari lima tahun, kecuali periode yang lebih panjang tetapi tidak lebih dari 20 tahun dapat digunakan apabila terdapat dasar yang tepat (justifiable). 40 Dengan berlalunya waktu, manfaat goodwill berkurang, yang mencerminkan menurunnya kemampuan untuk memberikan kontribusi pada laba perusahaan di masa mendatang (future income). Oleh karena itu, sewajarnya goodwill diamortisasi dan dibukukan sebagai beban secara sistematis selama masa manfaatnya . 41 Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam mengestimasi masa manfaat good will meliputi: (a) ramalan umur bisnis atau industri yang bersangkutan;

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 12 of 21

(b) pengaruh keusangan produk, perubahan dalam permintaan dan faktor ekonomi lainnya; (c) ekspektasi sisa masa kerja para manajer, atau kelompok karyawan yang menjalankan tugas penting; (d) antisipasi tindakan para pesaing atau calon pesaing; dan (e) ketentuan hukum, peraturan yang mempengaruhi masa manfaat goodwill. berlaku atau ketentuan kontraktual yang

42 Karena goodwill merupakan manfaat keekonomian masa yang akan datang sebagai hasil sinergi atau sebagai hasil suatu aktiva tidak mungkin diakui, maka seringkali sulit untuk mengestimasi masa manfaatnya. Karenanya, untuk tujuan akuntansi, Pernyataan ini menentukan secara arbitrer batas maksimum periode amortisasi. Anggapan yang digunakan dalam Pernyataan ini adalah bahwa goodwill biasanya tidak mempunyai masa manfaat melebihi lima tahun. Namun, dalam keadaan tertentu dapat terjadi bahwa goodwill secara jelas berkaitan dengan suatu aktiva tertentu sehingga diharapkan dapat memberikan manfaat kepada perusahaan pengakuisisi selama masa manfaat aktiva yang bersangkutan. Sebagai contoh, keadaan tersebut dapat timbul jika aktiva utama yang diperoleh dalam akuisisi adalah lisensi penyiaran (broadcasting license) yang lebih dari lima tahun. Setelah membukukan nilai wajar lisensi penyiaran sebagai suatu aktiva, maka goodwill yang timbul dalam akuisisi diamortisasikan selama masa berlaku lisensi penyiaran tersebut. Namun, karena kurun waktu perencanaan atas kegiatan operasional perusahaan secara keseluruhan tidak akan lebih dari dua puluh tahun, maka sulit dipercaya untuk membuat proyeksi masa manfaat goodwill melebihi dua puluh tahun. 43 Pada saat permulaan dibukukannya suatu akuisisi, mungkin goodwill yang diakui tidak merefleksikan manfaat keekonomian mendatang yang akan mengalir ke perusahaan pengakuisisi. Hal tersebut dapat terjadi karena sejak dilakukannya negosiasi harga pembelian telah terjadi penurunan terhadap ekspektasi arus kas mendatang (future cash flows) dari aktiva yang diakuisisi. Contoh lainnya adalah dalam hal ditemukannya kesalahan (error) pada akun perusahaan yang diakuisisi akibat suatu kecurangan (fraud) yang telah terjadi pada saat akuisisi sehingga goodwill tidak merefleksikan manfaat masa mendatang. 44 Saldo goodwill yang belum diamortisasi harus dievaluasi pada setiap tanggal neraca, dan apabila terdapat indikasi bahwa jumlah tersebut tidak dapat sepenuhnya atau sebagian dipulihkan (recovered) dari ekspektasi manfaat keekonomian di masa mendatang, maka bagian jumlah yang tidak dipulihkan tersebut langsung dibukukan sebagai beban pada periode yang bersangkutan. Setiap penurunan nilai (write-down) goodwill tidak boleh dinaikkan (write-up) kembali pada periode selanjutnya. 45 Penurunan (impairment) nilai goodwill dapat disebabkan berbagai faktor seperti trendekonomi yang tidak menguntungkan, perubahan situasi persaingan dan hukum, dan peraturan perundangan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan penurunan jumlah arus kas yang dihasilkan. Dalam keadaan tersebut, saldo goodwill segera diturunkan (write-down) dan diakui sebagai beban. Goodwill Negatif Yang Timbul Dari Akuisisi 46 Jika biaya perolehan (cost of the acquisition) lebih rendah dari bagian (interest) pengakuisisi atas nilai wajar aktiva dan kewajiban yang dapat diidentifikasi yang diakuisisi pada tanggal transaksi, maka nilai wajar aktiva non moneter yang diakuisisi harus diturunkan secara proporsional, sampai seluruh selisih tersebut dieliminasi. Apabila setelah nilai wajar aktiva non moneter sudah diturunkan seluruhnya, ternyata masih terdapat sisa selisih yang

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 13 of 21

belum dieliminasi, maka sisa selisih tersebut diakui sebagai goodwill negatif dan diperlakukan sebagai pendapatan ditangguhkan (detterred income) dan diakui sebagai pendapatan secara sistematis selama suatu periode yang tidak kurang dari 20 tahun. 47 Jika bagian kepemilikan perusahaan pengakuisisi atas nilai wajar agregat aktiva neto yang diakuisisi melebihi biaya perolehan, secara efektif aktiva neto telah diperoleh dengan harga yang lebih rendah (at discount). Karenanya, nilai wajar aktiva non moneter yang diperoleh harus dikurangi dengan pengurangan (diskon) tersebut agar akuisisi tersebut tidak dibukukan melebihi biaya perolehannya. Total diskon, yang disebar ke aktiva non moneter tersebut, akan direalisasikan sebagai penghasilan pada saat aktiva tersebut dijual atau pada saat manfaat keekonomian mendatang yang terkandung pada aktiva tersebut dikonsumsi. Untuk aktiva lancar, seperti persediaan, proses realisasi selesai saat persediaan dijual. Dalam hal aktiva jangka panjang, seperti pabrik dan peralatan, diskon tersebut direalisasi melalui beban depresiasi yang lebih rendah selama masa manfaat aktiva tersebut. Penyesuaian Mendatang atas Harga Beli (Purchase Consideration) tergantung pada Peristiwa

48 Apabila perjanjian akuisisi memungkinkan dilakukannya penyesuaian atas harga beli yang tergantung pada terjadi tidaknya satu atau lebih peristiwa tertentu di masa yang akan datang, maka jumlah penyesuaian tersebut harus diperhitungkan dalam menentukan biaya perolehan pada tanggal akuisisi, jika penyesuaian tersebut besar kemungkinannya (probable) akan terjadi dan jumlahnya dapat diperkirakan secara layak pada tanggal akuisisi. 49 Perjanjian akuisisi dapat memperbolehkan dilakukannya penyesuaian harga beli jika peristiwa tertentu terjadi di masa yang akan datang. Penyesuaian tersebut dapat tergantung pada tercapainya suatu tingkat penghasilan tertentu di masa yang akan datang atau tergantung pada stabilitas harga pasar surat berharga yang diterbitkan yang dibayar sebagai bagian harga beli. 50 Pada saat permulaan membukukan suatu akuisisi, biasanya memungkinkan untuk mengestimasi jumlah setiap penyesuaian harga beli, walaupun terdapat beberapa ketidakpastian, tanpa mengurangi keandalan informasi. Jika peristiwa masa yang akan datang tidak terjadi, atau estimasi perlu direvisi, maka biaya perolehan harus disesuaikan yang tentunya dapat mempengaruhi jumlah goodwill atau goodwill negatif. Perubahan Kemudian Biaya Perolehan (Acquisition Cost) 51 Biaya perolehan harus disesuaikan apabila kontinjensi yang mempengaruhi harga beli terselesaikan setelah tanggal akusisi, sehingga pembayaran atas jumlah tersebut besar kemungkinan (probable) terjadi dan jumlahnya dapat diestimasi secara layak . 52 Klausul akuisisi dapat mengatur suatu penyesuaian harga beli jika kegiatan perusahaan yang diakuisisi ternyata setelah akuisisi lebih besar atau lebih kecil dari tingkat yang disetujui. Jika penyesuaian tersebut kemudian ternyata menjadi sangat mungkin (probable) dan estimasi layak jumlahnya dapat dilakukan, maka pengakuisisi memperlakukan jumlahnya sebagai penyesuaian terhadap biaya perolehan yang tentunya dapat mempengaruhi jumlah goodwill atau goodwill negatif. 53 Dalam keadaan tertentu, pengakuisisi mungkin diharuskan melakukan pembayaran tambahan kepada penjual sebagai kompensasi atas turunnya harga beli. Hal ini dapat terjadi bila pengakuisisi telah menjamin harga pasar saham atau obligasi yang diterbitkan sebagai pembayaran harga beli dan harus menerbitkan lagi saham atau obligasi dengan tujuan untuk menutupi kekurangan harga beli akibat penurunan harga pasar saham dan obligasi tersebut. Dalam hal ini, tidak terjadi kenaikan biaya perolehan, sehingga tidak perlu dilakukan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 14 of 21

penyesuaian terhadap goodwill atau goodwill negatif. Akan tetapi, tambahan saham atau obligasi yang diterbitkan akan menurunkan agio saham atau menaikkan disagio saham atau obligasi yang diterbitkan pada saat akuisisi. Identifikasi Kemudian atau Perubahan Nilai atas Aktiva dan Kewajiban 54 Aktiva dan kewajiban yang diakuisisi tetapi tidak memenuhi kriteria pada paragraf 26 untuk diakui secara terpisah pada saat akuisisi dibukukan harus diakui kemudian apabila kriteria tersebut telah dipenuhi . Nilai tercatat (carrying amount) aktiva dan kewajiban yang diperoleh harus disesuaikan, jika setelah akuisisi, terdapat bukti tambahan yang dapat digunakan untuk mengestimasi nilai aktiva dan kewajiban yang telah dibukukan pada saat akuisisi terjadi. Dengan demikian, goodwill atau goodwill negatif juga harus disesuaikan sepanjang jumlah penyesuaian tersebut besar kemungkinannya (probable) dapat dipulihkan dari manfaat keekonomian masa depan yang diharapkan dan penyesuaian tersebut dilakukan pada akhir tahun buku pertama setelah tahun akuisisi; penyesuaian yang timbul setelah periode tersebut harus diakui sebagai pendapatan atau beban. 55 Aktiva dan kewajiban perusahaan yang diakuisisi mungkin belum diakui pada saat akuisisi karena tidak memenuhi kriteria aktiva dan kewajiban atau karena perusahaan pengakuisisi memang belum menyadari tentang eksistensinya. Demikian pula nilai wajar yang ditentukan pada tanggal akuisisi untuk aktiva dan kewajiban yang diperoleh mungkin perlu disesuaikan karena tersedianya bukti tambahan untuk membantu penaksiran nilai aktiva atau kewajiban pada tanggal akuisisi. Bila aktiva atau kewajiban diakui atau saldonya disesuaikan setelah akhir tahun buku pertama (di luar periode interim) setelah akuisisi, penyesuaian tersebut harus diakui sebagai beban atau pendapatan dan tidak diperlakukan sebagai penyesuaian terhadap goodwill atau goodwill negatif. Pembatasan waktu ini, walaupun bersifat arbitrer, dimaksudkan untuk menghindari terjadinya penilaian kembali goodwill atau goodwill negatif dalam jangka waktu yang tidak terbatas. 56 Jika setelah akuisisi tetapi sebelum akhir tahun buku pertama (tidak termasuk periode interim) setelah akuisisi, perusahaan pengakuisisi baru menyadari adanya kewajiban yang sebenarnya telah ada pada tanggal akuisisi, goodwill tidak dapat dinaikkan begitu saja tanpa menilai apakah dapat diharapkan adanya tambahan manfaat keekonomian masa mendatang. Bila tambahan manfaat keekonomian masa mendatang tidak dapat diharapkan, maka jumlah penyesuaian tersebut diperlakukan sebagai beban. Penyatuan Kepemilikan 57 Suatu penyatuan kepemilikan (uniting of interests) harus dibukukan dengan menggunakan metode penyatuan kepemilikan (pooling of interest method), yang akan dijelaskan pada paragraf 58, 59 dan 62. 58 Dalam menerapkan metode penyatuan kepemilikan, unsur-unsur laporan keuangan dari perusahaan yang bergabung untuk periode terjadinya penggabungan tersebut dan untuk periode perbandingan yang diungkapkan, harus dimasukkan dalam laporan keuangan gabungan seolah-olah perusahaan tersebut telah bergabung sejak permulaan periode yang disajikan tersebut. Laporan keuangan suatu perusahaan tidak boleh memasukkan adanya penyatuan kepemilikan walaupun perusahaan tersebut adalah salah satu pihak yang bergabung, apabila penyatuan kepemilikan terjadi pada suatu tanggal setelah tanggal neraca terakhir yang disajikan. 59 Selisih antara jumlah yang dibukukan sebagai modal saham yang diterbitkan ditambah kompensasi pembelian lainnya dalam bentuk kas ataupun aktiva lainnya dengan jumlah modal saham yang diperoleh, harus disesuaikan terhadap ekuitas atau modal sendiri.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 15 of 21

60 Makna penyatuan kepemilikan adalah tidak terjadi akuisisi dan telah terjadi kesinambungan dalam pembagian bersama risiko dan manfaat, yang telah ada sebelum penggabungan usaha. Penggunaan metode penyatuan kepemilikan mengakui hal tersebut dengan menggabungkan perusahaan seolah-olah masing-masing usaha tetap berjalan seperti semula, meskipun telah dimiliki dan dikelola bersama. Oleh karena itu, perubahan yang dilakukan sangat minimal dalam menjumlahkan laporan keuangan perusahaan yang bergabung. 61 Karena penyatuan kepemilikan menghasilkan satu unit tunggal entitas gabungan, maka kebijakan akuntansi yang seragam diterapkan dalam unit usaha gabungan tersebut. Karenanya, unit usaha gabungan mengakui aktiva, kewajiban dan modal dari masing-masing perusahaan yang bergabung berdasarkan nilai tercatatnya. Penyesuaian atas nilai tercatat hanya dilakukan untuk menyesuaikan kebijakan akuntansi perusahaan yang bergabung dengan kebijakan akuntansi yang dianut oleh unit usaha gabungan dan menerapkannya pada semua periode yang disajikan. Dalam penyatuan kepemilikan tidak terdapat pengakuan goodwill atau goodwill negatif. Demikian juga, pengaruh yang timbul sebagai akibat transaksi antar perusahaan yang bergabung yang timbul baik sebelum atau setelah penyatuan kepemilikan, eliminasi dalam menyusun laporan keuangan unit usaha gabungan . 62 Pengeluaran yang terjadi sehubungan dengan penyatuan kepemilikan harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya . 63 Pengeluaran yang terjadi sehubungan dengan penyatuan kepemilikan mencakupi biaya pendaftaran dan penerbitan saham, biaya yang timbul dalam usaha memberikan informasi kepada pemegang saham, biaya konsultan, gaji dan biaya lain untuk karyawan yang terlibat dalam penggabungan usaha. Pengeluaran ini juga termasuk biaya atau kerugian yang timbul akibat penggabungan kegiatan perusahaan-perusahaan yang tadinya merupakan usaha yang terpisah satu sama lain. Pengungkapan 64 Untuk semua penggabungan usaha, pengungkapan berikut harus dibuat dalam laporan keuangan pada periode terjadinya penggabungan usaha: (a) nama dan penjelasan tentang perusahaan yang bergabung; (b) metode akuntansi yang digunakan untuk penggabungan usaha tersebut; (c) tanggal efektif penggabungan usaha untuk tujuan akuntansi; (d) operasi atau kegiatan usaha yang telah diputuskan untuk dijual atau dihentikan akibat penggabungan usaha tersebut. 65 Untuk penggabungan usaha yang merupakan akuisisi, pengungkapan tambahan berikut dalam laporan keuangan harus dibuat pada periode terjadinya akuisisi: (a) persentase saham berhak suara yang diperoleh; (b) biaya perolehan (acquisition cost) dan penjelasan tentang harga beli yang telah dibayar atau terhutang secara kontinjen (contingently payable); dan (c) sifat dan jumlah penyisihan untuk beban restrukturisasi dan beban penutupan pabrik yang timbul akibat akuisisi dan diakui pada tanggal akuisisi.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 16 of 21

66 Laporan keuangan harus mengungkapkan: (a) perlakuan akuntansi goodwill termasuk periode amortisasinya (b) apabila masa manfaat goodwill lebih dari lima tahun penjelasan tentang alasan dan pertimbangan yang digunakan; (c) apabila goodwill tidak diamortisasikan dengan metode garis lurus, metode yang digunakan serta alasan kenapa metode tersebut dianggap lebih tepat daripada metode garis lurus; (d) rekonsiliasi goodwill pada saat awal dan akhir periode yang menunjukkan: (i) jumlah bruto goodwill dan akumulasi amortisasinya pada awal periode; (ii) tambahan goodwill yang dibukukan selama periode berjalan; (iii) jumlah selama periode berjalan; (iv)pernyesuaian yang dilakukan akibat adanya identifikasi susulan atau perubahan nilai aktiva dan kewajiban setelah tanggal akuisisi; (v) penghapusbukuan goodwill yang dilakukan selama periode berjalan; dan (vi)jumlah bruto goodwill dan akumulasi amortisasinya pada akhir periode. 67 Dalam suatu akuisisi, jika nilai wajar aktiva dan kewajiban atau harga beli (purchase consideration) hanya akan dapat ditentukan pada akhir periode akuisisi dilaksanakan, hal tersebut harus diungkapkan beserta alasannya. Jika setelah tanggal akuisisi terdapat penyesuaian atas taksiran nilai wajar tersebut, penyesuaian tersebut harus diungkapkan dan dijelaskan dalam laporan keuangan pada periode terjadinya. 68 Untuk suatu penggabungan usaha yang merupakan penyatuan kepemilikan (uniting of interest), pengungkapan tambahan berikut harus dibuat dalam laporan keuangan pada periode terjadinya: (a) penjelasan dan jumlah saham yang diterbitkan, serta persentase saham berhak suara setiap perusahaan yang dipertukarkan untuk melaksanakan penyatuan kepemilikan tersebut; (b) jumlah aktiva dan kewajiban yang diserahkan oleh setiap perusahaan; dan (c) pendapatan penjualan, pendapatan operasional lainnya, pos luar biasa dan laba bersih (rugi) dari masing-masing perusahaan untuk periode sebelum penggabungan, yang termasuk dalam laba bersih (rugi) yang disajikan dalam laporan keuangan gabungan. 69 Pengungkapan umum lainnya yang perlu dibuat dalam laporan konsolidasi diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 4 tentang Laporan Keuangan Konsolidasi. 70 Untuk penggabungan usaha yang terjadi setelah tanggal neraca, harus dibuat pengungkapan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 64- 68. Jika pengungkapan tersebut tidak mungkin dibuat maka fakta tersebut harus diungkapkan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 17 of 21

71 Penggabungan usaha yang terjadi setelah tanggal neraca dan sebelum laporan keuangan salah satu perusahaan yang bergabung diterbitkan secara resmi, harus diungkapkan jika informasi tersebut demikian pentingnya sehingga tanpa adanya pengungkapan tersebut dapat mempengaruhi kemampuan pengguna laporan keuangan untuk melakukan evaluasi dan mengambil keputusan yang layak (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 8 tentang Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca). 72 Dalam keadaan tertentu, pengaruh penggabungan usaha mungkin memperbolehkan laporan keuangan perusahaan gabungan disusun berdasarkan asumsi kesinambungan usaha (going concern). Namun hal tersebut mungkin saja tidak berlaku pada salah satu atau kedua perusahaan yang bergabung. Hal ini bisa terjadi, misalnya karena perusahaan yang mempunyai kesulitan dana (cash flow) bergabung dengan perusahaan yang mempunyai akses terhadap dana yang dapat digunakan oleh perusahaan lainnya yang kekurangan dana. Dalam hal demikian informasi ini relevan diungkapkan dalam laporan keuangan perusahaan yang mempunyai kesulitan dana tersebut.

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 22 AKUNTANSI PENGGABUNGAN USAHA Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 22 terdiri dari paragraf 73 - 97. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1 - 72. 73 Pernyataan ini harus diterapkan dalam akuntansi penggabungan usaha (business combinations). Akuisisi 74 Penggabungan usaha melalui akuisisi harus dipertanggungjawabkan dengan menggunakan metode pembelian, sebagaimana diatur pada paragraf 75 -85. 75 Sejak tanggal akuisisi, perusahaan pengakuisisi harus: (a) melaporkan hasil usaha perusahaan yang diakuisisi dalam laporan laba ruginya; dan (b) melaporkan aktiva dan kewajiban perusahaan yang diakui sisi dalam neracanya serta goodwill yang timbul dari akuisisi tersebut. 76 Suatu akuisisi harus dibukukan sebesar biaya perolehan, yaitu jumlah kas atau aktiva setara kas yang dibayar atau nilai wajar (pada tanggal pertukaran) aktiva lain yang diberikan oleh perusahaan pengakuisisi, sebagai imbalan atas perolehan kendali atas aktiva neto perusahaan lain, ditambah biaya-biaya lain yang secara langsung dapat diatribusikan pada akuisisi tersebut. 77 Aktiva dan kewajiban yang diperoleh harus dibukukan secara terpisah pada tanggal akuisisi jika:

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 18 of 21

(a) besar kemungkinan (probable) bahwa segala manfaat terkait pada masa yang akan datang akan mengalir ke atau dari perusahaan pengakuisisi; dan (b) tersedia suatu ukuran yang andal sehubungan dengan biaya perolehan atau nilai wajarnya. 78 Aktiva dan kewajiban yang diakui sesuai dengan paragraf 26 harus diukur dengan menjumlahkan: (a) nilai wajar aktiva dan kewajiban teridentifikasi yang diperoleh pada tanggal transaksi pertukaran sepanjang kepemilikan (interest) perusahaan pengakuisisi diperoleh melalui transaksi pertukaran; dan (b) hak minoritas atas nilai tercatat aktiva dan kewajiban anak perusahaan sebelum tanggal akuisisi. Goodwill yang timbul harus diakui sesuai dengan Pernyataan ini. 79 Selisih lebih antara biaya perolehan dan bagian (interest) perusahaan pengakuisisi atas nilai wajar aktiva dan kewajiban yang dapat diidentifikasi pada tanggal transaksi pertukaran diakui sebagai goodwill dan disajikan sebagai aktiva. 80 Goodwill harus diamortisasi sebagai beban selama masa manfaatnya. Dalam mengamortisasi goodwill, harus digunakan metode garis lurus, kecuali terdapat metode lain yang dianggap lebih tepat pada keadaan tertentu. Periode amortisasi goodwill tidak boleh lebih dari lima tahun kecuali periode yang lebih panjang tetapi tidak lebih dari 20 tahun dapat digunakan apabila terdapat dasar yang tepat (justifiable). 81 Saldo goodwill yang belum diamortisasi harus dievaluasi pada setiap tanggal neraca, dan apabila terdapat indikasi bahwa jumlah tersebut tidak dapat sepenuhnya atau sebagian dipulihkan (recovered) dari ekspektasi manfaat keekonomian di masa mendatang, maka bagian jumlah yang tidak dipulihkan tersebut langsung dibukukan sebagai beban pada periode yang bersangkutan. Setiap penurunan nilai (write-down) goodwill tidak boleh dinaikkan (write-up) kembali pada periode selanjutnya. 82 Jika biaya perolehan (cost of the acquisition) lebih rendah dari bagian (interest) pengakuisisi atas nilai wajar aktiva dan kewajiban yang dapat diidentifikasi yang diakuisisi pada tanggal transaksi, maka nilai wajar aktiva non moneter yang diakuisisi harus diturunkan secara proporsional, sampai seluruh selisih tersebut dieliminasi. Apabila setelah nilai wajar aktiva non moneter sudah diturunkan seluruhnya, ternyata masih terdapat sisa selisih yang belum dieliminasi, maka sisa selisih tersebut diakui sebagai goodwill negatif dan diperlakukan sebagai pendapatan ditangguhkan (deferred income) dan diakui sebagai pendapatan secara sistematis selama suatu periode yang tidak kurang dari 20 tahun. 83 Apabila perjanjian akuisisi memungkinkan dilakukannya penyesuaian atas harga beli yang tergantung pada terjadi tidaknya satu atau lebih peristiwa tertentu di masa yang akan datang, maka jumlah penyesuaian tersebut harus diperhitungkan dalam menentukan biaya perolehan pada tanggal akuisisi, jika penyesuaian tersebut besar kemungkinannya (probable) akan terjadi dan jumlahnya dapat diperkirakan secara. layak pada tanggal akuisisi. 84 Biaya perolehan harus disesuaikan apabila kontinjensi yang mempengaruhi harga beli terselesaikan setelah tanggal akusisi, sehingga pembayaran atas jumlah tersebut besar

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22
kemungkinan (probable) terjadi dan jumlahnya dapat diestimasi secara layak.

Page 19 of 21

85 Aktiva dan kewajiban yang diakuisisi tetapi tidak memenuhi kriteria pada paragraf 26 untuk diakui secara terpisah pada saat akuisisi dibukukan harus diakui kemudian apabila kriteria tersebut telah dipenuhi. Nilai tercatat carrying amount) aktiva dan kewajiban yang diperoleh harus disesuaikan, jika setelah akuisisi, terdapat bukti tambahan yang dapat digunakan untuk mengestimasi nilai aktiva dan kewajiban yang telah dibukukan pada saat akuisisi terjadi. Dengan demikian, goodwill atau goodwill negatif juga harus disesuaikan sepanjang jumlah penyesuaian tersebut besar kemungkinannya (probable) dapat dipulihkan dari manfaat keekonomian masa depan yang diharapkan dan penyesuaian tersebut dilakukan pada akhir tahun buku pertama setelah tahun akuisisi; penyesuaian yang timbul setelah periode tersebut harus diakui sebagai pendapatan atau beban. Penyatuan Kepemilikan 86 Suatu penyatuan kepemilikan (uniting of interests) harus dibukukan dengan menggunakan metode penyatuan kepemilikan (pooling of interest method), yang akan dijelaskan pada paragraf 87, 88 dan 89. 87 Dalam menerapkan metode penyatuan kepemilikan, unsur-unsur laporan keuangan dari perusahaan yang bergabung untuk periode terjadinya penggabungan tersebut dan untuk periode perbandingan yang diungkapkan, harus dimasukkan dalam laporan keuangan gabungan seolah-olah perusahaan tersebut telah bergabung sejak permulaan periode yang disajikan tersebut. Laporan keuangan suatu perusahaan tidak boleh memasukkan adanya penyatuan kepemilikan walaupun perusahaan tersebut adalah salah satu pihak yang bergabung, apabila penyatuan kepemilikan terjadi pada suatu tanggal setelah tanggal neraca terakhir yang disajikan 88 Selisih antara jumlah yang dibukukan sebagai modal saham yang diterbitkan ditambah kompensasi pembelian lainnya dalam bentuk kas ataupun aktiva lainnya dengan jumlah modal saham yang diperoleh, harus disesuaikan terhadap ekuitas atau modal sendiri. 89 Pengeluaran yang terjadi sehubungan dengan penyatuan kepemilikan harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya . Pengungkapan 90 Untuk semua penggabungan usaha, pengungkapan berikut harus dibuat dalam laporan keuangan pada periode terjadinya penggabungan usaha: (a) nama dan penjelasan tentang perusahaan yang bergabung; (b) metode akuntansi yang digunakan untuk penggabungan usaha tersebut; (c) tanggal efektif penggabungan usaha untuk tujuan akuntansi; (d) operasi atau kegiatan usaha yang telah diputuskan untuk dijual atau dihentikan akibat penggabungan usaha tersebut. 91 Untuk penggabungan usaha yang merupakan akuisisi, pengungkapan tambahan berikut dalam laporan keuangan harus dibuat pada periode terjadinya akuisisi: (a) persentase saham berhak suara yang diperoleh;

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 20 of 21

(b) biaya perolehan (acquisition cost) dan penjelasan tentang harga beli yang telah dibayar atau terhutang secara kontinjen (contingently payable); dan (c) sifat dan jumlah penyisihan untuk beban restrukturisasi dan beban penutupan pabrik yang timbul akibat akuisisi dan diakui pada tanggal akuisisi. 92 Laporan keuangan harus mengungkapkan: (a) perlakuan akuntansi goodwill termasuk periode amortisasinya; (b) apabila masa manfaat goodwill lebih dari lima tahun penjelasan tentang alasan dan pertimbangan yang digunakan; (c) apabila goodwill tidak diamortisasikan dengan metode garis lurus, metode yang digunakan serta alasan kenapa metode tersebut dianggap lebih tepat daripada metode garis lurus; (d) rekonsiliasi goodwill pada saat awal dan akhir periode yang menunjukkan: (i) jumlah bruto goodwill dan akumulasi amortisasinya pada awal periode; (ii) tambahan goodwill yang dibukukan selama periode berjalan; (iii)jumlah amortisasi selama periode berjalan; (iv)pernyesuaian yang dilakukan akibat adanya identifikasi susulan atau perubahan nilai aktiva dan kewajiban setelah tanggal akuisisi; (v) penghapusbukuan goodwill yang dilakukan selama periode berjalan; dan (vi)jumlah bruto goodwill dan akumulasi amortisasinya pada akhir periode. 93 Dalam suatu akuisisi, jika nilai wajar aktiva dan kewajiban atau harga beli (purchase consideration) hanya akan dapat ditentukan pada akhir periode akuisisi dilaksanakan, hal tersebut harus diungkapkan beserta alasannya. Jika setelah tanggal akuisisi terdapat penyesuaian atas taksiran nilai wajar tersebut, penyesuaian tersebut harus diungkapkan dan dijelaskan dalam laporan keuangan pada periode terjadinya. 94 Untuk suatu penggabungan usaha yang merupakan penyatuan kepemilikan (uniting of interest), pengungkapan tambahan berikut harus dibuat dalam laporan keuangan pada periode terjadinya: (a) penjelasan dan jumlah saham yang diterbitkan, serta persentase saham berhak suara setiap perusahaan yang dipertukarkan untuk melaksanakan penyatuan kepemilikan tersebut; (b) jumlah aktiva dan kewajiban yang diserahkan oleh setiap perusahaan; dan (c) pendapatan penjualan, pendapatan operasional lainnya, pos luar biasa dan laba bersih (rugi) dari masing-masing perusahaan untuk periode sebelum penggabungan, yang termasuk dalam laba bersih (rugi) yang disajikan dalam laporan keuangan gabungan. 95 Untuk penggabungan usaha yang terjadi setelah tanggal neraca, harus dibuat

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 22

Page 21 of 21

pengungkapan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 90 - 94. Jika pengungkapan tersebut tidak mungkin dibuat maka fakta tersebut harus diungkapkan. Masa Transisi 96 Penerapan standar ini secara retrospektif dianjurkan tetapi tidak diwajibkan. Jika standar ini diterapkan secara retrospektif, saldo goodwill sebelum akuisisi dilaksanakan (jika ada) harus ditentukan dengan layak dan diperlakukan sesuai dengan Pernyataan ini. Periode amortisasi goodwill harus lebih pendek dari sisa masa manfaatnya seperti digambarkan pada kebijakan amortisasi dan periode amortisasi yang digambarkan pada Pernyataan ini. Tanggal Efektif 97 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini sangat dianjurkan.

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 22 Akuntansi Penggabungan Usaha.htm

10/17/03

PSAK no 23

Page 1 of 10

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 PENDAPATAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 tentang Pendapatan disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI PENDAHULUAN Tujuan Ruang Lingkup Definisi PENJELASAN Pengukuran Pendapatan Pengidentifikasian Transaksi Penjualan Barang Penjualan Jasa Bunga, Royalti dan Dividen Pengungkapan PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO.23 PENDAPATAN Pengukuran Pendapatan Penjualan Barang Penjualan Jasa

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 23 Pendapatan.htm

10/17/03

PSAK no 23
Bunga, Royalti dan Dividen Pengungkapan Tanggal Efektif

Page 2 of 10

PENDAHULUAN Tujuan Penghasilan didefinisikan dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan sebagai peningkatan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi tertentu dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal. Penghasilan (income) meliputi baik pendapatan (revenue) maupun keuntungan (gain). Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa (fees), bunga, dividen, royalti dan sewa. Tujuan Pernyataan ini adalah untuk mengatur perlakuan akuntansi untuk pendapatan yang timbul dari transaksi dan peristiwa ekonomi tertentu. Permasalahan utama dalam akuntansi untuk pendapatan adalah menentukan saat pengakuan pendapatan. Pendapatan diakui bila besar kemungkinan manfaat ekonomi masa depan akan mengalir ke perusahaan dan manfaat ini dapat diukur dengan andal. Pernyataan ini mengidentifikasikan keadaan yang memenuhi kriteria tersebut agar pendapatan dapat diakui. Pernyataan ini juga memberikan pedoman praktis dalam penerapan kriteria tersebut. Ruang Lingkup 01 Pernyataan ini harus diterapkan dalam akuntansi untuk pendapatan yang timbul dari transaksi dan peristiwa ekonomi berikut ini: (a) penjualan barang; (b) penjualan jasa; dan (c) penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak-pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti dan dividen. 02 Barang meliputi barang yang diproduksi perusahaan untuk dijual dan barang yang dibeli untuk dijual kembali, seperti barang dagang yang dibeli pengecer atau tanah dan properti lain yang dibeli untuk dijual kembali. 03 Penjualan jasa biasanya menyangkut pelaksanaan tugas yang secara kontraktual telah disepakati untuk dilaksanakan selama suatu periode waktu yang disepakati oleh perusahaan. Jasa tersebut dapat diserahkan selama satu periode atau selama lebih dari satu periode. Beberapa kontrak penjualan jasa yang timbul dari kontrak konstruksi, misalnya, kontrak penjualan jasa mengenai manajer proyek dan arsitek, tidak dibahas dalam Pernyataan ini. 04 Penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak lain menimbulkan pendapatan dalam bentuk: (a) bunga - pembebanan untuk penggunaan kas atau setara kas atau jumlah terhutang kepada perusahaan; (b) royalti - pembebanan untuk penggunaan aktiva jangka panjang perusahaan, misalnya, paten, merek dagang, hak cipta, dan perangkat lunak komputer; dan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 23 Pendapatan.htm

10/17/03

PSAK no 23

Page 3 of 10

(c) dividen - distribusi laba kepada pemegang investasi ekuitas sesuai dengan proporsi mereka dari jenis modal tertentu. 05 Pendapatan berikut ini telah atau akan diatur dalam standar akuntansi keuangan tersendiri sehingga tidak dibahas dalam Pernyataan ini: (a) perjanjian sewa guna usaha (diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 30 tentang Akuntansi Sewa Guna Usaha); (b) dividen yang timbul dari investasi yang dipertanggungjawabkan menurut metode ekuitas (diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 13 tentang Akuntansi Untuk Investasi); (c) kontrak asuransi dari perusahaan asuransi (untuk jenis asuransi kerugian, diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 28 tentang Akuntansi Asuransi Kerugian); (d) perubahan dalam nilai wajar dari aktiva dan kewajiban finansial atau pelepasannya; (e) perubahan dalam nilai aktiva lancar lain; (f) pertumbuhan alami dari ternak dan hasil pertanian; (g) hasil hutan (diatur dalam Pernyataan 32tentangAkuntansiPengusahaanHutan); dan Standar Akuntansi Keuangan No.

(h) ekstraksi hasil tambang (diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 33 tentang Akuntansi Pertambangan Umum). Definisi 06 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal. Nilai wajar adalah suatu jumLah, untuk itu suatu aktiva mungkin ditukar atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm's length transaction). 07 Pendapatan hanya terdiri dari arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang diterima dan dapat diterima oleh perusahaan untuk dirinya sendiri. Jumlah yang ditagih atas nama pihak ketiga, seperti pajak pertambahan nilai, bukan merupakan manfaat ekonomi yang mengalir ke perusahaan dan tidak mengakibatkan kenaikan ekuitas, dan karena itu harus dikeluarkan dari pendapatan. Begitupun dalam hubungan keagenan, arus masuk bruto manfaat ekonomi termasuk jumlah yang ditagih atas nama prinsipal, tidak mengakibatkan kenaikan ekuitas perusahaan, dan karena itu bukan merupakan pendapatan. Yang merupakan pendapatan hanyalah komisi yang diterima dari prinsipal. PENJELASAN Pengukuran Pendapatan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 23 Pendapatan.htm

10/17/03

PSAK no 23

Page 4 of 10

08 Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima. 09 Jumlah pendapatan yang timbul dari suatu transaksi biasanya ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan dan pembeli atau pemakai aktiva tersebut. Jumlah tersebut diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah diskon dagang dan rabat volume yang diperbolehkan oleh perusahaan. 10 Pada umumnya, imbalan tersebut berbentuk kas atau setara kas dan jumlah pendapatan adalah jumlah kas atau setara kas yang diterima atau yang dapat diterima. Namun, bila arus masuk dari kas atau setara kas ditangguhkan, nilai wajar dari imbalan tersebut mungkin kurang dari jumlah nominal dari kas yang diterima atau yang dapat diterima. Misalnya, suatu perusahaan dapat memberikan kredit bebas bunga kepada pembeli atau menerima wesel tagih dari pembeli dengan tingkat bunga di bawah pasar sebagai imbalan dari penjualan barang. Bila perjanjian tersebut secara efektif merupakan suatu transaksi finansial, nilai wajar imbalan ditentukan dengan pendiskontoan seluruh penerimaan di masa depan dengan menggunakan suatu tingkat bunga tersirat (imputed). Tingkat bunga tersirat tersebut adalah yang paling mudah ditentukan dari: (a) tingkat bunga yang berlaku bagi instrumen yang serupa dari suatu penerbit (issuer) dengan penilaian kredit (credit rating) yang sama; atau (b) suatu tingkat bunga untuk mengurangi (discount) nilai nominal instrumen tersebut ke harga jual tunai pada saat ini dari barang atau jasa. Perbedaan antara nilai wajar dan jumlah nominal dari imbalan tersebut diakui sebagai pendapatan bunga sebagaimana dijelaskan paragraf 28 dan 29. 11 Bila barang atau jasa dipertukarkan (barter) untuk barang atau jasa dengan sifat dan nilai yang sama, maka pertukaran tersebut tidak dianggap sebagai suatu transaksi yang mengakibatkan pendapatan. Hal ini sering terjadi dengan komoditi seperti minyak atau susu di mana penyalur menukarkan (swap) persediaan di berbagai lokasi untuk memenuhi permintaan dengan suatu dasar tepat waktu dalam suatu lokasi tertentu. Bila barang dijual atau jasa diberikan untuk dipertukarkan dengan barang dan jasa yang tidak serupa, pertukaran tersebut dianggap sebagai transaksi yang mengakibatkan pendapatan. Pendapatan tersebut diukur pada nilai wajar dari barang atau jasa yang diserahkan, disesuaikan dengan jumlah kas atau setara kas yang ditransfer. 12 Kriteria pengakuan dalam Pernyataan ini biasanya diterapkan secara terpisah kepada setiap transaksi. Namun, dalam keadaan tertentu, adalah perlu untuk menerapkan kriteria pengakuan tersebut kepada komponen-komponen yang dapat diidentifikasi secara terpisah dari suatu transaksi tunggal supaya mencerminkan substansi dari transaksi tersebut. Misalnya, bila harga penjualan dari suatu produk termasuk jumlah yang dapat diidentifikasi untuk jasa purna jual, jumlah tersebut ditangguhkan dan diakui sebagai pendapatan selama periode di mana jasa tersebut dilakukan. Sebaliknya, kriteria pengakuan diterapkan pada dua atau lebih transaksi bersama -sama bila transaksi-transaksi tersebut terikat sedemikian rupa sehingga pengaruh komersialnya tidak dapat dimengerti tanpa melihat kepada rangkaian transaksi tersebut secara keseluruhan. Misalnya, suatu perusahaan dapat menjual barang dan, pada saat yang sama, menyetujui perjanjian yang terpisah untuk membeli kembali barang tersebut di kemudian hari, sehingga meniadakan pengaruh yang sesungguhnya dari transaksi tersebut; dalam hal ini, kedua transaksi tersebut diperlakukan bersamaan. Penjualan Barang

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 23 Pendapatan.htm

10/17/03

PSAK no 23

Page 5 of 10

13 Pendapatan dari penjualan barang harus diakui bila seluruh kondisi berikut dipenuhi: (a) perusahaan telah memindahkan risiko secara signifikan dan telah memindahkan manfaat kepemilikan barang kepada pembeli; (b) perusahaan tidak lagi mengelola atau melakukan pengendalian efektif atas barang yang dijual; (c) jumlah pendapatan tersebut dapat diukur dengan andal; (d) besar kemungkinan manfaat ekonomi yang dihubungkan dengan transaksi akan mengalir kepada perusahaan tersebut; dan (e) biaya yang terjadi atau yang akan terjadi sehubungan dengan transaksi penjualan dapat diukur dengan andal 14 Penentuan kapan suatu perusahaan telah memindahkan risiko signifikan dan manfaat kepemilikan kepada pembeli memerlukan pengujian keadaan transaksi tersebut. Pada umumnya, pemindahan risiko dan manfaat kepemilikan bersamaan waktunya dengan pemindahan hak milik atau pemindahan penguasaan atas barang tersebut kepada pembeli. Hal ini terjadi pada kebanyakan penjualan eceran. Dalam hal lain, pemindahan risiko dan manfaat kepemilikan terjadi pada saat yang berbeda dengan pemindahan hak milik atau pemindahan penguasaan atas barang tersebut. 15 Jika perusahaan tersebut menahan risiko signifikan dari kepemilikan, transaksi tersebut bukanlah suatu penjualan dan pendapatan tidak diakui. Suatu perusahaan dapat menahan risiko kepemilikan yang signifikan dengan berbagai cara. Misalnya: (a) bila perusahaan menahan kewajiban sehubungan dengan pelaksanaan suatu hal yang tidak memuaskan yang tidak dijamin sebagaimana lazimnya; (b) bila penerimaan pendapatan dari suatu penjualan tertentu tergantung pada pendapatan pembeli yang bersumber dari penjualan barang yang bersangkutan; (c) bila pengiriman barang tergantung pada instalasinya, dan instalasi tersebut merupakan bagian signifikan dari kontrak yang belum diselesaikan oleh perusahaan; dan (d) bila pembeli berhak untuk membatalkan pembelian berdasarkan alasan yang ditentukan dalam kontrak dan perusahaan tidak dapat memastikan apakah akan terjadi retur. 16 Jika perusahaan hanya menahan risiko tidak signifikan atas kepemilikan, transaksi tersebut adalah suatu penjualan dan pendapatan diakui. Misalnya, penjual mungkin menahan hak milik atas barang semata-mata untuk melindungi kolektibilitas dari jumlah yang jatuh tempo. Dalam hal seperti itu, jika perusahaan telah memindahkan manfaat kepemilikan dan risiko yang signifikan transaksi tersebut adalah suatu penjualan dan pendapatan harus diakui. Contoh lain perusahaan yang hanya menahan risiko yang tidak signifikan dari kepemilikan adalah dalam penjualan eceran dengan syarat dapat dikembalikan bila pelanggan tidak puas. Pendapatan dalam hal ini diakui pada waktu penjualan dilakukan jika penjual dapat mengestimasi secara andal retur yang akan terjadi dan mengakui suatu kewajiban untuk retur berdasarkan pengalaman sebelumnya dan faktor-faktor lain yang relevan. 17 Pendapatan diakui hanya bila besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan mengalir kepada perusahaan. Kadang-kadang, kemungkinan hal

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 23 Pendapatan.htm

10/17/03

PSAK no 23

Page 6 of 10

tersebut terjadi sangat kecil, sampai imbalan diterima atau sampai suatu ketidakpastian dihilangkan. Misalnya, belum ada kepastian bahwa pemerintahan asing akan memberi ijin untuk pengiriman imbalan untuk suatu penjualan di suatu negara asing. Bila ijin diberikan, ketidakpastian tersebut dihilangkan dan pendapatan diakui. Namun, bila suatu ketidakpastian timbul tentang kolektibilitas sejumlah tertentu yang telah termasuk dalam pendapatan, jumlah yang tidak tertagih atau jumlah yang pemulihannya tidak lagi besar kemungkinannya, diakui sebagai beban, menggantikan penyesuaian jumlah pendapatan yang diakui semula. 18 Pendapatan dan beban sehubungan dengan suatu transaksi atau peristiwa tertentu diakui secara bersamaan; proses ini biasanya mengacu pada pengaitan pendapatan dengan beban (matching revenue and expose). 8eban, termasuk jaminan dan biaya lain yang terjadi setelah pengiriman barang, biasanya dapat diukur dengan andal jika kondisi lain untuk pengakuan pendapatan yang berkaitan dapat dipenuhi. Tetapi, pendapatan tidak dapat diakui bila beban yang berkaitan tidak dapat diukur dengan andal. Dalam keadaan demikian, setiap imbalan yang telah diterima untuk penjualan barang tersebut diakui sebagai suatu kewajiban. PENJUALAN JASA 19 Bila hasil suatu transaksi yang meliputi penjualan jasa dapat diestimasi dengan andal, pendapatan sehubungan dengan transaksi tersebut harus diakui dengan acuan pada tingkat penyelesaian dari transaksi pada tanggal neraca. Hasil suatu transaksi dapat diestimasi dengan andal bila seluruh kondisi berikut ini dipenuhi: (a) jumlah pendapatan dapat diukur dengan andal; (b) besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan diperoleh perusahaan; (c) tingkat penyelesaian dari suatu transaksi pada tanggal neraca dapat diukur dengan andal; dan (d) biaya yang terjadi untuk transaksi tersebut dan biaya untuk menyelesaikan transaksi tersebut dapat diukur dengan andal. 20 Pengakuan pendapatan dengan acuan pada tingkat penyelesaian dari suatu transaksi sering disebut sebagai metode persentase penyelesaian. Menurut metode ini, pendapatan diakui dalam periode akuntansi pada saat jasa diberikan. Pengakuan pendapatan atas dasar ini memberikan informasi yang berguna mengenai tingkat kegiatan jasa dan kinerja suatu perusahaan dalam suatu periode. 21 Pendapatan diakui bila besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan diperoleh perusahaan. Namun, bila suatu ketidakpastian timbul mengenai kolektibilitas suatu jumlah yang telah termasuk dalam pendapatan, jumlah yang tidak tertagih, atau jumlah yang pemulihannya (recovery) tidak lagi besar kemungkinannya, diakui sebagai suatu beban dari pada penyesuaian jumlah pendapatan yang diakui semula. 22 Suatu perusahaan dapat membuat estimasi yang andal setelah perusahaan tersebut mencapai persetujuan mengenai hal-hal berikut dengan pihak lain dalam transaksi tersebut: (a) hak masing-masing pihak yang pelaksanaannya dapat dipaksakan dengan kekuatan hukum berkenaan dengan jasa yang diberikan dan diterima pihak-pihak tersebut;

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 23 Pendapatan.htm

10/17/03

PSAK no 23

Page 7 of 10

(b) imbalan yang harus dipertukarkan; dan (c) cara dan persyaratan penyelesaian. Biasanya perusahaan perlu mempunyai sistem anggaran dan pelaporan keuangan intern yang efektif. Perusahaan tersebut menelaah dan bila perlu merevisi estimasi pendapatan sewaktu jasa diberikan. Kebutuhan revisi tersebut tidak perlu mengindikasikan bahwa hasil transaksi tersebut tidak dapat diestimasi dengan andal. 23 Tingkat penyelesaian suatu transaksi dapat ditentukan dengan berbagai metode. Suatu perusahaan menggunakan metode yang dapat mengukur dengan andal jasa yang diberikan. Tergantung pada sifat transaksi, metode tersebut dapat meliputi: (a) survei pekerjaan yang telah dilaksanakan; (b) jasa yang dilakukan hingga tanggal tertentu sebagai persentase dari total jasa yang harus dilakukan; (c) proporsi biaya yang terjadi hingga tanggal tertentu dibagi estimasi total biaya transaksi tersebut. Hanya biaya yang mencerminkan jasa yang dilaksanakan hingga tanggal tertentu dimasukkan dalam biaya yang terjadi hingga tanggal tersebut. Hanya biaya yang mencerminkan jasa yang dilakukan, atau yang harus dilakukan dimasukkan kedalam estimasi total biaya transaksi tersebut. Pembayaran berkala dan uang muka yang diterima dari pelanggan sering tidak mencerminkan jasa yang dilakukan. 24 Untuk tujuan praktis, bila jasa dihasilkan oleh sejumlah kegiatan yang tidak dapat ditentukan selama suatu periode tertentu, pendapatan diakui atas dasar garis lurus selama periode tertentu kecuali jika ada bukti bahwa ada metode lain yang lebih baik yang dapat mencerminkan tingkat penyelesaian. Bila kegiatan tertentu jauh lebih signifikan daripada kegiatan yang lain, pengakuan pendapatan ditunda sampai kegiatan yang signifikan tersebut dilakukan. 25 Bila hasil transaksi yang meliputi penjualan jasa tidak dapat diestimasi dengan andal, pendapatan yang diakui hanya yang berkaitan dengan beban yang telah diakui yang dapat diperoleh kembali. 26 Selama tahap awal suatu transaksi, seringkali terjadi bahwa hasil transaksi tersebut tidak dapat diestimasi dengan andal. Namun demikian, besar kemungkinan terjadi bahwa perusahaan tersebut akan memperoleh kembali biaya transaksi yang terjadi. Oleh karena itu, pendapatan yang diakui hanya yang berkaitan dengan biaya yang telah terjadi yang diharapkan dapat diperoleh kembali. Karena hasil transaksi tersebut tidak dapat diestimasi dengan andal, tidak ada laba yang diakui. 27 Jika hasil dari suatu transaksi tidak dapat diestimasi dengan andal dan kecil kemungkinan biaya yang terjadi akan diperoleh kembali, pendapatan tidak diakui dan biaya yang terjadi diakui sebagai beban. Bila kondisi yang semula mengakibatkan estimasi hasil kontrak tidak dapat dilakukan dengan andal tidak lagi ada, pendapatan diakui sesuai dengan paragraf 19, menggantikan paragraf 25. Bunga, Royalti dan Dividen

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 23 Pendapatan.htm

10/17/03

PSAK no 23

Page 8 of 10

28 Pendapatan yang timbul dari penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak-pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti dan dividen harus diakui atas dasar yang dijelaskan dalam paragraf 29 bila: (a) besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan diperoleh perusahaan; dan

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN PERNYATAAN NO. 23 PENDAPATAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Pernyataan No. 23 terdiri dari paragraf 56 - 44. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1-35. 36 Pernyataan ini harus diterapkan dalam akuntansi untuk pendapatan yang timbul dari transaksi dan peristiwa ekonomi berikut ini: (a) penjualan barang; (b) penjualan jasa; dan (c) penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak-pihak lain yang menghasilkan bunga royalti dan dividen. Pengukuran Pendapatan 37 Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima. Penjualan Barang 38 Pendapatan dari penjualan barang harus diakui bila seluruh kondisi berikut dipenuhi: (a) perusahaan telah memindahkan risiko secara signifikan dan telah memindahkan manfaat kepemilikan barang kepada pembeli; (b) perusahaan tidak lagi mengelola atau melakukan pengendalian efektif atas barang yang dijual; (c) jumlah pendapatan tersebut dapat diukur dengan andal; (d) besar kemungkinan manfaat ekonomi yang dihubungkan dengan transaksi akan mengalir kepada perusahaan tersebut; dan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 23 Pendapatan.htm

10/17/03

PSAK no 23

Page 9 of 10

(e) biaya yang terjadi atau yang akan terjadi sehubungan dengan transaksi penjualan dapat diukur dengan andal. Penjualan Jasa 39 Bila hasil suatu transaksi yang meliputi penjualan jasa dapat diestimasi dengan andal, pendapatan sehubungan dengan transaksi tersebut harus diakui dengan acuan pada tingkat penyelesaian dari transaksi pada tanggal neraca. Hasil suatu transaksi dapat diestimasi dengan andal bila seluruh kondisi berikut ini dipenuhi: (a) jumlah pendapatan dapat diukur dengan andal; (b) besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan diperoleh perusahaan; (c) tingkat penyelesaian dari suatu transaksi pada tanggal neraca dapat diukur dengan andal; dan (d) biaya yang terjadi untuk transaksi tersebut dan biaya untuk menyelesaikan transaksi tersebut dapat diukur dengan andal. 40 Bila hasil transaksi yang meliputi penjualan jasa tidak dapat diestimasi dengan andal, pendapatan yang diakui hanya yang berkaitan dengan beban yang telah diakui yang dapat diperoleh kembali. Bunga, Royalti dan Dividen 41 Pendapatan yang timbul dari penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak-pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti dan dividen harus diakui atas dasar yang diatur dalam paragraf 42 bila: (a) besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan diperoleh perusahaan; dan (b) jumlah pendapatan dapat diukur dengan andal. 42 Pendapatan harus diakui dengan dasar sebaqai berikut: (a) bunga harus diakui atas dasar proporsi waktu yang memperhitungkan hasil efektif aktiva tersebut; (b} royalti harus diakui atas dasar akrual sesuai dengan substansi perjanjian yang relevan; dan (c) dalam metode biaya (cost method), dividen tunai harus diakui bila hak pemegang saham untuk menerima pembayaran ditetapkan. Pengungkapan 43 Perusahaan harus mengungkapkan: (a) kebijakan akuntansi yang dianut untuk pengakuan pendapatan termasuk metode yang

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 23 Pendapatan.htm

10/17/03

PSAK no 23
dianut untuk menentukan tingkat penyelesaian transaksi penjualan jasa;

Page 10 of 10

(b) jumlah setiap kategori signifikan dari pendapatan yang diakui selama periode tersebut termasuk pendapatan dari: (i) penjualan barang (ii) penjualan jasa (iii) bunga (iv) royalti (v) dividen (c) jumlah pendapatan yang berasal dari pertukaran barang atau jasa dimasukkan dalam setiap kategori yang signifikan dari pendapatan; (d) pendapatan yang ditunda pengakuannya. Tanggal Efektif 44 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini dianjurkan.

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 23 Pendapatan.htm

10/17/03

PSAK no 24

Page 1 of 15

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 24 AKUNTANSI BIAYA MANFAAT PENSIUN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 24 tentang Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI PENDAHULUAN Tujuan Ruang Lingkup Definisi Jenis-Jenis Program Pensiun Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun PENJELASAN Program Pensiun luran Pasti Pengakuan Beban Manfaat Pensiun Pengungkapan Program Pensiun Manfaat Pasti Beban Manfaat Pensiun Pengakuan Biaya Jasa Kini Pengakuan Biaya Manfaat Pensiun selain Biaya Jasa Kini (i) Untuk Peserta Yang Masih Aktif Bekerja

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 24
(ii) Pembubaran Program (Plan Termination) dan Pengurangan Peserta(Curtailments) (iii) Untuk Peserta Yang Sudah Pensiun Metode Penilaian Aktuarial Pengungkapan PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 24 AKUNTANSI BIAYA MANFAAT PENSIUN Program Pensiun luran Pasti Pengakuan Biaya Manfaat Pensiun Pengungkapan Program Pensiun Manfaat Pasti Pengakuan Biaya Jasa Kini Pengakuan Biaya Manfaat Pensiun selain Biaya Jasa Kini Metode Penilaian Aktuarial Pengungkapan Masa Transisi Tanggal Efektif LAMPIRAN Asumsi Aktuarial dan Metode Penilaian Aktuarial

Page 2 of 15

PENDAHULUAN Tujuan Program pensiun merupakan salah satu bagian penting dari program balas jasa yang diselenggarakan pemberi kerja untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan. Permasalahan pokok akuntansi program pensiun bagi pemberi kerja adalah tentang pengukuran biaya manfaat pensiun yang wajar dan pengungkapan yang memadai mengenai program pensiun di dalam laporan keuangan pemberi kerja. Pernyataan ini bertujuan untuk menjelaskan tentang kapan biaya manfaat pensiun harus diakui sebagai beban, berapa jumlahnya dan informasi apa yang harus diungkapkan dalam laporan keuangan pemberi kerja sehubungan dengan program pensiun. Ruang Lingkup 01 Pernyataan ini harus diterapkan sehubungan dengan akuntansi tentang biaya manfaat pensiun bagi pemberi kerja. 02 Pernyataan ini tidak mengatur tentang kesejahteraan karyawan dalam bentuk lainnya, misalnya kewajiban pemberian pesangon, pengaturan kompensasi yang ditangguhkan (deferred compensation management), tunjangan kesehatan dan kesejahteraan program bonus dan lain-lain. Program jaminan kesejahteraan sosial yang diwajibkan pemerintah (astek, jamsostek) juga di luar lingkup Pernyataan ini. 03 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 18 tentang Akuntansi Dana Pensiun, mengatur tentang akuntansi dan pelaporan Dana Pensiun sebagai suatu lembaga. Dengan demikian Pernyataan ini perlu dikaji dalam kaitannya dengan Standar Akuntansi Keuangan tersebut. 04 Pernyataan ini berlaku untuk Program Pensiun luran Pasti (PPIP) dan Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP), sebagaimana dimaksud di dalam peraturan perundangan yang berlaku.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 24

Page 3 of 15

Definisi 05 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Program Pensiun adalah setiap program yang mengupayakan manfaat pensiun bagi peserta. Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun. Peraturan Dana Pensiun adalah peraturan yang berisi ketentuan yang menjadi dasar penyelenggaraan program pensiun. Program Pensiun luran Pasti (Defined Contribution Plans) adalah program pensiun yang iurannya ditetapkan dalam peraturan Dana Pensiun dan seluruh iuran serta hasil pengembangannya dibukukan pada rekening masing-masing peserta sebagai manfaat pensiun . Program Pensiun Manfaat Pasti (Defined Benefit Plans) adalah program pensiun yang manfaatnya ditetapkan dalam peraturan Dana Pensiun atau Program Pensiun lain yang bukan merupakan Program Pensiun luran Pasti. Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) adalah Dana Pensiun yang dibentuk oleh orang atau badan yang mempekerjakan karyawan, selaku pendiri, untuk menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti atau Program Pensiun luran Pasti, bagi kepentingan sebagian atau seluruh karyawannya, sebagai peserta, dan yang menimbulkan kewajiban bagi pemberi kerja. Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) adalah Dana Pensiun yang dibentuk oleh bank atau perusahaan asuransi jiwa untuk menyelenggarkan Program Pensiun luran Pasti bagi perorangan, baik karyawan maupun pekerja mandiri yang terpisah dari Dana Pensiun Pemberi Kerja bagi karyawan bank atau perusahaan asuransi jiwa yang bersangkutan. Manfaat Pensiun adalah pembayaran berkala yang dibayarkan kepada peserta pada saat dan dengan cara yang ditetapkan dalam Peraturan Dana Pensiun. Peserta adalah setiap orang yang memenuhi persyaratan Peraturan Dana Pensiun untuk menjadi penerima manfaat pensiun. Pemberi Kerja adalah badan usaha atau perusahaan perorangan yang memiliki program pensiun bagi karyawannya. Pemberi kerja dapat merupakan pendiri, mitra pendiri atau badan usaha/perusahaan perorangan yang mengikutsertakan karyawan pada Dana Pensiun Lembaga Keuangan. Pendiri adalah: (a) orang atau badan yang membentuk Dana Pensiun Pemberi Kerja; (b) bank/perusahaan asuransi jiwa yang membentuk Dana Pensiun Lembaga Keuangan. Mitra Pendiri adalah pemberi kerja yang ikut serta dalam suatu Dana Pensiun Pemberi Kerja Pendiri untuk kepentingan sebagian atau seluruh karyawannya.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 24

Page 4 of 15

Pendanaan adalah penyerahan aktiva oleh pemberi kerja atau pemberi kerja dan peserta atau peserta kepada Dana Pensiun yang sifatnya tidak dapat ditarik kembali dalam rangka menyiapkan dana untuk memenuhi kewajiban membayar manfaat pensiun di masa yang akan datang. Penilaian Aktuarial adalah proses yang digunakan oleh profesi aktuaris untuk mengestimasi nilai sekarang manfaat pensiun yang harus dibayar dan sisa masa kerja rata-rata para peserta program pensiun serta merekomendasikan biaya jasa kini dan angsuran kekurangan dana yang harus dibayar kepada Dana Pensiun. Metode Penilaian Accrued Benefit adalah metode penilaian aktuarial yang menunjukkan nilai manfaat pensiun berdasarkan jasa yang telah diberikan karyawan sampai dengan tanggal penilaian. Metode ini dapat memasukkan asumsi proyeksi tingkat gaji sampai dengan tanggal pensiun. Metode Penilaian Projected Benefit adalah metode penilaian aktuarial yang menunjukkan nilai manfaat pensiun berdasarkan jasa yang telah diberikan maupun yang akan diberikan oleh karyawan pada tanggal penilaian. Metode ini dapat memasukkan asumsi proyeksi tingkat gaji sampai dengan tanggal pensiun. Biaya Jasa Kini (Current Service Cost) adalah biaya pemberi kerja yang menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti untuk jasa yang telah diberikan oleh peserta yang masih aktif bekerja selama suatu periode berjalan. Biaya Jasa Lalu (Past Service Cost) adalah biaya pemberi kerja yang menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti untuk jasa yang telah diberikan peserta sampai dengan tanggal penilaian aktuarial akibat adanya: (a) pembentukan program pensiun; atau (b) perubahan program pensiun. Kewajiban Aktuaria (Present Value of Accumulated Pension Benefit /Actuarial Present Value of Promised Retirement Benefit) adalah nilai sekarang pembayaran manfaat pensiun yang akan dilakukan Dana Pensiun kepada kayawan yang masih bekerja dan yang sudah pensiun, yang dihitung berdasarkan jasa yang telah diberikan . Koreksi Aktuarial (Experience Adjustment) adalah koreksi atas nilai manfaat pensiun akibat perbedaan antara asumsi aktuarial yang dipakai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Jenis-Jenis Program Pensiun 06 Untuk tujuan Pernyataan ini, program pensiun diklasifikasikan menjadi Program Pensiun luran Pasti atau Program Pensiun Manfaat Pasti. 07 Dalam Program Pensiun luran Pasti, jumlah yang diterima oleh peserta pada saat pensiun tergantung pada jumlah iuran yang dibayarkan oleh pemberi kerja dan peserta serta hasil pengembangan dana. Kewajiban dari pemberi kerja adalah membayarkan iuran seperti yang ditetapkan dalam Peraturan Dana Pensiun. Bantuan profesi aktuaris tidak mutlak diperlukan, kecuali untuk mengestimasi jumlah manfaat pensiun yang akan diterima peserta pada saat pensiun berdasarkan besarnya iuran saat ini dan estimasi hasil pengembangan dana. 08 Dalam Program Pensiun Manfaat Pasti, besarnya manfaat pensiun yang akan diterima

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 24

Page 5 of 15

oleh peserta pada saat pensiun ditentukan berdasarkan suatu rumusan manfaat pensiun yang biasanya mempunyai variabel masa kerja dan penghasilan dasar pensiun. Kewajiban pemberi kerja adalah untuk menyediakan manfaat pensiun yang akan dibayarkan kepada peserta pada saat pensiun. Bantuan profesi aktuaris mutlak diperlukan untuk mengestimasi besarnya kewajiban aktuaria, mengkaji kembali asumsi aktuaris yang digunakan dan merekomendasikan besarnya iuran yang harus dibayar. Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun 09 Pengakuan beban manfaat pensiun oleh pemberi kerja adalah sebagai akibat dari jasa yang telah diterima dari peserta, yang akan menjadi penerima manfaat pensiun. Sebagai konsekuensi, biaya manfaat pensiun harus diakui sebagai beban pada periode dimana jasa tersebut diterima. Pengakuan beban manfaat pensiun hanya pada saat peserta memasuki masa pensiun atau pada saat peserta menerima manfaat pensiun tidak mencerminkan alokasi biaya manfaat pensiun ke periode jasa tersebut diterima. 10 Jumlah biaya manfaat pensiun yang diakui sebagai beban pada suatu periode tidak perlu sama dengan jumlah iuran yang dibayarkan pemberi kerja kepada Dana Pensiun. Terdapat perbedaan yang jelas antara pendanaan manfaat pensiun dan alokasi biaya manfaat pensiun untuk tujuan pengakuan beban. Pendanaan adalah suatu prosedur keuangan. Dalam menentukan jumlah iuran yang dibayarkan setiap periode, keputusan pemberi kerja dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ketersediaan dana/kondisi keuangan dan pertimbangan perpajakan. Sedangkan tujuan akuntansi biaya manfaat pensiun adalah untuk memastikan bahwa biaya manfaat pensiun diakui sebagai beban sesuai dengan jasa yang telah diberikan peserta.

PENJELASAN Program Pensiun luran Pasti Pengakuan Beban Manfaat Pensiun 11 Dalam Program Pensiun luran Pasti, iuran pemberi kerja untuk jasa suatu periode tertentu harus diakui sebagai beban pada periode tersebut. 12 luran pemberi kerja dalam Program Pensiun luran Pasti biasanya dinyatakan dalam Peraturan Dana Pensiun dengan suatu rumusan tertentu. Dengan demikian, beban manfaat pensiun yang diakui adalah jumlah iuran yang jatuh tempo untuk periode tertentu. 13 Apabila pemberi kerja memberikan tambahan iuran pada suatu periode tertentu, maka tambahan iuran tersebut harus diakui sebagai beban sesuai dengan periode jasa yang dipengaruhi. Jika tambahan iuran diberikan kepada peserta yang masih aktif bekerja, untuk jasa yang telah diberikan peserta pada masa yang lalu dan sebagai kompensasi atas jasa yang diberikan pada periode berjalan dan periode yang akan datang, maka tambahan iuran tersebut diakui sebagai beban secara sistematis selama harapan sisa masa kerja rata-rata para peserta tersebut. Jika tambahan iuran diberikan kepada peserta yang telah pensiun, maka tambahan iuran tersebut diakui sekaligus sebagai beban pada periode janji pemberian tambahan iuran tersebut ditetapkan, karena tidak ada lagi jasa yang akan diterima pemberi kerja dari peserta tersebut. 14 luran pemberi kerja menentukan jumlah beban manfaat pensiun dan kewajiban yang harus diakui pemberi kerja setiap periode. Dengan demikian, biasanya apabila terjadi

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 24

Page 6 of 15

pembubaran program pensiun, tidak perlu lagi dilakukan penyesuaian untuk mengakui adanya beban dan kewajiban tambahan. Akan tetapi, apabila terdapat tambahan iuran yang sudah disetujui tetapi belum dibebankan, pemberi kerja harus membebankan seluruh tambahan iuran yang belum diakui tersebut dan mengakuinya sebagai kewajiban pada saat diketahui bahwa pembubaran program pensiun besar kemungkinannya terjadi. Pengungkapan 15 Laporan keuangan pemberi kerja yang menyelenggarakan Program Pensiun luran Pasti harus mengungkapkan informasi berikut: (a) Di dalam neraca, jumlah kewajiban yang timbul sebagai akibat perbedaan antara jumlah pendanaan yang telah dilakukan oleh pemberi kerja sejak pembentukan program dengan jumlah yang diakui sebagai beban selama periode yang sama. (b) Di dalam laporan laba rugi, jumlah yang diakui sebagai beban pensiun selama periode yang bersangkutan; (c) Di dalam catatan atas laporan keuangan, (i) gambaran umum tentang program pensiun termasuk karyawan atau kelompok karyawan yang ikut menjadi peserta program pensiun; (ii) hal-hal penting lainnya yang berhubungan dengan program pensiun yang dapat mempengaruhi daya banding laporan keuangan periode tersebut dengan periode sebelumnya. 16 Apabila pemberi kerja menyelenggarakan lebih dari satu Program Pensiun luran Pasti, pengungkapannya dalam laporan keuangan dapat dilakukan dengan cara mengungkapkan hanya total dari seluruh program pensiun atau mengungkapkan setiap program pensiun secara terpisah atau membaginya dalam beberapa kelompok, yang mana yang dianggap paling informatif. Program Pensiun Manfaat Pasti Beban Manfaat Pensiun 17 Dalam Program Pensiun Manfaat Pasti, beban manfaat pensiun periodik terdiri dari: (a) biaya jasa kini (current service cost), (b) jumlah yang diakui pada periode berjalan untuk biaya jasa lalu (past service cost) dari peserta aktif maupun peserta yang telah pensiun, koreksi aktuarial (experience adjustment) dan perubahan asumsi aktuarial, dan (c) biaya akibat terjadinya pembubaran program (termination) dan pengurangan peserta (curtailment). Pengakuan Biaya Jasa Kini 18 Dalam Program Pensiun Manfaat Pasti, biaya jasa kini harus diakui sebagai beban periode berjalan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 24

Page 7 of 15

19 Biaya manfaat pensiun pada Program Pensiun Manfaat Pasti, terutama program yang menjanjikan manfaat pensiun berdasarkan tingkat penghasilan akhir sebelum pensiun, sulit diestimasi. Jumlah kewajiban pemberi kerja pada jenis program ini biasanya tidak pasti karena banyaknya variabel yang mempengaruhi jumlah manfaat pensiun dan karenanya biaya atas manfaat pensiun tersebut juga sulit ditentukan. Ketidakpastian ini berlangsung terus untuk jangka waktu yang panjang sampai manfaat pensiun diterima oleh peserta. Sebagai contoh, jumlah manfaat pensiun yang harus dibayarkan pada masa yang akan datang ditentukan berdasarkan tingkat penghasilan peserta pada saat pensiun dan masa kerja peserta tersebut, yang keduanya tidak pasti. Disamping itu, dalam mengestimasi kewajiban, perlu dibuat asumsi-asumsi tertentu tentang kondisi dan kejadian di masa yang akan datang yang berada di luar kendali pemberi kerja, seperti tingkat perputaran karyawan dan tingkat pengembangan dana pensiun. Lebih jauh lagi, kondisi ketidakpastian jangka panjang ini seringkali menimbulkan koreksi estimasi yang dapat mempengaruhi biaya jasa kini secara sangat berarti. 20 Mengingat besar kemungkinannya kondisi yang diasumsikan berbeda dengan kondisi yang sebenarnya terjadi, maka perlu dilakukan penilaian aktuarial dalam jangka waktu yang Pengakuan Biaya Manfaat Pensiun selain Biaya Jasa Kini (i) Untuk Peserta Yang Masih Aktif Bekerja 21 Biaya jasa lalu, koreksi aktuarial, dampak perubahan asumsi aktuarial dan dampak perubahan program pensiun sehubungan dengan peserta yang masih aktif bekerja harus diakui sebagai beban atau pendapatan secara sistematis selama estimasi sisa masa kerja rata-rata para peserta tersebut kecuali untuk kondisi yang tercakup pada paragraf 26 dan kecuali dalam kasus perubahan program tertentu yang memerlukan periode pengakuan beban atau pendapatan yang lebih pendek untuk mencerminkan manfaat keekonomian yang diterima pemberi kerja. 22 Biaya jasa lalu timbul pada saat pembentukan program pensiun atas jasa yang telah diberikan peserta sebelum pembentukan, atau pada saat dilakukan perubahan program pensiun atas jasa yang telah diberikan peserta sebelum perubahan. Suatu program pensiun dapat memberikan peningkatan manfaat pensiun kepada peserta yang masih aktif bekerja apabila manfaat pensiun dianggap sudah tidak memadai lagi, misalnya karena tingkat inflasi yang tinggi atau sebab lainnya, asalkan peningkatan tersebut tidak melebihi jumlah manfaat maksimum yang diperkenankan peraturan perundangan yang berlaku. Peningkatan manfaat pensiun semacam itu adalah sebagai kompensasi atas jasa yang akan diberikan oleh peserta tersebut di masa yang akan datang. Oleh karenanya, biaya jasa lalu sehubungan dengan peserta yang masih aktif bekerja dialokasi selama periode berjalan dan periode yang akan datang selama masa diberikan oleh peserta, dengan mengabaikan fakta bahwa biaya jasa dihitung berdasarkan masa kerja sebelumnya. 23 Koreksi aktuarial timbul karena kondisi aktual berbeda dengan asumsi aktuarial. Sebagai contoh, hasil pengembangan dana berbeda dari tingkat pengembangan dana jangka panjang yang diasumsikan aktuaris pada penilaian aktuarial terakhir. Koreksi aktuarial dapat menghasilkan beban atau pendapatan. Penentuan biaya secara aktuarial bertujuan untuk memberikan pengukuran beban periodik yang lebih andal daripada beban yang ditentukan berdasarkan kondisi aktual. Disamping itu, dalam jangka panjang, koreksi aktuarial akan saling menghapus (offset) satu sama lain. Oleh karena itu, koreksi aktuarial biasanya dialokasikan selama estimasi sisa masa kerja rata-rata dari para peserta yang masih aktif bekerja. 24 Perubahan asumsi aktuarial hanya dilakukan jika diperkirakan kondisi aktual dalam jangka

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 24

Page 8 of 15

panjang, secara konsisten akan berbeda dengan asumsi aktuarial yang berlaku. Perubahan ini dapat menghasilkan beban atau pendapatan yang perlakuannya sama seperti jika terjadi perubahan estimasi akuntansi (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 25 tentang Laba atau Rugi Bersih Untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi). Oleh karena itu, dampak perubahan asumsi aktuarial dialokasikan selama estimsasi sisa masa kerja rata-rata para peserta yang masih aktif bekerja. 25 Biaya manfaat pensiun untuk peserta yang masih aktif selain biaya jasa kini, dapat pula memberikan manfaat keekonomian yang jangka waktunya lebih pendek dari estimsasi sisa masa kerja rata-rata para peserta tersebut. Biaya semacam itu diakui sebagai beban selama periode yang lebih pendek tersebut. Sebagai contoh, jika perubahan program pensiun dilakukan secara teratur, biaya tambahan akibat perubahan tersebut diakui sebagai beban atau pendapatan secara sistematis selama periode sampai dengan dilaksanakannya rencana perubahan program pensiun yang berikutnya. (ii) Pembubaran Program (Plan Termination) dan Pengurangan Peserta (Curtailments) 26 Apabila besar kemungkinannya suatu Dana Pensiun yang menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti akan dibubarkan atau terdapat pengurangan peserta yang signifikan, maka: (a) setiap tambahan biaya manfaat pensiun yang terjadi harus segera diakui sebagai beban; dan (b) setiap surplus yang terjadi harus diakui sebagai pendapatan pada periode dimana pembubaran Dana Pensiun terjadi dan pengurangan peserta program pensiun terjadi, dengan memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku. 27 Pengurangan peserta (curtailment) terjadi jika terdapat pengurangan jumlah peserta program pensiun yang cukup besar atau jika suatu elemen selama masa kerja yang akan datang sehubungan dengan karyawan yang masih aktif bekerja tidak lagi memenuhi kualifikasi untuk diberikan manfaat pensiun. Pengurangan peserta tersebut dapat timbul dari kejadian khusus, misalnya penutupan salah satu pabrik atau penghentian suatu segmen usaha, yang mengakibatkan berkurangnya jumlah karyawan secara signifikan. 28 Keuntungan atau kerugian yang timbul karena pembubaran program dan pengurangan peserta program meliputi bagian dari biaya jasa lalu, koreksi aktuarial, dampak perubahan asumsi aktuarial dan dampak perubahan program pensiun, yang belum diakui sebagai penghasilan atau beban. (iii) Untuk Peserta Yang Sudah Pensiun 29 Dengan memperhatikan kewajiban pemberi kerja terhadap peserta yang telah pensiun sebagaimana diatur dalam Peraturan Dana Pensiun, nilai sekarang aktuarial dari suatu perubahan manfaat pensiun yang terjadi sehubungan dengan peserta yang telah pensiun, diakui sebagai beban atau pendapatan pada periode terjadinya perubahan. Jika hal tersebut tidak dapat dilakukan, harus diungkapkan alasannya. 30 Dampak perubahan manfaat pensiun untuk peserta yang telah pensiun harus diakui sebagai beban atau pendapatan pada periode terjadinya perubahan, mengingat tidak ada lagi jasa yang diharapkan diterima dari peserta tersebut di masa yang akan datang, dengan tetap memperhatikan kewajiban pemberi kerja sebagaimana diatur dalam Peraturan Dana Pensiun.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 24

Page 9 of 15

Metode Penilaian Aktuarial 31 Sejumlah metode aktuarial telah dikembangkan untuk mengestimasi kewajiban pemberi kerja yang menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti. Walaupun pada dasarnya metode ini dirancang untuk tujuan pendanaan, seringkali metode ini digunakan juga untuk keperluan akuntansi dalam menentukan beban manfaat pensiun yang harus diakui setiap periode. Penjelasan mengenai beberapa metode aktuarial diberikan pada Lampiran dari Pernyataan ini. 32 Biaya manfaat pensiun ditentukan dengan menggunakan suatu metode penilaian aktuarial yang diterapkan secara konsisten setiap periode. Jika hal tersebut tidak dapat dilakukan, harus diungkapkan alasannya. 33 Dampak perubahan metode aktuarial dari suatu metode ke metode lainnya harus diperlakukan dan diungkapkan sama seperti jika terjadi perubahan kebijakan akuntansi sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 25 tentang Laba atau Rugi Bersih Untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi. Pengungkapan 34 Laporan keuangan pemberi kerja yang menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti harus mengungkapkan informasi berikut: (a) Di dalam neraca, jumlah kewajiban yang timbul sebagai akibat perbedaan antara jumlah pendanaan yang telah dilakukan oleh pemberi kerja sejak pembentukan program dengan jumlah yang diakui sebagai beban (atau yang diperhitungkan ke saldo laba akibat perubahan kebijakan akuntansi) selama periode yang sama. (b) Di dalam laporan laba rugi, jumlah yang diakui sebagai beban manfaat pensiun selama periode yang bersangkutan; (c) Di dalam catatan atas laporan keuangan, (i) gambaran umum tentang program pensiun, termasuk karyawan atau kelompok karyawan yang ikut menjadi peserta program pensiun; (ii) kebijakan akuntansi yang digunakan pemberi kerja untuk biaya manfaat pensiun, termasuk metode amortisasi biaya jasa lalu, koreksi aktuarial, dampak perubahan asumsi aktuarial dan dampak perubahan program pensiun dan metode penilaian aktuarial yang digunakan aktuaris (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 1 tentang Pengungkapan Kebijakan Akuntansi); (iii) kebijakan pendanaan yang digunakan; (iv) asumsi aktuarial utama yang digunakan dalam menentukan biaya manfaat pensiun dan perubahan asumsi yang terjadi (jika ada); (v) kewajiban aktuaria, nilai wajar aktiva bersih Dana Pensiun dan selisih lebih (kurang) antara kewajiban aktuaria dan nilai wajar aktiva bersih Dana Pensiun (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 18 tentang Akuntansi Dana Pensiun); (vi) tanggal penilaian aktuarial terakhir, nama aktuaris dan frekuensi penilaian dilakukan; dan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 24

Page 10 of 15

(vii) hal-hal penting lain yang berhubungan dengan manfaat pensiun, termasuk dampak pembubaran program dan pengurangan peserta , yang dapat mempengaruhi daya banding laporan keuangan periode tersebut dengan periode-periode sebelumnya. 35 Apabila pemberi kerja menyelenggarakan lebih dari satu Program Pensiun Manfaat Pasti, pengungkapannya dalam laporan keuangan dapat dilakukan dengan cara mengungkapkan hanya total dari seluruh program pensiun atau mengungkapkan setiap program pensiun secara terpisah atau membaginya dalam beberapa kelompok, yang mana yang dianggap paling informatif. Akan tetapi, nilai informasi akan berkurang jika jumlah surplus dari suatu program atau beberapa program saling menghapuskan (offset) dengan jumlah defisit dari program lainnya, oleh karena itu pengungkapan demikian tidak tepat. PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 24 AKUNTANSI BIAYA MANFAAT PENSIUN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 24 terdiri dari paragraf 36 - 47. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1 - 35 36 Pernyataan ini harus diterapkan sehubungan dengan akuntansi tentang biaya manfaat pensiun bagi pemberi kerja. Program Pensiun luran Pasti Pengakuan Beban Manfaat Pensiun 37 Dalam Program Pensiun luran Pasti, iuran pemberi kerja untuk jasa periode tertentu harus diakui sebagai beban pada periode tersebut. Pengungkapan 38 Laporan keuangan pemberi kerja yang menyelenggarakan Program Pensiun luran Pasti harus mengungkapkan informasi berikut: (a) Di dalam neraca, jumlah kewajiban yang timbul sebagai akibat perbedaan antara jumlah pendanaan yang telah dilakukan oleh pemberi kerja sejak pembentukan program dengan jumlah yang diakui sebagai beban selama periode yang sama. (b) Di dalam laporan laba rugi, jumlah yang diakui sebagai beban pensiun selama periode yang bersangkutan; (c) Di dalam catatan atas laporan keuangan, (i) gambaran umum tentang program pensiun, termasuk karyawan atau kelompok karyawan yang ikut menjadi peserta program pensiun; (ii) hal-hal penting lainnya yang berhubungan dengan program pensiun yang dapat mempengaruhi daya banding laporan keuangan periode

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 24
tersebut dengan periode sebelumnya. Program Pensiun Manfaat Pasti Pengakuan Biaya Jasa Kini

Page 11 of 15

39 Dalam Program Pensiun Manfaat Pasti, biaya jasa kini harus diakui sebagai beban periode berjalan. Pengakuan Biaya Manfaat Pensiun selain Biaya Jasa Kini 40 Biaya jasa lalu, koreksi aktuarial, dampak perubahan asumsi aktuarial dan dampak perubahan program pensiun sehubungan dengan peserta yang masih aktif bekerja harus diakui sebagai beban atau pendapatan secara sistematis selama estimsasi sisa masa kerja rata-rata para peserta tersebut kecuali untuk kondisi yang tercakup pada paragraf 42 dan kecuali dalam kasus perubahan program tertentu yang memerlukan periode pengakuan beban atau pendapatan yang lebih pendek untuk mencerminkan manfaat keekonomian yang diterima pemberi kerja. 41 Apabila besar kemungkinannya suatu Dana Pensiun yang menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti akan dibubarkan atau terdapat pengurangan peserta yang signifikan, maka: (a) setiap tambahan biaya manfaat pensiun yang terjadi harus segera diakui sebagai beban; dan (b) setiap surplus yang terjadi harus diakui sebagai pendapatan pada periode dimana pembubaran Dana Pensiun terjadi dan pengurangan peserta program pensiun terjadi, dengan memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku. 42 Dengan memperhatikan kewajiban pemberi kerja terhadap peserta yang telah pensiun sebagaimana diatur dalam Peraturan Dana Pensiun, nilai sekarang aktuarial dari suatu perubahan manfaat pensiun yang terjadi sehubungan dengan peserta yang telah pensiun, diakui sebagai beban atau pendapatan pada periode terjadinya perubahan. Jika hal tersebut tidak dapat dilakukan, harus diungkapkan alasannya. Metode Penilaian Aktuarial 43 Biaya manfaat pensiun ditentukan dengan menggunakan suatu metode penilaian aktuarial yang diterapkan secara konsisten setiap periode. Jika hal tersebut tidak dapat dilakukan, harus diungkapkan alasannya. 44 Dampak perubahan metode aktuarial dari suatu metode ke metode lainnya harus diperlakukan dan diungkapkan sama seperti jika terjadi perubahan kebijakan akuntansi sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 25 tentang Laba atau Rugi Bersih Untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi. Pengungkapan 45 Laporan keuangan pemberi kerja yang menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti harus mengungkapkan informasi berikut: (a) Di dalam neraca, jumlah kewajiban yang timbul sebagai akibat dari adanya perbedaan antara jumlah pendanaan yang telah dilakukan oleh pemberi kerja sejak pembentukan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 24

Page 12 of 15

program dengan jumlah yang diakui sebagai beban (atau yang diperhitungkan ke saldo laba akibat perubahan kebijakan akuntansi) selama periode yang sama. (b) Di dalam laporan laba rugi, jumlah yang diakui sebagai beban atau pendapatan manfaat pensiun selama periode yang bersangkutan; (c) Di dalam catatan atas laporan keuangan, (i) gambaran umum tentang program pensiun, termasuk karyawan atau kelompok karyawan yang ikut menjadi peserta program pensiun; (ii) kebijakan akuntansi yang digunakan pemberi kerja untuk biaya manfaat pensiun, termasuk metode amortisasi biaya jasa lalu, koreksi aktuarial, dampak perubahan asumsi aktuarial dan dampak perubahan program pensiun dan metode penilaian aktuarial yang digunakan aktuaris (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 1 tentang Pengungkapan Kebijakan Akuntansi); (iii) kebijakan pendanaan yang digunakan; (iv) asumsi aktuarial utama yang digunakan dalam menentukan biaya manfaat pensiun dan perubahan asumsi yang terjadi (jika ada); (v) kewajiban aktuaria, nilai wajar aktiva bersih Dana Pensiun dan selisih lebih (kurang) antara kewajiban aktuaria dan nilai wajar aktiva bersih Dana Pensiun (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 18 tentang Akuntansi Dana Pensiun); (vi) tanggal penilaian aktuarial terakhir, nama aktuaris dan frekuensi penilaian dilakukan; dan (vii)hal-hal penting lain yang berhubungan dengan manfaat pensiun, termasuk dampak pembubaran program dan pengurangan peserta, yang dapat mempengaruhi daya banding laporan keuangan periode tersebut dengan periode-periode sebelumnya. Masa Transisi 46 Jika penerapan Pernyataan ini mengakibatkan perubahan kebijakan akuntansi, perubahan tersebut dilaporkan secara prospektif. Tanggal Efektif 47 Pernyataan ini mulai berlaku untuk laporan keuangan yang mencakup periode yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini dianjurkan. LAMPIRAN Lampiran ini hanya ilustrasi dan bukan merupakan bagian dari Pernyataan ini. Tujuan dari lampiran ini adalah mengilustrasikan penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan tentang Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun. Lampiran ini menjelaskan secara ringkas tentang beberapa asumsi aktuarial dan metode penilaian aktuarial yang biasa digunakan aktuaris dalam menentukan biaya manfaat pensiun. Aspek tertentu dari beberapa metode penilaian aktuarial yang dijelaskan dalam lampiran ini, yaitu metode Individual Level Premium dan metode Aggregate, tidak konsisten dengan yang dibutuhkan Pernyataan ini karena tidak mengidentifikasikan Biaya Jasa Lalu terpisah dari Biaya Jasa Kini.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 24

Page 13 of 15

ASUMSI AKTUARIAL DAN METODE PENILAIAN AKTUARIAL Dalam mengalokasikan biaya manfaat pensiun ke periode masa kerja peserta, biasanya nilai sekarang aktuarial dari manfaat pensiun yang dijanjikan ditentukan berdasarkan metode dan asumsi yang dapat menghasilkan biaya jasa kini yang mempunyai hubungan yang sistematis dengan tingkat penghasilan peserta. Selanjutnya, nilai sekarang aktuarial dari manfaat pensiun yang dijanjikan atau nilai sekarang dari estimasi akumulasi pembayaran manfaat pensiun di masa yang akan datang baik untuk peserta yang telah pensiun maupun untuk peserta yang masih aktif bekerja, diatribusikan ke jasa yang telah diberikan. Biaya manfaat pensiun yang diakui sebagai beban dapat berbeda-beda secara signifikan tergantung dari metode penilaian aktuarial yang dipakai dan asumsi aktuarial yang diterapkan. A. ASUMSI AKTUARIAL Ketidakpastian yang terkandung dalam memproyeksikan kecenderungan tingkat inlasi, tingkat gaji dan tingkat pengembangan dana dipertimbangkan dalam penilaian aktuarial dengan menggunakan seperangkat asumsi aktuarial. Asumsi aktuarial ditentukan sedemikian rupa sehingga dapat mencerminkan hubungan keekonomian yang bersifat jangka panjang antara tingkat inflasi, tingkat kenaikan gaji, tingkat pengembangan dana dan tingkat diskonto, walaupun nilai absolut beberapa asumsi yang digunakan mungkin tidak mencerminkan kondisi aktual jangka pendek. Asumsi-asumsi ini diproyeksikan untuk jangka waktu yang panjang, yaitu sampai dengan tanggal pada saat mana peserta terakhir diperkirakan meninggal. Berikut ini adalah beberapa asumsi aktuarial yang biasanya digunakan dalam menentukan biaya manfaat pensiun: (a) tingkat diskonto jangka panjang yang diasumsikan dalam menentukan nilai sekarang aktuarial dari manfaat pensiun yang dijanjikan dalam hubungannya dengan jasa yang telah diberikan sampai dengan tanggal penilaian; (b) aktiva pensiun dinilai dengan nilai wajar. Pada saat nilai wajar diestimasi dengan mendiskontokan arus kas di masa yang akan datang, asumsi tingkat pengembangan dana jangka panjang digunakan untuk mencerminkan rata-rata seluruh hasil investasi (bunga, dividen dan apresiasi nilai) yang diharapkan selama periode sampai dengan manfaat pensiun dibayarkan; (c) jika manfaat pensiun didasarkan pada tingkat gaji di masa yang akan datang atau tingkat gaji akhir sebelum pensiun, atau tingkat gaji rata-rata para peserta (career average plans), peningkatan tingkat gaji mencerminkan faktor faktor seperti inflasi, promosi dan penghargaan atas prestasi peserta; dan (d) peningkatan manfaat pensiun secara otomatis, seperti adanya penyesuaian biaya hidup, juga diperhitungkan. Jika pemberi kerja menjanjikan peningkatan manfaat pensiun secara periodik, maka diasumsikan peningkatan akan terjadi seperti yang dijanjikan. Asumsi-asumsi aktuarial yang digunakan dalam menentukan biaya manfaat pensiun didasarkan pada pertimbangan jangka panjang. Akan tetapi asumsi-asumsi aktuarial tersebut tetap perlu ditinjau kembali dari waktu ke waktu. Sebagai contoh, jika tingkat kenaikan gaji aktual dalam suatu periode lebih besar dari yang diasumsikan dan diperkirakan kecenderungan ini akan berlangsung terus, aktuaris perlu menyesuaikan asumsi tingkat gaji yang dipakai. Akan tetapi, jika perbedaan tingkat gaji tersebut bersifat sementara dan merupakan fluktuasi normal, maka aktuaris tidak perlu menyesuaikan asumsi tingkat gaji yang dipakai.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 24

Page 14 of 15

B. METODE PENILAIAN AKTUARIAL Metode penilaian aktuaria umumnya dibagi dalam dua kategori besar: metode penilaian accrued benefit dan metode penilaian projected benefit. Metode Penilaian Accrued Benefit Dalam metode ini: (a) biaya jasa kini adalah nilai sekarang dari kewajiban manfaat pensiun di masa mendatang sehubungan dengan jasa yang diberikan pada periode berjalan, (b) biaya jasa lalu adalah nilai sekarang aktuarial dari manfaat pensiun yang harus dibayarkan di masa yang akan datang yang timbul akibat pembentukan program pensiun, perubahan program dan penyelesaian masa kerja minimum sebagai syarat kepesertaan dalam suatu program pensiun, yang dihubungkan oleh suatu rumusan manfaat pensiun ke jasa yang telah diberikan karyawan sampai dengan tanggal terjadinya satu atau lebih kejadian tersebut diatas, (c) accrued actuarial liability adalah nilai sekarang dari kewajiban manfaat pensiun di masa mendatang sehubungan dengan jasa sampai dengan tanggal tertentu. Metode ini, dengan asumsi tidak ada inflasi maupun deflasi, menghasilkan suatu biaya jasa kini yang akan meningkat tiap tahun sesuai dengan makin dekatnya periode pensiun, makin sedikitnya hasil investasi yang dapat diakumulasikan dari iuran dan makin tingginya kemungkinan kelangsungan hidup karyawan sampai tiba periode pensiun. Akan tetapi untuk program pensiun secara keseluruhan, biaya jasa kini tahunan kira-kira akan sama setiap tahun karena jumlah dan distribusi umur dari karyawan yang aktif relatif tidak berubah. Untuk program pensiun yang manfaatnya dihubungkan dengan tingkat gaji, inflasi akan mempertinggi tingkat kenaikan biaya jasa kini setiap tahun. Untuk program pensiun manfaat pasti dengan pembayaran final, metode ini dimodifikasi dengan memasukkan asumsi proyeksi tingkat gaji akhir dan nilai manfaat yang diperoleh dialokasikan ke periode-periode dimana jasa diberikan oleh karyawan untuk menentukan biaya jasa kini per tahun. METODE Penilaian Projected Benefit Metode penilaian projected benefit adalah metode penilaian aktuarial yang menunjukkan nilai manfaat pensiun berdasarkan jasa yang telah diberikan karyawan sampai dengan tanggal penilaian. Metode ini mengalokasikan biaya dari manfaat pensiun secara merata (dinyatakan dalam jumlah tertentu atau sebagai persentase dari gaji) selama masa kerja karyawan. Ada empat bentuk utama dari metode penilaian projected benefit: (a) Metode Entry Age Normal Dalam metode ini, setiap karyawan diasumsikan telah menjadi peserta program pensiun ketika pertama kali dipekerjakan atau segera setelah karyawan tersebut memenuhi syarat. Biaya jasa kini adalah tingkat jumlah tahunan atau persentase tetap dari gaji, yang jika diinvestasikan pada tingkat bunga yang diasumsikan, cukup untuk membayar manfaat pensiun sesuai dengan yang ditetapkan. Biaya jasa lalu adalah nilai sekarang dari kelebihan proyeksi manfaat pensiun terhadap jumlah yang diharapkan tersedia dari iuran di masa mendatang berdasarkan biaya jasa kini.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 24

Page 15 of 15

Walaupun secara konseptual perhitungan dalam metode ini harus dibuat per individu, akan tetapi dalam prakteknya sering kali digunakan kelompok karyawan dan aplikasi dari metode ini sering dibuat lebih sederhana dengan mengasumsikan semua karyawan masuk menjadi peserta pada tanggal yang sama. (b) Metode Individual Level Premium Metode ini mengalokasikan biaya dari manfaat pensiun setiap karyawan ke periode dari tanggal pertama kali menjadi peserta sampai dengan tanggal pensiun dengan menggunakan suatu tingkat jumlah tahunan atau persentase tetap dari gajinya. Dalam metode ini, biaya jasa lalu tidak dihitung terpisah seperti metode lainnya karena seluruh biaya dari manfaat akhir telah disebarkan antara tanggal karyawan itu menjadi peserta program pensiun dan tanggal dia menjalani masa pensiun. Dalam metode ini, biaya jasa kini tahunan akan lebih tinggi dari yang dihasilkan metode entry age normal, karena di dalam biaya jasa kini tahunan terkandung juga unsur biaya jasa lalu. (c) Metode Aggregate Prinsip dasar metode ini tidak berbeda dengan metode individual level premium, namun dalam penerapannya seluruh peserta program pensiun dianggap sebagai satu kesatuan dan bukan dilihat secara individual. Biaya atas manfaat pensiun dialokasikan selama estimasi sisa masa kerja rata-rata karyawan yang aktif. Akibatnya, kecenderungan biaya jasa kini tahunan yang relatif lebih tinggi pada awal masa kerja berkurang jika dibandingkan apabila menggunakan metode individual level premium. Dalam metode ini, biaya jasa lalu dan koreksi aktuarial tidak diidentifikasikan secara terpisah tetapi disebarkan ke periode-periode di masa yang akan datang. (d) Metode Attained Age Normal Metode ini mirip dengan metode agregat dan metode individual level premium kecuali bahwa dalam metode ini, biaya jasa lalu dihitung dan diidentifikasikan dengan menggunakan metode accrued benefit. Jadi, biaya jasa kini ditentukan dengan menggunakan metode agregat namun hanya diterapkan untuk sisa jasa yang akan diberikan di masa yang akan datang.

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun.htm

10/17/03

PSAK no 25

Page 1 of 13

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 25 LABA ATAU RUGI BERSIH UNTUK PERIODE BERJALAN, KESALAHAN MENDASAR DAN PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 25 tentang Laba Atau Rugi Bersih Untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI PENDAHULUAN Tujuan Ruang Lingkup Definisi PENJELASAN Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan Pos Luar Biasa Laba atau Rugi dari Aktivitas Normal Operasi Yang Tidak Dilanjutkan Perubahan Estimasi Akuntansi Kesalahan Mendasar Perubahan Kebijakan Akuntansi Penerapan Suatu Standar Akuntansi Keuangan

...\PSAK 25 Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Keb10/17/03

PSAK no 25

Page 2 of 13

Perubahan Kebijakan Akuntansi Yang Lain PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 25 LABA ATAU RUGI BERSIH UNTUK PERIODE BERJALAN, KESALAHAN MENDASAR DAN PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan Pos Luar Biasa Laba atau Rugi dari Aktivitas Normal Operasi Yang Tidak Dilanjutkan Perubahan Estimasi Akuntansi Kesalahan Mendasar Perubahan Kebijakan Akuntansi Tanggal Efektif

PENDAHULUAN Laporan laba rugi merupakan laporan utama untuk melaporkan kinerja dari suatu perusahaan selama suatu periode tertentu. Informasi tentang kinerja suatu perusahaan, terutama tentang profitabilitas, dibutuhkan untuk mengambil keputusan tentang sumber ekonomi yang akan dikelola oleh suatu perusahaan di masa- yang akan datang. Informasi tersebut juga seringkali digunakan untuk memperkirakan kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan kas dan aktiva yang disamakan dengan kas di masa yang akan datang. Informasi tentang kemungkinan perubahan kinerja juga penting dalam hal ini. Tujuan Tujuan dari Pernyataan ini adalah untuk menjelaskan penggolongan, pengungkapan dan perlakuan akuntansi atas unsur tertentu dalam laporan laba rugi sehingga semua perusahaan menyusun dan menyajikan laporan laba rugi berlandaskan pada suatu basis yang konsisten. Hal tersebut akan meningkatkan daya banding laporan keuangan antar periode suatu perusahaan dan laporan keuangan antar perusahaan. Sehubungan dengan itu, Pernyataan ini menetapkan standar tentang penggolongan dan pengungkapan pos luar biasa (extraordinary items), pengungkapan tentang unsur-unsur tertentu sehubungan dengan laba rugi aktivitas normal, perubahan estimasi akuntansi {accounting estimates), kebijakan akuntansi (accounting policies) dan perlakuan akuntansi atas kesalahan yang mendasar fundamental errors). RUANG LINGKUP 01 Pernyataan ini harus diterapkan oleh semua perusahaan dalam menyajikan laba atau rugi dari aktivitas normal dan pos luar biasa dalam laporan laba rugi, dan dalam pertanggungjawaban perubahan estimasi akuntansi, perubahan kebijakan akuntansi, dan kesalahan mendasar. 02 Pernyataan ini mengatur tentang penetapan laba atau rugi bersih selama periode dan pengungkapan pos-pos tertentu yang tercakup dalam laba atau rugi bersih. Pengungkapan tersebut dilakukan sebagai pelengkap pengungkapan yang disyaratkan dalam standar akuntansi keuangan tentang masing-masing topik yang bersangkutan. 03. Pernyataan ini mengatur antara lain tentang pengungkapan unsur laba atau rugi bersih tertentu sebagai pelengkap pengungkapan yang diatur pada standar akuntansi keuangan lainnya. 04 Pernyataan ini mengatur tentang pengungkapan tertentu yang perlu dibuat sehubungan dengan operasi yang tidak dilanjutkan. Pernyataan ini tidak mengatur pengakuan dan

...\PSAK 25 Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Ke 10/17/03

PSAK no 25

Page 3 of 13

pengukuran masalah-masalah yang berhubungan dengan operasi yang tidak dilanjutkan. 05 Dampak pajak dari pos luar biasa, kesalahan yang mendasar dan perubahan kebijakan akuntansi dipertanggungjawabkan dan diungkapkan sesuai dengan standar akuntansi perpajakan yang berlaku. Definisi 06Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini: Pos luar biasa adalah penghasilan atau beban yang timbul dari kejadian atau transaksi yang secara jelas berbeda dari aktivitas normal perusahaan dan karenanya tidak diharapkan untuk seringkali terjadi atau terjadi secara teratur. Aktivitas normal adalah setiap aktivitas yang dilakukan oleh sebuah perusahaan sebagai bagian dari usahanya dan aktivitas aktivitas yang terkait dengan kegiatan usaha utama perusahaan tersebut. Suatu operasi yang tidak dilanjutkan terjadi sebagai akibat dari penjualan atau penghentian suatu lini usaha utama yang terpisah di mana aktiva, laba atau rugi bersih dan aktivitas dapat dipisahkan baik secara fisik, secara operasional maupun untuk tujuan pelaporan keuangan. Kesalahan mendasar (Fundamental Error) adalah kesalahan yang cukup signifikan yang ditemukan pada periode berjalan sehingga laporan keuangan dari satu atau lebih periodeperiode sebelumnya tidak dapat diandalkan lagi pada tanggal penerbitannya. Kebijakan akuntansi adalah prinsip, dasar, konvensi, aturan, dan praktek tertentu yang dipakai oleh suatu perusahaan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangannya. PENJELASAN Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan 07 Semua unsur pendapatan dan beban yang diakui dalam suatu periode harus tercakup dalam penetapan laba atau rugi bersih untuk periode tersebut kecuali jika standar akuntansi keuangan yang berlaku mensyaratkan atau memperbolehkan sebaliknya. 08 Biasanya semua unsur pendapatan dan beban yang diakui dalam suatu periode tercakup dalam penetapan laba atau rugi bersih untuk periode tersebut, termasuk juga pos luar biasa dan dampak perubahan estimasi akuntansi. Tetapi dalam keadaan tertentu mungkin diperlukan untuk mengeluarkan unsur-unsur tertentu dari laba atau rugi bersih untuk periode berjalan. Pernyataan ini menyangkut dua kondisi tertentu: koreksi atas kesalahan yang mendasar dan dampak perubahan kebijakan akuntansi. 09 Laba atau rugi bersih untuk periode berjalan terdiri atas unsur-unsur berikut, yang masing-masing harus diungkapkan pada laporan laba rugi: (a) laba atau rugi dari aktivitas normal; dan (b) pos luar biasa. Pos Luar Biasa

...\PSAK 25 Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Ke 10/17/03

PSAK no 25

Page 4 of 13

10 Hakekat dan jumlah dari setiap pos luar biasa harus diungkapkan secara terpisah. 11 Sebenarnya semua unsur pendapatan dan beban yang tercakup dalam perhitungan laba rugi bersih untuk periode tertentu timbul dari aktivitas normal perusahaan tersebut. Karenanya, jarang sekali suatu kejadian atau transaksi menimbulkan suatu pos luar biasa. 12 Apakah suatu kejadian atau transaksi secara jelas berbeda dengan aktivitas normal suatu perusahaan ditentukan oleh hakekat dari kejadian atau transaksi tersebut sehubungan dengan usaha yang biasanya dilakukan oleh perusahaan tersebut. Oleh karena itu, suatu kejadian atau transaksi mungkin luar biasa bagi satu perusahaan, namun tidak luar biasa bagi perusahaan lain, karena perbedaan-perbedaan aktivitas normal masingmasing perusahaan. Sebagai contoh, kerugian karena gempa bumi pada kebanyakan perusahaan dapat dianggap sebagai kerugian luar biasa. Akan tetapi, tuntutan ganti rugi oleh pemegang polis asuransi kerugian karena gempa bumi tidak dapat dianggap sebagai pos luar biasa untuk perusahaan asuransi yang menanggung kerugian tersebut. Suatu kejadian atau transaksi dapat diklasifikasikan sebagai pos luar biasa jika memenuhi dua kriteria berikut: (a) Bersifat tidak normal Kejadian atau transaksi yang bersangkutan memiliki tingkat abnormalitas yang tinggi dan tidak mempunyai hubungan dengan kegiatan normal perusahaan. (b) Tidak sering terjadi Kejadian atau transaksi yang bersangkutan tidak sering terjadi dalam kegiatan normal perusahaan. Penerapan kedua kriteria di atas harus selalu dihubungkan dengan sifat dan karakteristik dari kegiatan perusahaan serta faktor geografis perusahaan. Bila hanya salah satu kriteria tersebut terpenuhi, maka transaksi atau kejadian tersebut dikelompokkan sebagai penghasilan atau beban lain-lain. 13 Contoh kejadian atau transaksi yang pada umumnya menimbulkan kerugian luar biasa bagi perusahaan adalah: - Kerugian sebagai akibat gempa bumi, kebakaran atau banjir. Kerugian tersebut setelah dikurangi dengan klaim asuransi, jika ada, disajikan sebagai unsur pos luar biasa dalam laporan laba rugi. Contoh kejadian atau transaksi yang tidak dapat dikelompokkan sebagai pos luar biasa antara lain: - Perusahaan manufaktur yang membeli tanah untuk tujuan ekspansi. Namun karena sesuatu hal, proyek ekspansi tidak dapat dilaksanakan sehingga perusahaan bermaksud menjual kembali tanah tersebut. Keuntungan atau kerugian yang diperoleh dari penjualan tanah tersebut tidak dapat dikelompokkan dalam pos luar biasa karena walaupun tidak termasuk dalam kegiatan utama perusahaan dan tidak diharapkan terjadi, namun kejadian ini tidak mempunyai tingkat abnormalitas yang tinggi. Adalah hal yang wajar jika perusahaan menjual kembali aktiva tetap yang dimilikinya, yang tidak dipergunakan lagi.

...\PSAK 25 Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Ke 10/17/03

PSAK no 25

Page 5 of 13

- Penghapusbukuan write-off aktiva tetap karena aktiva tetap tersebut sudah mengalami keusangan teknologi. 14 Pos luar biasa dalam laporan laba rugi disajikan setelah laba yang berasal dari kegiatan normal perusahaan. Hakekat dari pos luar biasa dan pertimbangan yang mendasari pengelompokan kejadian atau transaksi tersebut sebagai pos luar biasa harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Dengan demikian pemakai laporan keuangan tetap dapat melakukan evaluasi mengenai kinerja perusahaan yang berasal dari kegiatan-normal selama periode tersebut sekaligus juga melihat pengaruh dari pos luar biasa terhadap perhitungan laba rugi perusahaan untuk periode yang bersangkutan. Laba atau Rugi dari Aktivitas Normal 15 Bila dalam laba atau rugi dari aktivitas normal terdapat unsur penghasilan dan/atau beban yang pengungkapan tentang ukuran, hakekat atau terjadinya dianggap relevan untuk menjelaskan kinerja suatu perusahaan selama periode tertentu, maka hakekat dan jumlah unsur tersebut harus diungkapkan secara terpisah. 16 Walaupun unsur penghasilan dan beban dari aktivitas normal seperti yang dijelaskan pada paragraf 15 bukan pos luar biasa, tetapi jika hakekat dan jumlahnya dianggap relevan bagi pemakai laporan keuangan untuk memahami dan memproyeksi posisi keuangan dan kinerja suatu perusahaan, maka pengungkapannya perlu dibuat. Pengungkapan tersebut biasanya dibuat dalam catatan atas laporan keuangan. 17 Kondisi-kondisi yang menimbulkan unsur-unsur penghasilan dan beban seperti yang dinyatakan dalam paragraf 15 mencakup antara lain: (a) penurunan nilai (write-down) persediaan sampai jumlah yang diperkirakan dapat direalisasi (net realizable value), maupun pemulihan kembali penurunan nilai tersebut; (b) restrukturisasi (restructuring) aktivitas-aktivitas suatu perusahaan dan pembalikan (reversal) setiap penyisihan untuk biaya restrukturisasi; (c) pelepasan (disposal) aktiva tetap; (d) pelepasan investasi jangka panjang; (e) operasi yang tidak dilanjutkan; (f) penyelesaian gugatan hukum. Operasi Yang Tidak Dilanjutkan 18 Pelepasan suatu investasi jangka panjang atau aktiva utama lainnya adalah penting sehingga memerlukan pengungkapan atas unsur suatu penghasilan dan beban yang berkaitan. Adakalanya suatu perusahaan tidak melanjutkan suatu lini usaha utama yang terpisah yang dapat dibedakan dari aktivitas usaha lain sebagai contoh suatu segmen usaha yang diatur sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 5 tentang Pelaporan Informasi Keuangan Menurut Segmen. Jika pelepasan tersebut merupakan operasi yang tidak dilanjutkan seperti yang didefinisikan dalam Pernyataan pengungkapanpengungkapan yang dimuat dalam paragraf 15 adalah relevan pemakai laporan keuangan. 19 Pengungkapan berikut ini harus dibuat untuk setiap operasi yang tidak dilanjutkan:

...\PSAK 25 Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Ke 10/17/03

PSAK no 25

Page 6 of 13

(a) hakekat dari operasi yang tidak dilanjutkan tersebut; (b) segmen industri dan geografis dari operasi yang tidak dilanjutkan tersebut dilaporkan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 5 tentang Pelaporan Informasi Keuangan Menurut Segmen; (c) tanggal efektif penghentian operasi tersebut untuk tujuan akuntansi; (d) cara penghentian (penjualan atau penutupan); (e) untung atau rugi atas penghentian dan kebijakan akuntansi yang digunakan untuk menghitung untung atau rugi tersebut; dan (f) pendapatan dan laba atau rugi dari aktivitas normal operasi tersebut selama periode laporan, bersamaan dengan jumlah periode sebelumnya yang disajikan dalam laporan keuangan. 20 Hasil dari suatu operasi yang tidak dilanjutkan secara umum dimasukkan dalam laba atau rugi dari aktivitas normal. Namun, dalam kondisi yang jarang terjadi di mana tidak dilanjutkannya operasi adalah hasil dari kejadian atau transaksi yang secara jelas terpisah dari aktivitas normal perusahaan dan karenanya tidak diharapkan untuk sering terjadi kembali atau terjadi kembali secara teratur, penghasilan atau beban yang timbul dari tidak dilanjutkannya operasi diperlakukan sebagai pos luar biasa. Contohnya, jika suatu anak perusahaan diambil alih oleh pemerintah asing, maka penghasilan atau beban yang timbul dari pengambilalihan tersebut dapat dikualifikasikan sebagai suatu pos luar biasa. Persyaratan pengungkapan dalam paragraf 19 digunakan untuk seluruh operasi yang tidak dilanjutkan termasuk yang menimbulkan pos luar biasa. 21 Bila pada tanggal dimana suatu laporan keuangan disetujui untuk diterbitkan diketahui bahwa suatu operasi telah atau akan dihentikan setelah tanggal neraca, kejadian tersebut diperlakukan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 8 tentang Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca. Persyaratan pengungkapan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 19 diterapkan sepanjang informasinya diketahui dan estimasinya dapat dilakukan dengan andal. Perubahan Estimasi Akuntansi 22 Sebagai akibat ketidakpastian aktivitas usaha, banyak unsur laporan keuangan yang tidak dapat diukur dengan tepat tetapi hanya dapat diestimasi. Proses estimasi mempertimbangkan informasi terakhir yang tersedia. Estimasi diperlukan, sebagai contoh, untuk penyisihan piutang sangsi (bad debts), keusangan persediaan dan masa manfaat dari aktiva-yang dapat disusutkan. Penggunaan estimasi yang wajar adalah bagian yang esensial dari penyusunan laporan keuangan dan tidak melemahkan keandalannya. 23 Suatu estimasi mungkin harus direvisi jika ada perubahan kondisi yang mendasari estimasi tersebut, atau karena adanya informasi baru, bertambahnya pengalaman atau perkembangan lebih lanjut. Revisi atas estimasi tersebut, pada hakekatnya tidak menyebabkan perlunya penyesuaian dalam batasan pengertian dari suatu pos luar biasa atau kesalahan mendasar. 24 Apabila sulit untuk memisahkan antara perubahan kebijakan akuntansi dan perubahan estimasi akuntansi, perubahan tersebut diperlakukan sebagai suatu perubahan estimasi akuntansi, dengan pengungkapan yang layak.

...\PSAK 25 Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Ke 10/17/03

PSAK no 25

Page 7 of 13

25 Pengaruh perubahan estimasi akuntansi harus dimasukkan dalam perhitungan laba atau rugi bersih dalam: (a) periode perubahan tersebut, jika perubahan tersebut hanya mempengaruhi periode tersebut; atau (b) periode perubahan tersebut dan periode-periode yang akan datang, jika perubahan tersebut mempengaruhi keduanya. 26 Suatu perubahan dalam estimasi akuntansi dapat hanya mempengaruhi periode berjalan ataupun mempengaruhi baik periode berjalan maupun periode-periode yang akan datang. Sebagai contoh, perubahan dalam estimasi masa manfaat aktiva yang dapat disusutkan akan mempengaruhi beban penyusutan pada periode berjalan dan pada setiap periode selama masa manfaat yang tersisa dari aktiva tersebut. Dalam kedua hal tersebut diatas, pengaruh dari perubahan yang berhubungan dengan periode berjalan diakui sebagai pendapatan atau beban pada periode berjalan. Pengaruhnya pada periode-periode yang akan datang, jika ada, diakui pada periode-periode yang akan datang . 27 Pengaruh perubahan estimasi akuntansi harus dimasukkan dalam klasifikasi laporan laba rugi yang sama dengan yang digunakan sebelumnya untuk estimasi tersebut. 28 Untuk mempertahankan daya banding laporan keuangan dari periode-periode yang berbeda, pengaruh perubahan estimasi akuntansi yang sebelumnya tercakup dalam laba atau rugi dari aktivitas normal harus tercakup dalam unsur laba atau rugi bersih tersebut; pengaruh perubahan estimasi akuntansi yang sebelumnya dimasukkan pada pos luar biasa harus dilaporkan sebagai unsur pos luar biasa. 29 Hakekat dan jumlah suatu perubahan estimasi akuntansi yang mempunyai pengaruh material dalam periode berjalan, atau yang diharapkan akan mempunyai pengaruh material dalam periode-periode berikutnya harus diungkapkan. Jika untuk menghitung jumlahnya dianggap tidak praktis, kenyataan ini harus diungkapkan. Kesalahan Mendasar 30 Kesalahan dalam penyusunan laporan keuangan pada satu atau lebih periode sebelumnya mungkin baru ditemukan pada periode berjalan. Kesalahan mungkin timbul dari kesalahan perhitungan matematis, kesalahan dalam penerapan kebijakan akuntansi, kesalahan interpretasi fakta, kecurangan atau kelalaian. Koreksi atas kesalahan tersebut biasanya dimasukkan dalam perhitungan laba atau rugi bersih untuk periode berjalan. 31 Suatu kesalahan mempunyai pengaruh signifikan bagi satu atau lebih laporan keuangan periode sebelumnya sehingga laporan-laporan keuangan tersebut tidak dapat diandalkan lagi pada tanggal penerbitannya. Contoh suatu kesalahan yang mendasar adalah penemuan bahwa laporan keuangan periode sebelumnya memasukkan jumlah pekerjaan dalam proses dan piutang yang fiktif dan nilainya material. Pertanggungjawaban atas kesalahan mendasar yang terjadi dapat dilakukan dengan menyatakan kembali informasi yang berkaitan secara komparatif untuk mengoreksi kesalahan mendasar tersebut atau dengan menyajikan informasi tambahan secara proforma. 32 Koreksi kesalahan yang mendasar dapat dibedakan dari perubahan estimasi akuntansi. Estimasi akuntansi pada hakekatnya adalah suatu taksiran (approximations) yang mungkin perlu direvisi dengan adanya informasi tambahan yang diketahui dalam periode berikutnya. Misalnya, untung atau rugi yang diakui sebagai akibat suatu kontinjensi, yang sebelumnya

...\PSAK 25 Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Ke 10/17/03

PSAK no 25

Page 8 of 13

tidak dapat diperkirakan secara akurat, atau perubahan dalam taksiran masa manfaat dan nilai sisa aktiva tetap yang disusutkan bukan merupakan koreksi atas kesalahan mendasar. 33 Dalam mengkoreksi suatu kesalahan yang mendasar, jumlah koreksi yang berhubungan dengan periode sebelumnya harus dilaporkan dengan menyesuaikan saldo laba awal periode. Informasi komparatif harus dinyatakan kembali, kecuali jika untuk melaksanakannya dianggap tidak praktis. 34 Laporan keuangan yang menyajikan informasi komparatif untuk periode sebelumnya, disajikan seolah-olah kesalahan yang mendasar telah dikoreksi dalam periode di mana kesalahan tersebut dibuat. Oleh karena itu, jumlah koreksi yang berhubungan dengan setiap periode dimasukkan dalam perhitungan laba atau rugi bersih periode yang bersangkutan. Jumlah koreksi yang berhubungan dengan periode-periode sebelum periode yang tercakup dalam informasi komparatif, disesuaikan pada saldo laba awal periode dalam periode yang paling awal. Informasi-informasi lain yang dilaporkan mengenai periode sebelumnya, seperti ikhtisar data keuangan historis, juga dinyatakan kembali. 35 Penyataan kembali informasi komparatif tidak perlu mengubah laporan keuangan yang telah disetujui oleh para pemegang saham atau yang telah tercatat atau disimpan oleh pihak-pihak yang berwenang, sepanjang persyaratan yang ditentukan oleh peraturan perundangan telah diperhatikan. 36 Perusahaan harus mengungkapkan hal-hal berikut: (a) hakekat kesalahan mendasar; (b) jumlah koreksi untuk periode berjalan dan periode-periode sebelumnya; (c) jumlah koreksi yang berhubungan dengan periode-periode sebelum periode yang tercakup dalam informasi komparatif; dan (d) kenyataan bahwa informasi komparatif telah dinyatakan kembali atau kenyataan bahwa informasi komparatif tidak praktis untuk dinyatakan kembali. Perubahan Kebijakan Akuntansi 37 Pemakai laporan keuangan harus dapat memperbandingkan laporan keuangan suatu perusahaan selama beberapa periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan tersebut. Oleh karena itu, kebijakan akuntansi yang digunakan harus diterapkan secara konsisten pada setiap periode. 38 Suatu perubahan kebijakan akuntansi harus dilakukan hanya jika penerapan suatu kebijakan akuntansi yang berbeda diwajibkan oleh peraturan perundangan atau standar akuntansi keuangan yang berlaku, atau jika diperkirakan bahwa perubahan tersebut akan menghasilkan penyajian kejadian atau transaksi yang lebih sesuai dalam laporan keuangan suatu perusahaan. 39 Penyajian suatu kejadian atau transaksi akan lebih tepat jika kebijakan akuntansi yang baru menghasilkan informasi yang lebih relevan atau dapat dipercaya mengenai posisi keuangan,-kinerja atau arus kas suatu perusahaan. 40 Hal-hal berikut bukan merupakan perubahan dalam kebijakan akuntansi:

...\PSAK 25 Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Ke 10/17/03

PSAK no 25

Page 9 of 13

(a) penerapan suatu kebijakan akuntansi atas suatu kejadian atau transaksi yang berbeda substansinya dengan kejadian atau transaksi yang sebelumnya terjadi; dan (b) penerapan suatu kebijakan akuntansi baru atas suatu kejadian atau transaksi yang belum pernah terjadi sebelum nya, atau yang dampaknya tidak material. 41 Suatu perubahan kebijakan akuntansi dapat diterapkan secara retrospektif ataupun secara prospektif, sesuai dengan yang diatur dalam Pernyataan ini. Penerapan yang retrospektif berarti bahwa kebijakan akuntansi yang baru diterapkan seolah-olah kebijakan akuntansi tersebut telah digunakan sebelumnya. Karena itu, kebijakan akuntansi yang baru diterapkan pada kejadian atau transaksi sejak tanggal terjadinya kejadian atau transaksi tersebut. Penerapan yang prospektif berarti bahwa kebijakan akuntansi yang baru diterapkan pada kejadian atau transaksi yang terjadi setelah tanggal perubahan. Tidak ada penyesuaian yang berhubungan dengan periode sebelumnya yang dilakukan baik pada saldo laba awal periode (retained earnings) atau dalam pelaporan laba atau rugi bersih untuk periode sekarang, karena saldo yang ada tidak dihitung kembali. Penerapan Suatu Standar Akuntansi Keuangan 42 Suatu perubahan kebijakan akuntansi yang dilakukan sehubungan dengan penerapan suatu standar akuntansi keuangan yang diberlakukan harus dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan masa transisi yang ditentukan dalam pernyataan standar akuntansi keuangan tersebut. Jika tidak ada ketentuan masa transisi dan ,untuk semua perubahan kebijakan akuntansi yang lain, perubahan kebijakan akuntansi tersebut harus diterapkan sesuai dengan perlakuan akuntansi dalam paragraf 45, 48 dan 49 dari Pernyataan ini. 43 Ketentuan masa transisi dalam standar akuntansi keuangan dapat mensyaratkan apakah perubahan kebijakan akuntansi yang terjadi harus diterapkan secara retrospektif atau prospektif . 44 Jika suatu perusahaan belum menerapkan suatu standar akuntansi keuangan baru yang telah diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia tapi masih belum berlaku resmi, perusahaan dianjurkan untuk mengungkapkan hakekat dari perubahan kebijakan akuntansi tersebut di masa yang akan datang dan melakukan estimasi atas pengaruh perubahan tersebut pada laba atau rugi bersih dan posisi keuangan perusahaan tersebut. Perubahan Kebijakan Akuntansi yang Lain 45 Suatu perubahan kebijakan akuntansi harus diterapkan secara retrospektif dengan melaporkan jumlah setiap penyesuaian yang terjadi yang berhubungan dengan periode sebelumnya sebagai suatu penyesuaian pada saldo laba awal periode (retained earnings), kecuali jika jumlah tersebut tidak dapat ditentukan secara wajar. Informasi komparatif harus dinyatakan kembali, kecuali jika untuk melaksanakannya dianggap tidak praktis. 46 Laporan keuangan yang menyajikan informasi komparatif untuk periode sebelumnya, disajikan seolah-olah kebijakan akuntansi yang baru tersebut telah digunakan. Oleh karena itu, informasi komparatif dinyatakan kembali untuk mencerminkan kebijakan akuntansi yang baru tersebut. Jumlah penyesuaian yang berhubungan dengan periode-periode sebelum laporan keuangan tersebut disesuaikan pada saldo laba awal periode- /retained earnings) dari periode yang paling awal. Informasi-informasi lain yang dilaporkan mengenai periode sebelumnya, seperti ikhtisar data keuangan historis, juga dinyatakan kembali. 47 Penyataan kembali informasi komparatif tidak perlu mengubah laporan keuangan yang

...\PSAK 25 Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Ke 10/17/03

PSAK no 25

Page 10 of 13

telah disetujui oleh para pemegang saham atau yang telah tercatat atau disimpan oleh pihak yang berwenang, sepanjang persyaratan yang ditentukan oleh peraturan perundangan telah diperhatikan. 48 Perubahan kebijakan akuntansi harus diterapkan secara prospektif jika jumlah penyesuaian terhadap saldo laba awal periode (retained earnings) yang dijelaskan dalam paragraf 45 tidak dapat ditentukan secara wajar. 49 Jika suatu perubahan kebijakan akuntansi mempunyai pengaruh material terhadap periode sekarang atau sebelumnya, atau mungkin juga mempunyai pengaruh material terhadap periode berikutnya, perusahaan harus mengungkapkan hal-hal berikut: (a) alasan dilakukannya perubahan; (b) jumlah penyesuaian untuk periode berjalan dan periode sebelumnya; (c) jumlah penyesuaian yang berhubungan dengan masa sebelum periode yang tercakup dalam informasi komparatif; dan (d) kenyataan bahwa informasi komparatif telah dinyatakan kembali atau kenyataan bahwa untuk menyatakan kembali informasi komparatif dianggap tidak praktis. PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 25 LABA ATAU RUGI BERSIH UNTUK PERIODE BERJALAN, KESALAHAN MENDASAR DAN PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 21 terdiri dari paragraf 50-66 Pernyataan Ini harus dibaca dalam konteks paragraf 149. 50 Pernyataan ini harus diterapkan oleh semua perusahaan dalam menyajikan laba atau rugi dari aktivitas normal dan pos luar biasa dalam laporan laba rugi, dan dalam pertanggungjawaban perubahan estimasi akuntansi, perubahan kebijakan akuntansi, dan kesalahan mendasar. Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan 51 Semua unsur pendapatan dan beban yang diakui dalam suatu periode harus tercakup dalam penetapan laba atau rugi bersih untuk periode tersebut kecuali jika standar akuntansi keuangan yang berlaku mewajibkan atau memperbolehkan sebaliknya. 52 Laba atau rugi bersih untuk periode berjalan terdiri atas unsur-unsur berikut, yang masing-masing harus diungkapkan pada laporan laba rugi: (a) laba atau rugi dari aktivitas normal; dan (b) pos luar biasa. Pos Luar Biasa 53 Hakekat dan jumlah dari setiap pos luar biasa harus diungkapkan secara terpisah. Laba atau Rugi dari Aktivitas Normal

...\PSAK 25 Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Ke 10/17/03

PSAK no 25

Page 11 of 13

54 Bila dalam laba atau rugi dari aktivitas normal terdapat unsur penghasilan dan/atau beban yang pengungkapan tentang ukuran, hakekat atau terjadinya dianggap relevan untuk menjelaskan kinerja suatu perusahaan selama periode tertentu, maka hakekat dan jumlah unsur tersebut harus diungkapkan secara terpisah. Operasi Yang Tidak Dilanjutkan 55 Pengungkapan berikut ini harus dibuat untuk setiap operasi yang tidak dilanjutkan: (a) hakekat dari operasi yang tidak dilanjutkan tersebut; (b) segmen industri dan geografis dari operasi yang tidak dilanjutkan tersebut dilaporkan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 5 tentang Pelaporan Informasi Menurut Segmen; (c) tanggal efektif penghentian operasi tersebut untuk tujuan akuntansi; (d) cara penghentian (penjualan atau penutupan); (e) untung atau rugi atas penghentian dan kebijakan akuntansi yang digunakan untuk menghitung untung atau rugi tersebut; dan (f) pendapatan dan laba atau rugi dari aktivitas normal operasi tersebut selama periode laporan, bersamaan dengan jumlah periode sebelumnya yang disajikan dalam laporan keuangan. Perubahan Estimasi Akuntansi 56 Pengaruh perubahan estimasi akuntansi harus dimasukkan dalam perhitungan laba atau rugi bersih dalam: (a) periode perubahan tersebut, jika perubahan tersebut hanya mempengaruhi periode tersebut; atau (b) periode perubahan tersebut dan periode-periode yang akan datang, jika perubahan tersebut mempengaruhi keduanya. 57 Pengaruh perubahan estimasi akuntansi harus dimasukkan dalam klasifikasi laporan laba rugi yang sama dengan yang digunakan sebelumnya untuk estimasi tersebut. 58 Hakekat dan jumlah suatu perubahan estimasi akuntansi yang mempunyai pengaruh material dalam periode berjalan, atau yang diharapkan akan mempunyai pengaruh material dalam periode-periode berikutnya harus diungkapkan. Jika untuk menghitung jumlahnya dianggap tidak praktis, kenyataan ini harus diungkapkan. Kesalahan Mendasar 59 Dalam mengkoreksi suatu kesalahan yang mendasar, jumlah koreksi yang berhubungan dengan periode sebelumnya harus dilaporkan dengan menyesuaikan saldo laba awal periode. Informasi komparatif harus dinyatakan kembali, kecuali jika untuk melaksanakannya dianggap tidak praktis.

...\PSAK 25 Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Ke 10/17/03

PSAK no 25

Page 12 of 13

60 Perusahaan pelapor harus mengungkapkan hal-hal berikut: (a) hakekat kesalahan mendasar; (b) jumlah koreksi untuk periode berjalan dan periode-periode sebelumnya; (c) jumlah koreksi yang berhubungan dengan periode-periode sebelum periode yang tercakup dalam informasi komparatif; dan (d) kenyataan- bahwa informasi komparatif telah dinyatakan kembali atau kenyataan bahwa informasi komparatif tidak praktis untuk dinyatakan kembali. Perubahan Kebijakan Akuntansi 61 Suatu perubahan kebijakan akuntansi harus dilakukan hanya jika penerapan suatu kebijakan akuntansi yang berbeda diwajibkan oleh peraturan perundangan atau standar akuntansi keuangan yang berlaku, atau jika diperkirakan bahwa perubahan tersebut akan menghasilkan penyajian kejadian atau transaksi yang lebih sesuai dalam laporan keuangan suatu perusahaan. 62 Suatu perubahan kebijakan akuntansi yang dilakukan sehubungan dengan penerapan suatu standar akuntansi keuangan yang diberlakukan harus dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan masa transisi yang ditentukan dalam pernyataan standar akuntansi keuangan tersebut. Jika tidak ada ketentuan masa transisi dan untuk semua perubahan kebijakan akuntansi yang lain, perubahan kebijakan akuntansi tersebut harus diterapkan sesuai dengan perlakuan akuntansi dalam paragraf 63, 64 dan 65 dari Pernyataan ini. 63 Suatu perubahan kebijakan akuntansi harus diterapkan secara retrospektif dengan melaporkan jumlah setiap penyesuaian yang terjadi yang berhubungan dengan periode sebelumnya sebagai suatu penyesuaian pada saldo laba awal periode {retained earnings), kecuali jika jumlah tersebut tidak dapat ditentukan secara wajar. Informasi komparatif harus dinyatakan kembali, kecuali jika untuk melaksanakannya dianggap tidak praktis. 64 Perubahan kebijakan akuntansi harus diterapkan secara prospektif jika jumlah penyesuaian terhadap saldo laba awal periode (retained earnings) yang diwajibkan dalam paragraf 63 tidak dapat ditentukan secara wajar. 65 Jika suatu perubahan kebijakan akuntansi mempunyai pengaruh material terhadap periode sekarang atau sebelumnya atau mungkin juga mempunyai pengaruh material terhadap periode berikutnya perusahaan harus mengungkapkan hal-hal berikut: (a) alasan dilakukannya perubahan; (b) jumlah penyesuaian periode berjalan dan periode sebelumnya; (c) jumlah penyesuaian yang berhubungan dengan masa sebelum periode yang tercakup dalam informasi komparatif; dan (d) kenyataan bahwa informasi komparatif telah dinyatakan kembali atau kenyataan bahwa untuk menyatakan kembali informasi komparatif dianggap tidak praktis. Tanggal Efektif

...\PSAK 25 Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Ke 10/17/03

PSAK no 25

Page 13 of 13

66 Pernyataan ini berlaku untuk laporan keuangan yang mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini sangat dianjurkan.

Navigation

...\PSAK 25 Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Ke 10/17/03

PSAK no 26

Page 1 of 6

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 26 AKUNTANSI BUNGA UNTUK PERIODE KONSTRUKSI

Dalam rangka pengembangan Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) menjadi Standar Akuntansi Keuangan (SAK), maka Pernyataan Prinsip Akuntansi Indonesia No. 2 tentang Akuntansi Bunga Untuk Periode Konstruksi telah disesuaikan seperlunya menjadi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 26 tentang Akuntansi Bunga Untuk Periode Konstruksi, yang telah disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items) Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR Pernyataan ini menetapkan standar akuntansi keuangan dan pelaporan untuk biaya bunga dalam periode konstruksi. Dalam praktek, beberapa perusahaan membebankan bunga langsung pada saat terjadinya sementara lainnya menangguhkan biaya tersebut baik dengan cara kapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan aktiva ataupun melalui perkiraan Beban yang Ditangguhkan. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan seperti termuat dalam Pernyataan ini, diputuskan bahwa bunga dalam periode konstruksi selayaknya dikapitalisasi bila dipenuhi kriteria tertentu.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 26 Akuntansi Bunga untuk Periode Konstruksi.htm

10/17/03

PSAK no 26

Page 2 of 6

Jakarta 15 Pebruari 1988 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Prinsip Akuntansi Indonesia-Pernyataan No. 2 berjudul Akuntansi Bunga untuk Periode Konstruksi telah disetujui dalam rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 5 Pebruari 1988 dan telah disahkan oleh rapat Pengurus Ikatan Indonesia pada tanggal 15 Pebruari 1988 Jakarta, 15 Pebruari 1988 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntan Indonesia Hans Kartikahadi, Ketua Jusuf Halim, Sekretaris Soebagjo Malimar Hein Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Drs. M. Ashadhi Insyaf

DAFTAR ISI halaman KATA PENGANTAR PENDAHULUAN PERTIMBANGAN TEORETlKAL KESIMPULAN

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 26 Akuntansi Bunga untuk Periode Konstruksi.htm

10/17/03

PSAK no 26

Page 3 of 6

PENDAHULUAN Untuk membiayai usahanya, perusahaan seringkali memerlukan pinjaman dari pihak ketiga yang disertai balas jasa berupa bunga. Bila pinjaman tersebut digunakan untuk membiayai aktivitas perusahaan sehari-hari, bunga yang terjadi langsung dibebankan pada laporan laba rugi pada kelompok beban-beban lain. Timbul masalah bila pinjaman digunakan untuk membiayai pembangunan aktiva tetap. Ada tiga alternatif perlakuan akuntansi untuk menampung bunga selama periode konstruksi: 1 Bunga dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan aktiva. 2 Bunga dibebankan pada pendapatan sebagai beban finansial pada periode yang bersangkutan. 3 Bunga ditangguhkan untuk diamortisasi selama beberapa periode akuntansi. Beberapa pendapat sehubungan dengan perlakuan akuntansi atas bunga selama periode konstruksi disajikan di bawah ini: 1. Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) 1973 Buku PAI 1973 halaman 68 menyatakan bahwa: ". . . juga menjadi praktek yang lazim untuk membebankan bunga dari dana-dana yang dipinjam untuk keperluan konstruksi itu, yang berarti bunga tadi ikut dikapitalisasi dalam cost dari konstruksi". 2. Konsep Perubahan PAI No. 2 Dalam Konsep Perubahan PAI No.2 yang dikeluarkan bulan Agustus 1978 ditegaskan bahwa bunga merupakan beban keuangan sehingga selayaknya disajikan dalam laporan laba rugi sebagai beban lain-lain, dan tidak dikapitalisasikan kedalam harga perolehan aktiva. 3. PAI 1984 Dalam buku PAI 1984 bunga dalam periode konstruksi sengaja belum ditampung berdasarkan kesepakatan bahwa topik yang sangat kontroversial ini akan ditampung tersendiri dalam suatu Pernyataan PAI. 4. Exposure Draft PAI Pernyataan No.2, 1983 Dalam exposure draft ini juga diusulkan untuk mengkapitalisasi bunga dalam periode konstruksi. Tanggapan publik dan profesi akuntansi antara yang setuju dan yang menolak kurang lebih seimbang. 5. International Accounting Standards No. 16 Pada pasal 11 dinyatakan bahwa biaya keuangan yang berhubungan langsung dengan pembangunan suatu proyek dan yang terjadi sampai selesainya konstruksi dapat diperhitungkan dalam harga aktiva yang bersangkutan. 6. Statement of Financial Accounting Standards No. 34 Pasal 9 SFAS No. 34 memuat ketentuan bahwa bunga harus dikapitalisasi untuk aktiva yang dibangun atau diproduksi sendiri, termasuk aktiva yang dibangun pihak lain dengan disertai pembayaran uang muka atau pembayaran termin sesuai dengan tahap kemajuan pekerjaannya.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 26 Akuntansi Bunga untuk Periode Konstruksi.htm

10/17/03

PSAK no 26

Page 4 of 6

Pertimbangan yang diajukan oleh para pendukung masing-masing alternatif tersebut antara lain adalah sebagai berikut: 1. Argumentasi untuk memilih alternatif pertama (perlakuan untuk mengkapitalisasi bunga) adalah sebagai berikut: a. Harga perolehan suatu aktiva sebaiknya mencakup biaya yang diperlukan untuk menempatkan aktiva tersebut pada kondisi dan lokasi yang diinginkan, termasuk bunga selama periode konstruksi. b. Bila aktiva diperoleh dengan cara membeli dan bukan dibangun sendiri, maka dalam harga perolehan tersebut telah ditampung biaya bunga selama periode konstruksi. c. Bunga dalam periode konstruksi ikut memberikan manfaat ekonomi untuk masa-masa mendatang, karenanya untuk mengaitkan biaya dengan pendapatan (matching costs against revenues) sebagaimana mestinya, bunga harus dikapitalisasi sebagai bagian dari harga perolehan aktiva. 2. Argumentasi untuk memilih alternatif yang kedua (membebankan bunga pada pendapatan sebagai beban finansial pada periode yang bersangkutan) adalah sebagai berikut: a. Bunga merupakan beban keuangan yang timbul sebagai akibat kebijaksanaan keuangan yang dilakukan perusahaan. Dengan demikian secara teoretikal biaya bunga seharusnya dapat dihindarkan, yaitu dengan membiayai pembangunan aktiva dengan modal sendiri. b. Pembebanan bunga pada periode berjalan mencegah timbulnya harga aktiva yang berbeda antara perusahaan yang membelanjai pembangunan aktivanya dari modal sendiri dengan perusahaan yang membelanjai pembangunan aktivanya dari pinjaman. c. Dalam entity theory, bunga dianggap sebagai distribusi pendapatan, bukan sebagai biaya. Dengan demikian kapitalisasi biaya bunga secara implisit berarti kecenderungan pada proprietary theory. 3. Argumentasi untuk memilih alternatif yang ketiga (penangguhan bunga untuk diamortisasi selama beberapa periode akuntansi) adalah bahwa, di satu pihak, bunga merupakan beban keuangan dan bukan biaya konstruksi; sedang di lain pihak, pembebanan langsung pada laporan laba rugi akan mengakibatkan distorsi pada hasil usaha untuk periode yang bersangkutan. Oleh karena itu, bunga tersebut sebaiknya ditampung dalam perkiraan Beban yang Ditangguhkan dan diamortisasi selama beberapa periode akuntansi. KESIMPULAN Setelah memperhatikan dan menimbang faktor-faktor berikut ini: 1. Beberapa argumentasi yang mendukung ketiga alternatif yang telah diuraikan di atas. 2. Pembangunan aktiva di Indonesia pada umumnya memerlukan dana pinjaman dalam jumlah besar yang dalam praktek tidak dapat dihindarkan. 3. Kelemahan yang mungkin timbul sebagai akibat dari keputusan ini, yaitu hilangnya data bunga sebagai beban keuangan seutuhnya yang mungkin diperlukan dalam analisa keuangan, sudah ditampung melalui pengungkapan yang jelas sebagaimana yang dijelaskan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 26 Akuntansi Bunga untuk Periode Konstruksi.htm

10/17/03

PSAK no 26

Page 5 of 6

dalam Butir 8 di bawah, maka diputuskan bahwa biaya bunga sehubungan dengan pembangunan suatu aktiva boleh dikapitalisasi bila dipenuhi persyaratan berikut ini: 1. Biaya pembangunan aktiva tersebut dapat diakumulasi secara terpisah. 2. Diperlukan jangka waktu yang cukup lama untuk membangun atau memproduksi aktiva yang bersangkutan. 3. Pembangunan atau produksi tersebut memerlukan biaya yang besar, sehingga melibatkan perusahaan dengan biaya bunga yang tinggi. 4. Sepanjang ketiga persyaratan tersebut di atas telah dipenuhi, maka bunga yang dapat dikapitalisasi adalah untuk aktiva (qualifying assets) berikut: a. Aktiva yang dibangun atau diproduksi untuk digunakan sendiri, termasuk aktiva yang dibangun atau diproduksi oleh pihak lain dengan disertai pembayaran uang muka atau pembayaran termin sesuai dengan tahap kemajuan pekerjaan; atau b. Aktiva yang dimaksudkan untuk dijual atau disewakan, yang dibangun atau diproduksi sebagai proyek proyek tersendiri. 5. Aktiva yang tidak memenuhi persyaratan kapitalisasi bunga (non qualifying assets) adalah sebagai berikut: a. Persediaan barang yang diproduksi secara rutin atau berulang-ulang; b. Aktiva yang sedang digunakan atau telah siap untuk digunakan sesuai dengan tujuan yang diinginkan; atau c. Aktiva yang tidak sedang digunakan dalam kegiatan perolehan laba perusahaan dan tidak sedang dilakukan kegiatan untuk membuat aktiva tersebut siap untuk dipakai atau, dengan perkataan lain, kegiatan yang diperlukan untuk penyelesaiannya terhenti. 6. Jumlah biaya bunga yang dikapitalisasi adalah bagian dari biaya bunga selama periode konstruksi yang secara teoretis

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 26 Akuntansi Bunga untuk Periode Konstruksi.htm

10/17/03

PSAK no 26

Page 6 of 6

dapat dihindarkan bila pembangunan aktiva tidak dilakukan . Jumlah bunga yang dikapitalisasi dalam suatu periode akuntansi ditentukan dengan menerapkan tingkat bunga atas jumlah akumulasi pengeluaran rata-rata untuk aktiva selama periode yang bersangkutan:

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 26 Akuntansi Bunga untuk Periode Konstruksi.htm

10/17/03

PSAK no 26 rev. 1997

Page 1 of 6

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 26 Revisi tahun 1997 Biaya Pinjaman

Pendahuluan
Tujuan 01. Tujuan Standar ini adalah untuk menentukan perlakukan akuntansi atas biaya pinjaman. Secara umum standar ini mengharuskan pembebanan segera biaya pinjaman pada saat terjadinya. Akan tetapi untuk biaya pinjaman yang secara langsung dapat diatribusikan dengan perolehan, konstruksi atau produksi dari suatu qualifying asset, standar ini mengharuskan kapitalisasi biaya pinjaman tersebut.

Ruang lingkup
02. Standar ini harus diterapkan untuk perlakukan akuntansi atas biaya pinjaman. 03. Standar ini menggantikan PSAK No. 26, Akuntansi Bunga Untuk Periode Konstruksi, yang diberlakukan sejak tahun 1988. 04. Standar ini tidak mengatur biaya atas ekuitas (actual or imputed cost of equity).

Definisi
05. Istilah-istilah berikut dipergunakan dalam Standar ini, dengan pengertian sebagaimana dijelaskan: Biaya Pinjaman adalah bunga dan biaya lainnya harus ditanggung oleh suatu perusahaan sehubungan dengan peminjaman dana. Aktiva Tertentu yang memenuhi syarat (Qualifying assets)- selanjutnya disebut Aktiva Tertentu adalah suatu aktiva yang membutuhkan waktu yang cukup lama agar siap untuk dipergunakan atau dijual sesuai dengan tujuannya.

Penjelasan
06. Biaya pinjaman meliputi antara lain: a. Bunga atas penggunaan dana pinjaman baik pinjaman jangka pendek maupun jangka panjang. b. Amortisasi diskonto atau premium yang terkait dengan pinjaman (borrowings). c. Amortisasi atas biaya yang terkait dengan perolehan pinjaman seperti biaya konsultan, ahli hukum, commitment fee dan sebagainya. d. Selisih kurs atas pinjaman dalam valuta asing (sepanjang bunga) atau amortisasi premi kontrak valuta berjangka dalam rangka hedging dana yang dipinjam dalam valuta asing.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 26 Revisi (97) Biaya Pinjaman.htm

10/17/03

PSAK no 26 rev. 1997

Page 2 of 6

07. Yang dimaksud dengan Aktiva Tertentu antara lain adalah persediaan barang tertentu, pabrik dan pembangkit tenaga listrik. Sedangkan aktiva yang pada saat diperoleh sudah dalam keadaan siap untuk digunakan atau dijual bukan merupakan Aktiva Tertentu. 08. Yang dimaksud dengan persediaan barang tertentu adalah persediaan yang untuk memproduksi sampai siap untuk dijual membutuhkan waktu yang cukup lama sesuai dengan bidang usahanya. Yang dimaksud dengan waktu yang cukup lama adalah 12 bulan atau lebih. Persediaan yang pada saat diperoleh sudah dalam keadaan siap dijual bukan merupakan Aktiva Tertentu.

Pengakuan
09 Biaya pinjaman harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya biaya pinjaman tersebut, kecuali untuk biaya pinjaman yang harus dikapitalisasi sesuai dengan paragraf 10. 10. Biaya pinjaman yang secara langsung dapat diatribusikan dengan perolehan, konstruksi atau produksi suatu Aktiva Tertentu harus dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan Aktiva Tertentu tersebut. Jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi tersebut harus ditentukan sesuai dengan standar ini.

Biaya Pinjaman yang Dikapitalisasi


11 Apabila bulan pinjaman dapat diatribusikan secara langsung dengan Aktiva Tertentu, maka biaya pinjaman tersebut harus dikapitalisasi terhadap Aktiva Tertentu tersebut. Apabila biaya pinjaman tersebut tidak dapat diatribusikan secara langsung dengan Aktiva Tertentu, maka kapitalisasi biaya pinjaman ditentukan berdasarkan penjelasan pada paragraf 15. 12 Dalam keadaan tertentu sulit untuk mengidentifikasikan adanya hubungan langsung antara pinjaman terntentu dengan perolehan suatu Aktiva Tertentu dan untuk menentukan bahwa pinjaman tertentu sebenarnya tidak perlu ada apabila perolehan Aktiva Tertentu tidak terjadi. Misalnya: apabila terdapat sentralisasi pendanaan untuk semua kegiatan usaha. Kesulitan juga dapat terjadi bila suatu perusahaan menggunakan beberapa jenis instrumen hutang dengan tingkat bunga yang berbeda-beda. Dalam hal ini, sulit untuk menentukan jumlah biaya pinjaman yang dapat secara langsung diatribusikan, sehingga diperlukan pertimbangan profesional (profesional judgement). 13. Apabila pinjaman hanya digunakan untuk memperoleh suatu Aktiva Tertentu, maka jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi adalah seluruh biaya pinjaman yang timbul selama peminjaman dana tersebut dikurangi dengan pendapatan bunga yang diperoleh dari investasi sementara atas dana hasil pinjaman yang belum digunakan. 14. Pengaturan pendanaan untuk perolehan suatu Aktiva Tertentu dapat menyebabkan suatu perusahaan memperoleh pinjaman dan menanggung biaya pinjamannya sebelum seluruh atau sebagian dana yang diperoleh tersebut digunakan untuk membiayai perolehan Aktiva Tertentu. Dalam keadaan tersebut perusahaan umumnya menginvestasikan untuk sementara dana yang belum terpakai. Untuk menentukan jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi dalam periode tertentu, jumlah biaya pinjaman harus dikurangi terlebih dahulu dengan hasil investasi atas dana yang belum terpakai tersebut. 15. Apabila suatu dana berasal dari pinjaman yang tidak secara khusus digunakan untuk perolehan suatu Aktiva Tertentu tetapi pinjaman tersebut digunakan juga untuk perolehan Aktiva Tertentu, maka jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi ditentukan dengan mengalikan tingkat kapitalisasi terhadap pengeluaran yang terjadi untuk memperoleh Aktiva Tertentu. Tingkat kapitalisasi dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang dari biaya pinjaman dibagi dengan jumlah

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 26 Revisi (97) Biaya Pinjaman.htm

10/17/03

PSAK no 26 rev. 1997

Page 3 of 6

pinjaman dari suatu periode, (tidak termasuk jumlah pinjaman yang secara khusus digunakan untuk perolehan Aktiva Tertentu) jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi dalam periode tertentu tidak boleh melebihi jumlah biaya pinjaman yang terjadi selama periode tersebut.

Selisih antara Nilai Tercatat suatu Aktiva Tertentu dengan Jumlah yang Dapat Dipulihkan
16. Apabila nilai tercatat atau jumlah keseluruhan biaya yang diperkirakan atas suatu Aktiva Tertentu melebihi jumlah yang diharapkan dapat dipulihkan atau nilai realisasi bersih, maka nilai tercatat tersebut harus disesuaikan dengan mengacu kepada Standar Akuntansi Keuangan lain yang berlaku.

Saat Dimulainya Kapitalisasi


17. Kapitalisasi biaya pinjaman sebagai bagian dari biaya perolehan suatu aktiva dimulai apabila: a. Pengeluaran untuk aktiva tersebut telah mulai dilakukan. b. Biaya pinjaman sedang terjadi. c. Aktivitas yang dibutuhkan untuk mempersiapkan pembangunan atau memproduksi Aktiva Tertentu sedang berlangsung. 18. Pengeluaran untuk Aktiva Tertentu hanya meliputi pengeluaran yang menimbulkan pembayaran tunai, transfer aktiva lain, atau timbulnya kewajiban yang dikenakan bunga. Perhitungan kapitalisasi Biaya Pinjaman berdasarkan asas proporsional jumlah pinjaman dikurangi penerimaan pendapatan yang berkaitan dengan Aktiva Tertentu tersebut. Nilai tercatat rata-rata suatu Aktiva Tertentu dalam suatu periode, termasuk jumlah biaya pinjaman yang telah dikapitalisasi sebelumnya, biasanya merupakan taksiran yang layak dari pengeluaran yang dihitung dengan menggunakan tingkat kapitalisasi dalam periode tersebut. 19. Pengertian mengenai aktivitas yang dibutuhkan untuk mempersiapkan pembangunan atau memproduksi Aktiva Tertentu tidak terbatas pada aktivitas konstruksi fisik, tetapi termasuk juga aktivitas teknik dan administrasi yang dibutuhkan sebelum dimulainya konstruksi fisik, seperti kegiatan untuk memperoleh perizinan yang dibutuhkan untuk membangun Aktiva Tertentu. Akan tetapi, dianggap tidak terdapat aktivitas apapun, apabila perusahaan hanya mendiamkan suatu aktiva tanpa kegiatan pembangunan atau produksi yang dapat mengubah kondisi aktiva tersebut. Misalnya, biaya pinjaman yang terjadi pada periode dimana tanah tertentu sedang dikembangkan harus dikapitalisasi. Akan tetapi apabila perusahaan membeli tanah tertentu untuk dibangun dan hanya mendiamkannya tanpa kegiatan apapun, maka biaya pinjaman yang timbul tidka boleh dikapitalisasi.

Penghentian Kapitalisasi
20. Kapitalisasi biaya pinjaman harus dihentikan apabila dalam sautu periode yang cukup lama perusahaan menangguhkan atau menunda aktivitas perolehan, pembangunan ataupun produksi. 21. Biaya pinjaman mungkin saja tetap ada selama perusahaan menunda atau memberhentikan untuk sementara waktu aktivitas untuk memperoleh, membangun atau memproduksi Aktiva Tertentu, biaya pinjaman selama masa ini tidak boleh dikapitalisasi. Pada keadaan tertentu, dapat saja terjadi penundaan atau pemberhentian sementara dar aktivitas konstruksi fisik karena menunggu penyelesaian dari pekerjaan teknik atau administrasi yang sedang berlangsung. Dalam keadaan ini kapitalisasi biaya pinjaman tetap berlangsung. Keadaan lainnya dimana kapitalisasi biaya pinjaman tetap berlangsung walaupun ada penundaan/pemberhentian sementara aktivitas untuk memperoleh, membangun atau memproduksi Aktiva Tertentu, yaitu dimana dalam proses memperoleh, membangun atau memproduksi secara teknik diharuskan atau dibutuhkan penundaan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 26 Revisi (97) Biaya Pinjaman.htm

10/17/03

PSAK no 26 rev. 1997

Page 4 of 6

aktivitas. Misalnya, dalam proses pembangunan jembatan, kegiatan konstruksi fisik harus dihentikan sementara karena permukaan air sungai sedang pasang, dalam keadaan ini kapitalisasi biaya pinjaman tetap berlangsung hanya apabila di daerah tersebut naiknya permukaan air merupakan hal yang wajar.

Berakhirnya Kapitalisasi Biaya Pinjaman


22. Kapitalisasi biaya pinjaman harus diakhiri apabila aktivitas untuk memperoleh, membangun atau memproduksi Aktiva Tertentu sesuai dengan tujuannya secara substansial telah selesai. 23. Satu aktiva biasanya siap untuk digunakan atau dijual sesuai tujuannya apabila kegiatan konstruksi fisik yang dibutuhkan telah selesai, walaupun mungkin masih dibutuhkan kegiatan admisitratif tertentu yang berkaitan dengan aktiva tersebut. Dalam keadaan ini biaya pinjaman tidak lagi boleh dikapitalisasi. 24. Apabila pembangunan atau konstruksi suatu aktiva dapat diselesaikan perbagian dimana bagian yang telah selesai dapat segera digunakan sementara bagian lainnya masih dalam penyelesaian, maka jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi adalah untuk bagian yang belum selesai saja. 25. Untuk suatu area perkantoran yang didalamnya terdapat beberapa gedung, maka masingmasing gedung dapat dianggap sebagai Aktiva Tertentu tersendiri, karena apabila gedung pertama telah selesai dapat langsung digunakan, dijual atau disewakan sesuai dengan tujuannya tanpa harus tergantung dengan penyelesaian gedung kedua. Hal ini berbeda dengan pembangunan suatu pabrik yang melibatkan beberapa tahapan proses produksi, pembangunan pabrik ini baru dapat dianggap selesai, bila seluruhnya selesai karena bagian yang lebih dulu secara fisik telah selesai tetap tidak dapat digunakan apabila bagian terakhir dari pembangunan pabrik selesai.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 26 (Revisi 1997)


Biaya Pinjaman
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan ini terdiri dari Paragraf 26-37. Pernyataan ini harus dibaca dalam Konteks Paragraf 01-25. 26. Istilah-istilah berikut dipergunakan dalam standar ini, dengan pengertian sebagaimana dijelaskan: Biaya Pinjaman adalah bunga dan biaya lainnya yang harus ditanggung oleh suatu perusahaan sehubungan dengan peminjaman dana. Aktiva Tertentu yang memenuhi syarat (Qualifying assets) - selanjutnya disebut Aktiva Tertentuadalah suatu aktiva yang membutuhkan waktu yang cukup lama agar siap untuk dipergunakan atau dijual sesuai dengan tujuannya. 27. Biaya pinjaman harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya biaya pinjaman tersebut, kecuali untuk biaya pinjaman yang harus dikapitalisasi sesuai dengan paragraf 28. 28. Biaya pinjaman yang secara langsung dapat diatribusikan dengan perolehan, konstruksi atau produksi suatu Aktiva Tertentu harus dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan Aktiva Tertentu tersebut. Jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi tersebut harus ditentukan sesuai dengan standar ini.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 26 Revisi (97) Biaya Pinjaman.htm

10/17/03

PSAK no 26 rev. 1997

Page 5 of 6

29. Apabila pinjaman hanya digunakan untuk memperoleh suatu Aktiva Tertentu, maka jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi adalah seluruh biaya pinjaman yang timbul selama peminjaman dana tersebut dikurangi dengan pendapatan bunga yang diperoleh dari investasi sementara atas dana hasil pinjaman yang belum digunakan. 30. Apabila suatu dana berasal dari pinjaman yang tidak secara khusus digunakan untuk perolehan suatu Aktiva Tertentu tetapi pinjaman tersebut digunakan juga untuk perolehan Aktiva Tertentu, maka jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi ditentukan dengan mengalikan tingkat kapitalisasi terhadap pengeluaran yang terjadi untuk memperoleh Aktiva Tertentu. Tingkat Kapitalisasi dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang dari biaya pinjaman dibagi dengan jumlah pinjaman dari suatu periode, (tidak termasuk jumlah pinjaman yang secara khusus digunakan untuk perolehan Aktiva Tertentu) jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi dalam periode tertentu tidak boleh melebihi jumlah biaya pinjaman yang terjadi selama periode tersebut. 31. Kapitalisasi biaya pinjaman sebagai bagian dari biaya perolehan suatu aktiva dimulai apabila: a. Pengeluaran untuk aktiva tersebut telah mulai dilakukan. b. Biaya pinjaman sedang terjadi. c. Aktivitas yang dibutuhkan untuk mempersiapkan pembangunan atau memproduksi Aktiva Tertentu sedang berlangsung. 32. Kapitalisasi biaya pinjaman harus dihentikan apabila dalam suatu periode yang cukup lama perusahaan menangguhkan atau menunda aktivitas perolehan, pembangunan ataupun produksi. 33. Kapitalisasi biaya pinjaman harus diakhiri apabila aktivitas untuk memperoleh, membangun atau memproduksi Aktiva Tertentu sesuai degan tujuannya secara substansial telah selesai. 34. Apabila pembangunan atau konstruksi suatu aktiva dapat diselesaikan perbagian dimana bagian yang telah selesai dapat segera digunakan sementara bagian lainnya masih dalam penyelesaian, maka jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi adalah untuk bagian yang belum selesai saja.

Pengungkapan
35. Laporan keuangan harus mengungkapkan: a. Akuntansi untuk biaya pinjaman. b. Jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi untuk periode yang bersangkutan. c. Tingkat kapitalisasi yang dipergunakan.

Masa Transisi
36. Penerapan standar ini harus dilakukan secara prospektif. Laporan keuangan untuk periode sebelum diberlakukannya standar ini tidak perlu dinyatakan kembali (restated).

Tanggal Efektif
37. Standar ini diberlakukan untuk tahun buku yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 1997. Penerapan lebih dini dianjurkan.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 26 Revisi (97) Biaya Pinjaman.htm

10/17/03

PSAK no 26 rev. 1997

Page 6 of 6

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 26 Revisi (97) Biaya Pinjaman.htm

10/17/03

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI NO. 27 (REVISI 1998) AKUTANSI PERKOPERASIAN

KEUANGAN

Paragraf-paragraf yang dicetak dengan huruf tebal dan miring adalah paragraf standar yang harus dibaca dalam konteks dengan paragraf-paragraf penjelasan dan panduan implementasi yang dicetak dalam huruf biasa. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Akuntansi Perkoperasian (Pernyataan) ini tidak wajib diterapkan untuk unsur-unsur yang tidak material.
PENDAHULUAN Karakteristik Koperasi

01 Koperasi adalah badan usaha yang mengorganisir pemanfaatan dan pendayagunaan sumber daya ekonomi para anggotanya atas dasar prinsip-prinsip Koperasi dan kaidah usaha ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup anggota pada khususnya dan masyarakat daerah kerja pada umumnya, dengan demikian koperasi merupakan gerakan ekonomi rakyat dan sokoguru perekonomian nasional. 02 Prinsip-prinsip koperasi merupakan landasan pokok koperasi dalam menjalankan usahanya sebagai badan usaha dan gerakan ekonomi rakyat. Prinsip-prinsip tersebut terdiri dari: kemandirian, keanggotaan bersifat terbuka, pengelolaan dilakukan secara demokratis pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota, pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal, pendidikan perkoperasian dan kerjasama antar koperasi. 03 Karakteristik utama koperasi yang membedakannya dengan badan usaha lain adalah bahwa anggota koperasi memiliki identitas ganda (the dual identity of the member), yaitu anggota sebagai pemilik dan sekaligus pengguna jasa koperasi (user own oriented firm). Oleh karena itu: a. b. Koperasi dimiliki oleh anggota yang bergabung atas dasar sedikitnya ada satu kepentingan ekonomi yang sama. Koperasi didirikan dan dikembangkan berlandaskan nilai-nilai percaya diri untuk menolong dan bertanggung jawab kepada diri

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

27.1

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

sendiri, kesetiakawanan, keadilan, persamaan dan demokrasi. Selain itu anggota-anggota koperasi percaya pada nilai-nilai etika kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap orang lain. c. d. Koperasi didirikan, dimodali, dibiayai, diatur dan diawasi serta dimanfaatkan sendiri oleh anggotanya. Tugas pokok badan usaha koperasi adalah menunjang kepentingan ekonomi anggotanya dalam rangka memajukan kesejahteraan anggota (promotion of the members welfare). Jika terdapat kelebihan kemampuan pelayanan koperasi kepada anggotanya maka kelebihan kemampuan pelayanan tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang nonanggota koperasi.

e.

04 Dalam meningkatkan kesejahteraan anggotanya, koperasi tidak hanya dituntut mempromosikan usaha-usaha ekonomi anggota, tetapi juga mengembangkan sumber daya anggota melalui pendidikan dan pelatihan yang dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan sehingga anggota semakin profesional dan mampu mengikuti perkembangan bidang usahanya. 05 Sebagai penggerak ekonomi rakyat dan sokoguru perekonomian nasional, pemerintah sangat berkepentingan terhadap keberhasilan koperasi. Oleh karena itu pemerintah berperan dalam memberikan pembinaan, perlindungan dan peluang usaha pada koperasi. Dalam pelaksanaan pembinaan, perlindungan dan peluang usaha tersebut koperasi perlu berpedoman pada ketentuan-ketentuan yang ditetapkan pemerintah. Ketentuan-ketentuan tersebut juga berpengaruh terhadap perlakuan akuntansi pada koperasi. Struktur Pengorganisasian Koperasi

06 Koperasi terbagi ke dalam Koperasi Primer dan Koperasi Sekunder. Koperasi Primer adalah koperasi yang beranggotakan orang seseorang. Koperasi Sekunder adalah koperasi yang beranggotakan badan-badan hukum koperasi.

27.2

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

07 Jumlah pemilikan anggota pada koperasi, baik pada Koperasi Primer maupun Koperasi Sekunder pada prinsipnya adalah sama, dengan demikian tidak terdapat pemilikan mayoritas dan minoritas dalam koperasi. Oleh karena itu laporan keuangan Koperasi Primer dan Sekunder tidak dikonsolidasikan. Usaha dan Jenis Koperasi 08 Koperasi dapat melakukan usaha-usaha sebagaimana badan usaha lain, seperti di sektor perdagangan, industri manufaktur, jasa keuangan dan pembiayaan, jasa asuransi, jasa transportasi, jasa profesi dan jasa lainnya. Perlakuan akuntansi koperasi ini mengacu pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang mengatur perlakuan akuntansi dalam setiap sektor industri tersebut. 09 Koperasi dapat digolongkan dalam beberapa jenis, namun berdasarkan kepentingan anggota dan usaha utama koperasi, koperasi digolongkan ke dalam empat jenis, yakni Koperasi Konsumen, Koperasi Produsen, Koperasi Simpan Pinjam, dan Koperasi Pemasaran. Tu j u a n 10 Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi yang timbul dari hubungan transaksi antara koperasi dengan anggotanya dan transaksi lain yang spesifik pada koperasi. Pernyataan ini mencakup pengaturan mengenai pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Ruang Lingkup

11 Pernyataan ini mengatur akuntansi bagi badan usaha koperasi atas transaksi yang timbul dari hubungan koperasi bagi anggotanya, yaitu meliputi transaksi setoran anggota koperasi dan transaksi usaha koperasi dengan anggotanya; dan transaksi yang spesifik pada badan usaha koperasi, di antaranya cadangan, modal penyertaan, modal sumbangan, beban-beban perkoperasian; serta penyajian dan pengungkapannya dalam laporan keuangan. 12 Pernyataan ini tidak mengatur akuntansi transaksi yang

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

27.3

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

timbul dari hubungan koperasi dengan non-anggota. Transaksi tersebut diperlakukan sama dengan transaksi yang terjadi pada badan usaha lainnya. 13 Hal-hal yang bersifat umum atau yang tidak secara khusus diatur dalam Pernyataan ini, termasuk akuntansi untuk transaksi unit usaha otonom koperasi, harus diperlakukan dengan mengacu pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang lain. 14 Pernyataan ini berlaku bagi laporan keuangan untuk disajikan kepada pihak eksternal yaitu anggota koperasi, pemerintah, kreditur dan pihak lain yang berkepentingan. 15 Pemerintah sebagai salah satu pihak pemakai laporan keuangan koperasi, mungkin memerlukan informasi khusus untuk tujuan tertentu. Pernyataan ini bukan merupakan pengaturan penyajian laporan untuk kepentingan pemerintah tersebut. Penyajian informasi khusus ini diatur dalam pedoman akuntansi tersendiri yang mengacu pada pernyataan ini. 16 Bermacam-macam jenis koperasi, misalnya Koperasi Konsumen, dan Koperasi Produsen, Koperasi Simpan Pinjam dan Koperasi Pemasaran dalam penyajian laporan keuangannya dapat menampakkan kekhususan masing-masing, dan untuk itu dapat diatur dalam pedoman akuntansi tersendiri dengan mengacu pada Pernyataan ini. Definisi Berikut ini adalah pengertian istilah yang digunakan dalam pernyataan ini.

Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang17 seorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Anggota Koperasi adalah pemilik dan sekaligus pengguna 18 jasa koperasi, dan telah membayar penuh simpanan pokok yang ditetapkan.

27.4

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

19 Koperasi Konsumen adalah koperasi yang anggotanya para konsumen akhir atau pemakai barang atau jasa, dan kegiatan atau jasa utama melakukan pembelian bersama. Contoh Koperasi Konsumen adalah koperasi yang kegiatan utamanya mengelola warung serba ada atau supermarket.

Koperasi Produsen adalah koperasi yang anggotanya tidak 20 memiliki rumah tangga usaha atau perusahaan sendiri-sendiri tetapi bekerja sama dalam wadah koperasi untuk menghasilkan dan memasarkan barang atau jasa, dan kegiatan utamanya menyediakan, mengoperasikan, atau mengelola sarana produksi bersama. Contoh Koperasi Produsen adalah Koperasi Jasa Konsultasi. Koperasi Simpan Pinjam adalah koperasi yang kegiatan 21 atau jasa utamanya menyediakan jasa penyimpanan dan peminjaman untuk anggotanya. Koperasi Pemasaran adalah koperasi yang anggotanya 22 para produsen atau pemilik barang atau penyedia jasa dan kegiatan atau jasa utamanya melakukan pemasaran bersama. Simpanan Pokok adalah sejumlah uang yang sama 23 banyaknya dan atau sama nilainya yang wajib dibayarkan oleh anggota kepada koperasi pada saat masuk menjadi anggota. Simpanan pokok tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan menjadi anggota. Simpanan Wajib adalah sejumlah simpanan tertentu yang 24 tidak harus sama yang wajib dibayar oleh anggota kepada koperasi dalam waktu dan kesempatan tertentu. Simpanan wajib tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan menjadi anggota. Modal Anggota adalah simpanan pokok dan simpanan 25 wajib yang harus dibayar anggota kepada koperasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada koperasi. Tiap anggota memiliki hak suara yang sama, tidak tergantung pada besarnya modal anggota pada koperasi. Modal Sumbangan adalah sejumlah uang atau barang 26 modal yang dapat dinilai dengan uang yang diterima dari pihak lain yang bersifat hibah dan tidak mengikat. Modal sumbangan tidak dapat dibagikan

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

27.5

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

kepada anggota selama koperasi belum dibubarkan. 27 Modal Penyertaan adalah sejumlah uang atau barang modal yang dapat dinilai dengan uang yang ditanamkan oleh pemodal untuk menambah dan memperkuat struktur permodalan dalam meningkatkan usaha koperasi.

Cadangan adalah bagian dari sisa hasil usaha yang disisih28 kan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar atau ketetapan rapat anggota. Partisipasi Bruto adalah kontribusi anggota kepada 29 koperasi sebagai imbalan penyerahan barang dan jasa kepada anggota, yang mencakup harga pokok dan partisipasi neto. Partisipasi Neto adalah kontribusi anggota terhadap hasil 30 usaha koperasi yang merupakan selisih antara partisipasi bruto dengan beban pokok. Pendapatan dari non-anggota adalah penjualan barang/ 31 jasa kepada non-anggota.
32 Beban Perkoperasian adalah beban sehubungan dengan gerakan perkoperasian dan tidak berhubungan dengan kegiatan usaha. 33 Sisa Hasil Usaha (SHU) adalah gabungan dari hasil partisipasi neto dan laba atau rugi kotor dengan non-anggota, ditambah atau dikurangi dengan pendapatan dan beban lain serta beban perkoperasian dan pajak penghasilan badan koperasi.

Promosi Ekonomi Anggota adalah peningkatan pelayan34 an koperasi kepada anggotanya dalam bentuk manfaat ekonomi yang diperoleh sebagai anggota koperasi. Unit Usaha Otonom adalah bagian organisasi yang mandiri 35 berkegiatan dan beranggota khusus dalam sebuah koperasi, sehingga unit usaha otonom tersebut setara dengan sebuah entitas akuntansi. Contoh: sebuah KUD memiliki unit usaha otonom simpan pinjam, unit usaha otonom konsumen dan unit usaha otonom distribusi.

27.6

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

PENJELASAN E K U I TA S 36 Ekuitas koperasi terdiri dari modal anggota berbentuk simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan lain yang memiliki karakteristik yang sama dengan simpanan pokok atau simpanan wajib, modal penyertaan, modal sumbangan, cadangan dan sisa hasil usaha belum dibagi. Modal Anggota

37 Simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan lain yang memiliki karakteristik yang sama dengan simpanan pokok atau simpanan wajib diakui sebagai ekuitas koperasi dan dicatat sebesar nilai nominalnya.
38 Secara formal, anggota dapat diakui sebagai anggota koperasi jika ia telah menyetor uang sejumlah tertentu sebagai simpanan pokok pada saat pertama menjadi anggota. Di samping itu ia juga harus menyetor uang sejumlah tertentu secara berkala sebagai simpanan wajib. 39 Simpanan pokok adalah sejumlah uang yang sama banyaknya yang wajib dibayarkan oleh anggota kepada koperasi pada saat menjadi anggota. Simpanan wajib adalah jumlah simpanan tertentu yang yang tidak harus sama yang wajib dibayar oleh anggota kepada koperasi dalam waktu dan kesempatan tertentu. 40 Simpanan pokok dan simpanan wajib berfungsi sebagai penutup risiko dan karena itu tidak dapat diambil selama yang bersangkutan masih menjadi anggota. Simpanan wajib yang terkait dengan pinjaman anggota dan jenis simpanan wajib lain yang dalam prakteknya justru dapat diambil setelah pinjaman yang bersangkutan lunas atau pada waktu-waktu tertentu, tidak dapat diakui sebagai ekuitas. 41 Walaupun simpanan pokok dan simpanan wajib dapat diambil kembali jika yang bersangkutan keluar dari anggota koperasi, namun diasumsikan bahwa anggota koperasi akan tetap menjadi anggota dalam waktu yang tidak terbatas. Dengan demikian simpanan pokok dan simpanan wajib tersebut bersifat permanen.

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

27.7

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

42 Simpanan pokok dan simpanan wajib yang belum diterima disajikan sebagai piutang simpanan pokok dan simpanan wajib.
43 Pembayaran simpanan pokok dan simpanan wajib dapat dilakukan dengan cara angsuran yang jumlah dan lamanya ditetapkan dalam anggaran dasar atau ketentuan lain. Penyajian nilai simpanan pokok dan simpanan wajib di neraca adalah dengan menyajikan nilai nominal simpanan pokok dan simpanan wajib. Jumlah simpanan pokok dan simpanan wajib yang belum diterima dari anggota disajikan sebagai piutang simpanan pokok dan simpanan wajib.

44 Kelebihan setoran simpanan pokok dan simpanan wajib anggota baru di atas nilai nominal simpanan pokok dan simpanan wajib anggota pendiri diakui sebagai Modal Penyetaraan Partisipasi Anggota.
45 Rapat anggota dapat menetapkan jumlah setoran simpanan pokok dan simpanan wajib bagi anggota baru yang masuk kemudian yang jumlahnya setara dengan jumlah simpanan pokok dan simpanan wajib anggota pendiri. Jika terdapat kelebihan nilai setoran simpanan tersebut di atas nilai nominal simpanan pokok dan simpanan wajib anggota pendiri, maka kelebihan tersebut diakui sebagai modal penyetaraan partisipasi anggota. Modal ini bukan milik anggota penyetor, karena itu tidak dapat diambil kembali pada saat anggota keluar dari keanggotaan koperasi. 46 Apabila koperasi juga menetapkan simpanan lain selain simpanan pokok dan simpanan wajib sebagai ekuitas, maka bila terdapat penyetoran lebih dari nilai nominal simpanan oleh anggota baru, maka kelebihan tersebut juga diakui sebagai modal penyetaraan partisipasi anggota. Modal Penyertaan

47 Modal penyertaan diakui sebagai ekuitas dan dicatat sebesar jumlah nominal setoran. Dalam hal modal penyertaan yang diterima selain uang tunai, maka modal penyertaan tersebut dinilai sebesar harga pasar yang berlaku pada saat diterima.
48 Modal penyertaan ikut menutup risiko kerugian dan memiliki

27.8

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

sifat relatif permanen, dan imbalan atas pemodal didasarkan atas hasil usaha yang diperoleh. Oleh karena itu modal pernyertaan tersebut diakui sebagai ekuitas. 49 Modal penyertaan dicatat dengan nilai nominal, dan dalam hal modal penyertaan diterima dalam bentuk selain uang tunai, maka modal penyertaan tersebut dicatat sebesar nilai pasar yang berlaku pada saat diterima. Apabila nilai pasar tidak tersedia dapat digunakan nilai taksiran. Penjelasan yang cukup harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan atas penilaian yang dilakukan.

50 Ketentuan mengenai perjanjian dengan pemodal yang menyangkut pembagian keuntungan atau hasil usaha, tanggungan kerugian, jangka waktu dan hak-hak pemodal harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan.
Modal Sumbangan

51 Modal sumbangan yang diterima oleh koperasi yang dapat menutup risiko kerugian diakui sebagai ekuitas, sedangkan modal sumbangan yang substansinya merupakan pinjaman diakui sebagai kewajiban jangka panjang dan dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan.
52 Oleh karena koperasi mengemban misi nasional untuk menggerakkan ekonomi rakyat dan menjadi soko guru perekonomian nasional, maka dimungkinkan koperasi memperoleh sumbangan dari pemerintah dan pihak lain. Sumbangan tersebut dapat diakui sebagai ekuitas jika ia dapat menanggung risiko atas kerugian. 53 Kadangkala sumbangan diterima oleh koperasi dengan persyaratan tertentu yang mengikat, sehingga hakekat sumbangan tersebut adalah pinjaman. Sumbangan ini tidak dapat diakui sebagai ekuitas, tetapi harus diakui sebagai kewajiban lain-lain jangka panjang dan dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan. Cadangan

54

Cadangan dan tujuan penggunaannya dijelaskan dalam

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

27.9

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

catatan atas laporan keuangan.


55 Pembentukan cadangan dapat ditujukan antara lain untuk pengembangan usaha koperasi, menutup risiko kerugian, dan pembagian kepada anggota yang keluar dari keanggotaan koperasi. Cadangan yang dibentuk dari sisa hasil usaha dicatat dalam akun Cadangan. Tujuan penggunaan cadangan tersebut harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan.

56 Pembayaran tambahan kepada anggota yang keluar dari keanggotaan koperasi di atas jumlah simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan lain-lain dibebankan pada cadangan.
57 Cadangan yang dibentuk dari sisa hasil usaha yang diperoleh setiap tahun buku yang dimaksudkan untuk pemupukan modal untuk pengembangan usaha dan untuk menutup risiko kerugian merupakan bagian dari ekuitas. Sebagai bagian dari ekuitas, cadangan berpengaruh terhadap total nilai kekayaan bersih koperasi yang mencerminkan nilai pemilikan anggota dalam koperasi. Oleh karena itu anggota yang keluar dalam tahun berjalan, selain menerima pengembalian simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan lain sebesar nilai nominalnya, koperasi dapat menetapkan pembayaran tambahan dalam jumlah yang proporsional dengan nilai kekayaan bersih koperasi atau jumlah tertentu yang ditetapkan rapat anggota. Pembayaran tambahan tersebut dibebankan pada cadangan koperasi. Sisa Hasil Usaha

58 Sisa hasil usaha tahun berjalan dibagi sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada koperasi. Dalam hal jenis dan jumlah pembagian sisa hasil telah diatur secara jelas maka bagian yang tidak menjadi hak koperasi diakui sebagai kewajiban. Apabila jenis dan jumlah pembagiannya belum diatur secara jelas, maka sisa hasil usaha tersebut dicatat sebagai sisa hasil usaha belum dibagi dan harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan.
59 Suatu kebiasaan dalam koperasi, bahwa sisa hasil usaha yang diperoleh dalam tahun berjalan dibagi sesuai dengan ketentuan anggaran dasar atau anggaran rumah tangga. Keharusan pembagian sisa

27.10

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

hasil usaha tersebut juga dinyatakan dalam undang-undang perkoperasian. Penggunaan sisa hasil usaha yang dibagikan tersebut diantaranya adalah untuk anggota, dana pendidikan dan untuk koperasi sendiri. Jumlah yang merupakan hak Koperasi diakui sebagai cadangan. 60 Pembagian sisa usaha tersebut harus dilakukan pada akhir periode pembukuan. Jumlah yang dialokasikan selain untuk koperasi diakui sebagai kewajiban. Dalam hal pembagian tidak dapat dilakukan karena jenis dan jumlah pembagiannya belum diatur secara jelas dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga, tetapi harus menunggu rapat anggota, maka sisa hasil usaha tersebut dicacat sebagai sisa hasil usaha belum dibagi dan harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan. K E WA J I BA N

61 Simpanan anggota yang tidak berkarakteristik sebagai ekuitas diakui sebagai kewajiban jangka pendek atau jangka panjang sesuai dengan tanggal jatuh temponya dan dicatat sebesar nilai nominalnya.
62 Simpanan anggota yang berkarakteristik sebagai ekuitas adalah sejumlah tertentu dalam nilai uang yang diserahkan oleh anggota pada koperasi atas kehendak sendiri sebagai simpanan dan dapat diambil sewaktu-waktu sesuai perjanjian. Simpanan ini tidak menanggung risiko kerugian dan sifatnya sementara karenanya diakui sebagai kewajiban. A K T I VA

63 Aktiva yang diperoleh dari sumbangan yang terikat penggunaannya dan tidak dapat dijual untuk menutup kerugian koperasi diakui sebagai aktiva lain-lain. Sifat keterikatan penggunaan tersebut dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan.
64 Sebagai penggerak ekonomi rakyat dan sebagai soko guru perekonomian nasional, koperasi sering mendapat dukungan dari berbagai pihak dalam bentuk bantuan atau sumbangan barang modal untuk menjalankan usahanya. Barang modal tersebut dapat diakui sebagai aktiva tetap milik koperasi walaupun aktiva tetap tersebut tidak dapat dijual untuk menutup risiko kerugian. Dalam hal aktiva tetap tersebut tidak dapat menu-

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

27.11

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

tup risiko kerugian sebagaimana disyaratkan oleh penyumbangnya atau ditetapkan dalam perjanjian (akta penerimaan) sumbangan, maka aktiva tetap tersebut dikelompokkan dalam aktiva lain-lain. Sifat pembatasan aktiva tetap dijelaskan dalam catatan laporan keuangan.

65 Aktiva-aktiva yang dikelola oleh koperasi, tetapi bukan milik koperasi, tidak diakui sebagai aktiva dan harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan.
66 Rapat anggota koperasi dapat menetapkan pengumpulan dana tertentu dari anggota yang digunakan untuk tujuan khusus sesuai kepentingan anggota. Dana tersebut merupakan milik anggota yang pengelolaannya dikuasakan kepada koperasi, misalnya dana pemeliharaan jalan dan peremajaan kebun pada koperasi perkebunan kelapa sawit. Dana tersebut tidak diakui sebagai aktiva koperasi. Namun sebagai pengelola koperasi harus membuat pertanggung-jawaban tersendiri dan keberadaan dana tersebut harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan. PENDAPATAN Transaksi DAN BEBAN Dengan Anggota

Usaha

Koperasi

67 Pendapatan koperasi yang timbul dari transaksi dengan anggota diakui sebesar partisipasi bruto.
68 Partisipasi bruto pada dasarnya adalah penjualan barang/ jasa kepada anggota. Dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa untuk anggota, partisipasi bruto dihitung dari harga pelayanan yang diterima atau dibayar oleh anggota yang mencakup beban pokok dan partisipasi neto. Dalam kegiatan pemasaran hasil produksi anggota, partisipasi bruto dihitung dari beban jual hasil produksi anggota baik kepada non-anggota maupun kepada anggota.

Pendapatan koperasi yang berasal dari transaksi de69 ngan non-anggota diakui sebagai pendapatan (penjualan) dan dilaporkan terpisah dari partisipasi anggota dalam laporan perhitungan hasil usaha sebesar nilai transaksi. Selisih antara pendapatan dan beban pokok transaksi dengan non-anggota diakui sebagai laba atau rugi kotor dengan non-anggota.

27.12

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

70 Dalam hal koperasi memiliki kelebihan kapasitas setelah pelayanan kepada anggota, koperasi dapat memanfaatkan kelebihan kapasitas tersebut kepada non-anggota. Dalam hal ini, berarti koperasi memasuki pasar bebas dan kedudukan koperasi adalah sama seperti badan usaha lain. Koperasi boleh menggunakan motivasi mencari laba sebesar-besarnya sejauh pelanggan adalah pasar bebas. 71 Oleh karena laporan keuangan koperasi harus dapat mencerminkan tujuan koperasi, maka perhitungan hasil usaha harus menonjolkan secara jelas kegiatan usaha koperasi dengan anggotanya, karena itu pendapatan dari anggota disajikan terpisah dari pendapatan yang berasal dari transaksi non-anggota. Penyajian ini lebih mencerminkan bahwa usaha koperasi lebih mementingkan transaksi atau pelayanan kepada anggotanya daripada non-anggota.

Beban usaha dan beban-beban perkoperasian harus 72 disajikan terpisah dalam laporan perhitungan hasil usaha.
73 Dalam meningkatkan kesejahteraan anggota, koperasi tidak hanya berfungsi menjalankan usaha-usaha bisnis yang memberikan manfaatkan atau keuntungan ekonomi kepada anggota, tetapi juga harus menjalankan fungsi lain untuk meningkatkan kemampuan sumber daya anggota, baik secara khusus maupun sumber daya koperasi secara nasional. Kegiatan ini tidak dilakukan oleh badan usaha lain. Beban-beban yang dikeluarkan untuk kegiatan ini disebut dengan beban perkoperasian. Termasuk dalam beban ini antara lain adalah beban pelatihan anggota, beban pengembangan usaha anggota, dan beban iuran untuk gerakan koperasi (Dewan Koperasi Indonesia). LAPORAN KEUANGAN KOPERASI

74 Laporan keuangan koperasi meliputi Neraca, Perhitungan Hasil Usaha, Laporan Arus Kas, Laporan Promosi Ekonomi Anggota, dan Catatan atas Laporan Keuangan.
Neraca 75 Neraca menyajikan informasi mengenai aktiva, kewajiban, dan ekuitas koperasi pada waktu tertentu.

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

27.13

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

Perhitungan

Hasil

Usaha

(PHU)

76 Perhitungan hasil usaha harus memuat hasil usaha dengan anggota dan laba atau rugi kotor dengan non-anggota. 77 Perhitungan hasil usaha menyajikan informasi mengenai pendapatan dan beban-beban usaha dan beban perkoperasian selama periode tertentu. Perhitungan hasil usaha menyajikan hasil akhir yang disebut sisa hasil usaha. Sisa hasil usaha yang diperoleh mencakup hasil usaha dengan anggota dan laba atau rugi kotor dengan non-anggota. Istilah perhitungan hasil usaha digunakan mengingat manfaat dari usaha koperasi tidak semata-mata diukur dari sisa hasil usaha atau laba tetapi lebih ditentukan pada manfaat bagi anggota. Laporan Arus Kas 78 Laporan arus kas menyajikan informasi mengenai perubahan kas yang meliputi saldo awal kas, sumber penerimaan kas, pengeluaran kas dan saldo akhir kas pada periode tertentu. Laporan Promosi Ekonomi Anggota

79 Dalam hal sisa hasil usaha tahun berjalan belum dibagi, maka manfaat ekonomi yang diperoleh anggota dari pembagian sisa hasil usaha pada akhir tahun buku dapat dicatat sebesar taksiran jumlah sisa hasil usaha yang akan dibagi untuk anggota.
80 Laporan promosi ekonomi anggota adalah laporan yang memperlihatkan manfaat ekonomi yang diperoleh anggota koperasi selama satu tahun tertentu. Laporan tersebut mencakup empat unsur, yaitu: a. Manfaat ekonomi dari pembelian barang atau pengadaan jasa bersama. b. Manfaat ekonomi dari pemasaran dan pengolahan bersama. c. Manfaat ekonomi dari simpan pinjam lewat koperasi. d. Manfaat ekonomi dalam bentuk pembagian sisa hasil usaha. 81 Manfaat tersebut mencakup manfaat yang diperoleh selama tahun berjalan dari transaksi pelayanan yang dilakukan koperasi untuk anggota dan manfaat yang diperoleh pada akhir tahun buku dari pembagian

27.14

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

sisa hasil usaha tahun berjalan. Laporan promosi ekonomi anggota ini disesuaikan dengan jenis koperasi dan usaha yang dijalankannya. 82 Sisa hasil usaha tahun berjalan harus dibagi sesuai dengan ketentuan anggaran dan anggaran rumah tangga koperasi. Bagian sisa hasil usaha untuk anggota merupakan manfaat ekonomi yang diterima anggota pada akhir tahun buku. Dalam hal pembagian sisa hasil usaha tahun berjalan belum dibagi karena tidak diatur secara tegas pembagiannya dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga dan harus menunggu keputusan rapat anggota, maka manfaat ekonomi yang diterima dari pembagian sisa hasil usaha dapat dicatat atas dasar taksiran jumlah bagian sisa hasil usaha yang akan diterima oleh anggota. Catatan atas Laporan Keuangan

83 Catatan atas laporan keuangan menyajikan pengungkapan (disclosures) yang memuat: a. Perlakuan akuntansi antara lain mengenai: 1) Pengakuan pendapatan dan beban sehubungan dengan transaksi koperasi dengan anggota dan non-anggota 2) Kebijakan akuntansi tentang aktiva tetap, penilaian persediaan, piutang dan sebagainya. 3) Dasar penetapan harga pelayanan kepada anggota dan nonanggota Pengungkapan informasi lain antara lain: 1) Kegiatan atau pelayanan utama koperasi kepada anggota baik yang tercantum dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga maupun dalam praktek, atau yang telah dicapai oleh koperasi. 2) Aktivitas koperasi dalam pengembangan sumber daya dan mempromosikan usaha ekonomi anggota, pendidikan dan pelatihan perkoperasian, usaha, manajemen yang diselenggarakan untuk anggota dan penciptaan lapangan usaha baru untuk anggota. 3) Ikatan atau kewajiban bersyarat yang timbul dan transaksi koperasi dengan anggota dan non-anggota. 4) Pengklasifikasian piutang dan hutang yang timbul dari

b.

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

27.15

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

5) 6) 7) 8) 9) 10)

transaksi koperasi dengan anggota dan non-anggota. Pembatasan penggunaan dan risiko atas aktiva tetap yang diperoleh atas dasar hibah atau sumbangan. Aktiva yang dioperasikan oleh koperasi tetapi bukan milik koperasi. Aktiva yang diperoleh secara hibah dalam bentuk pengalihan saham dari perusahaan swasta. Pembagian sisa hasil usaha dan penggunaan cadangan. Hak dan tanggungan pemodal modal penyertaan. Penyelenggaraan rapat anggota, dan keputusan-keputusan penting yang berpengaruh terhadap perlakuan akuntansi dan penyajian laporan keuangan. BERLAKU EFEKTIF

TANGGAL

84 Pernyataan ini mulai berlaku efektif untuk laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1999.

27.16

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

LAMPIRAN Lampiran ini hanya ilustrasi dan bukan bagian dari Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan ini. Tujuan lampiran ini adalah mengilustrasikan penerapan Pernyataan ini dalam rangka membantu memahami artinya. Urutan penyajian dan deskripsi, bila perlu, dapat diubah sesuai dengan kondisi masing-masing koperasi agar tercapai penyajian laporan keuangan secara wajar.

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

27.17

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

KOPERASI PEMBANGUNAN RAKYAT NERACA 31 Desember 19X1 dan 19X0 AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan Bank Investasi Jangka Pendek Piutang Usaha Piutang Pinjaman Anggota Piutang Pinjaman NonAnggota Piutang Lain-lain Peny. Piutang Tak Tertagih Persediaan Pendapatan Akan Diterima Jumlah Aktiva Lancar 19X1 Rp xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx (xxxxx) xxxxx xxxxx Rp xxxxx 19X0 Rp xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx (xxxxx) xxxxx xxxxx Rp xxxxx KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Hutang Bank Rp xxxxx Hutang Jangka Panjang lainnya xxxxx Jumlah Kewajiban Jangka Panjang Rp xxxxx EKUITAS Simpanan Wajib Simpanan Pokok Modal Penyetaraan Partisipasi Anggota Modal Penyertaan Modal Sumbangan Cadangan SHU Belum Dibagi Jumlah Ekuitas KEWAJIBAN DAN EKUITAS KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Hutang Usaha Hutang Bank Hutang Pajak Hutang Simpanan Anggota Hutang Dana Bagian SHU Hutang Jangka Panjang Akan Jatuh Tempo Biaya Harus Dibayar Jml. Kwj. Jangka Pendek 19X1 Rp xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx Rp xxxxx 19X0 Rp xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx Rp xxxxx

INVESTASI JANGKA PANJANG Penyertaan Pada Koperasi Rp xxxxx Penyertaan Pada Non- Kop. xxxxx Jumlah Investasi Jangka Panjang Rp xxxxx AKTIVA TETAP Tanah/Hak atas Tanah Bangunan Mesin Iventaris Akumulasi Penyusutan Jumlah Aktiva Tetap AKTIVA LAIN-LAIN Ak. Tetap Dalam Konstruksi Beban Ditangguhkan Jumlah Aktiva Lain-lain JUMLAH AKTIVA

Rp xxxxx xxxxx Rp xxxxx

Rp xxxxx xxxxx Rp xxxxx

Rp xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx (xxxxx) Rp xxxxx

Rp xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx (xxxxx) Rp xxxxx

Rp xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx Rp xxxxx

Rp xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx Rp xxxxx

Rp xxxxx xxxxx Rp xxxxx Rp xxxxx

Rp xxxxx xxxxx Rp xxxxx Rp xxxxx

JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS

Rp xxxxx

Rp xxxxx

27.18

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

KOPERASI PEMBANGUNAN RAKYAT PERHITUNGAN HASIL USAHA Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 19X1 dan 19X0

PARTISIPASI ANGGOTA Partisipasi Bruto Anggota Beban Pokok Partisipasi Neto Anggota PENDAPATAN DARI NON-ANGGOTA Penjualan Harga Pokok Laba(Rugi) Kotor Dengan Non-Anggota Sisa Hasil Usaha Kotor BEBAN OPERASI: Beban Usaha Sisa Hasil Usaha Koperasi Beban Perkoperasian Sisa Hasil Usaha Setelah Beban Perkoperasian Pendapatan dan Beban Lain-lain Sisa Hasil Usaha Sebelum Pos-pos Luar Biasa Pendapatan Dan Beban Luar Biasa Sisa Hasil Usaha Sebelum Pajak Pajak Penghasilan Sisa Hasil Usaha Setelah Pajak

19X1 Rp xxxxxx (xxxxxx) Rp xxxxxx

19X0 Rp xxxxxx (xxxxxx) Rp xxxxxx

Rp Rp Rp

xxxxxx (xxxxxx) xxxxxx xxxxxx

Rp Rp Rp

xxxxxx (xxxxxx) xxxxxx xxxxxx

(xxxxxx) Rp Rp Rp Rp Rp xxxxxx (xxxxxx) xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx (xxxxxx) xxxxxx Rp Rp Rp Rp Rp

(xxxxxx) xxxxxx (xxxxxx) xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx (xxxxxx) xxxxxx

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

27.19

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

KOPERASI PEMBANGUNAN RAKYAT LAPORAN PROMOSI EKONOMI ANGGOTA Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 19X1 dan 19X0 (Koperasi Konsumen) 19X1 PROMOSI EKONOMI SELAMA TAHUN BERJALAN MANFAAT EKONOMI DARI PEMASARAN PRODUK ANGGOTA: - Pemasaran Produk Anggota Atas Dasar Harga Koperasi - Pemasaran Produk Anggota Atas Dasar Harga Pasar Jumlah Promosi Ekonomi dari Transaksi Pemasaran Produk Anggota 19X0

Rp xxxxxx (xxxxxx) Rp xxxxxx

Rp xxxxxx (xxxxxx) Rp xxxxxx

MANFAAT EKONOMI DARI PENGADAAN BARANG UNTUK ANGGOTA: - Pengadaan Barang Atas Dasar Harga Pasar Rp xxxxxx - Pengadaan Barang Atas Dasar Harga Koperasi (xxxxxx) Jumlah Promosi Ekonomi dari Transaksi Pengadaan Barang Untuk Anggota Rp xxxxxx MANFAAT EKONOMI DARI SIMPAN PINJAM LEWAT KOPERASI: - Penghematan Beban Pinjaman Anggota - Kelebihan Balas Jasa Simpanan Anggota Jumlah Promosi Ekonomi Dari Transaksi Penyediaan Jasa Untuk Anggota Jumlah Promosi Ekonomi Anggota Selama Tahun Berjalan PROMOSI EKONOMI PADA AKHIR TAHUN Pembagian Sisa Hasil Usaha Tahun Berjalan Untuk Anggota Jumlah Promosi Ekonomi Anggota

Rp xxxxxx (xxxxxx) Rp xxxxxx

Rp xxxxxx (xxxxxx) Rp xxxxxx

Rp xxxxxx (xxxxxx) Rp xxxxxx

Rp xxxxxx

Rp xxxxxx

Rp xxxxxx Rp xxxxxx

Rp xxxxxx Rp xxxxxx

27.20

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

A KUNTANSI P ERKOPERASIAN

PSAK N O . 27 (R EVISI 1998)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

KOPERASI PEMBANGUNAN RAKYAT LAPORAN PROMOSI EKONOMI ANGGOTA Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 19X1 dan 19X0 (Koperasi Produsen) 19X1 PROMOSI EKONOMI SELAMA TAHUN BERJALAN MANFAAT EKONOMI DARI PEMASARAN PRODUK ANGGOTA: - Pemasaran Produk Anggota Atas Dasar Harga Pasar - Pemasaran Produk Anggota Atas Dasar Harga Koperasi Jumlah Promosi Ekonomi Dari Transaksi Pemasaran Produk Anggota 19X0

Rp xxxxxx (xxxxxx) Rp xxxxxx

Rp xxxxxx (xxxxxx) Rp xxxxxx

MANFAAT EKONOMI DARI PENGADAAN BARANG UNTUK ANGGOTA: - Pengadaan Barang Atas Dasar Harga Pasar Rp xxxxxx - Pengadaan Barang Atas Dasar Harga Koperasi (xxxxxx) Jumlah Promosi Ekonomi Dari Transaksi Pengadaan Barang Untuk Anggota Rp xxxxxx MANFAAT EKONOMI DARI PENYEDIAAN JASA UNTUK ANGGOTA: - Penyediaan Jasa Atas Dasar Harga Pasar - Penyediaan Jasa Atas Dasar Harga Koperasi Jumlah Promosi Ekonomi dari Transaksi Penyediaan Jasa Untuk Anggota Jumlah Promosi Ekonomi Anggota Selama Tahun Berjalan PROMOSI EKONOMI PADA AKHIR TAHUN Pembagian Sisa Hasil Usaha Tahun Berjalan Untuk Anggota Jumlah Promosi Ekonomi Anggota

Rp xxxxxx (xxxxxx) Rp xxxxxx

Rp xxxxxx (xxxxxx) Rp xxxxxx

Rp xxxxxx (xxxxxx) Rp xxxxxx

Rp xxxxxx

Rp xxxxxx

Rp xxxxxx Rp xxxxxx

Rp xxxxxx Rp xxxxxx

Hak Cipta 1998 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Dilarang memfoto-kopi atau memperbanyak

27.21

PSAK no 28

Page 1 of 25

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 28 AKUNTANSI ASURANSI KERUGIAN

Dalam rangka pengembangan Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) menjadi Standar Akuntansi Keuangan (SAK), maka Pernyataan Prinsip Akuntansi Indonesia No. 4 tentang Standar Khusus Akuntansi untuk Asuransi Kerugian telah disesuaikan seperlunya, sehingga menjadi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 30 tentang Akuntansi Asuransi Kerugian, yang telah disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1 994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items). Jakarta, 7 September 1994 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia Hans Kartikahadi Jusuf Halim Hein G. Surjaatmadja Katjep K. Abdoelkadir Wahjudi Prakarsa Jan Hoesada M. Ashadi Mirza Mochtar IPG. Ary Suta Sobo Sitorus Timoty Marnandus Mirawati Soedjono Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

DAFTAR ISI

SAMBUTAN KETUA IKATAN AKUNTAN INDONESIA Standar Khusus Akuntansi untuk Asuransi Kerugian merupakan standar akuntansi kedua yang khusus mengatur jenis badan usaha tertentu setelah dikeluarkannya Standar Khusus Akuntansi untuk Koperasi. Standar Khusus ini disusun atas dasar kerja sama antara Ikatan Akuntan Indonesia dan PT. Asuransi Jasa Indonesia. Standar ini diharapkan dapat turut menunjang

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28
pertumbuhan industri asuransi secara keseluruhan.

Page 2 of 25

Pada kesempatan ini kami juga menyampaikan penghargaan kepada Tim Penyusun Standar Khusus Akuntansi untuk Asuransi Kerugian dan Komite Prinsip Akuntansi Indonesia yang telah berjerihpayah menyusun Standar ini. Akhirnya, kepada PT Asuransi Jasa Indonesia, kami menghaturkan terima kasih atas kerja sama yang telah dijalin. Kiranya kerja sama seperti ini akan dapat terus berlanjut untuk pengembangan akuntansi dan industri asuransi di Indonesia. Jakarta, 18 Agustus 1990 Ikatan Akuntan Indonesia Subekti Ismaun Ketua

SAMBUTAN DIREKTUR UTAMA PT ASURANSI JASA INDONESIA Asuransi sebagai suatu sistem proteksi atas risiko yang dihadapi masyarakat dari kerugian yang bersifat finansial, membutuhkan profesionalisme dari perusahaan asuransi yang mengelolanya. Yaitu dengan menjaga kondisi keuangannya sedemikian rupa sehingga dapat memberikan kepercayaan yang tinggi kepada masyarakat. Keadaan keuangan tersebut hanya dapat diketahui dari ikhtisar/ laporan keuangan yang didasarkan pada suatu prinsip akuntansi serta standar akuntansi asuransi yang berlaku umum. Peranan asuransi dalam pembangunan nasional tidak hanya dapat dilihat dari jumlah dana yang dapat di"himpun" dari masyarakat, tetapi juga dari banyaknya pembayaran klaim yang dilakukan oleh perusahaan asuransi. Antara lain seperti penggantian kerugian Satelit Palapa B -2, Kapal Tampomas, Pesawat Terbang Garuda, Pabrik Pupuk Kaltim dan sebagainya. Untuk dapat mengelola risiko-risiko besar dengan baik, industri asuransi harus memperlihatkan kemampuan keuangan yang baik dan wajar. Industri Asuransi Indonesia dalam tahun 1983 sampai dengan 1985 mengalami kesulitan karena antara lain: - Menderita kerugian yang cukup besar karena hasil underwriting tidak memadai bahkan minus. - Stabilitas keuangan perusahaan asuransi tidak terjamin. - Di dalam pasar reasuransi internasional tidak mempunyai reputasi yang cukup baik. Untuk meningkatkan reputasi industri asuransi Indonesia, diperlukan: - Peningkatan mutu produk dan pasar - Adanya accounting standard yang berlaku di dalam industri asuransi .

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 3 of 25

Perusahaan asuransi di Indonesia relatif mengalami kelambatan dalam perkembangan permodalan. Hal ini disebabkan berbagai keadaan yang belum memadai untuk memungkinkan pengembangan permodalan tersebut. Dengan adanya suatu Accounting Standard maka perhitungan hasil usaha menjadi lebih jelas, sehingga Neraca secara fiskal mendapkan manfaat dan perusahaan asuransi dapat berkembang secara sehat serta sempurna. Secara umum dapat dikatakan bahwa adanya suatu accounting standard akan memberikan value added bagi industri asuransi dan masyarakat yang akan memberikan dampak positip terhadap pembangunan nasional. Menyadari hal-hal tersebut, PT. Asuransi Jasa Indonesia telah berpartisipasi menyusun suatu standar akuntansi asuransi kerugian bersama -sama dengan suatu Tim Penyusun dan penyempurnaan yang mendapat pengarahan dari Komite Prinsip Akuntansi Indonesia. Diharapkan Standar Akuntansi Asuransi Kerugian tersebut yang telah disusun dalam bentuk buku dapat merupakan kontribusi PT Asuransi Jasa Indonesia terhadap perkembangan akuntansi dan industri asuransi di Indonesia. Jakarta, Agustus 1990 PT ASURANSI JASA INDONESIA Drs. Iwa Sewaka Direktur Utama

KATA PENGANTAR Disadari bahwa peranan asuransi dalam masyarakat Indonesia dewasa ini semakin besar. Hal ini terlihat antara lain dari pertumbuhan industri asuransi yang sangat pesat dari tahun ke tahun. Melihat pada kenyataan tersebut dan mengingat fungsi perusahaan asuransi adalah memberikan perlindungan atas resiko yang dihadapi masyarakat dari kerugian yang bersifat finansial, maka kebutuhan akan adanya suatu standar khusus akuntansi bagi perusahaan asuransi dirasakan semakin diperlukan, agar perusahaan asuransi dapat secara mantap menyajikan laporan keuangan. Sebagaimana diketahui bahwa laporan keuangan diperlukan selain sebagai alat pertanggungjawaban juga sebagai sumber informasi untuk bahan pengambilan keputusan berbagai pihak yang berkepentingan dalam perusahaan asuransi. Prinsip Akuntansi Indonesia 1984 yang berlaku saat ini belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan industri. Menyadari hal tersebut pada tahun 1987 yang lalu telah terbentuk suatu tim yang disponsori oleh PT. Asuransi Jasa Indonesia dengan tugas menyusun konsep Standar Akuntansi Asuransi Kerugian. Tim penyusun terdiri dari: Ketua: Drs. Hadori Junus

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 4 of 25

Anggota: Drs. Amiruddin Riayat Drs. Amir Abadi Jusuf, M. Acc. Drs. Bambang Heryanto Drs. Brata Antakusuma Drs. Cut Saskia Amitra Sekretaris: Drs. Sutarman, MBA Konsep Standar Akuntansi Asuransi Kerugian yang telah disusun oleh Tim kemudian diserahkan secara resmi kepada Pengurus Pusat IAI untuk diproses lebih lanjut. Setelah diadakan rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia dengan Tim Penyusun dibentuk Tim Penyempurnaan Konsep Standar Khusus Akuntansi Asuransi Kerugian yang terdiri dari Ketua Komite Prinsip Akuntansi Indonesia sebagai pengarah, Tim Penyusun dan bebarapa anggota baru, yang terdiri dari: Ketua : Drs. Hadori Junus Wakil Ketua : Drs. Amiruddin Riayat Sekretaris : Drs. Nenden Soekanto Wakil Sekretaris: Dra. Cut Saskia Amitra Anggota : Drs. Amir Abadi Jusuf, M. Acc. Drs. Bambang Heryanto Drs. Ackmal Husin Drs. Soeprijono Setelah melalui berbagai tahapan pembahasan dan penyempurnaan konsep berdasarkan masukanmasukan dari berbagai pihak yang diperoleh melalui dengar pendapat Iyang diadakan pada tanggal 30 November 1989), maka dalam rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia tanggal 1 Februari 1990 telah disetujui Prinsip Akuntansi Indonesia - Pernyataan No. 4 berjudul Standar Khusus Akuntansi untuk Asuransi Kerugian, dan selanjutnya disahkan dalam rapat Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 4 Agustus 1 990. Dengan dikeluarkannya Pernyataan ini diharapkan profesionalisme dunia usaha asuransi di Indonesia. Jakarta, 4 Agustus 1990 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Prinsip Akuntansi Indonesia - Pernyataan No. 4 berjudul STANDAR KHUSUS AKUNTANSI UNTUK ASURANSI KERUGIAN telah disetujui dalam rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 1 Februari 1990 dan telah disahkan oleh rapat Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 4 Agustus 1990. Jakarta, 4 Agustus 1990 Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia Komite Prinsip Akuntansi Indonesia dapat mendorong perkembangan dan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 5 of 25

Hans Kartikahadi Ketua Jusuf Halim Sekretaris Hein G. Surjaatmadja Anggota Katjep K. Abdoelkadir Anggota Wahjudi Prakarsa Anggota Sunaria Tadjudin Anggota M. Ashadi Anggota IPG Ary Suta Anggota Bambang Heryanto Anggota

DAFTAR ISI halaman SAMBUTAN KETUA IKATAN AKUNTAN INDONESIA SAMBUTAN DIREKTUR UTAMA PT ASURANSI JASA INDONESIA KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN Karakteristik Akuntansi Asuransi Ruang Lingkup dan Penerapan BAB II LAPORAN KEUANGAN A. Struktur Laporan B. Neraca C. Laporan Laba Rugi

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 6 of 25

D. Pengungkapan E. Informasi Tambahan BAB III PENDAPATAN DAN BIAYA A. Pendapatan B. Beban BAB IV AKTIVA A. Investasi B. Piutang BAB V KEWAJIBAN BAB Vl TANGGAL BERLAKU LAMPIRAN A. Daftar Istilah B. Contoh Bentuk Laporan Keuangan 1. Neraca 2. Laporan Laba Rugi C. Analisa Keuangan

BAB I PENDAHULUAN Karakteristik Akuntansi Asuransi 01 Asuransi kerugian pada hakekatnya adalah suatu sistem proteksi menghadapi risiko kerugian finansial, dengan cara pengalihan (transfer) risiko kepada pihak lain, baik secara perorangan maupun secara kelompok dalam masyarakat. Digolongkan ke dalam asuransi kerugian antara lain Asuransi Kebakaran, Asuransi Pengangkutan, Asuransi Kendaraan Bermotor, Asuransi Rangka Kapal Laut, Asuransi Rangka Kapal Udara, Asuransi Rekayasa (Engineering) dan Asuransi Aneka seperti asuransi kecelakaan diri, asuransi pengiriman dan penyimpanan surat berharga, dan lain-lain. 02 Usaha asuransi kerugian mempunyai sifat dan karakteristik yang berbeda dengan jenis usaha di bidang jasa pada umumnya Karena usaha asuransi mengambil alih berbagai risiko dari pihak lain

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 7 of 25

sehingga perusahaan asuransi menjadi padat risiko apabila tidak dikelola dengan baik. Di samping itu perusahaan asuransi juga padat informasi dengan berbagai informasi yang harus diolah untuk pengambilan keputusan underwriting, keuangan dan lain-lain. Dasar usaha asuransi adalah kepercayaan masyarakat, terutama dalam hal kemampuan keuangan (bonafiditas) perusahaan untuk memenuhi kewajiban klaim dan kewajiban lain-lain tepat pada waktunya. Untuk itu usaha asuransi harus dikelola secara profesional, baik dalam pengelolaan risiko maupun dalam pengelolaan keuangan. 03 Beberapa karakteristik dari akuntansi perusahaan asuransi kerugian antara lain: Pertanggungjawaban perusahaan asuransi yang besar kepada para tertanggung mempengaruhi penyajian laporan keuangan khususnya neraca. - Penentuan beban tidak dapat sepenuhnya dihubungkan dengan pendapatan premi, karena timbulnya beban klaim tidak selalu bersamaan dengan pengakuan pendapatan premix. - Laporan laba rugi sangat dipengaruhi oleh unsur estimasi, misalnya: estimasi mengenai besarnya premi yang belum merupakan pendapatan (unearned premium income) dan estimasi mengenai besarnya klaim yang menjadi beban pada periode berjalan (estimasi klaim tanggungan sendiri). - Perusahaan asuransi harus memenuhi ketentuan pemerintah dalam hal batas tingkat solvabilitas (solvency margin). 04 Kemajuan pesat industri asuransi di Indonesia sampai saat ini belum diimbangi dengan kemampuan dalam bidang akuntansinya, hal ini ditandai dengan belum adanya keseragaman dalam peristilahan dan pelaksanaan. Sehubungan dengan berbagai hal tersebut di atas dipandang perlu adanya suatu Standar Akuntansi Keuangan tentang Akuntansi Asuransi yang berlaku umum khususnya di dalam usaha asuransi kerugian. 05 Di dalam prakteknya, perusahaan-perusahaan asuransi banyak dipengaruhi oleh peraturanperaturan atau ketentuan-ketentuan pemerintah yang kadang-kadang berbeda dengan prinsip akuntansi yang diterima umum. Ketentuan-ketentuan tersebut dikeluarkan oleh pemerintah dalam rangka perlindungan yang lebih luas dan menyeluruh bagi kepentingan tertanggung dan masyarakat pada umumnya. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan tentang Akuntansi Asuransi Kerugian ini dimaksudkan untuk menjembatani antara standar akuntansi keuangan lainnya dengan praktek akuntansi asuransi. Ruang Lingkup dan Penerapan 06 Pernyataan ini berpedoman pada Asumsi Dasar sebagaimana dicantumkan pada Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. Di samping itu standar ini disesuaikan pula dengan sifat dan karakteristik usaha asuransi yang tercermin di dalam peraturan- peraturan/perundangan yang berlaku dalam bidang asuransi kerugian. 07 Pernyataan ini dimaksudkan untuk digunakan dalam penyajian laporan keuangan untuk pihak ekstern. Dalam hal ini dianggap bahwa semua pemakai laporan keuangan memerlukan pengklasifikasian dan pengukuran yang sama dalam pelaporan hasil-hasil keuangan perusahaan. 08 Pemerintah sebagai pengawas dan pembina industri asuransi memerlukan informasi keuangan yang didasari serangkaian praktek akuntansi asuransi yang menekankan pada segi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. 09 Pembahasan pada Pernyataan ini meliputi laporan keuangan, pengungkapan dan penjelasan yang diperlukan, pendapatan dan beban, aktiva serta kewajiban.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 8 of 25

BAB II LAPORAN KEUANGAN A Struktur Laporan 01 Laporan keuangan perusahaan asuransi kerugian disusun menurut Pernyataan ini, disesuaikan dengan praktek akuntansi berdasarkan peraturan/perundangan yang berlaku, dalam rangka memenuhi kepentingan berbagai pihak. Berikut ini uraian mengenai neraca, laporan laba rugi dan pengungkapan. B. Neraca 02 Komponen-komponen neraca dikelompokkan menjadi dua bagian yakni: kelompok aktiva serta kelompok kewajiban dan ekuitas. Kelompok aktiva digolongkan menjadi: - Investasi - Kas dan Bank - Piutang Premi - Piutang Reasuransi - Piutang Lainnya - Tanah/Hak atas Tanah, Bangunan dan lain-lain - Aktiva Lain-lain Kelompok kewajiban dan ekuitas digolongkan menjadi: Kewajiban: - Hutang Klaim - Hutang Reasuransi - Hutang Komisi - Hutang Pajak - Hutang lain-lain - Hutang Jangka Panjang yang Jatuh Tempo Premi Belum Merupakan Pendapatan Estimasi Klaim Tanggungan Sendiri Hutang Jangka Panjang

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 9 of 25

Ekuitas: - Modal Disetor - Saldo Laba 03 Dalam penyajian akun-akun neraca dipergunakan pendekatan unclassified balance sheet (tidak dirinci atas kelompok lancar dan tidak lancar). Cara penyajian ini merupakan kelaziman dalam bidang usaha asuransi kerugian. C. Laporan Laba Rugi 04 Komponen-komponen pada laporan laba rugi perusahaan asuransi kerugian diperinci sebagai berikut: a. Pendapatan underwriting; komponen perhitungannya terdiri dari: - Premi Bruto - Dikurangi: Premi Reasuransi - Dikurangi/Ditambah: Kenaikan/Penurunan Premi yang Belum Merupakan Pendapatan b. Beban Underwriting terdiri dari: - Komisi Tanggungan Sendiri - Klaim Tanggungan Sendiri - Kenaikan/Penurunan Estimasi Klaim Tanggungan Sendiri - Beban Underwriting Rupa- rupa c. Pendapatan Investasi d. Pendapatan dan Beban Non Underwriting 05 Cara penyajian laporan laba rugi adalah sebagai berikut: a. Harus memuat secara terperinci pendapatan/beban non underwriting. unsur-unsur pendapatan/beban underwriting,

b. Harus dipisahkan antara hasil dari bidang usaha asuransi, hasil investasi dan hasil-hasil lain. 06 Laporan laba rugi disusun dalam bentuk urutan ke bawah dengan susunan sebagai berikut: - Pendapatan Underwriting - Beban Underwriting - Pendapatan Investasi - Pendapatan/Beban Non Underwriting D. Pengungkapan 07 Kebijakan akuntansi yang penting (yang dianut perusahaan), harus disajikan tersendiri sebelum catatan atas laporan keuangan atau sebagai bagian dari catatan atas laporan keuangan. Laporan tersebut memuat penjelasan mengenai kebijakan-kebijakan akuntansi yang mempengaruhi posisi

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 10 of 25

keuangan dan hasil usaha perusahaan asuransi. Hal-hal khusus mengenai asuransi kerugian yang perlu diungkapkan dinyatakan di bawah ini. Pengungkapan Akun-akun Neraca 08 Pengungkapan mengenai Investasi: - Deskripsi mengenai jenis-jenis investasi, persentase pemilikan, dan penjelasan penting lainnya - Metode penilaian atas setiap jenis investasi yang ada 09 Pengungkapan Piutang: - Deskripsi mengenai piutang langsung dan tidak langsung - Deskripsi mengenai umur piutang, diperkenankan dan tidak diperkenankan sehubungan dengan ketentuan atas aktiva yang

10 Pengungkapan Aktiva yang Tidak Diperkenankan - Deskripsi mengenai aktiva yang tidak diperkenankan untuk perhitungan batas tingkat solvabilitas (solvency margin), sesuai peraturan dan perundangan yang berlaku. 11 Pengungkapan Premi yang Belum Merupakan Pendapatan dan Estimasi Klaim Tanggungan Sendiri antara lain: - Dasar penetapannya - Komponen perhitungan estimasi klaim tanggungan sendiri, seperti: incurred-but-not-reported (IBNR) claim, estimasi atas klaim yang telah dilaporkan, cadangan bencana (catastrophe reserve). Pengungkapan Laporan Laba Rugi 12 Pengungkapan pada Laporan Laba Rugi antara lain meliputi: Perhitungan pendapatan underwriting secara terperinci sesuai dengan penggolongan yang lazim Pendapatan yang diperoleh dari pertanggungan yang jumlahnya substansial Jenis pendapatan investasi INFORMASI TAMBAHAN 14 Jika diperlukan informasi tambahan rasio keuangan, dapat diungkapkan analisa batas tingkat solvabilitas yang merupakan salah satu indikator untuk menetapkan tingkat kesehatan suatu perusahaan asuransi kerugian sesuai dengan peraturan/perundangan yang berlaku.

BAB III

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 11 of 25

PENDAPATAN DAN BEBAN A. Pendapatan Pendapatan Underwriting 01 Pendapatan underwriting adalah pendapatan yang diperoleh dari aktivitas pokok perusahaan asuransi. Komponen-komponen pendapatan underwriting (premi tanggungan sendiri) terdiri dari: Premi Bruto, dikurangi: Premi Reasuransi dan dikurangi/ditambah: kenaikan/penurunan Premi yang Belum Merupakan Pendapatan. Premi Bruto 02 Premi bruto adalah premi yang diperoleh dari tertanggung, agen, broker maupun dari perusahaan asuransi lain dan perusahaan reasuransi. Premi bruto yang berasal pertanggungan langsung (direct business) dinamakan premi langsung. Sedangkan premi yang berasal dari pertanggungan tidak langsung (indirect business), yaitu yang diterima dari perusahaan asuransi lain atau perusahaan reasuransi dinamakan premi tidak langsung. Premi yang diperoleh diakui sebagai pendapatan berdasarkan accrual basis yang dialokasikan secara merata selama masa pertanggungan. Pendapatan koasuransi diakui sebesar pangsa (share) premi yang akan diterima oleh perusahaan. Premi Reasuransi 03 Premi reasuransi adalah bagian dari premi bruto yang dikeluarkan atau merupakan kewajiban kepada pihak reasuradur berdasarkan treaty maupun non treaty. Premi reasuransi diakui dan dicatat pada periode yang sama dengan periode pengakuan pendapatan premi yang bersangkutan. Premi reasuransi dalam laporan laba rugi dikurangkan langsung dari premi bruto. Kenaikan/Penurunan Premi yang Belum Merupakan Pendapatan (Unearned Premium) 04 Premi yang belum merupakan pendapatan diakui pada tanggal neraca. Kenaikan/penurunan premi yang belum merupakan pendapatan adalah selisih dari premi yang belum merupakan pendapatan periode berjalan dan periode lalu. Perhitungan dari premi yang belum merupakan pendapatan dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: a. Dihitung secara agregatif tanpa memperhatikan tanggal penutupannya. Besarnya dihitung berdasarkan persentase (%) tertentu dari jumlah premi tanggungan sendiri, tiap jenis pertanggungan/asuransi. b. Dihitung secara individual dari tiap pertanggungan dan besarnya premi yang belum merupakan pendapatan ditetapkan secara prorata untuk tiap tahun yang bersangkutan .

B. Beban Beban Underwriting 05 Beban underwriting adalah beban yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi untuk mendapatkan, memelihara dan menyelesaikan kerugian suatu pertanggungan. Komponenkomponen beban underwriting terdiri dari:

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 12 of 25

Komisi tanggungan sendiri Klaim tanggungan sendiri Kenaikan/penurunan estimasi klaim tanggungan sendiri Beban underwriting rupa-rupa Komisi 06 Komisi adalah bagian dari premi bruto yang menjadi hak agen/broker atau perusahaan asuransi lain sehubungan dengan jasa yang diberikannya dalam penutupan pertanggungan, baik langsung maupun tidak langsung. Komisi tanggungan sendiri adalah selisih komisi yang dikeluarkan dalam rangka mendapatkan penutupan pertanggungan dengan komisi yang diterima dari reasuradur. Discount yang diberikan kepada tertanggung sehubungan dengan pertanggungan langsung diperlakukan sama dengan komisi. Komisi/discount diakui dan dicatat sekaligus pada saat timbulnya kewajiban/beban tersebut, tanpa memperhatikan jangka waktu pertanggungan. Klaim 07 Klaim adalah ganti rugi yang dibayarkan atau yang menjadi kewajiban kepada tertanggung atau perusahaan asuransi (ceding company) sehubungan dengan telah terjadinya kerugian. Bagian klaim yang diterima dari reasuradur merupakan salah satu bentuk "pemulihan klaim" (claim recovery). Beban klaim diakui dan dicatat bersamaan dengan timbulnya kewajiban kepada tertanggung/perusahaan asuransi (ceding company) yaitu pada periode tercapainya persetujuan ganti rugi kepada tertanggung. 08 Beban klaim lainnya (survei klaim dan lain-lain) diakui dan dicatat pada saat dikeluarkannya beban tersebut dan diperlakukan sebagai bagian dari beban klaim. Dalam hal ganti rugi belum dapat ditentukan secara definitif, maka pengakuan beban klaim adalah sebesar kewajiban yang diperkirakan (estimasi) dan dibukukan sebagai estimasi klaim tanggungan sendiri. Beban survei klaim dan lain-lain serta penggantian klaim dari hak subrogasi diakui dan dilaporkan sebagai penambah atau pengurang klaim. Klaim tanggungan sendiri adalah selisih antara klaim yang dibayarkan dengan klaim yang diterima perusahaan asuransi dari reasuradur. Pemulihan (Recovery) Klaim 09 Pemulihan (recovery) klaim setelah dikurangi beban pemulihan dan bagian reasuradur/retrosesioner diakui dan dicatat sebagai pengurang beban klaim pada saat realisasi. Barang-barang eks klaim (scraps) diakui dan dibukukan pada saat realisasi penjualannya. Kenaikan/Penurunan Estimasi Klaim Tanggungan Sendiri 10 Estimasi klaim tanggungan sendiri diakui dan dicatat sekaligus pada akhir tahun sebesar jumlah taksiran ganti rugi yang belum diselesaikan. Dalam pengertian ganti rugi yang belum diselesaikan termasuk klaim-klaim yang terjadi namun belum dilaporkan (Incurred-But-Not-Reported/lBNR). Saat membukukan estimasi klaim tanggungan sendiri yang baru, bersamaan dengan pencairan kembali estimasi klaim tanggungan sendiri yang lalu. Antara jumlah estimasi klaim tanggungan sendiri yang dibentuk baru dan yang dicairkan terdapat selisih yang disebut kenaikan/ penurunan estimasi klaim tanggungan sendiri. Jumlah kenaikan kewajiban teknis tersebut merupakan beban laba/rugi tahun berjalan. Beban Underwriting Rupa-rupa

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 13 of 25

11 Beban underwriting rupa-rupa diakui langsung pada saat timbulnya beban-beban yang bersangkutan setelah dikurangi dengan hasil yang diperoleh sehubungan dengan beban tersebut, yang diakui pada saat diperolehnya hasil tersebut. Penentuan Beban Dihubungkan Dengan Pendapatan Premi 12 Istilah beban dapat dinyatakan sebagai pengeluaran yang secara langsung atau tidak langsung di dalam usaha menghasilkan pendapatan dalam suatu periode, atau yang sudah tidak memberikan manfaat keekonomian untuk masa berikutnya. Yang dimaksud dengan beban adalah pengorbanan ekonomis yang diperlukan untuk memperoleh barang dan jasa. Untuk penetapan laba periodik yang wajar, seyogyanya dilakukan pisah batas yang layak atas beban pada awal dan akhir periode yang bersangkutan. Secara umum beban dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. Beban underwriting Beban yang dapat dihubungkan langsung dengan pendapatan usaha asuransi. Beban yang termasuk dalam kelompok ini harus dilaporkan dalam periode diakuinya pendapatan, yaitu: komisi, klaim, kenaikan/penurunan estimasi klaim tanggungan sendiri dan beban underwriting rupa-rupa. b. Beban Non Underwriting Beban non underwriting yakni beban yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan pendapatan usaha asuransi. Pengakuan beban non underwriting adalah pada periode terjadinya mengingat beban tersebut memberikan manfaat pada periode berjalan atau karena beban tersebut sudah tidak memberikan manfaat untuk masa-masa mendatang. Termasuk dalam kelompok ini adalah beban yang timbul dari alokasi beban secara sistematis sepanjang periode yang memperoleh manfaat, seperti beban penyusutan hak atas tanah, bangunan dan peralatan, amortisasi aktiva tak berwujud, dan sebagainya, kecuali terhadap aktiva yang dipergunakan secara langsung dalam operasi.

BAB IV AKTIVA 01 Perlakuan akun-akun aktiva pada perusahaan asuransi kerugian mengacu pada standar akuntansi keuangan yang berlaku. A. Investasi 02 Lazimnya dalam bidang usaha asuransi kerugian, investasi (penyertaan) merupakan salah satu kegiatan pengelolaan keuangan yang utama di luar usaha asuransi. Dengan demikian, akun ini disajikan pada urutan pertama pada aktiva, namun demikian bukanlah merupakan suatu keharusan. Investasi ditujukan antara lain untuk: - memperoleh keuntungan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 14 of 25

- menjamin solvabilitas perusahaan - menunjang kegiatan operasional asuransi Investasi dapat merupakan investasi jangka pendek maupun jangka panjang B. piutang 03 Menurut sumber terjadinya, piutang digolongkan dalam dua kategori yaitu piutang underwriting dan piutang non underwriting (piutang lain-lain). Piutang underwriting terdiri dari piutang premi dan piutang reasuransi. Piutang Underwriting a. Piutang Premi Piutang premi meliputi, tagihan premi kepada tertanggung/agen/ broker, dan perusahaan asuransi (ceding company) sebagai akibat adanya transaksi asuransi. Piutang dicatat sebesar jumlah nominalnya dikurangi dengan taksiran jumlah yang tidak dapat diterima (piutang ragu-ragu). Dalam hal perusahaan memberikan discount premi kepada tertanggung, maka discount tersebut langsung dikurangkan dari piutang preminya. b. Piutang Reasuransi Piutang reasuransi timbul dari kompensasi hutang-piutang kepada reasuradur sehubungan dengan kewajiban membayar premi reasuransi setelah dikurangi komisi dan klaim reasuransi. Dalam hal terdapat uang muka pembayaran klaim dari/ke pihak reasuradur (cash loss), maka jumlah tersebut langsung dikurangkan /ditambahkan pada piutang reasuransi. Saldo kredit piutang reasuransi harus disajikan dalam kelompok hutang sebagai hutang reasuransi . Piutang Non Underwriting 04 Piutang non underwriting (piutang lain-lain) adalah piutang yang timbul di luar transaksi operasi asuransi seperti piutang pegawai, piutang bunga dan lainnya. BAB V KEWAJIBAN 01 Perlakuan akun-akun kewajiban pada perusahaan asuransi kerugian mengacu pada standar akuntansi keuangan yang berlaku. Hutang Klaim 02 Hutang klaim adalah hutang yang timbul sehubungan dengan adanya persetujuan atas klaim yang diajukan oleh tertanggung/perusahaan asuransi (ceding company) yang belum dibayar oleh perusahaan. Hutang klaim diakui dan dicatat pada saat klaim disetujui untuk dibayar (claim settled). Dalam hal perusahaan membayar uang muka klaim langsung dikompensasikan dengan hutang klaim yang bersangkutan. Hutang Reasuransi 03 Hutang reasuransi adalah hutang kepada reasuradur yang timbul sehubungan dengan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 15 of 25

kewajiban membayar premi reasuransi setelah dikurangi dengan komisi reasuransi dan klaim reasuransi. Saldo debet hutang reasuransi harus disajikan pada kelompok aktiva sebagai piutang reasuransi. Hutang Komisi 04 Hutang komisi adalah hutang yang timbul sehubungan dengan terjadinya penutupan asuransi. Hutang komisi yang disajikan dalam neraca adalah hutang komisi yang merupakan kewajiban kepada agen dan broker. Premi yang Belum Merupakan Pendapatan (Unearned premium) 05 Premi yang belum merupakan pendapatan (unearned premium), diakui dan dicatat pada tanggal neraca yang besarnya ditetapkan berdasarkan estimasi sesuai dengan metode yang digunakan. Estimasi Klaim Tanggungan Sendiri 06 Estimasi klaim tanggungan sendiri diakui dan dicatat pada tanggal neraca yang besarnya berdasarkan estimasi jumlah kerugian yang menjadi kewajiban perusahaan.

BAB Vl TANGGAL EFEKTIF Pernyataan ini berlaku efektif mulai tahun buku yang berakhir tanggal 31 Desember 1991. Namun demikian penerapan lebih dini dianjurkan. LAMPIRAN A DAFTAR ISTILAH Lampiran ini berisi penjelasan istilah-istilah yang dipergunakan dalam Pernyataan ini. AGGREGATE BASIS Metode perhitungan cadangan premi berdasarkan persentase tertentu dari jumlah premi tanggungan sendiri secara keseluruhan untuk tiap jenis pertanggungan. AKTIVA YANG DIPERKENANKAN/TIDAK DIPERKENANKAN (ADMITTED/NON ADMITTED ASSETS) Aktiva yang diperkenankan/tidak diperkenankan sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku untuk perhitungan batas tingkat solvabilitas (solvency margin ratio) pada perusahaan asuransi/reasuransi. ASURANSI ANEKA Pertanggungan atas kerugian finansial dari obyek-obyek pertanggungan di luar kebakaran, pengangkutan, rangka kapal laut, rangka kapal udara, engineering dan kendaraan bermotor. Termasuk asuransi aneka antara lain asuransi kecelakaan pribadi (personal accident), asuransi pengangkutan uang (cash in transit), asuransi penyimpanan uang/surat berharga (cash in safe), asuransi kebongkaran (burglary), asuransi tanggung gugat (liability) dan asuransi-asuransi

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28
lainnya. ASURANSI REKAYASA

Page 16 of 25

Pertanggungan atas kerugian finansial dari obyek-obyek pekerjaan teknik seperti pekerjaan konstruksi, penggunaan alat-alat berat, pemasangan mesin-mesin, peralatan elektronik, kerusakan mesin-mesin, gangguna usaha akibat kerusakan mesin, dan pembusukan stock {deterioration of stock) ASURANSI KEBAKARAN Pertanggungan atas kerusakan/berkurangnya secara finansial obyek yang dipertanggungkan yang disebabkan karena kebakaran, akibat kebakaran, sambaran petir, kejatuhan pesawat terbang, dan peledakan yang bukan disebabkan karena nuklir. Resiko ini dapat diperluas dengan jaminan lainnya seperti gangguan usaha akibat terjadinya kebakaran, gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir dan lain-lain. ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR Pertanggungan atas kerugian/berkurangnya nilai secara finansial atas obyek pertanggungan kendaraan bermotor yang disebabkan karena menabrak, ditabrak, dicuri, terbakar dan tergelincir. ASURANSI PENGANGKUTAN Pertanggungan atas kerugian/berkurangnya nilai finansial dari obyek pertanggungan rangka kapal baik pada saat dibangun, saat berlabuh, maupun saat berlayar. Kecelakaan tersebut antara lain, kebakaran, tabrakan, tenggelam, kandas. ASURANSI RANGKA KAPAL UDARA Pertanggungan atas kerugian/berkurangnya nilai finansial dari obyek pertanggungan (pesawat terbang/satelit) baik pada saat pembangunan, saat diparkir (on the ground), saat tinggal landas/ peluncuran maupun saat terbang (in orbit). Kecelakaan tersebut seperti ditabrak, tenggelam, tergelincir, jatuh, tidak mencapai orbit. BATAS TINGKAT SOLVABILITAS SOLVENCY MARGIN RATIO T Ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang ada dari aktiva diperkenankan dengan perhitungan sesuai dengan peraturan/perundangan yang berlaku. BEBAN MANAJEMEN Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi yang tidak berkaitan langsung dengan proses underwriting. Termasuk beban manajemen adalah beban kepegawaian, beban administrasi dan beban prasarana. BENCANA (CATASTROPHE) Adalah kerugian yang disebabkan karena bencana alam yang tidak dapat dihindarkan oleh manusia, misalnya: banjir, gempa bumi, dan badai. CEDING COMPANY yang

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 17 of 25

Perusahaan asuransi yang menempatkan reasuransinya kepada reasuradur atau perusahaan asuransi lain. DEPOSITO WAJIB Merupakan deposito yang diwajibkan, sebagai salah satu persyaratan perusahaan asuransi kerugian. Deposito tersebut ditempatkan atas nama Menteri Keuangan yang besarnya ditentukan oleh peraturan/perundangan yang berlaku. PENDAPATAN UNDERWRITING Jumlah premi tanggungan sendiri setelah dikurangi beban underwriting. ESTIMASI KLAIM TANGGUNGAN SENDIRI Estimasi klaim tanggungan sendiri yang dihitung/dibentuk secara berkala pada akhir periode buku atau merupakan klaim yang dilaporkan dan telah dicatat perusahaan, tetapi belum diselesaikan (ditetapkan) ganti ruginya. PREMI YANG BELUM MERUPAKAN PENDAPATAN (UNEARNED PREMIUM) Premi yang belum merupakan pendapatan yang dihitung/dibentuk secara berkala pada akhir periode buku atau merupakan pendapatan premi yang ditangguhkan pengakuannya. KLAIM TERJADI BELUM DILAPORKAN (INCURRED-BUT-NOT-REPORTED CLAIM/IBNR) Klaim yang telah terjadi tetapi belum dilaporkan sehingga belum dapat dibukukan. KOMISI Bagian dari premi bruto yang dibayarkan atau yang diterima oleh perusahaan asuransi kerugian kepada/dari pihak ketiga (agen/ broker/ ceding company/ reasuradur) sebagai akibat diperolehnya penutupan pertanggungan asuransi/reasuransi. NON TREATY Bentuk penyebaran reasuransi yang tidak dilakukan dengan perjanjian, sehingga perusahaan asuransi (ceding company) tidak berkewajiban untuk menyebarkan risiko yang ditawarkan. Bentuk perjanjian penyebaran risiko bisa berupa fakultatif, surplus, excess of loss, quota share. PEMULIHAN KLAIM (CLAIM RECOVERY) Perolehan kembali pembayaran klaim yang bersumber dari para reasuradur/subrogasi dan penjualan barang-barang bekas klaim. PERTANGGUNGAN Pengalihan risiko kerugian yang dihadapi tertanggung kepada penanggung berdasarkan surat perjanjian yang disebut polis. PERTANGGUNGAN JANGKA PENDEK

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 18 of 25

Pertanggungan dengan jangka waktu 1 (satu) tahun atau kurang. PERTANGGUNGAN JANGKA PANJANG Pertanggungan dengan jangka waktu lebih dari 1 (satu) tahun. PERTANGGUNGAN LANGSUNG (DIRECT BUSINESS) Pertanggungan yang dilakukan oleh perusahaan asuransi langsung kepada tertanggung maupun melalui agen/broker dengan cara mengeluarkan polis sendiri. PERTANGGUNGAN TIDAK LANGSUNG (INDIRECT BUSINESS) Pertanggungan yang dilakukan oleh perusahaan asuransi tertanggung tetapi diperoleh melalui perusahaan asuransi lain. PRAKTEK AKUNTANSI ASURANSI Penerapan prinsip-prinsip akuntansi pada perusahaan asuransi/ reasuransi, yang disesuaikan dengan sifat dan karakteristik usaha asuransi . PREMI BRUTO Jumlah premi sesuai dengan perhitungan dalam polis (sebelum dikurangi dengan komisil discount), tidak termasuk beban meterai dan administrasi yang diperoleh melalui agen, broker, tertanggung maupun ceding company, baik berupa pertanggungan langsung maupun pertanggungan tidak langsung. PREMI REASURANSI Bagian premi bruto yang dibayarkan kepada reasuradur sebagai usaha penyebaran risiko untuk mendapatkan proteksi dari perusahaan asuransi lain. PREMI TANGGUNGAN SENDIRI (OWN-RETENTION-PREMIUM) Bagian premi bruto setelah dikurangi kenaikan/penurunan cadangan teknis premi. PRINSIP AKUNTANSI INDONESIA Prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yang menjadi pedoman bagi badan usaha dalam menyelenggarakan akuntansinya . REASURANSI Pertanggungan ulang atas risiko-risiko yang perusahaan reasuransi atau perusahaan lain. RISIKO Kejadian yang dapat menimbulkan kerugian finansial. dihimpun oleh perusahaan asuransi kepada premi yang dibatalkan, premi reasuransi dan secara tidak langsung kepada

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 19 of 25

TREATY Bentuk pertanggungan ulang (reasuransi) yang dilakukan dengan perjanjian khusus antara perusahaan asuransi ( ceding company) dengan reasuradur dimana setiap risiko yang diperoleh perusahaan asuransi otomatis akan dibagi kepada reasuradur sesuai dengan porsi yang telah disepakati bersama.

LAMPIRAN B CONTOH BENTUK LAPORAN KEUANGAN 1. NERACA PT ASURANSI 'XXX' NERACA PER 31 DESEMBER 198B DAN 198A 198B AKTIVA 198A KEWAJIBAN dan EKUITAS KEWAJIBAN Lnvestasi Kas & Bank Piutang Premi Piutang Reasuransi Piutang Lainnya Tanah/Hak atas tanah, bangunan & peralatan Akumulasi Penyusutan Aktiva Lain-lain X X X X X X X X X X X X X X X X Hutang Klaim Hutang Reasuransi Hutang Komisi Hutang Pajak Hutang Lain-lain Hutang Jk Panjang Jatuh Tempo yang X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X 198B 198A

Premi yang Belum Merupakan Pendapatan Estimasi Klaim Tanggungan Sendiri Hutang Jangka Panjang Jumlah Kewajiban EKUITAS Modal Dasar..... lb @ Rp

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28
Disetor :.... lb Saldo Laba Jumlah Ekuitas Jumlah Aktiva X X Jumlah Ekuitas Kewajiban dan X X X X

Page 20 of 25
X X X X

Catatan: Cara penyajian ini bukan merupakan suatu keharusan, tetapi merupakan kelaziman dalam bidang usaha asuransi kerugian.

2. LAPORAN LABA RUGI PT ASURANSI "XXX" LAPORAN LABA RUGI UNTUK TAHUN BUKU YANG BERAKHIR PADA 31 DESEMBER 198B DAN 198A (Dalam satuan rupiah) 198B 1. Pendapatan Underwriting Premi Bruto Dikurangi : - Premi Reasuransi Kenaikan/Penurunan Pendapatan Premi yang Belum Merupakan X X X X X X X X 198A

Jumlah Pendapatan Underwriting (Premi Tanggungan Sendiri) 2. Beban Underwriting Komisi Tanggungan Sendiri Klaim Tanggungan Sendiri Kenaikan/Penurunan Estimasi Klaim Tanggungan Sendiri Beban Underwriting Rupa-rupa Jumlah Beban Underwriting 3. Hasil Underwriting (1 - 2)

X X X X X X

X X X X X X

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28
4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11 12. 13. Hasil lnvestasi Beban Manajemen Laba Operasi (3 + 4 - 5) Hasil/Beban Lain-lain Laba Bersih Sebelum Pos-pos Luar Biasa Pos-pos Luar Biasa Pengaruh Kumulatip Perubahan Kebijakan Akuntansi Laba Bersih Sebelum PPh Penyisihan Pajak Penghasilan Laba Bersih Setelah Pajak Penghasilan X X X X X X X X X X

Page 21 of 25
X X X X X X X X X X

LAMPIRAN C ANALISA KEUANGAN

Beberapa Contoh Analisa Keuangan untuk Perusahaan Asuransi Kerugian. 1. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh fungsi akuntansi dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai hasil usaha, posisi keuangan, dan perubahan posisi keuangan perusahaan. Untuk dapat memberikan arti yang lebih jelas bagi pembacanya, laporan keuangan tersebut perlu dianalisa dengan menggunakan peralatan analisa tertentu. Analisa seperti ini sangat penting artinya bagi pimpinan perusahaan maupun bagi pihak lainnya yang berkepentingan dengan perusahaan tersebut. 2. Analisa atas laporan keuangan perusahaan asuransi kerugian memerlukan indikatorindikator yang khusus berlaku bagi perusahaan asuransi kerugian, di samping indikator-indikator lainnya yang berlaku umum. Salah satu cara pengukuran indikator ini adalah dengan menggunakan rasio (perbandingan) tertentu atas akun akun dalam laporan keuangan. 3. Beberapa rasio yang penting untuk menilai keadaan keuangan perusahaan asuransi dapat diklasifikasikan antara lain sebagai berikut: a. SOLVENCY AND PROFITABILITY RATIO, terdiri dari: 1. Solvency Ratio. 2. Underwriting Ratio. 3. Loss Ratio.

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 22 of 25

4. Commision Expense Ratio. 5. Investment Yield Ratio. b. LIQUIDITY RATIO, terdiri dari: 1. Liability to liquid Assets Ratio. 2. Premium Receivable to Surplus Ratio. 3. Investment to Tehnical Reserve Ratio. c. PREMIUM STABILITY RATIO, terdiri dari: 1. Net Premium Growth. 2. Own Retention Ratio. d. TECHNICAL RATIO. 1. Technical Reserve Ratio. 4. Solvency and Profitability Ratio. a. Solvency Ratio = Dana Pemegang Saham Premi Neto Dana pemegang saham terdiri dari modal setor dan cadangan yang bebas. Premi Neto = Premi Bruto - Premi Reasuransi Kegunaan dari rasio ini adalah untuk mengetahui tingkat kemampuan keuangan perusahaan dalam menanggung risiko yang ditutup. Hasil rasio ini dapat menunjukkan seberapa besar kemampuan keuangan perusahaan untuk mendukung risiko yang mungkin timbul dari asuransi yang ditutupinya. Rendahnya batas tingkat solvabilitas berarti perusahaan menghadapi risiko yang tinggi sebagai akibat tingginya premi. Diperlukan analisa yang lebih jauh dalam menentukan kepelikan dari kelebihan penutupan yang tidak sebanding dengan kemampuan keuangan perusahaan. Hal-hal yang harus dianalisa; kestabilan keuntungan underwriting perusahaan, distribusi premi, tingkat kecukupan proteksi reasuransi, distribusi dan variasi nilai investasi. b. Underwriting Ratio (on eamed basis) = Hasil Underwriting Pendapatan Premi

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28

Page 23 of 25

Rasio ini menunjukkan tingkat hasil underwriting yang diperoleh dan digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan dari usaha asuransi kerugian. Apabila hasil dari rasio ini negatif berarti rate yang dikenakan terlalu tinggi. c. Loss Ratio= Klaim yang terjadi Pendapatan Premi Rasio ini menunjukkan pengalaman klaim yang terjadi pada perusahaan dan mengukur kualitas dari asuransi yang ditutup. Tingginya rasio kerugian memberikan informasi terhadap miskinnya underwriting dan penutupan atas risiko yang buruk. Analisa terhadap kerugian untuk setiap jenis asuransi yang diperlukan. d. Commision Expense Ratio = K o m i s i Pendapatan Premi Rasio ini dapat dipakai untuk mengukur biaya akuisisi, dapat pula dipakai sebagai bahan perbandingan besarnya % komisi perusahaan dengan perusahaan lain dan sebaliknya. Tinggi rasio berarti biaya akuisisi juga tinggi. e. Investment Yield Ratio = Pendapatan Bersih lnvestasi Rata Rata lnvestasi Rasio hasil investasi memberikan indikasi, secara umum mengenai kualitas setiap jenis investasi dan mengukur hasil yang dicapai dari investasi yang dilakukan. Rendahnya rasio dapat memberikan informasi bahwa investasi yang dilakukan kurang tepat, sehingga penempatan investasi perlu dikaji kembali. 5. Liquidity Ratio. a. Liability to liquid Assets Ratio (Rasio Likuiditas). = Kewajiban Aktiva yang Diperkenankan Aktiva Yang Diperkenankan = Total Aktiva - Aktiva Vang Tidak Diperkenankan Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya, yaitu secara kasar memberikan gambaran kondisi keuangan

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28
perusahaan. Tingginya rasio memberikan indikasi adanya masalah likuiditas dan besar kemungkinan perusahaan dalam kondisi tidal solvent. Apabila keadaannya memang demikian, harus dilakukan analisa terhadap tingkat kewajiban teknis, distribusi asets, penilaian kestabilan dan likuiditas dari kekayaan yang diperkenankan. b. Premium Receivable to Surplus Ratio = Piutang Premi Surplus Rasio ini menunjukkan sampai seberapa jauh tagihan premi dapat diandalkan dalam menyangga surplus. Rasio ini penting karena tagihan premi dari premi individu biasanya sulit diharapkan untuk dapat ditarik manakala terjadi kesulitan keuangan. Jika rasio telah dihitung, lebih lanjut harus diketahui pula aging schedule dari piutang premi. c. Investment to Technical Reserve Ratio = Investasi Kewajiban Teknis Yang dimaksud dengan Technical Reserve atau kewajiban teknis disini adalah: Premi yang belum merupakan pendapatan ditambah (+/+) estimasi klaim tanggungan sendiri. Rasio ini menunjukkan sampai seberapa jauh kewajiban teknis yang dibentuk oleh perusahaan asuransi tercermin pada investasi. Rendahnya rasio menunjukkan kecenderungan bahwa estimasi klaim tanggungan sendiri kurang didukung dengan dana yang memadai, lebih lanjut premi yang belum merupakan pendapatan kurang tercermin pada investasi tersebut. 6. Premium Stability Ratio. a. Net Premium Growth = Kenaikan/Penurunan Premi Neto Premi Neto tahun lalu Kenaikan/penurunan yang tajam pada volume premi neto memberikan indikasi kurangnya tingkat kestabilan operasi perusahaan. Dapat ditambahkan, kenaikkan yang tinggi pada premi neto berarti perusahaan berorientasi pada cash flow underwriting. Hasil rasio ini sebaiknya diinterpretasikan bersama sama dengan sejarah dan operasi perusahaan. Tingginya kenaikan pada premi berarti

Page 24 of 25

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 28
perusahaan preminya. perlu memberikan perhatian terhadap kewajiban teknis

Page 25 of 25

b. Own Retention Ratio = Premi Neto Premi Bruto Rasio ini berguna untuk mengukur tingkat retensi perusahaan yang nantinya dapat dipakai sebagai dasar untuk membandingkan kemampuan perusahaan yang sebenarnya dengan dana yang tersedia. Sehingga akhirnya akan didapat kapasitas retensi yang memadai. Sebaiknya rasio ini digunakan secara bersama sama dengan batas tingkat solvabilitas (solvency margin), sehingga analisanya akan menggambarkan keadaan yang lebih akurat. Apabila rasio retensi dan solvency margin tinggi berarti perusahaan beroperasi seperti layaknya broker/agen yang hanya mementingkan komisi reasuransi. 7. Technical Ratio. Technical Reserve Ratio = Kewajiban Tehnis Premi Neto Kewajiban teknis terdiri dari premi yang belum merupakan pendapatan dan estimasi klaim tanggungan sendiri. Rasio ini secara kasar dapat mengukur tingkat kecukupan besarnya kewajiban teknis yang diperlukan. Cukupnya dana kewajiban teknis membuat kondisi keuangan menjadi solvent. Rendahnya rasio berarti perusahaan menetapkan kewajiban teknis terlalu rendah dan apabila perusahaan dalam kondisi tidak solvent maka perusahaan perlu membuat penyesuaian pada solvency margin. Sebaliknya rasio yang tinggi menunjukan bahwa portofolio usaha tidak membawa keuntungan. Trend dari rasio ini perlu dipelajari, demikian pula dengan trend dari klaim.

Navigation

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian.htm

09/10/03

PSAK no 29

Page 1 of 55

Navigation

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 29 AKUNTANSI MINYAK DAN GAS BUMI

Dalam rangka pengembangan Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) menjadi Standar Akuntansi Keuangan (SAK), maka Pernyataan Prinsip Akuntansi Indonesia No.5 tentang Standar Khusus Akuntansi Untuk Minyak Dan Gas Bumi telah disesuaikan seperlunya sehingga menjadi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 29 tentang Akuntansi Minyak Dan Gas Bumi, yang telah disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat lkatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial items).

Jakarta, 7 September 1994

Pengurus Pusat lkatan Akuntan Indonesia

Komite Prinsip Akuntansi Indonesia

Hans Kartikahadi Ketua Jusuf Halim Sekretaris Hein G. Surjaatmadja Anggota Katjep K. Abdoeikadir Anggota Wahjudi Prakarsa Anggota Jan Hoesada Anggota M. Ashadi Anggota Mirza Mochtar Anggota IPG. Ary Suta Anggota

file://C:\P.S.A.K\Indonesia Version\PSAK 29 Akuntansi Minyak dan Gas Bumi.htm

10/17/03

PSAK no 29

Page 2 of 55

Sobo Sitorus Anggota Timoty Marnandus Anggota Mirawati Soedjono Anggota

BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN (BPKP) SAMBUTAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNA