Anda di halaman 1dari 120

Nasionalisasi Perusahaan B elanda di I ndonesia

Tidak mudah melihat motivasi di balik tindakan pengambilalihan yang kemudian diikuti nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda tersebut. Apakah benarbenar digunakan untuk menekan Belanda, atau sebagai usaha mengangkat perekonomian negara, atau menjadi salah satu jalan yang dipakai kaum komunis untuk merebut kekuasaan.

Menguatnya Peran Ekonomi Negara : Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia Bondan Kanumoyoso

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Bondan Kanumoyoso. Nasionalisasi Perusahaan-Perusahaan Belanda di Indonesia. Cet. 1 -- Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 2001 XXI, 137 hlm.: 21 cm ISBN 979-416-693-6 1. Indonesia -- Keadaan Ekonomi, 1994 I. Judul Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia Menguatnya Peran Ekonomi Negara Bondan Kanumoyoso 2001 /SEJ/01 Desain Sampul : Ibnoe Wahyudi Penata Letak : Donny Kaparang Hak Pengarang dilindungi Undang-undang Diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan, anggota Ikapi Jakarta Cetakan Pertama, 2001 Dicetak oleh. PT. Primacon Jaya Dinamika

Kata Pengantar
Perubahan sistem ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional merupakan masalah pokok dari buku ini. Titik sentralnya adalah nasionalisasi perusahaanperusahaan Belanda di Indonesia, 1957-1959. Terdapat tiga hal menonjol dalam buku ini. Pertama, kenyataan, memang benar para ahli sejarah di Indonesia sangat jarang menaruh perhatian pada sejarah ekonomi periode kontemporer. Padahal perubahan struktur ekonomi merupakan bagian penting dari strategi perjuangan elite politik sejak tahun 1920-an. Kemenangan politik yang diperoleh melalui perjuangan bersenjata (1945-50) dan penyerahan kedaulatan 1949, bagi kebanyakan elite politik tersebut hanya sebagian saja dari kemenangan. Maka tidaklah mengherankan kalau banyak kalangan dalam tahun 1950-an belum puas. Selain masalah Irian Barat, masalah ekonomi juga menjadi target dari perjuangan mereka ketika itu. Keistimewaan dari buku ini adalah adanya upaya untuk menjelaskan faktor-faktor apa yang akhirnya mengubah ekonomi kolonial ini menjadi ekonomi nasional. Keistimewaan kedua adalah metodologi eksplanasi strukturis yang digunakan dalam buku ini. Pendekatan dalam ilmu sejarah yang muncul sejak tahun 1980-an itu, tidak sekedar mempelajari struktur sosial, tetapi (sejalan dengan kaidahkaidah ilmu sejarah), mempelajari perubahannya. Mekanisme perubahan itu bukan terkandung dalam struktur sosial, tetapi dalam peristiwa (tindakan individu atau kelompok) yang bersimbiose dengan struktur sosial. Tujuan dari pendekatan strukturis adalah menemukan causal mechanism dari perubahan struktural itu, seperti halnya peranan elite politik dan pemerintah dalam buku ini. Namun demikian perubahan sosial tidak selalu membawa hasil seperti yang diharapkan (intended results). Sangat sering perubahan sosial justru membawa hasil yang tidak diharapkan (unintended results). Buku ini menunjukkan, bahwa peristiwaperistiwa di tahun 1950-an itu ternyata berakibat pada menguatnya peranan negara dalam ekonomi. Kenyataan itu menghadapkan kita pada pertanyaan, apakah situasi ekonomi Indonesia pasca-kolonial merupakan variasi dari apa yang oleh Boeke di masa penjajahan disebut sebagai ekonomi dualis, atau bahkan yang juga diartikan sebagai ekonomi dependensia? Keistimewaan ketiga dari buku ini adalah kelengkapan teknis ilmu sejarah. Penulis tidak saja menggunakan sumber-sumber sekunder (buku-buku), tetapi keterangan primer dalam kearsipan yang menjadi prasyarat utama dalam penelitian sejarah, telah dimanfaatkan dengan benar. Sumber kearsipan di Arsip Nasional RI, arsip Sekneg, bahkan arsip BI, dimanfaatkan penulis sesuai metode penelitian sejarah. Sehingga, selain menampilkan eksplanasi kausal dan obyektivitas yang memang dikejar dalam ilmu sejarah, buku ini juga menampilkan keterangan-keterangan yang orisinal (dari bahan kearsipan tersebut) dan kronologi yang konsisten.

Diharapkan dalam waktu-waktu mendatang penulis buku ini akan menghasilkan studi-studi sejarah yang mutunya sama dengan buku ini, bahkan lebih baik lagi. Selain itu diharapkan pula agar lebih banyak lagi ahli sejarah Indonesia mengambil bagian dalam upaya penelitian secara ilmiah sebagai bagian dari upaya mencerdaskan bangsa. Jakarta, 13 Maret 2001 Prof.Dr. R.Z. Leirissa

ii

Daftar Isi
Kata Pengantar ...................................................................................................... i Daftar Isi ............................................................................................................... iii Pendahuluan .......................................................................................................... 1

Satu
Menuju Ekonomi Nasional................................................................................... 8 Keluar dari Belenggu Kolonial ................................................................. 8 Penerapan Berbagai Pola Kebijakan ....................................................... 10 Masalah-Masalah yang harus Diatasi ..................................................... 15 Dominasi Perusahaan-Perusahaan Belanda ............................................ 19 Perkembangan Masalah Irian Barat ........................................................ 23 Dua Pengambilalihan Perusahaan-Perusahaan Belanda ........................................ 28 Kontroversi terhadap Modal Asing......................................................... 28 Pengambilalihan sebagai Bentuk Kedaulatan Politik ............................. 33 Meningkatnya Peranan Serikat-Serikat Buruh........................................ 38 Tindakan Pengambilalihan...................................................................... 45 Tiga Terbentuknya Keseimbangan yang Baru ......................................................... 53 Berbagai Reaksi Terhadap Pengambilalihan .......................................... 53 Perkembangan Ekonomi Setelah Pengambilalihan................................. 58 Pembentukan Perusahaan-Perusahaan Baru ........................................... 62 Menguatnya Peranan Negara .................................................................. 67 Penutup Bibliografi Lampiran-Lampiran

iii

Pendahuluan
Seperti kecenderungan umum yang terjadi di negara-negara yang baru lepas dari belenggu kolonialisme sekitar pertengahan abad dua puluh, Indonesia setelah mendapat kedaulatan secara penuh pada tahun 1949 juga menghadapi masalah perekonomian yang sangat mendesak untuk segera diatasi. Masalah pokok itu secara garis besar antara lain: pertama, tugas untuk merehabilitasi perekonomian nasional yang telah mengalami kerusakan besar setelah pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan; kedua, tuntutan masyarakat luas untuk merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional (Thee, 1996:4). Memasuki dekade 1950-an sektor ekonomi modern Indonesia masih didominasi perusahaan-perusahaan milik Belanda. perusahaan-perusahaan Belanda tersebut telah beroperasi sejak masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda masih berkuasa di Indonesia. Terkenal pada saat itu lima besar perusahaan Belanda yang disebut dengan The Big Five, yaitu; Jacobson & van den Berg, Internatio, Borneo-Sumatra Maatschappij (Borsumij), Lindeteves, dan Geo Wehry (Muhaimin, 1991:30). Keadaan itu menunjukkan tidak adanya perubahan penting yang terjadi dalam struktur perekonomian Indonesia meskipun kemerdekaan politik telah dicapai secara penuh. Menghadapi situasi semacam itu, muncul berbagai pemikiran ekonomi dari para tokoh pemimpin Indonesia. Muncul pandangan yang dikenal dengan ekonomi nasional atau nasionalisme ekonomi. Perumusan tentang aspirasi tersebut secara garis besar mencakup tiga aspek utama. Pertama, suatu perekonomian yang beragam dan stabil, dalam arti ditiadakannya ketergantungan yang besar terhadap ekspor bahan mentah. Kedua, suatu perekonomian yang berkembang dan makmur atau pembangunan ekonomi. Ketiga, suatu perekonomian pribumi, yang berarti dominasi ekonomi Barat dan etnis Cina harus dialihkan kepada orang-orang Indonesia (Muhaimin, 1991: 22). Dari ketiga aspek di atas yang menjadi masalah ialah menentukan prioritas mana yang harus didahulukan. Bila dihadapkan pada situasi untuk memilih, para pemimpin pada periode 1950-1957 memutuskan tidak melaksanakan kebijakan yang berkaitan dengan aspek ketiga jika hal itu pada akhirnya bertentangan dengan tujuan kedua aspek yang pertama. Sedangkan ciri utama ekonomi pasca revolusi Indonesia di atas tingkat desa dapat dikatakan sangat kuat bercorak kapitalis. Investasi modal asing masih kuat (modal Belanda yang di antaranya berupa lima perusahaan di atas, jika ditotal jumlahnya mencapai satu milyar dolar Amerika), namun secara politis pengaruhnya jauh berkurang dibandingkan dengan masa kolonial (Kahin dan Kahin, 1997:46).

Secara umum karakteristik para pemimpin politik Indonesia pasca revolusi ialah jumlahnya yang sedikit dan latar belakang pendidikan yang pada umumnya sama. Keadaan itu menyebabkan adanya keseragaman pendekatan terhadap masalahmasalah sosial ekonomi dan sebagian besar dari mereka menganut sosialisme dengan varian yang berbeda. Dengan demikian dunia usaha Barat di Indonesia saat itu harus menghadapi suatu pemerintahan yang sebagian besar pemimpinnya tidak menyenangi peningkatan modal asing dan menganut wawasan ekonomi sosialis. Fenomena paling menonjol dalam pemerintahan Demokrasi Parlementer yang dikembangkan di Indonesia antara tahun 1950-1959, menyangkut tidak adanya kestabilan politik karena pemerintahan yang jatuh bangun. Dalam periode tersebut terdapat tujuh pemerintahan dan tidak ada satu pun yang dapat bertahan lebih dari dua tahun. Meski tiga pemerintahan yang pertama dapat dinilai relatif berhasil dalam bidang ekonomi, namun periode Demokrasi Parlementer diakhiri dengan berbagai masalah di bidang politik dan ekonomi yang sampai pada tingkat krisis (Mas'oed, 1989:30). Dari ketiga kabinet pertama sejak kabinet Natsir, kebijakan perekonomian Indonesia bertumpu kepada kelompok moderat atau orang-orang yang lebih mengutamakan pendekatan pragmatis terhadap masalah perekonomian. Tokohtokoh dari kelompok ini antara lain Soemitro Djojohadikusumo dari Partai Sosialis Indonesia (PSI), Sjarifudin Prawiranegara dan Jusuf Wibisono dari Masjumi dan Wilopo dari Partai Nasional Indonesia (PNI). Di pihak lain terdapat kelompok radikal yang terdiri dari para pemimpin Partai Komunis Indonesia dan para pemimpin nasionalis kiri yang pandangannya bertentangan dengan kelompok pragmatis terutama dalam kaitannya dengan keberadaan perusahaan-perusahaan asing (Muhaimin, 1991:22-23). Kelompok moderat dapat menyetujui berbagai kegiatan perusahaan-perusahaan asing tersebut dengan pertimbangan-pertimbangan pragmatis dan moderat, sementara kelompok kedua lebih menghendaki perubahan struktural yang mendasar dalam perekonomian. Aspirasi yang menghendaki perubahan struktural yang mendasar kemudian memperoleh kesempatan untuk lebih terartikulasi ketika tercipta momentum akibat ketegangan hubungan Indonesia Belanda dalam masalah Irian Barat. Dalam situasi demikian, kaitan antara perkembangan politik dan situasi perekonomian tampak sangat jelas saling mempengaruhi. Untuk memahami proses redistribusi kekuasaan dan kekayaan setelah terjadinya nasionalisasi, analisa ekonomi-politik menekankan asumsi: karena kelangkaan sumber daya, tidak ada kebijakan politik yang bisa memuaskan semua pihak (Mas'oed, 1989: xvii).

Sementara itu, perdebatan tentang ideologi negara yang berlarut, meningkatnya kekuatan komunis, ketidak-efektifan pemerintah pusat dalam menangani masalah daerah, dan perpecahan dwitunggal Soekarno-Hatta, telah menyebabkan munculnya pergolakan daerah berupa PRRI di Sumatra dan Permesta di Sulawesi. Semua permasalahan yang dihadapi Indonesia tersebut berpuncak pada ditinggalkannya sistem pemerintahan Demokrasi Parlementer Kabinet Ali Sastroamidjojo ke II meletakkan jabatannya pada tanggal 14 Maret 1957 dan kemudian disusul dengan pernyataan keadaan darurat perang oleh Presiden Soekarno (Ricklefs, 1991:386). Pada saat yang sama, hubungan dengan Belanda juga terus memburuk. Masalah Irian Barat menjadi ganjalan utama dalam hubungan antara Indonesia dengan Belanda. Konferensi Meja Bundar tidak menyertakan Irian Barat dalam kesepakatan wilayah kedaulatan yang diserahkan oleh Belanda. Penyelesaian masalah tersebut menjadi berlarut-larut karena penolakan Belanda untuk merundingkan penyerahan Irian Barat kepada Indonesia. Pada akhir bulan November 1957 terjadi dua kejadian penting. Pada tanggal 29 November Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) gagal mengesahkan suatu resolusi yang menghimbau agar Belanda merundingkan suatu penyelesaian mengenai masalah Irian. Sedangkan pada tanggal 30 November terjadi usaha pembunuhan terhadap Presiden Soekarno dalam Peristiwa Cikini. Gagalnya resolusi masalah Irian di PBB mengakibatkan terjadinya ledakan radikalisme anti Belanda. Pada tanggal 3 Desember serikat-serikat buruh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Partai Nasional Indonesia (PNI) mulai mengambil alih perusahaan-perusahaan dan kantor-kantor dagang Belanda. Gerakan tersebut menandai dimulainya nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda yang didukung oleh pemerintah Indonesia. Dukungan pemerintah terlihat nyata pada tanggal 5 Desember dengan keluarnya perintah pengusiran oleh Departemen Kehakiman terhadap 46.000 warga negara Belanda yang ada di Indonesia. Pada tanggal 13 Desember pada waktu hampir semua perusahaan Belanda telah diambil alih, Angkatan Darat (AD) menetapkan penguasaan atas perusahaan-perusahaan yang telah diambil alih tersebut. Tindakan ini dilakukan AD untuk menghindarkan jatuhnya perusahaan-perusahaan tersebut ke tangan komunis (Dick et.al., 1999:211). Nasionalisasi menyebabkan terjadinya perubahan fundamental dalam struktur ekonomi Indonesia. Selama terjadinya nasionalisasi kepemilikan dari 90% produksi perkebunan beralih ke tangan pemerintah. Demikian juga dengan 60% nilai perdagangan luar negeri dan sekitar 246 pabrik, perusahaan pertambangan, bank-bank, perkapalan dan sektor jasa (Robison, 1986:72). Semua perusahaan yang diambil alih tidak diubah menjadi perusahaan swasta, namun menjadi perusahaan milik negara. Dalam bidang perekonomian, nasionalisasi mengakibatkan turunnya secara drastis pengaruh Belanda dalam ekonomi Indonesia. Menjelang akhir tahun 1958 pemerintah mengeluarkan peraturan resmi untuk menasionalisasikan semua perusahaan Belanda.

Pada umumnya tidak ada persiapan sebelumnya untuk melakukan suatu nasionalisasi yang terencana. Contoh paling jelas terlihat dalam pengambilalihan perusahaan perkapalan Belanda Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM) yang dilakukan ketika kapal-kapal milik perusahaan tersebut sedang berada di laut. Karenanya, dengan mudah Belanda kemudian memerintahkan kapal-kapal tersebut untuk berlayar ke pelabuhan-pelabuhan terdekat yang berada di luar wilayah Indonesia. Ketidaksiapan untuk segera mencari pengganti kapal-kapal Belanda, menyebabkan kelumpuhan sektor hubungan laut yang kemudian berdampak pada penurunan volume perdagangan antarpulau. Kendala lainnya ialah terbatasnya tenaga ahli untuk mengelola perusahaan-perusahaan yang telah dinasionalisasi, dan berbagai reaksi menentang dari kalangan pemimpin Indonesia sendiri terhadap tindakan nasionalisasi tersebut. Semua itu menyebabkan terjadinya dislokasi ekonomi yang membuat perekonomian Indonesia yang sudah lemah mendapat tekanan-tekanan yang lebih besar lagi (Kahin dan Kahin, 1997:139). Sampai saat ini, penulisan tentang sejarah ekonomi Indonesia yang membahas periode pasca revolusi sampai pertengahan tahun 1960-an belum banyak dilakukan. Sementara perkembangan politik di Indonesia pasca revolusi telah mendapat perhatian yang cukup dari para peneliti, termasuk dari disiplin ilmu sejarah. Ada beberapa karya penting yang menyangkut dekade 1950-an, dan salah satu yang terpenting adalah kajian Feith tentang masa pemerintahan Demokrasi Parlementer di Indonesia (Feith, 1962). Kajian lainnya yang periodenya melingkupi periode yang dibahas dalam buku ini ialah karya Lev (Lev, 1966) yang menekankan perkembangan politik dalam masa transisi menuju periode Demokrasi Terpimpin. Karya-karya lainnya ialah tentang peristiwa pemberontakan PRRI/Permesta yang periodenya melingkupi tahun 1956-1958. Buku ini hendak membahas keterkaitan antara masalah ekonomi dan politik di Indonesia dalam masa peralihan antara periode Demokrasi Parlementer menuju periode Demokrasi Terpimpin, dengan fokus utama pada masalah nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda antara tahun 1957-1959. Terjadinya nasionalisasi, dalam waktu singkat telah menambah secara pesat jumlah perusahaan milik negara. Perkembangan situasi tersebut kemudian menimbulkan berbagai masalah yang harus dihadapi oleh pemerintah Indonesia. Meskipun terdapat beberapa karya lain juga menyinggung kurun periode yang dibicarakan dalam buku ini seperti yang diutarakan di atas, namun kebanyakan dari karya-karya tersebut tidak secara khusus membahas masalah nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda. Dengan demikian buku ini memiliki arti penting untuk mengisi kekosongan pembahasan masalah tersebut.

Berdasarkan pemaparan di atas terdapat beberapa permasalahan yang akan didiskusikan dalam buku ini. Pertama, bagaimana karakteristik ekonomi Indonesia dalam dekade 1950-an? Kedua, apakah rencana program perekonomian pemerintah yang telah ditetapkan dapat dijalankan? Ketiga, bagaimana reaksi yang muncul dari dalam dan luar negeri terhadap nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda? Keempat, apa dampak yang diakibatkan oleh nasionalisasi tersebut terhadap kondisi ekonomi dan politik saat itu? Sebagai kerangka teori untuk menjawab permasalahan tersebut akan digunakan metodologi strukturis. Tujuan utama dari pendekatan strukturis (Llyod,1993) ialah menampilkan realitas dalam bentuk causal factor yang tidak tertangkap oleh pancaindera. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah seperti pemberontakan, revolusi dan perubahan sosial merupakan fenomena kasat mata. Untuk mengetahui jalannya peristiwa tersebut, orang dapat membaca dari sumber dokumen yang tersedia. Tetapi causal factor yang merupakan penyebab terjadinya peristiwa tersebut tidak muncul secara empiris dalam sumber sejarah, karena tersembunyi dalam struktur sosial. Sebagai causal, factor dari suatu perubahan sosial, menurut metodologi strukturis adalah unsur yang justru berasal dari dalam struktur itu sendiri (jadi unsur intern). Secara ontologis, struktur sosial memiliki kekuatan yang mengekang dan menentukan (constraining), sedangkan individu atau kelompok sosial bertindak sebagai agent of change yang menginginkan perubahan struktural dan memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut (enabling). Interaksi antara agent (peristiwa) yang enabling dengan struktur sosial yang constraining adalah inti pokok dari pendekatan strukturis. Sasaran utama dari proses tersebut adalah menemukan causal power yang obyektif. Untuk penelitian dan penulisan buku ini, digunakan berbagai sumber baik primer maupun sekunder yang tersedia di berbagai lembaga. Lembaga yang utama bagi penelitian sumber primer adalah Arsip Nasional Republik Indonesia. Selain itu penelitian sumber primer juga dilakukan pada; Arsip Sekretariat Negara Republik Indonesia, Arsip Bank Indonesia dan Perpustakaan Nasional Indonesia. Sebuah karya sejarah yang ideal harus dapat menelusuri semua sumber yang tersedia. Namun ada beberapa kesulitan untuk melakukan hal tersebut. Pertama, tidak semua sumber primer dapat ditemukan atau dalam kondisi yang baik. Arsip-arsip perusahaan Belanda yang pernah beroperasi di Indonesia sulit ditemukan mengingat perusahaan-perusahaan tersebut sudah diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Dan seperti telah dimaklumi, kesadaran tentang pentingnya arsip masih sangat lemah di antara orang Indonesia. Kedua, kesulitan mendapatkan akses untuk dapat meneliti arsip. Masalah birokrasi yang berlarut merupakan hambatan utama. Di salah satu lembaga yang akhirnya bisa diteliti arsipnya, pengurusan ijin memakan waktu hampir dua bulan. Ketiga, keterbatasan waktu untuk meneliti. Meskipun sesungguhnya faktor ini merupakan tantangan yang dihadapi oleh hampir semua peneliti.

Sumber primer yang terdiri sumber tertulis seperti arsip, koran akan digabungkan dengan sumber lisan yang didapatkan dari wawancara dengan beberapa narasumber yang menjadi pelaku maupun saksi dari peristiwa dan tema tersebut. Sedangkan sumber sekunder yang digunakan berupa buku-buku, artikel-artikel ilmiah dan prasaran-prasaran ilmiah yang berkaitan dengan tema penelitian. Buku ini merupakan hasil penyempurnaan dari hasil penelitian tesis S2. Sebagaimana judulnya, fokus masalah yang akan dibicarakan dalam buku ini ialah penguatan peran ekonomi negara sebagai akibat dari pengambilalihan perusahaanperusahaan Belanda pada tahun 1957-1959. Dalam bab ke-1 akan dibahas berbagai masalah yang muncul dalam ekonomi nasional pasca kemerdekaan Indonesia. Bab ke-2 akan membahas berbagai aspek yang berkaitan dengan pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda, dalam hal ini kontroversi terhadap kehadiran modal asing dan proses terjadinya pengambilalihan. Sedangkan pada bab ke-3 fokus pembahasan mengenai terbentuknya keseimbangan politik dan ekonomi yang baru setelah terjadinya pengambilalihan; yaitu ditandai dengan penguatan peran negara dalam ekonomi nasional. Penulisan buku ini berhasil diselesaikan dengan mendapat bantuan dari berbagai pihak. Penyebutan nama-nama mereka berikut ini kiranya tidak dapat menggantikan segala kebaikan yang telah saya terima. Ucapan terima kasih pertama-tama ingin saya sampaikan kepada DR. Susanto Zuhdi yang berkenan menjadi pembimbing sejak penyusunan rencana penelitian hingga penulisan tesis. Terima kasih juga saya haturkan kepada Prof. DR. R.Z. Leirissa, Prof. Dr. A.B. Lapian, Prof. Dr. Maswadi Rauf dan Dr. Masyhuri atas nasihat, pemikiran dan bimbingannya yang sangat berharga." Dalam penelusuran sumber primer saya mendapat bantuan dari Bapak Hutasoit yang bertugas di lembaga arsip Bank Indonesia dan Ibu Lies dari bagian arsip Sekretariat Negara Republik Indonesia. Sedangkan penelusuran sumber lisan banyak dibantu oleh kebaikan hati 'ayah' Chairul Basri yang membuka jalan untuk mewawancarai beberapa narasumber yang masih dapat ditemui. Pada kesempatan ini saya menyampaikan terima kasih kepada Bapak Moes Joenoes, Bapak Islam Salim, Bapak Martiman dan Bapak Soermano. Beliau-beliau tersebut telah bersedia meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Kepada rekan-rekan di Jurusan sejarah FSUI saya juga mengucapkan terima kasih atas perhatian dan dorongannya. Demikian juga kepada teman-teman mahasiswa di Program Studi Sejarah, terima kasih atas pertemanan dan persahabatan yang telah kita jalin. Buku ini tidak akan mungkin terwujud tanpa adanya kasih sayang dan pengertian dari keluarga. Karenanya, saya ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih dari lubuk hati terdalam kepada Bapak dan Ibu. Bapak adalah sumber inspirasi yang selalu mengingatkan saya bahwa hidup seorang manusia haruslah bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Sedangkan Ibu adalah suri teladan dalam sikap kesabaran dan ketabahan.

Saya juga menghaturkan rasa hormat dan terima kasih kepada Bapak dan Ibu mertua saya. Perhatian dan kasih sayang beliau berdua merupakan dorongan yang tidak ternilai. Selama ini saya sangat beruntung karena mendapat curahan cinta kasih dari seorang istri yang sangat mengerti pilihan hidup yang saya tempuh. Segala pengertian, kesabaran dan bantuannya merupakan sumber kekuatan bagi saya. Tidak lupa, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak penerbit Pustaka Sinar Harapan. Terutama kepada Bapak Aristides Katoppo, Ibu Stella Warouw, dan Mbak Iswanti. Akhir kata, buku ini diterbitkan dengan harapan dapat turut memberi andil bagi pengembangan penelitian dan penulisan sejarah Indonesia. Jakarta, Maret 2001 Bondan Kanumoyoso

satu Menuju Ekonomi Nasional


Kegiatan Belanda dalam melakukan eksploitasi ekonomi di Nusantara dapat dikatakan telah dimulai sejak akhir abad ke-17 melalui maskapai dagang VOC. Memasuki abad ke-19 kegiatan eksploitasi dilanjutkan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda hingga berlakunya Undang-Undang Agraria tahun 1870. Dengan berlakunya undang-undang tersebut prinsip eksploitasi masih dijalankan, namun peranan utama beralih dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda kepada pihak swasta. Secara keseluruhan sektor modern perekonomian selama periode HindiaBelanda (abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20) dikuasai pihak Eropa (dalam hal ini khususnya modal Belanda) yang lemah kaitannya dengan ekonomi pertanian penduduk pribumi. Aspirasi akan pembangunan ekonomi yang pesat sering disuarakan selama perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sedangkan tujuan utama dari para pembuat keputusan setelah kemerdekaan Indonesia ialah menghilangkan apa yang dikenal sebagai ekonomi kolonial. Di dalamnya juga terkandung gagasan untuk membebaskan ekonomi Indonesia dari ketergantungan yang besar sekali pada sektor pertanian serta ekspor bahan mentah, dan untuk menciptakan sistem perekonomian yang lebih seimbang. Pengaruh dari sistem politik dan ekonomi pemerintah kolonial Belanda, telah menyebabkan dominasi asing terhadap seluruh sumber daya ekonomi yang penting, bahkan hingga beberapa tahun kemudian sesudah Indonesia merdeka. Dalam kondisi demikian, tidak terhindarkan muncul sentimen anti-asing di kalangan orang Indonesia. Pada perkembangan penting berikutnya, muncul tekanan politik bagi pribumisasi pemilikan.

Keluar dari Belenggu Kolonial


Selama periode revolusi kemerdekaan (1945-1949), para pemimpin politik Indonesia telah mulai mencoba merumuskan konsep tentang ekonomi nasional dan mengartikulasikannya untuk menggantikan warisan ekonomi kolonial.1 Secara sederhana, aspirasi mereka dapat dibagi dalam dua arus utama, pertama ialah para ekonom pragmatis yang berpandangan bahwa investasi asing, sementara diperlukan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. Serangan mereka ditujukan sebatas pada 'kapitalisme jahat' yang dilakukan para imperialis yang mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia.

Konsep ekonomi nasional digunakan oleh Sukarno dan Hatta pada masa pendudukan Jepang (Sutter, 1959: 125-128, 260-262), dan oleh semua partai politik besar pada akhir dekade 1940 (Kahin, 1952: bab 10; Sutter, 1959: I 12-120).

Pandangan kedua mewakili sikap ekonomi yang lebih radikal. Kaum komunis dan nasionalis kiri berpendapat bahwa penyitaan kekayaan pihak asing sajalah yang mampu membebaskan perekonomian Indonesia dari hambatan-hambatan kaum imperialis. Mereka berpendapat bahwa perusahaan negara menjadi sarana tepat untuk membangun perekonomian nasional yang terpadu.2 Kedua pandangan utama tersebut tidak dengan sendirinya saling berlawanan, bahkan keduanya dikembangkan dengan hasil yang cukup baik selama periode demokrasi parlementer. Kendati demikian, terdapat ketegangan antara keduanya, karena perjuangan untuk memupus dominasi ekonomi asing bertentangan dengan investasi besar-besaran yang diperlukan untuk membangun industri-industri baru. Jalan keluar yang diupayakan dalam rangka meredakan ketegangan antara dua pandangan tersebut ialah munculnya pendapat untuk memberikan peranan utama harus diberikan kepada negara (Chalmers, 1996:100). Setidaknya, perusahaanperusahaan negara sajalah yang pada awalnya memiliki sumber daya ekonomi maupun legitimasi politik yang diperlukan untuk menempatkan perekonomian di bawah kontrol nasional. Dalam tahun 1950-an, hampir seluruh pemimpin politik mendukung penguasaan negara atas sektor-sektor ekonomi yang vital. Dalam pernyataan yang menentukan mengenai kebijakan ekonomi luar negeri, pada bulan Februari 1950 Presiden Soekarno menyatakan bahwa nasionalisasi merupakan soal bagi masa depan yang jauh di muka. Dan penciptaan perekonomian nasional terlebih dahulu menuntut mobilisasi semua sumber modal, dari dalam maupun luar negeri (Sutter, 1959: 1107-1108). Meski demikian, terdapat keinginan yang kuat di antara para pemimpin politik untuk terus memajukan para pengusaha pribumi. Semua kekuatan politik yang ada di Indonesia mendukung pribumisasi pemilikan sektor-sektor ekonomi yang penting.3 Tetapi jika sampai pada cara pelaksanaannya, maka perbedaan di antara para ekonom pragmatis yang banyak merumuskan kebijakan ekonomi akan muncul.

Pelopor dari pandangan tersebut adalah Tan Malaka melalui berbagai tulisannya dan terutama minimum program yang mendapat dukungan luas selama perjuangan revolusi kemerdekaan (Kahin, 1952: 172178). Gerakan paling ekstrim yang menganjurkan kebijakan pribumisasi ekonomi secara tegas adalah gerakan rasialis yang dilancarkan pada pertengahan tahun 1950-an oleh Assaat, politisi terpandang tanpa partai. Assaat menegaskan perlunya menarik garis pemisah yang tegas antara warga negara keturunan Tionghoa dan warga negara Indonesia asli, serta mendesakkan pemberlakuan undang-undang yang menetapkan bahwa semua perusahaan nasional harus dikelola dan didominasi pemilikannya oleh kaum pribumi (Tan, 1976:34-35).

Kalangan moderat menyukai langkah pribumisme kredit (credit indigenism) di mana intervensi negara terbatas pada pemberian subsidi kepada para pengusaha pribumi, dan tidak lebih dari itu. Sedangkan mereka yang sedikit radikal di dalam poros ekonom pragmatis lebih setuju untuk menggunakan pribumisme dekrit (decree indigenism) dimana intervensi negara secara langsung digunakan untuk menjatah kegiatan-kegiatan ekonomi tertentu bagi para pengusaha pribumi (Anspach, 1969:123-124). Bahkan jika perlu diambil tindakan pengusiran sama sekali pihak asing dari sektor-sektor ekonomi tertentu. Semua perbedaan paham yang terdapat di kalangan pemimpin berhaluan pragmatis menjadi lenyap di hadapan serangan-serangan dari para kritisi beraliran radikal pada paruh kedua dasawarsa 1950. Tuntutan-tuntutan yang bercorak nasionalis terus meraih kekuatan politis, terutama karena dominasi modal Belanda dalam sektor ekonomi terus berlanjut. Ketidakstabilan dunia politik akibat jatuh bangunnya kabinet menyebabkan sulitnya memastikan faktor-faktor terpenting dalam gelombang nasionalisme ekonomi yang memuncak. Namun ada satu hal yang patut digarisbawahi: kehadiran perusahaan-perusahaan asing (terutama milik Belanda) yang mengeruk keuntungan terbanyak sejak masa kolonial, tidak dapat dipungkiri telah menyakitkan bagi para pemimpin Indonesia. Karenanya, intervensi negara dalam dunia ekonomi tahun 1950-an, di samping bertolak dari keinginan untuk membentuk kelas menengah pribumi yang tangguh, juga bersumber dari sikap antipati terhadap modal asing itu sendiri.

Penerapan Berbagai Pola Kebijakan


Di tahun-tahun awal setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan tahun 1945, para pemimpin nasional hanya secara sepintas memperhatikan, isu-isu pembangunan. Perjuangan secara fisik maupun diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan dan melawan Belanda telah menyerap segenap perhatian mereka. Jika pun ada pembicaraan mengenai masa depan perekonomian Indonesia, fokusnya lebih ditujukan pada upaya rehabilitasi dan rekonstruksi untuk memperbaiki kehancuran yang diakibatkan oleh perang kemerdekaan. Meski demikian, bukan berarti pemerintah Indonesia yang baru terbentuk sama sekali tidak memiliki suatu pola kebijakan pembangunan. Menghadapi berbagai kesulitan dalam perundingan dengan pihak Belanda, telah mendorong Presiden Sukarno untuk membentuk Panitia Pemikir Siasat Ekonomi pada tanggal 12 April 1947 (Esmara dan Cahyono, 2000:137-138). Panitia pemikir yang dipimpin oleh Mohammad Hatta tersebut bertugas menyiapkan rencana dan strategi bagi pemerintah Republik Indonesia dalam menghadapi perundingan dengan Belanda dan penyelesaian soal-soal pembangunan negara.4

Dokumen Panitia Pemikir Siasat Ekonomi (Jakarta: 1947), seperti dikutip oleh Esmara dan Cahyono, 2000: 138.

10

Salah satu rencana yang berhasil disusun oleh Panitia pemikir siasat ialah Plan Mengatur Ekonomi Indonesia. Dalam rencana tersebut Dicantumkan upaya untuk mengalihkan kebijakan ekonomi politik Indonesia dari kepentingan Belanda ke arah kemakmuran rakyat Indonesia. Prioritas utama bukan lagi ekonomi ekspor, seperti pada zaman kolonial Hindia Belanda, melainkan memacu daya beli rakyat sebesar-besarnya. Strategi yang ditempuh untuk mencapai prioritas tersebut dengan mengintensifkan usaha produksi dalam negeri, meningkatkan kesejahteraan hidup, mempertinggi kecakapan dan kecerdasan rakyat, dan meningkatkan hubungan luar negeri. Setelah penyerahan kedaulatan pada akhir tahun 1949, masalah perekonomian yang dihadapi Indonesia telah berkembang semakin kompleks. Dalam masa kerja kabinet pertama pasca penyerahan kedaulatan, yang dipimpin oleh Mohammad Natsir dari Masjumi, pemerintah pada bulan April 1951 mengumumkan mulai dilaksanakannya Rencana Urgensi Perekonomian (RUP) (Chalmers, 1996:104). Pada mulanya RUP hanya dirancang untuk jangka waktu tiga tahun (1951-1953), tetapi kemudian diperpanjang menjadi lima tahun sampai dengan 1955. RUP ditujukan sebagai suatu bagian integral dari kebijakan umum di bidang ekonomi, dengan maksud membimbing berbagai kegiatan pemerintah dalam sektor industri, pertanian, dan pengawasan terhadap pembentukan perusahaanperusahaan baru. Tujuan lainnya ialah mengkonsolidasikan usaha industrialisasi dengan jalan mengaitkan industri besar dengan industri-industri kecil terutama di daerah pedesaan (Muhaimin, 1991:25). Sedangkan dalam jangka panjang, rencana ini dapat dikatakan sangat bercorak nasionalistis, yaitu mengurangi ketergantungan Indonesia kepada kepentingan ekonomi asing (Glassburner, 1971:85). Pola kebijakan pembangunan dalam RUP, dituangkan lebih lanjut dalam program pengembangan industri di Indonesia, atau lazim disebut sebagai Rencana Urgensi Perindustrian 1951-1952 (Esmara dan Cahyono, 2000:143). Di dalam rancangan tersebut, dengan tegas dikemukakan bahwa dasar pokok dari kebijakan bukanlah memberikan proteksi bagi pembangunan industri Indonesia. Melainkan lebih ditujukan untuk menghapuskan proteksi yang selama ini diberikan kepada perusahaan-perusahaan Belanda. Pemikiran yang terkandung dalam rancangan tersebut, merupakan perumusan dari berbagai gagasan yang sudah timbul sejak masa depresi ekonomi 1929, sampai periode pendudukan Jepang (Siahaan, 1986:190). Di masa kolonial, HindiaBelanda sangat bergantung pada barang luar negeri. Ketika Perang Dunia I (19141917) meletus, hubungan laut antara Hindia-Belanda dan Eropa terputus. Akibatnya arus ekspor dan impor terhenti. Kemacetan dalam sektor perdagangan luar negeri tersebut berdampak pada keguncangan pasar dalam negeri. Malapetaka tersebut nyaris mengakibatkan kehancuran perekonomian Hindia-Belanda. Sampai saat itu, barang-barang konsumsi yang dibutuhkan rakyat Hindia-Belanda masih didatangkan dari luar negeri, sehingga menimbulkan berbagai kesulitan.

11

Kemampuan untuk dapat membayar kebutuhan impor sangat bergantung pada fluktuasi perekonomian dunia. Padahal persediaan bahan baku untuk memproduksi berbagai barang konsumsi tersebut dihasilkan oleh Hindia-Belanda. Pengalaman pahit tersebut telah memunculkan beberapa gagasan untuk mengurangi dampak pengaruh luar terhadap perekonomian Indonesia. Gagasan untuk membangun perekonomian Indonesia membutuhkan dukungan dari suatu kelas menengah pribumi yang tangguh. Dalam rangka membangun kelas menengah pribumi tersebut, pemerintah Indonesia melaksanakan Program Benteng.5 Dengan mencadangkan impor barang-barang tertentu bagi kelompokkelompok bisnis pribumi, Program Benteng dimaksudkan untuk membuka kesempatan bagi para pedagang pribumi membangun basis modal di bawah perlindungan proteksi pemerintah. Pada tahun 1950 bank-bank mulai menyediakan kredit lunak kepada pengusahapengusaha pribumi, sementara kementrian perindustrian menggunakan wewenangnya untuk mengutamakan perusahaan-perusahaan pribumi (Chalmers, 1996:103). Beberapa lembaga bank yang dapat menyediakan bantuan kredit di antaranya adalah Bank Industri Negara (BIN) yang menyediakan kredit bagi bidang pertanian, pertambangan, dan proyek-proyek industri; Bank Negara Indonesia 1946 (BNI 46) sebagai penyedia kredit bagi para pengusaha yang bergerak di sektor ekspor dan impor; serta Yayasan Kredit yang dapat menyediakan pinjaman uang tanpa suatu jaminan (Burger, 1975: 171). Dalam rentang periode parlementer; secara garis besar terdapat dua fase yang memperlihatkan perbedaan yang kontras dalam pelaksanaan Program Benteng. Fase pertama adalah masa kekuasaan tiga kabinet yang awal6 setelah kembali ke negara kesatuan. Karakter politik ekonomi pada fase ini lebih menitikberatkan pada rasionalitas dan juga lebih realistis dalam merencanakan program kebijakan. Kabinet-kabinet pada periode ini terutama berusaha meningkatkan efisiensi dengan menekan pengeluaran dan mencoba memperkecil anggaran belanja negara secara realistis.7 Selain itu, dipersiapkan usaha untuk melakukan pembangunan industri serta program yang mendorong agar para pengusaha Indonesia lebih banyak terjun ke bidang perdagangan terutama kegiatan impor. Pada masa ini kabinet-kabinet tersebut sudah harus melawan desakan kuat yang menuntut nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan asing. Namun pemerintah memiliki alasan bahwa tindakan nasionalisasi hanya akan membawa kerugian karena kurangnya tenaga profesional Indonesia dan aksi semacam itu hanya akan mempersulit masuknya modal asing (Bartlett, 1986: 92-93).

Berbagai segi dari latar belakang dan pelaksanaan Program Benteng telah dibicarakan oleh Muhaimin (1990: 31-41, 75-91). Suatu penafsiran yang baik juga dilakukan oleh Robinson (1986: 42-65). Ketiga kabinet tersebut ialah; Kabinet Mohammad Natsir (September 1950-Maret 1951), Kabinet Sukiman (April 1951-Februari 1952), dan Kabinet Wilopo (April 1952-Juni 1953) Lihat misalnya pernyataan yang dikemukakan oleh Hatta dalam Noer (1990: 162-163, 548-557), rasionalisasi pada anggaran negara tidak jarang menimbulkan ketegangan, terutama jika menyangkut persoalan militer, masalah ini antara lain diuraikan oleh Sundhaussen (1986: 102-111)

12

Tetapi dalam suasana yang dipenuhi harapan-harapan semasa revolusi yang menginginkan perubahan cepat, sementara keadaan perekonomian masih suram, kebijakan kelompok moderat tersebut akhirnya menimbulkan oposisi dari kelompok yang berpandangan lebih radikal. Sikap tersebut menandai fase kedua Program Benteng yang titik tolaknya dengan terbentuknya Kabinet Ali Sastroamidjojo yang pertama. Dalam masalah luar negeri, Kabinet Ali mulai aktif menaikkan posisi Indonesia dalam perimbangan global dengan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pelopor pemimpin negara-negara dunia ketiga. Di dalam negeri, Ali mengambil langkah yang lebih tegas. Jika pada awal tahun 1953 para importir pribumi hanya menerima 37,9 % dari total ekspor-impor, maka mereka telah menerima 80-90% pada bulan ke-14 pemerintahan Kabinet Ali. Jumlah importir pribumi juga meningkat pesat. Kelompok Benteng yang berjumlah 700 perusahaan pada awal kabinet, hingga bulan November 1954 jumlahnya telah meningkat sampai 40005000 perusahaan (Feith, 1962: 374-375). Namun, justru dalam masa pemerintahan Kabinet Ali Sastroamidjojo yang pertama, timbul inflasi serius yang mengakibatkan perekonomian menjadi semakin kurang produktif. Masalah tersebut ditambah dengan berkembangnya favoritisme dari PNI (Partai Nasional Indonesia), partai Ali Sastroamidjojo berasal, dalam pengangkatan pegawai negeri. Sebagai akibatnya sejumlah besar pegawai negeri asal Jawa menduduki posisi yang tinggi di luar Jawa. Masalah-masalah tersebut masih ditambah lagi dengan suasana kampanye pemilihan umum yang pertama, dengan alokasi dana lebih banyak disalurkan ke Jawa yang jumlah penduduknya (pemilih) terbesar. Potensi ketegangan nasional semakin meningkat dan tidak terhindarkan lagi, baik secara politik maupun ekonomi. Pada bulan Agustus 1955, Kabinet Ali Sastroamidjojo digantikan oleh Kabinet Burhanuddin Harahap. Kabinet ini meskipun berusia singkat, dianggap cukup berhasil dalam mencapai sasaran-sasaran pembangunan ekonomi jangka pendek. Prestasi itu dicapai melalui perluasan pembentukan modal dengan jalan memperbaiki Program Benteng, membentuk Lembaga Alat-Alat Pembayaran Luar Negeri yang baru, tetap mengizinkan beroperasinya modal asing, serta memberikan bantuan kepada para pengusaha pribumi (Muhaimin, 1990:38). Dalam bidang politik luar negeri, Kabinet Burhanuddin Harahap telah membatalkan persetujuan Konferensi Meja Bundar pada tanggal 13 Februari 1956 (Glassburner, 1971:89). Pada masa pemerintahan Kabinet Ali Sastroamidjojo yang kedua (April 1956-Maret 1957) Program Benteng hanya sedikit sekali mendapat perhatian sampai akhirnya dihentikan sama sekali pada tahun 1957.

13

Pada bulan September 1956, Rencana Lima Tahun 1956-1960, yang telah disiapkan oleh Biro Perantjang Nasional (BPN) sejak tahun 1952, disetujui pelaksanaannya oleh kabinet. Berbeda dengan RUP yang sifatnya lebih umum, Rencana Lima Tahun secara keseluruhan bersifat eksplisit, teknis dan terperinci dan bahkan mencakup prioritas-prioritas proyek dari yang paling rendah. Juga terdapat perbedaan penekanan yang tidak ada di dalam RUP, yaitu perlunya suatu sistem perencanaan yang terpusat dan perlunya pemerintah memainkan peranan yang lebih besar dalam melaksanakannya. Tujuan utama dari Rencana Lima Tahun adalah mendorong industri dasar; perusahaan-perusahaan yang melayani kepentingan umum dan jasa dalam sektor publik, yang hasilnya diharapkan dapat mendorong penanaman modal dalam sektor swasta (Muhaimin, 1990:39). Tiap kementrian merancang berbagai proyek pembangunan berdasarkan skala prioritas yang telah ditetapkan BPN agar dapat segera berhasil secara maksimal. Secara keseluruhan, pelaksanaan Rencana Lima Tahun sangat bergantung kepada laju inflasi dan kesinambungan trend-trend produksi yang meningkat pada tahun-tahun sebelumnya. Pada kenyataannya, mulai awal tahun 1957 keamanan nasional mulai memburuk akibat berbagai pergolakan di daerah. Dengan terjadinya pergolakan di daerah tersebut, telah menyebabkan terputusnya hubungan antara pusat dengan daerah dan meningkatnya berbagai kegiatan penyelundupan barang ke luar negeri. Sementara itu ketidakstabilan politik,8 telah mendorong terjadinya inflasi. Perkembangan tersebut telah menciptakan keadaan yang kurang kondusif bagi pelaksanaan program pembangunan. Dalam situasi yang demikian, tuntutan-tuntutan ekonomi yang bercorak radikal terus meraih kekuatan politis, terutama lantaran berlanjutnya dominasi perusahaan-perusahaan Belanda terhadap perekonomian. Tanpa adanya penguasaan terhadap sektor-sektor ekonomi yang penting, para pemimpin Indonesia dapat dikatakan hanya menjalankan fungsi administratif dan pengawasan belaka terhadap perusahaan-perusahaan Belanda tersebut. Keadaan tersebut mengakibatkan pudarnya pengaruh kaum politisi moderat yang sejauh ini telah mendominasi perencanaan ekonomi. Pandangan moderat menjadi kalah karena mereka lalai menyadari bahwa selama modal Belanda tetap hadir, setiap upaya pembangunan akan digagalkan oleh pihak oposisi yang hendak meraih kekuasaan (Thomas dan Panglaykim, 1973: 52).

Berbagai ketegangan politik dipicu oleh kinerja kabinet Ali II yang kurang memuaskan dan perdebatanperdebatan mengenai dasar negara yang berlarut dalam konstituante. Pembahasan yang komprehensif mengenai kegagalan sistem demokrasi parlementer dapat ditemukan pada Feith (1962), sedangkan pembahasan tentang konstituante telah dilakukan oleh Nasution (1995).

14

Masalah-Masalah yang harus Diatasi


Masalah paling berat yang harus dihadapi oleh pemerintahan Indonesia sepanjang kurun tahun 1950-an adalah kelemahan di bidang administrasi negara. Sejak periode revolusi kemerdekaan berakhir pada akhir tahun 1949, pemerintah Indonesia yang berdaulat mulai memikul kewajiban untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kewajiban itu merupakan salah satu di antara tugas-tugas pemerintah yang paling mendesak untuk segera dilaksanakan. Berbagai upaya perbaikan yang kemudian dilaksanakan memerlukan peraturan pemerintah, perencanaan dan pengawasan yang seksama, serta lembaga pelayanan umum yang cakap dan memiliki sarana yang memadai. Sementara itu, sebagai dampak dari pendudukan Jepang (1942-1945) dan periode perang kemerdekaan (1945-1949) telah mengakibatkan kehancuran bagi perekonomian Indonesia. Sebagian besar fasilitas komunikasi dan transportasi, instalasi minyak, perkebunan, dan beberapa usaha industri yang ada sejak masa sebelum perang telah rusak berat atau hancur sama sekali (Kahin dan Kahin, l997:45). Masalah tersebut masih ditambah hutang yang harus dibayar oleh Indonesia berdasarkan persetujuan Konferensi Meja Bundar (KMB) sebagai hasil pelimpahan hutang dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Masa pemerintahan Indonesia di awal tahun 1950-an ditandai dengan adanya ketimpangan antara harapan dengan realita yang dihadapi. Harapan-harapan untuk mewujudkan kedaulatan ekonomi sebagai hasil dari kedaulatan politik yang telah dicapai, tidak dapat diwujudkan dengan segera. Tingkat kesejahteraan penduduk justru merosot. Pada tahun 1951, pendapatan perkapita orang Indonesia sebanyak 28,3 gulden, yang berarti lebih rendah dari pendapatan perkapita pada masa malaise Hindia-Belanda (1930), yaitu sebesar 30 gulden (Sjahrir, 1986:73). Dengan demikian, program pembangunan ekonomi seperti RUP dan Program Benteng telah dilaksanakan dalam kondisi ekonomi dengan tingkat kemakmuran yang rendah. Masalah lainnya ialah kurangnya pengalaman dari aparatur negara dalam melaksanakan dan mengawasi rencana tersebut secara birokratis. Meskipun setiap pemerintahan yang silih berganti berusaha mewujudkan struktur perekonomian nasional secepatnya, namun jelas pada periode Demokrasi Parlementer, jalan perubahan struktur ekonomi lebih bersifat evolusioner ketimbang revolusioner. Pada tahun 1952-1953, anggaran bagi pelaksanaan RUP ditetapkan sekitar Rp.160 juta dan dimaksudkan untuk membangun perusahaan dan pabrik-pabrik secara bertahap (Muhaimin, 1991:73). Sedangkan industri kecil diberi anggaran yang tidak begitu besar, hanya Rp.30 juta. Secara umum hasil yang dicapai dalam pelaksanaan RUP, sangatlah minim dan lamban.

15

Pembiayaan pembangunan pabrik-pabrik industri besar yang dianggap vital dilakukan oleh pemerintah melalui Bank Industri Negara (BIN), maupun patungan antara swasta dan pemerintah. Pengelolaan pabrik-pabrik yang dibiayai negara nantinya akan diserahkan kepada koperasi-koperasi swasta atau manajemen gabungan antara swasta dan pemerintah. Namun secara umum pemerintah tetap berfungsi sebagai pemilik dan bertanggung jawab bagi pelaksanaan manajemen. Secara keseluruhan kinerja pabrik-pabrik tersebut mengecewakan karena kurangnya tenaga profesional yang berpengalaman di bidang manajemen. Demikian juga tenaga buruh yang ada kurang memadai, karena upah yang disediakan tidak menarik. Masalah lainnya yang membelit adalah sedikitnya ahliahli di bidang teknik, administrasi negara yang buruk, tidak adanya koordinasi antara jawatan pemerintah dan penurunan keuangan negara. Upaya mempercepat pertumbuhan industri diupayakan dalam RUP dengan jalan memperbaiki dan memperluas beberapa lembaga penelitian. Di antaranya ialah Lembaga Penelitian Industri, Lembaga Penelitian Kimia, Lembaga Penguji Bahan, Lembaga Kulit, Lembaga Tekstil dan Lembaga Keramik (Siahaan, 1996:229-231). Pemerintah merencanakan agar lembaga-lembaga penelitian tersebut dapat membantu para pengusaha melakukan studi kelayakan, perhitungan teknis atau laporan keuangan. Akan tetapi kurangnya personil yang terlatih, perlengkapan dan dana yang memadai telah menyebabkan sulitnya pengoperasian lembaga-lembaga tersebut. Masalah yang tidak terlalu berbeda juga dialami dalam pelaksanaan Program Benteng. Namun dalam pelaksanaan Program Benteng, permasalahan masih ditambah dengan penyalahgunaan dalam mengalokasikan lisensi impor. Semua kabinet yang memerintah pada periode 1950 sampai Maret 1955 diduga telah memberikan lisensi impor atas dasar favoritisme dan pertimbangan-pertimbangan politik. Dalam Program Benteng terlihat jelas bahwa mereka yang menerima fasilitas lisensi impor bukanlah mereka yang memiliki potensi kewiraswastaan tinggi. Melainkan cenderung mereka yang mempunyai hubungan khusus dengan kalangan birokrasi yang berwenang mendistribusikan lisensi dan kredit (Sutter, 1959:1052). Akibatnya, kebanyakan pengusaha yang masuk Program Benteng tidak menjalankan perusahaan-perusahaan impor yang sesungguhnya. Mereka hanya membeli lisensi untuk memperoleh kemudahan fasilitas dari pemerintah dan menjualnya kepada pengusaha impor yang sesungguhnya yang kebanyakan adalah keturunan Tionghoa atau peranakan.9

Konsep peranakan mengacu kepada imigran-imigran yang dilahirkan di Indonesia. Lawan peranakan ialah totok, yaitu orang Tionghoa Indonesia yang dilahirkan di Cina. Pembahasan mengenai perbedaan di antara dua konsep itu antara lain terdapat dalam Coppel (1994:30-3G)

16

Pada awal tahun 1955, direktur Kantor Pusat Urusan Impor (KPUI), Ahmad Ponsen, memperkirakan hanya terdapat sekitar 50 perusahaan impor yang bonafide, sedang 200 perusahaan impor lainnya hanya perusahaan impor 'papan nama' (Sutter, 1959:1018-1021). Ini berarti bahwa lebih dari 90% importir yang terdaftar hanyalah merupakan penjual lisensi atau yang dikenal dengan importir aktentas (Dick et.al., 1999:203). Berbagai masalah yang muncul dalam pelaksanaan Program Benteng telah menunjukkan bahwa upaya membangun suatu kelas menengah pribumi yang kuat bukanlah hal yang mudah. Celah-celah kelemahan di dalam peraturan-peraturan yang dikeluarkan, telah dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan politik maupun oleh para importir aktentas. Pelaksanaan Program Benteng lebih mendorong para pengusaha pribumi untuk mengejar keuntungan yang cepat, ketimbang bekerja keras menjadi pengusaha tangguh. Masalah lain yang cukup berpengaruh dalam periode Demokrasi Parlementer adalah masalah ketimpangan antara pusat dan daerah. Kurang dari setahun setelah penyerahan kedaulatan, ketidakpuasan daerah terhadap pemerintah pusat mulai tampak (Kahin dan Kahin, 1997:67). Pemerintah telah dianggap gagal dalam mengambil tindakan-tindakan efektif untuk mengembangkan perekonomian di daerah-daerah luar Jawa. Sejak masa kolonial Hindia-Belanda, pembangunan berjalan timpang di antara Pulau Jawa dan pulau-pulau di luar Jawa. Jawa menjadi daerah yang paling maju di sektor infrastruktur pemerintahan, pendidikan, sistem perhubungan, dan sebagainya. Di Jawa terdapat pemerintahan pusat dan semua lembaga perdagangan, keuangan, pendidikan, serta agama. Kondisi di luar Jawa sangat jauh dibandingkan dengan kondisi di Pulau Jawa. Pembangunan tidak diperhatikan, bahkan pembangunan infrastruktur dikembangkan sejauh hanya mendukung kepentingan-kepentingan pemerintah dan perdagangan. Bahkan lebih dari itu, Pulau Jawa yang dihuni oleh 45% dari seluruh penduduk Indonesia ini, untuk kelangsungan hidupnya sangat tergantung pada barangbarang impor. Barang-barang tersebut dibayar dengan pendapatan devisa melalui ekspor minyak, timah, karet, dan kopra dari luar Jawa. Situasi tersebut secara potensial telah menyulut ketegangan, karena penduduk di luar Pulau Jawa yang menghasilkan barang ekspor merasa dieksploitasi oleh orang Jawa (Feith, 1962:27; Lev, 1966:3). Pada proses perkembangan terbentuknya negara kesatuan pada tahun 1950, penentangan-penentangan terhadap pemerintah pusat muncul semakin kuat. Juru bicara daerah mengecam pusat. Di satu pihak, tidak memberi otonomi pada daerah, namun di lain pihak, tidak memberi anggaran yang cukup (Feith, 1962:487-488). Mereka merasa didominasi suku Jawa yang memegang bagian besar posisi kunci dalam pemerintahan pusat dan dalam struktur pemerintahan daerah yang diatur dari pusat.

17

Kebijakan penerapan sistem devisa yang dipaksakan oleh pemerintah pusat membawa dampak yang besar terhadap luar Jawa dan menimbulkan protes yang meluas. Program Benteng, yang terutama menguntungkan perusahaan-perusahaan dagang di Jawa, justru merugikan para eksportir dan penghasil barang ekspor di luar Jawa (Feith, 1962,488). Pada pertengahan tahun 1950-an, ketidakpuasan yang semakin besar telah mendorong para panglima daerah, terutama di Sumatera Utara dan Indonesia Timur; melakukan penyelundupan barang-barang komoditi. Mereka mulai mengekspor hasil-hasil daerah tanpa lisensi pemerintah pusat, dan menggunakan uang hasil perdagangan untuk membiayai pembangunan daerah. Praktek penyelundupan yang dilakukan secara terang-terangan ini telah menantang kewibawaan pemerintah.10 Walaupun pemerintah pusat berusaha menghentikan kegiatan penyelundupan ini tetapi tidak berhasil. Perkembangan dari situasi tersebut adalah munculnya berbagai tuntutan untuk memperoleh otonomi daerah yang lebih besar, yang disampaikan ke pemerintah pusat, tetapi tuntutan tersebut tidak mendapat jawaban yang memuaskan (Leirissa, 1997:10-1l). Ketegangan ini akhirnya berujung pada pergolakan daerah yang dikenal dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera, dan Perjuangan Semesta Alam (PERMESTA) di Sulawesi. Akibat pergolakan daerah yang terjadi tenis-menenis, akhirnya mengancam kesatuan dan persatuan wilayah Republik Indonesia. Penentangan daerah terhadap dominasi pusat bukan hanya menunjukkan ketegangan potensial antara Jawa dengan luar Jawa yang telah berlangsung sejak masa kolonial Hindia-Belanda. Pergolakan tersebut juga menunjukkan adanya konflik politik antara tokoh-tokoh daerah dengan pemerintah pusat, dan memperlihatkan bahwa pembangunan integrasi ekonomi nasional lebih merupakan harapan ketimbang kenyataan. Diharapkan, terwujudnya integrasi ekonomi nasional dapat menghilangkan dikotomi antara Jawa dan luar Jawa. Tetapi selain masalah dikotomi tersebut, gagasan untuk mewujudkan ekonomi nasional menghadapi tantangan lain yang juga tidak kalah besarnya. Tantangan tersebut ialah dominasi modal asing, terutama modal Belanda, dalam sektor-sektor penting ekonomi Indonesia yang menyebabkan gagasan untuk mencapai kedaulatan ekonomi menemui hambatan besar.

10

Masalah penyelundupan yang terkenal antara lain terjadi di Bitung (Sulawesi Utara) dan Teluk Nibung (Sumatera Utara). Kasus-kasus tersebut merupakan bagian dari masalah perpecahan di dalam Angkatan Darat dan puncak dari pertentangan antara pusat dan daerah (Leirissa, 1997; Harvey, 1989).

18

Dominasi Perusahaan-Perusahaan Belanda


Kegagalan dalam upaya untuk mewujudkan ekonomi nasional secepatnya, sebagian besar ditafsirkan oleh para pemimpin Indonesia sebagai kegagalan mengatasi dominasi perusahaan-perusahaan Belanda. Konferensi Meja Bundar yang ditandatangani para pemimpin republik di Den Haag pada tahun 1949 memuat jaminan bahwa hak-hak yang diberikan kepada modal asing akan dihormati. Dengan itu berarti perusahaan-perusahaan Belanda tetap mengendalikan sektor-sektor ekonomi yang utama. Modal asing di Indonesia sebelum tahun 1930, sebagian besar bergerak di bidang perkebunan dan pertambangan yang memang membawa keuntungan besar (Chalmers, 1996:97). Beberapa produsen asing mulai menanamkan modalnya pada penghujung tahun 1920-an, mengawali arus investasi asing yang semakin deras masuk pada era 1930-an. Investasi yang masuk tersebut mulai merambah ke bidang-bidang selain perkebunan dan pertambangan. Modal asing yang masuk itu antara lain pabrik perakitan General Motors, dua buah pabrik British and American Tobacco, sebuah pabrik tekstil Belanda yang besar dan sebuah pabrik kapas Jerman. Sekitar tahun 1930-an Unilever membuka sebuah pabrik sabun dan margarin, perusahaan Goodyear membuka pabrik ban. Dalam periode yang sama, perusahaan besar Belanda; Lindeteves memulai produksi cat. Di luar itu banyak sekali investasi asing yang membangun pabrik cat, tinta, sepeda, bola, lampu, listrik, radio, kosmetika dan baterai (Soehoed, 1967:66). Sumber utama dari investasi asing yang masuk ke Indonesia kebanyakan berasal dari negeri Belanda. Maksud pemerintah kolonial mengijinkan masuknya investasi tersebut untuk melayani negeri induk (Belanda) dalam perekonomian di tanah jajahan. Pada awal pecah Perang Dunia II diperkirakan negeri Belanda memiliki pangsa investasi langsung di Hindia-Belanda sekitar 63%, diikuti oleh Inggris (14%) dan Amerika Serikat (7%) (Hill, 1990:11). Angka-angka ini masih merupakan perkiraan kasar. Sekitar 80% dari modal swasta asing bukan Belanda bergerak dalam sektor perkebunan. Sebagai contoh; Inggris pada tahun 1922 menanam modalnya di sektor perkebunan sebesar 245 juta gulden (77,5%), sedang dalam industri pengolahan hanya sebesar 55 juta gulden (22,5%) dari nilai investasi perkebunan (Siahaan, 1996:57). Pada saat yang sama, investasi Amerika serikat dalam sektor perkebunan mencapai 28 juta gulden (70%), sedang dalam sektor industri pengolahan hanya 7 juta gulden (29%). Lihat lampiran berikut, yang menunjukkan nilai penanaman modal menurut negara asal dari tahun 1922 - 1940.

19

Nilai Penanaman Modal Menurut Negara Asal Tahun 1922 dan 1940 (dalam jutaan gulden)
Negara Asal Belanda Inggris Amerika Lain-lain Jumlah Investasi Pemerintah Investasi Swasta Industri Industri Perkebunan ,Jumlah Gula Lain 1922 1940 1922 1940 1922 1940 1922 1940 322 420 545 1.017 1.290 1.160 2.159 2.634 245 200 55 260 300 460 28 100 7 195 35 295 3 127 150 18 100 148 250 325 420 945 1.497 1.370 1.715 2.642 3.639 1.250 2.389

Sumber: Creutzberg, Changing Economy Indonesia, Vol.III, 1977.

Sejak pertengahan periode tahun 1930-an, pemerintah kolonial mulai melaksanakan kebijakan-kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 1933 dikeluarkan peraturan tentang pembatasan impor barang manufaktur dari Jepang; pada tahun 1937 Departemen Urusan Ekonomi mulai merumuskan strategi pembangunan jangka panjang; sedangkan pada tahun 1941 Industrie-plan yang dirancang mengusulkan agar perusahaan-perusahaan negara membangun sembilan pabrik berskala besar untuk menghasilkan bahan baku industri (Chalmers, 1996:97). Bila pada awal abad ke-19 pertumbuhan industri pengolahan di Hindia-Belanda didorong oleh sektor pertanian seperti tembakau, gula, karet, teh, kopi dan kelapa sawit, maka sejak awal abad ke-20 inisiatif pembangunan diambil alih oleh berbagai perusahaan dagang. Merekalah yang menjadi pendorong bagi lahirnya industri modern. Namun demikian, tetap saja mayoritas perusahaan-perusahaan dagang tersebut adalah perusahaan-perusahaan Belanda. Perusahaan-perusahaan Belanda yang bergerak dalam bidang perdagangan tersebut terdiri dari beberapa macam. Ada yang hanya merupakan kantor cabang suatu perusahaan asing. Ada pula perusahaan lokal yang mewakili perusahaan luar negeri atau menjadi agen tunggal. Tetapi terdapat pula perusahaan yang sudah berdiri sendiri terlepas dari perusahaan induknya di luar negeri (Siahaan, 1996:72). Bahkan terdapat beberapa perusahaan berbadan hukum dan berdomisili di Hindia-Belanda yang sudah mempunyai beberapa anak perusahaan. Perusahaan-perusahaan Belanda terbesar yang dikenal dengan The Big Five, berkembang dengan amat cepat. Di antara lima perusahaan dagang Belanda yang terbesar di Hindia-Belanda, NV Internatio dan NV Borsumij mempunyai perusahaan industri yang terbanyak, masing-masing lima dan enam perusahaan. Sedangkan Jacobson van den Berg hanya memiliki tiga perusahaan industri. Lampiran berikut memperlihatkan kepemilikan perusahaan-perusahaan dagang Belanda yang memiliki usaha industri.

20

Perusahaan Dagang yang Memiliki Usaha Industri


No 1. 2. Nama Perusahaan Dagang Handel Mij Gutzel Jacobson van den Berg & Co. Nama Industri Archipel Brouwerij Co. (minuman) & Schumacher Ho Ho Biscuit Factory (Java) Ltd. (pabrik biskuit) Sigaretten fabriek Industria (pabrik rokok putih) Net. Indische Schrijfwaren fabriek h. Talens & Zonen (pabrik alat-alat kantor) Infabrieken H. Van Gibborn (pabrik tinta) Pieter Schoen & Zonen (pabrik tinta dan cat ) Linde & Teves Nivat Vaten Fabriek (pabrik drum) Batavia Arak Maatschappij (pabrik minuman mengandung alkohol) Arak Fabriek Aparak (pabrik Oost-Indie minuman mengandung alkohol ) National Carbon Company Handel Mij (pabrik baterai) Cawsey's Vruchten Producten Fabriek (pabrik pengalengan buah-buahan) Romaniet Fabriek (pabrik mesiu) Archipel Brouwerij Compagnie (pabrik bir) NV Chemische Industrie & Handel Mij (pabrik asam belerang) NV Javasche Koolzuur Fabriek (pabrik asam arang) NV Morton Java Mij (pabrik kembang gula) NV Papier Fabriek Padalarang (pabrik kertas) NV Papier Fabriek Leces (pabrik kertas) NV Pers & Stampwerfabr Ngagel (pabrik kaleng) NV Jacatra (pabrik kulit) NV Asbest (pabrik asbes) NV Ligvoet (pabrik ubin) NV Fiscal C.W. (perakitan sepeda) NV Soerabaya (pabrik aki)

3. 4.

G. Kolff & Co. Ned. Indische Mij. Van der

5. 6. 7. 8.

R.F. Van der Mark Handels Vereeniging L.E. Tels & Cu's Geo Wehry & Cos

9.

NV Internatio (Internationale Crediet & Handels Vereeniging Rotterdam)

10.

NV Borsumij (Borneo Sumatera Handel Mij)

Sumber: Siahaan, I996:73.

21

Perkembangan ekonomi pasca penyerahan kedaulatan tidak banyak mengalami perubahan dari periode kolonial Hindia-Belanda. dan itu berarti perusahaanperusahaan Belanda tetap mengendalikan sektor-sektor perekonomian yang utama. Para pengusaha pribumi hanya bergerak di bidang industri kerajinan tangan. Sementara industri pengolahan untuk tujuan ekspor dikuasai oleh modal asing, terutama Belanda (Hill, 1991:14). Keunggulan manajemen dan jaringan pemasaran ke seluruh pelosok Indonesia yang dimiliki perusahaan-perusahaan Belanda tersebut, menjadi kunci keberhasilan dalam mengendalikan sektor modern ekonomi Indonesia. Kelima perusahaan besar itu antara lain: 1. NV Borsumij: Kegiatannya terutama berada pada bidang perindustrian yang dapat kita lihat dari anak perusahaannya seperti; pabrik bir Oranye Brouwerij, pabrik tekstil Nebritex dan beberapa apotik. 2. NV Jacobson van den Berg: Perusahaan ini terutama bergerak di bidang perdagangan ekspor dan impor. Kegiatan utamanya distribusi barang dan pengumpulan komoditi untuk diekspor. Dengan organisasinya yang teratur disertai keahlian yang dimiliki, perusahaan ini dapat menyalurkan barang ke seluruh penjuru Indonesia. 3. NV Internatio: Perusahaan ini titik berat kegiatannya bidang perkapalan. Beberapa perwakilan maskapai kapal dikelola oleh perusahaan ini, di samping beberapa anak perusahaan yang bergerak di bidang industri tekstil dan perkebunan. Perusahaan ini memiliki 60 kantor cabang dan mempunyai buruh kurang lebih 2000 orang. 4. NV Lindeteves: Perusahaan ini bergerak di bidang perindustrian dan peralatan teknik untuk keperluan industri dalam negeri. Perusahaan ini memiliki 6 kantor cabang dan membawahi kurang lebih 2000 orang buruh. 5. NV Geo Wehry & Co: Perusahaan ini sejak tahun 1867 telah beroperasi di Hindia-Belanda. Kegiatan utamanya bergerak di bidang perkebunan. Perusahaan ini mempunyai 28 perkebunan di Indonesia, dengan komoditi antara lain; teh, kina dan karet. Di samping itu perusahaan ini juga bergerak di sektor perdagangan dalam negeri.11 Demikian luasnya bidang usaha yang digeluti oleh perusahaan-perusahaan Belanda, terutama The Big Five, maka tidaklah mengherankan bahwa sektor perdagangan besar yang meliputi kegiatan ekspor dan impor hampir seluruhnya mereka kuasai. Sementara dalam bidang perhubungan, sangat Sulit bagi perusahaan pelayaran pemerintah PELNI (pelayaran Nasional Indonesia) untuk mengatasi monopoli Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM),12 perusahaan pelayaran milik Belanda.

11

12

Daftar lima perusahaan terbesar milik Belanda yang dikenal dengan The Big Five beserta seluruh kegiatannya dapat dilihat pada Surat Kabar Mingguan Warta Niaga dan Perusahaan, 28 Maret 1959. Selain memiliki jaringan yang luas, KPM juga memiliki reputasi pelayanan yang bermutu tinggi. Kapalkapalnya hampir semua beroperasi setelah memperhitungkan pengalaman perusahaan sehingga sesuai untuk trayek tertentu. Perhatian yang baik diberikan atas penanganan muatan dan klaim diselesaikan secara cepat dan memuaskan (Dick. 1990:24).

22

Di bidang produksi hasil ekspor terlihat gambaran yang tidak berbeda. Pemilikan, peranan dan penguasaan perusahaan-perusahaan Belanda masih demikian besar, seperti: Handels Vereeniging Amsterdam (HVA), Rubber Cultuur-Maatschappij Amsterdam (RCMA), Deli Maatschappij serta Banka en Biliton Tin Maatschappij (Oey, 19)1:135). Hingga tahun 1958, hampir 80% dari hasil-hasil perkebunan Indonesia yang mengalir ke Eropa ditampung oleh pedagang-pedagang Belanda di Amsterdam atau Rotterdam. Hal ini tidak dapat dihindari karena perkebunan-perkebunan besar di Indonesia yang tadinya sebagian besar dikuasai oleh Belanda, mempunyai cabang atau kantor pusatnya di negeri Belanda yang bertindak sebagai pelelang hasil-hasil produksinya. Dari produksi perkebunan Indonesia tersebut, dua komoditi yang memiliki nilai terbesar ialah; tembakau ( 200 juta gulden per tahun), dan teh ( 65 juta gulden per tahun).13 Dari paparan di atas, tampak hampir semua sektor ekonomi modern Indonesia sampai akhir tahun 1957 masih dikuasai oleh modal Belanda. Keadaan ini mendatangkan rasa frustasi bagi sebagian besar pemimpin Indonesia. Upaya untuk mewujudkan ekonomi nasional akan selalu terhalang selama modal asing, dalam hal ini Belanda, masih beroperasi di Indonesia. Salah satu jalan keluar yang dipikirkan untuk mengakhiri dominasi perusahaan Belanda ialah dengan jalan melakukan nasionalisasi. Untuk melakukan nasionalisasi dibutuhkan suatu alasan kuat yang dapat dijadikan dasar legitimasi. Momentum itu didapat dengan semakin memburuknya hubungan Indonesia dengan Belanda berkaitan dengan masalah Irian Barat.

Perkembangan Masalah Irian Barat


Terdapat satu isu besar yang menyatukan seluruh pemimpin Indonesia sepanjang dasawarsa 1950-an, yaitu masalah Irian Barat (Kahin dan Kahin, 1997:56). Hasil Konferensi Meja Bundar tahun 1949 menyatakan Indonesia mendapat penyerahan kedaulatan dari Belanda. Namun masalah Irian Barat merupakan masalah tersendiri yang disepakati akan diselesaikan dalam waktu satu tahun kemudian. Tuntutan Indonesia terhadap Irian Barat dilandasi oleh semangat yang berakar pada masa pergerakan nasional. Selama masa pergerakan, sejumlah pemimpin politik termasuk Mohammad Hatta dan Sjahrir pernah diasingkan di Tanah Merah (Boven Digul). Tempat pengasingan ini terletak di Irian Barat bagian Tenggara di dekat Merauke. Selain itu, selama perjuangan kemerdekaan, salah satu slogan yang sering dikumandangkan untuk mencapai kedaulatan nasional menyatakan Indonesia Merdeka dari Sabang hingga Merauke.

13

Komoditi lainnya yang mendatangkan keuntungan bagi perusahaan-perusahaan Belanda antara lain; minyak dan biji kelapa sawit, karet, kopi, kopra dan tapioca. Lihat Warta Niaga dan Perusahaan, 21 Februari 1958.

23

Sedangkan bagi Belanda, Irian Barat dalam semua segi lebih erat berkaitan dengan daerah Pasifik, Oceania, dan Melanesia. Karena itu, Belanda berkesimpulan bahwa penyerahan pemerintahan Irian Barat kepada Indonesia bertentangan dengan kepentingan penduduk asli. Berdasar alasan bahwa dengan penyerahan pemerintahan itu secara otomatis hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Irian Barat terabaikan. Hal itu, menurut Belanda, bertentangan dengan piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Alasan lain yang dikemukakan, karena Indonesia belum cukup mendidik penduduk asli baik secara ekonomi, modal, tenaga kerja dan lainnya (Pigay, 2000:178-179); dan alasan perbedaan agama yang menonjol antara penduduk asli Irian Barat dengan mayoritas rakyat Indonesia. Sebagai kelanjutan dari KMB, sempat diadakan beberapa konferensi antara Indonesia dengan Belanda yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah Irian Barat.14 Dalam konferensi-konferensi tersebut Indonesia mengajukan tuntutan yang pada intinya ialah; Belanda harus menyerahkan kedaulatan Irian Barat kepada Indonesia. Belanda selalu menolak tuntutan tersebut. Dalam persepsi Belanda, Irian Barat merupakan bagian dari South Pacific Commission (SPC). Lembaga tersebut dibentuk oleh negara-negara penjajah di Pasifik dalam rangka memberikan kemerdekaan bagi wilayah-wilayah Melanesia di Pasifik Selatan.15 Bagi Belanda, Irian Barat merupakan daerah Neo-landschap yang ada di bawah dan diperintah langsung oleh mahkota Belanda (Pigay, 2000:174). Pembicaraan untuk menyelesaikan masalah Irian Barat telah berlangsung tanpa tercapainya suatu titik temu. Baik Indonesia maupun Belanda tetap menganggap wilayah itu sebagai bagiannya. Bagi kedua belah pihak, hampir dapat dikatakan tidak ada kompromi. Pada tanggal 15 Februari 1952, saat perundingan dengan Indonesia mengenai status Irian Barat sedang berlangsung, parlemen Belanda secara sepihak memutuskan untuk memasukkan wilayah Irian Barat ke dalam wilayah kerajaan Belanda (Kahin dan Kahin, 1997:57). Setelah itu, Belanda menolak mengadakan semua bentuk perundingan untuk membicarakan masalah Irian Barat dan menganggap masalah itu telah selesai. Target penyelesaian masalah Irian Barat yang ditetapkan KMB, diberi jangka waktu satu tahun, namun ternyata tidak berhasil dicapai. Masalah ini akhirnya berkembang menjadi suatu konfrontasi yang setiap saat berpotensi untuk pecah menjadi konflik terbuka. Untuk mendapat dukungan yang lebih besar, baik Indonesia maupun Belanda kemudian membawa masalah Irian Barat ke tingkat forum internasional.

14

15

Sempat diadakan beberapa konferensi Uni Indonesia-Belanda yang dalam agendanya menyangkut penyelesaian masalah Irian Barat. Konferensi pertama diadakan pada Maret-April 1950 di Jakarta, konferensi kedua diadakan pada Desember 1950 di Den Haag, negeri Belanda, sedangkan konferensi ketiga diadakan pada bulan Desember 1951 (Pigay, 2000:177- 180) Persepsi Belanda ini sejalan dengan persepsi Australia, yang beranggapan bahwa secara budaya, etnik serta pandangan hidup penduduk Irian Barat lebih banyak memiliki kesamaan dengan penduduk Papua Nugini dibanding dengan penduduk Indonesia lainnya (George, 1986:222-227).

24

Sidang Umum PBB ke-9 dilaksanakan pada tanggal 21 September 1954, membuka kesempatan bagi Indonesia untuk mengajukan memorandum mengenai masalah Irian Barat (Pigay, 2000:184). Pada sidang umum tersebut, pidato menteri luar negeri Indonesia, Mr. Sunario, yang juga ketua delegasi Indonesia membela tuntutan Indonesia atas Irian Barat. Berbagai tanggapan muncul atas pidato tersebut. Dukungan terhadap Indonesia datang dari negara-negara Asia, Afrika serta beberapa negara Blok Timur. Tetapi negara-negara Amerika Latin, Eropa Barat dan Australia mendukung penuh kedudukan Belanda atas Irian Barat. Masalah Irian Barat kembali dibicarakan dalam Sidang Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1954. Dalam sidang tersebut resolusi Indonesia gagal mencapai 2/3 target suara yang diharuskan. Maka sejak itu masalah Irian Barat dikesampingkan dari persidangan-persidangan Majelis Umum PBB. Kegagalan resolusi tersebut, dalam parlemen Indonesia dimanfaatkan oleh Partai Masjumi untuk mengajukan mosi tidak percaya terhadap kebijakan pemerintah menyangkut masalah Irian Barat (Ricklefs, 1991:373). Walaupun mosi itu kemudian gagal, tetap terungkap bahwa pihak oposisi dapat mengumpulkan demikian banyak, suara. Dengan demikian hanya kerjasama dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam parlemen yang dapat menjamin kelangsungan hidup pemerintah. Masalah Irian Barat yang tidak berkesudahan kemudian digunakan oleh berbagai kekuatan politik di Indonesia untuk menggalang dukungan. Pihak yang paling banyak mengambil keuntungan dari situasi tersebut adalah PKI. Partai ini pernah dihancurkan pemerintah pada tahun 1948 dalam peristiwa Madiun. Dengan menonjolkan warna nasionalnya dan menjauhkan diri dari Uni Soviet dan Cina, PKI berhasil menarik simpati Presiden Sukarno. Kemahiran PKI dalam memainkan isu Irian Barat telah mendorong kembali kebangkitan PKI. Dalam setiap tuntutan terhadap Irian Barat, PKI selalu memberikan dukungan penuh. Melalui dukungan tersebut PKI menempatkan dirinya di tengah arus semangat nasionalisme yang penuh semangat (Kahin dan Kahin, 1997:57). Dengan demikian PKI berusaha meraih simpati secara luas dan mencapai posisi penting sebagai suatu partai politik.16 Dalam forum internasional, setelah kegagalan di PBB tahun 1954, pemerintah Indonesia secara konsisten tetap mencari dukungan untuk penyelesaian masalah Irian Barat. Perjuangan tersebut diwujudkan pada konferensi Asia-Afrika di Bandung, Jawa Barat, pada bulan April 1955. Dalam komunike akhir konferensi tersebut, negara-negara Asia dan Afrika menyatakan mendukung tuntutan Indonesia atas Irian Barat (Pigay, 2000:186).

16

Sebagai bukti keberhasilan PKI menarik simpati rakyat Indonesia dapat dilihat dari hasil yang dicapai PKI Pemilihan Umum 1955. Dalam Pemilu tersebut PKI keluar sebagai partai keempat di bawah PNI. Masjumi, dan NU dalam perolehan suara. Tabel hasil perolehan suara Pemilu 1955 beserta prosentasenya dapat dilihat pada Ricklefs (1991:377)

25

Dari hasil komunike tersebut, terlihat bahwa dukungan terhadap Indonesia secara luas diberikan oleh negara-negara dunia ketiga. Tetapi perjuangan untuk mendapatkan Irian Barat tetap mengalami kendala besar. Sebab kekuatan utama untuk meloloskan memorandum di PBB tidak hanya bergantung kepada negaranegara Asia-Afrika. Sementara dukungan dari negara-negara Blok Barat sulit didapat. Amerika Serikat secara diam-diam menunjukkan sikap pro-Belanda dalam masalah Irian Barat, sekalipun selalu abstain dalam pemungutan suara di PBB. Sebuah surat bertanggal 20 Mei 1955 yang ditulis oleh Hugh Cumming, Duta Besar Amerika di Indonesia, untuk Kenneth Young, direktur biro Pilipina dan urusan Asia Tenggara, mendesak pemerintah Amerika untuk mempertimbangkan kembali kebijakan mereka mengenai netralitas17 dalam masalah Irian Barat (Kahin dan Kahin 1997:98). Namun menteri luar negeri Amerika, John Foster Dulles, tidak bersedia mendukung usulan tersebut. Sikap tersebut akan dipertahankan paling tidak sampai suatu pemerintahan yang lebih baik muncul di Indonesia. Secara pribadi Dulles meyakinkan pemerintah Australia, yang dengan teguh mendukung sikap Belanda mengenai Irian Barat, sekalipun "kami tidak menginginkan hubungan dengan Indonesia dirusak karena harus memihak dalam pertikaian ini ... kalau keadaannya mendesak Amerika serikat, dalam konteks ANZUS, akan mendukung Australia" (Kahin dan Kahin, 1997:99). Kebuntuan dalam mencari jalan keluar sebagai pemecahan masalah Irian Barat, berakibat hubungan antara Indonesia dengan Belanda semakin memburuk. Pada tanggal 21 Februari 1956 Kabinet Burhanuddin Harahap secara sepihak membatalkan perjanjian KMB dan pembayaran hutang Indonesia kepada Belanda yang tercantum di dalam perjanjian tersebut. Sikap tersebut diambil atas dasar pemikiran bahwa hutang yang dipikul Indonesia merupakan biaya perang Belanda untuk menentang revolusi kemerdekaan. Penghapusan hutang ini mendapat sambutan hangat dari rakyat Indonesia (Ricklefs, I 991:379). Tindakan itu secara resmi merupakan tekanan yang ditujukan terhadap pemerintah Belanda dalam rangka memaksanya untuk melanjutkan perundingan mengenai Irian Barat (Wertheim, 1999:290). Sulit untuk dinilai apakah ini merupakan motif yang sesungguhnya atau sekedar pembenaran terhadap berbagai tindakan di bidang ekonomi.

17

Netralitas Amerika diwujudkan dengan ketidakterlihatannya dalam memasukkan masalah Irian Barat dalam agenda PBB.

26

Pada bulan November 1957, ketegangan politik dalam negeri Indonesia semakin meningkat. Pada tanggal 29 November, PBB kembali menolak resolusi Indonesia yang menghimbau agar Belanda mau merundingkan kembali masalah Irian Barat. Dengan perasaan kecewa Indonesia menerima hasil pemungutan suara resolusi tersebut. Amerika Serikat dengan sepuluh negara lainnya mengambil sikap abstain. Dukungan kepada Indonesia diberikan oleh negara-negara Asia-Afrika dan Blok Timur sejumlah 40 suara. Sementara 25 suara menyatakan tidak setuju. Sebelum pelaksanaan pemungutan suara terhadap resolusi Indonesia, Presiden Sukarno telah memperingatkan bahwa Indonesia akan mengambil langkahlangkah yang akan mengguncang dunia apabila resolusi tersebut gagal (Jones, 1980:184-185). Ternyata Presiden Sukarno tidak hanya menggertak saja. Pada tanggal 1 Desember 1957 pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan aksi mogok selama 24 jam terhadap perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia (Bartlett, 1986:100). Tindakan inilah yang mengawali aksi nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda secara besar-besaran.

1901 Batavia Javasche Bank Sumber : Arsip Nasional Republik Indonesia

1901 Batavia Hoofdvertegen woordiging van de B.P.M. Sumber Foto : Arsip Nasional Republik Indonesia

27

dua Pengambilalihan PerusahaanPerusahaan Belanda


Pada masa kolonial Hindia-Belanda, sektor ekonomi modern Indonesia sebagian besar dikuasai oleh modal asing, khususnya negeri Belanda. Sektor ekonomi modern yang dikembangkan oleh modal asing ini terutama terpusat pada perkebunan, industri ekstraktif, dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan (Hill, 1990:11). Kegiatan ekonomi itu mengalami kemunduran pada masa pendudukan Jepang. Hal itu dikarenakan penerapan ekonomi perang oleh pemerintah pendudukan Jepang yang melarang kegiatan ekspor dan impor kecuali untuk kepentingan perang. Dalam keadaan demikian tidak mengherankan jika selama masa pendudukan Jepang tidak ada investasi asing yang masuk. Keadaan itu tidak banyak berubah sampai Indonesia mendapat penyerahan kedaulatan dari Belanda pada tahun 1949. Pemerintahan Republik Indonesia yang baru saja keluar dari kemelut revolusi kemerdekaan segera memikirkan masalah pembangunan ekonomi. Namun pelaksanaan pembangunan ekonomi menemui hambatan karena penguasaan pengusaha pribumi terhadap sektor ekonomi modern masih sangat terbatas. Situasi demikian menuntut pemerintah mengambil sikap tegas terhadap keberadaan modal asing yang masih tetap beroperasi.

Kontroversi terhadap Modal Asing


Sikap pemerintah Indonesia terhadap modal asing sepanjang tahun 1950-an sangat kuat dipengaruhi pengalaman zaman kolonial Hindia-Belanda. Pandangan yang berlaku terhadap modal asing, khususnya modal Belanda, secara umum melihat kehadiran mereka menjadi penghambat bagi terwujudnya kedaulatan di bidang ekonomi. Hal ini tidak terlepas dari peranan modal asing yang sampai saat itu dijalankan hanya untuk menarik keuntungan ekonomi sebesar-besarnya dari Indonesia, tanpa turut berpartisipasi dalam perbaikan ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup rakyat secara umum. Sikap tidak peduli para pemilik modal asing pada akhirnya memunculkan sikap tidak suka dari kalangan orang-orang republik. Tidak mengherankan pula jika sikap pemerintah Indonesia terhadap modal asing menjadi tidak terlalu bersahabat. Apalagi hampir sepanjang kurun 1950-an sektor-sektor modern ekonomi Indonesia masih dikuasai perusahaan-perusahaan Belanda. Dalam situasi demikian, mengemuka pendapat yang mendesak pemerintah Indonesia untuk secara bertahap mengurangi dominasi perusahaan-perusahaan Belanda dan sekaligus mendorong munculnya pengusaha-pengusaha pribumi Indonesia.

28

Dalam hal ini patut disinggung pandangan dari Sjafruddin Prawiranegara, mantan menteri keuangan dan Gubernur-Bank Indonesia, yang menganjurkan sikap toleransi terhadap dominasi perusahaan-perusahaan Belanda. Anjuran itu didasari kenyataan bahwa jumlah pengusaha pribumi dan tenaga terampil Indonesia masih belum memadai (Prawiranegara, 1987:104). Sikap moderat dan pragmatis seperti ditunjukkan pandangan Sjafruddin hanya mendapat sedikit dukungan. Sedangkan mayoritas pemimpin Indonesia berhaluan lebih radikal. Masih bercokolnya modal asing yang kuat menguasai perekonomian Indonesia pada tahun-tahun awal setelah penyerahan kedaulatan, menjadi sangat pelik dan dilematis bagi pemerintah Indonesia. Perusahaan-perusahaan asing tersebut masih tetap beroperasi karena Indonesia terikat komitmen yang tercantum dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Seperti telah disinggung sebelumnya isi KMB mewajibkan pemerintah Indonesia untuk menghormati legalitas keberadaan perusahaan-perusahaan asing, khususnya perusahaan-perusahaan Belanda. Meski demikian, tekanan politik yang kuat terus diberikan untuk mendorong pemerintah Indonesia mengambil kebijakan-kebijakan yang dapat memenuhi tuntutan aspirasi ekonomi nasional. Salah satu perwujudannya ialah Program Benteng, yang dalam pandangan Soemitro Djojohadikusumo1 ditujukan untuk mengurangi dominasi perusahaan-perusahaan Belanda khususnya The Big Five (Djojohadikusumo, 1986:35). Jaminan terhadap keberadaan perusahaan-perusahaan asing yang diberikan pemerintah Indonesia pernah pula mendatangkan kesulitan besar bagi pemerintah sendiri. Seperti yang terjadi dengan kasus Tanjung Morawa2 yang mengakibatkan jatuhnya Kabinet Wilopo (1952-1953). Kasus ini muncul ketika pemerintah berusaha menghentikan pendudukan liar di tanah perkebunan-perkebunan tembakau milik Belanda di Sumatera Utara. Tindakan pemerintah itu kemudian mendapat kritikan tajam dari organisasiorganisasi petani militan yang didukung oleh kalangan pers kota Medan. Mereka menghimbau pemerintah untuk mengakhiri kebijakan agraria dari zaman kolonial dengan menasionalisasikan tanah-tanah yang dikuasai perkebunan-perkebunan asing (Pelzet; 1991:103). Tanah-tanah itu kemudian diminta untuk dibagikan kepada para petani yang tidak mempunyai tanah.

Soemitro Djojohadikusumo pernah menjabat beberapa kali dalam kabinet-kabinet pemerintahan Demokrasi Parlementer. Antara lain sebagai Menteri Perdagangan dan Industri dalam Kabinet Natsir (1950-1951), Menteri Keuangan dalam Kabinet Wilopo (1952-1953) dan Kabinet Burhanuddin Harahap (1955-1956). Lihat daftar kabinet-kabinet Indonesia dari penyerahan kedaulatan 1949 sampai tahun 1956. (Sutter, 1959:1296-1297). Tanjung Morawa adalah suatu kecamatan yang letaknya tidak jauh dari kota Medan. Wilayah ini merupakan daerah perkebunan di mana kedudukan kaum buruh dan petani komunis kuat sekali (Pelzer, 1991:99-101).

29

Menghadapi tuntutan tersebut Perhimpunan Perkebunan-Perkebunan Tembakau (milik Belanda) setuju untuk menyerahkan separuh dari tanah-tanah perkebunannya kepada para petani. Namun serikat-serikat buruh tani tetap mengajukan tuntutan agar seluruh tanah perkebunan tembakau dibagikan kepada mereka (Thee, 1996:7). Kasus ini kemudian berkembang sehingga membawa korban. Pada tanggal 14 Maret 1953, dalam suatu insiden polisi menembak mati seorang petani Indonesia dan empat petani keturunan Tionghoa. Sedangkan korban yang luka ada 17 orang (Pelzer, 1991:102). Kasus Tanjung Morawa kemudian berdampak secara nasional, sehingga Kabinet Wilopo terpaksa mengundurkan diri pada tanggal 2 Juni 1953 (Soebagijo I.N., 1980:122). Kontroversi terhadap keberadaan modal asing juga terjadi pada sektor pertambangan. Hingga menjelang pendudukan Jepang (1942), terdapat 12 lapangan pertambangan minyak di Sumatera Utara, khususnya di Karesidenan Sumatera Timur dan Aceh, yang menghasilkan 1.000.000 kgt (kilogram ton) minyak dan 240.000 kgt gas setahunnya dari sejumlah 740 pemboran.3 Untuk pengolahannya, De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) telah mendirikan sebuah refinery (penyulingan) di Pangkalan Brandan.4 Sesudah kemerdekaan RI, pada tahun 1948 pemerintah mendirikan Perusahaan Tambang Minyak Republik Indonesia Sumatera Timur untuk meneruskan pengelolaan lapangan-lapangan minyak tersebut. Ternyata, pengelolaan perusahaan tersebut tidak berjalan dengan baik, sehingga tidak dapat menjamin kehidupan buruh-buruh yang bekerja pada tambang-tambang minyak tersebut. Akibatnya muncul desakan dari para buruh agar pemerintah segera mengambil tindakan nyata terhadap masalah ini.

Generasi Bataafsche Petroleum Maatschappij dan gedung di Surabaya..

Sebagian besar produksi minyak tersebut dihasilkan oleh BPM, sedangkan sisanya oleh NIAM dan Standard Vacuum Petroleum Maatschappij (SVPM). Lihat laporan tanggal 17 Mei 1951 yang diberikan oleh Kepala Pusat Jawatan Pertambangan; Sekitar Masalah Pertambangan Minyak di Sumatera Utara (ANRI: Kabinet Presiden R1, No. Inventaris 1528). Ibid.

30

Terhadap tuntutan kaum buruh minyak, ketika itu muncul dua macam pokok pikiran. Yaitu antara yang setuju dan tidak setuju untuk melakukan nasionalisasi tambang-tambang minyak Sumatera Utara. Bagi pihak yang setuju pertimbangannya ialah sekalian sumber dan kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara, dieksploitasi oleh pemerintah dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sedangkan bagi yang tidak setuju memiliki pertimbangan Indonesia saat itu berada di tengah-tengah keadaan yang sulit, kekurangan modal untuk ganti rugi, tidak dapat mengelola perusahaan sehingga mendatangkan keuntungan, dan kekurangan tenaga ahli.5 Menghadapi perbedaan pandangan tersebut, pemerintah dalam sidang Dewan Ekonomi dan Keuangan ke-8 tanggal 1 Maret 1951 memutuskan merujuk hasil KMB sehingga tambang minyak di Sumatera akan dikembalikan kepada pemiliknya (perusahaan-perusahaan asing).6 Setelah melakukan perundingan selama dua tahun, dengan diselingi pergantian dua kabinet, pada bulan Maret 1954 pemerintah dan Stanvac7 mencapai suatu kesepakatan. Program investasi baru senilai $70 sampai $80 juta akan dilakukan Stanvac dari dana yang diperoleh di luar negeri. Untuk mempermudah investasi, Stanvac mendapatkan pembebasan biaya impor terhadap semua alat modal yang diimpor. Stanvac akan melakukan Indonesianisasi terhadap stafnya sampai ke tingkat atas dari manajemen (Bartlett et.al, 1986:107). Persetujuan itu bet jangka empat tahun, meski pembebasan biaya impor diberikan untuk sepuluh tahun. Persetujuan Stanvac itu kemudian dijadikan pola untuk persetujuan dengan perusahaan-perusahaan minyak lainnya seperti Caltex dan Shell. Telah diketahui bahwa tidak ada jaminan jika sektor-sektor ekonomi yang penting dikuasai modal asing, mereka akan membantu pemerintah dalam mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi di dalam negeri. Modal asing dinilai tidak memiliki kepentingan yang kuat terhadap kondisi ekonomi dalam negeri. Bila situasi di Indonesia menjadi tidak kondusif bagi modal asing, mereka bisa menarik modalnya setiap saat untuk menyelamatkan diri. Sebaliknya nasionalisasi perusahaan-perusahaan tidak menjamin bahwa jalannya sektor-sektor perekonomian akan menjadi rasional sehingga harga barang dapat ditekan serendah-rendahnya dan spekulasi ditiadakan.8 Namun dengan didasari oleh pertimbangan bahwa kedaulatan ekonomi Indonesia sulit untuk ditegakkan tanpa melakukan nasionalisasi, maka langkah nasionalisasi mendapat dukungan luas meskipun pemerintah tetap berusaha bertindak rasional seperti dalam kasus tambang minyak di Sumatera Utara.

5 6

Dalimunthe, "Tentang Nasionalisasi" dalam majalah Berita Ekonomi, Oktober 1952, hal. 7. Surat Menteri Perekonomian No. 5180/M tanggal 23 Mei 1951 kepada Perdana Menteri (ANRI: Kabinet Presiden RI, No. Inventaris 1528). Standard Vacuum Petroleum (Stanvac) merupakan kelanjutan dari SVPM yang berganti nama pada tahun 1947 (Bartlett et.al., I986:50). Majalah Berita Ekonomi, Maret 1954, hal. 11

31

Kabinet Ali Sastroamidjojo I (1953-1955) menandai suatu tahap baru dalam kebijakan pemerintah mengenai masalah modal asing. Hal ini antara lain terlihat dari usaha Indonesianisasi yang lebih intensif. Misalnya dengan bantuan pemerintah Indonesia kepada pengusaha-pengusaha pribumi untuk mengambil bagian yang lebih besar dari berbagai kegiatan ekonomi, seperti perdagangan impor, perbankan, perkapalan, dan penggilingan beras, yang dikuasai kepentingan ekonomi Belanda dan Tionghoa (Feith, 1963:315). Meskipun demikian, para pemimpin nasional Indonesia yang berpandangan pragmatis menyadari bahwa modal asing harus dapat ditarik ke Indonesia untuk mengembangkan potensi sumber daya alam yang tersedia dan perindustrian yang modern. Untuk itu maka pada tahun 1953 pemerintah Indonesia menyusun suatu rancangan undang-undang Penanaman Modal Asing yang setelah melalui proses pembahasan yang cukup lama, akhirnya disetujui parlemen pada tahun 1958 disertai berbagai amandemen (Hi11,1991:15). Undang-undang penanaman modal tersebut melarang modal asing dalam beberapa kegiatan ekonomi seperti pekerjaan umum, pertambangan, dan lapangan usaha lainnya di mana umumnya pengusaha-pengusaha pribumi bergerak. Meskipun pemilikan saham mayoritas tidak dilarang, namun undang-undang penanaman modal ini menegaskan bahwa usaha patungan dengan mitra Indonesia akan diutamakan (Thee, 1996:8). Di pihak lain undang-undang penanaman modal tidak bersifat sangat restriktif, namun pejabat yang diserahi tugas untuk melaksanakannya diberikan kewenangan luas untuk mengambil keputusan berdasarkan tafsiran mereka (discretionary authority). Dalam kenyataannya pemberlakuan undang-undang tersebut tidak banyak menarik modal asing masuk ke Indonesia. Menjelang pertengahan tahun 1950-an, hanya sedikit kesempatan yang dimiliki pemerintah Indonesia dalam menarik modal asing. Akibatnya, dalam merumuskan Rencana Lima Tahun 1955-1960, pemerintah tetap mempertahankan penekanan pada pentingnya industri. Namun penekanan prioritas pada pihak swasta dikurangi, karena prioritas yang lebih besar diberikan pada perusahaan-perusahaan negara. Di samping itu sikap politik juga berubah, terutama terhadap modal asing (Hill, 1991:15). Gejala itu dapat dilihat dari kecenderungan kabinet-kabinet yang memerintah sejak tahun 1953. Bagi kabinet-kabinet tersebut upaya untuk mencari investasi asing masih langsung dilakukan meski dengan semangat yang sudah melemah. Gejala tersebut dilatarbelakangi oleh kecenderungan yang semakin kuat untuk menumpahkan penyebab segala kesulitan ekonomi Indonesia pada pengendalian ekonomi Indonesia oleh pihak asing.

32

Pengambilalihan sebagai Bentuk Kedaulatan Politik


Selaras dengan konsolidasi politik pasca penyerahan kedaulatan yang menitikberatkan unsur-unsur nasional, di bidang ekonomi diusahakan untuk merombak struktur perekonomian yang sampai saat itu masih bercorak kolonial. Struktur ekonomi kolonial dengan sendirinya tidak mendukung sifat berdaulat dari negara Indonesia yang telah merdeka. Sedangkan tujuan dari kemerdekaan adalah mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Untuk mencapai masyarakat yang demikian, maka perombakan ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional menjadi keharusan. Dalam rangka membangun ekonomi nasional, prakarsa pemerintah Indonesia dilakukan dengan mendirikan beberapa badan usaha untuk mengatasi dominasi perusahaan-perusahaan Belanda. Dalam bidang perbankan pada tahun 1946 pemerintah mendirikan Bank Negara Indonesia (BNI 1946) yang diharapkan mampu bersaing dengan bank-bank komersial Belanda. Keputusan untuk mendirikan BNI dilakukan dalam sidang pertama Dewan Menteri Republik Indonesia pada tanggal 19 September 1945 yang dipimpin oleh Presiden Sukarno sendiri. Persiapan pembentukan BNI ditugaskan kepada R.M. Margono Djojohadikusumo dengan surat kuasa pemerintah RI tanggal 16 September 1945 yang ditandatangani oleh presiden dan wakil presiden. Pembentukannya sendiri didasarkan pada Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang No.2/1946 tanggal 5 Juli 19469 dan pembukaannya diresmikan di Yogyakarta oleh Wakil Presiden pada tanggal 17 Agustus 1946. Pendirian BNI dimaksudkan pemerintah Indonesia sebagai bank sirkulasi dan bank sentral. Dalam perkembangan selanjutnya, BNI ternyata tidak berkesempatan untuk menyelenggarakan fungsinya sebagai bank sirkulasi. Sebab, dalam Konferensi Meja Bundar yang ditutup tanggal 2 November 1949, telah dicapai kesepakatan bahwa tugas sebagai bank sirkulasi dan bank sentral diserahkan kepada De Javasche Bank (DJB). Namun di pihak lain pemerintah berpendapat bahwa, "...suatu bank sentral dan sirkulasi yang bersifat swasta dan berada di tangan bangsa asing adalah bertentangan dengan kedudukan suatu negara yang berdaulat. Suatu bank sentral yang dinasionalisasi akan menjadi suatu tunjangan yang kuat bagi pembangunan bank-bank nasional Indonesia."10

10

Pada waktu BNI genap berusia dua windu, yaitu tanggal 5 Juli 1962, tanggal tersebut oleh Presiden Sukarno ditetapkan sebagai Hari Bank sebagaimana tertera dalam amanatnya kepada Bank Negara Indonesia tanggal 5 Juli 1962. Setahun kemudian, Hari Bank diperingati dengan pengeluaran sebuah seri perangko khusus (Oey, 1991:91) Pendapat pemerintah ini dikemukakan dalam Penjelasan Tentang Undang-undang Nasionalisasi yang dikeluarkan pada tanggal 26 September 1951. Lihat koleksi Arsip Bank Indonesia: Stukken Inzake de Nationalisatie van De Javasche Bank, 1951-1952, No. Inventaris: 3234.

33

Sebagai penyelesaian, akhirnya pada tahun 1953 DJB dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia dengan cara pembelian saham-saham oleh pemerintah.11 Selain menasionalisasi DJB, pada tahun 1951 pemerintah juga telah mendirikan NV Bank Industri Negara (BIN). Sebenarnya nama bank kurang tepat diberikan kepada BIN. Karena bank ini tidak melakukan transaksi keuangan, tidak menerima uang simpanan dari masyarakat, tidak menyediakan rekening koran serta tidak memberi jasa perantara. Tugas utama dari BIN adalah memberi kredit jangka panjang kepada usaha-usaha industri yang berada di bawah program Rencana Urgensi Perekonomian (Siahaan, 1996:235-269). Dalam sektor perdagangan pemerintah Indonesia tidak bertindak secara konfrontatif terhadap perusahaan asing. Dominasi The Big Five dicoba diatasi dengan mendirikan beberapa perusahaan negara yang diharapkan mampu menunjang kebangkitan ekonomi nasional. Upaya itu diwujudkan dengan mendirikan Central Trading Company (CTC) pada tahun 1948.12 Selain itu pemerintah juga mendirikan Usaha Indonesia (USINDO) pada tahun 1954.13 Di kemudian hari CTC berubah menjadi PT Pantja Niaga dan USINDO berubah menjadi PT Tjipta Niaga (Wibisono, 1992:20). Selain mendirikan perusahaan-perusahaan negara, upaya mewujudkan ekonomi nasional juga dilakukan dengan mengambil alih perusahaan-perusahaan Belanda yang memiliki usaha terkait kepentingan umum. Proses pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda tersebut juga dipandang sebagai perwujudan dari kedaulatan politik yang telah dicapai. Sebelum diberlakukannya undang-undang nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda pada tahun 1958, pengambilalihan milik asing di Indonesia secara hukum diatur dalam Onteigeningsordonanntie (peraturan penyitaan hak milik) tahun 1920.14 Menurut Onteigeningsordonanntie prosedur penyitaan hak milik dijalankan melalui tahapan-tahapan yang tersebut di bawah ini: 1. Yang berkepentingan diberi kesempatan memajukan keberatan terhadap onteigening yang akan dijalankan. 2. Dengan undang-undang diadakan pernyataan bahwa kepentingan umum menuntut diadakannya onteigening dari benda-benda yang ditentukan.

11

12

13

14

Proses nasionalisasi De Javasche Bank (DJB) secara resmi ditandai dengan diumumkannya UndangUndang tentang Nasionalisasi DJB pada tanggal 15 Desember 1951, lihat Lembaran Negara RI tahun 1951 No. 120. Penawaran pembelian saham DJB telah diumumkan pada tanggal 3 Agustus 1951, dalam waktu dua bulan saja hampir seluruh jumlah saham telah dibeli oleh pemerintah, dengan nilai f 8,95 juta. Dengan penguasaan saham tersebut maka pada tanggal 1 Juli 1953 pemerintah mengumumkan berdirinya Bank Indonesia (Oey, 1991: 249250) Central Trading Company didirikan di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Semula perusahaan ini dipimpin langsung oleh Mohammad Hatta dan kepemilikannya sepenuhnya berada di tangan pemerintah RI (Muhaimin, 1990:31). USINDO berkedudukan di Jakarta. Seluruh saham perusahaan ini dimiliki oleh Bank Industri Negara. Pendirian USINDO bertujuan agar perusahaan tersebut menjadi satu-satunya penyalur dan pemasok barang bagi seluruh perusahaan yang diberi kredit oleh BIN (Siahaan, 1996:267). Lihat majalah Warta Niaga dan Perusahaan No: 9/Th. I, 13 Desember 1958, hal. 1.

34

3. Dijalankan usaha untuk mendapatkan benda-benda tersebut dengan jalan sukarela. 4. Jika usaha tersebut angka 3 gagal, dimajukan tuntutan kepada hakim, agar hakim menetapkan di-onteigening-nya benda tersebut dan menetapkannya besarnya pengganti kerugian. 5. Pemindahan milik benda tersebut ke tangan yang minta onteigening, setelah pengganti kerugian dibayar.15 Perusahaan-perusahaan Belanda yang mengelola kepentingan umum dengan berdasarkan Onteigeningsordonanntie itu kemudian diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Yang langsung diserahkan dalam bentuk perusahaan ialah Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang melanjutkan jaringan listrik swasta zaman HindiaBelanda yang terdiri atas beberapa perusahaan lokal. Juga perusahaan kereta api yang di masa Hindia-Belanda dikelola sebagian oleh perusahaan swasta, dilebur menjadi Jawatan Kereta Api yang di kemudian hari berkembang menjadi PJKA dan PERUMKA. Sektor kepentingan umum lain yang diambil alih dalam rangka mewujudkan kedaulatan politik ialah jawatan Pos Telegram dan Telekomunikasi (PTT), Jawatan Pegadaian dan Jawatan Angkutan Motor RI. Demikian pula dengan beberapa perusahaan perkebunan Belanda yang diambil alih dan kemudian ditempatkan di bawah pengawasan Pusat Perkebunan Negara (PPN) (Dick et.al., 1999:210). Dalam bidang perusahaan penerbangan domestik, di mana pemerintah menginginkan berlanjutnya proses alih teknologi, proses nasionalisasi dijalankan dengan jalan kerja sama. Garuda Indonesia Airways (GIA), perusahaan penerbangan nasional Indonesia, didirikan dengan mengambil alih semua aset dari perusahaan penerbangan Hindia-Belanda (Koninklijke Nederlands Indische Luchtvaart Maatschapijj / KNILM) dan tetap mempertahankan kerja sama dengan perusahaan induknya, perusahaan penerbangan kerajaan Belanda (Koninklijke Luchtvaart Maatschapijj / KLM).16 Masalah yang lebih pelik ialah mengatasi dominasi perusahaan pelayaran Belanda KPM (Koninklijke Paketvciart Maatschapijj). KPM sepenuhnya memonopoli pelayaran antarpulau di Indonesia. Transportasi laut dengan kapal merupakan satunya-satunya sarana yang tersedia untuk perhubungan antarpulau. Karena itu kedudukan KPM bagi Belanda menjadi sangat penting, karena KPM merupakan simbol dari kemampuan Belanda dalam menyatukan Nusantara.

15

16

Lihat koleksi arsip Bank Indonesia: Stukken inzake de nationalisatie van De Javasche Bank, 1952-1951, No. inventaris: 3238. Berdasarkan perjanjian yang telah direvisi pada bulan Maret 1954, Pemerintah Indonesia membeli semua saham, sedangkan KLM tetap memberikan bantuan teknik sampai tahun 1960. Walaupun menghadapi kesulitan pada masa-masa memburuknya hubungan Indonesia-Belanda, namun kerja sama yang erat tetap terjalin (Dirk, I 990:29).

35

Sedangkan bagi Indonesia, tidak mungkin untuk menerima adanya monopoli asing dalam bidang yang merupakan sarana untuk membangun persatuan nasional. Pada bulan April 1950, diajukan usul oleh pemerintah Indonesia untuk mendirikan perusahaan pelayaran Indonesian Steamship Company di mana sahamnya 51% dimiliki oleh pemerintah dan sisanya dimiliki oleh KPM (Dick. 1990:28). KPM membalas dengan mengajukan usul pembentukan gemengd bedriff (perusahaan campuran) dengan kepemilikan saham 50:50. Bagi pemerintah Indonesia yang memegang kunci perundingan, tawaran KPM dianggap belum cukup. Perundingan-perundingan selanjutnya antara pemerintah dengan KPM menemui jalan buntu. Akibatnya KPM kemudian menyadari bahwa peranannya di Indonesia tidak lama lagi akan berakhir. Sebaliknya pemerintah Indonesia juga menyadari bahwa upaya mendirikan perusahaan pelayaran nasional akan menemui kesulitan karena harus dibangun dari awal kembali. Pada tanggal 28 April 1952, tiga minggu setelah Kabinet Wilopo dilantik, Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) didirikan dengan modal awal Rp. 200 juta (Dick, 1990:32). Selain mengambil alih perusahaan-perusahaan Belanda, tindakan pemerintah Indonesia yang secara tegas membela kepentingan ekonomi nasional dilakukan dengan pembatalan perjanjian KMB pada tanggal 21 Februari 1956.17 Dengan pembatalan KMB berarti kedudukan ekonomi Belanda yang istimewa di Indonesia berakhir. Selain itu pembayaran hutang pokok beserta bunganya yang harus ditanggung pemerintah Indonesia sebagai hasil KMB juga turut ditangguhkan (Kahin & Kahin, 1997:99). Berdasarkan perjanjian KMB Indonesia terpaksa harus memikul semua hutanghutang Hindia-Belanda. Jumlah hutang tersebut sebesar 4,5 milyar gulden merupakan jumlah total hutang Hindia-Belanda kepada pemerintah Belanda yang berkedudukan di Den Haag.18 Latar belakang kalkulasi jumlah hutang itu menurut Belanda sangat sederhana. Berdasarkan landasan hukum, Indonesia adalah pewaris Hindia-Belanda. Karena itu Indonesia bukan saja mewarisi keberadaannya, melainkan juga semua pinjaman yang pernah dibuat sebelumnya. Selain itu di dalam jumlah tersebut juga termasuk biaya yang dikeluarkan pemerintah Belanda untuk menindas Indonesia selama perang kemerdekaan. Khususnya biaya untuk melakukan dua kali agresi militer terhadap Republik Indonesia.

17

18

Pembatalan tersebut dilakukan oleh Kabinet Burhanuddin Harahap yang memerintah dari 12 Agustus 1955 hingga Maret 1956. Sebenarnya Belanda menuntut jumlah keseluruhan hutang Indonesia adalah 6,5 milyar gulden. Lihat artikel yang ditulis oleh Denny Sutoyo-Gerberding, "Ganti Rugi Indonesia Untuk Belanda" dalam Harian KOMPAS 15 Agustus 2000:19.

36

Pihak Indonesia mengajukan argumentasi yang berbeda untuk menghadapi tuntutan Belanda tersebut. Berdasarkan pandangan Dr. Soemitro Djojohadikusumo bukan Indonesia yang harus membayar hutang kepada Belanda, melainkan justru Belanda yang harus membayar hutang kepada Indonesia. Pemikiran yang mendasarinya karena Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya dengan mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang, sedangkan Belanda yang datang kemudian dalam rangka mengkolonisasi kembali Indonesia telah melakukan perampasan dan penghancuran terhadap Indonesia dengan dua kali serangan militernya. Dengan mengajukan kalkulasi penghitungan yang canggih, Indonesia menuntut Belanda untuk membayar hutang sebesar US$ 540,000,000.19 Pembicaraan mengenai hutang berlangsung dengan sangat alot. Untuk mencapai kesepakatan diperlukan waktu lebih panjang ketimbang pelaksanaan KMB itu sendiri. Karena campur tangan pihak ketiga, dalam hal ini Amerika Serikat, Indonesia akhirnya mau menerima tuntutan hutang dari pihak Belanda. Merle Cochran, wakil Amerika Serikat yang dalam KMB bertindak sebagai moderator, telah memberikan jaminan bahwa Amerika akan membantu pembayaran hutang Indonesia kepada Belanda. Janji tersebut ternyata tidak dipenuhi, karena pinjaman yang kemudian diberikan oleh Amerika hanya sebesar US$ 100,000,000 dalam bentuk kredit ekspor-impor yang harus dikembalikan (Kahin dan Kahin, 1997:40). Pembayaran hutang kepada Belanda berlangsung terus antara tahun 1950 sampai 1956, ketika Republik Indonesia secara sepihak membatalkan perjanjian KMB. Saat itu jumlah hutang yang telah dilunasi Indonesia mencapai hampir 4 milyar gulden.20 Jadi sesungguhnya ketika terjadi pembatalan KMB, pembayaran hutang Indonesia tersebut telah hampir lunas. Sulit untuk dibayangkan bahwa Indonesia yang secara politik dan ekonomi sangatlah lemah terutama setelah penyerahan kedaulatan masih dibebani oleh kewajiban untuk membayar hutang. Kewajiban itu dijalankan dengan komitmen yang tinggi, sehingga dapat dimaklumi kabinetkabinet yang memerintah sampai tahun 1956 menemui kesulitan besar dalam mengusahakan anggaran bagi pembangunan ekonomi. Sampai bulan Desember tahun 1957, Indonesianisasi perekonomian telah mencapai hasil yang cukup mengesankan. Namun pelaksanaannya yang berjalan secara lambat tidak dapat memenuhi harapan-harapan yang dibawa sejak masa revolusi kemerdekaan. Dengan dukungan dari pemerintah, perusahaan-perusahaan nasional mulai mengisi celah-celah yang ada di dalam pasar, meskipun belum bisa menyaingi supremasi perusahaan-perusahaan Belanda, yang memang mampu menghasilkan jasa dan produk dengan mutu lebih baik (Dick et.al., 1999:210). Situasi ini mendatangkan rasa frustasi yang kemudian dimanfaatkan oleh kaum nasionalis kiri dan partai komunis sebagai sarana untuk menggalang dukungan massa.

19

20

Kalkulasi perhitungan hutang Belanda kepada Indonesia disusun oleh Dr. Soemitro Djojohadikusumo yang dalam KMB menjabat sebagai ketua sub-komite ekonomi Indonesia (Zed.1997:258). Denny Sutoyo-Gerberding, loc.cit.

37

Meningkatnya Peranan Serikat-Serikat Buruh


Dalam membahas pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda peranan kaum buruh Indonesia tidak dapat diabaikan. Sebagai bagian yang terlibat langsung dalam kegiatan ekonomi perusahaan-perusahaan asing tersebut, kaum buruh merupakan motor penggerak utama bagi kegiatan suatu perusahaan. Selain bekerja untuk perusahaan, para buruh juga memiliki kepentingannya sendiri. Gerakan buruh adalah fenomena baru dalam masyarakat Indonesia yang bersifat kota, yang muncul setelah kaum buruh mengorganisir diri ke dalam serikat-serikat buruh. Melalui serikat-serikat tersebut para buruh melancarkan aksi untuk memperjuangkan kepentingannya. Bagi seluruh rakyat Indonesia dan khususnya kaum buruh, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dirasakan sebagai pembebasan dari penjajahan dan eksploitasi modal asing yang didukung oleh pemerintah kolonial. Pemerintah nasional menjadi faktor penting dalam perjuangan kaum buruh untuk memperbaiki kesejahteraannya. Karena itu, pemerintah Republik Indonesia (RI) wajib dipertahankan, dan kaum buruh terpanggil untuk menunaikan kewajiban tersebut. Bersama-sama dengan kekuatan sosial lain, kaum buruh bergerak membela dan mewujudkan kedaulatan RI. Mereka melancarkan aksi perebutan dan pengambilalihan kantor-kantor, perusahaan dan sarana-sarana penting yang masih dikuasai tentara Jepang. Dengan demikian secara terbuka kaum buruh telah melibatkan diri dalam revolusi politik. Karena itu, gerakan buruh di Indonesia tidak selalu semata-mata dilandasi oleh kepentingan sosial ekonomi. Sejak masa perjuangan pergerakan kebangsaan hingga masa pasca kemerdekaan, gerakan buruh sangat diwarnai oleh perjuangan politik partai-partai. Partai-partai politik melihat adanya potensi sosial pada serikat-serikat buruh, sebaliknya serikat-serikat buruh mengharapkan peranan partai-partai politik untuk memperjuangkan perbaikan nasibnya. Pendekatan para politisi kepada kaum buruh dilakukan lewat proses pendidikan politik dan juga dengan menjadi pemimpin dalam serikat-serikat buruh. Jika serikat buruh mau bergerak dalam lapangan politik maka partai-partai akan mendapat dukungan lebih luas. Dengan aksi-aksi ekonominya serikat buruh diperlukan sebagai kelompok penekan dalam memperjuangkan suatu kepentingan politik.

38

Organisasi buruh terbesar pasca proklamasi kemerdekaan adalah Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang didirikan pada tahun 1946. Di dalam SOBSI tergabung 34 serikat buruh dengan 2,5 juta anggota (Suroto, 1985:29). Garis perjuangan SOBSI ke dalam ialah membela RI dan ke luar untuk bergabung dengan World Federation of Trade Unions (WFTU).21 Dalam kongres pertamanya di Malang bulan Mei tahun 1947, salah satu putusan SOBSI menyatakan menerima Manifest Politik Pemerintah tanggal 1 November 1945, yang menyatakan: bahwa segala hak milik asing akan dikembalikan kepada yang punya (Trimurti, 1980:20). Sikap yang ditunjukkan SOBSI tersebut memperlihatkan pada mulanya serikat buruh ini melakukan perjuangan politik yang sehaluan dengan pemerintah. Namun dalam perkembangannya kemudian SOBSI berafiliasi pada Partai Komunis Indonesia (PKI) yang beraliran kiri dan bersifat radikal dalam perjuangan politik (Ricklefs, 1991:361). Ketika PKI melakukan pemberontakan terhadap pemerintah RI di Madiun pada tahun 1948, SOBSI terlibat di dalamnya. Akibatnya kelompok moderat di dalam SOBSI menarik diri dan membentuk perserikatan sendiri antara lain Perserikatan Organisasi Buruh (POB) dan Badan Perhubungan Serikat Sekerja (BPSS).22 Dalam Kongres Buruh Umum tahun 1951, SOBSI tidak dilibatkan. Kongres yang dimotori oleh tokoh-tokoh partai Murba, berhasil membentuk serikat buruh baru yang dinamai Sentral Organisasi Buruh Republik Indonesia (SOBRI). Pada masa ini selain SOBSI dan SOBRI masih terdapat serikat-serikat buruh lain seperti, GSBI,23 POB, BPSS dan sebagainya. Ke dalam serikat-serikat buruh tersebut tergabung pula serikat-serikat sekerja yang didirikan oleh pegawai negeri, meskipun sebenarnya pegawai negeri menurut pemerintah tidak termasuk sebagai buruh.24

21

22

23

24

Pada saat konstelasi politik dunia memasuki periode perang dingin pada awal dasawarsa I950-an. terdapat dua federasi buruh internasional yang saling bersaing. Mereka itu adalah WFTU yang berkiblat ke Blok Timur dan International Confederation of Free Trade Unions (ICFTU) yang berkiblat ke Blok Barat (Rocamora, 19)1:122) H.J. Wijnmalen "Het onsttaan der vakbeweging; de oprichting van grote vacentrales en de arbeiders en boeren partijen", Indonesie, ve jaargang 19511952, hal. 437 seperti yang dikutip oleh Suri Suroto, "Gerakan Buruh dan Permasalahannya", dalam Prisma 11, 1955: 30. GSBI merupakan kependekan dari Gabungan Serikat Buruh Indonesia yang didirikan di Madiun pada tahun 1946. Menurut Peraturan Pemerintah No. 31 tahun 1954 pengertian buruh terbatas pada tenaga kerja perusahaan swasta yang mempunyai hubungan kerja bersifat perdata. Tenaga kerja pemerintah adalah pegawai atau karyawan yang dibayar dengan Anggaran Belanja Negara, dan hubungan kerjanya bersifat publik

39

Selain PKI dengan SOBSI-nya, partai politik besar lainnya yang memiliki onderbouw serikat buruh ialah Partai Nasional Indonesia (PNI). PNI tidak mempunyai serikat buruh afiliasi sampai dibentuknya Konsentrasi Buruh Kerakyatan Indonesia (KBKI),25 pada tanggal 10 Desember 1952 (Rocamora, 1991:121). Sepanjang tahun-tahun kehadirannya, KBKI relatif sebagai sebuah federasi kecil yang sebagian besar dikuasai serikat-serikat buruh dari Sumatera Utara di mana beberapa serikat buruh PNI dibentuk dengan nama Ikatan Buruh Demokrat. Dengan demikian tidak aneh bila ketua KBKI tingkat nasional yang pertama adalah ketua PNI Sumatera Utara, Saleh Umar.26 Garis politik yang diikuti KBKI secara jelas diuraikan dalam program umum yang dirumuskan pada saat pembentukannya. Mengikuti sikap PNI, program tersebut menyatakan bahwa KBKI tidak bisa sepenuhnya menerima kebenaran konsep perjuangan kelas.27 Serikat buruh ini dengan tegas mendukung kepentingan nasional di atas kepentingan kelas. Program umum KBKI menyatakan bahwa KBKI tidak akan menjadi anggota federasi buruh internasional yang didominasi komunis maupun didominasi Amerika, tetapi bersedia bekerja sama dengan Organisasi Buruh Internasional (ILO) PBB. KBKI juga mengikuti garis PNI, KBKI menyatakan "...mendesak dikembangkannya kewiraswastaan nasional sepanjang hal ini tidak menciptakan kapitalisme nasional."28 Di kalangan pemimpin-pemimpin Islam, muncul pula gagasan untuk mendirikan organisasi buruh yang berdasarkan Islam. Dasar pemikirannya, meskipun buruh berjuang untuk hak-hak kebendaan, akan tetapi tindakannya ini harus dilandasi oleh kepercayaan agama. Karena itu pada tanggal 27 November 1948, berdirilah Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII) (Trimurti, 1980:22). Berdirinya SBII ini atas kesadaran kalangan Islam, karena sejak berdirinya Serikat Islam (SI) golongan Islam kurang memperhatikan massa aksi di kalangan buruh. Bentuk SBII tidak seperti organisasi buruh sejenis, melainkan campuran, jadi siapa saja asal beragama Islam boleh masuk SBII. Sejak tahun 1953, partai-partai politik mulai berlomba mencari sumber-sumber dukungan untuk kampanye pemilihan umum. Akibat agitasi-agitasi politik yang gencar, federasi-federasi buruh yang besar mulai pecah. Pada bulan Mei 1953, ketika GSBI dilebur dengan sejumlah federasi yang lebih kecil untuk membentuk Kongres Buruh Sosialis Indonesia (KBSI), Partai Sosialis Indonesia (PSI) berusaha merebut kendali yang cukup besar atas pimpinan tingkat nasional KBSI (Rocamora, 1991:123).

25

26

27

28

Nama Konsentrasi Buruh Kerakyatan Indonesia pada tahun 1954 diganti menjadi Kesatuan Buruh Kerakyatan Indonesia (Trimurti, 1980:28) Setelah terbentuknya KBKI, serikat buruh PNI ini mulai menerbitkan berita KBKI yang mula-mula dalam bentuk stensilan, baru kemudian dalam bentuk cetakan. Wawancara dengan Martiman, tanggal 7 Juli 2000 di Jakarta. Martiman adalah bekas Sekretaris Jenderal Kesatuan Buruh Marhaenis (KBM) periode 1962-1965. KBM terbentuk sebagai akibat perpecahan di dalam KBKI pada tahun 1962. Program Umum KBKI yang dirujuk di sini disetujui dalam kongres pembentukan pada Desember 1952, dalam Rh. Koesnar, "Masalah Perburuhan Dalam Marhaenisme." ceramah yang disampaikan dalam konferensi PNI Jawa Tengah di Magelang, 17 April 1954 (Rocamora, 1991: 122-123).

40

Pada saat yang sama, Serikat Buruh Perkebunan (Sarbupri) yang berafiliasi dengan SOBSI juga pecah menjadi empat serikat buruh daerah, yang masingmasing mengikuti para pemimpin buruh berafiliasi dengan PKI, PSI, PNI dan Murba. Pada akhir tahun 1953, serikat-serikat buruh besar yang ada semuanya sangat erat berafiliasi dengan partai politik: SOBSI dengan PKI, KBKI dengan PNI, Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII) dengan Masyumi, KBSI dengan PSI, dan SOBRI dengan Partai Murba (Tedjasukmana, 1959: passim). Afiliasi serikatserikat buruh dengan partai politik secara lebih lengkap dapat dilihat pada lampiran di bawah ini: Partai Politik dan Serikat Buruh yang Bernaung di bawahnya :
Partai Politik PNI-Partai Nasional Indonesia Masyumi-Majelis Syuro Muslimin Indonesia NU-Nahdatul Ulama PKI-Partai Komunis Indonesia PSI-Partai Sosialis Indonesia PSII-Partai Serikat Islam Indonesia Parkindo Indonesia Partai Kristen Partai Katolik Indonesia PRN-Partai Rakyat Nasional Partai Murba
Sumber: Pelzer (1991:83), Trimurti (1980:28-29).

Organisasi Buruh KBKI-Kesatuan Buruh Kerakyatan Indonesia SBII-Serikat Buruh Islam Indonesia Sarbumusi-Serikat Buruh Muslimin Indonesia SOBSI-Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia KBSI-Kongres Buruh Seluruh Indonesia GOBSII-Gabungan Organisasi Buruh Serikat Islam Indonesia SBKI-Serikat Buruh Kristen Indonesia OB Pancasila-Organisasi Buruh Pancasila OB Pancasila-Organisasi Buruh Pancasila SOBRI-Sentral Organisasi Buruh Republik Indonesia

Di antara serikat-serikat buruh tersebut, SOBSI merupakan serikat buruh yang terbesar. Hampir di semua perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia, SOBSI memiliki anggota yang bekerja sebagai buruh. Karena itu PKI sebagai organisasi induk SOBSI dapat menggerakkannya untuk melakukan pemogokan-pemogokan menekan pemerintahan Indonesia yang non atau anti komunis (Soebagijo, 1980:98). Dalam kedudukan demikian, sepanjang tahun 1950-an dapat dikatakan bahwa garis perjuangan SOBSI sejalan dengan garis perjuangan PKI. Menurut ketua Committee Central (CC) PKI, DN Aidit garis perjuangan kaum komunis Indonesia adalah:

41

"...suatu bentuk perjuangan kelas. Perjuangan antara kaum penindas dan penghisap, yaitu kaum imperialis dan kaum tuan tanah feodal serta kaki tangannya, dengan kaum tertindas dan terhisap, yaitu rakyat Indonesia yang terdiri dari kelas buruh, kaum tani, kaum borjuis kecil, kaum intelek, kaum pengusaha nasional dsb. yang dirugikan oleh imperialisme dan feodalisme. Tujuan perjuangan kelas ini ... pertama-tama bukanlah untuk menghapuskan hak milik perseorangan pengusaha nasional..., melainkan hak milik perseorangan kaum imperialis dan kaum tuan tanah feodal serta kakitangan-kakitangannya."29 Dalam konteks situasi tahun 1950-an, yang dimaksud Aidit dengan kaum imperialis terutama adalah perusahaan-perusahaan milik Belanda dan milik asing lainnya. Karena itu SOBSI dapat menerima suatu bentuk kerja sama dengan serikat-serikat buruh lainnya untuk mendapat kemenangan bagi perjuangan buruh.30 Ada beberapa masalah yang diangkat oleh SOBSI untuk diperjuangkan yaitu: kenaikan upah bagi kaum buruh, pembelaan atas hak-hak demokrasi, pemberian tunjangan hari raya, penghentian massa-onslah dan pelaksanaan seluruh pasal-pasal undang-undang kerja yang telah ada.31 Meskipun tidak dapat ditentukan angka-angka yang dapat dipercaya sepenuhnya, namun sampai dengan tahun 1958 usaha untuk mengetahui jumlah kaum buruh yang tergabung dengan serikat-serikat buruh telah diupayakan oleh kementrian perburuhan. Sesuai dengan catatan yang dibuat oleh Jawatan Hubungan Perburuhan terdaftar serikat-serikat buruh dengan jumlah anggota sebagai berikut:

29

30

31

Menurut Aidit, karena itulah kaum komunis tidak dapat menyetujui pandangan-pandangan yang ingin menghapuskan hak milik kaum tani, borjuis kecil dan pengusaha nasional. Karena sampai saat itu golongan-golongan masyarakat tersebut masih dapat memainkan peranan yang progresif (atau positif) (Aidit, 1962:50-51). Lihat pandangan yang dikemukakan oleh Njono, "Kembangkan Kesatuan Aksi Yang Semakin Meluas," dalam majalah SOBSI: Bendera Buruh No.4, Th.III, Oktober 1952. Ibid.

42

Daftar Jumlah Anggota Serikat-Serikat Buruh Tahun 1957-1958


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nama Serikat Buruh SOBSI KBKI KBSI SOBRI HISSB1 INDEPENDENT SARBUMUSI SBII KBIM GSBI GOBSI BPB GOBNI Jumlah Jumlah Serikat Buruh yang tergabung Juni Akhir Akhir 1957 1957 1958 35 37 40 2 3 3 20 25 25 8 8 9 5 6 12 103 128 161 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 5 5 5 1 1 1 184 213 261 Jumlah Juni 1957* 1.502.432 100.758 261.483 43.862 8.044 170.697 11.950 275.500 41.672 32.777 1.347 646 7.791 2.458.159 Anggota Akhir 1957** 1.179.647 331.918 105.884 116.928 16.256 378.277 13.828 84.051 10.290 18.175 6.298 21.475 2.295.066

* Menurut catatan pusat. ** Laporan-laporan dari daerah. Sumber: Biro Perantjang Negara, Laporan Pelaksanaan Rentjana Pembangunan Lima Tahun 1956-1960, ha1.296-297.

Permasalahan yang paling mengemuka dalam hubungan perburuhan terutama menyangkut soal upah yang mendorong para buruh untuk melakukan aksi mogok. Namun selain SOBSI, aksi mogok yang dilakukan oleh serikat-serikat buruh lainnya tidak dilandasi oleh perjuangan kelas. Meskipun demikian, kebanyakan serikat buruh sependapat bahwa segala kesulitan ekonomi di Indonesia disebabkan masih dominannya modal Belanda. Sedangkan bagi kabinet-kabinet yang memerintah Indonesia sampai dengan tahun 1953, kehadiran modal asing masih tetap diperlukan. Dalam rangka menyambut hari buruh tahun 1953, menteri Perburuhan Iskandar Tedjasukmana menyatakan: "...produksi perusahaan-perusahaan asing itu termasuk dalam mata rangkai rencana pemerintah untuk memperbaiki perekonomian negara."32 Menteri perburuhan mengharapkan kaum buruh menunaikan fungsi sosial dan nasionalnya untuk kepentingan masyarakat, rakyat dan negara. Jadi bukan sekedar untuk kepentingan golongan maupun ideologi. Karena itu bagi KBKI, aksi mogok yang mereka lakukan lebih didorong untuk memperjuangkan kepentingan nasional ketimbang sekedar memperjuangkan kenaikan upah.33 Sedangkan bagi serikat-serikat buruh yang berafiliasi dengan partai-partai keagamaan hampir tidak pernah melakukan aksi mogok. Bagi Masjumi misalnya, tujuan utama pembentukan SBII untuk menandingi kekuatan komunis di kalangan kaum buruh, selain memberikan wadah perjuangan bagi buruh-buruh muslim (Soebagijo, 1980:98).

32 33

Lihat Sambutan Menteri Perburuhan yang dimuat dalam majalah Berita Ekonomi No.10, Th.l, Mei 1953. Wawancara dengan Martiman, 7 Juli 2000.

43

Pemogokan-Pemogokan Buruh di Indonesia 1952-1958 Jumlah Jumlah Jumlah Jam Tahun Pemogokan Pemogok Kerja yang Hilang 1952 349 132.963 878.911 1953 280 419.580 4.812.090 1954 319 157.582 2.385.730 1955 469 238.872 4.097.803 1956 505 340.203 6.968.931 1957 128 1.079.537 7.921.477 1957* 151 62.024 863.257 1958** 55 13.578 98.060
* Angka-angka yang dibetulkan, tidak termasuk aksi pembebasan Irian Barat. ** Angka-angka sementara. Sumber : Laporan Tahunan Bank Indonesia 1957-1958.

Selain melakukan aksi-aksi mogok, dalam menyikapi situasi politik dan ekonomi nasional, kaum buruh juga mengajukan resolusi-resolusi kepada pemerintah terutama yang berkaitan dengan keberadaan perusahaan-perusahaan Belanda. Sehubungan dengan dibatalkannya perjanjian KMB pada tahun 1956, serikatserikat buruh memberikan dukungan kepada pemerintah untuk segera mengambil alih perusahaan-perusahaan Belanda. Sarbupri dalam kongresnya di Malang pada tanggal 6-9 Juni 1956, salah satu resolusinya mendesak keras pemerintah agar menyita seluruh milik Belanda sebagai imbangan pendudukan Belanda atas Irian Barat.34 Demikian juga resolusi yang diajukan oleh Serikat Buruh Percetakan Indonesia (SBPI) yang berafiliasi dengan SOBSI, mendesak pemerintah untuk meniadakan hak-hak Belanda sehubungan dengan pembatalan perjanjian KMB.35 Seiring dengan semakin meningkatnya ketegangan situasi nasional yang dipicu oleh masalah Irian Barat dan berbagai pemberontakan daerah, maka aktivitas serikat-serikat buruh juga turut meningkat Peningkatan aktivitas itu dapat dilihat dari meningkatnya jumlah aksi-aksi pemogokan pada tahun 1956 dan 1957 (lihat tabel di atas). Politik konfrontasi untuk membebaskan Irian Barat dan anggaran militer yang meningkat akibat diberlakukannya keadaan darurat perang telah mendatangkan masalah sosial ekonomi, khususnya bagi kaum buruh. Dalam situasi demikian, kehadiran perusahaan-perusahaan Belanda semakin mendapat kecaman yang keras, terutama dari serikat-serikat buruh yang mendesak pemerintah untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan tersebut. Hanya dibutuhkan suatu pemicu, maka serikat-serikat buruh tersebut akan mengambil inisiatif untuk melakukan tindakan pengambilalihan terhadap perusahaanperusahaan Belanda.

34 35

ANRI, Koleksi Kabinet Presiden RI, No. Inventaris 1528. Ibid.

44

Tindakan Pengambilalihan
Pada tanggal 29 November 1957, Indonesia sekali lagi gagal memperoleh mayoritas suara dua pertiga yang diperlukan dalam Majelis Umum (General Assembly) PBB atas usulannya agar kedua pihak yang bertikai dalam masalah Irian Barat (Indonesia dengan Belanda) dapat melakukan negosiasi kembali (Wertheim, 1999:290). Sehari kemudian menyertai suasana krisis yang kian memuncak itu, terjadilah percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno dalam Peristiwa Cikini.36 Dalam menyikapi kegagalan resolusi Indonesia di PBB, pada tanggal 1 Desember 1957, pemerintah mengumumkan adanya aksi mogok selama dua puluh empat jam terhadap semua perusahaan Belanda (Bartlett, 1986:100). Menteri penerangan Sudibjo selaku ketua panitia aksi pembebasan Irian Barat, dengan pengesahan kabinet, telah memberikan instruksi tersebut melalui Radio Republik Indonesia (RRI).37 Akibat aksi mogok selama dua puluh empat jam tersebut, diperkirakan perusahaan-perusahaan Belanda mengalami kerugian kurang lebih seratus juta rupiah lebih.38 Sebagai kelanjutan dari aksi mogok tersebut, rapat Dewan Menteri pada tanggal 5 Desember memutuskan bahwa seluruh transfer keuntungan perusahaanperusahaan Belanda dibekukan.39 Perusahaan-perusahaan yang telah diambil alih oleh buruh perusahaan itu dikuasai pemerintah dan pimpinannya diserahkan kepada suatu badan pengawas.40 Bersama dengan itu, Menteri Kehakiman Maengkom menyatakan pelarangan pengambilalihan perusahaan Belanda oleh para buruhnya. Pengambilalihan dilakukan oleh penguasa militer untuk kepentingan keamanan.41 Pengambilalihan dilarang kalau maksudnya sekedar merampas harta milik Belanda.

36

37

38

39

40 41

Pada malam tanggal 30 November, ketika presiden meninggalkan sebuah sekolah di wilayah Cikini, Jakarta, dengan disertai dua putranya, beberapa granat tangan dilemparkan dalam upaya membunuhnya. Presiden berhasil diselamatkan, namun jatuh dua korban jiwa dan sedikitnya 30 orang luka parah. Sebagian besar korban adalah murid sekolah. Kejadian itu kemudian dikenal dengan nama Peristiwa Cikini dan Kolonel Zulkifli Lubis, bekas direktur Badan Intelijen Angkatan Darat diduga berada di belakang aksi tersebut (Kahin dan Kahin, 1997:140-144) Harian Indonesia Raya, 2 Desember 1957, Suluh Indonesia, 2 Desember 1957, Pedoman, 2 Desember 1957. Harian Suluh Indonesia, 3 Desember 1957. Kerugian seratus juta rupiah ini berdasarkan nilai rupiah pada tahun 1957. Rapat Dewan Menteri tersebut menghasilkan Surat Keputusan No. 36484/57, tanggal 6 Desember 1967, yang antara lain menyatakan bahwa pemberian izin transfer sosial perorangan maupun perusahaanperusahaan Belanda dihapuskan sama sekali kecuali untuk pegawai-pegawai negeri bangsa Belanda. Lihat hasil keputusan Rapat Direksi Lembaga Alat-Alat Pembayaran Luar Negeri (LAAPLN) tanggal 9 Desember 1957 di Bank Indonesia (BI) dalam koleksi arsip BI tentang LAAPLN, No. Inventaris 41. Harian Indonesia Raya, 6 Desember 1957 Harian Pedoman, 6 Desember 1957

45

Dipicu oleh aksi mogok total para buruh, aksi pengambilalihan terhadap perusahaan-perusahaan Belanda, termasuk pengambilalihan The Big Five, telah terlanjur menggelinding bagaikan bola salju. Dalam aksi-aksi pengambilalihan, serikat-serikat buruh yang berafiliasi dengan SOBSI memainkan peranan penting. Hal ini dapat dipahami karena SOBSI merupakan federasi serikat buruh yang sebelumnya paling gencar menuntut pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda. Tetapi inisiatif pertama untuk melakukan aksi pengambilalihan justru bukan dilakukan oleh SOBSI. Pada pagi hari tanggal 3 Desember, terjadi pengambilalihan terhadap kantor pusat KPM di Jl. Merdeka Timur, Jakarta.42 Tindakan tersebut dilakukan oleh serikat buruh pelabuhan yang berafiliasi dengan PNI (Bartlett, 1986:100); "... pagi tanggal 3 Desember 1957 sekelompok pimpinan serikat buruh KBKI memaksa masuk ke dalam ruangan manajer di kantor pusat, Jakarta, dan memproklamirkan pengambilalihan KPM oleh oknum buruh. Menghadapi situasi demikian, pihak manajemen mengemukakan bahwa mereka harus membicarakanya terlebih dahulu dengan pemerintah, dan dijawab oleh pimpinan mereka, "kami dan kaum buruh adalah pemerintah!"43 Pengambilalihan kantor pusat KPM dilakukan secara damai tanpa kekerasan.44 Mengingat pemerintah dan penguasa militer tidak melakukan suatu tindakan apa pun terhadap aksi kaum buruh, maka dapat diduga bahwa pemerintah Indonesia secara diam-diam turut mendukung berbagai aksi tersebut. Dugaan ini semakin kuat karena pada tanggal 6 Desember 1957 Menteri Perhubungan mengemukakan persetujuannya atas pengambilalihan KPM.45 Sehari setelah pengambilalihan KPM bergerak pula Serikat Buruh Bank Seluruh Indonesia (SBBSI) di Jakarta, yang berupaya untuk menduduki dan menguasai bank-bank Belanda.46 Tindakan ini dapat digagalkan Bank Indonesia yang tidak menghendaki terulangnya kekacauan dan kesimpang-siuran yang terjadi sewaktu pengambilalihan KPM. Dengan segera, mulai tanggal 8 Desember 1957 penguasa perang menempatkan bank-bank Belanda di bawah pengawasan sebuah badan yang bernama Badan Pengawas Bank yang diketuai oleh Koordinator Finek/Staf Harian Penguasa Militer.

42 43 44 45

46

Harian Pedoman, 4 Desember 1957 KPM, Jakarta ke Amsterdam, tanggal 3 Desember 1957 seperti yang dikutip oleh Dick (1990:40-41) Harian Suluh Indonesia, 4 Desember 1957. Pemerintah Indonesia tampaknya menghindari pengumuman adanya tindakan nasionalisasi secara resmi. Karena tindakan demikian menuntut azas legalitas dan memiliki konsekuensi hukum yang dapat menyulitkan pemerintah sendiri. Karena itu perusahaan-perusahaan yang telah diambil alih hanya dinyatakan sebagai berada di bawah pengawasan pemerintah. Wawancara dengan Moes Joenoes, 17 Mei 2000 dan Islam Salim, 21 Juni 2000 di Jakarta. Lihat pula Dick (1990:41). Bank-Bank Belanda tersebut ialah: Nederlandsche Handel Mij (NHM), Nationale Handels Bank (NHB), dan Escompto Bank NV. Mengenai ruang lingkup kegiatan dari masing-masing bank tersebut lihat koleksi arsip BI tentang LAAPLN, No. Inventaris 54.

46

Pada awalnya, aksi anti Belanda ini dipimpin oleh Komite Aksi Pembebasan Irian Barat yang didukung oleh pemerintah (Wertheim, 1999:291). Tetapi pada pelaksanaannya, aksi pengambilalihan di beberapa perusahaan dilakukan secara independen oleh serikat-serikat buruh yang berafiliasi dengan SOBSI dan KBKI. Pada tanggal 13 Desember pada waktu hampir semua perusahaan Belanda telah diambil alih, Angkatan Darat (AD) menetapkan penguasaan atas perusahaanperusahaan yang telah diambil alih tersebut. Tindakan ini dilakukan AD untuk menghindarkan jatuhnya perusahaan-perusahaan tersebut ke tangan komunis (Linblad et.al., 1999:211). PKI dan SOBSI yang tidak menghendaki terjadinya konfrontasi fisik secara langsung dengan AD, segera menjanjikan dukungan mereka untuk menjaga agar perusahaan-perusahaan itu tetap berjalan (Ricklefs, 1991:394). Terlibatnya AD menjadi hal yang menentukan, karena mereka mulai berperan sebagai suatu kekuatan ekonomi yang penting. Pihak AD selanjutnya mendapatkan sumbersumber finansial yang dikuasainya sendiri dan dapat disalurkan dan dipergunakan untuk keperluannya sendiri (Samego et.al., 1998:54). Sebagai kelanjutan dari tindakan pengambilalihan, pemerintah Indonesia melalui kementrian perindustrian membentuk sebuah badan yang bertugas mengumpulkan bahan-bahan keterangan tentang perusahaan-perusahaan pertambangan dan industri milik Belanda. Badan tersebut diberi nama Badan Pengumpul BahanBahan Keterangan Tentang Perusahaan-Perusahaan Industri Belanda.47 Pengumpulan bahan-bahan ini dimaksudkan untuk meneliti perusahaanperusahaan manakah yang seluruhnya modal Belanda dan manakah yang campuran. Berdasarkan hasil penelitian tersebut terhadap perusahaan yang seluruhnya milik Belanda akan diambil tindakan pengawasan (pengambilalihan) sebagaimana mestinya. Sampai akhir Desember 1957, perusahaan-perusahaan pertambangan yang tercatat sebagai milik Belanda (termasuk modal campuran) adalah: perusahaan minyak BPM, NIAM (modal campuran dengan pemerintah Indonesia), NV Billiton Exploitatie My, NV Singkep Tin Exploitatie My, NV Perusahaan Tambang Batubara Sigihan di Samarinda, NV Oost Borneo My Batu Panggal, NIBEM (Nederland Indonesis Bauxite Exploitatie My) Tanjung Pinang, NV Jodium Watudakan Mojokerto.48 Selain itu, tercatat pula perusahaan-perusahaan industri milik Belanda atau campuran lainnya, meliputi: 49 perusahaan industri grafika, 7 buah industri pengolahan karet, dan 11 industri lainnya.49 Modal Belanda yang tertanam dalam perusahaan-perusahaan industri tersebut diperkirakan berjumlah 9,6 milyar rupiah (nilai uang saat itu).

47

48 49

Harian Suluh Indonesia, 28 Desember 1957. Badan ini diketuai oleh Abujono dari kementrian perindustrian dengan anggota: Mr. Sukarsono, Mudikdo, Drs. Gan Soan Bean, Drs. L.T. Weber, dan Amir H. Siregar. Ibid. Ibid. 11 perusahaan industri itu terdiri dari industri mesin, alat-alat listrik, zat asam, barang kaleng, radio, kayu, dan 4 buah industri pengolahan kulit

47

Di samping pengambilalihan aksi anti Belanda50 juga diwujudkan dengan cara pengusiran warga negara Belanda. Menteri Kehakiman pada awal bulan Desember mengumumkan bahwa 50.000 warga negara Belanda akan diusir atau dipulangkan dalam tiga tahap. Tahap pertama, mereka yang tidak melakukan pekerjaan; kedua, mereka yang tergolong dalam golongan menengah; dan ketiga, mereka yang sebagai tenaga ahli sukar dicari penggantinya (Oey, l 991:388). Jumlah warga negara Belanda menurun secara drastis. Menurut perkiraan jumlah mereka yang dipulangkan sampai dengan akhir bulan Agustus 1958 diperkirakan kurang lebih 36.500 orang. Mereka hampir seluruhnya diangkut dengan kapal laut. Pada tanggal 6 September 1958 telah tiba kapal Waterman di Rotterdam yang merupakan kapal ke 94 dan terakhir dari rencana darurat resmi yang dibuat pemerintah Belanda bagi pemulangan warga negaranya. Sampai akhir bulan Agustus 1958 diperkirakan masih terdapat 5.000 hingga 6.000 warga negara Belanda di Indonesia, yang terutama bekerja pada perusahaan-perusahaan asing.51 Dalam kegiatan ekspor dan impor antara Indonesia dan Belanda tidak terjadi pemutusan hubungan secara langsung. Berdasarkan kesepakatan antara Gubernur BI dan menteri keuangan diputuskan bahwa impor bahan-bahan baku dan barangbarang modal tertentu dari Belanda yang dibutuhkan untuk menjamin kelangsungan produksi dapat dijalankan terus. Sedangkan mengenai ekspor ke Belanda ditetapkan bahwa hasil-hasil ekspor yang sukar untuk mendapat pasaran baru, misalnya tembakau dan timah, dapat dijalankan terus.52 Pada tahun 1958 Kantor Urusan Ekspor (KUE) mengeluarkan peraturan yang melarang semua eksportir di Indonesia untuk mengirim hasil-hasi1 Indonesia ke negeri Belanda. Eksportir Indonesia juga dilarang untuk menerima pembayaran dalam bentuk mata uang gulden.53 Untuk permulaan, perkecualian larangan ekspor dikenakan untuk komoditi minyak kelapa sawit, tembakau dan teh. Komoditi-komoditi tersebut diperlukan bagi negeri Belanda sendiri karena mereka merupakan konsumen dan bukan hanya penjual atau penyalur saja. Dari data statistik di bawah ini dapat dilihat akibat dari keluarnya peraturan KUE itu, ekspor Indonesia yang masuk ke Belanda dalam tahun 1958 hanya tinggal kelapa sawit, tembakau dan teh (dalam jumlah yang sudah sangat berkurang). Komoditi lainnya seperti kopi dan karet sudah hampir tidak ada lagi.

50

51

52 53

Aksi anti Belanda lainnya yang diprakarsai oleh pemerintah adalah penutupan semua konsulat Belanda, lihat Harian Suluh Indonesia, 6 Desember 1957. Juga pelarangan terhadap semua penerbitan Belanda dan penundaan terhadap pemberian hak mendarat bagi pesawat-pesawat KLM (Bartlett, 1986:100). Oleh jawatan imigrasi diumumkan bahwa warga negara Belanda tidak diperkenankau lagi untuk memasuki Indonesia (Oey, 1991:388). Keesing Historisch Archief No. 14211 (6-12 Oktober 1958), ha1.14385 seperti yang dikutip oleh Oey (1991:388) Koleksi arsip BI tentang LAAPLN, No. Inventaris 41. Majalah Warta Niaga dan Perusahaan, 21 Februari 1959.

48

Ekspor ke negeri Belanda (berat dalam kg.)


Jenis 1958 1956 1957 komoditi Jan s/d Sept Tembakau 11.361.638 13.914.119 6,185.148 Teh 13.962.860 14.968.251 4.563.164 Minyak kelapa sawit 72.131.744 85.361.481 46.942.196 Biji kopi 6.954.953 7.855.499 71.050 Karet Perkebunan 31,964.405 25.443.703 404.162 Karet Rakyat 20.937.357 18.483.411 328.782 Sumber: Majalah Warta Niaga dan Perusahaan, 21 Februari 1959 1956 98,40 40,51 57,61 12,12 13,61 5,07 1957 95,64 41,93 66,20 15,42 10,61 4,54 1958 31,45 17,49 52,13 0,34 0,26 0,14

Pada pertengahan bulan Februari 1959, pemerintah Indonesia menandatangani perjanjian pemindahan penjualan tembakau Indonesia ke Bremen,54 Jerman Barat. Dalam perjanjian tersebut dinyatakan bahwa Indonesia menjamin 50% dari hasil tembakau akan dilelang di Bremen. Di kota ini kemudian dibentuk perusahaan Deutsch-Indonesische Tabak Handellschaft (DITH), suatu badan usaha bersama antara pemerintah Indonesia dan sekumpulan pedagang tembakau di Bremen (Oey, 1991:325). DITH diberi hak monopoli untuk memasarkan tembakau hasil produksi Pusat Perkebunan Negara (PPN). Sedangkan pemasaran teh dan minyak kelapa sawit dipindahkan ke Antwerpen, Belgia, di mana maskapai Socomambel telah menyatakan bersedia bertindak sebagai penyalurnya. Maka mulai tahun 1959 ekspor Indonesia ke Belanda sudah bisa dihentikan seluruhnya. Sedangkan mengenai impor dari negeri Belanda, rapat direksi LAAPLN tanggal 26 November 1958 memutuskan untuk tidak memperkenankan lagi impor barang-barang konsumsi dari Belanda baik secara langsung maupun tidak langsung.55 Sementara itu tindakan pengambilalihan terus berlangsung hingga akhir tahun 1959 tanpa adanya suatu arahan yang terencana dari pemerintah. Masih terjadi kebingungan dalam menafsirkan pengertian dari pengambilalihan itu sendiri. Dari kalangan serikat buruh ada pendapat yang menafsirkan istilah ambil alih yang wajar tidak bisa lain daripada pensitaan ... seluruh perusahaan milik Belanda."56 Mereka menolak pengertian lain seperti naasting, Indonesianisasi, nasionalisasi ataupun lainnya yang semacam itu, karena mengaburkan pandangan dan corak perjuangan yang hakiki dan kaum buruh. Pemerintah Indonesia mengeluarkan undang-undang (UU) yang mengatur jalannya pengambilalihan yang oleh pemerintah disebut sebagai nasionalisasi pada akhir tahun 1958. Berdasarkan rapat parlemen tanggal 3 Desember 1958 disetujui pemberlakuan undang-undang tentang; Nasionalisasi PerusahaanPerusahaan Milik Belanda yang berada di dalam wilayah Republik Indonesia.57 UU tentang Nasionalisasi disahkan berlakunya pada tanggal 27 Desember 1958.

54 55 56

57

Ibid. Koleksi arsip BI tentang LAAPLN, No. Inventaris 41. Lihat resolusi yang diajukan Serikat Buruh Gula (SBG) yang berafiliasi dengan SOBRI pada tanggal 30 Juni 1958. ANRI, Koleksi Kabinet Presiden RI, No. Inventaris 1545. Undang-undang No.86 tahun 1958, tentang Nasionalisasi Perusahaan-perusahaan milik Belanda dalam Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1958, No.162.

49

Dalam UU tersebut ditetapkan bahwa perusahaan-perusahaan milik Belanda yang berada di wilayah RI dikenakan nasionalisasi dan dinyatakan menjadi milik penuh dan bebas negara RI. Sedangkan kepada perusahaan yang dinasionalisasi akan diberi ganti kerugian yang pembayarannya akan diatur dalam undang-undang tersendiri (lihat UU No. 86 tentang Nasionalisasi pada lampiran). Selama ini ada dua pandangan dalam menilai latar belakang, dan proses pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda. Pertama, peristiwa pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda merupakan kejadian yang sama sekali tidak direncanakan sebelumnya. Pandangan ini diperkuat oleh tiadanya suatu program pemerintah yang teratur dalam pelaksanaan pengambilalihan (Kahin & Kahin, 1997:139). Kedua, pemerintah berada di belakang aksi pengambilalihan tersebut. Suatu skenario telah dirancang, di mana rakyat yang marah merebut fasilitas yang kemudian ditempatkan oleh pemerintah dalam penjagaan perlindungan (Gardner; 1999:286). Pandangan ini diperkuat oleh pernyataan Presiden Soekarno, bahwa pengambilalihan tersebut diprakarsai oleh dirinya sendiri (Fischer, 1959:300).

50

Jakarta, 7 Januari 1951 Rapat (Jurnal Perjuangan Irian Barat di Lapangan Banteng.
Sumber Foto : Arsip Nasional Republik Indonesia

Jakarta. 1 Mei 1951 Pawai di sekitar lapangan Merdeka yang diikuti oleh 60 Serikat Buruh Pada hari Perayaan 1 Mei.
Sumber Foto : Arsip Nasional Republik Indonesia

51

3 Januari 1958 Pengambilalihan Pabrik Kertas "Padalarang" oleh Penguasa Perang di Staf Kwartier TT.III Bandung.
Sumber Foto : Arsip Nasional Republik Indonesia

16 Januari 1958 Pengibaran bendera Merah Putih pada upacara pengambilalihan Perkebunan Karet "Klapanunggal" dan "Tingga Jaya (NV Michiel Arnold) oleh penguasa perang di Bogor.
Sumber Foto : Arsip Nasional Republik Indonesia

52

tiga Terbentuknya Keseimbangan yang Baru


Tindakan pengambilalihan terhadap perusahaan-perusahaan Belanda telah mendatangkan reaksi dari berbagai pihak. Dampak dari pengambilalihan tersebut telah menyebabkan berakhirnya dominasi modal Belanda dalam ekonomi modern Indonesia. Perkembangan baru ini tentu berdampak besar terhadap situasi politik dan ekonomi saat itu. Keruwetan masalah yang dihadapi Indonesia sebagai akibat dari berbagai pergolakan daerah dan masalah Irian Barat, menyebabkan pemerintah Indonesia menyambut secara positif tindakan pengambilalihan. Dengan terjadinya pengambilalihan terciptalah momentum untuk mengakhiri dominasi ekonomi Belanda dan kemungkinan untuk memperbaiki keadaan ekonomi. Meski demikian, tindakan pengambilalihan tidak sepenuhnya mendapatkan sambutan yang baik. Bagaimanapun tindakan pengambilalihan perusahaanperusahaan Belanda tersebut telah dilakukan tanpa suatu persiapan yang matang. Tidak ada suatu program terencana yang telah disiapkan, pengambilalihan terjadi tanpa terkendali. Keadaan itu mendatangkan sikap kritis dari sebagian kalangan pemimpin Indonesia yang menilai tindakan pengambilalihan justru akan berdampak negatif bagi perkembangan ekonomi nasional. Dengan demikian, pengambilalihan telah mendatangkan reaksi yang beraneka ragam.

Berbagai Reaksi Terhadap Pengambilalihan


Pemerintah Indonesia secara resmi menyatakan aksi pengambilalihan terhadap perusahaan-perusahaan Belanda itu sebagai tekanan yang ditujukan pada pemerintah Belanda dalam memaksa mereka melanjutkan perundingan masalah Irian Barat (Wertheim, 1999:290). Di samping itu, bagi Indonesia aksi pengambilalihan itu dianggap sebagai pelaksanaan dari keputusan pembatalan KMB pada tahun 1956. Dalam keterangan resminya Perdana Menteri Djuanda menyatakan: dengan adanya pengambilalihan hanya tersedia dua kemungkinan bagi Belanda. Pertama, menyerahkan Irian Barat dan mengadakan hubungan normal dengan Indonesia; kedua, tetap bersikeras menduduki Irian Barat, tetapi kepentingannya di Indonesia dilikuidasi sama sekali.1 Ditegaskan pula oleh Perdana Menteri Djuanda bahwa hubungan di antara kedua negara tidak mungkin tetap dipertahankan seperti yang telah berlangsung, di mana Belanda menikmati kedudukan ekonomi yang istimewa di Indonesia.
1

Lihat pernyataan Perdana Menteri Djuanda yang dimuat dalam Harian Suluh Indonesia, 30 Desember 1957.

53

Keterangan yang diberikan oleh Perdana Menteri Djuanda itu tidak berbeda jauh dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Presiden Sukarno pada hari peringatan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1958. Dalam pernyataan itu dikemukakan: Bagi Belanda tinggal kini dua pilihan: terus berkeras kepala, atau memahami tuntutan sejarah. Terus berkeras kepala akan berarti jalan lain akan kita daki terus dan Belanda akan kehilangan Irian Barat dengan tiada terhormat dan menderita kerugian-kerugian seterusnya yang tak ternilai; memahami tuntutan sejarah, akan berarti mengembalikan Irian Barat kepada Indonesia dengan terhormat, dari normalisasi hubungan antara Nederland dan Indonesia sebagai lazim dalam dunia internasional."2 Tanggapan yang diperlihatkan oleh pemerintah Belanda adalah sikap keras kepala. Mereka tidak menanggapi tekanan yang diberikan pemerintah Indonesia secara serius. Memasuki tahun 1958, posisi Belanda bahkan lebih keras dibanding sebelumnya. Sikap itu dilandasi oleh argumen bahwa perundingan masalah Irian Barat tidak dapat dilanjutkan dalam kondisi diperas (Wertheim, 1999:290). Di Belanda, sikap umum yang berlaku: tidak ada yang dapat dilakukan berkaitan dengan situasi yang berlangsung dan kepentingan di Indonesia harus dianggap sebagai kehilangan total. Sikap itu mengakibatkan hubungan Indonesia dengan Belanda berkembang menjadi semakin buruk. Bagi pemerintah Belanda bukan tindakan pengambilalihan yang dipandang sebagai masalah yang paling serius. Dalam keterangannya kepada pers, Duta Besar Belanda untuk Amerika Serikat, Van Royen menyatakan pemerintah Belanda memandang perlakuan terhadap warga negara Belanda di Indonesia jauh lebih serius ketimbang masalah penyitaan hak milik Belanda.3 Dikatakannya bahwa sejak pemerintah Indonesia menutup kantor-kantor Konsulat Belanda di Indonesia, tidak ada orang yang dapat dimintai bantuan oleh orang Belanda. Sementara itu Amerika Serikat bertindak hati-hati dalam menanggapi tindakan pengambilalihan. Secara resmi pemerintah Amerika Serikat memberikan jaminan tidak akan mengurangi bantuan yang diberikan kepada Indonesia untuk melaksanakan program-program pembangunan.4 Jaminan tersebut disampaikan oleh direktur Biro Pasifik Barat Daya Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Gordon Mein, yang pada bulan Desember 1957 berkunjung ke Jakarta (Gardner; 1999:288). Sehubungan dengan itu Gordon Mein menunjukkan pada kenyataan bahwa sejumlah 30.000 ton beras dari Amerika Serikat saat itu tengah ada dalam perjalanan menuju Indonesia.

3 4

Lihat kumpulan pidato Sukarno dalam Sukarno, Di Bawah Bendera Resolusi jilid II, 1966:326-327. Garis bawah pada pernyataan Sukarno merupakan tambahan dari penulis. Pernyataan tersebut dikutip oleh Harian Suluh Indonesia, 28 Desember 1958. Ibid.

54

Dari dalam negeri tanggapan kritis terhadap tindakan pengambilalihan datang dari Sjafruddin Prawiranegara, Gubernur Bank Indonesia 1953-1958.5 Tanggapan itu disampaikannya dalam Musyawarah Nasional Pembangunan (Munap) yang diadakan di Jakarta pada tanggal 25 November sampai 3 Desember 1957 (Seda, 1992:37). Dalam Munap tersebut Sjafruddin menyampaikan pidato kritis bernada tajam mengenai tindakan pengambilalihan yang menurutnya tanpa rencana yang matang (Kahin dan Kahin 1997:140). Tindakan yang demikian menurutnya akan mendatangkan akibat yang sangat parah bagi perekonomian Indonesia. Pendapat yang senada dengan Sjafruddin juga disampaikan oleh Mohammad Hatta dalam menanggapi tindakan pengambilalihan. Sekalipun tidak sedemikian terbuka seperti Sjafruddin, namun terlihat jelas bahwa Hatta menentang tindakan pengambilalihan. Menurut pendapatnya tidak ada perencanaan dari pemerintah dalam memperjuangkan masalah Irian Barat. Dengan melakukan pengambilalihan terhadap perusahaan-perusahaan Belanda pemerintah Indonesia, menurut Hatta, hanya bertindak menurut sentimen belaka.6 Karena tidak ada perjuangan yang hebat dimulai dengan kelaparan dan dengan menyuruh rakyat lapar sementara. Pernyataan Hatta tersebut ditolak oleh Perdana Menteri Djuanda sebagai wakil dari pemerintah.7 Dalam menolak pernyataan Hatta, Djuanda menyampaikan fakta-fakta bahwa: 1. Sudah sejak lama ada Panitia Negara Pembatalan Perjanjian KMB Seksi Finek yang harus meninjau kedudukan ekonomi Belanda. Apa yang dilakukan sekarang hanya merupakan penyelenggaraan pembatalan perjanjian KMB. 2. Adanya panitia pembatalan transfer sosial yang diketuai oleh Perdana Menteri Djuanda sendiri dan bahwa devisen sosial tahun demi tahun telah dikurangi. 3. Adanya panitia pembatasan transfer laba atau untung yang telah melakukan pengurangan atau penghapusan transfer laba dari perusahaanperusahaan Belanda yang telah menjadi modal dalam negeri. 4. Rencana Undang-Undang Modal Asing yang sudah diperkuat oleh Musyawarah Nasional dan Musyawarah Nasional Pembangunan.8

6 7

Pada tanggal 31 Januari 1958, Sjafruddin Prawiranegara diberhentikan sebagai Gubernur Bank Indonesia atas usul Dewan Moneter dan ditetapkan dalam sidang kabinet dengan alasan tidak memenuhi panggilan Menteri Keuangan, Sutikno Slamet, untuk kembali ke posnya di Jakarta, ketika ia berada di Palembang. Ketika itu memang sedang terjadi pergolakan daerah yang berkembang menjadi gerakan PRRI/ Permesta yang menentang pemerintah pusat. Dengan keterlibatannya dalam peristiwa itu, maka berakhirlah karir Sjafruddin Prawiranegara di Bank Indonesia (Rahardjo dkk., 1995:108) Harian Pedoman, 28 Desember 1957. Menurut Djuanda pendapat Hatta tentang aksi pengambilalihan terlalu teoritif dan naif. Ditegaskannya bahwa Belanda hanya mau percaya, kalau Indonesia telah bertindak dan dapat dirasakan akibatnya, bukan hanya bikin rencana. Lihat pernyataan Djuanda dalam harian Suluh Indonesia tanggal 30 Desember 1957. Ibid

55

Fakta-fakta tersebut disampaikan oleh Djuanda dengan maksud untuk menunjukkan bahwa pemerintah mempunyai rencana di balik aksi pengambilalihan. Ditambahkannya, segala rencana di atas menunjukkan usaha normalisasi kepentingan Belanda tanpa membedakannya dengan kepentingan negara lain. Mengenai aksi pengambilalihan yang dipelopori oleh kaum buruh, menurut Djuanda hal itu karena ada tanda-tanda dari pihak manajemen perusahaan untuk mempersulit keadaan. Tindakan mempersulit itu seperti instruksi-instruksi yang diberikan melalui sender agar kapal-kapal KPM melarikan diri semua,9 ataupun pelarian modal secara diam-diam dengan melakukan transfer uang ke luar negeri oleh perusahaan-perusahaan Belanda.10 Dengan demikian aksi para buruh itu ditujukan untuk secepatnya mencegah dipindahkannya segala aset perusahaanperusahaan Belanda yang ada di Indonesia. Dukungan paling kuat terhadap tindakan pengambilalihan datang dari kaum buruh. Dari kaum buruh bahkan ada yang menilai pengambilalihan perusahaanperusahaan Belanda kurang mengandung ketegasan suatu tindakan nasionalisasi karena masih menunjukkan sikap pemerintah yang setengah-setengah. Karena itu mereka mendesak pemerintah untuk bertindak lebih tegas dalam menyita modal Belanda sebagai "... tindakan balasan atas perampokan Irian Barat oleh imperialis Belanda."11 Menurut SOBSI daerah Jakarta Raya dalam resolusinya tanggal 14 Agustus 1959 dinyatakan bahwa tugas kaum buruh dalam melawan kekuasaan ekonomi Belanda tidak cukup selesai pada saat pengambilalihan perusahaan-perusahaan tersebut. Tetapi masih lebih luas lagi antara lain: 1. Mendorong agar semua perusahaan milik Belanda dinasionalisasi, dimiliki oleh negara dan diusahakan sendiri oleh pemerintah, demikian juga modal Belanda di lapangan minyak. 2. Mengadakan perbaikan sosial-ekonomi dan upah kaum buruh di perusahaan yang telah diambil alih/dinasionalisasi.12

9 10 11

12

Ibid Wawancara dengan Moes Joenoes, tanggal 17 Mei 2000 ANRI, Koleksi Kabinet Presiden RI. No. Inventaris 1528. Desakan ini disampaikan sebagai resolusi yang diajukan oleh Serikat Buruh Gula Proklamasi dalam konferensinya di Madiun pada tanggal 30 Juni I958. ANRI, Koleksi Kabinet Presiden RI, No. Inventaris 1632.

56

Dalam resolusi tersebut SOBSI menunjukkan bahwa sekalipun proses pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda sudah berjalan lebih dari satu setengah tahun, tetapi ternyata belum semua perusahaan-perusahaan Belanda dinasionalisasi. Perusahaan-perusahaan yang belum dinasionalisasi tersebut bergerak di bidang percetakan (Kolf dan van Dorp), industri (Nimef dan Molenvliet), galangan kapal (VPV), Farmasi (Rathkamp dan van Gorkom), perdagangan (Borsumij, Lindeteves dan Internatio), bank (Nationale Handels Bank), kereta api dan telepon di Sumatera Utara dan lain sebagainya.13 Bahkan modal Belanda di bidang perminyakan masih leluasa beroperasi di Indonesia. Karena itu SOBSI menyoroti adanya kelemahan-kelemahan di dalam pelaksanaan pengambilalihan dikarenakan faktor-faktor sebagai berikut: 1. Masih belum dinasionalisasi semua perusahaan-perusahaan Belanda, dengan adanya gejala yang santer untuk mempartikelirkan perusahaanperusahaan tersebut. 2. Adanya pengurangan hak-hak sosial ekonomi, upah dan hak-hak lainnya kaum buruh dengan macam-macam alasan. 3. Ditempatkannya tenaga-tenaga pimpinan yang kadang-kadang tidak memiliki keahlian dan kecakapan. 4. Adanya gejala-gejala bahwa pimpinan perusahaan dijadikan tempat memberi kedudukan bagi para pensiunan sipil dan militer. 5. Masih ruwetnya struktur dan organisasi perusahaan, sehingga menimbulkan cara kerja yang simpang siur dan memboroskan keuangan perusahaan.14 Semua kekurangan-kekurangan di atas menurut SOBSI dapat diatasi dengan segera menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda dan menjadikannya sebagai perusahaan milik negara dan bukan perusahaan swasta. Di samping itu, perlu dijamin cara kerja yang rapi dan efisien, dengan tanpa melakukan pemecatan. Dan terpenting, pengurangan upah buruh harus dicegah dan jaminan sosial kaum buruh serta hak-hak lainnya perlu segera mengalami perbaikan. Pihak lain yang juga mendukung tindakan pengambilalihan ialah tentara dan khususnya Angkatan Darat (AD). Keterlibatan ekonomi kalangan tentara yang terbatas dalam sektor-sektor tertentu, telah diperluas dan mendapat legitimasi sejak berlakunya S.O.B. (Staat van Oorlog en Beleg) atau keadaan Darurat Perang dalam bulan Maret 1957 (Crouch, 1999:37). S.O.B telah menempatkan tentara ke suatu posisi di mana mereka memiliki kekuasaan yang besar. Karena itu, dengan terjadinya tindakan pengambilalihan maka semakin terbuka kesempatan yang luas bagi para perwira untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan ekonomi yang baru.

13 14

Ibid. Ibid.

57

Sementara itu pimpinan AD, dalam hal ini Jenderal Nasution, yang berhadapan dengan demikian banyak pensiunan tentara menyambut hangat tindakan pengambilalihan (Kahin dan Kahin, 1997:139). Peran baru bagi tentara di bidang ekonomi itu, tidak saja memberikan suatu pertaruhan besar dalam pengertian ekonomi kepada tentara sebagai suatu institusi. Tetapi juga banyak menempatkan perwira secara perseorangan ke dalam suatu keadaan di mana mereka dapat mengembangkan kebutuhan-kebutuhan materi mereka sendiri (Crouch, 1999:38). Dengan demikian pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda pada bulan Desember 1957 telah mendatangkan beragam reaksi dari berbagai pihak. Penentangan terhadap tindakan pengambilalihan datang dari pihak-pihak yang melihat bahwa pengambilalihan telah dijalankan tanpa perencanaan yang matang. Tindakan tanpa perencanaan tersebut dapat menyebabkan Indonesia terjerumus ke dalam kesulitan-kesulitan ekonomi. Di pihak lain kalangan yang mendukung aksi pengambilalihan juga memiliki argumentasi sendiri. Menurut mereka pengambilalihan telah mengakhiri penjajahan Belanda secara tuntas. Dengan melakukan pengambilalihan maka Indonesia bukan hanya merdeka secara politik namun juga merdeka secara ekonomi. Di samping itu, pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda telah membuka kesempatan-kesempatan baru yang luas dalam perekonomian bagi orang-orang Indonesia. Dalam situasi yang diliputi pro-kontra tersebut, secara obyektif tindakan pengambilalihan dalam jangka pendek telah mengakibatkan kemerosotan ekonomi Indonesia.

Perkembangan Ekonomi Setelah Pengambilalihan


Tidak dapat dihindarkan, setelah terjadinya pengambilalihan perusahaanperusahaan Belanda, secara umum produksi dan ekspor perusahaan-perusahaan yang telah diambil alih tersebut menurun. Penurunan itu terjadi karena kesukarankesukaran yang muncul sehubungan dengan berkurangnya tenaga ahli, alat-alat produksi, transportasi dan sebagainya. Ini juga terlihat dari perkembangan ekonomi Indonesia di lapangan produksi, yang secara umum pada tahun 1958 menunjukkan penurunan (Oey, 1991:397). Meski demikian patut digarisbawahi bahwa perkembangan ekonomi senantiasa berlangsung di bawah berbagai pengaruh, dan tidaklah mungkin untuk memastikan pengaruh-pengaruh mana yang telah memegang peranan menentukan dalam perkembangan tertentu. Demikian juga halnya dengan perkembangan ekonomi Indonesia setelah perusahaan-perusahaan Belanda diambil alih atau dikuasai.

58

Memasuki tahun 1958 perkembangan ekonomi di Indonesia berlangsung di bawah pengaruh beberapa faktor penting, yaitu: memuncaknya ketegangan antara pemerintah pusat dan daerah-daerah yang memberontak, resesi di negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat yang menyebabkan kelesuan harga komoditi ekspor di Indonesia,15 dan pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda yang mengharuskan diadakannya penyesuaian-penyesuaian di bidang produksi dan perdagangan. Ketegangan antara pusat dan daerah yang memuncak pada tahun 1958 menyebabkan pemerintah Indonesia mengambil tindakan militer yang memerlukan pengeluaran uang secara besar-besaran. Pengeluaran demikian menghasilkan kekurangan pada anggaran belanja yang akhirnya menciptakan inflasi, suatu keadaan di mana jumlah uang yang beredar lebih banyak dibanding peredaran barang-barang dan jasa. Inflasi pada pokoknya bukan merupakan suatu keadaan yang sehat karena dengan langsung atau tidak langsung akhirnya akan menghambat kegiatan produksi.16 Sementara itu secara eksternal perkembangan ekonomi Indonesia mendapat pengaruh dari keadaan resesi yang melanda Amerika Serikat dan Eropa Barat selama akhir tahun 1957 dan permulaan 1958.17 Akibat dari resesi itu ekspor Indonesia mengalami kemunduran karena turunnya harga produk-produk ekspor dan pasarannya yang makin berkurang. Pada akhirnya, situasi demikian menyebabkan pendapatan negara dari ekspor semakin menurun, sehingga sangat mempengaruhi keadaan keuangan dan devisa negara. Sedangkan pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda telah menyebabkan kekacauan ekonomi karena dilakukan tanpa suatu persiapan program yang terencana (Mackie, 1971:50). Proses pengambilalihan KPM menjadi contoh terbaik, dengan tidak adanya perencanaan yang matang telah membawa dampak ekonomi secara luas dan mendalam.

15

16

17

Lihat Biro Perantjang Negara, Laporan Pelaksanaan Rentjana Pembangunan Lima Tahun, 1956-1960, ha1.10. Dengan demikian cita-cita pemulihan keamanan yang antara lain bermaksud memungkinkan kegiatan ekonomi kembali berjalan lancar dan normal dihalangi oleh inflasi karena pemerintah memerlukan uang untuk mengembalikan keadaan damai di beberapa daerah. Lambat laun negara menghadapi suatu vicious circle, yaitu: perkembangan ekonomi memerlukan keamanan, usaha mencapai keamanan menyebabkan pengeluaran uang yang bersifat inflasi dan inflasi membahayakan kegiatan produksi, sedangkan menyelamatkan kegiatan produksi itu justru merupakan cita-cita pemerintah di lapangan keamanan. Lihat "Beberapa catatan tentang keadaan ekonomi pada dewasa ini," catatan rahasia Gubernur BI Loekman Hakim, 12 November 1958 dalam koleksi Arsip BI tentang LAAPLN, No. Inventaris 52. Biro Perantjang Negara, op.cit.

59

Setelah terjadinya pengambilalihan kantor pusat KPM pada tanggal 3 Desember 1957, para direktur di Belanda yang khawatir akan terjadi penyitaan, memerintahkan agar kapal-kapal KPM berlayar ke pelabuhan-pelabuhan terdekat di luar Indonesia. Pemerintah Indonesia menjawabnya dengan cara menyita jaringan KPM di pelabuhan-pelabuhan Indonesia (Wertheim, 1999:292). Namun akhirnya, pada tanggal 26 Maret 1958, pemerintah terpaksa mengijinkan kapalkapal itu untuk meninggalkan Indonesia. Karena jika tidak Indonesia akan dihadapkan pada klaim perusahaan asuransi yang terkait.18 Berhentinya kegiatan pelayaran KPM berakibat terganggunya hubungan antarpulau secara serius, terutama di Indonesia Timur. Beberapa pelabuhan kecil di Nusa Tenggara dan Maluku terpaksa mengalihkan ketergantungannya pada perahu untuk berhubungan dengan daerah lain (Dick, 1990:43). Dengan pengusiran KPM, pemerintah Indonesia berhasil mencapai kemenangan simbolis, tetapi dengan biaya mahal yaitu menghancurkan sistem angkutan antarpulau. Sampai bertahun-tahun kemudian pemerintah harus berjuang untuk menciptakan sistem efisien untuk penggantinya. Sementara itu, pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda lainnya telah menghadapkan pemerintah Indonesia pada tuntutan untuk mengisi kekosongan tenaga ahli yang sebelumnya diisi oleh orang-orang Belanda. Sedangkan tenaga ahli untuk jajaran birokrasi pemerintahan Indonesia sendiri masih jauh dari mencukupi. Situasi tersebut menyebabkan pemerintah melibatkan campur tangan tentara untuk turut membantu mengelola perusahaan-perusahaan Belanda yang telah diambil alih. Keterlibatan tentara dalam proses pengambilalihan dipermudah karena dalam Kabinet Karya, Perdana Menteri Djuanda juga menjabat sebagai menteri pertahanan (Sundhaussen, 1998:227). Sejak saat itulah tentara melakukan salah satu peran gandanya, yaitu sebagai tentara maupun sebagai pengelola perusahaan. Dan mulai sejak itu pula, secara sistematis, tentara Indonesia mulai terlibat dalam pengelolaan bisnis dalam skala besar (Samego et.al., 1998:54). Berbagai persiapan penanganan bisnis secara profesional sebenarnya telah dipersiapkan oleh Angkatan Darat. Antara lain dengan mengirim seratus orang perwira ke Amerika Serikat untuk belajar bisnis (Samego et.al., 1998:55). Di antara mereka terdapat Ibnu Sutowo, yang kemudian menjadi direktur utama Pertamina dan menjadi tokoh bisnis militer di Indonesia. Pada tingkat individu pelaku, keterlibatan militer dalam dunia usaha menyediakan suatu kesempatan yang memungkinkan tumbuhnya kelas perwira yang kaya. Kekayaan tersebut didapat sebagai hasil pribadi dari keterlibatan institusional tersebut.

18

Tanpa sepengetahuan pemerintah Indonesia, KPM sebenarnya telah mengasuransikan kapal-kapalnya kepada Lloyds of London terhadap kemungkinan penyitaan yang pembayarannya akan dilakukan apabila kapal masih ditahan setelah empat bulan kemudian. Campur tangan pihak ketiga yang berpengaruh berhasil membujuk pemerintah Indonesia.

60

Kesempatan-kesempatan yang terbuka dalam pengelolaan ekonomi bagi para perwira tersebut selanjutnya menciptakan fungsi, di mana pimpinan tentara dapat memindahkan para perwira menengah yang kurang mampu dari dinas aktif ketentaraan untuk diberikan kepada yang lebih berkompeten.19 Bagi AD (Angkatan Darat) tujuan terpenting tampaknya ialah sebagai sumber dana bagi kegiatan militer (Crouch, 1999:38). Para perwira yang ikut serta dalam pengelolaan ekonomi dipercayai melaksanakan tugas sebagai saluran dana ke pihak tentara ketimbang ke pemerintah. Tindakan itu ditujukan untuk mengurangi ketergantungan tentara pada anggaran belanja pemerintah pusat. Sebab itu tidak mengherankan kalau pada perusahaan-perusahaan yang telah diambil alih oleh tentara terjadi penurunan dalam kinerja dan kemampuan produksinya. Hal itu dapat dimengerti karena bidang keahlian tentara tidak secara khusus memberikan bekal untuk dapat mengelola perusahaan. Apalagi tentara yang ditugaskan untuk mengisi kekosongan tenaga ahli di perusahaan-perusahaan yang telah diambil alih memang bukan perwira-perwira terbaik. Perusahaan-perusahaan Belanda terbesar yang dikenal sebagai The Big Five merupakan perusahaan-perusahaan yang telah lama beroperasi di Indonesia dan menguasai jaringan perdagangan sampai ke segala penjuru Nusantara.20 Pengambilalihan perusahaan-perusahaan ini jika tanpa diikuti oleh kemampuan untuk meneruskan penguasaan terhadap jaringan perdagangan yang telah dibangun sebelumnya, hanya akan menyebabkan kemandegan dalam sektor perniagaan. Semua permasalahan yang berkaitan dengan pengambilalihan itu masih ditambah lagi oleh protes keras para pengusaha Belanda yang perusahaannya diambil alih. Dalam surat protesnya yang dialamatkan langsung pada Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Djuanda, para pengusaha Belanda itu mendesak agar hak miliknya dipulihkan dan mereka diberi ganti kerugian. Departemen luar negeri menjawab dengan menyatakan bahwa penguasaan yang dilakukan tidaklah berarti penyitaan atau nasionalisasi. Sedangkan tindakan-tindakan yang telah dilakukan adalah sesuai dengan peraturan keadaan darurat perang yang berlaku (Oey, 1991:291-292). Kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam proses pengambilalihan tersebut pada akhirnya turut membawa dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia. Menurut nota keuangan negara 1959 yang diajukan menteri keuangan kepada DPR, maka defisit anggaran belanja, termasuk pengeluaran tambahan, diperkirakan sebesar Rp. 9.700 juta dalam tahun 1958 dan Rp. 8.000 juta untuk tahun 1959 tanpa anggaran tambahan. Jumlah tersebut merupakan angka-angka yang sangat besar dan menghasilkan peredaran uang sebagai berikut:

19

20

Pendapat ini dikuatkan oleh salah satu pelaku pengambilalihan dari pihak militer yang pada saat itu berpangkat kapten, wawancara dengan Moes Joenoes Jakarta 17 Mei 2000. Lihat pula daftar nama-nama wakil Badan Urusan Utang, yang semuanya adalah tentara dalam mingguan Warta Niaga dan Perusahaan, 3 Januari 1953 Majalah Warta Niaga dan Perusahaan, 29 Maret 1959

61

Defisit Anggaran Belanja dan Peredaran Uang 1956-1959 Tahun 1956 1957 1958 1959 Defisit Anggaran Belanja Rp. 2.250 juta Rp. 5.300 juta Rp. 9.700 juta Rp. 8.000 juta Peredaran Uang Rp. 13.394 juta Rp. 18.913 juta Rp. 26.900 juta Rp. 34.100 juta

Sumber: Arsip BI tentang LAAPLN, No. Inventaris 52.

Karena defisit pada tahun 1959 belum meliputi pengeluaran tambahan, maka diperkirakan peredaran uang pada akhir tahun 1959 berjumlah lebih besar dari Rp. 34.100 juta seperti yang diperkirakan di atas. Dibandingkan tahun 1957, peredaran uang itu berlipat hampir dua kali, dan dibandingkan dengan tahun 1956 berlipat hampir tiga kali besarnya.21 Tidak perlu kiranya melakukan pemeriksaan lebih mendalam untuk memastikan bahwa perkembangan produksi tidak seimbang dengan pertambahan jumlah uang yang beredar. Apalagi ditambah dengan terjadinya pengambilalihan perusahaanperusahaan Belanda yang menyebabkan terganggunya proses produksi. Dalam keadaan normal perkembangan moneter harus mengikuti perkembangan ekonomi, artinya peredaran uang hendaknya hanya bertambah sesuai dengan persediaan barang-barang dan jasa-jasa seperti yang dihasilkan oleh produksi dan impor. Dalam situasi setelah pengambilalihan sudah sewajarnya jika produksi barang-barang dan jasa-jasa tidak akan dapat mengikuti laju jumlah peredaran uang yang berlipat ganda. Dengan melihat kekacauan ekonomi yang terjadi sebagai akibat dari pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda, maka pemerintah mulai memikirkan suatu penyelesaian yang dapat menjamin kelangsungan proses produksi di perusahaan-perusahaan tersebut. Jalan keluar permasalahan itu ialah dengan mendirikan perusahaan-perusahaan baru milik negara yang diharapkan dapat berfungsi untuk mewakili kepentingan rakyat.

Pembentukan Perusahaan-Perusahaan Baru


Sesudah tindakan pengambilalihan tersebut, sejumlah besar perusahaanperusahaan Belanda tersebut dioperasikan, dikuasai dan digunakan sepenuhnya oleh pemerintah. Meskipun demikian pemerintah Indonesia menyadari pentingnya dibuat suatu peraturan untuk memberikan jaminan hukum terhadap perusahaanperusahaan tersebut.

21

Lihat Beberapa catatan tentang keadaan ekonomi panda dewasa ini, catatan Gubernur BI Loekman Hakim, 12 November 1958 dalam koleksi Arsip BI tentang LAAPLN, No. Inventaris 52.

62

Untuk memberikan jaminan hukum terhadap tindakan pengambilalihan maka diberlakukan Undang-Undang No. 86 Tahun 1958.22 Dalam undang-undang tersebut pemerintah menegaskan tindakan pengambilalihan sebagai nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda untuk dijadikan milik negara. Dalam hal ini patut digarisbawahi bahwa nasionalisasi berarti pemindahan kepemilikan ke dalam tangan negara, pemindahan ke dalam tangan selain negara (pengusaha swasta nasional) tidak termasuk dalam pengertian nasionalisasi.23 Dengan diambilnya keputusan menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda selanjutnya muncul dua masalah yang harus segera dipecahkan. Pertama, masalah perusahaan-perusahaan mana yang patut dinasionalisasi; kedua, masalah pembayaran ganti kerugian. Dalam memutuskan perusahaan-perusahaan mana yang patut dinasionalisasi, sebagian masyarakat berpendapat agar nasionalisasi dibatasi pada perusahaan-perusahaan Belanda yang dianggap vital bagi kepentingan negara dan rakyat banyak.24 Sementara itu, pemerintah Indonesia memiliki pendapat sendiri. Menurut pemerintah semua perusahaan Belanda yang berada di dalam wilayah Republik Indonesia, baik merupakan pusat maupun cabang, harus dinasionalisasi. Dalam peraturan tentang Pokok-Pokok Pelaksanaan Undang-undang Nasionalisasi ditetapkan perusahaan-perusahaan Belanda yang dapat dikenakan nasionalisasi adalah: a. perusahaan yang untuk seluruhnya atau sebagian merupakan milik perseorangan warga negara Belanda dan bertempat-kedudukan dalam wilayah Republik Indonesia b. perusahaan milik sesuatu badan-hukum yang seluruhnya atau sebagian modal perseroannya atau modal pendiriannya berasal dari perseorangan warga negara Belanda dan badan-hukum itu bertempat-kedudukan dalam wilayah Republik Indonesia c. perusahaan yang letaknya dalam wilayah Republik Indonesia dan untuk seluruhnya atau sebagian merupakan milik perseorangan warga negara Belanda yang bertempat-kediaman di luar wilayah Republik Indonesia d. perusahaan yang letaknya dalam wilayah Republik Indonesia dan merupakan milik sesuatu badan-hukum yang bertempat-kedudukan dalam wilayah Negara Kerajaan Belanda.25

22

23 24

25

Undang-Undang No. 86 tahun 1958 tentang nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda berlaku surut sampai tanggal 3 Desember 1957. Majalah Warta Niaga dan Perusahaan, tanggal 13 Desember 1958. Latar belakang argumentasinya menyatakan bahwa karena nasionalisasi dilakukan dengan pembayaran uang negara yang berarti juga uang rakyat, maka sudah jelas perusahaan yang patut dinasionalisasi hanyalah yang vital bagi kepentingan negara dan rakyat banyak. Nasionalisasi di luar yang vital adalah suatu kemewahan yang menghambur-hamburkan uang rakyat. Lihat karangan Mr. Kosasih Purwanegara dalam majalah Warta Niaga dan Perusahaan, Ibid. Lihat Peraturan Pemerintah tentang Pokok-Pokok Pelaksanaan Undang-Undang Nasionalisasi Perusahaan Belanda dalam Lembaran Negara Republik Indonesia No. 5, 1959.

63

Sedangkan untuk masalah pemberian ganti rugi, sebagian besar masyarakat dan pemerintah sepakat bahwa selayaknya ganti kerugian baru akan dilakukan setelah tercapainya penyelesaian masalah Irian Barat.26 Dalam hal besarnya jumlah ganti kerugian, pemerintah beranggapan dihitung berdasarkan nilai nominal dari perusahaan yang dinasionalisasi. Persyaratan untuk penetapan jumlah ganti rugi tersebut akan disampaikan pada Dewan Perwakilan Rakyat untuk disahkan (Oey, 1991:394-395). Pelaksanaan pengambilalihan telah menyebabkan pemerintah Indonesia secara tiba-tiba dihadapkan pada keharusan untuk mengelola perusahaan-perusahaan yang tadinya dimiliki modal Belanda. Karena beragamnya bidang usaha perusahaan-perusahaan Belanda yang diambil alih, maka pemerintah kemudian dibentuk badan koordinasi dengan tugas membina perusahaan-perusahaan yang sudah diambil alih. Maka terbentuklah Badan Nasionalisasi Perusahaan-perusahaan Belanda (BANAS)27 yang di dalamnya bernaung empat badan usaha, yaitu: Badan Usaha Dagang (BUD); Badan Penguasaan Perusahaan Pharmasi (BAPPHAR); Pusat Perkebunan Negara Baru (PPN Baru); Badan Penguasaan Industri dan Tambang (BAPPIT) (Siahaan, 1996:322). Tujuan umum dari pembentukan BANAS ialah: ...untuk menjamin koordinasi dalam pimpinan, kebijaksanaan dan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi. Dengan demikian produktivitas perusahaanperusahaan milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi dapat tetap dipertahankan dan dipertinggi."28 BANAS dipimpin oleh sebuah Dewan Pimpinan yang diketuai oleh perdana menteri sendiri dan bertanggung jawab kepada Dewan Menteri. Ke dalam pimpinan harian antara lain ditunjuk menteri keuangan, menteri negara urusan stabilisasi ekonomi, dan wakil kementrian pertahanan, dengan dibantu oleh sebuah sekretariat.

26

27

28

Lihat pendapat yang dikemukakan oleh Perdana Menteri Djuanda dalam harian Suluh Indonesia tanggal 30 Desember 1957. Pembentukan Badan Nasionalisasi Perusahaan Belanda (BANAS) disahkan dengan Peraturan Pemerintah No.3 tahun 1959. Lihat Tambahan Lembaran Negara No.1731, 1959. Penjelasan Atas Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 1959 Tentang Pembentukan Badan Nasionalisasi Perusahaan-Perusahaan Belanda (BANAS) dalam majalah Warta Niaga dan Perusahaan, 7 Maret 1959.

64

Kelompok pertama perusahaan Belanda yang dikenakan nasionalisasi meliputi 38 perusahaan perkebunan tembakau yang dimiliki perusahaan pertanian dan perkebunan yang besar seperti NV Verenigde Deli Mij., NV Sanembah Mij., NV Verenigde Klatensche Cultuur Mij., NV Landbouw Oud Djember dan sebagainya.29 Kemudian segera menyusul perusahaan perkebunan dan pertanian lainnya, hingga akhirnya jumlah perusahaan dari kedua jenis usaha tersebut yang terkena nasionalisasi sekitar 205 buah. Sebagai pelaksana penyelenggaraan dari perusahaan-perusahaan Belanda yang diambil alih dan bergerak di sektor perdagangan maka oleh pemerintah dibentuk Badan Urusan Dagang (BUD). Dengan melihat kedudukan dan kepentingan perusahaan The Big Five dalam perekonomian Indonesia, maka pemerintah merasa perlu untuk menguasai perusahaan-perusahaan tersebut. Dengan demikian segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan-perusahaan tersebut dapat dialihkan untuk kepentingan umum. Badan Urusan Dagang selanjutnya membentuk perusahaan-perusahaan baru yang bertindak mengambil alih kegiatan perusahaan-perusahaan Belanda tersebut, yaitu: 1. PT Indonesian Development Industrial and Trading Corporation disingkat PT Indevitra Ltd., yang melanjutkan kegiatan-kegiatan NV Boorsumij. PT Indevitra kemudian berganti nama lagi menjadi PT Budi Bhakti. 2. PT Satya Negara yang melanjutkan kegiatan dari NV Internatio. Perusahaan ini kemudian berganti nama menjadi PT Aneka Bhakti. 3. PT Juda Bhakti corporation Ltd. yang melanjutkan kegiatan-kegiatan dari NV Jacobson van den Berg. Kemudian perusahaan ini berganti nama menjadi PT Fadjar Bhakti. 4. PT Indonesian Estates and Industrial Supply Corporation disingkat PT Indestins Corp. yang mengambil alih kegiatan NV Lindeteves. PT Indestins kemudian diganti namanya menjadi PT Tulus Bhakti. 5. PT Triangle Corporation yang mengambil alih kegiatan NV Geo Wehry Co. Perusahaan ini kemudian berganti nama menjadi PT. Marga Bhakti.30 Dari perubahan tersebut, pemerintah mengharapkan kepentingan umum akan dapat lebih terlayani. Kepentingan umum yang dimaksud terutama penggunaan alat-alat distribusi perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia, yang dipakai untuk menyalurkan kebutuhan-kebutuhan pokok rakyat Indonesia. Perusahaanperusahaan negara tersebut tidak lagi digerakkan oleh motif mencari keuntungan, namun lebih didorong oleh fungsi sosial untuk dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat.

29

30

Peraturan Pemerintah No. 4 tahun 1959 tanggal 23 Februari 1959 dengan daya surut sampai tanggal 3 Desember 1957. Daftar perusahaan-perusahaan baru yang berada di bawah Badan Urusan Dagang ini dicantumkan secara lengkap pada mingguan Warta Niaga dan Perusahaan, 28 Maret 1959.

65

Pengelolaan perusahaan-perusahaan Belanda yang diambil alih dalam bidang industri dilakukan oleh BAPPIT. Seluruh perusahaan industri modal Belanda yang diambil alih dan bernaung di bawah BAPPIT berjumlah 179 perusahaan (lihat tabel pada lampiran). Perusahaan-perusahaan inilah yang kelak menjadi cikal bakal perusahaan pemerintah yang akhirnya menjelma menjadi BUMN, Badan Usaha Milik Negara (Siahaan, 1996:l61). Selanjutnya, perusahaan-perusahaan tersebut dikelompokkan menurut misinya. Perusahaan yang dianggap penting untuk masyarakat umum langsung dikendalikan oleh pemerintah pusat. Sedangkan industri yang peranannya dianggap kurang penting diserahkan kepada pemerintah daerah (Siahaan, 1996:324). Industri kecil seperti pabrik roti, bioskop, pabrik ubin dan sejenisnya diserahkan pengelolaannya pada swasta. Untuk menghilangkan kesan masih beroperasinya perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia, seluruh nama asing kemudian diubah menjadi nama Indonesia (lihat tabel pada lampiran). Dalam bidang perbankan tindakan nasionalisasi harus dilakukan tanpa menimbulkan kerugian. Hal itu penting karena sejumlah besar cadangan devisa negara pada saat pengambilalihan masih disimpan pada bank-bank Belanda tersebut (Oey, 1991:396). Baru setelah dilakukan tindakan pengamanan melalui Badan Pengawas Bank-Bank Belanda,31 maka tindakan nasionalisasi terhadap bank-bank Belanda dapat dilakukan.32 Perlu dijelaskan bahwa Badan Pengawas Bank-Bank Belanda hanya melakukan pengawasan. Sedangkan pimpinan terhadap kegiatan sehari-hari tetap berada dalam tangan direksi yang lama. Keadaan ini berbeda dengan perusahaanperusahaan di bidang lainnya yang dinasionalisasi, di mana pimpinannya secara langsung diambil alih pula. Melalui Peraturan Pemerintah No. 39 tahun 1959 Nationale Handelsbank (NHB) dinasionalisasikan. Bank ini pada tahun 1959 menjadi Bank Umum Negara (BUNEG) dan kemudian berganti nama lagi menjadi Bank Bumi Daya. Escomptobank dinasionalisasi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 13 tahun 1960, dan pada tahun itu pula berganti nama menjadi Bank Dagang Negara. Nederlandsche Handel Mij (NHM) dinasionalisasi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 44 tahun 1960 dan kemudian dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN).33 Semua peraturan pemerintah yang mengatur nasionalisasi bank-bank Belanda tersebut berlaku surut sampai tanggal 3 Desember 1957.
31

32

33

Badan ini disahkan pembentukannya melalui Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1959 yang diberlakukan mulai tanggal 20 Maret 1959 dan berlaku surut sampai tanggal 17 April 1958. Arsip Sekretariat Negara Republik Indonesia. Peraturan-Peraturan Pemerintah Tahun 1959. Dalam Surat Edaran Penguasa Perang Pusat No.: SE/Peperpu/01/1958 antara Iain dinyatakan bahwa; "Tindakan-tindakan yang lebih luas terhadap bank-bank Belanda atau cabang-cabangnya akan diatur secara sentral, sambil mempersiapkan akibat-akibatnya, baik mengenai pemindahan fungsinya, mengenai soal perburuhannya, dan akibat-akibat lainnya ... untuk mencegah hilangnya atau terblokirnya devisen negara di luar negeri yang berjumlah ratusan juta rupiah." Lihat koleksi Arsip BI tentang LAAPLN, No. Inventaris 388. BKTN pada tahun 1968 dipecah menjadi dua bank, yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) (Oey, 1991:396).

66

Perusahaan-perusahaan dalam bidang perkebunan, pertanian, perdagangan, dan industri dapat dikatakan sebagai perusahaan-perusahaan Belanda terpenting yang telah dinasionalisasi dan sangat berperan dalam perekonomian Indonesia. Selain itu, sejumlah besar perusahaan Belanda lainnya yang bergerak di bidang listrik, gas, kereta api, telepon dan bahkan peternakan telah pula dinasionalisasi. Pelaksanaan nasionalisasi dari setiap jenis perusahaan Belanda tersebut diberi landasan hukum dengan serangkaian peraturan pemerintah tentang nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda sepanjang tahun 1959.34 Dengan demikian, pelaksanaan nasionalisasi yang secara resmi diberlakukan terhadap perusahaan-perusahaan Belanda yang telah diambil alih mengakhiri peran istimewa Belanda dalam perekonomian Indonesia. Dapat dikatakan dominasi Belanda dalam perekonomian Indonesia telah berakhir dengan diberlakukannya Undang-Undang Nasionalisasi No. 86 tahun 1958. Pembentukan perusahaan-perusahaan baru milik negara yang pelaksanaannya dilakukan melalui Badan Nasionalisasi diharapkan mampu mengelola dan menjaga produktivitas perusahaan-perusahaan tersebut. Namun harapan ini sulit terlaksana. Pengalaman yang sangat minim serta rendahnya kemampuan untuk mengelola manajemen, mengakibatkan hampir seluruh produksi perusahaanperusahaan tersebut menurun. Meski demikian, nasionalisasi telah mengubah tatanan ekonomi secara mendasar. Sejak pemerintah mengambil alih perusahaanperusahaan Belanda, peranan pemerintah untuk mengendalikan sektor ekonomi semakin membesar.

Menguatnya Peranan Negara


Periode 1957-1959 menjadi saat menentukan dalam percaturan politik; pada periode ini tatanan Demokrasi Parlementer dibongkar dan dibawa menuju periode Demokrasi Terpimpin. Perkembangan tersebut juga erat terkait dengan meningkatnya ketegangan antara daerah dan pusat; hubungan yang memburuk pada tahun-tahun tersebut telah mengarah pada perlawanan terbuka di Sumatera dan Sulawesi, dalam bentuk pemberontakan PRRI dan Permesta (Feith, 1962:520555). Sejumlah tokoh politik PSI dan Masyumi, terutama Soemitro Djojohadikusumo, Sjafruddin Prawiranegara dan Mohammad Natsir (Esmara dan Cahyono, 2000:210) memilih bergabung dengan para pemberontak. Pilihan tersebut mendorong penyingkiran mereka dari kancah politik, dan akhirnya menyebabkan pelarangan kedua partai tersebut pada tahun 1961. Pemusatan kekuasaan politik ini benar-benar mempengaruhi kebijakan ekonomi. Karena dengan hilangnya pengaruh dari tokoh-tokoh moderat tersebut telah membuka jalan bagi intervensi negara yang lebih dalam di bidang ekonomi.

34

Arsip Sekretariat Negara Republik Indonesia, Peraturan-Peraturan Pemerintah Tahun 1959.

67

Terjadinya pemberontakan-pemberontakan daerah membuat momentum untuk menggantikan kewenangan parlemen dengan kekuasaan presiden, melalui Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959. Dekrit Presiden membawa perubahan fundamental terhadap tatanan politik di Indonesia. Melalui dekrit tersebut dinyatakan bahwa selain konstituante dibubarkan, yang lebih penting lagi ialah diberlakukannya kembali Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Dengan demikian berarti Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara. Kedudukan politik presiden secara hukum juga menjadi lebih kuat, karena UUD 1945 menganut sistem pemerintahan presidensiil dimana kabinet yang dipimpin oleh presiden tidak bisa dijatuhkan oleh parlemen. Maka dengan kedudukan politik yang semakin kuat, Presiden Sukarno memasuki tahapan penting, dimana ia mulai mewujudkan gagasan-gagasan politik yang telah dikemukakan sebelumnya, yaitu membangun sistem Demokrasi Terpimpin.35 Sementara itu, kegagalan untuk mewujudkan pemerintahan yang stabil setelah pemilihan umum 1955, telah menyebabkan partai-partai politik kehilangan peran penting dalam kehidupan politik di Indonesia. Setelah PSI dan Masyumi kehilangan popularitasnya karena keterlibatan beberapa pimpinan pusatnya dalam pemberontakan PRRI dan Permesta, partai-partai politik lain menjadi semakin berhati-hati dan tidak berani mengambil prakarsa yang berarti dalam menentukan perkembangan politik dan ekonomi. Situasi yang sulit ini tidak berlaku bagi PKI, meskipun kegiatan partai politik ini sering menjadi sasaran pelarangan pihak Angkatan Darat (AD).36 Karena PKI tidak terlibat dalam kabinet-kabinet yang memerintah selama masa Demokrasi Parlementer, partai ini lolos dari kecaman-kecaman terhadap segala unsur liberal yang terdapat dalam sistem Demokrasi Parlementer. Dengan demikian, PKI masih bisa mempertahankan popularitasnya, malah berusaha menyesuaikan diri ke dalam tatanan yang baru. Kekuatan lain yang meningkat popularitasnya adalah AD.37 Mereka tampil untuk menjadi tumpuan harapan, ketika pemerintahan yang dikuasai oleh partai-partai politik semakin jauh terlibat dalam konflik-konflik kepentingan. Kedaulatan negara yang terancam oleh berbagai pergolakan daerah telah membuka jalan bagi AD untuk berperan lebih besar dalam perpolitikan nasional. Landasan untuk itu telah tersedia dengan diberlakukannya keadaan darurat perang pada bulan Maret 1957. Dengan demikian, AD meneguhkan posisinya sebagai salah satu kekuatan penting yang siap memainkan peran strategis.

35

36

37

Penting untuk dicatat bahwa Sukarno telah mengembangkan gagasannya tentang Demokrasi Terpimpin sejak tahun 1956. Dengan meninjau situasi Indonesia, gagasan tersebut baru menjadi matang pada tahun 1959. Periode antara 1957 sampai 1959 merupakan bidang kajian tersendiri yang biasanya dikenal dengan masa transisi menuju Demokrasi Terpimpin (Lev. 1966). Angkatan Darat dikenal sebagai salah satu kekuatan politik penting. di Indonesia yang memiliki karakter anti komunis yang kuat. Sejarah perpolitikan AD yang dapat menjelaskan bagaimana proses munculnya karakter tersebut dalam Sundhaussan (1986) dan Crouch (1999). AD terutama meningkat popularitasnya setelah berhasil mencegah terjadinya disintegrasi nasional yang disebabkan oleh berbagai pergolakan daerah pada tahun 1958. Ancaman disintegrasi itu juga antara lain disebabkan oleh perpecahan di tubuh AD (Sundhaussan, 1986:184-205).

68

Dapat dikatakan ketiga pusat kekuasaan yang muncul tersebut adalah para pendukung utama nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda. Meskipun memiliki motivasi yang berbeda-beda mereka pada dasarnya sepakat bahwa pelaksanaan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda merupakan perwujudan dari kedaulatan ekonomi yang tertunda. Dengan penyingkiran modal Belanda, kekosongan ekonomi yang terjadi hanya dapat diisi oleh perusahaan-perusahaan negara. Pembentukan perusahaan-perusahaan negara itu diharapkan sebagai: "...jalan keluar dari kesulitan ekonomi untuk secara berangsur-angsur merombak ekonomi Indonesia yang kolonial menjadi ekonomi nasional."38 Melalui perusahaanperusahaan baru tersebut, negara mulai memainkan peran yang lebih besar dalam menentukan jalannya kehidupan ekonomi. Namun penguatan peran negara tidak menjamin perbaikan ekonomi secara langsung, karena tantangan yang dihadapi cukup besar Laporan Biro Perancang Negara tentang pelaksanaan pembangunan lima tahun memperlihatkan pendapatan nasional telah mengalami penurunan yang berarti, hingga 12,9% pada tahun 1958.39

38

39

Departemen Ekonomi C.C. PKI, Realisasi Kesimpulan Seminar Nasional Ekonomi, dalam majalah Ekonomi & Masjarakat, No.III dan IV tahun 1959, hal.3-5. Biro Perantjang Negara, Laporan Pelaksanaan Rentjana Pembangunan Lima Tahun 1956-1960, hal. 110. Perlu diterangkan bahwa angka-angka untuk tahun 1958 belum lengkap karena perhitungan ini telah dibuat sebelum tutup tahun. Meski demikian angka pada akhir tahun diperkirakan tidak banyak berbeda dengan perhitungan yang disajikan dalam tabel di atas.

69

Jumlah Dan Persentase Naik/Turunnya Pendapatan Nasional (menurut harga-harga dalam tahun 1955) Tahun 1953 1954 1955 1956 1957 1958 Jumlah dalam Milyar Rupiah + 6,8 + 7,6 + 2,2 + 5,6 + 10 - 17,4 Persentase + 6,6 +7 + 1,9 + 4,7 +8 - 12,9

+ = naik. - = turun. Sumber : Biro Perantjang Negara, Laporan Pelaksanaan Rentjana Pembangunan Lima Tahun 1956-1960, hal. l 10.

Kemerosotan dalam pendapatan nasional berkaitan pula dengan situasi keuangan negara, karena anggaran keamanan yang meningkat dan pembiayaan perusahaanperusahaan Belanda yang telah diambil alih yang kini harus dimodali oleh pemerintah sendiri. Semua itu akhirnya memicu terjadinya inflasi yang pada akhirnya menyebabkan pemerintah mengambil kebijakan sanering40 pada tahun 1959. Pada tanggal 25 Agustus 1945, Pemerintah mengeluarkan kebijakan dan tindakan moneter, termasuk sanering, untuk mengatasi inflasi tersebut dengan cara: 1. Penurunan nilai uang kertas Rp. 500,- dan Rp 1.000,- menjadi Rp. 50,- dan Rp. 100,2. Pembekuan sebagian dari simpanan pada bank-bank (giro dan deposito), yaitu sebesar 90% dari jumlah di atas Rp. 25.000 untuk setiap simpanan, dengan ketentuan bahwa simpanan yang dibekukan akan diganti menjadi simpanan jangka panjang oleh pemerintah.41 Kebijakan sanering merupakan tindakan moneter penting yang dilakukan oleh pemerintah secara sepihak. Bagi pemerintah, kebijakan sanering berhasil mendatangkan keuntungan. Dari catatan pembukuan, keuntungan yang diperoleh pemerintah dari tindakan sanering sebesar Rp. 8.264 juta (Rahardjo et.al., 1995:141). Sebagian dari jumlah tersebut dipergunakan untuk membayar hutang pada Bank Indonesia. Sehingga pada tahun 1960, hutang pemerintah kepada Bank Indonesia menjadi negatif sebesar Rp. 221 juta.

40

41

Sanering merupakan kata yang berasal dari bahasa Belanda yang arti harafiahnya adalah penyehatan, pembersihan atau penataan kembali (Rahardjo et.al., 1995:140). Selain itu, diputuskan pula bahwa kurs rupiah terhadap dolar Amerika ditetapkan dari Rp. 11,40,menjadi Rp. 45,- per satu dolar. Penurunan uang rupiah tidak berlaku dalam perhitungan laba maupun pendapatan yang dikenakan pajak dan tidak akan diperhitungkan dengan pajak apa pun (Ibid).

70

Sementara itu, pertimbangan kebijakan ekonomi bergeser dari pemberian proteksi untuk kalangan bisnis ke arah penggalangan perubahan ekonomi secara struktural (Chalmers, 1996:112). Meski demikian, pemihakan kepada para pengusaha pribumi sampai derajat tertentu masih tetap dipertahankan. Pemihakan tersebut terutama ditunjukkan dengan berlakunya Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 195942 yang dikeluarkan oleh Menteri Perdagangan, Rachmat Mulyomiseno. Peraturan ini melarang pedagang asing di pedesaan, yang mendorong membanjirnya arus masuk penduduk keturunan Tionghoa ke kota-kota. Pelaksanaan peraturan ini kemudian juga menyebabkan tersingkirnya lebih dari 100.000 orang keturunan Tionghoa ke luar negeri (Coppel, 1994:82). Perlu dikemukakan bahwa pelaksanaan Demokrasi Terpimpin secara dejure ditandai dengan berlakunya Dekrit Presiden. Dalam kerangka Demokrasi Terpimpin Presiden Sukarno mencoba untuk memperkenalkan sistem sosialisme yang disebutnya sebagai Sosialisme ala Indonesia. Di dalam semboyan sosialisme Presiden Sukarno tersebut, terdapat banyak sekali retorika nasionalis yang tertuju pada penciptaan transformasi ekonomi serta pengembangan sektor modern. Dalam situasi demikian, apa yang dahulu menjadi tujuan para politisi yang menganut pandangan ekonomi nasional, kemudian diterjemahkan dalam sloganslogan politik. Karena itu makin sedikit perhatian yang diberikan pada bidang ekonomi dan yang terkait, sehingga menghalangi pelaksanaan yang efektif dari Rencana Pembangunan Lima tahun. BPN pada tahun 1959 diganti menjadi Dewan Perantjang Nasional (Depernas) dan diketuai oleh Mohammad Yamin. Tokoh ini dikenal sebagai seorang politisi yang memiliki hubungan dekat dengan Sukarno. Sejak dipimpin oleh Yamin Depernas lebih mengakomodasi kepentingan-kepentingan politik ketimbang upaya pemecahan masalah-masalah ekonomi. Rencana Lima Tahun pada tahun 1960 diganti oleh Rencana Pembangunan Menyeluruh Delapan Tahun yang ambisius (Chalmers, 1996:113). Rencana pembangunan tersebut adalah upaya komprehensif ketiga dari pemerintah sejak Rencana Urgensi Perekonomian. Namun penyusunannya lebih menyerupai dokumen politik dibanding suatu rancangan program ekonomi. Rencana Pembangunan Menyeluruh Delapan Tahun disusun menjadi 17 bagian, 8 jilid dan 1945 pasal yang melambangkan hari proklamasi kemerdekaan (Ricklefs, 1991: 404).

42

Pada bulan Mei 1959 dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. 10 yang memutuskan bahwa mulai tanggal 1 Januari 1960 orang-orang asing dilarang melakukan kegiatan perdagangan di daerah pedesaan. Pada dasarnya ketetapan ini merupakan suatu. langkah yang didorong oleh pihak Angkatan Darat untuk merugikan orang-orang keturunan Tionghoa, memperlemah hubungan Jakarta dengan Beijing, dan pada akhirnya diharapkan dapat mempersulit kedudukan PKI (Ricklefs, 1991:404).

71

Pada tahun-tahun berikutnya, peran komando negara yang besar tetap saja tidak mampu menutupi kebijakan ekonomi yang semakin tidak menentu. Nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda yang turut memberikan andil bagi menguatnya peranan ekonomi negara, ternyata tidak bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memperbaiki ekonomi secara menyeluruh. Slogan yang mengemuka selama pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965) yaitu politik sebagai panglima telah menjelaskan bahwa masalah-masalah ekonomi selama periode tersebut bukanlah merupakan prioritas utama.

72

Penutup
Modal Belanda yang masih beroperasi setelah penyerahan kedaulatan pada tahun 1949 telah menghalangi cita-cita nasional untuk mewujudkan pemerintahan Republik Indonesia yang berdaulat penuh. Selama modal asing itu masih tetap beroperasi, tugas untuk mengakhiri kolonialisme Belanda di Indonesia dianggap belum berakhir. Perang kemerdekaan memang telah mengakhiri kemungkinan bagi Belanda untuk memerintah kembali di Indonesia. Tetapi tanpa upaya untuk mengakhiri warisan ekonomi kolonial, harapan untuk mewujudkan ekonomi nasional akan tinggal menjadi cita-cita yang akan sulit untuk diwujudkan. Berbagai kebijakan ekonomi yang diterapkan selama periode Demokrasi Parlementer harus memperhitungkan kondisi perekonomian Indonesia yang masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan Belanda. Belum siapnya suatu kelas menengah yang tangguh dan kurangnya tenaga ahli, memaksa para perancang kebijakan ekonomi untuk bersikap toleransi terhadap keberadaan perusahaanperusahaan tersebut. Namun sikap toleransi semakin sulit dipertahankan dalam situasi ekonomi yang semakin suram. Ketidakstabilan politik dan kemerosotan ekonomi merupakan masalah utama yang harus dihadapi oleh pemerintahan kabinet-kabinet selama dekade 1950-an. Pemerintahan yang jatuh bangun telah menyulitkan bagi suatu upaya pelaksanaan kebijakan ekonomi yang berkesinambungan. Sedangkan keberhasilan dalam pembangunan ekonomi akan sulit untuk dicapai jika pemerintahan jatuh bangun. Situasi yang bagaikan lingkaran tanpa jalan keluar tersebut pada akhirnya akan mengancam kedaulatan negara Republik Indonesia. Berbagai kesulitan tersebut masih ditambah oleh ketidakpuasan daerah dan perpecahan di tubuh Angkatan Darat. Sedangkan dalam politik luar negeri, masalah Irian Barat yang berlarut-larut berhasil menyatukan berbagai pandangan di bidang politik. Belanda yang masih menguasai Irian Barat menolak untuk menyerahkan Irian Barat. Perjuangan untuk mengembalikan Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi merupakan amanat revolusi kemerdekaan yang dapat menyatukan seluruh rakyat Indonesia. Dalam situasi demikian keberadaan perusahaan-perusahaan Belanda yang masih beroperasi di Indonesia dengan mudah dijadikan kambing hitam bagi semua persoalan yang ada, terutama persoalan ekonomi. Kaum komunis dan nasionalis kiri yang memanfaatkan isu tersebut dapat dengan cepat meraih simpati yang luas. Dengan melalui aksi-aksi yang dilakukan oleh kaum buruh, ancaman untuk melakukan tindakan pengambilalihan dijadikan alat penekan untuk memaksa Belanda menyelesaikan masalah Irian Barat.

73

Tindakan pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda akhirnya betul-betul terjadi ketika berbagai kesulitan di bidang politik dan ekonomi yang memuncak bertemu dengan momentum penolakan resolusi masalah Irian Barat di PBB. Tidak mudah untuk menilai motivasi di balik tindakan pengambilalihan yang kemudian diikuti oleh nasionalisasi perusahaan-perusahaan tersebut. Apakah benar-benar digunakan untuk menekan Belanda atau menjadi salah satu jalan yang dipakai kaum komunis untuk merebut kekuasaan. Tetapi satu hal yang pasti, bahwa aksi pengambilalihan dilakukan tanpa menggunakan kekerasan. Tidak ada seorang pun yang jatuh sebagai korban, sehingga sulit untuk mendapatkan citra yang radikal dalam atmosfer tindakan pengambilalihan. Di lain pihak, tidak dapat dipungkiri bahwa peranan suatu kelas menengah yang sedang dicoba untuk dibangun, justru semakin merosot. Dengan terjadinya pengambilalihan dapat dikatakan bahwa inisiatif bagi suatu tindakan ekonomi telah bergeser ke tangan pemerintah dan angkatan Darat. Sejalan dengan itu, pertimbangan kebijakan bergeser dari pemberian proteksi dari kalangan bisnis ke arah penggalakan perubahan ekonomi secara struktural. Sektor produksi telah dikuasai negara setelah nasionalisasi sampai pada tahun 1959. Dan di sinilah, dalam ideologi yang berorientasi pada peranan komando dan pimpinan dari negara, suatu kepentingan negara yang tegas menemukan wahana ekspresi. Melalui pengambilalihan maka penguasaan pemerintah terhadap sektor ekonomi nasional mengalami peningkatan pesat. Namun peningkatan pesat dalam sektor ekonomi tidak identik dengan adanya suatu perbaikan ekonomi nasional. Perkembangan keadaan itu disebabkan karena tidak adanya program terencana dan persiapan yang matang dalam pelaksanaan pengambilalihan. Sebagai akibatnya situasi pasca pengambilalihan ditandai dengan penurunan produksi dan kekacauan kegiatan ekonomi. Dengan demikian tindakan pengambilalihan justru menyebabkan kemerosotan ekonomi nasional. Namun jika ditinjau dari segi politik, tindakan tersebut telah membantu pemerintah untuk menyingkirkan para penentangnya. Hal tersebut dikarenakan dua sebab, peraturan, aksi pengambilalihan mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang sudah frustasi menghadapi dominasi ekonomi modal Belanda. Dan kedua, pengambilalihan menyebabkan pemerintah pusat memiliki kemampuan untuk membagi-bagikan harta dan jabatan kepada para pendukungnya. Maka suatu basis ekonomi bagi suatu sistem pemerintahan yang baru, yaitu sistem Demokrasi Terpimpin, telah disiapkan.

74

Bibliografi
Dokumen Kearsipan:
Arsip Nasional Republik Indonesia : a. Inventaris arsip Kabinet Presiden RI; 1950-1959 : Organisasi massa: surat-surat pernyataan tanggal 26 Oktober 1950 - 10 Agustus 1959 tentang nasionalisasi perusahaan asing, No. Inventaris 1528. Kabinet Presiden RL surat-surat tanggal 3 Juli 1951 - 21 September 1959 tentang pendirian perusahaan-perusahaan, No. Inventaris 1545. Organisasi massa dan DPRDS-DPRDS: resolusi-resolusi tanggal 1 Mei 1955 -17 September 1957 tentang tuntutan untuk mengambil tindakan tegas mengurangi hak-hak istimewa modal monopoli asing, No. Inventaris 1632. Organisasi-organisasi buruh: surat pernyataan tanggal 24 Oktober 1956 13 Agustus 1959 tentang sikap terhadap UU penanaman modal asing, No. Inventaris 1658. Biro pusat statistik kepada Kabinet Presiden RI: daftar tahun 1957 tentang harga kebutuhan pokok sehari-hari, No. Inventaris 1661.

b. Inventaris Arsip kementrian Keuangan; 1950-1969 : Surat-surat menteri keuangan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan ekspor komoditi Indonesia; 19 Januari 1953 - 18 Oktober 1969, No. Inventaris 179. Surat-surat menteri keuangan mengenai penyimpanan, persediaan, dan peredaran uang kertas; 27 Agustus 1952 - 24 November 1965, No. Inventaris 218. Surat kepada anggota Dewan Ekonomi Kenangan (DEK) mengenai penanaman modal asing (PMA) di Indonesia; 7 Mei 1952 - 4 November 1955, No. Inventaris 352.

Arsip Sekretariat Negara:


a. Risalah Rapat Kabinet Perdana Menteri: Risalah rapat ke-64 Kabinet Djuanda, tanggal 5 Desember 1957. Risalah rapat ke-65 Kabinet Djuanda, tanggal 6 Desember 1957. Risalah rapat ke-58 Kabinet Djuanda, tanggal 17 Desember 1957. Risalah rapat ke-69 Kabinet Djuanda, tanggal 20 Desember 1957. Risalah rapat ke-70 Kabinet Djuanda, tanggal 23 Desember 1957.

75

b. Peraturan Pemerintah Tahun 1958 : Pembentukan Badan Pusat Penguasa Perusahaan-Perusahaan Industri dan Tambang Belanda, No. Inventaris 10. Pembentukan Badan Urusan Dagang, No. Inventaris 11. Penempatan semua perusahaan Belanda di bawah penguasaan pemerintah Republik Indonesia, No. Inventaris 24.

c. Peraturan Pemerintah tahun 1959 Pokok-pokok pelaksanaan Undang-undang nasionalisasi Perusahaan Belanda, No. Inventaris 2. Pembentukan badan nasionalisasi perusahaan Belanda, No. Inventaris 3. Penentuan perusahaan pertanian/perkebunan tembakau milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi, No. Inventaris 4. Penambahan PP.22/1958 tentang penetapan semua bank Belanda di bawah penguasaan pemerintah RI dan pembentukan badan pengawas bank-bank Belanda, No. Inventaris 8. Tugas kewajiban ganti kerugian perusahaan-perusahaan milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi dan cara mengajukan permintaan ganti kerugian, No. Inventaris 9. Penentuan perusahaan listrik dan/atau gas milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi, No. Inventaris 18. Penentuan perusahaan bank di Indonesia milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi, No. Inventaris 39. Nasionalisasi perusahaan kereta api dan telepon milik Belanda, No. Inventaris 41. Penentuan perusahaan perindustrian/pertambangan milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi, No. Inventaris 50.

Arsip Bank Indonesia (BI)


Stukken inzake de nationalisatie van De Javasche Bank, 1951-1952, No. Inventaris 3233-3238.

Arsip BI Tentang Lembaga Alat-Alat Pembayaran Luar Negeri:


Rapat Direksi LAAPLN, 1957-1959, No. Inventaris 4 1. Beberapa catatan tentang keadaan ekonomi pada dewasa ini, catatan rahasia Gubernur BI, 12 November 1958, No. Inventaris 52. Surat Edaran Penguasa Perang Pusat, No.: SFJ Peperpu/O 1/ 1958, No. Inventaris 388.

Surat Kabar

76

Indonesia Raya, 1957-1958. - Pedoman, 1957-1958. Suluh Indonesia, 1957-1958. - Kompas, 15 Agustus 2000.

Majalah
Bendera Buruh, No. 2, 4, 10, 1953. Berita Ekonomi, Oktober 1952, April dan Juli 1953, Maret 1954. Bulletin of Indonesian Economics Studies, Vol. XX No. 2, August 1984, Vol. 22 No.3, December 1986. Ekonomi & Masjarakat, No. III dan IV 1959, No. I 1960. Warta Niaga dan Perusahaan, 1958-1959. Prisma, No.5 1976, No. 11 1985, No.2 1992.

Wawancara
Moes Joenoes, di Jakarta, 17 Mei 2000 Chairul Basri, di Jakarta, 2 Juni 2000 Islam Salim, di Jakarta, 21 Juni 2000 Martiman, di Jakarta, 7 Juli 2000 Sumarno, di Jakarta, 7 Agustus 2000

Daftar Buku Acuan


Aidit, D.N., Tentang Marxisme, Jakarta: Akademi Ilmu Sosial Aliarcham, 1963. Anspach, R., "Indonesia" dalam Golay E et.al., Underdevelopment and Economic Nationalism in Southeast Asia, Ithaca: Cornell University Press, 1996. Bank Indonesia, Laporan Tahun Pembukuan 1957-1958, Jakarta, 1958. __________, Laporan Tahun Pembukuan 1959-1960, Jakarta, 1960. Bartlett, Anderson G., et. al., PERTAMINA, Perusahaan Minyak Nasional, Jakarta: Inti Idayu Press, 1986. Biro Perantjang Negara, Laporan Pelaksanaan Rentjana Pembangunan Lima Tahun, tt., tp. Chalmers, Ian, Konglomerasi: Negara dan Modal dalam Industri Otomotif Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996. Creutzberg, P., Changing Economy in Indonesia, Vol.3, Amsterdam: Royal Tropical Institute, 1977. Crouch, Harold, Militer & Politik di Indonesia, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999. Dick, H.W., Industri Pelayaran Indonesia, Kompetisi dan Regulasi, Jakarta: LP3ES, 1990.

77

Dick, H. W. et. al., The Emergence of a National Economy: an Economic History of Indonesia, 1800-2000, Passau: Draft Edition, 1999. Esmara, Hendra, Heru Cahyono, Jejak Perlawanan Begawan Pejuang, Soemitro Djojohadikusumo, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2000. Feith, Herbert, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, Ithaca: Cornell University Press, 1962. Feith, Herbert, Soekarno-Militer Dalam Demokrasi Terpimpin, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995. Fischer, Louis, The Story of Indonesia, New York: Harper & Brothers, 1959. Gardner, Paul F, Lima Puluh Tahun Hubungan Amerika Serikat Indonesia, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999. George, Margaret, Australia dan Revolusi Indonesia, Jakarta: PT Pantja Simpati, 1986. Glassburnerr, Bruce (ed.), The Economy of Indonesia: Selected Reading, Ithaca: Cornell University Press, 1971. Harvey, Barbara Sillars, Permesta: Pemberontakan Setengah Hati, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1989. Higgins, Benjamin, Indonesia: The Crisis of the Millstones, Princeton, New Jersey: D. Van Nostrand Co., 1963. Hill, Hal, Investasi Asing Dan Industrialisasi Di Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1990. Jones, Howard Palfrey, Indonesia: The Possible Dream, New York: Brace, Jovanovic, 1971. Kahin, George Mc. Turnan, Nationalism and Revolution in Indonesia, Ithaca: Cornell University Press, 1952. Kahin, Audrey R. dan George Mc T. Kahin, Subversi Sebagai Politik Luar Negeri, Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997. Leifer, Michael, Politik Luar Negeri Indonesia, Jakarta: PT Gramedia, 1983. Leirissa, R.Z., PRRI-Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1991. Lev, Daniel S., The Transition to Guided Democracy: Indonesian Politics 19571959, Ithaca: Cornell Modern Indonesia Project Monograph Series, 1966. Lloyd, Christopher, The Structures of History, London: Basil Blackwell, 1993. Muhaimin, Yahya A, Bisnis dan Politik: Kebijaksanaan Ekonomi Indonesia 19501980, Jakarta: LP3ES, 1990. Mas'oed, Mochtar, Ekonomi Dan Struktur Politik Orde Baru: 1966-1971, Jakarta: LP3ES, 1989.

78

Nasution, Adnan Buyung, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia, Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1995. Noer, Deliar, Biografi Politik Mohammad Hatta, Jakarta: LP3ES, 1990. Oey Beng To, Sejarah kebijakan Moneter Indonesia, Jilid I (1945-1958), Jakarta: Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, 1991. Paauw, Douglas M., From Colonial To Guided Economy dalam Ruth McVey (ed.), Indonesia, New Haven: Yale University Press, 1963. Pelzer, Karl J., Sengketa Agraria, Pengusaha Perkebunan Melawan Petani, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1991. Pigay BIK, Decki Natalis, Evolusi Nasionalisme Dan Sejarah, Konflik Politik Di Papua, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2000. Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991. Rahardjo, M. Dawam. at.al., Bank Indonesia Dalam Kilasan Sejarah Bangsa, Jakarta: LP3ES, 1995. Robison, Richard, The Rise of Capital, Canberra: Asian Studies Association of Australia, 1986. Rocamora, J. Eliseo, Nasionalisme Mencari Ideologi, Bangkit dan Runtuhnya PNI 1946-1965, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1991. Samego, Indria, et. a1.,BilczABRIBerbisnis, Bandung: Penerbit Mizan, 1998. Seda, Frans, simfoni Tanpa Henti, Ekonomi Politik Masyarakat Baru Indonesia, Jakarta: Grasindo, 1992. Siahaan, Bisuk, Industrialisasi di Indonesia: Sejak Hutang Kehormatan sampai Banting Stir, Jakarta: Pustaka Data, 1996. Sjahrir, Ekonomi Politik Kebutuhan Pokok, Sebuah Tinjauan Prospektif, Jakarta: LP3ES, 1986. Soebagijo I.N., Jusuf Wihisono: Karang Di Tengah Gelombang, Jakarta: Gunung Agung, 1980. Sukarno, Di Bawah Bendera Revolusi, Jilid II, Jakarta: Panitia Penerbit, 1966. Sundhaussen, Ulf, Politik Militer Indonesia, 1945 - 1967, Jakarta: LP3ES, 1986. Sutter, John O., Indonesianisasi: Politics in a Changing Economy, 1940-1955, Ithaca: Cornell University, Modern Indonesia Project, 1959. Tedjasukmana, Iskandar, The Political Character of the Indonesia Trade Union Movement, Ithaca: Cornell Modern Indonesia Project, 1959. Thee Kian Wie, Industrialisasi Di Indonesia, Beberapa Kajian, Jakarta: LP3ES, 1994. _____________, Penanaman Modal Asing Langsung di Indonesia, Jakarta: PMBLIPI, 1996.

79

Thomas, K., dan Panglaykim, Y., Indonesia: the Effect o f Past Policies and President Suharto's Plans for the Future, Melbourne and Sydney: CEDA, P Series No. 11, 1973. Trimurti, S.K., Hubungan Pergerakan Buruh Indonesia Dengan Pergerakan Kemerdekaan Nasional, Jakarta: Yayasan Idayu, 1980. Wertheim, W.F, Masyarakat Indonesia Dalam Transisi: Studi Perubahan Sosial, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999. Zed, Mestika, Ekonomi Indonesia Pada Masa Revolusi: Mencari Dana Perjuangan (1945-1950), dalam Taufik Abdullah et.al., Denyut Nadi Revolusi Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia, 1997.

80

Lampiran-Lampiran
Lampiran I
Undang-undang No. 13 tahun 1956, tentang pembatalan hubungan Indonesia-Nederland berdasarkan perjanjian Konferensi Meja Bundar. Presiden Republik Indonesia Menimbang bahwa demi kepentingan Negara dan Rakyat Republik Indonesia yang sangat dirugikan oleh Perjanjian Konferensi Meja Bundar di `s Gravenhage dalam tahun 1949 dan yang didaftarkan pada Sekretariat Perserikatan BangsaBangsa pada tanggal 14 Agustus 1950 No. 894, dianggap perlu membatalkan hubungan antara Indonesia dan Kerajaan Nederland atas dasar Perjanjian ini, termasuk Statut Uni, persetujuan-persetujuan yang dilampirkan serta pula pertukaran-pertukaran surat dan prasasti-prasasti lainnya. Menimbang : bahwa telah berulang-ulang dinyatakan kepada pemerintah Kerajaan Nederland bahwa isi dan makna perjanjian tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi, karena Irian Barat sebagai bagian mutlak dari wilayah Republik Indonesia masih juga diduduki oleh Pemerintah Kerajaan Nederland, walaupun semestinya telah lama harus diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia yang penuh berhak atas bagian mutlak itu, pula karena Uni Indonesia-Nederland bagi Indonesia ternyata merupakan ikatan yang merugikan dan mempersulit usaha-usaha ke arah pembangunan Negara; Menimbang : bahwa dari pihak Indonesia senantiasa diusahakan guna mendapat persetujuan dari Kerajaan Nederland untuk mewujudkan hubungan baru yang lazim antara negara-negara yang berdaulat penuh, dalam beberapa perundingan yang selalu kandas karena ketidaksediaan Pemerintah Kerajaan Nederland; Menimbang : bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas tidak seyogya dan adil diminta dari pihak Pemerintah Indonesia kesediaan terus-menerus untuk mengadakan perundingan guna mencapai perjanjian bilateral untuk pembatalan yang dimaksudkan di atas dan karena itu tidak ada jalan lain daripada pembatalan unilateral sesuai dengan arti dan makna hukum internasional. Mengingat : Keputusan Presiden Republik Indonesia Serikat No. 33 tahun 1950, Undang-undang No. 7 tahun 1950 dan pasal-pasal 89 dan 120 Undang-undang Dasar Sementara; Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat; Memutuskan: Menetapkan : Undang-undang Tentang Pembatalan Hubungan Indonesia Nederland berdasarkan Perjanjian Konferensi Meja Bundar.

81

Pasal 1 Pemerintah Republik Indonesia menyatakan : bahwa hubungan Republik Indonesia dan Kerajaan Nederland atas dasar perjanjian Konferensi Meja Bundar di s Gravenhage dalam tahun 1949 dan yang didaftarkan pada Sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 14 Agustus 1950 No. 894, dihapuskan dan karena itu adalah batal. Pasa1 2 Piagam Penyerahan Kedaulatan, akta penyerahan Kedaulatan, serta pertukaran surat tentang status quo Irian Barat dengan ini dihapuskan dan karena itu adalah batal. Pasa13 Uni Indonesia-Nederland sebagai dimaksudkan dalam Statut Uni dengan ini dihapuskan dan karena itu adalah batal. Pasa1 4 Statut Uni, termasuk lampiran-lampirannya serta persetujuan-persetujuan dan pertukaran surat yang bersangkutan tentang hal kerja sama, baik di lapangan urusan Luar Negeri, Pertahanan dan Kebudayaan, maupun di lapangan Perekonomian dan Keuangan dihapuskan dan karena itu adalah batal. Pasal 5 Undang-undang, keputusan-keputusan serta peraturan-peraturan penyelenggaraan mengenai hal-hal tersebut dalam pasal 1 sampai 4 tidak berlaku lagi. Pasa1 6 Hubungan antara Republik Indonesia dan Kerajaan Nederland selanjutnya adalah hubungan yang lazim antara Negara-negara yang berdaulat penuh, berdasarkan hukum internasional. Pasal 7 Kepentingan bangsa Belanda yang ada dalam wilayah Republik Indonesia diperlakukan menurut aturan-aturan tercantum dalam Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia dan Perundang-undangan yang berlaku atau yang akan berlaku dalam wilayah Republik Indonesia. Hak, Konsesi, Izin dan cara menjalankan perusahaan Belanda akan diindahkan jika tidak bertentangan dengan kepentingan pembangunan Negara.

82

Perlakuan sebagai dimaksudkan di atas tidak dapat didasarkan atas hak-hak istimewa dengan alasan apa pun juga. Pasal 8 Pelaksanaan Undang-undang ini diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 9 Undang-undang ini dapat disebut "Undang-undang Pembatalan Konferensi Meja Bundar seluruhnya." Pasal 10 Undang-undang ini mulai berlaku pada hari diundangkan dan mempunyai daya surut sampai tanggal I5 Februari 1956. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta pada tanggal 3 Mei 1956 Presiden Republik Indonesia ttd Soekarno Perdana Mentri ttd Ali Sastroamidjojo

Diundangkan Pada tanggal 22 Mei 1956 Menteri Kehakiman ttd Mulyatno Menteri Luar Negeri ttd Ruslan Abdulgani

83

Lampiran II
Undang-undang No. 86 tahun 1958, tentang Nasionalisasi PerusahaanPerusahaan Milik Belanda. Presiden Republik Indonesia Menimbang : a. bahwa tindakan yang telah diambil oleh Pemerintah terhadap perusahaan milik Belanda yang berada di dalam wilayah Republik Indonesia dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat adalah sesuai dengan kebijaksanaan pembatalan K.M.B.; b. bahwa dalam taraf perjuangan pada masa ini dalam rangka pembatalan K.M.B. dan perjuangan pembebasan Irian Barat tersebut di atas sudah tiba waktunya untuk mengeluarkan ketegasan terhadap perusahaan-perusahaan milik Belanda yang berada di dalam wilayah Republik Indonesia berupa nasionalisasi dari perusahaan-perusahaan milik Belanda untuk dijadikan milik Negara. c. Bahwa dengan nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda tersebut dimaksudkan untuk memberi kemanfaatan sebesar-besarnya pada masyarakat Indonesia dan pula untuk memperkokoh keamanan dan pertahanan Negara; Mengingat : pasal-pasal 27 jo 38, 89 dan 98 Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia; dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat; Memutuskan : Menetapkan : Undang-undang Tentang Nasionalisasi Perusahaan-perusahaan Milik Belanda Yang Berada Di Dalam Wilayah Republik Indonesia. Pasal 1 Perusahaan-perusahaan milik Belanda yang berada di wilayah Republik Indonesia yang akan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dikenakan nasionalisasi dan dinyatakan menjadi milik yang penuh dan bebas Negara Republik Indonesia. Pasa1 2 (1) Kepada pemilik-pemilik perusahaan-perusahaan tersebut dalam pasal 1 di atas diberi ganti-kerugian yang besarnya ditetapkan oleh sebuah Panitya yang anggota-anggotanya ditunjuk oleh pemerintah.

84

(2) Atas Keputusan Panitya tersebut pada ayat 1 di atas maka baik pemilik perusahaan maupun Pemerintah dapat meminta pemeriksaan banding kepada Mahkamah Agung yang akan memberi keputusan terakhir menurut acara pemeriksaan banding di hadapannya antara pemilik perusahaan dan Negara Republik Indonesia sebagai pihak yang bersangkutan. (3) Pembayaran ganti-kerugian seperti termaksud di atas selanjutnya akan diatur dalam undang-undang tersendiri. Pasa1 3 (1) Ketentuan-ketentuan tersebut dalam "Onteigeningsor-donnantie (Stb. 1920 No. 574)" untuk nasionalisasi ini tidak berlaku. (2) Ketentuan-ketentuan pokok tentang pelaksanaan serta akibat-akibat lebih lanjut daripada pernyataan seperti termaksud dalam pasal 1 di atas, akan diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasa14 (1) Peraturan Pemerintah seperti termaksud dalam pasal 3 ayat (2) di atas, dapat mengancamkan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun dan/atau hukuman denda setinggi-tingginya satu juta rupiah atas pelanggaran aturanaturannya. (2) Segala tindak pidana seperti termaksud dalam ayat (1) pasal ini adalah kejahatan. (3) Mereka yang disangka atau didakwa melakukan kejahatan seperti termaksud dalam ayat (1) di atas, dapat ditahan menurut cara yang dilakukan terhadap tersangka-tersangka atau terdakwa-terdakwa yang melakukan kejahatan yang diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun atau lebih. (4) Semua peraturan tentang hukum acara pidana mengenai penahanan sementara dilakukan terhadap mereka yang dimaksudkan dalam ayat (3) di atas. Pasa1 5 Setiap perjanjian atau perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah seperti termaksud dalam pasal 3 ayat (2) di atas adalah batal karena hukum. Pasa1 6 Undang-undang ini dapat disebut "Undang-undang Nasionalisasi Perusahaan Belanda." Pasal 7

85

Undang-undang ini mulai berlaku pada hari diundangkan dan mempunyai daya surut sampai 3 Desember 1957. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta Pada tanggal 27 Desember 1958

Presiden Republik Indonesia ttd

SOEKARNO Diundangkan, Pada tanggal 31 Desember 1958. Menteri Kehakiman Perdana Menteri

ttd

ttd

G.A. MAENGKOM

DJUANDA

Menteri Kehakiman

ttd

G.A. MAENGKOM

86

Lampiran III Tabel 1. Pola Kebijakan Ekonomi, 1950 - 1957


Perdagangan, Kebijakan Fiskal dan Moneter 1 2 Hatta (non-partai) 1. Pemotongan uang 12/49-9/50 2. Kelayakan ekspor Natsir (Masjumi) 1. Pengetatan kredit (Bank 9/50-3/51 (tanpa PNI) asing) 2. Bank BIN, BNI dan BR. 3. Pajak penghasilan 4. Perpanjangan daftar impor bebas "Kebijakan Perdagangan liberal" 5. Pengetatan keuangan 6. Beberapa Kesuksesan dengan kebijakan countercyclicle Sukiman (Masjumi) 1. Pengabaian pertukaran 4/51-2/52 (termasuk kurs mata uang Dalam kabinet: 5 2. Defisit besar dalam Masjumi, 5 PNI) keuangan Wilopo (PNI) 4/52- 1. Keseimbangan keuangan 2. Pelarangan impor ketat 6/53 (termasuk 3. Pembayaran impor Dalam kabinet : 4 dimuka PNI, 4 Masjumi, 2 PSI) Kabinet Nasionalisasi 3 Jalan kereta api Penanaman Lain-lain modal asing 5 6 pinjaman sebesar US $ 100 juta Persetujuan ECA Pelarangan mogok 1. Program Industri (Rencana Keadaan dibicarakan mendesak) 2. Benteng 3. Penghapusan "hakhak historis" Bantuan kepada usaha pribumi 4

Bank Indonesia Kelonggaran bagi dinasionalisasi 22 Mei Benteng 1951 Pengetatan Benteng

Persetujuan MSA

Terlalu banyak perdebatan, tak ada keberhasilan yang cemerlang

1. Rencana Pertanian 2 tahunan 2. Undang-undang Pekerja darurat. 1. Rasionalisasi militer 2. Tindakan antisguatter (pendudukan tanah oleh pendatang)

87

Perdagangan, Kebijakan Fiskal dan Moneter 1 2 Ali I (PNI) 8/53-7/55 1. Defisit besar dalam : (tanpa Masjumi) a. Keuangan b. Saldo pembayaran 2.Penghapusan Bagian kebijakan perdagangan dari Persetujuan Konferensi Meja Bundar Burhanuddin Harahap 1. Penghapusan KPUI; 8/55-3/56 pendirian BDP (Masjuni=caretaker) 2. Liberalisasi import 3. Peningkatan prepayment 4. Pembatasan defisit dalam anggaran virtual Kabinet Ali II (PNI) 4/56-3/57 1. Defisit anggaran yang besar 2. Memperkenalkan kembali sertifikat ekspor 3. Pengurangan peraturanperaturan.

Nasionalisasi 3

Bantuan kepada Penanaman usaha pribumi modal asing 4 5 1. Iskaq-sangat terbuka Draft undang-undang, penanaman modal 2. Rooseno (11/54) asing Memulai penyaringan (screening) dengan teliti 1. Penyebutan Nasional bagi setiap perusahaan milik orang Indonesia 2. Pengetatan screening secara umum Tidak ada perubahan 1. Nota investasi asing besar ditujukan kepada parlemen 2. Dana pinjaman dari IMF sebesar US $ 55 juta.

Lain-lain 6

1. Gerakan anti korupsi muncul 2. Pembatalan persetujuan Konferensi Meja Bundar

Djuanda (non-partai) 1. Bukti ekspor 3/57-8/59 partai 2. Pelarangan ekspor berat

Perusahaanperusahaan Belanda diambil alih.

Kongres Ekonomi ke 2 - akhir dari Benteng Des-57

1. Rencana Lima tahun terpenuhi 2. Pembatalan hutang pada Belanda 3. Peraturan tenaga kerja a. Antisquarter (anti pendatang; b. Dibentuk Dewan Perancang Regional Munas dan Munap-Program untuk otonomi regional dalam pembangunan ekonomi

Sumber : Glassburner, 1971: 96-97.

88

Tabel 2. Jumlah Perusahaan BAPPIT Menurut Lokasi dan Jenisnya


No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Lokasi BAPPIT Pusat BAPPIT Cab. Jakarta BAPPIT Cab. Jawa Barat BAPPIT Cab. Jawa Tengah BAPPIT Cab. Jawa Timur BAPPIT Cab. Sumatra Utara BAPPIT lainnya di luar Jawa Jumlahnya Mesin/Listrik 7 6 18 2 13 1 1 48 Kimia 7 3 4 6 1 21 Grafika 4 4 1 6 2 4 21 Umum 6 8 43 9 17 1 5 89 Jumlah 24 17 69 12 42 5 10 179

Sumber : Siahaan. 1996: 323

89

Tabel 3. Daftar Beberapa Perusahaan Industri Belanda yang Berubah Nama


No 1 A. 1. 2. Nama Perusahaan Belanda 2 INDUSTRI MESIN/LISTRIK NV Machine Fabriek & Scheepswerf "Molenvliet" NV Philip's Fabricage& Handel Mij Lokasi Perusahaan 3 Jakarta, Bandung Bidang Usaha 4 Pabrik mesin dan konstruksi baja Nama Baru Perusahaan Negara 5 Metalwork Sabang Merauke" (MSM) PT Ralin

3. 4. 5.

NV Nimaf NV W.A. Hoek's Machine & Zuurstof Fabriek NV Industriele Mij Gebr. van Swaay

Jakarta, Bandung, Radio, lampu listrik, bengkel, Semarang, Medan, dan telekomunikasi Surabaya Jakarta, Banyuwangi, Arak, alkohol, spiritus, minyak Cilacap, Mojokerto, Kediri kelapa Jakarta, Bandung, Surabaya Pabrik mesin & zat asam Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bagan Siapiapi Jakarta, Bandung, Surabaya Tegal, Sukabumi Indarung Padalarang Jakarta, Surabaya, Telaga Bodas Mesin alat-alat listrik

PT Almina PT Zatas (Pabrik mesin dan zat asam negara) PT Metrika

6.

NV Beeger van Kempen

Barang-barang dari alpaca dan perhiasan Pabrik mesin dan konstruksi

PT Pradipta

7. B. 1. 2. 3. 4.

NV Machinefabriek Braat INDUSTRI KIMIA NV P.P.C.M. NV Papier Fabriek Padalarang NV P.A. Regnault's verf, inkt, & blikfabrieken NV A.I.M.E.

PT Barata

Semen Kertas Cat, tinta, dan kaleng Belirang

Pabrik Semen Padang Perusahaan Kertas Negara Padalarang/Letjes PT Patna (Pabrik Tjat Negara) PT Belindo

90

No 1 5. C. 1. 2. 3. 4. 5.

Nama Perusahaan Belanda 2 NV Java Rubber Industrie LAIN-LAIN NV Java Textiel Mij, NV J.T.M NV Boekhandel & Drukkerij G. Kolff & Co. NV Verenigde Javasche Houthandel Mij NV Tegalsche prauwen veer NV Handel Mij "Europa-Azie"

Lokasi Perusahaan 3 Bandung

Bidang Usaha 4 Pabrik karet

Nama Baru Perusahaan Negara 5 PT Pikan (Perusahaan Industri Karet Negara) PT Texin PT Gita Karya PT Kabana PT IPPA PT Lakuna.

Tegal Jakarta, Surabaya Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta Tegal Jakarta Surabaya

Pertenunan dan pemintalan Tinta, percetakan Industri kayu Perkapalan Perusahaan layar dan perabot rumah

Sumber : Siahaan. 1996: 324-325.

91

Tabel 4. Perusahaan Industri Belanda yang diambil alih BAPPIT Pusat


No 1 1. 2. 3. 4. 5. Nama Perusahaan Induk Nama Anak Perusahaan 3 Keterangan 4 Pabrik Portland Cement dan pabrik kantong kertas Pabrik Kertas Pabrik cat, tinta, dan kaleng BAPPIT hanya mengerjakan penelitian laboratorium Pabrik belerang Pertambangan batubara Indarung Jakarta Padalarang dan Letjes Jakarta dan Surabaya Telaga Bodas Lokasi 5

2 Industri Kimia NV P.P.C.M (Padang Portland Cement Mij) sudah termasuk veza NV Gebr Veth's NV Gebr Veth's NV Papier Fabriek, Padalarang, NV Letjes

6. 7.

NV P.A. Regnault's Verf. Inkt & Blik- NV P.A. Renaults Verf, Inkt & fabrieken. Batavia Blikfabriek, Surabaya NV A.I.M.E. Mempunyai andil pada : a. Telaga Bodas b. NV sepanjang NV "Telaga Bodas" NV Seboekoe Mijn & Landbouw Mij Loapari Industri Mesin/Peralatan NV Philip's Fabricage & handel Mij

Telaga Bodas sebuku

8.

Idem

Pabrik radio dan barang-barang logam & Jakarta lampu listrik, bengkel telekomunikasi

92

No 1 9.

Nama Perusahaan Induk 2 NV NIMEF

Nama Anak Perusahaan 3 1. Nimef 2. Mexolie 3. Mexolie 4. Mexolie 5. Mexolie 6. Mexolie 7. Aparak 8. Fabr. Spiritus 1. NV W.A. Hoek's 2. NV W.A. Hoek's NV Molenvliet 1. Gebr van Swaay 2. Gebr. van Swaay 3. Gebr. van Swaay 4. Gebr. van Swaay 1. NV Beelyer van Kempen & Vos 2. NV Beeger van Kempen & Vos 1. NV Braat 2. NV Braat 1. kolff's Inkt fabriek 2. Noordhoff kolff 3. Boekhandel & Drukk G. Kolff & Co 1. Visser & Co. 2. NV Ruygrok Drukkerij & Co

Keterangan 4 NV Ned. Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken

Lokasi 5 Jakarta Banyuwangi Cilacap Makasar Kediri Kebumen Jakarta Kota Mojokerto Bandung Surabaya Bandung Bandung Samarinda Bagan Siapi-api Bandung Surabaya Tegal Sukabumi

10. NV W.A. Hoek's Machine & Zuurstof Fabriek. Batavia 11. NV Machine fabriek & Scheepswerk "Molenvliet", Batavia 12. NV Industriele Maatschappij van Swaay, Batavia

Pabrik Arak Zat Asam Pabrik Mesin dan Konstruksi Pabrik Mesin & Listrik

13. NV Begeer van Kempen & Vos, Batavia 14. NV Machine Fabriek Braat, Surabaya Industri Grafika 15. NV Boekhandel & Drukkerij G. Kolff & Co (incl. Kolff's Offset Drukkerij). Jakarta 16. NV Boekhandel & Drukkerij "Visser & Co", Jakarta

Pabrik Barang-barang dari Alpaka dan barang-barang luks Pabrik Mesin & Konstruksi

Pabrik Tinta Jakarta Penerbit Surabaya Penerbit di bawah Board of management menurut Bandung surat keputusan direksi BAPPIT tertanggal 2 Mei 1959

93

No

Nama Perusahaan Induk

Nama Anak Perusahaan 3 Van Dorp &, Co Van Dorp & Co Van Dorp & Co Van Dorp & Co Percetakan Percetakan Percetakan Percetakan Penerbitan

Keterangan 4

Lokasi 5 Jakarta Surabaya Semarang Bandung Jakarta Semarang Cilacap Surabaya Teluk Betung Tebing Tinggi Bogor Solo Cirebon Kerawang Bandung Padang Garut Sukabumi Medan

1 2 17. NV Drukkerij & Boekhandel G.C.T. Van Dorp & Co.

18. NV J.B. Wolters Uitgever Mij Industri Umum 19. NV Ijsfabriek Petodjo

1. NV Petodjo 2. NV Petodjo 3. NV Petodjo 4. NV Petodjo 5. NV Petodjo 6. NV Petodjo 7. NV Petodjo 8. NV Petodjo 9. N'V Petodjo 10. NV Petodjo I 1. NV Petodjo 12. NV Petodjo 13. NV Petodjo 14. NV Petodjo

NV Ijs Mij petodjo terdiri dari : I. NV Ijs Mij (5 Pabrik) II. NV Buiten Zorg Ijs Mijs (2 pabrik) III. NV Mij Tot Expl. van Ijs Fabr. te Cheribon & Tegal (2 pabrik) IV.. NV Ijs Mij Nederland Ind. (3 Pabrik) V NV Ijsfabriek Sukabumi (2 Pabrik)

94

No

Nama Perusahaan Induk

Nama Anak Perusahaan 3 NV New Singapore Ice Work (16 Pabrik) 1. Pabrik Es Mangga Besar, Jakarta 2. Pabrik Es Priangan, Bandung 3. Pabrik Es Kesepuhan, Cirebon 4. Pabrik Es Lebak Siu, Tegal 5. Pabrik Es Semawis, Semarang 6. Pabrik Es Kajar, Rembang/Pati 7. Pabrik Es Redjo Mulyo, Madiun 8. Pabrik Es Ngagel, Surabaya 9. Pabrik Es Kasrie, Jakarta 10. Pabrik Es Betek, Malang 11. Pabrik Es Laban, Lumajang 12. Pabrik Es Suberkolak, Panarukan 13. Pabrik Es Mandar, Banyuwangi 14. Pabrik Es Talangsari, Jember. 1. Javahout 2. Javahout 3. Javahout 1. Van De Pol 2. Van De Pol Europa-Azie

Keterangan 4

Lokasi 5

1 2 20. NV Verenigde Ijs-fabrieken

21. NV Verenigde Javasche Houthandel Mij. Jakarta 22. NV Van De Pol Jakarta 23 NV Handel Mij Europa "Azie" 24. NV Tegalsche Prauwenveer
Sumber: Siahaan, 1996: 526-529

Industri Kayu

Pabrik perabot rumah tangga Pabrik Layar dan perabot rumah tangga Perusahaan pengangkutan dengan kapal

Surabaya Surabaya Yogyakarta Surabaya Medan Surabaya Jakarta Tegal

95

Konferensi Meja Bundar Denhaag - Belanda 23 Agustus - 2 Nopember 1949

KMB ="Konferensi Meja Bundar" Konferensi Meja Bundar adalah sebuah


pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia dan Belanda yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda dari 23 Agustus hingga 2 November 1949. Latar belakang Usaha untuk meredam kemerdekaan Indonesia dengan jalan kekerasan berakhir dengan kegagalan. Belanda mendapat kecaman keras dari dunia internasional. Belanda dan Indonesia kemudian mengadakan beberapa pertemuan untuk menyelesaikan masalah ini secara diplomasi, lewat perundingan Linggarjati, perjanjian Renville, perjanjian Roem-van Roijen, dan Konferensi Meja Bundar. Hasil konferensi Hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) adalah: 1. Serahterima kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda kepada Republik Indonesia Serikat, kecuali Papua Barat. Indonesia ingin agar semua bekas daerah Hindia Belanda menjadi daerah Indonesia, sedangkan Belanda ingin menjadikan Papua Barat negara terpisah karena perbedaan etnis. Konferensi ditutup tanpa keputusan mengenai hal ini. Karena itu pasal 2 menyebutkan bahwa Papua Barat bukan bagian dari serah terima, dan bahwa masalah ini akan diselesaikan dalam waktu satu tahun. 2. Dibentuknya sebuah persekutuan Belanda-Indonesia, dengan monarch Belanda sebagai kepala negara. 3. Pengambilalihan hutang Hindia Belanda oleh Republik Indonesia Serikat Pembentukan RIS Tanggal 27 Desember 1949, pemerintahan sementara negara dilantik. Soekarno menjadi Presidennya, dengan Hatta sebagai Perdana Menteri membentuk Kabinet Republik Indonesia Serikat. Indonesia Serikat telah dibentuk seperti republik federasi berdaulat yang terdiri dari 16 negara yang memiliki persamaan persekutuan dengan Kerajaan Belanda.

96

Perjanjian Roem-Royen 14 April 1949 : awal perjanjian Meja Bundar

Suasana Konferensi Permulaan Meja Bundar. Tampak: Prof. Dr. Supomo, Ali Sastroamidjojo, Mohammad Roem, Leimena, A.K. Pringgodigdo, Latuharhary, 14 April 1949

Pemandangan dalam Perundingan Roem-Royen di Hotel Des Indes, Batavia 14 April 1949

97

Pemandangan dalam Perundingan Roem-Royen di Hotel Des Indes, Batavia 14 April 1949

Suasana dalam Perundingan Roem-Royen di Hotel Des Indes, Batavia 14 April 1949

98

Suasana dalam Perundingan Roem-Royen di Hotel Des Indes, Batavia 14 April 1949

99

6 Agustus 1949 : Foto Saat Keberangkatan

Keberangkatan delegasi KMB dari lapangan terbang Kemayoran, Jakarta 6 Agustus 1949

Delegasi KMB dari Indonesia tiba di lapangan terbang Schiphol, Amsterdam, Nederland. Tampak: Mr. Indrakusuma, Djuwito, Tan Goan Gun, Chan Tjin Kan, Sinage Breslan, van Dijk, Bijleveld, van Thijn, Jusuf Barnes, Dr. Sim Kie Ay, Mr. Moh. Yamin, Suarto, Blaauw, van Helsdingen, Verboom, Snel, de Vries dan Margadant. 15 Agustus 1949

100

Delegasi Indonesia tiba di lapangan terbang Schipol, Amsterdam disambut oleh Dr. van Royen dan Merle Cochran. Tampak: Mr. Mohammad Roem. 8 Agustus 1949

101

23 Agustus 1949 : Sidang KMB

Delegasi Nederland diwakili oleh Menteri van Maarseveen sedang memberikan sambutan. 23 Agustus 1949

Pembukaan KMB di Ridderzaal, Den Haag, Nederland. Tampak: Sunan Solo, Dr. W. Drees, Mr. Mohammad Roem, Dr. van Royen, dan Dr. Visser sedang beramah tamah. 23 Agustus 1949

102

Wakil BFO pada KMB mengadakan rapat tertutup di Den Haag, Nederland. Tampak dari kiri ke kanan: M. Jamani, Gusti Hakim dan Masyur Rifai (baris pertama); A.R. Aflus dan A.R. Djokoprawiro (baris kedua) 30 Agustus 1949

Wakil BFO pada KMB mengadakan rapat tertutup di Den Haag, Nederland. Tampak dari kiri ke kanan: Mohammad Jusuf, Yan Tjin Kon, dan Saleh Achmad. 30 Agustus 1949

103

Rapat Sub Komisi II dari Komisi Pusat di Lairessezaal, Nederland. Tampak dari kanan ke kiri: Menteri Strikker, Menteri van Maarseveen, Dr. van Royen, 2 September 1949

Rapat Sub Komisi II dari Komisi Pusat di Lairessezaal, Nederland. Tampak dari kanan ke kiri: Mr. J.H.O. van den Bosch, J. Korthals, Wiseksono Wirjodihardjo, Mr. H.A.M. van den Dries, D.P. Spierenburg dan H.J. Manschot 5 September 1949

104

Rapat Sub Komisi II dari Komisi Pusat di Lairessezaal, Nederland. Tampak dari kanan ke kiri: MR. C. van de Tak; Sekretaris, MR, Indra Kusuma; dan Ajudan Sekretaris, Jenderal Mr. T.H. Bot. 5 September 1949

Rapat Komisi Pusat KMB, Menteri Maarseveen dan dr. van Royen turut serta, tanggal 6 September 1949

105

Komisi UNCI pada KMB di Den Haag, Nederland 2 November 1949

106

Nopember 1949 : Delegasi KMB Kembali Ke Indonesia

Keberangkatan Delegasi Indonesia menuju tanah air dilepas oleh Menteri Mr. J.H. van Maarseveen di lapangan terbang Schipol, Amsterdam, Nederland. Tampak dari kanan ke kiri: Komodor Udara Suryadarma (tengah); Kepala Staf TNI Kolonel Simatupang dan Mr. Mohammad Roem yang sedang berbicara dengan wartawan. November 1949

Mr. Mohammad Roem, anggota delegasi KMB yang pertama kali tiba di Indonesia, Kemayoran, Jakarta 6 November 1949

107

Wakil Presiden Mohammad Hatta dan isteri kembali ke Indonesia. Rakyat berdesakan menyambut Mohammad Hatta di lapangan terbang Kemayoran, Jakarta. 14 November 1949

108

Des 1049 : Upacara Penyerahan Kedaulatan di Istana Gambir

WTM AHJ Lovink yang diberi kuasa mengalihkan kekuasaan pemerintahan atas Indonesia ke tangan Deputasi RIS, tengah mengucapkan pidatonya di Istana Gambir. 27 Desember 1949

Wakil ketua AHJ Lovink sedang mengucapkan pidatonya. 27 Desember 1949

109

Pegawai kantor Jacobson Van den Berg & Co 1955

TILLY DALTON, ILLUS. Lutung Kasarung. In Indonesian. Famous Indonesian legend illustrated by the Dutch artist, Tilly Dalton. OCLC shows only a single copy at Kitlv, Leiden.

110

Headquarter of Geo Wehry & Co. office building is located in Leeuwinnegrachtstraat, Batavia (now Jl. Kunir No.2, Jakarta Kota)

Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) is in Koningsplein-Oost No.5 Batavia-Weltevreden (now Jl. Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat).

Long Frontage of Maintz & Co. Office Building.

111

John Peet & Co. Office Building, This building is sited in Kali Besar West, Batavia (now Jl. Kali Besar Barat).

Luxurious Dome of Chartered Bank Batavia. This antiquarian building is located in the corner of Buitengracht West, now Jl. Kalibesar Barat.

First Oldest Bank in Indonesia is sited on Binnen Nieuwpoortsraat (now junction between Jl. Bank and Jl. Pintu Besar Utara). Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij was established in Batavia 1857. Hence, it was the first oldest bank in Indonesia. In July 30th 1949, the name was replaced to be Escomptobank NV.

112

Nederlandsce Handel-Maatschappij (NHM) is sited on Binnen Nieuwpoortsraat (now Jl. Lapangan Stasiun No.1), near the quarter of Pintu Besar. This Factorij NHM building was built from 1929 until 1933 by NV Nedam a constructing bureau from Nederlandsch. It was inaugurated by C.J. Karel van Aalst, The President 10th of NHM.

GEDUNG BANK MANDIRI - Jl. Pahlawan dahulu adalah GEDUNG "LINDETEVES STOKVIS" dibangun pada th 1911. Perancangnya adalah Biro Arsitek Hulswit, Fermont & Ed. Cuypers dari Batavia (Jakarta). dengan menara "Jam"nya yang sangat tinggi, gedung tersebut menjadi "Landmark" bagi lingkungan sekitarnya. Disebut Gedung Lindeteves Stokvis, karena gedung ini digunakan sebagai Pabrik Mesin Hindia Belanda.

113

Grimm&Co Jl. Pasar Besar, Restoran Patissiers & Cuisiniers Grimm & Co didirikan pada tahun 1888 di simpang Jalan Pasar Besar (kanan) dengan Kramat Gantung (kiri). Gedung tersebut terdiri dari 2 lantai untuk restaurant dan ruang dansa . Pada 1920an gedung menjadi bengkel mobil. Pada tahun 1935 gedung direnovasi menjadi kantin Armada. Sekarang lokasi ditempati restoran Tai Chan.

114

GEDUNG INTERNATIO Gedung Internationale Crediet-en Handelsvereeniging Rotterdam (Rotterdam International Credit and Trading Association) yang akrab dengan sebutan Gedung Internatio atau kantor PT. Tjipta Niaga/PT Aneka Niaga sekarang Dirancang oleh biro AIA (pimpinan Ghijsels) dibangun pada th. 1927-1931. Gedung ini merupakan salah satu bangunan yang paling besar di daerah perdagangan sekitar Jembatan Merah yang terletak di pertigaan Hereenstrat dan Willemsplein (sekarang Jl. Jayengrono), selanjutnya gedung ini dikuasai oleh pasukan Sekutu. Pada tanggal 28 - 30 Oktober 1945 gedung ini dikepung oleh pejuang-pejuang Indonesia. Sewaktu berusaha menghentikan tembak menembak tersebut Brigjen Mallaby tewas terbakar di mobilnya

115

Anda mungkin juga menyukai